Anda di halaman 1dari 8

KERANGKA ACUAN KERJA

( K A K )

PROGRAM PENGEMBANGAN WILAYAH STRATEGIS DAN CEPAT TUMBUH


KEGIATAN PEMBANGUNAN / PENINGKATAN INFRASTRUKTUR

PEKERJAAN :
PENDATAAN RUMAH TIDAK LAYAK HUNI (RTLH)

LOKASI PEKERJAAN :
KECAMATAN TIROANG

DINAS PEKERJAAN UMUM & PERUMAHAN RAKYAT


KABUPATEN PINRANG
TAHUN ANGGARAN 2019
KERANGKA ACUAN KERJA
( K A K ) _________________________________________________
PENDATAAN RUMAH TIDAK LAYAK HUNI (RTLH)
KECAMATAN TIROANG

Lembaga : Pemerintah Kabupaten Pinrang


SKPD : Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat
Kabupaten Pinrang
Nama PA : Drs. BASIS PANRITA, M.Si
Nama PPK : ANDI PAHLEVI, ST
Program : Pengembangan Wilayah Strategis dan Cepat Tumbuh
Kegiatan : Pembangunan / Peningkatan Infrastruktur
Pekerjaan : Pendataan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH)
Lokasi : Kecamatan Tiroang
No. DPA SKPD : 1.03 1.03.01 29 02 5 2
Sumber Dana : DAU
Tahun Anggaran : 2019
____________________________________________________________________________________

A. LATAR BELAKANG
Rumah termasuk kebutuhan pokok di dalam urutan prioritas kebutuhan
manusia/ masyarakat. Setiap bagian dari rumah berperan dan saling berkaitan
untuk bersama-sama memenuhi fungsi sebenarnya sesuai kebutuhan
penghuninya. Sesuai Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan
dan Permukiman bahwa dalam penyelenggaraan perumahan dan kawasan
permukiman, setiap orang berhak menempati, menikmati, dan/ atau memiliki/
memperoleh rumah yang layak dalam lingkungan yang sehat, aman, serasi, dan
teratur. Pemerintah beranggapan bahwa masalah perumahan merupakan
tanggung jawab bersama, namun kewajiban untuk pemenuhan kebutuhan rumah
tersebut pada hakekatnya merupakan tanggung jawab individual dalam hal ini
dilaksanakan secara swadaya oleh masing-masing rumah tangga. Oleh karenanya
berbagai upaya perlu dilakukan untuk meningkatkan prakarsa dan swadaya
masyarakat dalam mewujudkan Rumah Layak Huni.
Salah satu masalah perumahan adalah masih adanya kondisi rumah yang
tidak layak huni di perkotaan maupun pedesaan akibatnya rumah tidak berfungsi
secara optimal karena mengalami kerusakan yang mengakibatkan berbagai
dampak negatif bagi penghuninya. Dan perlu diketahui juga bahwa penghuni dari
rumah tidak layak huni merupakan warga masyakat yang berpenghasilan rendah
bahkan dalam kritria dari Biro Pusat Statistik mereka sering dikatakan sebagai
bagian dari masyarakat dengan kategori Rumah Tangga Miskin (RTM). Disisi yang
lain peran masyarakat khususnya keswadayaan maupun kegotong-royongan
dalam mewujudkan rumah yang layak huni perlu didorong agar lebih optimal
karena pada dasarnya adalah tanggung jawab masyarakat sendiri meskipun
pemerintah tetap bertanggung jawab pada kelompok masyarakat yang memerlukan
bantuan.
Dalam rangkaian mempercepat terwujudnya rumah layak huni, diperlukan
sinergitas bersama antara pemerintah pusat, pemerintah provinsi, dan pemerintah
kabupaten/kota. Oleh karena itu, pemerintah pusat beberapa tahun terakhir
berupaya membantu dalam bentuk alokasi dana bantuan sosial pada masyarakat,
khususnya masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) dan dapat pula
dikategorikan rumah tangga miskin yang pada umumnya menempati Rumah Tidak
Layak Huni (RTLH). Program-program pemerintah pusat yang bersifat bantuan
sosial perbaikan rumah tidak layak huni ini, pada dasarnya bersifat stimulan
untuk mendongkrak prakarsa dan peran serta masyarakat untuk berswadaya dan
gotong-royong dalam memperbaiki rumahnya.
Sebagai upaya mempercepat terwujudnya program-program pemerintah
pusat tersebut diatas, maka Pemerintah Kabupaten Pinrang menyambut baik dan
berupaya menyelesaikan permasalahan RTLH secara bertahap, tentunya dimulai
dengan melakukan pendataan RTLH di seluruh wilayah kecamatan di Kabupaten
Pinrang. Sehingga data yang terakumulasi nantinya dapat dijadikan database yang
memudahkan dalam pengusulan penanganan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) ke
Pemerintah Pusat.

B. LANDASAN HUKUM
Kegiatan pendataan rumah tidak layak huni ini dilaksanakan berdasarkan aspek
legalitas sebagai berikut :
1. Undang-Undang Dasar 1945 dan pasal 28H Amandemen UUD 1945;
2. Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (Lembaran
Negara Tahun 2007 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4725;
3. Undang-undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan
Permukiman;
4. Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2005 Tentang Peraturan Pelaksanaan
Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung;
5. Perturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 2016 tentang Penyelenggaraan
Perumahan dan Kawasan Permukiman;
6. Permen PUPR No. 32/PRT/M/2016 tentang Pedoman Organisasi Perangkat
Daerah Bidang Perumahan Kawasan Permukiman;
7. Permen No 13 Tahun 2016 tentang Penyelenggaraan Rumah Swadaya.

C. MAKSUD DAN TUJUAN


1. Maksud
Maksud dari pekerjaan Pendataan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) untuk
mengidentifikasi dan menginventarisir jumlah rumah tidak layak huni di
daerah/kampung dan permukiman kumuh di kawasan perkotaan untuk dapat
melakukan upaya peningkatan kualitas rumah dan lingkungannya.
2. Tujuan
a. Mendapatkan data jumlah Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) sebagai
pendukung untuk database di Kabupaten Pinrang;
b. Untuk memberikan kemudahan dalam menyusun program perencanaan
dalam pelaksanaan pembangunan rumah secara swadaya, sehingga
kegiatan pembangunan rumah layak huni yang ada di Kabupaten Pinrang
dapat dilakukan secara optimal;
c. Kerangka Acuan Kerja (KAK) ini merupakan petunjuk bagi konsultan
perencana yang memuat masukan, azas, kriteria, keluaran dan proses yang
harus dipenuhi dan diperhatikan serta diinterprestasikan ke dalam
pelaksanaan tugas, sehingga konsultan perencana dapat melaksanakan
tanggung jawabnya dengan baik untuk menghasilkan keluaran yang
memadai sesuai dengan fungsi.
D. TARGET/SASARAN
Melaksanakan jasa konsultansi perencanaan Pendataan Rumah Tidak Layak Huni
(RTLH), sebagaimana yang tercantum dalam Dokumen Pelaksanaan Anggaran
Satuan Kerja Perangkat Daerah (DPA-SKPD) Kabupaten Pinrang Tahun Anggaran
2019.

E. LOKASI KEGIATAN
Lokasi kegiatan dilakukan di Kecamatan Tiroang Kabupaten Pinrang.

F. SUMBER DAN PENGGUNAAN DANA


Sumber dana untuk Pendataan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) pada kegiatan
Pembangunan/Peningkatan Infrastruktur bersumber dari Dana Alokasi Umum
(DAU) APBD Kabupaten Pinrang Tahun Anggaran 2019 sebesar Rp. 50.000.000,-
(Lima Puluh Juta Rupiah) yang dipergunakan untuk biaya belanja jasa konsultansi
perencanaan.

G. RUANG LINGKUP KEGIATAN


1. Lingkup Wilayah
Sesuai dengan terget/sasaran, maka lingkup kegiatan difokuskan pada
Pendataan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) di wilayah administrasi Kecamatan
Tiroang dengan titik fokus pendataan di Kelurahan Mattiro Deceng (sesuai
dengan SK kumuh kabupaten pinrang) dan Kelurahan Fakkie (merupakan Sub
BWP dalam RTRW Kabupaten Pinrang).
2. Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan pendataan RTLH di Kelurahan Mattiro Deceng dan Kelurahan Fakkie
dengan ruang lingkup pekerjaan adalah :
a. Menyiapkan format-format pendataan secara lengkap, sesuai format yang
diminta oleh pemberi tugas;
b. Melakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait dalam rangka persiapan
pendataan dilapangan;
c. Membuat time schedulle pelaksanaan pendataan masing-masing
kelurahan;
d. Survey ke lapangan untuk melakukan pengumpulan data RTLH sesuai
dengan kondisi eksisting;
e. Mengidentifikasi dan menginventarisir jumlah RTLH di masing-masing
fokus kelurahan;
f. Integrasi data yang berkaitan dengan perumahan dan permukiman;
g. Klasifikasi data;
h. Pemetaan RTLH di masing-masing yang menjadi fokus kelurahan.

H. WAKTU PELAKSANAAN
Waktu pelaksanaan yang dibutuhkan selama 60 (enam puluh) hari kalender,
terhitung sejak penandatanganan Surat Perintah Kerja (SPK).

I. KEPERLUAN TENAGA
1. Tenaga Ahli
Dalam pekerjaan ini dibutuhkan personil tenaga ahli dengan latar belakang
dan kualifikasi sebagai berikut:
a. Team Leader adalah seorang berkualifikasi Ahli Perencanaan dengan latar
belakang S1 Teknik Arsitektur/Teknik Sipil yang berpengalaman
sekurangnya 5 (Lima) tahun pada bidangnya.
Team Leader memiliki tugas dan tanggung jawab:
 Mengkoordinasikan seluruh tenaga ahli dan tenaga pendukung
mengenai tugas dan hasil yang akan dicapai;
 Menyusun rencana kerja tim dan jadwal setiap aktivitas untuk
penyelesaian pekerjaan;
 Merumuskan metode kerja yang efisiean untuk penyelesaian
pekerjaan;
 Mengantisipasi permasalahan dan kendala dalam penyelesaian
pekerjaan dan didiskusikan dengan tim teknis.
b. Tenaga Ahli GIS (Surveyor Pemetaan) dengan kualifikasi S1-
Geodesi/Planologi/PWK menguasai GIS yang memiliki tugas untuk
membuat pemetaan rumah tidak layak huni yang berpengalaman
sekurangnya 5 (Lima) tahun pada bidangnya
2. Tenaga Pendukung
a. Tenaga Ahli Informatika (Data Information System) kualifikasi minimum
S1-Komputer/Ekonomi Manajemen yang memiliki tugas dan tanggung
jawab meyusun dan merekap data hasil identifikasi.
b. Juru Gambar (Drafter) Minimal D3 Arsitektur/Teknik Sipil/STM
bangunan berpengalaman 10 Tahun bertugas membuat sketsa denah
rumah rumah tidak layak huni.
c. Administrasi Minimal D3 Administrasi/Ekonomi Manajemen yang
bertugas untuk membuat administrasi laporan kunjungan ke lapangan.
d. Tenaga bantu pendataan minimal STM Bangunan/SMA/Sederajat,
berpengalaman di lapangan, Menguasai Daerah Nunukan, adapun
tugasnya yaitu Melakukan Pendataan ke Desa dan melakukan identifikasi
data Rumah Tidak Layak huni sesuai dengan kriteria yang diisyaratkan.

Klasifikasi dan Kualifikasi Tenaga Ahli Pendataan RTLH


Kecamatan Tiroang Kabupaten Pinrang
Pengala Kode Sub
No Posisi Kualifikasi Klasifikasi
man
1 Team Leader/ S1 Sipil 5 Tahun 201
KetuaTim S1 Arsitektur
2 Tenaga Ahli (Pemetaan/ (S1) Jurusan 5 Tahun AS 605
Ahli GIS) Geodesi/Planologi/PWK
3 Operator Komputer D3 Jurusan Teknik 3 Tahun NON SKA
(GIS)/Drafter Sipil/Arsitektur
STM Bangunan

4 Tenaga Bantu Minimal STM Menguas NON SKA


Pendataan Bangunan/SMA/Sederaja ai
t Wilayah
Kab.
Pinrang

J. DATA PENUNJANG
1. Data Dasar
a. Untuk melaksanakan tugasnya Konsultan Pendataan harus mencari
informasi yang dibutuhkan selain dari informasi yang diberikan oleh
Pengguna Jasa termasuk melalui KAK ini;
b. Konsultan Pendataan harus memeriksa kebenaran informasi yang
digunakan dalam pelaksanaan tugasnya, baik yang berasal dari Kepala
Satuan Kerja, maupun yang dicari sendiri. Kesalahan kelalaian pekerjaan
pendataan sebagai akibat dari kesalahan informasi menjadi tanggungjawab
Konsultan Pendataan;
c. Sementara ini data-data tentang karakteristik lokasi rencana masih sangat
terbatas sehingga konsultan pendataan dapat mempersiapkan sendiri data-
data yang diperlukan.
2. Kriteria Umum RTLH
Pekerjaan yang harus dilaksanakan oleh konsultan pendataan harus
memperhatikan kriteria umum Rumah Tidak Layak Huni (RTLH), yaitu :
1. Rumah Tidak Layak Huni yang berada di atas tanah :
 Dikuasai secara fisik dan jelas bata-batasnya;
 Bukan merupakan tanah warisan yang belum dibagi;
 Tidak dalam status sengketa;
 Penggunaanya sesuai dengan rencana tata ruang.
2. Bangunan yang belum selesai dari yang sudah diupayakan oleh masyarakat
sampai paling tinggi struktur tengah dan luas lantai bangunan paling tinggi
45 m²;
3. Terkena kegiatan konsolidasi tanah, atau relokasi dalam rangka
peningkatan kualitas perumahan dan kawasan permukiman kumuh;
4. Terkena bencana alam, kerusuhan sosial dan/atau kebakaran;
5. Material bangunan Rumah Tidak Layak Huni, berupa :
 Bahan lantai berupa tanah atau kayu kelas II dan Atau Lebih rendah;
 Bahan dinding berupa bilik bambu/kayu/rotan atau kayu kelas II atau
lebih rendah, tidak/kurang mempunyai ventilasi dan pencahayaan;
 Bahan atap berupa daun atau genteng plentong, atap seng yg sudah
berkarat yang sudah rapuh;
 Rusak berat;
 Rusak sedang dan luas lantai bangunan tidak mencukupi standar
minimal luas per anggota keluarga yaitu 9 m².
6. Rumah yang ditempati oleh Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR)
dengan penghasilan dibawah upah minimum provinsi rata-rata nasional
atau masyarakat miskin sesuai dengan data dari Kementerian Sosial;
7. Sudah berkeluarga namun belum memiliki rumah, atau memiliki dan
menghuni rumah tidak layak huni.

K. TAHAPAN KEGIATAN
Tahapan pelaksanaan pekerjaan ini adalah :
1. Tahap Persiapan
Pekerjaan ini dilaksanakan sebelum tim turun ke lapangan yang meliputi
kegiatan penyusunan rencana kerja dan metode pendekatan studi format-
rormat yang diperlukan dalam hal pengumpulan data dan analisa.
2. Tahap Survey Lapangan
Dimaksudkan untuk mengumpulkan data-data sekunder dan data-data
primer. Data-data yang perlu dikumpulkan :
 Kondisi Wilayah
Membuat peta sederhana kawasan desa, yang berisi tata letak tapak, status
tanah dan status penguasaan, peta dan profil kondisi perumahan, kondisi
PSU yang ada, serta kondisi permasalahan perumahan dan permukiman
desa/kelurahan.
 Kondisi Demografi
Dilakukan dengan langkah pengumpulan data dan pemutakhiran data
kependudukan serta pengumpulan data sosial masyarakat seperti tingkat
pendidikan, strata ekonomi dan sebagainya.
 Kondisi Kemiskinan
Dilakukan dengan mengidentifikasi kelompok miskin yang potensial
menjadi sasaran program.
 Kondisi Sosial Ekonomi
Mengumpulkan data kondisi ekonomi masyarakat, meliputi mata
pencaharian penduduk, ketersediaan sarana dan prasarana ekonomi
 Kondisi Sumber Daya/Aset
Mengumpulkan data ketersediaan sumber daya alam, sumber daya
keuangan, infrastruktur, sumber daya manusia, dan sumber daya sosial.
3. Tahap Analisa Data
Analisa adalah kegiatan telaahan data dalam proses studi Potensi dan
Penyusunan Data Primer dan Sekunder. Analisis yang tepat dan memadai
adalah analisis yang sesuai dengan tujuan dan sasaran yaitu sebagai pedoman
pelaksanaan pendataan rumah tidak layak huni.

L. PELAPORAN
Laporan-laporan yang oleh Konsultan RTLH berdasarkan Kerangka Acuan Kerja ini
lebih lanjut akan diatur dalam surat perjanjian yang berisi minimal adalah :
1. Laporan Pendahuluan
 Pemahaman dan tanggapan terhadap KAK;
 Rencana kerja, jadwal, target, alokasi tenaga ahli dll;
 Metodologi dan pendekatan pelaksanaan pekerjaan, metode pengumpulan
data, quistioner, metoda pengolahan dan analisis data, kajian pustaka;
 Gambaran umum daerah perencanaan dan inventarisasi ketersediaan data
dan peta pendukung.
2. Laporan Akhir
Laporan ini berisi mengenai hasil survey, identifikasi dan inventarisir rumah
tidak layak huni yang berada di Kabupaten.
Laporan ini dibuat sebanyak 7 (Tujuh) eksemplar dan di scan dengan format
pdf dalam ukuran kertas A4 diserahkan sebelum kontrak kerja selesai 60
(Enam Puluh) hari kalender setelah Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK) dan
disertai dengan album peta sebanyak 7 (Tujuh) eksemplar dalam ukuran kertas
A3 dan di scan dengan format PDF serta back up data dalam bentuk External
Harddisk sebanyak 1 (Satu) buah yang berisi seluruh proses dan hasil kegiatan
terutama album peta final yang sesuai dengan hasil cetakan laporan akhir yang
diserahkan. Laporan ini juga memuat:
 Deskripsi wilayah setiap Kecamatan mengenai data Kependudukan dan
Geografis.
 Hasil survey yang sudah diolah dalam bentuk pemetaan skala 1:500,
ploting pemetaan lebih difokuskan dalam identifikasi tiap desa.
 Hasil inventarisir kriteria dan karakteristik rumah tidak layak huni sesuai
Permen PU No. 13 Tahun 2016 Pasal 9.
 Peta lokasi hasil identifikasi rumah tidak layak huni dalam bentuk notasi
dari GPS.

Sedangkan untuk penyempurnaan hasil dari pelaporan diatas, serta pelaksanaan di


lapangan diperlukan Presentasi yang terdiri dari:
1. Presentasi Pendahuluan
Presentasi pendahuluan meliputi: rencana kerja, metode, penugasan personil,
dan lain-lain yang dianggap perlu. Dalam presentasi pendahuluan ini semua
tenaga ahli yang diminta dalam KAK diwajibkan hadir.
2. Presentasi Progress 1
Dalam presentasi Progress 1 ini, pihak penyedia menyampaikan hasil
pelaksanaan pendataan dalam progress 30%. Menyampaikan kendala yang
dihadapi, serta masukan dalam pemecahan masalah yang ada di lapangan.
3. Presentasi Progress 2
Dalam presentasi Progress 2 ini, pihak penyedia menyampaikan hasil
pelaksanaan pendataan dalam progress 75%. Menyampaikan kendala yang
dihadapi, serta masukan dalam pemecahan masalah yang ada di lapangan.
4. Presentasi Akhir
Dalam presentasi Akhir ini, pihak penyedia menyampaikan hasil pelaksanaan
pendataan dalam progress 100%. Menyampaikan kendala yang dihadapi, serta
masukan dalam pemecahan masalah yang ada di lapangan. Draft laporan akhir
sudah siap, dan laporan-laporan pendukung lainnya.

M. PENUTUP
Kerangka Acuan Kerja (KAK) ini sudah dioptimalkan secara detail, diharapkan
dengan ini dapat dijadikan dasar dan pedoman dalam pelaksanaan pekerjaan
Survey dan Identifikasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) di Kabupaten Pinrang,
khususnya di Kecamatan Tiroang yang hasilnya dapat dimanfaatkan sebagai data
dalam penyusunan Rencana Program dan Kegiatan di Bidang Perumahan,
sehingga kedepannya dapat dilakukan perbaikan dan peningkatan kualitas untuk
rumah tidak layak huni beserta lingkungannya.

Pinrang, Juni 2018,-


Kepala Bidang Perumahan dan
Permukiman selaku Pejabat
Pembuat Komitmen (PPK)

ANDI PAHLEVI, ST
Nip. 19760303 200604 1 007