Anda di halaman 1dari 35

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN

PADA Ny. S DENGAN DIAGNOSA CA PARU

Disusun Untuk Memenuhi Laporan Individu Praktek Profesi


Keperawatan Departemen Keperawatan Medikal Bedah
di Ruang 28 RSUD. Dr. Saiful Anwar Malang

Disusun Oleh :
Yenne Purnamaning Tyas
P17212195047

PROGRAM PROFESI NERS KEPERAWATAN MALANG


JURUSAN KEPERAWATAN
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG
TAHUN AJARAN 2019
BAB 1
KONSEP DASAR PENYAKIT

1.1 Anatomi Fisiologi Paru


1.1.1 Anatomi Paru
Paru merupakan organ yang elastis dan terletak di dalam rongga
dada bagian atas, bagian samping dibatasi oleh otot dan rusuk dan
bagian bawah dibatasi oleh diafragma yang berotot kuat. Paru terdiri
dari dua bagian yang dipisahkan oleh mediastinum yang berisi jantung
dan pembuluh darah. Paru kanan mempunyai tiga lobus yang
dipisahkan oleh fissura obliqus dan horizontal, sedangkan paru kiri
hanya mempunyai dua lobus yang dipisahkan oleh fissura obliqus.
Setiap lobus paru memiliki bronkus lobusnya masing-masing. Paru
kanan mempunyai sepuluh segmen paru, sedangkan paru kiri
mempunyai sembilan segmen (Syaifuddin, 2011).
Paru diselubungi oleh lapisan yang mengandung kolagen dan
jaringan elastis, dikenal sebagai pleura visceralis. Sedangkan lapisan
yang menyelubungi rongga dada dikenal sebagai pleura parietalis. Di
antara kedua pleura terdapat cairan pleura yang berfungsi untuk
memudahkan kedua permukaan pleura bergerak selama bernafas dan
untuk mencegah pemisahan thoraks dan paru. Tekanan dalam rongga
pleura lebih rendah dari tekanan atmosfer, sehingga mencegah
terjadinya kolaps paru. Selain itu rongga pleura juga berfungsi
menyelubungi struktur yang melewati hilus keluar masuk dari paru.
Paru dipersarafi oleh pleksus pulmonalis yang terletak di pangkal tiap
paru. Pleksus pulmonalis terdiri dari serabut simpatis (dari truncus
simpaticus) dan serabut parasimpatis (dari arteri vagus). Serabut eferen
dari pleksus ini mempersarafi otot-otot bronkus dan serabut aferen
diterima dari membran mukosa bronkioli dan alveoli (Sari & Purwoko,
2015).

1.1.2 FisiologiParu
Paru-paru dan dinding dada adalah struktur yang elastis. Dalam
keadaan normal terdapat lapisan cairan tipis antara paru-paru dan
dinding dada sehingga paru-paru dengan mudah bergeser pada dinding
dada. Tekanan pada ruangan
antara paru-paru dan dinding dada berada di bawah tekanan
atmosfer. Fungsi utama paru-paru yaitu untuk pertukaran gas antara
darah dan atmosfer. Pertukaran gas tersebut bertujuan untuk
menyediakan oksigen bagi jaringan dan mengeluarkan karbon
dioksida. Kebutuhan oksigen dan karbon dioksida terus berubah
sesuai dengan tingkat aktivitas dan metabolisme seseorang tapi
pernafasan harus tetap dapat memelihara kandungan oksigen dan
karbon dioksida tersebut. Fungsi utama paru-paru yaitu untuk
pertukaran gas antara darah dan atmosfer. Pertukaran gas tersebut
bertujuan untuk menyediakan oksigen bagi jaringan dan
mengeluarkan karbon dioksida (Guyton,2007).
Udara masuk ke paru-paru melalui sistem berupa pipa yang
menyempit (bronchi dan bronkiolus) yang bercabang di kedua belah
paru-paru utama (trachea). Pipa tersebut berakhir di gelembung-
gelembung paru-paru (alveoli) yang merupakan kantong udara
terakhir dimana oksigen dan karbondioksida dipindahkan dari
tempat dimana darah mengalir. Ada lebih dari 300 juta alveoli di
dalam paru-paru manusia bersifat elastis (Syafrullah,2015)
Pernapasan dapat berarti pengangkutan oksigen (O2) ke sel
dan pengangkutan CO2 dari sel kembali ke atmosfer. Proses ini
terdiri dari 4 tahap yaitu (Guyton, 2007):
1. Pertukaran udara paru: yang berarti masuk dan keluarnya udara
ke dan dari alveoli. Alveoli yang sudah mengembang tidak
dapat mengempis penuh, karena masih adanya udara yang
tersisa didalam alveoli yang tidak dapat dikeluarkan walaupun
dengan ekspirasi kuat. Volume udara yang tersisa ini disebut
volume residu. Volume ini penting karena menyediakan O2
dalam alveoli untuk mengaerasikandarah
2. Difusi O2 dan CO2 antara alveoli dandarah
3. Pengangkutan O2 dan CO2 dalam darah dan cairan tubuh
menuju ke dan dari sel-sel
4. Regulasi pertukaran udara dan aspek-aspek lainpernapasan.
Menurut Guyton (2007) volume paru terbagi menjadi 4
bagian, yaitu:
1. Volume Tidal adalah volume udara yang diinspirasi atau
diekspirasi pada setiap kali pernafasan normal. Besarnya ± 500
ml pada rata-rata orang dewasa
2. Volume Cadangan Inspirasi adalah volume udara ekstra
yang diinspirasi setelah volume tidal, dan biasanya
mencapai ± 3000ml.
3. Volume Cadangan Eskpirasi adalah jumlah udara yang
masih dapat dikeluarkan dengan ekspirasi maksimum pada
akhir ekspirasi normal, pada keadaan normal besarnya ±
1100 ml.
4. Volume Residu, yaitu volume udara yang masih tetap berada
dalam paru-paru setelah ekspirasi kuat. Besarnya ± 1200ml.
Kapasitas paru merupakan gabungan dari beberapa volume
paru dan dibagi menjadi empat bagian, yaitu (Guyton,2007):
1. Kapasitas Inspirasi sama dengan volume tidal + volume
cadangan inspirasi. Besarnya ±3500 ml, dan merupakan jumlah
udara yang dapat dihirup seseorang mulai pada tingkat ekspirasi
normal dan mengembangkan paru sampai jumlahmaksimum.
2. Kapasitas Residu Fungsional sama dengan volume cadangan
inspirasi + volume residu.Besarnya ± 2300 ml, dan merupakan
besarnya udara yang tersisa dalam paru pada akhir
eskpirasinormal.
3. Kapasitas Vital sama dengan volume cadangan inspirasi +
volume tidal + volume cadangan ekspirasi. Besarnya ± 4600 ml,
dan merupakan jumlah udara maksimal yang dapat dikeluarkan
dari paru, setelah terlebih dahulu mengisi paru secara maksimal
dan kemudian mengeluarkannyasebanyak-banyaknya.
4. Kapasitas Paru Total sama dengan kapasitas vital + volume residu.
Besarnya
±5800 ml, adalah volume maksimal dimana paru
dikembangkan sebesar mungkin dengan inspirasi paksa.
1.2 Definisi Ca Paru
Kanker paru adalah semua penyakit keganasan di paru,
mencakup keganasan yang berasal dari paru sendiri (primer). Dalam
pengertian klinik yang dimaksud dengan kanker paru primer adalah
tumor ganas yang berasal dari epitel bronkus (karsinoma
bronkus/bronchogenic carcinoma) (Kemenkes RI, 2017). Kanker
paru atau disebut karsinoma bronkogenik merupakan tumor ganas
primer sistem pernapasan bagian bawah yang bersifat epithelial dan
berasal dari mukospercabangan bronkus (Nurarif & Kusuma, 2015).
Kanker paru adalah keganasan yang berasal dari luar paru maupun
yang berasal dari paru sendiri (primer), dimana kelainan dapat
disebabkan oleh kumpulan perubahan genetika pada sel epitel
saluran nafas yang dapat mengakibatkan proliferasi sel yang tidak
dapat dikendalikan. (Purba & Wibisono,2015).

1.3 Epidemiologi
Kanker paru merupakan penyebab utama keganasan di
dunia, mencapai hingga 13% dari semua diagnosis kanker. Selain
itu, kanker paru juga menyebabkan 1/3 dari seluruh kematian akibat
kanker pada laki-laki. Di Amerika Serikat, diperkirakan terdapat
sekitar 213.380 kasus baru pada tahun 2007 dan
160.390 kematian akibat kanker paru pada tahun 2007. Berdasarkan
data WHO, kanker paru merupakan jenis kanker terbanyak pada
laki-laki di Indonesia, dan terbanyak kelima untuk semua jenis
kanker pada perempuan. Kanker paru juga merupakan penyebab
kematian akibat kanker terbanyak pada laki-laki dan kedua
terbanyak pada perempuan.
Hasil penelitian dari 100 RS di Jakarta menunjukkan bahwa
kanker paru merupakan kasus terbanyak pada laki-laki dan nomor 4
terbanyak pada perempuan, dan merupakan penyebab kematian
utama pada laki-laki dan perempuan. Berdasarkan data hasil
pemeriksaan di laboratorium Patologi Anatomik RSUP
Persahabatan, lebih dari 50 persen kasus dari semua jenis kanker
yang didiagnosa adalah kasus kanker paru. Data registrasi kanker
Rumah Sakit Dharmais tahun 2003-2007 menunjukkan bahwa
kanker trakea, bronkus dan paru merupakan keganasan terbanyak
kedua pada pria (13,4%) setelah kanker nasofaring (13,63%) dan
merupakan penyebab kematian akibat kanker terbanyak pada pria
(28,94%).
Insiden kanker paru termasuk rendah pada usia di bawah 40
tahun, namun meningkat sampai dengan usia 70 tahun. Faktor risiko
utama kanker paru adalah merokok. Secara umum, rokok
menyebabkan 80% kasus kanker paru pada laki- laki dan 50% kasus
pada perempuan. Faktor lain adalah kerentanan genetik, polusi
udara, pajanan radon, dan pajanan industri (Kemenkes RI, 2017)

1.4 Etiologi
Seperti umumnya kanker yang lain, penyebab yang pasti
dari kanker paru belum diketahui, tapi merokok dan paparan atau
inhalasi berkepanjangan suatu zat yang bersifat karsinogenik
merupakan faktor resiko utama. Beberapa faktor risiko penyebab
terjadinya kanker paru adalah (Stopler, 2010):
1. Merokok
Merokok merupakan faktor yang berperan paling penting yaitu
85% dari seluruh kasus. Kejadian kanker paru pada perokok
dipengaruhi oleh usia mulai merokok, jumlah batang rokok
yang diisap setiap hari, lamanya kebiasaan merokok, dan
lamanya berhenti merokok
2. Perokok pasif
Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa pada orang-
orang yang tidak merokok, tetapi mengisap asap rokok dari
orang lain, risiko menderita kanker paru meningkat dua kali
3. Polusi udara
Kematian akibat kanker paru juga berkaitan dengan polusi
udara, tetapi pengaruhnya kecil bila dibandingkan dengan
merokok. Kematian akibat kanker paru jumlahnya dua kali lebih
banyak di daerah perkotaan dibandingkan dengan daerah
pedesaan
4. Paparan zat karsinogen
Beberapa zat karsinogen seperti asbestos, uranium, radon, arsen,
kromium, nikel, polisiklik hidrokarbon, dan vinil klorida dapat
menyebabkan kanker paru. Risiko kanker paru di antara pekerja
yang menangani asbes kira-kira sepuluh kali lebih besar
daripada masyarakat umum
5. Genetik
Terdapat bukti bahwa anggota keluarga pasien kanker paru
berisikolebih besar terkena penyakit ini. Penelitian sitogenik
dan genetik molekuler memperlihatkan bahwa mutasi pada
protoonkogen dan gen-gen penekan tumor memiliki arti penting
dalam timbul dan berkembangnya kanker paru
6. Penyakit paru
Penyakit paru seperti tuberkulosis dan penyakit paru obstruktif
kronik juga dapat menjadi risiko kanker paru. Seseorang dengan
penyakit paru obstruktif kronik berisiko empat sampai enam
kali lebih besar terkena kanker paru
7. Metastase dari organlain
Kanker paru yang merupakan metastase dari organ lain adalah
kanker paru sekunder. Paru-paru menjadi tempat berakhirnya sel
kanker yang ganas. Meskipun stadium penyakitnya masih awal,
seolah-olah pasien menderita penyakit kanker paru stadium
akhir. Di bagian organ paru, sel kanker terus berkembang dan
bisa mematikan sel imunologi. Artinya, sel kanker bersifat
imortal dan bisa menghancurkan sel yang sehat supaya tidak
berfungsi. Paru- paru itu adalah end organ bagi sel kanker atau
tempat berakhirnya sel kanker, yang sebelumnya dapat
menyebar di aera payudara, ovarium, usus, dan lain- lain.

1.5 Klasifikasi
Ada dua jenis utama kanker paru di kategorikan berdasarkan
ukuran serta adanya sel ganas yang terlihat yaitu kanker paru
karsinoma bukan sel kecil/NSCLC (Non Small Cell Lung Cancer)
dan kanker paru karsinoma sel kecil/SCLC (Small Cell Lung
Cancer. Beberapa jenis kanker paru adalah (Purba &
Wibisono,2015):
1. Karsinoma sel skuamosa
Merupakan tipe histologik kanker paru yang paling sering
ditemukan, berasal dari permukaan epitel bronkus. Karsinoma
sel skuamosa biasanya terletak sentral di sekitar hilus dan
menonjol ke dalam bronki besar. Diameter tumor jarang
melampaui beberapa sentimeter dan cenderung menyebar secara
langsung ke kelenjar getah bening, dinding dada, dan
mediastinum.
2. Adeno karsinoma
Kebanyakan jenis tumor ini timbul di bagian perifer segmen
bronkus dan kadang-kadang dapat dikaitkan dengan jaringan
parut lokal pada paru dan fibrosis interstisial kronik. Lesi
seringkali meluas ke pembuluh darah dan limfe pada stadium
dini dan sering bermetastasis jauh sebelum lesi primer
menyebabkan gejala-gejala. Karsinoma bronkoalveolus
dimasukkan sebagai subtipe adenokarsinoma dalam klasifikasi
terbaru tumor paru dari WHO.
3. Karsinoma sel besar
Sel-sel ganas yang besar dan berdiferensiasi sangat buruk
dengan sitoplasma yang besar dan ukuran inti bermacam-
macam. Sel-sel ini cenderung timbul pada jaringan paru perifer,
tumbuh cepat dengan penyebaran ekstensif dan cepat ke tempat-
tempat yang jauh.
4. Karsinoma sel kecil
Umumnya tampak sebagai massa abu-abu pucat yang terletak di
sentral dengan perluasan ke dalam parenkim paru dan
keterlibatan dini kelenjar getah bening hilus dan mediastinum.
Gambaran lain pada karsinoma sel kecil, yang paling jelas pada
pemeriksaan sitologik adalah berlipatnya nukleus akibat letak
sel tumor dengan sedikit sitoplasma yang salingberdekatan.
Tabel 1.1 TNM Klasifikasi Kanker Paru Karsinoma Bukan
Sel Kecil
Tumor Primer (T)
TX Tumor primer tidak dapat dinilai, atau tumor dibuktikan dengan
adanya sel-sel ganas dalam sputum atau bronkial tetapi tidak di
visualisasikan dengan bronkoskopi
T0 Tidak terdapat tumor primer
Tis Karsinoma in situ
T1 Tumor ≤ 3cm , di kelilingi oleh paru-paru atau pleura visceral, tidak
ada bukti bronkoskopi invasi lebih proksimal dari bronkus lobus
(tidak dibronkus utama), penyebaran tumor dangkal di saluran udara
yang utama (terbatas pada dinding bronkus)
T1a Tumor ≤ 2cm dalam dimensi terbesar
T1b Tumor > 2cm tetapi ≤ 3cm dalam dimensi terbesar.
T2 Tumor>3cmtetapi≤7cmatautumordengansalahsatudariberikut
: Menyerang pleura visceral, Terutama melibatkan bronkus ≥ 2cm
distal karina, Terkait dengan atelektasis/pneumonitis obstruktif
memperluas ke daerah hilus tetapi tidak melibatkan seluruh paru-
paru
T2a Tumor > 3cm tetapi ≤ 5cm dalam dimensi terbesar
T2b Tumor > 5cm tetapi ≤ 7cm dalam dimensi terbesar
T3 Tumor > 7cm atau yang langsung menyerang salah satu dari berikut:
a) Dinding dada (termasuk tumor sulkus superior), diafragma, saraf
phrenikus,pleuramediastinal,atauparietalperikardiumatautumor
di bronkus utama < 2cm distal karina tetapi tanpa keterlibatan karina
Atau b) atelektasis terkait/pneumonitis obstruktif seluruh paru-paru
atau nodul
T4 tumor terpisah di lobus yang sama
Tumor dari berbagai ukuran yang menyerang salah satu dari berikut:
mediastinum, jantung, pembuluh darah besar, trakea, esofagus,
vertebral, atau karina; tonjolan kecil tumor terpisah dalam lobus
ipsilateral yang berbeda
Kelenjar getah bening (N)
NX Kelenjar getah bening tidak dapat di nilai
N0 Tidak ada metastasis
N1 Metastasis di peribronkial ipsilateral dan/atau kelenjar getah bening
hilus ipsilateral dan nodul intrapulmo, termasuk keterlibatan secara
Langsung
N2 Metastasis di mediastinum dan/atau subkranial kelenjar getah bening
Ipsilateral
N3 Metastasis di mediastinum kontralateral, hilus kontralateral,
ipsilateral atau kontralateral sisi tidak sama panjang, atau kelenjar
getah bening supraklavikula
Metastase (M)
M0 Tidak diketahui adanya metastasis jauh
M1 Metastasis jauh terdapat pada tempat tertentu misalnya otak
Sumber: Purba & Wibisono, 2015

Tabel 1.2 Stadium Kanker Paru berdasarkan TNM


Klasifikasi
Stadium TNM
Stadium 0 Tx N0 M0
Stadium IA Tis N0 M0
Stadium IB T1 N0 M0
Stadium IIA T2 N0 M0
Stadium IIB T1 N1 M0
StadiumIIIA T2 N1 M0
StadiumIIIB T3 N0 M0 atau T3 N1 M0
Stadium 4 T berapapun N3 M0 atau T4 N berapapun M0
Sumber: Purba & Wibisono, 2015

1.6 Patofisiologi dan Clinical Pathway


Dari etiologi yang menyebabkan Ca paru ada 2 jenis yaitu
primer dan sekunder. Primer yaitu berasal dari merokok, asap
pabrik, zat karsinogen, dll dan sekunder berasal dari metastase
organ lain, Etiologi primer menyerang percabangan segmen/sub
bronkus menyebabkan cilia hilang. Fungsi dari cilia ini
adalah menggerakkan lendir yang akan menangkap kotoran kecil
agar keluar dari paru-paru. Jika silia hilang maka akan terjadi
deskuamasi sehingga timbul pengendapan karsinogen. Dengan
adanya pengendapan karsinogen maka akan menimbulkan ulserasi
bronkus dan menyebabkan metaplasia, hyperplasia dan displasia
yang selanjutnya akan menyebabkan Ca Paru. Ca paru ada beberapa
jenis yaitu karsinoma sel skuamosa, adenokarsinoma, karsinoma sel
bronkoalveolar, dan karsinoma sel besar. Setiap lokasi memiliki
tanda dan gejala khas masing masing. Pada karsinoma sel
skuamosa, karsinoma bronkus akan menjadi berkembang sehingga
batuk akan lebih sering terjadi yang akan menimbulkan iritasi,
ulserasi, dan pneumonia yang selanjutnya akan menimbulkan
himoptosis. Pada adenokarsinoma akan menyebabkan
meningkatnya produksi mukus yang dapat mengakibatkan
penyumbatan jalan nafas. Sedangkan pada karsinoma sel
bronkoalveolar sel akan membesar dan cepat sekali bermetastase
sehingga menimbulkan obstruksi bronkus dengan gejala dispnea
ringan. Pada karsinoma sel besar akan terjadi penyebaran neoplastik
ke mediastinum sehingga timbul area pleuritik dan menyebabkan
nyeri kronis. Pada stadium lanjut, penurunan berat badan biasanya
menunjukkan adanya metastase, khususnya pada hati. Kanker paru
dapat bermetastase ke struktur–struktur terdekat seperti kelenjar
limfe, dinding esofagus, pericardium, otak, tulang rangka (Nurarif
& Kusuma,2015).
Sedangkan pada Ca paru sekunder, paru-paru menjadi
tempat berakhirnya sel kanker yang ganas. Meskipun stadium
penyakitnya masih awal, seolah-olah pasien menderita penyakit
kanker paru stadium akhir. Di bagian organ paru, sel kanker terus
berkembang dan bisa mematikan sel imunologi. Artinya, sel kanker
bersifat imortal dan bisa menghancurkan sel yang sehat supaya
tidak berfungsi. Paru-paru itu adalah end organ bagi sel kanker atau
tempat berakhirnya sel kanker, yang sebelumnya dapat menyebar di
aera payudara, ovarium, usus, dan lain-lain (Stopler,2010).
1.10 Pathway

Predisposisi
Primer : Merokok (perokok aktif Bronkus mengalami trauma Perubahan Deskuamasi
oleh paparan zat karsinogen epitel silia Ulserasi bronkus
dan pasif), polusi udara, paparan
zat karsinogen. (rokok, paparan industri) dan mukosa

Lapisan epitel bronkus


Sekunder: Metastase dari organ lain Ca Paru hiperplasi & metaplasi
abnormal

Adenokarsinoma Carcinoma sel Carcinoma non sel kecil


Karsinoma sel skuamosa
kecil

produksi mucus >> Karsinoma berkembang di


Karsinoma berkembang di Membesar/metastase di pada jaringan paru perifer
tengah bronkus dan tengah parenkim paru
menonjol ke dalam Menyumbat jalan napas
Perubahan membran Produksi cairan melebihi
alviolar kemampuan penyerapan
Hiperplasia pada dinding Sesak Ketidakefektifan
bronkus bersihan jalan nafas
Dispnea
Penumpukan cairan
Dispnea
Obstruksi jalan napas pada rongga pleura
anoreksia
Gangguan
anemia
Ketidakefektifan bersihan jalan pertukaran gas Ekspansi paru menurun
napas
Ketidakseimbangan nutrisi:
Intoleransiaktivitas Keletihan kurang dari kebutuhan tubuh Ketidakefektifan
pola napas Dispnea

(Sumber : Betz, C. L. & Sowden, 2002)


1.7 ManifestasiKlinis

Tabel 1.3 Manifestasi klinis Ca Paru sesuai dengan lokasinya

Adenokarsinoma Karsinoma Sel Karsinoma Sel Karsinoma Sel


dan Skuamosa kecil besar
Bronkoalveolar
Tanda 1. Nafas dangkal 1. Batuk 1. SIADH 1. Batuk
dan 2. Batuk 2. Dyspnea 2. Sindromchusing berkepanjangan
Gejala 3. Penurunan 3. Nyeridada 3. Hiperkalsemia 2. Nyeri dada
nafsu makan 4. Atelektasis 4. Batuk saat menghirup
4. Trosseau 5. Pneumonia 5. Stridor 3. Suara serak
syndrome postobstruktif 6. Nafas dangkal 4. Sesak napas
6. Mengi 7. Sesak nafas
7. Hemoptisis 8. Anemia
8. Kelelahan
9. Penurunan berat
badan
Sumber: Tan, 2017

1.8 PemeriksaanPenunjang
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan pada kanker paru ini adalah
pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan laboratorium ditujukan untuk (Purba &
Wibisono, 2015):
a. menilai seberapa jauh kerusakan yang ditimbulkan oleh kanker paru;
b. kerusakan pada paru dapat dinilai dengan pemeriksaan faal paru atau
pemeriksaan analisis gas;
c. menilai seberapa jauh kerusakan yang ditimbulkan oleh kanker paru pada
organ-organ lainnya;dan
d. menilai seberapa jauh kerusakan yang ditimbulkan oleh kanker paru pada
jaringan tubuh baik oleh karena tumor primernya maupun oleh karena
metastasis.
Beberapa pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan adalah (Purba &
Wibisono, 2015):
1. Radiologi
Pemeriksaan radiologi adalah pemeriksaan yang paling utama dipergunakan
untuk mendiagnosa kanker paru. Kanker paru memiliki gambaran radiologi
yang bervariasi. Pemeriksaan ini dilakukan untuk menentukan keganasan
tumor dengan melihat ukuran tumor, kelenjar getah bening, dan metastasis ke
organ lain.
2. Sitologi
Merupakan metode pemeriksaan kanker paru yang mempunyai nilai diagnostik
yang tinggi dengan komplikasi yang rendah. Pemeriksaan dilakukan dengan
mempelajari sel pada jaringan. Pemeriksaan sitologi dapat menunjukkan
gambaran perubahan sel, baik pada stadium prakanker maupun kanker.
Pemeriksaan sputum adalah salah satu teknik pemeriksaan yang dipakai untuk
mendapatkan bahan sitologik.
3. Bronkoskopi
Setiap pasien yang dicurigai menderita tumor bronkus merupakan indikasi
untuk bronkoskopi. Dengan menggunakan bronkoskop fiber optik, perubahan
mikroskopik mukosa bronkus dapat dilihat berupa nodul atau gumpalan
daging. Bronkoskopi akan lebih mudah dilakukan pada tumor yang letaknya di
sentral. Tumor yang letaknya di perifer sulit dicapai oleh ujung bronkoskop.
4. Biopsi Transtorakal
Biopsi aspirasi jarum halus transtorakal banyak digunakan untuk mendiagnosis
tumor pada paru terutama yang terletak diperifer.
5. Torakoskopi
Torakoskopi adalah cara lain untuk mendapatkan bahan guna pemeriksaan
histopatologik untuk kanker paru. Torakoskopi adalah pemeriksaan dengan
alat torakoskop yang ditusukkan dari kulit dada ke dalam rongga dada untuk
melihat dan mengambil sebagian jaringan paru yang tampak.

1.9 Penatalaksanaan
Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2017, manajemen
penatalaksanaan pada penyakit kanker paru dibagi berdasarkan klasifikasinya.
Pada kanker paru jenis karsinoma bukan sel kecil (KPKBSK), terdiri dari berbagai
jenis, antara lain adalah karsinoma sel skuamosa (KSS), adenokarsinoma,
karsinoma bukan sel kecil (KBSK) penatalaksanaannya tergantung pada stadium
penyakit, tampilan umum penderita, komorbiditas, tujuan pengobatan, dan cost-
effectiveness. Modalitas penanganan yang tersedia adalah bedah, radiasi, dan
kemoterapi. Penatalaksanaan kanker paru karsinoma bukan sel kecil antara lain:
1. Bedah
Terapi utama utama untuk sebagian besar KPBSK, terutama stadium I-II dan
stadium IIIA yang masih dapat direseksi setelah kemoterapi neoadjuvan. Jenis
pembedahan yang dapat dilakukan adalah lobektomi, segmentektomi dan
reseksi sublobaris. Pasien dengan kardiovaskular atau kapasitas paru yang lebih
rendah, pembedahan segmentektomi dan reseksi sublobaris paru dilakukan.
2. Radioterapi
Radioterapi dalam tatalaksana kanker paru Bukan Sel Kecil (KPKBSK) dapat
berperan di semua stadium KPKBSK sebagai terapi kuratif definitif, kuratif
neoajuvan atau ajuvan maupun paliatif. Radioterapidapat diberikan pada
stadium I yang menolak dilakukan operasi setelah evaluasi bedah thoraks dan
pada stadium lokal lanjut (Stadium II dan III) konkuren dengan kemoterapi.
Pada pasien Stadium IIIA resektabel, kemoterapi pre operasi dan radiasi pasca
operasi merupakan pilihan. Pada pasien Stadium IV, radioterapi diberikan
sebagai paliatif atau pencegahan gejala (nyeri, perdarahan, obstruksi).
3. Kemoterapi
Kemoterapi dapat diberikan sebagai modalitas neoadjuvant pada stadium dini,
atau sebagai adjuvant pasca pembedahan. Terapi adjuvant dapat diberikan pada
KPKBSK stadium IIA, IIB dan IIIA. Pada KPKBSK stadium lanjut,
kemoterapi dapat diberikan dengan tujuan pengobatan jika tampilan umum
pasien baik. Kemoterapi adalah sebagai terapi paliatif pada pasien dengan
stadium lanjut.
Penatalaksanaan kanker paru karsinoma sel kecil (KPKSK) berbeda
dengan KPBSK, pasien dengan KPKSK, penatalaksanaan dilakukan berdasarkan
stadium, antara lain :
1. Stadium terbatas
Pilihan modalitas terapi pada stadium ini adalah kombinasi dari kemoterapi
berbasis-platinum dan terapi radiasi toraks. Kemoterapi dilakukan paling
banyak 4-6 siklus, dengan peningkatan toksisitas yang signifikan jika diberikan
lebih dari 6 siklus. Regimen terapi kombinasi yang memberikan hasil paling
baik adalah concurrent therapy, dengan terapi radiasi dimulai dalam 30 hari
setelah awal kemoterapi. Regimen kemoterapi yang tersedia untuk stadium ini
adalah EP, sisplatin/karboplatin dengan etoposid (pilihan utama,
sisplatin/karboplatin dengan irinotekan. Reseksi bedah dapat dilakukan dengan
kemoterapi adjuvant atau kombinasi kemoterapi dan radiasi terapi adjuvant
pada TNM stadium dini, dengan/tanpa pembesaran kelenjar getah bening.
2. Stadium lanjut
Pilihan utama modalitas terapi stadium ini adalah kemoterapi kombinasi.
Regimen kemoterapi yang dapat digunakan pada stadium ini adalah:
sisplatin/karboplatindengan etoposid (pilihan utama), atau sisplatin/karboplatin
dengan irinotekan. Pilihan lain adalah radiasi paliatif pada lesi primer dan lesi
metastasis.
BAB 2
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
2.1 Pengkajian
2.1.1 Identitas Klien
Mengidentifikasi identitas klien kemudian dikaitkan dengan apakah ada faktor
resiko yang menyertainya. Pengkajian identifikasi klien meliputi:
1. Nama: Tulis nama panggilan pasien atauinisial
2. Umur: Resiko Ca paru meningkat pada orang berumur >40tahun
3. Jenis kelamin: Ca paru merupakan jenis kanker terbanyak pada laki-laki di
Indonesia dan terbanyak kelima untuk semua jenis kanker padaperempuan
4. Agama: Tidak ada agama tertentu yang penganutnya memiliki resiko lenih
banyak mengidap Caparu
5. Pendidikan: Tingkat pendidikan akan mempengaruhi resiko terserang Ca paru,
orang dengan pendidikan tinggi mungkin akan lebih berhati-hati ketika
berhadapan dengan asap yangberbahaya
6. Alamat: Jumlah kejadian Ca paru dua kali lebih banyak di daerah perkotaan
dibandingkan dengan daerah pedesaan karena banyaknya polusi udara di
perkotaan
7. No. RM: Dapat dicatat sesuai dengan urutan pasienmasuk
8. Pekerjaan: Pekerjaan yang berhubungan erat dengan asap dan zat karsinogen
akan meningkatkan resiko lebih besar terserang Ca paru. Beberapa pekerjaan
yang meningkatkan resiko Ca paru adalah pekerja asbes, kapster salon, pabrik
industri, danlain-lain
9. Status Perkawinan: Tidak ada hubungan antara status perkawinan dengan
angka kejadian Caparu
10. Tanggal MRS: Dilihat sejak klien masukIGD
11. Tanggal Pengkajian: Ditulis dengan tanggal ketika perawat melakukan
pengkajian pertamakali
12. Sumber Informasi: Sumber informasi bisa didapat dari pasien, keluarga, atau
pasien dan keluarha. Dari pasien biasanya jika pasien tidak ada keluarga, dari
keluarga biasanya jika pasien tidak kooperatif, dan dari pasien dan keluarga
apabila keduanya kooperatif dalam memberikan informas
2.1.2 Riwayat Kesehatan
1. Diagnosa Medik:
Ca Paru
2. Keluhan Utama:
Adenokarsinoma Karsinoma Sel Karsinoma Sel Karsinoma Sel
dan Skuamosa kecil besar
Bronkoalveolar
Tanda 1. Nafas dangkal 1. Batuk 1. SIADH 1. Batuk
dan 2. Batuk 2. Dyspnea 2. Sindromchusing berkepanjangan
Gejala 3. Penurunan 3. Nyeridada 3. Hiperkalsemia 2. Nyeri dada
nafsu makan 4. Atelektasis 4. Batuk saat menghirup
4. Trosseau 5. Pneumonia 5. Stridor 3. Suaraserak
syndrome postobstruktif 6. Nafasdangkal 4. Sesaknapas
6. Mengi 7. Sesaknafas
7. Hemoptisis 8. Anemia
8. Kelelahan
9. Penurunan berat
badan

3. Riwayat penyakit sekarang:


Batuk produktif, dahak bersifat mukoid atau purulen, atau batuh darah;
malaise; anoreksia; sesak nafas; nyeri dada dapat bersifat lokal atau pleuritik
4. Riwayat kesehatan terdahulu:
a. Penyakit yang pernah dialami:
Kaji apakah klien memiliki riwayat penyakit paru dan penyakit menular
atau menurun lainnnya sebelumnya. Penyakit paru seperti tuberkulosis dan
penyakit paru obstruktif kronik juga dapat menjadi risiko kanker paru.
Seseorang dengan penyakit paru obstruktif kronik berisiko empat sampai
enam kali lebih besar terkena kanker paru
b. Alergi : Kaji alergi klien terhadap makanan, obat, plester, danlain-lain
c. Imunisasi : Kaji apakah klien mendapatkan imunisasi lengkap atautidak
d. Kebiasaan/pola hidup/lifestyle:
Kebiasaan yang sangat berkaitan denga Ca paru adalah kebiasaan
merokok, menghirup asap rokok, zat karsinogen, dan polusi udara.
Merokok merupakan faktor yang berperan paling penting yaitu 85% dari
seluruh kasus.Jika terjadi pada laki-laki maka yang harus dikaji adalah
usia mulai merokok, jumlah batang rokok yang diisap setiap hari, lamanya
kebiasaan merokok, dan lamanya berhenti merokok. Jika terjadi pada
wanita maka yang harus dikaji adalah seberapa sering menghirup asap
rokok atau terpapar zat lainnya
e. Obat-obat yang digunakan:
Menanyakan pada klien obat apa saja yang dikonsumsi sebelum MRS
f. Riwayat penyakit keluarga:
Mengkaji apakah terdapat riwayat keluarga sebelumnya yang mengidap
Ca paru, penyakit menular, atau menurun lainnya

2.1.3 Pengkajian Keperawatan


1. Persepsi kesehatan & pemeliharaan kesehatan
Pada klien dengan Ca paru sebagian besar akan merasakan sesak dan
menganggap sesak tersebut adalah sesak biasa karena pada klien Ca paru pada
fase awal akan jarang menimbulkan gejala. Gejala akan timbul biasanya jika
Ca paru sudah semakin meluas. Sehingga klien tidak terlalu perhatian dengan
gejala yang dirasakannya pada gejala awal
2. Pola nutrisi/ metabolik(ABCD)
a. Antropometeri : dilakukan dengan menghitung TB, BB, dan IMT.
Biasanya pada klien dengan Ca Paru apabila terjadi pada tipe
adenokarsinoma akan mengalami penurunan nafsu makan yang berakibat
pada penurunan beratbadan
b. Biomedical sign : dilakukan dengan cek darahlengkap
c. Clinical Sign : dilakukan dengan mengkaji status umum pasien meliputi
mukosa bibir, konjungtiva, keadaan umum (lemas atau segar),dll
3. Diet Pattern : dilakukan dengan mengkaji bagaimana pola makan pasien saat
ini. Pada umumnya pada klien dengan Ca paru jika mengalami sesak nafas
maka nafsu makan akan semakin menurun
4. Pola eliminasi:
BAK
- Frekuensi : Mengalami peningkatan
- Jumlah : Mengalami peningkatan
- Warna : Kuning
- Bau : Amoniak danobat
- Karakter :Cair
- Alat Bantu : Tidak menggunakan kateter
- Kemandirian : Dibantu
BAB
- Frekuensi : Mengalami sembelit
- Jumlah : 1 kali selama MRS
- WarnaBau : Khas feses
- Karakter :Keras
- Alat Bantu : Tidak terpasang alat bantu
- Kemandirian :Dibantu

5. Pola aktivitas &latihan


Pada klien dengan Ca Paru maka aktivitas sehari-hari mengalami penurunan
c.1. Aktivitas harian (Activity Daily Living)
Kemampuan perawatan diri 0 1 2 3 4
Makan / minum ✓
Toileting ✓
Berpakaian ✓
Mobilitas di tempat tidur ✓
Berpindah ✓
Ambulasi / ROM ✓
- Status Oksigenasi:
RR meningkat
tidak ada retraksi dada
Ada batuk dan sputum
- Fungsi kardiovaskuler : irama jantung teratur, nadi normal
Terapi oksigen : menggunakan alat bantu nafas nasal canul
6. Pola tidur &istirahat
1. Durasi : berkurang
2. Gangguan tidur : menahan nyeri dan sesak nafas
3. Keadaan bangun tidur : lemah
7. Pola kognitif & perceptual
a. Fungsi Kognitif dan Memori:
Pasien mampu berhitung dan mengingat apa yang telah dilakukan oleh
perawat saat dilakukan pengkajian.
b. Fungsi dan keadaan indera :
Keadaan indera pasienbaik
8. Pola persepsi diri
a. Gambaran diri: Klien biasanya mengkhawatirkan jika dia tidak bisa bekerja
sepertibiasanya
b. Identitas diri: dilakukan dengan mengkaji identitas umum klien (jenis
kelamin, umur,dll)
c. Harga diri: Klien biasanya merasa malu memiliki penyakit kanker dan
khawatir jika setelah kemoterapi rambutnya akan rontok
e. Peran Diri : Pasien dengan Ca paru biasanya adalah seseorang dalam usia
produktif dan sedang bekerja (>40 tahun)
9. Pola peran & hubungan
Klien dengan Ca paru biasanya akan lebih menjauh dari orang-orang
sekitarnya karena khawatir penyakitnya akan menular seperti TBC dan
penyakit paru lainnya
10. Pola manajemen koping-stress
Dilakukan dengan melihat seberapa besar optimism pasien dalam menghadapi
penyakit tersebut
11. System nilai &keyakinan
Dilakukan dengan mengkaji agama ataupun kepercayaan klien sebagai
pegangan hidup

2.1.4 PemeriksaanFisik
a. Keadaan umum:
b. Tanda vital:
c. TekananDarah : Normal, jika tidak ada riwayathipertensi
d. Nadi : Meningkat (Normal80-100x/menit)
e. RR : Meningkat (Normal16-24x/menit)
f. Suhu : Biasanya normal (36,5-37,5) kecuali jika ada
inflamasi
Pengkajian Fisik (Inspeksi, Palpasi, Perkusi, Auskultasi)
1. Kepala
Inspeksi: kepala simetris, rambut tersebar merata berwarna hitam kaji uban),
distribusi normal, kaji kerontokan rambut jika sudah dilakukan kemoterapi
Palpasi: tidak ada nyeri tekan, tidak terdapat lesi, tidak ada perdarahan, tidak
ada lesi.
2. Mata
Inspeksi: konjungtiva anemis (-), sklera ikterik (-), pupil isokor, refleks pipil
terhadap cahaya (+/+), kondisi bersih, bulu mata rata dan hitam
Palpasi: tidak ditemukan nyeri tekan, tidak teraba benjolan abnormal
3. Telinga
Inspeksi: telinga simetris, lubang telinga bersih tidak ada serumen, tidak ada
kelainan bentuk.
Palpasi: tidak ada nyeri tekan, tidak teraba benjolan abnormal
4. Hidung
Inspeksi: hidung simetris, hidung terlihat bersih, terpasang alat
bantupernafasan
5. Mulut
Inspeksi: mukosa bibir lembab, mulut bersih, lidah berwarna merah, gigi
bersih tidak ada karies gigi
Palpasi: tidak ada pembesaran tonsil
6. Dada
Paru Jantung
Inspeksi: Betuk dada kadang tidak simetris, Inspeksi: Tidak ada pembesaran jantung
kaji adanya retraksi dada Palpasi: Tidak ada edema dan nyeri tekan
Palpasi: Pengembangan paru tidak simetris, Perkusi: Suara jantung pekak
kaji adanya kemungkinan flail chest Auskultasi: Tidak ada bunyi jantung
Perkusi: Suara parusonor tambahan (Gallop, Gargling, Mur-mur,
Auskultasi: Ada suara nafas tambahan Friction rub)
Wheezing

7. Abdomen
Inspeksi: bentuk abdomen datar
Palpasi: tidak terdapat nyeri tekan
Perkusi: Kaji adanya ketegangan abdomen
Auskultasi: Kaji adanya penurunan bising usus karena penurunan nafsu makan
8. Urogenital
Inspeksi: Tidak terpasanga alat bantu nafas
9. Ekstremitas
Inspeksi: ekstremitas biasanya sulit digerakkan karena takut sesak nafas
Palpasi: akral dingin, tidak ada edema, tugor kuit baik.
10. Kulit dan kuku
Inspeksi : Turgor kulit tidak baik, tidak ada lesi, kuku berwarna pink
Palpasi : kondisi kulit lembab, CRT <2 detik, dan akraldingin.
11. Keadaan local
Pasien tampak lemah berbaring di tempat tidur, terpasang alat bantu
pernafasan, kesadaran compos mentis (sadar penuh)
2.1.4 Pemeriksaan Penunjang & Laboratorium
Rontgen dada yang menunjukkan Ca paru

2.2 Diagnosa
Diagnosa yang sering muncul pada pasien dengan Ca Paru adalah:
1. Gangguan pertukaran gas (00030) berhubungan dengan himoptosis atau
bronkiektasis danatelektasis
2. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas (00031) berhubungan dengan
peningkatan produksimukus
3. Ketidakefektifan pola napas (00032) berhubungan dengan obstruksi bronkus
atau sumbatan parsial pada intrapulmonerproksimal
4. Nyeri kronis (00132) berhubungan dengan penyebaran neoplastik ke
mediastinum
5. Ansietas (00146) berhubungan dengan nyerikronis
2.3 Intervensi
No. Diagnosa Keperawatan NOC NIC
1. Gangguan pertukaran gas Tujuan: 3140. Manajemen Jalan nafas
(00030) berhubungan dengan Setelah dilakukan perawatan 2x24 jam klien 13. Posisikan klien untuk memaksimalkanventilasi
gangguan pertukaran gas pada klien dapat 14. Identifikasi kebutuhan aktual/potensial untuk
himoptosis atau bronkiektasis teratasi memasukkan alat dan membuka jalannafas
dan atelektasis Kriteria Hasil: 15. Motivasi pasien untuk bernafas dalam danpelan
0415. Status Pernafasan: Pertukaran Gas 16. Auskultasi suara nafas, catat area yang ventilasinya
1. Saturasi oksigen dari skala 1 menjadi menuurun atau tidak ada dan adanya suaratambahan
skala4 17. Monitor status pernafasan dan oksigenasi sebagaimana
2. Keseimbangan ventilasi dan perfusi dari mestinya
skala 1 menjadi skala5 3320. Terapi Oksigen
3. Dispnea saat istirahat dari skala 1 1. Bersihkan mulut dan hidung
menjadi skala5 2. Pertahankan kepatenan jalannafas
3. Siapkan peralatan oksigen dan berikan melaluisistem
humidifier
4. Berikan oksigen tambahan seperti yangdiperintahkan
5. Monitor alat pemberianoksigen
6. Monitor efektifitas terapi oksigen dengantepat
2. Ketidakefektifan bersihan Tujuan: 3140. Manajemen Jalan Nafas
jalan nafas (00031) Setelah dilakukan perawatan 2x24 jam tidak 1. Instruksikan klien bagaimana agar bisa melakukan batuk
ada sumbatan pada jalan nafas klien efektif
berhubungan dengan
Kriteria Hasil: 2. Kolaborasi pemberian bronkodilator sebagaimana
peningkatan produksi 0410 Status Pernafasan: Kepatenan Jalan mestinya
Mucus
Nafas 3. Berikan bantuan terapi nafas (nebulizer) jikadiperlukan
1. Frekuensi pernafasan dari skala 1 4. Posisikan klien untuk meringankan sesaknafas
menjadi skala 5 3320. Terapi Oksigen
2. Irama pernafasan dari skala 1 menjadi 1. Bersihkan mulut hidung dan sekresi trakea dengantepat
skala 5 2. Pertahankan kepatenan jalannafas
3. Kemampuan untuk mengeluarkan sekret 3. Siapkan peralatan oksigen dan berikan melaluisistem
dari skala 1 menjadi skala 4 humidifier
4. Akumulasi sputum dari skala 1 menjadi 4. Berikan oksigen tambahan seperti yangdiperintahkan
skala 4 5. Monitor alat pemberianoksigen
5. Suara nafas tambahan dari skala 1 6. Monitor efektifitas terapi oksigen dengantepat
menjadi skala 5
3. Ketidakefektifan pola napas Tujuan: 3140. Manajemen Jalan nafas
(00032) berhubungan dengan Setelah dilakukan perawatan 2x24 jam status 1. Posisikan klien untuk memaksimalkanventilasi
pola nafas klien efektif 2. Motivasi pasien untuk bernafas dalam danpelan
obstruksi bronkus atau
Kriteria Hasil: 3. Monitor status pernafasan dan oksigenasi sebagaimana
sumbatan parsial pada Status Pernafasan mestinya
intrapulmoner proksimal 1. Frekuensi pernafasan dari skala 1 3320. Terapi Oksigen
menjadi skala 5 7. Bersihkan mulut hidung dan sekresi trakea dengantepat
2. Kapasitas vital dan volume tidal dari 8. Pertahankan kepatenan jalannafas
skala 1 menjadi skala4 9. Siapkan peralatan oksigen dan berikan melaluisistem
3. Suara auskultasi nafas dari skala 1 humidifier
menjadi skala4 10. Berikan oksigen tambahan seperti yangdiperintahkan
4. Irama pernafasan dari skala 1menjadi 11. Monitor alat pemberianoksigen
skala 5 12. Monitor efektifitas terapi oksigen dengantepat
4. Nyeri kronis (00132) Tujuan: 2210. Pemberian Analgesik
berhubungan dengan Setelah dilakukan perawatan 3x24 klien 1. Tentukan lokasi, karakteristik, kualitas, dan keparahan
sedikit atau tidak menunjukkan nyeri nyeri sebelum mengobatiklien
penyebaran neoplastik ke
Kriteria Hasil: 2. Cek perintah pengobatan meliputi obat, dosis, dan
mediastinum 1605. Kontrol Nyeri frekuensi obat analgesik yangdiresepkan
1. Mengenali kapan nyeri terjadi dari skala 3. Cek adanya riwayat alergiobat
1 menjadi skala3 4. Monitor tanda-tanda vital sebelum dan sesudah
2. Menggambarkan faktor penyebab nyeri pemberiananalgesik
dari skala 1 menjadi skala3 5. Berikan analgesik sesuai dengan waktuparuhnya
3. Menggunakan tindakan pengurangan 1400. Manajemen Nyeri
nyeri (tanpa analgesik) dari skala 1 1. Lakukan pengkajian nyeri komprehensif dengan teknik
menjadi skala3 PQRST
4. Melaporkan nyeri terkontrol dari skala 1 2. Gunakan strategi komunikasi terapeutik untuk
menjadi skala4 mengetahui pengalaman nyeri
2102. Tingkat Nyeri 3. Berikan informasi mengenai nyeri, seperti penyebab
1. Nyeri yang dilaporkan dari skala 1 nyeri, berapa lama nyeri akan dirasakan dan antisipasi
menjadi skala4 dari ketidaknyamanan akibatprosedur
2. Ekspresi wajah nyeri dari skala 1 menjadi 4. Ajarkan prinsip-prinsip manajemennyeri
skala3 5. Dorong pasien untuk memonitor nyeri dan menangani
nyerinya dengan tepat.
6. Kolaborasi dengan pasien, orang terdekat dan tim
kesehatan lainnya untuk memilih dan
mengimplementasikan tindakan penurunan nyerisesuai
kebutuhahan.
5. Ansietas (00146)berhubungan Tujuan: 5820. Pengurangan Kecemasan
dengan nyeri kronis Setelah dilakukan perawatan 3x24 klien 1. Gunakan pendekatan yang tenang danmeyakinkan.
sedikit atau tidak menunjukkan tanda 2. Jelaskan penyebabnyeri
ansietas 3. Berikan informasi faktual terkait diagnosis, perawatan
Kriteria Hasil: danprognosis.
1211. Tingkat Kecemasan 4. Instruksikan klien untuk menggunakan tekhnikrelaksasi
1. Perasaan gelisah dari skala 1 menjadi 5. Kolaborasi penggunaan obat-obatan untuk mengurangi
skala5 kecemasan secaratepat
2. Rasa cemas yang disampaikan secara 6680. Monitor Tanda-Tanda Vital
lisan dari skala 1 menjadi skala5 1. Monitor tekanan darah, nadi, suhu, dan status
3. Peningkatan frekuensi nadi dari skala 1 pernafasan dengantepat.
menjadi skala5 2. Monitor irama dan tekananjantung
4. Gangguan tidur dari skala 1 menjadi 3. Monitor nadajantung.
skala5 4. Monitor irama dan lajupernafasan.
5. Identifikasi kemungkinan penyebab perubahan tanda-
tandavital
2.4 Discharge Planning
Discharge planning merupakan serangkaian keputusan dan aktivitas-
aktivitas yang terlibat dalam pemberian asuhan keperawatan yang berlanjut dan
terkoordinasi ketika pasien akan pulang dari pelayanan kesehatan. Discharge
planning pada pasien kanker paru disusun berdasarakan tindakan keperawatan
yang meliputi observasi, mandiri, edukasi, dan kolaborasi yang disusun sebagai
berikut :

1. Observasi keadaan pasien meliputi tanda-tanda vital pasien

2. Kolaborasi dengan dokter untuk mengkonsultasikan tentang penanganan


lanjutan (Kemoterapi, radiasi, ataupembedahan)
3. Motivasi klien untuk tidak merokok dan tidak berada di dekat orang yang
sedangmerokok
4. Hindari daerah yang banyak polusi udara atau pakailah masker untuk
mencegah debu masuk ke saluranpernafasan
5. Ajarkan kepada klien untuk meningkatkan daya tahan tubuh, cukup istirahat,
dan makan-makanan yang bergizi
6. Ajarkan kepada klien untuk menghindari menghirup zat karsinogenik (seperti
asbestos, uranium,dll)
DAFTAR PUSTAKA

GuytonA.C.andJ.E.Hall.2007.BukuAjarFisiologiKedokteran.Edisi9.
Jakarta: EGC

Keliat, Budi Anna., et all. Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi 2015-
2017. Edisi 10. Jakarta: EGC

Kemenkes RI. 2017. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Kanker Paru.


http://kanker.kemkes.go.id/guidelines/PNPKParu.pdf (Diakses pada 15
Januari 2018)

Nurarif, Amin Huda & Kusuma, Hardhi. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan
Berdasarkan Diagnosa Medis & Nanda Nic Noc. Jogja: Mediaction

Nurjannah, I & Tumanggor, R.D. 2013. Nursing Interventions Classification


Edisi 6 (Bahasa Indonesia). Indonesia. ELSEVIER.

Nurjannah, I & Tumanggor, R.D. 2013. Nursing Outcomes Classification Edisi


5 (Bahasa Indonesia). Indonesia. ELSEVIER.

Purba, Ardina Filindri & Wibisono. 2015Pola Klinis Kanker Paru di RSUP dr.
Kariadi Semarang Periode Juli 2013- Juli 2014.
http://eprints.undip.ac.id/46681/3/BAB_II_HASIL_KTI.pdf (Diakses pada
15 Januari 2018)

Sari, Lenny Widyawati Intan dan Purwoko, Yosef. 2015. Perbedaan Nilai Arus
Puncak Ekspirasi Sebelum dan Sesudah Pelatihan Senam Lansia Menpora
pada Kelompok Lansia Kemuning, Banyumanik, Semarang.
http://eprints.undip.ac.id/46788/3/Lenny_Widyawati_Intan_Sari_2201011
1120052_Lap.KTI_Bab2.pdf (Diakses pada 15 Januari2018)

Stoppler, M.C. 2010. Kanker Paru. http://www.emedicinehealth/ (Diakses pada 15


Januari 2018)

Syaifuddin. 2011. Anatomi Fisiologi: Kurikulum Berbasis Kompetensi untuk


Keperawatan dan Kebidanan Edisi 4. Jakarta: EGC

Tan, Winston W. 2017. Non-Small Cell Lung Cancer Clinical


Presentationhttps://emedicine.medscape.com/article/279960-clinical.
(Diakses pada 22 Januari 2018
Syafrullah, Sarah Carolin. 2015.Pengaruh Olahraga Renang terhadap Kapasitas
Vital Paksa dan Volume Ekspirasi Paksa Satu Detik pada Mahasiswa
Fakultas Kedokteran Universitas Lampung.
http://digilib.unila.ac.id/20701/14/BAB%20II.pdf (Diakses pada 15
Januari2018)

Syaifuddin. 2011. Anatomi Fisiologi: Kurikulum Berbasis Kompetensi untuk


Keperawatan dan Kebidanan Edisi 4. Jakarta: EGC

Tan, Winston W. 2017. Non-Small Cell Lung Cancer Clinical Presentation.


https://emedicine.medscape.com/article/279960-clinical. (Diakses pada 22
Januari 2018)