Anda di halaman 1dari 3

Tema “mengisi kemerdekaan” selalu menjadi perbincangan yang diulang

setiap peringatan hari Kemerdekaan Indonesia. Tahun 2017 ini adalah


peringatan kemerdekaan ke-72. Banyak perspektif, namun bagi umat yang
mempercayai Al-Qur’an, ayat 41 surat Al-Hajj dapat menjadi acuan untuk
membangun peradaban.

ِ ‫الز َكاة َ َوأ َ َم ُروا ِب ْال َم ْع ُر‬


‫وف َونَ َه ْوا َع ِن‬ َّ ‫ض أَقَا ُموا ال‬
َّ ‫صالة َ َوآت َ ُوا‬ ْ ‫الَّذِينَ ِإ ْن َم َّكنَّا ُه ْم فِي‬
ِ ‫األر‬
ِ ‫ْال ُم ْن َك ِر َو ِ َّّلِلِ َعاقِبَةُ األ ُم‬
‫ور‬
“(yaitu) orang-orang yang jika Kami beri kedudukan di bumi, mereka
mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat makruf dan
mencegah dari yang mungkar; dan kepada Allahlah kembali segala
urusan.” (Al-Hajj: 41)

Ada tiga pilar utama untuk mengisi dan melestarikan


kemerdekaan (tamkin) dalam ayat tersebut. Shalat, zakat dan amar makruf
nahi mungkar. Shalat akan membentuk pribadi yang saleh, zakat untuk
kemakmuran masyarakat, serta amar makruf nahi mungkar untuk
kemajuan bangsa.

Pemikir Islam Ibnu Khaldun dalam Mukadimah-nya menjelaskan bahwa


sebuah negara akan melalui tiga tahap dari pembentukan sampai
kehancurannya. Ilmuwan abad ke-13 Hijriah ini berpendapat bahwa umur
suatu negara adalah tiga generasi, yakni sekitar 120 tahun.

Generasi pertama adalah orang-orang yang sangat kuat memegang prinsip


untuk membangun kekuasaan. Ibnu Khaldun memakai
istilah ashabiyah (rasa bersama). Bagi bangsa yang dijajah seperti
Indonesia, fase ini bisa disebut sebagai masa perjuangan untuk meraih
kemerdekaan.

Generasi berikutnya, setelah merdeka, berhasil meraih kekuasaan dan


mendirikan negara, generasi ini beralih dari kehidupan yang keras ke
kehidupan kota yang penuh dengan kemewahan.

Selanjutnya, negara akan mengalami kehancuran, sebab generasinya


tenggelam dalam kemewahan, menjadi penakut dan kehilangan
keberanian. Kemunduran ini akan terjadi bila amar makruf nahi mungkar
ditinggalkan. Dan dalam teori-teori pemerintahan Islam, pekerjaan ini
menjadi tanggung jawab penguasa.
BACA JUGA 2019, Tahun Protes dan Reformasi di Berbagai Penjuru
Dunia

Dalam sejarah Islam, tugas seperti itu dipahami dengan baik. Umar bin
Abdul Aziz ketika membaca ayat di atas mengatakan kepada masyarakat,
“Ayat tersebut bukan hanya untuk penguasa saja, melainkan untuk
penguasa dan rakyat sekaligus.” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, Surat Al-Hajj)

Secara ringkas, Abdul Aziz menjelaskan tugas penguasa adalah


melaksanakan tugas agama yang berkaitan dengan rakyat, seperti zakat,
menegakkan hukum dalam perselisihan di antara rakyat, dan membimbing
mereka kepada jalan yang benar.

Adapun tugas masyarakat adalah taat tanpa paksaan dan “tidak


menyembunyikan sesuatu dari apa yang ditampakkan (kepada penguasa),”
kata Umar bin Abdul Aziz.

Umar bin Abdul Aziz adalah pemimpin yang cerdas. Ungkapannya sesuai
dengan teori hubungan elit dan masyarakat. Ia tahu benar apa yang akan
menyebabkan hubungan elit dan masyarakat retak, dan berakhir pada
kehancuran negeri. Ketika rakyat menyembunyikan apa yang berbeda
dengan yang ditampakkan, maka mereka berada dalam kekecewaan
terhadap penguasa. Kekecewaan yang tidak terbendung dapat
menyebabkan kemarahan dan perlawanan.

Masyarakat yang tidak jujur kepada penguasa memang tidak selalu berarti
penguasanya yang buruk. Bisa jadi sebaliknya. Tetapi itu sangat jarang.
Seorang penguasa sangat berpotensi menyalahgunakan kekuasaan untuk
mempertahankan politiknya. Lord Acton mengatakan, “Power tends to
corrupt, and absolute power corrupts absolutely. (Kekuasaan cenderung
korup, dan kekuasaan mutlak menghasilkan korup yang mutlak).”

Dalam kasus Arab Spring atau pemberontakan Arab, Tunisia dan Mesir
bisa menjadi sampel yang baik. Kedua negara telah melakukan privatisasi
usaha-usaha yang dikelola oleh negara untuk kemakmuran rakyat. Mesir
dan Tunisia telah mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi yang layak dan
menerima pujian dari Dana Moneter Internasional pada 2010. Namun
secara politik, privatisasi ini tidak mendorong peningkatan stabilitas rezim.
BACA JUGA Hukum Mengucapkan Selamat Natal dalam Mazhab Syafi'i

Sebabnya adalah para elit penguasa menciptakan kelas pengusaha yang


super kaya (superwealthy entrepreneurs), termasuk anggota keluarga
presiden di kedua negara, yang menjadi sasaran kemarahan rakyat.
Kekayaan tetap berputar pada kaum elit saja, sementara rakyat tetap
miskin.

Bagi negara-negara Arab yang kaya minyak, penguasa mampu mencegah


potensi protes masyarakat dengan memanfaatkan sebagian kekayaan
negara melalui peningkatan gaji, subsidi yang tinggi untuk barang-barang
konsumsi, pekerjaan baru, dan bantuan langsung ke warga.

Tetapi politik seperti itu tidak menguntungkan. Sebab itu hanya menahan
sementara saja, bila sejatinya kaum elit telah rusak. Mayoritas
pemberontakan Arab memang terjadi di negara non-minyak. Namun itu
tidak seharusnya membuat negara-negara kaya minyak merasa tenang,
sebab pemberontakan juga melanda Libya.

Maka kembali kepada teori Umar bin Abdul Aziz, bila penguasa telah
menjalankan tugas-tugasnya dengan amanah, tugas rakyat adalah taat.
Mereka tidak akan berpura-pura di depan kaum elit, tetapi
menyembunyikan rasa ketidakadilan di dada.

Pada akhirnya, banyak pendapat tentang bagaimana mengisi


kemerdekaan bagi masyarakat. Tetapi keberhasilan tugas itu lebih besar
berada di pundak penguasa. Ketika penguasa mampu menjalankan
tugasnya, maka kehidupan bernegara menjadi makmur, hubungan elit dan
masyarakat harmonis, dan peradaban maju.

Penulis: A. Abdullah