Anda di halaman 1dari 36

BAB I

Apa linguistik itu ?

a) Mengenai lingustik

Lingustik berarti ilmu bahasa kata Lingustik

berasal dari kata lain lingua kata latin itu masih

kita jumpai dalam banyak bahasa Perancis (langue,

langage) Italia (lingua) Sepanyol (lengua) B. Inggris

(language) dan dulu pernah bahasa inggris

meminjam dari bahasa Prancis kata yang yang

sekarang berbunyi "Language" Sedangkan bentuk

Indonesia dari istilah tersebut ialah " lingguistik

".kata lingguistik ini sebaiknya dipakai sebagai

kata benda saja, dan kata sifatnya adalah "

lingguistis "

Ferdinand de saussure, seorang Sarjana Swiss,

dianggap sebagai pelopor lingustik moderen

Bukunya Cours de lingustiqui generale (1916)

misalnya; langage, berarti bahasa pada umumnya,

seperti manusia mempunyai bahasa, binatang tidak

mempunyai bahasa, langue berarti bahasa

tertentu, Lingustik pada umumnya disebut

Lingustik umum, artinya Lingustik tidak hanya

1
menyelidiki suatu langue tertentu tanpa

memperhatikan ciri-ciri bahasa lain. Lingustik

sebagai ilmu pengetahuan sepesifik. Parole itu

merupakan objek kongkrit untukl ahli Lingustik,

langage itu adalah objek yang sudah sedikit lebih

abstrak itu adalah langage. Dewasa ini filogi

diartikan sebagai ilmu yang menyelidiki masa kuno

dari suatu bahasa berdasarkan dukumen-dokumen

tertulis.

b) Mengapa Umum ?

Ilmu lingguistik sering pula disebut "lingguistik

umum" artinnya ilmu lingguistik tidak hanya

mengkaji suatu langue tertentu tanpa

memperhatikan ciri-ciri bahasa lain.

" Lingguistik sebagai Ilmu Pengetahuan Spesifik "

segagai salah satu ilmu yang dibahas dalam kajian

linguistik adalah bahasa"

c) Mengenai Objek Lingguistik

kita tentunya akan membatasi pengertian Bahasa,

karena selama ini pengertian bahasa itu kurang

jelas :

2
1. Bahasa dalam pengertian kiasan ; misalnya

dalam ucapan " bahasa dansa", " bahasa

alam" , dan lain sebagainya.

2. bahasa dalam pengertian harfiah ; langage,

langue, dan parole.

d) Catatan mengenai Istilah " Filologi"

Sebelum Saussure, dan juga sesudahnya , istimewa

di Inggris, ilmu bahasa lajim disebut " Filologi"

namun pengertian " filologi" sekarang ialah ilmu

yang menyelidiki masa kuno dari suatu bahasa

berdasarkan dokumen tertulis. Jadi jelas

perbedaan pengertian antara ilmu lingguistik

dengan filologi jika dilihat dari pengertianya.

BAB II

BEBERAPA BIDANG DALAM ILMU LINGUSTIK

A. Lingustik Sinkronis

B. Lingustik Diakronis

C. Analsis leksikal dan gramatikal.

D. Fonetik, fonologi, morfologi, sintaksis.

E. Semantik.

F. Lingguistik teoritis dan Linuistik terapan.

3
a) " lingguistik sinkronis dan linggustik

diakronis"

kedua istilah itu berasal dari Saursure. Lingguistik

diakronis adalah penyelidikan tentang

perkembangan suatu bahasa. Misalkan kita

membandingkan bahasa Indonesia dulu dengan

bahasa Indonesia sekarang. Lingguistik Sinkronis

adalah penyelidikan tentang bahasa tanpa

memperhatian perkembangan yang terjadi pada

masa lampau.

b) Analisa leksikal dan analisa gramatikal

menurut sistematiknya, dalam setiap bahasa

dapat dibedakan antara tatabahasa atau

gramatikal itu dan pembendaharaan kata atau

leksikon dalam bahasa yang sama.

c) Fonetik, Fonologi, Morfologi, Sintaksis :

Fonetik atau ilmu bunyi untuk meneliti bunyi

sebagaimana terdapat dalam parole Fonologi sama

dengan Fonetik.

Morfologi atau tata bentuk menganalisis bagian-

bagian kata misalnya: kata terduduk, terdiri atas

morfem ter- dan morfem duduk

4
Sintaksis adalah menempatkan kata secara

berama-sama menjadi kalimat atau wacana.

Semantik adalah cabang sistematis bahasa

yang ,menyelidiki makna atau arti ( dalam

lingguistik istilah itu lazimnya tidak dibedakan ).

d) Lingguistik teoritis dan lingguistik terapan

Bila seorang ahli memusatkan perhatiannya khusus

pada pendirian suatu teori, maka apa yang

dikerjakannya merupakan Lingguistik Teoritis,

sedangkan yang dimaksud lingguistik terapan

adalah ilmu lingguistik dikerjakan bukan hanya

teori saja dan hanya memecahkan soal praktis.

Dalam bahasa Inggris lingguistik terapakan disebut

Applied linguistics.

BAB III

Fonetik

A. Tiga jenis Fonetik

Fonetik (Ing; Phonetics) kata sifatnya Ponetic

adalah penyelidikan bunyi-bunyi bahasa, tanpa

memperhatikan fungsinya untuk membedakan

makna. Fonetik tebagi tiga (3) jenis

5
1. Fonetik akustik menyelidiki bunyi bahasa

menurut aspek-aspeknya sebagai getaran

udara

2. Fonetik auditoris adalah penyelidikan

mengenai cara penerimaan bunyi-bunyi bahasa

oleh telinga.

3. Fonetik organis adalah menyelidiki bagaimana

bunyi-bunyi bahasa yang dihasilkan dengan

alat-alat bahasa yang dihasilkan atau oleh

organ bicara (organs of speech).

Fonetik organis sebagian besar termasuk

Lingguistik sedangkan Fonetik Akustik sebagian

besar termasuk Fisika.dan Fonetik Audiotoris

sebagian besar termasuk neurology.

B. Cara bekerja alat –alat bicara

Udara dipompakan dari paru paru, melalui batang

tenggorokan kepangkal tenggorok yang didalamnya

terdapat pita pita suara. Pita suara itu harus

terbuka untuk memungkinkan arus udara keluar

melalui rongga mulut, melalui rongga hidung, atau

melalui keduanya; karena dalam batang

teggorokan untuk arus udara tidak ada jalan lain.

Apabila udara keluartampa mengalami hambatan di

6
sana sini, kita tidak mendengar apa apa;bunyi

bahasa dihasilkan hanya bila arus udara terhalang

oleh alat bicara tertentu.

C. Konsonan dan vokal

Konsonan ada yang bersuara; yang terjadi bila ada

alur sempit diantara pita suara, dan ada yang tak

bersuara, terjadi bila tempat artikulasi yang

bersangkutan sejalan yang merupakan alur sempit

sedang pita suara itu terbuka agak lebar.

Vokal merupakan bunyi suara….. antara bahsa-

bahasa didunia jarang sekali kita jumpai vokal yang

tak bersuara; vokal yang tak bersuara itu disebut

vokaide (vocoid).

Pengucapan terjadi dengan cara yang dapat

dibandingkan dengan pengucapan vokal bila

penutur membisik.

D. Beberapa jenis konsonan

a) (Bunyi ) letupan (Plosives, Stops) yaitu

bunyi yang dihasilkan dengan menghambat

arus udara sama sekali ditempat artikulasi

tertentu secara tiba-tiba, sesudahnya alat-

7
alat bicara ditempat artikulasi tersebut

dilepaskan kembali.

b) Semua bunyi yang bukan letupan lazimnya

disebut “kontinuan” (continuants)

c) (Bunyi) sengau (nasals), yaitu bunyi yang

dihasilkan dengan menutup arus udara

keluar melalaui rongga mulut tetapi

membuka jalan agar dapat keluar melaui

rongga hidung.

d) (Bunyi) sampingan (laterals), yaitu bunyi

yang dihasilkan dengan menghalangi arus

udara sehingga keluar melalui sebelah

atau biasanya kedua sisi lidah.

e) (Bunyi) paduan atau afrikat (affricates),

dihasilkan dengan menghambat arus udara

disalah satu tempat artikulasi dimana juga

bunyi letupan diartikulasikan, lalu

dilepaskan secara “frikatif”.

f) (Bunyi) geseran atau frikatif (fricatives),

adalah bunyi yang dihasilkan oleh alur

yang amat sempit sehingga sebagian besar

arus udara terhambat.

8
g) (Bunyi) geletar (trills), yaitu bunyi yang

dihasilan dengan mengartikulasikan ujung

lidah pada lengkung kaki gigi, segera

melepaskannya dan segera lagi

mengartikulasikannya.

h) (Bunyi) alir (liquids), yaitu bunyi yang

dihasilkan dengan bentuknya alur sempit

antara pita-pita suara (jadi semua bunyi

alir adalah konsonan bersuara) dengan

tempat artikulasi sedemikian rupa

sehingga alur sempit yang kedua tidak ada

(jadi tidak ada bunyi frikatif).

i) (Bunyi) kembar atau geminat (geminate),

yaitu konsonan yang terjadi dengan

memperpanjangkannya kalau bunyi itu

sesuatu kontinuan atau dengan

memperpanjang waktu antara imposi

dalam hal bunyi letupan.

9
E. Beberapa jenis vokal

Ada beberapa cara untuk menggolongkan-

golongkan bunyi-bunyi vokal;

A. menurut posisi lidah yang membentuk ruang

resinansi (resonance chamber).

B. menurut posisi tinggi rendahnya lidah.

C. menurut peranan bibir dalam mengucapkan

vokal.

D. menurut lamanya posisi alat-alat bicara

diperhatikan.

E. Menurut perannan rongga hidung.

F. Vokal rangkap dua

Selain dari penggolongan di atas, kita juga

mengenal beberapa Vokal yang digolongkan

sebagai vocal rangkap dua atau diftong.Vokal

rangkap dua terdiri dari dua bagian, yang pertama

dengan posisi lidah lain dibandingkan dengan

posisi lidah pada yang kedua.

G. Klasifikasi vocal tunggal

Klasifikasi vocal tunggal dapat diper oleh dengan

memperhatikan tinggi rendahnya dan posisinya dari

10
belakang kedepan. Yang paling tinggi adalah yang

paling depan dan yang terendah adalah yang paling

terbelakang.

BAB IV

FONOLOGI

Fonologi (Ing. Phonology) Sesuatu yang mempunyai

fungsi untuk membedakan kata dari kata yang lain

dapat disebut sebuah Fonem (Ing; phoneme),

dengan perkata lain fonologi dapat didefenisikan

sebagai penyelidikan tentang perbedaan minimal

(minimal differences).

Jelaslah bahwa selama setiap bahasa fonem-

fonem jauh lebih kecil jumlahnya dari pada jumlah

bunyi “fonetis”. Fonem dalam setiap bahasa

berjumlah sekitar 20 sampai 40, sedang bunyi

“fonetis” dapat berjumlah beberapa ratus. Jumlah

fonem dalam suatu bahasa disebut khazanah

(perbendaharan) fonem (inventory of fonem).

Perbedaan antara dua fonem menyangkut “oposisi”

(opposition) diantaranya; jadi masing-masing kata

dalam pasangan minimal “dioposisikan” secara

fonemi. Dalam suatu pasangan minimal posisi

11
tersebut adalah suatu “oposisi langsung” (direct

opposition).

Perlu juga kita ketahuai istilah fonologis “beban

fungsional” (fuctional load), makin banyak

pasangan kata dibedankan secara minimal, makin

tinggi pula beban fungsionil fonem-fonem yang

membedakannya.

a) Variasi alofonemis

Anggota dari suatu fonem disebut alofon. Suatu

alofon (allophone) adalah salah satu cara kong

kongkrit mengucapkan sesuatu fonem. Sudah kita

lihat bahwa diantar alofon-alofon dari suatu fonem

kita bias mengicapkan salah satu semau-maunya.

Yang mna diantara alofon yang harus di pakai

tergantung dari bunyi apa berdekatan pada fonem

yang bersangkutan. Jadi alofon yang mana dipilih

ditentukan oleh “lingkungan” (evironment) alofon

tersebut.

b) Asimilasi fonemis

12
Beberapa dari asimilasi fonetisa, asimiliasi

“fonemis” menyebabkan suatu fonem menjadi

fonem lain.

Bidang asimilasi fonemis

penyesuaian fonem dengan fonem lain

Fonologi jadi variasi alomorefis saja tetapi

dengan mempertahankan fonem

Saja

Di sini tampak bahwa suatu tataran yang lebih

rendah untuk sebagaian sudah mengandaikan

sistemmatik dari tataran lebih tinggi yang

berikutnya. Misalnya asimilasi fonetis termasuk

fonetik sebagai asimilasi dan termasuk finologi

sebagai vareasi didalam batas fonem yang sama.

Beberapa jenis asimilasi fonemis

Kita mengenal jenis asimilasi fonemis, yakni

asimilasi grafif (progressive assimilation), asimilasi

regresif (regressive assimilation), asimilasi

resiprokal (reciprocal assimilation).

c) Asimilasi fonemis dalam beberapa bahasa

Terjadi tidaknya pel bagi jenis asimilasi fonemis

tergantung dari struktur-struktur bahasa masing-

13
masing. Sedangkan asimilasi fonetis sangat umum

dalam semua bahasa di dunia, namun asimilasi

fonemis sangat berbeda antara bahasa-bahasa.

Beberapa perubahan fonemis selain dari asimilasi

dan modifikasi vokal

a. Hilangnya bunyi dan kontraksi

Di sini berarti bahwa sutu fonem boleh diganti

oleh fonem lain dalam kata tertentu, kata yang

sama, yaitu tanpa adanya oposisi akibat

pergantian fonem tersebut. Sumber perubahan

dalam contoh tadi hampir pasti adalah parole.

Dalam parole itu penutur bahasa cenderung

lalai dalam artikulasi yang dialami terlalu

sulit.

b. Disimilasi

bila asimilasi terjadi karena sebuah bunyi

berubah untuk menyesuaikan diri dengan

bunyi lain, maka “disimilasi” (dissimilation).

Terjadi bila dua bunyi sama karena berdekatan

letaknya (entah kontigu entah disket) berubah

tak sama.

c. Metatesis

14
gejala perubahan bunyi lain lagi disebut

“metatesis” (Ing; metathesis), perhatian: kata

Indonesia metatesis hendaknya diucapkan

dengan bunyi pe[et pada suku kata yang

ketiga, tanpa tekanan, metatesis terjadi bila

sebuah bunyi bertukar.

d) Fonem-fonem suprasegmental

Fonem-fonem yang sudah diuraikan bias disebut

fonem “segmental” karena dapat di “segmentasi”

kan sebagai “segmen” yang terkecil (kata benda

ialah “segmen” tanpa –t pada akhir , tetapi t-nya

terdapat dalam istilah “segmentasi” dan

“segmental”.

Yang terpenting sekarang ialah bahwa dalam

bahasa ada pula bunyi-bunyi tertentu yang tidak

berupa segmental, artinya yang terdapat sekaligus

dengan satu silabe, atau malah dengan sejumlah

silabe, atau frase.

BAB V

MORFOLOGI

15
1.Morvologi itu apa ?

Morfologi (atau tatabentuk: Ing, morphology, dulu

juga morphemics) adalah bidang linguistik yang

mempelajari susunan bagian-bagian kata secara

geramatika. Morfem adalah bagian yang disebut

dalam definisi diatas, dan boleh disebut bagian,

atau “kontituen”, geramatikal yang terkecil.

Sebagian contoh analisisa morfologis mari kita

ambil bentuk ajar, dengan menambahkan meng- di

depannya kita dapat membentuk kata mengajar.

Tetapi proses-proses morfemis dapat menghasilkan

cup banyak kata yang lain, missal: belajar, pelajar,

pelajaran, pengajar, mengajarkan, mengajari,

mempelajari, diajar, diajarnya, diajarkan, diaajari,

kuajari dan seterusnya.

2. Morfem bebas dan terikat; dasar dan imbuhan,

kontinu dan diskontinu

Morfem lazimnya dibedakan sebagai morfem bebas

(free morpheme) morfem terikat (bound

morpheme). Morfem bebas dapat “berdiri sendiri”

yaitu bias sebagai suatu “kata”.

16
Suatu morfem disebut bebas bila bias terdapat

sebagai kata, misalnya heran tidak terdapat

sebagai kata dalam mengherankan, atau dalam

heran-heranan; padahal konstituen heran dapat

berdiri sendiri; maka dari heran disebut morfem

bebas.

Selanjutnya morfem-morfem dibedakan sebagai

mirfem asal dan morfem imbuhan. Misalnya dalam

kata berlibur morfem libur adalah morfem asal dan

ber- adalah morfem imbuhan. Imbuhan nanti dapat

dibedakan atas afis dan klitika; yang perlu

diperhatikan sekarang ialah bahwa semua morfem

imbuhan adalah morfem terikat. Sebaliknya

meskipun morfem asal sering merupakan morfem

bebas disebut “dasar”, bila terikat disebut “akar”

(peristilahan Inggris tidak lengkap: “akar “ memang

selalu root, tetapi istilah stem lazim dipakai untuk

“dasar” dari kata kerja saja. Istilah “morfem asal”

tidak sering dipakai tetapi demi jelasnya ada

mamfaatnya, untuk mencakup baik dasar maupu

akar.Suatu morfem disebut bebas bila terdapat

sebagai kata. Mis heran tidak terdapat sebagai

kata dalam mengherankan.

17
Selanjutnya morfem-morfem dibedakan sebagai

morfem asal dan morfem imbuhan.

3. Kata dan struktur morfemis kata

Sebuah kata dapat terdiri atas morfem asal +

morfem asal (boleh tambah imbuhan boleh juga

tidak), dan struktur tersebut, disebut kata

majemuk.

4. Variasi alomorfemis

variasi alomorfemis dibagi menjadi dua (2):

a. kaidah-kaidah morfofonemis dalam bahasa Ing

disebut morphophonemic rules, atau (akhir-

akhir ini lebih dipakai istilah) morphonological

rules atau (dengan menghilangkan satu silabe)

istilah singkatnya “morfonemis”. Sebagaimana

sudah tampak dari istilah “ morfofonemis”,

kaidah-kaidah yang diberi nama itu adalh

kaidah morfemis dan fonemis sekaligus. Mari

kita analisis sekali lagi contoh di atas

membuat, melamun, menghambat,. Banyak

asalnya masing-masing adalah buat, lamun,

18
dan hambat. Bila bentuknya abstrak yang

demikian ditentukan, maka kaidah-kaidah

morfofonemis dapat dirumuskan;untuk kata

kerja yang berawalan {me (N)-}.

b. Kidah alomorfemis yang lain, bahwa ada

kaidah alomorefemis yang tidak berupa

morfofonemis jelas tampak dari imbuhan yang

lazimnya disbut imbuhan yang “tak teratur”

missal meskipun “kaidah tertentu” untuk

jamak kata benda dalm B. Ing membedakan

antara 3 akhiran saja, yaitu: /s/, /z/, dan /iz/,

namun kita mengenal pula contoh seperti

child – children (tambaham – ren)

5. morfem, morf, dan alomorf

Morfem terikat yang bersangkutan dapat

dirumuskan sebagi {me(N-)}. Yang dimaksud

dengan istilah “morf”

maka dari itu satu-satunya cara untuk merumuskan

morfem penjamakan kata benda dalam bahasa

Inggris seharusnya adalah {jamak}, atau entah

sembarang symbol yang lain misal {j}, yang kita

hendaki, asalkan realisasi alomorfemis tidak

19
tampak dalam bentuk fonemis, karena dasar umum

fonemis untuk semua alomorf morfem

{jamak}tersebut tidak ada.

Tinggal menguraikaapa yang dimaksud dengan

istilah”moref” (morph). Morfem sebetulnya tidak

lain dari salah satu bentuk alomorfemis dari suatu

morfem, tetapi bentuk yang hendak dipilih diangap

mewakili secara kongkrit morfem yang

bersangkutan. Istilah “morf” dipakai demi mamfaat

praktisnya.

6. asimilasi morfofonemis

Asimilasi morfofonemis terdapat pada batas

morfem saja, dan sedemikian rupa sehingga satu

morfem yang berdampingan (atau kontigu) itu.

Istilah “berdampingan” atau “kontigu” dapat

dipakai untuk konstituen fonemis, dapat dipakai

untuk konstituen morfemis juga, adalah morfem

imbuhan (nanti akan lebih terperinci disebut

“afiks”)

7. beberapa jenis morfem; proses morfemis

morfem-morfem dapat dibedakan juga menurut

proses mana yang dapat dihasilkan dengannya.

20
Morfem-morfem yang dapat dipakai untuk proses

tersebut ialah; (a) afik, (b) kilitika, (c) modifikasi

intern, (d) reduplikasi, (e) komposisi.

8. Afiksasi (affixation)

adalah penambahan dengan afiks (affix). Afiks itu

harus selalu berupa morfem terikat dan dapat

ditambahkan pada awal kata (prefiks;prefix) dalam

proses yang disebut prekfikasi (prefixation).

a) Prefiks : belajar,pengurus, terdapat,dll.

b) Sufik : akhiran,wartawan,

melihatnya,bukumu.

c) Sufik : melakukan,menduduki,memperhatikan.

d) Infik : gerigi,gemetar, telunjuk.

9.Klitisasi

Bila dianalisis menurut dasar Yunaninya (asal dari

kata kerja klieni ‘bersandar’) dapt ditapsirkan

sebagai jamak. Istilah “klitika” ialah bahwa dalam

bentuk ini jarang dipakai, biasanya kita temuka

istilah (Ingg; mis.) procilitic, enclitic.

10. Modifikasi intern

21
Istilah “modifikasi intern” dipinjam dari istilah Ingg

internal modification. Yang dimaksudkan disini

ialah perubahan vokal mis. Dalam proses morfemis

kata-kata Arab tertentu.

BAB VI

SINTAKSIS, FUNGSI, KATEGORI, PERAN

 Sintaksis itu apa ?

Bidang sintaksis (Ingg. Syntax) menyelidiki semua

hubungan antara kata dan antar-kelompok kata

(atau antar-frese) dalam satu dasar sintaksis itu

kalimat. Sebagimana dikatakan dalam bab-bab

dahulu, sintaksis dan morfologi bersama-sama

merupakan tatabahasa. Kata sifat yang berasal

dari istilah “sintaksis” adalah “sintaktis (syntactic).

Istilah “sintaktis” tidak dipakai dibuku ini.

 Fungsi, Kategori, Peran

Pasti pembaca sudah sering mendengar istilah

seperti: objek, objek, predikat, kata benda, kata

kerja, pelaku, penderita, dan lain sebagainya. Tentu

saja dapat dan harus dinyatakan apakah istilah

tersebut adalah sejajar, apakah dapat diserasikan

22
satu sama lain, dan seterusnya, untuk mengatur

semua konsep tersebut secara systematis mari

kita terima pembagian sintaksis atas tiga tataran;

fungsi-fungsi sintaksis sebagai tataran palaing

atas, tataran kategori-kategori dibawahnya, dan

tataran peran-peran sebagai tataran yang rendah.

Lalu mari kita tentukan istilah seperti “subyek”,

“perdikat”, “obyek”, “keterangan”, sebagai fungsi,

istilah “kata benda”, “kata kerja”, “kata sifat”,

“kata sifat”, “kata depan”, dan lain sebagainya.

Sebagi kategori (atau kelas kata), sedangkan

istilah seperti “pelaku”, “penderita”, “penerima”,

“aktif”, “pasif”, dan lain sebaginya.

Hubungan antara tataran fungsi, tataran kategori,

dan tataran peran.

Pembedaan antara fungsi dan peran menyebabkan

kita simpulkan sesuatu yang penting: “berarti” apa-

apa, suatu fungsi tidak “bermaksud”.

Fungsi-fungsi itu sendiri tidak memiliki “bentuk”

tertentu, tetapi harus “diisi” oleh bentuk tertentu,

yaitu suatu kategori. Fungsi-fungsi itu juga tidak

memiliki “makna” tertentu, tetapi harus “diisi” oleh

makna tertentu, yaitu peran. Jadi setiap fungsi

23
dalam kalimat kongkrit adalah tempat “kosong”,

yang harus “diisi” oleh dua “pengisi”, yaitu

“pengisian” kategorial (menurut bentuknya) dan

“pengisi” semantis (menurut perannya).

 Catatan mengenai “pokok” dan “sebutan”

Dalam teori lingustik sering dapat kita temukan

ustilah Inggris Topic dalam Commet. Kata Topic

dapat diterjemahkan sebagi “pokok”, dan

terjemahan yang paling tepat dari kata Commet

kiranya adalah “keterangan”.

“Pokok” berarti sesuatu yang tentangnya kita

menyebutkan sesuatu, sedangkan “sebutan” itu

adalah apa yang kita sebutkan tentang pokok tadi.

 Fungsi sintaksis; soal peristilahan

Pasal ini memulikan pembicaraan tentang

beberapa masaalah yang khusus menyangkut

fungsi-fungsi sintaksis. Kita memulainya dengan

peristilahan dan beberapa soal yang berhubungan

denganya, dan akan tampak bahwa soal-soal yang

bersangkutan sifatnya tidak terminologis semata-

24
mata. Perbedaan terminologis yang ada dapat

dibagi empat macam pembagian, sebagi berikut:

1. Kalimat dibagi atas subjek dan predikat; lalu

predikat itu dibagi lebih lanjut lagi atas

predikat verbal, objek, dan keterangan;

keterangn dibagi lagi yaitu keterangan waktu,

keterangan tempat.

2. Kalimat dibagi atas subjek, predikat,

danketerangan; lalu keterangan dibagi lagi

atas keterangan waktu, tempat dan lain

sebaginya.

3. kalimat dibagi atas subjek, predikat, dan

pelengkap, lalu pelengkap dibagi lagi atas

obyek dan keterangan dan keterangan dibagi

lagi atas keterangan waktu, keterangan

tempat dan seterusnya begini.

4. kalimat dibagi atas subjek, predikat, obyek

dan keterangan dan keterangan dibagi lagi

atas keteranagan waktu dan keterangan

tempat.

Tnggal beberapa masalah lain yang

menyankutistilah dan defenisi. Yang pertama

25
mempersoalkan fungsi “obyek”, yang sering dibagi

atas “obyek langsung” dan “obyek tak langsung”.

 Fungsi sintaksis; hubungan diataranya

Hal itu sering dirumuskan dalam Linguistik dengan

mengatakan bahwa fungsi-fungsi itu adalah

konstituen”formil” (formal inggrisnya): tak ada

isinya dalam fungsi-fungsi itu sendiri, selain dari

pengisiannya”dari luar” oleh kategori dan peran.

Tetapi fungsi sintaktis bersifat”formil” juga dalam

arti tambahan(yang sangat lazimnya diartikan oleh

istilah itu dalam Lingguistik pula), yaitu bahwa

funsi itu pada hakekatnya berhubungan dengan

fungsi lain; tanpa hubungan hubungan tersebut.

Fungsi tidak dapat sama sekali. Mis. Subyek

menyatakan adanya hubungan dengan predikat,

predikat menyatakan adanya hubungan dengan

subyek, dan seterusnya.

Kategori sintaksis; soal peristilahan; asal teori

mengenai kategori

Beberapa catatan terminologis:

1. Noun dan subtantive dalam bahasa Ingg

dianggap sinonim

26
2. Kata sifat yang dipakai sehubungan denagn

istilah noun dalam bahasa Ingg biasanya

subtantival.

3. Istilah verbal dalam bahasa Ingg (tetapi dalam

bentuk jamak verbals) dapat merupakan nam

kategori atasan pula;

4. Dalam bahasa Ingg kata numeral dapat

dipakai dalam bentuk kata sifat, mis. Dalam

frase nimeral characters ‘tanda angka’.

5. jamgam sekali-kali mengucapkan istilah

preposition dengan proposition.preposition

berarti kalimat dipandang bukan dari sudut

gramatikal, melaikan dari sudut ilmu logika.

6. jangan mengucapkan istilah conjunctional

‘konyungsiaonal’.

kategori, dan kategori bawahan. Jadi “kategori”

sebagai konsep dapat berarti umum tataran

pertama dapat berrti khusus, tataran di antara

kategori atasan dari kategori bawaan. Dalam

konteks selalu mudah menyimpulkan mana yang

dimaksud. Kata kerja transitif dan kata kerja

intansitif, keduanya termasuk golongan kata kerja.

27
 Peran sintaksis; asal dasar teori tentang

peran

a. Tatabahasa tradisional, dimaksudkan priode

sebelum munculnya linguistik moderen, jadi

sebelum abad ke-20. pada masa itu para

sarjana memng berminat pada peran-peran

sintaksis, tetapi peran-peran tersebut tidak

selalu jelas dibedaknya, dari fungsi-fungsi.

b. Aliran strukturalisme,sebagai contoh linguistik

strukturil disini kita bahas alirannya yang

dipelopori oleh ahli Linguistik Amerika

Leonnard Bllomfled (bukunya berjudul

language terbit pada tahun 1933).

c. Aliran tatabahasa kasus, Fillmore sendiri tahu

benar-benar bahawa bentuk kategorial kasus

tidak boleh dikacaukan dengan peran, tetapi

pada saat ia memilih istilah “tatabahasa

kasus”itu sebagi nama teorinyaia rupa-

rupanya terlalu banyak terpengaruhi oleh

fakta bahwa peran sintaksis disertai bentuk

kategorialnya berupa kasus dalam bahasa

Inggris, latin, jerman, dan lain sebagimya.

28
BAB VI

SEMANTIK

Fonologi tidak bersifat semantis, entah gramatikal,

entah leksikal. Memang peranan tiap-tiap fonem

ialah membedakan makna. Tambahan pula bahwa

tiap-tiap fonem membedakan arti hanya

dibandingkan denagan fonem lain yang

berdistribusi parallel dengannya (mis. Dalam

“pasangan”), dan makna-makna yang dibedakan itu

ialah leksikal. Maka dari itu fonem sebagi pembeda

makna yang berperan secara sistemis, bukan

secara strukturil. Bawasanya fonetik tidak

memperhitungkan makna kiranya sudah jelas. Anda

diajak merumuskan alas an yang tepat.

 Semantik kalimat

Yang dimaksud dengan simantik kalimat ini ialah

semuanya yang termasuk semantik tetapi

termasuk dalam semantik gramatikal atau

semantik leksikal.

Tentang semantik kalimat masih sedikit sekali

yang menarik paerhatian para ahli lingguistik dan

29
dalam buku ini paenguraian tentang masalah itu

dibatasai pada masalah topikalisasi.

 Makna dan informasi

Makna kalimat ialah isi semantis kalimat, atua isi

semantis bagian kalimat. Tetapi dengan kalimat

kita memberikan informasi tertentu pula (atau juga

dengan bagian kalimat). Hal ini malahan besar

dalam hal kalimat tanya. Karena suatu kalimat

tanya selalu mengandaikan sesuatu. Mis. Kaliamat

tanya “saudara kapan datang ?”. mengandaikan

bahwa saudara sudah datang.

 Semantik Leksikal

Setiap leksem atau unsure leksikal memiliki arti

atau makna tertentu,bila makna tersebut diuraikan

untuk setiap kata ( dalam bahasa tertentu ) hal itu

merupakan tugas ahli leksikologi, dan leksikografi.

Akan tetapi dalam dua bidang tersebut.Sudah

diandaikan suatu teori tentang makna unsure

leksikal.

 Sinonimi

Istilah “sinonimi” (atau kesinoniman) (Ingg.

Synonymy) berasal dari kata Yunani kono onomo

‘nama’ dan kata syn ‘dengan’. Jadi menurut arti

30
haefiahnya ‘nama lain untuk benda sama’. Sinonim

(Ingg. Synonym) ialah ungkapan (biasanya sebuah

kata, tetapi dapat pula berupa frase atau malah

kalimat). Yang kurang lebih sama maknanya

dengan suatu ungkapan yang lain. Contoh sinonim

dalam bahasa Indonesia: nasib dan takdir.

Istilah Indonesia “sinonim” boleh juga dipakai

sebagi kata sifat (Ingg. Synonymous).

Kesinonoman itu dibedakan menurut taraf dimana

terdapat, yakni:

a. Antara-kalimat, mis. Ahmad melihat Ali dan Ali

melihat Ahnad.

b. Antar-frase, mis. Rumah bagus itu dan rumah

yang bagus itu

c. Antar-kata, mis. Nasib dan takdir; memuaskan

dan menyenangkan.

d. Antar-morfem (terikat dan bebas) mis. Buku-

bukunya dan buku-buku mereka; kulihat dan

saya lihat.

 Antonimi

Istilah “antonimi”, atau keantonimian (Ingg.

Antonymy, aksen pada suku kedua) berasal dari

31
kata Yunani kuno onoma ‘nama’ dan anti ‘melawan’

(dalam istilah ini dengan hilangnya bunyi –i pada

akhir), jadi arti harfiahnya ‘nama (lain) untuk benda

lain pula’. Antonim (Ingg. Antonym) dianggap

bermakna kebalikan dari ungkapan lain. Contoh

antonim dalam bahasa Indonesia: sukar dan

mudah. Istilah “antonim” dalam bahasa Indonesia

boleh juga dipakai sebagi kata sifat (Ingg.

Antonymous). Seperti halnya dengan sinonimi tadi,

maka dalam hal antonimi pula harus kita bedakan

tataran sistematis, yakni:

a. Antar-kalimat, mis. Dia sakit dan Diat tidak

sakit

b. Antar-frase, mis. Secara teratur dan secara

tidak teratur.

c. Antar-kata, mis. Sukar dan mudah;mustahil

dan mungkin; hidup dan mati.

d. Antar-morfem, mis. (Inggris). Thankful dan

thankless.

Kesimpulannya: seperti halnya dengan simonim,

maka antonim pun mengandung soal semantis

untuk sebagianya saja. Apakah dua benda atau

sifat dan seterasnya. Saling berlawanan atau

32
tidak,. Hal itu tergantung dari banyak

pertimbangan luar-ujaran, ekstralinggual. Jadi kita

harus berhati-hati dengan konsep atinomi itu.

 Homonim

Istilah “homonim” (Ingg. Homonymy) berasal dari

kata Yunani kuno onoma ‘nama’ dan homos ‘sama’.

Artinya harfiahnya ‘nama’ sama untuk untuk benda

lain. Homonim (Ingg. Homonmy) ialah ungkapan

(kata, atau frase atau kalimat) yang bentukmnya

sama dengan suatu ungkapan lain, tetapi dengan

perbedaan makna antara kedua ungkapan tersebut.

Istilah “homonim” dalam bahasa Indonesia dapat

dipakai sebagi kata benda, dapat juga sebagi kata

sifat (Ingg. Homonymous).

Masalah homonomi seluruhnya termasuk dalam

Lingguistik, tidak ada gejala ekstralinggual seperti

halnya dengan sinonimi dan antonomi. Soal

bagiman kata mengukur dari (kukur) dan kata

mengukur dari (ukur), betul-betul ungkapan yang

berbeda-beda, dapat dapat berbentuk sama adalah

soal Lingguistik sejati. Dalm contoh ini tidak sulit

dipecahkan, karena hal itu adalah akibat

33
perubahan morfofonemis. Silahkan anda

merumuskannya.

Mari kita bedakan bebrapa jenis homonimi yakni:

a. Antar-kalimat, missal. Flyng planes can be

dangerous (dengan parefrase” To ply planes

can be dangerous”).

b. Antar-frase, mis. The love god (parafrasenya

“the love towards god”)

c. Antar-kata, mis. Inggris. Read (kala Lumpur)

dan red; read (kala sekarang) dan reed;

mengukur (dari kukur) dan mengukur (dari

ukur) seperti tadi.

d. Antar-morfem (terikat), mis. Bukunya

(parafrasenya “buku orang itu”) dan bukunya

(prafrasenya “buku tertentu itu”).

Akhirnya tinggal kita pelajari istilah “homograf”

dan homografi”atau kehomografan (Ingg.

Homography kata benda secara abstrak dan

homograph secara kongkrit; kat sifatnya kurang

biasa dipakai). Istial tersebut berasal dari kata

Yunani graphein “menulis” dengan homos “sama”

berarti ‘kata yang berbeda dengan ejaannya sama

(denagn kata lain). Apa yang disebut “homofon”

34
berhubungan dengan bunyi, dan apa yang disebut

“homonim” berhubungan dengan bentuk dipandang

dari sudut lebih luas disebut “homograf” (kata man

lebih dipakai sebagi kata sifat juga) berhubung

dengan ejaan.

 Hiponim

Istilah “hiponimi” (Ingg. Hyponymy) berasal dari

kata Yunani kuno onoma ‘nama’ dan kat hypo’di

bawah’ jadi bila diIndonesiakan kurang lebih

artinya nama (yang termasuk) dibawah nama lain.

Hiponim ialh ungkapan (kata, biasanya; kiranya

dapat juga frase atau kalimat) yangmaknya

dianggap merupakan bagian dari makna suatu

ungkapan lain. Istilah “hiponim” dalam bahasa

Indonesia boleh dipakai sebagi kata

benda.Redundasi

Istilah “redundasi” (redundancy Inggrisnya; kata

sifatnya redundant, yang Indonesianya boleh

“redundan”) sering dipakai dalam Linguistik

modern untuk menyatakan bahwa salah satu

kontituen dalam kalimat tidak perlu bila dipandang

dari sudut simantik.

35
 Redunsasi

Istilah " redundansi" ( redundancy inggrisnya ; kata

sifatnya redundant, yang Indonesianya boleh "

redudansering dipakai dalam lingguistik moderen

untuk menyatakan bahwa salah satu konstituen

dalam kalimat tidak perlu bila dipandang secara

semantic.

36