Anda di halaman 1dari 17

RESUSITASI CAIRAN

Disusun Oleh:
Della Maulida

(…………….)

Pembimbing:

KEPANITERAAN KLINIK DEPARTEMEN BEDAH


RUMAH SAKIT TK.II dr. SOEDJONO MAGELANG
2018
LEMBAR PENGESAHAN
REFERAT
“RESUSITASI CAIRAN”

Disusun dan diajukan untuk memenuhi persyaratan tugas


Kepaniteraan Klinik Departemen Bedah Rumah Sakit Tk.II
dr. Soedjono Magelang

Oleh :

Della Maulida
01211…..

Magelang, Februari 2018


Telah dibimbing dan disahkan oleh,

Pembimbing,

(………………………………..)
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur Kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas nikmat-Nya penulis dapat
menyelesaikan penyusunan referat ini. Penulis berharap agar laporan ini dapat dimanfaatkan oleh
tenaga kesehatan dan instasi.
Dalam penyelesaian laporan ini penulis ingin menyampaikan terimakasih kepada :
1. Dokter pembimbing kami……………..
2. Teman-teman Departemen stase Bedah yang selama ini selalu memberikan dukungan
Penulis menyadari bahwa selama penulisan ini, penulis masih mempunyai banyak
kekurangan. Oleh karena itu penulis menerima saran dan kritikan untuk menyempurnakan referat
ini.

Magelang, Februari 2018

Penulis
BAB I

PENDAHULUAN

Sebagian besar tubuh manusia terdiri atas cairan yang jumlahnya berbeda-beda tergantung
usia dan jenis kelamin serta banyaknya lemak di dalam tubuh. Dengan makan dan minum tubuh
mendapatkan air, elektrolit serta nutrien-nutrien yang lain. Dalam waktu 24 jam jumlah air dan
elektrolit yang masuk setara dengan jumlah yang keluar. Pengeluaran cairan dan elektrolit dari
tubuh dapat berupa urin, tinja, keringan dan uap air pada saat bernapas.

Resusitasi cairan ditujukan untuk menggantikan kehilangan akut cairan tubuh atau
ekspansi cepat dari cairan intravaskuler untuk memperbaiki perfusi jaringan misalnya pada
keadaan syok dan luka bakar. Berdasarkan tingkat osmolalitas cairan dibagi menjadi 3 yaitu cairan
hipotonis, isotonis dan hipertonis yang dimana ketiganya memiliki indikasi pemberian dan efek
samping masing-masing.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi Cairan Tubuh


Tubuh manusia sebagian besar terdiri atas cairan, persentasenya dapat berubah
tergantung pada umur, jenis kelamin dan derajat obesitas seseorang. Pada bayi usia < 1
tahun cairan tubuh adalah sekitar 80-85% berat badan dan pada bayi usia > 1 tahun
mengandung air sebanyak 70-75%. Seiring dengan pertumbuhan seseorang persentase
jumlah cairan terhadap berat badan berangsur-angsur turun yaitu pada laki-laki dewasa 50-
60% berat badan, sedangkan pada wanita dewasa 50 % berat badan. Tabel dibawah
menunjukan estimasi total cairan tubuh manusia berdasarkan usia.

Usia Total Cairan per kilogram BB (%)


Bayi premature 80
3 bulan 70
6 bulan 60
1-2 tahun 59
11-16 tahun 58
Dewasa 58-60
Dewasa dengan obesitas 40-50
Dewasa kurus 70-75

TTabel 2.1. Perubahan cairan tubuh total sesuai usia


Perubahan jumlah dan komposisi cairan tubuh, yang dapat terjadi pada perdarahan,
luka bakar, dehidrasi, muntah, diare, dan puasa preoperatif maupun perioperatif, dapat
menyebabkan gangguan fisiologis yang berat. Jika gangguan tersebut tidak dikoreksi
secara adekuat sebelum tindakan anestesi dan bedah, maka resiko penderita menjadi lebih
besar. Seluruh cairan tubuh didistribusikan ke dalam kompartemen intraselular dan
kompartemen ekstraselular. Lebih jauh kompartemen ekstraselular dibagi menjadi cairan
intravaskular dan intersisial.

Cairan intraseluler
(40%)

Cairan intersisial
Cairan tubuh (60%) (15%)

Cairan ekstraseluler

(20%)

Intravaskular (5%)

Diagram 2.1. Diagram persentasi cairan tubuh


2.1.1. Cairan intraselular
Cairan intraselular adalah cairan yang terkandung di dalam sel. Pada orang dewasa,
sekitar dua pertiga dari cairan dalam tubuhnya terdapat di intraselular (sekitar 27
liter rata-rata untuk dewasa laki-laki dengan berat badan sekitar 70 kilogram),
sebaliknya pada bayi hanya setengah dari berat badannya merupakan cairan
intraselular.
2.1.2. Cairan ekstraseluler
Cairan yang berada di luar sel disebut cairan ekstraselular. Jumlah relatif cairan
ekstraselular berkurang seiring dengan usia. Pada bayi baru lahir, sekitar setengah
dari cairan tubuh terdapat di cairan ekstraselular. Setelah usia 1 tahun, jumlah
cairan ekstraselular menurun sampai sekitar sepertiga dari volume total. Ini
sebanding dengan sekitar 15 liter pada dewasa muda dengan berat rata-rata 70 kg.
Cairan ekstraselular dibagi menjadi :
- Cairan Interstitial
Cairan yang mengelilingi sel termasuk dalam cairan interstitial, sekitar 11- 12
liter pada orang dewasa. Cairan limfe termasuk dalam volume interstitial.
Relatif terhadap ukuran tubuh, volume ISF adalah sekitar 2 kali lipat pada bayi
baru lahir dibandingkan orang dewasa.
- Cairan Intravaskular
Merupakan cairan yang terkandung dalam pembuluh darah (contohnya volume
plasma). Hingga saat ini belum ada alat yang tepat/pasti untuk mengukur
jumlah darah seseorang, tetapi jumlah darah tersebut dapat diperkirakan sesuai
dengan jenis kelamin dan usia, komposisi darah terdiri dari kurang lebih 55%
plasma, dan 45% sisanya terdiri dari komponen darah seperti sel darah merah,
sel darah putih dan platelet.

B. Definisi Elektrolit
Selain air, cairan tubuh mengandung dua jenis zat yaitu elektrolit dan non elektrolit.
Elektrolit merupakan zat yang terdisosiasi dalam cairan dan menghantarkan arus listrik.
Elektrolit dibedakan menjadi ion positif (kation) dan ion negatif (anion). Jumlah kation dan
anion dalam larutan adalah selalu sama (diukur dalam miliekuivalen).
Kation utama dalam cairan ekstraselular adalah sodium (Na+), sedangkan kation utama
dalam cairan intraselular adalah potassium (K+). Suatu sistem pompa terdapat di dinding
sel tubuh yang memompa keluar sodium dan potassium ini.
Natrium sebagai kation utama didalam cairan ekstraseluler dan paling berperan di
dalam mengatur keseimbangan cairan. Kadar natrium plasma: 135 -155 mEq/liter. Kadar
natrium dalam plasma diatur lewat beberapa mekanisme diantaranya system rennin
angiotensin dan aldosteron. Kadar natrium dalam plasma 135-145mEq/liter dimana kurang
lebih 70% atau 40,5mEq/kgBB dapat berubah-ubah. Ekresi natrium dalam urine 100-
180mEq/liter, feces 35mEq/liter dan keringat 58mEq/liter. Kebutuhan setiap hari =
100mEq (6-15 gram NaCl).
Kalium merupakan kation utama (99%) di dalam cairan ekstraseluler berperan
penting di dalam terapi gangguan keseimbangan air dan elektrolit. Jumlah kalium dalam
tubuh sekitar 53 mEq/kgBB dimana 99% dapat berubah-ubah sedangkan yang tidak dapat
berpindah adalah kalium yang terikat dengan protein didalam sel.5 Kadar kalium plasma
3,5-5,5 mEq/liter, kebutuhan setiap hari 1-3 mEq/kgBB. Keseimbangan kalium sangat
berhubungan dengan konsentrasi H+ ekstraseluler. Ekskresi kalium lewat urine 60-90
mEq/liter, faeces 72 mEq/liter dan keringat 10 mEq/liter.
Anion utama dalam cairan ekstraselular adalah klorida (Cl) dan bikarbonat,
sedangkan anion utama dalam cairan intraselular adalah ion fosfat. Karena kandungan
elektrolit dalam plasma dan cairan interstitial pada intinya sama maka nilai elektrolit
plasma mencerminkan komposisi dari cairan ekstraseluler tetapi tidak mencerminkan
komposisi cairan intraseluler.
Asam karbonat dan karbohidrat terdapat dalam tubuh sebagai salah satu hasil akhir
daripada metabolisme. Kadar bikarbonat dikontrol oleh ginjal. Sedikit sekali bikarbonat
yang akan dikeluarkan urine. Asam bikarbonat dikontrol oleh paru-paru dan sangat penting
peranannya dalam keseimbangan asam basa. Kadar ion klorida berlebih di ruang ekstrasel,
dan merupakan komponen utama dari sekresi kelenjar gaster. Berfungsi dalam membantu
proses keseimbangan natrium. Sumber ion klorida banyak terdapat dalam garam dapur.
Fosfat merupakan bagian dari fosfat buffer system. Berfungsi untuk menjadi energi pad
metabolisme sel dan bersama dengan ion kalsium meningkatkan kekuatan dan kekerasan
tulang. Fosfat juga masuk dalam struktur genetik yaitu: DNA dan RNA.
C. Proses Pergerakan Cairan Tubuh
Perpindahan air dan zat terlarut di antara bagian-bagian tubuh melibatkan mekanisme
transpor pasif dan aktif. Mekanisme transpor pasif tidak membutuhkan energi sedangkan
mekanisme transpor aktif membutuhkan energi. Difusi dan osmosis adalah mekanisme
transpor pasif. Sedangkan mekanisme transpor aktif berhubungan dengan pompa Na-K
yang memerlukan ATP. Proses pergerakan cairan tubuh antar kompertemen dapat
berlangsung secara:
- Osmosis
Osmosis adalah bergeraknya molekul (zat terlarut) melalui membrane
semipermeabel (permeabel selektif) dari larutan berkadar lebih rendah menuju
larutan berkadar lebih tinggi hingga kadarnya sama. Tekanan osmotik plasma darah
ialah 285+ 5 mOsm/L. Larutan dengan tekananosmotik kira-kira sama disebut
isotonik (NaCl 0,9%, Dekstrosa 5%, Ringer laktat).Larutan dengan tekanan
osmotik lebih rendah disebut hipotonik (akuades), sedangkan lebih tinggi disebut
hipertonik.

- Difusi
Difusi ialah proses bergeraknya molekul lewat pori-pori. Larutan akan bergerak
dari konsentrasi tinggi ke arah larutan berkonsentrasi rendah. Tekanan hidrostatik
pembuluh darah juga mendorong air masuk berdifusi melewati pori-pori tersebut.
Jadi difusi tergantung kepada perbedaan konsentrasi dan tekanan hidrostatik.

D. Gangguan Homeostasis Cairan Dan Elektrolit


Homeostasis cairan tubuh yang normalnya diatur oleh ginjal dapat berubah oleh
stres akibat operasi, kontrol hormon yang abnormal, atau pun oleh adanya cedera pada
paru-paru, kulit atau traktus gastrointestinal. Pada keadaan normal, seseorang
mengkonsumsi air rata-rata sebanyak 2000-2500 ml per hari, dalam bentuk cairan maupun
makanan padat.
Rata-rata tubuh kehilangan cairan 250 ml dari feses, 800-1500 ml dari urin, dan
hampir 600 ml secara tidak sadar (insensible water loss) dari kulit dan paru-paru. Defisit
volume cairan ekstraselular merupakan perubahan cairan tubuh yang paling umum terjadi
pada pasien bedah. Penyebab paling umum adalah kehilangan cairan di gastrointestinal
akibat muntah, penyedot nasogastrik, diare dan drainase fistula.
Penyebab lainnya dapat berupa kehilangan cairan pada cedera jaringan lunak,
infeksi, inflamasi jaringan, peritonitis, obstruksi usus, dan luka bakar. Keadaan akut,
kehilangan cairan yang cepat akan menimbulkan tanda gangguan pada susunan saraf pusat
dan jantung. Pada kehilangan cairan yang lambat lebih dapat ditoleransi sampai defisi
volume cairan ekstraselular yang berat terjadi.
E. Terapi Cairan
Terapi cairan adalah tindakan untuk memelihara, mengganti cairan tubuh dalam
batas batas fisiologis dengan cairan infus kristaloid (elektrolit) atau koloid (plasma
ekspander) secara intravena. Terapi cairan berfungsi untuk mengganti defisit cairan saat
puasa sebelum dan sesudah pembedahan, mengganti kebutuhan rutin saat pembedahan
mengganti perdarahan yang terjadi, dan mengganti cairan yang pindah ke rongga ketiga.
Sedangkan resusitasi cairan ditujukan untuk menggantikan kehilangan akut cairan tubuh
atau ekspansi cepat dari cairan intravaskuler untuk memperbaiki perfusi jaringan. Misalnya
pada keadaan syok dan luka bakar.
Terdapat 3 jenis cairan untuk terapi cairan dan resusitasi yaitu :
- Cairan hipotonik
Cairan hipotonik osmolaritasnya lebih rendah dibandingkan serum (konsentrasi ion Na+
lebih rendah dibandingkan serum), sehingga larut dalam serum, dan menurunkan

osmolaritas serum. Maka cairan akan “ditarik” dari dalam pembuluh darah keluar ke

jaringan sekitarnya (prinsipnya cairan berpindah dari osmolaritas rendah ke osmolaritas

tinggi), sampai akhirnya mengisi sel-sel. yang dituju. Digunakan pada keadaan sel “

mengalami” dehidrasi, seperti pasien cuci darah (dialisis) dalam terapi diuretik, juga pada

pasien hiperglikemia (kadar gula darah tinggi) dengan ketoasidosis diabetik. Komplikasi
yang membahayakan adalah perpindahan tiba-tiba cairan dari dalam pembuluh darah ke
sel, menyebabkan kolaps kardiovaskular dan peningkatan tekanan intrakranial (dalam
otak) pada beberapa orang. Contohnya adalah NaCl 45% dan Dekstrosa 2,5%.
Cairan Isotonik
Cairan Isotonik adalah cairan dengan osmolaritas (tingkat kepekatan) cairannya hampir
sama dengan serum (bagian cair dari komponen darah), sehingga terus berada di dalam
pembuluh darah. Bermanfaat pada pasien yang mengalami hipovolemi (kekurangan cairan
tubuh, sehingga tekanan darah terus menurun). Pemberian cairaan isotonil memiliki risiko
terjadinya overload (kelebihan cairan), khususnya pada penyakit gagal jantung kongestif
dan hipertensi. Contohnya adalah cairan Ringer-Laktat (RL), dan normal saline/larutan
garam fisiologis (NaCl 0,9%).
Cairan hipertonik

Cairan hipertonik osmolaritasnya lebih tinggi dibandingkan serum, sehingga akan“menarik

”cairan dan elektrolit dari jaringan dan sel ke dalam pembuluh darah. Cairan hipertonik
mampu menstabilkan tekanan darah, meningkatkan produksi urin, dan mengurangi edema
(bengkak). Penggunaannya kontradiktif dengan cairan hipotonik. Misalnya Dextrose 5%,
NaCl 45% hipertonik, Dextrose 5%+Ringer-Lactate, Dextrose 5%+NaCl 0,9%, produk
darah (darah), dan albumin

Jenis-Jenis Cairan Resusitasi


1. Kristaloid
Kristaloid bersifat isotonik, maka efektif dalam mengisi sejumlah volume cairan
(volume expanders) ke dalam pembuluh darah dalam waktu yang singkat (relatif
sebentar di intravaskuler), dan berguna pada pasien yang memerlukan cairan segera.
Misalnya Ringer-Laktat dan NaCl 0,9%. Cairan ini mempunyai komposisi mirip cairan
ekstraseluler (CES = CEF). Keuntungan dari cairan ini antara lain harga murah,
tersedia dengan mudah di setiap pusat kesehatan, tidak dilakukan cross match, tidak
menimbulkan alergi atau syok anafilaktik, penyimpanan sederhana dan dapat disimpan
lama. Cairan kristaloid bila diberikan dalam jumlah cukup (3-4 kali cairan koloid)
ternyata sama efektifnya seperti pemberian cairan koloid untuk mengatasi defisit
volume intravaskuler. Waktu paruh cairan kristaloid di ruang intravaskuler sekitar 20-
30 menit.
Larutan Ringer Laktat merupakan cairan kristaloid yang paling banyak digunakan
untuk resusitasi cairan walau agak hipotonis dengan susunan yang hampir menyerupai
cairan intravaskuler. Laktat yang terkandung dalam cairan tersebut akan mengalami
metabolisme di hati menjadi bikarbonat. Cairan kristaloid lainnya yang sering
digunakan adalah NaCl 0,9%, tetapi bila diberikan berlebih dapat mengakibatkan
asidosis hiperkloremik (delutional hyperchloremic acidosis) dan menurunnya kadar
bikarbonat plasma akibat peningkatan klorida. Karena perbedaan sifat antara koloid
dan kristaloid dimana kristaloid akan lebih banyak menyebar ke ruang interstitiel
dibandingkan dengan koloid maka kristaloid sebaiknya dipilih untuk resusitasi defisit
cairan di ruang interstitiel.
Pada suatu penelitian mengemukakan bahwa walaupun dalam jumlah sedikit
larutan kristaloid akan masuk ruang interstitiel sehingga timbul edema perifer dan paru
serta berakibat terganggunya oksigenasi jaringan dan edema jaringan luka,. Selain itu,
pemberian cairan kristaloid berlebihan juga dapat menyebabkan edema otak dan
meningkatnya tekanan intra kranial.

2. Koloid
Koloid ukuran molekulnya (biasanya protein) cukup besar sehingga tidak akan
keluar dari membran kapiler, dan tetap berada lama dalam pembuluh darah, maka
sifatnya hipertonik, dan dapat menarik cairan dari luar pembuluh darah. Contohnya
adalah albumin dan steroid. Disebut juga sebagai cairan pengganti plasma atau biasa

disebut“plasma substitute” atau “plasma expander”. Di dalam cairan koloid terdapat

zat/bahan yang mempunyai berat molekul tinggi dengan aktivitas osmotik yang
menyebabkan cairan ini cenderung bertahan agak lama (waktu paruh 3-6 jam) dalam
ruang intravaskuler. Oleh karena itu koloid sering digunakan untuk resusitasi cairan
secara cepat terutama pada syok hipovolemik/hermorhagik atau pada penderita
dengan hipoalbuminemia berat dan kehilangan protein yang banyak (misal luka bakar).
Kerugian dari plasma expander yaitu mahal dan dapat menimbulkan reaksi anafilaktik

(walau jarang) dan dapat menyebabkan gangguan pada “cross match”

Berdasarkan pembuatannya, terdapat 2 jenis larutan koloid:

a. Koloid alami:
Yaitu fraksi protein plasma 5% dan albumin manusia ( 5 dan 2,5%). Dibuat dengan cara
memanaskan plasma atau plasenta 60°C selama 10 jam untuk membunuh virus hepatitis
dan virus lainnya. Fraksi protein plasma selain mengandung albumin (83%) juga
mengandung alfa globulin dan beta globulin.
b. Koloid sintetis:
1. Dextran
Dextran 40 (Rheomacrodex) dengan berat molekul 40.000 dan Dextran 70
(Macrodex) dengan berat molekul 60.000-70.000 diproduksi oleh bakteri Leuconostoc
mesenteroides B yang tumbuh dalam media sukrosa. Walaupun Dextran 70 merupakan
volume expander yang lebih baik dibandingkan dengan Dextran 40, tetapi Dextran 40
mampu memperbaiki aliran darah lewat sirkulasi mikro karena dapat menurunkan
kekentalan (viskositas) darah.
Selain itu Dextran mempunyai efek anti trombotik yang dapat mengurangi platelet
adhesiveness, menekan aktivitas faktor VIII, meningkatkan fibrinolisis dan
melancarkan aliran darah. Pemberian Dextran melebihi 20 ml/kgBB/hari dapat
mengganggu cross match, waktu perdarahan memanjang (Dextran 40) dan gagal ginjal.
Dextran dapat menimbulkan reaksi anafilaktik yang dapat dicegah yaitu dengan
memberikan Dextran 1 (Promit) terlebih dahulu.
2. Hydroxylethyl Starch (Heta starch)
Tersedia dalam larutan 6% dengan berat molekul 10.000 – 1.000.000, rata-rata
71.000, osmolaritas 310 mOsm/L dan tekanan onkotik 30 30 mmHg. Pemberian 500
ml larutan ini pada orang normal akan dikeluarkan 46% lewat urin dalam waktu 2 hari
dan sisanya 64% dalam waktu 8 hari. Larutan koloid ini juga dapat menimbulkan reaksi
anafilaktik dan dapat meningkatkan kadar serum amilase ( walau jarang). Low
molecullar weight Hydroxylethyl starch (Penta-Starch) mirip Heta starch, mampu
mengembangkan volume plasma hingga 1,5 kali volume yang diberikan dan
berlangsung selama 12 jam. Karena potensinya sebagai plasma volume expander yang
besar dengan toksisitas yang rendah dan tidak mengganggu koagulasi maka Penta
starch dipilih sebagai koloid untuk resusitasi cairan pada penderita gawat.
3. Gelatin
Larutan koloid 3,5-4% dalam balanced electrolyte dengan berat molekul rata-rata
35.000 dibuat dari hidrolisa kolagen binatang.
Ada 3 macam gelatin, yaitu:
– modified fluid gelatin (Plasmion dan Hemacell)
– Urea linked gelatin
– Oxypoly gelatin
BAB III

KESIMPULAN

Tubuh mengandung 60 % air yang disebut cairan tubuh. Cairan tubuh mengandung nutrisi-
nutrisi yang amat penting peranannya dalam metabolisme sel, sehingga amat penting dalam
menunjang kehidupan. Dalam pembedahan, tubuh kekurangan cairan karena perdarahan selama
pembedahan ditambah lagi puasa sebelum dan sesudah operasi. Gangguan dalam keseimbangan
cairan dan elektrolit merupakan hal yang umum terjadi pada pasien bedah karena kombinasi dari
faktor-faktor preoperatif, perioperatif dan postoperatif. Terapi cairan parenteral digunakan untuk
mempertahankan atau mengembalikan volume dan komposisi normal cairan tubuh. Dalam terapi
cairan harus diperhatikan kebutuhannya sesuai usia dan keadaan pasien, serta cairan infus itu
sendiri. Jenis cairan yang bisa diberikan untuk terapi cairan adalah cairan kristaloid dan cairan
koloid.
BAB IV

DAFTAR PUSTAKA

1. Guyton, A.C. Buku Ajar Fisiologi, Ed. 9, EGC, 1997. Hal 375-377

2. Latief AS, dkk. Petunjuk praktis anestesiologi: terapi cairan pada pembedahan. Edisi

Kedua. Bagian anestesiologi dan terapi intensif, FKUI. 2002

3. http://med.unhas.ac.id/kedokteran/wp-content/uploads/2016/10/DASAR-DASAR-

TERAPI-CAIRAN-DAN-ELEKTROLIT.pdf

4. janesti.com/uploads/default/files/4.1-full_.pdf