Anda di halaman 1dari 42

Asuhan Keperawatan dengan Resiko Bunuh Diri

Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Jiwa II

Dosen Pengampu: Ns. Duma Lumban Tobing, M. Kep, Sp. Kep. J

Disusun oleh:

Shania HasinaSidiki 1710711023

Fiqih Nur Aida 1710711033

Nurul Fatihah Auliani 1710711076

Niasa Lora Rimar 1710711130

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” JAKARTA

2018
KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat dan karunia-Nya kepada penulis sehingga akhirnya penulis dapat menyelesaikan
makalah ini tepat pada waktunya. Makalah yang berjudul Asuhan Keperawatan dengan
Resiko Bunuh Diri yang ditulis untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Keperawatan
Jiwa II.

Pada kesempatan yang baik ini, izinkanlah penulis menyampaikan rasa hormat dan
ucapan terima kasih kepada semua pihak yang dengan tulus ikhlas memberikan bantuan dan
dorongan kepada penulis dalam menyelesaikan masalah ini dengan sebaik-baiknya.

Jakarta, 29 Agustus 2019

Kelompok 6
BAB I:

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kematian yang disebabkan oleh bunuh diri meningkat di seluruh dunia. Data
yang ditemukan di Indonesia menyatakan bahwa bunuh diri menjadi penyebab utama
kedua kematian pada usia produktif 15-29 tahun, dan rata-rata kematian karena bunuh
diri di Indonesia adalah satu orang pada setiap satu jam (Kompas, 8 September 2016).
Meski demikian, perilaku bunuh diri tidak hanya muncul pada kelompok remaja
ataupun orang muda, namun dapat terjadi pada semua kelompok usia.

Perilaku bunuh diri merupakan spektrum yang luas. Crosby, Ortega,


Melanson (2011) menyatakan bahwa percobaan bunuh diri adalah perilaku yang tidak
fatal, diarahkan pada diri sendiri dan berpotensi melukai diri sendiri dengan keinginan
untuk mati, dan suatu percobaan bunuh diri dapat atau tidak dapat menghasilkan luka.
Silverman et al. (2007) menyatakan bahwa percobaan bunuh diri adalah perbuatan yang
ditimbulkan oleh diri sendiri, suatu perilaku yang berpotensi melukai diri sendiri
dengan hasil yang tidak fatal dan ada bukti baik itu eksplisit ataupun implisit dari
keinginan untuk mati.

Perilaku anak-anak depresi dan remaja mungkin berbeda dari perilaku orang
dewasa yang tertekan. Menurut saran dari psikiater, orang tua perlu waspada terhadap
tanda-tanda depresi pada anak-anak mereka. Seorang anak yang dahulunya sering
bermain dengan teman-temannya dan dapat menghabiskan sebagian besar waktu
mereka bersamaan, tiba-tiba dia menyendiri dan tanpa ada kepentingan yang jelas. Hal-
hal yang seperti ini harus membuat orangtua waspada terhadap kebiasaan yang
abnormal dan sudah patut dicurigai adanya gangguan depresi. Anak-anak dan remaja
yang depresi mungkin mengatakan mereka ingin mati atau mungkin berbicara tentang
bunuh diri. Karena merasa tertekan, anak dan remaja akan meningkatkan risiko untuk
melakukan bunuh diri. Bahkan, hal itu bisa menyeret kepada kebiasaan buruk dan
terjerumus penyalahgunaan alkohol, atau obat lain, sebagai cara untuk merasa lebih
baik.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa itu Pengertian Resiko Bunuh Diri?


2. Apa saja Etiologi Resiko Bunuh Diri?
3. Bagaimana Rentang Respon Resiko Bunuh Diri?
4. Apa saja Pengkajian Resiko Bunuh Diri?
5. Bagaimana Pohon Masalah Resiko Bunuh Diri?
6. Apa saja Diagnosa Keperawatan Resiko Bunuh Diri?
7. Apa saja Intervensi Keperawatan Resiko Bunuh Diri?
8. Apa saja Implementasi Keperawatan Resiko Bunuh Diri?
9. Bagaimana Terapi Aktivitas Kelompok Keperawatan Resiko Bunuh Diri?

1.3 Tujuan Penulisan


1. Mengetahui apa itu Pengertian Resiko Bunuh Diri.
2. Mengetahui apa saja Etiologi Resiko Bunuh Diri.
3. Mengetahui bagaimana Rentang Respon Resiko Bunuh Diri.
4. Mengetahui apa saja Pengkajian Resiko Bunuh Diri.
5. Mengetahui bagaimana Pohon Masalah Resiko Bunuh Diri.
6. Mengetahui apa saja Diagnosa Keperawatan Resiko Bunuh Diri.
7. Mengetahui apa saja Intervensi Keperawatan Resiko Bunuh Diri.
8. Mengetahui apa saja Implementasi Keperawatan Resiko Bunuh Diri
9. Mengetahui bagaimana Terapi Aktivitas Kelompok Keperawatan Resiko Bunuh Diri?
BAB II:

TINJAUAN TEORI

Pengertian

Risiko bunuh diri adalah perilaku merusak diri yang langsung dan disengaja
untuk mengakhiri kehidupan (Herdman, 2012). Individu secara sadar berkeinginan
untuk mati, sehingga melakukan tindakan-tindakan untuk mewujudkan keinginan
tersebut. Organisasi kesehatan dunia (WHO) mendefinisikan bunuh diri sebagai
tindakan membunuh diri sendiri. Tindakan itu harus dilakukan dengan sengaja dan
dilakukan oleh seorang yang bersangkutan dengan pengetahuan penuh, atau harapan
dan akibat fatalnya.
Bunuh diri merupakan salah satu dari 20 penyebab utama kematian secara
global untuk semua umur dan hampir satu juta orang meninggal karena bunuh diri
setiap tahunnya (Schwartz-Lifshitz, dkk, 2013). Tingkat bunuh diri secara global
adalah 16 kasus bunuh diri per 100.000 penduduk. Lebih speseifik lagi, 18 kasus
bunuh diri per 100.000 laki-laki dan 11 kasus bunuh diri per 100.000 perempuan.
Studi klinis telah menunjukkan bahwa di kebanyakan Negara, kasusu bunuh diri
didominasi oleh laki-laki, meskipun ada pengecualian penting, seperti China.
Resiko bunuh diri adalah resiko untuk mencederai diri sendiri yang dapat
mengancam kehidupan. Bunuh diri merupakan kedaruratan psikiatri karena
merupakan perilaku untuk mengakhiri kehidupannya. Perilaku bunuh diri disebabkan
karena stress yang tinggi dan berkepanjangan dimana individu gagal dalam
melakukan mekanisme koping yang digunakan dalam mengatasi masalah. Beberapa
alasan individu mengakhiri kehidupan adalah kegagalan untuk beradaptasi, sehingga
tidak dapat menghadapi stress, perasaan terisolasi, dapat terjadi karena kehilangan
hubungan interpersonal/gagal melakukan hubungan yang berarti, perasaan
marah/bermusuhan, bunuh diri dapat merupakan hukuman pada diri sendiri, cara
untuk mengakhiri keputusasaan (Stuart,2006).
Bunuh diri adalah segala perbuatan dengan tujuan untuk membinasakan
dirinya sendiri dan yang dengan sengaja dilakukan oleh seseorang yang tahu akan
akibatnya yang mungkin pada waktu yang singkat. Menciderai diri adalah tindakan
agresif yang merusak diri sendiri dan dapat mengakhiri kehidupan. Bunuh diri
mungkin merupakan keputusanterakhir dari individu untuk memecahkan masalah
yang dihadapi (Captain, 2008).
Bunuh diri adalah tindakan agresif yang merusak diri sendiri dan dapat
mengakhiri kehidupan. Bunuh diri mungkin merupakan keputusan terkahir dari
individu untuk memecahkan masalah yang dihadapi (Keliat 1991 : 4). Risiko bunuh
diri dapat diartikan sebagai resiko individu untuk menyakitidiri sendiri, mencederai
diri, serta mengancam jiwa. (Nanda, 2012).
Menurut Beck (1994) dalam Keliat (1991 hal 3) mengemukakan rentang
harapanputus harapan merupakan rentang adaptif -maladaptif.Respon adaptif
merupakan respon yang dapat diterima oleh norma-norma sosial dan kebudayaan
yang secara umum berlaku, sedangkan respon maladaptif merupakan respon yang
dilakukan individu dalam menyelesaikan masalah yang kurang dapat diterima oleh
norma-norma sosial dan budaya setempat. Prilaku destruktif diri yaitu setiap aktivitas
yang jika tidak di cegah dapatmengarah kepada kematian. Rentang respon protektif
diri mempunyai peningkatandiri sebagai respon paling adaptif, sementara perilaku
destruktif diri, pencederaan diri,dan bunuh diri merupakan respon maladaptif
(Wiscarz dan Sundeen, 1998). Pikiran bunuh diri biasanya muncul pada individu yang
mengalami gangguan mood, terutama depresi. Bunuh diri adalah tindakan yang
dilakukan dengan sengaja untuk membunuh diri sendiri (Videbeck, 2008).
Sehingga dari beberapa pendapat diatas, bunuh diri merupakan tindakan yang
sengaja dilakukan seseorang individu untuk mengakhiri hidupnya dengan berbagai
cara. Dan seseorang dengan gangguan psikologi tertentu atau sedang depresi dapat
pula beresiko melakukan bunuh diri. Banyak faktor yang menyebabkan seseorang
bunuh diri, dapat dari faktor eksternal seperti lingkungan dan faktor internal seperti
gangguan psikologi dalam dirinya.
Perilaku bunuh diri terbagi menjadi tiga kategori yaitu (Stuart, 2006):
1) Ancaman bunuh diri yaitu peringatan verbal atau nonverbal bahwa
seseorang tersebut mempertimbangkan untuk bunuh diri. Orang
yang
ingin bunuh diri mungkin mengungkapkan secara verbal bahwa ia
tidak akan berada di sekitar kita lebih lama lagi atau
mengomunikasikansecara non verbal.
2) Upaya bunuh diri yaitu semua tindakan terhadap diri sendiri yang
dilakukan oleh individu yang dapat menyebabkan kematian jika
tidak
dicegah.
3) Bunuh diri yaitu mungkin terjadi setelah tanda peringatan
terlewatkan
atau diabaikan. Orang yang melakukan bunuh diri dan yang tidak
bunuh diri akan terjadi jika tidak ditemukan tepat pada waktunya.
Sementara itu, Yosep (2010) mengklasifikasikan terdapat tiga jenis bunuh diri,
meliputi:
1) Bunuh diri anomik adalah suatu perilaku bunuh diri yang didasari oleh
faktor
lingkungan yang penuh tekanan (stressful) sehingga mendorong seseorang
untuk bunuh diri.
2) Bunuh diri altruistik adalah tindakan bunuh diri yang berkaitan dengan
kehormatan seseorang ketika gagal dalam melaksanakan tugasnya.
3) Bunuh diri egoistik adalah tindakan bunuh diri yang diakibatkan faktor
dalam
diri seseorang seperti putus cinta atau putus harapan.
Etiologi

Pada umumnya penyebab bunuh diri adalah ketidakmampuan individu untuk


menyelesaikan masalah. Etiologi dari risiko bunuh diri meliputi:
a. Faktor genetik
Factor genetic mempengaruhi terjadinya risiko bunuh diri pada keturunannya.
Lebih sering terjadi pada kembar monozygot disbanding dengan kembar dizygot.
Disamping itu, terdapat penurunan serotonin yang dapat menyebabkan depresi.
Hal ini turut berkontribusi pada terjadinya risiko bunuh diri. Prevalensi bunuh diri
berkisar antara 1,5-3 kali lebih besar terjadi pada individu yang menjadi kerabat
tingkat pertama dari orang yang mengalami gangguan perasaan (gangguan mood)
atau depresi yang pernah melakukan upaya bunuh diri.
b. Factor biologis
Factor ini biasanya berhubungan dengan keadaan-keadaan tertentu, seperti
adanya penyakit kronis atau kondisi medis tertentu, seperti stroke, gangguan
kerusakan kognitif (dimensia), diabetes, penyakit arteri koronia, kanker,
HIV/AIDS dan lain-lain.
c. Factor psikososial dan lingkungan
Berdasarkan teori psikoanalitik/psikodinamika, bunuh diri merupakan hasil
dari marah yang diarahkan pada diri sendiri, yaitu bahwa objek kehilangan
berkaitan dengan agresi dan kemarahan, perasaan negative terhadap diri sendiri
dan terakhir depresi. Sementara itu, berdasarkan teori perilaku kognitif, Beck
menyatakan bahwa hal ini berkaitan dengan adanya pola kognitif negative yang
berkembang, memandang rendah diri sendiri.
d. Stressor lingkungan
Kehilangan anggota keluarga, penipuan, kurangnya system dukungan social.
Durkheim membagi suicide ke dalam tiga kategori, yaitu: egoistic (orang yang
tidak terintegrasi kelompok social), altruistic (melakukan bunuh diri untuk
kebaikan orang lain), dan anomi.

Rentang Respon Protektif Diri


Keterangan:

a. Peningkatan diri (self-enchancement)


Seorang individu mempunyai pengharapan, kyakinan dan kesadaran diri
meningkat. Seseorang dapat meningkatkan pertahanan atau proteksi diri secara
wajar terhadap situasional yang membutuhkan pertahanan diri.
b. Pengambilan risiko
Pengambilan risiko yang meningkatkan pertumbuhan merupakan pondasi pada
rentang yang masih normal dialami oleh seorang individu yang sedang dalam
perkembangan perilaku.
c. Destruktif diri
Destruktif diri tak langsung merupakan pengambilan sikap yang kurang tepat
(maladaptive) terhadap situasi pertahanan diri. Perilaku ini melibatkan setiap
aktivitas yang merusak kesejahteraan fisik individu dan dapat mengarah kepada
kematian, seperti perilaku merusak, mengebut, berjudi, tindakan criminal, terlibat
dalam rekreasi yang beresiko tinggi, penyalahgunaan zat, perilaku yang
menyimpang secara social dan perilaku yang menimbulkan stress.
d. Pencederaan diri
Suatu tindakan yang membahayakan diri sendiri yang dilakukan dengan
sengaja. Pencederaan dilakukan terhadap diri sendiri, tanpa bantuan orang lain dan
cedera tersebut cukup parah untuk melukai tubuh.
e. Bunuh diri
Tindakan agresif yang langsung terhadap diri sendiri untuk mengakhiri
kehidupan.
Pengkajian Keperawatan

 Faktor Risiko
1. Menurut Hatton, Valente, dan Rink, 1977 (dikutip oleh Shiver, 1986)
TABEL 11.1 Faktor Risiko Bunuh Diri Menurut Hatton, Valente, dan
Rink

2. Menurut SIRS (Suicidal Intention Rating Scale)


Skor 0 : Tidak ada ide bunuh diri yang lalu dan sekarang.
Skor 1 : Ada ide bunuh diri, tidak ada percobaan bunuh diri, tidak mengancam bunuh
diri.
Skor 2 : Memikirkan bunuh diri dengan aktif, tidak ada percobaan bunuh diri.
Skor 3 : Mengancam bunuh diri, misalnya, “Tinggalkan saya sendiri atau saya bunuh
diri”.
Skor 4 : Aktif mencoba bunuh diri.
3. Menurut Stuart dan Sundeen (1987)
TABEL 11.2 Faktor Risiko Bunuh Diri Menurut Stuart dan Sundeen

 Faktor Perilaku
1.Ketidakpatuhan Ketidakpatuhan biasanya dikaitkan dengan program pengobatan
yang
dilakukan (pemberian obat). Pasien dengan keinginan bunuh diri memilih untuk
tidak memperhatikan dirinya.
2. Pencederaan diri Cedera diri adalah sebagai suatu tindakan membahayakan diri
sendiri yang dilakukan dengan sengaja. Pencederaan diri dilakukan terhadap diri
sendiri, tanpa bantuan orang lain, dan cedera tersebut cukup parah untuk melukai
tubuh.
3.Perilaku bunuh diri Biasanya dibagi menjadi tiga kategori, yaitu sebagai berikut.
a. Ancaman bunuh diri, yaitu peringatan verbal dan nonverbal bahwa orang
tersebut mempertimbangkan untuk bunuh diri. Orang tersebut mungkin
menunjukkan secara verbal bahwa ia tidak akan berada di sekitar kita lebih
lama lagi atau mungkin juga mengomunikasikan secara nonverbal melalui
pemberian hadiah, merevisi wasiatnya, dan sebagainya.
b. Upaya bunuh diri, yaitu semua tindakan yang diarahkan pada diri sendiri yang
dilakukan oleh individu yang dapat mengarahkan pada kematian jika tidak
dicegah.
c. Bunuh diri mungkin terjadi setelah tanda peringatan terlewatkan atau
terabaikan. Orang yang melakukan upaya bunuh diri dan yang tidak benar-
benar ingin mati mungkin akan mati jika tanda-tanda tersebut tidak diketahui
tepat pada waktunya.
 Faktor Lain
(Stuart dan Sundeen, 1995).
1.Pengkajian lingkungan upaya bunuh diri.
a. Presipitasi peristiwa kehidupan yang menghina/menyakitkan.
b. Tindakan persiapan/metode yang dibutuhkan, mengatur rencana,
membicarakan tentang bunuh diri, memberikan barang berharga sebagai
hadiah, catatan untuk bunuh diri.
c. Penggunaan cara kekerasan atau obat/racun yang lebih mematikan.
d. Pemahaman letalitas dari metode yang dipilih.
e. Kewaspadaan yang dilakukan agar tidak diketahui.

2.Petunjuk gejala
a. Keputusasaan
b. Celaan terhadap diri sendiri, perasaan gagal, dan tidak berharga.
c. Alam perasaan depresi.
d. Agitasi dan gelisah.
e. Insomnia yang menetap.
f. Penurunan berat badan.
g. Berbicara lamban, keletihan, menarik diri dari lingkungan sosial.

3.Penyakit psikiatrik
a. Upaya bunuh diri sebelumnya.
b. Kelainan afektif.
c. Alkoholisme dan atau penyalahgunaan obat.
d. Kelainan tindakan dan depresi pada remaja.
e. Demensia dini dan status kekacauan mental pada lansia.
f. Kombinasi dari kondisi di atas.

4.Riwayat psikososial
a. Baru berpisah, bercerai, atau kehilangan.
b. Hidup sendiri.
c. Tidak bekerja, perubahan, atau kehilangan pekerjaan yang baru dialami.
d. Stres kehidupan ganda (pindah, kehilangan, putus hubungan yang berarti,
masalah sekolah, ancaman terhadap krisis disiplin).
e. Penyakit medis kronis.
f. Minum yang berlebihan dan penyalahgunaan zat.

5.Faktor-faktor kepribadian
a. Impulsif, agresif, rasa bermusuhan.
b. Kekakuan kognitif dan negatif.
c. Keputusasaan.
d. Harga diri rendah.
e. Batasan atau gangguan kepribadian antisosial.

6.Riwayat keluarga
a. Riwayat keluarga berperilaku bunuh diri.
b. Riwayat keluarga gangguan afektif, alkoholisme, atau keduanya

 Faktor Predisposisi
(Townsend, 2009)
a. Faktor Biologis
Meliputi faktor genetik dan faktor neurokimia. Perilaku bunuh diri sangat bersifat
familial (keturunan). Riwayat keluarga tentang perilaku bunuh diri sepanjang
siklus hidup dan diagnosis psikiatri. Tranmisi ini terlepas dari trannsmisi
gangguan kejiwaan. Sebaliknya, perilaku-perilaku bunuh diri tampaknya
dimediasi oleh transmisi kecenderungan agresi impulsive, sifat yang mengarahkan
klien ke kecenderungan yang lebih tinggi untuk bertindak atas pemikiran bunuh
diri. Sementara itu, berdasarkan penelitian yang telah dilakukan berkaitan dengan
faktor neurokimia, klien depresi yang mencoba bunuh diri mengalami kekurangan
serotonin dan perubahan dalam system noradrenergic.
b.Faktor psikologis
1. Kemarahan
Freud dalam Townsend (2009) percaya bahwa bunuh diri merupakan respons
terhadap kebencian diri yang intens yang dimiliki seseorang individu. Bahwa
bunuh diri merupakan tindakan agresif terhadap diri sendiri yang seringkali
sebenarnya diarahkan pada orang lain.
2. Keputusasaan dan rasa bersalah
Sorang individu yang putus asa mereka tak berdaya untuk berubah, tapi dia
juga merasa bahwa hidup ini tidak mungkin tanpa perubahan semacam itu.
Rasa bersalah dan pembenaran diri adalah aspek lain dari keputusasaan.
(Carrol-Ghosh, dkk. Dalam Townsend, 2009)
3. Riwayat agresi dan kekerasan
Penelitian menunjukan bahwa perilaku kekerasan sering berjalan beriringan
dengan perilaku bunuh diri (Carrol-Ghosh, dkk. Dalam Townsend, 2009).
Oleh karena itu, studi ini mengutip kemarahan sebagai faktor psikologis
penting yang mendasari perilaku bunuh diri.
4. Rasa malu dan terhina
Bunuh diri sebagai mekanisme untuk “menyelamatkan muka”, sebuah cara
yang dirasakan klien dapat mencegahnya dari penghinaan public menyusul
adanya kekalahan social, seperti kehilangan status atau kehilangan materi yang
tiba-tiba. Seringkali orang-orang ini terlalu malu untuk mencari pengobatan
atau system pendukung lainya.
5. Stressor
Stressor konflik, perpisahan dan penolaskan berkaitan dengan perilaku bunuh
diri pada masa remaja dan masa dewasa muda. Stressor utama yang
berhubungan dengan perilaku bunuh diri kelompok berusia 40 hingga 60 tahun
adalah masalah ekonomi. Sementaran itu, setelah usia 60 tahun , penyakit
medis memainkan peran yang signifikan sebagai stressor dan menjadi faktor
predisposisi utama terhadap perilaku bunuh diri pada individu yang berumur
lebih dari 80 tahun.
c. Faktor Sosial Budaya
Durkheim menggambarkan tiga kategori social bunuh diri:
1. Bunuh diri egoistic
Bunuh diri egoistic adalah respons individu yang merasa terpisah dan terlepas
dari arus utama masyarakat. Integrasi kurang dan individu tidak merasa
menjadi bagian dar kelompok kohesif (seperti keluarga atau gereja)
2. Bunuh diri altruistic
Bunuh diri altruistic merupakan individu yang rentan terhadap bunuh
dirialtruistic adalah individu yang secara berlebihan diintegrasikan kedalam
kelompok . kelompok ini sering diatur oleh ikatan budaya, agama ata politik,
dan kesetiaan yang begitu kuat, sehingga individu bersedia mengorbankan
hidupnya untuk kelompok tersebut.
3. Bunuh diri anomik
Bunu diri anomik terjadi sebagai respons terhadap perubahan yang terjadi
dalam kehidupan seseorang (mis: perceraian, kehilangan pekerjaan) yang
mengganggu perasaan keterkaitan dengan kelompok. Interupsi dalam norma
kebiasaan perilaku menanamkan perasaan “keterpisahan” dan ketakutan pada
ketiadaan dukungan dari kelompok kohesif sebelumnya.
 Faktor Presipitasi
a. Kehilangan hubungan interpersonal atau gagal melakukan hubungan yang berarti
b.Kegagalan beradaptasi, sehingga tidak dapat menghadapi stress
c. Perasaan marah atau bermusuhan di mana bunuh diri dapat merupakan hukuman
pada diri sendiri
d.Cara untuk mengahkiri keputusasaan
 Penilaian stressor / tanda dan gejala
a. Data subjektif
Klien mengungkapkan tentang:
1. Merasa hidupnya tak berguna lagi
2. Ingin mati
3. Pernah mencoba bunuh diri
4. Mengancam bunuh diri
5. Merasa bersalah, sedih, marah, putus asa, tidak berdaya
b.Data Objektif
1. Ekspresi murung
2. Tak bergairah
3. Banyak diam
4. Ada bekas percobaan bunuh diri

Tanda gejala risiko bunuh diri dapat ditemukan melalui wawancara dengan pertanyaan
sebagai berikut:

a. Bagaimana perasaan klien saat ini?


b. Bagaimana penilaian klien terhadap dirinya?
c. Apakah klien mempunyai pikiran ingin mati?
d. Berapa sering muncul pikiran ingin mati?
e. Kapan terakhir berpikir ingin mati?
f. Apakah klien pernah mncoba melakukan percobaan bunuh diri? Sudah berapa kali?
Kapan terakhir melakukannya? Dengan apa klien melakukan percobaan bunuh diri?
Apa yang menyebabkan klien ingin melakukan percobaan bunuh diri?
g. Apakah saat ini masih terpikir untuk melakukan perilaku bunuh diri?

 Sumber koping
Tingkah laku bunuh diri biasanya berhubungan dengan faktor sosial dan kultural.
Durkheim membuat urutan tentang tingkah laku bunuh diri. Ada tiga subkategori
bunuh diri berdasarkan motivasi seseorang, yaitu sebagai berikut.
a. Bunuh diri egoistik Akibat seseorang yang mempunyai hubungan sosial yang
buruk.
b. Bunuh diri altruistik Akibat kepatuhan pada adat dan kebiasaan.
c. Bunuh diri anomik Akibat lingkungan tidak dapat memberikan kenyamanan
bagi individu.
 Mekanisme koping
Mekanisme pertahanan ego yang berhubungan dengan perilaku pengerusakan diri tak
langsung adalah pengingkaran (denial). Sementara, mekanisme koping yang paling
menonjol adalah rasionalisasi, intelektualisasi, dan regresi.

Pohon Masalah
Resiko Cedera

Resiko Bunuh diri

HDR

Diagnosa Keperawatan

Pertimbangan dalam menetapkan diagnosis keperawatan perilaku mencederai diri,


yang harus dikaji oleh perawat adalah informasi tentang keseriusan dan kesegaran kegiatan
membahayakan diri klien. Perawat harus mempertimbangkan informasi yang diperoleh
melaui pengkajian untuk mengidentifikasi secara akurat kebutuhan klien akan tindakan
keperawatan.

Keakuratan diagnosis keperawatan klien sangat penting. Bagaimanapun, mengingkari


adalah pertahanan yang menonjol pada sebagian besar maslalah mencederai diri. Klien
mungkin tidak setuju dengan pernyataan yang mengkonfrontasi perilakunya. Perhatian utama
adalah berkomunikasi melalui diagnosis dan tingkat perlindungan yang dibutuhkan oleh
klien.

Diagnosa keperawatan utama Nanda Internasional berhubungan dengan respon


maladaptif dalam melindungi diri adalah risiko bunuh diri,mutilasi diri, ketidakpatuhan, dan
risiko perilaku kekerasan terhadap diri sendiri.

Perencanaan

Fokus pertama dari rencana asuhan keperawatan untuk orang dengan perilaku
mencederai diri sendiri harus fokus pada melindungi klien dari bahaya. Selain itu, rencana
tersebut harus mengatasi faktor-faktor yang berkontribusi terhadap perilaku klien yang
berbahaya. Perawat selanjutnya dapat berfokus pada pengembangan penghayatan pada
perilaku bunuh diri dan mengganti mekanisme koping yang sehat.

Klien bunuh diri dapat ditritmen pada berbagai tatanan. Keputusan tentang tatanan
yang paling sesuai untuk klien diberikan berdasarkan pada pengkajian risiko. Orang-orang
yang mempunyai kecenderungan dan memiliki rencana khusus untuk aksi dan metode
mematikan harus dirawat ditatanan rawat inap dimana mereka dapat diawasi secara ketat.

Implementasi

1. Perlindungan dan keselamatan


Prioritas tetinggi kegiatan keperawatan pada klien mencederai diri sendiri adalah
melindungi mereka dari bahaya mencederai diri yang lebih lanjut dan jika bunuh diri
membunuh dirinya.
2. Peningkatan harga diri
Perawat dapat melakukan tindakan dengan memperlakukan klien sebagai seseorang
yang layak diperhatikan dan dipedulikan. Atribut posistif dari klien harus diakui
dengan pujian yang tulus.
3. Pengaturan emosi dan perilaku
Kemarahan adalah perasaan yang seringkali menyulitkan klien. Klien yang marah
harus dibantu untuk menangani kemarahan secara konstruktif melaui belajar dan
menggunakan keterampilan menejemen kemarahan.
4. Mobilisasi dukungan sosial
Mobilisasi sistem dukungan sosial merupakan aspek penting dari tindakan
keperawatan. Anggota keluarga harus menyadari masalah kontrol dan membantu
untuk mendorong pengendalian diri oleh klien. Klien dan keluarga mungkin perlu
bantuan untuk melihat bahwa kepedulian yang dapat dinyatakan dengan
meningkatkan perawatan diri, serta menyediakan perawatan.
5. Pendidikan klien
Pendidikan klien merupakan tindakan keperawatan yang penting. Pendidikan harus
disampaikan sesuai waktu dengan hati-hati karena kesiapan klien penting untuk
keberhasilan perubahan perilaku.
6. Pencegahan bunuh diri
Perawat perlu menyadari beberapa strategi khusus yang dapat membatu mencegah
bunuh diri yang terdaftar dalam kotak dibawah ini :

Evaluasi

Evaluasi asuhan keperawatan klien mencederai diri memerlukan pemantauan perilaku


klien setiap harian dengan cermat. Keterlibatan klien dalam evaluasi kemajuan dapat
memberikan penguatan dan insentif untuk menuju ke arah tujuan. Modifikasi dari rencana
asuhan keperawatan sering diperlukan saat klien mengungkapkan lagi tentang diri mereka
sendiri dan kebutuhan mereka kepada perawat.

Terapi Aktivitas Kelompok

Kelompok adalam kumpulan individu yang memiliki hubungan satu dengan yang
lain, saling bergantung dan memiliki norma yang sama (Stuart & Laraia, 2001).

Anggota kelompok mungkin dating dari berbagai latar belakang yang harus ditangani
sesuai dengan keadaannya, seperti agresif, ketakutan, kebencian, memiliki kesamaan,
memiliki perbedaan (Yalom, 1995 dalam Stuart & Laraia, 2001).

Tujuan dan fungsi kelompok :

1. Tujuan kelompok adalah membantu anggotanya berhubungan dengan orang lain serta
mengubah perilaku yang destruktif dan maladaptive.
2. Kelompok berfungsi sebagai tempat berbagi pengalaman dan saling membantu satu
sama lain, untuk menemukan cara menyelesaikan masalah.
Komponen Kelompok Kecil

Struktur kelompok

Besar kelompok

Lamanya sesi

Komunikasi

Peran kelompok

Kekuatan kelompok

Norma kelompok

Kohesi

Fase - Fase Perkembangan Kelompok Kecil

Fase Fase Pengertian Aktivitas Tugas Aktivitas


Yalom Tuckman Interpersonal
Orientasi Pembentukan Anggota Mengidentifikasi Hubungan diuji,
(Forming) kelompok tugas & batas-batas batas interpersonal;
memerhatikan yang berkaitan hubungan
orientasi. dengan tugas. tergantung dengan
pemimpin.
Konflik Kekacauan Anggota Merespons secara Konflik antara
(Storming) kelompok emosional terhadap kelompok.
menolak tugas tugas.
dan berpengaruh
pada kelompok.
Kohesif Penentuan Resistensi Mengekspresikan Peran baru
norma/aturan terhadap pendapat pribadi diadopsi; standar
(norming) kelompok diatasi tentang tugas. baru berkembang
oleh anggota. dalam kelompok.
Kerja Pelaksanaan Pemecah masalah Mengarahkan Struktur
(performing) secara kreatif; energi kelompok interpersonal
solusi mulai terhadap kelompok menjadi
muncul. penyelesaian tugas. alat untuk mencapai
tugasnya; peran
menjadi fleksibel
dan fungsional.

Terapi aktivitas kelompok dibagi sesuai dengan kebutuhan yaitu, stimulasi persepsi,
stimulasi sensori, orientasi realita, dan sosialisasi. Lancaster mengemukan beberapa aktivitas
yang digunakan pada TAK yaitu menggambar, membaca puisi, mendengarkan musik,
mempersiapkan meja makan dan kegiatan sehari-hari yang lain. Wilson dan Kneils (1992)
menyatakan bahwa TAK adalah manual, rekreasi, dan teknik kreatif untuk memfasilitasi
pengalaman seorang serta meningkatkan respons sosial dan harga diri. Aktivitas yang
digunakan sebagai terapi di dalam kelompok yaitu membaca puisi, seni, musik, menari, dan
literatur. Oleh sebab itu, akan diuraikan kombinasi keduanya menjadi terapi aktivitas
kelompok.

Tujuan, tipe, dan aktivitas dari terapi aktivitas kelompok

No. Tujuan Tipe Aktivitas


1. Mengembangkan Bibliotherapy Menggunakan artikel, buku,
stimulasi persepsi. sajak, puisi, surat kabar untuk
merangsang atau menstimulasi
berpikir dan mengembangkan
hubungan dengan orang lain.
Stimulus dapat berbagai hal yang
tujuannya melatih persepsi.
2. Mengembangkan Musik, seni, menari. Menyediakan kegiatan
stimulasi sensoris. Relaksasi mengekspresikan perasaan.
Belajar teknik relaksasi dengan
cara napas dalam, relaksasi otot,
imajinasi.
3. Mengembangkan Kelompok orientasi Fokus pada orientasi waktu,
orientasi realitas. realitas, kelompok tempat, dan orang; benar dan
validasi. salah; bantu memenuhi
kebutuhan.
4. Mengembangkan Kelompok remotivasi Mengorientasikan diri dan regresi
sosialisasi. Kelompok mengingatkan pada klien menarik realitas dalam
berinteraksi atau sosialisasi.
Fokus pada mengingat.

Pada pasien dengan diagnosa resiko bunuh diri terapi aktivitas kelompok yang digunakan
adalah :

1. Terapi Aktivitas Stimulasi Persepsi


2. Terapi Aktivitas Kelompok Orientasi Realitas
3. Terapi Aktivitas Kelompok Sosialisasi
BAB III:
ANALISIS KASUS
Kasus Resiko Bunuh Diri

Seorang laki-laki usia 37 tahun dibawa keluarganya ke poli psikiatri RSJ.


Keluarga mengatakan pasien pernah melakukan upaya bunuh diri, pasien cerai dengan
istrinya 1 tahun lalu dan berpisah dengan anaknya, anak dan semua harta miliknya
dibawa oleh istrinya, keluarga mengatakan salah satu kakaknya ada yang mengalami
gangguan jiwa serta 1 bulan yang lalu klien di PHK dan keluarga tidak ada yang peduli.
Setelah di-PHK, teman kerja klien banyak yang menjauhinya serta tetangga banyak yang
mencibirnya. Pasien mengatakan bahwa kini hidupnya sudah tidak berguna lagi, ia
merasa malu dengan keluarganya dan para tetangga yang suka mencibirnya, sehinga ia
berfikir ingin mati saja agar semua masalah dapat terselesaikan. Saat dilakukan
pengkajian, pasien terlihat murung, gelisah, banyak diam dan ditemukan bekas sayatan
luka pada pergelangan tangan kiri klien. Pasien dirawat menggunakan BPJS. Di peroleh
Hasil pemeriksaan TTV sebagai berikut:

- TD :140/100 mmHg

- Nadi : 108 x/mnt

- Suhu : 37 derajat

- RR : 27x/ mnt

Data tambahan :

- Pasien mengatakan bahwa kini hidupnya sudah tidak berguna lagi , ia malu
dengan keluarga dan para tetangga yang suka mencibirnya, sehinga ia berfikir
ingin mati saja agar semua masalah dapat terselesaikan.

- Saat dilakukan pengkajian, pasien terlihat murung, gelisah, banyak diam dan
ditemukan bekas goresan luka pada pergelangan tangan kiri klien

- Pasien dirawat menggunakan BPJS.

- Hasil pemeriksaan TTV : TD :140/100 mmHg

Nadi : 108 x/mnt

Suhu : 37 derajat

RR : 27x/ mnt
Pengkajian Keperawatan
o Faktor Risiko
Menurut Stuart dan Sundeen (1987)

Faktor risiko Berdasarkan kasus

Umur 37 tahun

Jenis kelamin Laki-laki

Status perkawinan Cerai

Pekerjaan Di PHK

Penyakit kronis -

Gangguan mental salah satu kakaknya ada yang


mengalami gangguan jiwa
dann pernah melakukan upaya
bunuh diri

Menurut SIRS (Suicidal Intention Rating Scale)

 Pasien berada pada skor 3 karena pernah melakukan percobaan bunuh diri

o Faktor Perilaku

Kategori Penyakit Riwayat psikososial Riwayat


Bunuh Diri psikiatrik keluarga

upaya bunuh Upaya bunuh diri o Baru berpisah, Riwayat


diri sebelumnya. bercerai, atau keluarga
kehilangan. berperilaku
o Hidup sendiri. bunuh diri.
o Tidak bekerja,
perubahan, atau
kehilangan
pekerjaan yang
baru dialami.
o Stres kehidupan
ganda (pindah,
kehilangan,
putus hubungan
yang berarti,
masalah sekolah,
ancaman
terhadap krisis
disiplin).
o Keputusasaan.
o Harga diri
rendah.

o Faktor Predisposisi
a. Faktor Biologis
• Salah satu kakaknya mengalami gangguan jiwa
b. Faktor Psikologis
• Stressor: 1 tahun lalu klien bercerai dengan istrinya lalu anak dan seluruh hartanya
dibawa oleh istrinya
c. Faktor Sosial Budaya
• Bunuh diri anomik: perceraian

o Faktor Presipitasi
 Satu bulan yang lalu klien di PHK
 Klien dijauhi oleh teman kerjanya setelah di PHK
 Keluarganya tidak ada yang memperdulikannya
 Klien dicibir oleh tetangganya

o Penilaian stressor/tanda gejala


 Kognitif : Klien berpikir ingin bunuh diri saja
 Afektif : pasien merasa bersalah, tidak berdaya, gelisah dan putus asa
 Fisiologis : TD 140/100 mmHg, Nadi 108 kali/mnt, Suhu 37 derajat, RR 27
kali/mnt
 Perilaku : Banyak diam, murung, gelisah dan tidak bergairah untuk bicara
 Sosial : klien tidak mau berkomunikasi dengan orang lain
o Sumber Koping
 Personal Ability : -
 Sosial Support : -
 Material Asset : klien berobat menggunakan BPJS
 Positif Belief : -
o Mekanisme Koping
 Berdasarkan kasus tersebut klien menggunakan mekanisme koping berfokus
pada ego dikarenakan klien pernah melakukan upaya bunuh diri

Pohon masalah

Resiko Cedera

Resiko Bunuh diri

Keputusasaan

HDR

Ansalisa data

Data fokus Masalah Etiologi


DS : Risiko bunuh diri
 Keluarga mengatakan
pasien pernah melakukan
upaya bunuh diri
 Keluarga mengatakan
pasien cerai dengan
istrinya 1 tahun lalu dan
berpisah dengan anaknya
 Keluarga mengatakan
anak dan semua hartanya
dibawa oleh istrinya
 Keluarga mengatakan
salah satu kakaknya ada
yang mengalami
gangguan jiwa
 Klien mengatakan 1
bulan lalu pasien di PHK
 Pasien mengatakan
teman kerjanya
menjauhinya setelah di
PHK dan tetangga
banyak yang
mencibirnya
 Pasien mengatakan
bahwa kini hidupnya
sudah tidak berguna lagi
 Pasien mengatakan malu
dan putus asa dengan
keluarganya
 Pasien mengatakan ingin
mati saja agar semua
masalah dapat
terselesaikan

DO :
 Keluarga pasien tidak
peduli
 Pasien terlihat murung
 Pasien terlihat gelisah
 Ada goresan luka pada
pergelangan tangan kiri
pasien
DS : Harga Diri Rendah
 Klien mengatakan 1
bulan lalu pasien di PHK
 Pasien mengatakan
teman kerjanya
menjauhinya setelah di
PHK dan tetangga
banyak yang
mencibirnya
 Pasien mengatakan
bahwa kini hidupnya
sudah tidak berguna lagi
 Pasien mengatakan malu
dan putus asa dengan
keluarganya
DO :
 Pasien terlihat murung
 Pasien terlihat gelisah
DS : Keputusasaan
 Pasien mengatakan
bahwa kini hidupnya
sudah tidak berguna lagi
 Pasien mengatakan malu
dan putus asa dengan
keluarganya
 Pasien mengatakan ingin
mati saja agar semua
masalah dapat
terselesaikan
DO :
 Pasien terlihat murung
 Pasien terlihat gelisah
 Ada goresan luka pada
pergelangan tangan kiri
pasien

Diagnosa keperawatan

1. Risiko bunuh diri berhubungan dengan harga diri rendah


Intervensi Keperawatan

RM.NO : Ruangan :

Tg No Perencanaan
Dx Keperawatan
l Dx Tujuan Kriteria Evaluasi Intervensi Rasional

Risiko bunuh diri TUM: Pasien menunjukan tanda- 1. Bina hubungan saling percaya dengan Kepercayaan dari
: tanda percaya kepada menggunakan prinsip komunikasi pasien merupakan hal
Pasien tidak
ancaman/percoba perawat melalui : terapeutik : yang akan
mencederai
an bunuh diri a. Ekspresi wajah a. Mengucapkan salam terapetik. Sapa memudahkan perawat
dirinya sendiri
cerah, tersenyum pasien dengan ramah, baik verbal dalam melakukan
atau tidak
b. Mau berkenalan ataupun non verbal pendekatan
melakukan
c. Ada kontak mata b. Berjabat tangan dengan pasien keperawatan atau
bunuh diri.
d. Bersedia c. Perkenalkan diri dengan sopan intervensi selanjutnya
Tuk 1 : menceritakan d. Tanyakan nama lengkap pasien dan terhadap pasien
perasaannya nama panggilan yang disukai pasien
Pasien dapat
e. Bersedia e. Jelaskan tujuan pertemuan
membina
mengungkapkan f. Membuat kontrak topik, waktu dan
hubungan
masalah tempat setiap bertemu pasien
saling percaya
g. Tunjukkan sikap empati dan menerima
pasien apa adanya
h. Beri perhatian kepada pasien dan
perhatan kebutuhan dasar pasien

Tg No Perencanaan
Dx Keperawatan
l Dx Tujuan Kriteria Evaluasi Intervensi Rasional

TUK 2 : Kriteria Evaluasi :  Menemani pasien terus-menerus Pasien tidak


Pasien tetap Pasien tetap aman, sampai dia dapat dipindahkan ke melakukan
aman dan terlindungi, dan selamat tempat yang aman tindakan
terlindungi  Menjauhkan semua benda-benda yang percobaan bunuh
berbahaya atau berpotensi diri
membahayakan pasien (misalnya :
pisau, silet,kaca,gelas,ikat pinggang)
 Mendapatkan orang yang dapat segera
membawa pasien ke rumah sakit untuk
pengkajian lebih lanjut dan
kemungkinan dirawat
 Memeriksa apakah pasien benar-benar
telah meminum obatnya, jika pasien
mendapatkan obat
 Dengan lembut menjelaskan kepada
pasien bahwa anda (perawat) akan
melindungi pasien sampai tidak ada
keinginan bunuh diri
Resiko bunuh diri SP I SP I

1. Mengidentifikasi benda-benda 1. Mendiskusikan masalah yang


yang dapat membahayakan pasien dirasakan keluarga dalam merawat
2. Mengamankan benda-benda yang pasien
dapat membahayakan pasien 2. Menjelaskan pengertian, tanda dan
3. Melakukan kontrak treatment gejala risiko bunuh diri dan jenis
4. Mengajarkan cara mengendalikan perilaku bunuh diri yang dialami
dorongan bunuh diri pasien beserta proses terjadinya
5. Melatih cara mengendalikan 3. Menjelaskan cara-cara merawat
dorongan bunuh diri pasien risiko bunuh diri

SP II SP II

1. Mengidentifikasi aspek positif 1. Melatih keluarga mempraktekan


klien cara merawat pasien dengan risiko
2. Mendorong pasien untuk berfikir bunuh diri
positif terhadap diri 2. Melatih keluarga melakukan cara
3. Mendorong pasien untuk merawat langsung kepada pasien
menghargai diri sebagai individu risiko bunuh diri
yang berharga

SP III
SP III
1. Membantu keluarga membuat
1. Mengidentifikasi pola koping yang jadwal aktivitas di rumah termasuk
biasa diterapkan pasien minum obat
2. Menilai pola koping yang biasa 2. Mendiskusikan sumber rujukan
dilakukan yang bisa dijangkau keluarga
3. Mengidentifikasi pola koping yang
konstruktif
4. Mendorong pasien memilih pola
koping yang konstruktif
5. Menganjurkan pasien menerapkan
pola koping konstruktif dalam
kegiatan harian
Terapi Aktivitas Kelompok

Sesi 1
Stimulasi persepsi : Pencegahan Bunuh Diri
Mencegah Keinginan untuk Bunuh Diri
A. Tujuan :
i. Klien dapat mengendalikan saat ada keinginan atau dorongan untuk
bunuh diri.
ii. Klien dapat mengekspresikan perasaannya
B. Setting :
i. Terapis dan klien duduk bersama secara melingkar.
ii. Tempat nyaman dan tenang.
C. Alat.
i. Spidol sebanyak jumlah klien yang mengikuti TAK.
ii. Kertas putih HVS dua kali jumlah klien yang mengikuti TAK.
D. Metode.
i. Diskusi dan tanya jawab.
ii. Permainan.
E. Langkah Kegiatan
1. Persiapan.
a. Memilih klien sesuai dengan indikasi, yaitu klien dengan resiko bunuh
diri.
b. Membuat kontrak dengan klien.
c. Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan.
2. Orientasi.
a. Salam terapeutik :
I. Salam dari terapis kepada klien.
II. Perkenalkan nama dan panggilan terapis (pakai papan nama).
III. Menanyakan nama dan panggilan semua klien (beri papan
nama).
b. Evaluasi/validasi.
c. Menanyakan perasaan klien saat ini.
d. Kontrak.
I. Terapis menjelaskan tujuan kegiatan, yaitu mencegah
keinginan untuk bunuh diri.
II. Terapis menjelaskan aturan main berikut :
 Jika ada klien yang ingin meninggalkan kelompok,
harus meminta izin kepada terapis.
 Lama kegiatan 30 menit.
 Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai
selesai.
3. Tahap kerja.
a. Terapis memperkenalkan diri : nama lengkap dan nama panggilan serta
memakai papan nama.
b. Terapis menanyakan perasaan klien saat ini.
c. Terapis menanyakan apakah klien masih ada keinginan bunuh diri.
d. Terapis menanyakan apa yang dilakukan klien saat keinginan tersebut
muncul.
e. Terapis menjelaskan cara mengalihkan bila keinginan untuk bunuh diri
muncul dengan modifikasi lingkungan psikis.
f. Terapis memberi pujian pada setiap peran serta klien.
4. Tahap terminasi.
a. Evaluasi
i. Terapis menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK.
ii. Terapis memberikan pujian atas keberhasilan kelompok.
b. Tindak lanjut.
Terapis meminta klien menceritakan kembali cara mengalihkan bila
keinginan bunuh diri muncul secara tertulis.
c. Kontrak yang akan datang.
i. Menyepakati TAK yang akan datang, yaitu mengidentifikasi
hal positif yang dimiliki untuk meningkatkan harga diri.
ii. Menyepakati waktu dan tempat.
F. Evaluasi dan dokumentasi
i. Evaluasi
Evaluasi dilakukan saat proses TAK berlangsung, khususnya
pada tahap kerja. Aspek yang dievaluasi adalah kemampuan klien
sesuai dengan tujuan TAK. Untuk TAK sesi 1 stimulasi persepsi :
pencegahan resiko bunuh diri , kemampuan klien yang diharapkan
adalah mampu menceritakan kembali cara mencegah bila keinginan
bunuh diri. Formulir evaluasi sebagai berikut :

No. Aspek yang Dinilai Tanggal


1. Menyebutkan cara mengamankan benda- benda
berbahaya.
2. Menyebutkan cara mengendalikan dorongan
bunuh diri.
3. Menyebutkan koping konstruktif untuk mengatasi
masalah

Petunjuk :
1. Tulis nama panggilan klien yang ikut TAK pada kolom nama.
2. Beri tanda (√) jika klien mampu dan tanda (X) jika klien tidak mampu.

ii. Dokumentasi.
Dokumentasikan kemampuan yang dimiliki oleh klien saat
TAK pada catatan proses keperawatan tiap klien. Contoh : klien
mengikuti sesi , TAK stimulasi persepsi pencegahan resiko bunuh diri.
Klien mampu menuliskan cara mengalihkan bila keinginan bunuh diri
muncul dan tingkatkan reinforcement (pujian).
Sesi 2
Stimulasi persepsi : Pencegahan Bunuh Diri
Meningkatkan Harga Diri Klien
A. Tujuan.
i. Klien dapat mengidentifikasik pengalaman yang tidak menyenangkan.
ii. Klien dapat mengidentifikasi hal positif pada dirinya
B. Setting.
i. Terapis dan klien duduk bersama dalam lingkaran.
ii. Ruang nyaman dan tenang.
C. Alat.
i. Spidol sebanyak jumlah klien yang mengikuti TAK.
ii. Kertas putih HVS dua kali jumlah klien yang mengikuti TAK.
D. Metode.
i. Diskusi.
ii. Permainan
E. Langkah kegiatan
1. Persiapan.
a. Memilih klien sesuai dengan indikasi, yaitu klien dengan gangguan
konsep diri, harga diri rendah.
b. Membuat kontrak dengan kien.
c. Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan.
2. Orientasi
a. Salam terapeutik.
I. Salam dari terapis kepada klien.
II. Perkenalkan nama dan panggilan terapis (pakai papan nama).
III. Menanyakan nama dan panggilan semua klien (beri papan
nama)
b. Evaluasi/validasi.
Menanyakan perasaan klien saat ini.
c. Kontrak
i. Terapis menjelaskan tujuan kegiatan, yaitu bercakap-cakap
tentang hal positif diri sendiri.
ii. Terapis menjelaskan aturan main berikut :
a) Jika ada klien yang ingin meninggalkan kelompok,
harus meminta izin kepada terapis.
b) Lama kegiatan 45 menit.
c) Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai
selesai.
3. Tahap Kerja
a. Terapis memperkenalkan diri : nama lengkap dan nama panggilan
serta memakai papan nama.
b. Terapis membagikan kertas dan spidol kepada klien.
c. Terapis meminta tiap klien menulis pengalaman yang tidak
menyenangkan.
d. Terapis memberi pujian atas peran serta klien.
e. Terapis membagikan kertas yang kedua.
f. Terapis meminta tiap klien menulis hal positif tentang diri sendiri,
kemampuan yang dimiliki, kegiatan yang biasanya dilakukan di rumah
dan dirumah sakit.
g. Terapis meminta klien membacakan hal positif yang sudah ditulis
secara bergiliran sampai semua klien mendapat giliran.
h. Terapis memberi pujian pada setiap peran serta klien
4. Tahap terminasi
a. Evaluasi.
i. Terapis menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK.
ii. Terapis memberikan pujian atas keberhasilan kelompok.
b. Tindak lanjut.
Terapis meminta klien menulis hal positif lain yang belum tertulis.
c. Kontrak yang akan datang.
i. Menyepakati TAK yang akan datang, yaitu melatih hal positif
diri yang dapat diterapkan dirumah sakit dan dirumah.
ii. Menyepakati waktu dan tempat.
F. Evaluasi dan Dokumentasi.
i. Evaluasi.
Evaluasi dilakukan saat proses TAK berlangsung, khususnya
pada tahap kerja. Aspek yang dievaluasi adalah kemampuan klien
sesuai dengan tujuan TAK. Untuk TAK stimulasi presepsi: harga diri
rendah sesi 2, kemampuan klien yang diharapkan adalah menuliskan
pengalaman yang tidak menyenangkan dan aspek positif (kemampuan)
yang dimiliki. Formulir evaluasi sebagai berikut.

Stimulasi presepsi: harga diri rendah

Kemampuan menulis pengalaman yang tidak menyenangkan dan hal positif diri
sendiri

No. Kemampuan Tanggal


1 Menyebutkan aspek positif diri
2 Menulis hal positif diri sendiri
Petunjuk:

1. Tulis nama panggilan klien yang ikut TAK pada kolom nama.
2. Untuk tiap klien, beri penilaian tentang kemampuan menulis pengalaman
yang tidak menyenangkan dan aspek positif diri sendiri. Beri tanda cek jika
klien mampu dan tanda silang jika klien tidak mampu.

ii. Dokumentasi.
Dokumentasi kemampuan yang dimiliki klien saat TAK pada
catatan proses keperaawatan tiap klien. Contoh: klien mengikuti sesi 3,
TAK stimulasi persepsi harga diri rendah. Klien mampu menuliskan
tiga hal pengalaman yang tidak menyenangkan, mengalami kesulitan
menyebutkan hal positif diri. Anjurkan klien menulis kemampuan dan
hal positif dirinya dan tingkatkan rinforcement (pujian).
Sesi 3
Stimulasi persepsi : Pencegahan Bunuh Diri
Menggunakan mekanisme koping yang adaptif
A. Tujuan :
i. Klien dapat mengenali hal-hal yang ia sayangi.
ii. Klien dapat menggunakan mekanisme koping yang adaptif.
iii. Klien dapat merencanakan dan menetapkan masa depan yang realistis
B. Setting.
i. Terapis dan klien duduk bersama secara melingkar.
ii. Tempat nyaman dan tenang.
C. Alat.
i. Spidol sebanyak jumlah klien yang mengikuti TAK.
ii. Kertas putih HVS dua kali jumlah klien yang mengikuti TAK.
D. Metode.
i. Diskusi dan Tanya jawab
ii. Permainan
E. Langkah kegiatan
1. Persiapan.
a. Mengingatkan kontrak dengan klien yang telah mengikuti sesi 2.
b. Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan.
2. Orientasi
i. Salam terapeutik.
a. Salam dari terapis kepada klien.
b. Klien dan terapis pakai papan nama.
ii. Evaluasi / validasi.
Menanyakan perasaan klien saat ini.
iii. Kontrak
1) Terapis menjelaskan tujuan TAK
2) Terapis menjelaskan aturan main berikut :
a) Jika ada kien yang meninggalkan kelompok, harus
meminta izin kepada terapis.
b) Lama kegiatan 30 menit.
c) Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai
selesai.
3. Tahap kerja.
a) Terapis membagikan kertas HVS dan spidol, masing-masing satu buah
untuk setiap klien.
b) Terapis meminta klien menuliskan siapa orang yang paling disayangi
dan dicintai.
c) Terapis meminta klien memilih dari salah satu orang yang dicintai,
siapa yang paling dekat dan paling dipercaya oleh klien.
d) Terapis menjelaskan pentingnya koping yang adaptif dan
menganjurkan klien untuk berbagi masalah kepada orang yang paling
dekat dan dipercaya agar klien tidak merasa tertekan dan terbebani.
e) Terapis menjelaskan pentingnya memiliki tujuan hidup (masa depan)
agar bersemangat berusaha mewujudkan dan optimistis
f) Terapis meminta klien menuliskan masing-masing tujuan hidup (masa
depan) klien di kertas yang telah dibagikan.
g) Terapis meminta klien untuk membacakan tujuan hidup (masa depan)
yang telah ditulisnya secara bergantian
h) Terapis memberikan pujian dan mengajak tepuk tangan klien lain jika
satu orang klien telah selesai membacakan.
i) Terapis meminta klien melihat lagi tujuan hidupnya (masa depannya),
mencoret tujuan yang sulit (tidak mungkin) dicapai.
j) Terapis meminta klien membaca ulang tujuan hidup (masa depan)
yang benar-benar realistis ( seperti langkah d).
k) Terapis memberikan pujian kepada klien setiap selesai membacakan
tujuan hidupnya.
4. Tahap terminasi.
a) Evaluasi.
i. Terapis menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK.
ii. Terapis memberikan pujian kepada kelompok.
b) Tindak lanjut.
Terapis meminta klien untuk menyimpan kertas tersebut dan
menuliskan lagi tujuan hidup yang mungkin masih ada dan
pengalaman-pengalaman yang menyenangkan bersama orang yang
dicintai dan membacanya kembali agar bias menggunakan mekanisme
koping yang adaptif.
c) Kontrak yang akan datang.
I. Menyepakati kegiatan TAK yang akan datang,.
II. Menyepakati waktu dan tempat untuk TAK
F. Evaluasi dan dokumentasi.
I. Evaluasi.
Evaluasi dilakukan saat proses TAK berlangsung, khususnya
pada tahap kerja. Aspek yang dievaluasi adalah kemampuan klien
sesuai dengan tujuan TAK. Untuk TAK stimulasi persepsi :
Menggunakan mekanisme koping yang adaptif pada sesi III,
kemampuan klien yang diharapkan adalah mampu menggunakan
mekanisme koping yang adaptif dan mampu menentukan masa depan
yang realistis. Formulir evaluasi sebagai berikut :
No. Aspek yang Dinilai Nama Peserta
1. Menyebutkan orang yang paling dicintai dan disayangi.
2. Memilih orang yang paling dekat dan dipercaya.
3. Menyebutkan cara menggunakan koping yang adaptif
4. Menuliskan tujuan hidup (masa depan).
5. Membaca tujuan hidup (masa depan)
6. Memilih tujuan hidup (masa depan) yang realistis.

Petunjuk :

1. Tulis nama panggilan klien yang ikut TAK pada kolom nama.
2. Beri tanda (√) jika klien mampu dan tanda (X) jika klien tidak mampu.
II. Dokumentasi.
Dokumentasikan kemampuan yang dimiliki klien saat TAK pada
catatan proses keperawatan tiap klien. Contoh : klien mengikuti sesi 4,
TAK stimulasi persepsi : Menggunakan Mekanisme Koping yang
Adaptif. Misalnya : Klien mampu berbagi masalah dengan keluarga.
Anjurkan dan jadwalkan agar klien melakukannya serta berikan
pujian.
BAB IV

PENUTUP

Kesimpulan

Bunuh diri adalah suatu upaya yang disadari dan bertujuan untuk
mengakhiri kehidupan individu secara sadar berhasrat dan berupaya melaksanakan
hasratnya untukmati. Prilaku bunuh diri meliputi isyarat-isyarat, percobaan dan
ancaman verbal yangakan mengakibatkan kematian, atau luka yang menyakiti diri
sendiri. Terjadinya bunuh diri dapat diakibatkan oleh depresi maupun gangguan
sensori seperti halusinasi. Selain penatalaksanaan, resiko bunuh diri dapat dicegah
melalui upaya pencegahan, baik upaya pencegahan dari diri sendiri tetapi juga upaya
pencegahan yang berasal darilingkungan klien.
DAFTAR PUSTAKA

Anna, Budi dan Akemat. Model Praktik Keperawatan Profesional Jiwa. Jakarta:
EGC

Stuart, G. W. (2016). Prinsip dan Praktik Keperawatan Kesehatan Jiwa Stuart.


Singapore: Elsevier

Sutejo. (2017. Keperawatan Jiwa. Yogyakarta: Pustaka Baru Press