Anda di halaman 1dari 35

NARKOTIK

Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman,

baik sintetis maupun semi sintetis, yang dapat menyebabkan penurunan atau

perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa

nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan, yang dibedakan ke dalam

golongangolongan sebagaimana terlampir dalam Undang-Undang tentang

Narkotika.

Psikotropika adalah zat/bahan baku atau obat, baik alamiah maupun sintetis

bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada

susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental

dan perilaku.

Prekursor Farmasi adalah zat atau bahan pemula atau bahan kimia yang dapat

digunakan sebagai bahan baku/penolong untuk keperluan proses produksi

industri farmasi atau produk antara, produk ruahan, dan produk jadi yang

mengandung ephedrine, pseudoephedrine, norephedrine/phenylpropanolamine,

ergotamin, ergometrine, atau Potasium Permanganat.

Penyaluran Narkotika, Psikotropika, dan Prekursor Farmasi hanya dapat

dilakukan berdasarkan: a. surat pesanan; atau b. Laporan Pemakaian dan

Lembar Permintaan Obat (LPLPO) untuk pesanan dari Puskesmas. (2) Surat

pesanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a hanya dapat berlaku untuk
masing-masing Narkotika, Psikotropika, atau Prekursor Farmasi. (3) Surat

pesanan Narkotika hanya dapat digunakan untuk 1 (satu) jenis Narkotika. (4)

Surat pesanan Psikotropika atau Prekursor Farmasi hanya dapat digunakan

untuk 1 (satu) atau beberapa jenis Psikotropika atau Prekursor Farmasi. (5)

Surat pesanan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dan ayat (4) harus terpisah

dari pesanan barang lain.

Pemusnahan Narkotika, Psikotropika, dan Prekursor Farmasi hanya dilakukan

dalam hal: a. diproduksi tanpa memenuhi standar dan persyaratan yang berlaku

dan/atau tidak dapat diolah kembali; b. telah kadaluarsa; c. tidak memenuhi

syarat untuk digunakan pada pelayanan kesehatan dan/atau untuk

pengembangan ilmu pengetahuan, termasuk sisa penggunaan; d. dibatalkan izin

edarnya; atau e. berhubungan dengan tindak pidana

Pemusnahan Narkotika, Psikotropika, dan Prekursor Farmasi dilakukan dengan

tahapan sebagai berikut: a. penanggung jawab fasilitas produksi/fasilitas

distribusi/fasilitas pelayanan kefarmasian/pimpinan lembaga/dokter praktik

perorangan menyampaikan surat pemberitahuan dan permohonan saksi kepada:

1. Kementerian Kesehatan dan Badan Pengawas Obat dan Makanan, bagi

Instalasi Farmasi Pemerintah Pusat; 2. Dinas Kesehatan Provinsi dan/atau Balai

Besar/Balai Pengawas Obat dan Makanan setempat, bagi Importir, Industri

Farmasi, PBF, Lembaga Ilmu Pengetahuan, atau Instalasi Farmasi Pemerintah

Provinsi; atau 3. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan/atau Balai Besar/Balai

Pengawas Obat dan Makanan setempat, bagi Apotek, Instalasi Farmasi Rumah
Sakit, Instalasi Farmasi Klinik, Instalasi Farmasi Pemerintah Kabupaten/Kota,

Dokter, atau Toko Obat.

Kementerian Kesehatan, Badan Pengawas Obat dan Makanan, Dinas Kesehatan

Provinsi, Balai Besar/Balai Pengawas Obat dan Makanan setempat, dan Dinas

Kesehatan Kabupaten/Kota menetapkan petugas di lingkungannya menjadi

saksi pemusnahan sesuai dengan surat permohonan sebagai saksi. c.

Pemusnahan disaksikan oleh petugas yang telah ditetapkan sebagaimana

dimaksud pada huruf b. d. Narkotika, Psikotropika dan Prekursor Farmasi

dalam bentuk bahan baku, produk antara, dan produk ruahan harus dilakukan

sampling untuk kepentingan pengujian oleh petugas yang berwenang sebelum

dilakukan pemusnahan. e. Narkotika, Psikotropika dan Prekursor Farmasi dalam

bentuk obat jadi harus dilakukan pemastian kebenaran secara organoleptis oleh

saksi sebelum dilakukan pemusnahan.

Dalam hal Pemusnahan Narkotika, Psikotropika, dan Prekursor Farmasi

dilakukan oleh pihak ketiga, wajib disaksikan oleh pemilik Narkotika,

Psikotropika, dan Prekursor Farmasi dan saksi sebagaimana dimaksud dalam

Pasal 40 huruf b.

Penanggung jawab fasilitas produksi/fasilitas distribusi/fasilitas pelayanan

kefarmasian/pimpinan lembaga/dokter praktik perorangan yang melaksanakan

pemusnahan Narkotika, Psikotropika, dan Prekursor Farmasi harus membuat

Berita Acara Pemusnahan. (2) Berita Acara Pemusnahan sebagaimana

dimaksud pada ayat (1), paling sedikit memuat: a. hari, tanggal, bulan, dan
tahun pemusnahan; b. tempat pemusnahan; c. nama penanggung jawab fasilitas

produksi/fasilitas distribusi/fasilitas pelayanan kefarmasian/pimpinan

lembaga/dokter praktik perorangan; d. nama petugas kesehatan yang menjadi

saksi dan saksi lain badan/sarana tersebut; e. nama dan jumlah Narkotika,

Psikotropika, dan Prekursor Farmasi yang dimusnahkan; f. cara pemusnahan;

dan g. tanda tangan penanggung jawab fasilitas produksi/fasilitas

distribusi/fasilitas pelayanan kefarmasian/pimpinan lembaga/ dokter praktik

perorangan dan saksi. (3) Berita Acara Pemusnahan sebagaimana dimaksud

pada ayat (1) dibuat dalam rangkap 3 (tiga) dan tembusannya disampaikan

kepada Direktur Jenderal dan Kepala Badan/Kepala Balai menggunakan contoh

sebagaimana tercantum dalam Formulir 10 terlampir.

PENCATATAN DAN PELAPORAN Bagian Kesatu Pencatatan Pasal 43 (1)

Industri Farmasi, PBF, Instalasi Farmasi Pemerintah, Apotek, Puskesmas,

Instalasi Farmasi Rumah Sakit, Instalasi Farmasi Klinik, Lembaga Ilmu

Pengetahuan, atau dokter praktik perorangan yang melakukan produksi,

Penyaluran, atau Penyerahan Narkotika, Psikotropika, dan Prekursor Farmasi

wajib membuat pencatatan mengenai pemasukan dan/atau pengeluaran

Narkotika, Psikotropika, dan Prekursor Farmasi. (2) Toko Obat yang melakukan

penyerahan Prekursor Farmasi dalam bentuk obat jadi wajib membuat

pencatatan mengenai pemasukan dan/atau pengeluaran Prekursor Farmasi

dalam bentuk obat jadi. (3) Pencatatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan

ayat (2) paling sedikit terdiri atas: a. nama, bentuk sediaan, dan kekuatan
Narkotika, Psikotropika, dan Prekursor Farmasi; b. jumlah persediaan; c.

tanggal, nomor dokumen, dan sumber penerimaan d. jumlah yang diterima; e.

tanggal, nomor dokumen, dan tujuan penyaluran/penyerahan; f. jumlah yang

disalurkan/diserahkan; g. nomor batch dan kadaluarsa setiap penerimaan atau

penyaluran/penyerahan; dan h. paraf atau identitas petugas yang ditunjuk.

(4) Pencatatan yang dilakukan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2)

harus dibuat sesuai dengan dokumen penerimaan dan dokumen penyaluran

termasuk dokumen impor, dokumen ekspor dan/atau dokumen penyerahan.

Pasal 44 Seluruh dokumen pencatatan, dokumen penerimaan, dokumen

penyaluran, dan/atau dokumen penyerahan termasuk surat pesanan Narkotika,

Psikotropika, dan Prekursor Farmasi wajib disimpan secara terpisah paling

singkat 3 (tiga) tahun.

Pelaporan Pasal 45 (1) Industri Farmasi yang memproduksi Narkotika,

Psikotropika, dan Prekursor Farmasi wajib membuat, menyimpan, dan

menyampaikan laporan produksi dan penyaluran produk jadi Narkotika,

Psikotropika, dan Prekursor Farmasi setiap bulan kepada Direktur Jenderal

dengan tembusan Kepala Badan. (2) PBF yang melakukan penyaluran

Narkotika, Psikotropika dan Prekursor Farmasi dalam bentuk obat jadi wajib

membuat, menyimpan, dan menyampaikan laporan pemasukan dan penyaluran

Narkotika, Psikotropika, dan Prekursor Farmasi dalam bentuk obat jadi setiap

bulan kepada Kepala Dinas Kesehatan Provinsi dengan tembusan Kepala

Badan/Kepala Balai. (3) Instalasi Farmasi Pemerintah Pusat wajib membuat,


menyimpan, dan menyampaikan laporan pemasukan dan penyaluran Narkotika,

Psikotropika, dan Prekursor Farmasi dalam bentuk obat jadi kepada Direktur

Jenderal dengan tembusan Kepala Badan. (4) Instalasi Farmasi Pemerintah

Daerah wajib membuat, menyimpan, dan menyampaikan laporan pemasukan

dan penyaluran Narkotika, Psikotropika, dan Prekursor Farmasi dalam bentuk

obat jadi kepada Kepala Dinas Kesehatan Provinsi atau Kabupaten/Kota

setempat dengan tembusan kepada Kepala Balai setempat.

(5) Pelaporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan ayat (4)

paling sedikit terdiri atas: a. nama, bentuk sediaan, dan kekuatan Narkotika,

Psikotropika, dan/atau Prekursor Farmasi; b. jumlah persediaan awal dan akhir

bulan; c. tanggal, nomor dokumen, dan sumber penerimaan; d. jumlah yang

diterima; e. tanggal, nomor dokumen, dan tujuan penyaluran; f. jumlah yang

disalurkan; dan g. nomor batch dan kadaluarsa setiap penerimaan atau

penyaluran dan persediaan awal dan akhir. (6) Apotek, Instalasi Farmasi Rumah

Sakit, Instalasi Farmasi Klinik, Lembaga Ilmu Pengetahuan, dan dokter praktik

perorangan wajib membuat, menyimpan, dan menyampaikan laporan

pemasukan dan penyerahan/penggunaan Narkotika dan Psikotropika, setiap

bulan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dengan tembusan

Kepala Balai setempat. (7) Pelaporan sebagaimana dimaksud pada ayat (6)

paling sedikit terdiri atas: a. nama, bentuk sediaan, dan kekuatan Narkotika,

Psikotropika, dan/atau Prekursor Farmasi; b. jumlah persediaan awal dan akhir

bulan; c. jumlah yang diterima; dan d. jumlah yang diserahkan. (8) Puskesmas
wajib membuat, menyimpan, dan menyampaikan laporan pemasukan dan

penyerahan/penggunaan Narkotika dan Psikotropika sesuai dengan ketentuan

peraturan perundang-undangan. (9) Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat

(1) sampai dengan ayat (4) dan ayat (6) dapat menggunakan sistem pelaporan

Narkotika, Psikotropika, dan/atau Prekursor Farmasi secara elektronik.

(10)Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan ayat (4) dan

ayat (6) disampaikan paling lambat setiap tanggal 10 bulan berikutnya.

(11)Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pelaporan Narkotika,

Psikotropika, dan/atau Prekursor Farmasi diatur oleh Direktur Jenderal.

Lemari khusus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (1) harus memenuhi

syarat sebagai berikut: a. terbuat dari bahan yang kuat; b. tidak mudah

dipindahkan dan mempunyai 2 (dua) buah kunci yang berbeda; c. harus

diletakkan dalam ruang khusus di sudut gudang, untuk Instalasi Farmasi

Pemerintah; d. diletakkan di tempat yang aman dan tidak terlihat oleh umum,

untuk Apotek, Instalasi Farmasi Rumah Sakit, Puskesmas, Instalasi Farmasi

Klinik, dan Lembaga Ilmu Pengetahuan ; dan e. kunci lemari khusus dikuasai

oleh Apoteker penanggung jawab/Apoteker yang ditunjuk dan pegawai lain

yang dikuasakan.

Lalu berapa ukuran lemarinya??

Sejauh yang saya baca pada Permenkes tersebut tidak disebutkan secara spesifik

mengenai ukuran lemari psikotropika/narkotika, hanya mengatur mengenai


jumlah kunci dan menekankan esensi pada penempatan lemari atau sebut saja

kekhususan penyimpanan.

Jika kita melihat Permenkes sebelumnya yakni pada Permenkes 28 tahun 1978

pada Pasal 5 terdapat ketentuan yang berbunyi sebagai berikut :

Apotek dan RS harus mempunyai sarana khusus untuk menyimpan narkotika.

Tempat khusus pada ayat (1) harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :

Harus dibuat seluruhnya dari kayu atau bahan lain yang kuat

Harus mempunyai kunci yang kuat

Dibagi dua masing-masing dengan kunci yang berlainan ; bagian pertama

dipergunakan untuk menyimpan narkotika, petidina, dan garam-garamnya serta

persediaan narkotik, bagian kedua dipergunakan untuk menyimpan narkotika

lainnya yang dipakai sehari-hari

Apabila tempat khusus tersebut berupa lemari berukuran kurang dari 40 x 80 x

100 cm maka lemari tersebut harus dibuat pada tembok atau lantai.

Dalam penjelasan atas Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 28 tahun 1978

tentang Penyimpanan Narkotika pada pasal 5 ayat 2d menyebutkan agar tidak

mudah diangkat jika 40 x 80 x 100 cm maka lemari tersebut harus dibaut atau

ditanam pada tembok kecuali lemari tersebut bagian dari lemari atau meja resep

yang besar. Dalam hal ini saya beranggapan bahwa ukuran yang disebutkan

pada Permenkes No 28 Tahun 1978 dapat dijadikan jawaban atas pertanyaan

berapa ukuran almari narkotika atau psikotropika? Tapi apakah harus seukuran
itu ( 40cm x 80cm x 100 cm) ? Sedangkan di puskesmas jumlah

psikotropikanya terbatas dan tidak banyak. Menurut saya tidak harus sakleg

seperti ukuran itu. Jika ukuran kurang dari itu Anda bisa menanamnya di

tembok.

SPEKTRO

Syarat-syarat senyawa dapat terukur dengan metode spektrofotometer visibel,

yaitu :

Mempunyai gugus kromofor dan auksokrom. Namun yang paling penting atau

diutamakan adalah gugus kromofornya. Kromofor berasal dari kata

‘chromophorus’ yang berarti pemberi warna. Artinya, gugus kromofor adalah

sebuah gugus yang bertanggung jawab atas adanya absorbansi dan transisi

elektronik. Kromofor memiliki ikatan rangkap terkonjugasi yang berselang-

seling, sedangkan auksokrom adalah gugus yang melekat pada kromofor yang

mempunyai pasangan elektron bebas dan dapat menaikkan / menurunkan

intensitas serapan, sehingga berperan dalam pergeseran panjang gelombang.

Senyawa tersebut harus berwarna

Panjang gelombang antara 380 – 780 nm atau 400 – 800 nm

Panjang Gelombang
anjang gelombang Warna warna yang Warna komplementer

(nm) diserap (warna yang terlihat)

400 – 435 Ungu Hijau kekuningan

435 – 480 Biru Kuning

480 – 490 Biru kehijauan Jingga

490 – 500 Hijau kebiruan Merah

500 – 560 Hijau Ungu kemerahan

560 – 580 Hijau kekuningan Ungu

580 – 595 Kuning Biru

595 – 610 Jingga Biru kehijauan

610 – 800 Merah Hijau kebiruan

C. EMULSI

a. Flokulasi

Flokulasi merupakan penggabungan globul-globul yang dipengaruhi oleh

muatan pada permukaan globul yang teremulsi (Juwita, 2011). Ketidakstabilan

seperti ini dapat diperbaiki dengan pengocokan karena masih terdapatnya film

antar permukaan globul (Rieger, 2000). Meskipun dapat diperbaiki, terjadinya

flokulasi dapat menyebabkan peningkatan terjadinya creaming (Madaan dkk,

2014).
b. Creaming

Creaming adalah terjadinya lapisan-lapisan dengan konsentrasi yang berbeda-

beda pada emulsi. Karena dipengaruhi gaya gravitasi, partikel yang memiliki

kerapatan lebih rendah akan naik ke permukaan dan sebaliknya (Ansel, 1989)

(Madaan dkk, 2014). Pada krim tipe minyak dalam air, fase dalamnya

merupakan minyak yang memiliki keraptan partikel yang lebih rendah

dibandingkan fase luarnya yang berupa air. Terjadinya creaming dipengaruhi

oleh beberapa faktor yaitu viskositas medium, diameter globul, dan perbedaan

kerapatan partikel antara fase dispersi dan pendispersi (Madaan dkk,

2014). Krim yang mengalami creaming dapat didispersikan kembali dengan

mudah, dan dapat membentuk suatu campuran yang homogen dengan

pengocokan, karena globul minyak masih dikelilingi oleh suatu lapisan

pelindung dari emulgator (Ansel, 1989). Akan tetapi terjadinya creaming harus

tetap dihindari karena dapat meningkatkan potensi terjadinya cracking (Madaan

dkk, 2014).

c. Cracking

Cracking merupakan pemisahan fase dispersi dan fase terdispersi dari suatu

emulsi yang berhubungan dengan terjadinya coalescence (Madaan dkk,

2014). Coalescence sendiri merupakan penggabungan antar fase terdispersi atau

globul disebabkan oleh rusaknya lapisan pelindung emulgator (Madaan dkk,

2014). Hal ini menyebabkan sulit untuk didispersikan kembali dengan

pengocokan, bahkan jika jumlah terjadinya coalescence melebihi batas tertentu


maka pendispersian kembali tidak dapat dilakukan (Madaan dkk,

2014). Cracking dapat terjadi dikarenakan oleh creaming, temperatur ekstrim,

adanya mikroorganisme, penambahan emulgator yang berlawanan, dan

penguraian atau pengendapan emulgator (Madaan dkk, 2014).

d. Inversi

Fenomena terjadi saat fase dalam menjadi fase luar atau sebaliknya. Pada krim

minyak dalam air, fase inversi menyebabkan krim berubah menjadi fase

sebaliknya yaitu air dalam minyak (Madaan dkk, 2014). Hal ini dapat

disebabkan oleh perubahan temperatur, penambahan elektrolit, perubahan rasio

volume fase dispersi atau terdispersi, dan dengan mengubah emulgator (Madaan

dkk, 2014).
TABELT

Metode Pembuatan Tablet

Pembuatan sediaan tablet memiliki 3 metode, yaitu:

a. Metode Granulasi basah

Metode granulasi basah merupakan metode pembuatan sediaan tablet yang

biasa digunakan untuk bahan obat atau zat aktif yang tahan terhadap pemanasan

dan kelembaban.

Tahapan pembuatannya adalah sebagai berikut :

- Masing-masing bahan ditimbang sesuai yang dibutuhkan

- Zat aktif, zat pengisi dan zat penghancur dicampur

- Dibuat larutan bahan pengikat


- Kemudian basahi dengan larutan bahan pengikat, bila perlu ditambah

bahan pewarna.

- Campuran dihomogenkan hingga terbentuk granul yang sesuai

- Granul diayak dengan ukuran mesh 14 mesh

- Granul dikeringkan dengan oven atau FBD

- Setelah kering diayak lagi dengan mesh berukuran 12 mesh

- Diuji sifat alirnya, jika sudah sesuai tambahkan bahan pelicin dan

penghancur, kemudian dihomogenkan

- Lalu dicetak menjadi tablet dengan mesin tablet

b. Metode Granulasi kering

Metode granulasi kering merupakan metode pembuatan sediaan tablet yang

biasa digunakan untuk bahan obat atau zat aktif yang tidak tahan terhadap

adanya pemanasan dan kelembaban.

Tahapan pembuatannya adalah sebagai berikut :

- Bahan bahan yang diperlukan ditimbang sesuai kebutuhan

- Zat aktif dan zat tambahan (zat pengisi, zat penghancur, bila perlu zat

pengikat dan zat pelicin) dicampur hingga homogen

- Dislugging dengan mesin heavy duty atau dibuat lembaran

- Diayak menjadi butiran-butiran granul

- Dicampur dengan bahan pelincir dan penghancur

- Dicetak menjadi tablet dengan mesin tablet

c. Metode Kempa langsung


Metode kempa langsung merupakan metode pembuatan tablet yang dilakukan

dengan cara langsung dicetak dengan persyaratan zat aktif atau bahan obat

tersebut mempunyai sifat alir yang baik, kompressibilitas dan kompresibilitas

tinggi serta mempunyai efek lubrikan yang baik.

Tahapan pembuatannya adalah sebagai berikut :

- Ditimbang semua bahan yang diperlukan

- Dicampur zat aktif dan zat tambahan kemudian lakukan pengayakan

- Lakukan pencampuran akhir

- Dicetak menjadi tablet menggunakan mesin cetak tablet

Ø Mana yang lebih baik dari metode tersebut!

Metode pembuatan tablet yang baik dapat dilihat dari zat aktif yang tersedia,

jika zat aktif yang tersedia memiliki sifat alir, komresibilitas, kompaktibilitas

yang baik, maka dalam hal ini pemilihan metode kempa langsung adalah pilihan

metode yang terbaik, namun jika zat aktif memiliki sifat alir, komresibilitas,

kompaktibilitas yang kurang baik, maka pilihanya adalah dengan menggunakan

metode granulasi basah, begitu pula jika zat aktif yang digunakan tidak tahan

terhadap adanya pemanasan dan kelembaban, maka pilihan terbaik adalah

dengan menggunakan metode granulasi kering.

Namun, secara umum metode granulasi yang paling sering digunakan adalah

dengan metode granulasi basah.

Ø Apa keuntungan dan kerugian metode-metode tersebut!

1) Metode granulasi basah


Keuntungan dari metode granulasi basah adalah sebagai berikut:

- Terbentuknya granul pada proses granulasi dapat memperbaiki

kohevisitas, sifat alir dan kompresibilitas, proses kompaksasi lebih mudah

karena pecahnya granul membentuk permukaan baru yang lebih aktif.

- Obat dengan dosis tinggi yang mempunyai sifat alir dan kompresibilitas

jelek maka dengan proses granulasi basah hanya perlu sedikit bahan pengikat

untuk dapat memperbaiki sifat alirnya.

- Untuk bahan obat yang memiliki dosis rendah dengan pewarna, maka

distribusi lebih baik dan menjamin keseragaman kandungan.

- Granulasi basah dapat mencegah segregasi komponen-komponen

campuran yang sudah homogen.

- Dapat memperbaiki disolusi obat yang bersifat hidrofob.

- Tidak ada kontaminasi udara untuk bahan yang menghasilkan debu

Kelemahan dari metode granulasi basah adalah sebagai berikut:

- Proses pembuatan tablet lebih panjang dibandingkan dengan kedua

metode lainnya sehingga secara ekonomis lebih mahal dan waktu yang lebih

lama.

- Peralatan yang digunakan lebih banyak sehingga lebih banyak pula

personel yang diperlukan untuk mengoperasikan masing-masing peralatan.

- Tidak bisa digunakan untuk obat-obat yang sensitive terhadap

kelembaban dan pemanasan.


- Pada tablet yang berwarna dapat terjadi peristiwa migrasi dan ketidak

homogenan senyawa sehingga tablet dapat terbentuk bintik-bintik atau warna

yang tidak merata.

- Resiko inkompatibilitas antar komponen di dalam formulasi akan

diperbesar, terutama untuk obat-obat campuran (multivitamin, dll)

2) Metode granulasi kering

Keuntungan metode granulasi kering adalah sebagai berikut:

- Alat, ruangan dan personil yang diperlukan untuk produksi lebih

sedikit daripada granulasi basah.

- Tidak memerlukan bahan pengikat (larutan pengikat).

- Proses pembuatan tablet lebih cepat, tidak memerlukan proses

pemanasan sehingga biaya produksi dapat ditekan.

- Untuk obat-obat yang sensitive terhadap kelembaban dan pemanasan

misalnya vitamin E, akan menghasilkan produk yang stabil.

- Memperbaiki waktu hancur, karena partikel-partikel serbuk tidak

terikat oleh adanya bahan pengikat.

- Memperbaiki kelarutan dan efek bioavailabilitas.

- Memperbaiki homogenitas, karena tidak terjadi peristiwa migrasi obat

atau bahan pewarna.

Kerugian metode granulasi kering adalah sebagai berikut:

- Memerlukan mesin Heavy duty (harganya mahal).

- Zat pewarna sukar homogen (tidak terdispersi secara merata).


- Cenderung menghasilkan partikel-partikel halus lebih banyak dibandingkan

dengan metode granulasi basah, sehingga tablet sering rapuh atau kurang kuat

dan resiko kontaminasi lebih tinggi.

- Alat/mesin Chilsonator tidak bisa digunakan untuk obat yang tidak larut

karena adanya kemungkinan hambatan kecepatan disolusi (adanya tekanan

merubah sifat obat).

3) Metode kempa langsung

Keuntungan metode kempa langsung adalah sebagai berikut:

- Energi yang dibutuhkan lebih rendah karena tidak ada tahap pembasahan

dan pengeringan.

- Lebih ekonomis dan praktis dibandingkan kedua metode yang lainnya.

- Tidak terpengaruh oleh panas dan kelembaban.

- Stabilitas produk yang didapatkan lebih terjamin.

- Ukuran partikel yang seragam.

Kerugian metode kempa langsung adalah sebagai berikut:

- Bahan pengisi yang bisa dicetak langsung, biasanya harganya mahal.

- Perbedaan ukuran partikel dan kerapatan bulk antara obat dengan pengisi

dapat menimbulkan stratifikasi di antara granul yang selanjutnya dapat

menimbulkan tidak seragamnya isi obat dalam tablet.

Pada obat yang memiliki dosis besar, perlu tambahan bahan pengisi sehingga

tablet menjadi besar.


E. JAMU

Perbedaan Jamu OHT dan Fitofarmaka

Perbedaan jamu OHT dan fitofarmaka secara singkat antara lain :

Jamu --> Obat tradisional terbukti berkhasiat dan aman berdasarkan bukti

empiris turun temurun.

OHT --> Obat Tradisional terbukti berkhasiat melalui uji pra-klinis dan teruji

aman melalui uji toksisitas, bahan terstandar dan diproduksi secara higienis.

Fitofarmaka --> Obat tradisional terbuksi berkhasiat melalui uji pra-klinis dan

uji klinis, teruji aman melalui uji toksisitas, bahan terstandar, dan diproduksi

secara higienis dan bermutu.

Untuk mengetahui lebih detai tentang JAMU, OBAT HERBAL

TERSTANDAR, dan FITOFARMAKA

lihat info selengkapnya klik :

Artikel Penggolongan Obat Tradisional


F. OBAT PPI

Esomeprazole dan tenatoprazole memiliki efek yang lebih kuat. Empat obat PPI

lain (lanzoprazole, omeprazole, pantoprazole dan rabeprazole) memiliki efek

terapeutik yang hampir sama.


Overview

Proton pump inhibitor (PPI) adalah obat yang banyak digunakan untuk

mengatasi keluhan yang berhubungan dengan keasaman lambung. Obat

golongan ini digunakan sebagai salah satu strategi

penatalaksanaan dispepsia pada usia muda tanpa alarming features. PPI

mengurangi keluhan dispepsia dengan menghambat produksi asam lambung.

Mekanisme Kerja Obat

PPI adalah prodrug. PPI membutuhkan asam lambung untuk berubah menjadi

senyawa aktifnya (sulfenamide atau sulfenic acid). Dua senyawa aktif tersebut

bekerja dengan menghambat sekresi asam lambung, melalui hambatan pada

pompa proton H-K ATP-ase.

Semua obat golongan PPI memiliki waktu paruh yang pendek (sekitar 1 jam),

kecuali tenatoprazole. Semua obat golongan PPI memiliki bioavailabilitas yang

bagus dalam tubuh.

PPI dimetabolisme di hati oleh enzim CYP2C19 dan 3A4. Kerusakan hati, usia

lanjut dan mutasi gen CYP2C19 akan menurunkan clearence PPI dalam tubuh.

Dosis

Tenatoprazole 20 mg 1x1

Esomeprazole 20 mg 1x1

Lansoprazole 30 mg 1x1
Omeprazole 20 mg 1x1

Pantoprazole 40 mg 1x1

Rabeprazole 20 mg 1x1

Efikasi Terapi

Dalam sebuah penelitian yang membandingkan efek berbagai obat golongan

PPI dalam menekan produksi asam lambung, disebutkan bahwa esomeprazole

dan tenatoprazole memiliki efek yang lebih kuat. Empat obat PPI lain

(lanzoprazole, omeprazole, pantoprazole dan rabeprazole) memiliki efek

terapeutik yang hampir sama.

Efek Samping

PPI adalah salah satu golongan obat yang aman digunakan. Ada beberapa efek

samping yang dilaporkan diantaranya adalah gangguan absorbsi vitamin dan

mineral dalam tubuh, serta interaksi dengan beberapa obat yang lain.
G. VITAMIN

Tahun penemuan vitamin alami dan sumbernya

Tahun
Vitamin Nama biokimia Ditemukan di
penemuan

1909 Vitamin A Retinol Wortel


1912 Vitamin B1 Tiamin Susu

1912 Vitamin C Asam askorbat Jeruk sitrun

1918 Vitamin D Kalsiferol Keju

1920 Vitamin B2 Riboflavin Telur

Minyak mata bulir


1922 Vitamin E Tokoferol
gandum,

Vitamin
1926 Sianokobalamin Telur
B12

1929 Vitamin K Filokuinona Kuning telur

Asam
1931 Vitamin B5 Susu
pantotenat

1931 Vitamin B7 Biotin Hati

1934 Vitamin B6 Piridoksin Kacang

1936 Vitamin B3 Niasin Ragi

1941 Vitamin B9 Asam folat Hati


H. ANTIDEPRESAN

Berikut ini merupakan contoh obat antidepresan yang paling umum digunakan.

1. Serotonin and norepinephrine reuptake inhibitors (SNRIs)

SNRI dapat menghambat serotonin dan norepinephrine supaya tidak diserap

kembali oleh sel saraf.

Norepinephrine dalam sistem saraf otak dapat memicu ketertarikan

terhadap rangsangan dari luar yang memotivasi mereka untuk melakukan

sesuatu.

Maka dari itu, obat SNRI dianggap lebih efektif daripada obat jenis SSRI yang

hanya berfokus pada serotonin.

Obat antidepresan yang termasuk dalam kelompok SNRI antara lain :

duloxetine (Cymbalta), desvenlafaxine (Pristiq), reboxetine (Edronax), dan

venlafaxine (Effexor XR).

Obat ini memiliki efek samping yang berupa : sakit

kepala, mual, muntah, mimpi buruk, insomnia atau gangguan tidur, gemetar,

cemas, sembelit, keringat berlebihan, hingga masalah seksual.

2. Selective serotonin re-uptake inhibitor (SSRIs)

Serotonin adalah neurotransmiter yang menyebabkan perasaan bahagia,

sehingga pada orang yang mengalami depresi, produksi serotoninnya rendah.

SSRI dapat digunakan untuk mengobati depresi level sedang hingga berat.

Cara kerja SSRI adalah dengan memblokir serotonin supaya tidak diserap

kembali oleh sel saraf, karena saraf biasanya mendaur ulang neurotransmiter.
Hal ini dapat menyebabkan peningkatan konsentrasi serotonin, yang dapat

meningkatkan mood Anda.

SSRI adalah jenis antidepresan yang paling sering digunakan karena efek

sampingnya yang tergolong rendah.

Contoh antidepresan jenis SSRI adalah sertraline (Zoloft), fluoxetine (Lovan

atau Prozac), escitalopram (Lexapro), citalopram (Cipramil), dan paroxetine

(Aropax).

Namun, walaupun efek sampingnya tergolong rendah bukan berarti SSRI tidak

menimbulkan efek samping sama sekali.

Efek samping SSRI yang mungkin muncul, antara lain :

mulut kering, kejang-kejang, mengantuk, gugup, halusinasi, gangguan fungsi

seksual, anoreksia, gatal, biduran, anafilaksis, myalgia, mual, muntah, sakit

perut, diare, konstipasi, dispepsia, hiponatremia,

gangguan pendarahan, gangguan penglihatan, dan gangguan pada kandung

kemih untuk mengeluarkan urin.

SSRI juga tidak boleh digunakan jika pasien memasuki fase manik.

3. Monoamine oxidase inhibitors (MAOIs)

MAOI bekerja dengan cara menghambat enzim monoamine oxidase yang dapat

menghancurkan epinefrin, serotonin, dan dopamin. Ketiga neurotransmiter ini

dapat menyebabkan perasaan bahagia.


Contoh antidepresan jenis MAOI adalah phenelzine (Nardil), tranylcypromine

(Parnate), dan isocarboxazid (Marplan). Biasanya MAOI diresepkan dokter

ketika antidepresan yang lain tidak menunjukkan perbaikan gejala.

Selain itu, MAOI dapat menimbulkan interaksi dengan beberapa makanan,

seperti anggur. keju, dan acar/asinan. Maka, Anda harus menghindari makanan

tersebut apabila sedang mengonsumsi antidepresan jenis MAOI.

Antidepresan jenis ini memiliki efek samping seperti,

pusing, kepala berputar, sulit tidur, penglihatan kabur, mengantuk, kenaikan

berat badan, perubahan tekanan darah, serta munculnya timbunan cairan dalam

seperti pembengkakan kaki dan pergelangan kaki.

4. Trisiklik

Cara kerja trisiklik adalah dengan langsung menghambat sejumlah

neurotransmiter, termasuk epinefrin, serotonin, dan norepinephrine, supaya

tidak kembali terserap dan mengikat reseptor sel saraf.

Umumnya obat ini diberikan pada orang-orang yang tidak menunjukkan

perubahan gejala setelah diberikan SSRI.

Contoh obat antidepresan yang termasuk dalam golongan trisiklik ini adalah

dosulepin (Prothiaden atau Dothep), clomipramine

(Anafranil), amitriptyline (Endep), nortriptyline (Allegron). doxepin (Deptran),

dan imipramine (Tofranil).

Efek samping yang ditimbulkan setelah mengonsumsi antidepresan ini antara

lain :
mulut kering, pandangan kabur, mengantuk, berkeringat, konstipasi, retensi

urin, aritmia, blokade jantung (khususnya pada penggunaan amitriptyline), serta

detak jantung yang meningkat dan tidak teratur.

Efek samping ini dapat dikurangi resikonya bila pada awalnya pasien diberi

obat dalam dosis rendah, lalu kemudian dinaikkan secara bertahap.

Pendosisan antidepresan secara bertahap khususnya digunakan pada lansia yang

mengalami depresi, karena terdapat risiko penurunan tekanan darah yang dapat

menyebabkan pusing kepala hingga pingsan.

5. Noradrenaline and specific serotonergic antidepressants (NASSAs)

Cara kerja antidepresan jenis NASSAs ini adalah dengan meningkatkan kadar

serotonin dan noradrenalin. Salah satu obat yang termasuk dalam antidepresan

jenis NASSA antara lain mirtazapine (Avanza).

Serotonin dan noradrenalin merupakan neurotransmiter yang mengatur mood

dan emosi. Selain itu, serotonin juga ikut mengatur nafsu makan dan siklus

tidur.

Obat antidepresan jenis NASSA ini memiliki efek samping seperti

pusing, gejala flu, rasa mengantuk, berat badan naik, mulut kering, sembelit,

dan nafsu makan meningkat,

Namun, perlu diingat bahwa efek obat akan lebih efektif bila dilakukan

bersamaan dengan psikoterapi dan menjalani gaya hidup sehat.


Obat antidepresan sering menjadi pilihan pengobatan pertama yang diberikan

dokter untuk para penderita depresi. Namun, antidepresan tersebut tidak

mungkin manjur hanya dalam 1 malam.

Biasanya diperlukan waktu minimal 3 – 4 minggu sebelum Anda melihat dan

merasakan perubahan suasana hati Anda. Kadang juga ada yang butuh waktu

lebih lama.

I. RESEP

Kajian administratif meliputi:


1. informasi pasien (nama pasien, umur, jenis kelamin, berat badan, alamat)
2. informasi dokter penulis resep (nama dokter, nomor Surat Izin Praktik (SIP),
alamat, nomor telepon dan paraf)
3. tanggal penulisan resep

Kajian kesesuaian farmasetik meliputi:


1. bentuk dan kekuatan sediaan
2. stabilitas
3. kompatibilitas (ketercampuran obat)

Pertimbangan klinis meliputi:


1. ketepatan indikasi dan dosis obat
2. aturan, cara dan lama penggunaan obat
3. duplikasi dan/atau polifarmasi
4. reaksi obat yang tidak diinginkan (alergi, efek samping obat, manifestasi klinis
lain)
5. kontra indikasi
6. interaksi
J. OBAT HIPERTENSI

Berikut adalah jenis-jenis obat antihipertensi atau darah tinggi yang ada:

1. Diuretik

Diuretik adalah salah satu jenis obat darah tinggi yang paling sering digunakan. Obat darah tinggi ini
bekerja dengan cara menghilangkan air dan natrium (garam) berlebih di dalam ginjal.

Apabila kelebihan air dan garam dapat dikurangi, kadar darah yang melewati pembuluh darah Anda
akan berkurang, sehingga tekanan darah Anda pun menurun.

Dilansir dari Mayo Clinic, terdapat 3 jenis utama dari obat darah tinggi diuretik, yaitu
thiazide, potassium-sparing, dan diuretik loop. Berikut adalah penjelasan mengenai masing-masing
jenis diuretik.

 Thiazide

Obat darah tinggi diuretik jenis thiazide menghambat penyerapan garam dan klorida. Efek samping
dari penggunaan jangka panjang obat darah tinggi ini adalah risiko terkena hiponatremia, atau
rendahnya kadar garam di dalam tubuh.

Obat darah tinggi thiazide juga dapat mendorong proses metabolisme tubuh dalam membuang
sodium, bikarbonat, dan menahan kalsium di dalam tubuh.

Thiazide tidak akan memengaruhi tekanan darah tubuh yang normal. Selain itu, obat ini juga memiliki
efek samping yang lebih sedikit apabila dibandingkan dengan jenis obat darah tinggi diuretik lainnya.

Beberapa efek samping dari obat darah tinggi thiazide meliputi kekurangan kalium (hipokalemia),
kelebihan kalsium (hiperkalsemia), sakit kepala, gangguan pernapasan, serta pembengkakan akibat
rekaksi alergi.

Contoh obat thiazide: chlorthalidone (Hygroton), chlorothiazide (Diuril), hydrochlorothiazide


(Hydrodiuril, Microzide), indapamide (Lozol), metolazone (Zaroxolyn).

 Potassium-sparing

Obat darah tinggi diuretik jenis potassium-sparing mempercepat proses diuresis (buang air kecil)
tanpa membuang kalium dari dalam tubuh.

Umumnya, obat ini memengaruhi proses penyerapan garam dan kalium di dalam ginjal, sehingga
semakin banyak garam dan air yang terbuang saat buang air kecil.

Karena obat darah tinggi ini tidak membuang kalium dari dalam tubuh, efek samping seperti
hipokalemia tidak akan terjadi. Namun, konsumsi potassium-sparing dapat meningkatkan risiko
hiperkalemia, atau kelebihan kadar kalium dalam tubuh.
Obat darah tinggi jenis ini dapat digunakan sendiri, atau terkadang dapat dikombinasikan dengan
diuretik jenis lainnya.

Contoh obat potassium-sparing: amiloride (Midamor), spironolactone (Aldactone), triamterene


(Dyrenium).

 Diuretik loop

Obat ini merupakan jenis diuretik yang paling kuat apabila dibandingkan dengan jenis lainnya.
Diuretik loop bekerja dengan cara membuang garam, klorida, dan kalium, sehingga semua zat
tersebut akan terbuang melalui urin.

Obat ini juga mengurangi penyerapan kalsium dan magnesium ke dalam tubuh. Selain digunakan
sebagai obat darah tinggi, diuretik loop juga dapat diberikan untuk mengatasi edema akibat gagal
jantung, penyakit hati, dan penyakit ginjal.

Contoh obat diuretik loop: bumetanide (Bumex), furosemide (Lasix), torsemide (Demadex)

2. Angiotensin-converting enzyme (ACE) inhibitor

Obat darah tinggi angiotensin-converting enzyme (ACE) inhibitor dapat membantu melemaskan
pembuluh arteri dan vena Anda, sehingga tekanan darah dapat turun. Biasanya, obat yang termasuk ke
dalam golongan ini adalah obat yang pertama kali diresepkan (lini pertama) untuk penderita
hipertensi.

ACE inhibitor mencegah produksi angiotensin II dari enzim tubuh Anda. Angiotensin II adalah
senyawa yang mempersempit pembuluh darah. Penyempitan pembuluh darah dapat meningkatkan
tekanan darah dan memaksa jantung Anda bekerja lebih keras.

Selain itu, angiotensin II juga melepas hormon yang dapat mengakibatkan tekanan darah Anda naik.

Tidak hanya digunakan sebagai obat darah tinggi, ACE inhibitor juga dapat mencegah, mengobati,
dan mengendalikan gejala-gejala penyakit arterikoroner, gagal jantung, diabetes, serangan jantung,
penyakit ginjal, serta migrain.

Umumnya, obat ini jarang menimbulkan efek samping. Namun, apabila memang terjadi efek
samping, Anda mungkin akan mengalami hiperkalemia, kelelahan, batuk kering, sakit kepala, dan
kehilangan fungsi indera pengecap.

Contoh obat ACE inhibitor: captopril, enalapril, lisinopril, benazepril


hydrochloride, perindopril, ramipril, quinapril hydrochloride, dan trandolapril.

3. Angiotensin II receptor blocker (ARB)

Serupa dengan ACE inhibitor, obat angiotensin II receptor blocker (ARB) juga dapat membantu
merilekskan pembuluh vena dan arteri agar tekanan darah dapat menurun.

Yang membedakan obat ini dengan ACE inhibitor adalah, ARB tidak menghalangi atau menghambat
produksi angiotensin II. Obat ini mencegah angiotensin berikatan dengan reseptor pada pembuluh
darah, sehingga dapat membantu menurunkan tekanan darah.

Obat ini juga dapat digunaan untuk mengatasi gejala-gejala penyakit ginjal, jantung, serta diabetes.
Efek samping yang mungkin dirasakan adalah pusing, hiperkalemia, dan pembengkakan pada kulit.
Obat ini tidak boleh dikonsumsi oleh ibu hamil.

Contoh obat ARB: azilsartan


(Edarbi), candesartan (Atacand), irbesartan, losartan potassium, eprosartan mesylate, olmesartan (Ben
icar), telmisartan (Micardis), dan valsartan (Diovan).

4. Calcium channel blocker (CCB)

Obat calcium channel blocker (CCB) juga merupakan obat lini pertama dalam pengobatan hipertensi.
Obat ini dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu dihydropyridine dan nondihydropyridine.

Dihydropyridine berikatan dengan kalsium di dalam otot lunak vaskuler, sehingga pembuluh darah
akan melebar dan tekanan darah menurun.

Sementara itu, nondihydropyridine berikatan dengan kalsium pada pengatur denyut jantung, sehingga
tekanan darah dapat lebih terkendali.

Dengan kata lain, obat ini menyebabkan sel-sel jantung dan pembuluh darah otot mengendur. Pada
akhirnya, dapat menurunkan tekanan darah dengan membuat pembuluh darah berelaksasi dan
mengurangi detak jantung.

Perlu Anda ketahui bahwa kalsium dapat meningkatkan kekuatan kontraksi di jantung dan pembuluh
darah.

Efek samping dari obat darah tinggi CCB adalah konstipasi, pusing, detak jantung semakin cepat,
kelelahan, mual, muncul ruam, dan bengkak di beberapa bagian tubuh.

Contoh obat CCB: amlodipine, clevidipine, diltiazem,


felodipine, isradipine, nicardipine, nifedipine, nimodipine, dan nisoldipine.

5. Beta blocker

Obat ini bekerja dengan cara menghalangi efek dari hormon epinefrin (hormon adrenalin). Hal ini
membuat jantung bekerja lebih lambat, detak jantung dan kekuatan pompa jantung menurun.
Sehingga, volume darah yang mengalir di pembuluh darah menurun dan tekanan darah menurun.

Sama seperti ACE inhibitor dan Calcium channel blocker, obat ini juga merupakan obat lini pertama
dalam pengobatan hipertensi.

Beberapa efek samping yang dapat muncul akibat konsumsi obat beta-blocker adalah susah tidur
(insomnia), tangan dan kaki dingin, kelelahan, sesak napas, detak jantung melemah, serta risiko
impoten.

Contoh obat beta blocker: atenolol (Tenormin), propranolol, metoprolol, nadolol (Corgard),
betaxolol (Kerlone), metoprolol tartrate (Lopressor) acebutolol (Sectral), bisoprolol fumarate
(Zebeta), nebivolol, dan solotol (Betapace).

6. Alpha blocker

Obat darah tinggi jenis alpha blocker digunakan untuk mengatasi darah tinggi dengan memengaruhi
kerja hormon norepinephrine.
Norepinephrine adalah hormon yang mengencangkan otot-otot pembuluh darah. Dengan konsumsi
obat darah tinggi alpha blocker, otot-otot tersebut dapat mengendur dan pembuluh darah akan
melebar.

Pelebaran pembuluh darah ini dapat menyebabkan tekanan darah menurun. Karena sifatnya yang
merilekskan otot, obat darah tinggi jenis ini juga dapat membantu memperlancar buang air kecil pada
lansia dengan masalah prostat.

Alpha blocker biasanya tidak diberikan sebagai pilihan pertama pengobatan hipertensi. Umumnya,
penggunaannya dikombinasikan dengan obat-obatan darah tinggi lainnya, misalnya diuretik.

Beberapa jenis obat darha tinggi alpha blocker mungkin akan mengakibatkan efek samping pada
dosis pertama, seperti pusing dan tekanan darah rendah. Efek samping lain yang mungkin terjadi
adalah sakit kepala, jantung berdebar, dan tubuh melemah.

Contoh obat alpha blocker: doxazosin (Carduar), terazosin hydrochloride,


dan prazosin hydrochloride (Minipress).

7. Vasodilator

Obat darah tinggi lain yang biasanya diresepkan dokter adalah vasodilator. Obat ini bekerja dengan
cara membuka atau melebarkan otot-otot pembuluh darah.

Apabila otot pembuluh arteri dan vena lebih rileks, darah akan mengalir dengan lebih mudah. Jantung
Anda tidak perlu bekerja dengan keras, sehingga obat ini dapat menyebabkan tekanan darah Anda
yang tinggi dapat menurun.

Beberapa efek samping yang dapat timbul akibat konsumsi obat darah tinggi ini adalah percepatan
detak jantung, penumpukan cairan berlebih di dalam tubuh, mual, muntah, sakit kepala, rambut
tumbuh secara berlebihan, nyeri sendi, dan nyeri dada.

Contoh obat vasodilator: hydralazine dan minoxidil.

8. Central-acting agents

Central-acting agents atau central agonist merupakan obat darah tinggi yang bekerja di sistem saraf
pusat, bukan langsung di sistem kardiovaskular.

Obat darah tinggi central-acting agents bekerja dengan cara mencegah otak mengirim sinyal ke
sistem saraf untuk mempercepat detak jantung dan mempersempit pembuluh darah.

Sehingga, jantung tidak memompa darah dengan kuat dan darah mengalir lebih mudah di pembuluh
darah.

Selain digunakan untuk mengatasi tekanan darah tinggi, obat darah tinggi jenis ini juga biasanya
diberikan kepada penderita attention-deficit/hyperactivity disorder (ADHD) serta sindrom Tourette.

Dibanding dengan obat darah tinggi lainnya, central-acting agents termasuk obat darah tinggi dengan
efek samping yang cukup kuat. Beberapa di antaranya adalah penurunan denyut jantung, konstipasi,
pusing, mengantuk, demam, serta risiko impoten.

Contoh obat central-acting agent: clonidine (Catapres, Kapvay), guanfacine (Intuniv), dan
methyldopa.
9. Direct renin inhibitor (DRI)

Obat direct renin inhibitor (DRI) bekerja dengan cara mencegah renin mengatur tekanan darah Anda
yang tinggi. Renin merupakan enzim yang terdapat di dalam tubuh Anda.

Dengan menghambat kerja renin, obat ini dapat membantu pembuluh darah melebar, sehingga
tekanan darah yang tinggi dapat menurun.

Ibu hamil dan menyusui tidak diperbolehkan untuk minum obat darah tinggi jenis ini. Selain itu,
karena obat ini tergolong obat darah tinggi yang masih baru, diperlukan penelitian lebih lanjut
mengenai efek samping jangka panjang dari obat ini.

Namun, efek samping yang umumnya dapat timbul akibat konsumsi obat darah tinggi DRI adalah
pusing, sakit kepala, diare, dan hidung tersumbat.

Contoh obat direct renin inhibitor: aliskiren (Tekturna).

10. Aldosterone receptor antagonist

Obat aldosterone receptor antagonist lebih umum digunakan untuk mengobati penyakit gagal
jantung. Namun, obat ini juga dapat membantu menurunkan tekanan darah tinggi.

Menyerupai diuretik, obat ini membantu membuang cairan berlebih tanpa mengurangi kadar kalium
di dalam tubuh. Dengan demikian, pembengkakan akibat penumpukan cairan dapat berkurang,
pernapasan lebih lancar, dan tekanan darah menurun.

Dalam kasus tertentu, obat ini dapat dikombinasikan dengan diuretik, ACE inhibitor, atau beta
blocker. Beberapa efek samping yang dapat terjadi adalah mual, muntah, diare, serta kram perut.

Contoh obat aldosterone receptor antagonist: eplerenone, spironolactone.

Yang harus diingat sebelum membeli obat darah


tinggi
Umumnya, pilihan obat pertama untuk mengatasi darah tinggi adalah diuretik jenis thiazide. Namun,
dalam beberapa kasus, penggunaan obat darah tinggi diuretik mungkin akan digabung dengan beta
blocker, ACE inhibitor, atau calcium channel blocker.