Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Pada sistem reproduksi terdapat masalah-masalah kesehatan yang dapat menjadi penyulit
dalam persalinan, antara lain adalah kelainan letak kehamilan, kehamilan ganda,
hiperemesis gravidarum dan termasuk ketuban pecah dini. Salah satu dari masalah
reproduksi yang dapat berpengaruh terhadap kehamilan dan persalinan adalah ketuban
pecah dini (KPD). Yang sampai saat ini masih banyak ditemukan dikalangan masyarakat
yang mana kejadian tersebut mendekati 10% dari semua persalinan.
Menurut World Health Organization (WHO) pada tahun 2010, memperkirakan angka
kematian Ibu lebih dari 300-400/100.000 kelahiran hidup, yang disebabkan oleh
perdarahan 28%, ketuban pecah dini 20%, eklampsia 12%, abortus 13%, partus lama
18%, dan penyebab lainnya 2%. Angka kematian Ibu di Indonesia masih yang tertinggi
di ASEAN, yaitu 230/100.000 kelahiran hidup. Sedangkan Negara-negara lain seperti
Vietnam 130/100.000 kelahiran hidup, Filipina 200/100.000 kelahiran hidup, Malaysia
41/100.000 kelahiran hidup, Singapura 15/100.000 kelahiran hidup.
Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum terdapat tanda-tanda persalinan
dan ditunggu satu jam sebelum dimulainya tanda persalinan. Ketuban pecah
dini merupakan penyebab terbesar persalinan premature dengan berbagai akibatnya.
Insidensi ketuban pecah dini terjadi 10% pada semua kehamilan. Pada kehamilan aterm
insidensinya bervariasi 6-19%, sedangkan pada kehamilan preterm insidensinya 2% dari
semua kehamilan. Hampir semua ketuban pecah dini pada kehamilan preterm akan lahir
sebelum aterm atau persalinan akan terjadi dalam satu minggu setelah selaput ketuban Commented [L1]: Alinea setiap paragraf di bedakan di awal
kalimat (teknik penulisan paper)
pecah. 70% kasus ketuban pecah dini terjadi pada kehamilan cukup bulan, sekitar 85%
Tambahkan fenomena KPD di aceh, aceh barat dan rs cut nyak
morbiditas dan mortalitas perinatal disebabkan oleh prematuritas, ketuban pecah dini dhien.
Uraikan masalah KPD kenapa sering terjadi?
berhubungan dengan penyebab kejadian prematuritas dengan insidensi 30-40%. Referensi dari mana

1
1.2 Tujuan

1.2.2 Tujuan Umum


Mahasiswa mampu memahami tentang ketuban pecah dini dan mampu memberikan
asuhan keperawatan pada klien tersebut dalam kegawat daruratan.
1.2.3 Tujuan khusus
Mahasiswa mampu :
1. Memahami tentang definisi ketuban pecah dini
2. Memahami tentang etiologi ketuban pecah dini
3. Memahami tentang patofisiologi ketuban pecah dini
4. Memahami tentang manifestasi ketuban pecah dini
5. Memahami tentang komplikasi ketuban pecah dini
6. Memahami tentang penatalaksanaan ketuban pecah dini
7. Memberikan asuhan keperawatan pada klien dengan ketuban pecah dini

BAB II

TINJAUAN KASUS

2
A. konsep Dasar Teori

1. Pengertian

Ketuban Pecah Dini adalah pecahnya selaput ketuban sebelum ada tanda-tanda
persalinan.
Ketuban pecah dini merupakan penyebab terbesar persalinan prematur dengan bagai
akibatnya. Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum terdapat tanda
persalinan dan ditunggu satu jam sebelum dimulainya tanda persalinan. Waktu sejak
ketuban sampai terjadi kontraksi rahim disebut “kejadian ketuban pecah dini” (periode
laten).
Kejadian ketuban pecah dini mendekati 10% dari semua persalinan. Pada umur
kehamilan kurang dari 34 minggu, kejadiannya sekitar 40%. Sebagian dari ketuban pecah
dini mempunyai periode laten melebihi satu minggu. Early ruptura of membran adalah
ketuban pecah pada fase laten persalinan. (Ana Ratnawati, 2017)
Sebagian besar ketuban pecah dini adalah hamil aterm diatas 37 minggu, sedangkan
dibawah 36 minggu tidak terlalu banyak.(ida bagus Gde Manuaba, 2001)

2. Etiologi

Penyebab ketuban pecah dini mempunyai dimensi multifaktorial yang dapat dijabarkan
sebagai berikut : (ida bagus Gde Manuaba, 2001)

1. Serviks inkompeten
2. Overdistansi uterus
3. Faktor keturunan
4. Pengaruh dari luar yang melemahkan ketuban
5. Masa interval sejak ketuban pecah sampai terjadi kontraksi disebut phase latent
6. Sebab umum ketuban pecah dini

3
7. Mekanisme ketuban pecah dini

3. Tanda dan Gejala

Manifestasi klinis untuk KPD, yaitu : (Ana Ratnawati, 2017)


a. Keluar air ketuban warna putih keruh, jernih, kuning, hijau atau kecoklatan b. Dapat
disertai demam bila sudah ada infeksi
c. Janin mudah diraba
d. Para periksa dalam selaput ketuban tidak ada, air ketuban sudah kering.
e. Inspekulo, tampak air ketuban mengalir atau selaput ketuban tidak ada atau kering

4. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang pada KPD, yaitu : (Ana Ratnawati, 2017)


a. Pemeriksaan leukosit darah > 15.000/l bila terjadi infeksi
b. Tes lakmus merah berubah menjadi biru
c. Amniosentris
d. USG, menentukan usia kehamilan, indeks cairan amnion berkurang

5. patofisiologi

Infeksi dan inflamasi dapat menyebabkan ketuban pecah dini dengan menginduksi
kontraksi uterus dan atau kelemahan fokal kulit ketuban . Banyak mikroorganisme
servikovaginal, menghasilkan fosfolipid C yang dapat meningkatkan konsentrasi secara
local asam arakidonat, dan lebih lanjut menyebabkan pelepasan PGE2 dan PGF2 alfa dan
selanjutnya menyebabkan kontraksi miometrium . Pada infeksi juga dihasilkan produk
sekresi akibat aktivitas monosit/makrofag , yaitu sitokrin, interleukin 1 , factor nekrosis
tumor dan interleukin 6. Platelet activating factor yang diproduksi oleh paru-paru janin
dan ginjal janinyang ditemukan dalam cairan amnion , secara sinergis juga mengaktifasi
pembentukan sitokin. Endotoksin yang masuk kedalam cairan amnion juga akan

4
merangsang sel-sel disidua untuk memproduksi sitokin dan kemudian prostaglandin yang
menyebabkan dimulainya persalinan.
Adanya kelemahan local atau perubahan kulit ketuban adalah mekanisme lain terjadinya
ketuban pecah dini akibat infeksi dan inflamasi . Enzim bacterial dan atau produk host
yang disekresikan sebagai respon untuk infeksi dapat menyebabkan kelemahan dan
rupture kulit ketuban .Banyak flora servikoginal komensal dan patogenik mempunyai
kemampuan memproduksi protease dan kolagenase yang menurunkan kekuatan tenaga
kulit ketuban.Elastase leukosit polimorfonuklear secara spesifik dapat memecah kolagen
tipe III papa manusia, membuktikan bahwa infiltrasi leukosit pada kulit ketuban yang
terjadi karena kolonisasi bakteri atau infeksi dapat menyebabkan pengurangan kolagen
tipe III dan menyebabkan ketuban pecah dini.
Enzim hidrolitik lain , termasuk katepsin B , katepsin N, kolagenase yang dihasilkan
netrofil dan makrofag , nampaknya melemahkan kulit ketuban . Sel inflamasi manusia
juga menguraikan aktifator plasminogen yang mengubah plasminogen menjadi plasmin ,
potensial , potensial menjasi penyebab ketuban pecah dini.

Pathway

5
6. Penatalaksanaan

6
A. Pencegahan
1. Obati infeksi gonokokus, klamidi, dan vaginosis bacterial
2. Diskusikan pengaruh merokok selama kehamilan dan dukung untuk mngurangi
3. Motivasi untuk menambah berat badan yang cukup selama hamil
4. Anjurkan pasangan agar menghentikan koitus pada trisemester akhir bila ada faktor
predisposisi.
B. Panduan mengantisipasi : jelaskan pasien yang memiliki riwayat berikut ini saat
prenatal bahwa mereka harus segera melapor bila ketuban peccah.
1. Kondisi yang menyebabkan ketuban pecah dapat mengakibatkan prolaps tali pusat
a. Letak kepala selain vertex
b. Polihdramnion
2. Herpes aktif
3. Riwayat infeksi streptokus beta hemolitiukus sebelumnya
C. Bila ketuban telah pecah
1. Anjurkan pengkajian secara saksama. Upayakan mengetahui waktu terjadinya
pecahnya ketuban
2. Bila robekan ketuban tampak kasar:
a. Saat pasien berbaring terlentang , tekan fundus untuk melihat adanya semburan
cairan dari vagina
b. Basahai kapas asupan dengan cairan dan lakukan pulasan pada slide untuk mengkaji
ferning dibawah mikroskop.
c. Sebagian cairan diusapkan kekertas Nitrazene. Bila positif, pertimbangkan uji
diagnostik bila pasien sebelumnya tidak melakukan hubungan seksual tidak ada
perdarahan dan tidak dilakukan pemeriksaan pervagina menggunakan jeli K-Y.
3. Bila pecah ketuban dan / atau tanda kemungkinan infeksi tidak jelas, lakukan
pemeriksaan pekulum steril.
a. Kaji nilai bishop serviks (lihat Nilai Bishop, tabel 5-2).

7
b. Lakukan kultur serviks hanya bila ada tanda infeksi.
c. Dapatkan spesimen cairan lain dengan lidi kapas steril yang dipulaskan pada slide
untuk mengkaji ferning dubawah mikroskop.
4. Bila usia gestasi kurang dari 37 minggu atau pasien terjangkit herpes Tipe 2, rujuk
ke dokter.
D. Penatalaksanaan konservatif
1. Kebanyakan persalinan dimulai dalam 24-72 jam setelah ketuban pecah.
2. Kemungkinan infeksi berkurang bila tidak ada alat yang dimasukan kevagina ,
kecuali spekulum steril ; jangan melakukan pemeriksaan vagina.
3. Saat menunggu , tetap pantau pasien dengan ketat.
a. Ukur suhu tubuh empat kali sehari ; bila suhu meningkatkan secara signifikan, dan /
atau mencapai 380 C , berikan macam antibiotik dan pelahiran harus
diselesaikankan.
b. Observasi rabas vagina : bau menyengat menyengat, purulen atau tampak
kekuningan menunjukan adanya infeksi.
c. Catat bila ada nyeri tekan dan iritabilitas uterus serta laporkan perubahan apa pun
E. Penatalaksaan agresif
1. Jel prostaglandin atau misoprostol (meskipun tidak disetujui penggunaannya) dapat
diberikan setelah konsultasi dengan dokter
2. Mungkin dibutuhkan rangkaian induksi pitocin bila serviks tidak berespons
3. Beberapa ahli menunggu 12 jam untuk terjadinya persalinan. Bila tidak ada tanda,
mulai pemberian pitocin
4. Berikan cairan per IV , pantau janin
5. Peningkatan resiko seksio sesaria bila induksi tidak efektif.
6. Bila pengambilan keputusan bergantung pada kelayakan serviks untuk di indikasi,
kaji nilai bishop (lihat label 5-2) setelah pemeriksaan spekulum. Bila diputuskan
untuk menunggu persalinan, tidak ada lagi pemeriksaan yang dilakukan, baik

8
manipulasi dengan tangan maupun spekulum, sampai persalinan dimulai atau
induksi dimulai
7. Periksa hitung darah lengka bila ketuban pecah. Ulangi pemeriksaan pada hari
berikutnya sampai pelahiran atau lebih sering bila ada tanda infeksi
8. Lakukan NST setelah ketuban pecah ; waspada adanya takikardia janin yang
merupakan salah satu tanda infeksi
9. Mulai induksi setelah konsultasi dengan dokter bila
(buku obstetric dan ginekologi,2009,geri morgan)

B. Konsep Askep

1.1 PEMERIKSAAN FISIK

1.2.Keadaan umum
o Kesadaran : GCS :13
o Tanda tanda vital :
 TD : 120/80 mmHg
 Pols : 50 x/menit
 RR : 34 x/menit
 Temp : 37,8 0C
1.3.Keadaan khusus
o a. Kepala
o Bentuk kepala : Mesochepal
o Rambut : bersih
o Warna rambut : Hitam tidak beruban
o Kebersihan : Bersih
o Masalah : Tidak ada
o b. Mata

9
o Letak : Simestris
o Konjungtiva : Normal
o Sklera : Normal
o Oedema : Ada
o Jarak pandang : berkunang – kunang
o Masalah : pandangan berkunang-kunang
o c. Hidung
o Bentuk : Simestris
o Secret : Tidak ada
o Penciuman : Normal
o Kebersihan : Bersih
o Masalah : Tidak ada
o d. Telinga
o Letak : Simestris
o Pendengaran : Normal
o Kebersihan : bersih
o Masalah : Tidak ada
o e. Mulut dan gigi
o Mukosa : Lembab
o Bibir : Normal
o Caries : Tidak ada
o Lidah : Bersih
o Masalah : Tidak ada
o f. Leher
o Refleks telan : Normal
o Tiroid : tidak ada pembekakan
o Masalah : Tidak ada

10
o g. Dada
o a. Paru-paru : Inspeksi Pengembangan dada simetris,
o Palpasi : vocal fremitus teraba kanan kiri
o Perkusi : Sonor
o Auskultasi : vesikuler
o b. Jantung : Inspeks ictus kordis tidak tampak
o Palpasi : teraba ictus kordis di SIC V dan VI
o Perkusi : Pekak
o Auskultasi : terdengar bunyi S1 dan S2
o h. Abdomen
o Bentuk : Simestris
o Palpasi :Tidak ada nyeri tekan hepar
o Auskultasi : Peristaltic usus6x/menit
o Perkusi : Tympani
o Masalah : Tidak ada
o i. Genital
o Jenis kelamin : Normal, tidak ada kelainan
o Kateter : tidak ada
o Masalah : tidak ada
o j. Kulit
o Warna : Sianosis
o Turgor : Baik
o Kebersihan : Bersih
o Masalah : Sianosis
o k. Ekstremitas
o Atas : Terpasang infus NaCl 0,9 % di tangan dextra
o Bawah : Akral dingin,.

11
o Masalah :Akral dingin,. Commented [L2]: Bedakan bullet and numbering dengan sub
judulnya

7. Diagnosa Keperawatan
a) Nyeri akut bd stimulus nyeri
b) Resiko tinggi infeksi bd ketuban pecah dini
c) Ansietas bd kecemasan terhadap keselamatan janin Commented [L3]: Tidak boleh disingkatn katanya

8. Intervensi Keperawatan

Diagnosa Keperawatan Tujuan Intervensi


Nyeri akut bd stimulus Setelah dilakukan tindakan  Kaji skala nyeri
nyeri keperawatan 3x24 jam, dengan PQRST
diharapkan nyeri pasien  Atur posisi
berkurang senyaman
 Skala nyeri mungkin.
berkurang  Ajarkan teknik
 Wajah tidak relaksasi dan
tampak meringis distraksi.
 Pasien tampak  Kolaborasi dengan
tenang dan mampu dokter dalam
beristirahat. pemberian obat
analgetik.
Resiko tinggi infeksi bd Setelah dilakukan  Kaji ada tanda-tanda
ketuban pecah dini tindakan keperawatan infeksi seperti rubor,
3x24 jam diharapkan dolor, color, tumor

infeksi tidak terjadi. dan fungsiolesa.

Dengan kriteri hasil :  Pertahankan tehnik


isolasi.

12
 Tidak terjadi  Cuci tangan
tanda-tanda sebelum atau
infeksi setelah melakukan
 Suhu dan nadi tindakan.
dalam batas  Kolaborasi
normal pemberian obat
antisepstik.
Ansietas bd kecemasan Setelah dilakukan  Kaji tingkat
ibu terhadap keselamatan tindakan keperawatan kecemasan pasien.
janin 3x24 jam diharapkan  Dorong pasien
ansietas dapat teratasi untuk istirahat
Dengan kriteri hasil : total.
 Pasien tidak cemas  Berikan suasana
lagi yang tenang dan
 Pasien sudah ajarkan keluarga
mengetahui untuk memberikan
tentang dukungan
penyakitnya emosional pasien

BAB III

KESIMPULAN

13
A. PENUTUP

Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum terdapat tanda persalinan mulai
dan ditunggu satu jam belum terjadi inpartu. Ketuban pecah dini merupakan suatu masalah
yang harus mendapatkan penanganan yang sesuai dengan prosedur agar tidak terjadi
komplikasi yang tidak diinginkan. Penanganan dapat dilakukan dengan melakukan
pemeriksaan penunjang, yaitu pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan ultrasonografi
(USG). Pemeriksaan laboratorium dilakukan dengan meneteskan air ketuban pada gelas
objek dan dibiarkan kering.Pemeriksaan mikroskopik menunjukkan gambaran daun
psikis. Edangkan pemeriksaan ultrasonografi (USG) dimaksudkan untuk melihat jumlah
cairan ketuban dalam kavum uteri pada kasus KPD terlihat jumlah cairan ketuban yang
sedikit.
B. Saran
Diharapkan semoga dengan Askep Pada Klien Dengan KPD ini yang merupakan
bagian dari Keperawatan dapat bermanfaat bagi kami dan teman-teman dalam
melaksanakan asuhan keperawatan, sehingga perawat mengetahui atau mengerti tentang
gangguan yang berhubungan dengan gangguan integumen pada klien yang mengalami
KPD, Dalam rangka mengatasi masalah resiko pada klien dengan pasien KPD maka tugas
perawat yang utama adalah sering mengobservasi akan kebutuhan klien yang mengalami
KPD.

DAFTAR PUSTAKA

Caraspot, 2010. Proses Keperawatan, Nanda Nic and Noc, Yogyakarta


Masjoer A. 2008 Asuhan Keperawatan Maternitas, Jakarta salemba

14
Sarwono Prawiharjo. 2009. Ilmu Kebidanan. Edisi cetakan II yayasan bina pustaka

Commented [L4]: Mana pengkajiannya ??????


ETIOLOGI di buat sesuai dengan patway
Analisa Data
Paper ASKEP terdiri dari 4 BAB
BAB I PENDAHULUAN
No Data Etiologi Masalah BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB III ASKEP (JUDUL KASUS SEMINAR)
BAB IV PENUTUP

DIAGNOSA NYERI harus ada skala nyeri

15
1. S: pasien mengatakan Stimulus nyeri Nyeri akut
nyeri dirasakan di
bagian perut bagian
bawah nyeri dirasakan
seperti tertusuk
O:
 Wajah tampak
meringis,
mengusap
pinggang dan
menahan
kesakitan
 Skala nyeri 7
 TD : 120/80
 RR: 34x/m
 HR: 50x/m

2. S: pasien mengatakan Ketuban pecah dini Resiko infeksi


badannya terasa panas
dan mengigil.
O:
 T: 37,8 C
 RR:34x/m
 HR: 50x/m
 Akral panas

16
3. S: pasien mengatakan Kecemasan terhadap Ansietas
cemas terhadap keselamatan bayinya
keselamatan bayinya
O:
 Pasien tampak
cemas
 Pasien tidak
mengetahui
penyakitnya

Diagnosa Keperawatan
1) Nyeri berhubungan dengan adanyan stimulus nyeri
2) Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan ketuban pecah dini
3) Ansietas berhubungan dengan kecemasan ibu terhadap keselamatan janin

Intervensi Keperawatan

17
No Diagnosa Noc Nic
1. Nyeri Tujuan umum :  Kaji skala nyeri
berhubungan Setelah dilakukan tindakan dengan PQRST
dengan stimulus keperawatan 2x24 jam  Atur posisi
nyeri diharapkan gangguan semifowler.
nyaman nyeri klien teratasi  Ajarkan teknik
Dengan kriteria hasil : relaksasi dan
 Klien melaporkan tidak distraksi.
nyeri lagi.  Kolaborasi dengan
 Ekspresi wajah tidak dokter dalam
meringis. pemberian obat
 Skala 0 analgetik
 Akral tidak teraba
panas

2. Resiko tinggi Setelah dilakukan tindakan  Kaji ada tanda-tanda


infeksi bd keperawatan 2x24 jam infeksi seperti rubor,
ketuban pecah diharapkan infeksi tidak dolor, color, tumor

dini terjadi. dan fungsiolesa.

Dengan kriteri hasil :  Pertahankan tehnik

 Tidak terjadi isolasi.

tanda-tanda  Cuci tangan

infeksi sebelum atau

 Suhu dan nadi setelah melakukan

dalam batas tindakan.

normal

18
 Kolaborasi
pemberian obat
antisepstik.
3. Ansietas bd Setelah dilakukan tindakan  Kaji tingkat
kecemasan ibu keperawatan 2x24 jam kecemasan pasien.
terhadap diharapkan ansietas dapat  Dorong pasien
keselamatan bayi teratasi untuk istirahat
Dengan kriteri hasil : total.
 Pasien tidak cemas  Berikan suasana
lagi yang tenang dan
 Pasien sudah ajarkan keluarga
mengetahui tentang untuk memberikan
penyakitnya dukungan
emosional pasien.

19
Implementasi Keperawatan

No Hari/tanggal Diagnosa Implementasi


1 selasa/23/08/19 Nyeri akut  Mengkaji pqrst nyeri pasien.
 P: Nyeri terasa seperti
ditusuk-tusuk
 Q: nyeri dirasakan seperti
hilang timbul
 R: nyeri dirasakan di bagian
perut sebelah kanan
 S: 7
 T: nyeri timbul apabila
menggerakan badan
 Mempertahankan tirah
baring pasien.
 Mengkolaborasi pemberian
terapi medis
2 Selasa/23/08/19 Resiko infeksi  mengkaji ada tanda-tanda
infeksi seperti rubor, dolor,
color, tumor dan
fungsiolesa.
 mempertahankan tehnik isolasi.
 mencuci tangan sebelum
atau setelah melakukan
tindakan.

20
 mengkolaborasi pemberian
obat antisepstik.
3 Selasa/23/08/19 Ansietas  mengkaji tingkat kecemasan
pasien.
 mendorong pasien untuk
istirahat total.
 memberikan suasana yang
tenang dan mengajarkan
keluarga untuk memberikan
dukungan emosional pasien
1 Rabu, 24/08/2019 Nyeri akut  Mengkaji pqrst nyeri pasien.
 P: Nyeri terasa seperti
ditusuk-tusuk
 Q: nyeri dirasakan seperti
hilang timbul
 R: nyeri dirasakan di bagian
perut sebelah kanan
 S: 5
 T: nyeri timbul apabila
menggerakan badan
 Mempertahankan tirah
baring pasien.
 Mengkolaborasi pemberian
terapi medis
2 Rabu, 24/08/2019 Resiko infeksi  mengkaji ada tanda-tanda
infeksi seperti rubor, dolor,

21
color, tumor dan
fungsiolesa.
 mempertahankan tehnik isolasi.
 mencuci tangan sebelum
atau setelah melakukan
tindakan.
 mengkolaborasi pemberian
obat antisepstik.
3 Rabu, 24/08/2019 ansietas  mengkaji tingkat kecemasan
pasien.
 mendorong pasien untuk
istirahat total.
 memberikan suasana yang
tenang dan mengajarkan
keluarga untuk memberikan
dukungan emosional pasien
1 Kamis,25/08/2019 Nyeri akut  Mengkaji pqrst nyeri pasien.
 P: Nyeri terasa seperti
ditusuk-tusuk
 Q: nyeri dirasakan seperti
hilang timbul
 R: nyeri dirasakan di bagian
perut sebelah kanan
 S: 3
 T: nyeri timbul apabila
menggerakan badan

22
 Mempertahankan tirah
baring pasien.
 Mengkolaborasi pemberian
terapi medis
2 Kamis,25/08/2019 Resiko infeksi  mengkaji ada tanda-tanda
infeksi seperti rubor, dolor,
color, tumor dan
fungsiolesa.
 mempertahankan tehnik isolasi.
 mencuci tangan sebelum
atau setelah melakukan
tindakan.
 mengkolaborasi pemberian
obat antisepstik.
3 Kamis,25/08/2019 Intoleransi aktivitas  mengkaji tingkat kecemasan
pasien.
 mendorong pasien untuk
istirahat total.
 memberikan suasana yang
tenang dan mengajarkan
keluarga untuk memberikan
dukungan emosional pasien

23
Catatan Perkembangan

No Hari/Tanggal Diagnosa Evaluasi


1. Selasa/23/08/19 Nyeri akut S: pasien mengatakan masih terasa
nyeri di bagian bawah perut
O:
 Wajah tampak meringis,
mengusap pinggang dan
menahan kesakitan
 Skala nyeri 7
 TD : 130/80
 RR: 28x/m
 HR: 62x/m
 Terpasang inf. Rl 20 tts/m
A : masalah teratasi sebagian
P : lanjutkan intervensi.
2. Selasa/23/08/19 Resiko infeksi S: pasien mengatakan badannya masih
terasa panas
O:
 T: 37,7 C
 RR:28x/m
 HR: 62x/m
 Akral panas
 Terpasang inf. Rl 20 tts/m
A : masalah teratasi sebagian
P : lanjutkan intervensi.

24
3. Selasa/23/08/19 ansietas S: pasien mengatakan cemas masih
ada
O:
 Pasien tampak tidak tenang
 Terpasang inf. Rl 20 tts/m
A : masalah teratasi sebagian
P : lanjutkan intervensi
1. Rabu, 24/08/2019 Nyeri akut S: pasien mengatakan masih terasa
nyeri di bagian bawah perut
O:
 Wajah tampak tenang
 Skala nyeri 5
 TD : 120/80
 RR: 22x/m
 HR: 60x/m
 Terpasang inf. Rl 20 tts/m
A : masalah teratasi sebagian
P : lanjutkan intervensi.
2 Rabu, 24/08/2019 Resiko infeksi S: pasien mengatakan badannya masih
terasa hangat
O:
 T: 37,5 C
 RR:22x/m
 HR: 60x/m
 Akral hangat
 Terpasang inf. Rl 20 tts/m
A : masalah teratasi sebagian
P : lanjutkan intervensi.

25
3 Rabu, 24/08/2019 Ansietas S: pasien mengatakan cemas sudah
berkurang
O:
 Pasien tampak tenang
 Pasien sudah mengetahui
penyakitnya
 Terpasang inf. Rl 20 tts/m
A : masalah teratasi sebagian
P : lanjutkan intervensi

1 Kamis,25/08/2019 Nyeri akut S : pasien mengatakan nyeri sudah


mulai berkurang
O:
 Wajah tampak tenang
 Skala nyeri 2
 TD : 120/81
 RR: 20x/m
 HR: 62 x/m
 Terpasang inf. Rl 20 tts/m
A : masalah teratasi sebagian
P : lanjutkan intervensi.
2 Kamis,25/08/2019 Resiko infeksi S: pasien mengatakan sudah tidak
terasa hangat
 T: 37,1 C
 RR:20x/m
 HR: 62x/m
 Akral dingin
 Terpasang inf. Rl 20 tts/m
A : masalah teratasi sebagian
P : lanjutkan intervensi.

26
3 Kamis,25/08/2019 Ansietas S: pasien mengatakan cemas sudah
tidak ada
O:
 Pasien tampak tenang
 Terpasang inf. Rl 20 tts/m
A : masalah teratasi
P : intervensi di hentikan

27