Anda di halaman 1dari 24

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan

rahmatNya sehingga makalah yang dibuat dapat terselesaikan dengan baik yaitu mata

kuliah Akuntansi Biaya dengan judul “Metode Harga Pokok Proses Lanjutan”.

Makalah ini dibuat dengan tujuan untuk memberikan pengetahuan yang lebih mendalam

tentang Metode Harga Pokok Proses Lanjutan pada mahasiswa maupun perusahaan.

Makalah ini juga dapat digunakan sebagai pedoman bagi pembaca untuk menambah

wawasan dalam hal bisnis dan ekonomi. Makalah yang disusun dan dibuat atas dasar

tugas yang diberikan dan sebagai pertanggung jawaban, untuk mata kuliah akuntansi

biaya. Tidak lupa saya sampaikan terima kasih kepada :

1. Ibu NORRA ISNASIA RAHAYU, SE., MSA., AK,CA selaku dosen pembimbing

mata kuliah Akuntansi Biaya yang telah membimbing kami dalam proses belajar

mengajar di kampus.

2. Seluruh pihak yang telah membantu untuk menyelesaikan makalah. Bahwa tiada

gading yang tak ada retaknya, sehingga kami menyadari bahwa makalah yang dibuat

jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran yang membangun dari dosen

ataupun dari para pembaca sangat kami harapkan. Akhirnya, semoga makalah yang

dibuat ini bermanfaat bagi penulis, pembaca dan masyarakat umum.

Pekanbaru, 08 November 2019

Penyusun

Page | 1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..................................................................................................... 1

DAFTAR ISI ................................................................................................................... 2

BAB I (PENDAHULAN) ................................................................................................ 3

1.1 Latar Belakang ...................................................................................................... 3

1.2 Tujuan ................................................................................................................... 4

BAB II (PEMBAHSAN) ................................................................................................. 5

2.1 Kasus Kasus Khusus dalam Perhitungan Akuntansi .............................................. 5

2.2 Metode Harga Pokok Rata-rata (Weighted Average) ............................................ 9

2.3 Metode First In First Out (FIFO) ......................................................................... 16

BAB III (SIMPULAN).................................................................................................. 24

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................... 25

Page | 2
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Metode harga pokok proses lanjutan merupakan metode pengumpulan biaya produksi

yang digunakan oleh perusahaan yang mengolah produknya secara massa.

Didalam metode ini, biaya produksi dikumpulkan untuk setiap proses selama jangka

waktu tertentu, dan biaya produksi per satuan dihitung dengan cara membagi total biaya

produksi dalam periode tertentu dengan jumlah satuan produk yang dihasilkan dari

proses tersebut selama jangka waktu yang bersangkutan.

Ada beberapa hal yang menjadi karakteristik metode Harga Pokok Proses Lanjutan, yaitu

1. Pengumpulan biaya produksi per departemen produksi per periode akuntansi.

2. Perhitungan per satuan dengan cara membagi total biaya produksi yang

dikeluarkan selama periode tertentu dengan jumlah satuan produk yang dihasilkan

selama periode yang bersangkutan.

3. Penggolongan biaya produksi langsung dan tak langsung seringkali tidak

diperlukan.

4. Elemen yang digolongkan dalam BOP terdiri dari biaya produksi selain biaya

bahan baku dan biaya bahan penolong dan biaya tenaga kerja (baik yang langsung

maupun tidak langsung). BOP dibebankan berdasarkan biaya yang sesungguhnya

terjadi.

5. Harga Pokok proses pada umumnya menggunakan metode Harga Pokok Proses-

Tanpa Memperhitungkan Persediaan Produk Dalam Proses Awal

Page | 3
a. Metode Harga Pokok Proses pada Perusahaan yang produknya diolah melalui 1

Departemen Produksi

b. Metode Hara Pokok Proses pada Perusahaan yang produknya diolah melalui 1

Departemen Produksi

c. Pengaruh Terjadinya Produk Hilang Dalam Proses terhadap. Perhitungan Harga

Pokok Produksi per satuan, dengang anggapan :

1. Produk Hilang Awal Proses

2. Produk Hilang Akhir Proses

Apabila pada awal periode terdapat persediaan awal barang dalam proses maka timbul

masalah untuk menentukan harga pokok barang jadi. Hal ini tiimbul karena persediaan

barang dalam proses tersebut telah mempunyai harga pokok yang berasal dari periode

sebelumnya. Ada tiga metode dalam penyelesaiannya, yaitu ata-rata, FIFO.

1.2 Tujuan

Memahami perhitungan harga pokok proses lanjutan dengan metode rata-rata, FIFO, dan

dalam perhitungan Harga Pokok Proses lanjutan lainnya.

Page | 4
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Kasus Kasus Khusus dalam Perhitungan Akuntansi

2.1.1 Adanya Produk Hilang Dalam Proses

Untuk mencatat adanya pengaruh produk hilang selama proses produksi diadakan

pembedaan antara produk hilang dalam proses sebagai berikut :

- Produk Hilang Awal Proses

Dalam hal ini pengaruhnya ke perhitungan harga pokok adalah :

Di departemen Awal :

Produk yang hilang awal tidak dihitung dalam menentukan jumlah unit ekuivalen.

Di Departemen Lanjutan : (dept 2 dst)

Harga pokok dari departemen sebelumnya disesuaikan dengan jumlah satuan

setelah adanya produk hilang.

- Produk Hilang Akhir Proses

 Apabila produk hilang terjadi pada akhir proses mempunyai pengaruh

terhadap perhitungan harga pokok produksi untuk departemen awal maupun

lanjutan.

 Produk hilang tersebut tetap diperhitungkan dalam unit ekuivalen karena

dianggap telah ikut menyerap biaya-biaya produksi.

 Harga pokok produk hilang tersebut diperhitungkan ke harga pokok produk

selesai yang ditransfer dari departemen produksi yang bersangkutan ke

departemen produksi berikutnya.


Page | 5
2.1.2 Adanya Produk Rusak Dalam Proses (Spoiled Goods)

Produk rusak adalah produk yang mutunya tidak sesuai dengan standar mutu yang

telah ditentukan dan tidak dapat diperbaiki lagi. Adapun perlakuan terhadap produk

rusak adalah :

A. Apabila produk rusak tidak laku dijual maka produk rusak tersebut diperlakukan

sebagai produk hilang akhir proses.

B. Apabila produk rusak mempunyai harga jual maka perlakuan terhadap produk

rusak tersebut sebagai berikut :

 Nilai jual produk rusak dicatat untuk mengurangi biaya-biaya produk pada

departemen tempat terjadinya produk rusak tersebut. Dasar pembagian

kepada masing-masing jenis biaya produksi adalah perbandingan unit

ekuivalen maka produk rusak tersebut tetap diperhitungkan.

 Kerugian atas produk rusak (selisih harga pokok dengan harga jual) dicatat

sebagai biaya overhead yang sesungguhnya di departemen tempat

terjadinya produk rusak. Pencatatan ini dipakai apabila biaya overhead

pabrik dibebankan ke produk atas dasar tarif yang ditentukan dimuka.

 Niali jual produk rusak dicatat sebagai pendapatan di luar usaha, produk

rusak tetap diperhitungkan dalam unit ekuivalen.

2.1.3 Adanya Produk Cacat Dalam Proses (Defective Goods)

Produk cacat yaitu produk yang kondisinya rusak atau tidak memenuhi ukuran mutu

yang sudah ditentukan, tetapi masih dapat diperbaiki secara ekonomis menjadi produk

yang baik kembali, dalam arti biaya perbaikannya lebih rendah dibandingkan

kenaikan nilai yang diperoleh dengan adanya perbaikan.

Perlakuan produk cacat tergantung penyebab timbulnya produk cacat, yaitu :

Page | 6
A. Produk Cacat Bersifat Normal

Semua biaya perbaikan diperlakukan sebagai elemen biaya produksi dan

digabungkan dengan elemen biaya produksi yang ada pada departemen tersebut

B. Produk Cacat Karena Kesalahan

Perlakan biaya perbaikan tidak boleh dikapitalisasi ke dalam biaya produksi, akan

tetapi harus diperlakukan sebagai elemen rugi produk cacat.

2.1.4 Adanya Tambahan Bahan Setelah Departemen Awal

Meskipun pada umumnya bahan baku dipakai pada departemen awal tetapi

adakalanya bahan baku ditambahkan di departemen lanjutan (departemen 2 dst).

Adapun pencatatan tambahan bahan baku tersebut di departemen lanjutan adalah

sebagai berikut :

A. Apabila tambahan bahan baku tersebut tidak menambah unit produk maka

tambahan bahan baku itu hanya dicatat menambah biaya produk tanpa

mempengaruhi perhitungan unit ekuivalen departemen bersangkutan.

B. Apabila tambahan bahan baku tersebut mengakibatkan bertambahnya unit

produk di departemen yang bersangkutan, maka akan mengakibatkan

diadakannya penyesuaian terhadap harga pokok produksi per satuan dari

departemen sebelumnya.

2.1.5 Adanya Bahan Sisa Proses Produksi (Scrap Matreial)

Adalah bahan baku yang merupakan sisa proses produksi yang tidak dapat

dimasukkan lagi dalam produksi untuk tujuan yang sama, tetapi mungkin dapat

digunakan untuk proses produksi yang berbeda atau dijual kembali dalam suatu

jumlah tertentu. Bahan sisa ini nilai jualnya lebih kecil dibandingkan produk utama.

Page | 7
2.1.6 Adanya Bahan Buangan (Waste Material)

Adalah bagian dari bahan mentah yang tertinggal sesudah proses produksi dan tidak

mempunyai kegunaan untuk dipakai atau dijual kembali. Biaya dalam mengatur

bahan buangan biasanya dibebankan pada kontrol overhead pabrik.

2.1.7 Kalkulasi Biaya Rata - Rata VS Kalkulasi Biaya FIFO

Kalkulas biaya rata - rata dan biaya FIFO masing - masing mempunyai keunggulan

tersendiri. Tidak layaklah untuk menyatakan bahwa metode yang satu lebih sederhana

atau lebih akurat daripada metode lain. Pemilihan salah satu metode itu akan

tergantung seluruhnya pada sikap manajemen mengenai prosedur penentuan biaya

yang dapat memberikan angka - angka yang andal bagi pedoman manajerial.

Perbedaan mendasar antara kedua metode terutama berkaitan dengan perlakuan

terhadap persediaan awal barang dalam proses. Dalam metode rata - rata, biaya

persediaan awal barang dalam proses ditambahkan ke biaya dari departemen

sebelumnya dan ke biaya bahan, pekerja, dan overhead pabrik yang dikeluarkan

selama periode itu. Biaya perunit akan ditentukan dengan membagi biaya - biaya ini

dengan kuantitas produksi ekuivalen. Unit - unit serta biayanya kemudian ditrasfer ke

departemen berikutnya sebagai suatu angka kumulatif.

Dalam metode FIFO, biaya persediaan awal barang dalam proses dicantumkan

sebagai satu angka yang terpisah. Biaya yang dibutuhkan untuk menyelesaikan unit -

unit persediaan awal ditambahkan ke biaya tadi. Jumlah kedua biaya ini kemudian

ditransfer ke departemen berikutnya. Unit yang dimulai dan diselesaikan selama

periode tersebut memiliki biaya per unit tersendiri yang lazimnya berbeda dengan

biaya per unit lengkap untuk unit - unit dalam proses. Jadi metode FIFO

mengidentifikasi secara terpisah biaya - biaya per unit.

Page | 8
2.2 Metode Harga Pokok Rata-rata (Weighted Average)

2.2.1 Apa itu metode Harga Pokok Rata-rata?

Dalam metode ini, jumlah harga pokok produk dalam proses awal ditambahkan

dengan biaya produksi yang dikeluarkan periode sekarang dibagi dengan unit

ekuivalensi produk untuk menghasilkan harga pokok rata-rata tertimbang.

Harga pokok produk yang dihasilkan oleh departemen setelah departemen

pertama merupakan harga pokok kumulatif, yaitu merupakan penjumlahan harga

pokok dari departemen satu ditambahkan dengan departemen berikutnya yang

bersangkutan

2.2.2 Proses Pemberlakuan Metode Rata-rata

A. Di departemen – Pertama :

 Dihitung total biaya untuk masing-masing jenis biaya produksi, yaitu : biaya

bahan, biaya tenaga kerja, dan biaya overhead pabrik dengan cara biaya yang

melekat pada persediaan barang dalam proses awal ditambah biaya-biaya

periode berjalan.

 Dihitung jumlah unit ekuivalen produksi yang dihasilkan dalam periode

yang bersangkutan : Barang jadi (yang ditransfer ke departemen berikutnya)

ditambah barang dalam proses akhir menurut unit ekuivalen. Harga pokok

rata-rata kemudian dihitung berdasarkan total biaya dibagi jumlah unit

ekuivalen.

B. Di departemen – Lanjutan :

1. Dihitung harga pokok rata-rata yang berasal dari departemen sebelumnya.

Harga pokok tersebut terdiri dari : Harga pokok persediaan awal dan harga

pokok yang diterima pada periode yang bersangkutan.

2. Dihitung harga pokok rata-rata per satuan yang ditambahkan dalam

departemen yang bersangkutan.

Page | 9
3. Menghitung harga pokok rata-rata per satuan di departemen yang

bersangkutan dengan cara : Harga pokok rata-rata dari departemen yang

mendahului ditambah harga pokok rata-rata di departemen yang

bersangkutan.

2.2.3 Penerapan Metode Rata-rata

Contoh Kasus

Dalam laporan ini, persediaan barang dalam proses akhir bulan Januari

dicantumkan sebagai persediaan barang dalam proses awal bulan Februari.

Dengan mengambil data dari laporan biaya prosuksi bulan Januari, maka data

untuk persediaan barang dalam proses awal bulan Februari adlah sebagai berikut.

Departemen Pemotongan Departemen Perakitan

Jumlah unit dalam proses awal

periode 8.000 4.000

Biaya dari departemen

sebelumhya

Bahan baku 7.600.000 12.240.000

Tenaga kerja langsung 4.360.000 3.408.000

Overhead pabrik 4.080.000 3.144.000

Jumlah biaya 16.040.000 18.792.000

Page | 10
Data tersebut diatas dari PT RATIH selanjutnya akan digunakan dalam

penyusunan laporan biaya produksi bulan Februari untuk kedua departemen

produksi, yaitu departemen pemotongan dan departemen perakitan.

Dalam ilustrasi mengenai laporan biaya produksi ini, diasumsikan bahwa unit

yang hilang berada dalam batas toleransi yang normal dan biaya dari unit yang

hilanh tersebut dibebankan kepada semua unit produksi yang selesai pada

departemen tersebut.

Berikut merupaka laporan biaya produksi departemen pemotongan.

PT RATIH

Departemen Pemotongan Laporan

Biaya Produksi-Metode Rata-rata Tertimbang

Bulan Februari 2008

PRODUKSI DALAM UNIT

A. Produksi yang harus dipertanggungjawabkan:

Unit dalam proses awal periode (tingkat


8.000
penyelesaian : bahan baku 100 %, TK dan BOP 50%

Unit yang diamsukkan dalam periode ini 30.000

Jumlah unit yang harus dipertanggung jawabkan 38.000

B. Pertanggunjawaban produksi:

Unit yang ditransfer ke departemen berikutnya 31.000

Unit dalam proses akhir (tingkat penyelesaian: bahan

baku 100%, tenaga kerja langsung dan overhead 7.000

pabrik 60%)

Jumlah unit yang dipertanggung jawabkan 38.000

Page | 11
BIAYA PRODUKSI

A. Biaya yang harus


Total per Unit
dipertanggungjawabkan:

Barang dalam proses awal periode

Bahan baku Rp7.600.000

Tenaga kerja langsung


4.360.000

Overhead pabrik
4.080.000

Biaya yang ditambakan dalam peiode ini

Bahan baku
32.300.000 Rp1.050

Tenaga kerja langsung


35.240.000 1.125

Overhead pabrik
33.232.000 1.060
Jumlah biaya yang dipertanggungjawabkan Rp116.812.000 Rp3.235

B. Pertanggung jawaban biaya

Biaya ditrasnfer ke departemen berikut

(31.000x Rp 3.235) Rp100.285.000

Barang dalam proses akhir periode:

Bahan baku (7.000x100%x Rp

1.050) Rp7.350.000

Tenaga kerja langsung

(7.000x60%xRp 1.125) 4.725.000

Page | 12
Overhead pabrik (7.000x60%x Rp

1.060) 4.452.000 Rp16.527.000

Jumlah biaya yang

dipertanggungjawabkan Rp116.812.000

C. Perhitungan biaya per unit

Produksi ekuivalen

Bahan baku 31.000+(100%x7.000) 38.000

Tenaga kerja langsung dan overhead


31.000+(60%x7.000) 35.200
pabrik

Biaya per unit:

Bahan baku (Rp 7.600.000 + Rp 32.300.000):38.000 = Rp 1.050

Tenaga kerja langsung (Rp 4.360.000 + Rp35.240.000):35.200 = Rp 1.125

Overhead pabrik (Rp 4.080.000 + Rp 33.232.000): 35.200 = Rp 1.060

Tabel laporan biaya produksi departemen perakitan-metode rata-rata tertimbang disajikan


seperti tabel berikut ini.

PT RATIH

Departemen Perakitan

Laporan Biaya Produksi-Metode Rata-rata Tertimbang

Bulan Februari 2008

PRODUKSI DALAM UNIT

A. Produksi yang harus di pertanggungjawabkan:

Unit dalam proses awal periode (tingkat penyelesaian):

Tenaga kerja langsung dan ov. pabrik 60% 4.000

Unit yang diterima dari dept. sebelumnya 31.000

Page | 13
Jumlah unit yang harus dipertanggungjawabkan 35.000

B. Pertanggungjawaban produksi:

Unit yang ditransfer ke gudang barang jadi 30.000

Unit dalam proses akhir awal periode (tingkat

penyelesaina):

tenaga kerja langsung dan ov. pabrik 5.000

Jumalh produksi yang harus di pertanggungjawabkan:


35.000

BIAYA PRODUKSI

A. Biaya yang harus dipertanggungjawabkan: Total per Unit

Biaya dari departemen sebelumnya

Barang dalam proses awla periode


12.240.000
( 4.000 unit)

Diterima selama periode berjalan


100.285.000
(31.000 unit)

Jumlah 35.000 unit 112.525.000 Rp3.215

Biaya yang ditambahkan

Barang dalam proses awal periode

Tenaga kerja langsung 3.408.000

Overhead pabrik 3.144.000

Barang yang ditambahkan selama periode berjalan

Tenaga kerja langsung 43.717.000 1.450

Overhead opabrik 40.081.000 1.330

Jumlah biaya yang ditambahkan 90.350.000 2.780

Jumlah biaya yang harus


202.875.000 Rp5.995
dipertanggungjawabkan

Page | 14
B. Pertanggungjawaban biaya:

Biaya ditrasfer ke persediaan barang jadi


179.850.000
(3.000x 5.995)

Barang dalam proses akhir periode

Biaya dari departemen sebelumnya


16.075.000
(5.000x3.215)

Tenaga kerja langsung (5.000x50%x1.450) 3.625.000

Overhead pabrik (5.000x50%x1.330) 3.325.000 23.025.000

Jumlah biaya dipertanggungjawabkan 202.875.000

C. Perhitungan biaya per unit

Produksi ekuivalen:

Tenaga kerja langsung dan overhead pabrik


32.500
30.000+(50%x5.000)

Biaya per unit

Tenaga kerja langsung (Rp 3.408.000+Rp


1.450
43.717.000):32.500

Overhead pabrik (Rp 3.144.000+Rp


1.330
40.081.000):32.500

2.3 Metode First In First Out (FIFO)

2.3.1 Apa itu Metode FIFO?

Dalam metode ini, menganggap biaya produksi periode sekarang pertama kali

digunakan untuk menyelesaikan produk yang pada awal periode masih dalam

proses, baru kemudian sisanya digunakan untuk mengolah produk yang

dimasukkan dalam proses periode sekarang.

Page | 15
Oleh karena itu dalam perhitungan unit ekuivalensi tingkat penyelesaian

persediaan produk dalam proses awal harus diperhitungkan.

Dalam departemen setelah departemen I, produk telah membawa harga pokok

dari periodesebelumnya digunakan pertama kali untuk menentukan harga

pokok produk yang ditransfer ke departemen berikutnya atau ke gudang.

2.3.2 Proses Pemberlakuan Metode FIFO

 Proses produksi dianggap untuk menyelesaikan produk dalam proses awal

menjadi produk selesai.

 Setiap elemen harga pokok produk dalam proses awal tidak digabungkan

dengan elemen biaya yang terjadi dalam periode yang bersangkutan.

 Harga pokok produk dalam proses awal periode tidak perlu dipecah

kembali menurut elemennya ke dalam setiap elemen biaya.

 Produksi ekuivalen = (Produksi dalam proses awal x tingkat penyelesaian

yang dibutuhkan) + Produksi Current + (Produk dalam proses akhir x

Tingkat penyelesaian yang sudah dinikmati).

 Besarnya harga pokok satuan setiap elemen biaya dihitung sebesar elemen

biaya yang terjadi pada periode yang bersangkutan dibagi jumlah produksi

ekuivalen dari elemen biaya yang bersangkutan.

2.3.3 Penerapan Metode FIFO

Contoh kasus

Melanjutkan contoh PT RATIH dan juga menggunakan data yang sama

dengan metode rata-rata tertimbang, laporan biaya produksi dari departemen

pemotongan dengan menggunakan metode FIFO. Tabel laporan biaya produksi

departemen pemotongan metode FIFO disajikan seperti tabel berikut ini.

Page | 16
PT RATIH

Departemen Pemotongan

Laporan Biaya Produksi-Metode FIFO

Bulan Februari 2008

PRODUKSI DALAM UNIT

A. Produksi yang harus dipertanggungjawabkan:

Unit dalam proses awal periode (tingkat penyelesaian : bahan


8.000
baku 100 %, TK dan BOP 50%

Unit yang dimasukkan dalam periode ini 30.000

Jumlah unit yang harus dipertanggungjawabkan 38.000

B. Pertanggunjawaban produksi:

Unit yang ditransfer ke departemen berikutnya 31.000

Unit dalam proses akhir (tingkat penyelesaian: bahan baku 100%,

tenaga kerja langsung dan overhead pabrik 60%) 7.000

Jumlah unit yang dipertanggungjawabkan 38.000

BIAYA PRODUKSI

A. Biaya yang harus dipertanggungjawabkan: Total per Unit

Barang dalam proses awal periode Rp16.040.000

Biaya yang ditambakan dalam peiode ini

Bahan baku 32.300.000 Rp1.077

Tenaga kerja langsung 35.240.000 1.129

Page | 17
Overhead pabrik 33.232.000 1.065

Jumlah biaya yang ditambahkan Rp100.772.000

Jumlah biaya yang


Rp116.812.000 Rp3.271
dipertanggungjawabkan

B. Pertanggungjawaban biaya

Barang yang ditransfer ke dept. berikutnya

Barang dalam proses awal periode:

Barang periode yang lalu Rp16.040.000

Biaya tenaga kerja yang ditambahkan

(8.000x50%xRp 1.129) 4.516.000

Biaya overhead pabrik yang ditambahkan

(8.000x50%x Rp 1.065 4.260.000

Jumlah Rp24.816.000

Produk selesai periode berjalan (23.000xRp


75.242.200
3.271)

Jumlah biaya yang ditransfer ke dep.


Rp100.058.200
berikutnya

Barang dalam proses akhir periode

Bahan baku (7.000x100%xRp 1.077) Rp7.539.000

Tenaga kerja langsung (7.000x60%xRp


4.741.800
1.129)

Overhead pabrik (7.000x60%xRp 1.065) 4.473.000 Rp16.753.800

Jumlah biaya yang


Rp116.812.000
dipertanggungjawabkan

Page | 18
C. Perhitungan biaya per unit

Produksi ekuivalen Bahan baku TKL & BOP

Unit yang selesai dan ditransfer 31.000 31.000

Unit dalam proses awal periode (8.000) (8.000)

Unit yang selesai dari produksi periode


23.000 23.000
berjalan

Barang dalam proses awal periode - 4.000

Barang dalam proses akhir periode 7.000 4.200

Jumlah 30.000 31.200

Biaya per unit:

Bahan baku (Rp 32.300.000:30.000) Rp1.077

Tenaga kerja langsung (Rp


Rp1.129
35.240.000:31.200)

Overhead pabrik (Rp 33.232.000:31.200) Rp1.065

*(23.000 x Rp 3.271) Rp75.233.000

Selisih pembulatan 9.200

Produksi yang selesai periode ini Rp75.242.200

Tabel laporan biaya produksi departemen perakitan-metode FIFO disajikan seperti tabel
berikut ini.

PT RATIH

Departemen Perakitan

Laporan Biaya Produksi-Metode FIFO

Bulan Februari 2008

PRODUKSI DALAM UNIT

A. Produksi yang harus dipertanggugjawabkan:

Page | 19
Unit dalam proses awal periode (tingkat penyelesaian:

bahan baku 100%, tenaga kerja langsung dan overhead 4.000

pabrik 60%)

Unit yang dimasukkan dalam periode ini 31.000

Jumlah unit yang harus dipertanggungjawabkan 35.000

B. Pertanggungjawaban produksi

Unit yang ditransfer ke gudang barang jadi 30.000

Unit dalam proses akhir periode (tingkat penyelesaian:

bahan baku 100%, tenaga kerja langsung dan overhead 5.000

pabrik 50%)

Jumlah unit dipertanggungjawabkan 35.000

BIAYA PRODUKSI

A. Biaya yang harus dipertanggungjawabkan Total per Unit

Barang dalam proses awal periode Rp18.792.000

Biaya dari departemen sebelumnya diterima


Rp100.058.200 Rp3.228
dalam periode berjalan (31.000 unit)

Biaya yang ditambah dalam periode ini:

Tenaga kerja langsung Rp43.717.000 Rp1.452

Overhead pabrik 40.081.000 1.332

Jumlah biaya yang ditambahkan Rp83.798.000 Rp2.784

Jumlah yang harus


Rp202.648.200 Rp6.012
dipertanggungjawabkan

B. Pertanggungjawaban biaya:

Biaya yang ditransfer ke persediaan

barang jadi:

Barang dalam proses awal periode:

Page | 20
Biaya periode yang lalu 18.792.000

Biaya tenaga kerja langsung yang


2.323.200
ditambahkan (4.000x40%xRp 1.425)

biaya overhead pabrik yang


2.131.200
ditambahkan (4.000x40%x 1.332)

Jumlah Rp 23.246.400

Produksi selesai periode berjalan


156.301.800* 179.548.200
(26.000xRp 6.012)

Barang dalam proses akhir periode

Biaya dari departemen sebelumnya


Rp16.140.000
(5.000xRp. 3.288)

Tenaga kerja langsung (5.000x50%xRp


3.630.000
1.452)

Overhead pabrik (5.000x50%x Rp 1.332) 3.330.000 23.100.000

Jumlah biaya yang


Rp 202.648.200
dipertanggungjawbkan

C. Perhitungan biaya per unit

Produksi ekuivalen: TKL & BOP

Unit yang selesai dan ditransfer 30.000

Unit dalam proses awal periode (4.000)

Unit yang selesai dari produksi


26.000
periode berjalan

Barang dalam proses awal periode 1.600

Barang dalam proses akhir periode 2.500

Jumlah 30.100

Biaya per unit:

Page | 21
Tenaga kerja langsung (Rp
Rp1.452
43.717.000: 30.100)

Overhead pabrik (Rp 40.081.000 :


Rp1.332
30.100)

*(26.000x rp 6.012) Rp156.312.000

Selisih pembulatan (10.200)

Produksi yang selesai periode ini Rp156.301.800

Page | 22
BAB III

SIMPULAN

Dari pembahsan dapat disimpulkan bahwa metode harga pokok proses lanjutan

merupakan metode pengumpulan biaya produksi yang digunakan oleh perusahaan yang

mengolah produknya secara massa.

Didalam metode ini, biaya produksi dikumpulkan untuk setiap proses selama jangka

waktu tertentu, dan biaya produksi per satuan dihitung dengan cara membagi total biaya

produksi dalam periode tertentu dengan jumlah satuan produk yang dihasilkan dari

proses tersebut selama jangka waktu yang bersangkutan.

Apabila pada awal periode terdapat persediaan awal barang dalam proses maka timbul

masalah untuk menentukan harga pokok barang jadi. Hal ini tiimbul karena persediaan

barang dalam proses tersebut telah mempunyai harga pokok yang berasal dari periode

sebelumnya. Ada beberapa metode dalam penyelesaiannya, yaitu rata-rata, dan FIFO.

Page | 23
DAFTAR PUSTAKA

https://www.google.com/search?es_sm=93&biw=1366&bih=624&noj=1&sclient=psya

b&q=contoh+soal+harga+pkokproses+dengan+metode+lifo+dan+fifo&oq=contoh+soal

+harga+pkokproses+dengan+metode+lifo+dan+fifo&gs_l=serp.3...237247.261606.1.26

1898.58.53.0.1.1.0.901.10222.39j5j4j3.21.0....0...1c.1.56.serp..45.13.6244.DcyxQC8sD

Gw

https://www.google.com/search?es_sm=93&biw=1366&bih=624&noj=1&q=contoh+so

al+harga+pokok+proses+dengan+metode+lifo+dan+fifo&spell=1&sa=X&ei=vddMVIb

KIq78gW0xYKQDw&ved=0CBkQvwUoAA

https://www.google.com/search?es_sm=93&biw=1366&bih=624&noj=1&sclient=psya

b&q=rumus+menghitung+harga+pokok+proses+dengan+metode+fifo+dan+lifo&oq=ru

mus+menghitung+harga+pokok+proses+dengan+metode+fifo+dan+lifo&gs_l=serp.12..

.0.0.1.217156.0.0.0.0.0.0.0.0..0.0....0...1c..56.serp..0.0.0.lJNDqwOqNK8

Page | 24