Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Kimia merupakan salah satu dari pelajaran ilmu pengetahuan alam (IPA)

dimana pada proses pembelajaran sains cenderung menekankan pada pemberian

pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi dan menumbuhkan

kemampuan berpikir dan keterampilan proses. Sejak diberlakukannya kurikulum

2013, mata pelajaran kimia dikelompokkan kedalam kelompok C1 atau kelompok

mata pelajaran dasar produktif. Artinya, kimia dipelajari oleh seluruh peserta

didik dari berbagai kompetensi keahlian. Untuk tingkat X, materi kimia yang

diberikan bersifat umum karena peserta didik baru akan melakukan penjurusan di

kelas XI. Hal ini menyebabkan materi di kelas X menjadi sangat luas tidak

spesifik seperti kelas XI dimana materi ajar disesuaikan dengan jurusan yang telah

peserta didik ambil.

Hasil pembelajaran yang diharapkan mencakup tiga ranah yang

dikemukakan oleh Bloom atau kita kenal dengan istilah taksonomi Bloom yaitu

kognitif, psikomotorik dan afektif. Penekanan kompetensi yang harus dimiliki

oleh peserta didik SMK terletak pada hard skill (psikomotorik) mereka. Mereka

disiapkan untuk “siap” mengikuti prosedur kerja yang telah ditentukan pada suatu

perusahaan sehingga kompetensi kognitif mereka sedikit terabaikan. Lemahnya

penguasaan konsep secara kognitif ini, menarik perhatian penulis mencoba

1
2

menggunakan suatu metode yang meningkatkan penguasaan konsep dan soft skill

mereka. Pada saat proses pembelajaran kimia berlangsung, penulis mendapatkan

kondisi bahwa peserta didik kurang aktif dan terkesan pasif dalam belajarnya

sehingga materi reaksi reduksi-oksidasi yang diberikan pada peserta didik tidak

dapat menguasai konsep redoks dengan benar.

Banyaknya peserta didik dalam satu kelas, yaitu 32 peserta didik yang

harus ditangani oleh satu guru mengakibatkan kurang optimalnya guru dalam

membimbing atau membantu secara individu kepada peserta didik. Hal ini

berakibat pada penguasaan peserta didik terhadap penguasaan konsep redoks

tergolong kurang. Didalam kelas, selain sebagai seorang yang bertugas

mentrasnfer ilmu, guru harus mampu berperan sebagai pembimbing peserta didik

agar mereka dapat menemukan dan mengembangkan berbagai potensi yang

dimiliki, hal ini sejalan dengan pendapat Wina Sanjaya (2009:27) yang

menyatakan bahwa “salah satu peran guru dalam proses pembelajaran adalah guru

sebagai pembimbing”. Proses bimbingan ini akan optimal jika perbandingan guru

dan peserta didik lebih sedikit. Semakin sedikit peserta didik yang dibimbing,

makin baik proses bimbingan dilakukan.

Proses pembelajaran yang berlangsung pada materi redoks ini, guru

menggunakan metode ceramah dengan berbantuan media berupa materi yang

disajikan dalam bentuk power point (ppt). Hasil belajar peserta didik tidak sesuai

harapan, kejadian ini dialami oleh peserta didik kelas X TPU 12 dimana sebanyak
3

lebih dari 50% berada dibawah kriteria ketuntasan belajar (KKM). Sebaran hasil

belajar peserta didik dapat dilihat dalam tabel 1.1.

Tabel 1.1. Prosentase Hasil Belajar Kelas X TPU 12 SMKN 12 Bandung

pada pokok bahasan Redoks

Jumlah Peserta Prosentase


Nilai Kategori
Didik (%)

x >85 A (Lulus amat baik) 1 3,125

75<x<84,9 B (Lulus baik) 5 15,625

67<x<74,9 C ( Lulus cukup) 7 21,875

x<66,9 D ( Belum lulus ) 19 59,38

Jumlah 32 100

Data tersebut menunjukkan bahwa hasil belajar peserta didik untuk standar

kompetensi memahami reaksi reduksi oksidasi masih kurang, karena masih

banyak peserta didik yang memiliki nilai dibawah Kriteria Ketuntasan Minimal

(KKM) yang telah ditetapkan yaitu 68 (lampiran 1). Keadaan seperti ini tidak

bisa dibiarkan karena peserta didik dengan nilai masih dibawah KKM wajib

melakukan perbaikan sampai mendapatkan nilai KKM. Namun, proses perbaikan

atau remedial akan terhambat jika peserta didik tidak menguasai konsep karena

dapat dipastikan mereka akan mengalami kegagalan berulang kecuali jika mereka

mendapatkan remedial teaching (pengajaran ulang) dengan metode yang lebih

tepat bagi mereka. Permasalahan yang diduga menyebabkan hasil belajar peserta
4

didik masih banyak dibawah KKM diantaranya karena tidak berimbangnya

jumlah guru dan murid di dalam kelas, sikap peserta didik pasif dalam

pembelajaran yang ditunjukkan dengan kurangnya respon terhadap pertanyaan

atau pernyataan guru. Dengan demikian perlu sebuah pemecahan untuk mengatasi

masalah tersebut.

Karakteristik dari pembelajaran rumpun sains itu sendiri adalah metode

ilmiah, bagaimana metode ini kemudian dijabarkan menjadi beberapa pendekatan

yang dapat di improvisasi untuk peningkatan hasil belajar peserta didik.

Terbiasanya peserta didik berinteraksi dengan benda kerja di bengkel membuat

mereka sulit untuk mengungkapkan pendapat saat pembelajaran berlangsung.

Sedangkan, untuk belajar aktif dalam pembelajaran harus menyenangkan dan

mampu membuat mereka aktif bergerak bahkan membuat peserta didik untuk

bergerak leluasa dan berpikir keras (moving and thinking aloud). Ketika mereka

dituntut menjadi aktif, peserta didik harus mengunakan nalar untuk mengkaji,

memecahkan masalah dan menerapkan apa yang mereka pelajari.

Berdasarkan pada paparan diatas, setelah mengkaji beberapa metode yang

dapat digabungkan dengan pendekatan sainstifik pada pembelajaran kimia

terutama untuk pokok bahasan redoks yaitu metode pembelajaran metode

kooperatif tipe thinking aloud pair problem solving (TAPPS). Pembelajaran

kooperatif tipe TAPPS ini dipilih karena melibatkan peserta didik untuk bekerja

dalam kelompok dengan diberikan stimulus berupa permasalahan yang harus

didiskudikan bersama. Kerjasama dalam memecahkan permasalahan yang ada


5

diharapkan dapat memunculkan sikap aktif dan kemampuan bernalar untuk

mempermudah peserta didik menguasai suatu konsep yang abstrak dan kompleks.

Sebagian besar peserta didik saat mempelajari konsep pada materi reaksi reduksi-

oksidasi (redoks) mengalami kesulitan karena materi ini bersifat abstak dan

kompleks. Hal ini yang mendorong guru untuk melakukan perbaikan

pembelajaran dengan cara memvariasikan metode pembelajaran.

Berdasarkan pemikiran diatas, maka penulis mengambil judul :

“MENINGKATAN HASIL BELAJAR KIMIA PADA MATERI REAKSI

REDUKSI OKSIDASI (REDOKS) MELALUI METODE

PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINKING ALOUD PAIR

PROBLEM SOLVING (TAPPS) PADA PESERTA DIDIK KELAS X TPU 12

SMK NEGERI 12 BANDUNG”

B. Identifikasi Masalah

Materi kimia bersifat spiral. Satu materi dengan materi lain dalam silabus

memiliki tingkat ketergantungan yang sangat tinggi dan saling berkaitan. Materi

redoks merupakan materi dasar yang dipelajari peserta didik di kelas X. Materi ini

kemudian akan mempengaruhi penguasaan konsep peserta didik pada pokok

bahasan selanjutnya. Redoks merupakan materi prasyarat untuk pokok bahasan sel

elektrokimia yang mencakup sel volta dan sel elektrolisis, serta pokok bahasan

korosi. Jika peserta didik mengalami kesulitan dalam penguasaan konsep redoks

dapat diprediksi bahwa saat mereka mempelajari pokok bahasan sel volta, sel
6

elektrokimia dan korosi akan menimbulkan permasalahan baru. Maka,

pengembangan metode pembelajaran pada pokok bahasan redoks sangat

diperlukan.

Dengan mendaftarkan permasalahan-permasalahan yang peserta didik alami

saat melakukan pembelajaran, diharapkan dapat memberikan solusi terhadap

permasalahan itu dan membantu peserta didik dalam penguasaan konsep redoks.

Stimulus keaktifan peserta didik dalam merespon permasalahan dapat diberikan

dengan cara menyajikan masalah yang berikatan dengan redoks dari keseharian

mereka.

C. Rumusan Masalah dan Pembatasan Masalah

Adapun perumusan masalah pada penelitian ini sebagai berikut :

1. Bagaimana peningkatan hasil belajar peserta didik menggunakan metode

pembelajaran kooperatif tipe thinking aloud pair problem solving

(TAPPS)?

2. Bagaimana keaktifan peserta didik pada pembelajaran kimia menggunakan

metode pembelajaran kooperatif tipe TAPPS?

Pembatasan masalah

1. Peningkatan hasil belajar yang dimaksudkan pada penelitian ini adalah

penguasaan konsep pada pokok bahasan redoks berupa nilai yang didapat

dari ujian formatif.


7

2. Keaktifan peserta didik yang diamati pada penelitian ini adalah

kemampuan berkomunikasi dan merespon pertanyaan ataupun pernyataan

teman satu kelompok.

3. Pokok bahasan reaksi reduksi oksidasi (redoks) dibatasi pada perbedaan

reaksi reduksi dan oksidasi, penentuan bilangan oksidasi, penentuan spesi

yang berperan sebagai reduktor ataupun oksidator dan mengelompokkan

reaksi kedalam reaksi reduksi oksidasi (redoks), auto redoks dan non

redoks.

D. Tujuan Penelitian

Berdasarkan pada rumusan masalah diatas, tujuan penelitian ini sebagai

berikut :

1. Mengetahui sejauh mana penerapan metode pembelajaran kooperatif tipe

TAPPS dapat meningkatkan penguasaan konsep peserta didik pada pokok

bahasan redoks sehingga memperoleh hasil belajar yang baik.

2. Mengetahui keaktifan peserta didik pada pembelajaran kimia

menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe TAPPS.


8

E. Manfaat Penelitian

Dengan penelitian tindakan kelas ini diharapkan terjadi perbaikan dan

peningkatan proses hasil pembelajaran yang dapat dirasakan oleh :

1. Guru

Menentukan metode pembelajaran yang tepat pada proses remidial

sehingga peningkatan hasil belajar dapat lebih baik.

2. Peserta Didik

Memahami konsep materi dengan lebih efektif dan mampu mengejar

ketinggalan dari rekan sejawatnya.

3. Sekolah

Melakukan proses belajar dan pembelajarn secara utuh sehingga dapat

meningkatkan mutu pendidikan sekolah.