Anda di halaman 1dari 17

Makalah tentang Muhammadiyah sebagai Gerakan

Pendidikan

Kelompok 5:
NO NAMA NIM
1 YUSTIKA KUSUMA WARDANI 17631605
2 NAWANG SARI 17631604
3 RIZQI FAUZIYAH AR-ROHMAH 17631603
4 EMA AMBAR SARI 17631599
5 M ISRO’I ILHAM AROJAB 17631600
6 EDY SUSANTO 17631601

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONOROGO

2019

1
Kata Pengantar

Assalamualaikum Wr. Wb.

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, kami
memanjatkan rasa puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat,
hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah tentang
“Muhammadiyah Sebagai Gerakan Pendidikan ”

Ucapan terimakasih kepada Bapak Fuady Abdullah, Lc., MA selaku pembimbing


kami dalam penyelesaian makalah ini, sehingga kami dapat dengan mudah memahami
masing-masing isi didalam makalah ini.

Terlepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan
baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka
kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah
ini.

Akhir kata kami berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat terhadap
pembaca.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Ponorogo, 22 Mei 2019

Penyusun

2
DAFTAR ISI

COVER................................................................................................................................ 1

KATA PENGANTAR ......................................................................................................... 2

DAFTAR ISI ....................................................................................................................... 3

BAB I PENDAHULUAN ................................................................................................... 4

I. Latar Belakang ........................................................................................................ 4


II. Rumusan masalah .................................................................................................... 5
III. Tujuan ...................................................................................................................... 5
BAB II PEMBAHASAN ..................................................................................................... 6
1. Faktor Yang Melatar Belakangi Gerakan Muhamadiyah
Dibidang Pendidikan .................................................................................................. 6
2. Cita-cita Pendidikan Muhamadiyah ......................................................................... 7
3. Bentuk-bentuk dan Model Pendidikan Muhamadiyah ............................................. 7
4. Pemikiran dan Praksis Pendidikan Muhamadiyah ..................................................... 8
5. Tantangan dan Revitalisasi Pendidikan Muhamadiyah ............................................. 10

BAB III PENUTUP ............................................................................................................. 16

6. Kesimpulan .................................................................................................................... 16
7. Saran .............................................................................................................................. 16

DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................................... 17

3
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Saat kolonial Belanda menjajah bumi nusantara, Pendidikan Islam telah tersebar luas
dalam wujud “pondok pesantren”, dimana islam diajarkan di musholla/langgar/masjid.
Sistem yang digunakan seperti sistem sorogan, bandongan, dan wetonan. Sorogan adalah
sistem pendidikan dimana secara perorangan menghadap kyai dengan membawa kitab,
kyai membacakan dan mengartikan kemudian sang santri menirukannya. Bandongan atau
Wetonan adalah sang kyai membaca, mengartikan dan menjelaskan maksud teks dari
kitab tertentu namun sang santri hanya mendengarkan penjelasan dari sang kyai.

Sistem pendidikan semasa itu hanya berorientasi pada hafalan teks semata, sehingga
tidak merangsang santri untuk berdiskusi. Cabang ilmu agama yang diajarkan sebatas
Hadits dan Mustholah Hadist, Fiqih dan Usul Fiqih, Ilmu Tauhid, Ilmu Tasawuf, Ilmu
Mantiq, Ilmu Bahasa Arab. Ini berlangsung hingga awal abad ke-20. Sudah barang tentu
di sekolah Belanda para murid tidak diperkenalkan pendidikan Islam sehingga menjadikan
cara berfikir dan tingkah laku mereka banyak yang menyimpang dari ajaran Islam.

Melihat kenyataan ini K.H Ahmad Dahlan beserta para tokoh bertekad untuk
memperbaharui pendidikan bagi umat Islam. Pembaharuan yang dimaksud meliputi dua
segi, yaitu segi cita-cita dan segi teknik. Segi cita-cita adalah untuk membentuk manusia
muslim yang berakhlaqul karimah, alim, luas pandangan dan paham terhadap masalah
keduniaan, cakap, serta bersedia berjuang untuk kemajuan agama Islam. Sedang dari Segi
teknik adalah lebih banyak berhubungan dengan cara-cara penyelenggaraan pendidikan
modern terutama system/model pembelajaran yang diterapkan selama pelaksanaan
pendidikan.

4
B. Rumusan Masalah
1. Apa faktor yang melatar belakangi Gerakan Muhamadiyah di bidang
Pendidikan ?
2. Bagaimana cita-cita Pendidikan Muhamadiyah ?
3. Apa bentuk-bentuk dan Model Pendidikan Muhamadiyah ?
4. Bagaimana Pemikiran dan Praksis Pendidikan Muhamadiyah ?
5. Apa saja Tantangan dan Revitalisasi Pendidikan Muhamadiyah ?

C. Tujuan Penulisan Makalah


1. Untuk Memahami Faktor yang melatarbelakangi Gerakan Muhamadiyah di
bidang Pendidikan.
2. Untuk memahami Cita-cita Pendidikan Muhamadiyah.
3. Untuk memahami Bentuk dan Model Pendidikan Muhamadiyah.
4. Untuk memahami Pemikiran dan Praksis Pendidikan Muhamadiyah.
5. Untuk memahami Tantangan dan Revitalisasi Pendidikan Muhamadiyah.

5
BAB II
PEMBAHASAN

1) Faktor Yang Melatar belakangi Gerakan Muhammadiyah Dibidang Pendidikan


Muhammadiyah dikenal sebagai gerakan Islam yang mempelopori
pendidikan Islam modern. Salah satu latar belakang berdirinya Muhammadiyah
menurut Mukti Ali ialah ketidak efektifan lembaga pendidikan agama pada waktu
penjajahan Belanda, sehingga Muhammadiyah memelopori pembaruan dengan jalan
melakukan reformasi ajaran dan pendidikan Islam. Saat kolonial Belanda menjajah
bumi nusantara. Pendidikan Islam telah tersebar luas dalam wujud "pondok
pesantren", dimana islam diajarkan di mushollalanggarmasjid. Sistem yang digunakan
seperti sistem sorogan, bandongan, dan wetonan. Sorogan adalah sistem pendidikan
climana secara perorangan menghadap kyai dengan membawa kitab . dan mengartikan
kemudian sang santri . santri hanya mendengarkan penjelasan dari semasa itu hanya
berorientasi pada hafalan sang kyai.
Sistem pendidikan teks semata, sehingga tidak merangsang santri untuk
berdiskusi. Cabang ilmu agama yang diajarkan sebatas Hadits dan Mustholah Hadist,
Fiqih dan Usul Fiqih, Ilmu Tauhid, Ilmu Tasawuf, Ilmu Mantiq, Ilmu Bahasa Arab. Ini
berlangsung hingga awal abad ke-20.Dalam sekolah Belanda para murid tidak
diperkenalkan pendidikan Islam sehingga menjadikan cara berfikir dan tingkah laku
mereka banyak yang menyimpang dari ajaran Islam.Melihat kenyataan ini K.H
Ahmad Dahlan beserta para tokoh bertekad untuk memperbaharui pendidikan bagi
umat Islam.
Pembaharuan yang dimaksud meliputi dua segi, yaitu segi cita-cita dan segi
teknik. Segi cita-cita adalah untuk membentuk manusia muslim yang berakaqul
karimah, alim, luas pandangan dan paham terhadap masalah keduniaan, cakap, serta
bersedia berjuang untuk kemajuan agama Islam. Sedang dari Segi teknik adalah lebih
banyak berhubungan dengan cara-cara penyelenggaraan pendidikan modernKini
pendidikan Muhammadiyah telah berkembang pesat dengan segala kesuksesannya,
tetapi masalah dan tantangan pun tidak kalah berat.Pendidikan Muhammadiyah
merupakan bagian yang terintegrasi dengan gerakan Muhammadiyah dan telah berusia
sepanjang umur Muhammadiyah.

6
2) Cita-Cita Pendidikan Muhammadiyah
Sebagai gerakan dakwah Islam amar ma’ruf nahi mungkar, Muhammadiyah
dituntut untuk mengkomunikasikan pesan dakwahnya dengan menanamkan khazanah
pengetahuan melalui jalur pendidikan.
Secara umum dapat dipastikan bahwa ciri khas lembaga pendidikan
Muhammadiyah yang tetap dipertahankan sampai saat adalah dimasukkannya mata
pelajaran AIK/lsmuba di semua lembaga pendidikan (formal) milik Muhammadiyah.
Hal tersebut sebagai salah satu upaya Muhammadiyah agar setiap individu senantiasa
menyadari bahwa ia diciptakan oleh Allah semata-mata untuk berbakti kepada-Nya.
Usaha Muhammadiyah mendirikan dan menyelenggarakan sistem pendidikan modern,
karena Muhammadiyah yakin bahwa Islam bisa menjadi rahmatan lil-‘alamin,
menjadi petunjuk dan rahmat bagi hidup dan kehidupan segenap manusia jika
disampaikan dengan cara-cara modern. Dasarnya adalah Allah berfirman: “Wahai
jama’ah jin dan manusia, jika kalian sanggup menembus (melintasi) pejuru langit dan
bumi, maka lintasilah. Kamu sekalian tidak akan sanggup melakukannya melainkan
dengan kekuatan (ilmu pengetahuan)”(QS. Ar-rahman/55:33).

3) Bentuk-Bentuk Dan Model Pendidikan Muhammad


Muhammadiyah konsekwen untuk mencetak elit muslim terdidik lewat jalur
pendidikan. Ada beberapa tipe pendidikan Muhammadiyah:

1. Tipe MualliminMualimat Yogyakarta (pondok pesantren)

2. Tipe madrasahDepag; Ibtidaiyah, Tsanawiyah dan Aliyah

3. Tipe sekolah Diknas; TK, SD, SMP, SMA SMK, Universitas ST

PoliteknikAkademi

4. Madrasah Diniyah, dan lain-lain

Orientasi pembaharuan di bidang pendidikan menjadi prioritas utama yang ingin


dicapai oleh Muhammadiyah, hal ini tergambar dari tujuan pendidikan dalam
Muhammadiyah, untuk mencetak peserta didik lulusan sekolah Muhammadiyah,
sebagai berikut:

a. Memiliki jiwa Tauhid yang murni


b. Beribadah hanya kepada Allah

7
c. Berbakti kepada orang tua serta bersikap baik terhadap kerabat
d. Memiliki akhlaq yang mulia
e. Berpengetahuan luas serta memiliki kecakapan, dan
f. Berguna bagi masyarakat, bangsa dan agama

Pendidikan, menurut KH. Ahmad Dahlan, hendaknya diarahkan pada usaha


membentuk manusia muslim yang berbudi pekerti luhur, luas pandangan dan
berakhlak Usaha Muhammadiyah mendirikan dan menyelenggarakan sistem
pendidikan modern, karena Muhammadiyah yakin bahwa Islam bisa menjadi
rahmatan lil-‘alamin, menjadi petunjuk dan rahmat bagi hidup dan kehidupan
segenap manusia jika disampaikan dengan cara-cara modern. Dasarnya adalah Allah
berfirman: “Wahai jama’ah jin dan manusia, jika kalian sanggup menembus
(melintasi) pejuru langit dan bumi, maka lintasilah. Kamu sekalian tidak akan
sanggup melakukannya melainkan dengan kekuatan (ilmu pengetahuan)”(QS. Ar-
rahman/55:33).

Secara teoritik, ada tiga alasan mengapa pendidikan AIK perlu diajarkan:

1. Mempelajari AIK pada dasarnya agar menjadi bangsa Indonesia yang


beragama Islam dan mempunyai alam fikiran modern/tajdid/dinamis.
2. Memperkenalkan alam fikiran tajdid, dan diharapkan peserta didik dapat
tersentuh dan sekaligus mengamalkannya, dan.
3. Perlunya etika/akhlak peserta didik yang menempuh pendidikan di lembaga
pendidikan Muhammadiyah.

4) Pemikiran dan Praksis Pendidikan Muhamadiyah

Hampir seluruh pemikiran K.H. Ahmad Dahlan berangkat dari keprihatinannya


terhadap situasi dan kondisi global umat Islam waktu itu yang tenggelam dalam
kejumudan (stagnasi), kebodohan, serta keterbelakangan. Kondisi ini semakin
diperparah dengan politik kolonial belanda yang sangat merugikan bangsa Indonesia.
Pemikiran atau ide-ide K.H. Ahmad Dahlan tertuang dalam gerakan
Muhammadiyah yang ia dirikan pada tanggal 18 Nopember 1912. Organisasi ini
mempunyai karekter sebagai gerakan sosial keagamaan. Titik tekan perjuangannya
mula-mula adalah pemurnian ajaran Islam dan bidang pendidikan. Muhammadiyah
mempunyai pengaruh yang berakar dalam upaya pemberantasan bid’ah, khurafat dan
tahayul. Ide pembaruannya menyetuh aqidah dan syariat, misalnya tentang uapcara
8
kematian talqin, upacara perkawinan, kehamilan, sunatan, menziarahi kuburan yang
dikeramatkan, memberikan makanan sesajen kepada pohon-pohon besar, jembatan,
rumah angker dan sebagainya, yang secara terminologi agama tidak dikenal dalam
Islam.
Menurut K.H. Ahmad Dahlan, upaya strategis untuk menyelamatkan umat Islam
dari pola berpikir yang statis menuju pada pemikiran yang dinamis adalah melalui
pendidikan. Memang, Muhammadiyah sejak tahun 1912 telah menggarap dunia
pendidikan, namun perumusan mengenai tujuan pendidikan yang spesifik baru disusun
pada 1936. Pada mulanya tujuan pendidikan ini tampak dari ucapan K.H. Ahmad
Dahlan: “ Dadiji kjai sing kemajorean, adja kesel anggonu njambut gawe kanggo
Muhammadiyah”( Jadilah manusia yang maju, jangan pernah lelah dalam bekerja
untuk Muhammadiyah).
Dahlan merasa tidak puas dengan system dan praktik pendidikan yang ada di
Indonesia saat itu, dibuktikan dengan pandangannya mengenai tujuan pendidikan
adalah untuk menciptakan manusia yang baik budi, luas pandangan, dan bersedia
berjuang untuk kemajuan masyarakat. Karena itu Dahlan merentaskan beberapa
pandangannya mengenai pendidikan dalam bentuk pendidikan model Muhammadiyah
khususnya, antara lain:

 Pendidikan Integralistik
K.H Ahmad Dahlan (1868-1923) adalah tipe man of action sehingga sudah pada
tempatnya apabila mewariskan cukup banyak amal usaha bukan tulisan. Oleh
sebab itu untuk menelusuri bagaimana orientasi filosofis pendidikan Beliau musti
lebih banyak merujuk pada bagaimana beliau membangun sistem pendidikan.
Namun naskah pidato terakhir beliau yang berjudul Tali Pengikat Hidup menarik
untuk dicermati karena menunjukkan secara eksplisit konsen Beliau terhadap
pencerahan akal suci melalui filsafat dan logika. Sedikitnya ada tiga kalimat kunci
yang menggambarkan tingginya minat Beliau dalam pencerahan akal, yaitu:

1. Pengetahuan tertinggi adalah pengetahuan tentang kesatuan hidup yang dapat


dicapai dengan sikap kritis dan terbuka dengan mempergunakan akal sehat
dan istiqomah terhadap kebenaran akali dengan di dasari hati yang suci;
2. Akal adalah kebutuhan dasar hidup manusia;
3. Ilmu mantiq atau logika adalah pendidikan tertinggi bagi akal manusia yang
hanya akan dicapai hanya jika manusia menyerah kepada petunjuk Allah swt.
9
Pribadi K.H. Ahmad Dahlan adalah pencari kebenaran hakiki yang
menangkap apa yang tersirat dalam tafsir Al-Manaar sehingga meskipun
tidak punya latar belakang pendidikan Barat tapi ia membuka lebar-lebar
gerbang rasionalitas melalui ajaran Islam sendiri, menyerukan ijtihad dan
menolak taqlid.

Dalam konteks pencarian pendidikan integralistik yang mampu memproduksi


ulama-intelek-profesional, gagasan Abdul Mukti Ali menarik disimak. Menurutnya,
sistem pendidikan dan pengajaran agama Islam di Indonesia ini yang paling baik
adalah sistem pendidikan yang mengikuti sistem pondok pesantren karena di
dalamnya diresapi dengan suasana keagamaan, sedangkan sistem pengajaran
mengikuti sistem madrasah/sekolah, jelasnya madrasah/sekolah dalam pondok
pesantren adalah bentuk sistem pengajaran dan pendidikan agama Islam yang terbaik.
Dalam semangat yang sama, belakangan ini sekolah-sekolah Islam tengah berpacu
menuju peningkatan mutu pendidikan. Salah satu model pendidikan terbaru adalah full
day school, sekolah sampai sore hari, tidak terkecuali di lingkungan Muhammadiyah.

5) Tantangan dan Revitalisasi Pendidikan Muhamadiyah

Sebagai gerakan dakwah Islam amar ma’ruf nahi mungkar, Muhammadiyah


dituntut untuk mengkomunikasikan pesan dakwahnya dengan menanamkan khazanah
pengetahuan melalui jalur pendidikan.

Tantangan yang Dihadapi Muhammadiyah dalam Bidang Pendidikan;

a) Masalah Kualitas Pendidikan


Perkembangan amal usaha Muhammadiyah khususnya dalam bidang
pendidikan yang sangat pesat secara kuantitatif belum diimbangi peningkatan
kualitas yang sepadan, sehingga sampai batas tertentu kurang memiliki daya saing
yang tinggi, serta kurang memberikan sumbangan yang lebih luas dan inovatif
bagi pengembangan kemajuan umat dan bangsa.

Bahwa amal usaha Muhammadiyah dalam hal kualitas mengalami dua masalah
sekaligus, yaitu, pertama, terlambatnya pertumbuhan kualitas dibandingkan
dengan penambahan jumlah yang spektakuler, sehingga dalam beberapa hal kalah
bersaing dengan pihak lain. Kedua, tidak meratanya pengembangan mutu lembaga
pendidikan. Dalam sejumlah aspek banyak disoroti kelemahan amal usaha

10
khususnya di bidang pendidikan yang kurang mampu menunjukkan daya saing di
tingkat nasional apalagi internasional. Amal usaha Muhammadiyah tidak
mengalami proses inovasi yang merata dan signifikan, sehingga cenderung
berjalan di tempat, kendati beberapa lainnya mulai bangkit mengembangkan ide-
ide dan metode baru dalam peningkatan kualitas dan keberadaan amal usaha
Muhammadiyah.

Kedepan diperlukan peningkatan kualitas yang lebih inovatif, sehingga amal


usaha Muhammadiyah khususnya bidang pendidikan dapat lebih unggul serta
mampu mengemban misi dakwah dan tajdid Muhammadiyah.

Dewasa ini globalisasi sudah mulai menjadi permasalahan aktual pendidikan.


Permasalahan globalisasi dalam bidang pendidikan terutama menyangkut output
pendidikan. Seperti diketahui, di era globalisasi dewasa ini telah terjadi pergeseran
paradigma tentang keunggulan suatu Negara, dari keunggulan komparatif
(Comperative adventage) kepada keunggulan kompetitif (competitive advantage).

Keunggulam komparatif bertumpu pada kekayaan sumber daya alam,


sementara keunggulan kompetitif bertumpu pada pemilikan sumber daya manusia
(SDM) yang berkualitas artinya dalam konteks pergeseran paradigma keunggulan
tersebut, pendidikan nasional akan menghadapi situasi kompetitif yang sangat
tinggi, karena harus berhadapan dengan kekuatan pendidikan global.

Hal ini berkaitan erat dengan kenyataan bahwa globalisasi justru melahirkan
semangat cosmopolitantisme dimana anak-anak bangsa boleh jadi akan memilih
sekolah-sekolah di luar negeri sebagai tempat pendidikan mereka, terutama jika
kondisi sekolah-sekolah di dalam negeri secara kompetitif under-quality
(berkualitas rendah). Inilah salah satu dari sekian tantangan yang harus dihadapi
Muhammadiyah dalam bidang pendidikan.

b) Permasalahan Profesionalisme Guru


Salah satu komponen penting dalam kegiatan pendidikan dan proses
pembelajaran adalah pendidik atau guru. Betapapun kemajuan taknologi telah
menyediakan berbagai ragam alat bantu untuk meningkatkan efektifitas proses
pembelajaran, namun posisi guru tidak sepenuhnya dapat tergantikan. Itu artinya
guru merupakan variable penting bagi keberhasilan pendidikan.

11
Menurut Suyanto, “guru memiliki peluang yang amat besar untuk mengubah
kondisi seorang anak dari gelap gulita aksara menjadi seorang yang pintar dan
lancar baca tulis yang kemudian akhirnya ia bisa menjadi tokoh kebanggaan
komunitas dan bangsanya”. Tetapi segera ditambahkan: “guru yang demikian tentu
bukan guru sembarang guru. Ia pasti memiliki profesionalisme yang tinggi,
sehingga bisa “di ditiru”

Itu artinya pekerjaan guru tidak bisa dijadikan sekedar sebagai usaha sambilan,
atau pekerjaan sebagai moon-lighter (usaha objekan). Namun kenyataan
dilapangan menunjukkan adanya guru terlebih-lebih guru honorer, yang tidak
berasal dari pendidikan guru, dan mereka memasuki pekerjaan sebagai guru tanpa
melalui system seleksi profesi. Singkatnya di dunia pendidikan nasional ada
banyak, untuk tidak mengatakan sangat banyak, guru yang tidak profesioanal.
Inilah salah satu permasalahan internal yang harus menjadi “pekerjaan rumah”
bagi pendidikan Muhammadiyah masa kini.

c) Masalah kebudayaan (alkulturasi)


Kebudayaan yaitu suatu hasil budi daya manusia baik bersifat material maupun
mental spiritual dari bangsa itu sendiri ataupun dari bangsa lain. Suatu
perkembangan kebudayaan dalam abad moderen saat ini adalah tidak dapat
terhindar dari pengaruh kebudayan bangsa lain. Kondisi demikian menyebabkan
timbulnya proses alkulturasi yaitu pertukaran dan saling berbaurnya antara
kebudayaan yang satu dengan yang lainnya.

Dari sinilah terdapat tantangan bagi pendidikan-pendidikan islam yaitu dengan


adanya alkulturasi tersebut maka akan mudah masuk pengaruh negatif bagi
kebudayaan, moral dan akhlak anak. Oleh karena itu hal ini merupakan tantangan
bagi pendidikan islam untuk memfilter budaya-budaya yang negatif yang
diakibatkan oleh pengaruh budaya-budaya barat. (Arifin, 1994:42)

12
d) Permasalahan Strategi Pembelajaran
Menurut Suyanto era globalisasi dewasa ini mempunyai pengaruh yang sangat
signifikan terhadap pola pembelajaran yang mampu memberdayakan para peserta
didik. Tuntutan global telah mengubah paradigma pembelajaran dari paradigma
pembelajaran tradisional ke paradigma pembelajaran baru. Suyanto
menggambarkan paradigma pembelajaran sebagai berpusat pada guru,
menggunakan media tunggal, berlangsung secara terisolasi, interaksi guru-murid
berupa pemberian informasi dan pengajaran berbasis factual atau pengetahuan.

Dewasa ini terdapat tuntutan pergeseran paradigma pembelajaran dari model


tradisional ke arah model baru, namun kenyataannya menunjukkan praktek
pembelajaran lebih banyak menerapkan strategi pembelajaran tradisional dari
pembelajaran baru. Hal ini agaknya berkaitan erat dengan rendahnya
professionalisme guru.

e) Masalah Kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi


Sebagimana telah kita sadari bersama bahwa dampak positif dari pada
kemajuan teknologi sampai kini, adalah bersifat fasilitatif (memudahkan).
Teknologi menawarkan berbagai kesantaian dan ketenangan yang semangkin
beragam.

Dampak negatif dari teknologi moderen telah mulai menampakan diri di depan
mata kita, yang pada prinsipnya melemahkan daya mental-spiritual / jiwa yang
sedang tumbuh berkembang dalam berbagai bentuk penampilannya. Pengaruh
negatif dari teknologi elektronik dan informatika dapat melemahkan fungsi-fungsi
kejiwaan lainya seperti kecerdasan pikiran, ingatan, kemauan dan perasaan (emosi)
diperlemah kemampuan aktualnya dengan alat-alat teknologi-elektronis dan
informatika seperti Komputer, foto copy dan sebagainya.(Arifin,1991,hal: 9 )

Alat-alat diatas dalam dunia pendidikan memang memiliki dua dampak yaitu
dampak positif dan juga dampak negatif. Misalnya pada pelajaran bahasa asing
anak didik tidak lagi harus mencari terjemah kata-kata asing dari kamus, tapi
sudah bisa lewat komputer penerjemah atau hanya mengcopy lewat internet. Nah
dari sinilah nampak jelas bahwa pengaruh teknologi dan informasi memiliki
dampak positif dan negatif

13
Tantangan era globalisasi terhadap pendidikan agama Islam di antaranya, krisis
moral. Melalui tayangan acara-acara di media elektronik dan media massa lainnya,
yang menyuguhkan pergaulan bebas, sex bebas, konsumsi alkohol dan narkotika,
perselingkuhan, pornografi, kekerasan, liar dan lain-lain. Hal ini akan berimbas
pada perbuatan negatif generasi muda seperti tawuran, pemerkosaan, hamil di luar
nikah, penjambretan, pencopetan, penodongan, pembunuhan oleh pelajar, malas
belajar dan tidak punya integritas dan krisis akhlaq lainnya.

 Revitalisasi Pendidikan Muhamadiyah


Sutrisno (2008: 2-3) menjelaskan bahwa dampak berkembangnya dikotomi
keilmuan telah melahirkan system Islam yang mandul dan tidak berdaya. Pendidikan
Muhammadiyah selalu merespon perkembangan zaman. Kesadaran akan keringnya
Islamic value dan dikotomi ilmu dalam pendidikan menjadi sorotan Muhammadiyah.
Banyaknya amal usaha dalam bidang pendidikan menuntut pembaharuan pendidikan
Muhammadiyah yang lebih objektif, dalam arti mampu menyatu dalam kehidupan
sosial masyarakat. Mohamad. Ali (2010: XIX) menjelaskan, jika pada tahun 1990an
madrasah mengalami modernisasi, pada kurun tersebut sekolah mengalami gejala
spiritualisasi. Modernisasi bersifat top-down, sebaliknya spiritualisasi sekolah
bersifat bottom-up. Spiritualisasi sekolah dipelopori Pendidikan Muhammadiyah yang
menerapkan system pembaharuan dalam pendidikan.
Konsep pendidikan Muhammadiyah yang integrative-interkonektif mengajarkan
keilmuan Agama dan umum sekaligus, menjadi ciri khas pendidikan
Muhammadiyah. Ciri khas ini yang akan menjadi icon pendidikan Muhammadiyah,
sekaligus menjadi oase dalam kekeringan ruh spiritual dalam pendidikan. Dalam
Kurikulum ISMUBA Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah DIY (Dikdasmen
PWM DIY, 2012:II), pendidikan Muhammadiyah memiliki empat fungsi, yaitu:
pertama sebagai sarana pendidikan dan pencerdasan, kedua, pelayanan masyarakat,
dakwah amar ma’ruf nahi munkar dan keempat, lahan kaderisasi. Dengan adanya
fungsi-fungsi tersebut, sekolah dan madrasah Muhammadiyah didesain dan
diorientasikan untuk memberikan pelayanan dan peningkatan kualitas lulusan yang
unggul dalam kepribadian, keagamaan, keilmuan, keterampilan, berkarya seni-budaya
dan berdaya saing tinggi, baik di tingkal lokal, nasional maupun global. Mengacu pada
tujuan pendidikan Muhammadiyah yaitu, pendidikan, pelayanan, dakwah, dan
perkaderan. Paradigma pendidik dalam lembaga pendidikan Muhammadiyah harus
disatukan.

14
Visi-misi pendidikan Muhammadiyah harus di internalisasikan. Paradigma itu
membentuk kerangka berfikir dan kesadaran kritis bahwa lembaga pendidikan
Muhammadiyah tidak hanya murni pendidikan dan pelayanan, tetapi ada aspek
penting lain yaitu misi perkaderan dan dakwah yang menjadi kewajiban masing-
masing pendidik di Muhammadiyah untuk melaksanakan misi tersebut.
Misi pendidikan Muhammadiyah tersebut sekaligus menjadi solusi dan respon
tentang keringnya ruh keagamaan dalam pendidikan, Muhammadiyah memiliki
ciri khas yaitu pendidikan al-Islam dan Kemuhammadiyahan. Dua hal itu menjadi
ciri khas sekaligus solusi dalam mengisi kekeringan ruh spiritual dalam pendidikan,
baik pada pendidikan dasar dan menengah maupun pada pendidikan tinggi di
Muhammadiyah. semua AUM pendidikan harus melaksanakan pendidikan al-Islam
dan Kemuhammadiyahan sebagai fondasi pendidikan. AIK yang sudah berjalan pada
lembaga Muhammadiyah harus di vitalkan kembali fungsinya. Sehingga empat
peran dan misi pendidikan Muhammadiyah dapat berjalan seperti yang di cita-citakan

15
BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Muhammadiyah sebagai organisasi Islam sejak awal berdiri memiliki komitmen yang
teguh dalam mencerdaskan kehidupan bangsa melalui jalur pendidikan, hingga saat ini
lembaga pendidikan yang dimiliki Muhammadiyah terus berkembang dan bertambah baik
secara kuantitas maupun kualitas, walaupun di sisi lain tidak dapat dipungkiri ada lembaga
pendidikan Muhammadiyah yang mengalami keterpurukan bahkan ada yang tutup, hal ini
merupakan dinamika lembaga pendidikan yang dimiliki oleh Muhammadiyah.

Manajemen yang selama ini berlaku di Muhammadiyah justru membuat para perintis
lembaga pendidikan di Muhammadiyah bersemangat untuk berkompetisi secara positif,
walaupun demikian, menurut hemat penulis manajemen yang sekarang berlaku membutuhkan
evaluasi secara mendalam untuk peningkatan mutu pendidikan Muhammadiyah secara umum.

16
DAFTAR PUSTAKA

Mulkhan, Abdul Munir. Pemikiran KH. Ahmad Dahlan dan Muhammadiyah. Jakarta:
Bumi Aksara.1990.

Amir Hamzah Wirjosukarto, 1985, Pembaharuan Pendidikan dan Pengajaran Islam, Jember:
Mutiara Offset.

Zubair, Achmad Charris.2000. Peningkatan Kualitas Pendidikan Muhammadiyah. PP


Muhammadiyah: Majelis Tarjih dan pengembangan Pemikiran Islam.

17

Anda mungkin juga menyukai