Anda di halaman 1dari 43

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Apendisitis adalah suatu radang yang timbul secara mendadak pada apendiks
dan merupakan salah satu kasus akut abdomen yang paling sering ditemui. Apendiks
disebut juga umbai cacing. Apendisitis sering disalah artikan dengan istilah usus
buntu, karena usus buntu sebenarnya adalah caecum. Apendisitis akut merupakan
radang bakteri yang dicetuskan berbagai faktor. Diantaranya hyperplasia jaringan
limfe, fekalith, tumor apendiks dan cacing ascaris dapat juga menimbulkan
penyumbatan.
Insiden apendisitis akut lebih tinggi pada negara maju daripada Negara
berkembang, namun dalam tiga sampai empat dasawarsa terakhir menurun secara
bermakna, yaitu 100 kasus tiap 100.000 populasi mejadi 52 tiap 100.000 populasi.
Kejadian ini mungkin disebabkan perubahan pola makan, yaitu negara berkembang
berubah menjadi makanan kurang serat. Menurut data epidemiologi apendisitis akut
jarang terjadi pada balita, meningkat pada pubertas, dan mencapai puncaknya pada
saat remaja dan awal 20-an, sedangkan angka ini menurun pada menjelang dewasa.
Insiden apendisitis sama banyaknya antara wanita dan laki-laki pada masa prapuber,
sedangkan pada masa remaja dan dewasa muda rationya menjadi 3:2, kemudian
angka yan tinggi ini menurun pada pria.
Dari berbagai penelitian yang telah dilakukan, obstruksi merupakan penyebab
yang dominan dan merupakan pencetus untuk terjadinya apendisitis. Kuman-kuman
yang merupakan flora normal pada usus dapat berubah menjadi patogen, menurut
Schwartz kuman terbanyak penyebab apendisitis akut adalah Bacteriodes Fragilis
bersama E.coli.
Beberapa gangguan lain pada sistem pencernaan antara lain sebagai berikut:
Peritonitis; merupakan peradangan pada selaput perut (peritonium). Gangguan lain
adalah salah cerna akibat makan makanan yang merangsang lambung, seperti alkohol
dan cabe yang mengakibatkan rasa nyeri yang disebut kolik. Sedangkan produksi HCl
yang berlebihan dapat menyebabkan terjadinya gesekan pada dinding lambung dan
usus halus, sehingga timbul rasa nyeri yang disebut tukak lambung. Gesekan akan
lebih parah kalau lambung dalam keadaan kosong akibat makan tidak teratur yang
pada akhirnya akan mengakibatkan pendarahan pada lambung. Gangguan lain pada
lambung adalah gastritis atau peradangan pada lambung. Dapat pula apendiks
terinfeksi sehingga terjadi peradangan yang disebut apendisitis.
1.1 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas maka dirumuskan masalah
“Bagaimana laporan pendahuluan dan penerapan asuhan keperawatan pada pasien
dengan diagnosa medis Apendisitis di ruang Dahlia RSUD dr. Doris Sylvanus
Palangka Raya?”.
1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Tujuan umum penyusunan dan penulisan laporan studi kasus adalah untuk
menjelaskan tentang asuhan keperawatan pada klien dengan dengan diagnosa medis
Apendisitis di ruang Dahlia RSUD dr. Doris Sylvanus Palangka Raya.
1.2.2 Tujuan Khusus
1.3.2.1 Mengetahui tentang konsep dasar Appendicitis
1.3.2.2 Melakukan pengkajian keperawatan pada klien dengan diagnosa medis
Apendisitis .
1.3.2.3 Menegakkan diagnosa keperawatan klien dengan diagnosa medis Apendisitis .
1.3.2.4 Membuat intervensi keperawatan pada klien dengan diagnosa
Apendisitis dengan diagnosa keperawatan.
1.3.2.5 Melakukan tindakan keperawatan pada klien dengan diagnosa Apendisitis .
1.3.2.6 Melakukan evaluasi pada klien dengan diagnosa Apendisitis .
1.3.2.7 Mampu membuat dokumentasi tindakan pada klien dengan diagnosa medis
Apendisitis .
1.3 Manfaat
1.4.1 Teoritis
Secara teoritis, penulisan ini bermanfaat untuk memberikan sumbangan
pemikiran mau pun sebagai rujukan referensi bagi para perawat dalam menerapkan
asuhan keperawatan pada klien dengan diagnosa medis Apendisitis .
1.4.2 Praktis
1.4.2.1 Bagi Profesi Keperawatan
Laporan ini dapat memberi tambahan informasi tentang asuhan keperawatan
dasar manusia pada klien dengan diagnosa medis Apendisitis. Dalam melakukan
Asuhan Keperawatan yang paling penting adalah membina hubungan saling percaya
dengan klien. .
1.4.2.2 Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai bahan bacaan ilmiah, serta menjadi bahan atau dasar bagi mereka
yang ingin mengadakan penelitian lebih lanjut.
1.4.2.3 Bagi Puskesmas
Dapat menjadi masukan bagi tenaga kesehatan yang ada di rumah sakit untuk
dapat meningkatkan mutu pelayanan keperawatan khususnya pada klien dengan
diagnosa medis Apendisitis.
1.4.2.4 Mahasiswa
Hasil laporan asuhan keperawatan ini dapat menambah wawasan dan
pengetahuan serta untuk memperoleh pengalaman dalam penerapan asuhan
keperawatan dengan diagnosa medis Apendisitis.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi
Apendisitis adalah infeksi pada appendiks karena tersumbatnya lumen oleh
fekalih (batu feces), hiperplasi jaringan limfoid, dan cacing usus. Obstruksi lumen
merupakan penyebab utama appendicitis. Erosi membran mukosa appendiks dapat
terjadi karena parasit seperti Entamoeba histolytica, Trichuris trichiura, dan
Enterobius vermikularis.
Apendisitis adalah peradangan yang terjadi pada apendiks vermiformis. Pada
masyarakat umum sering disebut dengan istilah radang usus buntu. Apendisitis biasa
disebabkan oleh adanya penyumbatan lumen apendiks oleh hyperplasia folikel
limfoid, fekalit, benda asing, striktur karena fibrosis akibat peradangan sebelumnya,
atau neoplasma.
Apendisitis akut adalah proses radang bakteria yang timbul secara mendadak,
apendisitis disebabkan oleh berbagai faktor.
2.2 Anatomi Fisiologi
Apendiks atau umbai cacing adalah suatu organ yang terdapat pada sekum yang
terletak pada proximal colon. Apendix dalam bahasa latin disebut sebagai Appendix
vermiformis, ditemukan pada manusia, mamalia, burung, dan beberapa jenis reptil.
Apendiks pada awalnya dianggap sebagai organ tambahan yang tidak mempunyai
fungsi tetapi saat ini diketahui bahwa fungsi apendiks adalah sebagai organ
imunologik dan secara aktif berperan dalam sekresi immunoglobin (Ig-A) walaupun
dalam jumlah kecil. Apediks berisi makanan dan mengosongkan diri secara teratur ke
dalam sekum. Karena pengosongannya yang tidak efektif, dan lumennya kecil,
apendiks cenderung menjadi tersumbat dan terutama rentan terhadap infeksi.
Apendiks merupakan organ yang berbentuk tabung dengan panjang kira-kira
10cm dan berpangkal pada sekum, tepatnya di daerah perbatasan dengan usus ileum
kuadran kanan bawah. Apendiks memiliki lumen sempit dibagian proximal dan
melebar pada bagian distal. Saat lahir, apendiks pendek dan melebar dipersambungan
dengan sekum. Selama anak-anak, pertumbuhannya biasanya berotasi ke dalam
retrocaecal tapi masih dalam intraperitoneal. Pada apendiks terdapat 3 tanea coli yang
menyatu dipersambungan caecum dan bisa berguna dalam menandakan tempat untuk
mendeteksi apendiks. Posisi apendiks terbanyak adalah Retrocaecal (74%) lalu
menyusul Pelvic (21%), Patileal(5%), Paracaecal (2%), subcaecal(1,5%) dan preleal
(1%).
Apendiks dialiri darah oleh arteri apendicular yang merupakan cabang dari
bagian bawa arteri ileocolica. Arteri apendiks termasuk akhir arteri. Apendiks
memiliki lebih dari 6 saluran limfe melintangi mesoapendiks menuju ke nodus limfe
ileocaecal.

2.3 Etiologi
Apendisitis dapat disebabkan oleh beberapa sebab terjadinya proses radang
bakteria yang dicetuskan oleh beberapa faktor pencetus diantaranya Hiperplasia
jaringan limfe, fekalith, tumor apendiks, dan cacing askaris yang menyumbat.
Ulserasi mukosa merupakan tahap awal dari kebanyakan penyakit ini. namun ada
beberapa faktor yang mempermudah terjadinya radang apendiks, diantaranya:
1) Faktor sumbatan
Faktor obstruksi merupakan faktor terpenting terjadinya apendisitis (90%) yang
diikuti oleh infeksi. Sekitar 60% obstruksi disebabkan oleh hyperplasia jaringan
lymphoid sub mukosa, 35% karena stasis fekal, 4% karena benda asing dan sebab
lainnya 1% diantaranya sumbatan oleh parasit dan cacing. Obsrtruksi yang
disebabkan oleh fekalith dapat ditemui pada bermacam-macam apendisitis akut
diantaranya ; fekalith ditemukan 40% pada kasus apendisitis kasus sederhana, 65%
pada kasus apendisitis akut ganggrenosa tanpa ruptur dan 90% pada kasus apendisitis
akut dengan rupture.
2) Faktor Bakteri
Infeksi enterogen merupakan faktor pathogenesis primer pada apendisitis akut.
Adanya fekolith dalam lumen apendiks yang telah terinfeksi memperburuk dan
memperberat infeksi, karena terjadi peningkatan stagnasi feses dalam lumen
apendiks, pada kultur didapatkan terbanyak ditemukan adalah kombinasi antara
Bacteriodes fragililis dan E.coli, lalu Splanchicus, lacto-bacilus, Pseudomonas,
Bacteriodes splanicus. Sedangkan kuman yang menyebabkan perforasi adalah kuman
anaerob sebesar 96% dan aerob<10%.
3) Kecenderungan familiar
Hal ini dihubungkan dengan tedapatnya malformasi yang herediter dari organ,
apendiks yang terlalu panjang, vaskularisasi yang tidak baik dan letaknya yang
mudah terjadi apendisitis. Hal ini juga dihubungkan dengan kebiasaan makanan
dalam keluarga terutama dengan diet rendah serat dapat memudahkan terjadinya
fekolith dan mengakibatkan obstruksi lumen.
4) Faktor ras dan diet
Faktor ras berhubungan dengan kebiasaan dan pola makanan sehari-hari. Bangsa kulit
putih yang dulunya pola makan rendah serat mempunyai resiko lebih tinggi dari
Negara yang pola makannya banyak serat. Namun saat sekarang, kejadiannya
terbalik. Bangsa kulit putih telah merubah pola makan mereka ke pola makan tinggi
serat. Justru Negara berkembang yang dulunya memiliki tinggi serat kini beralih ke
pola makan rendah serat, memiliki resiko apendisitis yang lebih tinggi.
5) Faktor infeksi saluran pernapasan
Setelah mendapat penyakit saluran pernapasan akut terutama epidemi influenza dan
pneumonitis, jumlah kasus apendisitis ini meningkat. Namun, hati-hati karena
penyakit infeksi saluran pernapasan dapat menimbulkan seperti gejala permulaan
apendisitis.
2.4 Klasifikasi
Adapun klasifikasi appendicitis berdasarkan klinikopatologis adalah sebagai
berikut:
1) Apendisitis Akut
(a) Apendisitis Akut Katarhalis
Bila terjadi obstruksi, sekresi mukosa menumpuk dalam lumen apendiks, terjadi
peninggian tekanan dalam lumen, tekanan ini mengganggu aliran limfe, mukosa
apendiks jadi menebal, edem dan kemerahan. Pada apendiks edema mukosa ini
mulai terlihat dengan adanya luka-luka kecil pada mukosa.
(b) Apedisitis Akut Purulenta
Tekanan dalam lumen yang terus bertambah yang disertai edema,
menyebabkan terbendungnya aliran vena pada dinding apendiks dan
menimbulkan thrombus. Hal ini akan memperberat iskemik dan edema pada
apendiks. Bakteri yang dalam normal terdapat di daerah ini berinvasi ke
dalam dinding, menimbulkan infeksi serosa, sehingga serosa jadi suram,
karena dilapisi eksudat dan fibrin. Karena infeksi akan terbentuk nanah terjadi
peritonitis lokal.
(c) Apendisitis Akut Gangrenosa
Bila tekanan dalam lumen terus bertambah, aliran darah arteri mulai
terganggu terutama bagian ante mesentrial yang peredarannya paling minimal,
hingga terjadi infrak dan ganggren.
2) Apendisitis Infiltrat
Apendisitis infiltrat adalah proses radang appendiks yang penyebarannya dapat
dibatasi oleh omentum, usus halus, sekum, kolon dan peritoneum sehingga
membentuk gumpalan massa flegmon yang melekat erat satu dengan yang lainnya.
3) Apendisitisi Abses
Apendisitis abses terjadi bila massa lokal yang terbentuk berisi nanah (pus),
biasanya di fossa iliaka kanan, lateral dari sekum, retrocaecal, subcaecal, dan pelvic.
4) Apendisitis Perforasi
Apendisitis perforasi adalah pecahnya appendiks yang sudah ganggren yang
menyebabkan pus masuk ke dalam rongga perut sehingga terjadi peritonitis umum.
Pada dinding appendiks tampak daerah perforasi dikelilingi oleh jaringan
nekrotik.
5) Apendisitis Kronis
Apendisitis kronis merupakan lanjutan appendicitis akut supuratif sebagai proses
radang yang persisten akibat infeksi mikroorganisme dengan virulensi rendah,
khususnya obstruksi parsial terhadap lumen. Diagnosa appendicitis kronis baru dapat
ditegakkan jika ada riwayat serangan nyeri berulang di perut kanan bawah lebih dari
dua minggu, radang kronik appendiks secara makroskopik dan mikroskopik. Secara
histologis, dinding appendiks menebal, sub mukosa dan muskularis propia
mengalami fibrosis. Terdapat infiltrasi sel radang limfosit dan eosinofil pada
sub mukosa, muskularis propia, dan serosa. Pembuluh darah serosa tampak dilatasi.
2.5 Patofisiologi
Apendisitis merupakan peradangan appendiks yang mengenai semua
lapisan dinding organ tersebut. Tanda patogenetik primer diduga karena obstruksi

lumen dan ulserasi mukosa menjadi langkah awal terjadinya appendicitis.28


Obstruksi intraluminal appendiks menghambat keluarnya sekresi mukosa dan
menimbulkan distensi dinding appendiks. Sirkulasi darah pada dinding appendiks
akan terganggu. Adanya kongesti vena dan iskemia arteri menimbulkan luka pada
dinding appendiks. Kondisi ini mengundang invasi mikroorganisme yang ada di
usus besar memasuki luka dan menyebabkan proses radang akut, kemudian terjadi
proses irreversibel meskipun faktor obstruksi telah dihilangkan.
Appendicitis dimulai dengan proses eksudasi pada mukosa, sub mukosa,
dan muskularis propia. Pembuluh darah pada serosa kongesti disertai dengan
infiltrasi sel radang neutrofil dan edema, warnanya menjadi kemerah-merahan dan
ditutupi granular membran. Pada perkembangan selanjutnya, lapisan serosa ditutupi
oleh fibrinoid supuratif disertai nekrosis lokal disebut appendicitis akut supuratif.
Edema dinding appendiks menimbulkan gangguan sirkulasi darah sehingga terjadi
ganggren, warnanya menjadi hitam kehijauan yang sangat potensial ruptur. Pada
semua dinding appendiks tampak infiltrasi radang neutrofil, dinding menebal
karena edema dan pembuluh darah kongesti. Appendiks yang pernah meradang
tidak akan sembuh dengan sempurna, tetapi akan membentuk jaringan parut.
Jaringan ini menyebabkan terjadinya perlengketan dengan jaringan sekitarnya.
2.6 Manisfestasi Klinis
Beberapa gejala yang sering terjadi yaitu:
1) Rasa sakit di daerah epigastrum, daerah periumbilikus, di seluruh abdomen
atau di kuadran kanan bawah merupakan gejala-gejala pertama. Rasa sakit ini
samar-samar, ringan sampai moderat, dan kadang-kadang berupa kejang. Sesudah
empat jam biasanya rasa nyeri itu sedikit demi sedikit menghilang kemudian
beralih ke kuadran bawah kanan. Rasa nyeri menetap dan secara progesif
bertambah hebat apabila pasien bergerak.
2) Anoreksia, mual, dan muntah yang timbul selang beberapa jam dan
merupakan kelanjutan dari rasa sakit yang timbul permulaan.
3) Demam tidak tinggi, kekakuan otot, dan konstipasi.
4) Appendicitis pada bayi ditandai dengan rasa gelisah, mengantuk, dan terdapat
nyeri lokal. Pada usia lanjut, rasa nyeri tidak nyata. Pada wanita hamil rasa nyeri
terasa lebih tinggi di daerah abdomen dibandingkan dengan biasanya.
5) Nyeri tekan didaerah kuadran kanan bawah. Nyeri tekan mungkin ditemukan
juga di daerah panggul sebelah kanan jika appendiks terletak retrocaecal.
Rasa nyeri ditemukan di daerah rektum pada pemeriksaan rektum apabila posisi
appendiks di pelvic. Letak appendiks mempengaruhi letak rasa nyeri.
2.7 Komplikasi
Adapun jenis komplikasi diantaranya:
1) Abses
Abses merupakan peradangan appendiks yang berisi pus. Teraba massa lunak
di kuadran kanan bawah atau daerah pelvis. Massa ini mula-mula berupa
flegmon dan berkembang menjadi rongga yang mengandung pus. Hal ini terjadi
bila appendicitis gangren atau mikroperforasi ditutupi oleh omentum.
2) Perforasi
Perforasi adalah pecahnya appendiks yang berisi pus sehingga bakteri menyebar
ke rongga perut. Perforasi jarang terjadi dalam 12 jam pertama sejak awal sakit,
tetapi meningkat tajam sesudah 24 jam. Perforasi dapat diketahui praoperatif pada
70% kasus dengan gambaran klinis yang timbul lebih dari 36 jam sejak sakit,
panas lebih dari 38,5ºC, tampak toksik, nyeri tekan seluruh perut, dan leukositosis
terutama polymorphonuclear (PMN). Perforasi, baik berupa perforasi bebas
maupun mikroperforasi dapat menyebabkan peritonitis.
3) Peritonitis
Peritonitis adalah peradangan peritoneum, merupakan komplikasi berbahaya yang
dapat terjadi dalam bentuk akut maupun kronis. Bila infeksi tersebar luas pada
permukaan peritoneum menyebabkan timbulnya peritonitis umum.
Aktivitas peristaltik berkurang sampai timbul ileus paralitik, usus meregang, dan
hilangnya cairan elektrolit mengakibatkan dehidrasi, syok, gangguan sirkulasi,
dan oligouria.
2.8 Pemeriksaan Penunjang
1) Laboratorium, terdiri dari pemeriksaan darah lengkap dan C-reactive protein
(CRP). Pada pemeriksaan darah lengkap ditemukan jumlah leukosit antara
10.000-18.000/mm (leukositosis) dan neutrofil diatas 75%, sedangkan pada CRP
ditemukan jumlah serum yang meningkat. CRP adalah salah satu komponen
protein fase akut yang akan meningkat 4-6 jam setelah terjadinya proses
inflamasi, dapat dilihat melalui proses elektroforesis serum protein. Angka
sensitivitas dan spesifisitas CRP yaitu 80% dan 90%.
2) Radiologi, terdiri dari pemeriksaan ultrasonografi (USG) dan Computed
Tomography Scanning (CT-scan). Pada pemeriksaan USG ditemukan bagian
memanjang pada tempat yang terjadi inflamasi pada appendiks, sedangkan pada
pemeriksaan CT-scan ditemukan bagian yang menyilang dengan fekalith dan
perluasan dari appendiks yang mengalami inflamasi serta adanya pelebaran
sekum. Tingkat akurasi USG 90-94% dengan angka sensitivitas dan spesifisitas
yaitu 85% dan 92%, sedangkan CT-Scan mempunyai tingkat akurasi 94-100%
dengan sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi yaitu 90-100% dan 96-97%.
3) Analisa urin bertujuan untuk mendiagnosa batu ureter dan kemungkinan
infeksi saluran kemih sebagai akibat dari nyeri perut bawah.
4) Pengukuran enzim hati dan tingkatan amilase membantu mendiagnosa peradangan
hati, kandung empedu, dan pankreas.
5) Serum Beta Human Chorionic Gonadotrophin (B-HCG) untuk memeriksa
adanya kemungkinan kehamilan.
6) Pemeriksaan barium enema untuk menentukan lokasi sekum. Pemeriksaan
Barium enema dan Colonoscopy merupakan pemeriksaan awal untuk
kemungkinan karsinoma colon.
7) Pemeriksaan foto polos abdomen tidak menunjukkan tanda pasti appendicitis,
tetapi mempunyai arti penting dalam membedakan appendicitis dengan obstruksi
usus halus atau batu ureter kanan.
2.9 Penatalaksanaan Medis
1) Apendiktomi
Apendiktomi terbuka merupakan operasi klasik pengangkatan apendiks. Mencakup
Mc Burney, Rocke-Davis atau Fowler-Weir insisi. Dilakukan diseksi melalui oblique
eksterna, oblique interna dan transversal untuk membuat suatu muscle spreading atau
muscle splitting, setelah masuk ke peritoneum apendiks dikeluarkan ke lapangan
operasi, diklem, diligasi dan dipotong. Mukosa yang terkena dicauter untuk
mengurangi perdarahan, beberapa orang melakukan inversi pada ujungnya, kemudian
sekum dikembalikan ke dalam perut dan insisi ditutup.
2) Laparoskopik apendiktomi mulai diperkenalkan pada tahun 1987, dan telah
sukses dilakukan pada 90-94% kasus apendisitis dan 90% kasus apendisitis
perforasi. Saat ini laparoskopik apendiktomi lebih disukai. Prosedurnya, port
placement terdiri dari pertama menempatkan port kamera di daerah umbilikus,
kemudian melihat langsung ke dalam melalui 2 buah port yang berukuran 5 mm.
Ada beberapa pilihan operasi, pertama apakah 1 port diletakkan di kuadran kanan
bawah dan yang lainnya di kuadran kiri bawah atau keduanya diletakkan di
kuadran kiri bawah. Sekum dan apendiks kemudian dipindahkan dari lateral ke
medial. Berbagai macam metode tersedia untuk pengangkatan apendiks, seperti
dectrocauter, endoloops, stapling devices.
2.9 Manajemen Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
Pengkajian bisa didapatkan melalui wawancara seperti riwayat kesehatan
dengan cermat khususnya mengenai:
1) Keluhan utama klien akan mendapatkan nyeri di sekitar epigastrium menjalar
ke perut kanan bawah. Timbul keluhan Nyeri perut kanan bawah mungkin
beberapa jam kemudian setelah nyeri di pusat atau di epigastrium dirasakan
dalam beberapa waktu lalu.Sifat keluhan nyeri dirasakan terus-menerus, dapat
hilang atau timbul nyeri dalam waktu yang lama. Keluhan yang menyertai
biasanya klien mengeluh rasa mual dan muntah, panas.
2) Riwayat kesehatan masa lalu biasanya berhubungan dengan masalah.
kesehatan klien sekarang.
3) Diet kebiasaan makan makanan rendah serat.
4) Kebiasaan eliminasi.
5) Pemeriksaan Fisik:
(a) Pemeriksaan fisik keadaan umum klien tampak sakit ringan/sedang/berat.
(b)Sirkulasi : Takikardia.
(c) Respirasi : Takipnoe, pernapasan dangkal.
(d)Aktivitas/istirahat : Malaise.
(e) Eliminasi : Konstipasi pada awitan awal, diare kadang-kadang.
(f) Distensi abdomen, nyeri tekan/nyeri lepas, kekakuan, penurunan atau tidak
ada bising usus.
(g)Nyeri/kenyamanan, nyeri abdomen sekitar epigastrium dan umbilicus, yang
meningkat berat dan terlokalisasi pada titik Mc. Burney, meningkat karena
berjalan, bersin, batuk, atau napas dalam. Nyeri pada kuadran kanan bawah
karena posisi ekstensi kaki kanan/posisi duduk tegak.
(h)Demam lebih dari 38ºc.
(i) Data psikologis klien nampak gelisah.
(j) Ada perubahan denyut nadi dan pernapasan.
(k)Pada pemeriksaan rektal toucher akan teraba benjolan dan penderita merasa
nyeri pada daerah prolitotomi.
(l) Berat badan sebagai indicator untuk menentukan pemberian obat.
2. Diagnosa Keperawatan
Pre operasi
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri biologi (distensi jaringan intestinal
oleh inflamasi)
2. Perubahan pola eliminasi (konstipasi) berhubungan dengan penurunan
peritaltik.
3. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan mual muntah.
4. Cemas berhubungan dengan akan dilaksanakan operasi.
Post operasi
1. Nyeri berhubungan dengan agen injuri fisik (luka insisi post operasi
appenditomi).
2. Resiko infeksi berhubungan dengan tindakan invasif (insisi post pembedahan).
3. Defisit self care berhubungan dengan nyeri.
4. Kurang pengetahuan tentang kondisi prognosis dan kebutuhan pengobatan b.d
kurang informasi.
3.3 Intervensi Keperawatan
No Diagnosa Keperawatan Kriteria hasil Intervensi Rasional
1. Nyeri akut berhubungan dengan Setelah dilakukan asuhan 1. Kaji tingkat nyeri, lokasi dan 1. Untuk mengetahui sejauh mana
agen injuri biologi (distensi keperawatan, diharapkan nyeri karasteristik nyeri. tingkat nyeri dan merupakan
jaringan intestinal oleh klien berkurang dengan kriteria 2. Jelaskan pada pasien tentang indiaktor secara dini untuk dapat
inflamasi) hasil: penyebab nyeri memberikan tindakan selanjutnya
· Klien mampu mengontrol 3. Ajarkan tehnik untuk pernafasan 2. informasi yang tepat dapat
nyeri (tahu penyebab nyeri, diafragmatik lambat / napas dalam menurunkan tingkat kecemasan
mampu menggunakan tehnik 4. Berikan aktivitas hiburan pasien dan menambah pengetahuan
nonfarmakologi untuk (ngobrol dengan anggota keluarga) pasien tentang nyeri.
mengurangi nyeri, mencari 5. Observasi tanda-tanda vital 3. napas dalam dapat menghirup
bantuan) 6. Kolaborasi dengan tim medis O2 secara adequate sehingga otot-
· Melaporkan bahwa nyeri dalam pemberian analgetik otot menjadi relaksasi sehingga
berkurang dengan menggunakan dapat mengurangi rasa nyeri.
manajemen nyeri 4. meningkatkan relaksasi dan
· Tanda vital dalam rentang dapat meningkatkan kemampuan
normal kooping.
TD (systole 110-130mmHg, 5. deteksi dini terhadap
diastole 70-90mmHg), HR(60- perkembangan kesehatan pasien.
100x/menit), RR (16- 6. sebagai profilaksis untuk dapat
24x/menit), suhu (36,5-37,50C) menghilangkan rasa nyeri.
· Klien tampak rileks mampu
tidur/istirahat
2. Perubahan pola eliminasi Setelah dilakukan asuhan 1. Pastikan kebiasaan 1. membantu dalam pembentukan
(konstipasi) berhubungan keperawatan, diharapkan defekasi klien dan gaya hidup jadwal irigasi efektif
dengan penurunan peritaltik. konstipasi klien teratasi dengan sebelumnya. 2. kembalinya fungsi
kriteria hasil: 2. Auskultasi bising usus gastriintestinal mungkin terlambat
· BAB 1-2 kali/hari 3. Tinjau ulang pola diet dan oleh inflamasi intra peritonial
· Feses lunak jumlah / tipe masukan cairan. 3. masukan adekuat dan serat,
· Bising usus 5-30 kali/menit 4. Berikan makanan tinggi serat. makanan kasar memberikan bentuk
5. Berikan obat sesuai indikasi, dan cairan adalah faktor penting
contoh : pelunak feses dalam menentukan konsistensi
feses.
4. makanan yang tinggi serat dapat
memperlancar pencernaan sehingga
tidak terjadi konstipasi.
5. obat pelunak feses dapat
melunakkan feses sehingga tidak
terjadi konstipasi.
3. Kekurangan volume cairan Setelah dilakukan asuhan 1. Monitor tanda-tanda vital 1. Tanda yang membantu
berhubungan dengan mual keperawatan diharapkan 2. Kaji membrane mukosa, kaji mengidentifikasikan fluktuasi
muntah. keseimbangan cairan dapat tugor kulit dan pengisian kapiler. volume intravaskuler.
dipertahankan dengan kriteria 3. Awasi masukan dan haluaran, 2. Indicator keadekuatan sirkulasi
hasil: catat warna urine/konsentrasi, berat perifer dan hidrasi seluler.
· kelembaban membrane mukosa jenis. 3. Penurunan haluaran urin pekat
· turgor kulit baik 4. Auskultasi bising usus, catat dengan peningkatan berat jenis
· Haluaran urin adekuat: 1 cc/kg kelancaran flatus, gerakan usus. diduga dehidrasi/kebutuhan
BB/jam 5. Berikan perawatan mulut sering peningkatan cairan.
· Tanda-tanda vital dalam batas dengan perhatian khusus pada 4. Indicator kembalinya peristaltic,
normal perlindungan bibir. kesiapan untuk pemasukan per oral.
TD (systole 110-130mmHg, 6. Pertahankan penghisapan 5. Dehidrasi mengakibatkan bibir
diastole 70-90mmHg), HR(60- gaster/usus. dan mulut kering dan pecah-pecah
100x/menit), RR (16- 7. Kolaborasi pemberian cairan IV 6. Selang NG biasanya
24x/menit), suhu (36,5-37,50C) dan elektrolit dimasukkan pada praoperasi dan
dipertahankan pada fase segera
pascaoperasi untuk dekompresi
usus, meningkatkan istirahat usus,
mencegah mentah.
7. Peritoneum bereaksi terhadap
iritasi/infeksi dengan menghasilkan
sejumlah besar cairan yang dapat
menurunkan volume sirkulasi
darah, mengakibatkan hipovolemia.
Dehidrasi dapat terjadi
ketidakseimbangan elektrolit
4. Cemas berhubungan dengan Setelah dilakukan asuhan 1. Evaluasi tingkat ansietas, catat 1. ketakutan dapat terjadi karena
akan dilaksanakan operasi. keperawatan, diharapkan verbal dan non verbal pasien. nyeri hebat, penting pada prosedur
kecemasab klien berkurang 2. Jelaskan dan persiapkan untuk diagnostik dan pembedahan.
dengan kriteria hasil: tindakan prosedur sebelum 2. dapat meringankan ansietas
· Melaporkan ansietas menurun dilakukan terutama ketika pemeriksaan
sampai tingkat teratasi 3. Jadwalkan istirahat adekuat dan tersebut melibatkan pembedahan.
· Tampak rileks periode menghentikan tidur. 3. membatasi kelemahan,
4. Anjurkan keluarga untuk menghemat energi dan
menemani disamping klien meningkatkan kemampuan koping.
4. Mengurangi kecemasan klien
BAB 3
ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 3.1 Pengkajian Keperawatan


Nama Mahasiswa : Norhikmah
NIM : 2019.NS.A.07.058
Ruang Praktek : Dahlia
Tanggal Praktek : 12 Desember 2019
Tanggal Dan Jam Pengkajian : 12 Desember 2019 / 07:00 WIB
3.1.1 Identitas Klien
Nama: : An.R
Umur: : 8 Tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Suku Bangsa : Jawa/Indonesia
Agama: : Islam
Pekerjaan: :-
Pendidikan : SD
Status Perkawinan :-
Alamat : Desa Tahai Baru
Tgl MRS : 08 Desember 2019
Diagnosa Medis : Appendisitis post op H3
3.1.2 Riwayat Kesehatan/Perawatan
3.1.2.1 Keluahan Utama
Pasien mengatakan “Nyeri perut” P: Nyeri dirasakan saat bergerak, Q:
Nyeri seperti ditekan, R: Nyeri pada seluruh lapang perut, S: Skala nyeri 5,
T: Nyeri dirasakan 1-2 Menit.
3.1.2.2 Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke IGD RSUD dr. Doris Sylvanus pada tanggal 08
Desember 2019 pukul 04:00 WIB diantar oleh keluarga dirujuk dari RS
Pulang Pisau dengan keluhan nyeri perut diseluruh lapang perut sejak 5
hari yang lalu. Di IGD pasien obat amoxicilin sirup 10 ml, Paracetamol 10
ml. Kemudian pasien dirawat diruang dahlia dan pada tanggal 09
Desember 2019 pasien menjalani operasi appendiktomi.
3.1.2.3 Riwayat Penyakit Sebelumnya
Pasien mengatakan belum pernah dirawat di Rumah sakit sebelumnya dan
tidak memiliki riwayat operasi.
3.1.2.4 Riwayat Penyakit Keluarga
Genogram Keluarga 3 Generasi

Keterangan :
: Laki-laki
: Perempuan
: Pasien (An.R)
: Tinggal serumah
: Meninggal

3.1.3 Pemeriksaan Fisik


3.1.3.1 Keadaan Umum
Pasien berbaring dengan posisi semi fowler , pasien tampak terpasang infus RL 20
tpm ditangan sebelah kanan, tingkat kesadaran compos menthis.
3.1.3.2 Status Mental
Tingkat kesadaran compos menthis, ekspresi wajah meringis, bentuk badan
sedang (ectomorph), suasana hati gelisah, berbicara lancar, fungsi kognitif
orientasi waktu pasien dapat membedakan antara pagi, siang, malam, orientasi
orang pasien dapat mengenali keluarga maupun petugas kesehatan, orientasi
tempat pasien mengetahui bahwa sedang berada di rumah sakit. Insight baik,
mekanisme pertahanan diri adaptif.
3.1.3.3 Tanda-tanda Vital
Pada saat pengkajian TTV didapatkan TD: 90/70 mmHg, N: 70x/menit, RR:
20x/menit, S: 36,8ºC.
3.1.3.4 Pernapasan (Breathing)
Pasien mengatakan sesak napas. Bentuk dada simetris, type pernafasan
dada, irama pernafasan teratur, suara nafas tambahan tidak ada dan pernapasan
20x/menit.
3.1.3.5 Cardiovasculer (Bleeding)
Pasien mengatakan tidak ada nyeri. Pasien tidak merasa pusing, pasien
tidak ada merasa kepala sakit dan ada pembengkakan pada ekstrimitas. Pasien
tidak mengalami clubing finger ataupun kram pada kaki dan tidak terlihat pucat,
capillary refill < 2 detik, tidak terdapat oedema, ictus cordis tidak terlihat, tidak
terjadi peningkatan vena jugularis.
3.1.3.6 Persyarafan (Brain)
Nilai GCS E: 4 (dengan spontan membuka mata), V: 6 (orientasi baik),
M 6 (bergerak sesuai perintah) dan total Nilai GCS: 15 (Comphos Mentis),
kesadaran An.R comphos mentis, pupil isokor tidak ada kelainan, reflex cahaya
kanan dan kiri positif.
Uji Syaraf Kranial :
Penilaian fungsi saraf kranial: syaraf kranial I (olfaktoris): pada
pemeriksaan ini menggunakan kopi dan teh, pasien mampu mencium dan
membedakan aroma tersebut. Syaraf kranial II (optikus): pasien mampu melihat
orang-orang disekitarnya dengan baik. Syaraf Kranial III (okulomotorius): pasien
mampu membuka mata dan menutup mata. Syaraf kranial IV (trochlear): pasien
mampu menggerakaan bola mata dengan baik. Syaraf kranial V (trigeminus):
pasien dapat mengunyah dengan baik. Syaraf VI (abdusen): pasien dapat
menggerakan bola matanya kesamping, kanan, dan kiri. Syaraf kranial VII
(fasialis): pasien mampu menggerutkan dahi dan mengangkat alis secara simetris.
Syaraf kranial VIII (vestibulokokhlearis): pasien mampu mendengarkan kata-kata
yang kita bicarakan dengan jelas. Syaraf kranial IX (glosofaringeus):pasien
mampu membedakan rasa pahit, manis, asam dan asin. Syaraf kranial X (vagus):
refleks menelan baik. Syaraf kranial XI (assesorius): pasien mampu menggerakan
lehernya dengan baik, pasien mampu menoleh kekiri dan ke kanan. Syaraf kranial
XII (hipoglosus): pasien mampu menggerakkan lidahnya dengan baik.
3.1.3.7 Eliminasi Uri (Bladder)
Pada pemeriksaan sistem eliminasi urin (bladder) ditemukan hasil yaitu,
produksi urine dengan output urine ± 3x/hari, sekitar 900 cc warna urine kuning
jernih dan bau khas (amoniak).
Masalah Keperawatan : Tidak ada
3.1.3.8 Eliminasi Alvi (Bowel)
Pada pemeriksaan eliminasi alvi (bowel) ditemukan hasil yaitu, bibir kering,
gigi tidak lengkap dan tidak terdapat caries, reflek mengunyah baik, tidak ada
peradangan dan kemerahan pada gusi, tidak ada peradangan dan lesi pada lidah,
mukosa bibir lembab, tidak ada peradangan pada tonsil, tidak terdapat benjolan
pada rektum, tidak terdapat hemoroid, terdapat nyeri tekan diseluruh lapang perut,
BAB 1x/hari dengan warna kuning dan konsistensi feses lunak.
Masalah Keperawatan : Nyeri akut
3.1.3.9 Tulang - Otot - Integumen (Bone)
Pada pemeriksaan tulang, otot, dan integumen (bone) ditemukan hasil
yaitu, kemampuan pergerakan sendi ektrimitas kanan bebas, kemampuan sendi
ektrimitas kiri terbatas, tidak ada parises, tidak ada nyeri dan bengkak, hemiparase
kiri, ukuran otot simetris, uji kekuatan otot ektrimitas atas 5555 5555 ektrimitas
bawah 5555 5555 tidak terdapat deformitas tulang, peradangan, perlukaan dan
patah tulang. Tulang belakang normal.
Masalah Keperawatan : Tidak ada
3.1.3.10 Kulit-Kulit Rambut
Riwayat alergi pasien tidak pernah mengalami alergi obat, dan alergi
makanan. Suhu kulit An.R hangat, warna kulit normal tidak ada kelainan, turgor
kulit halus tidak kasar maupun kemerahan tidak ada peradangan, jaringan parut
tidak ada, tekstur rambut lurus, dibubusi rambut merata, bentuk kuku simetris
tidak ada kelainan tidak ada masalah keperawatan.
3.1.3.11 Sistem Penginderaan
1) Mata/Penglihatan
Fungsi penglihatan An.R baik, gerakan bola mata normal, skera
normal/putih, konjungtiva merah muda, kornea bening, tidak ada keluhan dan
nyeri yang di rasakan klien, pasien juga tidak menggunakan alat bantu atau
kacamata.
2) Hidung/Penciuman
Fungsi penciuman pasien baik, hidung simetris tidak ada peradangan
maupun kelainanan yang di alami pasien.
3.1.3.12 Leher Dan Kelenjar Limfe
Massa tidak ada, jaringan parut tidak ada, kelenjar limfe tidak teraba,
kelenjar tyroid tidak teraba, mobilitas leher bergerak bebas tidak terbatas.
3.1.1.13Sistem Reproduksi
Tidak ada kemerahan dan gatal gatal. Tidak ada pembengkakkan
3.1.4 Pola Fungsi Kesehatan
3.1.4.1 Persepsi Terhadap Kesehatan dan Penyakit
Pasien mengatakan ingin cepat sembuh dan ingin cepat berkumpul dengan
keluarganya.
3.1.4.2 Nutrisi dan Metabolisme
Tinggi badan 131 cm, berat badan sebelum sakit 50 kg, berat badan 32 kg.

Pola Makan Sehari-hari Sesudah Sakit Sebelum Sakit


Frekuensi/hari 2x sehari 3x sehari
Porsi 1/2 porsi 1 piring makan
Nafsu makan Menurun Baik
Nasi, lauk, sayur,
Jenis Makanan Nasi, lauk, sayur
buah
Jenis Minuman Air putih Air putih dan teh
Jumlah minuman/cc/24 jam 600 cc/24 jam 900 cc/24 jam
Pagi, siang,
Kebiasaan makan Pagi, siang, malam
malam
Keluhan/masalah Tidak napsu makan Tidak ada
Tabel 2.1 Pola Makan Sehari-hari An. R
Masalah keperawatan : Risiko defisit nutrisi
3.1.4.3 Pola istirahat dan tidur
Pasien mengatakan sebelum sakit tidur pada malam hari 6-8 jam
sedangkan pada siang hari 1-2 jam. Saat sakit pasien tidur 6-7 jam dan siang hari
1-2 jam.
Masalah keperawatan: tidak ada
3.1.4.4 Kognitif
An. R tahu dengan kondisinya sehingga harus dirawat dirumah sakit.
Masalah Keperawatan : Defisit Pengetahuan
3.1.4.5 Konsep diri (Gambaran diri, identitas diri, harga diri, peran)
Gambaran diri: pasien menyukai tubuhnya secara utuh, ideal diri: pasien
ingin cepat sembuh dari penyakit yang di deritanya, identitas diri: pasien seorang
laki-laki, harga diri: pasien sangat di perhatikan oleh keluarga, Peran: pasien
adalah seorang anak.
Masalah Keperawatan: tidak ada
3.1.4.6 Aktivitas Sehari-hari
Pasien beraktivitas di bantu oleh keluarga
3.1.4.7 Nilai-Pola Keyakinan
Pasien mengatakan selama dirawat di ruang Dahlia tidak ada tindakan
medis yang bertentangan dengan keyakinan yang dianutnya
Masalah Keperawatan: tidak ada
3.1.5 Sosial-Spritual
3.1.5.1 Kemampuan berkomunikasi
Pasien dapat berkomunikasi dengan baik dan jelas.
Masalah Keperawatan: Tidak ada masalah
3.1.5.2 Bahasa sehari-hari
Bahasa yang digunakan pasien sehari-hari, yaitu bahasa Jawa.
3.1.5.3 Hubungan dengan keluarga
Baik, ditandai dengan perhatian yang diberikan oleh keluarga saat An. R di rawat
di Ruang Dahlia terlihat keluarga selalu menjenguk.
1) Hubungan dengan teman/petugas kesehatan/orang lain
Pasien dapat berinteraksi dengan baik pada orang lain baik itu dengan
lingkungannya sekitar, perawat maupun dokter.
2) Orang berarti/terdekat
Orang yang paling dekat dengan An. R adalah orang tua
3) Kebiasaan menggunakan waktu luang
Pasien mengunakan waktu yang luang dengan berkumpul bersama keluarga dan
beristirahat di rumah.
3.1.6 Data Penunjang (Radiologis, Laboratorium, Penunjang lainnya)
Pemeriksaan Laboratorium 08 Desember 2019
Jenis pemeriksaan Hasil Nilai normal
WBC 12.78x10^3/uL 4.50-11.00
RBC 4.57x10^6/uL 4.00-6.00
HGB 12.3g/dL 10.5-18.0
PLT 293x10^3/uL 150-400
HbsAg (-) Negatif
GDS 94 mg/dL <200
Tabel 2.2 Data Penunjang An.R

3.1.7 Penatalaksanaan Medis


Nama Obat Dosis Rute Indikasi
Ondansentron 2x4 mg IV Untuk mengurangi mual muntah
Ceftriaxone 2x500 mg IV Untuk mengobati infeksi bakteri
Antrain 2x2 mg IV Untuk mengurangi nyeri

Palangka Raya, 12 Desember 2019


Mahasiswa,

Norhikmah
NIM.2019.NS.A.07.058
ANALISA DATA
Data Subyektif dan Data
Kemungkinan Penyebab Masalah
Obyektif
DS : Pasien mengatakan Obstruksi lumen Nyeri akut
“Nyeri perut” P: Nyeri
dirasakan saat bergerak, Q: Mukus yang diproduksi
Nyeri seperti ditekan, R: mukosa mengalami
Nyeri pada seluruh lapang bendungan
perut, S: Skala nyeri 5, T:
Nyeri dirasakan 1-2 Menit. Peningkatan tekanan intra
DO : lumen/dinding apendiks
 Pasien tampak lemah
 Pasien tampak Aliran darah berkurang
meringis
TTV : Edema dan ulserasi
TD : 90/70 mmHg, mukosa
N: 70x/menit,
RR: 20x/menit, Terputusnya aliran darah
S: 36,8ºC.
Obstruksi vena, edema
bertambah dan bakteri
menembus dinding

Peradangan peritoneum

Aliran arteri terganggu

Ganggren dan dinding


apendiks rapuh

Perforasi
Pembedahan operasi dan
luka insisi

Nyeri

DS : Pasien mengatakan mual Peradangan peritoneum Risiko defisit


dan tidak napsu makan nutrisi
DO : Peningkatan tekanan intra
 Bibir tampak kering abdominal
 Pasien tampak tidak
menghabiskan Penekanan gaster
makanan 1 porsi
 Frekuensi makan Mual, muntah
sebelum sakit 3x
sehari Anoreksia

 Saat sakit 2x sehari


 BB : 32 Kg Risiko defisit nutrisi

DS : - Appendiktomi Risiko infeksi


DO :
 Tampak luka insisi Insisi pembedahan
post appendiktomi H3
 Tampak selang drain Terdapat luka bekas
diperut sebelah kanan operasi
 WBC : 12.78x10^3/uL
Risiko infeksi
PRIORITAS MASALAH

1) Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisik (post pembedahan)


dibuktikan dengan pasien mengeluh nyeri perut. P: Nyeri dirasakan saat
bergerak, Q: Nyeri seperti ditekan, R: Nyeri pada seluruh lapang perut, S:
Skala nyeri 5, T: Nyeri dirasakan 1-2 menit.
2) Risiko defisit nutrisi berhubungan dengan faktor psikologis (anoreksia)
dibuktikan dengan bibir tampak kering, pasien tidak mampu menghabiskan
makanannya, penurunan frekuensi makanan dari 3x sehari jadi 2x sehari.
3) Risiko infeksi berhubungan dengan tindakan invasif (insisi post
pembedahan) dibuktikan dengan tampak luka insisi, pemeriksaan lab WBC :
12.78x10^3/uL.
INTERVENSI KEPERAWATAN
Nama Pasien : An.R
Ruang Rawat : Dahlia
Diagnosa Tujuan (Kriteria Hasil) Intervensi Rasional
Keperawatan
1. Nyeri akut Setelah dilakukan tindakan 1) Ukur TTV 1) Mengetahui keadaan umum klien
berhubungan dengan keperawatan selama 1x7 jam 2) Berikan teknik non 2) Untuk mengurangi rasa nyeri.
agen pencedera fisik diharapkan nyeri berkurang farmakologis untuk 3) Mencegah munculnya rasa nyeri saat
(post pembedahan) atau hilang dengan kriteria mengurangi nyeri bergerak.
dibuktikan dengan hasil : 3) Anjurkan klien untuk 4) Posisi tubuh yang tidak tepat akan
pasien mengeluh nyeri 1) Pasien mengatakan nyeri membatasi aktivitas sesuai meningkatkan rasa nyeri pada bagian
perut. P: Nyeri berkurang atau hilang kebutuhan tubuh yang luka.
dirasakan saat bergerak, 2) Skala nyeri berkurang 4) Anjurkan klien untuk tidak 5) Golongan obat analgesik digunakan
Q: Nyeri seperti jadi 3 menempatkan tubuh pada sebagai pereda nyeri atau
ditekan, R: Nyeri pada 3) Pasien tampak rileks posisi posisi yang dapat mengurangi/menghilangkan rasa nyeri.
seluruh lapang perut, S: meningkatkan nyeri.
Skala nyeri 5, T: Nyeri 5) Kolaborsi dengan dokter
dirasakan 1-2 menit. dalam pemberian terapi
analgesik.
2. Risiko defisit nutrisi Setelah dilakukan tindakan 1) Monitor asupan dan keluarnya 1) Mengetahui nutrisi pasien
berhubungan dengan keperawatan selama 1x7 jam makanan 2) Agar pasien makan secara terjadwal
faktor psikologis diharapkan tidak terjadi 2) Diskusikan perilaku makan 3) Mengetahui apabila terjadi muntah
(anoreksia) dibuktikan infeksi dengan kriteria hasil : yang sesuai 4) Memberikan pengetahuan
dengan bibir tampak 1) Pasien mampu 3) Dampingi saat perilaku pentingnya nutrisi
kering, pasien tidak menghabiskan 1 porsi memuntahkan kembali 5) Mengurangi mual muntah dengan
mampu menghabiskan makanannya makanan terapi farmakologi
makanannya, 4) Ajarkan tentang nutrisi yang
penurunan frekuensi tepat
makanan dari 3x 5) Kolaborasi dalam pemberian
sehari jadi 2x sehari. antiemetik jika terjadi mual
atau muntah

3. Risiko infeksi Setelah diberikan tindakan 1) Monitor tanda dan gejala 1) Mengetahui tanda dan gejala
berhubungan dengan keperawatan selama 1x7 jam infeksi munculnya infeksi agar cepat
tindakan invasif (insisi dharapkan tidak terjadi 2) Lakukan tindakan dicegah dan ditangani.
post pembedahan) infeksi dengan kriteria hasil : perawatan luka. 2) Membersihkan luka post operasi
dibuktikan dengan 1) Tidak ada tanda-tanda 3) Pertahankan teknik aseptik. agar tidak terjadi infeksi.
tampak luka insisi, infeksi : Kalor 4) Informasikan pada klien dan 3) Teknik aseptik mencegah tranmisi
pemeriksaan lab WBC : (panas), tumor keluarga untuk cuci tangan bakteri ke daerah bekas
12.78x10^3/uL. (bengkak), dolor sebelum dan sesudah kontak pembedahan.
(nyeri), rubor dengan klien dan 4) Mencegah transmisi bakteri dari
(kemerahan), dan lingkungan klien. keluarga ke klien dan sebaliknya.
functio laesa (daya
pergerakan menurun).
IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
Hari
Diagnosa
Tanggal Implementasi Evaluasi TTD
Keperawatan

Kamis, 12 Dx 1 1) Mengukur TTV S : Pasien mengatakan “Nyeri perut” P:


Desember 2) Memberikan teknik non Nyeri dirasakan saat bergerak, Q: Nyeri
2019 farmakologis untuk mengurangi seperti ditekan, R: Nyeri pada seluruh
1. 08.00 WIB nyeri lapang perut, S: Skala nyeri 5, T: Nyeri
2. 08.20 WIB 3) Menganjurkan klien untuk dirasakan 1-2 Menit.
3. 08.35 WIB membatasi aktivitas sesuai O :
4. 08.40 WIB kebutuhan 1) Pasien tampak lemah
4) Menganjurkan klien untuk tidak 2) Pasien tampak meringis
menempatkan tubuh pada posisi 3) Pasien dapat membatasi aktivitas dan
posisi yang dapat meningkatkan hanya berbaring di tempat tidur
nyeri. 4) Pasien menempatkan posisi tubuh
semifowler
A : Masalah belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi
Kamis, 12 Dx 2 1) Memonitor asupan dan keluarnya S : Pasien mengatakan mual dan tidak napsu
Desember makanan makan
2019 2) Mendiskusikan perilaku makan O :
1. 09.00 WIB yang sesuai  Bibir tampak kering
2. 09.20 WIB 3) Mendampingi saat perilaku  Pasien tampak tidak menghabiskan
3. 09.25 WIB memuntahkan kembali makanan makanan 1 porsi
4. 11.00 WIB 4) Mengajarkan tentang nutrisi yang  Frekuensi makan sebelum sakit 3x
tepat sehari
 Saat sakit 2x sehari
 BB : 32 Kg
 Orang tua tampak mendengarkan
penjelasan perawat tentang
pentingnya nutrisi
A : Masalah belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi
Kamis, 12 Dx 3 1) Memonitor tanda dan gejala infeksi S:-
Desember 2) Melakukan tindakan perawatan O :
2019 luka. 1) Terdapat bekas luka operasi dibagian
1. 10.00 WIB 3) Mempertahankan teknik aseptik. perut bawah
2. 10:20 WIB 4) Menginformasikan pada klien dan 2) Terpasang selang kecil yang
3. 10:20 WIB keluarga untuk cuci tangan sebelum berfungsi sebagai drainase pada
4. 10:30 WIB dan sesudah kontak dengan klien perut bagian bawah sebelah kanan
dan lingkungan klien. 3) WBC 12.78x10^3/uL
4) Cairan yang keluar melalui selang
drainase sebanyak 10 ml dan
berwarna kuning kemerahan
5) Luka jahitan nampak kering, tidak
ada bengkak dan kemerahan.
A : Masalah teratasi sebagian
P : Lanjutkan intervensi
BAB 4
PEMBAHASAN

4.1 Pengkajian
Pengkajian merupakan langkah awal dari proses keperawatan dengan
mengumpulkan data-data yang akurat dari klien sehingga akan diketahui berbagai
permasalahan yang ada.
Pada kasus An.R data yang ditemukan adalah klien mengatakan Pasien
mengatakan “Nyeri perut” P: Nyeri dirasakan saat bergerak, Q: Nyeri seperti
ditekan, R: Nyeri pada seluruh lapang perut, S: Skala nyeri 5, T: Nyeri dirasakan
1-2 Menit. Sehingga masalah yang muncul nyeri akut. Kemudian klien mengeluh
Pasien mengatakan mual dan tidak napsu makan Sehingga masalah yang muncul
risiko defisit nutrisi. Lalu terdapat luka bekas operasi hari ketiga di perut bagian
bawah terpasang selang drainase di bagian perut bawah. Sehingga masalah yang
muncul risiko infeksi.
Faktor pendukung yang dirasakan penulis dalam hal pengkajian adalah
adanya kerjasama pasien dan keluarga dalam memberikan waktu. Faktor
hambatan dalam penulisan adalah keterbatasan waktu pada saat pengkajian.
4.2 Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan merupakan keputusan klinis mengenai seseorang,
keluarga, atau masyarakat sebagai akibat dari masalah kesehatan atau proses
kehidupan yang aktual atau potensial. Diagnosa keperawatan ini dapat
memberikan dasar pemilihan intervensi untuk menjadi tanggung gugat perawatan.
Berdasarkan teori, diagnosa yang muncul adalah :
Pre operasi
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri biologi (distensi jaringan
intestinal oleh inflamasi)
2. Perubahan pola eliminasi (konstipasi) berhubungan dengan penurunan
peritaltik.
3. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan mual muntah.
4. Cemas berhubungan dengan akan dilaksanakan operasi.
Post operasi
1. Nyeri berhubungan dengan agen injuri fisik (luka insisi post operasi
appenditomi).
2. Resiko infeksi berhubungan dengan tindakan invasif (insisi post
pembedahan).
3. Defisit self care berhubungan dengan nyeri.
4. Kurang pengetahuan tentang kondisi prognosis dan kebutuhan pengobatan
b.d kurang informasi.
Sedangkan diagnosa keperawatan pada An.R ditemukan ada 3 (tiga) diagnosa
keperawatan yaitu :
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisik (post pembedahan)
dibuktikan dengan pasien mengeluh nyeri perut. P: Nyeri dirasakan saat
bergerak, Q: Nyeri seperti ditekan, R: Nyeri pada seluruh lapang perut, S:
Skala nyeri 5, T: Nyeri dirasakan 1-2 menit.
2. Risiko defisit nutrisi berhubungan dengan faktor psikologis (anoreksia)
dibuktikan dengan bibir tampak kering, pasien tidak mampu
menghabiskan makanannya, penurunan frekuensi makanan dari 3x sehari
jadi 2x sehari.
3. Risiko infeksi berhubungan dengan tindakan invasif (insisi post
pembedahan) dibuktikan dengan tampak luka insisi, pemeriksaan lab
WBC : 12.78x10^3/uL.
Faktor pendukung dalam menentukan diagnosa keperawatan adanya data
yang didapat dari pasien, keluarga pasien, keadaan pasien dan status pasien. Tidak
ada faktor penghambat dalam menentukan diagnosa keperawatan.
4.3 Perencanaan
Rencana keperawatan diartikan sebagai suatu kondisi dokumentasi tulisan
tangan dalam menyelesaikan masalah, tujuan, dan intervensi rencana keperawatan
pada pasien.
Pada kasus yang menjadi intervensi pada diagnosa nyeri akut antara lain :
Ukur TTV, Berikan teknik non farmakologis untuk mengurangi nyeri, Anjurkan
klien untuk membatasi aktivitas sesuai kebutuhan, Anjurkan klien untuk tidak
menempatkan tubuh pada posisi posisi yang dapat meningkatkan nyeri, Kolaborsi
dengan dokter dalam pemberian terapi analgesik. Kemudian untuk diagnosa risiko
defisit nutrisi intervensi yang dilakukan antara lain : Monitor asupan dan
keluarnya makanan, Diskusikan perilaku makan yang sesuai, Dampingi saat
perilaku memuntahkan kembali makanan, Ajarkan tentang nutrisi yang tepat,
Kolaborasi dalam pemberian antiemetik jika terjadi mual atau muntah. Dan untuk
diagnosa risiko infeksi dibuat intervensi antara lain : Monitor tanda dan gejala
infeksi, Lakukan tindakan perawatan luka, Pertahankan teknikaseptik.,
Informasikan pada klien dan keluarga untuk cuci tangan sebelum dan sesudah
kontak dengan klien dan lingkungan klien.
Faktor penghambat dalam menentukan intervensi keperawatan adalah
terbatasnya pengetahuan perawat dalam merencanakan asuhan keperawatan.
Faktor pendukung perencanaan adalah kebijaksanaan ruangan yang memberikan
keleluasaan pada penulis untuk melakukan aktivitas perawatan pasien.
4.4 Pelaksanaan
Pada kasus An.R penatalaksanaan asuhan keperawatan dikelola sesuai
rencana keperawatan yang telah disusun pada intervensi diatas.
Faktor pendukung dalam penatalaksanaan keperawatan adalah kerjasama
pasien, keluarga dan tim kesehatan lainnya. Dan faktor penghambat saat
pelaksaan adalah keadaan An.R yang terus mengeluhkan nyeri pada area luka
sehingga perawat harus lebih berhati-hati dalam melakukan perawatan luka.
4.5 Evaluasi
Menurut nursalam, Evaluasi adalah tindakan intelektual untuk melengkapi
proses keperawatan yang menandakan seberapa jauh diagnosa keperawatan.
1. Nyeri akut belum teratasi.
2. Risiko Defisit nutrisi belum teratasi
3. Risiko infeksi teratasi sebagian
Faktor pendukung dalam evaluasi keperawatan karena adanya kerja sama
pasien, keluarga dan tim kesehatan lainnya dalam melakukan tindakan.
BAB 5
PENUTUP

5.1 Simpulan
Setelah membahas keseluruhan asuhan keperawatan pada An.R dengan
daignosa medis Appendisitis post op hari ke 3 pada bab ini akan disampaikan
simpulan sebagai berikut :
Pada tahap pengkajian sampai pemeriksaan fisik ditemukan masalah
keperawatan nyeri akut, risiko defisit nutrisi dan risiko infeksi.
Pada tahap perencanaan dibuat prioritas masalah keperawatan tindakan, tujuan
dan waktu secara spesifik sesuai dengan waktu yang diberikan. Pada diagnosa satu
sampai tiga semua rencana tindakan keperawatan sudah dilakukan sesuai dengan
kondisi dan kebutuhan pasien.
Pada tahap pelaksanaan semua tindakan keperawatan dapat dilakukan dengan
rencana ke tiga diagnosa semua pelaksanaan sudah dilakukan sesuai kondisi dan
kebutuhan klien.
Pada tahap evaluasi dari ketiga diagnosa, nyeri akut belum teratasi, risiko
defisit nutrisi belum teratasi, dan risiko infeksi teratasi sebagian.
5.2 Saran
5.2.1 Untuk Mahasiswa
Diharapkan dapat memanfaatkan waktu yang telah diberikan dengan efektif dan
efisien untuk melakukan asuhan ke perawatan. Mahasiswa/i juga diharapkan secara
aktif untuk membaca dan meningkatkan keterampilan seta menguasai kasus yang
diambil untuk mendapatkan hasil asuhan keperawatan yang komprehensif.
5.2.2 Untuk perawat ruangan
Diharapkan perawat dapat memberikan informasi secara langsung kepada klien
dan keluarga tentang tanda dan gejala, tindakan keperawatan dalam pemenuhan
kebutuhan dasar manusia. Perawat juga diharapkan dapat bekerja sama dengan
keluarga dalam memonitor perkembangan klien. Perawat juga diharapkan agar dapat
lebih melengkapi format pengkajian dan pendokumentasian keperawatan.