Anda di halaman 1dari 9

4.

MANAJEMEN PENANGGULANGAN BENCANA

Jenis-jenis bencana

Situasi kebencanaan di indonesia

• Indonesia merupakan Laboratorium bencana Alam.

• Intensitas bencana semakin meningkat dan kompleks (diperparah oleh global warming).

• Semakin kompleksnya bencana dan kedaruratan, perlu upaya PB secara sistematik

• UU no 24/2007 sebagai landasan bagi pembangunan sistem PB di Indonesia

Data dr pusat krisis kesehatan kemenkes tahun 2010 – 2014 ada 1.907 kejadian bencana :

 1.124 bencana alam

 626 bencana non alam

 157 bencana sosial

Untuk th 2014 terdapat 456 kejadian bencana :

 227 bencana alam (49%)


 197 bencana non alam (44%)

 32 bencana sosial (7%)

Kejadian bencana tersebut menimbulkan korban sebanyak 1.699.247 orang, terdiri dari 957 orang
meninggal, 1.932 orang luka berat/dirawat inap, 694.305 orang luka ringan/rawat jalan, 391 orang
hilang dan 1.001.662 pengungsi.

5 jenis bencana dengan frekuensi tertinggi di tahun 2014 adalah :

 banjir (88 kejadian ; 19%)

 kecelakaan transportasi (74 kejadian; 16%)

 tanah longsor (57 kejadian; 13%)

 kebakaran pemukiman (55 kejadian; 12%)

 keracunan (39 kejadian; 9%)

Kerusakan fasilitas kesehatan tahun 2014 sebanyak 106 unit terdiri :

 puskesmas 34 unit (32%)

 puskesmas pembantu 30 unit (28%)

 polindes 23 unit (22%)

 rumah sakit 6 unit (5%)

 poskesdes 6 unit (5%)

 posyandu 3 unit (3%)

 gudang farmasi 2 unit (2%)

 puskesmas keliling 2 unit (2%)

PARADIGMA PENANGGULANGAN BENCANA


Paradigma Lama Paradigma Baru
 Reaktif  Preventif Terencana
 Tanggap Darurat  Pengurangan Resiko
 Sentralisasi  Desentralisasi
 Tanggungjawab Pemerintah  Urusan Bersama Seluruh
Pemangku Kepentingan (Masyarakat, DLL)
 Perlindungan masyarakat dari ancaman bencana alam adalah hak azasi rakyat, dan
kewajiban pemerintah

 Pengurangan resiko bencana bagian dalam proses pembangunan

Paradigma pengurangan resiko bencana :

 Difokuskan pada analisis risiko bencana, ancaman, kerentanan dan kemampuan masyarakat.

 Tujuan utamanya untuk meningkatkan kemampuan untuk mengelola dan mengurangi risiko,
dan juga mengurangi terjadinya bencana. Dilakukan bersama oleh semua para pihak
(stakeholder) dengan memberdayakan masyarakat.
Definisi Managemen Bencana:

Segala upaya atau kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka pencegahan, mitigasi, kesiapsiagaan,
tanggap darurat dan pemulihan berkaitan dengan bencana yang dilakukan pada sebelum, pada saat,
dan setelah (kejadian) bencana.

Catatan:

UU 24/2007 : Penyelenggaraan PB dimulai sejak penetapan kebijakan pembangunan yang berisiko


timbulnya bencana …… dst.

Kegiatan Manajemen Bencana :

1. Pencegahan (prevention)

2. Mitigasi (mitigation)

3. Kesiapan (preparedness)

4. Peringatan Dini (early warning)

5. Tanggap Darurat (response)

6. Bantuan Darurat (relief)

7. Pemulihan (recovery)

8. Rehablitasi (rehabilitation)

9. Rekonstruksi (reconstruction)

# Pencegahan

Serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengurangi atau menghilangkan risiko bencana, baik
melalui pengurangan ancaman bencana maupun (penurunan) kerentanan pihak yang terancam
bencana (UU No.24/2007).

Misalnya:

 melarang pembakaran hutan dalam perladangan

 melarang penambangan batu di daerah yang curam.

Jadi pencegahan merupakan upaya untuk Mencegah terjadinya bencana

Contoh kegiatan Pencegahan :

1. Membuat Peta Daerah Bencana


2. Mengadakan dan mengaktifkan isyarat-isyarat tanda bahaya
3. Menyusun Rencana Umum Tata Ruang
4. Menyusun Perda mengenai syarat keamanan, bangunan, pengendalian limbah dsb.
5. Mengadakan peralatan/perlengkapan Ops. PB
6. Membuat Protap, Juklak, Juknis PB.
7. Perbaikan kerusakan lingkungan.

# Mitigasi

Serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana baik melalui pembangunan fisik maupun
penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana (UU 24/2007)

Dua bentuk Mitigasi :

- Mitigasi struktural (membuat chekdam, bendungan, tanggul sungai, dll.)

- Mitigasi non struktural : peraturan, tata ruang, pelatihan .

Jadi mitigasi merupakan upaya untuk meminimalkan dampak bencana

Contoh kegiatan mitigasi :

1. Menegakkan peraturan yg telah ditetapkan

2. Memasang tanda-tanda bahaya/larangan

3. Membangun Pos-pos pengamanan, pengawasan/pengintaian

4. Membangun sarana pengaman bahaya dan memperbaiki sarana kritis (tanggul, dam,
sudetan dll)

5. Pelatihan Kebencanaan

# Kesiapsiagaan

Serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengantisipasi bencana melalui pengorganisasian serta
melalui langkah yang tepat guna dan berdaya guna (UU 24/2007).

Misalnya

• Penyiapan sarana komunikasi, pos komando, penyiapan lokasi evakuasi, Rencana


Kontinjensi/Kesiapsiagaan dan sosialisasi peraturan / pedoman PB.

Jadi sesiapsiagaan merupakan upaya untuk mengantisipasi bencana melalui pengorganisasian


langkah secara tepat, efektif dan siap siaga

# Peringatan dini

Serangkaian kegiatan pemberian peringatan sesegera mungkin kepada masyarakat tentang


kemungkinan terjadinya bencana pada suatu tempat oleh lembaga yang berwenang.(UU 24/2007).

Pemberian peringatan dini harus :

- menjangkau masyarakat (accesible)

- segera (immediate)

- tegas tidak membingungkan (coherent)

- bersifat resmi (official)


peringatan dini merupakan Upaya memberikan tanda peringatan akan kemungkinan terjadinya
bencana

# Tanggap darurat

Serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan segera pada saat kejadian bencana untuk menangani
dampak buruk yang ditimbulkan, meliputi kegiatan penyelamatan dan evakuasi korban, harta benda,
pemenuhan kebutuhan dasar, perlindungan, pengurusan pengungsi, penyelamatan, serta pemulihan
prasarana dan sarana (UU 24/2007).

Tanggap darurat merupakan Upaya pada saat bencana untuk menanggulangi dampak yang
ditimbulkan bencana.

Bantuan darurat kebutuhan dasar meliputi :

1. Pangan
2. Sandang
3. Tempat Tinggal
4. Sementara
5. Kesehatan
6. Sanitasi
7. Air Bersih

# Pemulihan

Serangkaian kegiatan untuk mengembalikan kondisi masyarakat danlingkungan hidup yang terkena
bencana dengan memfungsikan kembali kelembagaan, prasarana, dan sarana dengan melakukan
upaya rehabilitasi (UU 24/2007)

Pemulihan meliputi kegiatan fisik dan non- fisik.

# Rehabilitasi

Perbaikan dan pemulihan semua aspekpelayanan publik atau masyarakat sampai tingkat yang
memadai pada wilayah pasca-bencana dengan sasaranutama untuk normalisasi atau
berjalannyasecara wajar semua aspek pemerintahan dan kehidupan masyarakat (UU 24/2007).

Rehabilitasi merupakan Upaya untuk Membantu masyarakat untuk memperbaiki rumah, fasilitas
umum & sosial, dan menghidupkan roda perekonomian.

# Rekonstruksi

Pembangunan kembali semua prasarana dan sarana, kelembagaan pada wilayah pasca-bencana, baik
pada tingkat pemerintahan maupun masyarakat dengan sasaran utama tumbuh dan berkembangnya
kegiatan perekonomian, sosial dan budaya, tegaknya hukum dan ketertiban dan bangkitnya peran
serta masyarakat dalam segala aspek kehidupan bermasyarakat.

Rekonstruksi merupakan Program untuk perbaikan fisik, sosial, dan ekonomi untuk
mengembalikankehidupan masyarakat pada kondisi yang sama atau lebih baik.
Siklus Manajemen Bencana

A. Peraturan dan Perundangan (Legislasi)

 Nasional :

 Undang-undang Nomor 24/2007 tentang PB

 UU No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah

 Peraturan Pemerintah

• PP 21/2008 ttg Penyelenggaraan PB

• PP 22/2008 ttg Pendanaan dan Pengelolaan bantuan

• PP 23/2008 ttg Peran Lembaga Internasional danLembaga Asing Non Pemerintah

 Per Mendagri No. 46/2008 : Pedoman Organisasi & Tatakerja BPBD

 Daerah :

 Perda provinsi DIY No 8 th 2010 tentang PB

 Perda Kab Sleman No 7 tahun 2013 tentang PB

B. Perencanaan PB

 Pemaduan PB dalam Perencanaan Pembangunan

 Perencanaan PB
 Rencana Penanggulangan Bencana

 Rencana Kontinjensi (Contingency Plan)

 Rencana Operasi

 Rencana Pemulihan

 Perencanaan Masyarakat :

 Perencanaan Pencegahan Perencanaan Pengungsian

C. Kelembagaan

FORMAL :

 Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)

 Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi( BPBD)

 Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten/Kota

 Badan Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat (Badan KesbangLinmas)


Kabupaten

NON FORMAL

 Forum

 Masyarakat

D. Pendanaan

• Dana DIPA/DPA

 untuk mendukung kegiatan rutin dan operasional lembaga / departemen terutama


untuk kegiatan pengurangan risiko bencana

• Dana Contingency

 untuk penanganan kesiapsiagaan

• Dana Siap Pakai (on call )

 untuk bantuan kemanusiaan (relief ) pada saat terjadi bencana atau pada saat
dinyatakan kondisi darurat

• Dana bantuan Sosial berpola Hibah

 Dana yang dialokasikan untuk bantuan pasca bencana di daerah

• Dana yang bersumber dari masyarakat

Pengembangan Kapasitas

• Pendidikan dan Pelatihan

 Memasukkan pendidikan kebencanaan dalam kurikulum pendidikan


 Melakukan pelatihan manajer dan teknis (Simulasi, Gladi, Drill)

• Penelitian dan pengembangan Iptek kebencanaan

 Pemahaman karakteristik ancaman/hazard dan teknologi penanganannya

• Penerapan Teknologi Penanggulangan Bencana,

contoh:

 Pemetaan dan Tataruang

 Deteksi dini/EWS (Banjir, Tanah Longsor,dll)

 Bangunan Tahan Gempa/building code (PU)

 Komunikasi dan informasi

TUGAS DAN FUNGSI BPBD PROPINSI DAN BPBD KAB/KOTA :

 menetapkan pedoman dan pengarahan PB sesuai kebijakan Pemda dan BNPB.

 menetapkan standarisasi dan kebutuhan penyelenggaraan PB

 menyusun, menetapkan dan menginformasikan peta rawan bencana.

 melaksanakan penyelenggaraan PB

 melaporkan penyelenggaraan PB kepada Gubernur / Bupati / Walikota minimal 1 x / bln

 mengendalikan pengumpulan dan penyaluran uang dan barang.

 Mempertanggung jawabkan penggunaan anggaran


# BPBD terdiri dari :
a. Kepala.
b. Unsur Pengarah Penanggulangan Bencana.
c. Unsur Pelaksana Penanggulangan Bencana.
# Kepala BPBD dijabat secara rangkap (ex-officio) oleh Sekretaris Daerah.
# Kepala BPBD membawahi unsur pengarah penanggulangan bencana dan unsur pelaksana
penanggulangan bencana.
# Kepala BPBD bertanggungjawab langsung kepada Kepala Daerah.

UNSUR PENGARAH PB

Unsur Pengarah mempunyai tugas memberikan masukan dan saran kepada Kepala Badan
Penanggulangan Bencana dalam penanggulangan bencana.

 Unsur Pengarah menyelenggarakan fungsi :


a. menyusun konsep pelaksanaan kebijakan penanggulangan bencana;
b. memantau;dan
c. mengevaluasi dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana.

UNSUR PELAKSANA PB

 Unsur Pelaksana berada di bawah dan bertanggungjawab kepada Kepala BPBD.

 Unsur Pelaksana

dipimpin oleh Kepala Pelaksana.

 Tugas :

melaksanakan PB, meliputi tahapan pra-bencana, saat tanggap darurat, dan pasca-bencana.

 Fungsi :

 koordinasi, komando, pelaksana.

 pemberian pedoman dan arahan upaya PB.

 dukungan, bantuan dan pelayanan (sosial, kesehatan, sarana/prasarana, informasi,


komunikasi, transportasi, keamanan dll).