Anda di halaman 1dari 17

PONDASI

Disusun Oleh :

Ines Epti Noniasari

5160811043

PRODI TEKNIK SIPIL

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS TEKNOLOGI YOGYAKARTA

YOGYAKARTA

TAHUN PENYUSUNAN 2016


ABSTRAK

Pondasi bangunan adalah konstruksi yang paling terpenting pada suatu bangunan. Arena
pondasi berfungsi sebagai “penahan seluruh beban hidup dan mati yang berada diatasnya dan
gaya-gaya dari luar”. Pondasi merupakan bagian dari struktur yang berfungsi meneruskan beban
menuju lapisan tanah pendukung dibawahnya. Dalam strktur apapun, beban yang terjadi baik
yang disebabkan oleh berat sendiri ataupun akibat beban rencana harus disalurkan ke dalam
suatu lapisan pendukung alam hal ini adalah tanah yang ada di bawah trutur tersebut. Pondasi
harus diperhitungkanuntuk dapat menjamin kestablan bangunan terhadap beratnya sendiri,
beban-beban bangunan (beban isi bangunan), gaya-gaya luar seperti; tekanan angin,gempa
bumida lain-lain. Disaming itu,tidak boleh terjadi penurunan level melebihi batas yang
diizinkan.
Untuk membuat dan memasang pondasi suatu bangunan pada tanah yang akan didirikan
bangunan harus diadakan pengukuran sesuai dengan pondasi yang akan dipasang. Kemudian
diadakan peggalian tanah sedalam dan selebar ukuran pondasi yang tekah ditentukan. Setelah
galian tanah selesai,dipasang kayu dan papan untuk menentukan tinggi rendahnya pondasi dan
besarkecilnya pondasi. Barulah pemasangan pondasi dilaksanakan.

Kata kunci : Pondasi, Konstruksi, Bangunan

ii
A. Pendahuluan

1. Latar Belakang

Setiap bangunan sipil seperti gedung, jembatan, jalan raya, terowongan,


dinding penahan, menara, dan tanggul harus mempunyai pondasi yang dapat
mendukungnya. Pondasi harus diperhitungkan untuk dapat menjamin kestabilan
bangunan. Dalam membangun rumah atau gedung harus dimulai dari awal. Itulah
sebabnya pengetahuan pertama mengenai suatu bangunan dimulai dari bawah.
Pondasi merupakan bagian dari struktur bawah konstruksi yang memiliki peran
penting dalam memikul beban struktur atas sebagai akibat dari adanya gaya-gaya
yang terjadi pada struktur atas seperti berat struktur itu sendiri maupun beban gempa.
Jenis pondasi yang digunakan dalam suatu perencanaan konstruksi, layaknya pada
gedung berlantai banyak tergantung dari jenis tanah dan beban yang bekerja pada
lokasi rencana proyek yang dikerjakan. Struktur bangunan dapat di ukur dari
kekuatan tanah dan kekuatan material itu sendiri dengan memperhatikan kondisi tanah
dan lingkungan, pengerjaan pondasi serta metode pelaksanaannya maka pondasi yang
paling efisien.

2. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut :
“Apa itu pondasi dalam suatu pekerjaan teknik sipil, serta macam-macam
pondasi yang sering digunakan dalam suatu pekerjaan bangunan teknik sipil?”

3. Tujuan
Mendeskripsikan pondasi dalam suatu pekerjaan teknik sipil
serta menentukan jenis pondasi yang akan dipakai untuk
pembangunan konstruksi dengan memperhatikan kondisi tanah dan
l i n g k u n g a n ya n g a d a d i s e k i t a r n ya .

3
B. Pembahasan

1. S t r u k t u r p o n d a s i
Pondasi adalah suatu konstruksi yang berfungsi untuk memikul beban
bangunan, meneruskan dan membaginya secara merata ke atas lapisan tanah. Dalam
pemilihan bentuk pondasi dan jenis pondasi yang memadahi, perlu diperhatikan
beberapa hal yang berkaitan dengan pekerjaan pondasi tersebut. Hal ini disebabkan
tidak semua jenis pondasi dapat dilaksanankan di semua tempat.

Gambar Perpektif dan Potongan Pondasi

Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam memilih pondasi seperti kondisi


tanah yang akan dipasang pondasi, factor lingkungan, waktu pekerjaan pondasi, biaya
pengerjaan pondasi, ketersediaan material pembuatan pondasi di daerah tersebut.
Daya dukung tanah juga sangat penting dalam pemilihan pondasi untuk mengetahui
jenis pondasi apakah yang akan dibuat sesuai kriteria daya dukung tanah di daerah
tersebut.
Kriteria daya dukung tanah dapat ditentukan melalui pengujian secara
sedrhana. Bila tanah keras terletak pada permukaan tanah atau 2-3 meter di bawah
permukaan tanah maka jenis pondasinya adalah pondasi dangkal. Bila tanah keras
terletak pada kedalaman sekitar 10 meter atau lebih di bawah permukaan tanah maka
jenis pondasinya adalah pondasi tiang minipile, pondasi sumuran. Bila tanah keras
terletak pada kedalaman 20 meter atau lebih di bawah permukaan tanah maka jenis
pondasinya adalah pondasi tiang pancang.

4
2. Jenis dan fungsi pondas dangkal

Pondasi merupakan bagian paling bawah dari suatu konstruksi bangunan. Fungsi
pondasi ialah meneruskan beban konstruksi ke lapisan tanah yang berasa di bawah
pondasi dan tidak melampaui kekuatan tanah yang bersangkutan. Apabila kekuatan tanah
dilampaui, maka penurunan yang berlebihan atau keruntuhan dari tanah akan terjadi,
kedua hal tersebut akan menyebabkan kerusakan konstruksi yang berada di atas pondasi.
Pondasi dangkal digunakan apabila lapisan tanah keras yang mampu mendukung beban
bangunan di atasnya, terletak dekat dengan permukaan, sedangkan pondasi dalam
dipakai pada kondisi yang sebaliknya.

Suatu pondasi akan aman apabila :

1) Penurunan ( settlement ) tanah yang disebabkan oleh beban masih dalam


batas yang diperbolehkan.
2) Keruntuhan geser dari tanah dimana pondasi berada tiak terjadi. Secara
umum, pondasi dangkal adalah pondasi yang mempunyai perbandingan
antara kedalaman dengan lebar pondasi sekitar kurang dari 4 (Df/B < 4) dan
bentuk pondasi biasanya dipilih sesuai dengan jenis bangunan dan jenis
tanahnya.

Secara umum pondasi dangkal dapat berbentuk :

a) Pondasi telapak ( square foundations )


b) Pondasi menerus ( continus foundations )
c) Pondasi lingkaran ( circle foundations )
d) Pondasi rakit ( raft foundations )

3. Syarat-syarat perencanaan pondasi dangkal

Didalam merencanakan suatu pondasi harus memperhatikan beberapa persyaratan


dibawah ini :

1) Syarat yang berhubungan dengan konstruksi dan beban yang diterima oleh
pondasi, adalah :
- Beban maksimum yang diterima
- Muatan sedapat mungkin harus merata

5
- Tanah dasar pondasi dari penggerusan air

2) Syarat yang berhubungan dengan perencanaan dan perluasan pondasi,


adalah :
- Galian tanah sekecil-kecilnya
- Lubang pondasi harus dapat dikeringkan
- Pondasi yang terbuat dari kayu harus terletak pada muka air tanah
terendah.

3) Syarat yang berhubungan dengan stabilitas dan deformasi, adalah :


- Kedalaman pondasi harus cukup untuk menghndari kerusakan tanah
dalam arah lateral di bawah pondasi
- Kedalaman pondasi harus dibawah daerah yang mempunyai sifat
kompresibilitas yang tinggi.
- Konstruksi harus aman terhadap guling, geser, rotasi dan keruntuhan
geser tanah.
- Konstruksi harus aman terhadap korosi atau kegagalan akibat bahan-
bahan kimia yang ada di dalam tanah.
- Pondasi harus dapat memberikan toleransi terhadap pergerakan
diferensial akibat pergerakan tanah
- Pondasi harus memenuhi persyaratan standar

4. Macam Pondasi
a. Pondasi telapak
Pondasi telapak berbentuk seperti telapak kaki seperti ini.

Pondasi ini setempat, gunanya untuk mendukung kolom baik untuk rumah satu lantai
maupun dua lantai. Jadi, pondasi ini diletakkan tepat pada kolom bangunan. Pondasi ini
terbuat dari beton bertulang. Dasar pondasi telapak bisa berbentuk persegi panjang atau
persegi.
Untuk pondasi bangunan rumah tinggal dan gedung bertingkat ringan,biasanya cukup
digunakan pondasi dangkal yang disebut dengan pondasi telapak (spread footing), yaitu
dengan memperlebar bagian bawah kolom atau dinding bangunan, sehingga membentuk
suatu telapak yang menyebarkan beban bangunan (spread) menjadi tegangan yang lebih
kecil daripada daya dukung tanah yang diijinkan..

6
Pondasi telapak berfungsi untuk mendukung bangunan secara langsung pada lapisan
tanah yang mempunyai daya dukung yang cukup baik, seperti lapisan batuan, kerikil,
lapisan berpasir dengan nilai N lebih besar dari 30 atau tanah kohesif dengan nilai N
lebih besar dari 20.
Kedalaman pondasi telapak makin dangkal akan semakin murah dan semakin mudah
pelaksanaannya. Pondasi telapak biasanya dibedakan menurut bentuknya dan jenis struktur
yang disangganya.

Oleh karena itu, pondasi telapak dibagi menjadi empat golongan:

1) Pondasi telapak tunggal

Pondasi telapak tinggal digunakan untuk memikul sebuah kolom


tunggal, tugu, menara, tangki air, pilar jembatan, cerobong asap dan
sebagainya.

2) Pondasi telapak menerus

Pondasi telapak menerus digunakan untuk menyangga suatu


bangunan yang panjang, seperti : dinding penahan, dinding
bangunan/tembok dan sebagainya.

3) Pondasi telapak gabungan

Pondasi ini sangat cocok digunakan untuk beban kolom yang besar
dan daya dukung tanahnya relatif kecil.

4) Pondasi pelat

Pondasi ini merupakan sebuah pelat beton yang tebal, biasanya


berukuran 0,75 – 2,0 meter dan menggunakan tulangan atas dan
bawah yang menerus. Pondasi pelat yang dikenal juga dengan nama
pondasi rakit, dapat digunakan untuk menopang tangki-tangki
penyimpanan, ruang peralatan industri dan bangunan-bangunan yang

7
tanah dasarnya mempunyai daya dukung yang rendah (tanah lunak)
atau beban kolom yang terlalu besar.

b. Pondasi cakar ayam

Jenis pondasi ini ditemukan oleh Prof. Dr. Ir. Soedijatmo pada tahun 1961
ketika beliau merancang menara listrik jaringan transmisi bertegangan tinggi di
daerah Ancol, Jakarta. Daerah tersebut merupakan daerah rawa. Kemudian,
pondasi ini juga digunakan dalam pembangunan Bandara Internasional
Soekarno-Hatta. Dasar pemikiran pondasi cakar ayam ini adalah memanfaatkan
karakteristik tanah yang tidak dimanfaatkan oleh sisem pondasi lain, yaitu:
pemanfaatan adanya tekanan tanah pasif.
Pelaksanaan konstruksi pondasi cakar ayam ini relatif sederhana, yaitu dengan
meletakkan pipa-pipa beton bertulang ke dalam lubang galian ini dapat dilakukan
dengan pemboran dan galian biasa atau dengan alat khusus disebut “Chadu” sebagai
alat penggali dan “Chup” sebagai alat untuk memasukkan pipa-pipa beton ke lubang
tersebut. Kemudian, lubang dalam pipa beton diisi kembali dengan tanah bekas galian
dan di atasnya diberi tulangan untuk pelat dan selanjutnya dilakukan pengecoran plat.
Karena sederhana pelaksanaannya, pondasi cakar ayam dapat mengganti jenis pondasi
yang lebih rumit, misalnya pondasi tiang pancang yang memerlukan peralatan berat.
Pondasi caka ayam ini memang khusus untuk memecahkan permasalahan tanah lunak,
karena sistem pondasi ini sangat sederhana namun mempunyai kapasitas daya dukung
baik.

c. Pondasi sarang laba-laba

Pondasi sarang laba-laba di temukan oleh Ir. Ryantori dan Ir. Soetjipto, pada
tahun 1975. Konstruksinya terdiri dari pelat beton tipis bermutu K-225 berukuran 10-15
cm yang dibawahnya dilakukan oleh rib-rib tegak tipis dan relatif tinggi, biasanya, 50-
150 cm. Penempatan rib-rib diatur sedemikian rupa sehingga dari atas kelihatan
membentuk petak-petak segitiga, sedangkan rongga-rongga dibawah pelat dan diantara
rib-rib diisi dengan tanah/pasir yang dipadatkan lapis demi lapis.

8
Karena fungsinya untuk memikul beban terpusat/kolom, maka susunan rib-rib diatur supaya
titik pertemuannya berimpit dengan titik kerja beban/kolom. Rib tepi keliling biasanya, dibuat
lebih dalam dari rib-rib tengah (berkisar antara 2-3 meter), agar penurunan total
direduksi dan untuk menjaga kestabilan bangunan terhadap kemungkinan terjadinya
kemiringan.
Untuk kondisi tanah yang jelek misalnya: 0,40 kg/cm2, tergantung ukuran
pondasinya, pondasi sarang laba-laba mampu menahan beban sampai 750 ton,
pondasi ini dapat digunakan pada bangunan bertingkat tiga sampai lima, pabrik,
hanggar, menara transmisi tegangan tinggi, tugu, menara air, jalan raya, landasan
pesawat udara, jembatan, dan sebagainya. Selain itu, pondasi ini mampu
menggantikan fungsi dari berbagai konstruksi, antara lain: sebagai pondasi kolom,
sloof, konstruksi pelat lantai, dinding penahan urugan dibawah lantai, septic tank, dan
resapan.

d. Pondasi Gasing

Pondasi gasing (top base method) ditemukan oleh seorang pengusaha


Jepang bernama Atsushi Matsui pada tahun 1974. Idenya berawal ketika ia melihat
kenyataan bahwa sebuah mangkuk teh tidak akan tenggelam di pasir walau dipukul
ombak. Setelah melakukan berbagai percobaan, akhirnya ia menemukan bentuk op
atau gasing tersebut. Penemuannya ini lalu dikembangkan oleh para ahli di negeri
Sakura itu.

Pondasi gasing ini terdiri atas 2 bagian :


1) Blok-blok beton berbentuk gasing dengan kontak yang luas dan berfungsi
sebagai pemikul beban dan menyebarkannya ke lapisan tanah dibawahnya.

2) Batu pecah pengisi celah-celah antara blok-blok beton tersebut yang


berfungsi sebagai pengunci dan peredam getaran. Garis tengah lingkaran
bagian atas dari pondasi gasing ini kurang lebih sama ukurannya dengan

9
tinggi bagian kerucutnya. Tinggi kerucut ini kurang lebih sama
ukurannya dengan tinggi bagian kerucutnya.

5. Syarat-Syarat Pondasi

Untuk memilih tipe pondasi yang perlu diperhatikan adalah apakah pondasi itu
cocok untuk berbagai keadaan di lapangan dan apakah pondasi itu memungkinkan
untu k diselesaikan secara ekonomis sesuai dengan jadwal kerjanya?
Sehingga pondasi yang merupakan bagian dari konstruksi bangunan harus
memenuhi beberapa persyaratan, antara lain:
1) Cukup kuat untuk mencegah/menghindarkan timbulnya patah geser yang
disebabkan muatan tegak ke bawah.
2) Dapat menyesuaikan terhadap kemungkinan terjadinya gerakan-
gerakantanah antara lain, tanah mengembang, tanah menyusut, tanah yang
tidak stabil, kegiatan pertambangan dan gaya mendatar dari gempa bumi.
3) Menahan gangguan dari unsur-unsur kimiawi di dalam tanah baik
organik maupun anorganik.
4) Dapat menahan tekanan air yang mungkin terjadi. Suatu konstruksi pondasi
yang tidak cukup kuat dan kurang memenuhi persyaratan tersebut diatas,
dapat menimbulkan kerusakan pada bangunannya. Akibat yang
ditimbulkan oleh kerusakan ini, memerlukan perbaikan dari bangunannya
bahkan kemungkinan terjadi seluruh bangunan menjadi rusak dan harus
dibongkar. Di samping itu, tidak boleh terjadi penurunan melebihi batas.

6. Langkah Pemasangan Pondasi

1. Ukur tanah yang akan di pasang pondasi, kemudian pasanglah bowplang


untuk menggetahui ketinggian muka tanah setelah itu pasang benang agar
pondasi bisa tegak dan lurus.
2. Gali tanah yang akan di buat pondasi dengan kedalaman sekitar setengah
meter karena pondasi tersebut dibuat untuk pagar tembok yang mempunyai
ketinggian 3 meter saja.
3. Landasan tanah tersebut diberi anstamping dengan ketinggian sekitar
20cm, dengan posisi batu tegak.
4. Pasir dan semen di campur dengan menggunakan perbandingan 1:5
kemudian campur dengan air secukupnya sebagai pengikat dengan
menggunakan alat pengaduk molen.
5. Susun batu kali tersebut diatas anstamping setinggi 80cm..

10
6. Setelah semuanya tercampur dengan baik tuangkan campuran tersebut
ke dalam batu kali yang tersusun tadi sambil di padatkan dengan
menggunakan tongkat besi agar campuran tersebut memadati lobang-lobang
yang berada di podasi batu kali tersebut.
7. Setelah itu tunggu pasangan batu kali tersebut hingga mengeras dan siap
untuk di beri beban di atasnya.

11
12
e.

13
14
15
16
17