Anda di halaman 1dari 16

A.

Keterampilan Warga Negara


Keterampilan kewarganegaraan (civic skills) adalah keterampilan yang
dikembangkan dari pengetahuan kewarganegaraan agar pengetahuan yang diperoleh
menjadi sesuatu yang bermakna karena dapat dimanfaatkan dalam menghadapi
masalah-masalah dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Greenstein (2012)
menjelaskan bahwa definisi keterampilan kewarganegaraan pada umumnya mencakup
studi tentang peran, hak dan kewajiban sebagai warga negara. Keterampilan
kewarganegaraan akan mengembangkan pengetahuan dan keterampilan yang
diperlukan untuk menjalankan peran sebagai warga negara. Keterampilan
kewarganegaraan juga akan menginformasikan kepada siswa tentang masalah dan isu
kewarganegaraan serta mendorong partisipasi sebagai warga negara.
Civic skills mencakup intelectual skills (ketrampilan intelektual) dan participation
skills (ketrampilan partisipasi). Ketrampilan intelektual yang terpenting bagi
terbentuknya warga negara yang berwawasan luas, efektif dan bertanggung jawab
antara lain adalah ketrampilan berpikir kritis. Ketrampilan berpikir kritis meliputi
mengidentifikasi, menggambarkan/mendeskripsikan, menjelaskan, menganalisis,
mengevaluasi, menentukan dan mempertahankan pendapat yang berkenaan dengan
masalah – masalah publik.
Unsur keterampilan intelektual warga negara meliputi (Center for Civic Education,
1994):
1. Mengidentifikasi (menandai/menunjukkan) dibedakan menjadi ketrampilan :
 Membedakan;
 Mengkelompokkan/mengklasifikasikan
 Menentukan bahwa sesuatu itu asli.
2. Menggambarkan (memberikan uraian / ilustrasi), misalnya tentang :
 Proses;
 Lembaga;
 Fungsi;
 Alat;
 Tujuan;
 Kualitas;
3. Menjelaskan (mengklarifikasi / menafsirkan), misalnya tentang:
 Sebab-sebab terjadinya suatu peristiwa;
 Makna dan pentingnya peristiwa atau ide;
 Alasan bertindak;
4. Menganalisis, misalnya tentang kemampuan menguraikan:
 Unsur – unsur atau komponen-komponen ide (gagasan), proses politik, institusi-institusi;
 Konsekuensi dari ide, proses politik, institusi – institusi;
 Memilah mana yang merupakan cara dengan tujuan, mana yang merupakan fakta dan
pendapat; mana yang merupakan tanggungjawab pribadi dan mana yang merupakan
tanggungjawab publik.
5. Mengevaluasi pendapat/posisi : menggunakan kriteria/standar untuk membuat keputusan
tentang:
 kekuatan dan kelemahan isue / pendapat;
 menciptkan pendapat baru.
6. Mengambil pendapat/posisi :
 dari hasil seleksi berbagai posisi;
 membuat pilihan baru;
7. Mempertahankan pendapat/posisi:
 mengemukakan argumentasi berdasarkan asumsi atas posisi yang
dipertahankan/diambil/dibela;
 merespons posisi yang tidak disepakati.
Sedangkan ketrampilan kewarganegaraan komponen ketrampilan partisipasi warga negara
antara lain (Center for Civic Education, 1994):
1. Berinteraksi (termasuk berkomunikasi tentunya) terhadap obyek yang berkaitan dengan
masalah- masalah publik, yang termasuk dalam ketrampilan ini, al.:
 bertanya, menjawab, berdiskusi dengan sopan santun;
 menjelaskan artikulasi kepentingan;
 membangun koalisi, negoisasi, kompromi
 mengelola konflik secara damai;
 mencari konsensus.
2. Memantau/memonitor masalah politik dan pemerintahan terutama dalam penanganan
persoalanpersoalan publik ,yang termasuk ketrampilan ini al. :
 Menggunakan berbagai sumber informasi seperti perpustakaan, surat kabar, TV, dll untuk
mengetahui persoalan-persoalan publik;
 Upaya mendapatkan informasi tentang persoalan publik dari kelompok – kelompok
kepentingan, pejabat pemerintah, lembaga-lembaga pemerintah. Misalnya dengan cara
menghadiri berbagai pertemuan publik seperti : pertemuan organisasi siswa, komite
sekolah, dewan sekolah, pertemuan desa/BPD, pertemuan wali kota, LSM, dan organisasi
kemasyarakatan lainnya.
3. Mempengaruhi proses politik, pemerintah baik secara formal maupun informal, yang
termasuk ketrampilan ini al.:
 Melakukan simulasi tentang kegiatan : kampanye, pemilu, dengar pendapat di DPR/DPRD,
pertemuan wali kota, lobby, peradilan;
 Memberikan suara dalam suatu pemilihan;
 Membuat petisi;
 Melakukan pembicaraan/memberi kesaksian di hadapan lembaga publik;
 Bergabung atau bekerja dalam lembaga advokasi untuk memperjuangkan tujuan bersama
atau pihak lain;
 Meminta atau menyediakan diri untuk menduduki jabatan tertentu.
Keterampilan kewarganegaraan yang bermutu memberdayakan seseorang untuk
mengidentifikasi atau memberi makna yang berarti pada sesuatu yang berwujud seperti bendera,
lambang negara, lagu kebangsaan, monumen nasional, atau peristiwa-peristiwa politik dan
kenegaraan seperti hari kemerdekaan. Keterampilan kewarganegaraan juga memberdayakan
seseorang untuk memberi makna atau arti penting pada sesuatu yang tidak berwujud seperti nilai-
nilai ideal bangsa, cita-cita dan tujuan negara, hak-hak mayoritas dan minoritas, civil society dan
konstitusionalisme. Kemampuan untuk mengidentifikasi bahasa dan simbol-simbol emosional
juga sangat penting bagi seorang warga negara. Mereka harus mampu menangkap dengan jelas
maksud-maksud hakiki dari bahasa dan simbol-simbol emosional yang digunakan.
Keterampilan kewarganegaraan juga berusaha mengembangkan kompetensi dalam
menjelaskan dan menganalisis. Bila warga negara dapat menjelaskan bagaimana sesuatu berjalan,
misalnya sistem pemerintahan presidensiil, sistem checks and ballances, dan sistem hukum, maka
mereka akan memiliki kemampuan yang lebih untuk mencari dan mengoreksi fungsi-fungsi yang
tidak beres. Warga negara juga perlu memiliki kemampuan untuk menganalisis hal-hal tertentu
sebagai komponen komponen dan konsekuensi cita-cita, proses-proses sosial, ekonomi, atau
politik, dan lembaga-lembaga. Kemampuan dalam menganalisis ini akan memungkinkan
seseorang untuk membedakan antara fakta dengan opini atau antara cara dan tujuan. Hal ini juga
membantu warga negara dalam mengklarifikasi berbagai macam tanggung jawab seperti misalnya
antara tanggung jawab publik dan privat, atau antara tanggung jawab para pejabat, baik yang
dipilih atau diangkat, dengan warga negara biasa. Dalam masyarakat yang otonom, warga negara
adalah pembuat keputusan.
Karakter kewarganegaraan berisikan sifat-sifat yang melekat pada diri setiap warga negara
dalam melakukan perannya sebagai warga negara, hal ini akan terbentuk ketika pada dirinya telah
terbentuk pengetahuan dan keterampilan kewarganegaraan (Cholisin, 2003: 2). Karakter
kewarganegaraan (civic dispositions) merupakan watak atau sifat – sifat yang harus dimiliki setiap
warga negara untuk mendukung efektivitas partisipasi politik, berfungsinya sistem politik yang
sehat, berkembangnya martabat dan harga diri. Karakter kewarganegaraan mencakup karakter
privat (pribadi) dan karakter publik (kemasyarakatan) yang utama meliputi :
1. Menjadi anggota masyarakat yang independen (mandiri).
Karakter ini merupakan kepatuhan secara suka rela terhadap peraturan yang berlaku dan
bertanggungjawab atas segala konsekuensi yang timbul dari perbuatannya serta menerima
kewajiban moral dan legal dalam masyarakat demokratis.
2. Memenuhi tanggungjawab personal kewarganegaraan di bidang ekonomi dan politik.
Yang termasuk karakter ini, al. :
 Mengurus diri sendiri;
 Memberi nafkah /menopang keluarga;
 Merawat , mengurus dan mendidik anak;
 Mengikuti informasi tentang isue-isue publik;
 Memberikan suara (voting);
 Membayar pajak;
 Menjadi saksi di pengadilan;
 Meberikan pelayanan kepada masyarakat;
 Melakukan tugas kepemimpinan sesuai dengan bakat dan kemampuan
sendiri/masingmasing.
3. Menghormati harkat dan martabat kemanusiaan tiap individu.
Yang termasuk karakter ini, al. :
 mendengarkan pendapat orang lain;
 berperilaku santun (bersikap sopan);
 menghargai hak dan kepentingan sesama warganegara;
 mematuhi prinsip aturan mayoritas, namun tetap menghargai hak minoritas untuk
berbeda
 pendapat.
4. Berpartisipasi dalam urusan-urusan kewarganegaraan secara bijaksana dan efektif.
Karakter ini menghendaki pemilikan informasi yang luas sebelum memberikan suara
(voting) atau berpartisipasi dalam debat publik, keterlibatan dalam diskusi yang santun dan
serius, dan memegang kendali kepemimpinan yang sesuai. Juga menghendaki kemampuan
membuat evaluasi kapan saatnya kepentingan pribadi sebagai warga negara dikesampingkan
demi kepentingan umum dan kapan seseorang karena kewajibannya atau prinsip-prinsip
konstitusional untuk menolak tuntutan-tuntutan kewarganegaraan tertentu. Sifat – sifat
warganegara yang dapat menunjang karakter berpartisipasi dalam urusan-urusan
kewarganegaraan (publik) diantaranya:
a) Keberadaban (civility), yang termasuk sifat ini al. :
 menghormati orang lain;
 menghormati pendapat orang lain meskipun tidak sepaham;
 mendengarkan pandangan orang lain;
 menghindari argumentasi yang bermusuhan, sewenang- wenang, emosional dan tidak
masuk akal;
b) Menghormati hak – hak orang lain, yang termasuk sifat ini al. :
 menghormati hak orang lain bahwa mereka memiliki suara yang sama dalam
pemerintahan dan sama di mata hukum;
 menghormati hak orang lain untuk memegang dan menganjurkan gagasan yang
bermacam dan bekerjasama dalam suatu asosiasi untuk memajukan pandangan-
pandangan mereka.
c) Menghormati hukum, yang termasuk sifat ini al.:
 berkemauan mematuhi hukum, bahkan ketika ia tidak menyepakatinya;
 berkemauan melakukan tindakan dengan cara-cara damai dan legal untuk mengubah
hukum yang tidak arif dan adil;
d) Jujur : berkemauan untuk memelihara dan mengekspresikan kebenaran.
e) Berpikiran terbuka : yaitu mempertimbangkan pandangan orang lain.
f) Berpikir kritis : yaitu kehendak hati untuk mempertanyakan keabsahan/kebenaran
berbagai macam posisi termasuk posisi dirinya.
g) Bersedia melakukan negoisasi dan berkompromi : yaitu kesediaan untuk membuat
kesepakatan dengan orang lain meskipun terdapat perbedaan yang sangat tajam/mendalam,
sejauh hal itu dinilai rasional dan adanya pembenaran secara moral untuk melakukannya.
h) Ulet / tidak mudah putus asa : yaitu kemauan untuk mencoba berulang-ulang untuk
meraih suatu tujuan.
i) Berpikiran kewarganegaraan : yaitu memiliki perhatian dan kepedulian terhadap
urusan – urusan publik/kemasyarakatan.
j) Keharuan/memiliki perasaan kasihan : yaitu mempunyai kepedulian agar orang lain
hidupnya lebih baik, khususnya terhadap mereka yang tidak beruntung.
k) Patriotisme : memiliki loyalitas terhadap nilai – nilai demokrasi konstitusional.
l) Keteguhanhati: kuat untuk tetap pada pendiriannya, ketika kata hati menuntutnya.
m) Toleran terhadap ketidak pastian: yaitu kemampuan untuk menerima ketidak pastian
yang muncul, karena ketidak cukupan pengetahuan atau pemahaman tentang isu-isu yang
komplek atau tentang ketegangan antara nilai-nilai fondamental dengan prinsip-prinsip.
5) Mengembangkan fungsi demokrasi konstitusional yang sehat.
Karakter ini mengarahkan warganegara agar bekerja dengan cara-cara damai dan legal dalam
rangka mengubah undang-undang yang dianggap tidak adil dan bijaksana. Yang termasuk
dalam karakter ini, antara lain:
 Sadar informasi dan kepekaan terhadap urusan-urusan publik;
 Melakukan penelaahan terhadap nilai-nilai dan prinsip – prinsip konstitusional;
 Memonitor keputusan para pemimpin politik dan lembaga-lembaga publik dalam
penerapan nilai-nilai dan prinsip-prinsip konstitusional dan mengambil langkah-langkah
yang diperlukan apabila terdapat kekurangannya.
a. Cara Mengembangkan Keterampilan Kewarganegaraan
Penerapan civic skills (CS) dan civic dispositions (CD) pada dasarnya dapat diadaptasikan pada
komponen-komponen mata kuliah yaitu kompetensi, materi, aktivitas pembelajaran dan evaluasi.
1. Adaptasi pada kompetensi, maksudnya memasukkan CS dan atau CD pada tujuan mata kuliah
yang telah ada baik dalam arti memunculkan kompetensi yang baru atau dengan merubah yang
telah ada
2. Adaptasi pada materi, maksudnya memasukkan CS dan atau CD pada materi mata kuliah yang
telah ada baik dalam arti memunculkan materi yang baru atau dengan merubah yang telah ada.
3. Adaptasi pada aktivitas pembelajaran , maksudnya memasukkan CS dan atau CD pada aktivitas
pembelajaran yang telah ada baik dalam arti memunculkan aktivitas pembelajaran yang baru atau
dengan merubah yang telah ada. Misalnya, pendekatan pembelajaran aktif berikut ini dapat
dipertimbangkan untuk diterapkan dalam perkuliahan.
4. Adaptasi pada evaluasi maksudnya, membuat inetrumen penilaian untuk CS dan CD seperti lembar
observasi untuk tugas, sikap dan kinerja.
Strategi pembelajaran yang tepat untuk mencapai tujuan pendidkan kewarganegaraan adalah
strategi yang bersifat dialogis-kritis, pengalaman langsung (direct experiences), kolaboratif, dan
kooperatif. Strategi pembelajaran seperti ini menekanakan pada tiga ranah pembelajaran, yaitu:
kognitif, afektif, dan psikomotorik. Hal ini sejalan dengan apa yang dinyatakan Kirschenbaum
(1995: 24-26) bahwa aspek citizenship education meliputi: knowledge, appreciation, critical
thinking skills, communication skills, cooperation skills, and conflict resolution skills. Aspek-
aspek tersebut lebih lanjut dinyatakan Kirschenbaum dalam pelaksanaannya diperlukan
pendekatan secara komprehensif yang meliputi inkulkasi (inculcaty), pemodelan (modeling),
fasilitasi (facilitaty), dan pengembangan keterampilan (skills development).
Salah satu bentuk strategi pembelajaran yang sesuai dengan prinsip pembelajaran di atas
adalah strategi pembelajaran berbasis masalah (problem based learning). Strategi ini mengacu
pada sejumlah prinsip dasar pembelajaran. Prinsip-prinsip dasar pembelajaran dimaksud adalah
prinsip belajar siswa aktif (student active learning), kelompok belajar kooperatif (cooperative
learning), dan pembelajaran partisipatorik. Strategi pembelajaran berbasis masalah merupakan
salah satu bentuk perubahan pola pikir dari teacher centered menuju students centered. Strategi
ini merupakan inovasi pembelajaran yang dirancang untuk membantu peserta didik memahami
teori secara mendalam melalui pengalaman belajar praktik-empirik. Strategi pembelajaran
berbasis masalah dapat menjadi program pendekatan yang mendorong kompetensi,
tanggungjawab, dan partisipasi peserta didik, belajar menilai dan mempengaruhi kebijakan umum
(public policy), memberanikan diri untuk berperan serta dalam kegiatan antar sesama, antar
sekolah, dan antar anggota masyarakat.
Pembelajaran berbasis masalah merupakan salah satu strategi dalam pembelajaran yang
menggunakan masalah sebagai langkah awal dalam mengumpulkan dan mengintegrasikan
pengetahuan baru. Dalam usaha memecahkan masalah tersebut mahasiswa akan mendapatkan
pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan atas masalah tersebut. Punaji Setyosari (2006: 1)
menyatakan bahwa pembelajaran berbasis masalah adalah suatu metode atau cara pembelajaran
yang ditandai oleh adanya masalah nyata, a real-world problems sebagai konteks bagi mahasiswa
untuk belajar kritis dan keterampilan memecahkan masalah dan memperoleh pengetahuan.
b. Cara Mengukur Keterampilan Kewarganegaraan
Greenstein (2012) memaparkan tiga indikator terhadap aspek skills maupun knowledge dari
Civic and Citizenship meliputi: 1) Understands democracy and governments; 2) Participaes in the
democratic process contributes to improvement dan 3) Civic dispositions and behaviours. Adapun
rubrik penilaian keterampilan kewarganegaraan dapat dilihat pada tabel 2.1
Tabel 2.1 Civic and Citizenship Rubric
Keterampilan/ Teladan Ahli Dasar pemula
Pengetahuan
Memahami Saya dapat Saya memahami Jika saya Saya tahu bahwa
demokrasi dan menyadari, bahwa ada memiliki garis ada perbedaan
pemerintahan mengevaluasi banyak bentuk besar atau antara bentuk
dan dan struktur format grafik pemerintahan
membandingkan politik serta dapat saya dapat tapi saya butuh
berbagai bentuk menjelaskan membuat bantuan untuk
dan struktur beberapa perbandingan menjelaskannya
politik dasar
Partisipasi Saya Saya terlibat Dengan Saya lebih
dalam proses memberikan dalam aktivitas dorongan, saya memilih
demokrasi kontribusi yang demokrasi ketika akan mengamati
(kontribusi bermakna bagi berlangsung dan berpartisipasi daripada terlibat
dalam kelas dan ada kesempatan dalam aktifitas langsung
perbaikan) komunitas untuk terlibat yang merupakan
dalam bagian dari
memajukan demokrasi
proses
demokrasi
Karakter dan Saya Saya percaya Pada sebagain Saya sulit untuk
perilaku warga menunjukkan dalam besar bagian, menghormati
negara keyakinan saya keterlibatan saya percaya orang lain yang
pada kesetaraan warga negara dan pada kesetaraan berbeda dari
dan tanggung menghormati hak dan saya dan
jawab pribadi dan perbedaan tanggungjawab menerima
serta memahami orang lain pada pihak lain perbedaan
dampak dari tersebut
tindakan ini

Sedangkan indikator keterampilan kewarganegaraan menurut The Education Resources


Information Center (ERIC, 2006) adalah sebegai berikut:
1. KNOWLEDGE OF CITIZENSHIP AND GOVERNMENT IN A DEMOCRACY (CIVIC
KNOWLEDGE)
a. Concepts/principles on the substance of democracy
b. Issues about the meaning and implementation of core ideas
c. Constitutions and institutions of representative democratic government
d. Organization and functions of democratic institutions
e. Practices of democratic citizenship and the roles of citizens
f. Contexts of democracy: cultural, social, political, and economic
g. History of deniocracy in particular states and throughout the world
2. INTELLECTUAL SKILLS OF CITIZENSHIP IN A DEMOCRACY (COGNITIVE CIVIC
SKILLS)
a. Identifying and describing phenomena (events and issues) of political, civic life
b. Analyzing and explaining phenomena (events and issues) of political/civic life
c. Evaluating, taking, and defending positions on public events and issues
d. Thinking critically about conditions of political/civic life.
e. Thinking constructively about how to improve political/civic life
3. PARTISIPATORY SKILLS OF CITIZENSHIP IN A DEMOCRACY (PARTICIPATORY CIVIC
SKILLS)
a. Interacting with other citizens to promote personal and common interests
b. Monitoring public events and issues
c. Deliberating and making decisions about public policy issues
d. Implementing policy decision on public issues
e. Taking action to improve political/civic life
4. DISPOSITIONS OF CITIZENSHIP IN A DEMOCRACY (CIVIC DISPOSITIONS)
a. Promoting the common good
b. Affirming the common and equal humanity and dignity of each person
c. Respecting, protecting, and using rights possessed equally by each person
d. Participating responsibly in the political/civic life of the community
e. Respecting, protecting, and practicing government by consent of the people
f. Supporting and practicing civic virtues

B. Keterampilan Pendidikan Multibudaya/Pemahaman Global


a. Cara Mengembangkan
b. Cara Mengukur
C. Keterampilan Kepemimpinan dan Tanggung Jawab
a. Cara Mengembangkan
b. Cara Mengukur
D. Keterampilan Melanjutkan Studi/Kerja
Kesiapan kuliah dan karier (College and Career Readiness) telah menjadi bagian dari
dialog nasional, pembuat kebijakan, pemimpin sekolah, pengembang standar, dan pembuat ujian
semua menyerukan agar siswa siap kuliah dan siap berkarir. Tentu saja hal tersebut harus dimulai
dengan fondasi yang baik. College and Career Readines dimulai dengan keterampilan berpikir ke
tingkat taksonomi bloom yang lebih tinggi yaitu memecahkan masalah, menarik kreativitas
mereka dan memiliki wawasan tentang bagaimana mereka berpikir dan belajar yang
menghilangkan keterampilan kognitif yang diperlukan. kegiatan seperti komunikasi, kolaborasi,
dan keahlian teknologi membangun keterampilan tempat kerja yang dihargai oleh pengusaha.
Jadi mengapa tidak semua orang kuliah? beberapa mengatakan sulitnya keuangan yang
menyebabkan angka putus sekolah tinggi, tetapi sebagian besar literatur menggambarkan
kurangnya kesiapan dan ketidaksesuaian antara keterampilan yang dipelajari di sekolah menengah
dan kebutuhan keterampilan di perguruan tinggi. Percaya bahwa harus ada banyak jalur untuk
berhasil, tentunya ada cara lain bagi kaum muda untuk mengembangkan karir dan keterampilan
yang relevan dengan pekerjaan. Intinya adalah bahwa perguruan tinggi dan karier sama-sama
penting.

Greeinstein (2012) menjabarkan definisi College and Career Readiness sebagai berikut:
College Readines : memiliki keterampilan akademik, kemampuan, dan sumbangan yang harus
disiapkan untuk pendidikan pasca-sekolah menengah
Career Readiness: memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kualitas untuk berhasil dalam karier.
College Readiness akan mempengaruhi kesiapan siswa memasuki perguruan tinggi. Sisw
yang lebih siap untuk memasuki pendidikan tinggi memiliki kemampuan penyesuaian diri yang
lebih baik daripada mahasiswa yang belum siap memasuki pendidikan tinggi. Kesiapan tersebut
dapat berupa informasi yang dimilikinya mengenai bagaimana sistem perkuliahan, informasi
mengenai perguruan tinggi dan jurusan yang akan dimasukinya serta kesiapan mental mahasiswa
tersebut untuk menghadapi berbagai perbedaan antara sekolah dan kuliah.
Keterampilan di tempat kerja pada abad ke-21 sedang berubah, namun pola pikir dan
kepekaan tertentu diperlukan untuk mencapai kesuksesan dalam hidup. Orang selalu dan akan
terus diharapkan untuk bekerja dengan orang lain, berkomunikasi dengan sukses, dan
menyelesaikan tugas yang ditugaskan. Tentu saja globalisasi dan teknologi memiliki efek
mendalam pada keterampilan yang dibutuhkan di tempat kerja. Profesi yang muncul, khususnya
dalam pekerjaan berbasis informasi membutuhkan keterampilan yang berbeda dan melakukan
pekerjaan yang lebih tradisional. Pengusaha akan mencari pekerja yang menunjukkan penguasaan
keterampilan abad ke-21: mereka yang dapat menggunakan teknologi untuk suatu tujuan,
memecahkan masalah, berinovasi, berpikir kritis dan termotivasi untuk mencapai. komunikasi dan
kolaborasi sangat penting. Orang yang dapat berkontribusi ke tempat kerja melalui manajemen
waktu tanggung jawab dan orientasi tujuan akan menjadi yang paling sukses.
Keterampilan kerja adalah aspek penting dalam memastikan lulusan yang berkualitas
dipekerjakan. Lulusan teknis semata-mata bergantung pada kredensial akademik mereka untuk
mendapatkan pekerjaan namun kekurangan non-teknis kompetensi keterampilan atau lebih dikenal
sebagai keterampilan kerja. Situasi ini menciptakan ketidakpuasan dan menjadi masalah utama
bagi pengusaha untuk memilih kandidat yang tepat untuk jabatan tertentu. Namun, pilihan karier
oleh siswa harus tepat dan cocok karena karier adalah pengalaman kerja yang mempengaruhi gaya
hidup dan kesejahteraan (Jaafar, Zakaria, & Rasheid, 2018). Siswa dengan keterampilan kerja akan
dapat beradaptasi dengan semua jenis pekerjaan dan keserbagunaan. Lulusan siswa dari lembaga
pendidikan tidak memiliki pasar tenaga kerja karena siswa tidak memiliki keterampilan lunak dan
keterampilan kerja.
a. Cara Mengembangkan
 catatan akademik
 contoh karya terbaik
 refleksi siswa tentang kekuatan dan bidang untuk perbaikan
 pemilihan kursus yang selaras dengan tujuan, keterampilan dan minat
 inventaris bunga dan penilaian diri
 penetapan tujuan (goals setting)
 rencana aksi untuk kesuksesan akademik
 eksplorasi karir (Career exploration)
 postsecondary planning
 magang dan bimbingan (Internship and mentoring)
b. Cara Mengukur
Tambahin rubrik greenstein
DAFTAR PUSTAKA
Center for Civic Education.1994. National Standard for Civics and Government, p. 127-135.
Chapin, J. R. & Rosemary G. M. 1989. Elementary social studies: A practical guide, second
edition. New York: Longman.
Cholisin. 2003. PPKn paradigma baru dan pengembangannya dalam KBK. Makalah
Disampaikan pada Training of Trainer (ToT) Guru SLTP Mata Pelajaran PPKn, di
Surakarta.
ERIC (The Education Resources Information Center), 2006, Principles and Practices of
Democracy in the Education of Social Studies Teacher : Civic Learning in Techer
Education, Volume 1.,p.41.
Greenstein, L. 2012. Assessing 21st Century Skills: A Guide to Evaluating Mastery and
Authentic Learning. California: Corwin Press
Jaafar, S. N., Zakaria, N., & Rasheid, N. A. (2018). Career Choice and Employability Skills
for Vocational College Students Career Choice and Employability Skills for Vocational
College Students.
Kirschenbaum, H. 1995. 100 ways to enhance values and morality in schools and youth
settings. Massachusetts: Allyn & Bacon.
Punaji Setyosari. 2006. Belajar berbasis masalah (Problem basaed learning). Makalah
disampaikan dalam pelatihan dosen-dosen PGSD FIP UNY di Malang.
Udin S dan Dasim Budimansyah. 2007. Civic Education (Konteks, Landasan, Bahan Ajar, dan
Kultur Kelas. Bandung: Program Studi Pendidikan Kewarganegaraan Sekolah
Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia.