Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN

PADA Ny. M DENGAN DIAGNOSA KOLELITIASIS


Disusun Untuk Memenuhi Laporan Individu Praktek Profesi
Keperawatan Departemen Keperawatan Medikal Bedah

di Ruang 28 RSUD. Dr. Saiful Anwar Malang

Disusun Oleh :
Yenne Purnamaning Tyas
P17212195047

PROGRAM PROFESI NERS KEPERAWATAN MALANG

JURUSAN KEPERAWATAN

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG

TAHUN AJARAN 2019


LAPORAN PENDAHULUAN
KOLELITIASIS

A. ANATOMI FISIOLOGI
Kandung empedu merupakan kantong berbentuk seperti buah alpukat yang
terletak tepat dibawah lobus kanan hati. Empedu yang disekresi secara terus
menerus oleh hati masuk ke saluran empedu yang kecil di dalam hati. Saluran
empedu yang kecil-kecil tersebut bersatu membentuk dua saluran yang lebih besar
yang keluar dari permukaan bawah hati sebagai duktus hepatikus kanan dan kiri,
yang akan bersatu membentuk duktus hepatikus komunis. Duktus hepatikus
komunis bergabung dengan duktus sistikus membentuk duktus koledokus. Pada
banyak orang, duktus koledokus bersatu dengan duktus pankreatikus membentuk
ampula Vateri sebelum bermuara ke usus halus. Bagian terminal dari kedua
saluran dan ampla dikelilingi oleh serabut otot sirkular, dikenal sebagai sfingter
Oddi.
Fungsi utama kandung empedu adalah menyimpan dan memekatkan
empedu. Kandung empedu mampu menyimpan sekitar 45 ml empedu yang
dihasilkan hati. Empedu yang dihasilkan hati tidak langsung masuk ke duodenum,
akan tetapi setelah melewati duktus hepatikus, empedu masuk ke duktus sistikus
dan disimpan di kandung empedu. Pembuluh limfe dan pembuluh darah
mengabsorbsi air dan garam-garam anorganik dalam kandung empedu sehingga
cairan empedu dalam kandung empedu akan lebih pekat 10 kali lipat daripada
cairan empedu hati. Secara berkala kandung empedu akan mengosongkan isinya
ke dalam duodenum melalui kontraksi simultan lapisan ototnya dan relaksasi
sfingter Oddi. Rangsang normal kontraksi dan pengosongan kandung empedu
adalah masuknya kimus asam dalam duodenum. Adanya lemak dalam makanan
merupakan rangsangan terkuat untuk menimbulkan kontraksi. Hormone CCK
juga memperantarai kontraksi.
B. DEFINISI
Kolelitiasis disebut juga batu empedu, gallstones, biliary calculus. Istilah
kolelitiasis dimaksudkan untuk pembentukan batu di dalam kandung empedu.
Batu kandung empedu merupakan gabungan beberapa unsur yang membentuk
suatu material mirip batu yang terbentuk di dalam kandung empedu.
Kolelitiasis adalah material atau kristal tidak berbentuk yang terbentuk
dalam kandung empedu. Komposisi dari kolelitiasis adalah campuran dari
kolesterol, pigmen empedu, kalsium dan matriks inorganik. Lebih dari 70% batu
saluran empedu adalah tipe batu pigmen, 15-20% tipe batu kolesterol dan sisanya
dengan komposisi yang tidak diketahui. Di negara-negara Barat, komponen utama
dari batu empedu adalah kolesterol, sehingga sebagian batu empedu mengandung
kolesterol lebih dari 80%

C. ETIOLOGI
Empedu normal terdiri dari 70% garam empedu (terutama kolik dan asam
chenodeoxycholic), 22% fosfolipid (lesitin), 4% kolesterol, 3% protein dan 0,3%
bilirubin. Etiologi batu empedu masih belum diketahui dengan sempurna namun
yang paling penting adalah gangguan metabolisme yang disebabkan oleh
perubahan susunan empedu, stasis empedu dan infeksi kandung empedu.
Sementara itu, komponen utama dari batu empedu adalah kolesterol yang
biasanya tetap berbentuk cairan. Jika cairan empedu menjadi jenuh karena
kolesterol, maka kolesterol bisa menjadi tidak larut dan membentuk endapan di
luar empedu.
Kolelitiasis dapat terjadi dengan atau tanpa faktor resiko dibawah ini.
Namun, semakin banyak faktor resiko yang dimiliki seseorang, semakin besar
kemungkinan untuk terjadinya kolelitiasis. Faktor resiko tersebut antara lain :
1. Wanita (beresiko dua jadi lebih besar dibanding laki-laki)
2. Kegemukan (obesitas).
3. Faktor keturunan
4. Aktivitas fisik
5. Kehamilan (resiko meningkat pada kehamilan)
6. Hiperlipidemia
7. Diet tinggi lemak dan rendah serat
8. Nutrisi intravena jangka lama
9. Dismotilitas kandung empedu
10. Obat-obatan antihiperlipedmia (clofibrate)
11. Penyakit lain (seperti Fibrosis sistik, Diabetes mellitus, sirosis hati,
pankreatitis dan kanker kandung empedu) dan penyakit ileus (kekurangan
garam empedu)
12. Ras/etnik (Insidensinya tinggi pada Indian Amerika, diikuti oleh kulit putih,
baru orang Afrika)

D. KLASIFIKASI
1. Batu Kolesterol
Ini Biasanya Berwarna Kuning-Hijau. Mereka Adalah Jenis Yang Paling
Umum, Terhitung 80% Batu Empedu.
2. Batu Pigmen
Batu-Batu Ini Lebih Kecil Dan Lebih Gelap. Mereka Terdiri Dari Bilirubin,
Yang Berasal Dari Empedu, Cairan Yang Dibuat Hati Dan Kantong Empedu
Anda.

E. MANIFESTASI KLINIS
Gejala klinik kolelitiasis bervariasi dari tanpa gejala hingga munculnya
gejala. Lebih dari 80% batu kandung empedu memperlihatkan gejala
asimptomatik. Gejala klinik yang timbul pada orang dewasa biasanya dijumpai
gejala dispepsia non spesifik, intoleransi makanan yang mengandung lemak, nyeri
epigastrium yang tidak jelas, tidak nyaman pada perut kanan atas. Gejala ini tidak
spesifik karena bisa terjadi pada orang dewasa dengan atau tanpa kolelitiasis.
Studi yang dilakukan oleh Kumar et al didapatkan gejala:
1. nyeri perut kanan atas yang berulang dengan atau tanpa mual dan muntah
mencapai 75% dari gejala klinik yang timbul, sisanya meliputi nyeri perut
kanan atas yang akut,
2. jaundice, failure to thrive, keluhan perut yang tidak nyaman. Hanya 10%
dijumpai dengan gejala asimptomatik.
3. Mual dan muntah juga umum terjadi.
4. Demam umum terjadi pada anak dengan umur kurang dari 15 tahun.
5. Nyeri episodik terjadi secara tidak teratur dan beratnya serangan sangat
bervariasi.

Batu empedu tidak menyebabkan tanda atau gejala. Jika batu empedu masuk
ke dalam saluran dan menyebabkan penyumbatan, tanda dan gejala yang
dihasilkan mungkin meliputi:
 Nyeri tiba-tiba dan cepat mengeras di bagian kanan atas perut Anda
 Nyeri tiba-tiba dan cepat mengeras di bagian tengah perut Anda, tepat di
bawah tulang dada Anda
 Sakit punggung di antara tulang belikat Anda
 Nyeri di bahu kanan
 Mual atau muntah

F. PATOFISIOLOGI
Pembentukan batu empedu dibagi menjadi tiga tahap: (1) pembentukan
empedu yang supersaturasi, (2) nukleasi atau pembentukan inti batu, dan (3)
berkembang karena bertambahnya pengendapan. Kelarutan kolesterol
merupakan masalah yang terpenting dalam pembentukan semua batu, kecuali batu
pigmen. Supersaturasi empedu dengan kolesterol terjadi bila perbandingan asam
empedu dan fosfolipid (terutama lesitin) dengan kolesterol turun di bawah harga
tertentu. Secara normal kolesterol tidak larut dalam media yang mengandung air.
Empedu dipertahankan dalam bentuk cair oleh pembentukan koloid yang
mempunyai inti sentral kolesterol, dikelilingi oleh mantel yang hidrofilik dari
garam empedu dan lesitin. Jadi sekresi kolesterol yang berlebihan, atau kadar
asam empedu rendah, atau terjadi sekresi lesitin, merupakan keadaan yang
litogenik.
Pembentukan batu dimulai hanya bila terdapat suatu nidus atau inti
pengendapan kolesterol. Pada tingkat supersaturasi kolesterol, kristal kolesterol
keluar dari larutan membentuk suatu nidus, dan membentuk suatu pengendapan.
Pada tingkat saturasi yang lebih rendah, mungkin bakteri, fragmen parasit, epitel
sel yang lepas, atau partikel debris yang lain diperlukan untuk dipakai sebagai
benih pengkristalan.
Batu pigmen terdiri dari garam kalsium dan salah satu dari keempat anion
ini : bilirubinat, karbonat, fosfat dan asam lemak. Pigmen (bilirubin) pada kondisi
normal akan terkonjugasi dalam empedu. Bilirubin terkonjugasi karena adanya
enzim glokuronil tranferase bila bilirubin tak terkonjugasi diakibatkan karena
kurang atau tidak adanya enzim glokuronil tranferase tersebut yang akan
mengakibatkan presipitasi/pengendapan dari bilirubin tersebut. Ini disebabkan
karena bilirubin tak terkonjugasi tidak larut dalam air tapi larut dalam
lemak.sehingga lama kelamaan terjadi pengendapan bilirubin tak terkonjugasi
yang bisa menyebabkan batu empedu tapi ini jarang terjadi.
Pigmen (bilirubin) tak terkonjugasi dalam empedu

Akibat berkurang atau tidak adanya enzim glokuronil tranferase

Presipitasi / pengendapan

Berbentuk batu empedu

Batu tersebut tidak dapat dilarutkan dan harus dikeluarkan dengan jalan operasi

G. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
a. Radiologi
Pemeriksaan USG telah menggantikan kolesistografi oral sebagai
prosedur diagnostik pilihan karena pemeriksaan ini dapat dilakukan
dengan cepat dan akurat, dan dapat digunakan pada penderita disfungsi
hati dan ikterus. Disamping itu, pemeriksaan USG tidak membuat pasien
terpajan radiasi inisasi. Prosedur ini akan memberikan hasil yang paling
akurat jika pasien sudah berpuasa pada malam harinya sehingga kandung
empedunya berada dalam keadan distensi. Penggunaan ultra sound
berdasarkan pada gelombang suara yang dipantulkan kembali. Pemeriksan
USG dapat mendeteksi kalkuli dalam kandung empedu atau duktus
koleduktus yang mengalami dilatasi.
b. Radiografi: Kolesistografi
Kolesistografi digunakan bila USG tidak tersedia atau bila hasil
USG meragukan. Kolangiografi oral dapat dilakukan untuk mendeteksi
batu empedu dan mengkaji kemampuan kandung empedu untuk
melakukan pengisian, memekatkan isinya, berkontraksi serta
mengosongkan isinya. Oral kolesistografi tidak digunakan bila pasien
jaundice karena liver tidak dapat menghantarkan media kontras ke
kandung empedu yang mengalami obstruksi. (Smeltzer dan Bare, 2002).
c. Pemeriksaan Laboratorium
1) Kenaikan serum kolesterol
2) Kenaikan fosfolipid
3) Penurunan ester kolesterol
4) Kenaikan protrombin serum time
5) Kenaikan bilirubin total, transaminase (Normal < 0,4 mg/dl)
6) Penurunan urobilirubin
7) Peningkatan sel darah putih: 12.000 - 15.000/iu (Normal : 5000 -
10.000/iu)
8) Peningkatan serum amilase, bila pankreas terlibat atau bila ada batu di
duktus utama (Normal: 17 - 115 unit/100ml)
H. Komplikasi
1. Kolisistisi kronis
Inflamsi dengan episode kolik bilier atau nyeri dari obstruksi ductus
sistikus berulang. Gejala utma nyeri konstan dan berulang sekitar 1-5 jam ,
mual, muntahg, kembung. Pemeriksaan fisik nyeri tekan kuadaran kanan
atas. Pemerikaan laboratorium biasnya normal
2. Kolisitisi akut
Apabila obstruksi berlanju pada duskus sistikus kandung empedu
mengalami distensi, inflamsi, dan edema. Gejala yang dirasakan nyeri
kuadran kanan atas yng lebih lama dari sebelumnya, demam, mula
muntah. Murphy sign positif. Lab: peningkatan leukosit rigan, bilirubin,
alkalifosfat tranamirasae, amilase.
3. Koledokolitis
Batu pada commont bile duct dengan obstruksi trnsien laboratorium yng
normal, gejala yng muncul kolil billier, icterus, tinja dempul, urine
berwarna gelap seperti teh, peningkatan hiperbilirubin, SGOT/SGPT, dan
alkali fosfat.

4. Kolangitis
Infeksi bateri asenden disertai dengan obstruksi ductus billier. Gejala
demam, nyeri epigastrum atau kuadran kanan atas, ikterik disebut trias
charcot. Disetai septicemia dan disorientasi deikenal penta Reynold. Lab:
leukositosis, hiperbilirubin, alkali fosfat.
5. Panlkreatitis akut
Sumbatan ductus pancreatukus oleh batu atau batu yng lewati ampula
dapat sebabkan pankreatitis

I. PENATALAKSANAAN
Penanganan kolelitiasis dibedakan menjadi dua yaitu penatalaksanaan non
bedah dan bedah. Ada juga yang membagi berdasarkan ada tidaknya gejala yang
menyertai kolelitiasis, yaitu penatalaksanaan pada kolelitiasis simptomatik dan
kolelitiasis yang asimptomatik.
a. Penatalaksanaan Nonbedah
1. Penatalaksanaan pendukung dan diet
Kurang lebih 80% dari pasien-pasien inflamasi akut kandung empedu
sembuh dengan istirahat, cairan infus, penghisapan nasogastrik, analgesik dan
antibiotik. Intervensi bedah harus ditunda sampai gejala akut mereda dan
evalusi yang lengkap dapat dilaksanakan, kecuali jika kondisi pasien
memburuk
Manajemen terapi :
1. Diet rendah lemak, tinggi kalori, tinggi protein
2. Pemasangan pipa lambung bila terjadi distensi perut.
3. Observasi keadaan umum dan pemeriksaan vital sign
4. Dipasang infus program cairan elektrolit dan glukosa untuk mengatasi
syok.
5. Pemberian antibiotik sistemik dan vitamin K (anti koagulopati)

2. Disolusi medis
Oral Dissolution Therapy adalah cara penghancuran batu dengan
pemberian obat-obatan oral. Ursodeoxycholic acid lebih dipilih dalam
pengobatan daripada chenodeoxycholic karena efek samping yang lebih
banyak pada penggunaan chenodeoxycholic seperti terjadinya diare,
peningkatan aminotransfrase dan hiperkolesterolemia sedang
Pemberian obat-obatan ini dapat menghancurkan batu pada 60%
pasien dengan kolelitiasis, terutama batu yang kecil. Angka kekambuhan
mencapai lebih kurang 10%, terjadi dalam 3-5 tahun setelah terapi. Disolusi
medis sebelumnya harus memenuhi kriteria terapi nonoperatif diantaranya
batu kolesterol diameternya < 20 mm, batu kurang dari 4 batu, fungsi kandung
empedu baik dan duktus sistik paten. Pada anak-anak terapi ini tidak
dianjurkan, kecuali pada anak-anak dengan risiko tinggi untuk menjalani
operasi.
3. Disolusi kontak
Terapi contact dissolution adalah suatu cara untuk menghancurkan
batu kolesterol dengan memasukan suatu cairan pelarut ke dalam kandung
empedu melalui kateter perkutaneus melalui hepar atau alternatif lain melalui
kateter nasobilier. Larutan yang dipakai adalah methyl terbutyl eter. Larutan
ini dimasukkan dengan suatu alat khusus ke dalam kandung empedu dan
biasanya mampu menghancurkan batu kandung empedu dalam 24 jam.
Kelemahan teknik ini hanya mampu digunakan untuk kasus dengan
batu yang kolesterol yang radiolusen. Larutan yang digunakan dapat
menyebabkan iritasi mukosa, sedasi ringan dan adanya kekambuhan
terbentuknya kembali batu kandung empedu
4. Litotripsi Gelombang Elektrosyok (ESWL)
Prosedur non invasive ini menggunakan gelombang kejut berulang
(Repeated Shock Wave) yang diarahkan pada batu empedu didalam kandung
empedu atau duktus koledokus dengan maksud memecah batu tersebut
menjadi beberapa sejumlah fragmen. (Smeltzer,SC dan Bare,BG 2002).
ESWL sangat populer digunakan beberapa tahun yang lalu. Analisis biaya-
manfaat pada saat ini memperlihatkan bahwa prosedur ini hanya terbatas pada
pasien yang telah benar-benar dipertimbangkan untuk menjalani terapi ini.
5. Endoscopic Retrograde Cholangiopancreatography (ERCP)
Pada ERCP, suatu endoskop dimasukkan melalui mulut,
kerongkongan, lambung dan ke dalam usus halus. Zat kontras radioopak
masuk ke dalam saluran empedu melalui sebuah selang di dalam sfingter
oddi. Pada sfingterotomi, otot sfingter dibuka agak lebar sehingga batu
empedu yang menyumbat saluran akan berpindah ke usus halus. ERCP dan
sfingterotomi telah berhasil dilakukan pada 90% kasus. Kurang dari 4 dari
setiap 1.000 penderita yang meninggal dan 3-7% mengalami komplikasi,
sehingga prosedur ini lebih aman dibandingkan pembedahan perut. ERCP
saja biasanya efektif dilakukan pada penderita batu saluran empedu yang
lebih tua, yang kandung empedunya telah diangkat

b. PENATALAKSANAAN BEDAH
Pilihan tata laksana batu empedu dengan operasi, sambal menggu
operasai pasien di beri tatalaksana preoperasi seperti hidrasi, analgesic,
antibiotic sistemik , hindari asupan lemak dan makan besar

1. Kolesistektomi terbuka
Operasi ini merupakan standar terbaik untuk penanganan pasien denga
kolelitiasis simtomatik. Komplikasi yang paling bermakna yang dapat
terjadi adalah cedera duktus biliaris yang terjadi pada 0,2% pasien. Angka
mortalitas yang dilaporkan untuk prosedur ini kurang dari 0,5%. Indikasi
yang paling umum untuk kolesistektomi adalah kolik biliaris rekuren,
diikuti oleh kolesistitis akut.
2. Kolesistektomi laparaskopi
Kolesistektomi laparoskopik mulai diperkenalkan pada tahun 1990 dan
sekarang ini sekitar 90% kolesistektomi dilakukan secara laparoskopi. 80-
90% batu empedu di Inggris dibuang dengan cara ini karena memperkecil
resiko kematian dibanding operasi normal (0,1-0,5% untuk operasi
normal) dengan mengurangi komplikasi pada jantung dan paru. Kandung
empedu diangkat melalui selang yang dimasukkan lewat sayatan kecil di
dinding perut.
Indikasi awal hanya pasien dengan kolelitiasis simtomatik tanpa
adanya kolesistitis akut. Karena semakin bertambahnya pengalaman,
banyak ahli bedah mulai melakukan prosedur ini pada pasien dengan
kolesistitis akut dan pasien dengan batu duktus koledokus. Secara teoritis
keuntungan tindakan ini dibandingkan prosedur konvensional adalah dapat
mengurangi perawatan di rumah sakit dan biaya yang dikeluarkan, pasien
dapat cepat kembali bekerja, nyeri menurun dan perbaikan kosmetik.
Masalah yang belum terpecahkan adalah keamanan dari prosedur ini,
berhubungan dengan insiden komplikasi seperti cedera duktus biliaris
yang mungkin dapat terjadi lebih sering selama kolesistektomi
laparoskopi.

ASUHAN KEPERAWATAN

1. PENGKAJIAN
a. Identitas
kolelitiasis cukup jarang terjadi. Biasanya terjadi bersamaan dengan
penyakit lain yang menimbulkan obstruksi bilier dan bactibilia (misal:
setelah prosedur ERCP, 1-3% pasien mengalami cholangitis).
b. Keluhan Utama
Pada penderita kolelitiasis, klien mengeluh nyeri perut kanan atas,
nyeri tidak menjalar/menetap, nyeri pada saat menarik nafas dan nyeri
seperti ditusuk – tusuk.
c. Riwayat Penyakit
Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat medis pasien mungkin dapat membantu. Contohnya riwayat dari
keadaan-keadaan berikut dapat meningkatkan resiko cholangitis:
o Batu kandung empedu atau batu saluran empedu
o Pasca cholecystectomy
o Manipulasi endoscopik atau ERCP, cholangiogram
o Riwayat cholangitis sebelumnya
o Riwayat HIV atau AIDS: cholangitis yang berhubungan dengan AIDS
memiliki ciri edema bilier ekstrahepatik, ulserasi, dan obstruksi bilier.
Riwayat Penyakit Sekarang
Banyak pasien yang datang dengan ascending cholangitis tidak
memiliki gejala-gejala klasik tersebut. Sebagian besar pasien mengeluhkan
nyeri pada abdomen kuadran lateral atas; namun sebagian pasien (misal:
pasien lansia) terlalu sakit untuk melokalisasi sumber infeksi.
Gejala-gejala lain yang dapat terjadi meliputi: Jaundice, demam,
menggigil dan kekakuan (rigors), nyeri abdomen, pruritus, tinja yang
acholis atau hypocholis, dan malaise.
Riwayat penyakit keluarga
Perlu dikaji apakah klien mempunyai penyakit keturunan seperti
diabetes mellitus, hipertensi, anemia sel sabit.
Pengkajian Psikososial – Spiritual
a. Psikologi : Apakah pasien merasa cemas terhadap penyakitnya ?
b. Sosial : Kaji, Bagaimana hubungan interaksi pasien dengan
dokter, perawat, keluarga, dan sesama pasien lain.
c. Spiritual : Kaji, apakah pasien menjalankan ibadahnya menurut
keyakinan dan agama yang pasien anut ?
d. PEMENUHAN KEBUTUHAN
. Pola fungsional (Gordon)
a. Biologis
1) Pola oksigenasi
Pasien tidak ada gangguan dalam bernafas, tidak terpasang O2, bernafas
20 x/menit, sebelum sakit pasien juga tidak ada gangguan dalam bernafas.
2) Pola cairan dan elektrolit
Pasien mendapatkan cairan dari infus RL 20 tpm, sehari sebanyak 2000
cc/hari, dari minum sebanyak ± 1000 cc per hari.
Sebelum sakit : pasien sehari minum ± 1500 cc air putih, dan ± 200 cc teh
hangat tiap pagi hari.

3) Pola nutrisi
Sebelum sakit : pasien makan 3 x sehari dengan porsi sedang dengan
nasi, lauk dan sayur.
Selama sakit : pasien makan 3 x sehari dengan ¼ porsi dari porsi rumah
sakit ± 75 cc, diit 1700 k.kalori, diit rendah lemak, pasien mengatakan
mual dan tidak nafsu makan
4) Pola eliminasi
Sebelum sakit : pasien BAB 1 x sehari, kebiasaan pada pagi hari dengan
konsistensi lembek, warna kuning dan berbau khas. BAK : ± 5-6 x/hari,
dengan warna kuning jernih dan berbau khas.
Selama sakit : pasien selama sakit BAB 3 kali, dengan konsistensi ± 1000
cc, lembek, warna seperti dempul dan berbau khas.
BAK : ± 4-5 x/hari, warna gelap seperti teh ± 1000-1500 cc
5) Pola keamanan dan kenyamanan
Sebelum sakit : pasien tidak ada masalah dengan keamanan, pasien
merasa tidak nyaman bila sakitnya kambuh.
Selama sakit : selama di RS pasien merasa aman karena selalu ditunggui
oleh keluarganya, pasien kurang nyaman dengan keadaannya saat ini,
karena nyeri yang dirasakannya.
6) Pola personal hygiene
Sebelum sakit : pasien mandi 2 x/hari, gosok gigi 2 x/hari, keramas 2
x/minggu, melakukan personal hygiene secara mandiri
Selama sakit : pasien mandi disibin oleh keluarga 1 x/hari, gosok gigi 2
x/hari, selama di RS belum pernah keramas.
7) Pola istirahat tidur
Sebelum sakit : pasien istirahat ± 2jam/hari, tidur malam ± 5 jam/hari,
tidur siang ± 1 jam/hari.
Selama sakit : pasien istirahat ± 4 jam/hari, tidur malam ± 8 jam/hari,
tetapi sering terbangun, tidur siang ± 3 jam/hari.
8) Pola aktivitas dan latihan
Sebelum sakit : pasien beraktivitas secara mandiri.
Selama sakit : pasien beraktivitas dibantu oleh keluarga.
9) Konsep diri
Gambaran diri : pasien tidak merasa malu dengan keadaannya saat ini
Ideal diri : pasien menerima sakitnya saat ini dan akan berusaha
semaksimal mungkin untuk kesembuhannya.
Harga diri : pasien tidak merasa harga dirinya terganggu dengan
keadaannya saat ini
Peran diri : pasien berperan sebagai seorang suami dan ayah dari 3 orang
anak
Identitas diri : pasien mengakui sebagai seorang laki-laki sepenuhnya
b. Psikologis
Pasien cemas dengan keadaanya saat ini, karena sudah lama mondok di RS,
dan pasien selama di rs tidak dapat bekerja

c. Sosial
Pasien mengatakan bahwa hubungan dengan keluarga dan masyarakat
sekitar baik, interaksi antara anggota keluarga dan masyarakat sekitar
terjalin baik.
d. Spiritual dan kultur
Pasien beragama Islam dan menjalankan ibadah sesuai agama yang
dianutnya, tidak ada budaya yang bertentangan dengan kesehatan.
e. Pengetahuan
Pasien mengatakan mengetahui sedikit-sedikit tentang penyakitnya saat ini.

d. Pemeriksaan body system


1. System Pernapasan
a.Inspeksi : Dada tampak simetris, pernapasan dangkal, klien tampak
gelisah.
b. Palpasi : Vocal vremitus teraba merata.
c.Perkusi : Sonor.
d. Auskultasi : Tidak terdapat suara nafas tambahan (ronchii,
wheezing)
2. System Kardiovaskuler
Terdapat takikardi dan diaforesis.
3. Sistem Neurology
Tidak terdapat gangguan pada system neurology.
4. System Pencernaan
a.Inspeksi : tampak ada distensi abdomen diperut kanan atas, klien
mengeluh mual dan muntah.
b. Auskultasi : peristaltic ( 5 – 12 x/mnt) flatulensi.
c.Perkusi : adanya pembengkakan di abdomen atas/quadran kanan atas,
nyeri tekan epigastrum.
d. Palpasi : hypertympani.
5. System Eliminasi
Warna urine lebih pekat seperti teh dan warna feses seperti tanah liat
(pucat).
6. System integument
Terdapat icterik/jaundice dengan kulit berkeringat dan gatal.
7. System muskuluskeletal
Terdapat kelemahan otot karena gangguan produksi ATP.
2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
a. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera fisiologis (inflamsi), fisik
(operasi)
b. Resiko hipovolemik berhunungan dengan kehilangan cairan aktif,
gangguan absorbs cairan, kekurangan intake caiaran
c. Resiko perdarahan berhbungan dengan gangguan koagulasi
d. Nausea berhubungan dengan distensi lambung, peningkatan tekanan intra
abdomen

RENCANA KEPERAWATAN
NO DIAGNOASA NOC NIC
KEPERAWATAN

1 Disfungsi motilitas Fungsi gastrointestinal Penahapan diet


gastrointestinal b.d
Setalah dilakukan 1) Mnitor kesadaran
intoleransi makanan pengakjian selama 3x24 pasien dan adanya
jam didapatkan hasil ; reflek menelan
1) Nafsu makan (4)
sesuai kebutuhan
2) Toleransi terhadap
2) Tingkatkan diet
makanan (4)
dari cairan jernih,
3) Serum albumin
lembut sampai
(4)
4) Hematrokrit (4) denngan diet
regular atau khusus
3) Berikan nutrisi per
oral sesuai
kebutuhan
4) Edukasi pasien dan
keluarga tentang
diet yang dijalani
oleh pasien.
5) Kolaborasi dengan
tim medis lain
dalam pemebrian
obat dan
meningkatkan diet
secepat mungkin
bila tidak ada
komplikasi

2 Nyeri akut b.d agen Kontrol nyeri Manajeman nyeri


Setalah dilakukan 1. Monitor mengenai
cedera biologis
pengakjian selama 3x24 ketidaknyamanan
( peradangan pada
jam didapatkan hasil ; pada pasien yang di
empedu)
1) Mengenali kapan
tunjukan secara
yeri terjadi (4)
verbal dan
2) Megambarkan
nonverbal
waktu penyebab
2. Ajarkan teknik no
(4)
farmakologi untuk
3) Meggunakan
menguragi nyeri
tindakan
3. Dukung tidur /
pegurangan nyeri istirahat yang
tanpa analgesic adekuat untuk
(4) membantu
4) Melaporkan nyeri
penurunan nyeri
yang terkontrol 4. Edukasi pasien dan
(4) keluarga
meneganai nyeri
seperti penyebab
nyeri, berapa lama
nyeri diraskan dan
antisipasi dari
ketidaknyamanan
akibat procedure.
5. Kolaborasi dengan
tim medis dalam
pembarian
analgesik dalam
mengurangi nyeri.

3 Kekurangan volume Keseimbangan cairan Manajemen cairan


pengakjian selama 3x24 1. monitor hasil
cairan b.d kehilangan
jam didapatkan hasil ; laboratorium yang
cairan aktif
1) Keseimbangan
relevan dengan
intake dan output
retensi cairan
dalam 24 jam (4)
(hemtokrit)
2) Berat badan stabil
2. jaga intake/ asupan
(5)
yang akurat dan
3) Serum elektrolit
catat output
(4)
3. medistribusikan
4) Hematocrit (4)
asupan cairan
selama 24 jam
4. Edukasi pasien dan
keluarga dalam
pemberian makan
yang baik
5. Kolaborasi dengan
tim medis lain
untuk pemebrian
obat melalui IV
dan pemasagan
infus dan mencatat
kondisi pasien
apakan membaik
atau memburuk.
DAFTAR PUSTAKA

Barbara, Kozier. 2011. Buku Ajar Fundamental KeperawatanKonsep, Proses


&PraktikEdisi 7 Volume 2.Jakarta : EGC
Nucleus Precise Newsletter. (2011). Batu Empedu. Jakarta : PT.Nucleus
Precise
Dr. H. Y. Kuncara Aplikasi klinis patofisiologi: Pemeriksaan dan manajemen,
edisi 2: 2009; Buku kedokteran EGC
PPNI. 2017. Standart Diagnosis Keperawatan Indonesia. Jakarta: PPNI.
PPNI. 2018. Standart Luaran Keperawatan Indonesia. Jakarta : PPNI.
PPNI. 2018. Standart Intervemsi Keperawatan Indonesia. Jakarta: PPNI.
Sjamsuhidajat R, de Jong W. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2. Jakarta :
Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2005. 570-579.
PATHWAY