Anda di halaman 1dari 11

Hak asasi manusia (HAM) merupakan hak yang melekat, inherent dalam diri manusia

sebagai malkluk Tuhan. Secara alamiah ada karena keberadaannya sebagai manusia.
Karakteristik HAM dalam dimensi global bersifat universal (tidak diskriminatif / berlaku sama
untuk semua negara), indisible (tidak dapat dipilah-pilah/ harus simultan, interdependent (adanya
saling ketergantunngan satu sama lain antar negara) dan HAM sebagai salah satu tolok ukur
indek demokrasi. Secara global kehidupan berbangasa dan bernegara dikatakan demokratis,
apabila memenuhi indek demokrasi berupa :

1. Adanya check and balance (dalam kektatanegaraan)

2. Adanya free and fair elextion

3. Adanya Good Covernand

4. Adanya Civil Supermacy (supermasi sipil)

5. Adanya kebebasan pers

6. Adanya keberadaan masyarakat madani

7. Adanya promosi dan perlindungan HAM (promotion and protection of human right’s)

8. Adanya kekuasaan kehakiman yang merdeka

Promosi dan perlindungan HAM (promotion and protection of human right’s) merupakan
keniscaan, tidak mungkin untuk dihindari. Reformasi konstitusi Indonesia mengalami
perubahan, dengan issu demokratisasi dan penghargaan terhadap HAM. Pengakuan terhadap
HAM terkait dengan persamaan di muka hukum, telah diatur dalam Pasal 28 D ayat (1)
amandemen ke-2 UUD’45 yang memberikan jaminan terhadap pengakuan, perlindungan dan
kepastian hukum yang adil dan perlakuan yang sama bagi setiap orang. Lebih operasional
Undang-Undang No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia mengatur beberapa hak-hak
dasar yang dilindungi oleh Negara, antara lain hak untuk memperoleh keadilan. Setiap orang,
tanpa diskriminasi berhak memperoleh keadilan dengan mengajukan permohonan, pengaduan,
dan gugatan, baik dalam perkara pidana, perdata, maupun administrasi serta diadili melalui
proses peradilan yang bebas dan tidak memihak, sesuai dengan hukum acara yang menjamin
pemeriksaan secara objektif. Dalam UUD’45 terdapat 4 (empat ) prinsip yang menjadi landasan
penyelenggaraan bantuan hukum, yaitu: (1) Indonesia adalah negara hukum Pasal 1 ayat (3); (2)
Setiap orang berhak memperoleh peradilan yang fair dan impartial; (3) Keadilan harus dapat
diakses semua warga negara tanpa terkecuali (justice for all/accessible to all); (4) Perwujudan
dari negara demokratis.

Dikaitkan dengan upaya promosi dan perlindungan HAM (promotion and protection of
human right’s), bantuan hukum merupakan hak konstitusional setiap warga negara atas jaminan
perlindungan hukum dan jaminan persamaan di depan hukum, sebagai sarana pengakuan HAM.
Mendapatkan bantuan hukum bagi setiap orang adalah perwujudan akses terhadap keadilan
sebagai implementasi dari jaminan perlindungan hukum, dan jaminan persamaan di depan
hukum.

Konstitusi menjamin hak setiap warga neraga mendapat perlakuan yang sama di muka
hukum, termasuk hak untuk mengakses keadilan melalui pemberian bantuan hukum. Meskipun
demikian peradilan yang sangat birokratis, mahal, rumit (prosedural), sifatnya yang isoterik
(hanya dapat dipahami kalangan orang hukum), menyebabkab tidak semua orang mendapatkan
askses dan perlakuan yang sama pada saat berurusan dengan hukum, terutama bagi masyarakat
miskin. Orang kaya dan mempunyai kekuasaan, dengan mudah mengakses dan mendapatkan
“keadilan”, melalui tangan-tangan lawyer (Advokad) yang disewanya. Tidak demikian halnya
kelompok masyarakat miskin, mereka tidak mampunyai kemampuan untuk memahami hukum
dan tidak mampu untuk membayar Advokad, hal demikian menyebabkan tidak ada perlakuan
yang sama dimuka hukum untuk mengakses keadilan. Problem dasar yang muncul adalah tidak
adanya perluasaan akses yang sama bagi setiap warganegara untuk mendapatkan perlakuan yang
sama dimuka hukum, meskipun doktrinnya keadilan harus dapat diakses oleh semua warga
negara tanpa terkecuali (justice for all/accessible to all).

Praktek selama ini menunjukkan, uluran tangan untuk membantu masyarakat miskin
mengakses keadilan sangat-sangat tidak memadai, kalau tidak boleh dikatakan diabaikan.
Aktivitas bantuan hukum yang dilakukan oleh penggiat bantuan hukum, dari lembaga bantuan
hukum kampus, ormas, partai politik, lembaga swadaya masyarakat, semua “mati suri”, karena
terbentur masalah administrasi dan legalisasi praktek bantuan hukum . Keluarnya Undang-
Undang No. 18 Tahun 2003 tentang Advokad, sebagai undang-undang yang megatur profesi
Advokad, justru “memberangus” aktivitas pemberian bantuan hukum untuk golongan
masyarakat tidak mampu. Undang-undang terebut tidak memberikan perluasan akses yang
seluas-luasnya bagi pemberian bantuan hukum cuma-cuma (pro-bono) bagi kelompok
masyarakat miskin, semangatnya adalah semangat monopoli. Profesi advokad, meskipun diakui
sebagai provesi yang mulia(ovissium nobile), realitasnya sebenarnya dia adalah “corporate”,
bukan lembaga nirlaba. Fakta semakin menguatkan hipotesa tersebut melihat praktek yang ada
selama ini, pelayanan advokad jauh dari jangkauan kelompok masyarakat tidak mampu dan
kelompok ”rentan”, komersialisasi dan sikap elitis profesi advokad semakin memberikan gap
yang cuku lebar dengan harapan untuk terealisasinya prinsip ” justice for all/accessible to all.

ADVOKAD DAN BANTUAN HUKUM CUMA-CUMA (PRO-BONO).

Advokad adalah sebuah profesi, yaitu profesi yang memberikan jasa hukum (legal services).
Idealisme profesi advokad bermetaformose sesuai dengan perkembangan jaman. Pada awal
keberadaannya, profesi advokad dinamai sebagai officium nobile atau jabatan yang mulia.
Penamaan itu berkaitan dengan aspek “kepercayaan” dari (pemberi kuasa, klien) yang
dijalankannnya untuk mempertahankan dan memperjuangkan hak-hak kliennya di forum yang
telah ditentukan. (Luhut M.P. Pangaribuan, 1996:1). Berkaitan dengan hal tersebut Yap Thiam
Hien pernah berkata bahwa, “Advokad adalah suatu provesi yang nobel dan penuh pengabdian
kepada pihak yang lemah (buta hukum)”. Dengan berjalannya waktu pengelolaan profesi
advokad dirasa semakin komersial, hal ini berkaitan dengan perubahan tingkat profesionalitas
dan terjadinya tuntutan spesialisasi advokat. Profesi Advokad semakin menjadi lembaga tempat
mencari keuntungan dan meninggalkan sifat-sifat nirlabanya serta bukan lagi sebagai sarana
perjuangan membela hak-hak kaum miskin. Berkaitan dengan hal ini Satjipto Rahardjo,
sebagaimana dikutip oleh Daniel S Lev, pernah menyidir Advokad, bahwa “banyak advokad
kehilangan idealisme, merasa cukup puas dengan kesempatan, dan tidak banyak memikirkan
keadaan negara atau keadaan masyarakat atau nasib profesinya sendiri. (Binziad Kadafi Cs,
2001: xii)
Ada tiga pertanyaan utama, berkaitan dengan pelaksanan Peraturan Pemerintah No. 83 Tahun
2008 tentang Persyaratan dan Tata Cara Pemberian Bantuan Hukum Cuama-Cuma (PP Bantuan
Hukum). Pertanyaan lugasnya adalah apakah Advokad ”mau”, ”mampu” dan ”efektif”.
Sejujurnya dalam diri setiap Advokad secara umum mungkin timbul keengganan untuk
melaksanakan pemberian bantuan hukum (pro-bono). Sifat dari profesi advokad adalah
meberikan jasa hukum, artinya menjual kemampuanya dibidang hukum. Kalau toh dilakukan itu
karena perintah undang-undang, bukan karena kepeduliannya atau penghargaannya terhadap hak
ekosop masyarakat miskin. Jauh sebelum profesi advokad menjadi sangat komersial seperti
sekarang ini, hasil penelitian Pusat Studi Hukum dan Kebijakan (Tahun 2001) membuktikan
bahwa bahwa 62,6 % responden advokad yang diwawancari menyatakan bahwa penyedia
bantuan hukum pro-bono seharusnya adalah pengadilan dengan anggaran penuh dari negara.
(Binziad Kadafi Cs, 2001: 172-173). Fakta tersebut dapat diartikan bahwa sebenarnya advokad
tidak mau melakukan bantuan hukum pro-bono, bantuan hukum probono harus dilakukan oleh
negara dengan biaya oleh negara. Berkenaan dengan kondisi seperti ini Marc Galenter, sebagai
mana dikutip Satjipto Rahardjo (Satjtipto Rahardjo, 2003: 51-52) menyindir bahwa ”profesi
hukum lebih mementingkan fasilitas bisnis ketimbang berusaha untuk meringankan penderitaan
manusia atau menolong manusia”.

Hal ini akan mempengaruhi kualitas advokasi, karena sejatinya ”konsentrasinya” berbeda. Orang
Jawa bilang”ngribeti” atau ”mengganggu” tugas pokok advokad sebagai penyedia jasa hukum
(legal services). Pengertian bantuan hukum lebih bermakna sebagai pemberian bantuan hukum
cuma-cuma (pro-bono) bersifat nirlaba sedangkan jasa hukum merupakan aktivitas profesional
memberikan (”menjual”) jasa bersifat profit. Ditetapkannya pemberian bantuan hukum Cuma-
Cuma merupakan kewajiban bagi Advokad beserta sanksinya, hal ini tidak membuat para
advokad akan menjalankan kewajibannya secara maksimal.

Tidak seimbangnya jumlah pencari keadilan dengan advokad, penyebaran yang tidak merata ,
tidak menyebarnya advokad diseluruh pelosok tanah air dan terpusat di kota-kota berakibat
masyarakat miskin yang sebagaian besar berada dipelosok-pelosok desa tidak akan mampu
terlayani oleh bantuan hukum advokad. Penyediaan bantuan hukum (pro-bono) dalam satu pintu
yang dilaksanakan oleh Advokad/organisasi Advokad telah mempersempit akses bantuan
hukum, sehingga sebagai kebijakan hukum tidak akan efektif, sebab sebelum berlakunya
undang-undang advokad pelayanan bantuan hukum sangat bervariasi /banyak pilihan sehingga
perluasan akses sangat tinggi.

Pada akhirnya keadaan semacam ini secara keseluruhan akan berpengaruh pada kualitas
advokasi yang diberikan oleh Advokad, karena sejatinya ”konsentrasinya” berbeda. Hal ini akan
berdampak pada tiga hal kepada user atau pengguna jasa bantuan hukum pro-bono yaitu,
lemahnya kualitas pelayanan (asal-asalan), tidak berkembangnya perluasasan akses pemberian
bantuan hukum dan terabaikinnya prinsip ”equality before the law”.

Berkaitan dengan realitas dualisme organisasi advokad, dimana masing-masing merasa sah dan
sesuai dengan undang-undang advokat, sehingga juga sah untuk mengemban pelaksanaan
bantuan hukum (pro-bono) apabila dikaitkan pemberian bantuan hukum sebagai kewajiban
advokad dan tidak berkaitan alokasi dana dari negara secara kompetitif justru bisa berdampak
positif. Gengsi organisasi bisa ditunjukkan dengan merebut hati publik dengan kompetisi yang
sehat dalam pemberian advokasi secara sungguh-sungguh. Lain halnya kalau pelaksanaan
bantuan hukum yang dilakukan advokad/organisasi adokad dibiayai oleh anggaran negara, akan
terjadi kerumitan ketika akan menentukan mana organisasi yang sah yang dapat menerima dan
menyalurkan dana negara. Mengingat dalan undang-undang advokad hanya dikenal satu
organisasi Advokad. Idealnya oraganisasi advokad itu harus tunggal sebagaiamana diamanatkan
oleh undang-undang. Hal ini sangat penting untuk menghadirkan oraganisasi advokad yang kuat
sehingga punya posisi tawar (bargaining position) yang kuat khususnya dalam penegakan kode
etik, pengembangan organisasi dan penyiapan sumberdaya (pendikan advokad). Menurut penulis
efektifitas pemberian bantuan hukum Cuma-Cuma yang menjadi mandatori (kewajiban)
advokad, bukan terletak pada masalah terjadinya dualisme organisasi advokad. Perluasan akses
bantuan hukum (pro-bono) justru terkendala oleh minimnya peran negara dan tertutupnya akses
pemberi bantuan diluar advokad/organisasi advokad yang sebelum keluarnya undang-undang
advokad menangani secara penuh pelaksanaan bantuan hukum (pro-bono).

SEBUAH PERBANDINGAN

Sebagai perbandingan, di Australia bantuan hukum dibentuk dan dibiayai oleh negara. Sumber
utama pemberian bantuan hukum dilaksanakan sebuah Komisi Bantuan Hukum yang dibentuk
dan didanai oleh negara. Pemberian kuasa atau yang bertindak sebagai penasihat hukum,
dilakukan oleh staf pengacara Komisi Bantuan Hukum dan Pengacara Privat atau pengacara
yang membuka kantor sendiri. (Cassandra Goldie, 2006: 3-4). Pelaksanaan bantuan hukum di
Australia dilaksanakan secara sinergis oleh pengacara Komisi Bantuan Hukum dan Pengacara
Profesional (Advokad)/PengacaraCivil.

Di Taiwan kondisinya lebih bervariasi, bantuan hukum dapat dilakukan dalam wadah sebuah
organisasi, yaitu organisasi-organisasi yang berada di pemerintahan daerah, asosiasi-asosiasi
pengacara tingkat lokal, dan organisasi-organisasi non pemerintah. Pada tahun 2004 Taiwan
memiliki undang-undang bantuan hukum (Legal Aid Act). Berdasar undang-undang tersebut
dibentuk Yayasan Bantuan Hukum untuk memberikan pelayanan yang merata dan mewujudkan
sumber daya yang terintegrasi serta mengatur pendanaan secara lebih efektif. Ada tiga alasan
pokok keluarnya undang-undang tersebut, yaitu: 1). Biaya pengacara tidak dapat dijangkau oleh
masyarakat secara umum, 2). Biaya putusan pengadilan yang sangat tinggi sehingga tidak
terjangkau masyarakat yang tidak mampu dan 3). Adanya kewajiban untuk menyetorkan uang
jaminan yang besarnya sepertiga dari nilai eksekusi. Untuk mengatasi hal tersebut negara hadir
tidak hanya sebagai regulator, akan tetapi juga aktor dan fasilitator. (Jerry Cheng, 2006: 5-6)

Bantuan hukum di Afrika Selatan duatur dalam Undang-Undang No. 22 Tahun 1969 tentang
Bantuan Hukum (Legal Aid Act, No. 22 of 1969) Munculnya undang-undang ini merupakan
salah satu syarat lahirnya pemerintah baru yang demokratis. Semangat yang mendasarinya
adalah upaya untuk memberikan akses bantuan hukum pada masyarakat, penghormatan dan
menjunjung tinggi pemenuhan keadilan bagi semua. Undang-undang tersebut secara eksplisit
memberikan tanggungjawab kepada negara untuk menyediakan penasihat hukum dan pelayanan
konsultasi bagi masyarakat, terutama masayrakat miskin. Berdasarkan perintah undang-undang
dibentuk Dewan Bantuan Hukum (Legal Aid Board) yang bersifat mandiri meskipun sepenuhnya
dibiayai oleh negara. Selain itu bantuan hukum juga dilaksanakan oleh organisasi non
pemerintah (ornop), Klinik hukum Universitas dan kantor kelompok penasihat hukum. Jadi
pelaksanaan bantuan hukum dilakukan secara sinergis oleh lembaga khusus yang dibentuk oleh
pemerintah yaitu Dewan Bantuan Hukum, ornop /klinik hukum universitas dan kelompok
penasihat hukum (advokat profesional). Dalam satu tahun negara menyediakan anggaran untuk
pelaksanaan bantuan hukum berkisar 60 (enam puluh) sampai 70 (tujuh puluh) juta dolar
Amerika Serikat. (Judge D Mlambo, 2006: 4-5)

Kalu kita lihat dari praktek pelaksanaan bantuan hukum dari beberapa negara ada dua hal
penting yaitu, peran negara dan masalah perluasan akses untuk mendapatkan bantuan hukum.
Dalam banyak negara, bantuan hukum merupakan urusan dan tanggungjawab negara, meskipun
tidak menutup peran masyarakat terutama dari ornop maupun Advokad Profesional. Apa yang
terjadi di Indonesia justru sebaliknya, bantuan hukum hanya diserahkan secara monopoli kepada
Advokad dan oraganisasinya yang nota bene hanya merupakan kerja “sambilan”. Banyak
pemberi bantuan hukum (pro-bono) saat ini benar-benar “tiarap” atau “mati suri”, mereka yang
selama ini terbukti punya kepedulian dan pembelaan hukum terhadap masyarakat miskin
terpaksa harus tersingkir dan tidak punya akses sama sekali. Negara telah melapaskan tanggung
jawab konstitusionalnya untuk mlakukan perluasan akses hak konstitusional masyarakat miskin
untuk mendapat bantuan hukum.

PERAN NEGARA MENUJU PERLUASAN AKSES BANTUAN HUKUM


Relaitas di atas, perlu jalan keluar dengan kebijakan negara yang komprehensif dan dibutuhkan
political will yang kuat. Saat ini negara memang berat dari sisi anggaran, akan tetapi bukan
berarti perluasan akses pemberian bantaun hukum harus diabaikan, karena hak tersebut
merupakan hak asasi manusia sejajar dengan hak untuk mendapat pendidikan dan pelayanan
kesehatan yang layak, ”ia” juga merupakan hak kontitusional. Pembentukan undang-undang
bantuan hukum, yang mengatur kelembagaan, mekanisme dan pendananan, segera direalisir
untuk memberikan alternatif dan perluasan akses pemberian bantuan hukum yang tidak semata-
mata tergantung dari kepedulian Advokad.

Seabagi hal yang bersifat sementara dan khusus, dalam arti sebelum ada undang-undang bantuan
hukum yang memberikan perluasan akses pemberian bantuan hukum, Peraturan Pemerintah No.
83 Tahun 2008 tentang Persyaratan dan Tata Cara Pemberian Bantuan Hukum Cuama-Cuma (PP
Bantuan Hukum), sebagai amanat Ps 22 UU Advokad cukup memadai, untuk mengatur secara
khusus tanggungjawab dan kewajiban Advokad untuk memberikan bantuan hukum (pro-bono),
akan tetapi sebagai upaya maksimal untuk memberikan perluasan akses pemberian bantuan
hukum, hal tersebut jauh dari harapan.

Dari sudut penghargaan dan promosi hak asasi manusia sebagaimana tersebut UUD’45, hak
untuk mendapatkan bantuan hukum secara Cuma-Cuma bagi kelompok masyarakat tidak mampu
adalah merupakan hak konstitusional. Dari sudut perbandingan, pelaksanaan bantuan hukum
bagi masyarakat tidak mampu terbukti juga merupakan tanggungjawab negara. Sehingga
menyerahkan kewenangan pemberian bantuan hukum semata-mata kepada Advokad, negara
telah melepaskan tanggungjawab konstitusionalnya untuk memperluas access to legal counsel
dan acces to justice.

Berdasarkan uraian tersebut diatas penulis berpendapat, bahwa peran negara harus diperluas.
Negara tidak hanya berperan sebagai regulator, lebih dari itu harus bertindak sebagai aktor dan
fasilitator. Perlu dibentuk undang-undang bantuan hukum yang memperluas akses pemberian
bantuan hukum, sehingga tidak menjadi monopoli advokad dan organisasinya. Sejalan dengan
pandangan tersebut, Luhut M.P Pangaribuan selaku Advokad senior menyatakan bahwa
”memang tidak cukup mengatur masalah bantuan hukum dalam rancangan undang-undang
advokad (pen. menjadi Ps. 22 UU No. 18 Tahun 2003 tentang Bantuan Hukum). Pendapat
tersebut juga didukung Mas Achmad Santosa, dengan mengatakan bahwa ”pembentukan
undang-undang khusus mengenai bantuan hukum dimungkinkan sepanjang materi
pengaturannya bersifat memfasilitasi dan tidak membatasi. (Binziad Kadafi Cs, 2001: 168).

Realitas selama ini tulang punggung atau bisa dikatakan sebagai pelaku utama bantuan hukum
(pro-bono) adalah lembaga – lembaga bantuan hukum kampus, organisasi-organisasi
masyarakat, partai politik dan organisasi non pemerintah lainnya. Sehingga kalau kita
berbicara perluasan akses prinsip “equality before the law”, ”access to legal counsil” dan ”justice
for all”, Peraturan Pemerintah No. 83 Tahun 2008 tentang Persyaratan dan Tata Cara Pemberian
Bantuan Hukum Cuama-Cuma (PP Bantuan Hukum) jauh dari memadai karena disamping
mempersempit ruang ringkup bantuan hukum (pro-bono), pelaksanaannya tidak akan optimal
karena merupakan kerja ”sambilan” bukan utama, tergantung tingkat kepedulian atau rasa
kemanusiaan (cahrity) Advokad, jumlah advokad sangat tidak memadai dibanding jumlah
penduduk (miskin) Indonesia dan kebanyakan Advokad berdomisili dipusat kota besar.

Untuk memperluas akses bantuan hukum, model yang penulis tawarkan adalah melalui model
sistem tiga jalur (triple tract system), yaitu negara (pemerintah) membentuk lembaga khusus
sebagai pembela umum (public defender) yang sepenuhnya didanai oleh negara untuk
melaksanakan bantuan hukum, disamping juga bantuan hukum yang dilakukan penggiat bantuan
hukum (pro-bono) dan oleh Advokad/Organisasi Advokad. Dalam hal ini anggaran bantuan
hukum tidak hanya untuk membiayai lembaga khusus yang dibentuk negara, akan tetapi juga
dapat diakses (membiayai) ornop-ornop penggiat bantuan hukum (pro-bono). Untuk
menghindarkan ”perebutan” segment pasar Advokad, dalam undang-undang bantuan hukum
harus harus diatur secara jelas kriteria masyarakat yang bisa ditangani oleh lembaga khusus dan
ornop penggiat bantuan hukum (pro-bono). Sehingga tidak ada kekawatiran dari Advokad bahwa
segmen pasarnya akan direbut oleh lembaga khusus bantuan hukum dan penggiat bantuan hukum
(pro-bono).

Bekaitan dengan hal ini penulis memberikan apresiasi yang tinggi terhadap prakarsa Yayasan
Lembaga Bantuan Hukum (YLBH) dan Lembaga Bantuan Hukum Jakarta (LBH Jakarta)
didukung oleh Indonesia-Australia Legal Development Facility (IALDF) dan Australi’s Aid
(Ausaid) yang telah berhasil menginisiasi draf bantuan hukum (draf RUU BH) yang cukup
lengkap dan mendetail. Syukur Alhamdulillah, dari berita terkhir yag saya terima draf RUU
Bantuan Hukum tersebut sudah masuk dalam Prolegnas tahun 2010 sehingga cita-cita kita
bersama untuk memperluas akses pemberian bantuan hukum terhadap masyarakat tidak mampu
dapat segera terlaksana.

Penulis adalah Dosen Fakultas Hukum UNDIP, Advokat, Mantan Ketua Badan Konsultasi
Hukum UNDIP, Anggota TIM Perumus Penyusunan Draf Bantuan Hukum (YLBHI / LBH
Jakarta Kerjasama dengan AUSAID dan IALDF). Makalah di Sampaikan dalam Kegiatan
Seminar Bantuan Hukum dan Akses terhadap Keadilan Bagi Masyarakat Marginal, Semarang 09
Pebruari 2010.

Daftar Rujukan

Binziad Kadafi Cs, Advokad Indonesia Mencari Legitimasi Suatu Studi Tentang Tanggungjawab
Profesi Hukum di Indonesia, Kata Pengantar Daniel S. Lev, Pusat Studi Hukum dan Kebijakan,
Jakarta, 2001, hal. xii

Cassandra Goldie, Legal Aid and Acces to Justice in Australia; The Role of Legal Aid to
Promote Acces to Justice for Marginalized in The Contex of Human Rights, Makalah Seminar
Internasional Tentang “Peranan Bantuan Hukum dalam Memajukan Akses Keadilan Masyarakat
Marjinan dalam Kontek Hak Asasi Manusia, Jakarta, 2006, hal 3-4)

Jerry Chang, Legal Aid Movement in Taiwan and Its Present Status, Makalah Seminar
Internasional Tentang “Peranan Bantuan Hukum dalam Memajukan Akses Keadilan Masyarakat
Marjinan dalam Kontek Hak Asasi Manusia, Jakarta, 2006, hal 5-6)

Judge D Mlambo, Justice for All; South African National Report, Makalah Seminar
Internasional Tentang “Peranan Bantuan Hukum dalam Memajukan Akses Keadilan Masyarakat
Marjinan dalam Kontek Hak Asasi Manusia, Jakarta, 2006, hal 4-5)

Luhut M.P. Pangaribuan, Advokad dan Contempt of Court Suatu Proses di Dewan Kehormatan
Profesi, Jakarta, Penerbit Djambatan, 1996, hal. 1

Sajtipto Rahardjo, Sisi-Sisi Lain Hukum Di Indonesia, Jakarta, Penerbit Buku Kompas, 2003,
hal. 50-51