Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH RESEPTIR

EHRLICHIOSIS PADA ANJING

Oleh:
Kelompok 11
Muammar Khodafi, SKH B94174432
Umbu Reyvandy Kurniawan, SKH B94174448
Vicky Nova, SKH B94174449

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER HEWAN


FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2018
EHRLICHIOSIS PADA ANJING

Muammar Khodafi, SKH B94174432


Umbu Reyvandy Kurniawan, SKH B94174448
Vicky Nova, SKH B94174449
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Parasit adalah suatu organisme yang hidup menempel pada tubuh
organisme lain yang lebih besar yang disebut host. Parasit merupakan organisme
yang hidupnya merugikan induk semang yang ditumpanginya. Keberadaan parasit
dalam tubuh host dapat bersifat sebagai parasit sepenuhnya dan sebagai parasit
tidak sepenuhnya. Beberapa sifat hidup dari parasit seperti parasit fakultatif,
obligat, insidentil temporer dan permanen. Penyebarannya dapat dipengaruhi oleh
beberapa faktor diantaranya siklus hidup, iklim, sosial budaya atau ekonomi dan
kebersihan. Biasanya hospes atau induk semang yang jadi sasarannya bisa berupa
hospes definitif (akhir), insidentil, carrier, perantara dan hospes mekanik (Lord
2014).
Salah satu penyakit parasit yang sering menimbulkan gangguan pet animal,
khususnya pada anjing adalah serangan caplak. Caplak merupakan salah satu
ektoparasit yang terdapat pada hewan dan pada umumnya selalu menimbulkan
kerugian, baik secara fisik bagi hewan itu sendiri, maupun kerugian secara
ekonomis bagi pemilik. Kerugian-kerugian ini timbul karena umumnya caplak
menghisap darah sehingga dapat mengakibatkan anemia, merusak kulit,
menimbulkan kegatalan, dan dermatitis. Namun kerugian yang paling utama
adalah peranannya sebagai vektor penyakit, antara lain Ehrlichiosis.
Agen Ehrlichiosis yang banyak menyerang anjing adalah Ehrlichia canis.
Jenis agen penyakit ini tergolong dalam rickettsia. Agen rickettsia dapat
ditemukan di dalam leukosit dan bersifat intrasitoplasmik. Ehrlichiosis dapat
menyebabkan epistaxis, anemia, trombositopenia hingga menyebabkan kematian
(Subronto 2010). Oleh sebab itu perlu adanya pembahasan lebih lanjut mengenai
penyebab dan penanganan Ehrlichiosis sehingga pemilik anjing lebih mewaspadai
akibat dari kondisi Ehrlichiosis.
Tujuan

Tujuan dari makalah ini adalah untuk memahami dan menganalisa penyebab
dan penanganan kasus Ehrliciosis pada anjing dan penulisan resepnya.

TINJAUAN PUSTAKA

Ehrlichiosis
Ehrlichiosis merupakan penyakit penting pada anjing yang disebabkan oleh
bakteri intraselular gram negatif dari genus Ehrlichia yang termasuk dalam famili
Anaplasmataceae. Spesies penting dari genus Ehrlichia adalah E. canis, E.
ewingii, dan E. chaffeensis (Barman 2014). Ehrlichia canis menyebabkan Canine
Monocytic Ehrlichiosis (CME), yang merupakan penyakit fatal pada anjing yang
membutuhkan diagnosis cepat dan akurat untuk memulai terapi yang tepat
(Scotarczak 2003).
Harrus (2011) menyatakan bahwa CME merupakan penyakit multisistemik
yang bermanifestasi dalam bentuk akut, subklinis, atau kronis. Penyakit akut
ditandai oleh demam tinggi, depresi, kelesuan, anoreksia, limfadenopati,
splenomegali, dan kecendrungan terjadinya hemoragik seperti petekie kulit,
ekimosis, dan epistaksis. Selama tahap akut, trombositopenia sedang sampai berat
adalah temuan hematologis yang khas. Trombositopenia pada fase akut umumnya
disertai anemia ringan dan jumlah sel darah putih yang sedikit berkurang. Selama
fase subklinis, trombositopenia ringan mungkin terjadi tanpa adanya temuan klinis
yang jelas. Pada fase kronis, gejala serupa dengan yang terlihat pada fase akut
dapat terjadi namun dengan tingkat keparahan yang lebih tinggi. Temuan umum
pada fase ini adalah selaput lendir pucat, kelemahan, perdarahan, dan penurunan
berat badan yang signifikan. Pada fase kronis, trombositopenia biasanya parah
disertai dengan anemia dan leukopenia yang jelas.

Etiologi
Ehrlichiosis disebabkan oleh bakteri Ehrlichia canis dan ditularkan oleh
gigitan caplak Ripichepalus sanguineus. Ehrlichia canis tergolong dalam
Rickettsia (α-proteobacter) memiliki sifat bakteri obligat intraseluler, berukuran
kecil (0,3-0,5 x 0,8-2,0µm), bentuk coccobacill, gram negatif, dan tidak berflagel,
serta mengalami pembelahan secara ganda dalam sel (Greene 2012). Masa
inkubasi dari Ehrlichia berlangsung selama 8-20 hari. Organisme ini berkembang
biak di makrofag pada sistem mononuklear fagosit dengan pembelahan biner dan
menyebar ke seluruh tubuh (Greene 2012).

Gejala Klinis
Gejala yang dapat ditimbulkan akibat dari infeksi Ehrlichia antara lain
demam, adanya leleran hidung dan mata, nafsu makan menurun, hewan tampak
lesu, kehilangan berat badan, serta anemia. Pada penyakit yang lebih berat
ditandai oleh demam berulang kali, leleran hidung dan mata berubah menjadi
mukopurulen, muntah, kurus, terdapat limfadenopati serta splenomegali. Selain
itu petechiae dan ecchymosae dapat terlihat pada kulit bagian perut, penis, rongga
buccal, dan konjungtiva. Apabila terjadi perdarahan lewat hidung maupun mulut
biasaya diikuti kematian yang terjadi dalam beberapa jam atau hari (Subronto
2010).

Predisposisi
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa semua jenis anjing sebenarnya
memiliki peluang untuk terkena Ehrlichia sp. Namun, pada anjing jenis German
Shepherd dan Siberian Huskies merupakan anjing yang memiliki kecenderungan
lebih mudah terkena penyakit ini. German Shepherd memiliki respon imun yang
kurang baik apabila dibandingkan dengan anjing Beagle. Penyakit ini juga dapat
muncul pada usia berapapun. Perbedaan jenis kelamin jantan dan betina tidak
memberikan dampak yang terlalu signifikan pada penyakit Ehrlichiosis (Subronto
2010).

Patogenesa
Ehrlichia canis ditularkan melalui vektor utama caplak (Rhiphichepalus
sanguineus). Vektor lain yang dapat juga menularkan E.canis yaitu Dermacentor
variabilis dan Amblyoma cajennense. Beberapa caplak seperti Amblyoma
americanum dilaporkan dapat menjadi vektor bagi spesies E.chaffeensis dan
E.ewingii. Penularan Ehrlichia dapat ditularkan melalui donor darah atau sumsum
tulang. Caplak betina dewasa akan meletakkan telurnya. Telur yang mengandung
E.canis berkembang menjadi larva dan menghisap darah hewan yang terinfeksi
E.canis. Larva akan tumbuh menjadi nimfa dan tetap mengandung E.canis dan
dapat menularkannya langsung ke hewan rentan. Dari fase nimfa caplak tumbuh
menjadi caplak dewasa dan dapat menularkan E. canis langsung pada inang
(Paddock et al. 2003).
Masa inkubasi E.canis berlangsung selama 8-20 hari. E.canis yang masuk
melalui infestasi caplak akan masuk kedalam pembuluh darah, dan bagian infektif
masuk kedalam sel mononuklear melalui proses fagositosis. Sel yang paling
sering diserang adalah monosit dan limfosit (Lakkawar 2003). Tiap monosit yang
terinfeksi dapat mengandung 1-2 morula. Organisme ini kemudian bereplikasi
dengan cara pembelahan biner, membentuk bagian-bagian yang terbungkus
disebut initial bodies. Initial bodies akan berkembang membentuk morula, bentuk
yang sering ditemukan dalam pemeriksaan ulas darah. Sel monosit akan pecah
dan melepaskan bagian-bagian E.canis dan menginfeksi sel monosit atau leukosit
baru (Nicholson 2010). Sel mononuklaer yang terinfeksi akan berikatan dengan
sel endotel pembuluh darah menyebabkan vasculitis (Lakkawar 2003). E.canis
dapat tinggal didalam sel monosit dan masuk ke peredaran darah dan sistem
limfatik dan menetap di sel fagosit limpa, liver dan limfonodul.

Terapi
Terapi utama yang dapat digunakan untuk Ehrlichiosis adalah doxycycline
yang tergolong dalam antibiotik jenis tetrasikline. Menurut Greene (2012) E.
canis tergolong dalam rickettsia sehingga dalam pengobatannya dapat
menggunakan antibiotik. Berdasarkan struktur kimia antibiotik dibagi menjadi
tujuh yaitu: golongan β-laktam, golongan aminoglikan, golongan tetrasiklin yang
memiliki sifat bakteriostatis, golongan makrolida, golongan linkomisin, golongan
kuinolon, dan golongan kloramfenikol. Mekanisme kerja dari tetrasiklin adalah
menghambat adanya sintesa protein dari bakteri tanpa mengganggu sel-sel
normalnya. Spektrum antibakterinya tergolong luas yang meliputi gram positif
(cocci) dan gram negatif (bacilli). Antibiotik ini kurang efektif pada Pseudomonas
dan Proteus, akan tetapi efektif pada beberapa protozoa (amuba) (Mardjono
2009).

PEMBAHASAN

Contoh Kasus 1
Seekor anjing Labrador berusia delapan setengah tahun mempunyai bobot
badan 19 Kg dibawa ke Klinik Hewan Pendidikan, Sekolah Tinggi Ilmu
Kedokteran Hewan, Guwahati, Assam, India. Anjing tersebut mempunyai riwayat
penyakit berupa demam, badan lemas, anemia, hemoglobinuria, bola mata yang
mengecil dengan opasitas kornea ringan dan tidak mau berjalan serta adanya rasa
sakit di persendian. Pemeriksaan fisik menunjukkan, adanya peningkatan CRT
(Capillary Refill Time) menjadi 3 detik serta membran mukosa tampak pucat.
Anjing tersebut juga mengalami dehidrasi serta ditemukan adanya pembesaran
limpa (splenomegali) dan pembesaran hati (hepatomegali). Pemeriksaan Ultra
Sonografi (USG) pada abdomen menunjukkan adanya pembulatan batas hati dan
limpa. Hal ini mengakibatkan adanya tekanan diafragma ke arah tengkorak yang
dapat memicu terjadinya dyspnoe parsial. Pemeriksaan mikroskopis ulas darah
dilakukan dengan pewarnaan Giemsa untuk mengetahui adanya parasit darah atau
tidak. Pemeriksaan rutin darah menunjukkan konsentrasi hemoglobin 5,1 g%,
RBC 3,13 m/mm3, jumlah trombosit 21 m/mm3. Pemeriksaan mikroskopis ulas
darah menunjukkan adanya Erlichia platys intrasitoplasmik dalam trombosit.
Selanjutnya, diagnosa diperkuat dari hasil pemeriksaan PCR yang menunjukkan
adanya E. platys. Dengan demikian atas dasar pemeriksaan laboratorium dan
pemeriksaan klinis, anjing tersebut didagnosa mengidap Erlichiosis. Selanjutnya
serum darah dikumpulkan untuk pemeriksaan fungsi ginjal dan tes fungsi hati.
Kadar kreatinin serum darah adalah 1,7mg / dl dan BUN adalah 210 mg/dl.
Tingkat AST dan ALT masing-masing 178u/l dan 124u/l, mengungkapkan bahwa
hati berada dalam kondisi tidak normal (Barman et al, 2014).

Tata Laksana

Anti biotik : Doxycycline 10 mg/Kg BB (19 x 10mg = 190mg) s12j PO


untuk 10 hari, setelah makan. itter
Anti parasit darah : Diminazine diaceturate 7mg/KgBB (19 x 7mg = 133mg)
s48j IM untuk 4 hari.
Suporting Teraphy : Vitamin B Complex 2 mg/Kg BB (19 x 2mg = 38mg) s12j
PO selama 10 hari.
Fluid Therapy : Dextrose 35 %
Pereda nyeri sendi : Glucosamien Hydrochloride (500 mg) 1 tab/dog s24j PO
untuk 10 hari. Itter
Pembuatan Resep

KLINIK HEWAN
Drh Anton
Alamat: Jl Dramaga No.31 Bogor. Tlp. 08123456789
Jam Praktek: Senin-Jumat (08.00-11.00 WIB)
SIP.012/SIP/BG/2018
Bogor, 17 Juli 2018
R/ Doxycycline tab 190 mg Itter 2x
m.f.pulv. da. in. caps. dtd. no. XX
s.b.d.d 1 caps p.c
R/ Diminazine diaceturate inj 140 mg no. 1 tube
s.pro.inj
R/ Vitamin B Complex tab 38 mg
m.f.pulv. da. in. caps. dtd. no. XX
s.b.d.d 1 caps. p.c.
R/ Dextrose 35% inf 500 ml no I flc
s.pro.inf.
R/ Glucosamien Hydrochloride tab 500mg no. 10 tab
s.1.d.d 1 tab

Jenis : Anjing Berat : 19 Kg


Breed : Labrador
Nama : Choky
Nama Pemilik : Anton
Alamat : Jl. Padjajaran, Kota Bogor

Contoh kasus 2
Seekor anjing Doberman Pinscher berusia 7 tahun dengan bobot badan 20
Kg di bawa ke klinik hewan dengan keluhan badan lemas, nafsu makan menurun,
feses lembek. Gejala klinis yang ditemukan adalah hyperemi konjungtiva, edema
kornea, hypema yang disebabkan oleh hipotrombositemia, katarak, menurunnya
tekanan intraocular mata. Melalui pemeriksaan menggunakan lampu illuminator,
terdapat inflamasi pada iris, serta terdapat flare pada anterior chamber.
Berdasarkan hasil pemeriksaan mikroskopis ulas darah ditemukan adanya Erlichia
canis intrasitoplasmik. Hasil pemeriksaan rutin darah anjing tersebut mengalami
anemia dan hipohemoglobinemia. Selain itu CRT (Capillary Refill Time) berada
diatas 3 detik disertai kepucatan pada membrane mukosa. Berdasarkan gejala
klinis yang ditimbulkan disertai hasil pemeriksaan klinis dan laboratorium anjing
tersebut didiagnosa mengidap penyakit uveitis (Oria et al, 2004).

Tata Laksana
Anti biotik : Doxycycline 5 mg/Kg (20 x 5 mg = 100 mg) s12j PO
untuk 21 hari (Itter 3x).
Anti inflamasi : Prednisone 1 mg/Kg (20 x 1 mg = 20 mg) s24j PO
untuk 10 hari.
Premedikasi : Atropin sulfat 1%
Anti intraocular pressure : Timolol maleat 0,5 % s12j gutt opth
Propanolol 0,3 mg/Kg (20 x 0,3 mg = 6 mg) s12j PO
untuk 5 hari.
Acetazolamide 7 mg/Kg (20 x 7 mg= 140 mg) s12j PO
untuk 5 hari.

Pembuatan Resep

KLINIK HEWAN
Drh Anton
Alamat: Jl Dramaga No.31 Bogor. Tlp. 08123456789
Jam Praktek: Senin-Jumat (08.00-11.00 WIB)
SIP.012/SIP/BG/2018
Bogor, 17 Juli 2018
R/ Doxycycline tab 100 mg Itter 3x
m.f.pulv. da. in. caps. dtd. no. XIV
s.b.d.d 1 caps p.c.
R/ prednisone tab 20 mg
m.f.pulv.da.in.caps.d.t.d. no.X
S.1.d.d.1.caps.p.c.
R/ Atropin sulfate 1% gutt opth No.I. fls
s.1.d.d gutt.o.d.s.
R/ Timolol maleat 0,5% 15ml gutt opth no 1 fls
s.1.d.d gutt.o.d.s.
R/ Propanolol tab 6ml
Acetazolamide tab 140mg
m.f.pulv.da.in.caps.d.t.d.No.X
s.b.d.d.1.caps.pc

Jenis : Anjing Berat : 20 Kg


Breed : Doberman Pinscher
Nama : Choky
Nama Pemilik : Anton
Alamat : Jl. Raya Dramaga, Babakan Raya, Kabupaten Bogor

DISKUSI

Gejala klinis yang paling sering detemukan pada kasus erlichiosis adalah
demam, kelesuan, anoreksia, limfadenopati, splenomegaly, trombositopenia
disertai anemia dan leukemia. Pada kasus satu menunjukkan adanya gejala klinis
demam, badan lemas, anemia, hemoglobinuria serta adanya rasa sakit di
persendian. Ini merupakan kondisi yang wajar pada kasus erlichiosis. Mekanisme
imunologi dapat terlibat dalam patogenesis kronis penyakit melalui produksi
antibodi yang kemudian mengikat sel membran eritrosi dan trombosit. Pengikatan
ini dapat menyebabkan destruksi sel-sel yang yang mengakibatkan terjadinya
hemoglobinuria, anemia dan trombositiopenia (Taylo et al. 2007) Kemungkinan
anemia juga dapat terjadi dikarenakan adanya penghancuran sel darah merah yang
disertai kecenderungan pendarahan yang disebabkan oleh trombositopenia serta
adanya penekanan fungsi sum sum tulang (Ettinger dan Fieldman, 2010).
Doxycycline merupakan antibiotik spektrum luas yang termsuk ke dalam
golongan tetracycline. Doxycycline sering digunakan untuk mengobati penyakit
tick-borne desease seperti Rocky mountain spotter fever dan erlichiosis, serta
penyakit water-borne desease seperti leptospirosis pada aning dan kucing.
Diminazine diaceturate termasuk kelompok diamidin aromatik yang aktif terhadap
parasit darah seperti Trypanosoma, Babesia dan Thelleria. Penggunaan
Diminazine diperlukan untuk mengurangi parasit darah yang dapat menyebabkan
anemia. Glucosamien Hydrochloride diberikan untuk mengurangi rasa nyeri pada
sendi akibat adanya polyarthritis. Dektrose 35% juga diberikan sebagai fluid
therphy terhadap dehidrasi yang dialamai oleh anjing tersebut. Dehidrasi dapat
terjadi sebagai manifestasi terjadinya anemia yang disebabkan oleh erlichia dan
parasit darah. Pemberian Vitamin B kompleks digunakan sebagai penambah nafsu
makan, pemilihan jenis obat ini dikarenakan harga yang lebih murah
dibandingkan dengan curcuma plus. Pemilik anjing dapat disarankan untuk
melakukan pengendalian terhadap penyakit erlichiosis dengan cara
mengendalikan populasi kutu Rhipicephalus sanguineus yaitu dengan rutin
memandikan anjingnya minimal sekali seminggu menggunakan shampo anti kutu
seperti amitraz, fipronil dan pytetherin yang efektif dan dapat digunakan sesuai
instruksi dari produsen.

Pada kasus kedua terdapat sedikit perbedaan gejala klinis yang ditemukan.
Dalam kasus erlichiosis yang menyerang seekor anjing Doberman pinscher.
Ditemukan adanya hyperemi konjungtiva, edema kornea dan hypema. Dilakukan
pemeriksaan menggunakan lampu illuminator ditemukan adanya inflamasi pada
iris yang disertai flare pada anterior chamber. Hasil pemeriksaan ulas darah juga
menunjukkan adanya Erlichia canis intrasel pada sel darah merah (RBC).
Berdasarkan gejala klinis yang ditimbulkan dan diperkuat hasil uji lab maka aning
tersebut didiagnosa mengalami uveitis pada anterior mata yang disebabkan oleh
E. canis. Patofisiologi dari uveitis itu sendiri adalah adanya penghancuran
jaringan uveal oleh agen infeksius atau adanya reaksi hipersensitivitas IV, dimana
akan terjadinya reaksi imunitas yang disebabkan adanya agen infeksius (Fischer
dan Evans, 2002). Penyebab uveitis selain oleh riketsia sudah banyak dikenal
mulai dari infeksi bakteri, jamur, parasit darah, protozoa dan virus (Powell, 2002).
Dalam kasus uveitis akut, antigen masuk melalui peredaran darah dan pembuluh
limfa kemudian tinggal di dalam inti sel dari limpa, hati dan limfonodus yang
menyebabkan terjadinya replikasi sel pada organ-organ tersebut (Harrus et al.
1997). Hyperemi konjungtiva, edema kornea dan hypema disebabkan oleh
hipotrombositopenia yang diinduksi oleh infeksi E.canis. Terapi yang paling tepat
dalam menangani kasus ini yaitu memilih obat yang tepat terhadap E.canis.

Doxyxycline dipilih dikarenakan antibiotik ini mempunyai kemampuan


dalam mengatasi penyakit tick-borne disease dan water borne desease seperti
erlichiosis, rocky mountain spotty fever dan leptospirosis. Keunggulan lainnya
dari doxycycline adalah antibiotik ini mempunyai spektrum luas sehingga baik
digunakan untuk mengatasi infeksi dari berbagai jenis bakteri. Prednisone dipilih
sebagai antiinflamsi karena efek nya yang sistemik dan lokal, sehingga lebih
efektif dalam mengobati penyakit uveitis. Kombinasi antara corticosteroid dan
NSAID dapat digunakan untuk mendapatkan hasil yang lebih maksimal.
Penggunaan NSAID dianjurkan apabila dalam kasus penyakit ini ditemukan
adanya koagulopati dan hemoragi intraokular. Penggunaan atropine sulfate 1%
sangat direkomendasikan terutama dalam kasus anterior uveitis, atropine sulfate
1% dapat mencegah adanya synechia serta dapat menekan spasmus cilliary yang
dapat menimbulkan rasa nyeri pada mata. Kombinasi antara β-adrenergic blocking
dengan carbonic anhydrase inhibitor dapat digunakan untuk mereduksi produksi
aquos humor sehingga dapat menurunkan tekanan intraocular.

SIMPULAN

Penyebab utama dari kasus Erlichiosis adalah adanya infestasi E. canis yang
ditularkan melalui kutu. Oleh sebab itu perlu dilaukan pemberian obat yang tepat
yang mempunyai spektrum luas serta perlu adanya perawatan terhadap kutu untuk
mencegah terjadinya erlichiosis pada anjing.
DAFTAR PUSTAKA

Barman D, Baishya BC, Sarma D, Phukan A, Dutta TC. 2014. A case report of
canine ehrlichia infection in a labrador dog and its therapeutic management.
Bangl J Vet Med 12 (2): 237–239.
Ettinger SJ, Fieldman EC. 2010. Text book of Veterinary Internal Medicine. Edisi
ke tujuh. Volume 1, saunders Elsevier.
Fischer CA, Evans T. 2002. Uveitis : ocular manifestations of systemic disease in
dog. 184-191.
Greene CE. 2012. Infection Disease of the Dog and Cat, ed 4th. Elsevier.
University of Georgia. Athena: Georgia.
Harrus S, Waner T. 2011. Diagnosis of canine monocytotropic ehrlichiosis
(Ehrlichia canis): An overview. The Vet Journal 187: 292–296.
Harrus S, Bark HT. 1997. Canine monocytic ehrlichiosis an update. Compendium
on continuing education for the practicing veterinarian, Vol 5. 9-16
Lakkawar AW. 2003. Pathologyof Canine Monocytic Ehrlichiosis In A German
Shepherd Dog. Slov Vet Res; 40 (2): 119-128.
Lord CC. 2014. Brown Dog Tick, Rhipicephalus sanguineus Latreille (Arachnida:
Acari: Ixodidae). Florida Medical Entomotolgy Laboratory. Universitas of
florida. 1-4.
Mardjono M. 2009. Farmakologi dan Terapi. Edisi Kelima. Jakarta: Balai
Penerbit FK UI. Hal 788.
Nicholson WL. 2010. The Increasing Recognition of Rickettsial Pathogens In
Dogs and People. Trends Parasitol. 205-12.
Oria A, Pereira P, Laus J. 2004. Uveitis in dog infected with Erlichia canis. Jul-
ago. 1289-1295.
Paddock CD, JW Sumner, GM Shore, DC Bartley, RC Elie, JG McQuade, CR
Martin, CS Goldsmith, and JE Childs. 2003. Isolation And Characterization
Of Ehrlichia Chaffeensis Strains From Patients With Fatal
Ehrlichiosis. Journal Clin. Microbiol. 35:2496–2502.
Powell CC. 2002. Uveitis in General. Philadelphia. 177-183
Scotarczak B. 2003. Canine ehrlichiosis. Ann Agric Environ Med 10:137–141.
Subronto. 2010. Penyakit Infeksi Parasit dan Mikroba pada Anjing dan Kucing.
Gajah Mada University Press: Yogyakarta. ISBN 979-420-611-3.
Taylo MA, Coop RL, Wall RL. 2007. In Veterinary Parasitology third edition.
Blackwell Publishing. 420-424.