Anda di halaman 1dari 8

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kampung Naga merupakan suatu perkampungan yang dihuni oleh
sekelompok masyarakat yang sangat kuat dalam memegang adat istiadat peninggalan
leluhurnya, dalam hal ini adalah adat Sunda. Seperti permukiman Badui, Kampung
Naga menjadi objek kajian antropologi mengenai kehidupan masyarakat pedesaan
Sunda pada masa peralihan dari pengaruh Hindu menuju pengaruh Islam di Jawa
Barat. Kampung Naga juga merupakan salah satu dari kampung yang masih
memegang tradisi dan adat istiadat leluhur, namun bisa hidup berdampingan dengan
kehidupan masyarakat lain yang lebih modern. Kampung Naga memang memiliki
keunikan tersendiri. Melihat dari dekat kehidupan sederhana dan bersahaja yang
masih tetap lestari di tengah peradaban modern. Pendapatan utama masyarakat
kampung naga ialah bersumber dari bercocok taman, maka dari itu disetiap rumah
dari warga kampung naga memiliki lumbug padi sebagai tempat penyimpanan bahan
pokok.

1
B. Waktu dan Tempat
Waktu dan tempat pelaksanan kunjungan yang dilakukan dalam pengumpulan
data dan bahan laporan ialah :

Hari : Sabtu

Tanggal : 30 Maret 2019

Pukul : 09.00 WIB s.d selesai

Tempat : Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya,

Provinsi Jawa Barat.

C. Tujuan dan Manfaat Kegiatan


Tujuan dari pengamatan ini adalah untuk memenuhi tugas yang diberikan oleh
Dosen Pengajar Mata Kuliah Antropologi Arsitektur dan manfaat yang diperoleh
dalam melakukan kunjungan ini ialah :
1. Lebih mengetahui secara langsung kondisi/keadaan system ekonomi masyarakat
Kampung Naga
2. Dapat mengetahui Proses bercocok tanam khususnya padi.

2
DESKRIPSI HASIL PENGAMATAN

A. Pengamatan dan Wawancara


Setelah melakukan pengamatan/survei ke Kampung Naga dan melihat
berbagia kondisi dari lisung serta lumbung padi, kami juga melakukan wawancara
kepada penjagasalah satu ibu yang sedang menumbuk padi di lisung. Penulis
mendapat beberapa informasi mengenai system perekonomian di kampung naga,
dimana bercocok tanam dijadikan masyarakat sebagai sumber utama kehidupan dan
penghasilan. Oleh karena itu lisung dan lumbung merupakan salah satu hal yang
penting bagi masyarakat Kampung Naga.

a. Lisung
Lesung atau masyarakat kampung naga memanggilnya dengan lisung adalah
alat tradisional dalam pengolahan padi atau gabah menjadi beras. Fungsi alat ini
memisahkan kulit gabah (sekam, Jawa merang) dari beras secara mekanik.
Lesung terbuat dari kayu berbentuk seperti perahu berukuran kecil dengan
panjang sekitar 2 meter, lebar 0,5 meter dan kedalaman sekitar 40 cm. Lesung
sendiri sebenarnya hanya wadah cekung, biasanya dari kayu besar yang dibuang
bagian dalamnya. Gabah yang akan diolah ditaruh di dalam lubang tersebut. Padi
atau gabah lalu ditumbuk dengan alu, tongkat tebal dari kayu, berulang-ulang
sampai beras terpisah dari sekam

3
Untuk tempat lisung itu sendiri, di Kampung Naga terdapat 5 bangunan, yang
dibangun diatas kolam ikan. Ini dimaksudkan agar gabah ata kulit dari beras jika
jatuh tidak terbuang sia-sia karena kulit akan menjadi pakan untuk ikan
dibawahnya.

Semua material bangunan berasal dari alam agar jika terdapat kerusakan
material sisa tidak merusak alam.
- Menambah pengetahuan mengenai arsitektur Tradisional
- Atap terbuat dari ijuk agar dapat bertahan lebih lama sekitar 15-20 tahun
- Bangunan dibuat terbuka tanpa dinding, agar pengguna dalam lisung
menjadi lebih nyaman (tidak panas) saat menumbuk.

4
PADA BAGIAM SISI
BANGUNAN, TERDAPAT
BAGIAN YANG TERLIHAT
MELEWATI BANGUNAN,
INI DUGUNAKAN
SEBAGAI TEMPAT
MENGAYAK PADI YANG
SUDAH DITUMBUK.

b. Lumbung.
Lumbung padi adalah sebuah lumbung yang digunakan untuk menyimpan dan
mengeringkan padi yang telah dipanen. Di Kampung Naga terdapat satu Lumbun
padi untuk Leiut, dan terdapat satu lumbung padi di setiap rumah warga.
Leuit adalah sebuah tradisis dimana warga menyumbang ke lumbung padi pada
acara sendiri.

LUMBUNG PADI
LEUIT

5
SATU LUMBUNG PADI PADA
MASING-MASING RUMAH WARGA.
SETIAP LUMBUNG PADI BERSIFAT
PRIVAT DIMANA SETIAP ORANG
SELAIN KELUARGA DARI PEMILIK
RUMAH DILANG MASUK DAN
MENGAMBIL GAMBAR

DINDING TIDAK MENGGUNAKAN


BATA MELAINKAN DARI NILIK
BAMBU KARENA BERASAL DARI
ALAM DAN RAMAH LINGKUNGAN.

6
B. Kesimpulan Dari Hasil Pengamatan dan Wawancara

Jadi, setelah kami melakukan pengamatan dan wawancara tersebut maka


kesimpulan yang dapat kami ambil ialah dalam bangunan lesung dan lumbung,
bentuk bangunan akan menyesuaikan fungsi dari bangunan tersebut.
lisung dan lumbung merupakan salah satu penunjang warga kampung naga
dalam bercocok tanam. Karena adat dan istiadat, lisung dan lumbung didirikan
menggunakan bahan-bahan dari alam sehingga jika rusak material bangunan tidak
akan merusak alam.

7
PENUTUP

A. Kesimpulan
Bercocok tanam dijadikan masyarakat Kampung Naga sebagai sumber
utama kehidupan dan penghasilan. Oleh karena itu lisung dan lumbung
merupakan salah satu hal yang penting bagi masyarakat Kampung Naga.
Lesung atau masyarakat kampung naga memanggilnya dengan lisung
adalah alat tradisional dalam pengolahan padi atau gabah menjadi beras. Fungsi
alat ini memisahkan kulit gabah (sekam, Jawa merang) dari beras secara
mekanik. Di Kampung Naga terdapat 5 Lisung yang digunakan secara bersama-
sama.
Lumbung padi adalah sebuah lumbung yang digunakan untuk menyimpan
dan mengeringkan padi yang telah dipanen. Di Kampung Naga terdapat satu
Lumbun padi untuk Leiut, dan terdapat satu lumbung padi di setiap rumah warga.
Leuit adalah sebuah tradisis dimana warga menyumbang ke lumbung padi pada
acara sendiri.
Semua material bangunan lisung dan lumbung berasal dari alam, baik atap
dinding, lantai maupun tiang (kolom). karena mereka beranggapan manusia
harus berdampingan dengan alam.