Anda di halaman 1dari 5

Bali bergotong royong nyamankan kehidupan para pengungsi Gunung Agung

Kesigapan Pemerintah Provinsi Bali dalam menangani kebutuhan para pengungsi


Gunung Agung mendapat apresiasi dan acungan jempol dari berbagai belahan penjuru
dunia, karena seluruh “stakeholder” dilibatkan untuk bergotong royong membantu
segala kebutuhan para pengungsi.

Sejak ditetapkan status Awas terhadap gunung tertinggi di Pulau Dewata itu,
Pemerintah Provinsi Bali bersama para relawan dan donatur bergotong-royong
membantu segala kebutuhan pengungsi dari Kabupaten Karangasem yang masuk
dalam zona Kawasan Rawan Bencana (KRB).

Mulai dari kebutuhan makanan, minuman, obat-obatan, selimut, matras pengungsi,


perlengkapan bayi, hingga MCK (mandi, cuci, kakus) pun disiapkan untuk pengungsi
yang tersebar di Kabupaten Klungkung, Karangasem, dan Buleleng.

Hal ini dilakukan demi menyelamatkan jiwa para pengungsi dan juga rasa
kemanusiaan dari semua pihak. Kepala Pelaksana BPBD Klungkung, I Putu Widiada
mengatakan semua kebutuhan pengungsi telah terlayani dengan optimal, baik itu
pengungsi di GOR Swecapura maupun pengungsi yang ada di banjar-banjar (dusun).

Dalam mengevakuasi pengungsi Gunung Agung di posko-posko yang telah ditetapkan


Pemerintah Kabupaten Klungkung, BPBD tidak bekerja sendiri, namun dibantu
“stakeholder” (pemangku kepentingan) dari TNI/Polri, Dinas Sosial, Satpol PP, Dinas
Perhubungan, Dinas Kesehatan, Tagana, PLN, PDAM, Dinas Pendidikan, relawan.

Data resmi BNPB terdapat 81.152 jiwa pengungsi saat ini. Tersebar di 405 titik, ini
melebihi perkiraan karena yang memasuki zona berbahaya 9-12 km hanya sekitar
60.000 orang.

Salah seorang pengungsi di GOR Swecapura, Klungkung, Nengah Asih (50), mengaku
sangat diperhatikan pemerintah daerah dan para relawan di posko induk di wilayah
itu, karena hal-hal kecil seperti fasilitas untuk mencuci pakaian pun sudah disiapkan
oleh relawan yang senantiasa dengan tulus ikhlas membantu kebutuhan pengungsi.

Ketersediaan makanan dan minuman juga dirasa mencukupi selama berada di


pengungsian, karena makanan yang disajikan masih memenuhi kebutuhan gizi mereka
sehari-hari seperti nasi, sayur dan lauk ikan atau pun daging ayam yang rutin
dijadwalkan sesuai jam makan yang telah ditentukan.

Dengan tulus ikhlas, para relawan yang bertugas di Dapur Umum setiap hari memasak
untuk para pengungsi di GOR Swecapura yang tidak kenal lelah membungkus ribuan
nasi yang kemudian diberikan kepada para pengungsi yang berada diposko pengungsi
tersebut.

Para pengungsi yang yang ada di GOR Swecapura juga turut dilibatkan dalam
membantu relawan setempat di Dapur Umum setempat.

Seperti Rumah Sendiri

Tidak hanya logistik, pelayanan kesehatan juga terus diberikan kepada pengungsi baik
lansia, anak-anak maupun dewasa.

Dinas Kesehatan Kabupaten Klungkung juga telah memberikan imunisasi kepada


anak-anak pengungsi agar mereka terhindar dari penyakit selama berada di posko
pengungsian yang bersinggungan dengan banyak orang.

Ratusan anak pengungsi asal Kabupaten Karangasem yang berada masing-masing


posko pengungsian di Kabupaten Klungkung juga telah diberikan imunisasi campak
oleh Dinas Kesehatan setempat, agar kekebalan tubuh mereka lebih meningkat dan
tetap terjaga.

Kepala Bidang Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Dinkes Klungkung, Dr Jaya


Putra di Posko Kesehatan GOR Swecapura mengatakan, pemberian imunisasi ini
merupakan hak setiap anak di Indonesia, termasuk pula hak dari anak-anak pengungsi
Gunung Agung yang ada di Klungkung.

Dalam membantu pelayanan kesehatan kepada pengungsi Gunung Agung, Dinas


Kesehatan Klungkung memerintahkan puskesmas terlibat langsung ke ratusan posko
pengungsian untuk mendata dan sekaligus memberikan imunisasi campak kepada
anak-anak pengungsian yang ada di wilayahnya.

Tidak hanya memberikan pelayanan kesehatan kepada anak-anak, petugas kesehatan


di posko-posko pengungsian juga sigap memeriksa kesehatan para lansia yang ada di
tenda pengungsian. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan derajat kesehatan hidup
para pengungsi agar lebih terjamin.

Hal ini tersebut diakui Wayan Ngateg (60), seorang pengungsi yang telah berusia lanjut
mengaku sangat diperhatikan para relawan dan petugas kesehatan selama berada di
pengungsian, sehingga posko pengungsian dirasakan seperti rumah sendiri.

Perhatian relawan dan petugas kesehatan dalam membantu segala kebutuhan para
lansia antara lain memberikan minuman susu kepada pengungsi dan vitamin untuk
menjaga daya tahan tubuh mereka selama berada dipengungsian.
Sebanyak 24 petugas kesehatan di GOR Swecapura dan 60 orang petugas kesehatan di
masing-masing puskesmas juga turut siaga memberikan pelayanan kesehatan kepada
para pengungsi di posko induk itu. Mereka tidak segan-segan memberikan senyuman
kepada pengungsi agar mereka tetap bersemangat berada di pengungsian.

Kesiapan seluruh komponen pemerintahan dan relawan dan para donatur untuk
membantu para pengungsi Gunung Agung ini mendapat pujian dari semua pihak,
karena masyarakat Bali bergotong-royong membantu para pengungsi yang tersebar
pada sebagian daerah di Pulau Dewata.

Terapi Psikologis

Untuk meminimalkan dampak psikologis para pengungsi Gunung Agung selama di


posko pengungsian, Kepolisian Daerah Bali mengerahkan petugasnya secara khusus
untuk menghibur anak-anak agar mereka tidak mengalami trauma selama di
pengungsian.

Anak-anak di Posko Pengungsian GOR Swecapura dengan sangat antusias mengikuti


berbagai perlombaan yang dilakukan para polisi wanita dari Direktorat Lalu Lintas
Polda Bali yang membuat lomba makan kerupuk, lomba lari kelereng, atraksi sulap
dan memperkenalkan Dewi Zebra.

Upaya dilakukan para relawan dari kepolisian ini, menurut Kepala Sub Direktorat
Penegakaan Hukum Direktorat Lalu Lintas Polda Bali AKBP Andy Priastomoagar,
agar anak-anak yang berada di pengungsian merasa nyaman selama berada di posko
setempat, sehingga menekan trauma, bahkan mereka bisa ceria seperti berada di
lingkungan rumahnya sendiri.

Tidak hanya memberikan terapi psikologi di Posko GOR Swecapura, para polisi wanita
ini juga mendatangi tempat pengungsian lainnya dan terus berpindah-pindah ke
sejumlah posko pengungsian yang ada di Tanah Ampo, Kecamatan Manggis, Selat,
Rendang serta lokasi lainnya yang menjadi tempat pengungsian warga.

Kegiatan penanganan trauma para pengungsi itu sudah digelar sejak Selasa (26/9)
dengan menggandeng sejumlah mahasiswa jurusan psikologi dari Universitas Udayana
dan Universitas Dyana Pura Denpasar.

Terapi psikologis kepada anak-anak pengungsian yang dilakukan jajaran kepolisian ini
mendapat apresiasi dari Bupati Klungkung, I Nyoman Suwirta. Apalagi, para
pengungsi juga tidak berpangku tangan, karena mereka mengisi waktu dengan
membuat kerajinan untuk menopang perekonomiannya.
Seorang pengungsi di Posko Griya Cucukan, Desa Selat, Kecamatan Klungkung,
bernama Desak Ayu Sudiantini (35) yang berasal dari Desa Taman Darma, Kecamatan
Selat, Karangasem mengaku selama mengungsi dirinya mengisi waktu luang dengan
membuat kerajinan anyaman bambu untuk menumbuhkan ekonomi keluarga selama
di tempat penampungan sementara.

Anyaman bambu yang dibuatnya itu dibeli oleh pengepul asal Kabupaten Bangli yang
datang dua hari sekali ke pengungsian dengan harga jual perdua biji lumpian itu
seharga Rp10 ribu. Dengan aktivitas menganyam bambu ini sedikit mengurangi rasa
bosan dan tetap semangat mencari penghasilan meskipun tidak berada di rumah.

Hal senada diakui Dewa Komang Sudapertama yang juga tinggal di posko pengungsian
Griya Cucukan. Ia mengaku selama dipengungsian juga melakukan aktivitas
menganyam bambu untuk menambah pendapatan keluarganya selama di pengungsian.

Selain membuat anyaman bambu, ada juga pengungsi asal Dusun Wanasawah, Desa
Muncan, Kabupaten Karangasem, bernama Nyoman Nadiarta yang membuat
kerajinan memahat kayu yang juga sebagai bahan untuk membuat pilar rumah
bermotif khas Bali.

Kepedulian Daerah Lain

Perhatian dan penanganan pengungsi Gunung Agung juga menjadi perhatian serius
dari kabupaten lainnya, seperti Badung. Wakil Bupati Badung, Bali, I Ketut Suiasa,
sempat mengunjungi dan memberikan bantuan kepada warga pengungsi Gunung
Agung asal Kabupaten Karangasem yang berada di Kelurahan Kapal dan Desa
Dalung.

Secara langsung, Suiasa memberikan bantuan sembako kepada pengungsi Gunung


Agung yang ada di daerah itu yang terkumpul dari swadaya murni masyarakat Desa
Adat Kapal. Orang nomor dua di Kabupaten Badung ini mengunjungi para pengungsi
di dua tempat itu sebagai wujud kemanusiaan guna memantau warga “semeton”
Karangasem dari sisi kesehatan, pendidikan dan aspek lain.

Bentuk perhatian Pemkab Badung untuk warga Karangasem ini sebagai wujud
sinergitas, komunikasi serta koordinasi yang baik antara dua pemerintahan yang turut
dibantu tim relawan dari perangkat desa/kelurahan yang juga sudah berjalan baik.

Komitmen Pemkab Badung membantu penanganan pengungsi Gunung Agung ini akan
terus dilakukan secara komprehensif dan menyeluruh demi kemanusiaan. Untuk
pelayanan kesehatan, ditegaskan tim Krama Badung Sehat (KBS) di masing-masing
desa/kelurahan telah siap melakukan pemantauan kesehatan dan memberikan
pelayanan kesehatan ke rumah-rumah (home care).
Di bidang sosial dan tenaga kerja, Pemkab Badung juga sudah siap memediasi, melalui
aparat kelurahan, desa dan desa adat. Bilamana warga Karangasem mau bekerja
sesuai potensi yang dimiliki. Untuk penampungan ternak, Kami sudah meminta
masing-masing kecamatan untuk menyiapkan tempat/pos-pos untuk menampung
ternak masyarakat.

Setiap desa/kelurahan sudah memiliki tim penanganan, yang setiap saat melakukan
verifikasi data dan keluar-masuknya warga pengungsi asal Karangasem, sehingga tidak
ada seorang warga pengungsi yang lepas dari pantauan pemerintah daerah.

Perhatian Pemerintah Kabupaten Badung kepada pengungsi Gunung Agung juga


dibuktikan dengan menyerahkan bantuan uang tunai kepada Pemkab Karangasem
sebesar Rp2,4 miliar untuk memenuhi segala kebutuhan para pengungsi di daerah
setempat.

Tidak hanya Kabupaten Badung, Kabupaten Buleleng pun mengerahkan Satuan Tugas
(Satgas) Penanggulangan Bencana Gunung Agung Kabupaten Buleleng untuk
merelokasi pengungsi ke lokasi yang layak untuk pengungsi di sejumlah kecamatan di
wilayahnya.

Relokasi pengungsi ini telah difokuskan ke gedung dan balai banjar untuk menghindari
pengungsi mengalami sakit, karena di Buleleng akan memasuki musim hujan. Anggota
Satgas Penanggulangan Bencana Gunung Agung, Made Arya Sukerta, mengaku
relokasi itu sangat mendesak karena pengungsian sebelumnya berada di lapangan luas
yang sangat tidak layak apabila hujan turun.

Agaknya, cara gotong royong yang ditunjukkan masyarakat dari beberapa


kabupaten/kota serta kalangan pemerintah dan swasta di Bali untuk membantu para
pengungsi merupakan cara terbaik mewujudkan kenyamanan agar mereka tidak
seperti sedang mengungsi, namun mereka tetap terselamatkan dari zona kawasan
rawan bencana.

“sekarang masyarakat di sekitar gunung Agung mengungsi secara mandiri. Justru


inilah salah satu cirri masyarakat yang tangguh menghadapi bencana, yaitu memiliki
daya antisipasi”, ucap Sutopo Purwo Nugroho.