Anda di halaman 1dari 34

ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS PADA KELOMPOK KERJA

UNTUK MEMENUHI SALAH SATU TUGAS KEPERAWATAN


KOMUNITAS

OLEH :

RULI RIZAL PERMANA.M

NUCY SEPTRIANTIKA

MUNTASILAH

WIWIK SUDARWATI

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

JL.GEDONG SONGO CANDIREJO UNGARAN

TAHUN AJARAN 2015/2016


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pengertian sehat dapat digambarkan sebagai suatu kondisi fisik, mental
dan sosial seseorang yang tidak saja bebas dari penyakit atau gangguan
kesehatan melainkan juga menunjukan kemampuan untuk berinteraksi dengan
lingkungan dan pekerjaannya (perry, potter. 2005: 5).
Paradigma baru dalam aspek kesehatan mengupayakan agar yang sehat
tetap sehat dan bukan sekedar mengobati, merawat atau menyembuhkan
gangguan kesehatan atau penyakit. Oleh karena iu, perhatian utama dibidang
kesehatan lebih ditujukan ke arah pencegahan terhadap kemungkinan
timbulnya penyakit serta pemeliharaan kesehatan seoptimal mungkin.
Status kesehatan seseorang, menurut blum (1981) ditentukan oleh empat
faktor yakni :
1. Lingkungan, berupa lingkungan fisik (alami, buatan), kimia (organik/
anorganik, logam berat, debu), biologik (virus,
bakteri, microorganisme) dan sosial budaya (ekonomi, pendidikan,
pekerjaan).
2. Perilaku yang meliputi sikap, kebiasaan, tingkah laku.
3. Pelayanan kesehatan: promotif, perawatan, pengobatan, pencegahan
kecacatan, rehabilitasi.
4. Genetik, yang merupakan faktor bawaan setiap manusia.

Pekerjaan mungkin berdampak negatif bagi kesehatan akan tetapi


sebaliknya pekerjaan dapat pula memperbaiki tingkat kesehatan dan
kesejahteraan pekerja bila dikelola dengan baik. Demikian pula status
kesehatan pekerja sangat mempengaruhi produktivitas kerjanya. Pekerja yang
sehat memungkinkan tercapainya hasil kerja yang lebih baik bila dibandingkan
dengan pekerja yang terganggu kesehatannya.
Upaya kesehatan kerja adalah upaya penyerasian antara kapasitas, beban,
dan lingkungan kerja agar setiap pekerja dapat bekerja secara sehat tanpa
membahayakan dirinya sendiri maupun masyarakat di sekelilingnya, agar
diperoleh produktivitas kerja yang optimal (Undang-undang kesehatan tahun
1992).
Adanya undang-undang kesehatan kerja di setiap negara mempunyai
dampak yang begitu besar untuk kondisi kesehatan di tempat kerja. Tujuan dari
hukum ini adalah untuk menciptakan kondisi kerja yang lebih aman dan lebih
sehat bagi para pekerja (suddarth. 2002: 27).
Konsep kesehatan kerja dewasa ini semakin banyak berubah, bukan
sekedar “kesehatan pada sektor industri” saja melainkan juga mengarah kepada
upaya kesehatan untuk semua orang dalam melakukan pekerjaannya (total
health of all at work). Sebenarnya hal ini merupakan keuntungan bagi pemilik
lapangan pekerjaan atau para pengusaha untuk menyediakan lingkungan kerja
yang aman karena hasilnya adalah pengurangan biaya yang berhubungan
dengan absennya pekerja, perawatan pekerja di rumah sakit dan kecacatan
(suddarth. 2002: 27).
Menurut Suma’mur (1976), Kesehatan kerja merupakan spesialisasi ilmu
kesehatan/ kedokteran beserta prakteknya yang bertujuan agar pekerja/
masyarakat pekerja memperoleh derajat kesehatan setinggi-tingginya baik
fisik, mental maupun sosial dengan usaha preventif terhadap penyakit/
gangguan kesehatan yang diakibatkan oleh faktor pekerjaan dan lingkungan
kerja serta terhadap penyakit umum.
Keselamatan kerja atau Occupational Safety, dalam istilah sehari hari
sering disebut dengan safety saja, secara filosofi diartikan sebagai suatu
pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik
jasmaniah maupun rohaniah tenaga kerja pada khususnya dan manusia pada
umumnya serta hasil budaya dan karyanya.
Dari segi keilmuan diartikan sebagai suatu pengetahuan dan
penerapannya dalam usaha mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan dan
penyakit akibat kerja.
Pengertian Kecelakaan Kerja (accident) adalah suatu kejadian atau
peristiwa yang tidak diinginkan yang merugikan terhadap manusia, merusak
harta benda atau kerugian terhadap proses (DepKes RI, no. 3, 1998).
Soekotjo Joedoatmodjo, Ketua Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Nasional (DK3N) menyatakan bahwa frekuensi kecelakaan kerja di perusahaan
semakin meningkat, sementara kesadaran pengusaha terhadap Kesehatan dan
Keselamatan Kerja (K3) masih rendah, yang lebih memprihatinkan pengusaha
dan pekerja sektor kecil menengah menilai K3 identik dengan biaya sehingga
menjadi beban, bukan kebutuhan. Direktur Operasi dan Pelayanan PT
Jamsostek (Persero), Djoko Sungkono menyatakan bahwa Data angka
kecelakaan kerja tahun 2011 lalu mencapai, 99.491 kasus. Jumlah tersebut kian
meningkat dibanding tahun sebelumnya. Pada tahun 2007 terjadi sebanyak
83.714 kasus, tahun 2008 sebanyak 94.736 kasus, tahun 2009 sebanyak 96.314
kasus, dan tahun 2010 sebanyak 98.711 kasus. Untuk pada 2011 terdapat
99.491 kasus atau rata-rata 414 kasus kecelakaan kerja per hari.
Menurut International Labour Organization (ILO), setiap tahun terjadi
1,1 juta kematian yang disebabkan oleh karena penyakit atau kecelakaan akibat
hubungan pekerjaan. Sekitar 300.000 kematian terjadi dari 250 juta kecelakaan
dan sisanya adalah kematian karena penyakit akibat hubungan pekerjaan,
dimana diperkirakan terjadi 160 juta penyakit akibat hubungan pekerjaan baru
setiap tahunnya (Pusat Kesehatan Kerja, 2005)
Konsep kesehatan kerja dewasa ini semakin banyak berubah, bukan
sekedar “kesehatan pada sektor industri” saja melainkan juga mengarah kepada
upaya kesehatan untuk semua orang dalam melakukan pekerjaannya (total
health of all at work).
Sebagai suatu usaha dalam pencegahan kecelakaan kerja di bidang
keperawatan dikembangkan suatu spesialisasi perawatan yang disebut dengan
perawatan kesehatan kerja (occupational health nursing).
Perawat okupasional dapat bekerja di unit tunggal dalam lingkungan
industri, menjadi konsultan paruh waktu atau dengan waktu yang terbatas, atau
menjadi anggota dari tim indisiplener yang terdiri dari pekerja kesehatan yang
bervariasi seperti perawat, dokter, fisiolog pelatih, pendidik kesehatan,
konsulen, ahli gizi, ahli teknik keselamatan, dan hygine industri (suddarth.
2002: 27).
Perawat kesehatan okupasional mempunyai fungsi dalam beberapa cara
yang dapat memberikan perawatan langsung pada pekerja yang sakit,
melakukan program pendidikan kesehatan untuk anggota staf perusahaan, aau
menyususn program kesehatan yang ditujukan untuk mengembangkan perilaku
kesehatan tertentu, seperti makan dengan benar dan olah raga yang cukup, serta
bagaimana menggunakan alat-alat perlindungan dan pentingnya penggunaan
alat-alat tersebut bagi keselamatan kerja, serta hygine pada setiap pekerja
(suddarth. 2002: 27).
Maka dari itu, perawat harus mempunyai pengetahuan tentang peraturan
pemerintah yang menyangkut kesehatan kerja dan memahami legalsasi yang
berhubungan, serta semua hal yang bersangkutan tentang kesehatan kerja,
keselamatan kerja serta kecelakaan kerja (K3) (Suddarth. 2002: 27).
Dalam makalah ini penulis akan menjelaskan tentang semua yang
berhubungan dengan K3 disertai dengan contoh asuhan keperawatan kesehatan
kerja. Diharapkan dengan makalah ini nantinya dapat dijadikan acuan bagi
mahasiswa keperawatan lain untuk dapat membantu meningkatkan kesehatan
kerja dengan menerapkan asuhan keperawatan kesehatan kerja yang
komprehensif dan kompeten.
B. Rumusan Masalah
Bagaimana asuhan keperawatan komunitas pada kesehatan kerja pada di
komunitas pekerja di ruangan sector A7 di perusahaan rokok PT. NOJORONO
di kabupaten kudus jawa tengah?
C. Tujuan
1. Menjelaskan tentang pengertian kesehatan kerja dan keselamatan kerja
2. Menjelaskan tentang prinsip dasar kesehatan kerja
3. Menjelaskan tentang Factor resiko di tempat kerja
4. Menjelaskan tentang ruang lingkup kesehatan kerja
5. Menjelaskan tentang tujuan keselamatan kerja
6. Menjelaskan tentang dasar hokum kesehatan dan keselamatan kerja
7. Menjelaskan tentang kecelakaan kerja
8. Menjelaskan tentang penyakit akibat kerja
9. Menjelaskan tentang ergonomi
10. Menjelaskan tentang alat pelindung kerja (PEE)
11. Menjelaskan tentang tujuan penerapan keperawatan kesehatan kerja
12. Menjelaskan tentang fungsi dan tugas perawat dalam keselamatan dan
kesehatan kerja
13. Menjelaskan tentang diagnosis spesifik penyakit akibat kerja
14. Menjelaskan tentang penerapan konsep lima tingkatan pencegahan
penyakit pada penyakit akibat kerja
15. Menjelaskan tentang promosi kesehatan dalam kesehatan dan keselamatan
kerja
16. Menjelaskan tentang asuhan keperawatan komunitas pada kesehatan kerja
di komunitas pekerja di ruangan sector A7 di perusahaan rokok PT.
NOJORONO di kabupaten kudus jawa tengah.
D. Manfaat
1. Untuk Mengetahui tentang pengertian kesehatan kerja dan keselamatan
kerja
2. Untuk Mengetahui tentang prinsip dasar kesehatan kerja
3. Untuk Mengetahui tentang Factor resiko di tempat kerja
4. Untuk Mengetahui tentang ruang lingkup kesehatan kerja
5. Untuk Mengetahui tentang tujuan keselamatan kerja
6. Untuk Mengetahui tentang dasar hokum kesehatan dan keselamatan kerja
7. Untuk Mengetahui tentang kecelakaan kerja
8. Untuk Mengetahui tentang penyakit akibat kerja
9. Untuk Mengetahui tentang ergonomi
10. Untuk Mengetahui tentang alat pelindung kerja (PEE)
11. Untuk Mengetahui tentang tujuan penerapan keperawatan kesehatan kerja
12. Untuk Mengetahui tentang fungsi dan tugas perawat dalam keselamatan
dan kesehatan kerja
13. Untuk Mengetahui tentang diagnosis spesifik penyakit akibat kerja
14. Untuk Mengetahui tentang penerapan konsep lima tingkatan pencegahan
penyakit pada penyakit akibat kerja
15. Untuk Mengetahui tentang promosi kesehatan dalam kesehatan dan
keselamatan kerja
16. Untuk Mengetahui tentang asuhan keperawatan komunitas pada kesehatan
kerja di komunitas pekerja di ruangan sector A7 di perusahaan rokok PT.
NOJORONO di kabupaten kudus jawa tengah.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Kesehatan Kerja Dan Keselamatan Kerja


Menurut Sumakmur (1988) kesehatan kerja adalah spesialisasi dalam ilmu
kesehatan/kedokteran beserta prakteknya yang bertujuan, agar
pekerja/masyarakat pekerja beserta memperoleh derajat kesehatan yang
setinggi-tingginya, baik fisik, atau mental, maupun sosial, dengan usaha-usaha
preventif dan kuratif, terhadap penyakit-penyakit/gangguan-gangguan
kesehatan yang diakibatkan faktor-faktor pekerjaan dan lingkungan kerja, serta
terhadap penyakit-penyakit umum. Kesehatan kerja memiliki sifat sebagai
berikut :
1. Sasarannya adalah manusia
2. Bersifat medis.
Keselamatan kerja adalah keselamatan yang bertalian dengan mesin,
pesawat, alat kerja, bahan, dan proses pengolahannya, landasan tempat kerja
dan lingkungannya serta cara-cara melakukan pekerjaan (Sumakmur, 1993).
Keselamatan kerja menyangkut segenap proses produksi distribusi baik barang
maupun jasa (dermawan, deden. 2012: 189).
Keselamatan kerja memiliki sifat sebagai berikut :
1. Sasarannya adalah lingkungan kerja
2. Bersifat teknik.

B. Prinsip Dasar Kesehatan Kerja


Upaya kesehatan kerjaadalah upaya penyesuaian antara kapasitas, beban,
dan lingkungan kerja agar setiap pekerja dapat bekerja secara sehat tanpa
membahayakan dirinya sendiri maupun masyarakat di sekelilingnya, agar
diperoleh produktivitas kerja yang optimal (UU kesehatan tahun 1992).
Konsep dasar dari upaya kesehatan kerja ini adalah mengidentifikasi
permasalahan, mengevaluasi, dan dilanjutkan dengan tindakanpengendalian.
Sasaran kesehatan kerja adalah manusia dan meliputi aspek kesehatan dari
pekerjaitu sendiri (effendi, ferry. 2009: 233).
C. Faktor Resiko Di Tempat Kerja
Dalam melakukan pekerjaan perlu dipertimbangkan berbagai potensi
bahaya serta resiko yang bisa terjadi akibat sistem kerja atau cara kerja,
penggunaan mesin, alat dan bahan serta lingkungan disamping faktor
manusianya.
Istilah hazard atau potensi bahaya menunjukan adanya sesuatu yang
potensial untuk mengakibatkan cedera atau penyakit, kerusakan atau kerugian
yang dapat dialami oleh tenaga kerja atau instansi. Sedang kemungkinan
potensi bahaya menjadi manifest, sering disebut resiko. Baik “hazard” maupun
“resiko” tidak selamanya menjadi bahaya, asalkan upaya pengendaliannya
dilaksanakan dengan baik.
Ditempat kerja, kesehatan dan kinerja seseorang pekerja sangat
dipengaruhi oleh (effendi, Ferry. 2009: 233):
1. Beban Kerja berupa beban fisik, mental dan sosial sehingga upaya
penempatan pekerja yang sesuai dengan kemampuannya perlu diperhatikan.
Beban kerja yang terlalu berat atau kemampuan fisik yang terlalu lemah
dapat mengakibatkan seorang pekerja menderita gangguan atau penyakit
akibat kerja.
2. Kapasitas Kerja yang banyak tergantung pada pendidikan, keterampilan,
kesegaran jasmani, ukuran tubuh, keadaan gizi dan sebagainya. Kapasitas
kerja yang baik seperti status kesehatan kerja dan gizi kerja yang baik serta
kemampuan fisik yang prima diperlukan agar seorang pekerja dapat
melakukan pekerjaannya dengan baik. Kondisi atau tingkat kesehatan
pekerja sebagai modal awal seseorang untuk melakukan pekerjaan harus
pula mendapat perhatian. Kondisi awal seseorang untuk bekerja dapat
dipengaruhi oleh kondisi tempat kerja, gizi kerja, dll.
3. Lingkungan Kerja sebagai beban tambahan, baik berupa faktor fisik, kimia,
biologik, ergonomik, maupun aspek psikososial. Kondisi lingkungan kerja
(misalnya, panas, bising, berdebu, zat-zat kimia, dll) dapat menjadi beban
tambahan terhadap pekerja. Beban-beban tambahan tersebut secara sendiri
atau bersama-sama dapat menimbulkan gangguan atau penyakit akibat
kerja.
Kapasitas, beban, dan lingkungan kerja merupakan tiga komponen utama
dalam kesehatan kerja, dimana hubungan interaktif dan serasi antara ketiga
komponen tersebut akan menghasilkan kerja yang baik dan optimal (effendi,
Ferry. 2009: 233).
Gangguan kesehatan pada pekerja dapat disebabkan oleh faktor yang
berhubungan dengan pekerjaan maupun yang tidak berhubungan dengan
pekerjaan. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa status kesehatan
masyarakat pekerja dipengaruhi tidak hanya oleh bahaya kesehatan di tempat
kerja dan lingkungan kerja tetapi juga oleh faktor-faktor pelayanan kesehata
kerja, perilaku kerja, serta faktor lainnya (effendi, Ferry. 2009: 233).

D. Ruang lingkup kesehatan kerja


Kesehatan kerja meliputi berbagai upaya penyerasian antara pekerja
dengan pekerjaan dan lingkungan kerjanya baik fisik maupun psikis, dalam
hal cara atau metode, proses, dan kondisi pekerjaan yang bertujuan untuk
(effendi, Ferry. 2009: 233):
1. Memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan kerja masyarakat
pekerja disemua lapangan kerja setinggi-tingginya baik fisik, mental,
maupun kesejahteraan sosialnya.
2. Mencegah timbulnya gangguan kesehatan pada masyarakat pekerja yang
diakibatkan oleh keadaan atau kondisi lingkungannya.
3. Memberikan pekerjaan dan perlindungan bagi pekerja di dalam
pekerjaannya dari kemungkinan bahaya yang disebabkan oleh faktor-
faktor yang membahayakan kesehatan.
4. Menempatkan dan memelihara pekerja disuatu lingkungan pekerjaan
yang sesuai dengan kemampuan fisik dan psikis pekerjanya.

E. Tujuan keselamatan kerja


1. Melindungi tenaga kerja atas hak keselamatannya dalam melakuakn
pekerjaan atau kesejahteraan hidup dan meningkatkan produktivitas
nasional.
2. Menjamin keselamatan setiap orang lain yang berada di tempat kerja.
3. Sumber produksi dipelihara dan dipergunakan secara aman dan efisien.

F. Dasar Hukum
Dasar hukum tentang kesehatan dan keselamatan kerja adalah Undang-
undang RI No.13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan Pasal 86 (dermawan,
deden. 2012: 190):
1. Setiap pekerja/buruh mempunyai hak untuk memperoleh perlindungan atas
:
a. Keselamatan dan kesehatan kerja
b. Moral kesusilaan
c. Perlakuan yang sesuai dengan harkat dan martabat manusia serta nilai-
nilai agama.
2. Untuk melindungi keselamatan kerja/buruh guna mewujudkan
produktivitas kerja yang optimal diselenggarakan upaya Keselamatan dan
Kesehatan Kerja.
Perlindungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2)
dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

G. Kecelakaan kerja
Menurut Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI Nomor : 03 /MEN/1998
tentang Tata Cara Pelaporan dan Pemeriksaan Kecelakaan bahwa yang
dimaksud dengan kecelakaan adalah suatu kejadian yang tidak dikehendaki
dan tidak diduga semula yang dapat menimbulkan korban manusia dan atau
harta benda.
Kecelakaan kerja adalah kejadian yang tak terduga dan tidak diharapkan
yang terjadi pada waktu bekerja pada perusahaan. Tak terduga, oleh karena
dibelakang peristiwa itu tidak terdapat unsur kesenjangan, lebih-lebih dalam
bentuk perencanaan (dermawan, deden. 2012: 189).
Kesehatan dan Keselamatan Kerja atau K3 adalah suatu sistem program
yang dibuat bagi pekerja maupun pengusaha sebagai upaya pencegahan
(preventif) timbulnya kecelakaan kerja dan penyakit akibat hubungan kerja
dalam lingkungan kerja dengan cara mengenali hal-hal yang berpotensi
menimbulkan kecelakaan kerja dan penyakit akibat hubungan kerja, dan
tindakan antisipatif bila terjadi hal demikian. Tujuan dari dibuatnya sistem ini
adalah untuk mengurangi biaya perusahaan apabila timbul kecelakaan kerja
dan penyakit akibat hubungan kerja. Namun, patut disayangkan tidak semua
perusahaan memahami arti pentingnya K3 dan bagaimana implementasinya
dalam lingkungan perusahaan.

1. Penyebab kecelakaan kerja


Secara umum, dua penyebab terjadinya kecelakaan kerja adalah penyebab
dasar (basic causes) dan penyebab langsung (immediate causes)
1) Penyebab dasar
a. Faktor manusia atau pribadi, antara lain karena kurangnya
kemampuan fisik, mental, dan psikologis, kurang atau lemahnya
pengetahuan dan keterampilan (keahlian), stress, dan motivasi yang
tidak cukup atau salah.
b. Faktor kerja atau lingkungan, antara lain karena ketidakcukupan
kemampuan kepemimpinan dan/ atau pengawasan, rekayasa
(engineering), pembelian atau pengadaan barang, perawatan
(maintenance), alat-alat, perlengkapan, dan barang-barang atau
bahan-bahan, standart-standart kerja, serta berbagai penyalahgunaan
yang terjadi di lingkungan kerja.
2) Penyebab langsung
a. Kondisi berbahaya (kondisi yang tidak standart/ unsafe condition),
yaitu tindakan yang akan menyebabkan kecelakaan misalnya
peralatan pengaman, pelindung atau rintangan yang tidak memadai
atau tidak memenuhi syarat, bahan dan peralatan yang rusak,
terlalu sesak atau sempit, sistem-sistem tanda peringatan yang
kurang memadai, bahaya-bahaya kebakaran dan ledakan, kerapian
atau tata letak (houskeeping) yang buruk, lingkungan berbahaya
atau beracun (gas, debu, asap, uap, dan lainnya), bising, paparan
radiasi, serta ventilasi dan penerangan yang kurang (B, sugeng.
2003)
b. Tindakan berbahaya (tindakan yang tidak standart/ unsafe act),
yaitu tingkah laku, tindak tanduk atau perbuatan yang dapat
menyebabkan kecelakaan misalnya mengoperasikan alat tanpa
wewenang, gagal untuk memberi peringatan dan pengamanan,
bekerja dengan kecepatan yang salah, menyebabkan alat-alat
keselamatan tidak berfungsi, memindahkan alat-alat keselamatan,
menggunakan alat yang rusak, menggunakan alat dengan cara yang
salah, serta kegagalan memakai alat pelindung atau keselamatan
diri secara benar (B, sugeng. 2003).

2. Kerugian yang disebabkan kecelakaan akibat kerja


Kecelakaan menyebabkan lima jenis kerugian, antara lain:

a. Kerusakan: Kerusakan karena kecelakaan kerja antara lain bagian


mesin, pesawat alat kerja, bahan, proses, tempat, & lingkungan kerja.
b. Kekacauan Organisasi: Dari kerusakan kecelakaan itu, terjadilah
kekacauan dai dalam organisasi dalam proses produksi.
c. Keluhan & Kesedihan: Orang yang tertimpa kecelakaan itu akan
mengeluh & menderita, sedangkan kelurga & kawan-kawan sekerja
akan bersedih.
d. Kelainan & Cacat: Selain akan mengakibatkan kesedihan hati,
kecelakaan juga akan mengakibatkan luka-luka, kelainan tubuh bahkan
cacat.
e. Kematian: Kecelakaan juga akan sangat mungkin merenggut nyawa
orang & berakibat kematian.
Kerugian-kerugian tersebut dapat diukur dengan besarnya biaya yang
dikeluarkan bagi terjadinya kecelakaan. Biaya tersebut dibagi menjadi biaya
langsung & biaya tersembunyi.
Biaya langsung adalah biaya pemberian pertolongan pertama kecelakaan,
pengobatan, perawatan, biaya rumah sakit, biaya angkutan, upah selama tak
mampu bekerja, kompensasi cacat & biaya perbaikan alat-alat mesin serta
biaya atas kerusakan bahan-bahan. Sedangkan biaya tersembunyi meliputi
segala sesuatu yang tidak terlihat pada waktu atau beberapa waktu setelah
kecelakaan terjadi.
3. Pencegahan kecelakaan akibat kerja
Kecelakaan-kecelakaan akibat kerja dapat dicegah dengan:
a. Peraturan perundangan, yaitu ketentuan-ketentuan yang diwajibkan
mengenai kondisi-kondisi kerja pada umumnya, perencanaan,
kontruksi, perwatan & pemeliharaan, pengwasan, pengujian, & cara
kerja peralatan industri, tugas-tugas pengusaha & buruh, latihan,
supervisi medis, PPPK, & pemeriksaan kesehatan.
b. Standarisasi, yaitu penetapan standar-standar resmi, setengah mati
atau tak resmi mengenai misalnya kontruksi yang memnuhi syarat-
syarat keselamatan jenis-jenis peralatan industri tertentu, praktek-
praktek keselamatan & hygiene umum, atau alat-alat perlindungan
diri.
c. Pengawasan, yaitu pengawasan tentang dipatuhinya ketentuan-
ketentuan perundang-undangan yang diwajibkan.
d. Penelitian bersifat teknik, yang meliputi sifat & ciri-ciri bahan-bahan
yang berbahaya, penyelidikan tentang pagar pengaman, pengujian
alat-alat perlindungan diri, penelitian tentang pencegahan peledakan
gas & debu, atau penelaahan tentang bahan-bahan & desain paling
tepat untuk tambang-tambang pengangkat & peralatan pengangkat
lainnya.
e. Riset medis, yang meliputi terutama penelitian tentang efek-efek
fisiologis & patologis faktor-faktor lingkungan & teknologis, &
keadaan-keadaan fisik yang mengakibatkan kecelakaan.
f. Penelitian psikologis, yaitu penyelidikan tentang pola-pola kejiwaan
yang menyebabkan terjadinya kecelakaan.

H. Penyakit akibat kerja


Penyakit akibat kerja adalah penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan,
alat kerja, bahan, proses maupun lingkungan kerja. Dengan demikian
penyakit akibat kerja merupakan penyakit yang artifisial atau man made
disease (dermawan, deden. 2012: 193).
Menurut peraturan menteri tenaga kerja RI nomor: PER-01/MEN/1981
tentang kewajiban melapor penyakit akibat kerja bahwa yang dimaksud
dengan penyakit akibat kerja (PAK) adalah setiap penyakit yang disebabkan
oleh pekrjaan atau lingkungan kerja. Beberapa ciri penyakit akibat kerja
adalah dipengaruhi oleh populasi pekerja, disebabkan oleh penyebab yang
spesifik, ditentukan oleh pemajanan ditempat kerja, ada atau tidaknya
kompensasi. Contohnya adalah keracunan timbel (Pb), abestosis, dan silikosis
(B, sugeng. 2003).
Pada simposium internasional mengenai penyakit akibat hubungan
pekerjaan yang diselenggarakan oleh ILO (international Labour
Organization) di Linz, Austria, dihasilkan definisi menyangkut penyakit
akibat kerja sebagai berikut :
a. Penyakit akibat kerja-occupational disease
Adalah penyakit yang mempunyai penyebab yang spesifik atau asosiasi
yang kuat dengan pekerjaan, yang pada umumnya terdiri dari satu agen
penyebab yang sudah diakui.
b. Penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan work related disease
Adalah penyakit yangt mempunyai bebrapa agen penyebab, dimana
dengan faktor resiko lainnya dalam berkembangnya penyakit yang
mempunyai etiologi kompleks.
c. Penyakit yang mengenai populasi kerja-disease of fecting working
populations
Adalah penyakit agen penyebab ditempat kerja, namun dapat diperberat
oleh kondisi pekerjaan yang buruk bagi kesehatan.

1. Jenis penyakit akibat kerja


WHO membedakan empat kategori penyakit akibat kerja (dermawan,
deden. 2012: 193):
a. Penyakit yang hanya disebabkan oleh pekerjaan, misalnya
Pneumoconiosis.
b. Penyakit yang salah satu penyebabnya adalah pekerjaan, misalnya
karsinoma bronkhogenik.
c. Penyakit dengan pekerjaan merupakan salah satu penyebab di antara
faktor-faktor penyebab lainnya, misalnya bronkhitis kronis.
d. Penyakit dimana pekerjaan memperberat suatu kondisi yang sudah
ada sebelumnya, misalnya asma.
Dalam peraturan menteri tenaga kerja dan transmigrasi Nomor: PER-
01/MEN/1981 dicantumkan 30 jenis penyakit, sedangkan pada keputusan
Presiden RI Nomor 22/1993 tentang penyakit yang timbul karena hubungan
kerja memuat jenis penyakit yang sama dengan tambahan penyakit yang
disebabkan bahan kimia lainnya termasuk bahan obat. Jenis-jenis penyakit
akibat kerja tersebut adalah sebagai berikut:
 Pneumokoniosis disebabkan oleh debu mineral pembentukan jaringan
parut (silikosis, antrakosiliksis, asbestosis) dan silikotuberkulosisyang
silikosisnya merupakan faktor utama penyebab cacat atau kematian.
 Penyakit paru dan saluran pernafasan (bronkopulmoner) yang
disebabkan oleh debu logam keras.
 Penykit paru dan saluran pernafasan (bronkopulmoner) atau byssinosis
yang disebabkan oleh debu kapas, vlas, hnep (serat yang diperoleh dari
batang tanaman cnnabis sativa), dan sisal (serat yang diperoleh dari
tumbuhan agave sisalana, biasanya dibuat tali).
 Asma akibat kerja yang disebabkan oleh penyebab sensitisasi dan zat
perangsang yang dikenal yang berada dalam proses pekerjaan.
 Alveolitis alergica yang disebabkan oleh faktor dari luar sebagai akibat
penghirupan debu organik.
 Penyakit yang disebabkan oleh berilium (Be) atau persenyawaannya
yang beracun.
 Penyakit yang disebabkan oleh kadmium (Cd) atau persenyawaannya
yang beracun.
 Penyakit yang disebabkan oleh fosforus (P) atau persenyawaannya yang
beracun.
 Penyakit yang disebabkan oleh kromium (Cr) atau persenyawaannya
yang beracun.
 Penyakit yang disebabkan oleh mangan (Mn) atau persenyawaannya
yang beracun.
 Penyakit yang disebabkan oleh arsenik (As) atau persenyawaannya
yang beracun.
 Penyakit yang disebabkan oleh merkurium/ raksa (Hg) atau
persenyawaannya yang beracun.
 Penyakit yang disebabkan oleh timbel (Pb) atau persenyawaannya yang
beracun.
 Penyakit yang disebabkan flourin (F) atau persenyawaannya yang
beracun.
 Penyakit yang disebabkan oleh karbon disulfida.
 Penyakit yang disebabkan oleh derivat halogen dari persenyawaan
hidrokarbon alifatik atau aromatik yang bercun.
 Penyakit yang disebabkan oleh benzema atau homolognya yang
beracun.
 Penyakit yang disebabkan oleh derivat nitro dan amina dari benzena
atau homolognya yang beracun.
 Penyakit yang disebabkan oleh nitrogliserin atau ester asam nitrat
lainnya.
 Penyakit yang disebabkan oleh alkohol, glikol, atau keton.
 Penyakit yang disebabkan olehgas atau uap penyebab asfiksia atau
keracunan seperti CO, hidrogen sianida, hidrogen sulfida atau
derivatnya yang beracun, amoniak, seng, braso, dan nikel.
 Kelainan pendengarayang disebabkan oleh kebisingan.
 Penyakit yang disebabkan oleh getaran mekanik (kelainan-kelainan
otot, urat, tulang persendian dan pembuluh darah tepi atau saraf tepi).
 Penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan dalam udara yang bertekanan
tinggi.
 Penyakit yang disebabkan oleh radiasi elektromagnetik dan radiasi yang
mengIon.
 Penyakit kulit atau dermatosis yang disebabkan oleh fisik, kimiawi atau
biologis.
 Kanker kulit epitelioma primer yang disebabkan oleh Ter, Pic, bitumen,
minyak mineral, antrasena, atau persenyawaan, produk dan residu dari
zat-zat tersebut.
 Kanker paru atau mesotelioma yang disebabkan oleh asbes.
 Penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus, bakteri, atau parasit yang
didapat dalam suatu pekerjaan resiko kontaminsai khusus.
 Penyakit yang disebabkan oleh suhu tinggi atau rendah, panas radiasi,
atau kelembapan udara yang tinggi.
 Penyakit yang disebabkan oleh bahan lainnya termasuk bahan obat.

Menurut (dermawan, deden. 2012: 197-199) penyakit akibat kerja/penyakit


akibat hubungan kerja:
1. Penyakit Saluran Pernapasan
Penyakit akibat kerja pada saluran pernafasan dapat bersifat akut maupun
kronis.
a. Akut misalnya :
Asma akibat kerja sering didiagnosis sebagai tracheobronchitis akut
atau karena virus.
b. Kronis, misalnya :
 Asbestosis
 Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD)
 Edema paru akut : dapat disebabkan oleh bahan kimia seperti
nitrogen oksida.
2. Penyakit Kulit
a. Pada umumnya tidak spesifik, menyusahkan, tidak mengancam
kehidupan, kadang sembuh sendiri.
b. Dermatitis kontak yang dilaporkan, 90% merupakan penyakit kulit
yang berhubungan dengan pekerjaan.
c. Penting riwayat pekerjaan dalam mengidentifikasi iritan yang
merupakan penyeba, membuat peka atau karena faktor lain.
3. Kerusakan Pendengaran
a. Banyak kasus gangguan pendengaran menunjukkan akibat pajanan
kebisingan yang lama, ada beberapa kasus bukan karena pekerjaan.
b. Riwayat pekerjaan secara detail sebaiknya didapatkan dari setiap orang
dengan gangguan pendengaran.
c. Dibuat rekomendasi tentang pencegahan terjadinya hilangnya
pendengaran.
4. Gejala pada Punggung dan Sendi
a. Tidak ada tes atau prosedur yang dapat membedakan panyakit pada
punggung yang berhubungan dengan pekerjaan daripada yang tidak
berhubungan dengan pekerjaan.
b. Penentuan kemungkinan bergantung pada riwayat pekerjaan.
c. Atritis dan tenosynovitis disebabkan oleh gerakan berulang tidak
wajar.
5. Kanker
a. Adanya presentase yag signifikan menunjukkan kasus kanker yang
disebabkan oleh pajanan di tempat kerja.
b. Bukti bahwa bahan di tempat kerja, karsinogen sering kali didapat dari
laporan klinis individu dari pada studi epidemiologi.
c. Pada kanker pajanan untuk terjadinya karsinogen mulai > 20 tahun
sebelum diagnosis.
6. Coronary Artery Disease
Oleh karena stres atau karbon monoksida da bahan kimia lain di tempat
kerja.
7. Penyakit Liver
a. Sering di diagnosis sebagai penyakit liver oleh karena hepatitis virus
atau sirosis karena alkohol.
b. Penting riwayat tentang pekerjaan, serta bahan toksik yang ada.
8. Masalah Neuropsikitarik
a. Masalah neuropsikiatrik yang berhubungan dengan tempat kerja sering
diabaikan.
b. Neuro pati perifer, sering dikaitkan dengan diabet, pemakaian alkohol
atau tidak diketahui penyebabnya, depresi SSP oleh karena
penyalahgunaan zat-zat atau masalah psikiatri.
c. Kelakuan yang tidak baik mungkin merupakan gejala awal dari stres
yang berhubungan dengan pekerjaan.
d. Lebih dari 100 bahan kimia (a.l solven) dapat menyebabkan depresi
Susunan Syaraf Pusat.
e. Beberapa neurotoksin (termasuk arsen, timah, merkuri, methyl, butyl
ketone) dapat menyebabkan neuropati perifer.
f. Carbon disulfide dapat menyebabkan gejala seperti psikosis.
9. Penyakit yang Tidak Diketahui Sebabnya
a. Alergi
b. Gangguan kecemasan mungkin berhubungan dengan bahan kimia atau
lingkungan
c. Sick building syndrome
d. Multiple Chemical Sensitivities (MCS), misal : parfum derivate
petroleum, rokok.

2. Faktor penyebab penyakit akibat kerja


Faktor penyebab penyakit akibat kerja sangat banyak, tergantung pada
bahan yang digunakan dalam proses kerja, lingkungan kerja ataupun cara
kerja, sehingga tidak mungkin disebutkan satu persatu.
Pada umumnya faktor penyebab dapat dikelompokkan dalam 5 golongan :
1. Golongan fisik : suara (bising), radiasi, suhu (panas/dingin), tekanan
yang sangat tinggi, vibrasi, penerangan lampu yang kurang baik.
2. Golongan kimiawi : bahan kimiawi yang digunakan dalam proses
kerja, maupun yang terdapat dalam lingkungan kerja, dapat berbentuk
debu, uap, gas, larutan, awan atau kabut.
3. Golongan biologis : bakteri, virus, jamur
4. Golongan fisiologis : biasanya disebabkan oleh penataan/ddesain
tempat kerja dan cara kerja/beban kerja.
5. Golongan psikososial : lingkungan kerja yang mengakibatkan stres
psikis, monotomi kerja, tuntutan pekerjaan dan lain-lain.

I. Alat pelindung diri (PEE)


Persyaratan umum penyediaan alat pelindung diri (personal protective
equipment–PPE) tercantum dalam personal protective equipment at work
regulation 1992. Dalam menyediakan perlindungan terhadap bahaya, prioritas
pertama seorang majikan adalah melindungi pekerjanya secara keseluruhan
daripada individu (Ridley. 2006: 142). Ada prinsip umum yang harus diikuti :
 PPE yang efektif harus :
a) Sesuai dengan bahaya yang dihadapi
b) Terbuat dari material yang akan tahan dengan bahaya tersebut
c) Cocok bagi orang yang akan menggunakannya
d) Tidak mengganggu kerja operator yang bekerja
e) Memiliki konstruksi yang sangat kuat
f) Tidak mengganggu PPE lain yang sedang dipakai secara bersamaan
g) Tidak meningkatkan risiko terhadap pemakainya.
 Operator-operator yang menggunakan PPE harus memperoleh :
a) Informasi tentang bahaya yang dihadapi
b) Instruksi tentang tindakan pencegahan yang perlu diambil
c) Pelatihan tentang penggunan peralatan dengan benar
d) Konsultasi dan diizinkan pemilih PPE yang tergantung pada
kecocokannya
e) Pelatihan cara memelihara dan menyimpan PPE
f) Instruksi agar melaporkan setiap kecacatan atau kerusakan.

Contoh-contoh perlindungan PPE (Ridley. 2006: 143-144)


Bagian tubuh PPE
 Kepala  Helm keras , helm empuk, topi,
harnet, atau pemangkasan rambut.
 Telinga  Tutup telinga (ear murf) dan
sumbat telinga (ear plug)
 Mata  Kacamata pelindung (googles),
pelindung wajah, goggles khusus.
 Paru  Masker wajah, respirator, alat
bantu pernafasan.
 Tangan  Sarung tangan pelindung, sarung
tangan tahan bahan kimia, sarung
tangan insulasi.
 Kaki  Sepatu pengaman, selubung kaki
 Kulit (gaiter) dan sepatu pengaman.
 Krim pelindung.
 Pelindung yang kedap seperti
 Torso dan tubuh sarung tangan dan celemek.

 Pakaian bertekanan udara


 Keseluruhan tubuh (pressurized suits)

J. Tujuan penerapan keperawatan kesehatan kerja


Secara umum, tujuan keperawatan kesehatan kerja adalah menciptakan
tenaga kerja yang sehat dan produktif. Tujuan hyperkes dapat diperinci sebagai
berikut (Rachman. 1990):
1. Agar tenaga kerja dan setiap orang yang berada di tempat kerja selalu dalam
keadaan sehat dan selamat
2. Agar sumber-sumber produksi dapat berjalan secara lancar tanpa adanya
hambatan.

K. Fungsi dan tugas perawat dalam keselamatan dan kesehatan kerja


Fungsi dan tugas perawat dalam usaha keselamatan dan kesehatan kerja
(K3) di industri adalah sebagai berikut (Effendy, Nasrul. 1998):
1. Fungsi perawat
a. Mengkaji masalah kesehatan
b. Menyusun rencana asuhan keperawatan pekerja
c. Melaksanakan pelayanan kesehatan dan keperawatan terhadap pekerja
d. Melakukan penilaian terhadap asuhan keperawatan yang dilakukan
2. Tugas perawat
a. Mengawasi lingkungan pekerja
b. Memelihara fasilitas kesehatan perusahaan
c. Membantu dokter dalam pemeriksaan kesehatan pekerja
d. Membantu melakukan penilaian terhadap keadaan kesehatan pekerja
e. Merencanakan dan melaksanakan kunjungan rumah dan perawatan di
rumah kepada pekerja dan keluarga yang mempunyai masalah
kesehatan
f. Ikut berperan dalam penyelenggaraan pendidikan K3 terhadap pekerja
g. Ikut berperan dalam usaha keselamatan kerja
h. Memberikan pendidikan kesehatan mengenai KB terhadap pekerja dan
keluarganya
i. Membantu usaha penyelidikan kesehatan pekerja
j. Mengkoordinasi dan mengawasi pelaksanaan K3.

L. Diagnosis spesifik penyakit akibat kerja


Secara teknis penegakan diagnosis dilakukan dengan cara berikut ini (B,
sugeng. 2003):
1. Anamnesis (wawancara) meliputi, identitas, riwayat kesehatan, riwayat
penyakit, dan keluhan yang dialami saat ini.
2. Riwayat pekerjaan
a. Sejak pertama kali bekerja (kapan mulai bekerja di tempat tersebut)
b. Kapan, bilamana, apa yang dikerjakan, bahan yang digunakan, jenis
bahaya yang ada, kejadian sama pada pekerja lain, pemakaian alat
pelindun diri, cara melakukan pekerjaan, pekerjaan lain yang dilakukan,
kegemaran (hobi), dan kebiasaan lain (merokok, alkohol)
c. Sesuai tingkat penegtahuan, pemahaman pekerjaan.
3. Membandingkan gejala penyakit sewaktu bekerja dan dalam keadaan tidak
bekerja
a. Pada saat bekerja maka gejala timbul atau menjadi lebih berat, tetapi
pada saat tidak bekerja atau istirahat maka gejala berkurang atau
hilang.
b. Perhatikan juga kemungkinan pemajanan di luar tempat kerja.
c. informasi tentang ini dapat ditanyakan dalam anamnesa atau dari data
penyakit di perusahaan.
4. Pemeriksaan fisik yang dilakukan dengan catatan
a. Tanda dan gejala yang muncul mungkin tidak spesifik.
b. Pemeriksaan laboratorium membantu diagnostik klinis.
c. Dugaan adanya penyakit akibat bekerja dilakukan juga melalui
pemeriksaan laboratorium khusus atau pemeriksaan biomedis.
5. Pemeriksaan laboratorium khusus atau pemeriksaan biomedis
a. Seperti pemeriksaan spirometri dan rontgen paru (pneumokoniosis-
pembacaan standart ILO).
b. Pemeriksaan audiometri.
c. Pemeriksaan hasil metabolit dalam darah dan urine.
6. Pemeriksaan atau pengujian lingkungan kerja atau data hygine perusahaan
yang memerlukan:
a. Kerjasama dengan tenaga ahli hygine perusahaan.
b. Kemampuan mengevaluasi faktor fisik dan kimia berdasarkan data
yang ada.
c. Pengenalan secara lengsung sistem kerja dan lama pemakaian.
7. Konsultasi keahlian medis dan keahlian lain
a. Seringkali penyakit akibat kerja ditentukan setelah ada diagnosis
klinis, kemudian dicari faktor penyebabnya di tempat kerja, atau
melalui pengamatan (penelitian) yang relatif lebih lama.
b. Dokter spesialis lainnya, ahli toksikologi, dan dokter penasehat
(kaitannya dengan kompensasi).
Menurut (dermawan, deden. 2012: 194-197) Untuk dapat mendiagnosis
penyakit akibat kerja pada individu perlu dilakukan suatu pendekatan
sistematis untuk mendapatkan informasi yang diperlukan dan
menginterpretasinya secara tepat. Pendekatan tersebut dapat disusun menjadi 7
langkah yang dapat digunakan sebagai pedoman :
1. Tentukan diagnosis klinisnya
Diagnosis klinis harus dapat ditegakkan terlebih dahulu, dengan
memanfaatkan fasilitas-fasilitas penunjang yang ada, seperti umumnya
dilakukan untuk mendiagnosis suatu penyakit. Setelah diagnosis klinik
ditegakkan dapat dipikirkan lebih lanjut apakah penyakit tersebut berhubungan
dengan pekerjaan atau tidak.
2. Tentukan pajanan yang dialami oleh tenaga kerja selama ini
Pengetahuan mengenai pajanan yang dialami oleh seorang tenaga kerja
adalah esensial untuk dapat menghubungkan suatu penyakit dengan
pekerjaannya. Untuk ini perlu dilakukan anamnesa mengenai riwayat
pekerjaannya secara cermat dan teliti, yang mencakup :
a. Penjelasan mengenai semua pekerjaan yang telah dilakukan oleh
penderita secara kronologis.
b. Lamanya melakukan masing-masing pekerjaan.
c. Bahan yang diproduksi.
d. Materi (bahan baku) yang digunakan.
e. Jumlah pajanananya.
f. Pemakaian alat perlindungan diri (masker).
g. Pola waktu terjadinya gejala.
h. Informasi mengenai tenaga kerja lain (apakah ada yang mengalami gejala
serupa).
i. Informasi tertulis yang ada mengenai bahan-bahan yang digunakan
(MSDS, label, dan sebagainya).

3. Tentukan apakah pajanan tersebut memang dapat menyebabkan penyakit


tersebut.
Apakah terdapat bukti-bukti ilmiah dalam kepustakaan yang
mendukung pendapat bahwa pajanan yang dialami menyebabkan penyakit
yang diderita. Jika dalam kepustakaan tidak ditemukan adanya dasar ilmiah
yang menyatakan hal tersebut diatas, maka tidak dapat ditegakkan diagnosa
penyakit akibat kerja. Jika dalam kepustakaan ada yang mendukung, perlu
dipelajari lebih lanjut secara khusus mengenai pajanan sehingga dapat
menyebabkan penyakit yang diderita (konsentrasi, jumlah, lama dan
sebagainya).
4. Tentukan apakah jumlah pajanan yang dialami cukup besar untuk dapat
mengakibatkan penyakit tersebut.
Jika penyakit yang diderita hanya dapat terjadi pada keadaan pajanan
tertentu, maka pajanan yang dialami pasien di tempat kerja menjadi penting
untuk diteliti lebih lanjut dan membandingkannya dengan kepustakaan yang
ada untuk dapat menetukan diagnosis penyakit akibat kerja.
5. Tentukan apakah ada faktor-faktor lain yang mungkin dapat mempengaruhi.
Apakah ada keterangan dari riwayat penyakit maupun riwayat
perkerjaannya, yang dapat mengubah keadaan pajanan, misalnya
penggunaan APD, riwayat adanya pajanan serupa sebelumnya sehingga
resikonya meningkat. Apakah pasien mempunyai riwayat kesehatan
(riwayat keluarga) yang mengakibatkan penderita lebih rentan/lebih sensitif
terhadap pajanan yang dialami.
6. Cari adanya kemungkinan lain yang dapat merupakan penyebab penyakit.
Apakah ada faktor lain yang dapat merupakan penyebab penyakit?
Apakah penderita mengalami pajanan lain yang diketahui dapat merupakan
penyebab penyakit. Meskipun demikian, adanya penyebab lain tidak selalu
dapat digunakan untuk menyingkirkan penyebab di tempat kerja.
7. Buat keputusan apakah penyakit tersebut disebabkan oleh pekerjaannya.
Sesudah menerapkan ke enam langkah di atas perlu dibuat suatu
keputusan berdasarkan informasi yang telah didapat yang memiliki dasar
ilmiah. Seperti telah disebutkan sebelumnya, tidak selalu pekerjaan
merupakan penyebab langsung suatu penyakit, kadang-kadang pekerjann
hanya memperberat suatu kondisi yang telah ada sebelumnya. Hal ini perlu
dibedakan waktu menegakkan diagnosis. Suatu pekerjaan/pajanan
dinyatakan sebagai penyebab suatu penyakit apabila tanpa melakukan
pekerjaan atau tanpa adanya pajanan tertentu, pasien tidak akan menderita
penyakit tersebut pada saat ini.
Sedangkan pekerjaan dinyatakan memperberat suatu keadaan apabila
penyakit telah ada atau timbul pada waktu yang sama tanpa tergantung
pekerjaannya, tetapi pekerjaannya/pajanannya memperberat/mempercepat
timbulnya penyakit.

M. Penerapan konsep lima tingkatan pencegahan penyakit/ five level and


prevention diseases (leavel and clark) pada penyakit akibat kerja
(effendi, ferry. 2009: 238)
1. Peningkatan kesehatan (health promotion)
Misalnya; pendidikan kesehatan, meningkatkan gizi yang baik,
pengembangan kepribadian, perusahaan yang sehat dan memadai,
rekreasi, lingkungan kerja yang memadai, penyuluhan perkawinan dan
pendidikan seksual, konsultasi tentang keturunan dan pemeriksaan
kesehatan periodik.
2. Perlindungan khusu (spesific protection)
Misalnya; imunisasi, hygine perorangan, sanitasi lingkungan, serta
proteksi terhadap bahaya dan kecelakaaan kerja.
3. Deteksi dini dan pengobatan tepat (early diagnosis and prompt
treatment)
Misalnya; diagnosa dini setiap keluhan dan pengobatan segera serta
pembatasan titik-titik lemah untuk mencegah terjadinya komplikasi.
4. Membatasi kecacatan (disability limitation)
Misalnya; memeriksa dan mengobati tenaga kerja komprehensif,
mengobati tenaga kerja secara sempurna, dan pendidikan kesehatan.
5. Pemulihan kesehatan (rehabilitation)
Misalnya; rehabilitasi dan mempekerjakan kembali para pekerja yang
menderita cacat. Sedapat mungkin perusahaan mencoba menempatkan
karyawan-karyawan cacat di jabatan yang sesuai, menyediakan tempat
kerja yang dilindungi, dan terapi kerja di rumah sakit.
N. Promosi Kesehatan Dalam Kesehatan Dan Keselamatan Kerja
Promosi kesehatan, pencegahan dan kontrol penyakit, kesejahteraan,
penurunan faktor risiko, dan pelayanan kesehatan preventif adalah beberapa
istilah yang digunakan pada program kesehatan di lahan kerja (anderson.
2007: 451).
Promosi kesehatan digunakan untuk menunjukkan sebuah proses
pembelajaran para pekerja mengenai bagaimana cara meningkatkan
kesehatan dan kualitas hidup mereka dengan mengembangkan gaya hidup
yang baru. Proses promosi kesehatan di lahan kerja biasanya dimulai dari
pekerja yang mendapat pengetahuan mengenai perilaku, risiko kesehatan atau
proses penyakit (anderson. 2007: 451).
Perawat kesehatan kerja sering kali bertanggung jawab terhadap program
promosi kesehatan di lahan kerja dan berada pada posisi yang tepat untuk
menciptakan kemitraan dengan komunitas. Apabila suatu organisasi tidak
memiliki perawat kesehatan kerja, program kesehatan menjadi tanggung
jawab staf keamanan kerja atau staf departemen sumber daya manusia atau
staf departemen keuangan. Proses keperawatan untuk meningkatkan
kesehatan di lahan kerja berfokus pada keseluruhan populasi perusahaan dan
mungkin meluas kepada individu yang menjadi tanggungan pekerja
(pasangan dan anak) (anderson. 2007: 451).
Aktivitas promosi kesehatan seluruh pekerja, termasuk manajemen.
Langkah berikutnya adalah menciptakan kesadaran terhadap isu-isu
kesehatan melalui pendidikan internal perusahaan, skrining, dan intervensi
yang berfokus pada gaya hidup.
1. Jenis aktivitas promosi kesehatan
Aktivitas yang lazim dilakukan dalam upaya mempromosikan kesehatan
atau mencegah cedera dan penyakit di lahan kerja adalah olah raga,
penghentian merokok, perawatan punggung, dan program manajemen stres.
Ada tiga jenis promosi kesehatan di lahan kerja (anderson. 2007: 451), yaitu:
a. Program kesadaran, meningkatkan tingkat pengetahuan dan minat pekerja
(contoh, dengan selebaran, seminar dan surat kabar).
b. Aktivitas perubahan perilaku, membantu para partisipan mengembangkan
perilaku yang lebih sehat (contoh, menghentikan kebiasaan merokok,olah
raga teratur, dan nutrisi sehat).
c. Lingkungan penunjang, menciptakan peluang kerja yang meningkatkan
gaya hidup sehat (contoh, penyediaan makanan rendah lemak di cafetaria,
kelas aerobik di tempat kerja, menyediakan waktu senggang untuk
skrining kesehatan, kudapan sehat di etalase makanan).
Sebelum memutuskan untuk memilih jenis program promosi kesehatan
yang ditawarkan, penting untuk menentukan konsistensi program dengan misi
dan tujuan perusahaan. Perhatikan juga biaya dan manfaat aktivitas, baik bagi
pengusaha maupun para pekerja. Apabila menyadari potensi manfaat
finansial yang akan di dapat dari aktivitas ini, seperti penurunan angka
ketidak hadiran atau meningkatkan hasil kerja, kebanyakan pekerja ikut
berpartisipasi dalam program promosi kesehatan karena alasan pribadi
(seperti menurunkan berat badan, meningkatkan kebugaran fisik). Para
pekerja memiliki keinginan untuk merasa atau terlihat lebih baik atau
mengalami peningkatan kualitas hidup. Apabila kedua kebutuhan, baik
kebutuhan organisasi dan para pekerja terpenuhi, program kesehatan ini akan
mendapat dukungan luas dan partisipasi yang tinggi dari pekerja dan
mencapai kesuksesan besar.

2. Perencanaan program promosi kesehatan (anderson. 2007: 452-458)


1) Pengkajian kebutuhan
Kuesioner dan penilaian risiko kesehatan umumnya digunakan
untuk mengidentifikasi minat pekerja terhadap topik pendidikan dan
menggambarkan kondisi kesehatan saat ini serta perilaku yang aman.
Kesehatan pekerja dan catatan asuransi juga dapat digunakan untuk
mengidentifikasi prevalensi penyakit kronik pekerja yang perlu ditangani.
Catatan keamanan, format kompensasi pekerja atau wawancara dengan
manajer dan pekerja adalah sumber tambahan untuk menentukan kebutuhan
promosi kesehatan pekerja dan perusahaan.
Setelah mengidentifikasi kebutuhan promosi kesehatan, anda dapat
membantu perawat kesehatan kerja atau komite penasehat perencanaan dalam
menjamin dukungan manajemen terhadap program promosi kesehatan.
Presentasi proposal atau catatan eksekutif sering kali merupakan salah satu
langkah awal dalam meyakinkan manajemen mengenai manfaat proyek.
Suatu pendekatan perencanaan bisnis untuk mengomunikasikan program
anda dapat digunakan untuk menciptakan kesamaan persepsi dan pengertian
terhadap proyek dari semua orang yang ada di dalam organisasi. Di bawah ini
adalah contoh dari sebuah perencanaan bisnis:
a. Catatan eksekutif: sebuah kesimpulan singkat mengenai rencana promosi
kesehatan, termasuk di dalamnya tujuan (contoh, untuk menurunkan strain
punggung bagian bawah), metode (contoh, dilakukan melalui 3 kali
pertemuan , masing-masing selama 30 menit), keuntungan yang dapat
diharapkan (contoh, lebih sedikit absen pada hari kerja, peningkatan
produktivitas), biaya (contoh, biaya program, seperti brosur, selebaran,
waktu pengajaran, insentif, ketidak hadiran, dan biaya tak terduga, seperti
biaya akibat penurunan asuransi dan klaim kompensasi pekerja).
b. Tujuan: secara jelas menggambarkan apa yang ingin dicapai dan rasional.
Termasuk tujuan Masyarakat Sehat 2010 (Healthy People 2010
Objectives) untuk dewasa sehat.
c. Metode: bagaimana, bilamana, dan dimana rencana akan diwujudkan ke
dalam tindakan. Uraikan setiap tugas yang harus diselesaikan (contoh,
rancangan brosur dan selebaran serta diseminasi) dan individu yang
bertanggung jawab untuk melaksanakan tugas tersebut, beserta batas
waktu penyelesaian program. Jelaskan isi program, termasuk mengundang
pembicara tamu, demonstrasi ulang, dan metode untuk meningkatkan
partisipasi pekerja serta adaptasi dari perilaku yang diajarkan. Selain itu,
tentukan juga tujuan dan objektif program. Tujuan program dapat berupa:
Delapan puluh persen pekerja yang telah menjalani program perawatan
punggung melaporkan penurunan pengajuan izin sakit yang berhubungan
dengan nyeri punggung bawah. Objektif program dapat berupa: Setelah
mengikuti pembelajaran demonstrasi mengenai prosedur mengangkat yang
benar, 90% pekerja berpartisipasi akan mendemonstrasikan prosedur
mengangkat yang benar.
d. Manfaat yang diharapkan: Tulislah hasil program (contoh, jumlah absensi
pekerja karena nyeri punggung bawah menurun). Ide yang bagus jika
dalam proposal, dicantumkan jumlah absensi pekerja pada tahun terkahir
dan besarnya presentase keberhasila program yang diajukan
dalammenurunkan ketidakhadiran. Selain itu, cantumkan pula pada
laporan Anda, nama perusahaan lain hasil temuan Anda dari literatur yang
mengimplementasikan program serupa, beserta keberhasila yang dicapai
oleh perusahaan tersebut.
e. Biaya: Proyeksi akurat dari biaya program (material, waktu para pengajar,
insentif), dan profit yang diharapkan dari penurunan ketidakhadiran dan
peningkatan produktivitas.

3. Implementasi program promosi kesehatan


Marketing adalah bagian esensial dari keberhasilan implementasi program.
Termasuk di dalam beberapa strategi Marketing adalah:
a. Poster. Harus tampak profesional. Judul dan kata-kata yang menarik
adalah unsur penting (contoh, “Weigh To Go” untuk penurunan
program berat badan). Ganti poster secara teratur untuk tetap menarik
perhatian.
b. Surat elektronik/ e-mail. Hitungan mundur kegiatan; memberikan
pertanyaan kuis berkaitan dengan kesehatan dan memberikan jawaban
serta rasionalnya pada hari berikutnya.
c. Surat kabar kesehatan. Detail mengenai cerita keberhasilan, seperti
cerita mengenai deteksi dini melanoma maligna, program penurunan
berat badan dengan program jalan kaki, individu yang menderita
tekanan darah tinggi sampai ia berpartisipasi dalam skrining
kesehatan, dan bagaimana perubahan sederhana dari gaya hidup dapat
membantu individu mengontrol penyakit (tanpa pengobatan).
d. Surat dari pimpinan perusahaan atau manajer keuangan.
Memberikan kesempatan kepada perusahaan untuk melaksanakan
skrining kesehatan, mengumumkan bahwa perusahaan akan
membayar sebagian atau seluruh biaya dari program penghentian
kebiasaan merokok/tes skrining kesehatan, atau mengizinkan atan
jual-beli kebutuhan kesehatan selama 2 jam dengan kehadiran
program kesejahteraan.
e. Memberikan hadiah insentif kepada pekerja yang ikut berpartisipasi,
seperti kaus oblong, topi, sampel tabir surya, kudapan buah-buahan,
botol minuman.

4. Evaluasi program promosi kesehatan


Proses evaluasi memberikan kesempatan untuk menentukan hasil
yang dicapai dari program promosi kesehatan dan mengarahkan
peningkatan pelayanan kesehatan kepada para pekerja. Evaluasi struktur,
program, proses pelaksanaan program dan hasil program adalah tiga
pendekatan yang umum dilakukan dalam meninjau ulang jaminan mutu.
a. Termasuk dalam evaluasi struktur adalah (1) meninjau ulang
mekanisme pelaporan yang diberikan kepada manajemen beserta
dukungan terhadap program promosi kesehatan; (2) menentukan
keadekuatan fasilitas fisik untuk menunjang program; (3)
mengidentifikasi peralatan dan persediaan yang digunakan; (4)
mengidentifikasi kebutuhan kepegawaian dan kualifikasinya; (5)
menganalisis demografik pekerja dan kebutuhan status kesehatan; (6)
menentukan apakah misi, tujuan, dan objektif program diformulasikan
untuk memenuhi kebutuhan kesehatan para pekerja dan kebutuhan
bisnis pengusaha.
b. Evaluasi proses mencakup (1) apakah aktivitas promosi kesehatan
sesuai dengan kondisi; (2) apakah program promosi kesehatan di
bentuk untuk memenuhi kebutuhan di lahan kerja (saatnya anda
melakukan perbandingan terhadap pengkajian awal kebutuhan), dan
(3) apakah terdapat pendokumentasian dan pencatatan.
c. Evaluasi hasil berfokus pada (1) apakah tujuan dan objektif yang
diharapkan dapat dicapai; (2) apakah program membawa hasil yang
positif; (3) apakah hasil kesehatan menunjukkan pencegahan penyakit/
pengetahuan pekerja tentang perawatan diri, mengembalikan fungsi
atau menurunkan ketidaknyamanan; (4) bagaimana perbandingan
keuntungan yang dicapai program dengan biaya program; dan (5)
kepuasan (dari pekerja, pengusaha, dan orang-orang yang bergantung
pada pekerja) terhadap kualitas pelayanan promosi kesehatan yang
diterima.Metode yang lazim digunakan untuk evaluasi adalah skala
rating pascaprogram, observasi, dan wawancara dengan para pekerja
tentang pendapat,sikap, dan kepuasan mereka terhadap program.
Tinjauan ulang bagan dan catatan dapat dilakukan untuk menentukan
perbedaan singkat morbiditas dan mortalitas.

A. Proses Keperawatan
1. Pengkajian
a. DATA INTI
1) Riwayat atau sejarah perkembangan komunitas
2) Status kesehatan komunitas
 Keluhan yang dirasakan saat ini oleh komunitas
 Tanda-tanda vital*
 Kejadian penyakit (dalam satu tahun terakhir) *
 Riwayat penyakit komunitas
 Pola pemenuhan kebutuhan nutrisi komunitas
 Pola pemenuhan cairan dan elektrolit
 Pola istirahat tidur
 Pola eliminasi
 Pola aktivitas gerak
 Pola pemenuhan kebersihan diri
 Status psikososial
 Status pertumbuhan dan perkembangan
b. DATA LINGKUNGAN FISIK
c. PELAYANAN KESEHATAN DAN SOSIAL
d. EKONOMI

e. KEAMANAN DAN TRANSPORTASI


f. POLITIK DAN KEAMANAN
g. SISTEM KOMUNIKASI
h. PENDIDIKAN
i. REKREASI

2. Pengolahan Data
a. Komposisi pekerja berdasarkan jenis kelamin
b. Proporsi pekerja berdasarkan jenis pekerjaan
c. Komposisi pekerja berdasarkan usia
d. Komposisi pekerja berdasarkan tingkat pendidikan

3. Analisa Data