Anda di halaman 1dari 6

21 desember 2019

https://mediaindonesia.com/read/detail/208916-angka-kematian-ibu-di-indonesia-
masih-tinggi
Selasa 08 Januari 2019, 10:45 WIB

Angka Kematian Ibu di Indonesia Masih Tinggi


Agus Utantoro | Humaniora
ANGKA Kematian Ibu (AKI) di Indonesia, menurut data Kementerian Kesehatan,
masih cukup tinggi. Pada 2015, tercatat ada 4.999 kasus dan pada 2016 turun
menjadi 4.912 kasus serta kemudian turun tajam pada 2017 menjadi 1.712 kasus.

Meski demikian, dibandingkan dengan negara-negara di kawasan ASEAN, angka


itu masih cukup tinggi.

"Jika melihat capaian upaya penurunan AKI di negara ASEAN, saat ini AKI di
negara-negara tersebut sudah menempati posisi 40-60 per 100.000 kelahiran hidup.
Sedangkan di Indonesia, berdasarkan Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2015,
AKI masih menempati posisi 305 per 100.000 kelahiran hidup," kata Pakar Ilmu
Kebidanan dan Penyakit Kandungan Detty S Nurdiati, Senin (7/1). di Gedung Grha
Wiyata UGM .

Ia menjelaskan, AKI merupakan salah satu indikator peka yang mampu


menggambarkan kesejahteraan masyarakat suatu negara.

Dikatakan, setidaknya ada dua faktor penyebab AKI masih tinggi, yaitu faktor
langsung dan tidak langsung. Untuk faktor langsung, katanya, secara nasional, AKI
tinggi karena pendarahan.

"Untuk wilayah DIY, AKI paling banyak disebabkan oleh penyakit jantung,
hipertensi, dan pendarahan. Masing-masing provinsi bisa berbeda-beda
penyebabnya," ujarnya.

Baca juga: RS Diberikan Waktu Hingga Juni 2019 Selesaikan Akreditasi


Sedangkan faktor tidak langsung, ia menjelaskan disebabkan antara lain pernikahan
muda, terlambat mendapat rujukan dan perawatan, hingga, tingkat sosial, pendidikan,
dan pengetahuan yang tidak terlalu peduli dengan kehamilan.

Dia menjelaskan, idealnya perempuan hamil setelah berusia lebih dari 20 tahun.

Namun, imbuhnya, jika belum berusia 20 tahun sudah hamil, sebaiknya dijaga agar
jangan sampai terjadi komplikasi. Jika komplikasi, katanya, harus diusahakan jangan
sampai parah.

"Kalau sudah parah, jangan sampai meninggal. Kami sedang berusaha regulasi
menambah usia umur menikah," ungkapnya.

Sementara itu, sebagai bentuk kepedulian terhadap peningkatan kesehatan ibu dan
penurunan kasus AKI di lndonesia dan global, menurunkan epidemik AIDS dan
sexual transmitted diseases (STDs), serta promosi kesehatan perempuan secara

1
2

umum, Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK)


bersama Sekolah Vokasi Prodi Kebidanan UGM pada 7-18 Januari 2019 menginisiasi
penyelenggaraan kegiatan Winter Course 2019 dengan mengusung tema "Women 's
Health and Wellness."

Pada kesempatan itu, Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan FK-KMK
UGM Gandes Retno Rahayu mengatakan kegiatan ini melibatkan sejumlah calon
profesi kesehatan multidisiplin, seperti kedokteran, farmasi, keperawatan maupun
kebidanan, baik yang berasal dari UGM (41 mahasiswa), non-UGM (3 mahasiswa)
dan mahasiswa mitra luar negeri (16 mahasiswa). (OL-2)

https://hellosehat.com/kehamilan/kandungan/penyebab-preeklampsia-pada-ibu-
hamil/

Penyebab Preeklampsia,
Kondisi Berbahaya Pada Ibu
Hamil
Oleh Nimas Mita Etika M

 Klik untuk


Klik untuk membagikan
Klik untuk berbagi
berbagi pada
di Facebook(Membuka
Twitter(Membuka
Tumblr(Membuka
Linkedln(Membuka
di Line didi
new(Membukadi
di jendela
dijendela
jendela
jendela
jendela
yang
yang
yang
yang
yang
baru)baru)
baru)
baru)
baru)
3

Preeklampsia adalah kondisi yang terjadi pada kehamilan yang memasuki usia
minggu ke-20, ditandai dengan tingginya tekanan darah tinggi walaupun ibu
hamil tersebut tidak memiliki riwayat hipertensi. Preeklampsia biasanya disertai
dengan gejala proteinuria (protein di dalam urin), dan bengkak pada kaki dan
tangan. Setidaknya preeklampsia dialami oleh 5 hingga 8 persen ibu hamil.
Selain itu, diketahui bahwa lebih dari 500 juta perempuan di seluruh dunia
meninggal akibat komplikasi yang terjadi pada kehamilan. Sekitar 10 hingga 15
persen dari angka kematian tersebut, diakibatkan oleh preeklampsia yang
dialami oleh ibu hamil.

Tidak hanya kematian ibu yang tinggi, preeklampsia mengakibatkan 1000 bayi
meninggal dunia setiap tahunnya. Tidak ada pengobatan yang dapat
menyembuhkan preeklampsia pada ibu hamil, sehingga ini dapat menjadi
momok yang menakutkan. Namun ibu hamil dapat menjaga kesehatannya
dengan mengetahui faktor risiko, gejala, dan penanganannya, untuk menurunkan
risiko ibu hamil mengalami komplikasi yang lebih parah.

Penyebab preeklampsia
Preeklampsia terjadi karena ada gangguan pada pertumbuhan serta
perkembangan plesenta, sehingga hal ini mengganggu aliran darah ke bayi
maupun ibu. Plasenta merupakan organ yang khusus dibentuk saat kehamilan
dan berfungsi sebagai pemasok makanan maupun oksigen dari ibu ke janin.
Makanan dan oksigen didistribusikan melalui aliran darah, oleh karena itu untuk
4

mendukung pertumbuhan serta perkembangan janin, plasenta membutuhkan


pasokan aliran darah yang besar dan konstan. Namun pada ibu yang mengalami
preeklampsia, plasenta tidak mendapatkan darah yang cukup. Hal ini terjadi
diperkirakan akibat plasenta yang tidak bekerja dengan baik untuk menyalurkan
aliran darah tersebut, kemudian mengganggu pembuluh darah dan tekanan
darah pada ibu.

Mengapa plasenta tidak bekerja dengan baik? Tepat setelah telur dibuahi oleh
sperma, calon janin tersebut akan menempel pada rahim sebagai tempat
tumbuhnya hingga proses kelahiran nanti. Ketika proses itu terjadi, calon janin
juga membentuk suatu ‘akar’ dari pembuluh darah ibu yang kemudian akan
berkembang menjadi plasenta. Untuk membuat akar tersebut menjadi plasenta,
maka harus ada nutrisi dan makanan yang cukup. Saat makanan yang
dikonsumsi ibu tidak mengandung nutrisi yang dibutuhkan dalam perkembangan
tersebut, plasenta akan terganggu dan hal ini yang menyebabkan preeklampsia
terjadi.

Tidak hanya itu, tekanan darah yang meningkat dapat menyebabkan gangguan
pada ginjal ibu, karena itu ibu yang mengalami preeklampsia juga mengalami
proteinuria, yaitu kondisi di mana ginjal tidak bisa menyaring protein dengan baik
sehingga menyebabkan protein ada di dalam urin.

Siapa saja yang berisiko mengalami


preeklampsia?
Berbagai faktor risiko dapat menyebabkan preeklampsia terjadi pada ibu hamil,
yaitu:

 Ibu memiliki riwayat atau masalah kesehatan lain seperti, diabetes


mellitus, penyakit ginjal, tekanan darah tinggi, lupus, atau sindrom antifosfolipid.
 Memiliki riwayat preeklampsia pada kehamilan sebelumnya. Sebanyak 16% ibu
yang pernah mengalami preeklampsia, pada kehamilan berikutnya mengalami
preeklampsia kembali.
 Hamil pada usia di atas 35 tahun atau bahkan kurang dari 18 tahun
 Ibu yang hamil untuk pertama kalinya
 Ibu hamil yang mengalami obesitas
 Ibu hamil yang mengandung bayi kembar
 Ibu yang memiliki jeda kehamilan 10 tahun dengan kehamilan sebelumnya

Selain itu, faktor risiko lain yang bisa menyebabkan preeklamsia adalah faktor
genetik, diet, gangguan pada pembuluh darah, dan gangguan autoimun.

Gejala dan tanda preeklampsia


Ibu yang mengalami preeklampsia, biasanya akan mengalami gejala dan tanda
sebagai berikut:
5

 Tiba-tiba mengalami pembengkakan pada muka, kaki, tangan, dan mata


 Tekanan darah menjadi sangat tinggi, yaitu lebih dari 140/90mmHg
 Terjadi peningkatan berat badan dalam 1 atau 2 hari
 Nyeri pada perut bagian atas
 Nyeri kepala yang sangat parah
 Timbul rasa mual dan muntah
 Penglihatan kabur
 Penurunan frekuensi dan jumlah urin
 Terdapat protein pada urin (hal ini diketahui setelah melakukan pemeriksaan
urin)

Namun terkadang ibu hamil yang tidak mengalami preeklampsia juga mengalami
tanda serta gejala tersebut, oleh karena itu penting untuk memeriksakan diri ke
dokter saat hamil

Apa dampak preeklampsia?


Preeklampsia dapat menyebabkan plasenta tidak mendapatkan aliran darah
yang cukup yang seharusnya didistribusikan ke janin. Hal ini dapat menyebabkan
berbagai masalah pada pertumbuhan dan perkembangan janin, karena janin
tidak mendapatkan cukup makanan dari ibu. Masalah yang sering muncul pada
janin akibat ibu mengalami preeklampsia adalah berat badan lahir
rendah dan kelahiran prematur. Hal ini bahkan dapat mengakibatkan masalah
pertumbuhan saat anak sudah lahir, seperti gangguan fungsi kognitif, masalah
penglihatan dan pendengaran pada anak.

Kondisi preeklampsia juga menyebabkan berbagai masalah pada kesehatan ibu,


yaitu:

 Stroke
 Paru-paru basah
 Gagal jantung
 Kebutaan
 Perdarahan pada hati
 Perdarahan yang serius ketika melahirkan
 Preeklampsia juga mengakibatkan plasenta tiba-tiba terputus dari ibu dan janin,
sehingga menyebabkan kelahiran mati.

Lalu apakah preeklamsia dapat diobati?


Satu-satunya pengobatan atau penanganan terbaik yang dapat dilakukan adalah
dengan melahirkan bayi yang dikandung. Oleh karena itu, sebaiknya diskusikan
hal ini dengan dokter. Jika bayi telah cukup baik kondisinya untuk dilahirkan
(biasanya usia lebih dari 37 minggu) maka mungkin dokter akan menyarankan
untuk melakukan operasi sesar atau melakukan induksi. Hal ini dapat mencegah
preeklamsia semakin memburuk. Namun jika bayi dinyatakan tidak siap untuk
dilahirkan, maka dokter akan memberikan terapi untuk mengurangi risiko
preeklampsia bertambah parah.
6

Jika preeklampsia yang dialami oleh ibu hamil tidak terlalu parah, maka berikut
rekomendasi yang dapat dilakukan untuk mencegah preeklamsia semakin buruk:

 Bed rest atau istirahat total, hal ini bisa dilakukan di rumah ataupun di rumah
sakit untuk mendapatkan perawatan yang lebih baik.
 Melakukan pemeriksaan rutin ke dokter
 Mengonsumsi lebih banyak air mineral
 Mengurangi konsumsi garam

BACA JUGA

 Kenapa Kehamilan Sebaiknya Direncanakan Dulu


 Pengaruh Defisiensi Zat Besi dan Anemia pada Kehamilan
 9 Kondisi Kesehatan yang Dapat Membahayakan Kehamilan

Bagikan artikel ini:

 Klik untuk membagikan di Facebook(Membuka di jendela yang baru)


 Klik untuk berbagi pada Twitter(Membuka di jendela yang baru)
 Klik