Anda di halaman 1dari 22

Bab VI

A. Membandingkan kritik Sastra dan Esai


Kegiatan 1
Mengidentifikasi Unsur Kritik dan Esai
Mengidentifikasi Unsur Kritik dan Esai Di atas telah disinggung bahwa kritik adalah penilaian
terhadap suatu karya secara seimbang baik kelemahan maupun kelebihannya. Selanjutnya,
gurumu atau salah seorang temanmu akan membacakan teks kritik terhadap cerpen. Untuk itu,
tutuplah bukumu dan berkonsentrasilah untuk menangkap dan memahami isi teks tersebut.
a. Teks “Capaian Eksperimen Novel Lelaki Harimau”

No. Pernyataan Ya Tidak


1. Membahas tentang sebuah karya sastra. 
2. Di dalamnya dituliskan isi atau sinopsis cerpen. 
3. Teks tersebut menilai kelebihan dan kekurangan cerpen. 
4. Penilaian dilakukan secara objektif, didasarkan atas data 
objektif yang benar-benar ada.
5. Disertai kajian teori untuk menguatkan analisis atau 
penilaian. Disertai kajian teori untuk menguatkan analisis
atau penilaian.
b. Teks “Batman”

No. Pernyataan Ya Tidak


1. Membahas tentang sebuah karya sastra. 
2. Di dalamnya dituliskan isi atau sinopsis cerpen. 
3. Teks tersebut menilai kelebihan dan kekurangan cerpen. 
4. Penilaian dilakukan secara objektif, didasarkan atas data 
objektif yang benar-benar ada.

Kegiatan 2
Membandingkan Kritik dengan Esai Berdasarkan Pengetahuan dan
Pandangan
Tugas (halaman 193)
Berdasarkan perbandingan di atas, bacalah dua teks berikut ini. Tentukanlah mana yang
merupakan teks kritik dan mana yang merupakan teks esai. Jelaskan alasanmu!
Jawaban dari tugas halaman 193
Menurut saya teks 1(“Gerr”) pada kedua teks di atas termasuk teks esai sedangkan teks 2
(“Menimbang Ayat-ayat Cinta”) termasuk teks kritik. Karena pada teks satu tidak terdapat
ringkasan atau sinopsis karya, sedangkan pada teks yang kedua terdapat ringkasan atau sinopsis
karya. Selain itu, penilaian yang karya yang terdapat pada teks 1 dilakukan secara subjektif atau
menurut pendapat pribadi si penulis. Sedangkan pada teks 2 penilaian terhadap karya dilakukan
secara objektif disertai data dan alasan yang logis.

Tugas ( halaman 198 )


1. Buatlah perbandingan isi teks 1 dan teks 2 dengan menggunakan table berikut ini.

Aspek Gerr Menimbang Ayat-Ayat Cinta

Hal yang dikaji Hal yang dikaji dalam teks Hal yang dikaji dalam teks
ini adalah tentang seni tersebut adalah latar dari karya
teater sastra tersebut. Selain itu, tentang
penokohan juga dibahas dalam
teks tersebut. Penulis menilai
karakter fahri terlihat janggal
karena digambarkan terlalu
sempurna.

Deskripsi/sinopsis Tidak terdapat ringkasan Terdapat deskripsi tentang karya


atau sinopsis karya pada teks ini.
melainkan lebih banyak
pendapat si penulis.

Data yang disajikan Menyajikan data yang Menyajikan data yang objektif.
subjektif.

2. Buatlah perbandingan cara pandang penulis kedua teks di atas dengan menggunakan tabel
berikut ini

Aspek Gerr Menimbang Ayat-Ayat Cinta

Cara penilaian Penilaian dilakukan secara Penilaian dilakukan secara


subjektif dan banyak objektif dan disertai data dan
menggunakan pendapat alsan logis.
pribadi penulis.

Penggunaan Kajian teori Tidak menggunakan kajian Tidak menggunakan kajian


teori apapun. teori apapun. Menggunakan
kajian teori-teori yang sudah
tekenal atau mapan.

Keutuhan Pembahasan Pembahsan tidak menyeluruh. Pembahsan tidak menyeluruh.


Pembahasan menyeluruh.

B. Menyusun Kritik dan Esai


Kegiatan 1 Menyusun Kritik Sastra
Tugas ( halaman 200 )
Bacalah kutipan novel Laskar Pelangi berikut ini, kemudian buatlah kalimat kritiknya!

Bab I: Sepuluh Murid Baru


PAGI itu, waktu aku masih kecil, aku duduk di bangku panjang di depan sebuah kelas.
Sebatang pohon tua yang riang meneduhiku. Ayahku duduk di sampingku, memeluk pundakku
dengan kedua lengannya dan tersenyum mengangguk-angguk pada setiap orangtua dan anak-
anaknya yang duduk berderet-deret di bangku panjang lain di depan kami. Hari itu adalah hari
yang agak penting: hari pertama masuk SD. Di ujung bangku-bangku panjang tadi ada sebuah
pintu terbuka. Kosen pintu itu miring karena seluruh bangunan sekolah sudah doyong seolah akan
roboh. Di mulut pintu berdiri dua orang guru seperti para penyambut tamu dalam perhelatan.
Mereka adalah seorang bapak tua berwajah sabar, Bapak K.A. Harfan Efendy Noor, sang kepala
sekolah dan seorang wanita muda berjilbab, Ibu N.A. Muslimah Hafsari atau Bu Mus. Seperti
ayahku, mereka berdua juga tersenyum.
Namun, senyum Bu Mus adalah senyum getir yang dipaksakan karena tampak jelas
beliau sedang cemas. Wajahnya tegang dan gerak-geriknya gelisah. Ia berulang kali menghitung
jumlah anak-anak yang duduk di bangku panjang. Ia demikian khawatir sehingga tak peduli pada
peluh yang mengalir masuk ke pelupuk matanya. Titik-titik keringat yang bertimbulan di seputar
hidungnya menghapus bedak tepung beras yang dikenakannya, membuat wajahnya coreng
moreng seperti pameran emban bagi permaisuri dalam Dul Muluk, sandiwara kuno kampung
kami.
”Sembilan orang . . . baru sembilan orang Pamanda Guru, masih kurang satu…,” katanya
gusar pada bapak kepala sekolah. Pak Harfan menatapnya kosong.
Aku juga merasa cemas. Aku cemas karena melihat Bu Mus yang resah dan karena beban
perasaan ayahku menjalar ke sekujur tubuhku. Meskipun beliau begitu ramah pagi ini tapi lengan
kasarnya yang melingkari leherku mengalirkan degup jantung yang cepat. Aku tahu beliau sedang
gugup dan aku maklum bahwa tak mudah bagi seorang pria berusia empat puluh tujuh tahun,
seorang buruh tambang yang beranak banyak dan bergaji kecil, untuk menyerahkan anak laki-
lakinya ke sekolah. Lebih mudah menyerahkannya pada tauke pasar pagi untuk jadi tukang parut
atau pada juragan pantai untuk menjadi kuli kopra agar dapat membantu ekonomi keluarga.
Menyekolahkan anak berarti mengikatkan diri pada biaya selama belasan tahun dan hal itu bukan
perkara gampang bagi keluarga kami.
”Kasihan ayahku ….”
Maka aku tak sampai hati memandang wajahnya.
”Barangkali sebaiknya aku pulang saja, melupakan keinginan sekolah, dan mengikuti
jejak beberapa abang dan sepupu-sepupuku, menjadi kuli …..”
Tapi agaknya bukan hanya ayahku yang gentar. Setiap wajah orang tua di depanku
mengesankan bahwa mereka tidak sedang duduk di bangku panjang itu, karena pikiran mereka,
seperti pikiran ayahku, melayang-layang ke pasar pagi atau ke keramba di tepian laut
membayangkan anak lelakinya lebih baik menjadi pesuruh di sana. Para orang tua ini sama sekali
tak yakin bahwa pendidikan anaknya yang hanya mampu mereka biayai paling tinggi sampai
SMP akan dapat mempercerah masa depan keluarga. Pagi ini mereka terpaksa berada di sekolah
ini untuk menghindarkan diri dari celaan aparat desa karena tak menyekolahkan anak atau
sebagai orang yang terjebak tuntutan zaman baru, tuntutan memerdekakan anak dari buta huruf.
Aku mengenal para orangtua dan anak-anaknya yang duduk di depanku. Kecuali seorang
anak lelaki kecil kotor berambut keriting merah yang merontaronta dari pegangan ayahnya.
Ayahnya itu tak beralas kaki dan bercelana kain belacu. Aku tak mengenal anak beranak itu.
Selebihnya adalah teman baikku. Trapani misalnya, yang duduk di pangkuan ibunya, atau
Kucai yang duduk di samping ayahnya, atau Syahdan yang tak diantar siapa-siapa. Kami
bertetangga dan kami adalah orang-orang Melayu Belitong dari sebuah komunitas yang paling
miskin di pulau itu. Adapun sekolah ini, SD Muhammadiyah, juga sekolah kampung yang paling
miskin di Belitong. Ada tiga alasan mengapa para orang tua mendaft arkan anaknya di sini.
Pertama, karena sekolah Muhammadiyah tidak menetapkan iuran dalam bentuk apa pun, para
orang tua hanya menyumbang sukarela semampu mereka. Kedua, karena fi rasat, anak-anak
mereka dianggap memiliki karakter yang mudah disesatkan iblis sehingga sejak usia muda harus
mendapatkan pendadaran Islam yang tangguh. Ketiga, karena anaknya memang tak diterima di
sekolah mana pun.
Bu Mus yang semakin khawatir memancang pandangannya ke jalan raya di seberang
lapangan sekolah berharap kalau-kalau masih ada pendaft ar baru. Kami prihatin melihat harapan
hampa itu. Maka tidak seperti suasana di SD lain yang penuh kegembiraan ketika menerima
murid angkatan baru, suasana hari pertama di SD Muhammadiyah penuh dengan kerisauan, dan
yang paling risau adalah Bu Mus dan Pak Harfan.
Guru-guru yang sederhana ini berada dalam situasi genting karena Pengawas Sekolah
dari Depdikbud Sumsel telah memperingatkan bahwa jika SD Muhammadiyah hanya mendapat
murid baru kurang dari sepuluh orang maka sekolah paling tua di Belitong ini harus ditutup.
Karena itu sekarang Bu Mus dan Pak Harfan cemas sebab sekolah mereka akan tamat riwayatnya,
sedangkan para orang tua cemas karena biaya, dan kami, sembilan anak-anak kecil ini yang
terperangkap di tengah cemas kalau-kalau kami tak jadi sekolah.
Tahun lalu, SD Muhammadiyah hanya mendapatkan sebelas siswa, dan tahun ini Pak
Harfan pesimis dapat memenuhi target sepuluh. Maka diamdiam beliau telah mempersiapkan
sebuah pidato pembubaran sekolah di depan para orang tua murid pada kesempatan pagi ini.
Kenyataan bahwa beliau hanya memerlukan satu siswa lagi untuk memenuhi target itu
menyebabkan pidato ini akan menjadi sesuatu yang menyakitkan hati.
”Kita tunggu sampai pukul sebelas,” kata Pak Harfan pada Bu Mus dan seluruh orangtua
yang telah pasrah. Suasana hening.
Para orang tua mungkin menganggap kekurangan satu murid sebagai pertanda bagi anak-
anaknya bahwa mereka memang sebaiknya didaft arkan pada para juragan saja. Sedangkan aku
dan agaknya juga anak-anak yang lain merasa amat pedih: pedih pada orang tua kami yang tak
mampu, pedih menyaksikan detik-detik terakhir sebuah sekolah tua yang tutup justru pada hari
pertama kami ingin sekolah, dan pedih pada niat kuat kami untuk belajar tapi tinggal selangkah
lagi harus terhenti hanya karena kekurangan satu murid. Kami menunduk dalam-dalam.
Saat itu sudah pukul sebelas kurang lima dan Bu Mus semakin gundah. Lima tahun
pengabdiannya di sekolah melarat yang amat ia cintai dan tiga puluh dua tahun pengabdian tanpa
pamrih pada Pak Harfan, pamannya, akan berakhir di pagi yang sendu ini.
”Baru sembilan orang Pamanda Guru …,” ucap Bu Mus bergetar sekali lagi. Ia sudah tak
bisa berpikir jernih. Ia berulang kali mengucapkan hal yang sama yang telah diketahui semua
orang. Suaranya berat selayaknya orang yang tertekan batinnya.
Akhirnya, waktu habis karena telah pukul sebelas lewat lima dan jumlah murid tak juga
genap sepuluh. Semangat besarku untuk sekolah perlahan lahan runtuh. Aku melepaskan lengan
ayahku dari pundakku. Sahara menangis terisak-isak mendekap ibunya karena ia benar-benar
ingin sekolah di SD Muhammadiyah. Ia memakai sepatu, kaus kaki, jilbab, dan baju, serta telah
punya buku-buku, botol air minum, dan tas punggung yang semuanya baru.
Pak Harfan menghampiri orang tua murid dan menyalami mereka satu per satu. Sebuah
pemandangan yang pilu. Para orang tua menepuk-nepuk bahunya untuk membesarkan hatinya.
Mata Bu Mus berkilauan karena air mata yang menggenang. Pak Harfan berdiri di depan para
orangtua, wajahnya muram. Beliau bersiap-siap memberikan pidato terakhir. Wajahnya tampak
putus asa.
Namun ketika beliau akan mengucapkan kata pertama, Assalamu’alaikum, seluruh
hadirin terperanjat karena Tripani berteriak sambil menunjuk ke pinggir lapangan rumput luas
halaman sekolah itu.
”Harun!”.
Kami serentak menoleh dan di kejauhan tampak seorang pria kurus tinggi berjalar
terseok-seok. Pakaian dan sisiran rambutnya sangat rapi. Ia berkemeja lengan panjang putih yang
dimasukkan ke dalam. Kaki dan langkahnya membentuk huruf x sehingga jika berjalan seluruh
tubuhnya bergoyanggoyang hebat. Seorang wanita gemuk setengah baya yang berseri-seri susah
payah memeganginya. Pria itu adalah Harun, pria jenaka sahabat kami semua, yang sudah berusia
lima belas tahun dan agak terbelakang mentalnya. Ia sangat gembira dan berjalan cepat setengah
berlari tak sabar menghampiri kami. Ia tak menghiraukan ibunya yang tercepuk-cepuk kewalahan
menggandengnya.
Mereka berdua hampir kehabisan napas ketika tiba di depan Pak Harfan.
”Bapak Guru …, ” kata ibunya terengah-engah.
”Terimalah Harun, Pak, karena SLB hanya ada di Pulau Bangka, dan kami tak punya
biaya untuk menyekolahkannya ke sana. Lagi pula lebih baik kutitipkan dia disekolah ini
daripada di rumah ia hanya mengejar-ngejar anak-anak ayamku …..
Harun tersenyum lebar memamerkan gigi-giginya yang kuning panjangpanjang. Pak
Harfan juga terseyum, beliau melirik Bu Mus sambil mengangkat bahunya.
”Genap sepuluh orang …,” katanya.
Harun telah menyelamatkan kami dan kami pun bersorak. Sahara berdiri tegak merapikan
lipatan jilbabnya dan menyandang tasnya dengan gagah, ia tak mau duduk lagi.
Bu Mus tersipu. Air mata guru muda ini surut dan ia menyeka keringat di wajahnya yang
belepotan karena bercampur dengan bedak tepung beras.
(Dikutip dari novel Laskar Pelangi, 10-15)

Jawaban dari tugas halaman 200


Novel “Laskar Pelangi” karya Andrea Hinata merupaka suatu karya sastra
yang menyebabkan Indonesia dipandang oleh dunia. Karya yang telah
menembus 600 ribu eksemplar dan mendapat gelar “International Best
Seller”ini memang patut diberi tepuk tangan. Bukan hanya karena
kesuksesannya didalam negeri maupun mancanegara, namun karena isi
novelnya yang menakjubkan dan memiliki pesan-pesan kehidupan yang
berhasil membuat para pembaca termotivasi dan terinspirasi oleh karya sastra
tersebut.

Kegiatan 2 Menyusun Pernyataan Esai terhadap Objek atau Peristiwa


Tugas ( halaman 205 )
Bacalah kembali kutipan novel Laskar Pelangi di atas. Kemudian, datalah bagian-bagian
yang menarik untuk disoroti, misalnya penggunaan bahasa, kriteria pemilihan tokoh, bersekolah,
dan sebagainya. Pilihlah satu bagian saja. Kemudian, buatlah kalimat esainya.
Jawaban dari tugas halaman 205

Dalam novel “Laskar Pelangi”, Andrea Hirata mendeskripsikan bagaimana


pengalaman dan pandangan masyarakat Belitung tentang pendidikan anak. Banyak
orang tua yang merasa cemas apabila harus menyekolahkan anaknya karena
mereka merasa lebih tenang apabila anak-anak mereka bekerja menjadi pesuruh di
pasar. Namun karena mereka tertekan akan celaan yang dikeluarkan oleh aparat
desa apabila anak mereka menjadi generasi yang buta huruf. Sehingga mereka
terpaksa menyekolahkan anak mereka meski ada rasa cemas di dalam hati mereka.
Menurut saya, gambaran dari sang penulis novel ini berhasil mendeskripsikan
keadaan yang sebenarnya di mana masyarakat akan memandang rendah orang-
orang yang tidak bersekolah meskipun mereka tidak bersekolah dikarenakan
keterbatasan ekonomi. Namun pemerintah atau masyarakat lain tidak memiliki
keinginan untuk membantu, mereka hanya bisa menganggap rendah orang-orang
yang tidak bersekolah

C. Menganalisis Sistematika dan Kebahasaan


Kegiatan 1 Menganalisis Sistematika Kritik Sastra dan Esai
Tugas ( halaman 208 )
Bacalah kembali teks ”Menimbang Ayat-ayat Cinta” dan ”Gerr” di atas. Kemudian, analisislah
sistematika teksnya berdasarkan struktur teks. Kamu dapat menggunakan tabel yang sama seperti
contoh di atas.
Jawaban dari tugas halaman 208
1. Teks “Gerr”
Sistematika Kutipan teks
Pernyataan Di depan kita pentas yang berkecamuk.
pendapat

Argumen 1. Putu tak berseru, tak berpesan. Ia punya pendekatan tersendiri


kepada kata.
2. Bagi saya, teater ini adalah ”teater miskin” dalam pengertian
yang berbeda dengan rumusan Jerzy Grotowski. Bukan karena
ia hanya bercerita tentang kalangan miskin.
3. Dari sini memang kemudian berkembang gaya Putu Wijaya:
sebuah teater yang dibangun dari dialektik antara ”peristiwa”
dan ”cerita”, antara kehadiran aktor dan orang-orang yang
hanya bagian komposisi panggung, antara kata sebagai alat
komunikasi dan kata sebagai benda tersendiri.
4. Indonesia didirikan dan diatur oleh sebuah lapisan elite yang
berpandangan bahwa yang dibangun haruslah sebuah
”bangunan”, sebuah tata, bahkan tata yang permanen.
5. Ketika Putu Wijaya memilih kata ”teror” dalam hubungan
dengan karya kreatifnya, bagi saya ia menampik pandangan
seperti itu. Pentasnya menunjukkan bahwa pada tiap tata selalu
tersembunyi chaos, dan pada tiap ucapan yang transparan selalu
tersembunyi ketidaksadaran.
6. Bagi saya Teater Mandiri justru menunjukkan bahwa di sebuah
negeri di mana tradisi dan antitradisi berbenturan (tapi juga
sering berkelindan), bukan pengertian klasik itu yang berlaku.
7. Namun, di sini pun Sartre salah. Ia tak melihat, prosa dan puisi
bisa bertaut—dan itu bertaut dengan hidup dalam teater Putu
Wijaya. Puisi dalam teater ini muncul ketika keharusan
berkomunikasi dipatahkan. Sebagaimana dalam puisi, dalam
sajak Chairil Anwar apalagi dalam sajak Sutardji Calzoum
Bachri, yang hadir dalam pentas Teater Mandiri adalah imaji-
imaji, bayangan dan bunyi, bukan pesan, apalagi khotbah. Hal
ini penting, di zaman ketika komunikasi hanya dibangun oleh
pesan verbal yang itu-itu saja, yang tak lagi akrab dengan diri,
hanya hasil kesepakatan orang lain yang kian asing.

Penegasan ulang Sartre kemudian menyadari ia salah. Sejak 1960-an, ia mengakui bahwa
bahasa bukan alat yang siap. Bahasa tak bisa mengungkapkan apa yang
ada di bawah sadar, tak bisa mengartikulasikan hidup yang dijalani, le
vecu. Ia tentu belum pernah menyaksikan pentas Teater Mandiri, tapi ia
pasti melihat bahwa pelbagai ekspresi teater dan kesusastraan punya
daya ”teror” ketika, seperti Teater Mandiri, menunjukkan hal-hal yang
tak terkomunikasikan dalam hidup.
Sebab yang tak terkatakan juga bagian dari ”yang ada”. Dari sana
kreativitas yang sejati bertolak.

2. Teks “ Menimbang Ayat-Ayat Cinta”

Sistematika Kutipan teks


Pernyataan Karya sastra yang baik juga bisa menggambarkan hubungan
pendapat antarmanusia, manusia dengan lingkungan dan manusia dengan Tuhan.
Ini karena dalam karya sastra seharusnya terdapat ajaran moral, sosial
sekaligus ketepatan dalam pengungkapan karya sastra.

Argumen 1. Meskipun mengusung tema cinta tidak lantas membuat novel


ini membahas cinta erotis antara laki-laki dan wanita.
2. Nilai dan budaya Islam sangat kental dirasakan oleh pembaca
pada setiap bagiannya. Bahkan, hampir di tiap paragraf kita
akan menemukan pesan dan amanah.
3. Gaya penulis untuk mengungkapkan setiap pesan justru
menyadarkan kita bahwa sedikit sekali yang baru kita ketahui
tentang Islam.
4. Ia dapat begitu fasih untuk menggambarkan tiap lekuk bagian
tempat yang ia jadikan latar dalam novel tersebut ditambah
dengan gambaran suasana yang mendukung sehingga seakan-
akan mengajak pembaca untuk berwisata dan menikmati
suasana Mesir di Timur Tengah lewat karya tulisannya.
5. Alur cerita juga dirangkai dengan begitu baik. Meskipun
banyak menggunakan alur maju, cerita berjalan tidak
monoton.
6. Banyak kejutan, banyak inspirasi yang kemudian bisa hadir
dalam benak pembaca. Bahkan bisa menjadi semacam media
perenungan atas berbagai masalah kehidupan.
7. Hal yang menjadi janggal jika sosok yang digambarkan begitu
sempurna sehingga sulit atau bahkan tidak ditemukan
kesalahan sedikit pun padanya.
8. Hanya saja, di sini penggambarannya tidak menggunakan
bahasa-bahasa yang langsung menunjukkan kesempurnaan
tersebut sehingga tidak terlalu kentara. Ini di luar bahasa karya
sastra lama yang cenderung suka melebih-lebihkan
(hiperbola).

Penegasan ulang Pembaca yang merasakan hal ini pasti akan bertanya-tanya, adakah
sosok yang memang bisa sesempurna tokoh Fahri tersebut. Meskipun
penggambaran karakter tokoh diserahkan sepenuhnya pada diri
penulis, tetapi akan lebih baik jika karakter tokoh yang dimunculkan
tetap memiliki keseimbangan. Dalam arti, jika tokoh yang
dimunculkan memang berkarakter baik, maka paling tidak ada sisi lain
yang dimunculkan. Akan tetapi, tentu saja dengan porsi yang lebih
kecil atau bisa diminimalisasikan. Jangan sampai karakter ini
dihilangkan karena pada kenyataannya tidak ada sosok yang sempurna,
selain Rasulullah.

Kegiatan 2 Analisis Kebahasaan Kritik Sastra dan Esai


Tugas ( halaman 210 )
Bacalah kembali teks ”Menimbang Ayat-ayat Cinta” dan ”Gerr” di atas. Kemudian, kerjakan
tugas berikut.
1. Analisislah kaidah kebahasaannya dengan menggunakan tabel berikut ini.
Judul teks: Menimbang Ayat-Ayat Cinta

No. Kaidah Kebahasaan Kutipan

1. Banyak menggunakan 1. Jika dibandingkan dengan karya sastra lama milik


pernyataan- pernyataan Tulis Sutan Sati, mungkin akan ditemukan kesamaan
persuasif. dengan karakter tokoh Midun dalam Roman Sengsara
Membawa Nikmat yang berpasangan dengan Halimah
sebagai tokoh wanitanya.
2. Hanya saja, di sini penggambarannya tidak
menggunakan bahasa-bahasa yang langsung
menunjukkan kesempurnaan tersebut sehingga tidak
terlalu kentara.

2. Penggunaan pernyataan 1. Hal yang menjadi janggal jika sosok yang


atau ungkapan yang digambarkan begitu sempurna sehingga sulit atau
bersifat menilai atau bahkan tidak ditemukan kesalahan sedikit pun
mengomentari. padanya.
2. Alur cerita juga dirangkai dengan begitu baik.
Meskipun banyak menggunakan alur maju, cerita
berjalan tidak monoton.
3. Hal lain yang pantas untuk diunggulkan dalam novel
ini adalah kemampuan Habiburrachman untuk
melukiskan latar dari tiap peristiwa, baik itu tempat
kejadian, waktu, maupun suasananya. Ia dapat begitu
fasih untuk menggambarkan tiap lekuk bagian tempat
yang ia jadikan latar dalam novel tersebut ditambah
dengan gambaran suasana yang mendukung sehingga
seakan-akan mengajak pembaca untuk berwisata dan
menikmati suasana Mesir di Timur Tengah lewat
karya tulisannya.
4. Nilai dan budaya Islam sangat kental dirasakan oleh
pembaca pada setiap bagiannya. Bahkan, hampir di
tiap paragraf kita akan menemukan pesan dan
amanah.
5. Meskipun penggambaran karakter tokoh diserahkan
sepenuhnya pada diri penulis, tetapi akan lebih baik
jika karakter tokoh yang dimunculkan tetap memiliki
keseimbangan.
6. Jika dibandingkan dengan karya sastra lama milik
Tulis Sutan Sati, mungkin akan ditemukan kesamaan
dengan karakter tokoh Midun dalam Roman Sengsara
Membawa Nikmat yang berpasangan dengan Halimah
sebagai tokoh wanitanya.
7. Hanya saja, di sini penggambarannya tidak
menggunakan bahasa-bahasa yang langsung
menunjukkan kesempurnaan tersebut sehingga tidak
terlalu kentara.

3. Penggunaan istilah 1. Dalam roman tersebut, Midun juga digambarkan


teknis. sebagai sosok pemuda yang sempurna dengan segala
bentuk fisik dan kebaikan hatinya.
2. Alur cerita juga dirangkai dengan begitu baik.
Meskipun banyak menggunakan alur maju, cerita
berjalan tidak monoton.
3. Bahkan oleh orang Mesir sendiri memang tidak
memiliki sarana bahasa yang tepat untuk
mengungkapkan apa yang ingin ia sampaikan

4. Penggunaan kata kerja 1. Pembaca yang merasakan hal ini pasti akan
mental. bertanya-tanya, adakah sosok yang memang bisa
sesempurna tokoh Fahri tersebut.
2. Ia dapat begitu fasih untuk menggambarkan tiap
lekuk bagian tempat yang ia jadikan latar dalam novel
tersebut ditambah dengan gambaran suasana yang
mendukung sehingga seakan-akan mengajak pembaca
untuk berwisata dan menikmati suasana Mesir di
Timur Tengah lewat karya tulisannya.
Judul teks : Gerr

No Kaidah Kebahasaan Kutipan


1. Banyak menggunakan 1. Orang memang bisa ragu, apa sebenarnya yang
pernyataan-pernyataan dibangun (dan dibangunkan) oleh teater Putu
persuasif Wijaya. Keraguan ini bisa dimengerti. Indonesia
didirikan dan diatur oleh sebuah lapisan elite yang
berpandangan bahwa yang dibangun haruslah
sebuah ”bangunan”, sebuah tata, bahkan tata yang
permanen.
2. Sebagaimana dalam puisi, dalam sajak Chairil
Anwar apalagi dalam sajak Sutardji Calzoum
Bachri, yang hadir dalam pentas Teater Mandiri
adalah imaji-imaji, bayangan dan bunyi, bukan
pesan, apalagi khotbah.

2. Penggunaan pernyataan 1. Bagi saya, teater ini adalah ”teater miskin” dalam
atau ungkapan yang pengertian yang berbeda dengan rumusan Jerzy
bersifat menilai atau Grotowski. Bukan karena ia hanya bercerita
mengomentari. tentang kalangan miskin. Putu Wijaya tak tertarik
untuk berbicara tentang lapisan-lapisan sosial.
Teater Mandiri adalah ”teater miskin” karena ia,
sebagaimana yang kemudian dijadikan semboyan
kreatif Putu Wijaya, ”bertolak dari yang ada”.
2. Saya kira ia salah. Ia mungkin berpikir tentang
keindahan dalam pengertian klasik, di mana tata
amat penting. Bagi saya Teater Mandiri justru
menunjukkan bahwa di sebuah negeri di mana
tradisi dan antitradisi berbenturan (tapi juga sering
berkelindan), bukan pengertian klasik itu yang
berlaku.
3. Namun, di sini pun Sartre salah. Ia tak melihat,
prosa dan puisi bisa bertaut—dan itu bertaut
dengan hidup dalam teater Putu Wijaya. Puisi
dalam teater ini muncul ketika keharusan
berkomunikasi dipatahkan. Sebagaimana dalam
puisi, dalam sajak Chairil Anwar apalagi dalam
sajak Sutardji Calzoum Bachri, yang hadir dalam
pentas Teater Mandiri adalah imaji-imaji, bayangan
dan bunyi, bukan pesan, apalagi khotbah.

3. Pengunaan istilah teknis 1. Dari sini memang kemudian berkembang gaya


Putu Wijaya: sebuah teater yang dibangun dari
dialektik antara ”peristiwa” dan ”cerita”, antara
kehadiran aktor dan orang-orang yang hanya
bagian komposisi panggung, antara kata sebagai
alat komunikasi dan kata sebagai benda tersendiri.
2. Juga teater yang hidup dari tarik-menarik antara
patos dan humor, antara suasana yang terbangun
utuh dan disintegrasi yang segera mengubah
keutuhan itu.
3. Saya kira ia salah. Ia mungkin berpikir tentang
keindahan dalam pengertian klasik, di mana tata
amat penting.
4. Ia tak melihat, prosa dan puisi bisa bertaut—dan
itu bertaut dengan hidup dalam teater Putu Wijaya.
5. Puisi dalam teater ini muncul ketika keharusan
berkomunikasi dipatahkan. Sebagaimana dalam
puisi, dalam sajak Chairil Anwar apalagi dalam
sajak Sutardji Calzoum Bachri, yang hadir dalam
pentas Teater Mandiri adalah imaji-imaji,
bayangan dan bunyi, bukan pesan, apalagi
khotbah.

4. Penggunaan kata kerja 1. Sartre kemudian menyadari ia salah. Sejak 1960-


mental an, ia mengakui bahwa bahasa bukan alat yang
siap.
2. Ia tentu belum pernah menyaksikan pentas Teater
Mandiri, tapi ia pasti melihat bahwa pelbagai
ekspresi teater dan kesusastraan punya daya ”teror”
ketika, seperti Teater Mandiri, menunjukkan hal-
hal yang tak terkomunikasikan dalam hidup.
3. Bagi saya Teater Mandiri justru menunjukkan
bahwa di sebuah negeri di mana tradisi dan
antitradisi berbenturan (tapi juga sering
berkelindan), bukan pengertian klasik itu yang
berlaku.

2. Berikan komentarmu terhadap gaya bahasa yang digunakan dalam teks esai tersebut!
Jawab :
Gaya bahasa yang digunakan dalam teks “Gerr” berbeda dengan teks “Menimbang Ayat-ayat
Cinta” karena pada teks “Gerr” penulis menggunakan bahasa yang lebih sulit dimengerti
karena terdapat berbagai perumpamaan dan kata-kata yang sulit dipahami didalm teks
tersebut. Berbeda dengan teks “Menimbang Ayat-ayat Cinta” pada teks ini penulis
menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh pembaca.
D. Mengonstruksi Kritik Sastra dan Esai
Kegiatan 1
Mengostruksi kritik sastra
Tugas ( halaman 211 )
1. Datalah identitas karya tersebut!
Jawab:
IDENTITAS FILM VENOM
Sutradara: Ruben Fleischer
Produser: Avi Arad, Matt Tolmach, Amy Pascal
Penulis Skenario: Jeff Pinkner, Scott Rosenberg, Kelly Marcel
Pengarang Cerita: Jeff Pinkner, Scott Rosenberg
Berdasarkan: Venom by David Michelinie, Todd McFarlane
Pemain:
- Tom Hardy as Eddie Brock / Venom
- Michelle Williams as Anne Weying
- Riz Ahmed as Carlton Drake / Riot
- Scott Haze as Roland Treece
- Reid Scott as Dr. Dan Lewis
Sinematografi: Matthew Libatique
Penyunting: Maryann Brandon, Alan Baumgarten
Produksi: Columbia Pictures, Marvel Entertainment, Tencent Pictures, Arad Productions,
Matt Tolmach Productions, Pascal Pictures
Distributor: Sony Pictures Releasing
Durasi: 112 menit
Genre: Action & Adventure, Drama, Science Fiction & Fantasy
Kategori Usia: PG-13 (13+)
Budget: USD 100 juta
Rilis: 1 Oktober 2018 (Regency Village Theatre), 3 Oktober 2018 (Indonesia), 5 Oktober
2018 (Amerika Serikat)
2. Buatlah deskripsi singkat karya tersebut. Untuk film, drama dan novel wujud
deskripsinya adalah sinopsis!
Jawab:
SINOPSIS
Life Foundations selalu ingin tampil baik dalam mengembangkan ilmu pengetahuan.
Sayangnya, ini tidak terlintas sama sekali di pikiran Eddie Brock (Tom Hardy). Seorang
jurnalis yang karirnya sedang diambang kehancuran.
Berbagai investigasi dilakukan Eddie untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi
dengan ilmu pengetahuan yang dikembangkan oleh Life Foundations. Sayangnya, usaha
Eddie selalu mengalami kegagalan.
Dr. Carlton Drake (Riz Ahmed), pemimpin Life Foundations mulai gerah dengan
investigasi Eddie. Ia seperti ingin menyimpan rahasian ilmu pengethauannya dalam-
dalam. Semakin Eddie ingin menggali, semakin rapat pula rahasia yang ingin disimpan
oleh Dr. Carlton.
Sampai pada suatu waktu, Eddie menemukan hal yang aneh sekaligus mengerikan.
Sebuah organik yang disebut Symbiote membuatnya penasaran. Di satu sisi, Dr. Carlton
tidak ingin Symbiote ini terungkap.
Ada harga yang harus dibayar mahal untuk semua ini, bagi Eddie dan Dr. Carlton. Lalu,
siapa sosok venom sebenarnya? Benarkan Symbiote ini bisa membantu manusia
mencapai keinginannya?
3. Datalah kelebihan dan kelemahan karya tersebut!
Jawab:
KELEBIHAN
- Usaha perkenalan karakter dan universe yang enak dan mudah dimengerti
Sebagai "batu pertama" untuk cinematic universe Venom, film ini terhitung
berhasil dalam menjelaskan tiap-tiap karakter penting. Fleischer juga mampu
menceritakan dengan enak soal apa saja yang terjadi di dunia tersebut. Cara
penceritaan yang sederhana namun juga mengalir lancar ini efektif bagi para
penggemar Marvel, maupun para penonton yang awam terhadap
komiknya.Intinya, walau kamu bukan penggemar komiknya hampir pasti kamu
bisa paham dengan apa yang terjadi. Bahkan mungkin ikut hanyut dan tertarik
pada universe ini.
- Aksi laga yang ciamik dan memukau
Film ini memiliki kelebihan yaitu di bidang koreografi aksi. Ini dibuktikan dari
adegan pertarungan yang memukau sepanjang film. Apalagi waktu Eddie Brock
belum berubah bentuk menjadi Venom.
- Penuh humor segar yang mudah dicerna
Sepanjang Venom juga bertaburan momen-momen lucu dan lelucon kocak yang
mengundang tawa. Namun, tak terasa berlebihan atau dipaksakan. Adu mulut
antara Venom dan Eddie Brock selalu berhasil membuat penonton tersenyum.
- Akting kelas atas dari para aktor terbaik
Film ini bertaburan bintang papan atas. Mulai dari pemenang BAFTA Awards
Tom Hardy, sampai pemenang Emmy Awards Riz Ahmed. Dari segi akting, tak
perlu diragukan lagi kepiawaian mereka di depan kamera. Ini membuat
pengalaman mengikuti petualangan Venom terasa lebih menyenangkan.
KELEMAHAN
- Special effect dan CGI yang terlihat tak meyakinkan
Untuk film sekelas Venom, harus diakui efek spesial dan CGI yang ditawarkan
terasa kurang halus. Beberapa animasi sangat terasa kasarnya dan susah buat
tampak meyakinkan.
Selain itu, banyak adegan yang terkesan "bocor". Misalnya saat Eddie Brock
(Tom Hardy) melakukan kejar-kejaran dengan sepeda motor di jalanan.
Beberapa kali kita bisa melihat bahwa yang berada di atas sepeda motor adalah
stunt man bukan Tom Hardy. Hal ini bisa bikin mood sedikit rusak.
- Cerita yang terlalu standar, kurang menantang
Mungkin Ruben Fleischer ingin bermain aman dengan film pertama yang akan
jadi fondasi Venom Cinematic Universe ini. Cerita yang ditawarkan terkesan
terlalu datar dan lurus-lurus saja, tanpa ada twist and turn. Tertebak dan Ketika
durasi film akan segera berakhir, kebanyakan penonton mungkin akan merasa
kurang puas.
- Fans berat Marvel atau Venom pasti merasakan adanya hawa Out of Character
Bagi yang sudah lama mengikuti komik Marvel, terutama Spider-Man dan
Venom Universe mungkin akan merasa sedikit janggal dengan karakterisasi
beberapa dari tokoh utama. Venom yang merupakan anti-hero terasa begitu
ksatria dan bahkan jinak dalam beberapa momen di film ini. Bagi sebagian
orang, ini gak jadi masalah. Namun, wajar kalau sebagian sisanya merasa
Venom harus lebih in-character agar gak bikin ilfil.
4. Berdasarkan kelebihan dan kelemahan yang telah kamu data, buatlah teks kritik
sederhana minimal 200 kata!
Jawab :
Teks Kritik
Venom, awalnya, adalah musuh Spider-Man. Muncul pertama kali di komik Marvel. The
Amazing Spider-Man No. 252. Terbitan tahun 1984. Sejatinya, Venom merupakan
simbiotik dari luar angkasa. Yang mampu memanipulasi dan menyerap informasi genetis
inangnya.
Semula, Venom sampai ke bumi setelah “menumpang” meteor yang jatuh ke Bumi.
Lalu, dia menempel pada tubuh Spider-Man. Oleh karena itu, Venom akhirnya memiliki
kemampuan yang semula hanya dimiliki oleh si Manusia Laba-Laba tersebut. Seperti
menempel dan merayap di dinding, mengeluarkan jaring, serta memiliki kekuatan dan
kelincahan melebihi manusia biasa.
Setelah lepas dari Peter Parker, alias Spider-Man, Venom menjadi “terkenal” sejak
menguasai tubuh Eddie Brock. Rekan sekantor Peter. Yang juga berprofesi sebagai
jurnalis foto. Selain itu, symbiote tersebut juga pernah merasuki tubuh Mac Gargan, alias
The Scorpion, dan teman sekolah Peter: Flash Thompson.
Di layar lebar, Venom pertama kali muncul di film Spider-Man 3 (2007)-nya Tobey
Maguire. Kala itu, setelah lepas dari Peter Parker, dia juga mengakuisisi tubuh Eddie
Brock. Fotografer Yang diperankan oleh Topher Grace.
Semenjak kemunculannya yang pertama di film live-action tersebut, rumor mengenai
proyek film solo Venom terus bergulir. Yang akhirnya terealisasi tahun ini. Dengan
bintang aktor utamanya Tom Hardy.
Dalam film tampak Eddie Brock (Tom Hardy), jurnalis dari Daily Bugle, sedang
melakukan investigasi terhadap Life Foundation. Sebuah yayasan yang dicurigai sedang
melakukan eksperimen ilegal. Yang melibatkan symbiote dari luar angkasa.
Dr. Carlton Drake (Riz Ahmed), ilmuwan yang menguji interaksi symbiote misterius
tersebut dengan manusia. Misinya adalah menciptakan makhluk dengan kekuatan super.
Dalam komik Marvel, Venom: Lethal Protector, Life Foundation dikisahkan berhasil
membuat lima prajurit super. Eddie Brock Saat sedang melakukan investigasi di Life
Foundation itulah, dia diserang oleh makhluk yang menjadi subjek eksperimen.
Beberapa sumber meyakini, makhluk yang menyerang Brock adalah Scream. Satu di
antara lima symbiote. Yang diciptakan oleh Dr. Carlton Drake.
Setelah terinfeksi oleh symbiote alien tersebut, fisik Brock perlahan-lahan mengalami
perubahan. Mulai dari mendengar suara-suara aneh di kepala, mata menjadi gelap,
hingga akhirnya, seluruh tubuhnya berubah menjadi Venom. Si Monster Hitam Legam.
Meski awalnya menolak, Brock dan symbiote tersebut akhirnya bisa bersatu. Tampak
juga adegan ketika Venom menangkap seorang perampok di minimarket. Lalu, dia
melahapnya sebagai kudapan.
Adegan brutal tadi menunjukkan bahwa Venom bukanlah superhero. Sesuai dengan
tagline film ini: “The world has enough superheroes.” Meski demikian, Venom juga
bukan villain seperti di film Spider-Man 3. Di sini, Venom adalah the real antihero.
Semacam Deadpool di X-Men Universe.
Setelah melihat trailer-nya, banyak fans yang mengira bahwa Venom bakal diberi rating
R (17+). Seperti Logan (2017) dan Deadpool (2016). Namun, akhirnya, film ini diberi
rating PG-13 (13+). Yang artinya lebih ramah anak. Bisa ditonton oleh para ababil
berusia 13 tahun ke atas.
Menurut sutradara Ruben Fleischer, film garapannya ini memang tidak seperti film
Marvel yang lain. Tidak ada sosok pahlawan super di sini. Karakter Venom dia
tampilkan lebih berani, lebih membumi, tapi sekaligus rumit dan kejam.
Tom Hardy, selaku aktor utama, mengaku excited dengan perannya sebagai musuh
Spider-Man tersebut. Dia sangat menikmati berperan sebagai antihero.
Awalnya, Tom Hardy mau menerima peran sebagai Venom karena putranya: Louis
Thomas Hardy. Dia ingin main di film yang bisa ditonton oleh anaknya. Bahkan, Louis
sempat membantu dan mengarahkan Hardy cara memerankan Venom dengan benar.
Karena Hardy tidak begitu mengenal karakter itu sebelumnya.
Selain putranya, Hardy mengaku ada tiga orang yang menjadi inspirasinya dalam
memerankan Venom. Yaitu: Woody Allen yang menurutnya sangat humoris, petarung
MMA Conor McGregor, dan rapper Redman.
Sebagai pendamping Tom Hardy, sutradara Ruben Fleischer memasang aktris cantik
Michelle Williams. Yang berperan sebagai Anne Weying. Pacar Eddie Brock.
Venom pun tercatat sebagai film adaptasi komik pertama yang dibintangi Michelle
Williams. Dia mengakui, keterlibatan Tom Hardy menjadi faktor penentu keputusannya
bermain di sini. Williams juga memuji lawan mainnya tersebut sangat berbakat dan
berkomitmen.
Seperti halnya Venom dan symbiote lainnya, Riot juga bersifat parasit. Mampu
berpindah dari satu inang ke inang yang lain. Dengan cepat. Kita tidak akan pernah tahu
dari mana dia bakal muncul. Meski demikian, Riot juga memiliki kelemahan. Dia tidak
mampu bertahan hidup dalam jangka waktu yang lama. Jika terpisah dari inangnya. Oleh
karena itu, Riot sangat bergantung pada manusia sebagai inangnya. Selain itu, dia juga
rentan terhadap senjata api dan sonik.
Karakter Riot sendiri pertama kali muncul di komik Marvel. Venom: Lethal Protector
No. 4. Terbitan tahun 1993. Dikisahkan, sebagian besar hidupnya terikat dengan inang
bernama Trevor Cole. Seorang petugas keamanan di Life Foundation. Bentuk Riot
digambarkan lebih besar daripada Venom. Bahkan, dia merupakan symbiote yang
ukuran fisiknya, paling besar. Warnanya abu-abu.
Seperti halnya Venom, Riot juga mempunyai ketahanan, stamina, dan kekuatan
superhuman. Kecepatannya jauh melebihi kecepatan manusia biasa. Riot juga bisa
berkamuflase, merayap di dinding, serta memiliki imunitas terhadap spider-sense milik
Spider-Man. Yang paling menarik, Riot mampu menyembuhkan dirinya sendiri, alias
memulihkan tubuhnya dari luka, dan membentuknya kembali. Menjadi berbagai macam
senjata. Misalnya, sulur berbentuk sebilah pedang panjang yang mematikan
Dari film tampak satu adegan ketika Riot merasuki tubuh salah seorang staff Life
Foundation. Dia kemudian berubah menjadi monster. Mirip Venom. Tapi, warnanya
abu-abu. Dengan dua lengan berbentuk kapak. Jika berdasarkan versi komik, symbiote
dengan penampakan seperti itu seharusnya adalah Phage. Bukan Riot..
Yang menarik, Sony juga menyiapkan crossover. Antara Venom dan Spider-Man.
Karena mereka memang berada dalam satu universe yang sama. Hanya saja, Spider-Man
yang bakal tampil di sini tidak ada hubungannya dengan Avengers-nya Marvel
Cinematic Universe. Meskipun, pemerannya, mungkin, sama-sama Tom Holland.
Tentu jika dibandingkan dengan film ciptaan Disney, beberapa aspek seperti CGI dan
teknik pengambilan gambar memang dinilai agak kurang.Beberapa adegan berkelahi dan
kejar-mengejar di hutan terlihat sedikit cringe di film ini. Adegan slow motion yang
disajikan pun tidak menimbulkan kesan menantang bagi penontonnya. Mungkin karena
ingin menyelamatkan rating PG-13, beberapa adegan bagus dari Venom terpaksa harus
dipotong selama 40 menit.
Tom Hardy sendiri mengatakan adegan favoritnya tidak dimuat di hasil akhir film ini.
Namun dirinya terlihat sangat mendalami perannya sebagai Eddie. Secara keseluruhan
Sony Pictures Entertainment melakukan tugasnya dengan baik walaupun sebenarnya
mereka bisa lebih dari itu.

Kegiatan 2 Mengostruksi Esai


Tugas ( halaman 215 )
1. Amatilah fenomena yang terjadi di lingkungan tempat tinggalmu, dari koran, majalah, televisi,
atau internet tentang masalah yang sedang aktual!
2. Tentukanlah satu bagian saja dari fenomena tersebut yang menarik perhatianmu! Pastikan kamu
memiliki bekal pengetahuan yang cukup tentang hal tersebut.
Jawab: Fenomena: Penyalahgunaan fungsi trotoar.
3. Buatlah pernyataan pribadimu terhadap hal yang kamu pilih tersebut!
Jawab: Pada saat ini banyak masyarakat menyalahgunakan fungsi trotoar yang seharusnya
berfungsi sebagai jalan untuk para pejalan kaki. Oleh karena itu, saya memilih permasalahan ini
untuk dibahas dalam teks esai yang saya akan buat.
4. Siapkan argumen untuk mendukung pernyataan pribadimu!
Jawab: Menurut saya, trotoar merupakan tempat untuk pejalan kaki bukan tempat untuk para
pedagang ataupun kendaran. Oleh karena itu, seharusnya kita sebagai masyarakat harus
menyadari dan saling memperigati bahwa trotoar bukanlah tempat untuk berdagang atau jalan
bagi kendaraan bersepeda motor.
5. Tulislah sebuah esai berdasarkan hal yang kamu pilih dan argumentasi yang sudah kamu siapkan.
Gunakanlah gaya bahasamu yang berbeda dengan gaya bahasa orang lain. Jangan terpengaruh
dengan gaya bahasa orang lain!
Jawab:
Mengembalikan Fungsi Trotoar
Indonesia telah dikenal sebagai negara dengan masyarakat yang malas berjalan kaki. Ada banyak
alasan yang membuat masayarakat kita lebih memilih mengenakan kendaraan ketimbang berjalan
kaki, salah satunya adalah kondisi trotoar.
Trotoar merupakan sarana bagi masyarakat untuk berjalan kaki, namun saat ini mulai
disalahgunakan. Beberapa penyalahgunaannya antara lain digunakan sebagai tempat berjualan
atau parkir kendaraan. Dan yang cukup sering terjadi adalah digunakan oleh sepeda motor untuk
menghindari kemacetan di jalan raya.
Tentunya keadaan yang seperti itu mebuat masyarakat kurang merasa nyaman untuk berjalan
kaki. Telah banyak upaya dari pemerintah untuk menanggulangi masalah ini. Misalnya dengan
menertibkan pedagang kaki lima dan kendaraan roda dua yang menggunakan trotoar.
Namun tampaknya upaya tersebut belum maksimal. Terbukti dengan masih banyaknya kejadian
serupa yang dapat dijumpai di beberapa kota di Indonesia. Sehingga diperlukan tindakan yang
lebih tegas dari pemerintah untuk memberi efek jera bagi orang-orang yang telah
menyalahgunakan trotoar.

E. Mengidentifi kasi Nilai-Nilai dalam Buku Pengayaan dan Buku Drama


Kegiatan 1 Menentukan nilai-nilai yang terdapat dalam sebuah buku
pengayaan (nonfiksi)
Tugas ( halaman 219 )
Setelah membaca teks di atas, kamu diminta menyampaikan tanggapannya antara lain dengan
beberapa pertanyaan berikut.
a. Apakah kamu berkeinginan untuk menjadi enterpreneur seperti Bob Sadino?
Jawab: Ya, saya berkeinginan menjadi seorang enterpreneur seperti Bob Sadino karena
menjadi seorang enterpreneur merupakan salah satu jalan menuju kesuksesan
b. Apa yang membuat Bob Sadino sanggup bangkit kembali setelah terpuruk dalam
kemiskinan?
Jawab: Yang membuat Bob sadino dapat bangkit dari keterpurukannya adalah sesusah
apapun hidup yang dia alami ia tidak mau menerima bantuan dari sudara dan teman-
temannya melainkan ia berusaha mencari jalan keluar dengan sendirinya tanpa menyerah dan
mau bekerja keras untuk sukses.
c. Apa rumus keberhasilan yang dibuat oleh Bob Sadino?
Jawab: Ada 4 rumus yang dibuat oleh Bob Sadino yaitu tahu, bisa, terampil dan ahli. Tahu
merupakan hal yang terdapat dikampus, disana banyak beragam ilmu yang dapat dipelajari.
Bisa ada didalam masyarakat, bisa melakukan sesuatu ketika terbiasa dengan mencoba
berbagai hal walaupun awalnya tidak bisa sama sekali. Terampil adalah perpaduan keduanya,
dalam hal ini seseorang bisa melakukan suatu hal dengan kesalahan yang sedikit. Ahli
merupakan pengakuan terampil dari orang lain.
Setelah kamu membaca rangkuman buku pengayaan yang berjudul Bob Sadino: Mereka
Bilang saya Gila! Selanjutnya temukan nilai-nilai yang ada dalam isi buku serta bukti kalimat
yang mendukung nilai-nilai tersebut. Siswa juga ditugaskan untuk memberi penjelasan atau
makna dari kalimat tersebut.
No. Nilai yang terkandung dalam Bukti kalimat dan penjelasan
buku pengayaan

1. Nilai sosial ekonomi “Tak lama setelah itu Bob beralih pekerjaan menjadi kuli
bangunan. Gajinya ketika itu hanya sebesar Rp100. Ia
pun sempat mengalami depresi akibat tekanan hidup
yang dialaminya. Bob merasakan pahitnya menghadapi
hidup tanpa memiliki uang.Untuk membeli beras saja dia
kesulitan.”
Nilai sosial ekonominya adalah Bob sadino yang sampai
kehilangan pekerjaannya dan terpaksa menjadi kuli
bangunan dan hidup susah

2. Nilai moral “Pengalaman hidup Bob yang panjang dan berliku


menjadikan dirinya sebagai salah satu ikon entrepreneur
Indonesia. Kemauan keras, tidak takut risiko, dan berani
menjadi miskin merupakan hal-hal yang tidak dipisahkan
dari resepnya dalam menjalani tantangan hidup.”
Nilai moralnya adalah untuk menjadi sukses kita harus
melewati berbagai tantangan dalam hidup

3. Nilai kemanusiaan “Bob merasakan pahitnya menghadapi hidup tanpa


memiliki uang. Untuk membeli beras saja dia kesulitan.
Oleh karena itu, dia memilih untuk tidak merokok. Jika
dia membeli rokok, besok keluarganya tidak akan
mampu membeli beras.”
Nilai kemanusiannya adalah ia menyadari bahwa
merokok bukan tindakan yang tepat untuk keadaannya
saat itu

Kegiatan 2 Menentukan nilai-nilai yang terdapat dalam buku drama


Tugas ( halaman 231 )
Setelah kamu membaca naskah drama yang berjudul ”Tempat Istirahat”, coba temukan nilai-nilai
yang ada dalam isi naskah tersebut yang dapat kamu teladani. Carilah bukti kalimat yang
mendukung nilai-nilai tersebut. Selamat mengerjakan!

No. Nilai yang terkandung dalam Bukti kalimat dan penjelasan


naskah drama

1. Nilai sosial ekonomi “Kita tidak mempunyai uang. Kita tak pernah
mempunyainya.”
Nilai sosial ekonominya adalah bahwa mereka tidak
memiliki uang
2. Nilai moral “Dan pada nisan itu ditulis : Pamujo dan Norma, dalam
maut mereka takterpisahkan. Tapi mereka akan
memisahkan kita.”
Nilai moralnya adalah bahwa mereka setia sampai ajal
menjemput

3. Nilai kemanusiaan “Setelah limapuluh tahun bersama, baru di situlah


mereka bersanding tanpa bertengkar lagi.”
Nilai kemanusiannya adalah mereka bisa menjaga
keharmonisan keluarga dengan semestinya

4. Nilai Ketuhanan “Waktunya sembahyang.”


Nilai ketuhanannya adalah mereka ingat akan kewajiban
sebagai makhluk ciptaannya

F. Menulis Refleksi tentang Nilai-Nilai dari Buku Pengayaan dan Buku


Drama
Kegiatan 1 Menulis Refleksi tentang Nilai-Nilai dari Buku Pengayaan
(Nonfiksi)
Bacalah rangkuman buku pengayaan berikut ini. Bentuklah kelompok bersama teman-
temanmu. Kemudian refleksikan nilai-nilai yang terkandung dalam buku pengayaan tersebut
secara singkat dan jelas. Setelah itu, presentasikan di depan kelas. Selamat mengerjakan!
JAWABAN HALAMAN 232
1. Nilai sosial ekonomi
“Kondisi ekonomi keluarganya yang sulit membuat orang tuanya tidak sanggup
membayar uang kuliah Chairul yang waktu itu hanya sebesar Rp75.000,00.”
Nilai sosial ekonominya adalah bahwa ia tidak mampu untuk membiayai uang kuliahnya
2. Nilai kemanusiaan
“Hal itulah yang barangkali membuat Chairul Tanjung selalu tampil apa adanya, tanpa
kesan ingin memamerkan kesuksesannya. Selain itu, rupanya ia pun tak lupa pada masa
lalunya. Karenanya, ia pun kini getol menjalankan berbagai kegiatan sosial. Mulai dari
PMI, Komite Kemanusiaan Indonesia, anggota Majelis Wali Amanat Universitas
Indonesia dan sebagainya.”
Nilai kemanusiaannya adalah bahwa ia masih melakukan banyak kegiatan sosial
3. Nilai moral
Memang terbilang terjal jalan yang harus ditempuh Chairul Tanjung sebelum menjadi
orang sukses seperti sekarang ini. Kepiawaiannya membangun jaringan bisnis telah
memuluskan perjalanan bisnisnya. Salah satu kunci sukses dia adalah tidak tanggung-
tanggung dalam melangkah.
Nilai moralnya adalah untuk menjadi sukses kita tidak boleh tanggung tanggung dalam
melakukan sesuatu

Kegiatan 2 Menulis Refleksi tentang Nilai-Nilai yang Terkandung


dalam Buku Drama
Bacalah naskah drama Putu wijaya yang berjudul ”Dag Dig Dug”. Bentuklah kelompok
bersama teman-temanmu. Kemudian refleksikan nilai-nilai yang terkandung dalam naskah drama
tersebut secara singkat dan jelas. Setelah itu, presentasikan di depan kelas. Selamat mengerjakan!
JAWABAN HALAMAN 237
1. Nilai sosial
“Memang. Tapi walaupun, sebagai seorang manusia dalam pergaulan, walaupun tak
menghiraukan kepentingan dirisendiri, sangat memperhatikan kawan-kawannya. Suka
menolong dan selalu rendah hati.”
Nilai sosialnya adalah ia tidak memilih milih teman dan lebih mementingkan temannya
2. Nilai kemanusiaan
“Kami tidak seperti indekosan lain. Kami tidak untuk mencari uang, iseng saja, ingin
nolong yang ingin sekolah.”
Nilai kemanusiaannya adalah ia memberikan bantuan dengan memberi tempat tinggal
yang murah
3. Nilai moral
“Begini saudara. Kami sudah menganggapnya anak sendiri.Dia memang cerdas dan
berbakat. Bapak sampai herandalam umurnya yang sekian dahulu waktu masih di sini,ia
sudah terlalu serius. Kadang-kadang bapak khawatirmelihat anak-anak yang terlalu serius
kurang menghiraukandia sendiri.”
Nilai moralnya adalah selalu memperhatikan seseorang walaupun bukan keluarganya
sendiri

Anda mungkin juga menyukai