Anda di halaman 1dari 84

BAB II.

TINJAUAN KASUS

A. Deskripsi Deformitas Pasien

1. Poliomyelitis

Poliomielitis merupakan penyakit menular yang dapat menyebabkan

paralisis ireversibel dan kematian pada anak. Predileksi virus polio pada sel kornu

anterior medula spinalis (anterior horn cells of the spinal cord), inti motorik batang

otak dan area motorik korteks otak. (Satari, 2016)

Menurut DR. Drg. Andi Zulkifli, M. Kes, tanda klinis penyakit polio pada

manusia 90% virus polio akan menyebabkan inapparent infeksi, sedangkan 5%

menampilkan gejala abortive infection, 1% non paralytic dan sisanya menunjukan

tanda klinis paralytic. Penderita yang menunjukan paralitik, 30% akan sembuh,

30% menunjukan kelumpuhan ringan dan 30 % menunjukan kelemahan berat serta

10% menunjukan gejala yang berat dan bisa menimbulkan kematian. Masa inkubasi

penyakit polio biasanya sekitar 3-35 hari. Pada setadium akut (sejak adanya gejala

klinis hingga 2 minggu) ditandai dengan suhu tubuh yang meningkat selama 10

hari, terkadang disertai sakit kepala dan muntah. Kelumpuhan terjadi dalam

seminggu dari penularan sakit. Kelumpuhan dapat terjadi sebagai akibat dari

kerusakan sel-sel motor neuron di modula spinalis, yang disebabkan karena invansi

virus. Kelumpuhan ini bersifat asimetris sehingga cenderung menimbulkan

deformitas yang menetap atau bahkan lebih parah. Sebagian besar kelumpuhan

akan mengenai tungkai dengan prosentase 78,6% sedangkan 41,4% akan mengenai

lengan. (Zulkifli,2007

8
9

Penyebab polio adalah virus yang ditularkan oleh infeksi droplet dari oral-

faring (mulut dan tenggorok) atau dari tinja penderita yang terkena infeksi.

Penularan terutama terjadi penularan langsung dari manusia ke manusia melalui

fokal-oral (dari tinja ke mulut) dan yang agak jarang terjadi melalui oral ke oral

(mulut ke mulut). Fokal-oral artinya makanan atau minuman yang tercemar virus

polio yang berasal dari tinja penderita yang masuk ke mulut manusia sehat lainnya.

Sedangkan dari oral ke oral maksudnya adalah penyebaran dari air liur penderita

yang masuk ke mulut manusia sehat lainnya. Virus polio sangat tahan lama pada air

limbah dan air permukaan, bahkan sampai berkilo-kilo meter dari sumber

penularan. Meskipun penularan virus polio disebabkan oleh tercemarnya

lingkungan karena virus polio, namun virus ini hanya dapat hidup di lingkungan

yang terbatas.(Zulkifli, 2007)

Menurut Pantoh dan Angliadi (2015) terdapat empat jenis poliomyelitis dan

dari masing-masing jenis tersebut memiliki tanda dan gejaya yang berbeda-beda. 4

jenis poliomyelitis adalah sebagai berikut :

a. Polio Paralitik

Denervasi jaringan otot skelet sekunder oleh infeksi poliovirus

dapat menimbulkan kelumpuhan. Tanda-tanda awal polio paralitik

ialah panas tinggi, sakit kepala, kelemahan pada punggung dan leher,

kelemahan asimetris pada berbagai otot, peka dengan sentuhan, susah

menelan, nyeri otot, hilangnya refleks, iritabilitas, serta sukar buang air

kecil. Kelumpuhan umumnya berkembang 1 – 10 hari setelah gejala

awal mulai timbul. Prosesnya berlangsung selama 2 – 3 hari, dan


10

biasanya komplit seiring dengan turunnya panas (Pontoh dan Angliadi,

2015)

b. Polio Spinal

Polio spinal adalah tipe poliomyelitis paralysis yang sering

terjadi diakibatkan oleh invansi virus pada motor neuron di cornu

anterior modula spinalis yang bertanggung jawab pada pergerakan

otot-otot, termasuk otot-otot intercostal, trunkus dan tungkai.

Kelumpuhan maksimal terjadi cukup cepat yaitu 2-4 hari, biasanya

timbul gejala seperti demam serta nyeri otot. Virus polio dapat merusak

otot-otot pada kedua sisi tubuh, tetapi kelumpuhannya paling sering

asimetris. Kelumpuhan sering kali lebih berat di daerah proksimal

daripada distal (Pontoh dan Angliadi, 2015)

c. Polio Bulbar

Terjadi kira-kira 2% dari kasus polio paralitik. Polio bulbar

terjadi ketika virus polio menginvansi dan merusak saraf-saraf di daerah

bulbar batang otak. Destruksi saraf-saraf ini melemahkan otot-otot

yang disarafi nervus cranialis, menimbulkan gejala enefalitis, dan

menyebabkan susah nafas, berbicara dan menelan. Akibat gangguan

menelan, sekresi mukus pada saluran nafas meningkat, yang dapat

menyebabkan kematian (Pontoh dan Angliadi, 2015)

d. Polio Bulbospinal

Kira-kira 19% dari semua kasus polio paralitik yang

memberikan gejala bulbar dan spinal. Subtipe ini dikenal dengan polio
11

respiratoti atau polio bulbospinal. Virus polio menyerang nervus

frenikus, yang mengontrol diafragma untuk mengembangkan paru-paru

dan mengontrol otot-otot yang dibutuhkan untuk menelan. (Pentoh dan

Angliadi, 2015)

Jika penderita post poliomyelitis tidak mendapatkan pelayanan yang baik

dalam jangka waktu yang lama akan menimbulkan kecacatan, antara lain (1)

penurunan kekuatan otot tungkai, (2) atrofi otot, (3) hilangnya stabilitas persendian,

(4) penurunan fungsi otot tungkai, (5) terjadi gangguan pola jalan, (6) timbul

kecacatan sekunder seperti scoliosis, dan (7) produktivitas menurun. (Joseph &

watts, 2015)

1. Paralysis

Kelumpuhan atau paralysis adalah hilangnya satu atau lebih fungsi otot.

Kelumpuhan bisa disertai hilangnya sensasi di daerah yang terkena jika terjadi

kerusakan sensoris serta motoris. Sebuah studi yang dilakukan oleh Cristopher &

Dana Reeve Foundation, menunjukan bahwa sekitar 1 dari 50 orang telah

didiagnosa dengan kelumpuhan. Lumpuh berasal dari kata Yunani yang berarti

penghentian saraf. Kelumpuhan paling sering di sebabkan oleh kerusakan dalam

sistem saraf, terutama saraf tulang belakang. (Syahril, 2013).

Pada anak-anak, mayoritas paralysis (80%-90%) mengenai anggota gerak

bawah. Otot-otot tubuh juga dapat terkena pada beberapa anak tersebut, namun

hanya sedikit otot-otot anggota gerak atas yang juga terkena. Kebanyakan dari

anak-anak hanya menderita paralysis pada satu tungkai saja. (Krol, 1996)
12

2. Post Poliomyelitis Paralysis

Post poliomyelitis paralysis merupakan sekumpulan gejala-gejala yang

menyebabkan pembatasan fisik dan kecacatan, yang terjadi bertahun tahun setelah

terkena penyakit polio. Post polio paralysis ini biasanya timbul setelah pemulihan

dari serangan akut awal virus polio. (kristy, 2012).

Seiring berjalanya waktu, Pasien post polio paralisis akan mengalami

kontraktur, otot dan tulang anggota tubuh yang terkena menjadi lebih tipis dari

anggota tubuh lainnya, anggota tubuh yang terkena tidak tumbuh dengan cepat dan

jadi lebih pendek, lengan atau kaki yang tidak terpengaruh sering menjadi sangat

kuat, Kecerdasan dan pikiran tidak terpengaruh, serta Perasaan tidak terpengaruh.

(Warner, 2005)

Gambar 2.1
Kelemahan otot karena poliomyelitis (Warner, 2005)
13

3. Permasalahan akibat Post Poliomyelitis Paralysis :

Permasalah yang biasanya timbul atau dialami oleh pasien post

poliomyelitis paralysis adalah sebagai berikut :

a. Flaccid Dropfoot.

Flaccid dropfoot terjadi pada otot bagian anterior leg atau otot

dorsi fleksor yang menyebabkan pasien tidak mampu mengangkat foot

berlawanan dengan gravitasi. Pada beberapa kasus plantar fleksor ankle

juga mengalami kelemahan sehingga ankle juga mengalami flaccid dan

tidak stabil (Ripatti,1994)

b. Contracture.

Contracture disebabkan karena kelemahan otot yang tidak

simetris dan mengakibatkan terjadinya ketidakseimbangan otot.

Dimana otot yang lemah akan terulur sedangkan otot yang kuat akan

tertarik. Pasien polio juga sering tidak bisa berjalan sehingga

menimbulkan contracture karena posisi yang buruk dan

berkepanjangan. (Ripatti, 1994)

c. Hyperextensi knee dan atau valgus/ varus.

Knee joint rentan terhadap deformitas karena hilangnya

stabilitas yang disediakan oleh otot-otot disekitarnya. Hal ini dapat

mengakibatkan adanya konpensasi yang akan menyebabkan

peregangan ligament lutut dan deformitas. Deformitas ini umumnya

hiperekstensi, selain itu valgus juga sering dijumpai karena adanya

eksternal rotasi hip joint. (Ripatti, 1994)


14

d. Pes Cavus.

Pada pasien post poliomyelitis paralysis, pasien mengalami

kehilangan kekuatan di dorsifleksi pada ankle menyebabkan pasien

melakukan kompensasi dengan gerakan dari ekstensi jari kaki. Apabila

pasien sering melakukan kompensasi, maka kaki akan tertarik ke posisi

cavus. (Ripatti, 1994)

e. Leg Length Discrepancy (LLD)

Leg length discrepancy adalah perbedaan panjang tungkai. Leg

length discrepancy disebabkan oleh dua type proses. Proses pertama

karena perubahan panjang kaki langsung dan proses kedua karena

perubahan proses pertumbuhan. (Moseley, 2006).

Dalam kasus post poliomyelitis paralysis ini, pasien ketika

anak-anak akan mengakibatkan kelumpuhan otot seumur hidupnya. Hal

ini menyebabkan aliran darah pada anggota gerak yang terkena akan

berkurang, akhirnya pasokan darah ke tulang juga akan berkurang. Hal

ini akan menyebabkan tungkai yang sehat akan tumbuh dengan normal,

sedangkan tungkai yang terkena akan mengalami gangguan

pertumbuhan. Selain itu pasien polio juga sering terkena contracture,

yang dapat menyebabkan pemendekan panjang tungkai sehingga pasien

mengalami LLD. (Ripatti, 1994)

f. Atrofi Otot.

Dalam keadaan lemah, otot tidak lagi menerima masukan LMN

(Lower Motor Neuron), sehingga otot tidak mengalami tonus. Hal ini
15

menyebabkan otot jarang melakukan aktivitas dan karena jarang atau

sedikitnya aktivitas menyebabkan atrofi. (Ripatti, 1994)

g. Trendelenberg Gait.

Trandelenberg gait adalah kelemahan pada otot abductor hip

yang dapat menyebabkan pasien mengalami lateral trunk bending dan

drop ke lateral saat swing phase. (Ripatti, 1994)

h. Hyperlordosis.

Jika hip ekstensor pasien mengalami kelemahan, pasien akan

melakukan kompensasi dalam bentuk lordosis pada lumbal untuk

mempertahankan hip agar tetap dalam keadaan yang stabil. Biasanya

pasien menggunakan anterior “Y-Ligament” atau iliofemorale

ligament untuk menstabilkan hip joint. (Ripatti, 1994)

Pencegahan polio dapat dilakukan dengan beberapa cara : (1) Di daerah

terjangkit dilakukan ORI (Outbreak Response Immunization) yaitu suatu upaya

untuk segera memberikan perlindungan terhadap anak disekitar pasien agar tidak

menyebabkan kelumpuhan, (2) Melakukan mooping up yaitu suatu upaya yang

dilakukan untuk memberhantikan penyebaran virus polio liar dengan jangkauan

daerah yang lebih luas (daerah penyangga), (3) Penekanan Imunisasi Nasional

(PIN) adalah suatu upaya yang dilakukan secara nasional dengan memberikan

imunisasi kepada seluruh balita. (Gendrowahyuhono, dkk, 2010)


16

B. Deskripsi Anatomi

1. Anatomy

Pengertian Anatomi (susunan Tubuh) Adalah ilmu yang mempelajari

susunan tubuh dan bentuk tubuh makhluk hidup. Secara garis besar ilmu anatomi

mempelajari tentang struktur tulang, sendi, ligamen, otot, saraf, pembuluh arah,

letak dan fungsi serta bidang dan gerak pada makluk hidup. Posisi anatomis tubuh

manusia diproyeksikan menjadi suatu posisi yang dikenal sebagai posisi anatomis,

yaitu berdiri tegak, ke dua lengan di samping tubuh, telapak tangan menghadap ke

depan. (Idris 2011).

2. Osteology

Osteology berasal dari bahasa Yunani “osteon” yang berarti tulang “logos”

yang berarti ilmu. Jadi osteology adalah cabang dari anatomi yang mempelajari

tentang tulang. Dalam ilmu tulang sering pula dijumpai istilah “skeleteon”, yang

berasal dari bahasa latin yang berarti kerangka. (Setiawan, dkk, 2014)

Tulang Penyusun anggota gerak bawah adalah sebagai berikut :

a. Femur

Tulang paha adalah satu-satunya tulang di paha dan tulang

terpanjang pada tubuh. Bertindak sebagai tempat asal dan perlekatan

banyak otot dan ligament. Menurut Jones tulang femur dapat dibagi

menjadi tiga bagian, yaitu: proksimal, shaft dan distal. Berikut adalah

penjelasannya : (Jones.O, 2018)


17

1) Proximal Femur.

Daerah proksimal femur membentuk sendi panggul dengan

acetabulum pelvis. Daerah ini terdiri dari head of femur, collumna,

dan dua tulang menonjol yaitu trochanters mayor dan trochanter

minor. (Jones.O, 2018)

2) Shaft Femur.

Shaft atau batang femur adalah penghubung antara proximal

femur dengan distal femur. Di daerah ini terdapat linea aspera,

medial dan lateral supracondylar lines. (Jones.O, 2018)

3) Distal Femur

Ujung distal ditandai oleh adanya condilus medial dan

lateral, yang berartikulasi dengan tibia dan patella untuk

membentuk sendi lutut. (Jones.O, 2018)


18

Gambar 2.2

Bagian- Bagian Tulang Femur anterior view (Jones.O, 2018)

Keterangan Gambar :

1. Head of Femur 7. Linea Aspera

2. Collum Femoris 8. Lateral Supracondylar Line

3. Trochanter Mayor 9. Medial Supracondylar Line

4. Gluteus Tuberosity 10. Medial Epicondyle

5. Trochanter Minor 11. Intercondylar Fossa

6. Pectineal Line 12. Lateral Epicondyle


19

b. Patella

Patella (tempurung lutut) terletak di depan sendi lutut, dalam

alur patellofemoral dari tulang paha. Aspek superiornya melekat pada

tendon paha depan, dan aspek inferior pada ligament patella. Patella

diklasifikasikan sebagai tulang jenis sesamoid karena posisinya dalam

tendon paha depan, dan merupakan tulang sesamoid terbesar dalam

tubuh. (Cassidy.A, 2017)

Patella memiliki bentuk segitiga, dengan permukaan anterior

dan posterior. Apex patella terletak inferior, dan terhubung ke

tuberositas tibialis oleh ligamen patella. (Cassidy.A, 20170

Gambar 2.3

Tulang patella anterior view dan posterior view (Cassidy.A, 2017)

Keterangan Gambar :

1. Base Patella 4. Faset Medial

2. Facies Anterior 5. Faset Lateral

3. Apex Patella 6. Facies Posterior


C. Tibia
Tibia terletak di sebelah medial dari fibula. Tulang ini

mengembang di ujung proksimal yang berartikulasi pada sendi lutut

dan mengembang juga di bagian distal yang berartikulasi pada

pergelangan kaki masing-masing. Tibia adalah tulang terbesar kedua di

tubuh dan merupakan struktur penahan beban utama. Tulang tibia

terdiri dari bagian proximal tibia, shaft tibia dan distal tibia. (Jones.O,

2018)

Gambar 2.4
Tulang tibia anterior view dan posterior view (Jones.O, 2018)

Keterangan Gambar :
1. Condyles Lateralis 5. Facies Medial

2. Patella Tendon 6. Incisura Fibularis

3. Condylus Medial 7. Medial Malleolus

4. Facies Lateralis 8. Soleal Line


21

c. Fibula
Fibula adalah tulang yang terletak di dalam aspek lateral kaki.

Fungsi utamanya adalah bertindak sebagai lampiran untuk otot, dan

bukan sebagai pembawa beban. fibula memiliki tiga artikulasi utama,

yaitu : (1) Sendi tibiofibular proksimal - berartikulasi dengan kondilus

lateral tibia, (2) Sambungan tibiofibular distal - berartikulasi dengan

takik fibrosa pada tibia dan (3) Sendi ankle - berartikulasi dengan tulang

talus kaki. (Jones.O, 2018)

Gambar 2.5

Tulang fibula anterior view (Jones.O, 2018)

Keterangan Gambar :

1. Head of fibula

2. Neck of fibula

3. Malleolus lateral
22

d. Foot

Fungsi dari tulang-tulang kaki adalah memberikan dukungan

mekanis untuk jaringan lunak, membantu kaki menahan beban tubuh

saat berdiri dan bergerak/berjalan. Terdapat 3 kelompok tulang kaki,

yaitu : (Jones.O, 2018)

1) Tulang tarsal. Terdiri dari tujuh tulang yang tidak beraturan.

Mereka terletak di bagian proksimal pada kaki atau di daerah

pergelangan kaki.

2) Tulang metatarsal. Tulang ini menghubungkan phalang dengan

tarsal. Terdapat 5 buah tulang metatarsal yang di mulai dari

metatarsal I (ibu jari kaki) sampai metatarsal V (jari kelingking

pada kaki).

3) Phalang (jari – jari kaki). Setiap jari kaki memiliki tiga bagian

tulang yaitu phalang - proksimal, intermediate dan distal (kecuali

jempol kaki, yang hanya memiliki dua phalang).

Kaki juga dapat dibagi menjadi tiga wilayah: (1) Hindfoot -

talus dan calcaneus; (2) Midfoot - navicular, cuboid dan cuneiforms;

dan (3) forefoot - metatarsal dan phalang. (Jones.O, 2018)


23

Gambar 2.6

Tulang foot (Jones.O, 2018)

Keterangan Gambar :

1. Talus 7. Distal phalanges I-V

2. Navicular 8. Sesamoid bone

3. Intermedial cuneiforme 9. Lateral cuneiforme

4. Medial cuneiforme 10. Cuboid

5. Metatarsal I-V 11. Calcaneus

6. Proximal phalanges I-V


24

3. Arthrology

Arthrology adalah ilmu yang mempelajari tentang sendi, yaitu hubungan

antara dua atau lebih komponen kerangka. Arthrology bersal dari bahasa Yunani

“arthon” yang berarti sendi dan “logos” yang berarti ilmu. Selain itu ada pula

istilah lain dari bahasa latin “article” yang berarti sendi. Dari istilah terakhir ini,

maka dalam bahasa sendi selanjutnya digunakan istilah “articulatio” untuk

menyebut sendi. (R. Fadli, 2014)

Berikut adalah beberapa persendia yang ada di anggota gerak bawah :

a. Hip Joint

Sendi pinggul merupakan jenis sendi bola dan soket sendi

sinovial atau biasa disebut dengan ball and socket joint. Hip joint

dibentuk oleh artikulasi antara acetabulum pada pelvis dan caput femur.

(Jones.O, 2018)

Acetabulum adalah cekungan mirip cangkir yang terletak pada

aspek inferolateral panggul. Rongganya diperdalam oleh adanya

lapisan fibrocartilaginous-labrum acetabular. Caput femur berbentuk

setengah lingkaran dan cocok sepenuhnya ke dalam cekungan

acetabulum. Baik acetabulum dan caput femur ditutupi kartilago

artikular yang lebih tebal di tempat-tempat bantalan beban. Kapsul

sendi panggul menempel ke tepi acetabulum secara proksimal. Dan

bagian distal, menempel pada garis intertrochanteric anterior dan leher

femoralis posterior. (Jones.O, 2018)


25

Gambar 2.7
Hip Joint (Jones.O, 2018)
Keterangan Gambar :

1. Femoral head/ Caput Femur


2. Acetabulum
3. Acetabular Labrum
4. Ligament of Head of Femur
26

Ada tiga ligament utama yang terhubung dengan permukaan

luar kapsul sendi panggul, yaitu : (1) Iliofemoral ligament - ligament

ini memiliki penampilan berbentuk 'Y', dan mencegah hiperekstensi

sendi panggul. Iliofemoral ligament adalah yang terkuat dari tiga

ligament, (2) Pubofemoral - memperkuat kapsul anterior dan inferior.

Pubofemoral memiliki bentuk segitiga, dan mencegah abduksi dan

ekstensi yang berlebihan, (3) Ischiofemoral - memperkuat kapsul di

posterior dan mencegah hiperekstensi serta memperkuat caput femoral

yang berada dalam acetabulum. (Jones.O, 2018)

Gambar 2.8
Ligament pada hip joint (Jones.O, 2018
Keterangan Gambar :

1. Iliofemoral Ligament
2. Pubofemoral Ligament
3. Isciofemoral Ligament
27

b. Knee Joint

Sendi lutut atau knee joint adalah sendi yang memiliki tipe

sendi engsel, hal ini memungkinkan knee joint untuk bergerak fleksi dan

ekstensi (dan tingkat kecil rotasi medial dan lateral). Knee joint

dibentuk oleh artikulasi antara patela, femur dan tibia. (Jones.O, 2018)

Gambar 2.9
Knee Joint (Jones.O, 2018)
Keterangan Gambar :
1. Femur

2. Quadriceps femoris tendon

3. Patella

4. Patella ligament

5. Tibia
28

Menurut Oliver Jonis bahwa ligament utama pada sendi lutut

adalah(Oliver Jones, 2017) :

1) Ligament patella - kelanjutan dari femoris paha depan tendon distal

ke patella. Ligament ini menempel pada tuberositas tibialis

2) Collateral ligament – terdapat dua ligamen collateral yang

bertindak untuk menstabilkan gerakan engsel lutut, mencegah

gerakan medial atau lateral yang berlebihan. Jenis dari collateral

ligament yaitu : (1) Tibio (Medial) Colateral Ligamen (MCL) . MCL

pada bagian proksimal menempel pada epikondilus medial femur,

sedangkan pada bagian distal menempel pada kondilus medial tibia.

(2) Fibular (Lateral) Collateral Ligament (LCL). Ligament ini

melekat dari proksimal ke epikondilus lateral femur, pada bagian

distal menempel pada permukaan lateral head of fibula.

3) Cruciate Ligaments - Kedua ligament menghubungkan tulang paha

dan tibia. Dengan demikian, mereka saling bersilangan, maka

istilah 'cruciate'. Dua jenis cruciate ligament adalah (1) Anterior

Cruciate Ligament (ACL)- melekat pada anterior intercondylar

region dari tibia lalu naik ke posterior untuk melekat pada tulang

paha di fossa interkondilaris. ACL mencegah dislokasi anterior

tibia ke tulang paha.(2) Posterior Cruciate Ligament (PCL) -

menempel pada daerah interkondilaris posterior dari tibia, dan naik

ke anterior untuk melekat pada kondilus femoral anteromedial. Ini

mencegah dislokasi posterior tibia ke tulang paha.


29

Gambar 2.10

Ligament pada knee joint (Oliver Jones, 2017)

Keterangan Gambar :

1. Anterior Cruciate Ligament

2. Lateral Meniscus

3. Lateral Collateral Ligament

4. Medial collateral Ligament

5. Medial Meniscus

6. Posterior Cruciate Ligament


30

c. Ankle Joint

Sendi pergelangan kaki (atau sendi talocrural) adalah

persendian yang dibentuk oleh tulang tibia, fibula dan talus. Gerakan

pada ankle joint adalah dorsifleksi, plantarflexion, inversi dan eversi.

(Oliver Jones, 2018)

Gambar 2.11

Penyusun ankle joint (Oliver Jones, 2018)

Keterangan Gambar :

1. Tibia

2. Fibula

3. Talus
31

Menurut Oliver Jones dua set utama ligament, yang berasal

dari masing-masing malleolus. (Oliver Jones, 2018) :

1) Ligamentum Medial

Ligament medial (atau deltoid ligament) melekat pada

maleolus medial. Tindakan utama dari ligamentum medial adalah

menahan over-eversi dari kaki.

2) Ligamentum Lateral

Ligament ini berasal dari lateral malleolus dan memiliki

tugas untuk menahan over-inversi kaki.

Gambar 2.12

Ligament pada ankle joint medial view (Oliver Jones, 2018)


Keterangan Gambar :
1. Tibia

2. Medial Malleolus

3. Deltoid Ligament

4. Fibula

5. Subtalar Joint
32

Gambar 2.13

Ligament pada ankle joint lateral view (Oliver Jones, 2018)

Keterangan Gambar :

1. Fibula

2. Interosseous membrane

3. Tibia

4. Posterior dan anterior inferior tibiofibular ligament

5. Anterior talofibular ligament

6. Calcaneofibular ligament

7. Subtalar joint
33

4. Myologi

Myology adalah ilmu yang mempelajari tentang otot, berasal dari bahasa

Yunani “myos” yang berarti otot dan “logos” yang berarti ilmu. Namun dalam

bahasan ini sering digunakan adalah musculus yang bersal dari bahasa latin yang

berarti otot. Otot mempunyai fungsi utama yaitu sebagai alat gerak aktif.

(Fatmawati, 2010)

Berikut adalah otot – otot penyusun tungkai bawah sesuai dengan

deformitas pasien :

a. Hip Joint

Hip joint memiliki gerakan yang cukup luas karena jenis

sendinya yang dapat bergerak dengan luas. Untuk itu hip joint dapat

melakukan beberapa gerakan seperti, fleksi, ekstensi, adduksi dan

abduksi. Untuk melakukan gerakan tersebut, dibutuhkan otot-otot

sebagai pendukung gerakan tersebut. (Putz & Pabst, 2002).


34

Tabel 2.1

Otot – Otot Penggerak Hip Joint

Gerakan Otot Origo Insersio Innervasi

Psoas mayor Processus Trochantor n.


costalis minor femoris Femoralis
Fleksi
Lumbalis I-V
Illiacus Fossa illiaca Trochantoris n.
minor femoris Femoralis
Gluteus Faceis glutea Tuberositas n. Gluteus
maximus alae os.ilium glutea inferior
Semi Tuber Tuberositas n. Sciatic
tendinosus ischiadicum tibiae
Ekstensi
Semi Tuber Condylus n. Sciatic
membranosus ischiadicum medial tibiae
Biceps femoris Tuber Caput fibulae n. Sciatic
ischiadicum
Abduksi Gluteus Facies glutea Trochantor n. Gluteus
medius alae os.ilium mayor femoris superior
Adductor Tuber ossis Tuberculum n.
magnus ischii adductorium Obturatoria
Adductor Ramus inferior 1/3 linea aspera n.
brevis ossis pubis Obturatoria
Adduksi
Adductor Anterior pubis labium medial n.
longus linea aspera Obturatoria
Pectineus Pecten ossis Linea pectinea n.
pubis femoris Femoralis
dan n.
Obturatoria
Gracilis Ramus inferior Medial n.
os.pubis Tuberositas Obturatoria
tibiae
(Putz dan Pabst, 2002)
35

Gambar 2.14

Otot-otot pengerak Hip Joint anterior view (Putz dan Pabst, 2002)

Keterangan Gambar :

1. Musculus adductor longus 6. Musculus rectus femoralis

2. Musculus pectineus 7. Musculus iliopsoa

3. Musculus sartorius a. Musculus iliacus

4. Musculus vastus medialis b. Musculus psoas major

5. Musculus vastus lateralis


36

Gambar 2.153

Otot-otot pengerak hip joint lateral view (Putz dan Pabst, 2002)

Keterangan Gambar :

1. Musculus sartorius

2. Musculus rectus femoris

3. Musculus vastus lateralis

4. Musculus semimembranosus

5. Musculus biceps femoris

6. Musculus gluteus maximus


37

b. Knee Joint

Knee joint merupakan perantara Ankle and Foot dengan Hip,

berfungsi sebagai stabilizator dan penggerak. Terdiri atas Tibiofemoral

joint, patello femoral joint dan Proximal tibio fibular joint. (Ripatti,

2009)

Otot-otot yang berada disekitar knee joint secara garis besar

dibagi menjadi dua yaitu (1) Otot quadriceps (Rectus femoris, Vastus

lateralis, Vastus intermedius, dan Vastus medialis) dan (2) Otot

hamstring, serta sebagian otot tungkai. (Putz & Pabst, 2002)

Knee joint ini dapat melakukan beberapa gerakan seperti, fleksi

dan ekstensi. Untuk melakukan gerakan tersebut, dibutuhkan otot-otot

sebagai pendukung gerakan tersebut. Berikut ini akan dijelaskan otot-

otot penggerak gerakan fleksi dan ekstensi pada knee jont : (Putz &

Pabst, 2002)
38

Tabel 2.2
Otot – Otot Penggerak Utama Knee Joint
Fungsi Nama Otot Origo Insersio Innervasi

Fleksi Biceps femoris Tuber Caput n. Sciatic


ischiadicum fibulae
Semi Tuber Caput n. Sciatic
tendinosus ischiadicum fibulae
Semi Tuber Condylus n. Sciatic
membranosus ischiadicum medial
tibiae
Graciles Superior arcus Tuberositas n.Obturatoria
pubis tibia
Sartorius SIAS Tuberositas n. Femorslis

Ekstensi Rectus femoris SIAS Basis n. Femoralis


patella
Vastus ⅔ atas corpus Basis n. Femoralis
intermedius femor patella
Vastus Linea Medial n. Femoralis
medialis intertrochanterica patella
Vastus Trochantor mayor Lateral n. Femoralis
lateralis patella

(Putz dan Pabst, 2002)


39

Gambar 2.16

Otot fleksor knee joint (Putz, 2002)

Keterangan Gambar :

1. m. semitendinosus

2. m. semimembranosus

3. m. biceps femoris

4. gracilis

5. sartorius
40

Gambar 2.17

Otot ekstensor knee joint (Putz, 2002)

Keterangan Gambar :

1. m. Rectus femoris

2. m. Vastus lateralis

3. m. Vastus medialis

4. m. Vastus intermedialis
41

c. Ankle Joint

Oot penggerak gerakan ankle joint yaitu gerakan dorsi fleksi

dilakukan oleh m. tibialis anterior dan gerakan plantar fleksi oleh m.

gastrocnemius dan m. soleus. Otot-otot penggerak utama inversi adalah

m. tibialis posterior, sedangkan otot-otot penggerak utama eversi

adalah m. peroneus longus dan m. peroneus brevis (Putz & Pabst,

2002).

Tabel 2.3
Otot-Otot Penggerak Ankle Joint
Gerakan Otot Origo Insertion Inervasi

Plantar Gastrocnemius Condyles Calcaneus n. Tibialis


Fleksi medial &
lateral femoral
Soleus Caput fibularis Calcaneus n. Tibialis
Dorsal Tibialis Anterior Caput fibula Basis n. Peroneus
metatarsal I Profundus
Fleksi

Inversi Tibialis 2/3 proksimal Tuberositas n. Tibialis


posterior fibula navicular
Evesi Peroneus longus Condyles Cuboideum n. Peroneus
lateral tibia superficialis
Peroneus brevis 2/3 distal Tuberositas n. Peroneus
fibula osis superficialis
metatarsal V
(Putz & Pabst, 2002)
42

Gambar 2.18

Otot – otot pengerak ankle joint (Putz & Pabst, 2002).

Keterangan Gambar :

1. m. Gastrocnemius

2. m. Tibialis anterior

3. m. Soleus

4. m. Proneus longus

5. m. Peroneus brevis

6. m. Tibialis anterior
43

D. Deskripsi Ortotik prostetik

1. Introduction Orthosis

Ortotik Prostetik adalah pelayanan kesehatan yang diberikan oleh seorang

Ortotis Prostetis dalam hal alat bantu kesehatan berupa ortosis maupun prostesis

untuk kesehatan fisik dan psikis berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk

meningkatkan derajat kesehatan individu, kelompok dan masyarakat yang

diakibatkan oleh adanya ganguan fungsi dan gerak anggota tubuh dan trunk (batang

tubuh) serta hilangnya bagian anggota tubuh yang dapat mengakibatkan

gangguan/kelainan anatomis, fisiologis, psikologis dan sosiologis. (PERMENKES

No. 22 tahun 2013 Bab I Pasal 1(Ayat 2) ).

Ortosis adalah alat bantu kesehatan yang berfungsi untuk bracing,

splinting, dan supporting yang dipasangkan diluar tubuh yang diperuntukkan bagi

pasien atau klien yang membutuhkan. Prostesis adalah alat pengganti anggota gerak

tubuh yang dipasangkan diluar tubuh dan diperuntukkan bagi pasien atau klien yang

membutuhkan (PERMENKES No.22 tahun 2013 Bab I Pasal 1(Ayat3 dan 4)).

2. Lower limb Orthosis

Lower limb orthosis adalah alat bantu yang diaplikasikan di luar tubuh

khususnya anggota gerak bawah untuk membantu memulihkan atau meningkatkan

fungsi dan juga memperbaiki karakteristik struktural dari saraf dan sistem

musculoskeletal (Cpousa, 2015).

Fungsi lower limb orthosis antara lain : (1) Mencegah terjadinya

deformitas lanjutan, (2)Mengoreksi deformitas, (3) Mengontrol pergerakan


44

(fiksasi), (4) Relief (pemindahan tumpuan), (5) Compensasi (keseimbangan).

(Ripatti, 2004)

Berikut adalah macam-macam Lower Limb Orthosis : (Ripatti, 2004)

a. Hip Knee Ankle Foot Orthosis (HKAFO)

Ortosis yang diaplikasikan dari foot sampai hip/ pelvic.

HKAFO biasanya digunakan secara bilateral atau dipasang pada kedua

tungkai pasien. Pathologi yang dapat diberikan HKAFO antara lain

adalah hip dislocatin, spinal cord injury dan spina bifida.

b. Hip Orthosis (HO)

Hip orthosis diaplikasikan pada sendi panggul yang mengalami

deformitas. Tujuan dari hip orthosis biasanya untuk mengoreksi daerah

pada hip joint serta dapat mengurangi derajat nyeri pada hip yang

bermasalah. Contoh pathology yang dapat diberikan hip orthosis adalah

hip discolation, post operative hip replacement surgary, dan

conginental hip dysplasia.

c. Knee Orthosis (KO)

Sama seperti hip orthosis, knee orthosis bertujuan untuk

mengoreksi masalah yang terjadi pada knee joint saja. Sebagin besar

knee orthosis diberikan pada pasien yang mengalami ligament laxity

atau nyeri pada knee, serta bisa difungsikan untuk fixation pada masa

penyembuhan.
45

d. Knee Ankle Foot Orthosis (KAFO)

Knee ankle foot orthosis diaplikasikan dari foot hingga bawah

hip joint atau femur. Kafo merupakan penyanggan dari tungkai atas

hingga tungkai bawah. Pathologi yang dapat direhabilitasi

menggunakan Kafo adalah poliomyelitis, spina bifida, spinal cord

injury, muscular dystrophy, dan osteomyelitis.

e. Ankle Foot Orthosis (AFO)

Afo adalah ortosis yang diaplikasikan pada foot, ankle dan

menutupi bagian bawah lutut. Pathologi yang direhabilitasi

menggunakan Afo adalah drop foot, cerebral pasly, spina bifida,

muscular dystrophy, multiple sclerosis, stroke, spinal cord injury dan

osteoporosis.

f. Foot Orthosis (FO).

Merupakan ortosis yang diaplikasi pada foot joint. Ortosis ini

berfungsi untuk menguatkan foot joint. Pathologi yang dapat diberikan

foot orthosis adalah pasien pes planus, pes cavus, hallux valgus, dan

berbagai deformitas pada foot lainnya.

3. Ortosis yang Sesuai dengan Deformitas Pasien

Untuk melakukan rehabilitasi pada pasien post poliomyelitis paralysis,

dapat menggunakan ortosis (alat bantu anggota gerak) yang bernama Knee Ankle

Foot Orthosis dengan desain dan komponen yang disesuaikan dengan hasil

assessment pada pasien. (Pontoh dan Angliadi, 2015)


46

Knee ankle foot orthosis (KAFO) adalah ortosis untuk mengkoreksi fungsi

dari telapak kaki sampai atas lutut. Pengguna KAFO umumnya adalah penderita

polio yang memiliki pertumbuhan anggota gerak bawah yang tidak seimbang,

antara tungkai kanan dengan tungkai kirinya. KAFO terdiri dari bagian-bagian yang

memiliki peran dan fungsi saling terkait satu sama lain. Komponen yang berguna

untuk telapak kaki merupakan alas atau bagian yang paling rendah dari KAFO dan

memiliki peran untuk mengoreksi LLD, pes cavus/ varus, inversi dan eversi pada

kaki. Komponen betis berfungsi mengkoreksi betis (shank), membantu tulang betis

untuk menopang gaya yang dihasilkan oleh anggota tubuh dan juga segmen KAFO

bagian lutut dan paha. Bagian pengunci yang terletak di lutut berfungsi sebagai

keamanan ketika pengguna berjalan, karena pengguna KAFO cenderung memiliki

kelemahan otot untuk menopang berat badan ketika sedang berjalan. Komponen

paha, merupakan bagian paling atas dari sebuah KAFO yang berfungsi untuk

menopang paha ataupun pelvis. Sedangkan strap berfungsi untuk menahan anggota

tubuh yang ditopang KAFO agar tidak keluar dari posisinya. (Paramita, Herdiman,

& Liquiddanu, 2011)

Fungsi Kafo bagi pasien post poliomyelitis paralysis adalah (1) untuk

mempermudah pasien untuk bergerak dan melakukan aktivitasnya, (2) untuk

memperbaiki pola jalan supaya tidak terjadi kecacatan lebih lanjut, (3) sebagai

support tubuh, sehingga tidak terjadi kecacatan yang kedua, seperti scoliosis dan

(4) diharapkan pasien dapat berjalan normal sehingga menambah percaya diri

pasien.(Paramita, Herdiman, & Liquiddanu, 2011)


47

4. Jenis KAFO Berdasarkan Desainnya

a. Custom Plastic Kafo

Custom plastic Kafo atau Kafo moulded shell terdiri dari metal

upright dengan knee joint, yang di pasang di bagian samping pada Afo

saction dan tight saction. kafo jenis ini dibuat dari bahan plastic dengan

proses moulding. custom plastic Kafo memiliki beberapa kelebihan dan

kelemahan. yaitu Kelebihan: (1) memberi penekanan yang merata

keseluruh tungkai yang di cover, (2) dapat menggunakan sepatu normal,

(3) dapat berganti-ganti sepatu, (4) cosmesis bagus, (5) kontrol

pergerakan bagus, (6) mudah dalam pengaturan, (7) mudah

dibersihkan, (8) nyaman dan ringan. Kekurangan: (1) panas dan

berkeringat, (2) tidak mengakomodasi perubahan volume secara

signifikan. (Ripatti, 1994)

Gambar 2.19
Custom plastic Kafo (Ripatti 1994)
48

Indikasi dari custom plastic KAFO adalah (1) untuk pasien

membutuhkan koreksi yang kuat pada deformitasnya, (2) Pasien yang

bekerja di tempat yang lembab atau basah, (3) Keinginan pasien, (4)

Pasien yang mempertimbangkan cosmesis, (5) Pasien yang ingin tidak

memakai atau mengganti ganti sepatu. Sedangkan kontraindikasi

custom plastic KAFO adalah (1) Pasien mengalami insensate skin, (2)

Pasien mengalami oedema, dan (3) Terdapat scar area (Ripatti, 1994).

b. Conventional KAFO

Conventional KAFO terbentuk dari metal uprights, knee joint,

ankle joint, metal cuff yang dilapisi kulit pada thigh, calf dan shoes yang

terbuat dari bahan kulit pula. Pada desain conventional KAFO, hanya

sedikit bagian yang bersentuhan langsung dengan kulit pasien. Hal ini

menyebabkan sebagian pasien merasa nyaman karena lebih dingin saat

memakainya. Sela-sela diantara cuff dapat memberikan ruang bagi

pasen yang mengalami volume fluctuation, contohnya oedema. Desain

conventional KAFO memiliki beberapa kekurangan yaitu sepatu yang

permanen atau tidak dapat dilepas, sehingga pasien tidak dapat

berganti-ganti sepatu. Selain itu daerah Kafo yang bersentuhan

langsung dengan tungkai pasien juga sedikit yaitu pada cuff nya saja,

hal ini menyebabkan terjadinya pressure yang tidak merata dan pasien

merasakan tekanan yang tinggi yang membuat mereka kurang nyaman.

(Ripatti,1994)
49

Gambar 2.20
Conventional KAFO (Ripatti, 1994)

Kelebihan dari conventional KAFO adalah: (1) Dapat

memberikan akomodasi terhadap pasien dengan kondisi fluctuating

odema dan insensate skin, (2) Pembuatan yang sederhana (tidak

memerlukan proses casting), (3) Lebih dingan dari plastic, (4) Dapat

diperbaiki secara lokal, (5) Material mudah didapatkan. (Ripatti, 1994)

Sedangkan kelemahan dari conventional adalah : (1) Pressure

atau tekanan yang tinggi pada kulit, (2) Kontrol yang kurang karena

luas permukaannya kecil, (4) Membutuhkan tenaga yang lebih karena

alat lebih berat, (5) Cosmesis yang kurang bagus, (6) Kontrol kaki

tergantung pada sepatu, dan (7) Sepatu permanen atau tidak dapat di

lepas dari KAFO.(Ripatti, 1994)


50

Indikasi conventional KAFO adalah (1) Pasien yang

mengalami fluctuating odema, (2) Pasien yang tidak memungkinkan

untuk di casting, (3) Pasien yang tidak dapat mentoleransi kontak

plastic KAFO dengan permukaan kulitnya karena adanya insensate

skin, (4) Pilihan atau keinginan dari pasien (Ripatti, 1994).

Sedangkan kontraindikasi conventional KAFO adalah (1)

Ketika pasien membutuhkan koreksi yang kuat, (2) Pasien bekerja pada

lingkungan yang basah, (3) Pasien yang menginginkan cosmesis yang

lebih baik. (Ripatti, 1994).

c. Hybrid KAFO

Hybrid KAFO adalah penggabungan jenis KAFO custom

plastic dengan conventional. Pengabungan ini bisa dilakukan dengan 2

cara, yaitu, pada bagian thigh section dibuat conventional KAFO dan di

bagian AFO section diberikan custome plastic, dan sebaliknya. Hal ini

tergantung dengan indikasi pemakaian KAFO. Apakah pasien dengan

kecenderungan distal oedema atau proximal oedema (Ripatti, 1994).

Kelebihan dari hybrid KAFO adalah (1) plastic bisa diatur, (2)

bisa menggunakan sepatu normal apabila menggunakan AFO saction,

(3) thight section dingin. Sedangkan kekurangannnya adalah

memperlukan dua langkah dalam proses pembuatan sehinga

memperlukan waktu yang sedikit lama. (Ripatti, 1994)

Indikasi dari hybrid KAFO adalah (1) Berat badan pasien yang

naik turun, dan (2) Keinginan dari pasien sendiri. Sedangkan


51

kontraindikasi dari hybrid KAFO adalah (1) Pasien mengalami

insensate skin, (2) Oedema, (3) dan Luka pada area tertentu. (Ripatti,

1994)

Gambar 2.21
Hybrid KAFO (Ripatti, 1994)
d. Iscial Weight Bearing KAFO

Ischial Weight Bearing KAFO (IWB KAFO) adalah ortosis

yang digunakan untuk pasien yang mengalami deformitas pada Knee,

Ankle dan foot yang membutuhkan weight relief pada tungkai

bawahnya. Karena fraktur, osteomilitis, nyeri pada sendi, atau

deformitas pada kelemahan knee ekstensor. (Johnson, 2015)


52

Gambar 2.22
Iscial Weight Bearing KAFO (Johnson, 2015)

5. Letak penumpuan pada Knee Ankle Foot Orthosis

Berikut terdapat tiga jenis penumpuan pada Knee Ankle Foot Ortosi
(KAFO), yaitu :
a. Full weight bearing

KAFO jenis ini digunakan pada pasien yang masih bisa

menumpu beban berat badannya dengan baik. KAFO jenis ini untuk

kasus-kasus mal formation dan untuk stabilitas pada tungkai. (Repatti,

1994)

b. Partial weight bearing

KAFO jenis partial weight bearing digunakan untuk pasien

yang tungkainya lemah, namun masih sanggup menumpu beban berat,

dan tidak penuh dengan otot hip joint yang masih stabil. Beban yang
53

disangga oleh tungkai hanya sebagian dan sebagian lagi akan disangga

oleh ortosis, yaitu pada ischial seat, jenis ini dipergunaka untuk pasien

yang mengalami fraktur ringan pada femur, subluksasi sendi hip, dan

dislokasi sendi hip. Selain di ischial seat, tumpuan juga bisa diletakan

pada patella tendon, jenis ini dipergunakan pada pasien yang

mengalami fraktur ringan di tibia atau fibula dan permasalahan di

ankle. (Repatti, 1994)

c. Non weight bearing

KAFO jenis non weight bearing digunakan untuk pasien yang

tungkainya tidak mampu untuk menahan beban berat, sehingga

tumpuan berat badan seluruhnya dibebankan pada ischial seat. KAFO

jenis ini biasanya digunakan pada kasus fraktur, baik pada tulang femur,

tulang tibia atau fibula. (Repatti, 1994)

6. Komponen KAFO

a. Knee Joint

Derdasarkan buku modul yang disusun oleh Ripatti, terdapat 4

knee joint yang dapat diterapkan untuk komponen Knee Ankle Foot

Orthosis :

1) Single Axis Free Motion

Sendi ini sederhana dan memungkinkan pergerakan bebas

pada bidang sagital. Kebanyakan sendi memiliki berhenti di 180 °

(ekstensi penuh) dan rentang yang baik dari fleksi. Jenis sendi akan

digunakan pada pasien yang membutuhkan kontrol gerakan bidang


54

koronal, atau dalam kasus hiperekstensi lutut, tetapi tidak

mengendalikan fleksi lutut. (Ripatti,1994)

Gambar 2.23
Single axis free motion (Ripatti, 1994)
2) Posterior Offset Joint

Join posterior offset sesuai dengan namanya memiliki axis

joint yang terletak di belakang garis uprights. Idenya adalah untuk

memindahkan sendi ke posterior GRF, dan dengan cara ini bisa

menciptakan stabilitas yang bagus. Jenis sendi ini umumnya

digunakan untuk pasien yang memiliki kelemahan ekstensor lutut

(setidaknya grade 3) dan ekstensor hip baik. (Ripatti,1994)

Gambar 2.24
Posterior offset knee joint (Ripatti, 1994)
55

3) Drop Lock

Jenis sendi memberikan mekanisme penguncian sederhana,

mudah dan positif. Sendi ini terkunci ketika ring logam turun ke

bawah dan memblokir semua gerakan. Kunci ini mudah

dioperasikan, seperti ketika pasien berdiri dan uprights yang vertikal

sesuai gravitasi maka dengan otomatis ring akan jatuh kebawah dan

mengunci sendi. (Ripatti,1994)

Gambar 2.25
Drop lock knee joint (Ripatti, 1994)
4) Bail Lock
Tipe sendi ini menggunakan kuncian untuk mencegah

gerakan. Block dioperasikan dengan menggunakan stick yang keluar

dari sisi posterior sendi. Biasanya menggunakan kuncian dalam

bentuk ring yang terbuat dari metal. Jadi kedua lock dapat

dioperasikan dengan menggunakan tangan, atau dengan penguncian

dengan menggunakan sebuah ring yang terbuat dari sebuah bahan

metal. (Ripatti,1994)
56

Gambar 2.26

Bail lock knee joint (Ripatti, 1994)

b. Knee Strap

Ada alternative lain untuk mengontrol knee yaitu

menggunakan tambahan Knee Straps. Digunakan untuk pasien yang

mempunyai masalah dengan deformitas/ kestabilitasan knee,

disarankan untuk menggunakan tambahan strap untuk mengkontrol/

mengkoreksi deformitas tersebut. (Ripatti, 1994)

1) Valgus / Varus Strap

Strap ini hanya dipasangkan pada satu upright saja,

melewati lutut dan kembali pada upright yang sama. Strap ini

biasanya digunakan untuk mendorong lutut untuk koreksi, atau

untuk mencegah kecacatan yang lebih lanjut. Strap tipe ini dapat

menyebabkan permasalahan pada knee fleksi ada saat pasien sedang

duduk, dan akan juga memberikan penekanan pada tulang patella.

(Ripatti, 1994)
57

2) Spider Strap

Knee spider terbuat dari bahan kulit yang berbentuk kotak,

yang ditempatkan di anterior knee dengan 4 strap yang dipasang di

uprights. Knee spider digunakan untuk mengontrol knee. Tetapi ada

permasalahan pada strap ini, karena pemasangan strap tepat didepan

patella maka akan memberi tekanan pada patella lebih-lebih saat

posisi duduk/ fleksi. (Ripatti, 1994)

Gambar 2.27
Spider strap (Ripatti, 1994)
c. Ankle Joint

Ankle joint adalah sendi pada pergelangan kaki. Pada KAFO,

ankle joint dibagi menjadi 2 jenis yaitu (1) Jointed, (2) Non Jointed.

Setiap jenis ankle joint memiliki kelebihan dan kekurangan masing-

masing (Ripatti, 1994).

Berikut adalah jenis-jenis ankle joint :

1) Jointed

Ankle joint jenis ini memiliki tambahan sendi yang berguna

untuk mengontrol gerakan plantar fleksi dan dorsal fleksi. Indikasi

pemakaian ankle joint jenis ini adalah pada kasus drop foot dan
58

masih ada kekuatan otot pada ankle minimal grade 1. Ankle joint

jenis ini di bagi menjadi : (Ripatti, 1994).

a) Free

Memiliki pergerakan yang bebas pada ankle joint yaitu

plantar fleksi dan dorsi fleksi. (Ripatti, 1994).

Gambar 2.28
Free ankle joint (Ripatti, 1994)
b) Plantar fleksi stop

Memiliki pergerakan bebas pada ankle joint yaitu dorsi

fleksi tetapi membatasi pergerakan plantar fleksi. (Ripatti, 1994)

Gambar 2.29
Plantar fleksi stop ankle joint (Ripatti, 1994)
59

c) Dorsi fleksi stop.

Mempunyai pergerakan bebas plantar fleksi pada ankle

joint dan membatasi gerakan dorsi fleksi. (Ripatti, 1994).

Gambar 2.30
Dorsal fleksi stop ankle joint ( Ripatti, 1994)
2) Non Jointed

Yang membedakan antara jenis – jenis dari non joint ankle

ini adalah pemotongan pada trimlinenya. (Ripatti, 1994)

Berikut adalah jenis – jenis dari Ankle joint non jointed :

a) Rigid Ankle joint

Ankle joint jenis ini digunakan utuk mengkoreksi

spastisitas pada ankle joint. Trimline pemotongan pada area ankle

joint berada di depan malleolus. Ankle joint jenis ini tidak bisa

digerakkan (static). Indikasi pemakaian ankle joint jenis ini

adalah untuk pasien yang membutuhkan koreksi yang kuat pada

anklenya, seperti adanya spastic otot yang berlebih pada ankle.

(Ripatti, 1994)
60

Gambar 2.31
Rigid ankle joint ( Ripatti,1994)
b) Fleksibel

Trimline pada ankle untuk jenis ini berada di belakang

malleolus. Indikasi pemakaian ankle joint jenis ini adalah pada

kasus drop foot dan masih ada kekuatan otot pada ankle minimal

grade 1. Kelebihan dari ankle joint jenis ini adalah dapat

membantu mengkontrol ankle joint sekaligus melatih otot-otot

area ankle joint agar muncul tonus otot. (Cassens, 2011)

Gambar 2.32
Fleksibel ankle joint (Cassens, 2011)
c) Semi rigid

Pemotongan trimline pada ankle untuk jenis ini berada di

mid malleolus. Kelebihan dari ankle joint jenis ini adalah dapat
61

membantu mengkontrol ankle joint sekaligus melatih otot-otot

area ankle joint agar muncul tonus otot. ( Cassens, 2011)

Gambar 2.33
Semi rigid ankle joint ( Cassens, 2011)

Tata Cara Pembuatan Custom Plastik Knee Ankle Foot Orthosis


1. Assessment

Assessment adalah proses pemeriksaan untuk mengumpulkan informasi

atau data-data mengenai pasien secara lengkap, mulai dari data pribadi pasien,

riwayat penyakit pasien, kondisi lingkungan, pekerjaan serta aktifitas sehari - hari

pasien. Tujuan assessment adalah untuk menentukan tindakan yang perlu diberikan

agar sesuai dengan kebutuhan pasien. Di dalam hal ini kita dapat menentukan jenis

tipe ortosis apa yang sesuai dengan masalah yang dialami oleh pasien. (Ripatti,

2009)

a. Subjektive Assessment

Subjektive assessment adalah suatu proses pengambilan atau

pengumpulan informasi mengenai pasien dengan wawancara. Subjektif

assessment meliputi : (1) Identitas pasien, (2) Kesehatan umum dari

pasien, (3) Penyebab kecacatan, (4) Keluhan utama pasien, (5) Riwayat

penyakit, (6) Gejala, (7) Efek penanganan sebelumnya, (8) Rehabilitasi


62

lanjutan, (9) Kondisi tempat tinggal, (10) Keinginan pasien.

(Hallbergh, 2002)

b. Objektive Assessment

Objective assessment adalah pemeriksaan langsung terhadap

tungkai pasien yang bermasalah maupun yang tidak. Berikut adalah

beberapa jenis objective assessment :

1) Pemeriksaan Kondisi deformitas pasien melalui inspeksi dan

palpasi.

Inspeksi yaitu melihat dan mengevaluasi pasien secara

visual untuk mendeteksi karakteristik normal atau tanda fisik yang

signifikan. Sedangkan palpasi yaitu meraba atau merasakan dengan

tangan. Bagian yang dipalpasi meliputi keadaan otot, bentuk tulang,

sensasi kulit dan lain sebagainya. (Darpianur, 2012)

2) Pemeriksaan Range Of Motion (ROM).

ROM (Range of Motion) adalah jumlah maksimum gerakan

yang mungkin dilakukan sendi pada salah satu dari tiga potongan

tubuh, yaitu sagital, transversal, dan frontal. ROM dapat diukur

dengan alat yang disebut goniometer. Dalam sebuah goniometer

terdapat 2 tangkai yaitu tangkai static dan tangkai dynamic serta

terdapat axis. Sebagai penujuk besar kecilnya sudut yang diperoleh,

kita dapat melihat pada tanda panah yang terletak pada tangkai

dynamic menunjuk besarnya angka pada gerakan tersebut.

Pemeriksaan ROM dilakukan dengan cara meletakkan titik tengah


63

axis goniometer dengan anatomical axis pada sebuah sendi. Setelah

itu letakkan tangkai static pada tulang yang tidak di gerakkan (pasif)

dan tangkai dynamic pada tulang yang akan di gerakkan (aktif).

Hasil dari pengukuran ini dapat dilihat dari besarnya sudut yang

terbentuk pada tangkai dynamic. (Pratama, 2014).

Pemeriksaan ROM pada pasien dapat berupa (1) active

ROM yaitu gerakan yang dilakukan oleh seseorang (pasien) dengan

menggunakan energi sendiri, secara mandiri sesuai dengan rentang

gerak sendi normal (klien aktif) (2) passive ROM yaitu pasien

menggerakkan sendi pada tungkainya dengan energi yang

dikeluarkan berasal dari orang lain atau terapis/ortotis untuk

menghasilkan luas gerak sendi yang sesuai pada tungkai pasien. Hal

ini biasanya terjadi pada pasien yang memiliki kelemahan otot.

(suratun, dkk, 2008).

Tabel 2.4
Range of motion normal pada sendi lower limb
GERAKAN OTOT ROM
Hip Joint : Fleksi 120o-130o
Ekstensi 30o
Abduksi 45o-50o
Adduksi 20o-30o
Knee Joint : Fleksi 130 o
Ekstensi 0 o-10 o
Ankle Joint : Plantar fleksi 45 o - 50o
Dorsal fleksi 30o
(Ripatti, 2009)
64

3) Pemeriksaan Manual Muscle Testing (MMT)

Pemeriksaan MMT bertujuan untuk mengetahui besarnya

kekuatan otot pasien. Yang dilakukan dengan cara memberi

penekanan pada Hip Joint, Knee Joint dan Ankle Joint. Kriteria yang

digunakan untuk penilaian kekuatan otot adalah menurut oxford

scale:

Tabel 2.5
Skala Kekuatan Otot Oxford
NILAI KEKUATAN KETERANGAN
OTOT
0 (Zero) Tidak ada kontraksi otot sama sekali

1 (Trace) Ada kontraksi otot tetapi tidak ada gerakan

2 (Poor) Subyek mampu bergerak dengan Lingkup Gerak


Sendi sebagian dan tanpa melawan gravitasi.

3 (Fair) Subyek mampu dengan Lingkup Gerak Sendi


penuh dan melawan gravitasi tanpa tahanan.

4 (Good) Subyek mampu dengan Lingkup Gerak Sendi


penuh dan melawan gravitasi dengan tahanan
minimal.

5 (Normal) Subyek mampu dengan Lingkup Gerak Sendi


penuh dan melawan gravitasi tahanan maksimal.

(Ripatti, 2009)
65

4) Pemeriksaan Stabilitas Sendi

a) Medial Collateral Ligament test

Cara melakukan MCL test dapat dilakukan dengan

posisi pasien tidur terlentang dan tungkai diluruskan. Lalu

berikan penekanan diantara distal femur dengan head0 of fibula

ke medial dan beri tahanan pada distal tibia ke lateral. tekanan

diterapkan dengan lutut yang di ekstensikan secara penuh pada

0O dan pada fleksi 30O. Lalu raba bagian medial knee joint apabila

terdapat rongga dapat dipastikan pasien positif mengalami

kekenduran pada ligament medial collateral. (Bernardini,

Lubowitz, & Reid, 2008)

b) Lateral collateral ligament test

LCL test dapat dilakukan dengan posisi pasien terlentang

dan tungkai lurus. Lalu berikan penekanan diantara distal femur

dengan proximal tibia ke lateral dan berikan tahanan pada

pergelangan kaki ke arah medial. tekanan diterapkan dengan lutut

yang diekstensikan secara penuh pada 0o dan pada fleksi 30o. Lalu

raba bagian lateral knee joint apabila terdapat rongga dapat

dipastikan pasien positif mengalami kekenduran pada ligament

lateral collateral. (Bernardini, Lubowitz, & Reid, 2008)

c) Anterior drower test

Anterior Drawer Test adalah tes yang dilakukan untuk

mengetahui kestabilan alignment ACL (Anterior Cruciate


66

Ligament). Posisi pasien berbaring terlentang di atas bed, satu

lutut pasien ditekuk dan lutut yang lain tetap lurus. Posisi

pemeriksa duduk dipinggir bed, sambil menekan kaki pasien,

dimana yang lututnya tadi ditekuk, kedua lengan pemeriksa

memberikan tarikan ke arah anterior. Pemeriksaan ini untuk

mengatahui stabilitas Ligamentum cruciatum anterior (de wolf,

1994).

d) Posterior drower test

Posterior Drawer Test adalah tes yang dilakukan untuk

mengetahui kestabilan alignment ACL (Posterior Cruciate

Ligament).Posisi pasien berbaring terlentang di atas bed, satu

lutut pasien ditekuk dan lutut yang lain tetap lurus. Posisi

pemeriksa duduk di tepi bed sambil menekan kaki pasien dimana

lututnya ditekuk bersamaan dengan itu pemeriksaan memberikan

dorongan ke arah posterior (de wolf, 1994).

5) Sensation.

Cek sensation bertujuan untuk mencari tau apakah kalit

pasien dapat membedakan objek .yang ditempelkan baik berupa suhu

panas, dingin, kapas serta tajam maupun tumpul. Test sensation dapat

dilakukan dengan menekan secara perlahan ujung kuku. yang agak

runcing maupun ujung jari yang tumpul dan meminta pasien untuk.

merasakan apakah yang di sentuh tersebut benda tumpul atau tajam

tanpa pasien melihatnya. (Ariani, 2017)


67

6) Gait Assesment

Gait assessment adalah pemeriksaan pola jalan pasien saat

menggunakan ortosis maupun tampa ortosis. Meminta pasien untuk

berjalan di antara parallel bar dua sampai tiga kali dengan

menggunakan ortosis maupun tidak menggunakan, lalu amati apakah

pasien memiliki gangguan pola jalan saat memakai atau tanpa ortosis.

7) Pemeriksaan Khusus

Dalam pemeriksaan khusus terdapat beberapa tes yang

dilakukan diantaranya yaitu: (1) Thomas test yaitu test yang

dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya kontraktur fleksi pada

hip, (2) pemeriksaan LLD adalah pemeriksaan yang dilakukan untuk

mengetahui perbedaan panjang tungkai pasien, (3) memeriksa

kontraktur pada knee dan ankle yang bertujuan untuk mengetahui

adanya kontraktur atau tidak. Proses yang dilaku.kan ialah dengan

mengukur ROM knee dan ankle pasien, apabila terdapat gerakan yang

terbatas dan bersifat kaku maka dapat dipastikan bahwa pasien

mengalami kontraktur. (Ripatti, 2009)

2. Meassurement & Casting

Measurement atau pengukuran adalah proses mengukuran detail pada

tungkai pasien baik tungkai yang mengalami deformitas maupun tungkai yang

normal. Tujuan dari proses ini adalah untuk mendapatkan data bentuk dan ukuran

tungkai pasien sebagai patokan dalam pembuatan ortosis. (Ripatti, 1994)


68

Casting adalah cara membuat duplikat kaki pasien untuk memberikan

koreksi pada sebagian atau seluruh disfungsional knee, ankle foot ke dalam

aligment yang benar. terdapat dua teknik casting, yaitu casting berdiri dan

terlentang. Casting berdiri digunakan apabila pasien mampu untuk menumpu

karena kekuatan ototnya yang kuat. Sedangkan casting terlentang dilakukan

apabila pasien memiliki kekuatan otot yang lemah dan tidak kuat untuk berdiri

lama. (Ripatti, 1994)

3. Fabrikasi

Rangkaian proses pembuatan alat bantu Ortosis atau Prostesis. Fabrikasi

ini meliputi (1) rectifikasi negative cast sesuai dengan kebutuhan, (2) rektifikasi

positif cast, (3) melakukan moulding, (4) merangkai komponen dalam rangkaian

membangun ortosis atau prostesis, dan (5) melaksanakan penyempurnaan ortosis

maupun prostesis untuk memenuhi kenyamanan dan estetika. (Kemenkes RI,

2013)

a. Evaluasi negative cast

Setelah dilakukan casting (pengambilan cetakan pada tungkai

yang mengalami deformitas), langkah selanjutnya adalah melakukan

evaluasi negative cast. Evaluasi ini dilakukan apabila saat mengoreksi

tungkai pasien waktu casting kurang maksimal, misalnya adalah ankle

terlalu plantar fleksi, koreksi kontracture knee kurang maksimal dan

untuk menyatukan bagian anterior bekas untuk membuka negative

cast. (Ripatti, 1994)


69

Sebelum menutup sambungan bagian anterior, terlebih dahulu

masukan tangkai besi yang panjangnya melebihi negative cast kira-

kira 10- 15 cm dengan bagian bawah tangkai besi melengkung

mengikuti kontur dari foot. Tangkai besi ini berguna untuk

memperkokoh positive gip, menangem positive gips pada ragum agar

memudahkan proses rectifikasi dan untuk menyambungkan positif gips

pada mesin suction/vakum saat proses moulding.

b. Filling

Filling adalah proses pengecoran negative cast menggunakan

adonan gips untuk menghasilakan positive gips. (Ripatti, 2009)

c. Rectifikasi/modifikasi positive gips

Rectifikasi merupakan proses dimana dilakukan penambahan

dan pengurangan untuk mencapai ukuran yang sesuai dengan blangko

ukur dalam pembuatan ortosis (Ripatti, 1994).

d. Menentukan mechanical axis knee.

Mechanical knee axis ini digunakan untuk axis knee pada

sidebar. Cara untuk menentukan mechanical knee axis adalah (1)

menempatkan positive gips pada lantai yang rata, (2) sesuaikan tinggi

MTP (medial tibia plateu) ke floor, ketika diplumb line TKA line akan

jatuh di mid of patella dan antara jari 1 dan ke 2 foot, mechanical axis

berada di 2 cm proximal MTP dari pandangan anterior, lalu beri tanda

garis. Dari garis tersebut ukur diameter A-P lalu dibagi 2 dengan

presentase 60% anterior dan 40% posterior. Setelah knee axis telah
70

ditentukan lalu memaku knee axis di atas dengan menggunakan paku

beton sebagai tanda. Knee axis ini harus sejajar dilihat dari berbagai

penampang.(Ripatti,1994)

Gambar 3.34
Knee axis padangan anterior (Ripatti, 1994)
e. Moulding

Moulding adalah laminasi positive gip dengan plastic PP sesuai

dengan ukuran positive gip. (Ripatti, 2009)

f. Bending side bar

Bending adalah membentuk side bar sesuai dengan kontur dari

tungkai pasien. Pembendingan dapat dilakukan secara vertikal maupun

horisontal. Untuk bending vertikal di butuhkan untuk menyatukan atau

menempelkan sidebar dengan plastik ortosis yang nantinya akan di

baut. Sedangkan untuk bending horisontal dilakukan untuk

menyesuaikan drajat kontraktur dari pasien. Apabila sidebar

kepanjangan dapat dipotong menggunakan gergaji besi.


71

g. Pembuatan trimline dan pelepasan PP

Trimline yaitu proses untuk menentukan pemotongan agar

sesuai dengan kebutuhan pasien. Trimline antara sisi lateral dan medial

harus sejajar.

h. Pembuatan kompensasi LLD.

Kompensasi LLD berfungsi untuk menyamakan panjang

tungkai pasen yang normal dengan yang mengalami deformitas.

i. Assembly (bench alignment)

Merupakan langkah untuk menyelaraskan tiap-tiap komponen

dari orthosis sesuai dengan tungkai maupun tubuh pasien sehingga

menjadi orthosis yang baik dan nyaman digunakan pasien. Pada proses

asssembling juga disebut dengan bench alignment. (Ripatti, 2009)

Saat bench alignment dilihat dari pandangan lateral

alignmentnya yaitu dari ankle joint garis alignment jatuh di tengah

malleolus lateralis, pada knee joint berada di 1,5 – 2 cm diatas medial

tibial plateau dan membagi dua bagian yaitu anterior 60% dan

posterior 40%. Alignment dilihat dari pandangan anterior yaitu pada

foot jatuh di antara sela-sela phalange 1 dan 2, pada knee joint jatuh di

1,5 – 2 cm di atas medial tibial plateau, dan tepat pada mid patella.

(Duc, 2011).
72

Gambar 3.35

Alignment KAFO dari pandangan lateral (Duc, 2011)

Gambar 3.36

Alignment KAFO dari pandangan anterior (Duc, 2011)

4. Fitting

Fitting merupakan pengepasan alat yang telah dibuat dengan kondisi

tungkai pasien. Pada proses fitting ini dilakukan dua tahapan yaitu static alignment

dan dynamic alignment (Ripatti, 2009).

Static alignment adalah proses pemasangan kafo pada pasien dan

memeriksa dalam keadaan pasien duduk dan berdiri. (Ripatti, 2009)

Dynamic alignment merupakan proses yang dilakuakn saat berjalan

memakai ortosis. Adapun hal yang harus dicek yaitu kenyamanan pasien, dan

memastikan drop lock berfungsi dengan baik (Ripatti, 1994).


73

5. Finishing dan Edukasi

Finishing adalah proses terakhir pada pembuatan orthosis atau prosthesis

yang mana proses tersebut membersihkan sisa proses fabrikasi (kotoran),

memastikan semua baut sudah permanen atau kencang, dan menghaluskan trimline

(Ripatti, 1994).

Edukasi adalah memberikan pengarahan kepada pasien mengenai cara

penggunaan, cara perawatan dan motivasi kepada pasien untuk selalu menggunakan

ortosis saat beraktivitas.

E. Deskripsi Biomekanik

Terdiri dari kata Bio : makhluk hidup; mekanik : gerakan. Biomekanika

adalah ilmu yang mempelajari mengenai gaya-gaya internal dan eksternal dan

bekerja pada tubuh manusia akibat dari gaya-gaya yang dihasilkan (Hay, 2011).

Sedangkan menurut Hatze, biomekanik adalah ilmu yang mempelajari struktur dan

fungsi sistem biologi dengan menggunakan pengetahuan dan metode mekanika.

(Hatze, 2011)

1. Normal Gait

Normal gait adalah fase berjalan yang didasarkan pada keadaan

normal. Pola jalan manusia yang normal akan melalui fase berjalan antara

lain terbagi dalam 2 fase yaitu: (1) stance phase, dan (2) swing phase

(Dops, 2009).

a. Stance Phase

Stance phase dimulai ketika tumit bergerak ke depan kontak

langsung dengan tanah dan berakhir saat ujung jari kaki meninggalkan
74

tanah. Fase ini merupakan 60% dari satu siklus berjalan. Fase stance

phase terbagi dalam beberapa fase, Fase-fase tersebut dibagi menjadi 4

tahap, yaitu : (1) heel strike, (2) foot flat, (3) mid stance, (4) push off.

(Ripatti, 2009)

Gambar 2.37

Stance Phase (Ripatti, 2009)

1) Heel strike (initial contact)

Heel strike adalah waktu dimana heel menyentuh tanah.

Pada gerakan heel strike, os calcaneus merupakan tulang pertama

yang menyentuh floor dan berfungsi sebagai penumpu berat badan.

(Ripatti, 2009)

Gambar 2.38
Fase heel strike (Ripatti, 2009)
75

2) Foot flat

Foot flat adalah fase lanjutan dari heel strike dimana

seluruh telapak kaki kontak dengan lantai secara sempurna atau

seluruh foot menempel pada lantai. (Ripatti, 2009)

Gambar 2.39

Fase foot flat (Ripatti, 2009)

3) Mid stance

Mid Stance adalah fase dimana seluruh berat badan

disangga atau ditahan oleh foot atau tungkai yang bersangkutan.

(Ripatti, 2009)
76

Gambar 2.40
Fase mid stance (Ripatti, 2009)
4) Push off

Push off adalah fase dimana kaki meninggalkan lantai atau

tanah. Push off dibagi menjadi dua, yaitu heel off dan toe off.

(Ripatti, 2009)

a) Heel off

Heel off adalah fase dimana tumit mulai meninggalkan tanah

dan beban berpindah ke tungkai satunya. (Ripatti, 2009)

Gambar 2.41
Fase heel off (Ripatti, 2009)
77

b) Toe off

Toe off adalah fase dimana ketika jari-jari kaki mulai

meninggalkan tanah dan untuk memulai gerakan swing phase.

(Ripatti, 2009)

Gambar 2.42
Fase toe off (Ripatti, 2009)

b. Swing phase

Fase swing merupakan fase dimana kaki tidak menyentuh tanah

atau pada posisi berayun. Fase swing terdiri dari tiga fase, yaitu: (1)

fase acceleration, (2) mid swing, dan (3) fase deceleration. (Ripatti,

2009)

Gambar 2.43
Swing phase (Ripatti, 2009)
78

1) Acceleration

Fase kelima merupakan fase initial swing (fase

acceleration), dimana kaki mulai melakukan ayunan. Persentase

Initial Swing adalah 62-75% dari periode waktu siklus berjalan.

(Ripatti, 2009)

Gambar 2.44
Fase Acceleration (Ripatti, 2009)
2) Mid swing

Fase mid swing dimulai pada akhir initial swing dan

dilanjutkan sampai salah satu kaki mengayun maju berada di depan

anggota badan sebelum menyentuh tanah dan kaki yang lain berada

pada fase mid stance. (Ripatti, 2009)

Gambar 2.45
Fase mid swing (Ripatti,2009)
79

3) Decceleration

Fase terminal swing (fase deceleration) merupakan akhir

dari gait cycle. Pada periode ini, posisi kaki tersebut berada

kembali didepan anggota badan, seperti pada posisi awal gait cycle.

(Ripatti, 2009)

Gambar 2.46

Fase deceleration (Ripatti, 2009)

c. Double support

Selama rangkaian langkah normal, saat terjadi double

support dimana kedua telapak kaki kontak dengan lantai dan

menumpukan berat badan. Keadaan ini terjadi antara push off dan toe

off pada salah satu kaki dan antara heel strike dan foot flat pada kaki

yang lain. Lama double support secara langsung tergantung dari irama

kecepatan berjalan. Double support akan terjadi lebih lama pada irama

berjalan lambat, dan double support akan terjadi lebih cepat pada

irama berjalan cepat. Sedangkan pada seorang yang berlari hampir

tidak terjadi double support (Sigit, 2001)


80

2. Gait Deviation

Berikut adalah beberapa Gait deviation atau kelainan pola jalan

yang terjadi pada pasien post poliomyelitis paralysis :

a. Hand thigh gait

Hand thigh gait adalah kedaan dimana pasien selalu

memegang pahanya ketika berjalan. Hand thigh gait ini disebabkan

oleh kelemahan pada otot quadriseps yang berperan sebagai ekstensor

knee. Akibat dari otot quadriseps yang lemah, maka otot hamstring

sebagai fleksor knee menjadi lebih kuat sehingga tungkai pasien akan

cenderung fleksi. Sehingga pasien akan memegangi pahanya untuk

tetap mempertahankan ekstensi pada knee. (Miguel, 2014)

Gambar 2.47

Hand thigh gait (Miguel, 2014)


81

b. Lateral trunk bending

Lateral trunk bending adalah kecenderungan pasien untuk

jatuh ke sisi tungkai yang mengalami deformitas. Hal ini disebabkan

karena adanya leg length discrepancy (LLD) dan kompensasi heel

masih terlalu rendah sehingga pasien cenderung jatuh ke arah tungkai

yang mengalami deformitas. (Essa, 2016)

Gambar 2.48

Lateral trunk bending (Essa, 2016)

c. Vaulting

Vaulting (jalan jinjit) terjadi karena ortosis yang dipakai

terlalu tinggi. Sehingga bagian tungkai yang tidak mengalami

deformitas berusaha untuk mengkompensasi dengan melakukan

vaulting. (Miguel, 2014)


82

Gambar 2.49
Vaulting gait (Miguel, 2014)

d. Circumduction

Gaya berjalan Circumduction dapat terjadi karena dropfoot

yang menyebabkan pasien tidak mampu mengangkat foot saat

berjalan yang akhirnya pasien berjalan dengan melempar tungkai ke

arah luar. Selain itu circumduction terjadi karena ortosis terlalu

panjang. Sehingga pasien berjalan dengan posisi tungkai membuka

terlalu lebar untuk mengkompensasi kepanjangan ortosis tersebut.

(Miguel, 2014)

Gambar 2.50
Circumduction gait (Miguel, 2014)
83

e. Trendelenburg’s gait

Trendelenburg’s gait adalah kecenderungan pelvis jatuh pada

salah satu sisi. Penyebabnya adalah adanya kelemahan abductor hip

mungkin karena dystrophies otot atau kasus poliomyelitis. Hal ini

membuat pasien berjalan dengan tidak stabil. (Moerloose, 2018)

Gambar 2.51
Trendelenburg’s gait (Moerloose, 2018)

3. Pola Jalan Ketika Menggunakan Knee Ankle Foot Orthosis (KAFO)

Saat berjalan, pada anggota gerak bawah seseorang, berlaku gaya-

gaya yang bekerja untuk mempertahankan keseimbangan dan kestabilan

tubuh. Bagi penderita poliomyelitis, gaya-gaya tersebut menjadi terbatas

karena hilangnya fungsi anggota tubuh. Berikut adalah pola jalan

pengguna Knee Ankle Foot Orthosis (KAFO) : (Ripatti, 1994)


84

a. Heel Strike

Pada normal gait ketika terjadi heel strike, hip berada dalam

posisi 250 fleksi, knee dalam keadaan ekstensi penuh, dan ankle berada

pada posisi normal. Akan tetapi pada pasien poliomyelitis, ankle

mengalami flaccid dropfoot karena otot Tibialis anterior melemah,

sehingga tidak terjadi heel strike. Dalam keadaan ini ortosis berfungsi

untuk mempertahankan heel strike tetap ada dalam gait pasien. Hal ini

dilakukan dengan membuat ankle dengan desain rigid joint sehingga

flaccid dropfoot terkompensasi dan heel strike tetap dapat terjadi.

(Ripatti, 1994)

Gambar 2.52
Periode Heel Strike normal. (Ripatti, 1994)

Gambar 2.53
Fase Heel Strike menggunakan Ortosis. (Ripatti, 1994)
85

b. Foot Flat

Pada normal gait ketika terjadi foot flat, hip pada posisi 250

fleksi, knee pada posisi 150 fleksi di teruskan 200 fleksi setelah foot

flat dengan di kontrol otot quadriceps, ankle joint pada posisi 100

plantar fleksi. Akan tetapi pada pasien poliomyelitis ketika terjadi foot

flat cenderung memegang pahanya. Hal ini terjadi karena otot

ekstensor pada knee yang mengontrol sudut flesksi saat foot flat

melemah. Dalam keadaan seperti ini, komponen orthosis berupa drop

lock knee joint dapat membantu pasien saat terjadi foot flat sehingga

pasien tidak memegang pahanya. (Ripatti, 1994)

Gambar 2.54
Periode Foot Flat normal (Ripatti, 1994)
86

Gambar 2.55

Fase foot flat saat menggunakan KAFO. (Ripatti, 1994)

c. Mid Stance

Mid stance adalah akhir dari foot flat ke heel off dimana

semua berat badan di topang atau di sangga pada satu tungkai. Bahu

pada pasien poliomyelitis ketika terjadi mid stance tidak sejajar atau

badan cenderung condong ke samping. Hal ini di karenakan pada

pasien poliomyelitis mengalami selisih panjang tungkai. Dalam hal ini

komponen orthosis yang berperan untuk mengkompensasi selisih

panjang tungkai tersebut dengan menggunakan wedges sehingga

pasien dapat berjalan dengan panjang tungkai yang sama. (Ripatti,

1994)
87

Gambar 2.56

Periode Mid Stance (Ripatti, 1994)

d. Push Off

Fase ini dibagi menjadi 2 bagian, yaitu fase terminal stance

(heel off) dan fase pre swing (toe off). (Ripatti, 1994)

1) Heel off

Pada normal gait ketika terjadi heel off, hip menjangkau

maximum ekstensi sekitar 130, knee ekstensi maximum, ankle 150

dorsi fleksi. (Ripatti, 1994)

2) Toe off

Pada normal gait ketika terjadi toe off, hip 100 ekstensi lalu

di lanjutkan fleksi, knee 400 fleksi, ankle 200 plantar fleksi. (Ripatti,

1994)
88

Gambar 2.57
Periode Push Off. (Ripatti, 1994)

Pada pasien poliomyelitis yang penulis ambil tidak dapat

melakukan hal-hal tersebut dengan sempurna, meskipun setelah

menggunakan ortosis. Hal ini di karenakan komponen drop lock knee joint

mengurangi pergerakan dari knee joint, serta rigid ankle joint mengurangi

gerakan pada ankle joint. (Ripatti, 1994)

4. Aplikasi Biomekanik pada Pasien

a. Long Lever Arm

Long lever arm adalah panjangnya lengan gaya. Yang

dimaksud disini adalah semakin panjang ortosis maka lever arm juga

semakin panjang. Hal ini akan membuat ortosis lebih stabil ketika

dipakai oleh pasien. Long lever arm akan lebih stabil jika

dibandingkan dengan short lever arm. Long lever arm juga berperan

dalam distribusi tekan. Distribusi tekanan penting untuk mengurangi

tekanan pada pasien. Pemusatan tekanan pada area yang sempit dapat
89

membuat nyeri dan dapat merusak kulit dan sebaliknya jika area

penekanan lebih luas maka pendistribusian tekanan akan lebih merata.

(Ripatti, 2009)

Gambar 2.58
Long level arm (Ripatti, 2009)
b. Three Point Pressure

Three point pressure (3pp) adalah tiga titik penekanan yang

diberikan pada ortosis untuk mengontrol pergerakan pada sendi.

(Ripatti, 2009)

Dalam aplikasinya sistem three point pressure menerapkan

tiga gaya yang bekerja, yaitu (1) satu gaya pada proximal joint (F1),

(2) satu gaya pada distal joint (F2), (3) dilawan dengan satu gaya yang

terletak tepat pada joint (F3), (4) F3 dapat dibagi menjadi dua gaya

(F4 dan F5) untuk menghindari adanya tekanan pada bony

prominence. (Ripatti, 2009)


90

Gambar 2.59

Three point pressure (Ripatti, 2009)

F. KTI yang Relevan

1. Karya Tulis Ilmiah oleh Yunyyar Chandra Dwi Cahyati yang berjudul

”Penatalaksanaan Pasien Post Polio Paralysis Tungkai Kanan Menggunakan

Knee Ankle Foot Orthosis (Kafo) Dengan Drop Lock Knee Joint dan Plantar

Fleksi Stop Ankle Joint” pada kasus post polio paralysis dengan kondisi tungkai

pasien drop foot, kelemahan otot sendi lutut, Leg Length Discrepancy (LLD) 3

cm pada tungkai normal, dan pasien berjalan dengan menekan lutut. KTI ini

ditulis pada tahun 2018, prescription untuk pasien yaitu Knee Ankle Foot

Orthosis (KAFO) dengan drop lock knee joint dan plantar fleksi stop ankle joint

dengan bahan utama plastic polypropylane tebal 5mm, memakai side bar

steanless steel tebal 2 cm dengan pemberian insole dan pemberian alas kaki

atau sandal dengan hak tinggi 3cm. Dan hasilya bahwa setelah diberikan alat

bantu tersebut mampu mengoreksi dan mengakomodasi kecacatan disebabkan


91

oleh poliomyelitis sehingga sudah tercapai mengembalikan fungsi anggota

gerak tubuh pasien yang layu atau cacat. Persamaan antara kasus penulis

dengan penulis sebelumnya adalah kasus pasien sama-sama mengalami post

polio paralysis dengan kondisi kelemahan sendi lutut dan penatalaksanaan

ortotik prostetik sama-sama menggunakan sidebar dengan drop lock knee joint.

2. Karya Tulis Ilmiah oleh Noorfa Renny yang berjudul “Penanganan Pasien Post

Polio Paralysis Menggunakan Knee Ankle Foot Orthosis (Kafo) dengan Drop

Lock Knee Joint” pada kasus post poliomyelitis paralysis dengan kondisi

tungkai pasien mengalami kelayuhan, dan atrofi otot. Pasien juga memiliki

selisih panjang tungkai 5 cm serta kaki pasien mengalami pes cavus. Karya ini

ditulis pada tahun 2015. Desain orthosis yang dipilih adalah Custom Plastic

Knee Ankle Foot Orthosis (KAFO) dengan menggunakan bahan utama plastic

polypropelene dan memakai side bar single axis dengan knee joint drop lock.

Serta dilengkapi ankle joint rigid dan kompensasi LLD outsole 5 cm. Hasil dari

penulisan bahwa KAFO dengan drop lock knee joint mampu mengembalikan

pasien pada aktivitas yang lebih fungsional. Serta dengan menggunakan KAFO

ini, pasien juga menjadi lebih percaya diri. Persamaan antara penulis dengan

penulis sebelumnya adalah beberapa persamaan keadaan pasien seperti atrofi

otot, adanya LLD dan pes cavus, serta penanganan yang sama seperti

pemberian kafo dengan drop lock knee joint dan adanya kompensasi pes cavus

dan LLD.