Anda di halaman 1dari 17

PEMERIKSAAN SGPT DAN SGOT DALAM SERUM

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kimia klinik juga dikenal sebagai kimia patologi, biokimia klinis
atau medis biokimia, adalah bagian dari patologi klinis yang umumnya
berkaitan dengan analisis cairan tubuh salah satunya airan urin.
Dalam uji SGOT dan SGPT, hati dapat dikatakan rusak bila
jumlah enzim tersebut dalam plasma lebih besar dari kadar
normlanya. Pada umumnya nilai tes GPT/ALT lebih tinggi daripada
SGOT/AST pada kerusakan parenkim hati akut, sedangkan proses
kronis didapat sebaliknya.
Kadar AST/SGOT dan ALT/SGPT serum meningkat pada
beberapa keadaan, hampir semua penyakit hati. Secara keseluruhan
aktivitas ALT lebih spesifik untuk mendeteksi penyakit hati pada
pasien asimptomatik seperti pada nonalkoholik. Hepatomegali
merupakan satu-satunya kelainan pada pemeriksaan fisik. Diantara
enzim-enzim hati aspartat aminotransferase (AST), alanin
aminotransferase (ALT) dan γ-Glutamiltransferase, ALT merupakan
yang paling dekat hubungannya dengan akumulasi lemak hati.
Tingkat darah SGOT ini adalah demikian tinggi dengan kerusakan hati
(misalnya,dari hepatitis virus ) atau dengan penghinaan terhadap jantung.
Sedangkan SGPT adalah singkatan dari Serum Glutamic Piruvic
Transaminase, SGPTatau juga dinamakan ALT (alanin aminotransferase)
merupakan enzim yang banyak ditemukanpada sel hati serta efektif untuk
mendiagnosis destruksi hepatoseluler.
Oleh karena itu pada percobaan ini,akan dilakukan
pengamatan terhadap sampel urin, yaitu pemeriksaan fisika dan
pemeriksaan zat organik pada urin dimana dilakukan pemeriksaan
dengan menggunakan probandus yang berpuasa dan yang tidak
berpuasa, untuk melihat perbandingan hasil pemeriksaaan antara
kedua probandus tersebut.

EKA MARYAM NOVRIYANTI MUH. RIFQI IRSYAQ, S.Farm., Apt


15020150223
PEMERIKSAAN SGPT DAN SGOT DALAM SERUM

1.2 Maksud Praktikum


Adapun maksud praktikum dari percobaan ini yaitu untuk
mengetahui dan memahami cara pemeriksaan kadar SGPT dan
SGOT dalam serum secara spektrofotometri pada panjang gelombang
340 nm.
1.3 Tujuan Praktikum
Adapun tujuan praktikum dari percobaan ini yaitu untuk
menentukan kadar SGPT dan SGOT dalam serum secara
spektrofotometri pada panjang gelombang 340 nm.

EKA MARYAM NOVRIYANTI MUH. RIFQI IRSYAQ, S.Farm., Apt


15020150223
PEMERIKSAAN SGPT DAN SGOT DALAM SERUM

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Teori Umum


Aspartate transaminase (AST) atau serum glutamic oxaloacetic
transaminase (SGOT) adalah enzim yang biasanya terdapat dalam
jaringan tubuh, terutama dalam jantung dan hati; enzim itu dilepaskan ke
dalam serum sebagai akibat dari cedera jaringan, oleh karena itu
konsentrasi dalam serum (SGOT) dapat meningkat pada penyakit infark
miokard atau kerusakan aku pada sel-sel hati (Dorland, 2012).
SGOT ( Serum Glutamik Oksaloasetik Transaminase ) adalah
enzim transaminase sering disebut juga AST (Aspartat Amino
Transferase) katalisator perubahan dari asam amino menjadi asam alfa
ketoglutarat. Enzim ini berada pada serum dan jaringan terutama hati dan
jantung (Sutedjo, 2006).
SGPT (Serum Glutamik Piruvat Transaminase ) merupakan
enzim transaminase yang dalam keadaan normal berada dalam jaringan
tubuh terutama hati. Sering disebut juga ALT (Alanin Aminotransferase)
(Sutedjo, 2006).
AST/SGOT dan ALT/SGPT sering dianggap sebagai enzim hati
karena tingginya konsentrasi keduanya dalam hepatosit, tetapi hanya ALT
yang spesifik. Pada penyakit hati, kadar AST dan ALT serum umumnya
naik dan turun secara bersama-sama. Bila hepatosit cedera, enzim yang
secara normal berada intrasel ini masuk ke dalam aliran darah. Hepatosit
sentrilobulus mengalami cedera apabila hipotensi arteri menyebabkan
berkurangnya darah yang masuk ke hati atau apabila peningkatan
tekanan balik akibat gagal jantung kanan memperlambat keluarnya darah
dari vena sentral, pada kerusakan hipoksik ini, kadar aminotransferase
meningkat sampai derajat sedang (Soerasmo, 2002).
Kadar AST/SGOT dan ALT/SGPT serum meningkat pada
beberapa keadaan, hampir semua penyakit hati. Secara keseluruhan
aktivitas ALT lebih spesifik untuk mendeteksi penyakit hati pada pasien

EKA MARYAM NOVRIYANTI MUH. RIFQI IRSYAQ, S.Farm., Apt


15020150223
PEMERIKSAAN SGPT DAN SGOT DALAM SERUM

asimptomatik seperti pada nonalkoholik. Hepatomegali merupakan satu-


satunya kelainan pada pemeriksaan fisik. Diantara enzim-enzim hati
aspartat aminotransferase (AST), alanin aminotransferase (ALT) dan γ-
Glutamiltransferase, ALT merupakan yang paling dekat hubungannya
dengan akumulasi lemak hati. Peningkatan konsentrasi ALT dianggap
sebagai akibat kerusakan hepatosit pada perlemakan hati (Lesmana,
2003).
Aspartat aminotransferase (AST/ SGOT) adalah enzim yang
terdapat pada jaringan dengan aktivitas metabolik tinggi, mengkatalisis
konversi bagian nitrogen asam amino menjadi energi dalam siklus krebs.
Enzim ini dahulu disebut glutamat-oksaloasetat transaminase (GOT) dan
dirujuk sebagai GOT serum (SGOT). AST ditemukan dalam sitoplasma
dan mitokondria sel hati, jantung, otot skelet, ginjal, pankreas dan eritrosit.
Pada kerusakan sel-sel tersebut, AST dalam serum meninggi (Angulo,
2002).
Alanin aminotransferase (ALT/SGPT) adalah enzim konsentrasi
tinggi terjadi pada hati, mengkatalis kelompok amino dalam siklus krebs
untuk menghasilkan energi jaringan. Dahulu disebut glutamat-piruvat
transaminase serum (SGPT). ALT terdapat terutama pada sel ginjal, sel
jantung dan otot skelet. Pada kerusakan sel hati ALT meninggi di dalam
serum sehingga merupakan indikator kerusakan sel hati (Sulaeman,
2005).
AST/SGOT dan ALT/SGPT sering dianggap sebagai enzim hati
karena tingginya konsentrasi keduanya dalam hepatosit, tetapi hanya ALT
yang spesifik. Pada penyakit hati, kadar AST dan ALT serum umumnya
naik dan turun secara bersama-sama. Bila hepatosit cedera, enzim yang
secara normal berada intrasel ini masuk ke dalam aliran darah. Hepatosit
sentrilobulus mengalami cedera apabila hipotensi arteri menyebabkan
berkurangnya darah yang masuk ke hati atau apabila peningkatan
tekanan balik akibat gagal jantung kanan memperlambat keluarnya darah

EKA MARYAM NOVRIYANTI MUH. RIFQI IRSYAQ, S.Farm., Apt


15020150223
PEMERIKSAAN SGPT DAN SGOT DALAM SERUM

dari vena sentral, pada kerusakan hipoksik ini, kadar aminotransferase


meningkat sampai derajat sedang (Soerasmo, 2002).
Kadar AST/SGOT dan ALT/SGPT serum meningkat pada
beberapa keadaan, hampir semua penyakit hati. Secara keseluruhan
aktivitas ALT lebih spesifik untuk mendeteksi penyakit hati pada pasien
asimptomatik seperti pada nonalkoholik. Hepatomegali merupakan satu-
satunya kelainan pada pemeriksaan fisik. Diantara enzim-enzim hati
aspartat aminotransferase (AST), alanin aminotransferase (ALT) dan γ-
Glutamiltransferase, ALT merupakan yang paling dekat hubungannya
dengan akumulasi lemak hati. Peningkatan konsentrasi ALT dianggap
sebagai akibat kerusakan hepatosit pada perlemakan hati (Lesmana,
2003).
Banyak obat yang bereaksi dengan protein plasma, jaringan
atau makromolekul lain, seperti melanin dan DNA membentuk suatu
kompleks obat makromolekul. Pembentukan kompleks ini sering disebut
ikatan obat protein. Ikatan obat protein dapat merupakan proses reversible
atau irreversible. Ikatan obat protein yang irreversible umumnya
merupakan hasill aktivasi kikmia obat yang kemudian berikatan kuat
dengan protein atau makromolekul dengam ikatan kimia kovalen. Sebagai
contoh hepatotoksisitas dari asetaminofen dosis tinggi disebabkan oleh
pembentukanmetabolit antara yang reaktif yang berinteraksi dengan
protein hati (Shargel, 2005).
Sebagian besar obat berikatan atau membentuk kompleks
dengan protein dengan proses reversible. Ikatan obat yang reversible ini
menunjukkan bahwa obat mengikat protein dengan ikatan kimia yang
lebih lemah, seperti ikatan hydrogen atau gaya van der walls. Asam-asam
amino yang menyusun rantai protein mempunyai gugus hidroksil, karboksil
atau gugus lain yang tersedia untuk berinteraksi dengan obat secara
reversible (Shargel, 2005).
Komponen utama protein plasma yang bertanggung jawab
terhadap ikatan obat adalah albumin. Protein lain seperti globulin yang

EKA MARYAM NOVRIYANTI MUH. RIFQI IRSYAQ, S.Farm., Apt


15020150223
PEMERIKSAAN SGPT DAN SGOT DALAM SERUM

dpat berikatan dengan obat-obat hanya merupakan bagian terkecil dari


keseluruhan ikatan protein plasma. Obat-obat asam lemah seperti salisilat,
fenilbutazol, dan penisilin terikat kuat dengan albumin. Obat-obat basa
lemah seperti propanolol dan lidokain juga berikatan, khususnya alfa 1
asam glikoprotein dan lipoprotein (Shargel, 2005).
SGOT banyak terdapat dalam mitokondria dan dalam
sitoplasma, sedangkan SGPT hanya terdapat dalam sitoplasma. Oleh
karena itu, untuk proses lebih lanjut, terjadi kerusakan membran
mitokondria yang akan lebih banyak mengeluarkan SGOT atau AST,
sedangkan untuk proses akut SGPR atau ALT lebih dominan dibanding
SGOT atau AST (Kidhri, 2004).
Berdasarkan interpretasi, semua sel prinsipnya mengandung
enzim ini. Namun, enzim transaminase mayoritas terdapat dalam sel hati,
jantung, dan otak. Pada keadaan adanya nekrosis sel yang hebat,
perubahan permeabilitas membran atau kapiler, enzim ini akan bocor ke
sirkulasi. Sebab ini, enzim ini akan meningkat jumlahnya pada keadaan
nekrosis sel atau proses radang akut atau kronis (Pearce, 2006).
Tes faal hati yang terjadi pada infeksi bakterial maupun virus
yang sistemik yang bukan virus hepatitis. Penderita semacam ini,
biasanya ditandai dengan demam tinggi, myalgia, nausea, asthenia dan
sebagainya. Disini faal hati terlihat akan terjadinya peningkatan SGOT,
SGPT serta ∂-GT antara 3-5X nilai normal. Albumin dapat sedikit menurun
bila infeksi sudah terjadi lama dan bilirubin dapat meningkat sedikit
terutama bila infeksi cukup berat (Pearce, 2006).
ALT dan AST adalah dua penanda paling dapat diandalkan dari
cedera atau nekrosis hepatoseluler. Tingkat mereka dapat meningkat
dalam berbagai gangguan hati. Dari dua, ALT dianggap lebih spesifik
untuk kerusakan hati karena hadir terutama dalam sitosol hati dan dalam
konsentrasi rendah di tempat lain. AST memiliki bentuk sitosol dan
mitokondria dan hadir di jaringan hati, jantung, otot rangka, ginjal, otak,
pankreas, dan paru-paru, dan sel darah putih dan merah. AST kurang

EKA MARYAM NOVRIYANTI MUH. RIFQI IRSYAQ, S.Farm., Apt


15020150223
PEMERIKSAAN SGPT DAN SGOT DALAM SERUM

umum disebut sebagai oksaloasetat transaminase serum glutamic dan


ALT piruvat transaminase sebagai serum glutamat. Meskipun tingkat ALT
dan AST bisa sangat tinggi (melebihi 2.000 U per L dalam kasus cedera
dan nekrosis hepatosit yang berhubungan dengan obat-obatan, racun,
iskemia, dan hepatitis), ketinggian kurang dari lima kali batas atas normal
(yaitu, sekitar 250 U per L dan bawah) jauh lebih umum dalam kedokteran
perawatan primer. Kisaran etiologi yang mungkin pada tingkat elevasi
transaminase lebih luas dan tes kurang spesifik. Hal ini juga penting untuk
mengingat bahwa pasien dengan ALT normal dan tingkat SGOT dapat
mempunyai penyakit hati yang signifikan dalam pengaturan cedera
hepatosit kronis (misalnya, sirosis, hepatitis C) (Kidhri, 2004).
Tingkat- tingkat yang tepat dari enzim-enzim ini tidak
berkorelasi baik dengan luasnya kerusakan hati atau prognosis. Jadi,
tingkat-tingkat AST (SGOT) dan ALT (SGPT) yang tepat tidak dapat
digunakan untuk menentukan derajat kerusakan hati atau meramalkan
masa depan. Contohnya, pasien-pasien dengan virus hepatitis A akut
mungkin mengembangkan tingkat-tingat AST dan ALT yang sangat tinggi
(adakalanya dalam batasan ribuan unit/liter). Namun kebnyakan pasien-
pasien dengan virus hepatitis A akut sembuh sepenuhnya tanpa sisa
penyakit hati. Untuk suatu contoh yang berlawanan, pasien- pasien
dengan infeksi hepatitis C kronis secara khas mempunyai hanya suatu
peningkatan yang kecil dari tingkat- tingkat AST dan ALT mereka.
Beberapa dari pasien- pasien ini mungkin mempunyai penyakit hati kronis
yang berkembang secara diam- diam seperti hepatitis kronis dan sirosis
(Gunawan, 2011).
Cara pengambilan spesimen, pertama-tama yang dilakukan
adalah disiapkan alat (spoit 5 mL, pengikat lengan dan bahan (alkohol
swab) yang akan digunakan dalam pengambilan specimen darah.
Kemudian lengan probandus yang akan diambil darahnya dibersihkan
dengan alcohol swab dan dibiarkan kering kembali. Kemudian
dipasangkan pengikat pada lengan diatas fosa cubity. Minta kepada

EKA MARYAM NOVRIYANTI MUH. RIFQI IRSYAQ, S.Farm., Apt


15020150223
PEMERIKSAAN SGPT DAN SGOT DALAM SERUM

pasien yang akan diambil darahnya untuk mengepal dan membuka


tangannya beberapa kali agar vena terlihat jelas. Setelah itu, tegangkan
kulit diatas vena dengan jari tangan kiri agar vena tidak bergerak,
kemudian tusuk kulit diatas vena dengan jarum dengan tangan kanan
sampai menembus lumen vena. lepaskan pembendungan dan ambillah
darah 5 mL, taruh kapas diatas jarum dan cabut perlahan. Diminta kepada
probandus agar menekan bekas tusukan dengan alkohol swab (Khidri,
2004)
2.2 Prosedur Kerja (Anonim, 2018)
a. Pemeriksaan SGOT
1. Penyiapan serum
a. Disiapkan alat dan bahan
b. Dimasukkan darah ke dalam tabung sentrifuge
c. Disentrifuge ± 15 menit, dengan kecepatan 6000 rpm.
d. Diambil serum darah
e. Dimasukkan ke dalam tabung reaksi
2. Pengukuran absorban blanko
a. Disiapkan alat dan bahan
b. Dipipet 100µL aquadest ke dalam kuvet, dihomogenkan
c. Ditambahkan 1000 µL reagen 1 SGOT
d. Diinkubasi selama 5 menitpada suhu 370C
e. Ditambahkan 250 µL reagen 2 SGOT, dihomogenkan
f. Diukur absorban pada panjanggelombang 365 nm dengan
spektrofotometer.
3. Pengukuran absorban sampel
a. Disiapkan alat dan bahan
b. Dipipet 100µL serum ke dalam kuvet, dihomgenkan
c. Ditambahkan 1000 µL reagen 1 SGOT
d. Diinkubasi selama 5 menitpada suhu 370C
e. Ditambahkan 250 µL reagen 2 SGOT, dihomogenkan

EKA MARYAM NOVRIYANTI MUH. RIFQI IRSYAQ, S.Farm., Apt


15020150223
PEMERIKSAAN SGPT DAN SGOT DALAM SERUM

f. Diukur absorban pada panjanggelombang 365 nm dengan


spektrofotometer.
g. Diukur lagi absorbansinya pada menit ke-2, ke-3, dan ke-4
h. Dicatat nilai absorbansinya
b. Pemeriksaan SGOT
1.Penyiapan serum
a.Disiapkan alat dan bahan
b.Dimasukkan darah ke dalam tabung sentrifuge
c. Disentrifuge ± 15 menit, dengan kecepatan 6000 rpm.
d.Diambil serum darah
e.Dimasukkan ke dalam tabung reaksi
2.Pengukuran absorban blanko
a.Disiapkan alat dan bahan
b.Dipipet 100µL aquadest ke dalam kuvet, dihomogenkan
c.Ditambahkan 1000 µL reagen 1 SGPT
d.Diinkubasi selama 5 menit pada suhu 370C
e.Ditambahkan 250 µL reagen 2 SGPT, dihomogenkan
f.Diukur absorban pada panjanggelombang 365 nm dengan
spektrofotometer.
3.Pengukuran absorban sampel
a.Disiapkan alat dan bahan
b.Dipipet 100µL serum ke dalam kuvet, dihomgenkan
c. Ditambahkan 1000 µL reagen 1 SGPT
d.Diinkubasi selama 5 menitpada suhu 370C
e.Ditambahkan 250 µL reagen 2 SGPT, dihomogenkan
f. Diukur absorban pada panjang gelombang 365 nm dengan
spektrofotometer.
g.Diukur lagi absorbansinya pada menit ke-2, ke-3, dan ke-4
h.Dicatat nilai absorbansinya

EKA MARYAM NOVRIYANTI MUH. RIFQI IRSYAQ, S.Farm., Apt


15020150223
PEMERIKSAAN SGPT DAN SGOT DALAM SERUM

BAB 3 METODE KERJA

3.1 Alat Praktikum


Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah capor,
mikropipet, pipet tetes, rak tabung, tabung sentrifuge, tabung reaksi,
sentrifuge dan spektrofotometer.
3.2 Bahan Praktikum
Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah
aquadest, darah, mata mikropipet, reagen 1 dan 2 SGPT serta reagen
1 dan 2 SGOT.
3.3 Cara Kerja
A. Pemeriksaan SGPT &SGOT
1. Penyiapan Serum
Disiapkan alat dan bahan, dimasukkan darah ke dalam tabung
sentrifuge, disentrifuge selama ± 20 menit, dengan kecepatan
3000 rpm, diambil serum darah dan dimasukkan ke dalam tabung
reaksi.
2. Pengukuran Absorban Blangko
Disiapkan alat dan bahan, dipipet reagen SGPT/SGOT
sebanyak 2000 µL R1 dan 500 µL R2 kemudian campurkan.
Diinkubasi selama 1 menit. Ditambahkan 250 µL aquadest.
Diinkubasi selama 1 menit dan diukur pada panjang gelombang
340 nm.
3. Pengukuran Absorban Sampel
Disiapkan alat dan bahan, dipipet reagen R1 SGPT/SGOT
sebanyak 2000 µL masukkan ke dalam tabung reaksi.
Ditambahkan 500 µL reagen 2 SGPT/SGOT, diinkubasi selama 1
menit, ditambahkan 250 µL serum darah, dihomogenkan
kemudian diinkubasi selama 1 menit lalu diukur absorban pada
spektrofotometer dengan panjang gelombang 340 nm dan diukur
lagi absorbansinya pada menit ke-2, ke-3, dan ke-4.

EKA MARYAM NOVRIYANTI MUH. RIFQI IRSYAQ, S.Farm., Apt


15020150223
PEMERIKSAAN SGPT DAN SGOT DALAM SERUM

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan


a. Tabel Pengamatan
Kelompok 1 Kelompok 2 Kelompok 3 Kelompok 4
Blanko SGPT (0,245) Blanko SGOT (0,245)
A1 = 0,750 A1 = 0,822 A1 = 0,040 A1 = 0,283
A2 = 0,560 A2 = 0,741 A2 = -0,301 A2 = 0,133
A3 = 0,457 A3 = 0,560 A3 = -0.222 A3 = 0,018
A4 = 0,107 A4 = 0,158 A4 = -0,198 A4 = -0,105

b. Perhitungan
(A1 – A2) + (A2 – A3) + (A3 – A4) 𝐱 𝟏𝟕𝟒𝟔 𝐮/𝐋
3
= (0,750 – 0,560) + (0,560 – 0,457) + (0,457 – 0,107) 𝐱 𝟏𝟕𝟒𝟔 𝐔/𝐋
3
= 0,19 + 0,103 + 0,35 𝐱 𝟏𝟕𝟒𝟔 𝐔/𝐋
3
= 374,226 U/L
4.2 Pembahasan
SGOT ( Serum Glutamik Oksaloasetik Transaminase ) adalah
enzim transaminase sering disebut juga AST (Aspartat Amino
Transferase) katalisator perubahan dari asam amino menjadi asam
alfa ketoglutarat. Enzim ini berada pada serum dan jaringan terutama
hati dan jantung.
SGPT (Serum Glutamik Piruvat Transaminase ) merupakan
enzim transaminase yang dalam keadaan normal berada dalam
jaringan tubuh terutama hati.
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk menentukan nilai kadar
SGPT dan SGOT serum darah dengan metode spektroforometri pada
panjang gelombang 340 nm.

EKA MARYAM NOVRIYANTI MUH. RIFQI IRSYAQ, S.Farm., Apt


15020150223
PEMERIKSAAN SGPT DAN SGOT DALAM SERUM

Pada praktikum ini dilakukan pemeriksaan pada serum karena


pada serum mengandung banyak protein termaksud cairan elektrolit,
antibody, antigen, hormone, dan semua substansi. Sehingga
pengukurannya dilakukan pada spektrofometer karena akan
dilakukan perhitungan kadar SGOT dan SGPT dengan melihat nilai
absorban dari sampel tersebut.
Pada pengerjaan ini, terlebih dahulu dilakukan proses
penyiapan serum dengan memisahkan antara plasma dan serum
pada darah dengan menggunakan sentrifug pada 3000 rpm selama ±
20 menit. Hal ini bertujuan untuk memperoleh serum secara utuh.
Dalam pemeriksaan SGOT, dilakukan pengukuran absorbansi
blangko dengan cara dimasukkan 250 µL aquadest ke dalam kuvet.
Ditambahkan 2000 µL reagen 1 SGPT. Diinkubasi pada suhu 370C
selama 1 menit. Ditambahkan 500 µL reagen 2 SGPT, dihomogenkan.
Diukur absorban pada spektrofotometer dengan panjang gelombang
340 nm. Larutan blanko biasanya digunakan untuk tujuan kalibrasi
sebagai larutan pembanding dan merupakan larutan yang digunakan
sebagai pelarut untuk melarutkan sampel.
Untuk pengukuran absorbansi sampel terhadap SGPT, dapat
dilakukan dengan cara dipipet 250 µL serum darah ke dalam kuvet.
Ditambahkan 2000 µL reagen 1 SGPT. Diinkubasi pada suhu 370C
selama 1 menit. Ditambahkan 500 µL reagen 2 SGPT,
dihomogenkan. Diukur absorban pada spektrofotometer dengan
panjang gelombang 340 nm. Dan diukur lagi absorbansinya pada
menit ke-2, ke-3, dan ke-4.
Dari masing – masing pengerjaan dihitung panjang gelombang
atau absorbansinya menggunakan spektrofotometer dimana
spektrofotometer berfungsi sebagai alat untuk mengukur absorbansi
suatu contoh yang dinyatakan dalam fungsi panjang gelombang.
Dari hasil percobaan menunjukan bahwa hasil pada kelompok 1
yaitu nilai SGPT untuk probandus adalah 374,226 U/L. Dari hasil yang

EKA MARYAM NOVRIYANTI MUH. RIFQI IRSYAQ, S.Farm., Apt


15020150223
PEMERIKSAAN SGPT DAN SGOT DALAM SERUM

didapatkan bahwa nilai dari kedua probandus tersebut tidak


memenuhi range dimana kadar SGPT untuk wanita ≤ 34U/L.
Hal tersebut dapat terjadi memungkinkan dikarenakan adanya
faktor kesalahan anatara lain, pada saat diinkubasi seharusnya
dialkukan inkubasi pada suhu konstan yaitu 370C selama 5 menit akan
tetapi pengerjaannya dilakukan hanya selama 1 menit, selain itu hasil
yang didapatkan dapat dipengaruhi oleh larutan blanko dan proses
pengukuran absorbansi pada spektrofotometer.

EKA MARYAM NOVRIYANTI MUH. RIFQI IRSYAQ, S.Farm., Apt


15020150223
PEMERIKSAAN SGPT DAN SGOT DALAM SERUM

BAB 5 PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Dari hasil praktikum dapat disimpulkan bahwa kadar untuk nilai
SGPT probandus adalah 374,226 U/L dimana hasil yang didapatkan
tidak memenuhi range normal SGPT wanita yaitu ≤ 34 U/L.
5.2 Saran

Saran untuk asisten agar lebih sering lagi mendampingi


praktikannya sehingga hal-hal yang kurang dimengerti dapat
ditanyakan.

EKA MARYAM NOVRIYANTI MUH. RIFQI IRSYAQ, S.Farm., Apt


15020150223
PEMERIKSAAN SGPT DAN SGOT DALAM SERUM

DAFTAR PUSTAKA

Angulo PMD, Nonalkoholic Fatty Liver Disease, N Engl J Med, Vol


346,No.16, 2002, 1221-31.

Anonim., 2018, Penuntum Praktikum Kimia Klinik, Universitas Muslim


Indonesia, Makssar.

Dorland., 2012., Kamus Saku Kedokteran Dorland Edisi 28., EGC:


Jakarta.

Gunawan, S. 2011. Farmakologi dan Terapi Edisi 5. FKUI. Jakarta.

Kemenkes RI., 2011., Pedoman Interpretasi Data Klinik P 9., Kementerian


Kesehatan Republik Indonesia: Jakarta.

Kidhri., 2004,Biomedik 1, Universitas Muslim Indonesia, Makassar.

Lesmana. L., Konsep terkini perlemakan hepatitis nonalkoholik,


informasilaboratorium, no. 2, 2003,1-2 Mc Donald, 2002,Animal
Nutrition. John Wiley Sons,New York.

Pearce, E., 2006, Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis, Gramedia,


Jakarta.

Shargel Leon, WU-Pong Susanna, Yu Andrew B.C., 2005, Biofarmasetika


dan Farmakokinetika Terapan Edisi Kelima, AUP, Surabaya.

Soerasmo., Penanganan Obesitas Dahulu Sekarang dan Masa Depan,


National Obesity Symposium I Surabaya, Muchtadi,2002, Tien R.
2010, Ilmu Pengetahuan Bahan Pangan, Alfabeta, Bogor.

Sulaeman. A., Sindroma Metabolik dan Kejadian Nonalkoholic Steato


Hepatitis NASH, Forum Diagnostikum, No. 6,2005, 1–9.

Sutedjo. A., 2006, Buku Saku Mengenal Penyakit Melalui Hasil


Pemeriksaan Laboratorium, Penerbit Amara Books, Yogyakarta.

EKA MARYAM NOVRIYANTI MUH. RIFQI IRSYAQ, S.Farm., Apt


15020150223
PEMERIKSAAN SGPT DAN SGOT DALAM SERUM

LAMPIRAN

SKEMA KERJA

1. Pemeriksaan SGPT
a. Penyiapan serum
Disiapkan alat dan bahan

Dimasukkan darah ke dalam tabung sentrifuge

Disentrifuge selama ± 20 menit pada kecepatan 3000 rpm.

Diambil serum darah

Dimasukkan ke dalam tabung reaksi.


b. Pengukuran absorban blanko
Disiapkan alat dan bahan

Dipipet 250 µL aquadest ke dalam kuvet, dihomogenkan

Ditambahkan 2000 µL reagen 1 SGPT

Diinkubasi selama 1 menitpada suhu 370 C

Ditambahkan 500 µL reagen 2 SGPT, dihomogenkan

Diukur absorbansinya pada panjang gelombang 340 nm


dengan spektrofotometer
c. Pengukuran absorban sampel
Disiapkan alat dan bahan

Dipipet 250 µL serum ke dalam kuvet, dihomogenkan

EKA MARYAM NOVRIYANTI MUH. RIFQI IRSYAQ, S.Farm., Apt


15020150223
PEMERIKSAAN SGPT DAN SGOT DALAM SERUM

Ditambahkan 2000 µL reagen 1 SGPT

Diinkubasi selama 1 menitpada suhu 370 C

Ditambahkan 500 µL reagen 2 SGPT, dihomogenkan

Diukur absorbansinya pada panjang gelombang 340 nm


dengan spektrofotometer

Diukur lagi absorbansinya pada menit ke-2, ke-3, dank e-4

Dicatat nilai absorbansinya

EKA MARYAM NOVRIYANTI MUH. RIFQI IRSYAQ, S.Farm., Apt


15020150223