Anda di halaman 1dari 11

Cedera Tekanan pada Tulang dalam Militer: Diagnosis, Penanganan, dan Pencegahan

Abstrak
Cedera tekanan pada tulang terjadi saat tekanan yang diberikan pada tulang untuk
jangka waktu yang lama melebihi kemampuan tulang untuk membentuk ulang secara
memadai. Cedera ini, yang memiliki rentang reaksi tekanan hingga patah yang tidak
berubah posisi atau bahkan patahan dengan perubahan posisi, paling umumnya terjadi
pada orang yang mengalami tekanan berulang dalam tingkat tinggi serta pembebanan
pada ekstremitas bawah atau adanya perubahan tingkat aktivitas fisik. Contohnya, stress
fracture (fraktur karena tekanan) umum ditemukan pada atlet ketahanan, pada atlet yang
sedang mempersiapkan diri menjelang musim pertandingan, dan pada anggota baru
militer. Pada militer, cedera ini umumnya ditemui pada pelatihan dasar, dimana anggota
baru melewati beban-beban pelatihan yang tidak biasa dilakukan. Atlit wanita dan atlit
dengan nutrisi yang buruk memiliki risiko yang lebih besar untuk mendapat cedera.
Cedera tekanan pada tulang dulit di diagnosis hanya berdasarkan radiologi.
Penegakkan diagnosis yang tepat membutuhkan kombinasi pemeriksaan fisik, pencitraan
yang mutakhir, dan suatu kecurigaan. Perbedaan lokasi cedera menyebabkan adanya
perbedaan risiko terjadinya non-union, dislokasi, dan komplikasi lain. Untuk cedera
berisiko kecil, penanganan umumnya terdiri atas pengurangan beban untuk beberapa
minggu dan berangsur-angsur kembali ke aktivitas normal. Cedera berisiko besar perlu
diperhatikan dengan lebih seksama untuk mengetahui adanya perkembangan serta
kemungkinan dibutuhkan intervensi operasi. Bahkan setelah operasi, beberapa tipe
fraktur tekanan dapat membutuhkan beberapa bulan hingga tercapai bersatunya tulang
yang terverifikasi radiologi. Sebagai tambahan, adanya gangguan pada nutrisi ataupun
metabolisme harus ditangani untuk mencegah cedera di masa depan.
Pada artikel ini, kami akan mengulas mengenai diagnosis, penanganan, dan
pencegahan dari cedera tekanan pada tulang dengan berfokus pada manifestasi yang lebih
serius, seperti fraktur karena tekanan.
Cedera tekanan pada tulang, yang umum ditemukan pada anggota baru militer,
biasanya muncul pada area-area penahan beban (weight bearing - WB) dalam bentuk
nyeri yang berangsur-angsur yang disebabkan oleh tekanan berulang dan mikrotrauma.
Cedera ini pertama kali dilaporkan di metatarsal pada tentara Prussia tahun 1855. Hari

1
ini, cedera akibat tekanan semakin umum ditemukan. Satu penelitian memperkirakan
cedera ini terjadi pada 10% pasien yang datang ke dokter olahraga. Cedera ini umumnya
terjadi pada anggota militer, atlit ketahanan, dan penari. Lebih tepatnya, tingkat kejadian
stress fracture pada anggota militer telah dilaporkan berkisar antara 0.8% hingga 6.9%
pada laki-laki dan 3.4% hingga 21.0% pada perempuan. Karena adanya pembebanan
berulang pada ekstremitas bawah, fraktur akibat tekanan umumnya terjadi pada pelvis,
leher femur, batang tibia, dan metatarsal. Diagnosis yang terlambat dan penanganan yang
lama yang dibutuhkan untuk pemulihan total dapat berakibat morbiditas yang signifikan.
Pada penelitian selama 2009-2012 pada anggota militer di AS, Waterman, et al
menemukan tingkat kejadian 5.69/1000/tahun. Fraktur umumnya terjadi pada tibia/fibula
(2.26/1000), metatarsal (0.92/1000) dan pada leher femur (0.49/1000). Sebagai tambahan,
cedera ini umumnya terjadi pada anggota baru, yang belum terbiasa dengan tingkat
pelatihan yang sering dan berat. Anggota junior telah dilaporkan memenuhi 77.5% dari
seluruh pasien stress fracture. Faktor risiko yang lain termasuk usia dibawah 20 tahun,
diatas 40 tahun, dan ras kulit putih.
Patogenesis cedera akibat tekanan sampai saat ini masih kontroversial. Stanitski,
et al berpendapat bahwa cedera submaksimal berulang menyebabkan adanya tekanan
kumulatif yang melebihi kemampuan tulang, dan akhirnya menyebabkan suatu fraktur.
Johnson melakukan suatu penelitian biopsi dan menyatakan bahwa hal ini disebabkan
oleh pembentukan ulang yang terlalu cepat, sementara Friedenberg menyatakan bahwa
cedera akibat tekanan ini adalah suatu bentuk penyembuhan yang tidak cukup, dan
bukannya penyembuhan ditingkatkan, disebabkan oleh adanya pembentukan kalus pada
proses penyakit.
Terdapat banyak lagi faktor risiko predisposisi pada personil militer, baik yang
dapat diubah maupun tidak. Risiko yang tidak dapat diubah termasuk jenis kelamin,
bentuk tulang dan tungkai, ras, usia, dan anatomi. Pergerakan biomekanis ekstremitas
bawah yang disebabkan oleh penyejajaran dinamis anggota tubuh saat beraktivitas sangat
penting. Cameron, et al memeriksa 1843 pasien dan menemukan bahwa pada pasien
valgus dengan sudut lutut >5°atau eksternal rotasi >5° memiliki risiko cedera yang lebih
tinggi. Walaupun variabel lain seperti jenis kelamin dan penyejajaran anggota tubuh tidak
dapat diubah, pengenalan yang tepat terhadap faktor risiko yang dapat diubah dapat

2
membantu pencegahan cedera, dan faktor risiko yang dapat diubah dapat membantu
tenaga medis serta peneliti dalam melakukan pencegahan cedera yang terarah pada pasien
dengan risiko tinggi.
Metabolik, hormon, dan status gizi sangat penting pada kesehatan tulang secara
keseluruhan. Beberapa penelitian telah menemukan bahwa IMB yang rendah merupakan
faktor risiko yang signifikan untuk stress fracture. Walau IMB yang rendah adalah hal
yang perlu diperhatikan, pasien dengan IMB yang terlalu tinggi juga dapat memiliki
peningkatan risiko untuk cidera tekanan pada tulangnya. Pada konsensus terbaru
mengenai defisiensi energi relatif dalam olahraga (Relative Energy Deficiency in Sport -
RED-S), Komite Olimpiade Internasional (International Olympic Committee)
membicarakan hubungan yang kompleks dari kekurangan pada fungsi fisiologis
(termasuk tingkat metabolisme, menstruasi, kesehatan tulang, imunitas, pembentukan
protein, dan kesehatan kardiovaskular) yang disebabkan defisiensi energi relatif. Komite
ini menyatakan bahwa penyebab dari sindroma ini adalah defisiensi energi relatif ke
keseimbangan antara intake energi dari makanan dengan pengeluaran energi yang
dibutuhkan untuk aktivitas harian, pertumbuhan, dan aktivitas olahraga. Penemuan ini
menunjukkan bahwa kondisi-kondisi seperti cedera akibat tekanan seringnya
menunjukkan adanya gejala defisit sistemik yang lebih luas yang dapat dipengaruhi oleh
ketidak-seimbangan fisiologis pasien secara keseluruhan.

Diagnosis
Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik
Terjadinya reaksi stress biasanya tersembunyi dan membahayakan, dengan
kondisi yang umum muncul adalah anggota militer baru yang mengeluhkan adanya nyeri
saat aktivitas fisik. Nyeri biasanya muncul hanya saat aktivitas, dan menghilang saat
istirahat, namun seiring perkembangan penyakit muncul pula nyeri saat istirahat. Sangat
penting untuk dicatat bahwa tenaga medis untuk mengetahui informasi mengenai
aktivitas fisik dan olahraga pasien. Hsu, et al melaporkan adanya peningkatan prevalensi
pada anggota baru dari sipil yang memiliki kelebihan berat badan, mengindikasikan
peningkatan jumlah anggota baru yang tidak memiliki pengalaman cukup dalam aktivitas
fisik berulang seperti pada latihan dasar. Cedera tekanan harus dicurigai bila keluhan

3
nyeri yang bertahan dan berangsur-angsur semakin parah pada ekstremitas bawah,
terutama pada pasien dengan risiko tinggi. Diet pasien harus diperhatikan, dengan
perhatian lebih ditujukan pada intake buah, sayur, dan makanan tinggi vitamin D serta
kalsium, dan, yang paling penting, keseimbangan energi yang masuk dan keluar.
Perhatian khusus layaknya diberikan pada pasien wanita, yang dapat mengalami trias atlit
wanita, yakni ketersediaan energi yang rendah, disfungsi haid, dan kecacatan dalam
pergantian tulang (resorbsi > formasi). Salah satu kunci dari pernyataan konsensus RED-
S mengingatkan tenaga medis bahwa kelainan metabolisme tidak hanya mempengaruhi
pasien wanita. Pasien-pasien ini mengalami cedera yang cukup signifikan pada
keseimbangan homeostasis hormon yang dibutuhkan untuk menjaga kesehatan tulang
yang cukup. Beck, et al menemukan bahwa wanita dengan siklus haid terganggu
memiliki risiko 2-4x lebih tinggi untuk terkena fraktur akibat tekanan, menyebabkan
abnormalitas ini sebagai satu bagian penting untuk di anamesa.
Pemeriksaan harus dimulai dengan evaluasi dari penyejajaran anggota tubuh dan
perhatian khusus untuk adanya varus atau valgus. Harus pula diperiksa pada kaki adanya
pes planus atau cavus yang dapat meningkatkan risiko fraktur. Pengenalan area dengan
kelembutan maksimal sangat penting. Pada area tersebut dapat pula ditemukan
eritematosa atau lebih hangat akibat respon peradangan yang berkaitan dengan usaha
penyembuhan fraktur. Pada fraktur kronis di area superfisial seperti metatarsal, dapat
ditemukan kalus per palpasi. Walau ada beberapa uji yang spesifik untuk cedera akibat
tekanan, nyeri dapat dimunculkan ulang dengan palpasi dalam dan penopangan beban.
Jika dicurigai adanya fraktur femur, dapat dilakukan uji fulcrum (titik tumpu) dengan
menekan ke bawah pada lutut dan mengangkat paha dengan tangan satunya. Pasien
dengan fraktur tekanan pada sacrum dapat mengalami nyeri saat berdiri/melompat pada
sisi yang sakit (uji flamingo positif).

Uji Laboratorium
Jika dicurigai penyebab kelainannya adalah gangguan gizi atau metabolisme,
terutama pada pasien dengan berat badan kurang, maka sebaiknya hasil pemeriksaan
laboratorium didapatkan. Uji spesifik untuk seluruh pasien adalah pengujian 25-hidroxy
vitamin D3, hitung sel darah lengkap (CBC), panel kimia dasar, kadar kalsium, dan TSH.

4
Walau tidak dibutuhkan untuk diagnosis, perlu juga dipertimbangkan pemeriksaan fosfat,
hormon parathyroid, albumin, dan prealbumin. Perempuan juga sebaiknya melakukan uji
FSH, LH, estradiol, testosterone, serta uji kehamilan. Pada pasien dengan tanda-tanda
berlebihan kortison, uji dexamethasone supression test dapat dilakukan. Pada laki-laki,
kadar testosterone yang rendah tercatat sebagai salah satu faktor risiko untuk cedera
akibat tekanan.

Pencitraan
Karena murah dan mudah tersedia, pencitraan rontgen polos umumnya dilakukan
untuk pemeriksaan awal pada kecurigaan cedera akibat tekanan. Namun sensitivitasnya
masih cukup rendah, terutama pada kasus-kasus awal. Walau garis fraktur atau
pembentukan kalus sering muncul, temuan dapat lebih sulit ditemukan. Hasil pencitraan
harus diperiksa untuk adanya penumpulan dari tulang kortikal dan reaksi periosteal, yang
harus dihubungkan dengan area dengan kelembutan maksimal. Jika ada suatu kecurigaan
klinis dari anamnesis dan pemeriksaan fisik, namun hasil pencitraan tidak menemukan
adanya kelainan, MRI atau bone scan dapat digunakan. MRI adalah modalitas pencitraan
yang paling akurat, dengan sensitivitas berkisar 86-100%, dan spesifisitas mencapai
100%. Pada MRI, stress fracture umumnya terlihat sebagai area yang lebih terang dengan
edema. Arendt dan Griffiths mengusulkan adanya sistim penilaian berdasarkan MRI
untuk stress fracture, dengan grade 1 dan 2 menyatakan cedera ringan, dan 3-4
menyatakan cedera berat. CT juga memiliki peran dalam diagnosis dan dapat lebih baik
daripada MRI pada pencitraan stress fracture pada pelvis dan sacrum. Pada suatu
penelitian mengenai stress fracture tibia, Gaeta, et al menemukan bahwa MRI 88%
sensitif dan 100% spesifik serta memiliki positive predictive value 100%., dan CT
memiliki sensitivitas 42% dan spesifisitas 100% serta positive predictive value 100%.
Mereka menyimpulkan bahwa MRI lebih superior terhadap CT dalam diagnosis stress
fracture tulang tibia.

Penanganan
Penanganan cedera tekanan pada tulang bergantung pada banyak faktor, termasuk
durasi gejala, lokasi fraktur, tingkat keparahan fraktur, serta risiko progresivitas atau non-

5
union. Pasien yang diperkirakan memiliki masalah metabolik atau gizi harus mendapat
perawatan yang sesuai. Cidera dengan risiko non-union yang rendah biasanya ditangani
dengan satu masa dimana aktivitas fisik dibatasi atau penanganan tidak adanya
penumpuan beban; cedera berat dapat membutuhkan intervensi operasi.

Pelvis
Stress fracture pada pelvis termasuk langka dan hanya terjadi pada 1,6-7,1% dari
seluruh kasus stress fracture. Karena frekuensinya yang rendah, tenaga medis harus
memiliki tingkat kecurigaan yang tinggi untuk menegakkan diagnosa yang tepat. Patahan
ini umumnya terjadi pada pelari marathon dan pasien lain yang mengeluhkan nyeri
persisten dan riwayat aktivitas yang berat. Karena stress fracture pelvis biasanya
mencakup ramus pubis superior/inferior, atau sacrum, dan memiliki risiko yang rendah
untuk non-union, mayoritas ditangani dengan penanganan non-operatif dan modifikasi
aktivitas selama 8-12 minggu.

Femur
Stress fracture pada femur juga termasuk jarang, diperkirakan terjadi pada 10%
dari seluruh stress fracture. Bergantung dari lokasinya, fraktur-fraktur ini dapat menjadi
semakin parah seiring waktu, dan meningkatkan risiko terjadinya komplikasi. Terutama
mengkhawatirkan adalah stress fracture pada leher femur, yang mana dapat
mempengaruhi sisi tegangan (tension side - lateral cortex) ataupun sisi kompresi
(compression side - medial cortex) dari tulang. Kecurigaan stress fracture pada leher
femur harus segera diikuti oleh pengurangan beban pada tubuh pasien. Pengenalan awal
dari cedera ini sangatlah penting karena sekalinya terjadi dislokasi, tingkat morbiditas
dan komplikasinya langsung meningkat drastis. Pasien dengan fraktur pada sisi kompresi
(compression-side fracture) harus menjalani terapi tidak mendapat beban (non weight
bearing) selama 4-6 minggu dan perlahan-lahan kembali ke aktivitas yang menopang
beban. Kembalinya ke aktivitas dengan menopang beban ringan paling cepat dalam
waktu 3-4 bulan. Sebaliknya, fraktur pada sisi tekanan (tension-side fracture) sangat kecil
kemungkinannya untuk sembuh tanpa operasi. Seluruh fraktur tension-side (dan fraktur
compression-side yang melewati >50% seluruh collar femur) seharusnya mendapat terapi

6
berupa pemasangan plat dan sekrup. Patahan dengan dislokasi harus segera diperbaiki
dengan ORIF untuk mencegah nekrosis dan komplikasi lain. Hasil dari operasi pada
fraktur leher femur pada pasien-pasien yang aktif memiliki hasil yang beragam.
Neubauer, et al memeriksa 48 pelari yang mendapat terapi operasi untuk cedera ini.
Tingkat aktivitas sebelum cedera dapat dicapai lagi oleh lebih banyak pelari yang
berkinerja rendah (72%, 23/32) dibanding pelari berkinerja rendah (31%, 5/16).
Melaporkan tentang fraktur akibat tekanan pada leher femur pada anggota baru Royal
Marine, Evans, et al menyaakan bahwa setelah intervensi operasi, seluruh patahan rata-
rata menyambung kembali dalam 11 bulan. Namun union terjadi setelah 1 tahun pada
50% kasus, menunjukkan tingkat kesulitan dalam menangani kasus-kasus ini dan
disabilitas yang dihasilkan.
Stress fracture pada corpus femoris lebih jarang terjadi, hanya berkisar 3% dari
seluruh kasus. Namun tingkat kejadiannya lebih tinggi pada anggota militer. Pada tentara
baru Perancis, Niva, et al menemukan tingkat insidensi sebesar 18%. Serupa dengan
fraktur collar femur, fraktur pada corpus femoris biasanya didiagnosa dengan pencitraan
mutakhir, uji fulcrum test, dan nyeri saat menopang beban dapat membantu penegakkan
diagnosis. Cedera-cedera ini biasanya ditangani tanpa operasi, dengan menghilangkan
beban untuk sementara waktu. Weishaat, et al menyatakan bahwa anggota baru militer
AS yang ditangani dengan rehabilitasi progresif dapat kembali ke aktivitas normal dalam
waktu 12 minggu. Fraktur dislokasi pada corpus femoris yang dikaitkan dengan cedera
tekanan pada tulang lebih jarang lagi terjadi, dan harus diberikan penanganan operatif.
Salminen, et al menemukan bahwa tingkat kejadian 1,5/100.000/tahun pada tugas militer.
Selama 20 tahun, mereka menangani 10 kasus serupa dengan operasi. Rata-rata waktu
yang dibutuhkan hingga terjadi union adalah 3,5 bulan.

Tibia
Tibia termasuk salah satu area yang lebih umum terkena cedera dan patah akibat
tekanan. Pada penelitian prospektif dengan anggota militer, Giladi, et al menemukan
bahwa 71% kasus patah akibat tekanan terjadi di tibia. Sebagai tambahan, suatu
penelitian skala besar pada 320 atlit dengan stress fracture menemukan 49.1% terjadi di
tibia. Patahan umumnya terjadi pada diafisis dan melintang (transverse), umumnya pada

7
korteks posteromedial, dimana tulang mengalami daya kompresi maksimal. Patahan pada
korteks anterior (diperkirakan merupakan hasil dari daya regang akibat tarikan m.
gastrocnemius sepanjang aktivitas berulang) lebih perlu diperhatikan. Dibandingkan
dengan fraktur pada sisi kompresi, fraktur pada korteks anterior tibia memiliki risiko
yang lebih besar untuk terjadi non-union (tingkat non-union dilaporkan 4,6%). Hasil
radiologi pada korteks anterior tibia dapat menunjukkan “garis hitam yang ditakuti”
Fraktur pada sisi kompresi umumnya dapat sembuh tanpa membutuhkan operasi,
walau dapat membutuhkan beberapa bulan. Swenson, et al meneliti dampak dari
penggunaan terapi pneumatik (mungkin kaya pressurized oxygen capsule?) dengan terapi
konservatif pada atlit dengan stress fracture tibia. Pasien dengan tambahan terapi ini
kembali beraktivitas ringan dalam 7 hari dan aktivitas normal dalam 21 hari, dimana
pasien yang hanya mendapat terapi konservatif kembali beraktivitas ringan dalam 21 hari
dan aktivitas normal dalam 77 hari. Terapi gelombang elektromagnetik cukup
kontroversial untuk penanganan cidera ini. Rettig, et al melakukan uji prospektif acak
pada pengobatan terhadap pelaut angkatan laut AS dan menemukan tidak adanya
pengurangan waktu penyembuhan pada mereka yang melalui terapi elektromagnetik.
Stress fracture dengan dislokasi dan fraktur yang gagal terapi non-operatif harus
ditangani dengan operasi. Pemasangan pen intramedullary dengan pelebaran (reamed
intramedullary nailing) adalah baku emas untuk penanganan operasi pada kasus-kasus
ini. Varner, et al melaporkan bahwa hasil dari perawatan 11 stress fracture pada tibia
dengan intermedullary nailing setelah penanganan non-operatif (minimal 4 bulan) telah
gagal. Dengan operasi, tingkat union mencapai 100%, dan pasien dapat kembali
beraktivitas penuh dalam 4 bulan.

Metatarsal
Stress fracture pertama kali ditemukan oleh Briethaupt pada kaki tentara Prussia
yang bengkak dan nyeri pada tahun 1855 dan awalnya dinamai march fracture.
Waterman, et al melaporkan bahwa stress fracture pada metatarsal mencakup 16% dari
seluruh kasus stress fracture di tentara AS antara 2009-2012. Lokasi tersering terjadinya
stress fracture adalah pada collar metatarsal II, diikuti metatarsal III dan IV, dengan
metatarsal V sebagai yang paling jarang. Metatarsal II diperkirakan menanggung cedera

8
lebih parah karena kekurangan imobilitas. Donahue dan Sharkey menemukan bahwa
aspek dorsal metatarsal II menanggung dua kali lebih banyak tekanan dibandingkan
metatarsal V saat berjinjit, dan tekanan ini lebih diperparah pada kondisi kelelahan otot.
Risiko terjadinya stress fracture diperparah dengan tidak menggunakan alas kaki, seperti
yang ditunjukkan oleh Giuliani, et al. Pada pasien dengan kecurigaan/adanya konfirmasi
stress fracture pada metatarsal II, III, atau IV, perawatan terutama menggunakan
penghilangan beban dan imobilisasi selama >4 minggu. Cedera tekanan pada metatarsal
V umumnya ditangani dengan berbeda karena tingginya risiko non-union. Pasien dengan
cidera tekanan metatarsal V mengeluhkan nyeri pada sisi lateral area tengah kaki saat
berlari atau melompat. Pada mereka yang mengeluhkan cidera ini cukup awal,
penanganan yang dapat dilakukan antara lain immobilisasi dan penghilangan
pembebanan selama 6 minggu. Pada kasus dimana terapi non-operatif gagal, atau adanya
bukti non-union pada hasil radiologi, penanganan harus menggunakan fiksasi sekrup
intrameduler, dengan tambahan bone graft sesuai keinginan operator. DeLee, et al
melaporkan hasil pada 10 atlit dengan stress fracture metatarsal V yang mendapat
perawatan dengan diksasi sekrup intrameduler tanpa bone grafting. Seluruhnya
mengalami union dengan rerata 7,5 minggu dan kembali berolahraga pada 8,5 minggu.
Salah satu komplikasi pada prosedur ini adalah nyeri pada area pemasangan sekrup,
namun hal ini dapat ditangani dengan modifikasi alas kaki.

Pencegahan
Pengenalan yang sesuai pada pasien dengan risiko tinggi terjadinya cedera akibat
tekanan memiliki kemungkinan mengurangi insidensi. Lappe, et al memeriksa secara
prospektif anggota baru perempuan sebelum dan setelah 8 minggu pelatihan dasar dan
menemukan bahwa mereka yang mendapat stress fracture condong memiliki riwayat
merokok, mengkonsumsi >10 porsi minuman beralkohol setiap minggu, penggunaan
kortikosteroid atau medroxyprogesterone, dan berat badan rendah. Sebagai tambahan,
penulis menemukan bahwa riwayat adanya olaraga teratur sebelum masuk militer
merupakan satu perlindungan terhadap fraktur tekanan. Penemuan ini menyatakan
pentingnya anggota baru untuk melewati screening terhadap faktor-faktor risiko, yang
dapat mengakibatkan pengaturan regimen latihan untuk mengurangi risiko cidera.

9
Konsensus RED-S menawarkan adanya penjelasan yang komprehensif pada faktor
fisiologik yang dapat mengakibatkan cidera serupa. Serupa dengan identifikasi faktor
risiko yang layak, diterapkannya program olahraga yang sesuai adalah suatu metode yang
simpel dan dapat diubah untuk membatasi cidera. Untuk anggota baru atau atlit baru yang
memulai kembali aktivitas, cidera dapat dicegah dengan efektif dengan mengatur
frekuensi, durasi, dan intensitas pelatihan serta beban yang digunakan.
Suplementasi vitamin D dan kalsium adalah salah satu intervensi yang simpel
yang dapat membantu pencegahan cidera, dan efek sampingnya sangat kecil. Suatu
penelitian double-blind menemukan adanya penurunan kasus stress fracture hingga 20%
pada anggota tentara angkatan laut perempuan yang mengkonsumsi 2000mg dan 800IU
vitamin D sebagai suplemen harian. Selain itu, sebuah meta-analisis pada >65.000 pasien
menemukan bahwa suplementasi vitamin D hanya berfungsi untuk mengurangi risiko
fraktur bila digabungkan dengan Ca, tidak memperdulikan usia, jenis kelamin, atau
adanya patahan tulang sebelumnya. Pada pasien wanita dengan trias pasien wanita,
konseling psikologis dan konsultasi gizi sangat penting dalam menjaga kesehatan tulang
dan pencegahan jangka panjang. Terapi lain teah dinilai juga. Penggunaan
bisphosphonate cukup kontroversial baik untuk terapi dan pencegahan stress fracture.
Pada uji double-blind acak mengenai potensi profilaksis dari risedronate pada 324
anggota baru militer, Milgrom, et al menemukan tidak adanya perbedaan signifikan
dalam kejadian stress fracture di tibia, femur, metatarsal, atau stress fracture secara
keseluruhan antara kelompok yang diobati dan placebo. Maka dari itu, penggunaan
bisphosphonate cukup jarang direkomendasikan sebagai pencegahan atau penanganan
utama dari stress fracture.
Sebagai tambahan pada terapi gizi dan oba-obatan, modifikasi kegiatan sehari-
hari dapat berpengaruh dalam mencegah cidera. Perubahan cara berjalan telah dinilai
sebagai salah satu tindakan yang berpotensi untuk mengurangi stress fracture pada pasien
dengan biomekanik yang buruk. Crowell dan Davis meneliti dampak dari cara berjalan
terhadap daya-daya yang bekerja pada tibia pada pelari. Penelitian seperti ini
mengindikasikan pentingnya pergerakan mekanis yang benar selama aktivitas berulang,
terutama pada pasien yang tidak terbiasa dengan metode pelatihan yang digunakan
anggota militer. Namun, apakah pengurangan beban ini akan mengurangi risiko stress

10
fracture tidak dapat dipastikan. Sebagai tambahan, sepatu orthopedi khusus biomekanis
dapat mengurangi risiko stress fracture pada anggota militer dengan mengurangi tekanan
pada tibia. Warden, et al menemukan bahwa program pembebanan mekanis cukup efektif
dalam meningkatkan sifat struktural tulang pada tikus, mengarahkan peneliti untuk
berhipotesa bahwa program serupa dapat diarahkan untuk mengubah struktur tulang pada
manusia dan mencegah stress fracture. Walau belum ada penelitian mengenai terapi
semacam ini pada manusia, mungkin dapat dilakukan persiapan mengenai area ini untuk
penelitian di masa yang akan datang, terutama untuk anggota militer.

Kesimpulan
Dibandingkan dengan populasi umum, anggota militer (terutama anggota baru)
memiliki risiko yang leih tinggi untuk terjadi cidera tekanan pada tulang. Mayoritas
cidera ini terjadi pada pelatihan dasar, dimana anggota baru mendapat kenaikan aktivitas
fisik secara signifikan. Walau patofisiologi yang tepat tentang cidera tekanan masih
diperdebatkan, kelainan nutrisi dan metabolisme cukup berpengaruh. Faktanya bahwa
cidera ini berkembang secara perlahan, dan tingkat kejadian false-negative radiologi yang
cukup tinggi, dapat berakibat tertundanya diagnosis dalam kondisi tidak adanya
pencitraan mutakhir. Walau mayoritas cidera dapat sembuh tanpa operasi dan dengan
mengurangi pembebanan, beberapa pola cidera, terutama yang terjadi pada sisi tarikan
dari tulang, memiliki risiko tinggi untuk berkembang menjadi fraktur dan non-union.
Termasuk didalamnya adalah cidera korteks lateral femur dan anterior tibia. Harusnya
terdapat suatu batas bawah dalam penanganan operatif pada kasus terjadinya delayed
union atau terapi non-operasi yang gagal. Sama pentingnya pada terapi ortopedi, adalah
terapi gangguan sistemik yang mendasarinya, yang dapat menyebabkan pasien cidera
pada awalnya. Suplementasi vitamin D dan kalsium dapat menjadi satu tindakan
profilaksis yang penting dalam menghadapi cidera akibat tekanan. Sebagai tambahan,
anggota baru militer dan atlit dengan gangguan dasar metabolik atau hormon sebaiknya
mendapat perhatian khusus dengan berfokus pada penyeimbangan pemasukan dan
pengeluaran energi. Cidera stress yang menyebabkan fraktur (semakin umum terjadi pada
anggota militer) seringnya membutuhkan pendekatan multimodal baik dalam penanganan
maupun pencegahan.

11