Anda di halaman 1dari 16

1.

Definisi
Penyakit Trofoblas Gestasional (PTG) atau Gestational Trophoblastic
Disease adalah kelainan proliferasi trofoblas pada kehamilan, berupa suatu
spectrum tumor saling berhubungan tetapi dapat dibedakan secara histologis
(Prawirohardjo, 2011).
Penyakit Trofoblas Gestational (PTG) merupakan penyakit yang terjadi
pada saat kehamila, penyakit ini terjadi pada sel-sel trofoblas. Di dalam tubuh
wanita, sel trofoblas hanya ditemukan bila wanita itu hamil. Dengan kata lain,
penyakit ini adalah proliferasi atau perbanyakan sel trofoblas yang berasal dari
kehamilan. Trofoblas adalah jaringan yang pertama kali mengalami diferensiasi
pada masa embrional dini kemudian berkembang menjadi jaringan
ekstraembrionilk dan membentuk plasenta yang merupakan interfase janin
maternal. Penyakit Trofoblas dapat berupa tumor atau keadaan yang merupakan
predisposisi terjadinya tumor (Wiknjosastro, 2009).
Penyakit Trofoblastik Gestational adalah sekelompok penyakit yang
berasal dari khorion janin. Terdiri dari molahidatodosa, mola invasive,
kariokarsinoma dan tumor Trofoblastik Plasental Site (PSTT) yang ditandai
oleh proliferasi jaringan trofoblastik yang abnormal. Molahidatidosa
merupakan bentuk jinak dari penyakit trofoblas gestational dan dapat
mengalami transformasi menjadi bentuk ganasnya yaitu kariokarsinoma (Anita
Lockhart & Lyndin S, 2014).
2. Etiologi
a. Penyebab yang pasti tidak diketahui (idiopatik)
b. Para peneliti riset meyakini bahwa penyakit trofoblastik gestational
berkaitan dengan kondisi ibu yang buruk, khususnya asupan protein dan
asam folat yan kurang, ovum yang cacat, kelainan kromosom atau
gangguan keseimbangan hormonal.
c. Pada 50% lainnya penyakit tersebut biasanya didahului oleh abortus
spontan atau abortus yang diinduksi, kehamilan ektopik atau kehamilan
normal (Anita Lockhart & LyndonS, 2014)
3. Klasifikasi
Penyakit trofoblas ganas dibedakan menjadi 2 yaitu :
1) Penyakit trofoblas ganas non-metastatik
a. Mola invasive (korioadenoma destruens)
b. Placental site trophoblasric tumor
2) Penyakit trofoblas ganas metastatic
a. Mola Invasif
Mola invasif adalah suatu tumor atau proses menyerupai tumor yang
menginvasi miometrium dan memberikan gambaran hyperplasia
trofoblastik serta struktur villi plasenta menetap. Tumor ini dapat
mengalami metastasis tetapi tidak menunjukkan perkembangan ke arah
keganasan dan dapat mengalami penyembuhan spontan.
Gejala-gejala klinis yang dapat ditemukan ialah :
- Perdarahan vaginal yang tidak teratur
- Adanya kista teka lutein
- Subinvolusi uterus atau pembesaran asimetris
- Sel-sel tumor trofoblas dapat menyebabkan perforasi myometrium
sehingga terjadi perdarahan intraperitoneal
- Infeksi tumor yang nekrosis dapat menyebabkan secret purulen dan
nyeri pelvis akut
b. Placental site trophoblastic tumor
Placental Site Trophoblastic Tumor (PSTT) adalah suatu tumor yang
berasal dari trofoblas atau pembuluh darah plasenta dan terutama terdiri
dari sel-sel sitotrofoblas. Tumor ini mencakup lesi keganasan stadium
rendah dan tinggi.
c. Penyakit trofoblas ganas metastatic
Ditemukan sekitar 4% sesudah pengeluaran mola dan lebih rendah pada
pasca kehamilan normal. Gejala-gejala klinis yang dapat ditemukan ialah :
- Gabungan perdarahan spontan dan focus metastasis
- Paru-paru : nyeri dada, batuk, hemoptysis, sesak, hipertensi
pulmonal
- Vagina : perdarahan ireguler dan secret purulent
- Hati : nyeri epigastrik atau nyeri kuadran kanan atas, perdarahan
intraperitoneal hebat
- SSP : kelainan otak dan gangguan neurologic fokal bila terjadi
perdarahan spontan

Pada pembagian lain secara klinis PTG dibagi 2, yaitu :

1. PTG terdapat hanya dalam uterus invasive mola


Adalah tumor atau suatu proses seperti tumor yang menginvasi myometrium dengan
hyperplasia trofoblas disertai struktur vili yang menetap. Terminology lain untuk
keadaan ini yang tidak lagi dipakai ialah malignan mola, mola destruens, korio
adenoma destruens.
2. PTG meluas keluar uterus koriokarsinoma
- Gestational koriokarsinoma adalah karsinoma yang terjadi dari sel-sel trofoblas
dengan melibatkan sitotrofoblas dan sinsiotrofoblas. Hal ini biasa terjadi dari
hasil konsepsi yang berakhir dengan lahir hidup , lahir mati (still birth), abortus,
kehamilan ektopik, molahidatidosa atau mungkin juga oleh sebab yang tidak
diketahui.
- Non gestational koriokarsinoma adalah suatu tumor ganas trofoblas yang terjadi
tanpa didahului oleh suatu fertilisasi, tetapi berasal darigerm sel ovarium.
Brewer mengatakan bahwa non gestational koriokarsinoma juga merupakan
bagian teratoma. Oleh International Union Against Cancer (IUCR) diadakan
klasifikasi sederhana dari penyakit trofoblas, yang mempunyai keuntungan
bahwa angka yang diperoleh dari berbagai negara di dunia dapat dibandingkan.

Terdapat tiga system klasifikasi untuk menentukan stadium dan prognosis pasien
dengan PTG. FIGO ( The International Federation of Gynecologist and Obstetric)
membagi stadium pasien berdasarkan penyebaran penyakit dan factor risiko klinik
(Tabel 1), WHO mentabulasi skor total berdasarkan factor risiko individual dalam
menentukan skor indeks prognosis (Tabel 2) sedangkan klasifikasi menurut Hammond
membagi PTG atas bermetastasis atau tidak (Tabel 3).

Table 1. stadium PTG berdasarkan FIGO 2000

Stadium Keterangan
I Pasien dengan peningkatan kadar 𝛽hCG persisten dan tumor
terbatas pada korpus uterus
II Pasien dengan metastasis pada vagina atau pelvik
III Pasien dengan metastasis paru dengan atau tanpa keterlibatan
uterus, vaginal atau pelvik
Diagnosis berdasarkan peningkatan kadar hCG dengan adanya
lesi-lesi pulmoner pada foto radiologic dada
IV Pasien yang mengalami penyakit lanjut dengan keterlibatan otak,
hati, ginjal, atau saluran gastrointestinal.
Masuk dalam risiko paling tinggi oleh karena sebagian besar
resisten terhadap kemoterapi.
Pada banyak kasus penyakit timbul setelah kehamilan non-mola
dan memiliki gambaran histologic koriokarsinoma

Table 2. skor indeks prognosisoleh WHO

Skor FIGO 0 1 2 4
Usia (tahun) ≤ 39 >39 - -
Kehamilan Mola Abortus Aterm
sebelumnya
Jarak dari kehamilan <4 4-6 7-12 >12
(bulan)
Kadar 𝛽hCG <1.000 1000- >10.000- >100.000
pretreatment 10.000 100.000
Besar tumor <3 3-5 >5
termasuk uterus (cm)
Letak metastasis Paru,vagina Lien, ginjal gastrointestinal Otak, hati
Jumlah metastasis 0 1-4 4-8 >8
Riwayat gagal - - Regimen 2 atau lebih
kemoterapi tunggal
≤4 = resiko rendah

5-7 = resiko sedang

≥8 = risiko tinggi

Table 3. klasifikasi PTG menurut Hammond


Kategori Kriteria
Non Metastasis Tidak ditemukan metastasis
Metastasis Terdapat metastasis ekstrauterin
a. Prognosis baik Tidak ada factor risiko :
Durasi <4 bulan
Kadar 𝛽hCG pre terapi
<40.000mlU/ml
Tidak terdapat metastasis otak atau
hati
Bukan kehamilan aterm sebelumnya
b. Prognosis buruk Belum pernah kemoterapi

Ada factor resiko


Durasi ≥4 bulan sejak kehamilan
sebelumnya
Kadar 𝛽hCG preterapi ≥40.000
mlU/ml
Metastasis otak atau hati
Kehamilan aterm sebelumnya
Pernah kemoterapi

4. Patofisiologi
Bentuk tumor trofoblas yang sangat ganas ini dapat dianggap sebagai suatu
karsinoma dari epitel korion, walaupun perilaku pertumbuhan dan
metastasisnya mirip dengan sarkoma. Faktor-faktor yang berperan dalam
transformasi keganasan korion tidak diketahui. Pada koriokarsinoma,
kecenderungan trofoblas normal untuk tumbuh secara invasif dan
menyebabkan erosi pembuluh darah sangatlah besar. Apabila mengenai
endometrium, akan terjadi perdarahan, kerontokan dan infeksi permukaan.
Masa jaringan yang terbenam di miometrium dapat meluas keluar , muncul di
uterus sebagai nodul-nodul gelap irreguler yang akhirnya menembus
peritoneum. Gambaran diagnostik yang penting pada koriokarsinoma, berbeda
dengan mola hidatidosa atau mola invasif adalah tidak adanya pola vilus.
Baik unsur sitotrofoblas maupun sinsitium terlibat, walaupun salah satunya
mungkin predominan. Dijumpai anplasia sel, sering mencolok, tetapi kurang
bermanfaat sebagai kriteria diagnostik pada keganasan trofoblas dibandingkan
dengan pada tumor lain. Pada pemeriksaan hasil kuretase uterus, kesulitan
evaluasi sitologis adalah salah satu faktor penyebab kesalahan diagnosis
koriokarsinoma. Sel-sel trofoblas normal di tempat plasenta secara salah di
diagnosis sebagai koriokarsinoma. Metastasis sering berlangsung dini dan
umumnya hematogen karena afinitas trofoblas terhadap pembuluh darah.
Koriokarsinoma dapat terjadi setelah mola hidatidosa, abortus, kehamilan
ektopik atau kehamilan normal . tanda tersering, walaupun tidak selalu ada,
adalah perdarahan irreguler setelah masa nifas dini disertai subinvolusi uterus.
Perdarahan dapat kontinyu atau intermitten, dengan perdarahan mendadak dan
kadang-kadang masif. Perforasi uterus akibat pertumbuhan tumor dapat
menyebabkan perdarahan intraperitonium. Pada banyak kasus, tanda pertama
mungkin adalah lesi metatatik. Mungkin ditemukan tumor vagina atau vulva.
Wanita yang bersangkutan mungkin mengeluh batuk dan sputum berdarah
akibat metastasis di paru.
Pada beberapa kasus, di uterus atau pelvis tidak mungkin dijumpai
koriokarsinoma karena lesi aslinya telah lenyap, dan yang tersisa hanya
metastasis jauh yang tumbuh aktif. Apabila tidak di terapi, koriokarsinoma akan
berkembang cepat dan pada mayoritas kasus pasien biasanya akan meninggal
dalam beberapa bulan. Kausa kematian tersering adalah perdarahan di berbagai
lokasi. Pasien di golongkan beresiko tinggi jiika penyakit lebih dari 4 bulan,
kadar gonadotropin serum lebih dari 40.000 mIU/ml, metastasis ke otak atau
hati, tumor timbul setelah kehamilan aterm, atau riwayat kegagalan kemoterapi,
namun menghasil kananagka kesembuhan tertinggi dengan kemoterapi
kombinasi yaitu menggunakan etoposid, metotreksat, aktinomisin,
siklofosfamid, dan vinkristin

5. Manifestasi Klinis
Gejala yang paling banyak ditemukan adalah adanya perdarahan ireguler yang
berhubungan dengan subinvolusi uterine. Perdarahan bisa intermitent atau terus
berlanjut, dan tiba – tiba. Kadang – kadang perdarahannya bersifat masif.
Perforasi uterin disebabkan karena adanya pertumbuhan invasif trofoblast
sehingga menyebabkan perdarahan intraperitoneal. Pada beberapa kasus,
wanita disertai engan adanya metastasis di vagina atau vulva. 5 Perdarahan
yang tidak teratur setelah berakhirnya suatu kehamilan dan dimana terdapat
subinvolosio uteri juga perdarahan dapat terus menerus atau intermiten dengan
perdarahan mendadak dan terkadang masif.
Pada pemeriksaan ginekologi ditemukan uterus membesar dan lunak. Kista
tekalutein bilateral. Lesi metastasis di vagina dan organ lain. Perdarahan karena
perforasi uterus atau lesi metastasis ditandai dengan: nyeri perut, batuk darah,
melena, dan peningkatan tekanan intrakranial berupa sakit kepala, kejang, dan
hemiplegia. Kadar β hCG paska mola setelah menurun, tidak menurun malahan
dapat meningkat lagi atau titer β hCG yang meninggi setelah terminasi
kehamilan, mola atau abortus. Pemeriksaan foto thorax dapat ditemukan adanya
lesi yang metastasis.5 Pada sediaan histopatologis dapat ditemukan villus
namun demikian dengan tidak memperlihatkan gambaran patologik tidak dapat
menyingkarkan suatu keganasan.

a. Pembesaran uterus yang tidak proposional; kumpulan seperti buah anggur


mungkin ditemukan dalam vagina pada pemeriksaan pelvis (VT; vaginal
toucher).
b. Nausea dan vomitus yang berlebihan.
c. Perdarahan per vaginam yang intermiten atau terus-menerus dengan darah
yang berwarna merah cerah atau kecokelatan pada minggu kehamilan ke-
12.
d. Keluarnya jaringan yang menyerupai kumpulan buah anggur.
e. Gejala hipertensi gestasional yang timbul sebelum minggu kehamilan ke-
20.
f. Tidak terdengarnya bunyi jantung janin (Anita Lockhart & Lyndon S,
2014).

6. Pemeriksaan Penunjang

Pada pemeriksaan penunjang yaitu USG didapatkan adanya gambaran echo


difuse typical. Dan pada pemeriksaan laboratorium didapatkan adanya
peningkatan kadar B-HCG.
Prosedur diagnosis untuk menentukan stadium dari PTG dimulai dengan
pemeriksaan serum β-HCG dan foto thoraks untuk mendeteksi adanya
metastasis ke paru– paru. Jika foto thoraks normal, maka diagnosis tumor non
metastasis dapat dibuat. Jika ada metastasis di paru – paru, maka CT scan
kepala dan abdomen dapat dianjurkan. Jika ada perdarahan gastrointestinal
maka pemeriksaan endoskopi untuk saluran GIT atas dan bawah diindikasikan.
Pemeriksaan arteriogram juga bermanfaat. Jika ada hematuri, pemeriksaan IVP
dan sistoskopi dapat dilakukan.
1. Uji Sonde
Sonde (penduga rahim) dimasukkan pelan-pelan dan hati-hati ke dalam kanalis
servikalis dan kavum uteri. Bila tidak ada tahanan sonde diputar setelah ditarik
sedikit, bila tetap tidak ada tahanan, kemungkinan mola atau koriokarsinoma.
2. Foto rontgen abdomen
Tidak terlihat tulang-tulang janin (pada kehamilan 3-4 bulan)
3. Ultrasonografi
Khusus pada mola akan kelihatan bayangan badai salju dan tidak terlihat
janin (merupakan diagnosa pasti), waspadai juga koriokarsinoma.
4. Data Klinik Pemeriksaan Diagnostik
- Perdarahan dalam separo pertama kehamilan
- Nyeri perut bagian bawah
- Toksemia sebelum 24 minggu kehamilan
- Hiperemesis gravidarum
- Rahim terlalu besar untuk tanggalnya
- Tanda tonus jantung janin dan bagian janin
- Keluarnya vesikel

7. Penatalaksanaan
Prinsip dasar penanganan penyakit trofoblas ganas adalah kemoterapi dan
operasi. Indikasi kemoterapi yaitu:
a. Meningkatnya β hCG setelah evakuasi
b. Titer β hCG sangat tinggi setelah evakuasi
c. β hCG tidak turun selama 4 bulan setelah evakuasi
d. Meningginya β hCG setelah 6 bulan setelah evakuasi atau turun tetapi
lambat
e. Metastasis ke paru-paru, vulva, vagina kecuali kalau β hCGnya turun
f. Metastasis ke bagian organ lainnya (hepar, otak)
g. Perdarahan vaginal yang berat atau adanya perdarahan gastrointestinal
h. Gambaran histologi koriokarsinoma
i. Operatif merupakan tindakan utama dalam penanganan dini PTG, walaupun
tumor sudah lama bila masih terlokalisir di uterus tindakan histerektomi
baik dilakukan. Pasien-pasien dengan perdarahan pervaginam yang terus
menerus, setelah abortus, mola, dan persalinan yang normal dengan uterus
sebesar kehamilan ≤ 12 minggu dan tidak ruptur operasinya diutamakan
histerektomi. Bila penyakit telah meluas maka histerektomi dilakukan
hanya atas dasar perdarahan dari uterus yang hebat atau resisten terhadap
kemoterapi. Bila tergolong risiko rendah, maka diberikan kemoterapi
tunggal, sedangkan risiko tinggi diberikan kemoterapi kombinasi.
j. Penanganan yang non metastase diberikan kemoterapi tunggal dengan
pemberian metotreksat 30 mg/m2 intramuscular setiap minggu. Dapat juga
dilakukan histerektomi bila masih ingin hamil.
k. Dikatakan risiko rendah bila pada sistem prognosis WHO nilai skornya <
7. Risiko rendah ditangani dengan pemberian kemoterapi tunggal yaitu
pemberian metotreksat. Bila terdapat resistensi terhadap kemoterapi dosis
tunggal, maka kemoterapi kombinasi sebaiknya diberikan. Histerektomi
mungkin bermanfaat untuk mengeluarkan fokus penyakit yang resistensi
dalam uterus.
l. Kemoterapi tunggal diberikan pada kasus non metastasis atau keganasan
risiko rendah. Metotreksat maupun obat lainnya dapat melawan tumor
ganas terutama Actinomycyin -D diberikan secara kuratif. Metotreksat yang
digunakan dengan hasil yang baik ketika diberikan secara oral, infus IV
maupun melalui pemberian secara injeksi intramuskular. Actinomycin-D
dosis tunggal juga mempunyai efektivitas yang tinggi pada wanita dengan
non metastasis. Pada beberapa kasus, misalnya disertai dengan metastasis
ke otak, kemoterapi diberikan bersama radioterapi.
m. Risiko tinggi bila nilai skor > 7 dan diberikan kemoterapi kombinasi yaitu
EMA-CO (Etoposide, metotreksat, vincristin dan siklopospamid) atau
dapat diberikan MAC (metotreksat, dactinomicin dan cytoxan atau
klorambucil).
n. Terapi pilihan ialah dengan pemberian methotrexate sebanyak 0,4
mg/kg/hari seluma 5 hari yanq dapat dibenkan intravsnose, intra-muskuler
atau oral. Pada umumnya diberi 15 - 25 mg sehari. Kuur ini diulang-ulang
dengan antara 14 hari sampai gonadctropin dalcun urine menjudi normal :
kadang kadang baru setelah 6 kuur. Setelah reaksi negatip diberi satu kuur
tambahan. Juga dapat di-berikan actinomycin D sebanyak 7 - 11
microgram/kg/hari intravenosa selama 5 hari. Kuur diulangi setelah 5 hari

Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
Pengkajian adalah pendekatan sistematis untuk mengumpulkan data dan
menganalisanya sehingga dapat diketahui masalah dan kebutuhan perawatan bagi
klien.
Adapun hal-hal yang perlu dikaji adalah :
a. Biodata: mengkaji identitas klien dan penanggung yang meliputi; nama, umur,
agama, suku bangsa, pendidikan, pekerjaan, status perkawinan, perkawinan ke- ,
lamanya perkawinan dan alamat.
b. Keluhan utama: kaji adanya menstruasi tidak lancar dan adanya perdarahan
pervaginam berulang.
c. Riwayat kesehatan, yang terdiri atas:
Riwayat kesehatan sekarang yaitu keluhan sampai saat klien pergi ke Rumah
Sakit atau pada saat pengkajian seperti perdarahan pervaginam di luar siklus
haid, pembesaran uterus lebih besar dari usia kehamilan.
Riwayat kesehatan masa lalu: kaji adanya kehamilan molahidatidosa
sebelumnya, apa tindakan yang dilakukan, kondisi klien pada saat itu.
Riwayat pembedahan : Kaji adanya pembedahan yang pernah dialami oleh
klien, jenis pembedahan , kapan , oleh siapa dan di mana tindakan tersebut
berlangsung.
d. Riwayat penyakit yang pernah dialami: kaji adanya penyakit yang pernah dialami
oleh klien misalnya DM, jantung, hipertensi, masalah ginekologi/urinary, penyakit
endokrin, dan penyakit-penyakit lainnya.
e. Riwayat kesehatan keluarga: yang dapat dikaji melalui genogram dan dari
genogram tersebut dapat diidentifikasi mengenai penyakit turunan dan penyakit
menular yang terdapat dalam keluarga.
f. Riwayat kesehatan reproduksi: kaji tentang menorhoe, siklus menstruasi, lamanya,
banyaknya, sifat darah, bau, warna dan adanya dismenorhoe serta kaji kapan
menopause terjadi, gejala serta keluhan yang menyertainya.
g. Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas: kaji bagaimana keadaan anak klien mulai
dari dalam kandungan hingga saat ini, bagaimana keadaan kesehatan anaknya.
h. Riwayat seksual: kaji mengenai aktivitas seksual klien, jenis kontrasepsi yang
digunakan serta keluhan yang menyertainya.
i. Riwayat pemakaian obat: kaji riwayat pemakaian obat-obatankontrasepsi oral, obat
digitalis dan jenis obat lainnya.
j. Pola aktivitas sehari-hari: kaji mengenai nutrisi, cairan dan elektrolit, eliminasi
(BAB dan BAK), istirahat tidur, hygiene, ketergantungan, baik sebelum dan saat
sakit.
k. Pemeriksaan
- Inspeksi
Inspeksi adalah proses observasi yang sistematis yang tidak hanya terbatas pada
penglihatan tetapi juga meliputi indera pendengaran dan pembauan.
 Hal yang diinspeksi antara lain :
Mengobservasi kulit terhadap warna, perubahan warna, laserasi, lesi
terhadap drainase,
Pola pernafasan terhadap kedalaman dan kesimetrisan,
Bahasa tubuh, pergerakan dan postur, penggunaan ekstremitas, adanya
keterbatasan fifik, dan seterusnya.
- Palpasi
Palpasi adalah menyentuh atau menekan permukaan luar tubuh dengan jari.
Sentuhan: merasakan suatu pembengkakan, mencatat suhu, derajat
kelembaban dan tekstur kulit atau menentukan kekuatan kontraksi uterus.
Tekanan: menentukan karakter nadi, mengevaluasi edema, memperhatikan
posisi janin atau mencubit kulit untuk mengamati turgor.
Pemeriksaan dalam: menentukan tegangan/tonus otot atau respon nyeri yang
abnormal.
- Perkusi
Perkusi adalah melakukan ketukan langsung atau tidak langsung pada
permukaan tubuh tertentu untuk memastikan informasi tentang organ atau
jaringan yang ada dibawahnya.
Menggunakan jari: ketuk lutut dan dada dan dengarkan bunyi yang
menunjukkan ada tidaknya cairan , massa atau konsolidasi.
Menggunakan palu perkusi : ketuk lutut dan amati ada tidaknya
refleks/gerakan pada kaki bawah, memeriksa refleks kulit perut apakah ada
kontraksi dinding perut atau tidak.
- Auskultasi
Auskultasi adalah mendengarkan bunyi dalam tubuh dengan bentuan stetoskop
dengan menggambarkan dan menginterpretasikan bunyi yang terdengar.
Mendengar: mendengarkan di ruang antekubiti untuk tekanan darah, dada untuk
bunyi jantung/paru abdomen untuk bising usus atau denyut jantung janin
(Johnson & Taylor, 2005 : 39).
2. Diagnosa Keperawatan
a. Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan.
b. Intoleransi aktivitasberhubungandengankelemahan.
c. Gangguan pola tidur berhubungan dengan adanya nyeri.
d. Gangguan rasa nyaman: hipertermi berhubungandengan proses infeksi.
e. Kecemasan berhubungan denganperubahan status kesehatan.

3. Intervensi
Diagnosa I: Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan
Tujuan : Klien akanmeninjukkannyeriberkurang/hilang.
Kriteria hasil :
Klien mengatakan nyeri berkurang/hilang,
Ekspresi wajah tenang,
TTV dalam batas normal.
Intervensi:
1. Kaji tingkat nyeri, lokasi dan skala nyeri yang dirasakan klien.
Rasional: mengetahui tingkat nyeri yang dirasakan sehingga dapat membantu
menentukan intervensi yang tepat.
2. Observasi tanda-tanda vital tiap 8 jam.
Rasional: perubahan tanda-tanda vital terutama suhu dan nadi merupakan salah satu
indikasi peningkatan nyeri yang dialami oleh klien.
3. Anjurkan klien untuk melakukan teknik relaksasi.
Rasional: teknik relaksasi dapat membuat klien merasa sedikit nyaman dan distraksi
dapat mengalihkan perhatian klien terhadap nyeri sehingga dapat mambantu
mengurangi nyeri yang dirasakan.
4. Beri posisi yang nyaman.
Rasional: posisi yang nyaman dapat menghindarkan penekanan pada area
luka/nyeri.
5. Kolaborasi pemberian analgetik.
Rasional: obat-obatan analgetik akan memblok reseptor nyeri sehingga nyeri tidat
dapat dipersepsikan.

Diagnosa II: intoleran aktivitas berhubungan dengan kelemahan.


Tujuan:klien akan menunjukkan terpenuhinya kebutuhan rawat diri.
Kriteriahasil:
Kebutuhan personal hygiene terpenuhi,
Klien nampak rapi dan bersih.
Intervensi:
1. Kaji kemampuan klien dalam memenuhi rawat diri.
Rasional: untuk mengetahui tingkat kemampuan/ketergantungan klien dalam
merawat diri sehingga dapat membantu klien dalam memenuhi kebutuhan
hygienenya.
2. Bantu klien dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Rasional: kebutuhan hygiene klien terpenuhi tanpa membuat klien ketergantungan
pada perawat.
3. Anjurkan klien untuk melakukan aktivitas sesuai kemampuannya.
Rasional: pelaksanaan aktivitas dapat membantu klien untuk mengembalikan
kekuatan secara bertahap dan menambah kemandirian dalam memenuhi
kebutuhannya.
4. Anjurkan keluarga klien untuk selalu berada di dekat klien dan membantu
memenuhi kebutuhan klien.
Rasional: membantu memenuhi kebutuhan klien yang tidak terpenuhi secara
mandiri.

Diagnosa III: gangguan pola tidur berhubungan dengan adanya nyeri.


Tujuan:klien akan mengungkapkan pola tidurnya tidak terganggu.
Kriteria hasil:
Klien dapat tidur 7-8 jam per hari,
Konjungtiva tidak anemis.
Intervensi:
1. Kaji pola tidur.
Rasional: dengan mengetahui pola tidur klien, akanmemudahkan dalam
menentukan intervensi selanjutnya.
2. Ciptakan lingkungan yang nyaman dan tenang.
Rasional: memberikan kesempatan pada klien untuk beristirahat.
3. Anjurkan klien minum susu hangat sebelum tidur.
Rasional: susu mengandung protein yang tinggi sehingga dapat merangsang untuk
tidur.
4. Batasi jumlah penjaga klien.
Rasional: dengan jumlah penjaga klien yang dibatasi maka kebisingan di ruangan
dapat dikurangi sehingga klien dapat beristirahat.
5. Memberlakukan jam besuk.
Rasional: memberikan kesempatan pada klien untuk beristirahat.
6. Kolaborasi dengan tim medis pemberian obat tidur Diazepam.
Rasional: Diazepam berfungsi untuk merelaksasi otot sehingga klien dapat
tenang dan mudah tidur.