Anda di halaman 1dari 3

Indonesia Hebat Karena Kebhinekaan yang Kuat

Sekitar satu minggu lalu, ada seorang rekan mengajak berdiskusi ringan dengan saya.
Menurut dia, dalam satu dekade ini isu-isu primordialisme terasa menguat. Primordialisme
itu pandangan yang memegang teguh nilai-nilai yang diperoleh seseorang sejak ia kecil. Nilai-
nilai yang ia anut di lingkungan sosial pertamanya. Tentu saja nilai-nilai ini berakar dari
keluarganya, suku atau agamanya. Teman saya merasa akhir-akhir ini rasa kesukuan dan
keagamaan menguat. Contoh sederhana misalnya gerakan budaya sunda yang ditengarai
dengan maraknya penggunaan pangsi dan iket. Dia minta pendapat saya tentang fenomena
tersebut.

Saya jawab bagus itu. Mendengar jawaban saya, dia malah terheran-heran dan
mempertanyakan kenapa saya bilang bagus. Menurut dia, isu-isu primordialisme itu justru
harus dibatasi karena bisa mengganggu hidup di Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Semangat primordialisme itu bahaya laten perpecahan. Rasa persatuan harus di atas rasa
kedaerahan. Dia lalu mencontohkan beberapa peristiwa, dari mulai gerakan sparatisme di
Papua hingga Gerakan 212. Intinya dia tidak sependapat dengan saya.

Dari diskusi dengan rekan tersebut, akhirnya saya terinspirasi untuk menulis. Saya ingin
berbagi melalui artikel sederhana ini. Mengapa saya katakan bagus ketika ada semangat
primordialisme yang menguat di negeri kita, saya akan coba jelaskan dengan tiga logika
sederhana. Mudah-mudahan ketiga logika ini bisa jadi kesepakatan kita bersama.

Kita ibaratkan Indonesia ini sebuah tempat tinggal. Agar lebih sederhana, kita anggap
Indonesia ini sebuah rumah. Dan ketika Indonesia ini kita ibaratkan sebagai sebuah rumah,
kira-kira, rumah seperti apa yang bisa merepresentasikan Indonesia? Apakah rumah gubuk
yang sempit? Atau rumah mewah yang berisi banyak sekali peralatan rumah tangga yang
ekslusif? Rasanya, kalau kita mengingat betapa berlimpah sumber daya yang dianugerahkan
Alloh SWT untuk negeri kita, tentu kita akan merepresentasikan Indonesia itu adalah sebuah
rumah mewah.

Apa yang tidak ada di Indonesia? Sumber daya alam kita sangat banyak. Begitupun dengan
sumber daya mineral, termasuk sumber daya energi terbarukan. Masa iya kita mau
menganggap kita tinggal di rumah gubuk sempit. Indonesia itu kaya, tak akan ada yang
memungkiri itu. Ini kesepakatan kita yang pertama, bahwa Indonesia itu ibarat rumah
mewah.

Selanjutnya, rumah mana yang perlu mendapatkan perawatan dan pengamanan yang ekstra?
Rumah gubuk sempit? Atau rumah mewah? Tentu saja rumah mewah. Mengapa? Karena
rumah mewah diinginkan oleh siapapun. Manusia mana yang tidak ingin tinggal di rumah
mewah dengan fasilitas serba ada? Tentu semuanya mau. Dan faktanya, tidak semua manusia
di muka bumi ini dikaruniai tempat tinggal seindah dan senyaman Indonesia. Ini kesepakatan
kita yang kedua, bahwa Indonesia itu harus dijaga.

Sekarang kesepakatan ketiga. Saya awali dengan pertanyaan sederhana lagi. Untuk menjaga
rumah mewah itu, cukup oleh seorang atau lebih baik oleh banyak orang? Kalau oleh banyak
orang, apakah sebaiknya orang yang banyak itu memiliki kemampuan berbeda-beda atau
cukup satu kemampuan saja? Cukup dengan 10 anggota Linmas atau 10 anggota polisi
misalnya? Atau akan lebih aman jika 10 orang penjaga itu berasal dari latar belakang berbeda?
Misalnya dua orang anggota Linmas, dua orang anggota kepolisian, dua orang dari TNI AD,
dan selanjutnya. Mana yang lebih baik? Logika yang sederhana rasanya akan memilih,
personil penjagaan rumah mewah itu akan lebih baik jika dari berbagai unsur. Mengapa?
Karena setiap unsur memiliki kompetensi yang berbeda.

Sekarang coba kita posisikan diri kita misalnya jadi pihak yang akan menyerang musuh. Mana
yang akan lebih sulit kita taklukan, musuh yang seragam? Atau musuh yang beragam? Lebih
mudah lagi kalau kita ilustrasikan masalah ini seperti tim sepakbola. Apa jadinya kesebelasan
kita jika isinya kiper semua? Atau striker semua? Meskipun mereka jagoan, tapi kalau kiper
ya tentu kompetensi yang dimilikinya sebagai seorang kiper. Kesebelasan kita akan jauh lebih
tangguh ketika diisi oleh berbagai kompetensi di setiap lini. Maka tim penjaga rumah mewah
itu, sebaiknya bukan dari sebuah kelompok saja. Rumah mewah itu akan lebih aman ketika
diisi oleh kebhinekaan. Ini kesepakatan kita yang ketiga.

Kita sama-sama tahu bagaimana kuatnya fisik suku Aborigin. Ya, fisik mereka kuat, mirip
saudara kita dari wilayah timur seperti Papua. Tapi mereka tak bisa bertahan ketika ribuan
balatentara Inggris mendarat di tanah mereka. Mereka tak mampu memberikan perlawanan
yang berarti, ketika 11 Kapal Perang Inggris yang sudah menempuh perjalanan laut sekitar 8
bulan itu mengibarkan Bendera Union Jack di Port Jackson (sekarang Sydney Cove). Sebuah
catatan tentang pahitnya nasib Suku Aborigin ini pernah dipublikasikan Guardian. Dalam
rentang waktu sekitar 150 tahun, hampir satu juta orang Aborigin menjadi korban
imperialisme.

Hal yang sama terjadi di Benua Amerika. Siapa yang tak kenal nama Geronimo, nama Kepala
Suku Indian terakhir yang mati-matian mempertahankan tumpah darahnya dari kolonialisme
Eropa, yang ketika itu berisi balatentara Inggris, Portugis dan Belanda. Entah berapa kepala
manusia yang sudah ia kuliti, tapi kehebatan bertarung suku Indian di bawah komando
Geronimo faktanya tak lebih dari 80 tahun. Mereka harus bertekuk lutut pada penjajah, dan
seperti Abogirin, hari ini mereka terancam punah.

Mengapa Aborigin dan Indiana tak mampu bertahan? Karena mereka seragam. Dan Indonesia
bisa mengusir kolonialisme yang pernah sukses di dua benua itu, karena Indonesia beragam.
Aborigin dan Indiana pasti lebih mudah dipelajari oleh penjajah, karena mereka relatif sama.
Keterampilan bertarung mereka, senjata yang digunakan, cara berpikir, cara pandang,
strategi, dan lain sebagainya, relatif sama.
Lain halnya dengan Indonesia. Bangsa penjajah itu pertama kali masuk ke Banten. Mereka
kira bisa mudah menguasai nusantara dengan hanya mempelajari Banten. Ketika mereka
masuk ke pulau Sumatera ternyata karakter yang mereka hadapi berbeda. Dan lagi-lagi kaget
ketika masuk di Perairan Tidore, Maluku. Mereka tidak berhenti kaget, dan tidak pernah
mendapatkan pola yang efektif untuk menaklukan penduduk pribumi.

Di satu sisi para penjajah itu begitu bernafsu menguasai kepulauan nusantara karena memang
jauh lebih kaya dibanding dua benua sebelumnya. Tapi di sisi lain, mereka harus berhadapan
dengan lebih dari 1300 suku bangsa di Indonesia, tentu saja dengan beragam
kompleksitasnya. Mulai dari bahasa, budaya, karakter, jenis beladiri, hingga jenis senjata
tradisional yang begitu beragam. Dan upaya kolonialisme sepanjang 350 tahun lebih itu,
faktanya gagal untuk menaklukan kebhinekaan di negeri ini. Tiga setengah abad faktanya
tidak cukup untuk menghancurkan keberagaman yang kokoh di negeri ini. Para penjajah itu
mungkin mengira, Tuhan lupa menciptakan para penjaga hebat di wilayah yang kaya nan
berlimpah.

Apakah Merah Putih akan berkibar ketika 1300 suku bangsa itu lemah? Tentu tidak. Mereka
harus kuat dengan karakternya masing-masing. Mereka tidak boleh jadi satu warna. Mereka
tidak boleh semuanya hanya piawai memanah. Tetap harus ada yang ahli menggunakan
tombak, golok, kerambit, keris, kelewang, rencong, badik, sumpit, ketapel dan lain
sebagainya. Sebagian kita ada yang sangat menguasai teritorial gunung hingga ke puncaknya,
memahami wilayah lembah hingga ke dasarnya, bahkan menyelami kedalaman laut. Kita akan
terlalu mudah dikalahkan ketika kita hanya satu warna.

Maka saya jawab bagus, ketika primordialisme itu tumbuh. Saya yakin, jangankan tiga
setengah abad, bahkan seumur bumi pun tidak akan ada penjajah yang mampu menaklukan
Indonesia, ketika keberagaman ini terjaga. Lagi pula, rasanya tak perlu terlalu khawatir
dengan primordialisme. Bukankah Indonesia itu dilahirkan oleh Sunda, Jawa Batak, Papua,
Dayak, dan semuanya. Primordialisme hari ini harus menyadari, nenek moyang merekalah
yang mendirikan bangsa besar ini. Apa kita mau mengkhianati amanat dari nenek moyang kita
sendiri? Suku, bangsa dan agama kita adalah orang tuanya Indonesia. Dan saya yakin, tak ada
orang tua yang akan mengkhianati anaknya!