Anda di halaman 1dari 38

1

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Batu empedu atau cholelithiasis adalah timbunan kristal di dalam kandung
empedu atau di dalam saluran empedu atau kedua-duanya. Dewasa ini penyakit
batu empedu (cholelitiasis) yang terbatas pada kantung empedu biasanya
asimtomatis dan menyerang 10 – 20 % populasi umum di dunia. Diagnosis
biasanya ditegakkan dengan ultrasonografi abdomen. Kira-kira 20% wanita dan
10 % pria usia 55 sampai 65 tahun memiliki batu empedu. Cholesistektomi
diindikasikan pada pasien simtomatis yang terbukti menderita penyakit batu
empedu (cholelitiasis). Indikasi laparoskopi untuk Cholesistektomi sama dengan
indikasi open Cholesistektomi. Karena teknik minimal invasif memiliki aplikasi
diagnosis dan terapi dibanyak pembedahan, bedah laparoskopi meningkat
penggunaannya baik pada pasien rawat inap ataupun rawat jalan (Haryono, 2013).
Berdasarkan data World Health Organization, menyebutkan pertumbuhan
jumlah penderita cholelitiasis pada tahun 2012 telah meningkat 50% dari tahun
sebelumnya. Sekitar 70-80 persen tindakan operasi di negara-negara maju akan
menggunakan teknik ini. Di Indonesia, teknik bedah laparoskopi mulai dikenal di
awal 1990-an ketika tim dari RS Cedar Sinai California AS mengadakan live
demo di RS Husada Jakarta. Selang setahun kemudian, Dr Ibrahim Ahmadsyah
dari RS Cipto Mangunkusumo melakukan operasi laparoskopi pengangkatan batu
dan kantung empedu (Laparoscopic Cholecystectomy) yang pertama. Sejak 1997,
Laparoscopic Cholecystectomy menjadi prosedur baku untuk penyakit-penyakit
kantung empedu di beberapa rumah sakit besar di Jakarta dan beberapa kota besar
di Indonesia (RISKESDAS, 2012).
Batu empedu yang ditemukan pada kandung empedu di klasifikasikan
berdasarkan bahan pembentuknya sebagai batu kolesterol, batu pigmen dan batu
campuran. Lebih dari 90 % batu empedu adalah kolesterol (batu yang
mengandung > 50% kolesterol) atau batu campuran ( batu yang mengandung 20-
50% kolesterol). 10 % sisanya adalah batu jenis pigmen, yang mana mengandung
<20% kolesterol. Faktor yang mempengaruhi pembentukan batu antara lain adalah
2

keadaan stasis kandung empedu, pengosongan kandung empedu yang tidak


sempurna dan kosentrasi kalsium dalam kandung empedu.Batu kandung empedu
merupakan gabungan material mirip batu yang terbentuk di dalam kandung
empedu.
Laparoskopi adalah sebuah prosedur pembedahan minimally invasive
dengan memasukkan gas CO2 ke dalam rongga peritoneum untuk membuat ruang
antara dinding depan perut dan organ viscera, sehingga memberikan akses
endoskopi ke dalam rongga peritoneum tersebut. Dukungan kepada pasien yang
baik dari berbagai faktor dapat mempengaruhi pasien dalam mengambil
keputusan terapi hemodialisis sebagai modalitas pengobatan yang akan dijalani.
Peran petugas kesehatan termasuk didalamnya perawat sebagai pemberi
pelayanan kesehatan, edukator dan konselor memberikan pengaruh terhadap
pasien dalam menentukan keputusan untuk penatalaksanaan penyakitnya, serta
dukungan kepada pasien dalam mengindentifikasi strategi koping yang efektif dan
aman untuk menghadapi berbagai masalah yang ditimbulkan. Sehingga disusun
dalam “Asuhan Keperawatan Perioperatif Pada Pasien dengan Cholelithiasis di
Instalasi Bedah Sentral RSUD dr. Doris Sylvanus Palangka Raya”.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas dirumuskan rumusan masalah “Bagaimana
Asuhan Keperawatan Perioperatif Pada Pasien dengan Cholelithiasis di Instalasi
Bedah Sentral RSUD dr. Doris Sylvanus Palangka Raya?”
1.3 Tujuan Penulisan
Didapatkan kemampuan menyusun laporan pendahuluan dan asuhan
keperawatan tentang cholelithiasis.
1.3.1 Tujuan Khusus
Mampu menerapkan proses keperawatan dengan masalah :
1.3.1.1 Pengkajian asuhan keperawatan pada pasien dengan cholelithiasis.
1.3.1.2 Menentukan diagnosa keperawatan pada pasien dengan cholelithiasis.
1.3.1.3 Merumuskan intervensi/perencanaan keperawatan pada pasien dengan
cholelithiasis.
1.3.1.4 Melakukan implementasi keperawatan pada pasien dengan cholelithiasis.
1.3.1.5 Melakukan evaluasi keperawatan pada pasien dengan cholelithiasis.
3

1.3.1.6 Membuat dokumentasi keperawatan pada pasien dengan cholelithiasis.


1.4 Manfaat
Manfaat dalam penulisan ini terbagi menjadi teoritis dan praktis yaitu sebagai
berikut:
1.4.1 Teoritis
Adanya asuhan keperawatan ini diharapkan dapat menambah ilmu
pengetahuan dan dapat menjadi bahan masukan dan informasi serta sebagai bahan
pembelajaran dan untuk memperkuat teori serta meningkatkan mutu profesi
keperawatan dalam melaksanakan asuhan keperawatan dengan gagal ginjal
kronik.
1.4.2 Praktis
1.4.2.1 Bagi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK)
Manfaat penelitian bagi perkembangan ilmu pengetahuan teknologi
dilaksanakan sebagai kosntribusi dalam mengembangkan ilmu pengetahuan serta
dapat diaplikasikan dalam asuhan keperawatan.
1.4.2.2 Bagi Mahasiswa
Manfaat asuhan keperawatan ini diharapkan mahasiswa dapat
mengembangkan dan mengaplikasikan ilmu pengetahuan tentang keperawatan
yang didapat selama pendidikan dengan kenyataan yang ada di lapangan.
4

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian
Batu empedu atau cholelithiasis adalah timbunan kristal di dalam kandung
empedu atau di dalam saluran empedu atau kedua-duanya. Batu kandung empedu
merupakan gabungan beberapa unsur dari cairan empedu yang mengendap dan
membentuk suatu material mirip batu di dalam kandung empedu atau saluran
empedu. Komponen utama dari cairan empedu adalah bilirubin, garam empedu,
fosfolipid dan kolesterol. Batu yang ditemukan di dalam kandung empedu bisa
berupa batu kolesterol, batu pigmen yaitu coklat atau pigmen hitam, atau batu
campuran (Haryono, 2013).
Lokasi batu empedu bisa bermacam–macam yakni di kandung empedu,
duktus sistikus, duktus koledokus, ampula vateri, di dalam hati. Kandung empedu
merupakan kantong berbentuk seperti buah alpukat yang terletak tepat dibawah
lobus kanan hati. Empedu yangdisekresi secara terus menerus oleh hati masuk
kesaluran empedu yang kecil di dalam hati. Saluran empedu yang kecil-kecil
tersebut bersatu membentuk dua saluran yang lebih besar yang keluar dari
permukaan bawah hati sebagai duktus hepatikus kanan dan kiri yang akan bersatu
membentuk duktus hepatikus komunis. Duktus hepatikus komunis bergabung
dengan duktus sistikus membentuk duktus koledokus. Pada banyak orang,duktus
koledokus bersatu dengan duktus pankreatikus membentuk ampula vateri sebelum
bermuara ke usus halus. Bagian terminal dari kedua saluran dan ampula
dikelilingi oleh serabut otot sirkular, dikenal sebagai sfingter oddi (Nursalam &
Fransisca, 2010).
2.2 Etiologi
Etiologi batu empedu masih belum diketahui dengan sempurna namun
yang paling penting adalah gangguan metabolisme yang disebabkan oleh
perubahan susunan empedu, stasis empedu dan infeksi kandung empedu. Batu
empedu dapat terjadi dengan atau tanpa factor resiko dibawah ini. Namun,
semakin banyak factor resiko yang dimiliki seseorang, semakin besar
kemungkinan untuk terjadinya batu empedu.
5

2.2.1 Jenis Kelamin


Wanita mempunyai resiko 3 kali lipat untuk terkena batu empedu
dibandingkan dengan pria. Ini dikarenakan oleh hormone esterogen
berpengaruh terhadap peningkatan eskresi kolesterol oleh kandung
empedu. Kehamilan, yang meningkatkan kadar esterogen juga
meningkatkan resiko terkena batu empedu. Penggunaan pil kontrasepsi
dan terapi hormone (esterogen) dapat meningkatkan kolesterol dalam
kandung empedu dan penurunan aktivitis pengosongan kandung empedu.
2.2.2 Usia
Resiko untuk terkena batu empedu meningkat sejalan dengan
bertambahnya usia. Orang dengan usia > 60 tahun lebih cenderung untuk
terkena batu empedu dibandingkan dengan orang usia yang lebih muda
2.2.3 Berat badan (BMI)
Orang dengan Body Mass Index (BMI) tinggi, mempunyai resiko lebih
tinggi untuk terjadi batu empedu. Ini dikarenakan dengan tingginy BMI
maka kadar kolesterol dalam kandung empedu pun tinggi, dan juga
mengurasi garam empedu serta mengurangi kontraksi/pengosongan
kandung empedu.
2.2.4 Makanan
Intake rendah klorida, kehilangan berat yang cepat (seperti setelah operasi
gastrointestinal) mengakibatkan gangguan terhadap unsur kimia dari
empedu dan dapat menyebabkan penurunan kontraksi kandung empedu.
2.2.5 Riwayat keluarga
Orang dengan riwayat keluarga batu empedu mempunyai resiko lebih
besar dibandingkan dengan tanpa riwayat keluarga
2.2.6 Aktifitas fisik
Kurangnya aktifitas fisik berhubungan dengan peningkatan resiko terjadi
batu empedu. Ini mungkin disebabkan oleh kandung empedu lebih sedikit
berkontraksi.
2.2.7 Penyakit usus halus
Penyakit yang dilaporkan berhubungan dengan batu empedu adalah crhon
disease, diabetes, anemia sel sabit, trauma, dan ileus paralitik
6

2.2.8 Nutrisi intravena jangka lama


Nutirisi intravena jangka lama mengakibatkan kandung empedu tidak
terstimulasi untuk berkontraksi, karena tidak ada makanan/nutrisi yang
melewati intestinal. Sehingga resiko untuk terbentuknya batu menjadi
meningkat dalam kandung empedu.
2.3 Anatomi Fisiologi

Sistem pencernaan atau sistem gastroinstestinal (mulai dari mulut sampai


anus) adalah sistem organ dalam manusia yang berfungsi untuk menerima
makanan, mencernanya menjadi zat-zat gizi dan energi, menyerap zat-zat gizi ke
dalam aliran darah serta membuang bagian makanan yang tidak dapat dicerna atau
merupakan sisa proses tersebut dari tubuh. Saluran pencernaan terdiri dari mulut,
tenggorokan (faring), kerongkongan, lambung, usus halus, usus besar, rektum dan
anus. Sistem pencernaan juga meliputi organ-organ yang terletak diluar saluran
pencernaan, yaitu pankreas, hati dan kandung empedu (Nursalam & Fransisca,
2010).
7

2.4 Patofisiologi
Batu empedu yang ditemukan pada kandung empedu di klasifikasikan
berdasarkan bahan pembentuknya sebagai batu kolesterol, batu pigmen dan batu
campuran. Lebih dari 90 % batu empedu adalah kolesterol (batu yang
mengandung > 50% kolesterol) atau batu campuran ( batu yang mengandung 20-
50% kolesterol). 10 % sisanya adalah batu jenis pigmen, yang mana mengandung
<20% kolesterol. Faktor yang mempengaruhi pembentukan batu antara lain adalah
keadaan stasis kandung empedu, pengosongan kandung empedu yang tidak
sempurna dan kosentrasi kalsium dalam kandung empedu.Batu kandung empedu
merupakan gabungan material mirip batu yang terbentuk di dalam kandung
empedu. Pada keadaan normal, asam empedu, lesitin dan fosfolipid membantu
dalam menjaga solubilitas empedu. Bila empedu menjadi bersaturasi tinggi
(supersaturated) oleh substansi berpengaruh (kolesterol, kalsium, bilirubin), akan
berkristalisasi dan membentuk nidus untuk pembentukan batu. Kristal yang
terbentuk dalam kandung empedu, kemudian lama kelamaan tersebut bertambah
ukuran, beragregasi, melebur dan membentuk batu. Factor motilitas kandung
empedu dan biliary stasis merupakan predisposisi pembentukan batu campuran
(Haryono, 2013).
8

2.5 WOC
9
10
11

2.6 Manifestasi Klinis


1) Nyeri daerah midepigastrium
2) Mual dan muntah
3) Tachycardia
4) Diaphoresis
5) Demam
6) Flatus, rasa beban epigastrium, heart burn
7) Nyeri abdominal atas kronik
8) Jaundice
2.7 Komplikasi
Komplikasi dari kolelitiasis diantaranya adalah :
1) Empiema kandung empedu, terjadi akibat perkembangan kolesistitis akut
dengan sumbatan duktus sistikus persisten menjadi superinfeksi empedu yang
tersumbat disertai kuman kuman pembentuk pus.
2) Hidrops atau mukokel kandung empedu terjadi akibat sumbatan
berkepanjangan duktus sitikus.
3) Gangren, gangrene kandung empedu menimbulkan iskemia dinding dan
nekrosis jaringan berbercak atau total.
4) Perforasi : Perforasi lokal biasanya tertahan oleh adhesi yang ditimbulkan
oleh peradangan berulang kandung empedu. Perforasi bebas lebih jarang
terjadi tetapi mengakibatkan kematian sekitar 30%.
5) Pembentukan fistula
6) Ileus batu empedu : obstruksi intestinal mekanik yang diakibatkan oleh
lintasan batu empedu yang besar kedalam lumen usus.
7) Empedu limau (susu kalsium) dan kandung empedu porcelain.
2.8 Pemeriksaan Penunjang
2.8.1 Pemeriksaan Sinar-X Abdomen
Pemeriksaaan sinar-X abdomen dapat dilakukan jika terdapat kecurigaan
akan penyakit kandung empedu dan untuk menyingkirkan penyebab gejala
yang lain. Namun demikian, hanya 15% hingga 20% batu empedu yang
mengalami cukup kalsifikasi untuk dapat tampak melalui pemeriksaan
sinar-X.
12

2.8.2 Ultrasonografi.
Pemeriksaan USG telah menggantikan kolesistografi oral sebagai prosedur
diagnostic pilihan karena pemeriksaan ini dapat dilakukan dengan cepat
serta akurat, dan dapat digunakan pada penderita disfungsi hati dan
ikterus. Disamping itu, pemeriksaan USG tidak membuat pasien terpajan
radiasi ionisasi. Prosedur ini akan memberikan hasil yang paling akurat
jika pasien sudah berpuasa pada malam harinya sehingga kandung
empedunya berada dalam keadaan distensi. Penggunaan ultrasound
berdasarkan pada gelombang suara yang dipantulkan kembali.
Pemeriksaan USG dapat mendeteksi kalkuli dalam kandung empedu atau
duktus koledokus yang mengalami dilatasi. Dilaporkan bahwa USG
mendeteksi batu empedu dengan akurasi 95%.
2.8.3 Pemeriksaan Radionuklida atau Koleskintografi
Koleskintografi telah berhasil dalam membantu menegakkan diagnosis
kolelisistitis. Dalam prosedur ini, preparat radioaktif disuntikkan melalui
intravena. Preparat ini kemudian diambil oleh hepatosit dan dengan cepat
diekskresikan dalam system bilier. Selanjutnya dilakukan pemindaian
saluran empedu untuk mendapatkan gambar kandung empedu dan
percabangan bilier. Pemeriksaan ini lebih mahal daripada USG,
memerlukan waktu yang lebih lama untuk mengerjakannya, membuat
pasien terpajan sinar radiasi, dan tidak dapat mendeteksi batu empedu.
Penggunaannya terbatas pada kasus-kasus yang dengan pemeriksaan USG,
diagnosisnya masih belum dapat disimpulkan.
2.8.4 Kolesistografi.
Meskipun sudah digantikan dengan USG sebagai pemeriksaan pilihan,
kolesistografi masih digunakan jika alat USG tidak tersedia atau bila hasil
USG meragukan. Kolangiografi oral dapat dilakukan untuk mendeteksi
batu empedu dan mengkaji kemampuan kandung empedu untuk
melakukan pengisian, memekatkan isinya, berkontraksi serta
mengosongkan isinya. Media kontras yang mengandung iodium yang
diekskresikan oleh hati dan dipekatkan dalam kandung empedu diberikan
13

kepada pasien. Kandung empedu yang normal akan terisi oleh bahan
radiopaque ini. Jika terdapat batu empedu, bayangannya akan tampak pada
foto rontgen. Preparat yang diberikan sebagai bahan kontras mencakup
asam iopanoat (Telepaque), iodipamie meglumine (Cholografin) dan
sodium ipodat (Oragrafin). Semua preparat ini diberikan dalam dosis oral,
10-12 jam sebelum dilakukan pemeriksaan sinar-X. sesudah diberikan
preparat kontras, pasien tidak boleh mengkonsumsi apapun untuk
mencegah kontraksi dan untuk pengosongan kandung empedu.
Kepada pasien harus ditanyakan apakah ia mempunyai riwayat alergi
terhadap yodium atau makanan laut. Jika tidak ada riwayat alergi, pasien
mendapat preparat kontras oral pada malam harinya sebelum pemeriksaan
radiografi dilakukan. Foto rontgen mula-mula dibuat pada abdomen
kuadaran kanan atas. Apabila kandung empedu tampak terisi dan dapat
mengosongkan isinya secara normal serta tidak mengandung batu, kita
dapat menyimpulkan bahwa tidak terjadi penyakit kandung empedu.
Apabila terjadi penyakit kandung empedu, maka kandung empedu tersebut
mungkin tidak terlihat karena adanya obstruksi oleh batu empedu.
Pengulangan pembuatan kolesistogram oral dengan pemberian preparat
kontras yang kedua mungkin diperlukan jika kandung empedu pada
pemeriksaan pertama tidak tampak.
Kolesistografi pada pasien yang jelas tampak ikterik tidak akan
memberikan hasil yang bermanfaat karena hati tidak dapat
mengekskresikan bahan kontras radiopaque kedalam kandung empedu
pada pasien ikterik. Pemeriksaan kolesistografi oral kemungkinan besar
akan diteruskan sebagai bagian dari evaluasi terhadap pasien yang telah
mendapatkan terapi pelarutan batu empedu.
2.9 Konsep Dasar Laparascopy
Laparoskopi adalah sebuah prosedur pembedahan minimally invasive dengan
memasukkan gas CO2 ke dalam rongga peritoneum untuk membuat ruang antara
dinding depan perut dan organ viscera, sehingga memberikan akses endoskopi ke
dalam rongga peritoneum tersebut.Teknik laparoskopi atau pembedahan
minimally invasive diperkirakan menjadi trend bedah masa depan.
14

Di Indonesia, teknik bedah laparoskopi mulai dikenal di awal 1990-an ketika


tim dari RS Cedar Sinai California AS mengadakan live demo di RS Husada
Jakarta. Selang setahun kemudian, Dr Ibrahim Ahmadsyah dari RS Cipto
Mangunkusumo melakukan operasi laparoskopi pengangkatan batu dan kantung
empedu (Laparoscopic Cholecystectomy) yang pertama. Sejak
1997, Laparoscopic Cholecystectomy menjadi prosedur baku untuk penyakit-
penyakit kantung empedu di beberapa rumah sakit besar di Jakarta dan beberapa
kota besar di Indonesia.
Beberapa keuntungan dari tindakan laparascopy ini antara lain :
1) Nyeri pasca bedah jauh lebih ringan
2) Membantu menegakkan diagnosa lebih akurat
3) Proses pemulihan lebih cepat
4) Rawat inap lebih singkat
5) Luka bekas operasi lebih kecil
Posisi pasien operasi Laparascopy Chole adalah pasien tidur terlentang dalam
posisi anti trendelenburg, miring kekiri 30° kearah operator, operator berada
disebelah kiri pasien, asisten dan instrumen sebelah kanan pasien
15

Laparoscopy cholelitiasis diindikasikan pada pasien simtomatis yang


terbukti menderita penyakit batu empedu (cholelitiasis). Indikasi laparoskopi
untuk Cholesistektomi sama dengan indikasi open Cholesistektomi.Keuntungan
melakukan prosedur laparoskopi pada cholesistektomi yaitu: laparoscopic
cholesistektomi menggabungkan manfaat dari penghilangan gallblader dengan
singkatnya lama tinggal di rumah sakit, cepatnya pengembalian kondisi untuk
melakukan aktivitas normal, rasa sakit yang sedikit karena torehan yang kecil dan
terbatas, dan kecilnya kejadian ileus pasca operasi dibandingkan dengan teknik
open laparotomi.
Namun kerugiannya, trauma saluran empedu lebih umum terjadi setelah
laparoskopi dibandingkan dengan open cholesistektomi dan bila terjadi
pendarahan perlu dilakukan laparotomi.. Kontra indikasi pada Laparoskopi
cholesistektomi antara lain: penderita ada resiko tinggi untuk anestesi umum;
penderita dengan morbid obesity; ada tanda-tanda perforasi seperti abses,
peritonitis, fistula; batu kandung empedu yang besar atau curiga keganasan
kandung empedu; dan hernia diafragma yang besar.
2.9.1 Teknik Penyimpanan Instrumen Laparascopy
Instrumen- instrumen laparascopy idealnya disimpan dalam almari kaca
disertai dengan penghangat sebesar 45 watt.

Teknik Mensterilkan

Alat medis harus didekontaminasi secara menyeluruh sebelum digunakan,


termasuk instrumen laparascopy. Bahan untuk mensterilkan harus mendapatkan
kontak dengan permukaan alat agar proses sterilisasi pada objek tersebut dapat
terjadi. Ada 2 macam sterilisasi yang dapat digunakan, yaitu :
1. Sterilisasi Suhu Tinggi
Teknik sterilisasi suhu tinggi menggunakan uap air sebagai
medianya, dengan mekanisme koagulasi sel protein. Suhu yang digunakan
antara 1100 – 1340 C. Tetapi, tidak semua instrumen dapat disterilkan
16

dengan suhu tinggi, contohnya : instrumen yang terbuat dari kaca/lensa,


karet, atau plastik
Keuntungannya :
- Tidak beracun
- Ramah lingkungan
- Waktu pemrosesan yang cepat
- Ekonomis
- Efektif untuk alat-alat logam dan tenun

Mesin Autoclave

2. Sterilisasi Suhu Rendah


Teknik sterilisasi suhu rendah digunakan untuk memproses
instrumen yang tidak tahan panas. Teknik ini dilakukan dengan
menggunakan mesin Sterrad / Plasma (hydrogen Peroxide), mesin EO gas
/ ethylene oxide (EtO), atau menggunakan cairan cidex / Glutaraldehyde
(Desinfektan Tingkat Tinggi).
Sterilisasi dengan menggunakan mesin Sterrad / Plasma (hydrogen
Peroxide) membutuhkan waktu selama 45 menit. Sebelumnya, instrumen
dikemas dalam kantong medipac.
17

Sterilisasi dengan mesin EO gas / ethylene oxide (EtO) hanya dapat


diterapkan pada instrumen fiber optic, alat-alat anestesi, alat-alat respirator, dan
alat-alat implant. Waktu yang dibutuhkan adalah 3,5 jam.

Sterilisasi dengan menggunakan cairan cidex / Glutaraldehyde


(Desinfektan Tingkat Tinggi) digunakan untuk mensterilkan alat-alat laparascopy.
Dilakukan dengan merendam instrumen dalam campuran 16 cc cidex dan 4 liter
steril water selama 30 menit. Selama proses merendam, pastikan semua bagian
instrumen terendam, atur posisi agar tidak saling silang, untuk kabel sebaiknya
direndam dalam posisi melingkar. Selanjutnya, tutup bak perendaman, agar tidak
terjadi penguapan konsentrat cidex. Setelah perendaman selesai, bilas dengan
steril water, kemudian keringkan dengan lap kain steril.

Teknik Pencucian
Instrumen habis pakai dibersihkan dari kotoran dan darah. Kemudian
dilepas perbagian dengan hati-hati dan direndam dalam cairan cidex.
18
19

BAB 3
ASUHAN KEPERAWATAN TEORI

3.1 Pengkajian
3.1.1 Pengkajian fase Pre Operatif
1) Pengkajian Psikologispasienmeliputi perasaan takut / cemas dan keadaan
emosi pasien
2) Pengkajian Fisik pasien pengkajian tanda-tanda vital : tekanan darah, nadi,
pernafasan dan suhu.
3) Sistem integumen pasien apakah pasien pucat, sianosis dan adakah
penyakit kulit di area badan.
4) Sistem Kardiovaskuler pasien apakah ada gangguan pada sisitem cardio,
validasi apakah pasien menderita penyakit jantung ?, kebiasaan minum
obat jantung sebelum operasi., Kebiasaan merokok, minum alcohol,
Oedema, Irama dan frekuensi jantung.
5) Sistem pernafasan pasien apakah pasien bernafas teratur dan batuk secara
tiba-tiba di kamar operasi.
6) Sistem gastrointestinal pasien apakah pasien diare ?
7) Sistem reproduksi pasien apakah pasien wanita mengalami menstruasi ?
8) Sistem saraf pasien bagaimana kesadaran ?
9) Validasi persiapan fisik pasien. Apakah pasien puasa, lavement, kapter,
perhiasan, Make up, Scheren, pakaian pasien / perlengkapan operasi dan
validasi apakah pasien alaergi terhadap obat ?
3.1.2 Pengkajian fase Intra Operatif
Hal-hal yang dikaji selama dilaksanakannya operasi bagi pasien yang diberi
anaesthesi total adalah yang bersifat fisik saja, sedangkan pada pasien yang diberi
anaesthesi lokal ditambah dengan pengkajian psikososial. Secara garis besar yang
perlu dikaji adalah :
1) Pengkajian mental pasienBila pasien diberi anaesthesi lokal dan pasien
masih sadar atau terjaga maka sebaiknya perawat menjelaskan prosedur
yang sedang dilakukan terhadapnya dan memberi dukungan agar pasien
tidak cemas atau takut menghadapi prosedur tersebut.
20

2) Pengkajian fisikpasienTanda-tanda vital (bila terjadi ketidaknormalan


maka perawat harus memberitahukan ketidaknormalan tersebut kepada
ahli bedah).
3) Transfusi dan infuse pasien. Monitor flabot sudah habis apa belum.
4) Pengeluaran urin pasien. Normalnya pasien akan mengeluarkan urin
sebanyak 1 cc/kg BB/jam.
3.1.3 Pengkajian fase Post Operatif
1) Status respirasi pasienMeliputi : kebersihan jalan nafas, kedalaman
pernafasaan, kecepatan dan sifat pernafasan dan bunyi nafas.
2) Status sirkulatori pasienMeliputi : nadi, tekanan darah, suhu dan warna
kulit.
3) Status neurologis pasien meliputi tingkat kesadaran.
4) Balutan pasien meliputi : balutan luka
5) Kenyamanan pasien Meliputi : terdapat nyeri, mual dan muntah
6) Keselamatan pasien meliputi : diperlukan penghalang samping tempat
tidur, kabel panggil yang mudah dijangkau dan alat pemantau dipasang
dan dapat berfungsi.
7) Perawatan pasien meliputi : cairan infus, kecepatan, jumlah cairan,
kelancaran cairan.
8) Nyeri pasien meliputi : waktu, tempat, frekuensi, kualitas dan faktor yang
memperberat atau memperingan
21

NO. NANDA NOC NIC


1. Pre Tujuan : cemas dapat Penurunan kecemasan
Operatif terkontrol. 1.Bina hubungan saling
Cemas b.d Kriteria hasil : percaya dengan klien /
krisis 1.Secara verbal dapat keluarga
situasional mendemonstrasikan 2.Kaji tingkat kecemasan
Operasi teknik menurunkan klien.
cemas. · 3. Tenangkan klien dan
2.Mencari informasi dengarkan keluhan klien
yang dapat menurunkan dengan atensi
cemas · 4.Jelaskan semua prosedur
3.Menggunakan teknik tindakan kepada klien
relaksasi untuk setiap akan melakukan
menurunkan cemas tindakan
4.Menerima status · 5. Dampingi klien dan
kesehatan. ajak berkomunikasi yang
terapeutik
· 6. Berikan kesempatan
pada klien untuk
mengungkapkan
perasaannya.
· 7.Ajarkan teknik relaksasi
· 8. Bantu klien untuk
mengungkapkan hal-hal
yang membuat cemas.
2. Pre Tujuan : bertambah-nya Pendidikan kesehatan :
Operatif pengetahuan pasien proses penyakit
Kurang tentang penyakitnya. 1.Kaji tingkat pengetahuan
Pengetahu Pengetahuan: Proses klien.
an b.d Penyakit 2.Jelaskan proses
keterbatas Kriteria hasil : terjadinya penyakit, tanda
22

an 1. Pasien mampu men- gejala serta komplikasi


informasi jelaskan penyebab, yang mungkin terjadi
tentang komplikasi dan cara · 3. Berikan informasi pada
penyakit pencegahannya keluarga tentang
dan proses 2. Klien dan keluarga perkembangan klien.
operasi kooperatif saat · 4. Berikan informasi pada
dilakukan tindakan klien dan keluarga tentang
tindakan yang akan
dilakukan.
5. Berikan penjelasan
tentang pentingnya
ambulasi dini
6. Jelaskan komplikasi
kronik yang mungkin akan
muncul
3. Intra Tujuan : resiko 1.memasang arde
Operatif combustio dapat electrocoter sesuai
Resiko diminimalisir prosedur.
cedera Ktriteria hasil : 2.memfiksasi arde secara
(combusti tidak terjadi combustio. adekuat
o b.d 3.menggunakan power
pemajana output sesuai kebutuhan
n 4.mengawasi selama
peralatan pemakaian alat
kesehatan
(pemasang
an arde
electrocou
ter)
4. Post Tujuan : kerusakan per- Pengelolaan jalan napas
Operatif tukaran gas tidak terjadi 1. Kaji bunyi paru,
Gangguan Status Pernapasan: frekuensi nafas, kedalaman
23

pertukara ventilasi dan usaha nafas.


n gas b.d Kriteria hasil : 2. Auskultasi bunyi napas,
efek · 1.Dispnea tidak ada tandai area penurunan atau
samping 2.PaO2, PaCO2, pH hilangnya ventilasi dan
dari arteri dan SaO2 dalam adanya bunyi tambahan
anaesthesi. batas normal 3.Pantau hasil gas darah
3.Tidak ada gelisah, dan kadar elektrolit
sianosis, dan keletihan · 4.Pantau status mental
· Observasi terhadap
sianosis, terutama
membran mukosa mulut
5.Pantau status pernapasan
dan oksigenasi
· 6Jelaskan penggunaan
alat bantu yang diperlukan
(oksigen,
pengisap,spirometer)
7.Ajarkan teknik bernapas
dan relaksasi
· 8.Laporkan perubahan
sehubungan dengan
pengkajian data (misal:
bunyi napas, pola napas,
sputum,efek dari
pengobatan)
· 9.Berikan oksigen atau
sesuai dengan kebutuhan
5. Post Tujuan : kerusakan Perawatan luka
Operatif integritas kulit tidak · 1.Ganti balutan plester dan
Kerusaka terjadi. debris
n Penyembuhan Luka: · 2. Catat karakteristik luka
integritas Tahap Pertama bekas operasi
24

kulit b.d Kriteria hasil : · 3. Catat katakteristik dari


luka post · Kerusakan kulit tidak beberapa
operasi ada · 4.Bersihkan luka bekas
· Eritema kulit tidak ada operasi dengan sabun
· Luka tidak ada pus antibakteri yang cocok
· Suhu tubuh antara · 5.Sediakan perawatan luka
36°C-37°C bekas operasi sesuai
kebutuhan
6. Ajarkan pasien dan
anggota keluarga
prosedur perawatan luka
6. Post Tujuan : Nyeri dapat Manajemen Nyeri :
Operatif teratasi. · 1. Kaji nyeri secara
Nyeri akut Kontrol Resiko komprehensif ( lokasi,
b.d proses Kriteria hasil : karakteristik, durasi,
pembedah · Klien melaporkan frekuensi, kualitas dan
an nyeri berkurang dg faktor presipitasi ).
scala 2-3 2.Observasi reaksi nyeri
· Ekspresi wajah tenang dari ketidak nyamanan.
· klien dapat istirahat 3.Gunakan teknik
dan tidur komunikasi terapeutik
· v/s dbn untuk mengetahui
pengalaman nyeri klien
4.Kontrol faktor
lingkungan yang
mempengaruhi nyeri
seperti suhu ruangan,
pencahayaan, kebisingan.
5.Pilih dan lakukan
penanganan nyeri
(farmakologis/non
farmakologis).
25

· 6.Ajarkan teknik non


farmakologis (relaksasi,
distraksi dll) untuk
mengetasi nyeri.
7. Kolaborasi pemberian
analgetik untuk
mengurangi nyeri.
8.Evaluasi tindakan
pengurang nyeri
26

BAB 4
ASUHAN KEPERAWATAN PERIOPERATIF

Nama Mahasiswa : Norhikmah


NIM : 2019.NS.A.07.058
Ruang Praktek : IBS
Tanggal Praktek : 18-23 November 2019
Tanggal & Jam Pengkajian : Rabu 20 November 2019 Pukul 09:00 WIB

I PENGKAJIAN
A. IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny.M
Umur : 60 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Suku/Bangsa : Jawa/Indonesia
Agama : Islam
Pekerjaan : IRT
Pendidikan : SMP
Status Perkawinan : Menikah
Alamat : Barito Utara
Tgl MRS : 19 November 2019
Diagnosa Medis : Cholelithiasis

a. RIWAYAT KESEHATAN /PERAWATAN


1. Keluhan Utama /Alasan di Operasi :
Klien mengatakan takut karena belum pernah menjalani operasi
sebelumnya
2. Riwayat Penyakit Sekarang :
Pada tanggal 19 November 2019 klien datang ke IGD RSUD dr. Doris
Sylvanus Palangka Raya dirujuk dari Rumah sakit Muara Teweh dengan
keluhan nyeri perut seperti ditusuk-tusuk skala nyeri 8 dan nyeri hilang
timbul. Klien dirawat di ruang dahlia dan pada tanggal 20 November 2019
27

klien menjalani operasi dengan rencana tindakan laparascopy di IBS


RSUD dr. Doris Sylvanus Palangka Raya.
3. Riwayat Penyakit Sebelumnya (riwayat penyakit dan riwayat operasi)
Klien mengatakan tidak ada riwayat penyakit sebelumnya dan tidak
memiliki riwayat operasi.
4. Riwayat Penyakit Keluarga
Klien mengatakan tidak memiliki riwayat penyakit keturunan dalam
keluarga.
GENOGRAM KELUARGA :
Genogram Keluarga 3 Generasi

Keterangan :
: Laki-laki
: Perempuan
: Pasien (Ny.M)
: Tinggal serumah
: Meninggal
28

b. PEMERIKASAAN FISIK
1. Keadaan Umum : Klien tampak berbaring di meja operasi dengan
posisi supinasi terpasang infus NaCl 0,9% ditangan sebelah kanan 15 tpm
Klien dalam pengaruh general anastesi
2. Tanda-tanda Vital :
a. Suhu/T : 36,50C  Axilla  Rektal  Oral
b. Nadi/HR : 90x/mt
c. Pernapasan/RR : 20x/m
d. Tekanan Darah/BP : 120/70mm Hg

3. DATA PENUNJANG (RADIOLOGIS, LABORATURIUM,


PENUNJANG LAINNYA)
Pemeriksaan Laboratorium :
Pemeriksaan Hasil Nilai Normal
WBC 6.44 x10^3/uL 4.00 - 10.00 uL
RBC 6.40x10^6/uL 3.50 - 5.50 uL
HB 12.4 g/dl 11.0 - 16.0 g/dL
PLT 260 x10^3/uL 150- 400 uL
29

ANALISIS DATA
DATA SUBYEKTIF KEMUNGKINAN MASALAH
DAN DATA PENYEBAB
OBYEKTIF
Pre Operatif : Terdapat batu pada Nyeri akut
DS : Klien mengatakan kandung empedu
nyeri pada perut sebelah
kanan. Distensi kandung empedu
DO : Klien tampak
Meringis. Nyeri akut
Nyeri pada perut sebelah
kanan nyeri dirasakan
seperti ditusuk-tusuk
dengan skala nyeri 7
Nyeri terasa saat
aktifitas maupun
istirahat
DS : Klien mengatakan Cholelithiasis Ansietas
merasa takut karena
belum pernah menjalani Rencana tindakan
operasi pembedahan
DO :
 Klien tampak gelisah Ketidaktahuan
 Klien bertanya
tentang operasi yang
akan ia jalani Ansietas
TTV :
TD : 120/70 mmHg
N : 90x/menit
S : 36,5ºc
RR : 20x/menit
30

Intra Operatif : Cholelithiasis Risiko Perdarahan


DS : -
DO : Klien terbaring di Tindakan pembedahan
meja operasi dengan
posisi supinasi Risiko Perdarahan
Terpasang Infus NaCl
0,9% di tangan sebelah
kanan 15 tpm
Klien dalam pengaruh
general anastesi
HB : 12,4 g/dl
Tidak ada persediaan
transfusi darah
TD : 130/70 mmHg
N : 84x/menit
S : 36,3ºc
RR : 19x/menit
31

Post Operatif : Cholelithiasis Risiko infeksi


DS : -
DS : Tindakan pembedahan
Terdapat luka pasca
tindakan pembedahan Luka pasca pembedahan
TTV :
TD : 120/80 mmHg Risiko Infeksi
N : 92x/menit
S : 36ºc
RR : 20x/menit
WBC : 6.44 x10^3/uL
32

RENCANA KEPERAWATAN

Nama Pasien : Ny.M


Ruang Rawat : IBS

Diagnosa Keperawatan Tujuan (Kriteria hasil) Intervensi Rasional


Pre Operatif : Setelah dilakukan tindakan 1) Identifikasi kondisi umum pasien (kesadaran, 1) Mengetahui keadaan umum pasien
Ansietas berhubungan dengan rencana keperawatan selama 1x20 jenis anastesi, dan pengetahuan tentang 2) Memantau tanda tanda vital
tindakan pembedahan menit diharapkan ansietas tindakan operasi) 3) Memberikan penjelasan pada pasien
menurun dengan kriteria hasil : 2) Monitor tanda-tanda vital 4) Memastikan keamanaan pasien sebelum
1) Klien tampak tenang 3) Jelaskan tentang prosedur waktu dan lamanya tindakan pembedahan
2) TTV dalam batas normal operasi
4) Transfer ke kamar operasi dengan alat yang
sesuai
33

RENCANA KEPERAWATAN

Nama Pasien : Ny.M


Ruang Rawat : IBS

Diagnosa Keperawatan Tujuan (Kriteria hasil) Intervensi Rasional


Intra Operatif : Setelah dilakukan tindakan 1) Monitor tanda-tanda vital 1) Memantau keadaan pasien intra operatif
Risiko perdarahan berhubungan dengan keperawatan selama 1x2 jam 2) Monitor tanda perdarahan 2) Memantau jika ada perdarahan
tindakan pembedahan diharapkan tidak terjadi 3) Monitor nilai HB 3) Mengetahui nilai HB
perdarahan dengan kriteria 4) Anjurkan keluarga mencari persediaan darah 4) Antisipasi jika diperlukan transfusi
hasil : transfusi jika perlu
1) Tidak terjadi
perdarahan selama
tindakan pembedahan
34

RENCANA KEPERAWATAN

Nama Pasien : Ny.M


Ruang Rawat : IBS

Diagnosa Keperawatan Tujuan (Kriteria hasil) Intervensi Rasional


Post Operatif : Setelah dilakukan tindakan 1x2 1) Monitor tanda-tanda infeksi 1) Memantau apabila terjadi infeksi
Risiko infeksi berhubungan dengan luka jam diharapkan tidan terjadi 2) Anjurkan mengkonsumsi makanan tinggi 2) Membantu proses penyembuhan
pasca bedah infeksi dengan kriteria hasil : protein 3) Mencegah terjadi infeksi
1) Tidak ada tanda-tanda 3) Ajarkan prosedur perawatan luka 4) Membantu proses penyembuhan denga
infeksi 4) Kolaborasi pemberian antibiotik jika perlu terapi obat
2) TTV dalam batas
normal
35

IMPLEMENTASI DAN EVALUASI KEPERAWATAN


Pre Operatif
Hari/Tanggal Tanda tangan dan
Implementasi Evaluasi (SOAP)
Jam Nama Perawat
Rabu, 20 November 2019 1) Mengidentifikasi kondisi umum pasien (kesadaran, S : Pasien mengatakan telah mengerti dengan operasi yang
09:30 WIB jenis anastesi, dan pengetahuan tentang tindakan akan ia jalani
operasi) O: Norhikmah
2) Memonitor tanda-tanda vital 1) Kesadaran compos menthis
3) Menjelaskan tentang prosedur waktu dan lamanya 2) Pasien tampak berbaring di brankar
operasi 3) Rencana anastesi yang digunakan general anastesi
4) Transfer ke kamar operasi dengan alat yang sesuai 4) TTV
menggunakan brankar serta memperhatikan TD : 120/70 mmHg
keamanan pasien N : 90x/menit
S : 36,5ºc
RR : 20x/menit
A : Masalah teratasi
P : Hentikan intervensi
36

IMPLEMENTASI DAN EVALUASI KEPERAWATAN


Intra Operatif
Hari/Tanggal Tanda tangan dan
Implementasi Evaluasi (SOAP)
Jam Nama Perawat
Rabu, 20 November 2019 1) Memonitor tanda-tanda vital S :-
10:00 WIB 2) Memonitor tanda perdarahan O:
3) Memonitor nilai HB 1) TTV : Norhikmah
4) Menganjurkan keluarga mencari persediaan darah TD : 130/70 mmHg
transfusi jika perlu N : 84x/menit
S : 36,3ºc
RR : 19x/menit
2) Tidak terjadi perdarahan
3) Cairan di tabung suction 500ml bercampur dengan
cairan NaCl
4) Hb : 12,4 g/dl
5) Pasien dalam pengaruh general anstesi
6) Tidak ada persediaan darah
A : Masalah teratasi sebagian
P : Lajutkan intervensi ke 4
37

IMPLEMENTASI DAN EVALUASI KEPERAWATAN


Post Operatif
Hari/Tanggal Tanda tangan dan
Implementasi Evaluasi (SOAP)
Jam Nama Perawat
Rabu, 20 November 2019 1) Memonitor tanda-tanda infeksi S:-
11: 00 WIB 2) Menganjurkan mengkonsumsi makanan tinggi O:
protein 1) Tidak tampak tanda-tanda infeksi Norhikmah
3) Mengajarkan prosedur perawatan luka 2) Terdapat luka pasca pembedahan
3) TTV
TD : 120/80 mmHg
N : 92x/menit
S : 36ºc
RR : 20x/menit
WBC : 6.44 x10^3/uL
4) Pasien dibawa ke recovery room
A : Masalah teratasi sebagian
P : Lanjutkan intervensi ke 3
38