Anda di halaman 1dari 29

LAPORAN KEGIATAN PRAKTIK LAPANG

BIOMEDIS VETERINER DI PT BIOFARMA (PERSERO)


(25 Maret – 20 April 2019)

Oleh:
Kelompok K1
PPDH Gelombang IV Tahun 2017/2018

Afiqah Binti Abd Latif, SKH B94174403


Anggia Nur Pratiwi, SKH B94174408
Daud Julius Djari, SKH B94174412
Ganjar Prasetyyo, SKH B94174417
Jumari, SKH B94174427
Kadek Meidyani Dwiantari, SKH B94174428
Muamar Khodafi, SKH B94174432
Naula Rezekitiani, SKH B94174436
Umbu Reyvandy K Tiala, SKH B94174448

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER HEWAN


FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2019
i

LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN KEGIATAN PRAKTIK LAPANG


BIOMEDIS VETERINER DI PT BIOFARMA (PERSERO)
(25 Maret – 20 April 2019)

Oleh:

Kelompok K1
PPDH Gelombang IV Tahun 2017/2018

Menyetujui

Dosen Pembimbing Pembimbing Lapang

Drh Fadjar Satrija, MSc PhD Muhammad Ismail, SPt


196410003 198803 1 002

Mengetahui,

Wakil Dekan
Bidang Akademik dan Kemahasiswaan
Fakultas Kedokteran Hewan IPB

Prof Drh Agus Setiyono, MS, PhD, APVet


NIP 19630810 198803 1 004

Tanggal Pengesahan:
ii
iii

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah
melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan kegiatan
magang profesi wajib Biomedis Veteriner di PT Biofarma (Persero), Jawa Barat yang
dilaksanakan pada tanggal 25 Maret-20 April 2019. Penulis mengucapkan terima kasih
kepada:
1. Prof. Drh. Agus Setiyono, M.S., Ph.D., A.P.Vet., selaku Wakil Dekan Bidang
Akademik dan Kemahasiswaan Fakultas Kedokteran Hewan IPB dan Prof. Drh.
Deni Noviana, Ph.D., selaku Koordinator Program Pendidikan Profesi Dokter
Hewan (PPDH) yang memiliki peran penting dalam penyelenggaraan PPDH.
2. Bapak Muhammad Ismail, SPt selaku pembimbing lapang atas bimbingan dan ilmu
yang diberikan selama kegiatan praktik lapang Biomedis Veteriner di PT Biofarma.
3. Drh Fadjar Satrija, MSc, PhD selaku dosen pembimbing kampus kegiatan praktik
lapang Biomedis Veteriner.
4. Seluruh dokter hewan, paramedis, animal caretaker, petugas kandang, dan staff PT
Biofarma yang telah membantu dan mendukung selama kegiatan praktik lapang.
5. Seluruh pihak pengurus dan staf PPDH yang ikut serta dalam terselenggaranya
kegiatan ini
Penulis menyadari bahwa masih terdapat banyak kekurangan pada laporan kegiatan
praktik lapang ini sehingga penulis terbuka untuk menerima kritik dan saran demi
kesempurnaan laporan ini. Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi kami selaku penulis
dan pembaca.

Bandung, April 2019

Penulis
iv
v

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN............................................................................................... i
KATA PENGANTAR.................................................................................................... iii
DAFTAR ISI .................................................................................................................... v
PENDAHULUAN ............................................................................................................ 1
Latar Belakang ................................................................................................................. 1
Tujuan............................................................................................................................... 1
Manfaat............................................................................................................................. 1
PELAKSANAAN KEGIATAN MAGANG.................................................................... 2
PROFIL PT BIO FARMA (PERSERO) ........................................................................ 23
KEGIATAN PRAKTIK LAPANG .................................................................................. 5
Bagian Hewan Donor ....................................................................................................... 5
Bagian Pembiakan Hewan Lab ...................................................................................... 10
Bagian Uji Hewan .......................................................................................................... 12
SIMPULAN ............................................................................................................... 1917
1

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Penggunaan produk biomedik merupakan salah satu solusi untuk mempertahankan Commented [FS1]: Uraikan definisi produk biomedik
kesehatan publik. Salah satu contoh keberhasilan dari penggunaan produk biomedik yaitu (referensi ???)
penggunaan vaksin cacar pada manusia. Vaksin merupakan antigen yang dilemahkan atau
dimatikan kemudian dimasukkan ke dalam tubuh dengan tujuan membentuk kekebalan
tubuh (imunitas) secara aktif. Produsen vaksin dan antisera yang dimiliki oleh Pemerintah Commented [FS2]: Apakah PT Biofarma hanya satu-
Indonesia yaitu Perseroan Terbatas (PT) Bio Farma. Vaksin dan antisera yang diproduksi satunya BUMN Produsen Vaksin dan antisera ???
oleh PT Bio Farma telah memenuhi standar internasional. Proses produksi dan pengawasan Pusvetma???

mutu vaksin selalu dipantau oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan Republik
Indonesia (BPOM RI) yang telah diakui oleh World Health Organization (WHO).
PT Bio Farma (Persero) adalah BUMN (Badan Usaha Milik Negara) yang
kepemilikan sahamnya dimiliki sepenuhnya oleh pemerintah. PT Bio Farma (Persero)
sebagai satu-satunya produsen vaksin untuk manusia di Indonesia yang selama ini telah
mendedikasikan seluruh sumber daya yang dimilikinya untuk memproduksi vaksin dan
antisera yang berkualitas internasional untuk mendukung program imunisasi nasional
dalam rangka mewujudkan masyarakat Indonesia yang memiliki kualitas derajat kesehatan
yang lebih baik. PT Bio Farma telah berkontribusi untuk meningkatkan kualitas hidup
bangsa di Indonesia dan dunia dalam upaya pencegahan penyakit menular.
Dokter hewan memegang peran penting dalam tahapan produksi produk biomedik,
yaitu dalam proses pengawasan dan penjaminan keamanan serta kualitas produk yang
dihasilkan. Selain itu peran dokter hewan dibutuhkan dalam bidang kesehatan dan
kesejahteraan hewan laboratorium. Pemanfaatan hewan coba diatur dalam IACUC
(Institutional Animal Care and Use Committee) atau KPKPHP (Komisi Pengawasan dan
Penggunaan Hewan Penelitian). Penggunaan hewan uji harus sesuai dengan prinsip 3R
(Replacement, Reduce, dan Refinement) serta prinsip 5F (freedom from hunger and thirst,
freedom from discomfort, freedom from pain, injury, and disease, freedom from fear and
distress, freedom to exspress natural behavior). Penggunaan hewan model untuk beberapa
parameter kualitas telah tercantum pada standarisasi WHO Technical Report Series (TRS).
Oleh karena itu, dibutuhkan kegiatan praktik lapang pada instansi terkait
pemanfaatan hewan laboratorium dan produksi produk biomedik, agar mahasiswa Program
PPDH mampu mengetahui dan menguasai kompetensi dokter hewan dalam bidang industri
produk biomedik.

Tujuan Commented [FS3]: TUJUAN DAN MANFAAT HARUS


SEJALAN. APA YG ANDA TULIS SEBGAI MANFAAT SEBAGIAN
Kegiatan mahasiswa Program Pendidikan Dokter Hewan Institut Pertanian Bogor di PT BESAR ADALAH TUJUAN. TULIS ULANG
Bio Farma bertujuan untuk menambah dan meningkatkan pengetahuan dan skill dalam
pembuatan, pengujian, dan uji kualitas vaksin dan antisera, produk biomedik lainnya serta
manajemen dan pemanfaatan hewan laboratorium.

Manfaat

Manfaat yang didapatkan dari kegiatan praktik lapangan produk biomedik veteriner
adalah memberikan kesempatan kepada mahasiswa Program Pendidikan Profesi Dokter
Hewan (PPDH) dalam belajar serta mengembangkan ilmu kedokteran hewan di bidang
industri produk biomedik, memberikan gambaran terhadap peran dokter hewan dalam
industri produk biomedik, mempelajari bagaimana manajemen pemeliharaan hewan coba,
2

mempelajari dan mengetahui alur produksi vaksin dan produk biomedik lainnya, serta
melatih kemampuan dan ketrampilan mahasiswa program PPDH di bidang industri produk
biomedik dan pemanfaatan hewan laboratorium untuk pembuatan produk biomedik.

PELAKSANAAN KEGIATAN MAGANG

Waktu dan Tempat Kegiatan

Kegiatan Magang Wajib Produk Biomedik Veteriner berlangsung dari tanggal 25


Maret - 20 April 2019. Kegiatan ini dilaksanakan di PT Bio Farma (Persero) Divisi Hewan
Laboratorium di Bagian Pembiakan Hewan Laboratorium, Bagian Uji Hewan, dan Bagian
Produksi Hewan Donor. Bagian Uji Hewan berada di Kecamatan Sukajadi, Jl. Pasteur
No.28 Kota Bandung, Jawa Barat, sedangkan dua bagian lainnya yaitu Bagian Pembiakan
Hewan Laboratorium dan Bagian Produksi Hewan Donor berada di Kecamatan Cisarua
Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.

Metode Pelaksanaan Kegiatan

Kegiatan Magang Profesi Wajib Produk Veteriner dilaksanakan di PT Bio Farma


(Persero) dilaksanakan di bawah bimbingan dokter hewan, paramedik dan tenaga ahli yang
betugas. Kegiatan yang diikuti meliputi manajemen pembibitan dan pemeliharaan hewan
laboratorium, pengujian bahan asal hewan, monitoring kesehatan hewan hingga menjadi
produk biomedik yaitu vaksin.
Kegiatan Magang Profesi Wajib Produk Veteriner di PT Bio Farma (Persero) dibagi
menjadi tiga kelompok kecil, yaitu Bagian Pembiakan Hewan Laboratorium, Bagian
Produksi Hewan Donor, serta Bagian Uji Hewan. Kegiatan yang dilakukan mahasiswa
PPDH selama magang meliputi:
1. Mengikuti kegiatan rutin yang telah ditetapkan dimasing-masing divisi sesuai jam
kerja karyawan PT Bio Farma
2. Diskusi dengan dokter hewan, paramedik, dan tenaga ahli terkait hal yang
dikerjakan di PT Bio Farma maupun hal baru untuk menunjang pengetahuan
mahasiswa.
3. Kuliah sehari yang diberikan oleh dokter hewan terkait hal-hal yang dilakukan
dan tugas dokter hewan di bagian pembiakan hewan laboratorium, bagian
produksi hewan donor, serta bagian uji hewan.
4. Mengamati beberapa pengujian yang telah diperbolehkan dan disetujui pihak PT
Bio Farma.
5. Mengikuti demo praktik beberapa pengujian yang telah diperbolehkan dan
disetujui oleh pihak PT Bio Farma.

Jurnal pelaksanaan kegiatan magang di lampiran………

PROFIL PT BIO FARMA (PERSERO)

Sejarah
3

PT Bio Farma (Persero) merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang
sahamnya dimiliki sepenuhnya oleh pemerintah. PT Bio Farma (Persero) sebagai satu-
satunya produsen vaksin untuk manusia di Indonesia. PT Bio Farma memfokuskan
kegiatannya dalam bidang produksi vaksin dan antisera yang berkualitas internasional. Hal
itu dilakukan dalam upaya mendukung program imunisasi nasional dalam rangka
mewujudkan masyarakat Indonesia yang memiliki kualitas derajat kesehatan yang lebih
baik.
PT Bio Farma (Persero) memiliki sejarah panjang sejak masa Penjajahan Belanda,
Perusahaan ini didirikan pada tanggal 6 Agustus 1890 dengan nama Parc Vaccinogen atau
Landskoepok Inrichting di Rumah Sakit Militer Weltevreden-Batavia. Tanggal tersebut
kemudian menjadi tanggal sejarah awal berdirinya lembaga yang menjadi asal mula PT Bio
Farma. Lembaga ini kemudian berubah menjadi Parc Vaccinogene Instituut Pasteur pada
tahun 1895-1901 seiring dengan peningkatan kegiatan produksi. Lembaga ini menempati
gedung di Jalan Pasteur No 28 Bandung, dan kembali mengubah namanya menjadi
Landskoepok Inrichting en Instituut Pastuer pada tahun 1923. Landskoepok Inrichting en
Instituut Pastuer dipimpin oleh L Otten pada tahun 1924-1942.
Saat penjajahan Jepang, Bio Farma berganti nama kembali menjadi Bandung Boeki
Kenkyushoo pada tahun 1924-1942 yang dipimpin oleh Kikuo Kurauchi. Perusahaan
kembali berganti nama menjadi Gedung Cacar dan Lembaga Pasteur dipimpin oleh RM
Sardjito (1945-1946) yang merupakan pemimpin pertama asal Indonesia. Pada saat
kepemimpinannya, lokasi sempat dipindahkan ke daerah Klaten. Pada masa Agresi Militer,
saat Bandung kembali diduduki oleh Belanda, perusahaan kembali berganti menjadi
Landskoepoek Inrichting en Instituut Pasteur (1946-1949).
Pemerintah Indonesia mengubah Landskoepok Inrichting en Instituut Pasteur
menjadi Perusahaan Negara Pasteur seiring dengan terjadinya nasionalisasi berbagai
perusahaan Belanda. Selanjutnya Perusahaan Negara Pasteur berubah menjadi Perusahaan
Negara Bio Farma melalui Peraturan Pemerintah Nomor 80 tahun 1961 (Lembaran Negara
Tahun 1961 Nomor 101). Kemudian Bio Farma resmi menjadi Perusahaan Umum Bio
Farma dengan Peraturan Pemerintah RI Nomor 26 Tahun 1978. Pada periode tersebut, Prof
Dr Konosuke Fukai (siapa beliau ini…jelaskan) telah mengawali upaya transfer teknologi
produksi vaksin polio dan campak Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 01 Tahun
1997, Perusahan Umum Bio Farma berubah menjadi Perseroan Terbatas (PT) yang
selanjutnya dikenal dengan PT Bio Farma (Persero) sebagai Badan Usaha Milik Negara
Republik Indonesia. Bidang usaha utama PT Bio Farma (Persero) adalah produksi vaksin
dan antisera yang bermutu tinggi dan berdaya saing kuat serta melakukan penelitian dan
pengembangan. Kegiatan lain yang dilakukan meliputi pemasaran, distribusi, usaha
pelayanan jasa pemeriksaan laboratorium kesehatan dan imunisasi.
4

Struktur Organisasi

Divisi Hewan Laboratorium


Dr drh Maharani, M. Si

Bagian Pembiakan Bagian Produksi Bagian Uji Hewan


Hewan Laboratorium Bagian Hewan SPF
Hewan Donor drh. Ivov Rinaldi
Muhammad Ismail, drh. Agung Subekti
S.Pt drh. Hirawan Setiadi Hasibuan

Hewan Model Pemeliharaan kuda Nefrektomi Zooteknik 1


Syaifullah Akhmad drh. Bayu Sukismo Asep Budiaman Satya Adi W

Produksi Telur Produksi Plasma


Seksi Ayam SPF Zooteknik 2
Clean Colony dan Darah
drh. Iman Bayu H. Ceng Hendar
drh. Ujang Juanda Agung Sukmono

Zooteknik 3
Haris Abdullah

Bioteknik
Sukanda

Gambar 1 Struktur Divisi Hewan Laboratorium

Struktur Organisasi Divisi Hewan Laboratorium yang menjadi tempat magang


PPDH di PT Bio Farma (Persero) dapat dilihat pada Gambar 1. Divisi Hewan Laboratorium
yang dipimpin oleh Dr Drh Maharani, MSi terdiri atas bagian Produksi Hewan Donor
dipimpin oleh Drh Hirawan Setiadi, bagian Pembiakan Hewan Laboratorium dipimpin oleh
Muhammad Ismail, SPt, bagian Uji Hewan dipimpin oleh Drh Ivov Rinaldi Hasibuan serta
bagian Hewan SPF dipimpin oleh Drh Agung Subekti. Bagian Pembikaan Hewan terbagi
atas 2 (dua) seksi yaitu seksi hewan model dan produksi telur clean colony. Bagian
Produksi Hewan Donor terbagi atas seksi pemeliharaan kuda dan seksi produksi plasma
serta darah. Bagian Hewan SPF terdiri atas seksi nefrektomi dan Ayam Specific Pathogen
Free (SPF). Bagian Uji Hewan terdiri atas seksi zooteknik 1, zooteknik 2, zooteknik 3 dan
bioteknik.

Visi dan Misi

Visi PT Bio Farma (Persero) adalah menjadi perusahaan life science kelas dunia
yang berdaya saing global. Misi PT Bio Farma (Persero) adalah menyediakan dan
mengembangkan produk life science berstandar internasional untuk meningkatkan kualitas
hidup.
Misi ???

Lokasi, Sarana, dan Prasarana


5

Kantor Pusat PT Bio Farma (Persero) berada di Jalan Pasteur No 28, Kota Bandung
40161 . PT Bio Farma memiliki kantor perwakilan yang berada di Jakarta. PT Bio Farma
(Persero) beroperasi di atas lahan seluas 91,058 m2 yang berlokasi di Jalan Pasteur No 28
Bandung untuk fasilitas produksi, pengujian, penelitian dan pengembangan, teknik dan
pemeliharaan, pemasaran dan administrasi. Lahan lain seluas 282,441 m2 yang berlokasi di
Cisarua, Lembang, Kabupaten Bandung Barat digunakan untuk pengembangbiakan hewan
laboratorium dan pemeliharaan hewan donor. Gedung pembiakan hewan laboratorium
yang terdapat di Cisarua terdiri dari gedung pemeliharaan mencit, cavia dan kelinci.
Gedung pemeliharaan mencit dan cavia terbagi atas 6 (enam) ruangan untuk mencit dan 4
(empat) ruangan cavia. Gedung pemeliharaan kelinci terbagi atas 4 (empat) ruangan.
PT Bio Farma juga memiliki kantor Perwakilan yang bertempat di Gedung
Arthaloka Lt 3 Jalan Jenderal Sudirman No 2 Jakarta untuk mendukung kelancaran
operasional.

Produk PT Bio Farma

Produk vaksin virus yang dikeluarkan oleh PT Bio Farma (Persero) adalah vaksin
Oral Polio (untuk pencegahan terhadap penyakit poliomyelitis), vaksin Campak, vaksin
Hepatitis B rekombinan, vaksin Flubio (untuk pencegahan influenza musiman). Produk
vaksin bakteri diantaranya vaksin TT (tetanus neonatal), vaksin Jerap DT (difteri dan
tetanus), vaksin Jerap DTP (difteri, tetanus dan pertusis), vaksin Bio TT (tetanus pada
wanita usia subur), vaksin Bio Td (difteri, tetanus untuk usia 7 tahun ke atas), vaksin BCG
(tuberkulosis), vaksin Jerap Td (difteri, tetanus untuk usia 7 tahun ke atas). Produk vaksin
kombinasi ada vaksin Pentabio (DTP-HB-Hib), digunakan untuk pencegahan penyakit
difteri, tetanus, pertusis, hepatitis B dan haemophilus influenza tipe B. Antisera yang
diproduksi PT Bio Farma adalah Biosat (serum antitetanus, biosave), SABU (serum
antibisa ular), dan BioADS (serum antidifteri).

KEGIATAN PRAKTIK LAPANG

Bagian Hewan Donor

PT Bio Farma (Persero) setiap tahunnya memproduksi banyak produk untuk


memenuhi kebutuhan di dalam dan di luar negeri (ekspor). Hal ini menuntut ketersediaan
bahan material secara terus-menerus untuk keberlangsungan proses produksi. Salah satu
bahan material yang diperlukan adalah bahan material asal hewan, salah satu contohnya
adalah plasma darah kuda. Plasma yang dihasilkan oleh hewan donor (kuda) akan diolah
menjadi antisera sebagai produk akhir. Antisera yang diproduksi antara lain anti tetanus
serum (ATS), anti difteri serum (ADS), dan anti bisa ular (ABU). Alur produksi antisera
dimulai dari penerimaan kuda sebagai hewan donor, pemeriksaan kesehatan preimunisasi,
imunisasi (priming 1, primng 2, booster), pemeriksaan sampel darah (proof sampling), dan
produksi plasma (plasmapheresis).
Bagian Pemeliharaan Hewan Donor bertanggungjawab dalam memelihara kesehatan
dan kelayakan hewan donor agar tetap layak diproduksi. Bagian ini memiliki peranan
penting agar PT Bio Farma (Persero) tetap bisa memenuhi kebutuhan produksi setiap
tahunnya. Bahan material asal hewan yang digunakan antara lain adalah darah. Kebutuhan
6

darah dalam proses produksi diperlukan sebagai bahan untuk produk, yaitu plasma sebagai
bahan untuk anti-sera. Darah juga diperlukan untuk melakukan pengujian pengawasan
mutu produk. Kebutuhan darah yang banyak setiap tahunnya diperlukan ketersiadaan yang
bersifat kontinu. Di segi inilah pentingnya peran bagian Pemeliharaan Hewan Donor.

Penerimaan Kuda
Kuda yang digunakan sebagai hewan donor berasal dari vendor. Saat kuda sampai ke
PT Bio Farma (Persero), pertama-tama dilakukan pemeriksaan fisik secara keseluruhan.
Terdapat beberapa syarat seperti umur, berat badan, dan tinggi. Kemudian dilakukan juga
pengecekan hematologi untuk mengetahui kesehatan kuda. Kuda yang lulus pemeriksaan
status kesehatan atau dapat dikatakan telah memenuhi spesifikasi dapat dilanjutkan ke
karantina. Karantina bertujuan untuk mencegah penyebaran penyakit dari luar masuk ke
hewan yang lain dengan cara pemeriksaan kondisi fisik hewan.
Pemeriksaan fisik secara keseluruhan dan uji serologis terhadap agen-agen penyebab
penyakit pada kuda berdasarkan kondisi geografis harus dilakukan (WHO 2017). Selama
masa karantina dilakukan monitoring terhadap mikrobiologi dengan pemeriksaan feses,
darah, dan swab hidung. Kuda sebagai hewan donor diharuskan terbebas dari agen
penyebab penyakit antara lain equine anemia virus, trypanosomiasis atau yang biasa
disebut surra (disebabkan oleh Trypanosoma evansi), strangles (disebabkan oleh
Streptococcus equi), dan equine piroplasmosis (WHO 2012).
Setiap kuda yang akan dijadikan sebagai hewan donor diharuskan untuk memiliki
individual record dan disertakan dalam berkas persyaratan kelulusan masa karantina
(WHO 2017). Spesifikasi kuda yang akan dijadikan sebagai hewan donor antara lain umur
kuda minimal 2.5 tahun, tinggi minimal 130 cm, berat badan minimal 200 kg, tidak cacat,
sehat, dan belum pernah dipakai sebagai hewan perlakuan. WHO (2017) menyatakan
bahwa kuda yang berumur antara 3–10 tahun biasa digunakan untuk program imunisasi
untuk kepentingan produksi serum anti venom. Beberapa kasus seperti kuda yang berumur
di atas 10 tahun juga masih dapat dilibatkan dalam program imunisasi jika respon imun
terhadap program imunisasi masih sesuai dengan ketentuan.

Manajemen Pemeliharaan dan Perkandangan Kuda


PT Bio Farma (Persero) mempunyai 12 istal. Masing-masing istal terdiri dari 16– 24
pen atau kandang dengan luas sekitar 9–12 m2 dengan kapasitas satu ekor kuda per
kandang. Menurut Maswarni dan Rachman (2014), ukuran minimal pen adalah 3×3 m2 dan Commented [FS4]: Tidak ada dalam dapus
dapat disesuaikan dengan jenis atau umur kuda. Setiap kandang memiliki wadah untuk
pemberian pakan rumput, konsentrat, dan air minum. Kandang yang dibangun di daerah
tropis sebaiknya memiliki ventilasi yang baik sehingga pertukaran udara dapat berjalan
lancar dan tidak menimbulkan hawa panas di dalam kandang (Jacoebs 1994). Ventilasi
terletak dibagian tembok bagian atas yang berfungsi untuk melancarkan aliran udara dan
masuknya sinar matahari ke dalam istal. Menurut Tim Karya Tani Mandiri (2010), atap
pada kandang kuda lebih baik jika jaraknya semakin tinggi, karena dapat menghasilkan
sirkulasi udara yang baik. Atap kandang sebaiknya dibuat dengan kemiringan sedang dan
berkisar antara 30–45o. Bahan yang digunakan untuk pembuatan atap sebaiknya dipilih
bahan yang baik dalam memantulkan sinar radiasi matahari.
Alas lantai kandang kuda harus selalu dalam keadaan bersih dan empuk dengan diberi
alas khusus berupa serbuk gergaji. Jerami juga dapat digunakan sebagai alas untuk kuda
yang sakit. Alas lantai yang empuk bertujuan agar melindungi kuda agar tidak mudah
7

terluka dan memberi kehangatan dan kenyamanan kuda (McBane 1994). Permukaan alas
lantai kandang juga tidak boleh licin atau kasar yang dapat mengakibatkan luka pada kuda
(Tim Karya Tani Mandiri 2010).
Konstruksi istal dibangun tinggi agar sirkulasi udara dalam istal baik. Tim Karya Tani
Mandiri (2010) menambahkan atap kandang hendaknya dibuat dengan kemiringan sedang
dan biasanya sekitar 30-45°. Sirkulasi udara yang baik dapat mengurangi kadar amonia
dalam kandang. Kadar amonia yang terlalu tinggi dan debu dari bedding dapat
mengakibatkan berbagai gangguan pernapasan pada kuda (Thomas 2004). Besi dan tembok
istal kuda tidak dibangun dengan ujung yang tajam. Hal tersebut bertujuan agar kuda tidak
mengalami perlukaan selama berada di tempat pemeliharaan.
Pemeliharaan hewan donor (kuda) meliputi grooming, pemotongan surrae,
pemotongan kuku, dan exercise merupakan perawatan rutin yang dilakukan oleh setiap
kuda. Grooming dilakukan dengan menyikat rambut disekitar tubuh kuda dan memandikan
kuda. Pemotongan surrae dilakukan apabila sudah terlalu panjang, hal ini bertujuan agar
tidak mengganggu dalam proses penyuntikan imunisasi, produksi maupun medikasi.
Pemotongan kuku juga dilakukan apabila kuku sudah panjang melebihi batas white line.
Pemotongan dilakukan menggunakan alat-alat khusus pemotongan kuku seperti rennet,
tang besar, dan kikir. Perubahan atau kelainan bentuk kuku yang tidak ditindaklanjuti akan
mengakibatkan berbagai masalah kesehatan pada kuda. Oleh karena itu, perlu dilakukan
pemotongan kuku secara rutin. Pemotongan kuku kuda terdiri dari proses pemotongan,
pengikiran, dan pembersihan. Kuda diberikan waktu khusus untuk exercise atau latihan
untuk menjaga kesehatannya. Tindakan tersebut memberikan kesempatan bagi kuda untuk
merelaksasikan otot-otot yang tegang. Perlakuan latihan yang tidak tepat akan
menyebabkan luka pada otot maupun tulang bagi kuda atlet (Theoret dan Schumacher
2017).

Manajemen Pakan dan Minum


Kuda yang terdapat di PT Bio Farma (Persero) sangat memerlukan protein
berdasarkan dari perlakuan yang dilakukan, yaitu pengambilan plasma. Plasma
mengandungi imunoglobulin yang tersusun dari protein. Oleh karena itu, pakan yang
dikonsumsi harus mengandungi nilai protein yang tinggi yaitu protein kasar sebanyak 27%
dan protein lemak 14.82% (Okaraonye dan Ikewuchi 2009). Pakan hijauan yang digunakan
di PT Bio Farma (Persero) adalah rumput gajah (Pennisetum purpureum) yang tinggi
kandungan protein serta didukung juga oleh faktor ketersediaan rumput yang banyak dan
mudah dicari.
Pakan yang diberikan pada kuda terdiri dari dua jenis pakan utama, yaitu hijauan dan
konsentrat berbentuk pellet. Pemberian pakan pada kuda dengan perbandingan 1:5. Hijauan
yang diberikan adalah rumput gajah (Pennisetum purpureum) yang telah dipotong-potong
dengan mesin pemotong sebanyak 15 kg/hari/ekor. Konsentrat yang diberikan berupa pellet
yang diberikan sebanyak 3 kg /ekor. Pakan hijauan berfungsi sebagai sumber energi untuk
kegiatan kuda sehari-hari, sedangkan konsentrat berfungsi sebagai tambahan nutrisi atau
energi (Waldridge 2017). Air minum berasal dari keran yang terdapat di tiap istal. Air Commented [FS5]: Tidak ada dalam dapus
minum diberikan secara ad libitum dan selalu dipastikan ketersediaannya. Kebersihan dan
ketersediaan air minum harus selalu diperhatikan karena air yang kotor dapat memengaruhi
kesehatan kuda. Air minum kuda diganti setiap pagi saat wadah pakan dan minum
dibersihkan oleh caretaker yang bertugas.

Manajemen Kesehatan
Manajemen kesehatan pada seksi pemeliharaan hewan donor meliputi health check
yang dilakukan pada masa karantina, sebelum dan setelah imunisasi serta sebelum dan
8

setelah produksi antisera. Kesehatan kuda diperhatikan setiap hari oleh animal caretaker.
Indikator yang dilihat setiap harinya adalah jumlah pakan yang tersisa, kebersihan kandang,
konsistensi feses, dan perilaku kuda. Kuda yang memiliki jumlah sisa pakan dan
berperilaku tidak normal dilaporkan ke staff medis untuk mendapatkan tindakan lanjutan.
Menurut Blakely dan Bade (1991), salah satu gejala pertama dari masalah kesehatan kuda
adalah rendahnya nafsu makan atau bahkan tidak makan sama sekali.
Kesehatan kuda dipantau meliputi pemeriksaan klinis, pemeriksaan hematologi,
cacing dan uji mikrobilogis. Parameter pemeriksaan klinis yang dilakukan terdiri dari berat
badan, perilaku umum (terdiri dari gerakan respon atau pergerakan maupun nafsu makan),
kondisi rambut dan kulit, alat lokomosi, suhu tubuh yang berada pada rentang 37.4 – 38.6
oC, laju respirasi dengan rentang 16 – 48 kali per menit, denyut jantung dengan rentang 58

– 102 kali per menit, serta kondisi defekasi dan urinasi. Pemeriksaan hematologi dilakukan
dengan cara mengambil sampel darah dari vena jugularis untuk kemudian dibaca dengan
alat Hemavet.
Pemeriksaan kesehatan pada masa karantina meliputi pemeriksaan klinis, pemberian
obat cacing dan vitamin, selain itu kuda harus bebas dari beberapa penyakit seperti equine
piroplasmosis, trypanosomiasis/sura (Trypanosoma evansi), strangles (Streptococcus
equi), dan equine infectious anemia virus. Medikasi dilakukan pada kuda-kuda yang
terpantau ataupun yang dilaporkan sakit. Health check sebelum imunisasi meliputi
pemeriksaan klinis dan pemeriksaan hematologi. Health check setelah imunisasi meliputi
pemeriksaan klinis, pemeriksaan hematologi dan pengukuran titer antibodi, selain itu
dilakukan pemberian vitamin B kompleks yang diberikan secara intramuskular. Pemberian
vitamin pada kuda dilakukan dengan tujuan meningkatkan nafsu makan kuda dan untuk
meningkatkan sistem imun tubuh kuda. Vitamin B kompleks merupakan salah satu vitamin
larut air yang berfungsi dalam menjaga aktivitas sistem saraf pusat, metabolisme sel dalam
pelepasan energi, dan pembentukan darah. Health check sebelum plasmapheresis
dilakukan melalui penimbangan berat badan ,pemeriksaan klinis dan pemeriksaan
hematologi. Health check setelah plasmapheresis dilakukan melalui pemeriksaan klinis dan
melihat kondisi keadaan umum. Reaksi setelah plasmapheresis digolongkan ke dalam 4
stadium yaitu stadium ringan, sedang, berat, dan stadium kematian.
Perawatan kuku juga merupakan bagian yang penting dalam pemeliharaan hewan
kuda. Kuku yang tidak dirawat dengan benar dapat menyebabkan terjadinya pembusukan
lalu diikuti dengan penyakit laminitis serta beragai penyakit kuku yang lainnya. Selain itu
kuku kuda yang sudah terlalu panjang akan dapat menyebabkan terjadinya perubahan
konformitas. Apabila perubahan tersebut sudah terjadi, maka akan memerlukan waktu yang
lama untuk mengembalikan kondisinya seperti sedia kala. Satu kali dalam satu minggu,
kuda betina diberi waktu exercise dengan cara dilepaskan ke paddock. Sedangkan untuk
kuda jantan tidak dilakukan pelepasan karena dikhawatirkan dapat terjadi perkelahian antar
kuda jantan.

Imunisasi
Kuda di Biofarma diberi perlakuan imunisasi dengan cara menginjeksikan antigen yang
dilemahkan dengan dosis dan intensitas berulang sehingga terbentuk respon antibodi terhadap
antigen. Proses imunisasi pada kuda di Biofarma disebut juga sebagai hiperimunisasi karena hewan
donor diimunisasi berulang. Hiperimunisasi dilakukan untk mendapatkan titer antibodi spesifik
yang tinggi. Antigen yang digunakan antara lain adalah: anti tetanus serum (ATS), anti difteri serum
(ADS), dan anti bisa ular (ABU). Anti bisa ular (ABU) terdiri dari beberapa venom, yaitu venom
Ankistrodon rhodostoma (A), venom Bungarus fasciatus (B), dan venom Naja sputatrix (N).
Imunisasi pada kuda di Biofarma dilakukan setelah hewan donor melewati masa karantina
dan dinyatakan sehat. Selain itu, hewan donor yang digunakan adalah kuda yang berumur 5 tahun
ke atas. Proses imunisasi terdiri dari beberapa tahap, yaitu priming 1, priming 2, dan booster.
9

Priming 1 dilakukan dengan cara menginjeksikan toksoid atau anavenom yang telah dicampur
adjuvant dengan rute subkutan. Hal ini bertujuan agal sel T memori mengenali antigen. Interval
dari priming 1 ke priming 2 adalah 14 hari. Priming 2 dilakukan dengan cara menginjeksikan
toksoid atau anavenom tanpa adjuvan dengan rute intramuskuler. Semua injeksi untuk imunisasi
dilakukan di area leher kuda. Pemberian adjuvan memiliki tujuan untuk meningkatkan respon imun
hewan donor sehingga tercapai titer antibodi spesifik yang diinginkan. Setelah proses priming 2,
pengambilan sampel darah dilakukan untuk mengecek titer antibodi. Darah hewan donor sebanyak
20 ml diambil dengan syringe tanpa antikoagulan agar bisa didapatkan serumnya. Titer antibodi
yang digunakan untuk produksi adalah sebagai berikut: ATS > 500 lf/ml, ABU > 10 LD50/ml, dan
ADS > 350 lf/ml. Hewan donor yang titer antibodinya memenuhi standar minimal bisa digunakan
untuk produksi. Sementara, hewan donor yang titer antibodinya tidak memenuhi standar minimal
akan diberikan booster. Maksimal pemberian booster adalah tiga kali. Jika setelah pemberian
booster 3 kuda tidak mencapai titer antibodi standar minimal, kuda diimunisasi kembali dengan
antigen berbeda. Kuda produksi digunakan selama 4 minggu dan kemudian diistirahatkan selama
3-8 minggu sebelum diberikan booster.

Plasmapheresis
Hewan donor yang titer antibodinya memenuhi standar minimal produksi selanjutnya akan
dilakukan proses bleeding untuk plasmapheresis. Plasmapheresis adalah teknik yang digunakan
untuk mendapatkan plasma kuda dalam jumlah yang besar. Teknik ini termasuk pengambilan darah,
penambahan antikoagulan, pemisahan darah yang sudah tercampur antikoagulan, pengumpulan
plasma, dan pengembalian komponen sel darah merah ke donor (Ziska 2012). Jumlah darah
maksimal yang diambil dari hewan donor adalah 20 ml plasma/ kg berat badan donor per prosedur.
Hewan donor dimasukkan ke dalam kandang jepit, kemudian dilakukan proses bleeding sebanyak
3 liter yang dimasukkan ke dalam tabung plastik berisi antikoagulan Na sitrat. Setelah itu, darah
melalui proses pengendapan agar sel darah merah terpisah dari plasma. Proses pengendapan
berlangsung selama 2-3 jam. Plasma kemudian dipisahkan dan dikumpulkan menjadi bulk untuk
diproses lebih lanjut. Sel darah merah yang mengendap ditambahkan larutan NaCl 0.9% hingga
volume menjadi 3 liter dan kemudian ditransfusi kembali ke donor. Area pengambilan darah dan
transfusi dilakukan di tempat yang sama agar tidak menciptakan luka baru di pembuluh darah kuda.

Manajemen Kesehatan
Manajemen kesehatan kuda dilakukan dengan pemeriksaan kesehatan rutin setiap
pagi dan sore. Kuda yang digunakan untuk produksi juga dicek responnya setelah proses
bleeding dan transfusi. Pemeriksaan frekuensi detak jantung, frekuensi napas, nafsu makan,
dan respon kuda terhadap rangsangan dilakukan sebagai indikator awal. Kuda yang
diimunisasi mendapatkan tambahan vitamin karena beberapa ada yang mengalami
penurunan nafsu makan. Sediaan yang diberikan setelah imunisasi adalah kombinasi
Biodin dan Hematodin dengan rute pemberian intramuskuler. Berdasarkan label produk,
kandungan dalam Hematodin adalah taurine, ammonium, methionine, histidine, tryptopan,
cobalt acetate, dan cyanocobalamin. Hematodin diberikan dengan dosis 10-20 ml (kuda)
untuk meningkatkan nafsu makan dan membantu penyembuhan gangguan hematopoietik.
Selain itu, obat yang digunakan untuk pengobatan luka adalah Limoxin dan Gusanex.
Gusanex diberikan untuk mencegah infestasi larva lalat pada daerah luka yang terbuka.
Penanganan kasus kolik pada salah satu kuda produksi dilakukan dengan
memberikan terapi cairan Ringer Laktat sebanyak 10 liter, nasogastric tubing, garam
Inggris yang dicampurkan air hangat dan parafin cair. Selain itu, palpasi rektal untuk
mengeluarkan feses juga dilakukan. Setelah dipalpasi, dilakukan flushing untuk
merangsang kuda defekasi. Selain itu, kuda ditrokar di bagian flank kanan untuk
mengeluarkan akumulasi gas di saluran penceernaan.
10

Bagian Pembiakan Hewan Laboratorium

Hewan coba adalah hewan yang sengaja dipelihara untuk digunakan sebagai hewan
model dengan tujuan untuk pembelajaran dan pengembangan berbagai macam bidang ilmu
dalam skala penelitian atau pengamatan laboratorium. Penggunaan hewan coba pada Commented [FS6]: Apa definisi hewan model ??? Apakah
penelitian kesehatan banyak dilakukan untuk uji kelayakan atau keamanan suatu bahan obat semua hewan coba adalah hewan model ???
dan juga untuk penelitian yang berkaitan dengan suatu penyakit. Oleh karena itu, hewan
yang digunakan sebagai hewan lab harus sehat atau bebas dari mikroorganisme patogen
sehingga hasil penelitian yang diperoleh bersifat valid dan akurat. Hewan coba banyak
digunakan sebagai penunjang dalam melakukan pengujian-pengujian terhadap obat,
vaksin, atau dalam penelitian biologi (Tolistiawaty et al. 2014). Beberapa uji atau penelitian
maupun kegiatan pembelajaran menggunakan hewan coba dalam jumlah yang banyak.
Oleh karena itu, dibutuhkan pembiakan untuk memenuhi kebutuhan permintaan hewan
coba. Pembiakan hewan harus memenuhi SOP yang sudah ditetapkan.
Pembiakan hewan coba di PT Bio Farma meliputi hewan mencit (Mus musculus),
tikus (Rattus norvegicus), guinea pig (Cavia porcellus), dan kelinci (Oryctolagus
cuniculus). Program pembiakan hewan dilakukan di PT Bio Farma (Persero), Kecamatan
Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Mencit yang dibiakan adalah mencit strain australia,
DDy (Deutchland, Denken, and Yoken), DDy SLC, dan BALB/c. Strain-strain mencit
tersebut dipelihara di ruangan yang berbeda. Sementara kelinci yang dibiakan merupakan
strain New Zealand White. Rencana pembiakan ditentukan sesuai dengan permintaan dari
bagian Quality Control (PMVV dan PMVB). Permintaan hewan laboratorium selalu
berubah setiap tahunnya. Permintaan mencit dapat mencapai 100.000 ekor/ tahun.
Permintaan kelinci mencapai 1500 ekor/tahun.
Mencit dewasa yang siap kawin adalah berumur 6 minggu (CCAC 2017).
Perkawinan mencit yang dibiakkan di PT Bio Farma (Persero) umumnya sudah dilakukan
saat mencit betina sudah berumur 5-6 minggu dan jantan berumur 6-7 minggu. Sistem
perkawinan yang digunakan adalah harem dengan perbandingan jantan dan betina yaitu
1:3. Menurut CCAC (2017) perbandingan jantan dan betina adalah 1:4. Siklus estrus mencit
betina bersifat poliestrus dengan satu siklus estrusnya berlangsung relatif singkat yaitu 4-5
hari. Durasi sexual receptivity berkisar antara 10-20 jam (CCAC 2017). Kebuntingan
hewan mencit berlangsung selama 19-21 hari dengan rata-rata kebuntingan selama 20 hari
(CCAC 2017). Jumlah anak yang dilahirkan bisa mencapai 6-12 ekor anak mencit dengan
berat berkisar 1 gram (CCAC 2017). Jumlah rata-rata anak mencit yang dilahirkan indukan
di Bagian Pembiakan Hewan berkisar 10-12 ekor. Anak mencit akan menyusui induknya
selama 21-28 hari lalu kemudian dapat disapih dari induk (Suckow et al. 2001). Anak
mencit yang dibiakkan di PT Bio Farma (Persero) rata-rata disapih pada umur 21 hari
dengan mempertimbangkan bobot badan yang disyaratkan yaitu 11 gram. Masa reproduksi
mencit yaitu 7-8 bulan (CCAC 2017). Perkawinan mencit hanya dilakukan antara jantan
dan betina dengan strain yang sama. Jantan dan betina yang dikawinkan berasal dari
ruangan atau rak yang berbeda. Afkir mencit dilakukan saat pergantian bedding. Pemilihan
mencit yang akan diafkir adalah apabila memiliki kriteria diantaranya adalah hewan terlihat
sakit secara klinis (letargi, rambut kusam, alopesia, dll) telah beranak lebih dari 4 kali, litter
11

size kurang dari 6 ekor, kanibal, tidak bunting setelah 4 kali kawin, jumlah puting kurang
dari normal, dan memiliki mother ability yang kurang.
Kelinci yang dibiakkan adalah strain New Zealand White. Kelinci akan dewasa
kelamin saat berumur 4-5 bulan pada betina dan 6-7 bulan pada jantan. Kelinci betina yang
sudah mencapai umu 4-5 bulan umumnya sudah dapat dikawinkan, sedangkan pada jantan
mulai dari umur 6-7 bulan. Menurut Lidfors & Edstrom (2010) kelinci jantan akan dewasa
kelamin saat sudah mencapai umur 5-9 bulan atau 9-12 bulan tergantung dari kondisi
klimat, dan kadang-kadang kelinci jantan mencapai dewasa kelamin kurang dari lima
bulan. Sistem perkawinan kelinci di Bagian Pembiakkan Hewan PT Bio Farma yaitu
dengan sistem poligami dan teknik kawin sodor. Ovulasi pada kelinci betina diinduksi oleh
proses koitus dan konsepsi yang terjadi 8 hingga 10 jam setelah mating. Sementara masa
Sexually receptive terjadi setelah 36 hari (Lidfors & Edstorm 2010). Lama kebuntingan
kelinci berkisar 28-34 hari dengan rata-rata 31 hari dan bobot badan 50 gram. Jumlah anak
yang dilahirkan berkisar 4-12 ekor ekor (lidfors & Edstorm). Jumlah anak lahir di Bagian
Pembiakkan Hewan berkisar 6-7 ekor. Anak kelinci akan disapih dari induk bila sudah
mencapai umur 4-8 minggu (Lidfors & Edstorm 2010). Puncak reproduksi kelinci tercapai
saat berumur 3 tahun (CACC 2017).

Transportasi hewan laboratorium


Spesifikasi hewan uji meliputi bobot badan, strain, dan keadaan klinis. Jenis strain
hewan yang akan dikirim adalah strain yang sesuai dengan spesifikasi. Sebelumnya hewan
ditimbang satu per satu sesuai spesifikasi bobot badan yang diminta, hewan juga dilengkapi
dengan formulir yang menyatakan bebas dari berbagai macam temuan klinis seperti turgor
kulit yang buruk, diare, bulu kusam. Setelah semuanya sesuai dan terpenuhi, barulah hewan
dinyatakan layak untuk dikirim ke bagian uji hewan dan dilakukan conditioning.
Transportasi hewan uji mencit, cavia, dan kelinci di PT Bio Farma (Persero) dari
Bagian Pembiakan Hewan ke Bagian Hewan Uji dilakukan dengan memasukkan hewan uji
ke dalam kotak keranjang dan selanjutnya dimasukkan ke dalam truk pengantar hewan.
Informasi mengenai jenis hewan, jenis strain, jumlah, jenis kelamin, dan bobot hewan yang
ada di dalam kotak dicantumkan dalam label di bagian luar kotak.
Kandang dan kendaraan harus memiliki ukuran yang ideal, ventilasi cukup, serta
sanitasi dan desain yang sesuai. Kendaraan yang di gunakan untuk transfortasi memiliki
system sirkulasi udara yang dapat membuat hewan tetap nyaman selama dalam perjalanan.

Manajemen Pemeliharaan
Pemeliharaan hewan yang baik berpengaruh terhadap akurasi hasil pengujian dan
berdampak pada kualitas produk. Manajemen pemeliharaan meliputi sistem perkandangan,
manajemen pakan dan air minum, bedding, sistem perkawinan, serta perlakuan pada hewan
afkir.

Sistem Perkandangan
Ruang pemeliharaan memiliki fasilitas listrik, air minum, ventilasi udara atau
pengatur suhu ruang, rak, kandang, dan saluran pembuangan. Ventilasi, suhu, dan
kelembaban ruangan dirancang sedemikian rupa untuk menjaga kondisi homeostasis
hewan. Ruang pemeliharaan mencit memiliki dua koridor yaitu koridor bersih dan koridor
kotor. Lalu lintas dibuat menjadi satu arah, sehingga barang-barang dari area kotor tidak
melewati area bersih.
12

Ruang pemeliharaan mencit dibersihkan setiap hari dengan cara disapu dan dipel
menggunakan desinfektan. Ruang pemeliharaan dilengkapi dengan pendingin ruangan dan
blower sehingga suhu ruangan dapat dipertahankan berkisar antara 20-22°C dan
kelembaban 66-71%. Pemantauan suhu dan kelembaban diketahui melalui
thermohygrometer yang terpasang pada ruangan. Ruang pemeliharaan memiliki area untuk
pencucian botol minum dan area untuk pembersihan kandang.

Manajemen Pakan
Gudang pakan terdapat di dalam ruang pemeliharaan mencit. Gudang tersebut
memiliki fasilitas pendingin ruangan sehingga suhu ruangan terjaga pada kisaran 20-22°C.
Penyimpanan pakan dilakukan dengan meletakkan pakan di atas palet. Pakan tidak boleh
diletakkan di atas lantai karena pakan akan menjadi lembab dan berjamur. Pakan disimpan
maksimal selama 1 bulan. Sistem manajemen pakan yang dipakai adalah first in first out.

Manajemen Air Minum


Air minum yang diberikan pada hewan merupakan air minum yang telah mengalami
pengolahan terlebih dahulu. Air minum diberikan secara ad libitum menggunakan botol
yang telah disesuakan oleh PT Bio Farma (Persero), air minum diganti dua kali dalam
seminggu, sebelum penggantian air minum, botol terlebih dahulu dibersihkan dengan air
bersih guna menghindari adanya mikroba dalam botol.

Bedding
Bedding yang digunakan di PT Bio Farma adalah serutan kayu yang telah disterilisasi
menggunakan autoclave. Ketebalan bedding mencit dibuat setebal 2 cm, agar mencit dapat
menggunakan bedding untuk mengekspresikan perilaku alamiahnya seperti mengerat dan
membuat terowongan. Bedding diganti 1 kali dalam seminggu. Pada saat pergantian
bedding, dilakukan juga pemilihan sapihan, afkir, dan pergantian indukan jika ada indukan
yang mati atau afkir (replacement).

Bagian Uji Hewan

Penerimaan dan Aklimatisasi Hewan Uji


Hewan uji yang digunakan dipesan dari bagian pembiakan Hewan Laboratorium PT
Bio Farma yang terletak di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Hewan uji yang dipesan
terdiri dari mencit, kelinci dan cavia, sedangkan monyet dipesan dari vendor yang berasal
dari Universal Fauna dan Primaco. Sebelum hawan uji digunakan di bagian Uji Hewan,
dilakukan pemeriksaan dokumen hewan laboratorium terlebih dahulu, kemudian dilakukan
penimbangan bobot badan hewan, pemeriksaan klinis dan aklimatisasi. Hewan yang mati
atau sakit pada saat pemeriksaan klinis akan diafkir sedangkan hewan yang sehat dan
lengkap dokumen nya akan masuk kedalam proses aklimatisasi. Proses aklimatisasi pada
setiap hewan dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1 Rekomendasi masa karantina hewan laboratorium

No Jenis Hewan Masa Karantina


1. Mencit 1-2 hari
2. Kavia 3-5 hari
3. Kelinci 5-7 hari
13

4. Monnyet 4-7 hari


Sumber : Gorska 2000
Ket *masa aklimatisasi monyet di vendor selama 6 minggu

Selama di vendor monyet telah diaklimatisasi selama 6 minggu. Selama masa


aklimatisasi tersebut dilakukan pemeriksaan klinis dan laboratoris terhadap monyet
tersebut. Monyet yang memenuhi syarat untuk hewan uji harus terbebas dari SF, SV40,
SIV, TB, Herpes B serta antibodi polio tipe 1,2 dan 3.

Produk Biomedis
Vaksin dan produk antisera yang diproduksi sebelum didistribusikan dilakukan
serangkaian uji pada setiap tahapan produksi. Pengujian tersebut menggunakan hewan uji
yang mempunyai spesifisitas untuk masing-masing uji. Uji yang dilakukan terhadap produk
biomedis diantaranya uji potensi, uji safety (pirogen) dan uji toksisitas abnormal. Uji
potensi dapat dibagi menjadi beberapa bagian diantaranya uji potensi terhadap ATS (anti
tetanus serum), ADS (anti difteri serum) dan SABU (serum anti bisa ular). Uji potensi
dilakukan pada produk in-proccess, final bulk ATS/ADS dan produk akhir yang
mengandung ATS/ADS. Uji potensi dilakukan dengan menghitung nilai potensi bahan uji
terhadap nilai potensi pembanding atau standar antisera yang telah dikalibrasi dalam
internasional unit. Uji pirogen adalah uji kualitatif yang digunakan untuk mengetahui
kandungan antigen pirogenik di dalam seuatu sediaan injeksi. Uji pyrogen dilakkan pada
sampel bahan baku tertentu, bulk, bulk akhir dan produk akhir obat injeksi yaitu vaksin
virus (vaksin hepatitis B), antisera (ATS, ADS, SABU). Uji toksisitas abnormal adalah uji
keamanan umum dan pengujian ini dilakukan pada produk akhir sebelum digunakan pada
manusia.

Uji Potensi
Uji potensi yang dilakukan oleh mahasiswa meliputi uji potensi terhadap anti tetanus
serum (ATS), anti difteri serum (ADS) dan serum anti bisa ular (SABU). Nilai potensi
antisera yang diuji dihitung menggunakan metode probit analisis Sperman dan Karber
berdasarkan jumlah mencit yang masih hidup pada akhir observasi, nilai tersebut
dinyatakan dalam satuan IU/ml. Hewan yang digunakan dalam uji potensi ATS dan SABU
adalah mencit strain DDY, sedangkan untuk uji potensi ADS menggunakan cavia. Hewan
uji yang digunakan untuk uji potensi harus dalam keadaan sehat, belum pernah digunakan
untuk uji sebelumnya dan telah memenuhi syarat selama masa aklimatisasi.
Pengujian ATS ditentukan oleh nilai effective dose 50 (ED50). Hasil uji dinyatakan
valid jika ED50 baku pembanding terletak pada rentang dosis terendah dan tertinggi, alat
yang digunakan terkalibrasi, reagen yang digunakan tidak kadaluarsa. Terdapat dau kriteria
penerimaan nilai potensi untuk ATS dan ADS, yaitubulk akhir dan produk akhir. Nilai
potensi ATS/ADS dinyatakan memenuhi spesifikasi jika nilai potensi tidak kurang dari
90% dari label atau bulk murni ATS dan ADS mempunyai nilai potensi tidak kurang dari
1500 IU/ml untuk ATS dan 1250 IU/ml untuk ADS. Nilai potensi SABU dihitung dengan
menggunakan rumus LD50. Hasil uji dinyatakan valid apabila ada respon penuh dari 0-
100% dan ED50 berada diantara dosis maksimal dan minimal. Penerimaan produk SABU
polivalen terhadap komponen mempunyai kriteria, Agkistrodon rhodostoma (A): ≥ 10
LD50, Bungarus fasciatus (B): ≥ 25 LD50 dan Naja sputatrix (N): ≥ 25 LD50.

Uji Pirogen
14

Prinsip dasar dari uji ini adalah untuk mengetahui keberadaan kandungan agen
pyrogen dalam suatu sediaan injeksi. Pirogen adalah suatu agen biokimiawi endogen
dan/atau eksogenyang dapat menimbulkan reaksi demam pada hewan dan/atau manusia.
Uji ini merupakan uji untuk menentukan keamanan dari suatu sediaan injeksi.
Uji pirogen dilakukan dengan mengukur perubahan suhu tubuh hewan coba sebelum
dan sesudah injeksi larutan uji secara intravena dengan dosis tertentu. Hewan coba yang
digunakan pada uji pirogen adalah kelinci. Kelinci yang digunakan harus sehat atau
memenuhi syarat selama mas aklimatisasi, yang mengacu pada standard operational of
procedure (SOP) yang telah dibuat PT Bio Farma. Prosedur dari uji ini terdiri dari uji
pendahuluan dan uji utama. Masing masing uji terdiri dari masa tenang dan masa uji.
Kelinci yang memenuhi syarat pada uji pendahuluan akan dilanjutkan dengan uji utama.
Uji utama merupakan pengujian sediaan injeksi sebenarnya. Bahan yang diinjeksikan
merupakan larutan bahan uji. Sebelum masuk ke masa uji, kelinci akan dikondisikan
terlebih dahulu dengan merekam suhu tubuhnya menggunakan rectal probe prosesor
secara otomatis. Setelah itu kelinci masuk ke tahap masa uji dengan menyuntikkan larutan
injeksi melalui vena auricularis.

Uji Safety Vaksin Polio


Metode yang digunakan dalam uji ini adalah dengan neurovirulence test (NVT). Uji
NVT merupakan uji yang digunakan untuk memastikan vaksin yang akan dipasarkan sudah
tidak virulen seperti virus alaminya. Dibutuhkan sebanyak 36 monyet ekor Panjang
(Macaca fascicularis) untuk satu batch produksi final bulk dengan berat diatas 1,8 Kg dan
tidak ditemukan luka secara fisik. Monyet yang telah melewati proses pengondisian
kemudian dibius dengan ketamin HCl dengan dosis 0,1 ml/kg BB. Monyet yang telah
terbius kemudian ditimbang dan dicatat sesuai dengan nomor registrasinya, kemudian
diinokulasi sampel vaksin yang telah diencerkan. Masing-masing monyet diinokulasi 0,2
ml sampe uji melalui rute intraspinal pada celah antara lumbal ke-6 dan ke-7. Kemudian
dilakukan pengamatan selama 17-21 hari untuk melihat gejala klinis yang timbul (Marianne
2013). Setelah masa inkubasi selesai, monyet dieutanasi untuk diambil otak, batang otak
dan medulla spinalisnya untuk dibuat preparat histologis. Preparat diwarnai dengan
gallocyanin, tujuan dari pewarnaan adalah untuk melihat ada tidaknya kerusakan syaraf
akibat infeksi virus. Sampe dinyatakan lulus apabila tidak ditemukan gejala klinis atau
bukti histopatologi yang menunjukkan kerusakan sistem saraf pusat akibat virus polio
(Marianne 2013).

Uji Toksisitas Abnormal


Tujuan dari uji ini adalah untuk memastikan bahwa vaksin yang diproduksi aman dan
tidak toksik. Hewan coba yang digunakan adalah mencit dan cavia sedangkan vaksin yang
diuji adalah vaksin campak, measles-rubella (MR), Hepatitis B dan influenza HA. Mencit
yang digunakan sebanyak 10 ekor dengan strain DDY dan jenis kelamin betina dengan
berat badan 18-22 gram. Sedangkan cavia yang digunakan berjenis kelamin betina dengan
bobot badan 250-300 gram sebanyak 4 ekor. Mencit dan cavia ditimbang untuk mengetahui
bobot awal kemudian dibagi menjadi dua kelomok, satu kelompok control (5 ekor mencit
dan 2 ekor cavia) dan satu kelompok uji (5 ekor mencit dan 2 ekor cavia). Mencit dan cavia
dalam kelompok yang sama diberi tanda yang berbeda sebagai tanda pengenal masing-
masing individu mencit dan cavia tersebut. Dilakukan injeksi sampel vaksin intraperitoneal
pada kelompok uji sedangkan untuk kelompok kontrol diinjeksi dengan NaCl 0,85% dalam
jumlah dan rute yang sama. Setiap hari kondisi hewan diamati dan dilakukan penimbangan
kembali pada hari ke-3 dan ke-7 setelah injeksi. Produk dinyatakan tidak lulus uji apabila
15

dari kedua kelompok menunjukkan perbedaan bobot badan yang nyata sebelum dan
sesudah perlakuan

Health Monitoring
Monitoring terhadap keberadaan mikrobiologi dan monitoring genetika perlu
dilakukan bertujuan untuk memeriksa status kesehatan hewan laboratorium dan hewan
donor. Monitoring ini dilakukan di PT Bio Farma (Persero) bagian pembiakan hewan
model setiap 3 bulan oleh Quality Control (QC). Monitoring genetika dilakukan 3 tahun
sekali melalui surveilans untuk membantu mendeteksi ‘kontaminasi’ genetik oleh strain
lain atau ‘genetic drift’, maupun keduanya, yang mungkin dapat mempengaruhi kegiatan
uji (Hedrich 1990). Health monitoring juga dilakukan sebagai bentuk pemantauan terhadap
hewan-hewan yang rentan atau sakit, deteksi penyakit laten, dan manajemen penyakit saat
outbreak.
Hewan laboratorium yang dilakukan pengecekan kesehatan secara berkala adalah
monyet, mencit, cavia, kelinci, ayam SPF. Hewan donor yang dilakukan kegiatan health
monitoring yaitu kuda, domba, dan kambing. Kegiatan monitoring kesehatan hewan
laboratorium seperti mencit, cavia, kelinci, ayam SPF biasanya meliputi pemeriksaan
sampel darah, urin, feses, pakan, air minum, bedding, dan litter.
Sampel darah digunakan untuk pengujian serologis dan pembuatan ulas darah, serta
pemeriksaan antibodi terhadap mikroorganisme tertentu dan mendeteksi parasit darah.
Sampel urin dan feses digunakan untuk mendeteksi adanya gangguan fungsi metabolisme
dan pemeriksaan endoparasit. Sampel pakan, minum, bedding, dan litter digunakan untuk
pemeriksaaan cemaran mikroorganisme yang terdapat dalam sampel tersebut.
Hewan laboratorium non-human primate yang digunakan untuk produksi vaksin
Polio merupakan monyet ekor panjang yaitu Macaca fascicularis yang bunting. Proses
pengamatan kesehatan hewan dilakukan oleh vendor dan PT Bio Farma (Persero) selaku
user selama masa karantina. Vendor melakukan screening test meliputi uji bebas
Tuberkulosis, Polio tipe I, II, dan III, serta SIV. Monyet yang telah lolos screening test di
vendor kemudian diambil sampel darahnya oleh user, untuk dilakukan uji serologis
terhadap keberadaan Simian Foamy Virus dan Simian Vacuoliating Virus 4 (SV40). Hewan
yang lolos uji dapat digunakan sebagai hewan produksi.
Monyet bunting yang telah lolos uji ini juga dilakukan pemeriksaan kebuntingan
secara palpasi. Screening test tidak hanya dilakukan pada induk monyet, namun fetus juga
diperiksa sampel darahnya untuk dilakukan uji serologis terhadap SIV dengan metode
ELISA (Enzym-Linked Immunosorbent Assay), Simian Foamy Virus dengan metode
Immuno-Flourescent Test, dan SV40 dengan metode Neutralizing Antibody. Prinsip dasar Commented [FS7]: Jelaskan prinsip dasar ELISA dan
dari uji ELISA yaitu mendeteksi konsentrasi antibodi menggunakan ikatan antigen antibodi Immuno floresecent test yang dilakunan. Lengkapi dengan
pustaka
yang dilabel dengan enzim (alkalin fosfatase atau peroksidase) sebagai konjugat untuk
reaksi imunologi (Wild et al 2013). Antigen antibodi yang digunakan dalam uji ELISA
adalah antigen spesifik (monoclonal) dan antibodi sekunder spesifik tertaut enzim signal
untuk mendeteksi keberadaan antibodi yang diinginkan (Wiley 1989). Keberadaan antibodi
yang terdeteksi dilihat berdasarkan perubahan warna dari chromogen yang terikat substrat
yang bereaksi dengan enzim pada konjugat (Burgess 1995). Menurut Krissanti (2008), nilai
absorbansi yang diperoleh dari hasil pembacaan pada ELISA reader merupakan nilai
kuantitas dan sebanding dengan konsentrasi antibodi yang terdapat dalam serum. Semakin
pekat warna yang terbentuk, maka nilai absorbansinya semakin besar. Prinsip dasar dari
Immuno Fluorescent test atau Fluorescent Antibody Test (FAT) adalah terdapat ikatan
16

antara antigen-antibodi terhadap pewarnaan Fluorescent Isothiocyanate (FITC) yang sudah


terkonjugasi dengan goat anti mouse IgA, IgG dan IgM apabila menggunakan hewan coba
mencit. Apabila sampel menunjukkan fluoresensi pada pemeriksaan dibawah mikroskop
fluoresen, maka dinyatakan positif karena bagian yang menunjukkan fluoresensi itu
terdapat ikatan antigen-antibodi serta anti mouse IgA, IgG dan IgM (Dong Kun et al. 2011)
Setelah seluruh rangkaian screening test dilakukan dan monyet lolos uji, barulah fetus
monyet tersebut siap untuk digunakan sebagai bahan baku media biakan sel untuk vaksin
Polio.
Kegiatan monitoring pada hewan donor kuda yaitu pengambilan sampel darah, feses,
urin, pakan dan minum dan bedding yang dilakukan secara berkala. Domba dan kambing
yang dipelihara diambil darahnya untuk media agar pengujian, sehingga diperlukan juga
health monitoring. Pemeriksaan health monitoring pada domba dan kambing menggunakan
serum darah melalui uji serologis dengan metode ELISA uji Caprine Arthritis and
Encephalitis (CAEV). Uji antibodi ini bertujuan untuk mengetahui antibodi terhadap
CAEV dan Maedi-Visna Virus (MVV) pada serum domba dan kambing dengan metode
ELISA, Uji ELISA untuk Brucella ovis dan metode ELISA untuk penyakit Blue Tongue.
Selain pemeriksaan menggunakan serum, health monitoring juga dilakukan pemeriksaan
ulas darah untuk pemeriksaan terkait antraks. Selain health monitoring menggunakan
ELISA dan ulas darah, juga dilakukan pemeriksaan feses pada domba dan kambing untuk
mengetahui derajat keparahan endoparasit yang ada pada hewan tersebut. Metode Commented [FS8]: Metode apa yang digunakan utk
pemeriksaan yang digunakan terhadap investasi endoparasit yaitu metode TTGT (Telur pemeriksaan endoparasit
Tiap Gram Tinja).

Manajemen Pengolahan Limbah


Limbah merupakan sisa suatu usaha atau kegiatan yang perlu diolah untuk menjaga
kualitas lingkungan. Limbah dapat dibedakan atas limbah cair, padat, dan bahan beracun
berbahaya (B3). Limbah padat bersal dari hewan donor dan hewan laboratorium yang
terdiri dari kadaver (mencit, cavia, kuda, kelinci, unggas, tikus, kuda, dan domba), bedding
bekas pakai, feses, dan sisa pakan. Limbah manur yang berasal kotoran hewan yang
dipelihara di fasilitas PT Bio Farma dan sisa pakan Cisarua disaring dari saluran air akan
dikompos selama 3 bulan (menggunakan starter) atau 6 bulan (tanpa starter) dan
dimanfaatkan sebagai pupuk kompos untuk padang rumput sumber pakan hewan yang
dipelihara PT Bio Farma.
Sementara itu, limbah cair diperoleh dari air sisa pencucian semua peralatan dari
semua kandang . Limbah B3 merupakan limbah yang berhubungan dengan bahan medis
seperti jarum suntik, sarung tangan, botol bekas obat dan lain-lain. Limbah yang tidak
dapat diolah kembali oleh PT Bio Farma (Persero) akan diolah oleh pihak ketiga yaitu
Prasadha Pamunah Limbah Industri (PPLI) Bogor yang diambil setiap tiga bulan sekali.
Manajemen pengolahan limbah ini bertujuan agar limbah yang keluar ke lingkungan
masyarakat tidak mengandung bahan berbahaya dan beracun.
Prosedur pengolahan limbah padat berupa bedding bekas pemakaian dikelola oleh
koperasi PT Bio Farma (Persero) untuk dilakukan komposting menjadi pupuk, sementara
untuk limbah kadaver diinsenerasi pada suhu antara 900700˚C (Stockman 1974). Tidak
semua kadaver dimusnahkan menggunakan insenerator, kecuali padakadaver domba dan Commented [FS9]: Pustaka ???
kuda akan dikubur setelah dilakukan nekropsi. Sebelum dilakukan proses insenerasi,
kadaver akan dikumpulkan dari masing-masing kandang akan ditimbang. Kadaver yang
17

dimasukkan ke insenerator harus sebanyak 25kg, jika kurang dari itu maka dimasukkan ke
dalam freezer terlebih dahulu. Oleh karena kapasitas insinerator yang tergolong kecil (25
kg) dan tempat dipeliharanya hewan besar, maka metode penguburan dipilih karena
fasilitas PT Bio Farma di Cisarua memiliki lahan yang cukup luas yang dapat dimanfaatkan
untuk penguburan bangkai. Fasilitas PT Bio Farma di Pasteur dilengkapi dengan dua unit
insinerator berkapasitas besar (250 kg dan 350 kg), tetapi membawa bangkai dari fasilitas
di Cisarua ke Pasteur dapat menimbulkan risiko kontaminasi ke lingkungan sepanjang
perjalanan yang sejauh 18 kilometer.
Suhu insenerator dikalibrasi terlebih dahulu dan proses pembakaran biasanya
berlangsung sekitar dua jam. Menurut Stockman (1974), suhu yang harus dicapai pada Commented [FS10]: Berapa suhu yang harus dicapai
insenerator untuk memusnahkan bahan limbah padat organik seperti kadaver yaitu berkisar selama pembakaran utk dapat memusnahkan limbah
biologis/medik??
antara 870˚C-980˚C. Setelah dilakukan pemusnahan terhadap kadaver, aAbu sisa
pembakaran akan dikumpulkan dan digunakan sebagai pupuk tanaman. Bahan bakar
insenerator menggunakan solar dan uji emisi gas dilakukan setiap tiga bulan sekali untuk
menjaga kondisi lingkungan bebas dari polusi. Hal ini sesuai dengan yang disyaratkan oleh
WHO dimana proses pengolahan limbah menggunakan insenerator diharuskan bebas dari
polusi yang bisa mencemari lingkungan (WHO 1993). Jam operasional insenerasi mulai
jam 7 hingga jam 11.
Selain limbah padat dan B3, terdapat limbah cair yang harus dikelola sehingga tidak
membahayakan lingkungan. Proses pengelolaan limbah cair dilakukan di Instalasi
Pengolahan Air Limbah (IPAL). Pertama dilakukan sedimentasi limbah dalam grid
chamber. Limbah yang telah melewati grid chamber akan dialirkan menuju control
chamber dan kemudian masuk ke flow equalization. Selanjutnya limbah masuk kedalam
bak anaerob yang berisi sarang tawon dan bakteri pengurai. Limbah selanjutnya dialirkan
ke bak aerob yang berisi bakteri aerob, dalam hal ini menggunakan EM4 dan tepung tapioka
sebagai makanan bakteri. Selama di dalam bak aerob dilakukan aerasi setiap satu jam sekali
untuk menjaga agar bakteri tetap hidup. Indikator bakteri tersebut mati maka air limbah
akan berbau.
Proses selanjutnya yaitu pengendapan (settling) yang dilakukan selama 15-20
menit. Hasil akhir limbah setelah melalui proses settling disalurkan ke fish pool yang berisi
ikan. Ikan yang digunakan PT Bio Farma (Persero) sebagai indikator keamanan air limbah
adalah ikan koi karena sensitif terhadap perubahan lingkungan. Selain itu, indikator lain
yang digukanan untuk melihat keamanan air limbah adalah tumbuhnya lumut di fish pool.
Hal tersebut menunjukkan adanya oksigen sebagai sumber kehidupan. Klorin juga
ditambahkan untuk menjaga keamanan pada proses pengolahan air limbah sebelum
disalurkan ke lingkungan. Pengeluaran air hasil pengolahan limbah cair harus memiliki pH
6–9, SP 30, dan volume tidak melebihi 56m3/hari.
Aspek penilaian terhadap kesejahteraan hewan terhadap hewan coba dapat dinilai
dari berbagai aspek yaitu, Good feeding, Good housing, Good health dan Appropiate
behaviour.
Good Feeding
Pakan yang diberikan pada mencit mengandung kualitas nutrisi penting. Nutrisi yang
terkandung pada pakan mencit adalah karbohidrat, protein, lemak, mineral, vitamin, dan
air. Pakan yang digunakan pada mencit berupa pellet dengan merek Rat Bio dengan berat
25 kg per karung. Penyimpanan pakan pellet di ruangan khusus yang dilengkapi air
conditioner dengan suhu dibawah 20 °C dan dialasi dengan palet agar tidak bersentuhan
18

langsung dengan lantai. Selain itu, menggunakan insect trap untuk menangkap serangga
yang ada di dalam gudang penyimpanan pakan.
Tekstur pelet yang diberikan pada mecit juga bertekstur keras dan berbentuk
silinder, hal ini bertujuan untuk menyesuaikan dengan cara makan rodensia, sehingga tidak
terjadi pertumuhan gigi yang berlebihan. Pakan diletakan pada bagian tutup kandang. Tutup
kandang berupa anyaman kawat, sehingga pakan akan menyembul dan dapat diakses oleh
mencit. Tidak ada variasi makanan yang diberikan pada mencit, hal ini sedikit menyimpang
dari kebiasaan alami mencit yaitu memakan berbagai jenis pakan. Air minum diberikan
melalui botol kaca 250 ml. Botol air minum dilengkapi selang dengan ujung selang (nipple)
yang akan mengeluarkan air ketika disentuh sehingga tidak tumpah ke dalam kandang, dan
diposisikan terbalik, selang melewati celah kawat penutup kandang, sehingga ujung selang
dapat diakses oleh mencit dengan mudah. Setiap kandang diberikan satu botol minum dan
botol minum diganti dua kali dalam seminggu. Pembersihan botol minum dilakukandengan
cara membersihkan bagian dalam botol menggunakan air bersih.Air yang diberikan berupa
pre-treatment water agar mencit terhindar dari agen infeksius. Pre-treatment merupakan
air sulingan yang telah melewati beberapa tahap pemurnian. Sumber air yang digunakan
adalah air tanah (sumur) yang telah melalui filterisasi dan ozonisasi. Ozon (O3) merupakan
bahan beracun dengan tujuan membunuh mikroorganisme yang dapat menimbulkan
penyakit. Tahapan terakhir adalah pemaparan air dengan sinar UV bertujuan untuk
menetralisir bahan beracun dari proses ozonisasi (detoksifikasi).Secara keseluruhan pakan
dan minum yang diberikan telah memenuhi kaidah kesejahteraan hewan.
Good Housing
Beberapa kriteria yang kurang dalam penilaian aspek ini, yaitu kenyamanan tempat
tinggal/comfort around resting dan bebas bergerak/Ease of movement. Kategori kesrawan
yang kurang pada comfort around resting adalah bedding terlihat basah akibat botol air
minum yang kurang rapat sehingga sering tumpah dan membasahi kandang. Kepadatan
kandang juga mengurangi penilaian terhadap kategori comfort around resting dan ease of
movement karena dapat meningkatkan kejadian kanibalisme dan menyebabkan
peningkatan kadar amonia kandang lebih cepat.
Good Health
Penilaian prinsip good health dilakukan dengan mengamati keberadaan luka,
penyakit atau rasa sakit yang disebabkan oleh prosedur pemeliharaan. Penerapan prinsip
good health penting dilakukan selain untuk menjaga kesehatan hewan lab terhadap
serangan berbagai penyakit, prinsip good health juga bertujuan untuk meminimalisir
penyebaran penyakit ke hewan maupun ke manusia dan sebaliknya. Penilaian tersebut
dijelaskan melalui manajemen kesehatan dan tindakan euthanasia yang dilakukan di PT
Bio Farma (Persero). Berdasarkan hasil pengamatan bahwa penilaian kesrawan terhadap
aspek good health sudah baik. Semua prosedur yang dilakukan sudah sesuai dengan
ketentuan yang berlaku dan hewan coba terhindar dari ancaman penyakit. Hal ini
dibuktikan dengan rendahnya angka kematian yang terjadi selama masa pembiakan hewan
coba.
Appropiate Behaviour
Penilian kesrawan terhadap aspek mengekspresikan sifat alami dinilai sudah
memenuhi kriteria. Hal ini dapat dilihat dari perlakuan yang diberikan terhadap hewan coba
yaitu dilakukan pengelompokkan 1 jantan dan 3 betina, penutup kandang dibuat dari kawat
berbentuk jarang yang berguna sebagai tempat mencit untuk memanjat, terdapat alas
badding berupa serutan kayu selain dapat membuat nyaman, dapat juga digunakan oleh
mencit untuk membuat gundukan sarang di pojokan kandangnya. Pakan dibuat dengan
19

tekstur keras, hal ini bertujuan untuk mengasah gigi mencit agar tidak tumbuh selalu
panjang serta dapat mengekspresikan dirinya sebagai hewan pengerat. Pencahayaan juga
diperhatikan dengan baik, lampu ruangan dinyalakan selama 10 jam dan dimatikan selama
14 jam. Lama pemadaman lebih lama dibandingkan dengan lama lampu menyala, hal ini
dikarenakan mencit merupakan hewan yang nokturnal atau beraktifitas di malam hari atau
dalam kondisi yang gelap. Berdasarkan beberapa penilaian kesrawan yang telah dijelaskan,
aspek kesejahteraan hewan yaitu kebebasan dalam mengapresiasikan perilaku alamiah
mencit yang dipelihara di PT. Bio Farma (Persero) telah terpenuhi.

Aspek Kesejahteraan Hewan Coba


………………………………………….

SIMPULAN

Praktik lapang bagian biomedis veteriner di PT Biofarma meningkatkan wawasan


dan pemahaman mahasiswa terhadap industri biomedis khususnya dibidang pembiakan
hewan laboratorium, pemeliharaan dan kesehatan hewan donor, produksi darah dan serum,
hingga bagian penggujian. Selain itu, mahasiswa mendapatkan pengetahuan terkait peran
dokter hewan dalam industri ini.

DAFTAR PUSTAKA Commented [FS11]: Perbanyak pustaka jurnal > 50%

[WHO]. World Health Organization. 2012a. Standard operating procedure neurovirulence


test of types 1,2 or 3 live attenuated poliomyelitis vaccines (oral) in monkeys.
[internet].[diunduh]: 2019 September 9. Tersedia pada: www.who.int /biological/
vaccines/ MNVT.S OP. Final. 09112012.pdf.
[WHO] World Health Organization. 2013. Manual for quality control of diphtheria, tetanus
and pertussis vaccines. [internet]. [diunduh pada 2019 Sept 9]. Terhubung berkala:
www.who.int/vaccines-documents/.
Blakely J, Bade DH. 1991. Ilmu Peternakan. Terjemahan : Bambang Srigandono. Edisi ke-
4. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta.

Jacoebs TN. 1994. Budidaya Ternak Kuda. Yogyakarta (ID): Kanisius.


Gorska
Maswarni, Rachman N. 2014. Kuda: Manajemen Pemeliharaan dan Pengembangbiakan.
Jakarta (ID): Penebar Swadaya.
McBane S. 1994. Modern Stable Management. New York (US): Sterling.
Okaraonye CC, Ikewuchi JC. 2009. Nutritional and antinutritional component of
Pennisetum purpureum (Schumach). Pakistan Journal of Nutrition. 8(1): 32-34.
Theoret C, Schumacher J. 2017. Equine Wound Management 3h Edition. Oxford (UK):
Blackwell Publishing.
Thomas HS. 2004. Care and Management of Horses. Lexington (US): Blood Horse
Publications.
20

Tim Karya Tani Mandiri. 2010. Pedoman Beternak Kuda. CV. Nuansa Aulia, Bandung.
Waldridge BM. 2017. Nutritional Management of Equine Diseases and Special Cases.
Oxford (UK): Blackwell Publishing.
Ziska SM, Schumacher J, Duran SH, dan Brock KV. 2012. Effects of serial harvest of plasma on
total plasma protein and total immunoglobin G concentrations in donor horses
involved in a plasmapheresis program. AJVR 73(6): 770-774.
[CCAC] Canadian Council of Animal Care. 2017. Guide to the care and use of experimental
animals. Vol 1, 2ed. [Internet]. [Diunduh: 2019 Sept 11]. Tersedia pada:
https://www.ccac.ca/Documents/Standards/Guidelines/Experimental_Animals_Vol1.pdf
.
Lidfors L, Edstrom T. 2010. The UFAW Handbook on The Care and Management of Laboratory
and Other Research Animals. 8th ed. UFAW.
Suckow MA, Danneman P, Brayton C. 2000. The Laboratory Mouse. New York (US): CRC Press
LLC.
Tolistiawaty I, Widjaja J, Sumolang PPF, Octaviani. 2014. Gambaran kesehatan pada mencit (Mus
musculus) di instalasi hewan coba. Jurnal Vektor Penyakit. 8(1): 27-32.
Marianne, 2013. European Pharmacopoeia. Ed ke-8. Strasbourg (EU): Directorate for the
Quality of Medicines and Healthcare of the Council of Europe.
Wild D, John R, Sheehan C, Binder S. 2013. The Immunoassay Handbook ; Theory and
applications of ligand binding, ELISA and related techniques, Ed ke-4. Basingstoke
(UK): Elsevier Saunders.

Gorska P. 2000. Principles in laboratory animal research for experimental purposes. Med
Sci Monit. Vol 6(1): 171-180.
Krissanti I. 2008. Deteksi antibodi anti-Escherichia coli K99 di dalam serum induk sapi
Friesian Holstein bunting post vaksinasi E.coli dengan teknik ELISA [Skripsi].
Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.

Dong Kun Yang et al. 2011. Comparison of four diagnostic methods for detecting rabies
viruses circulating in Korea. J. Vet. Sci. Vol 13 (1): 43-48.

Burgess GW. 1995. Teknologi ELISA dalam Diagnostik dan Penelitian. Yogyakarta (ID):
UGM Pr.
Wiley J. Sons. 1989. ELISA and Other Solid Phase Immunoassays ; Theoretical and
practical aspect. London (UK): Inforum Ltd.

Stockman RF. 1974. Controlled temperature incinerator. United States Patent. 3. 807-321.
21