Anda di halaman 1dari 8

F3

PENYULUHAN MENGENAI ANEMIA PADA KEHAMILAN


LATAR BELAKANG

Anemia pada kehamilan didefinisikan sebagai konsentrasi hemoglobin <11 g/l, anemia
mempengaruhi lebih dari 56 juta wanita di seluruh dunia, dua pertiga dari mereka berasal dari
ASIA. Anemia memberikan kontribusi untuk morbiditas dan mortalitas ibu dan bayi berat badan
lahir rendah (BBLR), abortus, perdarahan . hasil RISKESDAS, prevalensi anemia pada ibu hamil
yaitu 37%. Kondisi ini menunjukan bahwa anemia cukup tinggi di Indonesia dan menunjukan
angka mendekati maslaah kesehatan masyarakat berat dengan batas prevalensi lebih dari 40%.

PERMASALAHAN

Permasalahan yang ditemukan di masyarkat yaitu masih kurangnya tingkat pengetahuan


masyarakat mengenai manfaat dan pentingnya deteksi dini anemia pada kehamilan. Pemberian
penyuluhan ini perllua dilakukan secara rutin dan berkala agar menjadi edukasi yang baik bagi
masyarkat khususnya wanita usia subur dan terutama wanita hamil.

PERENCANAAN INTERVENSI

Penyampaian informasi kepada sasaran yang tepat dan dengan metode yang baik dapat
meningkatkan pengetahuan dan pemahaman masyarakat secara umum. Penyuluhan pada
masyarkat luas merupakan salah satu metode yang paling sering digunakan. Penyuluhan kali ini
sasarannya adalah seluruh ibu hamil yang berada di wilayah Posyandu Mawar Desa Tapos 2.
Media yang digunakan berupa poster berisi informasi mengenai anemia pada kehamilan.

PELAKSANAAN

Penyuluhan mengenai anemia pada kehamilan telah dilaksanakan pada tangal 12 Maret 2019 di
Posyandu Mawar Desa Tapos 2, pukul 09.00

MONITORING DAN EVALUASI


Penyuluhan berjalan lancer dan peserta tampak antusias, terbukti dengan adanya pertanyaan-
pertanyaan dari peserta yang berhubungan dengan materi. Kekurangannya yaitu, tempat
dilaksanakannya penyuluhan tidak cukup luas sehingga perlu dilakukan dua kali penyuluhan
dengan peserta berbeda.
F4

PENYULUHAN MENGENAI ASI EKSKLUSIF

LATAR BELAKANG

Tahun 2012 telah diterbitkan Peraturan Pemerintah tentang Pemberian ASI Eksklusif
(PP Nomor 33 Tahun 2012). Dalam PP tersebut diatur tugas dan tanggung jawab
pemerintah dan pemerintah daerah dalam pengembangan program ASI, diantaranya
menetapkan kebijakan nasional dan daerah, melaksanakan advokasi dan sosialisasi serta
melakukan pengawasan terkait program pemberian ASI Eksklusif. Menindaklanjuti PP
tersebut, telah diterbitkan Permenkes Nomor 15 Tahun 2013 tanggal 18 Februari 2013
tentang Tata Cara Penyediaan Fasilitas Khusus Menyusui dan/atau Memerah ASI dan
Permenkes Nomor 39 Tahun 2013 tanggal 17 Mei 2013 tentang Susu Formula Bayi dan
Produk lainnya. 4.314 orang konselor menyusi dan 415 orang fasilitator pelatihan
konseling menyusui telah dilatih sampai tahun 2013, dalam rangka mendukung
keberhasilan program menyusui. (Infodatin, 2014)

PERMASALAHAN

Berdasarkan Laporan Gizi Puskesmas Tenjolaya 2018, cakupan pemberian ASI Eksklusif di
wilayah Pusksesmas Tenjolaya tahun 2018 adalah sebesar 73,93 %. Cakupan tersebut masih sangat
rendah bila dibandingkan dengan target nasional pencapaian ASI eksklusif tahun 2010, yaitu
sebesar 80%.

PERENCANAAN INTERVENSI

Penyampaian informasi kepada sasaran yang tepat dan dengan metode yang baik dapat
meningkatkan pengetahuan dan pemahaman masyarakat secara umum. Penyuluhan pada
masyarkat luas merupakan salah satu metode yang paling sering digunakan. Penyuluhan kali ini
sasarannya adalah seluruh ibu hamil yang berada di wilayah Posyandu Mawar Desa Tapos 2.
Media yang digunakan berupa poster berisi informasi mengenai anemia pada kehamilan.

PELAKSANAAN

Penyuluhan mengenai anemia pada kehamilan telah dilaksanakan pada tangal 12 Maret 2019 di
Posyandu Mawar Desa Tapos 2, pukul 09.00

MONITORING DAN EVALUASI

Penyuluhan berjalan lancer dan peserta tampak antusias, terbukti dengan adanya pertanyaan-
pertanyaan dari peserta yang berhubungan dengan materi. Kekurangannya yaitu, tempat
dilaksanakannya penyuluhan tidak cukup luas sehingga perlu dilakukan dua kali penyuluhan
dengan peserta berbeda.
F5

PEMBERIAN OBAT CACING PADA USIA DINI DAN PESERTA DIDIK DI SD/MI
(ANAK USIA SEKOLAH)
LATAR BELAKANG

Kecacingan merupakan penyakit endemik dan kronik yang diakibatkan oleh cacing parasit dengan
prevalensi tinggi, tidak mematikan, tetapi menggerogoti kesehatan tubuh manusia sehingga berakibat
menurunnya kondisi gizi dan kesehatan masyarakat. Kecacingan sebagai salah satu penyebab anemia gizi
merupakan masalah sangat penting karena dampak yang ditimbulkan mempengaruhi tingkat kecerdasan
dan produktivitas. Meskipun jarang men yebabkan kematian secara langsung, namun kecacingan yang
berat dan menahun terbukti sangat mempengaruhi pel-tumbuhan dan perkembangan fisik dan mental
anak-anak. Kecacingan pada anak-anak akan berdampak pada gangguan kemampuan belajar, dan pada
orang dewasa akan menurunkan produktivitas kerja.

PERMASALAHAN

Pada dasarnya konsep kesehatan akan mengikuti perilaku dan lingkungan, dimana saat ini sebagian besar
penyakit ditentukan perilaku individu, namun faktor lingkungan juga masih menjadi penyebab masalah
kesehatan masyarakat. Salah satu penyakit JIKK Vol. 7 No.1 Januari 2016 : 24-29 25 yang disebabkan
karena perilaku dan lingkungan yang kurang mendukung kesehatan adalah kecacingan, terutama pada
anak sekolah (Anugrah, 2008). Infeksi kecacingan merupakan salah satu penyakit yang masih banyak
terjadi di masyarakat namun kurang mendapatkan perhatian (neglecteddiseases). Penyakit yang termasuk
dalam kelompok neglected diseases memang tidak menyebabkan wabah yang muncul dengan tiba-tiba
ataupun menyebabkan banyak korban, tetapi merupakan penyakit yang secara perlahan mempengaruhi
kesehatan manusia, menimbulkan gejala yang mengganggu aktivitas, menyebabkan gangguan
pertumbuhan. Pada tahap lanjut, adanya parasit didalam tubuh dapat menyebabkan penurunan prestasi
anak akibat kecacingan dan dapat memperparah kondisi kesehatan mereka (Gandahusada, 2004).

PERENCANAAN INTERVENSI

Obat cacing diberikan oleh petugas puskesmas bersama dengan dokter internsip, sebelumnya
akan dilakukan penyuluhan mengenai penyakit yang diakibatkan cacing. Hal yang akan
disampaikan yaitu cara penularannya, gejala yang timbul serta penanganan dan pencegahan
yang bisa dilakukan. Anak diminta untuk membawa bekal minum serta harus makan pagi
terlebih dahulu sebelum minum obat.

PELAKSANAAN

Kegiatan dilaksanakan di SDN Tenjolaya pada tanggal 9 April 2019. Siswa SD kelas 1-6 diminta
untuk berbaris di lapangan upacara, dokter internsip memberikan penyuluhan singkat, petugas
puskesmas dibantu oleh guru membagikan obat cacing dan kemudian setelah semua
mendapatkan jatahnya, obat diminum bersama-sama.

MONITORING DAN EVALUASI

Pemberian obat cacing dilaksanakan setiap 6 bulan sekali.


F6

PENANGANAN PASIEN DENGAN TUBERKULOSIS PARU


LATAR BELAKANG

Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit infeksi menular yang telah lama menjadi
permasalahan kesehatan di dunia. Tuberkulosis adalah salah satu dari 10 penyebab kematian di
dunia. Pada tahun 2017, 10 juta orang mengidap tuberkulosis dan 1,6 juta orang meninggal, 0,3
juta diantaranya juga mengidap HIV. Pada tahun 2017, 1 juta anak di estimasi mengidap
tuberkulosis dan 230000 anak meninggal karena tuberkulosis, termasuk anak dengan HIV dan TB.
Tuberkulosis merupakan pembunuh utama pasien dengan HIV-positif. Pasien dengan Multidrug-
Resistant TB (MDR-TB) telah menjadi krisis kesehatan umum. Estimasi WHO, terdapat 558000
kasus baru dengan resisten rifampisin, yang merupakan lini pertama pengobatan tuberkulosis. 82%
pasien merupakan MDR-TB. Secara global insiden tuberkulosis menurun sekitar 2%. Di estimasi
sekitar 54 juta orang sembuh karena diagnosis dini dan pengobatan yang baik antara tahun 200
hingga 2017. Menurunkan angka epidemiologi tuberkulosis adalah target kesehatan global tahun
2030.
Berbagai upaya telah dilakukan untuk menangani kasus TB yang terjadi di dunia, dan tidak
sedikit biaya yang telah dikeluarkan. Persebaran kasus TB di dunia memang tidak merata dan
justru 86% dari total kasus TB global ditanggung oleh negara berkembang. Sekitar 55% dari
seluruh kasus global tersebut terdapat pada negara-negara di benua Asia, 31% di benua Afrika,
dan sisanya yang dalam proporsi kecil tersebar di berbagai negara di benua lainnya. Secara global
pada tahun 2016 terdapat 10,4 juta kasus insiden TBC (CI 8,8 juta – 12, juta) yang setara dengan
120 kasus per 100.000 penduduk. Lima negara dengan insiden kasus tertinggi yaitu India,
Indonesia, China, Philipina, dan Pakistan.

PERMASALAHAN

Untuk wilayah kerja dari Puskesmas Tenjolaya sepanjang tahun 2018 adalah 79 kasus. Kasus-
kasus TB ini didapatkan dari pemeriksaan skrining dahak beberapa pasien yang datang berobat
di puskesmas Tenjolaya dan dicurigai sebagai pengidap TB paru. Dimana data insidens ini
merupakan keseluruhan jumlah kasus TB baru yang ditemukan mulai dari awal bulan Januari
sampai akhir bulan Desember 2018. Menurut Leavell (1953), terdapat lima tahapan dalam
pencegahan penyakit menular, yaitu promosi kesehatan, proteksi khusus, diagnosis dini dan
pengobatan yang cepat, pembatasan disabilitas, dan rehabilitasi. Selama ini, upaya yang
ditempuh dalam hal pengobatan penderita TB di Indonesia adalah dengan pemberian obat anti-
tuberkulosis (OAT) lini-1. Jumlah kasus baru TB di Indonesia sebanyak 420.994 kasus pada tahun
2017 (data per 17 Mei 2018). Berdasarkan jenis kelamin, jumlah kasus baru TBC tahun 2017 pada
laki-laki 1,4 kali lebih besar dibandingkan pada perempuan. Sedangkan angka case detection rate
Indonesia 42,4 pada tahun 2018

PERENCANAAN INTERVENSI

Penyakit Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang dapat menular dan menjadi masalah
kesehatan. Intervensi medikamentosa diperlukan bagi pasien. Intervensi tersebut merupakan
tatalaksana kuratif.

PELAKSANAAN

Setelah dilakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik, dilakukan pula pemeriksaan dahak BTA dan
foto rontgen thorax. Dari hasil BTA, apabila didapatkan positif TB, dilanjutkan dengan
pengobatan kategori 1 kombinasi dosis tetap fase intensif selama 2 bulan, sesuai berat badan
pasien.

MONITORING DAN EVALUASI

Untuk keperluan monitoring dan evaluasi, pasien diminta kembali sebelum satu minggu
kemudian untuk mengambil obat untuk minggu berikutnya. Hal ini diperlukan untuk memastikan
bahwa pasien benar-benar minum obatnya.