Anda di halaman 1dari 8

Novel sejarah: Lelaki di Tengah Hujan, Karya Wenri Wanhar.

Novel yang mengisahkan


perjuangan aktivis ’98 yang berusaha untuk menumbangkan rezim totaliter-diktator Soeharto.
“Bunda, relakan darah juang kami. Untuk membebaskan rakyat”
– John Tobing (Darah Juang)
“Lelaki di Tengah Hujan” merupakan novel sejarah yang mengisahkan perjuangan para
aktivis ’98 yang tengah berusaha berjuang mati-matian membangun basis massa untuk dapat
menumbangkan rezim totaliter-diktator Soeharto. Dalam novel tersebut, awalnya
mengisahkan kisah hidup Bujang Parewa -tokoh utama dalam cerita- salah satu aktivis yang
tertangkap karena kasus bom di rusun – rumah susun – Tanah Tinggi, Senen-Jakarta Pusat.
Bujang Parewa adalah aktivis ’98 yang pada waktu itu tercatat sebagai mahasiswa
UNS (Universitas Sebelas Maret). Ia berkecimpung menjadi salah seorang aktivis berkat
perkenalannya yang tidak sengaja dengan salah satu seniornya di UNS bernama Eka
Sulastri dan kemudian ia bergabung dengan kelompok diskusi IMS (Ikatan Mahasiswa
Solo), dari situlah petualangannya dalam dunia pergerakan untuk menumbangkan rezim orde
baru dimulai.
Dari perkenalnya dengan Eka dan tergabung ke dalam IMS, kemudian berlanjut berkenalan
dengan Joni Trotoar – salah seorang mahasiswa dari UGM yang juga merupakan anggota
dari SMY (Solidaritas Mahasiswa Yogyakarta) – seiring berjalannya waktu, mereka
membangun basis massa perjuangan mahasiswa secara nasional yang kemudian dikenal
dengan sebutan nama SMID (Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi) – yang
kemudian kelak organisasi tersebut diketahui berafiliasi dengan salah satu partai yang
dilarang di jaman orba, yaitu PRD.
Basis massa nasional ini terbentuk Sebab, musuh mereka pada waktu itu adalah negara, maka
perlu dibentuk basis massa bersakala nasional yang tidak hanya melibatkan mahasiswa,
melainkan masyarakat secara luas dan multi sektor -petani, buruh, seniman-budayawan dan
perempuan- yang memiliki kerja politik yang jelas, agar mampu menumbangkan rezim Orde
Baru yang dipimpin Soeharto yang dinilai fasis-totaliter.
Masa-masa sulit mereka jalani. Suasana tegang dan mencengkam ada dimana-mana.
Penculikan, penyiksaan, pelarian (buron) dan tindakan represif mereka alami semua. Salah
satu contohnya adalah Wiji Thukul yang hilang sebab hanya karena berpuisi -yang menurut
negara bait-bait puisinya dinilai mengandung provokasi untuk subversif.

JALAN CERITA YANG KOMPLEKS


Novel ini menyajikan alur cerita yang penuh dengan ketegangan. Tokohnya banyak yang
menjadi pelarian dari kejaran aparat yang represif. Sebab seperti yang kita tahu bahwa pada
waktu itu – dimana Soeharto berkuasa – siapapun yang berani mengkritik semua
kebijakannya, esok harinya akan hilang. Hal itu dilakukan dengan dalih keamanan serta
kestabilan negara. Pengejaran, penculikan, pembungkaman dengan berbagai macam cara
dilakukan.
Bagi mereka yang membaca novel ini secara detail, pasti akan merasa kebingunan terkait
masalah alur cerita. Sebab, mungkin awalnya Bujang Parewa adalah tokoh pelaku utama
dalam novel ini. Tetapi ketika sudah masuk ke dalam pertengahan novel, kita akan dibuat
bingung perihal jalannya cerita.
Karena ada banyak tokoh yang mengambil peran dalam cerita tersebut, sehingga seakan-akan
Parewa hanyalah tokoh sampingan belaka. Namun itulah yang menjadi daya tarik bagi novel
tersebut, “Lelaki di Tengah Hujan“. Alur ceritanya sulit untuk ditebak.
Namun terlepas dari itu semua, penulis seakan mengajak kita untuk terlibat dalam setiap
ketegangan petualangannya. Tensi cerita yang terus meningkat, gambaran penyiksaan yang
terasa ngilu, dan serangkaian ketengangan lainnya tersaji dengan rapih, apik dan epic. Secara
tidak langsung kita akan tahu bagaimana pada waktu itu Wiji Thukul merasa gelisah karena
kerap dicari oleh aparat yang mencarinya, kawan-kawan PRD atau SMID yang selalu merasa
was-was karena menjadi buron negara karena dituduh subversif, dan perasaan-perasaan
lainnya yang dialami oleh kawan-kawan aktivis ’98.
PERJUANGAN YANG TAK SIA-SIA
Hingga pada akhirnya apa yang selama ini mereka lakukan, mampu menjadi pemantik
terhadap perjuangan rakyat untuk melawan rezim diktator Soeharto dan menumbangkannya.
Serangkaian aksi demonstrasi terjadi dimana-mana. Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk
kekecewaan dan juga terakumulasinya rasa muak terhadap kepemimpinan Soeharto beserta
kroni-kroninya. Ditambah lagi dengan keadaan ekonomi yang pada waktu itu mengalami
inflasi yang cukup tinggi.
Di lain tempat, Parewa beserta kawan-kawan seperjuangan yang lainnya seperti Nazir, Rusdi
dan yang lain tengah mengalami siksaan yang dilakukan oleh ABRI (Angkatan Bersenjata
Republik Indonesia). Meskipun begitu, mereka tidak menyerah dan tetap teguh dengan
keyakinan mereka bahwa suatu saat nanti kemerdekaan sesungguhnya akan terwujud. Dan
penyiksaan adalah konsekuensi dari perjuangan yang mereka lakukan.
Benar saja, pada Mei 1998 tuntutan itu semakin santer terdengar di berbagai daerah. Dan
puncaknya di Jakarta, pada 21 Mei 1998 Soeharto mengumumkan dirinya lengser dari jabat
Presiden. Sontak saja kabar ini menjadi kegembiraan, sebab usaha dan perjuangan mereka
tidak sia-sia. Pengorbanan yang diberikan berupa harta, tenaga, bahkan nyawa pada akhirnya
terbayar sudah. Itulah kesan yang coba diberikan oleh penulis kepada pembaca diakhir cerita.
Bahwa tidak ada usaha yang sia-sia dan gagal jika kita tekun untuk mengusahakannya.
SEMACAM BUKU PANDUAN UNTUK GERAKAN BAWAH TANAH
Saya yang membaca novel ini merasa mendapatkan suatu kesan yang lain. Karena bagi saya,
novel ini tidak hanya sekedar berisikan cerita-cerita, namun lebih dari itu. Jika boleh menilai,
novel ini bukan hanya sekedar karya tulis yang berisikan cerita – yang biasanya berisikan
kisah fiksi belaka – akan tetapi novel ini pun juga berisikan informasi-sejarah, dan juga
berisikan panduan untuk membangun basis massa bawah tanah.
Ya.. seperti itu adanya. Sebab disana nanti, secara tidak langsung kita bakal diberi panduan
bagaimana caranya bertahan hidup selama masa pelarian dari kejaran aparat-negara. Tips
mengenali kawan dalam persembunyian di markas dengan menggunakan berbagai macam
sandi, dan banyak lainnya perihal panduan tersebut. Membaca novel ini sama rasanya kita
menonton cerita action di film-film.
Oh ya, wejangan atau nasihat dalam novel ini yang melekat dalam diri saya – dan juga
sekaligus menjadi tamparan telak bagi kita semua, ‘mungkin’ – Jika kita membela rakyat
tertindas, maka kita harus berbaur secara langsung dengan mereka. Tidur, makan dan
berkumpul bersama mereka, agar kita tahu betul apa yang menjadi keresahan mereka. Seperti
misalnya kita ingin memperjuangkan kehidupan petani. Maka kita harus berbaur, bergaul
bersama mereka. Makan, tidur dan berkerja bersama mereka. Agar supaya kita paham betul
apa yang menjadi keresaha mereka selama ini. Begitulah kira-kira nasihat dari Bujang
Parewa dalam cerita novel tersebut.
Dan saya rasa untuk saat ini jika ditanya novel apa yang recommended untuk dibaca –
khususnya untuk mahasiswa- ya tanpa basa-basi pasti langsung aja dijawab, “Lelaki di
Tengah Hujan”. Begitu kira-kira dari saya.
LELAKI DI TENGAH HUJAN, novel karangan penulis berbakat Henri Wanhar, benar-benar
novel melawan arus. Bahkan saat diluncurkan ke publik, aroma perlawanan novel bercover
hitam ini sudah terlihat dari tiga arus besar yang dilawannya.
Cetakan pertama novel setebal 393 halaman ini adalah awal tahun 2019, bertepatan dengan
tahun politik Pemilihan Presiden (PiIpres). Ini adalah arus pertama yang dilawannya.
Beberapa tahun lalu para pendukung Orde Baru sudah berupaya keras membersihkan dosa
Suharto melalui "Enak jamanku tho." Di tahun politik ini upaya mereka lebih terang-
terangan.
Dikatakan di segala kesempatan oleh anak-anak Suharto beserta pendukung Orde Baru dan
orang-orang di lingkarannya, bahwa reformasi telah gagal. Menurut mereka, satu-satunya
jalan agar bangsa Indonesia makmur lagi adalah, "Orde Baru kembali berkuasa guna
menerapkan prinsif pembangunan ala Suharto."
Cara mengembalikan Orde Baru ke panggung kekuasaan adalah dengan meminta rakyat
Indonesia memenangkan calon Presiden (Capres) yang mereka anggap sebagai personifikasi
Orde Baru Suharto.
Meski Lelaki Di Tengah Hujan tak dimaksudkan untuk menghantam Capres mereka -- karena
naskahnya telah ditulis sejak tahun 1999, dan dijadikan skripsi meraih gelar sarjana oleh
penulisnya di Universitas Bung Karno -- tetapi karena novel ini diterbitkan di tahun politik
Pilpres, akan mengusik arus politik yang digulirkan para Suhartois. Implikasinya Capres yang
mereka usung dapat saja terjungkal. Sebab, isi novel Henri Wanhar, adalah cerita perjuangan
aktivis mahasiswa melawan Orde Baru Suharto yang kejam dan korup.
Arus kedua yang dihadapi novel yang berangkat dari kisah nyata aktivis mahasiswa era 90-
an, adalah arus kekinian. Novel yang sekarang laris manis di pasaran adalah yang
menceritakan remaja pacaran naik motor. Novel asmara yang memuat kata-kata bijak
penyemangat jomblo patah hati, serta novel yang menuturkan perjalanan cinta sepasang
kekasih yang jumpa pertama saat kuliah di luar negeri.
Aroma Lelaki Di Tengah Hujan tak seringan itu. Namun novel ini percaya diri menyeruak di
tengah-tengah novel kekinian. Tampil sebagai bacaan yang pantas dilirik karena
menyodorkan cita rasa berbeda, sekaligus lebih heroik dibanding perjuangan memikat lawan
jenis yang sejatinya dialami semua orang di dunia.
Berikutnya yang dilawan Lelaki Di Tengah Hujan adalah arus sejarah. Hingga hari ini publik
hanya paham gerakan reformasilah yang menumbangkan Suharto. Pola pikir ini dikuatkan
pula oleh para pelaku reformasi yang melekatkan brand image "aktivis 98" kepada dirinya.
Reformasi bukanlah sebuah peristiwa tunggal yang berdiri sendiri dan muncul tiba-tiba.
Gerakan ini adalah puncak dari rentetan peristiwa sebelumnya. Peristiwa pra reformasi justru
lebih mematikan karena bermaksud menurunkan Suharto yang power full. Upaya tiada henti
para aktivis pra reformasi, membuat kekuatan Suharto perlahan-lahan melemah dan
kemudian menjadi musuh bersama rakyat Indonesia.
Suharto akhirnya tumbang dari kekuasan yang dipegangnya selama 32 tahun. Peristiwa inilah
yang disebut gerakan reformasi. Para pelakunya jadi ngetop. Beberapa pesohor itu lantas
memanfaat reputasinya yang "berani melawan Suharto" sebagai modal bertarung di arena
politik praktis masa kini. Mereka juga kerap tampil sebagai narasumber utama acara debat di
televisi yang membahas reformasi.
Perjuangan segelintir aktivis mahasiswa pra reformasi, memang tak banyak diketahui
publik karena memang minim informasi tentang mereka. Bahkan mayoritas "aktivis 98"
malah tak tahu jika perjuangan mereka melawan Suharto yang diujung tanduk, akan tampak
"biasa saja" bila dibandingkan dengan militansi, kecerdasan dan kecerdikan aktivis
mahasiswa pra reformasi melawan Suharto.
***
BUJANG PAREWA, demikian nama tokoh utama novel yang berangkat dari kisah nyata
aktivis mahasiswa pra reformasi yang berani melawan Suharto. Bujang Parewa adalah
mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo. Walau pun almamaternya kerap dijuluki
kampus Orde Baru, Bujang Parewa justru revolusioner, dan ini bertentangan dengan garis
Orde Baru yang mengharuskan semuanya terkendali di genggaman Suharto.
Kendati revolusioner, mahasiswa kelahiran Magelang itu tak gegabah. Ia paham, untuk
melawan Suharto yang didukung terutama oleh ABRI dan Golkar, akan kurang maksimal jika
cuma mengandalkan kekuatan dirinya bersama segelintir aktifis mahasiswa di Solo dan
Yogyakarta. Harus mengajak mahasiswa lain, buruh, rakyat, dan pihak-pihak yang sejalan.
Mengajak mereka melawan Suharto bukan pekerjaan mudah. Butuh pendekatan yang tidak
sebentar. Kekuasaan Suharto begitu kuat mencengkeram bumi pertiwi. Semua orang tahu,
melawan pencipta Orde Baru itu taruhannya nyawa, atau dijebloskan ke penjara dengan
tuduhan makar. Resiko paling ringan digebuki polisi dan tentara.
Dihadapkan pada resiko yang mengerikan, justru mendorong Bujang Parewa dan teman-
temannya sesama aktifis mahasiswa kian cerdas, cerdik, dan tambah militan. Targetnya pun
tak main-main : menumbangkan Suharto.
Bentuk perjuangan mereka juga tambah berwarna. Walau pun aksi mahasiswa tetap menjadi
gerakan andalan mereka, pada saat yang sama mereka memaksimalkan pula peran pers
mahasiswa sebagai kawah pengkaderan dan media informasi untuk menghadapi Suharto
melalui tulisan.
Selanjutnya membentuk kelompok diskusi mahasiswa antar kampus untuk membangun
kepedulian terhadap rakyat korban Orde Baru. Mengorganisir rakyat yang tanahnya digusur.
Serta bergaul akrab dengan buruh pabrik guna menyadarkan mereka tentang hak-hak buruh
yang dirampas pemilik modal yang dilindungi pejabat negara.
Gerakan senyap Bujang Parewa dan teman-temannya membuahkan hasil. Sejumlah
mahasiswa dan rakyat dari sekian latar belakang mulai sadar bahwa, penindasan dan
kemiskinan yang membelenggu mereka merupakan efek langsung dari kebijakan dan gaya
kepemimpinan Suharto yang tidak demokratis, kejam, dan hanya menguntungkan para
pengikut Suharto. Kesadaran itu menumbuhkan keberanian melawan Suharto. Ada yang
mereflesikan keberaniannya dengan demostrasi, melalui pertunjukan teater dan masih banyak
lagi.
Suharto tahu mahasiswa dan rakyat mulai bergejolak. Untuk meresponnya, Suharto bukan
mengeluarkan kebijakan guna meningkatkan kesejahteraan rakyat dan memperbaiki
demokrasi. Suharto justru melakukan segala tindakan untuk meredam aksi-aksi rakyat dan
mahasiswa. Suharto tak peduli walau pun tindakannya melanggar HAM.
Keberingasan Suharto memunculkan sudut pandang baru di benak Bujang Parewa dan teman-
teman seperjuangannya. Untuk menghadapi Suharto, tak cukup dengan aksi-aksi di daerah.
Mereka harus membangun gerakan tersentral bersifat nasional yang didukung petani, buruh,
nelayan, rakyat miskin, seniman, dan elemen mahasiswa di berbagai kota di tanah air.
Bujang Parewa dan teman-teman lalu mendirikan Partai Rakyat Demokratik (PRD) beserta
sejumlah organisasi di bawahnya. Di mata Suharto dan pendukungnya, kehadiran PRD
merupakan pelanggaran tak termaafkan. Sesuai peraturan, hanya Golkar, PPP dan PDI yang
boleh ada. Haram muncul Parpol lain.
Sejak saat itulah, segala peristiwa politik di tanah air, selalu dikaitkan-kaitkan dengan PRD.
Mereka dituduh dalang kerusuhan, subversif, dan dicap PKI. Parewa dan teman-temannya,
diburu aparat keamanaan.
Di persembunyian, Bujang Parewa dan teman-temannya, masih berjuang. Selain melancarkan
gerakan bawah tanah untuk menumbangkan Suharto, mereka juga menyiapkan puluhan bom
yang hendak diledakan di pusat kekuasaan. Tapi naas, bom itu malah meledak di markas
mereka. Meledak sebelum waktunya. Meledak sebelum diledakan.
Markas mereka di rumah susun Tanah Tinggi, Jakarta Pusat, berantakan. Bujang Parewa
tertangkap. Setelah diamuk massa, ia disiksa aparat, lalu dijebloskan ke penjara dan
mendapat siksaan yang lebih pedih.
Beberapa waktu kemudian, teman Bujang Parewa ada yang tertangkap dan juga disiksa.
Namun semangat juang Bujang Parewa dan para sohibnya tak pernah padam. Di penjara, para
aktifis mahasisawa itu berteman dengan napi-napi kasus kriminal, lalu memberikan
pendidikan politik untuk mereka.
Di luar penjara, teman-teman Bujang Parewa yang tak tertangkap, terus bergerak. Aksi
mahasiswa tambah meluas dan mendapat dukungan dari tokoh-tokoh nasional. Suharto
akhirnya lengser. Sejarah kemudian mencatat peristiwa ini sebagai reformasi.
Tumbangnya Suharto disambut gegap gempita oleh segenap rakyat Indonesia, dan bahkan
dunia Internasional. Orde Baru telah terkubur. Digantikan Orde Reformasi yang lebih
menjanjikan masa depan. Para pelalu reformasi dielu-elukan karena dianggap berjasa besar.
Masih di suasana eforia reformasi, dalam sebuah persidangan di bulan November 1998,
Bujang Parewa divonis bebas. Menyusul temannya yang lebih dulu dibebaskan. Malamnya
para tahanan menggelar acara perpisahan untuknya. Pagi harinya Bujang Parewa keluar dari
penjara. Semua tahanan berkumpul di lorong-lorong dan berteriak, "Selamat jalan tahanan
politik terakhir!"
Di luar penjara, ternyata tak seorang pun menyambutnya. Tak ada sorotan kamera wartawan.
Hanya hujan lebat yang menyongsong kebebasannya. Bujang Parewa tak hendak berteduh. Ia
terus melangkah dalam dekapan hujan.

***
LELAKI DI TENGAH HUJAN memang novel yang menarik. Kita disodorinya pelajaran
tentang setia kawan, setia pada cita-cita perjuangan, konsistensi untuk meraihnya, dan
pelajaran berharga lainnya tanpa kita merasa digurui. Penyajian cerita melalui bahasa yang
mudah dipahami, juga menjadi kekuatan yang menambah bobot novel ini.
Latar belakang kisah yang terjadi pada tahun 1990-an juga memahamkan kita tentang situasi
sosial dan politik yang terjadi di Indonesia kala itu. Kita juga jadi tahu, ternyata Bujang
Parewa dan teman-temannya adalah yang pertama kali meneriakan Megawati for President.
Bukan orang-orang PDIP. Bujang Parewa dkk juga memberi andil signifikan bagi
terbentuknya PDIP. Bahkan Megawati pernah mendapat PRD Award. Semua ini tentu
pengetahuan baru bagi kita karena PDIP sekarang merupakan Parpol terbesar di Indonesia.
Bila cita-cita perjuangan Bujang Parewa dan teman-temannya kita lihat dari situasi saat ini,
akan jelas terlihat cita-cita mereka berhasil. Saat ini buruh, petani, nelayan dan wartawan,
boleh mendirikan organisasi di luar organisasi yang dulu diciptakan Orde Baru. Fraksi TNI
tak ada lagi di DPR, dan TNI tak boleh menduduki jabatan sipil.
Melalui perjuangan Bujang Parewa dan teman-temannya pula, sekarang siapa pun boleh
mendirikan Parpol. Indonesia yang dulu sentralistik, sekarang menganut otonomi daerah.
Presiden dipilih langsung oleh rakyat, bukan lagi dipilih MPR. Masa jabatan Presiden sudah
dibatasi. Kini pers memiliki kebebasan yang dijamin UU, dan breidel pers tak ada lagi.
Rakyat boleh mengkritik pemerintah, dan tak bakal diancam pasal menggulingkan
pemerintah.
Lantaran keberhasilan itulah, maka akan tampak nyata, era Bujang Parewa dan teman-
temannya dengan era anak milenial sekarang, sangat berbeda, bahkan bertolak belakang. Ini
dapat dianalogikan : jika dulu Presiden Suharto gemar menuduh rakyat yang berani
melawannya sebagai PKI, hari ini justru rakyat yang berani menuduh Presiden Jokowi
sebagai PKI. (Dua tuduhan yang sama-sama hoax).
Perbedaan situasi itu, juga memungkinkan tak akan pernah ada lagi sosok seperti Bujang
Parewa dan teman-temannya. Inilah kenapa novel ini pantas difilmkan. Agar bangsa ini tahu
ada peristiwa mengagumkan yang tak pernah dicatat sejarah. Tetapi bangsa ini dapat
mengadopsi semangat juang pelakunya dan mewarisi keberanian mereka melawan arus
jaman. (Ahyar Stone)
TUGAS BAHASA INDONESIA
NOVEL SEJARAH

OLEH :

AKBAR

KELAS : XII. TSM

SMK NEGERI 4 RAMBAH


2020