Anda di halaman 1dari 6

Fenomena Alam

Gunung Berapi

1. Kamar magma besar 9. Lapisan lava dari gunung berapi


2. Batu dasar 10. Tengkuk
3. Penyalur (Conduit) 11. Kon parasit
4. Asas 12. Aliran lava
5. Sill 13. Bukaan
6. Paip cabang 14. Kawah
7. Lapisan abu dari gunung berapi 15. Kepulan abu
8. Sisi
Gunung berapi adalah bukaan, atau rekahan, pada permukaan atau kerak
bumi, yang membenarkan gas, abu, dan batu cair yang panas bebas jauh di dalam bawah
permukaan bumi. Aktiviti gunung berapi membabitkan extrusion of rock yang cenderung
membentuk gunung atau ciri-ciri berbentuk gunung melalui tempoh masa.Gunung berapi
biasanya terdapat di mana plak tektonik berpisah atau bertembung. Rabung tengah laut,
seperti Rabung Tengah Atlantik (Mid Atlantic Ridge), adalah contoh plak tetonik
berpisah; Lingkaran Api Pasifik pula mempunyai contoh gunung berapi yang terhasil
akibat pertembungan plak tetonik. Sebaliknya, gunung berapi biasanya tidak terhasil di
mana dua plak tetonik bergesel sesama sendiri. Gunung berapi juga boleh terbentuk di
kawasan di mana terdapat renggangan pada kerak Bumi dan di mana kerak Bumi
menjadi tipis (di kenali sebagai gunung berapi antaraplat bukan titik panas), seperti di
Lembah Rift Afrika (African Rift Valley), Rhine Graben Eropah dengan gunung berapi
Eifelnya, Lapangan gunung berapi Wells Gray-Clearwater dan Rio Grande Rift di
Amerika Utara. Akhir sekali, gunung berapi boleh dihasilkan melalui pluma mantel
(mantle plume), yang dikenali sebagai titik panas; titik panas ini boleh berlaku jauh dari
sempadan plak, seperti kepulauan Hawai. Amat menarik, gunung berapi titik panas juga
didapati di tempat lain di sistem suria, terutamanya pada bulan dan planet berbatu.

Jenis gunung berapi berdasarkan bentuknya : Stratovolcano, tersusun dari batuan


hasil letusan dengan tipe letusan berubah-ubah sehingga dapat menghasilkan susunan
yang berlapis-lapis dari beberapa jenis batuan, sehingga membentuk suatu kerucut besar
(raksasa), terkadang bentuknya tidak beraturan, karena letusan terjadi sudah beberapa
ratus kali. Gunung Merapi merupakan jenis ini. Perisai, tersusun dari batuan aliran lava
yang pada saat diendapkan masih cair, sehingga tidak sempat membentuk suatu kerucut
yang tinggi (curam), bentuknya akan berlereng landai, dan susunannya terdiri dari batuan
yang bersifat basaltik. Contoh bentuk gunung berapi ini terdapat di kepulauan Hawai.
Cinder Cone, merupakan gunung berapi yang abu dan pecahan kecil batuan vulkanik
menyebar di sekeliling gunung. Sebagian besar gunung jenis ini membentuk mangkuk di
puncaknya. Jarang yang tingginya di atas 500 meter dari tanah di sekitarnya. Kaldera,
Gunung berapi jenis ini terbentuk dari ledakan yang sangat kuat yang melempar ujung
atas gunung sehingga membentuk cekungan. Gunung Bromo merupakan jenis ini.
Tingkat isyarat gunung berapi di Indonesia

Status Makna Tindakan


 Menandakan gunung berapi  Wilayah yang terancam
yang segera atau sedang bahaya direkomendasikan
meletus atau ada keadaan untuk dikosongkan
kritis yang menimbulkan  Koordinasi dilakukan secara
bencana harian
AWAS
 Letusan pembukaan dimulai
dengan abu dan asap  Piket penuh

 Letusan berpeluang terjadi


dalam waktu 24 jam
 Menandakan gunung berapi  Sosialisasi di wilayah
yang sedang bergerak ke arah terancam
letusan atau menimbulkan  Penyiapan sarana darurat
bencana  Koordinasi harian
 Peningkatan intensif kegiatan
seismik  Piket penuh
 Semua data menunjukkan
SIAGA bahwa aktivitas dapat segera
berlanjut ke letusan atau
menuju pada keadaan yang
dapat menimbulkan bencana

 Jika tren peningkatan


berlanjut, letusan dapat terjadi
dalam waktu 2 minggu
 Ada aktivitas apa pun  Penyuluhan/sosialisasi
bentuknya  Penilaian bahaya
 Terdapat kenaikan aktivitas di  Pengecekan sarana
atas level normal
 Peningkatan aktivitas seismik  Pelaksanaan piket terbatas
WASPADA dan kejadian vulkanis lainnya

 Sedikit perubahan aktivitas


yang diakibatkan oleh
aktivitas magma, tektonik dan
hidrotermal
NORMAL  Tidak ada gejala aktivitas  Pengamatan rutin
tekanan magma
 Survei dan penyelidikan
 Level aktivitas dasar

Fenomena yang terjadi di Indonesia :

Ku

◄◄◄ Kubah Gunung Kelud lelehkan lava

KEDIRI - Kawah Kelud yang kini berubah jadi kubah lava terus menunjukkan
pertumbuhan. Rata-rata laju aliran lava yang keluar dari perut bumi mencapai 700 ribu
meter kubik per hari. Berbeda dengan sebelumnya, semburan lava tidak lagi membentuk
gundukan ke atas, tapi jatuh lereng kubah. “Sekarang tingginya sudah maksimal,
sehingga leleran lava yang keluar menumpuk terus dan jatuh lagi ke bawah,” kata Kepala
Seksi Pengamatan Gempa Bumi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi
(PVMBG) I Gede Swandika. Menurut Gede, ketinggian kubah lava saat ini diperkirakan
mencapai 190 meter. Diameternya lebih dari 250 meter, sehingga hampir seluruh danau
kawah tertutup. “Mungkin air yang tersisa tinggal lima persen,” ungkap I Gede.
Sedikitnya air itu menyebabkan asap yang keluar dari dalam kawah terus berkurang.
“Cuma sesekali saja munculnya,” terang Gede. Semburan lava yang melorot turun
menjadi pemandangan menarik di sekitar Kelud. “Bubur” pijar warna merah tampak
mengalir dari puncak kubah. Meski status Kelud sudah turun dari awas ke siaga, sampai
saat ini jumlah kegempaan yang muncul masih sangat tinggi. Jumlahnya lebih dari 300
kali per enam jam. Terakhir, pada rekaman data pukul 12.00 hingga 18.00, kegempaan
yang muncul 334 kali gempa embusan. Menurut Gede, semburan kubah lava
diperkirakan terus berlangsung dalam kurun waktu dua minggu. “Kita akan evaluasi
dalam dua minggu itu,” terangnya. Jika seluruh kawah Kelud telah tertutup, tidak tertutup
kemungkinan kubah lava kembali tumbuh. Tetapi, itu pun tidak melebihi lereng Kelud
yang sudah ada sebelumnya. Karena kondisi tidak menentu itulah, Gede kembali
mengingatkan bahwa masyarakat dilarang mendekati kawah hingga jarak tiga kilometer.
“Status sekarang masih siaga. Rentan terjadi letusan freatik,” tegas Gede. Larangan yang
sama berlaku bagi petugas pemantau. Gede mengaku tidak memperbolehkan petugas
turun ke inti kawah. Selama ini petugas cukup mengandalkan closed circuit television
(CCTV) milik Pemkab Kediri.

Status Gunung Kelud dinaikkan dari siaga menjadi awas. Status awas adalah yang
tertinggi dan paling berbahaya. Meningkatnya gempa vulkanik dalam di Gunung Kelud
menjadi salah satu penyebabnya. Demikian dikatakan Kepala Pusat Mitigasi dan Bencana
Geologi Departemen Sumber Daya Energi dan Mineral, Surono di Bandung, Selasa
(16/10) sore. Menurut Surono, hal ini dilakukan sehubungan meningkatnya aktivitas
vulkanik yang tercatat pukul 11.00 – 17.00 pada tanggal 16 Oktober 2007. Berdasarkan
pengamatan, terjadi 67 gempa vulkanik dangkal. Hal ini menujukan keadaan di Kelud
semakin kritis dan selanjutnya berpotensi disusul letusan. Oleh karena itu, ia mengatakan
sejak pukul 17.24 WIB, pihaknya menaikan status Kelud dari siaga menjadi awas.
Dengan status ini, pihaknya lantas merekomendasikan agar masyarakat yang berada
dalam radius 10 Kilometer mengungsi. Selain itu, masyarakat juga dilarang melakukan
aktivitas di dalam atau sekitar bantaran sungai yang berhulu di atau dari puncak Kelud.
Sampai berhari-hari, waktu demi waktu, Selasa, 30 Oktober 2007 21:16 WIB STATUS
AWAS KELUD TETAP DIPERTAHANKAN kemudian Puncak Krisis Kelud
Diperkirakan Terjadi 3 November lalu Gunung Kelud Masih Menghembuskan Asap Putih
dan akhirnya statusnya menjadi siaga.

Status Gunung Kelud mulai Kamis (8/11) pukul 04.05 WIB diturunkan dari Awas
level 4 ke Siaga level 3. Keputusan tersebut diambil Tim Pantau Gunung Kelud setelah
melihat perubahan karakter erupsi Kelud dari erupsi eksplosif menjadi efusif. Selain itu,
tidak terekamnya gempa vulkanik dalam dan dangkal menunjukkan tidak adanya potensi
magma ke kubah lava. Saat ini, air danau kawah Gunung Kelud telah berubah warna
menjadi hijau keruh. Menurut Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi
Surono, kendati pertumbuhan lava terus terjadi, kecil kemungkinan sisa energi dalam
tubuh Kelud dapat memicu letusan yang dapat mendobrak kubah lava. Namun, walau
status Gunung Kelud turun, Tim Pantau Gunung Kelud berjanji akan terus memantau
aktivitas gunung berapi tersebut seperti pada saat status Awas. Seiring diturunkannya
status Gunung Kelud, puluhan warga Desa Kampung Tengah, Nglegok, Blitar
dipulangkan ke rumah mereka masing-masing. Diangkut dengan truk terbuka, warga tiba
di desa mereka. Senyum merekah di wajah-wajah mereka. Wajar saja, sudah dua minggu
mereka tinggal di pengungsian.