Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PRAKTIKUM URINALISA DAN CAIRAN TUBUH

“PEMERIKSAAN BILIRUBIN URINE CARA HARRISON, UROBILIN URINE CARA


SCHLEZINGER DAN UROBILINOGEN URINE CARA ERLICH”

OLEH
KELOMPOK 5
1. Dwi Liana Abdi Pertiwi (P07134018 084)
2. Shindy Sausan (P07134018 085)
3. I Putu Virgatha Satya Adi Chandra (P07134018 086)
4. Luh Gede Meilia Ayu Suari Putri (P07134018 087)
5. Putu Talia Jayanti (P07134018 088)
6. Nadya Inderawaty (P07134018 089)
7. I Putu Ritzky Mahendra Yogi (P07134018 090)

KEMETERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
JURUSAN TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIS
2019
I. TUJUAN
1. Mahasiswa mampu mengetahui pemeriksaan bilirubin cara Harrison.
2. Mahasiswa mampu mengetahui pemeriksaan urobilin cara Schlezinger.
3. Mahasiswa mampu mengetahui pemeriksaan urobilinogen cara Erlich.
4. Mahasiswa mampu menginterpretasikan hasil pemeriksaan bilirubin, uribilin dan
urobilinogen.
II. METODE
1. Pemeriksaan Bilirubin Cara Harrison
Pada metode ini BaCl2 bereaksi dengan sulfat dalam urin membentuk
endapan BaSO4 dan bilirubin menempel pada molekul ini. FeCl3 mengoksidasi
bilirubin menjadi biliverdin yang berwarna hijau.
2. Pemeriksaan Urobilin Cara Schlezinger

Dalam metode ini urobilin dengan reagen schlezinger membentuk suatu


kompleks dengan memberikan fluoresensi hijau.
3. Pemeriksaan Urobilinogen Cara Erlich
Pada metode Erlich urobilinogen dengan paradimetil aminobenzaldehid
akan membentuk kompleks berwarna merah anggur.
III. PRINSIP
1. Pemeriksaan Bilirubin Cara Harrison
Bilirubin dapat mereduksi feriklorida menjadi senyawa yang berwarna
hijau. Sebelumnya bilirubin diabsorbsikan pada endapan BaCl2 dalam urine.
2. Pemeriksaan Urobilin Cara Schlezinger
Urobilin + Zinc Acetatdalam alcohol flouresensi warna hijau
3. PemeriksaanUrobilinogen Cara Erlich
Urobilinogen = paradimethyl aminobenzaldehyde dalam HCl warna merah
IV. DASAR TEORI
Urin adalah cairan sisa metabolisme yang dieksresikan oleh ginjal yang
kemudian akan dikeluarkan dari dalam tubuh melalui proses urinasi. Ekskresi urin
diperlukan untuk membuang molekul-molekul sisa dalam darah yang disaring oleh
ginjal dan untuk menjaga hemostasis cairan tubuh. Urin disaring dalam ginjal,
dibawah melalui ureter menujukan kandung kemih, akhirnya dibuang keluar tubuh
melalui uretra. (Gambasoebrata R 2008).
Pemeriksaan penyaringan atau pemeriksaan urin rutin ada beberapa macam
pemeriksaan dianggap dasar bagi pemeriksaan diantaranya analisis makroskpik yang
meliputi tes warna, kejernihan, bau, berat jenis, pH, Kimia urine meliputi tes protein,
glukosa, keton, bilirubin, urobilin, nitrit, mikroskopik meliputi pemeriksaan sedimen
(Gandasoebrata, R, 2008).
Pemeriksaan urine dapat membantu menetapkan diagnose suatu penyakit,
sehingga lebih memudahkan menetapkan terapi yang tepat. Selain itu sebagaimana
pemeriksaan-pemeriksaan antara lain, pemeriksaan urin dapat pula dipakai untuk
flow up suatu penyakit tertentu terutama penyakit-penyakit yang bersangkutan
dengan alat ginjal (Harjoeno,2006).3
Untuk uji fungsi ekskresi dikenal dengan kadar bilirubin serum, dibedakan
bilirubin total, bilirubin indirek, bilirubin direk, bilirubin urin, serta produk
turunannya seperti urobilinogen dan urobilin dalam urin,sterkobilinogen dan
sterkobilin dalam tinja, serta kadar asam empedu dalam serum. Bila ada gangguan
fungsi ekskresi (terutama akibat hepatitis) maka kadar bilirubin total serum
meningkat terutama bilirubin direk, bilirubin urin mungkin positif, sedangkan
urobilinogen dan urobilin serta sterkobilinogen dan sterkobilinmungkin menurun
sampai tidakterdeteksi. Kadar serum empedu meningkat, lebih jelas pada pasca
makan (postprandial). (Sherlock S, 2002 Duofur Dr, 2006).
V. ALAT DAN BAHAN
a. Pemeriksaan Billirubin Urine Cara Harrison
Alat :
- Tabung reaksi
- Kertas saring
- Pipet Pasteur
- Pipet tetes

Bahan :

- BaCl2 10%
- Reagen Fouchet, dengan komposisi :
 Trichloro acetic acid (TCA) 25 g
 Aquadest ad 100 ml
 Larutanferiklorida 10 ml (10 g FeCl3 dalam 100 ml aquadest)

b. Pemeriksaan Urobilin Urine Cara Schlezinger


Alat :
- Tabung reaksi
- Kertas saring
- Pipet tetes

Bahan :

Reagen Schlezinger yang terdiri dari:

- Suspensi jenuh zinc acetat dalam alkohol (Reagen Schlezinger)


- Ammonia liquidum
- Tinctura iodii sipirit 1%

c. PemeriksaanUrobilinogen Urine Cara Ehrlich


Alat :
- Tabung reaksi
- Pipet Ukur
- Ball Pipet
- Pipet tetes

Bahan :

Reagen Ehrlich (paradimethyl aminobenzaldehyde 2% dalam HCL 50%)

VI. CARA KERJA


a. Pemeriksaan Billirubin Urine Cara Harrison
1. Diambil 3 ml urine dan dicampur dengan larutan BaCl2 10% dengan volume
yang sama banyak
2. Kemudian disaring
3. Filtratnya disimpan untuk percobaan urobilin
4. Residunya yang berada pada kertas saring kemudian ditetesi dengan reagen
Fouchet 1-2 tetes dan perhatikan perubahan warna yang terjadi.
b. PemeriksaanUrobilin Urine Cara Schlezinger
1. Diambil filtrat dari reaksi Harrison sebanyak 3 ml
2. Tambahkan reagen Schlezinger dalam jumlah yang sama
3. Kemudian ditetesi dengan 1-2 tetes ammonia
4. Dihomogenkan lalu disaring sampai jernih
5. Filtrat yang diperoleh diamati dengan sinar tidak langsung dalam kotak
Urobilin.
c. PemeriksaanUrobilinogen Urine Cara Ehrlich
1. Dimbil sebanyak 5 ml urine,dimasukkan kedalam sebuah tabung reaksi
2. Ditambahkan kedalamnya 10-12 tetes reagen Ehrlich
3. Dihomogenkan, tunggu selama 5 menit

VII. HASIL PENGAMATAN

SAMPEL AWAL

A. Pemeriksaan Billirubin Urine Cara Harrison


NEGATIF,
Ditandai dengan tidak
ada perubahan warna
menjadi hijau

B. Pemeriksaan Urobilin Urine Cara Schlezinger

NEGATIF,
Ditandai dengan tidak
ada perubahan warna
menjadi hijau

C. Pemeriksaan Urobilinogen Urine Cara Ehrlich

POSITIF,
Ditandai dengan
perubahhan warna
menjadi kemerahan
VIII. PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini, dilakukan 3 pemeriksaan urine, diantaranya pemeriksaan
bilirubin urine dengan metode Harrison, pemeriksaan urobilinogen urine dengan Metode
Ehrlich, dan pemeriksaan urobilin urine dengan Cara Schlezinger. Ketiga pemeriksaan
ini merupakan pemeriksaan kualitatif, dimana dalam pengamatannya hanya untuk
mengetahui ada atau tidaknya kandungan bilirubin, urpbilin, dan urobilinogen, tanpa
mengetahui kadar yang terdapat dalam urine tersebut. Berikut akan dijelaskan mengenai
pemeriksaan tersebut di atas

Pemeriksaan Bilirubin

Pada praktikum pemeriksaan bilirubin urine, harus menggunakan urine sampel


segar. Hal ini dikarenakan bilirubin akan teroksidasi jika terlalu lama dan terpapar oleh
cahaya, sehingga akan menghasilkan nilai yang negative palsu. Pada praktikum ini, kami
menggunakan sampel A, yang berasal dari rumah sakit.

Pada percobaan Harrison ini, mula-mula dipipet 3 mL sampel urine dan


dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan 3 mL BaCl2 10%.
Penambahan BaCl2 berfungsi agar BaCl2 bereaksi dengan sulfat yang terdapat dalam
urine sehingga membentuk endapan BaSO4. Endapan ini kemudian disaring dengan
kertas saring untuk memperoleh residunya. Setelah itu, residu di atas kertas saring
dibiarkan mengering di tempat yang gelap kemudian ditambahkan reagen faucet 1-2
tetes. Reagen faucet ini berfungsi untuk untuk mengoksidasi bilirubin menjadi
biliverdin. Adapun komposisi reagen fouchet adalah sebagai berikut :

- Asam trichorasetat 25 gram


Fungsi : mengendapkan protein
- Larutan FeCl3 10% sebanyak 10 ml
Fungsi :Mengoksidasi bilirubin menjadi biliverdin
- Aquades 100 ml
Fungsi : Sebagai pengencer

Setelah dilakukan penambahan reagen Fauchet, residu yang ada di kertas saring
tidak menunjukkan warna hijau, melainkan tetap berwarna putih. Hal ini menandakan
bahwa dalam sampel urine A negatif bilirubin karena tidak terbentuk hasil berwarna
hijau. Adapun kelemahan dari pemeriksaan bilirubin dengan cara Harrison ini sangatlah
lama dalam pemeriksaannya. Hal ini dikarenakan kita harus menunggu residunyanya
mengering sehingga bisa ditetesi reagen fauchet.

Adapun syarat - Syarat pemeriksaan bilirubin urine dengan metode Harrison


adalah :

• Urin segar, karena bilirubin belum terksidasi menjadi biliverdin, sehingga


menyebabkan hasil pemeriksaan bilirubin menjadi (-) palsu
• Botol penampung urin coklat, karena untuk menghindari pengaruh
sinar/oksidasi, sehingga bilirubin belum teroksidasi menjadi biliverdin

Kadar bilirubin yang sangat tinggi dapat disebabkan oleh:

- Neonatal hiperbilirubinemia, dimana hati bayi baru lahir tidak mampu untuk
memproses bilirubin menyebabkan penyakit kuning
- Obstruksi saluran empedu yang luar biasa besar, batu misalnya di saluran empedu,
tumor menghalangi saluran empedu dll
- Hati yang berat kegagalan dengan sirosis (misalnya sirosis bilier primer)
- Crigler-Najjar sindrom
- Dubin-Johnson syndrome
- Choledocholithiasis (kronis atau akut).

Penyebab (+) palsu pemeriksaan horizon dapat disebabkan karena konsentrasi


urobilin tinggi dan obat-obatan (acriflavin dan pyridium). Sedangkan penyebab (-) palsu
pemeriksaan horizon adalah penyimpanan urine yang lama sehingga bilirubin sudah
teroksidasi menjadi biliverdin, sehingga hasil menjadi (-) palsu, Kertas saring belum
kering sehingga bilirubin tidak dapat bereaksi dengan fouchet, maka bilirubin tidak
dapat teroksidasi menjadi biliverdin, sehingga terjadi (-) palsu, Pengaruh cahaya / sinar
yang disebabkan karena botol penampung urin tidak gelap, sehingga bilirubin akan
teroksidasi menjadi biliverdin sehingga menyebabkan hasil (-) palsu
Pemeriksaan urobilinogen

Pada pemeriksaan urobilinogen dengan cara Ehrlich dengan menggunakan sampel


mahasiswa, mula-mula diambil 5 mL urine dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi,
kemudian ditambahkan 10 - 12 tetes reagen Ehrlich. Penambahan reagen Ehrlich
berfungsi untuk bereaksi dengan urobilinogen dalam urine. Oleh karenya, perlu
digunakan urine segar atau memakai urine yang diawet dengan natrium karbonat untuk
pemeriksaan ini karena urobilinogen dapat dioksidasi oleh hawa udara teristimewa jika
terkena sinar matahari sehingga berubah menjadi urobilin. Setelah dilakukan
penambahan reagen, sampel didiamkan selama 5 menit. Jika setelah 5 menit didapati
perubahan warna menjadi merah, maka sampel urine dapat dinyatakan positif
mengandung urobilinogen. Jika setelah 5 menit tidak ada perubahan warna, maka
sampel urine dinyatakan negatif mengandung urobilinogen. Dalam hal ini, terjadi
perubahan warna menjadi merah pada sampel. Ini menandakan bahwa dalam urine
pasien terdapat urobilinogen.

Urobilinogen sering didapat dalam urine karena urobilinogen merupakan suatu zat
hasil perombakan hemoglobin yang digunakan untuk memberi warna urine. Kadar
eksresi urobilinogen normal dalam urine adalah 1-4mg/24jam. Jika didapati kadar
urobilinogen lebih dari kadar normal, maka kemungkinan terdapat kerusakan hati atau
berlebihnya Hb yang dirombak oleh hati.
Hasil pemeriksaan juga harus diperiksa dalam waktu paling lama 5 menit, karena
jika dibiarkan terlalu lama maka warna merah akan menjadi lebih merah lagi.
Masalah Klinis

Peningkatan ekskresi urobilinogen dalam urine terjadi bila fungsi sel hepar
menurun atau terdapat kelebihan urobilinogen dalam saluran gastrointestinal yang
melebehi batas kemampuan hepar untuk melakukan rekskresi. Urobilinogen meninggi
dijumpai pada: destruksi hemoglobin berlebihan (ikterik hemolitika atau anemia
hemolitik oleh sebab apapun), kerusakan parenkim hepar (toksik hepar, hepatitis
infeksiosa, sirosis hepar, keganasan hepar), penyakit jantung dengan bendungan kronik,
obstruksi usus, mononukleosis infeksiosa, anemia sel sabit. Hasil positif juga dapat
diperoleh setelah olahraga atau minum atau dapat disebabkan oleh kelelahan atau
sembelit. Orang yang sehat dapat mengeluarkan sejumlah kecil urobilinogen.
Urobilinogen urine menurun dijumpai pada ikterik obstruktif, kanker pankreas, penyakit
hati yang parah (jumlah empedu yang dihasilkan hanya sedikit), penyakit inflamasi yang
parah, kolelitiasis, diare yang berat.

Pemeriksaan Urobilin

Pada pemeriksaan urobilin dengan cara Schlezinger dengan menggunakan


sampel rumah sakit. Pada percobaan pemeriksaan urobilin pada urine mula - mula
dipipet filtrate dari reaksi Harrison sebanyak 3 mL dan dimasukkan ke dalam tabung
reaksi ditambah 3 mL reagen Schlezinger kemudian diaduk atau dikocok homogen.
Penambahan reagen Schlezinger berfungsi agar urobilin bereaksi dengan reagen
Schlezinger dan membetuk fluoresensi warna hijau. Setalah dilakukan penambahan
reagen Schleznger dan ditambahkan 1 - 2 tetes ammonia, sampel urine berubah warna
menjadi hijau. Saat sampel disaring dengan kertas saring, diperoleh filtrate yang jernih.

Dalam hal ini, didapat hasil positif (+) karena terbentuk fluoresensi hijau pada
urine. Dalam keadaan normal, selalu terdapat flourescensi hijau yang amat ringan.

Faktor yang Dapat Mempengaruhi Temuan Laboratorium:

1. Reaksi positif palsu

- Pengaruh obat: fenazopiridin (Pyridium), sulfonamide, fenotiazin, asetazolamid


(Diamox), kaskara, metenamin mandelat (Mandelamine), prokain, natrium
bikarbonat, pemakaian pengawet formaldehid.

- Makanan kaya karbohidrat dapat meninggikan kadar urobilinogen, oleh karena itu
pemeriksaan urobilinogen dianjurkan dilakukan 4 jam setelah makan.

- Urine yang bersifat basa kuat dapat meningkatkan kadar urobilinogen; urine yang
dibiarkan setengah jam atau lebih lama akan menjadi basa.

2. Reaksi negatif palsu


- Pemberian antibiotika oral atau obat lain (ammonium klorida, vitamin C) yang
mempengaruhi flora usus yang menyebabkan urobilinogen tidak atau kurang
terbentuk dalam usus, sehingga ekskresi dalam urine juga berkurang.

- Paparan sinar matahari langsung dapat mengoksidasi urobilinogen menjadi urobilin.

- Urine yang bersifat asam kuat.


IX. KESIMPULAN
Pada pratikum ini pemeriksaan yang dilakukan yaitu :kadar Bilirubin dengan
metode Harrison, Urobilin dengan metode Schlezinger, dan Urobilinogen dengan
metode Ehrlich pada urine.Pada pemeriksaan metode Harrison mendapatkan hasil
bilirubin yaitu Negatif (-) karena tidak terjadi perubahan warna menjadi hijau setelah
ditetesi BaCl2 sampel yang digunakan yaitu sampel klinis, kemudian pada
pemeriksaan urobilin metode Schlezinger mendapatkan hasil yaituNegatif (-) karena
tidak terbentuk fluoresensi warna hijau yang berarti sampel tidak mengandung
urobilin, yang terakhir pemeriksaan urobilinogen metode Ehrlich mendapatkan hasil
yaitu Positif (+) karena terjadi perubahan warna dari kuning menjadi merah saat
ditambahkan reagen Ehrlich.
DAFTAR PUSTAKA

https://www.scribd.com/doc/314355744/Pembahasan-Bilirubin-Urobilin-
Urobiinogen (Diakses pada tanggal 2 Oktober 2019)

Nuraini,Deswinda Fadhilah.Puspita,Evita.2017.Jurnal Insan Cendekia. Volume 5


No.1 Maret 2017.GAMBARAN HASIL PEMERIKSAAN BILIRUBIN TOTAL
PADA PASIEN HEPATITIS (diakses pada 6 Oktober 2019) [dapat dilihat pada
http://digilib.stikesicme-jbg.ac.id/ojs/index.php/jic/article/view/349

Mukarramah,Rifkatul.Nardin.Nurul Utami.2018.13Jurnal Media Laboran, Volume 8,


Nomor 1, Mei 2018.STUDI HASIL PEMERIKSAAN PROTEIN URIN SEGERA
PADA PASIEN INFEKSI SALURAN KEMIH MENGGUNAKAN ASAM
SULFOSALISILAT DI RSU WISATA UNIVERSITAS INDONESIA TIMUR
(diakses pada 6 Oktober 2019)13https://uit.e-journal.id/MedLAb/article/view/383

Anda mungkin juga menyukai