Anda di halaman 1dari 33

LAPORAN PRAKTIKUM

GELAR GULUNG SELANG

Disusun oleh :

Synta Febryanti Chusnul Khotimah ( NIM : 191420400)

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral


Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Energi dan Sumber Daya
Mineral
Politeknik Energi dan Mineral Akamigas
(PEM Akamigas)
201

1
LAPORAN PENGESAHAN
GELAR DULUNG SELANG

Laporan praktikum Fire hose, coupling, dan hydrant ini disusun sebagai tugas
akhir men yelesaikan Praktikum Fire hose, coupling dan hydrant yang di
selenggarakan di PEM Akamigas Cepu.

Cepu, 23 November 2019

Menyetujui,
Pembimbing Praktikum

Putut Suprijadi S.T

2
DAFTAR ISI

LAPORAN PRAKTIKUM ..................................................................................... 1


GELAR GULUNG SELANG ................................................................................... 1
LEMBARAN PENGESAHAN .............................. Error! Bookmark not defined.
GELAR GULUNG SELANG ................................ Error! Bookmark not defined.
DAFTAR ISI ........................................................................................................... 3
KATA PENGANTAR ............................................................................................ 5
DAFTAR GAMBAR .............................................................................................. 6
BAB I ..................................................................... Error! Bookmark not defined.
PENDAHULUAN ................................................. Error! Bookmark not defined.
1.1 Profil Laboratorium ............................................................................... 7
1.1.1 Visi Laboratorium........................................................................... 7
1.1.2 Misi Laboratorium .......................................................................... 7
1.2 Sasaran .................................................................................................... 7
1.3 Peraturan dan Tata Tertib Praktikum ................................................ 8
1.3.1 Peraturan & Tata Tertib ................................................................ 8
1.3.2 Kewajiban Mahasiswa .................................................................... 9
1.3.3 Hak Mahasiswa ............................................................................. 10
1.4 Tujuan ................................................................................................... 10
1.5 Manfaat ................................................................................................. 10
BAB II .................................................................... Error! Bookmark not defined.
LANDASAN TEORI ............................................. Error! Bookmark not defined.
2.1 Latar Belakang Keselamatan dan Kesehatan Kerja .............................. 11
BAB III .................................................................. Error! Bookmark not defined.
METODOLOGI ..................................................... Error! Bookmark not defined.
3.1 Prosedur kerja............................................................................................ 27
3.1.2 Bahan.............................................................................................. 27
3.1.3 Peralatan ........................................................................................ 27
3.2 Prosedur/Langkah Kerja ......................................................................... 27
1. Menggelar Single Roll .............................................................................. 27
2. Merelease Single Roll ............................................................................... 29
3. Menggulung Fire Hose ............................................................................. 30
4. Menggelar Double Roll ............................................................................. 30

3
3.3 Analisa Data ............................................................................................... 31
BAB IV ................................................................................................................. 32
PENUTUP ............................................................................................................. 32
4.1 Kesimpulan ................................................................................................. 32
4.2 Saran ........................................................................................................... 32
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 33

4
KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah memberi
rahmat-Nya sehingga Modul Praktikum Laboratorium Fire and Safety PEM
Akamigas ini dapat terselesaikan. Laporan ini dimaksudkan untuk laporan
mahasiswa dalam melaksanakan praktikum dan membantu memahami
berdasarkan teori mata kuliah keselamatan kerja yang telah diberikan di kelas.

Masing – masing pokok bahasan diuraikan dalam bentuk tutorial dan


langkah kerja. Dengan demikian, setelah melaksanakan praktikum, harapannya
mahasiswa tidak saja dapat melaksanakan teknik fire and safety tersebut, akan
tetapi juga dapat menjelaskan karakterisasi masing–masing praktik.

Penyusun menyadari bahwa laporan praktikum ini jauh dari sempurna


dan masih banyak kekurangannya. Oleh sebab itu, penyusun sangat
berterimakasih apabila pembaca berkenan memberikan kritik maupun saran
yang konstruktif agar Laporan Praktikum ini semakin sempurna dan
berkualitas.

Akhir kata, penulis berharap agar Laporan Praktikum ini dapat


bermanfaat dalam meningkatkan kualitas proses belajar mengajar dan
membantu mahasiswa dalam penyampaian laporan praktikum.

Cepu, 23 November 2019

(Penyusun)

5
DAFTAR GAMBAR

Gambar 3.1 Fire Hose ...................................................................................... 21


Gambar 3.2 Posisi Hoseman Saat Membawa Fire Hose ................................. 22
Gambar 3.3 Posisi Persiapan Menggelar Fire Hose ........................................ 22
Gambar 3.4 Cara Mengayun Fire Hose ........................................................... 23
Gambar 3.5 Cara Merelease Fire Hose ............................................................ 23
Gambar 3.6 Teknik Menggulung Fire Hose Single Roll ................................. 24
Gambar 3.7 Cara Menggulung Firehose Double Roll ..................................... 25

6
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Profil Laboratorium

Laboratorium Fire and Safety digunakan sebagai pusat pembelajaran


secara praktek dan eksperimental. Mahasiswa diharapkan akan dapat
menerapkan materi kuliah secara langsung pada alat yang telah disediakan,
mempelajari alat secara langsung, melakukan pengambilan data, penelitian, dan
konsultasi.

1.1.1 Visi Laboratorium


Menjadi pusat pembelajaran berbasis laboratorium Fire and Safety yang
mampu mendukung pembentukan professional mandiri bermutu.

1.1.2 Misi Laboratorium


- Melaksanakan kegiatan praktikum sebagai penerapan teori yang di
dapat selama perkuliahan;
- Memfasilitasi riset mahasiswa, dosen, riset bersama antara dosen
dan mahasiswa serta pihak luar dalam bidang Fire and Safety;
- Menjadi motor penggerak dalam program pengembangan penerapan
ilmu pengetahuan dasar bagi prodi – prodi PEM Akamigas.
1.2 Sasaran
- Memiliki dasar ilmu yang kuat dalam bidang Fire and Safety;
- Mampu mengembangkan ilmu-ilmu Fire and Safety di bidang
masing – masing program studi melalui peningkatan kompetensi di
laboratorium;
- Memiliki semangat dan motivasi untuk senantiasa menyesuaikan
diri sesuai dengan perkembangan teknologi, khususnya di Fire and
Safety.

7
1.3 Peraturan dan Tata Tertib Praktikum
1.3.1 Peraturan & Tata Tertib
- Praktikan datang 10 menit sebelum praktikum dimulai;
- Segala kegiatan yang dilakukan di Laboratorium Fire and Safety
harus sepengetahuan Kepala Laboratorium;
- Praktikan harus meletakkan tas/buku miliknya pada tempat yang
telah disediakan (rak), perhiasan, uang, HP atau barang berharga
lainnya harap dibawa/dirawat
sendiri dan kehilangan barang di laboratorium bukan tanggung
jawab petugas laboratorium;
- Rangkaian kegiatan praktikum di Laboratorium Fire and Safety
adalah Pengarahan Materi oleh Dosen, Praktikum, Asistensi,
Penyerahan Laporan dan Ujian Praktik.
- Praktikan harus berpakaian seragam praktik (coverall) dan sopan,
menggunakan safety shoes, tidak diijinkan makan dan merokok di
lingkungan Laboratorium Fire and Safety;
- Praktikan harus melakukan pengecekan kelengkapan alat-alat yang
akan dipergunakan, bila ternyata kurang lengkap segera melaporkan
pada petugas laboratorium untuk ditindak lanjuti;
- Praktikan dilarang menggunakan alat-alat praktikum di luar
kepentingan praktikum (misal : untuk main-main);
- Dilarang membawa alat percobaan keluar Laboratorium Fire and
Safety tanpa seizin dari Kepala Laboratorium;
- Praktikan harus menata kembali alat-alat yang telah selesai
digunakan dalam keadaaan bersih dan utuh (tidak rusak);
- Praktikan menata kembali tempat duduk dan meja yang telah
digunakannya sebelum meninggalkan ruangan laboratorium;
- Praktikan yang merusakkan alat harus melapor kepada petugas dan
harus memperbaiki/mengganti alat tersebut
- Praktikan harus membuat dan mengumpulkan Laporan Praktikum
setelah praktikum berakhir dengan jangka waktu tertentu;

8
- Bila praktikan setelah melaksanakan ujian belum mendapatkan nilai
yang cukup, maka instruktur/asisten laboratorium berhak
memberikan tugas tambahan berupa laporan pribadi atau tugas
tambahan lainnya yang setara;
- Praktikan yang tidak dapat mengikuti praktikum harus meminta ijin
secara tertulis dengan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan .
(Selain karena sakit, praktikan hanya diperbolehkan ijin maksimal 2
kali);
- Kegiatan praktikum yang tidak dapat terlaksana sesuai jadwal, dapat
dilaksanakan pada waktu yang lain dengan persetujuan
pembimbing;
- Praktikan yang melanggar Tata Tertib Praktikum ini akan dilakukan
tindakan berupa : teguran ringan, teguran keras dan tidak
diperbolehkan mengikuti praktikumHal-hal yang belum diatur
dalam Tata Tertib Praktikum ini akan di atur kemudian.
1.3.2 Kewajiban Mahasiswa
- Telah mengikuti setidaknya 85 % kuliah K3;
- Toleransi mengikuti praktikum dengan keterlambatan 15 menit dari
- jam praktikum dimulai;
- Menyelesaikan praktikum sesuai jam praktik;
- Melakukan asistensi kepada Instruktur/asisten laboratorium yang
telah ditunjuk;
- Melaporkan setiap hasil praktikum seperti format yang berlaku;
- Mengumpulkan laporan praktikum sebelum melaksanakan ujian
masing – masing mahasiswa yang berisi semua jenis praktikum
yang dilaksanakan;
- Mengikuti ujian praktikum.
- Mahasiswa diijinkan minum selama praktikum.

9
1.3.3 Hak Mahasiswa
- Mendapatkan modul praktikum;
- Melakukan praktikum sesuai jadwal dan modul;
- Mendapatkan pengarahan mengenai materi yang akan dipraktikkan;

1.4 Tujuan

Tujuan dalam praktik teknik pemadaman api kecil di laboratorium fire


ground adalah sebagai berikut :
a. Meningkatkan pengetahuan yang telah diterima selama perkuliahan dan
mempraktikannya di lapangan;
b. Dapat mengklasifikasikan berbagai jenis kebakaran dan media
pemadamannya;
c. Mengetahui langkah – langkah melakukan penanggulangan kebakaran
dan penyelamatan korban usai kebakaran secara baik dan benar;
d. Dapat melakukan strategi pemadaman api dengan benar;
e. Mengetahui prosedur pemakaian peralatan dan perlengkapan fire and
safety secara baik dan benar sehingga dapat memadamkan kebakaran
dengan peralatan dan perlengkapan tersebut;
f. Dapat melakukan kerjasama yang baik (team work) dalam melakukan
pemadaman kebakaran.

1.5 Manfaat
Manfaat bagi mahasiswa dalam praktikum ini adalah dapat
memperdalam pengetahuan dan wawasan mengenai teknik pemadaman api
kecil menggunakan Fire blanket dan alat pemadam api ringan (APAR) dalam
upaya pencegahan dan penanggulangan bahaya kebakaran, serta dapat
membandingkan antara teori yang didapatkan di dalam kelas dengan praktik
langsung di lapangan.

10
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Latar Belakang Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Secara filosofis, keselamatan dan kesehatan kerja adalah suatu pemikiran
Dan upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan jasmaniah maupun
rohaniah tenagakerja pada khususnya dan pada manusia pada umumnya beserta
hasil karya dan budayanya menuju masyarakat adil dan makmur.Ditinjau dari segi
keilmuan keselamatan dan kesehatan kerja dapat diartikansebagai ilmu
pengetahuan dan penerapannya dalam usaha mencegah kemungkinanterjadinya
kecelakaan dan penyakit akibat kerja (Azmi, 2008).
Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) mendapat
perhatian yang sangat penting dewasa ini karena masih tingginya angka
kecelakaan kerja.Tujuan utama penerapan SMK3 adalah untuk mengurangi atau
mencegah kecelakaan yang mengakibatkan cedera atau kerugian materi.Karena
itu, para ahli K3 berupaya mempelajari fenomena kecelakaan, faktor penyebab,
serta cara efektif untuk mencegahnya. Upaya pencegahan kecelakaan di Indonesia
masih menghadapi berbagai kendala, salah satu diantaranya adalah pola pikir yang
masih tradisionil yang menganggap kecelakaan adalah sebagai musibah, sehingga
masyarakat bersifat pasrah (Ramli, 2010).
ILO (International Labour Organization) menunjukkan bahwa setiap tahun
diperkirakan paling sedikit terjadi 1.1 juta kematian karena penykait atau
kecelakaan akibat kerja.Dari angka tersebut 300.000 kematian merupakan akibat
250 juta kecelakaan yang terjadi dalam industry di seluruh dunia (Azmi, 2008).
Penyebab Kecelakaan Kerja
Penyebab kecelakaan kerja secara umum dapat dibagi menjadi dua bagian antara
lain sebagai berikut (Ramli, 2010).
A. Penyebab Langsung
1. Perbuatan yang tidak aman (Unsafe Condition), didefinisikan sebagai
segala tindakan manusia yang dapat memungkinkan terjadinya kecelakaan
pada diri sendiri maupun orang lain. Contoh perbuatan yang tidak aman
seperti tidak menggunakan alat yang telah disediakan, salah menggunakan

11
alat yang telah disediakan, menggunakan alat yang sudah rusak, metode kerja
yang salah dan tidak mengikuti prosedur keselamatan kerja.
2. Kondisi yang tidak aman (Unsafe Condition), didefinisikan sebagai suatu
kondisi lingkungan kerja yang dapat memungkinkan terjadinya kecelakaan.
Contoh kondisi yang tidak aman seperti kondisi fisik, mekanik dan peralatan,
kondisi permukaan tempat berjalan dan bekerja, kondisi penerangan,
ventilasi, suara dan getaran, dan kondisi penataan lokasi yang salah.

B. Penyebab Tidak Langsung


1. Fungsi manajemen proyek
2. Kondisi pekerja

Kesehatan Kerja
Kesehatan kerja merupakan suatu usaha dan keadaan yang memungkinkan
seseorang mempertahankan kondisi kesehatannya dalam pekerjaan.Kesehatan
kerja adalah aturan –aturan dan usaha – usaha untuk menjaga buruh dari kejadian
atau keadaan perburuhan yang merugikan kesehatan dan kesusilaan dalam
seseorang itu melakukan pekerjaan dalam suatu hubungan kerja, adapun faktor –
faktor dari kesehatan kerja yang meliputi (Astuti, 2011) :
1. Lingkungan kerja secara medis
2. Dalam hal ini lingkungan kerja secara medis dapat dilihat dari sikap perusahaan
dalam menangani hal – hal sebagai berikut :
a. Kebersihan lingkungan kerja
b. Suhu udara dan ventilasi di tempat kerja
c. Sistem pembuangan sampah dan limbah industri
3. Sarana kesehatan tenaga kerja
Upaya – upaya dari perusahaan untuk meningkatkan kesehatan dari tenaga
kerjanya. Hal ini dapat dilihat dari :
a. Penyediaan air bersih
b. Sarana olahraga dan kesempatan rekreasi
c. Saran kamar mandi dan wc

12
4. Pemeliharaan kesehatan tenaga kerja
Upaya – upaya perusahaan untuk memelihara kesehatan tenaga kerjanya supaya
bekerja dengan lebih baik yaitu :
a. Pemberian makanan yang bergizi
b. Pelayanan kesehatan tenaga kerja
c. Pemeriksaan kesehatan tenaga kerja

Indikator Kesehatan Kerja


Menurut (Astuti, 2011), indikator kesehatan kerja terdiri dari :
1. Keadaan dan Kondisi Karyawan
Keadaan dan kondisi karyawan adalah keadaan yang dialami oleh karyawan pada
saat bekerja yang mendukung aktivitas dalam bekerja.
2. Lingkungan Kerja
Lingkungan kerja adalah lingkungan yang lebih luas dari tempat kerja yang
mendukung aktivitas karyawan dalam bekerja.
3. Perlindungan Karyawan
Perlindungan karyawan merupakan fasilitas yang diberikan untuk menunjang
kesejahteraan karyawan.

Keselamatan Kerja
Pengertian keselamatan kerja menurut Suma’ur (1986) adalah keselamatan kerja
yang bertalian dengan mesin, pesawat, alat kerja, bahan dan proses pengolahan,
landasan tempat kerja dan lingkungannya serta cara – cara melakukan pekerjaan.
keselamatan kerja didefinisikan sebagai berikut “Keselamatan Kerja menunjukkan
kondisi yang aman atau selamat dari penderitaan kerusakan atau kerugian di
tempat kerja (Astuti, 2011).
Dari uraian diatas dapat diketahui bahwa keselamatan kerja adalah keadaan
dimana tenaga kerja merasa aman dan nyaman, dengan perlakuan yang didapat
dari lingkungan dan berpengaruh pada kualitas kerja, apakah dia nyaman dengan
peralatan keselamatan kerja, peralatan yang dipergunakan, tata letak ruang kerja
dan beban kerja yang didapat bekerja.

13
Menurut dasar hukum peraturan perundang – undangan yang diatur dalam
Undang – Undang tentang keselamatan kerja No.1 Tahun 1970 meliputi seluruh
aspek pekerjaan yang berbahaya, dari segala tempat kerja, baik di darat, di dalam
tanah, di permukaan air, di dalam air, maupun di udara yang berada di wilayah
kekuasaan hukum Republik Indonesia.
Menurut peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor : PER/MEN/1996, dalam
penerapan sistem manajemen kesehatan dan keselamatan kerja wajib
melaksanakan ketentuan – ketentuan sebagai berikut :
1. Menetapkan kebijakan kesehatan dan keselamatan kerja serta menjamin
komitmen terhadap penerapan sistem keselamatan dan kesehatan kerja.
2. Merencanakan pemenuhan kebijakan, tujuan, sasaran, penerapan kesehatan dan
keselamatan kerja.
3. Menerapkan kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja secara efektif dengan
mengembangkan kemampuan dan mekanisme pendukung yang diperlukan
mencapai kebijakan tujuan dan sasaran keselamatan dan kesehatan kerja. II-5
4. Mengukur, memantau, mengevaluasi kinerja keselamatan dan kesehatan kerja
serta melakukan tindakan perbaikan dan pencegahan.
5. Meninjau secara teratur dan meningkatkan pelaksanaan sistem manajemen
keselamatan dan kesehatan kerja secara berkesinambungan dengan tujuan
meningkatkan kinerja keselamatan dan kesehatan kerja.

Indikator Keselamatan Kerja


Menurut Suma’ur (1989) adapun indikator - indikator keselamatan kerja meliputi :
1. Tempat Kerja
Adalah merupakan lokasi dimana para karyawan melaksanakan aktifitas kerjanya.
2. Mesin dan Peralatan
Adalah bagian dari kegiatan operasional dalam proses produksi yang biasanya
berupa alat – alat berat dan ringan.

Tujuan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

14
Hakikat dan tujuan dari Keselamatan dan Kesehatan Kerja ( K3 ) yaitu
bahwa faktor K3 berpengaruh langsung terhadap efektifitas kerja pada tenaga
kerja dan jugaberpengaruh terhadap efisiensi produksi dari suatu perusahaan
industri, sehingga dengandemikian mempengaruhi tingkat pencapaian
produktifitasnya. Karena pada dasarnyatujuan K3 adalah untuk melindungi para
tenaga kerja atas hak keselamatannya dalammelakukan pekerjaan dan untuk
menciptakan tenaga kerja yang sehat dan produktif sehingga upaya pencapaian
produktifitas yang\ semaksimalnya dari suatu perusahaan industri dapat lebih
terjamin. (Azmi, 2008).
Upaya peningkatan keselamatan kerja tidak dapat dipisahkan dengan pencegahan
kecelakaan karena pencegahan kecelakaan merupakan program utama
keselamatan kerja di suatu perusahaan.Adapun tujuandari keselamatan kerja
adalah (Azmi, 2008).
1. Melindungi tenaga kerja atas keselamatannya dalam melakukan pekerjaan
untuk kesejahteraan dan meningkatkan produksi serta produktifitas nasional
2. Menjamin keselamatan setiap orang lain yang berada di tempat kerja
3. Sumber produksi terpakai secara aman dan efisien
Aspek Hukum
Keselamatan dan Kesehatan Kerja merupakan ketentuan perundangan dan
memiliki landasan hukum yang wajib dipatuhi semua pihak, baik pekerja,
pengusaha atau pihak terkait lainnya. Di Indonesia banyak peraturan perundangan
yang menyangkut keselamatan dan kesehatan kerja, beberapa diantaranya (Ramli,
2010) :
1. Undang-undang No. 1 Tahun 1970 tentang keselamatan kerja. Diberlakukan
pada tanggal 12 Januari 1970 yang memuat berbagai persyaratan tentang
Keselamatan Kerja.Dalam Undang-undang ini, ditetapkan mengenai kewajiban
pengusaha, kewajiban hak tenaga kerja serta syarat-syarat keselamatan kerja
yang harus dipenuhi organisasi.
2. Undang-undang No. 13 Tahun 2003 tentang ketenagaan kerjaan. Dalam
perundangan mengenai ketenagakerjaan ini salah satunya memuat tentang
keselamatan kerja yaitu:

15
a. Pasal 86 menyebutkan bahwa setiap organisasi wajib menerapkan upaya
keselamatan dan kesehatan kerja untuk melindungi keselamatan tenaga
kerja.
b. Pasal 87 mewajibkan setiap organisasi melaksanakan Sistem Manajemen K3
yang terintegrasi dengan manajemen organisasi lainnya.
3. Undang-undang No. 23 Tahun 1992 Tentang Kesehatan. Upaya kesehatan kerja
merupakan salah satu dari 15 upaya kesehatan, yang diselenggarakan untuk
mewujudkan produktivitas kerja yang optimal.
Perlindungan Tenaga Kerja
Keselamatan dan Kesehatan Kerja mengandung nilai perlindungan tenaga
kerja dari kecelakaan atau penyakit akibat kerja. Tenaga kerja merupakan asset II-
7 organisasi yang sangat berharga dan merupakan unsur penting dalam proses
produksi di samping unsur lainnya seperti material, mesin, dan lingkungan kerja.
Karena itu tenaga kerja harus dijaga, dibina dan dikembangkan untuk
meningkatkan produktivitasnya (Ramli, 2010).
Perlindungan tenaga kerja ini menyangkut berbagai aspek seperti jaminan sosial,
jam kerja, upah minimum, hak berserikat dan berkumpul dan perlindungan
keselamatan.Namun kenyataannya perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja
sering diabaikan.Upaya perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja telah
bersifat universal.Berbagai negara mengeluarkan aturan perundangan untuk
melindungi keselamatan dan kesehatan tenaga kerjanya.Di Indonesia dikeluarkan
Undang-undang No. 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja (Ramli, 2010).
Pengertian Tentang Api
Api adalah suatu reaksi kimia yang diikuti oleh evolusi atau pengeluaran
cahaya dan panas. Reaksi kimia mengandung pengertian adanya proses yang
berlangsung secara kimia. Terjadinya api atau kebakaran disebabkan
bergabungnya tiga unsur seperti bahan bakar, panas dan oksigen. Bahan bakar
adalah suatu bahan yang mudah terbakar, yang secara fisik terbagi atas (Farha,
2010).
1. Bahan bakar gas : asetilen, metana, hidrokarbon, dll.
2. Bahan bakar cair : kerosin, minyak tanah, bensin, dll.

16
3. Bahan bakar padat : kayu, kertas, batu bara, logam, karet, dll
Panas yang dibutuhkan untuk pembakaran tersebut haruslah cukup mencapai
temperatur minimum dari bahan-bahan tersebut. Sumber-sumber panas dapat
berasal dari : gesekan, bunga api listrik, petir, sinar matahari, tekanan dan lain-
lain. Oksigen adalah salah satu unsur yang terdapat di udara atau dihasilkan
melalui proses kimia yang memiliki kandungan sebesar 21%. Untuk terjadinya api
diperlukan kandungan oksigen antara 16%-21%. Jika ketiga unsur tersebut di atas
bergabung dengan kondisi II-8 dan komposisi yang tepat, maka akan terjadi
kebakaran/api. Proses inilah yang dikenal sebagai proses Segitiga Api.
Keberadaan ketiga unsur tersebut mutlak untuk dapat terjadi api. Apabila salah
satu unsur tidak ada, maka api tidak akan terjadi, oleh karena itu telah menjadi
prinsip pemadaman api, yaitu dengan menghilangkan salah satu dari 3 unsur
segitiga api tersebut. Bila salah satu unsur disingkirkan, api tidak menyala dan
bila sedang berlangsung akan terpadamkan. Jadi dasar pemadaman api adalah
meniadakan salah satu unsur di atas.
Gambar 2.1 Teori Segitiga Api dan Tetrahedron Api
Pada perkembangan selanjutnya, konsep segitiga api berkembang dengan
ditambahkannya satu unsur baru yaitu reaksi berantai (chain reaction), sehingga
namanya menjadi tetrahedron api. Reaksi rantai mempengaruhi pembakaran
dengan proses sebagaimana dijelaskan bahwa reaksi rantai kimia terjadi pada
tahap awal proses pembakaran dan membuat nyala api semakin besar (Farha,
2010).
Pengertian Tentang Kebakaran
Kebakaran adalah suatu peristiwa dimana suatu material terbakar oleh api
atau reaksi pembakaran yang tidak terkendali dan menimbulkan kerugian materi
atau nyawa manusia atau kebakaran juga dapat diartikan api yang tidak terkendali
atau tidak dikehendaki serta merugikan.
Disini api tidak dilihat dari besar atau kecilnya api tersebut, jika memang apiitu
kecil akan tetapi tidak terkendali serta merugikan maka itu juga dapat
digolongkan kebakaran. Dan semantara itu jika api tersebut besar namun
itudikehendaki dan dapat dikendalikan maka ini tidak dapat digolongkan dalam

17
kebakaran (Farha, 2010).
Faktor-faktor Penyebab Terjadinya Kebakaran
Berdasarkan pengamatan, pengalaman, penyelidikan dan analisa dari
setiapperistiwa kebakaran dapat diambil kesimpulan bahwa faktor-faktor
penyebaterjadinya kebakaran dan peledakan bersumber pada 3 (tiga) faktor
(Farha. 2010)
1. Faktor manusia
Faktor manusia disebabkan kurangnya pengertian terhadap penanggulaganbahaya
kebakaran. Dalam hal ini, orang yang bersangkutan sama sekali belummengerti
atau hanya sedikit mengetahui tentang cara-cara penanggulanganbahaya
kebakaran, misalnya :
a. Mendekat-dekatkan benda-benda yang mudah terbakar ke sumber
api/panas,seperti :meletakkan kompor yang sedang menyala di dekat dinding
yangmudah terbakar.
b. Memadamkan api (kebakaran) yang sedang terjadi dengan
menggunakanperalatan pemadaman/media pemadaman yang bukan
padatempatnya/fungsinya, seperti memadamkan api yang berasal dari
kebakaranbenda cair (bensin, solar, minyak tanah, dll) menggunakan air.
c. Kelalaian, dalam hal ini yang bersangkutan termasuk kepada orang-
orangyang sudah memahami/mengerti tentang cara-cara
penanggulangankebakaran. Hanya saja iamalas/lalai untuk menjalaninya,
misalnya tidakpernah mau memperhatikan atau mengadakan
pengontrolan/pemeriksaansecara rutin terhadap alat-alat yang akan dan sedang
dipakai (kompor,generator, instalasi listrik, alat-alat listrik, dll). Tidak pernah
mengadakapengamatan terhadap lingkungan situasi setempat sewaktuII-
10akanmeninggalkan ruang kerja dan tempattinggal. Membiarkan anak-
anakbermain api. Tidak pernah mengadakan pengontrolan terhadap
perlengkapanalat pemadam kebakaran dan tidak mematuhi larangan-larangan
di suatu tempat.

18
d. Disengaja, yakni suatu kebakaran yang benar-benar sengaja dilakukan
olehseseorang dengan tujuan untuk maksud-maksud tertentu, misalnya
sajamencari keuntungan pribadi dan untuk balas dendam.
2. Faktor teknis
Faktor teknis terbagi menjadi tiga yaitu melalui proses mekanis, kimia danmelalui
tenaga listrik antara lain sebagai berikut :
a. Melalui proses mekanis, dimana 2 (dua) faktor penting yang menjadi
peranandalam proses ini ialah timbulnya panas akibat kenaikan suhu atau
timbulnyabunga api akibat dari pengetesan benda-benda maupun adanya api
terbuka.
b. Melalui proses kimia, yaitu terjadi sewaktu pengangkutan bahan-bahan
kimiaberbahaya, penyimpanan dan penanganan (handling) tanpa
memperhatikanpetunjuk-petunjuk yang ada.
c. Melalui tenaga listrik, pada umumnya terjadi karena hubungan
pendeksehingga menimbulkan panas atau bunga api dan dapat menyalakan
ataumembakar komponen yang lain.
3. Faktor alam
Berdasarkan faktor alam terbagi menjadi dua yaitu petir dan gunung meletus:
a. Petir adalah salah satu penyebab adanya kebakaran dan peledakan akibat
darifaktor alam.
b. Gunung meletus, bisa menyebabkan kebakaran hutan yang luas,
jugaperumahan-perumahan yang dilalui oleh lahar panas.
Klasifikasi Kebakaran
Klasifikasi kebakaran adalah pengelompokan jenis-jenis
kebakaranberdasarkan jenis-jenis bahan yang terbakar. Tujuannya adalah untuk
menentukancara dan media yang tepat dalam memadamkan kebakaran tersebut.
Kebakaran dibagimenjadi beberapa jenis atau kelas berdasarkan dari jenis bahan
bakarnya yangterbakar yaitu (Farha, 2010).
1. Kebakaran kelas A
Kebakaran kelas Aadalah kebakaran bahan biasa atau padat kecuali logam
yangmudah terbakar seperti kertas, kayu, pakaian, karet, plastik dan lain-lain.

19
Jikaterjadi kebakaran kelas A makadapat digunakan metode pemadaman
dengancara pendinginan dengan air. Pemadaman dengan air atau busa kelas A.
2. Kebakaran kelas B
Kebakaran kelas B adalah kebakaran bahan cairan dan gas yang mudah
terbakaseperti minyak, bensin, solar, gas LPG, LNG dan lain-lain. Jika terjadi
kebakarankelas B maka metode pemadaman yang dapat digunakan adalah:
a. Penutupan atau pelapisan atau penyelimutan
b. Pemindahan bahan bakar
c. Penurunan temperature.
3. Kebakaran kelas C
Kebakaran kelas C adalah kebakaran yang diakibatakan dari kebocoran
listrikkonsleting termasuk peralatan bertenaga listrik. Jika terjadi kebakaran kelas
Cmetode pemadaman yang dapat digunakan adalah:
a. Pemadaman menggunakan bahan yang non konduksi listrik
b. Putuskan arus listrik dan padamkan seperti pemadaman kebakaran kelas A atau
kelas B.
4. Kebakaran kelas D
Kebakaran kelas D merupakan kebakaran yang sangat jarang terjadi dan
biasanya terjadi pada logam seperti seng, magnesium, serbuk alumunium dan lain-
lain.Jika terjadi maka metode pemadamannya adalah pelapisan atau penyelimutan
dengan bahan pemadam khusus terutama bubuk kering tertentu.
Konsep Pemadaman
Sasaran utama dari upaya pencegahan kebakaran adalah untuk dapatmematikan
dan memadamkan kebakaran jika terjadi. Memadamkan kebakaran bagisetengah
orang mungkin dianggap sulit dan menakutkan, terutama jika api telahberkobar
hebat dan menjulang ke angkasa, dengan asap serta nyala yang hebat.Namun bagi
professional pemadam kebakaran, yang telah memahami teori dankonsep api,
maka upaya tersebut dapat dilakukan dengan mudah dan cepat.Prinsip dari
pemadaman kebakaran adalah memutus mata rantai segi tiga api,misalnya dengan
menghilangkan bahan bakar, membuang panas atau oksigen.Memadamkan

20
kebakaran atau mematikan api dapat dilakukan dengan beberapa teknik atau
pendekatan (Ramli, 2010).
Pemadaman dengan Pendingin
Teknik pendinginan (cooling) adalah teknik memadamkan kebakaran
dengancar mendinginkan atau menurunkan temperatur uap atau gas yang terbakar
sampaikebawah temperature nyalanya. Cara ini banyak dilakukan oleh petugas
pemadamkebakaran dengan menggunakan semprotan air ke lokasi atau titik
kebakaransehingga api secara perlahan dapat berkurang dan mati.
Semprotan air yang disiramkan ke tengah api akan mengakibatkan udara sekitar
api mendingin. Sebagian panas akan diserap oleh air yang kemudian
berubahbentuk menjadi uap air yang akan mendinginkan api (Ramli, 2010).
Pembatasan Oksigen
Untuk proses pembakaran, suatu bahan bakar membutuhkan oksigen
yangcukup misalnya kayu akan mulai menyala pada permukaan bila kadar
oksigen 4-II-13,acetylene memerlukan oksigen dibawah 5%, sedangkan gas dan
uap hidrokarbonbiasanya tidak akan terbakar bila kadar oksigen di bawah
15%.Sesuai dengan teori segitiga api, kebakaran dapat dihentikan
denganmenghilangkan atau mengurangi suplai oksigen, dengan membatasi atau
mengurangioksigen dalam proses pembakaran api dapat padam, teknik ini dikenal
dengan smothering.
Penghilang Bahan Bakar
Api secara alamiah akan mati dengan sendirinya jika bahan yang dapat
terbakar sudah habis. Teknik ini disebut starvation.Teknik starvationini juga
dapat dilakukan misalnya dengan menyemprotkanbahan yang terbakar dengan
busa sehingga suplai bahan bakar untuk kelangsunganpembakaran terhenti atau
berkurang sehingga api akan mati. Api juga dapat dipadamkan dengan
menjauhkan bahan yang terbakar ke tempat yang aman (Ramli, 2010).
Memutus Reaksi Berantai
Cara yang terakhir untuk memadamkan api adalah dengan
mencegahterjadinya reaksi rantai di dalam proses pembakaran. Para ahli
menemukan bahwareaksi rantai bisa menhasilkan nyala api. Pada beberapa zat

21
kimia mempunyai sifatmemecah sehingga terjadi reaksi rantai oleh atom-atom
yang dibutuhkan oleh nyala untuk tetap terbakar (Ramli, 2010).
CH4 + 2O2 → CO2 + 2H2O + E
Dengan tidak terjadinya reaksi atom ini, maka nyala api akan padam.

Usaha-Usaha Penanggulangan Umum Bahaya Kebakaran:


Tindakan Preventif
Usaha pencegahan yang dilakukan sebelum terjadinya kebakaran dengan
maksud menekan atau mengurangi faktor-faktor yang dapat menyebabkan
timbulnya kebakaran antara lain:
1. Mengadakan penyuluhan-penyuluhan
2. Pengawasan terhadap bahan-bahan bangunan
3. Pengawasan terhadap penyimpanan dan penggunaan barang-barang
4. Pengawasan terhadap peralatan yang dapat menimbulkan api
5. Pengadaan sarana pemadaman kebakaran dan sarana penyelamat jiwa
6. Pengadaan sarana pengindera kebakaran
7. Penegakan peraturan dan ketentuan
8. Mengadakan latihan secara berkala
Tindakan Represif
Usaha-usaha yang dilakukan pada saat terjadi kebakaran dengan maksud
untuk memperkecil kerugian yang timbul sebagai akibat kebakaran.
1. Usaha Pemadaman
a. Penggunaan peralatan pemadam kebakaran
b. Mencegah meluasnya kebakaran
c. Penggunaan alat-alat penunjang
2. Pertolongan atau penyelamatan jiwa manusia dan harta benda
a. Pengamanan daerah kebakaran dan bahaya kebakaran
b. Pelaksanaan evakuasi
c. Mempersiapkan tempat berkumpul dan daerah aman
d. Usaha-usaha pencarian
a. Mencari sumber api untuk dipadamkan

22
b. Mencari orang-orang untuk diselamatkan bila dalam keadaan terjebak
c. Mencari harta benda atau dokumen penting untuk diamankan
II-15
Tindakan Rehabilitatif
Upaya-upaya yang dilakukan setelah terjadi kebakaran dengan maksud
evaluasi dan menganalisa peristiwa kebakaran untuk mengambil langkah-langkah
selanjutnya, antara lain :
1. Menganalisa tindakan-tindakan yang telah dilakukan
2. Membuat pendataan menyelidiki faktor-faktor penyebab kebakaran
Sistem Manajemen Kebakaran
Bahaya kebakaran juga harus dengan baik dan secara terencana dengan
menerapkan semua manajemen kebakaran dengan baik.Salama ini masyarakat
atauperusahaan tidak menjalankan program terencana untuk mencegah
danmenanggulangi kebekaran di tempatnya masing-masing dan hanya bereaksi
setelahkebakaran terjadi.Bahaya kebakaran tidak mendapat perhatian dari
manajemen dansering diabaikan.
Sistem manajemen kebakaran adalah upaya terpadu untuk mengelola resiko
kebakaran mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan tindak lanjutnya
(Ramli, 2010).
Kebijakan Manajemen
Program pengendalian dan penanggulangan kebakaran dalam organisasi
atau perusahaan seharusnya merupakan kebijakan manajemen.Pihak
manajemenlah sesungguhnya yang berkepentingan dengan upaya pencegahan
kebakaran.Jika terjadi kebakaran, manajemenlah sebenarnya yang menanggung
akibat terebesar. Bisnisnya akan terganggu, operasi terhenti, mengeluarkan biaya
yang sebenarnya tidak perluuntuk memperbaiki kerusakan, biaya pengobatan
dang anti rugi.Oleh karena itu, program pencegahan kebakaran dalam organisasi
atau perusahaan harus merupakan keinginan dan sekaligus kebijakan pemerintah
(Ramli,
2010).
Organisasi dan Prosedur

23
Upaya pencegahan dan penanggulangan kebakaran dalam perusahaan
tidak sesederhana yang dibayangkan.Memerlukan pengorganisasian dan
perencanaan yang baik agar dapat berhasil. Seperti halnya dengan aspek lainnya,
upaya pengendaliankebakaran juga harus dikelola dan dikoordinir dengan baik,
karena akan melibatkan banyak pihak dari berbagai fungsi. Manajemen kebakaran
bersifat multi disiplin sehingga harus melibatkan semua unsur dalam organisasi,
perusahaan atau lingkungan.
Untuk mengelola upaya pencegahan kebakaran diperlukan pengorganisasian yang
baik misalnya dengan membentuk organisasi kebakaran, baik yang bersifat
structural maupun non structural.Pada perusahaan dengan resiko kebakaran tinggi,
misalnya petrokimia dan kilang minyak, biasanya dibentuk organsisasi bagian
kebakaran yang bertugas mencegah sekaligus menanggulangi jika kebakaran
terjadi.Pada organisasi perusahaan lainnya, mungkin cukup dibentuk organsisasi
ntanggap darurat yang berperan membantu penanggulangan kejadian kebakaran
jika terjadi.
Sejalan dengan kebutuhan pengorganisasian diperluakan juga suatu prosedur atau
tata cara berkenaan dengan manajemen kebakaran, misalnya prosedur organisasi
kebakaran yang memuat tugas dan tanggung jawab semua pihak dan tata cara
melakukan penanggulangannya (Ramli, 2010).
Sarana Pemadam Kebakaran
1. Alarm Kebakaran
a. Alarm kebakaran adalah suatu komponen dari sistem yang memberikan isyarat
atau tanda adanya suatu kebakaran (Permenaker No. Per02/Men/1983)
b. Alarm kebakaranyang memberikan tanda/isyarat yang tertangkap oleh
pandangan mata secara jelas (visible alarm) yakni lampu indicator
2. Alat Pemadam Api Ringan (APAR)
APAR ialah alat yang ringan serta mudah digunakan oleh satu orang untuk
memadamkan api pada awal terjadinya kebakaran. Berikut ini beberapa media
yangpemadam api yang umum dipakai sebagai APAR :
a. Tepung kimia kering
b. Air

24
c. Busa (foam)
d. Halon (cairan mudah menguap)
e. CO2
Indikator keberhasilan APAR dalam memadamkan api sangat tergantung dari 4
faktor, yaitu:
a. Pemilihan jenis APAR yang tepat sesuai dengan klasifikasi kebakaran
b. Pengetahuan yang benar mengenai teknik penggunaan APAR
c. Kecukupan jumlah isi bahan pemadam yang ada dalam APAR
d. Berfungsinya APAR dengan baik

APAR merupakan pertahanan pertama terhadap kebakaran, dan sangat efektifbila


digunakan saat kebakaran masih berada pada tahap awal.Oleh karena itu
APARharus disediakan di semua tempat yang mudah dijangkau.Penggunaan
APAR yang memenuhi syarat Permennaker No. Per. 04/Men/1980,sebagai
berikut:
a. Setiap jarak 15 meter
b. Di tempat yang mudah dilihat atau dijangkau
c. Pada jalur keluar arah refleks pelarian
d. Memperhatikan suhu sekitarnya
e. Tidak terkunci
f. Memperhatikan jenis dan sifat bahan yang dapat terbakar
g. Intensitas kebakaran yang mungkin terjadi seperti jumlah bahan bakar,
ukurannya, dan kecepatan menjalarnya.
h. Orang yang akan menggunakannya
i. Kemungkinan terjadinya reaksi kimia
j. Efek terhadap keselamatan dan kesehatan orang yang menggunakan APAR

3. Hidran
Hidran adalah rangkaian yang digunakan untuk pemadaman kebakaran
denganbahan utama air.Ada hydrant yang dipasang di luar ataupun di dalam
gedung.Hydrantbiasanya dilengkapi dengan selang (fire house) yang disambung

25
dengan kepala selang(nozzle) yang tersimpan rapi di dalam suatu kotak hidran
baja dengan warna catmerah mencolok (Ramli, 2010).
Pemasangan hidran kebakaran dalam mengamankan bangunan gedung
akanmenjadi suatu keharusan. Pengujian dan pengawasan instalasi hidran
kebakaran untukmenjamin terpeliharanya instalasi tersebut agar dapat tetap
berfungsi dengan baikharus mendapat perhatian sebagaimana mestinya.

Sarana Emergency dan Evakuasi


Salah satu upaya penanggulangan kebakaran terutama untuk mencegah
danmengurangi akibat buruk dari kebakaran terhadap jiwa raga, serta
untukmempermudah pemberantasan kebakaran adalah dengan tersedianya sarana
dan prasaranaemergensi dan evakuasi yang memenuhi standar.Perlunya
penciptaan sistem kebakaran yang bertujuan untuk menghindarkanterjadinya
kebakaran dan bila terjadi dapat diatasi dengan cepat dan tepat tanpamenimbulkan
korban jiwa atau kerusakan yang berarti.Beberpa hal yang dipandangperlu
keberadaannnya dalam masalah penyelamatan dari ancaman bahaya
kebakaranpada bangunan (Ramli, 2010).

Standar Sarana Penyelamatan


1. Rute penyelamatan diri
Merupakan sarana penyelamatan dari daerah kebakaran ke tempat aman
ataudaerah yang aman, baik secara vertikal maupun horizontal, yang dapat berupa
intuiting, koridor jalan keluar atau kombinasi dari komonen-komponen itu. Ada 3
tiperute penyelamatan diri yang dapat digunakan :
a. Langsung menuju ke tempat terbuka
b. Melalui koridor atau gang
c. Melalui terowongan atau tangga kedap asap atau api
Rute penyelamatan diri harus memenuhi syarat sehingga memungkinkan seluruh
penghuni dapat menyelamatkan diri dengan cepat dan aman.

26
BAB III
METODOLOGI
3.1 Prosedur kerja
Alat dan Bahan yang dibutuhkan
3.1.2 Bahan
-
3.1.3 Peralatan
- Fire Hose

3.2 Prosedur/Langkah Kerja


3.2.1 Menggelar Single Roll
a. Persiapkan fire hose 1,5” dan 2,5” di lapangan untuk digelar

Gambar 3.1 Fire Hose


b. Rapatkan terlebih dahulu fire hose yang telah digulung sebelumnya dengan
cara salah satu kaki bertumpu di pusat gulungan fire hose tariklah female
coupling seporos dengan alur fire hose
c. Letakkan posisi fire hose dengan female coupling berada di luar gulungan dan
berada di posisi sebelah kanan untuk memudahkan saat mengambil dan
membawa gulungan, sebelum mengambil gulungan fire hose, posisi
hosemajongkok dengan lutut bagian kanan menempeltanah dan lutut bagian kiri
menahan (seperti start jongkok lari)
d. Ambil gulungan fire hose dengan tangan kanan memegang bagian coupling,
sedangkan tangan kiri mengambil satu gulungan fire hose .
e. Berdiri dan bawa fire hose

27
Gambar 3.2 Posisi Hoseman Saat Membawa Fire Hose
f. Persiapan menggelar fire hose dengan hose man posisi kuda-kuda selebar bahu
dan mengarahkan fire hose sejajar dengan tanah (tidak miring)
g. Pegang fire hose untuk menggelar dengan masukkan jari hose man ke
gulunganpertama dan jempol paling atas dari gulungan fire hose tersebut, serta
tangan yang lainnya memegang female coupling

Gambar 3.3 Posisi Persiapan Menggelar Fire Hose


h. Ayunkan fire hose sebanyak 2 sampai maksimal 3 kali ke depan dengan
memberidorongan untuk memberi tenaga agar fire hose tergelar sempurna dan
tangankanan tetap memegang bagian female dan arahkan gulungan fire hose
tersebutlurus kedepan .

28
j. Jika pada pertengahan kecepatan fire hose menurun atau setelah ± 1 meter dari
tempat penggelaran, tariklah female coupling agar fire hose tersebut tegang dan
tergelar lurus sampai bagian male coupling;
k. Fire hose siap digunakan.

Gambar 3.4 Cara Mengayun Fire Hose

3.2.2 Merelease Single Roll


a. Setelah fire hose digunakan, luruskan kembali fire hose tersebut;
b. Kemudian release-lah fire hose tersebut dari female coupling dengan cara
diangkat fire hose tersebut ke bahu hose man
c. Hose man berjalan ke depan dengan tangan menarik fire hose dengan
jangkauan yang jauh dan posisi fire hose landai ke bawah sampai male coupling
d. Posisikan tangan lurus dan usahakan dalam melakukan release fire hose posisi
tangan lurus memanjang, agar release dapat dilakukan dengan cepat;
e. Tujuan dari release ini adalah untuk membuang air yang ada dari dalam fire
hose dan memudahkan dalam menggulung fire hose.

Gambar 3.5 Cara Merelease Fire Hose

29
3.2.3 Menggulung Fire Hose
a. Luruskan fire hose setelah proses release dengan hoseman lainnya menahan
firehose di female coupling;
b. Gulunglah fire hose tersebut dari male coupling dengan posisi hoseman,
yaitukaki lurus dan badan condong ke depan, posisi hoseman jangan duduk dan
bungkuk, sedangkan hoseman lainnya menahan fire hose di female coupling
c. Gulung fire hose secara perlahan agar gulungan fire hose rapat dan rapi
sehingga mudah untuk penggunaan selanjutnya, dengan bagian male coupling di
dalam dan bagian female coupling di luar sampai selesai
d. Rebahkanlah fire hose ke arah kanan setelah selesai digulung, agar fire hose
kembali ke posisi awal sebelum digela
e. Rapihkan gulungan dengan kencangkan fire hose setelah digulung dengan
menekan bagian tengah atau pusat gulungan dengan kaki bagian tumit dan Tarik
bagian ujung female coupling fire hose yang tidak tergulung

Gambar 3.5 Teknik Menggulung Fire Hose Single Roll

3.2.4 Menggelar Double Roll


a. Penggelaran fire hose pada teknik double roll dilakukan dengan pembagian
tugas pada masing-masing petugas hose man. Salah satu Hose Man berperan
untuk memasang female coupling pada hydrant pilar, sementara hose man lainnya
berlari menarik male coupling menuju nozzle man, mengingat pola penggulungan
double roll yang mustahil untuk dilakukan pelemparan;
b. Mengantarkan male coupling dengan berlari tentu akan lebih efektif dan pasti,
namun dalam proses membawa fire hose dengan menariknya, badan fire hoseakan
terus mengalami pergesekan di atas aspal atau tanah sehingga berisiko
menyebabkan kerobekan;

30
c. Proses cara menggulung teknik double roll dengan 2 (dua) orang yaitu dengan
menyatukan kedua ujung atau male coupling dan female coupling dimana male
coupling berada di atasnya female coupling dengan jarak antara ± 50 cm atau 2
panjang telapak kaki ,
d. Salah satu hose man mulai menggulung dari sisi lipatan menuju kedua coupling
seperti
e. Hose man lainnya agak menarik dan mengangkat sedikit ke atas firehose
supaya lebih rekat gulungannya seperti Gambar 114 dan
f. Hasil gulungannya

Gambar 3.6 Cara Menggulung Firehose Double Roll

3.3 Analisa Data


Dari data penelitian yang sudah diperoleh, maka analisa data hasil penelitian
yang digunakan adalah dengan membandingkan data penelitian tersebut dengan
peraturan perundangan yang berlaku dan teori serta studi literatur yang memiliki
korelasi dengan topik pembahasan sistem pencegahan dan penanggulangan
kebakaran

31
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Secara filosofis, keselamatan dan kesehatan kerja adalah suatu
pemikiran Dan upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan
jasmaniah maupun rohaniah tenagakerja pada khususnya dan pada
manusia pada umumnya beserta hasil karya dan budayanya menuju
masyarakat adil dan makmur.Ditinjau dari segi keilmuan keselamatan dan
kesehatan kerja dapat diartikansebagai ilmu pengetahuan dan
penerapannya dalam usaha mencegah kemungkinanterjadinya kecelakaan
dan penyakit akibat kerja
Setelah melaksanakan Praktikum Fire hose, coupling, dan hydrant
Mahasiswa dapat mengaplikasikan bagaimana cara untuk menggulung,
merelease, serta menggelar selang dengan baik dan benar jika sewaktu
waktu ada keadaan darurat sebelum melaksanakan fire fighting.

4.2 Saran
Saat memasuki ruang Lab Fire and safety, suasananya terkesan sangat
nyaman karena instruktur bersikap sangat ramah dan sabar kepada kami
yang notabene masih awam dalam dunia K3. Dan untuk kedepannya
semoga lebih ditingkatkan lagi agar siswa menjadi semakin paham akan
materi yang di berikan.

32
DAFTAR PUSTAKA

Supriyadi, Putut S.T , M.T Dkk. Modul praktikum fire and safety. 2018. PEM
…………AKAMIGAS Cepu.
Handoko, Susilo , S.T , MT. Presentasi “Apar”. 2019. PEM AKAMIGAS Cepu.

33