Anda di halaman 1dari 42

Referat

Kegunaan Laser Co2 dan Intense Pulsed Light (IPL)

Pembimbing :

dr. Chadijah Rifai Latief, SpKK

Disusun Oleh :

Evalone Vebriyani Pattileamonia (112016214)


Alfonsius Rolando Sondakh (112016405)
Rendy Reinaldo (112015403)
Putri Pratiwi Merdekawati (1102013233)
Chairunisa Zata Yumni (1102013149)
Abyantara Insan Firjatullah (1102014001)

KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN KULIT DAN KELAMIN RSUD KOJA


FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA DAN YARSI
JAKARTA
PERIODE 02 SEPTEMBER – 05 OKTOBER 2019
Bab I
Pendahuluan

1.1 Definisi

Kata Laser adalah singkatan dari Light Amplification by Stimulated Emission of


Radiation. Laser merupakan cahaya koheren monokromatik dan lurus. Laser bekerja sesuai
dengan prinsip optik dan elektronik. Laser diciptakan berdasarkan quantum theory of
radiation yang menyatakan bahwa atom atau molekul berada dalam keadaan istirahat pada
keadaan normal. Jika terpajan sinar, maka atom akan tereksitasi dari keadaan stabil menjadi
tidak stabil. Atom atau molekul yang tidak stabil akan kembali ke keadaan stabil dengan
1
memancarkan radiasi spontan.
Untuk menghasilkan laser harus ada sumber energi (lazim disebut pompa energi
media aktif) dan resonator optik dengan cermin. Energi yang terlepas diserap oleh atom
1,2
dalam bentuk foton. Saat atom melepaskan foton, energi juga lepas dalam bentuk sinar.
Laser biasanya dinamai sesuai dengan medium yang terkandung dalam rongga optik
mereka. Gas laser terdiri dari argon, excimers, tembaga uap, helium-neon, kripton, dan
karbon dioksida. Salah satu laser cairan yang paling umum berisi cairan rhodamine dan
digunakan dalam pulse-dye laser. Laser padat adalah ruby, neodymium: yttrium-aluminium-
garnet (Nd: YAG), alexandrite, erbium, dan laser dioda. Semua perangkat ini digunakan
secara klinis mengobati berbagai kondisi dan gangguan berdasarkan panjang gelombang,
1-3
sifat pulse, dan energi masing-masing laser.
Mula-mula diintroduksi oleh Einstein pada tahun 1917 yang dikembangkan oleh
1
Maiman pada tahun 1960 menjadi laser pertama yaitu laser Ruby.
Sejak ditemukannya alat laser pada tahun 1960 oleh T.H. Maiman dari The Hughes
Research Laboratories California, USA alat ini telah berkembang dengan sangat pesat dan
meliputi berbagai disiplin ilmu kedokteran dan bidang-bidang di luar kedokteran. Goldman
pada tahun 1961, seorang spesialis penyakit kulit dari University of Cincinat, Amerika
Serikat dengan berbagai percobaan dan aplikasi klinis laser pada penyakit port wine stain
(PWS), suatu bentuk hemangioma kulit kongenital dengan menggunakan ruby laser. Untuk
jasa-jasanya ini, Goldman dapat dianggap sebagai pionir dalam penggunaan laser di bidang
penyakit kulit. Sekarang ini dalam bidang penyakit kulit, laser berkembang menjadi bedah
1-3
laser dan laser kosmetik.
Bab II
Pembahasan

2.1 Mekanisme Terbentuknya Sinar Laser

Untuk memahami bagaimana sinar laser terbentuk, penting untuk mengingat struktur
atom. Semua atom terdiri dari inti pusat yang dikelilingi oleh elektron yang menempati level
energi yang berlainan atau orbit di sekitar inti dan memberikan konfigurasi atom yang stabil.
Ketika sebuah atom secara spontan menyerap foton cahaya, elektron orbital luar pindah ke
energi orbit tinggi, yang merupakan konfigurasi yang tidak stabil. Konfigurasi ini sangat
cepat berlalu dan atom cepat melepaskan foton cahaya secara spontan sehingga elektron
dapat kembali ke energi normal, yang lebih rendah, tapi stabil dalam orbital konfigurasi.
Dalam kondisi normal, penyerapan spontan ini dan pelepasan cahaya terjadi tidak teratur dan
1
acak dan menghasilkan produksi cahaya koheren.
Ketika sebuah sumber energi dari luar diberikan ke rongga laser yang mengandung
medium laser, biasanya dalam bentuk listrik, cahaya, microwave, atau bahkan reaksi kimia,
atom yang istirahat dirangsang untuk menggerakkan elektron untuk stabil, energi yang lebih
tinggi, orbit luar. Ketika lebih banyak atom ada dalam konfigurasi energi tinggi yang tidak
stabil daripada konfigurasi istirahat, kondisi yang dikenal sebagai populasi inversi terbentuk,
2,3
yang diperlukan untuk selanjutnya langkah dalam amplifikasi cahaya.
Amplifikasi cahaya terjadi pada optik rongga atau resonator laser. Resonator biasanya
terdiri dari rongga tertutup yang memungkinkan foton yang dipancarkan cahaya untuk
merefleksikan bolak-balik dari satu ujung cermin dari ruang sampai intensitas cukup telah
dikembangkan untuk amplifikasi lengkap terjadi. Melalui proses kompleks penyerapan dan
emisi energi foton, prasyarat untuk pengembangan sinar laser cahaya telah dipenuhi dan
amplifikasi terjadi. Foton kemudian dibiarkan keluar melalui perforasi kecil di sebagian
reflektif cermin. Sinar yang muncul dari cahaya memiliki tiga karakteristik unik yang
1-3
memungkinkan itu akan dikirimkan kepada sasaran yang tepat dengan serat optik.
2.2 Karakteristik Laser

Untuk mengetahui tentang dasar laser, terlebih dahulu perlu diketahui tentang fisika
laser, sinar laser merupakan sinar yang unik. Ada 3 sifat sinar laser yang menonjol yang
1-3
membuktikan keunikannya dan berbeda dari sinar biasa, yaitu:

Monokromatik; cahaya dari sumber laser mempunyai satu panjang gelombang


bergantung pada medium yang digunakan.
Koheren; sinar laser berjalan dengan arah yang sinkron, sejajar (paralel), tidak
terbias.
Kolimasi; gelombang elektromagnetik memiliki bentuk dan fase yang sama

Salah satu keunikan sinar laser adalah karena sifat monokromatiknya sehingga energi laser
laser hanya diserap oleh kromofor spesifik organ target.

2.3 Sistem Laser

1-3
Sistem laser terdiri atas:

1. Medium laser dapat berupa padat (Ruby), cair (zat warna organik) dan gas (Argon
dan CO2).
2. Ruang gema optik. Sebagai usaha untuk memperoleh cahaya koheren, dibutuhkan
satu ruang gema optik. Ruang ini merupakan tempat amplifikasi cahaya serta tempat
untuk menyeleksi foton, agar berjalan pada arah yang dikehendaki. Ruang gema
optik ini di bagian depan dibatasi oleh cermin yang mempunyai daya pantul terbatas
(partially reflecting mirror), sedangkan di bagian belakang juga terdapat cermin
dengan daya pantul total. Letak cermin sedemikian rupa sehingga cahaya dapat
berjalan sejajar dengan sumbu ruang gema optik. Di dalam ruang ini terdapat
medium laser yang biasanya berbentuk tabung atau batang.
3. Sumber energi, atau “pompa” dapat berupa listrik, mekanik, atau zat kimiawi.

Prinsip pembangkit laser menggunakan teori dasar atom. Normalnya semua atom
berada pada tingkat energi yang paling rendah. Keadaan tersebut dinamakan ground level.
Bila energi luar diabsorpsi oleh atom tersebut, elektron yang mempunyai tingkat energi
tertentu menjadi tidak stabil dan akan berubah ke tingkat energi yang lebih tinggi. Atom
tersebut dalam keadaan excited state. Atom yang dalam keadaan excited state ini bersifat
sementara dan segera kembali ke ground state dengan melepaskan photon. Kejadian tersebut
dinamakan spontaneous emission. Photon adalah energi sinar yang ditransmisikan ke dalam
ruang dan mempunyai panjang gelombang tertentu. Photon dari atom yang excited state tadi
akan menstimulasi atom excited state yang lain sehingga mengeluarkan photon yang identik
dalam hal energi, panjang gelombang dan frekuensi dan berjalan ke arah yang sama dan
mempunyai fase yang sama. Kejadian tersebut dinamakan stimulated emission of radiation,
1-3
yang mendasari terjadinya sinar laser.

2.4 Interaksi Sinar Laser Dengan Jaringan

Untuk memahami bagaimana memilih laser yang ideal dari segudang perangkat yang
tersedia saat ini untuk pengobatan kondisi kulit penting untuk pertama memahami bagaimana
cahaya menghasilkan efek biologis dalam interaksi dengan kulit. Agar energi laser
menghasilkan efek apapun di kulit pertama kali harus diserap. Penyerapan adalah
transformasi energi radiasi (cahaya) ke bentuk energi yang berbeda (biasanya panas) oleh
interaksi tertentu dengan jaringan. Jika cahaya direfleksikan dari permukaan kulit atau
ditransmisikan tanpa adanya penyerapan, maka tidak akan ada efek biologis. Jika cahaya
diserap secara tidak tepat oleh sasaran atau kromofor di kulit maka efeknya juga akan tidak
tepat. Hanya ketika cahaya diserap secara tepat oleh komponen tertentu dari kulit yang akan
ada efek. Sementara ini mungkin terlihat sulit untuk secara akurat mengantisipasi, pada
kenyataannya, hanya ada tiga komponen utama kulit yang menyerap sinar laser: melanin,
hemoglobin, dan cairan intraseluler atau ekstraseluler. Produsen laser mengambil informasi
ini dan merancang perangkat teknologi saat ini yang menghasilkan cahaya yang mana warna
atau panjang gelombang yang tepat untuk secara tepat diserap oleh salah satu komponen
1,3
kulit. Hal ini meminimalkan cedera atas kulit normal sekitarnya.
Sinar akan berinteraksi dengan jaringan melalui 4 cara, yaitu refleksi, absorbsi,
berpendar (scattering), dan transmisi. Refleksi adalah pemantulan sinar pada permukaan
jaringan tanpa masuk ke dalam jaringan. Sekitar 4-7% sinar direfleksikan pada stratum
korneum. Jumlah sinar yang direfleksikan meningkat sesuai dengan bertambah besarnya
sudut sinar ketika mengenai jaringan dan paling minimal saat sinar jatuh tegak lurus terhadap
jaringan. Sinar laser diabsorbsi oleh sel target yang spesifik (kromofor). Kromofor
mengabsorbsi secara selektif panjang gelombang tertentu, meskipun terdapat beberapa
panjang gelombang yang diabsorbsi secara tumpang tindih. Hal ini merupakan dasar utama
penggunaan laser dalam klinis.
Kromofor endogen terdiri atas melanin, hemoglobin, air dan kolagen, sedangkan
kromofor eksogen contohnya adalah tinta tato. Menurut hukum Grothus-Draper, sinar harus
diabsorbsi oleh jaringan untuk terjadinya efek pada jaringan. Absorbsi foton dari sinar laser
menimbulkan efek pada jaringan. Absorbsi energi oleh kromofor akan mengubah energi
tersebut menjadi energi termal. Pendaran (scattering) terutama disebabkan oleh struktur
heterogen dalam jaringan. Pada kulit terutama disebabkan karena kolagen dermis. Pendaran
sinar laser diperlukan untuk mengurangi secara cepat fluence yang diabsorbsi oleh kromofor
target dan juga menyebabkan efek klinis pada jaringan sekitar. Pendaran sinar laser akan
menurun dengan bertambahnya panjang gelombang. Namun aturan ini tidak berlaku untuk
sinar laser di luar daerah mid-infrared dalam spektrum elektromagnetik. Selanjutnya
sebagian sinar akan ditransmisi ke jaringan subkutan tanpa mempengaruhi jaringan yang
dilewati dan tidak mengubah komponen sinar. Semakin besar panjang gelombang, semakin
1,3
banyak sinar yang ditransmisikan karena pendaran sinar laser yang terjadi berkurang.

Laser sejak tahun 1960 merupakan alat yang selalu dan perlu dipakai pada berbagai
kelainan kulit. Terdapat sekian banyak sistem laser kedokteran pada saat ini, tetapi semuanya
berdasarkan pada selective photo-thermolysis (SPTL) yaitu fototermolisis selektif yang
berarti memakai energi laser yang tepat, untuk secara selektif mengobati atau merusak khusus
jaringan saja dan tidak merusak jaringan yang lain di sekelilingnya. Sistem laser yang beredar
1-3
pada saat ini antara lain:

1. Laser Ruby (panjang gelombang 684 nm). Merupakan laser pertama yang dibuat
pada tahun 1960 oleh T.H. Maiman. Laser Ruby diabsorpsi oleh pigmen biru dan
hitam oleh melanin di kulit dan rambut. Karena hanya menembus kurang dari 1
mm ke dalam kulit RL digunakan untuk lesi superficial. Karena afinitasnya yang
tinggi terhadap melanin dan kemungkinan risiko hipopigmentasi, RL tidak
direkomendasikan untuk pasien dengan tipe kulit gelap.
2. Laser argon (panjang gelombang 488 dan 514 nm). Sinar ini akan diabsorpsi bila
menyentuh kelainan kulit yang berpigmen dan mengeluarkan energi yang berupa
panas sehingga mengevaporasi pigmen tersebut. Laser argon berkemampuan
secara selektif menghilangkan pigmen yang berada dalam kulit. Indikasinya
adalah untuk telangiektasis, akne rosacea, granuloma piogenikum, keratosis
senilis, nevus pigmentosus, xantoma, lentigo, giant hairy nevus, tato dan lain-lain.
3. Laser CO2 (panjang gelombang 10.600 nm). Diabsorpsi sempurna oleh cairan dan
benda padat. Laser CO2 berkhasiat selain menghancurkan sel dapat pula memotong
kulit dan jaringan disebut sebagai “pisau sinar”. Perdarahan umumnya sedikit oleh
karena terjadi koagulasi sel-sel darah merah dan penutupan kapiler-kapiler yang
terpotong. Banyak dipakai oleh bagian bedah, THT, bedah saraf, ginekologi, pediatri,
dan bedah mulut. Dibagian kulit dipakai untuk lesi kulit jinak seperti veruka, nevus,
keratosis, laser kosmetik untuk resurfacing kerutan-kerutan di kulit. Laser CO2
fractional photothermolysis telah terbukti efektif terhadap mengobati banyak kondisi
kulit yang sama dengan laser CO2 ablatif tradisional. Beberapa studi telah
menunjukkan karbon dioksida fractional photothermolysis efektif terhadap
rhytids, hiperpigmentasi post inflamasi, melasma, bekas luka hypopigmentasi dan
hiperpigmentasi, dyschromia, laser-induced hipopigmentasi dan hiperpigmentasi,
dan poikiloderma Civatte. Laser CO2 fractional ultrapulsed telah terbukti sangat
efektif terhadap bekas luka pasca trauma dan patologis. Selain itu, perangkat laser
CO2 fractional telah terbukti memperbaiki rhytids periorbital dengan
mengencangkan kulit danelevasi dari alis

4. Laser Nd Yag (panjang gelombang 1064 nm). Nd:YAG adalah singkatan dari
neodymium: yttrium-aluminum-garnet (Y3Al5O12). Dapat menembus hingga 2 -
3 mm ke dalam dermis sehingga cocok untuk pigmentasi yang lebih dalam di
dermis. Laser ini dapat digunakan dalam bidang kedokteran kosmetik untuk laser
hair removal dan pengobatan untuk defek vascular minor seperti spider vein pada
wajah dan lengan. Akhir-akhir ini juga digunakan untuk diseksi selulitis, penyakit
kulit yang jarang biasanya didapatkan pada kulit kepala. Umumnya dibutuhkan 4-
8 sesi untuk menghilangkan sebagian besar lesi, dengan interval 2-6 bulan antara
sesi. Lesi akan berlanjut menghilang selama waktu ini, mungkin karena
melanofag membersihkan melanin yang berasal dari melanosit sasaran.
Kekambuhan dapat terjadi pada 0,6-1,2 % pasien yang lesinya sudah hilang
sempurna, mungkin karena sisa melanosit yang awalnya tak mengandung cukup
melanin untuk eradikasi. Antara panjang gelombang 630 dan 1.100 nm absorpsi
sinar laser oleh melanin lebih kuat dari pada oleh hemoglobin, juga penetrasi laser
ke dermis yang efektif. Laser lebih baru mempunyai spot size lebih besar yang
memungkinkan penetrasi lebih dalam, sehingga meminimalkan percikan jaringan
(tissue splatter) dan mencegah perubahan tekstur.
5. Laser PDL = Pulse Dye Laser (panjang gelombang 577-585). Sebagai medium
laser di pakai zat warna rodamin. Dipakai terutama pada lesi vaskuler seperti
spider vein, PWS dan lain-lain. Pulsed Dye Laser, atau PDL menggunakan
sorotan sinar yang terkonsentrasi yang menargetkan pembuluh darah di kulit.
Cahaya diubah menjadi panas, menghancurkan pembuluh darah sementara kulit di
sekitarnya utuh. Laser menggunakan cahaya kuning, yang sangat aman dan tidak
mengakibatkan kerusakan kulit jangka panjang.

Di samping jenis-jenis laser yang disebut di atas terdapat bermacam-macam jenis lain namun
jarang digunakan, misalnya laser KTP = Potassium-Titanyl-Phosphate, laser Excumer, laser
untuk litotripsi dan prostat, laser Alexandrite, laser Copper-Vapor (CVL) dan laser diode.

2.5 Keamanan Laser

Laser pada umumnya mempunyai bahaya intrinsik. Yang paling sensitif terhadap sinar
laser adalah mata. Kita harus berhati-hati menggunakannya, terutama laser CO 2, jangan sampai
langsung mengenai mata karena dapat langsung merusak retina dan kornea. Sinar laser bersifat
kolimasi, yaitu berjalan parallel, sehingga sinar mata akan memfokuskan sinar ini ke suatu tempat
di retina. Laser energy rendah sekalipun, bila berfokus dapat menyebabkan kerusakan.
Jaringan lain yang sensitif terhadap laser adalah kulit, penyinaran laser voltase tinggi dapat
menyebabkan kombusio di kulit.3

2.6 Laser Energi (Intensitas) Rendah

Di samping laser energy tinggi, terdapat laser energi rendah. Pengobatan dengan laser
1
energi rendah. Pengobatan dengan laser energi rendah dikenal dengan nama:
Low Level Laser Therapy (LLLT)

Low Intensity Laser Irradiation (LILI)

Low Power Laser Radiation (LPLR)

Low Power Laser Therapy (LPLT)
Untuk pengobatan laser tenaga rendah digunakan berbagai macam laser dengan
panjang gelombang 660 nm – 880 nm, yakni laser Hene 632,8 nm, laser diode dengan
medium Ga Al As (Galium-Alumunium Arsenid) 830 nm. Dasar pengobatan laser tenaga
rendah adalah biostimulasi yaitu stimulasi untuk mempercepat respons fisiologis sel dan
jaringan. Pada saat ini manfaatnya sangat nyata, dan perkembangannya sangat pesat. Pada
penyembuhan luka kronis di kulit misalnya, biasanya dipengaruhi oleh pembentukan jaringan
granulasi, epitelisasi, dan keadaan trofik kulit setempat. Biostimulasi dengan laser tenaga rendah
1
ternyata dapat mempercepat penyembuhan luka karena memiliki respons stimulasi berupa:
Proliferasi fibroblast
Angiogenesis, neovaskularisasi
Pembentukan jaringan kolagen meningkat
Daya fagositosis sel leukosit meningkat
Epitelisasi

Energi yang dipakai pada laser tenaga rendah sangat sedikit, yaitu antara 10 m watt – 60 m
2
watt, power density yang diserap hanya berkisar antara 1-4 joule/m .

1
Indikasi laser tenaga rendah:

Ulkus yang sukar sembuh, misalnya ulkus varikosum, ulkus diabetikum terutama
pada kaki dengan angiopati, ulkus kusta, dan ulkus dekubitus
Radionekrosis
Alopesia areata
Herpes zoster, herpes simpleks
Neuralgia pasca-herpes

2.7 Macam-macam Laser

1. Q-SWITCH LASER

Rongga laser "Q" adalah ukuran dari optical loss per foton yang melintas di dalam
rongga optik. Dengan demikian, "Q" dari suatu sistem adalah cara untuk mencirikan kualitas
foton yang dirilis sehingga "Q" yang tinggi berarti kerugian yang rendah dan "Q" yang rendah
berarti kerugian yang tinggi. Q-switch adalah metode fisik untuk menciptakan extremely short
pulses (5-20 ns) dari sinar laser intensitas tinggi (5-10 MW) dengan daya puncak dari 4 joule.
Selain komponen normal dari laser yang sebelumnya dijelaskan, sistem ini memanfaatkan rana
yang dibangun dari sebuah polarizer dan sel pockels dalam rongga optik. Sel pockels adalah
kristal optik transparan yang berputar bidang polarisasi cahaya ketika tegangan diterapkan.
Bersama-sama, polarizer dan pockels sel bertindak sebagai "Q"-switch. Energi cahaya terbentuk
di dalam rongga optik bila tegangan diterapkan ke sel pockels. Setelah tegangan dimatikan,
energy cahaya dilepaskan dalam extremely powerful short pulse. Saat ini tersedia Q-switched
laser termasuk ruby, Nd: YAG dan Alexandrite laser.
Q-switched laser dan foton cahaya dirilis dan memiliki karakteristik yang unik yang
memungkinkan untuk secara efektif digunakan untuk mengobati tato (Goldman et al. 1967)
dan lesi jinak berpigmen. Hal ini disebabkan mekanisme aksi dimana gelombang fotoakustik
dihasilkan dalam kulit dengan dirilisnya foton cahaya yang memanaskan partikel kecil
pigmen tato atau melanosom. Pemanasan ini menyebabkan kavitasi di dalam sel yang
mengandung partikel tinta atau pigmen, diikuti oleh pecahnya sel dan akhirnya difagositosis
oleh makrofag dan pembersihan debris dari tempat kejadian. Secara klinis, proses ini
dilakukan secara bertahap untuk memudarkan tato dengan serangkaian 4-8 kali perawatan
pada interval 6-8 minggu dan uuntuk menghapuskan lesi jinak berpigmen hanya dengan 1-2
kali perawatan dengan interval 6-8 minggu. Penargetan yang tepat pada organel subselular
dan partikel pigmen oleh Q-switched laser mengurangi kerusakan tambahan dan
meminimalkan risiko jaringan parut atau perubahan tekstur. Pengobatan tato dan lesi jinak
berpigmen merupakan contoh-contoh tentang bagaimana selektif photothermolysis dapat
secara efektif diterapkan untuk lebih akurat mengobati kondisi selain microvessels pada PWS
yang mana pada awalnya konsep ini dikembangkan untuk mengobati PWS.1,3

2. LASER ND YAG

Laser adalah singkatan dari Light Amplification by the Stimulated Emission of


Radiation. Nd:YAG adalah singkatan dari neodymium: yttrium-aluminum-garnet (Y 3Al5
O12). Laser ini dapat digunakan dalam bidang kedokteran kosmetik untuk laser hair removal
dan pengobatan untuk defek vascular minor seperti spider vein pada wajah dan lengan. Akhir-
akhir ini juga digunakan untuk diseksi selulitis, penyakit kulit yang jarang biasanya
didapatkan pada kulit kepala.
Laser Q-Switch menciptakan pancaran mendadak yang singkat (short burst) dari cahaya
melalui pengatur cahaya (optical shuttering) terdiri atas polarizer, menyebabkan terbentuknya
photon energi tinggi dalam rongga optikal laser (‘optical cavity’), lalu melepaskan mereka dlm
pancaran nanosecond intensitas tinggi yang singkat. Laser Q-Switch Nd YAG menghasilkan
tembakan sinar laser teramat singkat yang dengan khas mengincar kromofor sasaran (yaitu
melanosom dalam kasus lesi pigmentasi atau hemoglobin dalam kasus lesi pembuluh darah).
Pulse duration dari laser ini khas dalam hitungan nanosecond, dan lebih pendek daripada thermal
relaxation time (TRT) dari sasaran (melanosom), mengikuti teori fototermolisis selektif dari
Anderson dan Parish dalam mengincar kromofor sasaran.1,3

1,3
Teori fototermolisis selektif dari Anderson dan Parish menyatakan bahwa:
1. sinar laser harus dari panjang gelombang yang diserap oleh kromofor sasaran dan
bukan oleh struktur sekitarnya
2. pulse duration harus sama atau kurang dari TRT kromofor sasaran sehingga panas
terbatas pada sasaran untuk menghindari terjadinya kerusakan termal pada sekitarnya
3. fluence yang cukup harus didigunakan untuk menghasilkan efek yang dikehendaki.

Penghancuran melanosom terjadi pada pulse duration antara 40 – 750 ns (nanosecond). Laser
ini juga menghasilkan efek fotoakoustik (energi tinggi diberikan dalam tempo sangat singkat,
yang mengarah pada mengembangnya target secara cepat akibat panas, sehingga
menghasilkan gelombang kejut dengan akibat meledaknya target). Agar treatment lesi vaskular
efektif, laser harus menembus ke dalam pembuluh darah sasaran, disamping itu paparan sinar
harus cukup lama untuk menyebabkan koagulasi-lambat pembuluh darah yang cukup. Makin
besar pembuluh darah makin besar thermal relaxation time (TRT).
Panjang gelombang yang lebih panjang dari laser Q-switched Nd:YAG 1.064 nm paling
cocok untuk treatment kulit lebih gelap (Asia) sebab meminimalkan resiko luka epidermal dan
perubahan pigmentasi. Panjang gelombang 1.064 nm ini dengan lemah diserap oleh melanin
epidermal dan memunyai penetrasi lebih dalam ke dalam dermis dan ideal untuk treatment tipe
kulit Fitzpatrick 3 sampai 6. Treatment tipe kulit 4 sampai 6 merupakan tantangan karena resiko
terjadinya hiperpigmentasi dan hipopigmentasi. Resiko tersebut dapat diminimalkan dengan
menggeser dari pemakaian laser dengan panjang gelombang lebih pendek ke laser dengan
panjang gelombang lebih panjang, penggunaan fluence yang lebih rendah dan spot size besar, dan
penggunaan tabir surya dan bleaching dalam fase preoperatif dan postoperatif.
Umumnya dibutuhkan 4 – 8 sesi untuk menghilangkan sebagian besar lesi, dengan
interval 2-6 bulan antara sesi. Lesi akan berlanjut menghilang selama waktu ini, mungkin
karena melanofag membersihkan melanin yang berasal dari melanosit sasaran. Kekambuhan
dapat terjadi pada 0,6-1,2 % pasien yang lesinya sudah hilang sempurna, mungkin karena sisa
melanosit yang awalnya tak mengandung cukup melanin untuk eradikasi. Antara panjang
gelombang 630 dan 1.100 nm absorpsi sinar laser oleh melanin lebih kuat dari pada oleh
hemoglobin,juga penetrasi laser ke dermis yang efektif. Laser lebih baru mempunyai spot
size lebih besar yang memungkinkan penetrasi lebih dalam, sehingga meminimalkan
percikan jaringan (tissue splatter) dan mencegah perubahan tekstur.

1,3
Keuntungan Laser Q-Switch Nd YAG (1064 nm, 5-10 ns) :

Pulse duration sangat pendek (= 5-10 ns), lebih kecil daripada TRT melanosome (> 1
msec.) sehingga kerusakan pada jaringan sekitar dikurangi.

Spot size besar sehingga memungkinkan penetrasi dalam.

Panjang gelombang lebih panjang (1064 nm) sehingga memungkinkan penetrasi
dalam, dan ideal dalam mengobati kulit lebih gelap (Asia) karena absorbsi dalam
melanin epidermal lemah, akibatnya mengurangi komplikasi dan skar.

Tembakan laser secara langsung (tanpa fiber optic) sehingga menghasilkan titik panas
(hot spot) minimal dalam jaringan sehingga meminimalkan efek samping seperti
terbakar, percikan jaringan (tissue splatter), purpura.

Pada λ 1064 nm absorbsi oleh air mendekati nol sehingga kita dapat membakar pigmen
dan hemoglobin tanpa memanaskan air dalam kulit sehingga kulit tak terbakar.

Indikasi Laser Q-Switch Nd: YAG 1064 nm- menghilangkan/mengurangi:


Pigmen yang gelap: tato hitam atau biru, tato profesional dan dalam, lentigo
(lentigen), speckles, age-spots, sun-burn spots.

Tanda lahir spt nevus Ota, nevus Ito, nevus Becker, blue nevi, keratosis seboroik,
nevi-spilus, junctional nevi.

Pigmen lebih dalam (dermis): lesi vaskular kulit seperti hemangioma, portwine stains,
vena retikular periorbital, telangiektasis, vena spider vein biru lebih dalam sampai
dengan 3 mm.

Non-ablative resurfacing (photorejuvenation) wajah dan pengencangan jaringan,
memperbaiki kerut, pori besar, menghaluskan kulit. Tapi tak dianjurkan bagi orang
Asia sebab terlalu banyak melanin sehingga menyebabkan hiperpigmentasi akibat
terkenanya melanosom nontarget.

Frequency doubled Q-switched Nd:YAG laser (532 nm, 5–10 ns)

Frequency doubled Q-switched Nd:YAG adalah laser berpanjang gelombang terpendek


yang kini dipakai untuk lesi pigmentasi. Dengan menempatkan kristal di jalur sorotan laser
Nd:YAG 1064 nm, frekuensi menjadi 2 kali lipat sedangkan panjang gelombang menjadi ½
kali 1.064 = 532 nm. Laser jenis ini sangat baik untuk lesi pigmentasi epidermal seperti
lentigo (solar lentigines) dan ephelides, efektif thd freckles dan lentigo (lentigines) pada tipe
kulit Fitzpatrick IV. Tingkat kekambuhan freckles rendah, sedang lentigo tak kambuh. Derajat
respon terhadap laser pada λ 532 nm sebanding dengan jumlah pigmen chromophore yang
ada pada daerah treatment. Jika fluence tinggi diberikan melalui spot size kecil, nampak
hipopigmentasi, diikuti bintik perdarahan (pinpoint bleeding) mengarah pada terjadinya
keropeng hemoragik (hemorrhagic crust). Keropeng lepas dalam 7–10 hari.
Indikasi Laser Q-Switch Nd: YAG 532 nm menghilangkan atau mengurangi:

Tinta tato yang lebih terang: merah, coklat, orange. Tato alis atau garis mata atau garis
bibir. Yang sulit dihilangkan adalah warna hijau dan kuning.
Pigmen yang dangkal (epidermis): freckles (ephelid), solar lentigo.
Teleangiektasis.
Melasma dan lingkaran hitam mata dapat /dihilangkan dikurangi sebagian.
Nevus flammus

1,3
3. LASER KARBONDIOKSIDA (CO2)

Laser karbondioksida awalnya tersedia pada tahun 1964 dan segera menjadi laser
yang paling banyak digunakan dalam praktek dermatologi. Laser karbondioksida
memancarkan sinar inframerah tidak terlihat pada panjang gelombang 10.600 nm, sebagai
targetnya adalah cairan intraseluler dan ekstraseluler. Ketika energi cahaya diserap oleh
jaringan yang mengandung air, penguapan kulit terjadi dengan produksi nekrosis coagulative
dalam dermis yang tersisa.
Konsep fractional photothermolysispada tahun 2004 oleh Manstein dan rekan
dianggap salah satu tonggak paling penting dalam laser resurfacing. Pada fractional
photothermolysis, sebuah pola kolom dengan ketebalan penuh dari koagulasi dibuat. Kolom
koagulasi ini disebut Micro Thermal Zone (MTZ). Selama beberapa tahun terakhir, fractional
photothermolysis telah terbukti efektif melawan banyak tanda-tanda kulit pada photoaging
(dyschromia, kelainan tekstur, bintik kulit, dan rhytides sedang sampai berat). Efek ini
dianggap sebanding dengan resurfacing ablatif tradisional tetapi dengan efek samping lebih
minimal (jaringan parut, dyspigmentation, eritema berat). Waktu pemulihan singkat dan
penyembuhan cepat dianggap berasal dari jaringan sehat yang mengelilingi MTZ.
Karbon dioksida laser resurfacing sangat mungkin untuk memperbaiki atrofi bekas
luka akibat jerawat, trauma, atau operasi. Bekas jerawat yang lebih dalam sering memerlukan
prosedur tambahan untuk hasil yang optimal, seperti eksisi atau punch lifting. Prosedur ini
dapat dilakukan baik sebelum atau bersamaan dengan karbon dioksida laser resurfacing.
Laser karbon dioksida fractional photothermolysis telah terbukti efektif terhadap
mengobati banyak kondisi kulit yang sama dengan laser karbon dioksida ablatif tradisional.
Beberapa studi telah menunjukkan karbon dioksida fractional photothermolysis efektif
terhadap rhytids, hiperpigmentasi post inflamasi, melasma, nevus Ota, bekas luka
hypopigmentasi dan hiperpigmentasi, dyschromia, laser-induced hipopigmentasi dan
hiperpigmentasi, dan poikiloderma Civatte. Laser karbon dioksida fractional ultrapulsed laser
telah terbukti sangat efektif terhadap bekas luka pasca trauma dan patologis. Selain itu,
perangkat laser fractional karbon dioksida telah terbukti memperbaiki rhytids periorbital
dengan mengencangkan kulit dan elevasi dari alis.

1,3
4. PULSED DYE LASER

The Dye Pulsed Laser (PDL), bekerja di panjang gelombang 585 - 595nm, digunakan untuk
pengobatan lesi kulit berwarna merah seperti portwine stain (PWS) dan lesi vaskular lainnya.
Pulsed Dye Laser, atau PDL menggunakan sorotan sinar yang terkonsentrasi yang
menargetkan pembuluh darah di kulit. Cahaya diubah menjadi panas, menghancurkan
pembuluh darah sementara kulit di sekitarnya utuh. Laser menggunakan cahaya kuning, yang
sangat aman dan tidak mengakibatkan kerusakan kulit jangka panjang.

2.8 Penggunaan Laser dalam Terapi Kulit

Laser Vaskuler

Beberapa laser dan sistem cahaya yang tersedia untuk pengobatan lesi vaskular. Laser yang
digunakan saat ini meliputi:
 Pulsed dye laser (PDL) 585, 595 nm
 Potassium-titanyl-phosphate (KTP) laser 532 nm
 Long-pulsed Alexandrite laser 755 nm
 Long-pulsed neodymium-doped:yttrium aluminum garnet (Nd:YAG) laser 1,064 nm
 Copper vapour laser 578 nm

 Intense Pulsed Light (IPL) Sources 515–1,200 nm


 Photodynamic therapy

Tujuan dari penatalaksanaan menggunakan laser pada lesi vaskular adalah adanya
penghancuran pembuluh darah yang selektif sehingga meminimalkan cedera termal
perivaskular. Namun untuk mencapai hal ini, operator harus memilih perangkat pemancar
panjang gelombang yang tepat mencapai kromofor dan secara selektif diserap. Operator akan
memilih durasi pulsa dengan tujuan membatasi energy laser ke target. Membatasi fluence ke
kromofor akan memungkinkan penghancuran target tanpa merusak jaringan perivaskular,
sehingga membatasi efek samping. Pendinginan epidermis memungkinkan penggunaan
fluence tinggi untuk mendapatkan hasil yang lebih baik dan lebih nyaman dan perawatan
yang lebih aman.1,4
1
Indikasi laser vaskuler, yaitu:
Port wine stains
Hemangiomas
Facial telangiectasias and erythema
Leg veins and telangiectasias
Scars
Verrucae
Psoriasis and other inflammatory skin conditions, e.g. granuloma faciale
Others:
o Spider nevi/angiomas
o Angiofibromas
o Cherry angiomas
o Venous lakes
o Angiokeratomas
o Striae rubra
o Poikiloderma of Civatte

1. Port Wine Stain (PWS)


Sinar kuning pada Pulsed-dye Laser (PDL) 577-595 nm memungkinkan penargetan
selektif pada malformasi kapiler ini. Pengobatan dini mungkin bermanfaat. PWS berwarna merah
atau pink biasanya merespon lebih baik daripada lesi berwarna ungu. Beberapa PWS mungkin
dapat kambuh kembali setelah perbaikan awal. KTP (frequency-doubled Nd:YAG) di

532 nm, long-pulsed Alexandrite laser di 755 nm dan long-pulsed Nd:YAG laser pada 1064
nm pernah digunakan untuk mengobati PWS yang resisten. Risiko cedera epidermal yang
mengakibatkan terbentuknya jaringan parut atau dyspigmentation mungkin lebih tinggi
dengan laser ini daripada kedua generasi long-pulsed PDL. Long-pulsed Nd:YAG laser tepat
untuk PWS yang besar sekali atau PWS varises yang tidak menanggapi perawatan PDL
konvensional. Intense pulsed light (IPL) dalam pengobatan PWS yang resisten di terima.

2. Capillary Hemangiomas (CH)


Proliferatif CH merupakan lesi yang rumit bila ditemukan pada wajah, dekat mata atau
orang-orang dengan potensi dapat menyebabkan gangguan pernapasan, tatalaksana terbaik
adalah dengan propranol oral. Peran PDL pada lesi yang rumit diatas masih kontroversial.
CM yang mengalami ulserasi dapat ditatalaksana dengan PDL dan ini dapat mengurangi rasa
nyeri yang disebabkan oleh ulserasi.

3. Facial Telangiectasia and Erythema


PDL dan KTP laser paling sering digunakan untuk telangiectasia wajah. Purpura yang
disebabkan oleh PDL berlangsung selama 7-10 hari. Bila tidak ingin terbentuknya purpura
dapat digunakan long-pulsed PDL tetapi mengurangi khasiat. KTP laser sangat efektif dalam
pengobatan telangiectasias wajah tetapi membawa risiko terbentuknya jaringan parut yang
lebih tinggi daripada PDL.

4. Leg Veins and Telangiectasia


Skleroterapi merupakan pengobatan andalan untuk telangiectasias kaki. Vena yang
terlalu kecil untuk disuntikkan dapat diobati dengan laser. KTP, Alexandrite, Diode dan long-
pulsed PDL serta Nd: YAG laser semuanya dapat digunakan untuk mengobati pembuluh
darah telangiectasia kaki hingga ukuran 1 mm. Berdasarkan kedalaman penetrasi, KTP hanya
akan mengobati telangiectasias paling dangkal. Long-pulsed Nd: YAG menembus bagian
terdalam tetapi memiliki daya serap hemoglobin yang relatif miskin.

5. Scars and Keloid


PDL dapat memperbaiki penampilan klinis, tekstur permukaan, kelenturan kulit dan
hipertofi akibat garukan. Bekas luka kurang dari 1 tahun memiliki respon yang lebih baik.
Beberapa pasien dengan keloid mendapatkan manfaat dari kortikosteroid intralesi dan PDL.

6. Verrucae

Pengobatan laser pada veruka lebih berhasil daripada pengobatan konvensional.


Dengan demikian, laser umumnya dicadangkan untuk pasien dengan veruka yang telah
refrakter terhadap pengobatan lainnya. Mekanisme PDL dalam pengobatan veruka adalah
dengan pemusnahan pembuluh darah secara selektif.

7. Psoriasis
Selain excimer laser 308 nm, PDL juga terbukti efektif dalam pengobatan psoriasis.
Tidak seperti laser excimer, yang menargetkan pada proliferasi sel, PDL menargetkan pada
perluasan papillaries dermal pada plak psoriasis. Penatalaksanaan berulang pada kasus plak
psoriasi yang luas membuat modalitas ini kurang menarik dalam pengelolaan rutin psoriasis.

o
Other indications
o
Spider nevi/angiomas – Perbaikan didapatkan setelah satu sampai dua sesi dari
PDL atau KTP laser.
o
Angiofibromas – Lesi makula tanpa komponen fibrosis yang signifikan merespon
baik dengan PDL. Lesi papular merespon lebih baik dengan laser ablatif.
o
Cherry angiomas – PDL dan long-pulsed Nd:YAG laser dapat memberikan
resolusi yang baik.
o
Venous lakes – Jika tebal, mungkin tidak respon dengan PDL, long-pulsed Nd:
YAG Laser dapat dipertimbangkan.
o
Angiokeratomas – seperti cherry angioma
o
Striae rubra – PDL dapat membawa perbaikan sederhana
o
Poikiloderma of Civatte – dengan PDL menghasilkan efek yang bervariasi.
Menggunakan fluence tinggi pada PDL dapat mengakibatkan depigmentasi.
Beberapa penulis telah melaporkan keberhasilan yang sangat tinggi dan insiden
efek samping yang rendah dengan IPL.

Kontraindikasi
• Infeksi aktif misalnya herpes simpleks
• Recent tan
• Kehamilan
• Dysmorphophobia
• pengobatan Isotretinoin
• Cryoglobulinemia
• Cold urticaria

• Skin fragility disorders


• Antiplatelet dan obat antikoagulan (risiko purpura berkepanjangan)

Komplikasi
 Blistering in the immediate post-operative period
 Edema
 Crusting
 hiperpigmentasi Post-inflamasi
 hipopigmentasi Post-inflamasi
 Jaringan parut

Laser Treatment For Spider Veins

Peningkatan tekanan vena menyebabkan pelebaran vena kaki membentuk varises atau spider
veins. Hilangnya tonus otot polos menyebabkan insufisiensi katup atau yang lebih jarang
terjadi yaitu trombosis vena lebih dalam dapat menjadi konsekuensi. Pengobatan pilihan
untuk menghilangkan spider veins kaki adalah dengan skleroterapi, meskipun penggunaan
teknologi laser juga aman dan relatif mengurangi rasa sakit.1,5
Indikasi
1. Meskipun skleroterapi merupakan pengobatan pilihan untuk telangiectasia kecil, namun
beberapa juga ada yang menggunakan IPL atau laser sebagai pengobatan utama.
2. Laser dapat digunakan sebagai pengobatan utama dalam contoh berikut:
 Malformasi arteriovenous
 Pembuluh darah < 1-2 mm yang resisten terhadap skleroterapi dan anyaman
telangiectatic yang dapat terjadi pasca-skleroterapi
 Microtelangiectasias non-cannulizable
 Telangiectasias timbul dari anastomosis arteriovenosa atau arteriol terminal, yang
dapat diobati tanpa mempertimbangkan tekanan hidrostatik yang mendasari
 Pasien rentan terhadap hiperpigmentasi pasca-prosedural karena iritasi kimia dari
dinding pembuluh darah yang disebabkan oleh sclerotherapy
 Pasien yang khawatir tentang alergi terhadap sclerosant, tusukan jarum, atau
kompetensi praktisi pemula
 Daerah seperti kaki atau pergelangan kaki
 Superficial vascular ectasias (deep purple venous lakes and cherry angiomas)

Kontraindikasi

A. Absolut
 Infeksi lokal aktif.
 Penyakit kulit photo-aggravated dan kondisi medis.
B. Relatif
 Jika pasien memiliki psoriasis, vitiligo tidak stabil, keloid, atau mengkonsumsi
isotretinoin.
 Tekanan tinggi vena retikuler: telangiectasias kaki sering dikaitkan dengan vena
retikuler yang bertekanan tinggi. (pengecualian pada laser 1064 nm)
 Pasien dengan obstruksi aliran vena

Komplikasi

 Pembuluh darah pecah menyebabkan terbentuknya purpura, yang biasanya terkait dengan
long-term (months) hyperpigmentation
 Perubahan pigmen pasca operasi dapat terjadi. Pada pasien dengan jenis kulit yang lebih
gelap, mungkin butuh 4-6 bulan.
 Perhatian pada wilayah malleolar
 Beberapa pasien mengalami peradangan yang parah.
 Ulserasi dapat terjadi.
 Kemungkinan dyspigmentation atau jaringan parut.

Laser therapy for pigmented lesions

Terapi laser pada lesi berpigmen merupakan cara yang sangat efektif dalam
menghilangkan lesi dan tidak menarik lesi pada kulit. Namun, seperti pengobatan yang lainnya,
terdapat pertimbangan penting baik untuk memastikan efektivitas maksimal pengobatan dan juga
untuk mencegah hasil yang merugikan berpotensi merusak. Kemampuan untuk menargetkan
melanin sebagai kromofor dan kehadirannya di epidermis dalam kondisi kulit yang umum seperti
lentigo memungkinkan untuk hasil kosmetik yang memuaskan. 1

Indikasi :
Solar Lentigines
Lentigo Simplex
Café-au-lait Macules (CALMs)
Nevus Spilus
Seborrheic Keratoses
Dermatosis Papulosa Nigra
Post-inflammatory Hyperpigmentation
Melasma
Becker’s Nevus
Melanocytic Nevi
Nevus of Ota or Nevus of Ito
Medication-induced Pigmentation
Tattoo Pigment

Kontraindikasi

A. Absolut
a. Penyakit kulit yang diperberat oleh sinar dan penyakit sistemik, misalnya SLE
b. Pengobatan pada daerah dengan infeksi kulit yang aktif, misalnya herpes labialis,
infeksi stafilokokus, dll
c. Vitiligo dan psoriasis. Koebnerisasi sering terjadi pada pasien vitiligo dan psoriasis,
sehingga lesi dapat muncul pada daerah trauma akibat panas yang dihasilkan oleh
sinar laser.
B. Relatif
a. Keloid dan kecenderungan terjadinya keloid.
b. Pasien dalam pengobatan dengan isotretinoin.
c. Riwayat herpes simpleks atau herpes dengan risiko reaktivasi yang tinggi.
d. Pasien yang tidak kooperatif atau memiliki pengharapan yang tidak realistis.

Komplikasi:

 Reaksi bulosa (pembentukan vesikel) dapat berkembang pada pengobatan agresif


pada lesi kulit yang lebih dalam, terutama jika Fluence terlalu tinggi.
 Hiperpigmentasi dapat diamati dengan perawatan laser tato.
 Pupura mungkin terbentuk setelah menggunakan laser pulsed-dye, yang umumnya
bersifat sementara dan diminimalkan dengan laser modern.
 Anafilaksis telah dilaporkan pada perawatan laser tato kosmetik, mungkin karena
pelepasan komponen antigenik dari pigmen tato
Laser Tatoo Removal
Laser QS

Laser QS merupakan pilihan terbaik yang digunakan untuk menghilangkan tato saat ini ; tiga
jenis utama dari laser QS adalah ruby (694 nm), Alexandrite (755 nm), dan
neodymium:yttrium-alumunium-garnet (Nd: YAG) laser (1.064 nm dan frekuensi dua kali
lipat pada 532 nm). Penghancuran tato dengan menggunakan laser berlandaskan pada teori
photothermolysis selektif. Berbagai kromofor di kulit, seperti air, hemoglobin, melanin, atau
pigmen eksogen, masing-masing menyerap panjang gelombang cahaya tertentu. Ketika laser
memancarkan panjang gelombang cahaya yang menargetkan kromofor tertentu, energi yang
diserap oleh kromofor akan diubah menjadi panas, sehingga menghancurkan target kromofor
tersebut dan juga dapat menyebabkan jaringan disekitarnya menjadi rusak .1,4,5
Indikasi
Laser QS ruby (694 nm) memancarkan cahaya merah, yang diserap dengan baik oleh pigmen
tato biru hitam dan gelap. Tipe laser ini juga cocok untuk menghapus tato amatiran dan tato
profesional berwarna gelap. Laser Nd:YAG dapat memancarkan panjang gelombang 1.064
atau 532 nm. Seperti QS ruby, laser ini efektif untuk menghilangkan tato berwarna hitam dan
tato biru tua, dan tidak begitu efektif untuk mengobati tato berwarna cerah. QS Nd: YAG
(1.064 nm) lebih cocok untuk mengobati tato pada individu yang berkulit gelap dan sebagai
laser yang memiliki gelombang yang lebih panjang memungkinkan untuk menargetkan
pigmen di lapisan dermis. Seperti QS ruby dan QS Nd: YAG, jenis laser Alexandrite bekerja
dengan baik untuk pigmen hitam dan pigmen biru. Alexandrite juga terbukti efektif untuk
pigmen hijau. Pada pasca-pengobatan, efek samping yang dapat terjadi adalah timbulnya
hipopigmentasi mengingat bahwa 755 nm panjang gelombang dapat diserap oleh pigmen
melanin epidermis. Laer QS ruby memiliki tingkat keberhasilan tertinggi tetapi juga insiden
tertinggi timbulnya hipopigmentasi.

Kontraindikasi
 Isotretinoin - penggunaan laser masih kontroversial dengan individu yang
menggunakan isotretinoin dalam jangka waktu bulan terakhir, karena berpotensi
untuk timbulnya jaringan parut dan pembentukan keloid setelah terapi laser.

 Garam emas - Chrysiasis dapat disebabkan oleh kombinasi penggunaan garam emas
dan paparan sinar UV. Dengan demikian, pasien yang telah diobati dengan garam
emas untuk gangguan reumatologi atau penyakit lain harus diperingatkan pada risiko
dari chryiasis dalam penggunaan laser QS. Laser QS juga dilaporkan menyebabkan
hiperpigmentasi lebih lanjut dalam pasien dengan chrysiasis.

Prosedural Teknik / Pertimbangan


Konsultasi Pasien
 Pasien harus dinasihati untuk memiliki ekspestasi yang relaistis mengenai waktu,
biaya, mungkin hal yang merugikan yang akan terjadi, dan hasil dari laser tato.
Penghapusan tato akan memerlukan beberapa pengobatan. Tato mungkin tidak
sepenuhnya dihapus, mungkin tidak merespon, atau mungkin menjadi lebih gelap.

Sebelum Pengobatan
 Pasien berkulit gelap dapat diobati dengan bleaching agent, seperti hydroquinone
dikombinasikan dengan topikal steroid atau retinoid, sebelum pengobatan dalam
upaya untuk mengurangi kemungkinan laser menargertkan pada epidermal melanin.
 Kulit harus dibersihkan dan bebas dari kosmetik atau produk perawatan kulit yang
dapat mengganggu penyerapan sinar laser.

Selama Pengobatan
 Anestesi lokal harus diberikan untuk mengurangi rasa sakit pada penghapusan tato.
Lidokain intradermal, Anestesi topikal seperti EMLA (lidocane 2,5% dengan
prilocaine 2,5%).
 Clear hyidrogel dressings (Vigilon) dapat diterapkan sebelum perawatan untuk
mengurangi perpindahan panas dan dengan demikian melindungi epidermis.
 Pada akhir pengobatan harus dilakukan pemutihan pada tato.

Setelah Pengobatan
 Perawatan luka yang tepat sangat penting untuk mengoptimalkan hasil dari kosmetik
 Perlindungan dari sinar matahari yang ketat harus dilakukan untuk beberapa bulan
setelah pengobatan.
Komplikasi
 Paradoxical Darkening – Dapat terjadi segera setelah pengobatan dengan Laser QS.
Hal ini dianggap merupakan reaksi sekunder untuk oksida besi dan titanium dioksida
yang terkandung pada pigmen tato tertentu. Ferri oksida akan dikonversi menjadi
oksida besi, yang hitam legam, dan Ti 4+ untuk Ti 3+, yang berwarna biru-hitam,
setelah pengobatan dengan Laser QS.
 Hipopigmentasi – Dapat terjadi terutama dengan gelombang pendek panjang laser QS.
Hipopigmentasi dapat diobati dengan laser lainnya, seperti 308 nm xenon-chloride.
 Hiperpigmentasi dapat terjadi dan lebih berisiko pada warna dengan kulit lebih gelap.
 Reaksi alergi – Pigmen dari tato dapat menyebabkan reaksi alergi pada kulit. Pigmen
merah yang mempunyai kandungan cinnabar didalamnya adalah pigmen yang paling
sering menyebabkan reaksi alergi seperti timbulnya sisik pruritus pada kulit yang
terkena reaksi alergi.

Laser Hair Removal

Laser hair removal adalah salah satu tindakan non prosedur bedah yang paling umum
dilakukan di Amerika Serikat. Laser yang digunakan untuk Laser hair removal meliputi:
( 694 nm) Ruby laser, ( 755 nm ) Alexandrite laser , (800 nm ) dioda laser, 1.064 nm doped
Neodymium: aluminium garnet yttrium (Nd: YAG) laser, intens berdenyut cahaya (IPL), dan
radiofrequency. Laser hair removal memberikan hasil pengurangan laju pertumbuhan dari
rambut secara permanen dan tidak akan menimbulkan penghilangan rambut secara total.
Hasil dari terapi dapat dilihat setelah 1-3 bulan setelah pengobatan. Setelah terapi dengan
laser, pertumbuhan dari rambut akan menjadi lebih halus, dan lebih menyerupai velus rambut.
Cara kerja Laser hair removal menggunakan prinsip dari fototermolisis selektif, dengan
melanin yang berfungsi sebagai target kromofor. Laser hair removal dapat juga membantu
untuk meningkatkan efek tak diinginkan dari kondisi seperti Pseudofolliculitis barbae.1,3

Indikasi
 Pengurangan dari rambut yang tidak diinginkan
 Kondisi medis di mana pertumbuhan rambut yang berlebihan

 Laser hair removal telah terbukti paling aman dan efektif pada pasien dengan kulit
yang putih dan gelap, karena kemampuan panjang gelombang yang lebih selektif
menargetkan melanin dalam folikel rambut.
Kontraindikasi
- Tidak dapat mentolerir dari terapi cahaya, seperti:
o Pasien dengan gangguan kejang yang dapat dipicu oleh cahaya
o Pasien dengan riwayat SLE
o Pasien dengan riwayat light sensitivity disorder
- Infeksi lokal yang aktif
- Hamil
- Pasien dengan adanya tato di daerah yang akan diberikan laser, harus diedukasi bahwa
perubahan warna tato mungkin dapat terjadi.

Komplikasi
Efek samping yang diharapkan:
- Nyeri (ringan sampai sedang)
- Eritema
- Perifollicular edema

- Dispigmentasi sementara
- Blistering
- Crusting
- Infeksi
- Timbul jaringan parut
- Hypertrichosis

Resurfacing
Skin Resurfacing mengarah pada penghapusan lapisan luar photodamaged skin untuk merangsang
re-epitelisasi lapisan epidermal dan neocollagenosis dermal. Kebutuhan dari resurfacing sendiri
mungkin karena kulit yang sudah mengalami proses penuaan, paparan sinar matahari, luka bakar,
radiasi, trauma, faktor keturunan dan faktor gaya hidup lainnya yang dapat mencakup konsumsi
alkohol dan rokok. Tindakan pelapisan kulit dan jaringan termasuk dalam proses termal,
mekanikal atau kemikal yang berarti menggantikan kulit yang rusak dengan lapisan epidermis
dan dermis yang sehat.1,4

Indikasi

Traditional Ablative Resurfacing


 Pasien yang memiliki kulit keriput dengan derajat sedang hingga berat pada daerah
periorbital dan perioral.
 Tanda-tanda signifikan dari Photodamage
o Actinic keratosis
o Actinically damaged skin
 Bekas jerawat yang parah

Non-ablatif Fractional Resurfacing (NAFR)

 Photoaging dengan derajat ringan hingga sedang pada setiap lokasi di tubuh dengan
pengaturan yang sesuai.
 Kulit keriput yang derajatnya masih baik
 Mild dyschromia
 Guratan - bekas luka atrofi, bekas jerawat ringan, bekas luka hipertrofik, traumatis
dan bekas luka bakar.
 Striae
 Melasma
 Poikiloderma of Civatte

Ablative Fractional Resurfacing (AFR)

 Photoaging dengan derajat sedang hingga berat


o Wajah, leher, dada dan tangan.
 Kulit keriput dengan derajat sedang hingga berat
 Moderat dyschromia
 Dermatochalasis, festooning
 Keratosis seboroik
 Hiperplasia sebasea

Kontraindikasi

Traditional Ablative Resurfacing

 Infeksi Aktif
 Kelainan Appendageal
 Elektrolisis luas, radiasi, penyakit autoimun (skleroderma), Graft versus host disease,
atau pencangkokan kulit setelah terkena trauma bakar

NAFR dan AFR

 Masih dalam masa terapi penggunaan Isotretinoin selama 6 bulan


 Infeksi Aktif
 Harapan yang tidak realistis atau ketidakmampuan untuk mematuhi pasca instruksi
operasi
 Ibu hamil dan menyusui

Komplikasi

 Infeksi virus seperti herpes simpleks atau herpes zoster.


 Infeksi bakteri S. aureus (paling umum), MRSA dan pseudomonas.
 Infeksi jamur atau ragi (candida)
 Hipopigmentasi dari tindakan Traditional ablative resurfacing.
 Telangiektasia
 Irritant atau dermatitis kontak
 Pruritus
 Nyeri selama prosedur
 Timbulnya Jaringan parut

1,3,5
Fractional Devices

Fraksional Photothermolisis merupakan terobosan signifikan dalam teknologi laser pada


tahun 2004. Sinar fractionated laser membentuk luka dengan diameter berkisar 120-500 μm yang
mencapai bagian dermis dalam dengan penyembuhan luka yang cepat. Metode resurfacing
fraksional telah terbukti secara klinis berkhasiat untuk prosedur estetika, rehabilitasi bekas luka
dan banyak indikasi klinis lainnya. Laser fraksional memiliki keamanan yang lebih baik
daripada teknik resurfacing tradisional. Laser fraksional dapat berupa non ablatif atau
ablative.

5
Non-Ablative Fractional Resurfacing (NAFR)

Fraksional Photothermolysis pertama kali dikenalkan oleh Manstein et al. Sebagai metode
baru untuk mengantarkan energi laser dengan meningkatan keamanan. Perangkat yang
tersedia secara komersial untuk NAFR pertama kali diperkenalkan oleh Reliant Technologies
pada tahun 2004. Alat ini menunjukkan reepithelization lengkap dalam 24 jam dan denaturasi
kolagen dari dermis papiler ke dermis mid-retikular tergantung dari energi yang digunakan
untuk pengobatan. Respon penyembuhan terjadi dari zona spared tissue dengan mengaktifkan
sel-sel epidermis stem cells.

Ablative Fractional Resurfacing


Laser ablatif fraksional memiliki inovasi yang berkelanjutan dengan perangkat
generasi kedua di pasaran. Ada banyak alat fraksional ablative yang tersedia di pasaran
dengan berbagai perbedaan diantaranya panjang gelombang, metode pengantaran, kedalaman
ablasi dan kecepatan pengobatan.

Indications

Non- ablative fractional resurfacing

 photoaging dari wajah, leher, tangan


 fine rhytides
 Dyschromia ringan dan pasca hiperpigmentasi inflamasi (PIH)
 scars- atrofi, hipopigmentasi, jerawat, hyperthropic, trauma dan bekas luka bakar
 striae distensae
 prominent pores
 melasma
 poikiloderma of civatte temporary improvement of melasma, not curative
 Minocyline induced facial hyperpigmentation
 Nevus of ota
 Hemangioma residual
 Disseminated granuloma annulare
 Disseminated superficial actinic porokeratosis
 Colloid milium
 Telagiectating mating

Ablative Fractional Resurfacing


 Photoaging dari wajah, leher, dada dan tangan rhytides sedang-berat
 Dyschromia sedang
 Dermatochalasis , festooning
 Eyelid tightening
 Scar- atrofi, jerawat, bedah , luka bakar dan trauma

Kontraindikasi
 Sedang dalam penggunaan isotretinoin (atau oral retinoid) atau 6 bulan sebelumnya
 Infeksi aktif
 Ekspektasi yang tidak realistis
 Kontraindikasi relatif: sensitivitas kulit terhadap cahaya , penyakit kolagen vascular,
dan pengobatan
 Kontraindikasi relatif: Ibu hamil dan ibu menyusui harus mendiskusikan resiko dan
keuntungan dengan ahli fisika laser, dokter obstetric, dan dokter anak

Komplikasi
Komplikasi yang sering terjadi
 Nyeri saat prosedur tindakan
 Onset segera dari eritema yang bersifat sementara yang biasanya membaik dalam
waktu 3-4 hari
 Onset segera dari edema lokal
 Drainase serosa ringan selama 24-48 jam
 Nyeri ringan pasca prosedur tindakan
 Jerawat dan milia
 Delayed purpura
 Dermatitis kontak

Komplikasi yang jarang terjadi

 eritema berkepanjangan pasca-pengobatan, kemerahan bertahan lebih dari 4 hari


dengan NAFR dan 1 bulan untuk AFR. Mayoritas eritema sembuh dalam 3 bulan.
 Nyeri pasca prosedur membutuhkan obat
 Infeksi
 Scar
 Keracunan zat anastesi

1-3
Lasers untuk Scars

Jaringan parut dihasilkan dari kerusakan pada kulit yang disebabkan oleh trauma atau
proses
penyakit. Jaringan parut lainnya dapat disebabkan karena jerawat, kontraktur atau luka bakar.

Ketika proses luka normal berubah , pembentukan jaringan parut abnormal terjadi.
Jaringan parut walaupun tidak menimbulkan resiko kesehatan yang signifikan , tetapi dapat
mengganggu kosmetik dari pasien. Jaringan parut dapat diklasifikasikan sebagai atrofi,
normotrofi atau hipertrofi tergantung dari penampakan fisiknya. Jaringan parut atrofi
termasuk : epidermal dan dermal atrofi, panatrofi atau striae disensae

Mekanisme laser yang bekerja dalam mengobati jaringan parut hipertrofik dan keloid
belum terlalu jelas walaupun ada prinsip utama proliferasi pembuluh darah dan perannya
dalam pembentukan jaringan parut.

Indikasi

 klasifikasi dan diagnosis yang komprehensif dari jaringan parut termasuk : warna,
supli pembuluh darah, tekstur, luas permukaan, ketebalan dan tinggi, dan kelembutan
 Pasien telah gagal dengan terapi lainnya atau pasien memilih untuk tidak menjalani
terapi lainnya
 Tergantung dari tipe laser yang digunakan , pasien dengan tipe kulit (I-III) lebih
responsive dengan pengobatan
 Jaringan parut yang sebelumnya pernah diobati lebih sulit untuk diterapi dan
membutuhkan parameter laser yang sesuai.
 Tujuan realistis dan ekspektasi, tidak ada terapi yang sempurna dan pasien seharusnya
mengerti bahwa mereka membutuhkan multipel terapi . Dokter seharusnya
menganjurka pasien untuk patuh dengan follow up yang sudah disepakati untuk
meminimalisir kemungkinan terjadinya komplikasi.

Kontraindikasi

 Sedang terinfeksi
1. Pasien harus bebas dari infeksi sebelumnya untuk memulai terapi laser
2. Laser terapi yang diberikan pada kulit yang terinfeksi menyebabkan penyebaran
infeksi
 Sedang mengalami penyakit inflamasi
1. Inflamasi pada kulit dapat menghambat efektivitas pengobatan dan mengganggu
proses penyembuhan

Komplikasi

 Purpura
1. Sering dilaporkan sebagai efek samping
2. Muncul segera dan berlangsungn selama 1 minggu
 Nyeri selama pengobatan
 Gejala lain, rasa terbakar, gatal
 Perubahan pigmen pasca inflamasi

1,5
Lasers untuk Acne

Dalam dekade terakhir, penggunaan laser dan cahaya untuk mengobati jerawat mengalami
perkembangan dramatis karena khasiat dan efeknya yang minimal. Pengobatan ini
menargetkan pada bakteri propionibacterium acnes, mengurangi inflamasi dan mengurangi
aktivitas kelenjar sebasea. Panjang gelombang yang pendek menargetkan bakteri P.acnes
sementara panjang gelombang yang panjang menargetkan kelenjar sebasea.

a. Blue light (405-470 nm)

Irradiasi cahaya biru diketahui adalah terapi yang efektif untuk pengobatan acne vulgaris.
Menggunakan cahaya biru (405-470 nm) untuk menghancurkan P.acnes. Pasien tanpa lesi
nodulokistik adalah kandidat yang paling baik untuk diberi irradiasi cahaya biru.

b. Red light phototherapy (600-650 nm)


Cahaya merah telah diteliti untuk mengaktifkan porfirin yang dihasilkan oleh P.acnes dan
akibatnya mengurangi proses inflamasi. Prosedur ini ditoleransi dengan baik, aman dan efektif.

c. Intense pulsed light


d. Photopneumatic devices
e. Photodynamic therapy
f. Pulse dye laser (585 and 595 nm)
g. KTP laser (532 nm)
h. 1,450 nm Diode laser
i. Erbium Glass laser (1,540 nm)
j. Nd: YAG Laser (1,320 nm)

Indikasi

a. Pasien yang kontraindikasi dengan terapi lain (topical dan/ atau obat oral)
b. Kegagalah pengobatan topical atau oral
c. Pasien mencari hasil yang cepat
d. Pasien dengan inflamasi jerawat

Kontraindikasi

a. Kehamilan
b. Riwayat penyembuhan luka yang buruk
c. Pasien minum obat yang menyebabkan sensitivitas cahaya
d. Pasien menggunakan retinoid oral dalam waktu 6 bulan
e. Pasien rentan terhadap jaringan parut keloid
f. Pasien dengan atau yang memiliki kecenderungan untuk mengembangkan perubahan
warna kulit
g. Adanya infeksi local

Komplikasi

a. Eritema dan edema yang tahan lama


b. Memar
c. Post inflammatory hyperpigmentation
d. Pustule
e. Infeksi
Penggunaan Laser untuk Pengobatan Psoriasis dan Vitiligo1

Psoriasis telah lama secara efektif diatasi dengan berbagai modalitas fototerapi. Eritema dosis
minimal (MED), adalah dosis terendah cahaya yang diperlukan untuk menyebabkan eritema
pada kulit non-target. Penggunaan laser telah memberikan cara untuk mengelola fototerapi
langsung ke lesi plak, karena menghindari kulit non-target dan memungkinkan untuk dosis
yang lebih tinggi dari cahaya. Laser excimer yang paling banyak digunakan untuk tujuan ini,
memberikan cara untuk memberikan dosis yang ditargetkan cahaya 308- nm untuk psoriasis.
Laser memanfaatkan konsep "supra-erythemogenic photo-therapy," di mana dosis
dioptimalkan secara signifikan lebih tinggi dari MED kulit non-psoriatik. Karena laser
diterapkan khusus untuk kulit psoriasis, yang mampu mentolerir dosis jauh lebih tinggi dari
cahaya.
Demikian pula, laser excimer telah menjadi pilihan terapi untuk pasien dengan
vitiligo. Walaupun PUVA dan NB-UVB telah memiliki beberapa keberhasilan dalam
mengendalikan perkembangan depigmentasi, dan kadang-kadang menyebabkan
repigmentation, terapi laser telah mendapatkan reputasi untuk mengobati vitiligo lokal
mungkin lebih efektif daripada PUVA atau NB-UVB.
Namun, bentuk pengobatan membawa risiko iritasi dan terbakar pada kulit non
psoriasis, yang secara teoritis dapat menyebabkan photoaging dan insiden yang lebih tinggi
dari kanker kulit. Yang paling efektif untuk psoriasis adalah laser excimer. Ini adalah laser gas
yang memanfaatkan media xenon-klorida, yang menghasilkan sinar UV pada panjang
gelombang 308 nm.
Dibandingkan dengan fototerapi seluruh tubuh, yang umumnya membutuhkan sekitar
20-30 pengobatan, laser excimer 308 nm yang hanya membutuhkan enam sampai sepuluh
perawatan. Meskipun tidak ada pedoman khusus, perawatan laser muncul paling praktis
untuk psoriasis lokal dengan luas permukaan tubuh yang terkena (BSA) kurang dari 10%.
Selain itu, dengan menggunakan laser excimer dalam kombinasi dengan terapi topikal, atau
bahkan sistemik berpotensi dapat menyebabkan penyembuhan lebih cepat dan lebih luas.

Vitiligo adalah gangguan depigmentasi yang mempengaruhi 0,1-2% dari populasi


dunia. Sama seperti psoriasis, vitiligo dapat memiliki dampak nyata pada kualitas hidup dan
kesehatan psikologis, yang sering menimbulkan perasaan malu berpotensi menyebabkan
isolasi sosial, dan berhubungan dengan kondisi seperti kecemasan dan depresi. Meskipun ada
beberapa pilihan untuk perawatan, seperti steroid topikal, inhibitor kalsineurin topikal, dan
fototerapi, hasilnya sering tidak memuaskan untuk pasien. Saat ini, modalitas yang paling
efektif adalah fototerapi, yang diduga menargetkan banyak sel-sel imun yang sama pada
psoriasis, termasuk merangsang apoptosis sitotoksik sel T yang bertanggung jawab untuk
kerusakan melanosit. Selain itu, fototerapi meningkatkan migrasi dan proliferasi melanosit
sehingga terjadi repigmentasi.Mirip dengan psoriasis, laser excimer menargetkan daerah-
daerah yang terkena dampak pada dosis lebih tinggi dari cahaya dari apa yang ditoleransi
dengan fototerapi umum. Tambahan studi telah menunjukkan bahwa itu sangat berguna untuk
vitiligo lokal dan jenis kulit yang lebih gelap, khususnya jenis kulit Fitzpatrick III dan IV.

1
Indikasi
Psoriasis


Indikasi umum. Indikasi untuk perawatan laser excimer adalah sama dengan yang
untuk fototerapi umum, yaitu kegagalan atau kontraindikasi untuk diberikan terapi
topikal. Hal ini umumnya direkomendasikan bahwa terapi laser disediakan untuk
pasien dengan psoriasis lokal terbatas kurang dari 10% BSA, meskipun ini bukan
pedoman yang ketat. Terapi laser untuk psoriasis saat ini hanya diindikasikan untuk
psoriasis plak dan psoriasis palmoplantar, karena belum ditetapkan sebagai
pengobatan yang dapat diandalkan untuk subtipe lainnya.

Psoriasis kulit kepala. Laser excimer telah terbukti efektif pada psoriasis kulit kepala
di mana rambut dibelah secara manual untuk memberikan pulse. Ini juga telah
berhasil digunakan dalam kasus psoriasis kulit kepala dalam kombinasi dengan
semprotan clobetasol dua kali sehari.

Psoriasis Palmoplantar. Psoriasis palmoplantar yang refraktori terhadap pengobatan
topikal telah terbukti menjadi efektif diobati menggunakan terapi laser excimer,
namun itu terbukti memiliki khasiat yang sama seperti pengobatan krim PUVA.

Psoriasis kuku. Laser excimer belum ditetapkan sebagai pengobatan yang efektif
untuk psoriasis kuku. Sebaliknya, Pulse Dye Laser (PDL) telah terbukti menjadi
pilihan pengobatan untuk psoriasis kuku. Beberapa penelitian menggunakan PDL 595
nm untuk psoriasis kuku menunjukkan perbaikan yang signifikan setelah 3 bulan
pengobatan sekali bulanan. Efek samping yang paling umum adalah hiperpigmentasi
dan petechiae.

Kehamilan. Terapi laser excimer umumnya dianggap aman. Terapi UVB adalah
modalitas pengobatan umum digunakan untuk psoriasis berat selama kehamilan.

Presence of a Pacemaker. Hal ini aman untuk pasien dengan alat pacu jantung untuk
menjalani terapi laser.

Vitiligo


Indikasi umum. Perawatan laser harus dipertimbangkan pada vitiligo yang tidak
berefek dengan pengobatan topical. Seperti dijelaskan sebelumnya, hal ini sangat
berguna dalam vitiligo lokal dan jenis kulit yang lebih gelap, khususnya jenis kulit
Fitzpatrick III dan IV.
Kontraindikasi
Karena tidak ada kontraindikasi mutlak untuk terapi laser, praktisi harus bergantung pada
penilaian klinis nya dan reaksi yang mungkin merugikan individu pasien untuk terapi.


Obat photosensitizing. Fototerapi adalah kontraindikasi relatif pada pasien yang tidak
dapat mentoleransi fototerapi, baik karena obat atau sekunder untuk kondisi
photosensitizing. Namun, ini tidak kontraindikasi absolut dan fototerapi masih bisa
dimanfaatkan dengan hati-hati.

Kondisi photosensitizing. Fototerapi pada umumnya merupakan kontraindikasi pada
gangguan photosensitizing (yaitu lupus eritematosus sistemik, xeroderma
pigmentosum, dll) sehingga riwayat menyeluruh dan fisik harus diperoleh sebelum
memulai pengobatan.

Riwayat Kanker Kulit. Meskipun risiko kanker kulit jangka panjang tidak diketahui
untuk pasien yang menjalani perawatan laser excimer untuk psoriasis, riwayat pasien
melanoma atau kanker kulit non-melanoma harus dipertimbangkan.

Lesi hiperkeratosis. Telah dicatat dalam satu studi pada lesi hiperkeratosis kurang
responsif terhadap terapi laser dan mungkin memerlukan sesi perawatan lebih.

Fitzpatrick tipe I. Pasien Kulit dengan Fitzpatrick kulit tipe I telah dilaporkan
mengalami lebih mudah melepuh dibandingkan jenis kulit lainnya, sehingga jumlah
peningkatan dosis per sesi pengobatan dapat dibatasi.

Komplikasi


Efek samping yang paling umum dari laser excimer termasuk eritema, melepuh dan
hiperpigmentasi, yang terbatas pada daerah lokal. Beberapa efek samping ini dapat
menyebabkan ketidaknyamanan pada pasien atau nyeri.

Hiperpigmentasi. Akan terdapat adanya daerah hiperpigmentasi, meskipun pigmentasi
umumnya normal seiring dengan waktu.


Kanker Kulit. Sebagaimana dinyatakan, ada risiko teoritis peningkatan risiko kanker
kulit dengan fototerapi pada umumnya, tetapi penelitian tidak menunjukkan adanya
hubungan pengobatan sinar UVB dan kanker kulit.

Kerusakan Mata. Jika perlindungan mata tidak dipakai, kerusakan retina dan mungkin
katarak dapat terjadi jika perlindungan mata tidak dikenakan. Setiap individu di ruang
perawatan harus memakai pelindung mata yang tepat disediakan.

1
Laser Pada Onychomycosis

Pada strategi pengobatan yang tersedia untuk onikomikosis, laser adalah pendekatan yang
relatif baru untuk ini gangguan yang sulit diobati. Saat ini, beberapa modalitas laser disetujui
oleh Food and Drug Administration (FDA) untuk peningkatan sementara pertumbuhan kuku
pada pasien. Termasuk laser garnet neodynium-doped yttrium aluminium. (Nd: YAG) 532,
630-680, 1064 dan 1320 nm, serta kombinasi laser dioda 870/930 nm dan 980 nm. Meskipun
literatur mengevaluasi efektivitas laser untuk onikomikosis adalah sedikit, seperti sinar UV,
terapi photodynamic (PDT), CO2 ablatif, Nd:YAG, dan laser dioda, seperti yang disebutkan
sebelumnya masih diperlukan percobaan untuk sepenuhnya menilai efektivitas modalitas
tersebut.

Onikomikosis adalah gangguan hyperkeratinization dari kuku akibat infeksi jamur, akhirnya
menyebabkan perubahan warna dan atau distorfi kuku.

Berbeda dengan kondisi dermatologi lain, mekanisme laser yang dapat mengobati atau
memperbaiki penampilan onikomikosis jelas. Mekanisme termasuk inaktivasi langsung jamur
oleh panas, penciptaan spesies oksigen reaktif, atau photothermolysis selektif, meskipun
kromofor sasaran belum diidentifikasi.

Laser CO2

Laser CO2 dapat berfungsi sebagai pengobatan utama untuk onikomikosis. Hal ini
juga dapat berfungsi sebagai tambahan sebagai agen antijamur topikal dengan
menyediakan sarana penetrasi melalui lempeng kuku untuk kuku di mana
pertumbuhan jamur berasal. Pilihan ini kurang invasif, namun saat ini tersedia.

Diode 870/930 nm dan 980 nm

Mekanisme kedua sistem ini mirip. Kedua sistem saat ini disetujui FDA untuk
peningkatan sementara pertumbuhan kuku bening pada pasien dengan onikomikosis.

Nd:YAG 1.064 nm

Beberapa mode output tersedia untuk laser Nd: YAG, yaitu dengan panjang
gelombang 1.064, 940, 1.320, dan 1.440 nm. Karena panjang gelombang yang lebih
panjang, Nd:YAG 1.064 nm diduga sangat menembus jaringan dan target
pertumbuhan berlebih jamur di kuku.

PDT

Asam 5-aminolevulinic (ALA) adalah photosensitizer yang paling umum digunakan


di PDT untuk onikomikosis dengan konversi 5-ALA menjadi protoporfirin IX pada
jamur dan ragi. Protoporfirin IX memiliki penyerapan panjang gelombang puncak
antara 630 dan 700 nm, sehingga dengan mudah ditargetkan oleh red light.

Indikasi


Diagnosis onikomikosis dikonfirmasi terlebih dahulu dengan mikroskop langsung dan
kultur Jamur.

Pasien tidak dapat mentolerir atau tidak ingin menjalani terapi lainnya, seperti
dengan: obat topikal / salep, bedah, antijamur oral.


Mampu menjaga kebersihan yang memadai di antara perawatan untuk mencegah
kekambuhan (menghindari menggunakan kembali kaus kaki, menerapkan semprotan
antijamur untuk bagian dalam sepatu)

Kontraindikasi


Tidak dapat mentolerir bentuk-bentuk lain dari terapi cahaya, seperti: Pasien dengan
gangguan kejang yang dipicu oleh cahaya, pasien dengan lupus eritematosus, pasien
yang telah menerima atau sedang menerima gold therapy, pasien dengan gangguan
sensitivitas cahaya, pasien minum obat yang meningkatkan kepekaan terhadap
cahaya, hamil (efek pada janin tidak diketahui), neuropati perifer

Komplikasi

Nyeri, panas atau kesemutan

Terdapat bagian gelap sementara di bawah kuku

1
Intense Pulsed Light Therapy

Intense Pulsed Light Therapy (IPL) umumnya digunakan untuk perbaikan kosmetik dari
penuaan kulit. Pada tahun 1994, perangkat ini pertama kali diluncurkan dan dipromosikan sebagai
pilihan pengobatan untuk telangiectasias kaki tetapi memiliki utilitas terbatas karena profil efek
samping. Sepanjang tahun, modifikasi teknis untuk perangkat ini telah memungkinkan untuk
menjadi lebih aman dan lebih mudah digunakan, memperluas penggunaan klinis. Saat ini, IPL
adalah alat pengobatan yang berlaku umum untuk peremajaan non-ablatif kulit, photoepilation,
dan pengobatan lesi berpigmen dan pembuluh darah.
Teknologi ini memancarkan pulse, noncoherent, cahaya polikromatik melalui filter,
yang dapat diubah sesuai dengan target yang diinginkan dalam kulit. Perangkat berisi lampu
xenon flash didukung oleh bank kapasitor yang dikendalikan oleh mikroprosesor, yang dapat
mengubah durasi pulse. Spektrum yang luas dari lampu kilat memungkinkan energi dari
beberapa panjang gelombang (500-1,200 nm) yang akan dipancarkan. Filter dan parameter,
seperti Fluence, durasi pulse dan delay pulse, bisa disesuaikan dengan software untuk
mengobati target yang berbeda, membuatnya menjadi perangkat serbaguna.

Keuntungan

Dapat menargetkan beberapa kromofor secara bersamaan.

Dapat mengobati lesi vaskular dengan risiko purpura minimal bila dibandingkan
dengan yang generasi lama yaitu terapi pulse dye-laser (PDL), yang hanya memiliki
jangka waktu pulse yang sangat singkat.

Dapat mengobati daerah tubuh yang besar dengan perawatan yang singkat.

Kekurangan


Handpieces berukuran besar, sehingga sulit untuk mengobati daerah-daerah tertentu
dari wajah dan beberapa perawatan mungkin diperlukan.

Lesi yang berlebihan mungkin di luar kemampuan filtrasi atau memerlukan terlalu
lama pulse, yang dapat memberikan inframerah terlalu banyak menyebabkan cedera
epidermis.

Berbagai parameter pengobatan dapat menyebabkan efek samping yang tidak
diinginkan jika digunakan oleh pengguna yang tidak cukup terlatih.

Indikasi
Pengobatan Lesi Vaskular


Dapat mengobati wajah dan kaki telangiectasias, poikiloderma, hemangioma, dan
malformasi vena dan kapiler.

Mekanisme: pembuluh darah terlihat diganti dengan serat jaringan granulasi setelah
koagulasi jaringan dan kehancuran.

Efek samping minimal yaitu edema, eritema, dan nyeri. Purpura, bekas luka
hipertrofik atau atrofi, atau hipopigmentasi tidak ditemukan.

Poikiloderma

Lesi ini ditandai oleh dispigmentasi retikular, telangiectasis, serta atrofi epidermis.

Target: melanin dan hemoglobin.

Efek samping yaitu pembengkakan dan eritema (berlangsung 24-48 jam), purpura
(berlangsung beberapa hari), pembentukan blister biasa (di jenis kulit yang lebih
gelap) dan pada daerah kecil dapat terjadi hipopigmentasi persisten.
Pengobatan Lesi berpigmen


IPL berguna dalam pengobatan jika lesi berpigmen dangkal. Lesi lain yang dapat diobati
adalah pasca-nekrolisis epidermal toksik hypermelanosis, aberrant Mongolian spots,
pigmented actinic lichen planus, dan lentigo terkait dengan sindrom LEOPARD.

Sasaran: melanin. Ini memiliki spektrum penyerapan luas (250-1,200 nm) namun
memiliki penyerapan terbesar pada panjang gelombang yang lebih rendah dan
menurun dengan panjang gelombang yang lebih tinggi.

Photoepilation

Hair removal dengan IPL telah ditunjukkan bahwa aman dan efektif.

Target: melanin dalam folikel rambut (600-1,100 nm).

Yang paling tepat adalah pasien berkulit terang dengan rambut gelap, seperti pada
pasien berkulit gelap, epidermal melanin bersaing dengan rambut folikel melanin
untuk penyerapan cahaya.

Photorejuvenation


Mekanisme: Pendekatan nonablative yang meningkatkan penampilan keseluruhan
penuaan kulit, mungkin disebabkan oleh karena renovasi dari serat kolagen dan
neocollagenesis.

Asam 5-aminolevulinic topikal dikombinasikan dengan IPL mungkin memiliki efek
yang lebih unggul dibandingkan hanya IPL saja.

Acne

IPL dapat digunakan untuk mengobati jerawat dan bekas jerawat.

Target: melanin dan air, meningkatkan pigmentasi, merangsang neocollagenesis, dan
menghancurkan kelenjar sebasea.

Kontraindikasi
IPL harus dihindari pada: Wanita yang sedang hamil atau sedang menyusui, pasien yang
menerima retinoid sistemik, pasien yang menerima obat photosensitizing, pasien yang
menderita suatu penyakit atau kondisi genetik yang menyebabkan photosensitivity.

Reaksi yang merugikan / Komplikasi


Efek Samping umum adalah nyeri, sensasi terbakar (biasanya ringan dan berlangsung kurang
dari 10 menit), eritema (berlangsung beberapa jam sampai 3 hari), dispigmentasi (hiper atau
hipopigmentasi berlangsung kurang dari 2 bulan), crusting (pengerasan kulit di daerah
pigmentasi dan mengelupas dalam waktu 7 hari), purpura. Efek Samping Serius yaitu
melepuh, perubahan pigmen permanen, jaringan parut.
1,3,6
Komplikasi Pada Epidermis

1. Hiperpigmentasi
Masalah ini lebih umum pada pasien dengan jenis kulit lebih gelap. Pasien dengan
kulit cokelat segar juga lebih beresiko. Hiperpigmentasi hampir selalu merupakan
efek sementara yang respon terhadap terapi topikal dan terapi pemutihan dan
membaik dari waktu ke waktu. Hiperpigmentasi relatif umum terjadi setelah ablative
resurfacing (terutama Laser CO2), yang berlangsung rata-rata 3-4 bulan. Resiko
hiperpigmentasi pada penggunaan laser untuk hair removal berkaitan dengan variasi
musiman, kehadiran cokelat, dan pigmen intrinsik mendefinisikan jenis kulit pasien.
Menariknya, meskipun kriogen spray pendingin sistem membatasi hiperpigmentasi
akibat pemanasan epidermis, aplikasi berlebihan pendinginan itu sendiri dapat
menyebabkan kerusakan epidermal dan hiperpigmentasi.
2. Hipopigmentasi
Hipopigmentasi pasca operasi juga mungkin terjadi, terutama setelah penggunaan
laser dengan melanin sebagai target, atau pigmen khusus iradiasi laser. Dengan
demikian, sangat umum terjadi dalam tato, lesi berpigmen, atau hair removal yang
diobati dengan Q-switched ruby, Alexandrite, dan Nd: YAG laser. Dalam situasi ini,
hipopigmentasi lebih sering diamati setelah beberapa kali perawatan dan lebih sering
terjadi pada pasien dengan jenis kulit lebih gelap. Seperti hiperpigmentasi, komplikasi
ini sering sementara, meskipun hipopigmentasi permanen juga dapat terjadi. Delayed
permanent hypopigmentation telah diakui sebagai komplikasi khusus untuk laser
resurfacing ablatif terutama laser CO2 skin resurfacing.
3. Melepuh (blister) pasca operasi
Terbentuknya blister adalah karena kerusakan termal epidermis dan, kadang-kadang,
dapat diproduksi oleh hampir semua sistem laser. Hal ini paling sering didapati pada
Q-switched iradiasi laser untuk menghilangkan tato. Penjelasan untuk pengembangn
termasuk penggunaan laser yang berlebihan atau penyerapan tidak sengaja energi
laser disebabkan adanya peningkatan dari kromofor epidermal (misalnya, melanin
pada kulit tan). Penggunaan seiring pendinginan jaringan (melalui kriogen semprot)
berfungsi untuk melindungi epidermis dari kerusakan termal berlebihan selama
iradiasi laser, dan penerapan tidak tepat atau penggunaan pendingin tidak tepat juga
dapat menyebabkan kerusakan epidermis.
4. Krusta pasca operasi
Efek yang tidak diinginkan ini juga disebabkan oleh laser-mengakibat kerusakan
epidermis. Krusta adalah biasanya terjadi pada Q-switched laser yang digunakan
untuk menghilangkan tato tetapi dapat diamati setelah pengobatan dengan laser lain
juga. Tanpa perawatan pasca operasi yang sesuai, pengerasan kulit tidak bisa dihindari
setelah prosedur laser resurfacing kulit.
5. Milia
Milia sering terjadi sebagai peristiwa normal dalam kegiatan pasca operasi pasien yang
telah menjalani karbon dioksida atau erbium laser resurfacing kulit. Perkembangan milia
dapat dikurangi dengan penerapan tretinoin topikal atau asam glikolat. Ketika hanya
sedikit lesi yang muncul, milia mudah diobati dengan cara ekstraksi manual.

1,3,6
Komplikasi Pada Dermis

1. Purpura
Purpura sering didapatkan pada pasien setelah dilakukan pulsed-dye laser. Saat itu
hampir tak terelakkan dengan generasi pertama 585-nm pulsed-dye laser. Purpura
adalah fenomena sementara yang biasanya berlangsung 7-14 hari. Insiden telah
dikurangi dengan pengembangan pulsed-dye laser dengan memperpanjang pulse
duration, yang memungkinkan pemanasan dari pembuluh darah kulit lebih lambat.
Pengguna sistem ini dapat memilih pengaturan yang meminimalkan atau
menghilangkan purpura.
2. Scar
Komplikasi permanen ini mungkin yang paling ditakuti dari komplikasi laser. Akhir-
akhir ini resiko jaringan parut (scar) pada pulsed dan Q-switched laser yang
menggunakan prinsip-prinsip photothermolysis selektif jauh lebih sedikit, tetapi
jaringan parut masih mungkin didapatkan pada pemakaian perangkat apapun. Apakah
atrofi atau hipertrofi, jaringan parut selalu diakibatkan karena kerusakan berlebihan
pada kolagen di dermis.
Secara umum, risiko jaringan parut lebih rendah dengan penggunaan pigmen khusus
laser, pulse vascular laser, sistem laser nonablative, dan pulse hair removal laser
sistem. Laser resurfacing kulit (baik karbon dioksida dan erbium) memiliki risiko
tertinggi menyebabkan jaringan parut karena akan merusak jaringan dermal seperti
peningkatan risiko infeksi pada deepitelisasi kulit. Faktor-faktor seperti jumlah energi
yang lewat dan energi yang digunakan dapat mempengaruhi risiko jaringan parut,
sementara teknologi yang menggunakan sistem pendinginan bekerja untuk
meminimalkan risiko ini.

1,3,6
Komplikasi Lain

1. Penyembuhan luka yang lambat


Meskipun jarang, penyembuhan luka yang lambat telah diidentifikasi sebagai
komplikasi khusus untuk karbon dioksida atau erbium laser resurfacing kulit. Setelah
infeksi kulit dan kondisi sistemik lain (misalnya, lupus eritematosa, ikat-jaringan
penyakit) sudah dihilangkan sebagai faktor penyebab potensial dari respon
penyembuhan luka yang buruk, paling baik dikelola dengan manajemen luka
konservatif. Sayangnya, jaringan fibrosis dan jaringan parut adalah gejala sisa yang
umum dari respon penyembuhan luka tertunda.
2. Infeksi pada luka
Infeksi pada luka adalah yang paling sering terjadi setelah skin resurfacing laser.
Infeksi virus, bakteri, dan jamur superfisial mungkin terjadi. Herpes simplex virus
dapat aktif kembali pada pasien selama reepitelisasi setelah perawatan laser kulit,
terutama hair removal dan resurfacing. Profilaksis antiherpes dengan demikian
direkomendasikan untuk semua perioral atau prosedur laser resurfacing seluruh wajah.
Infeksi bakteri biasanya disebabkan oleh stafilokokus atau spesies pseudomonas dan
telah terbukti muncul lebih sering pada pasien yang telah menggunakan perban luka
dalam waktu lama setelah operasi. Demikian pula, infeksi kandida dapat terjadi.
3. Noda hitam
Pertama kali tercatat pada iradiasi kosmetik (eyeliner, lipliner, browliner) tato dengan Q-
switched ruby laser, fenomena ini juga telah dilaporkan pada pemakaian Q-switched Nd:
YAG, Q-switched Alexandrite, dan 510-nm pulsed dye laser. Noda hitam ini
disebabkan oleh konversi laser-induced ferri oksida ke ferro oksida dalam tinta tato
kosmetik, menghasilkan pigmentasi hitam tidak larut di dalam kulit.
4. Reaksi alergi
Reaksi alergi (termasuk anafilaksis) telah dilaporkan pada penggunaan Q-switched
laser tato dan diduga disebabkan perubahan antigenisitas dari pigmen tato oleh laser.
5. Eritema postoperatif
Beberapa derajat eritema berlangsung kurang dari 24 jam dan muncul pada hampir
semua prosedur laser. Eritema yang lebih lama dapat terjadi sebagai efek samping
yang tidak diinginkan tetapi juga sementara pada hampir semua pasien yang diobati
dengan laser nonablative. Eritema lebih lama didapatkan pada semua pasien setelah
resurfacing kulit laser ablatif. Durasi (dari hari sampai beberapa bulan) tergantung
pada kedalaman dan tingkat kedalaman melukai kulit. Erbium laser biasanya
menghasilkan eritema pasca operasi kurang dari laser karbon dioksida.
6. Dermatitis kontak postoperatif karena obat-obatan topikal

Dermatitis kontak alergi atau dermatitis kontak iritan dapat terjadi setelah semua jenis
prosedur laser, umumnya pada antibiotik topikal. Karena kesulitan dalam membedakan
dermatitis kontak dari infeksi pada pasien yang telah melakukan laser resurfacing, banyak
praktisi menghindari penggunaan antibiotik topikal pada pasien tersebut.
Referensi

1. Nouri K. [editor]. Handbook of lasers in dermatology. New York: : Springer Berlin


Heidelberg.
2. Hamzah M. Dasar terapi laser pada penyakit kulit. Dalam: Djuanda A, Hamzah M,
Aisah S [editor]. Ilmu penyakit kulit dan kelamin. Ed. 7. Jakarta: Badan Penerbit
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2013: 357-62.
3. Sakamoto FH, Wall T, Avram MM, Anderson RR. Laser and flashlamp in
dermatology. In: Wolff K, Goldsmith LA, Katz SI, GIlchrest BA, Paller AS, Leffell
DJ [Editor].
Fitzpatrick’s dermatology in general medicine. Ed. 7. Philadelphia: The McGraw-Hill
Companies, 2008: 2263-78.
4. Tanzi EL, Alster TS. Skin resurfacing: ablative lasers, chemical peels, and
deermabrasion. In: Wolff K, Goldsmith LA, Katz SI, GIlchrest BA, Paller AS, Leffell
DJ [Editor]. Fitzpatrick’s dermatology in general medicine. Ed. 7. Philadelphia: The
McGraw-Hill Companies, 2008: 2364-71.
5. Chapas AM, Geronemus RG. Cosmetic applications of non-ablative lasers and other
light devices. In: Wolff K, Goldsmith LA, Katz SI, GIlchrest BA, Paller AS, Leffell
DJ
[Editor]. Fitzpatrick’s dermatology in general medicine. Ed. 7. Philadelphia: The
McGraw-Hill Companies, 2008: 2372-77.
6. Brown CW. Complications of dermatologic laser surgery. Di unduh dari
http://emedicine.medscape.com/article/1120837-overview#aw2aab6b7 pada tanggal
11 September 2019

Anda mungkin juga menyukai