Anda di halaman 1dari 36

PERATURAN PERUSAHAAN

BAB I
KETENTUAN UMUM

Pasal 1
Pengertian

1. Yayasan adalah Yayasan Mitra Paramedika yang berkedudukan di Jalan Raya Ngemplak,
Kemasan, Widodo Martani, Ngemplak, Sleman.
2. Rumah Sakit Umum Mitra Paramedika adalah Unit Karya Yayasan Mitra Paramedika
3. Pimpinan rumah sakit adalah Karyawan yang karena jabatannya mempunyai tugas memimpin
rumah sakit atau bagian dari rumah sakit atau yang dapat disamakan dengan itu.
4. Pekerja adalah mereka yang mempunyai hubungan kerja dengan perusahaan berdasarkan Surat
Keputusan Pengangkatan / Perjanjian Kerja yang sah dan menerima upah.
5. Pekerja tetap adalah setiap orang yang setelah mengetahui dan memahami Yayasan dan nilai
yang diperjuangkan dengan kesadaran penuh dan keihhlasan memutuskan untuk
menyelaraskan tujuan pribadi dengan tujuan yayasan dan bersama yayasan menwujudkan nulai
yang diperjuangkan yayasan dalan karya pelayanan yang diselenggrakan di Rumah sakit
Umum Mitra Paramedika denga nmenerima imbalan jasa berupa upah dan jaminan
kesejahteraan sesuai dengan peraturan yang berlaku di lingkungan Yayasan Mitra Paramedika,
serta menjalin hubungan kerja untuk waktu yang tidak ditentukan dan bainya telah terbit surat
keputusan pengangkatan sebagai karyawan tetap .
6. Tenaga medis adalah pekerja tetap yang berprofesi sebagai dokter spesialis, dokter umum, dan
dokter gigi.
7. Hubnngan kerja adalah suatu hubungan yang terjadi karena adanya perjanjian kerja antara
pekerja dengan yayasan, yang mengandung unsur pekerjaan, perintah, dan upah.
8. Masa kerja efeltif adalah masa kerja yang terhitung sejak pekerja resmi mulai bekerja di unit
kerja Yayasan.
9. Hari libur resmi adalah hari hari libur yang ditetapkan oleh pemerintah yang jumlahnya telah
ditentukan dalam satu tahun kalender.
10. Upah adalah hak pekerja yang diterimakan dan dinyatakan dalam bentuk uang, dapat berupa
upah pokok, upah fungsional, dan tunjangan dari yayasan kepada pekerja atas suatu pekerjaan
atau jasa yang telah dilakukan, yang dibayar menurut peraturan perusahaan /peraturan
perundang-undangan.
11. Upah pokok adalah upah yang diterimakan pekerja secara tetap setiap bulan berdasarkan
golongan/ruang yang ditetapkan yayasan, dan jumlahnya minimal sama dengan upah minimal
kota.
12. Upah fungsional adalah upah yang diterima secara tetap setiap bulan kepada pekerja
bedasarkan tingkat/jenjang fungsional yang telah ditetapkan oleh yayasan.
13. Tunjangan adalah pembayaran kepada pekerja yang tidak dikaitkan denga pencapaian prestasi
kerja tertentu atau kehadiran pekerja.
14. Insentif adalah suatu imbalan yang diterimakan pekerja secara tidak tetap dan tidak teratur,
baik jumlah maupun penerimaannya yang berkaitan dengan tingkat prestasi kerja dan atau
kehadiran pekerja.
15. Tunjangan hari raya adalah pendapatan pekerja yang wajib dibayar oleh yayasan kepada
pekerja menjelang hari raya keagamaan yang berupa uang atau bentuk lain.
16. Uang pesangon adalah uang yang diberikan yayasan kepada pekerja sebagai akibat adanya
pemutusan hubungan kerja.
17. Uang pisah adalah uang yang diberikan yayasan kepada pekerja yang mengundurkan diri
secara sukarela dan pada saat mengundurkan diri tidak sedang memangku jabatan
manajerial/structural.
18. BPJS ketenagakerjaan adalah Badan Penyelenggara jaminan social ketenagakerjaan yang
menyelenggarakan program jaminan kecelakaan kerja, jaminan hari tua, jaminan pensiun, dan
jaminan kematian.
19. BPJS kesehatan adalah Badan Penyelenggara jaminan social ketenagakerjaan yang
menyelenggarakan program jaminan pelayanan kesehatan.
20. Pemutusan huubungan kerja adalah pengakhiran hubungan kerja karena suatu hal tertentu,
yang mengakibatkan berakhirnya hak dan kewajiban antara pekerja dan yayasan.
21. Pelatihan kerja adalah kesleuruhan kegiatan untuk memberi, memperolh, meningkatkan, dan
mengembangkan ketrampilan atau keahlian kerja guna meningkatkan produktivitas, disiplin,
sikap, etos kerja, dan kesejahteraan pekerja, serta memajukan yayasan dengan melakukan
oeayanan di unit kerja yayasan.
22. Surat peringatan adalah surat resmi yang dikeluarkan yayasan kepada pekerja atas pelanggaran
disiplin atau ketentuan dalam peraturan perusahaan dengan tujuan pembinaan dan evaluasi.
23. Karyawan adalah Istri / Suami Karyawan adalah 1 (satu) orang istri / suami dari perkawinan
yang sah dan terdaftar pada bagian SDM.
24. Pekerjaan adalah pekerjaan yang dijalankan oleh karyawan untuk perusahaan dalam suatu
hubungan kerja tertentu yang telah disepakati bersama dalam suatu ikatan hubungan kerja.

BAB II
PERATURAN PERUSAHAAN

Pasal 2
Ruang Lingkup

Syarat-syarat kerja umum dan peraturan-peraturan yang diuraukan dalam peratura perusahaan
bersifat mengikat dan berlaku bagi semua pelayan kesehatan yang bekerja di unit karya yayasan.

Pasal 3
Maksud dan Tujuan

1. Memberikan kepastian syarat - syarat kerja dilaksanakan sesuai dengan Undang - undang /
Peraturan Ketenagakerjaan yang berlaku.
2. Menciptakan dan membina suatu hubungan kerja yang sehat dan harmonis sehingga dapat
meningkatkan produktifitas kerja, yang akhirnya akan meningkatkan taraf hidup pekerja dan
keluarganya.
3. Mempertegas dan memperjelas hak dan kewajiban perusahaan maupun karyawan.
4. Menjamin terpeliharanya tata tertib kerja dan kepentingan bersama.

BAB III
HUBUNGAN KERJA
Pasal 4
Penerimaan Karyawan

1. Penerimaan karyawan dilakukan sesuai dengan kebutuhan, yang syarat dan pengaturannya
ditentukan oleh yayasan.
2. Persyaratan umum penerimaan karyawan adalah:
a. Warga Negara Indonesia.
b. Berusia sekurang - kurangnya 18 (delapan belas) tahun sesuai Akta Kelahiran atau Tanda
Kenal Lahir.
c. Mempunyai Kartu Tanda Penduduk (KTP) serta administrasi lainnya yang disyaratkan
oleh perusahaan.
d. Berbadan sehat dan berjiwa sehat, yang dibuktikan dengan Surat Keterangan Dokter yang
ditunjuk oleh perusahaan.
e. Berkelakuan baik.
f. Lulus tes yang diadakan / disyaratkan oleh perusahaan.
g. Bersedia menandatangani Surat Penerimaan Karyawan yang dibuat / dikeluarkan oleh
perusahaan.

Pasal 5
Masa Percobaan

1. Masa percobaan ditetapkan untuk paling lama 3 (tiga) bulan.


2. Karyawan yang menjalani masa percobaaan wajib diberitahukan secara tertulis kapan mulai
dan berakhirnya masa percobaan tersebut.
3. Pengawasan dan penilaian pada masa percobaan dilakukan oleh Atasan langsung.
4. Dalam masa percobaan, baik perusahaan maupun karyawan dapat melakukan pemutusan
hubungan kerja secara sepihak dengan pemberitahuan 1 x 24 jam, tanpa ada tuntutan ganti rugi
dalam bentuk apapun.
5. Perusahaan tidak wajib memberikan Surat Keterangan Kerja dalam masa percobaan.

Pasal 6
Berlakuknya Hubungan Kerja
1. Hubungan kerja seorang karyawan dengan Yayasan berlaku sejak karyawan yang
bersangkutan menyatakan secara tertulis menjalin hubungan kerja sampai terjadinya PHK.
2. Dalam hal hubungan kerja waktu tertentu, saat mulainya hubungan kerja tercantum dalam
peraturan perusahaan ini dan dalam peraturan perusahaan ini dicantumlan segala hal yang
terkait dengan hak dan kewajiban karyawan.

Pasal 7
Karyawan Tidak Tetap

1. Sesuai dengan kebutuhan, perusahaan dapat menerima karyawan tidak tetap dengan perjanjian
kerja waktu tertentu dengan berpedoman pada Undang - Undang / Peraturan Ketenagakerjaan
yang berlaku.
2. Ketentuan atau syarat secara khusus dapat diatur dalam Perjanjian Kerja dan berpedoman pada
Undang - undang / Peraturan Ketenagakerjaan yang berlaku.
3. Perusahaan berhak melakukan pengecualian dalam dan untuk hal - hal tertentu bagi karyawan
tidak tetap yang dituangkan dalam perjanjian kerjanya.

Pasal 8
Pengangkatan, Penempatan, dan Pemindahan Karyawan

1. Calon karyawan tetap yang sudah menyelesaikan masa percobaan dan menjadi karyawan tidak
tetap dengan perjanjian kerja waktu tertentu dapat diangkat sebagai karyawan tetap, apabila
yang bersangkutan memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a. Mempunyai kemampuan sesuai dengan bidang profesi/pekerjaannya, bebperilaku sesuai
budaya organisasi Yayasan, dan berkonduite minimal 75 (skala 0-100) untuk masing-
masing unsur penilaian sebagaimana dinyatakan yayasan.
b. Sehat jasmani dan mental sebagaimana dinyatakan oleh tim dokter dan tim penilai yan
ditunjuk oleh Yayasan.
2. Pengangkatan dan Penempatan
a. Karyawan yang memenuhi syarat pada ayat (1) akan diangkat menjadi karyawan tetap
dengan Surat Keputusan Pengangkatan yang ditandatangani Pimpinan Perusahaan.
b. Karyawan yang diangkat akan ditempatkan pada jabatan / pekerjaan berdasarkan
persyaratan jabatan serta kemampuan yang dimilikinya dan kebutuhan perusahaan.
c. Dengan diangkatnya karyawan tersebut menjadi karyawan tetap, maka yang bersangkutan
dapat memperoleh secara penuh hak dan kewajiban sebagaimana yang telah diatur dalam
Peraturan Perusahaan.
3. Pemindahan Karyawan
a. Berdasarkan kebutuhan organisasi, efisiensi, dan produktifitas kerja, perusahaan
berwenang memindahkan karyawan dari suatu jabatan ke jabatan lainnya atau dari satu
jenis pekerjaan ke jenis pekerjaan lainnya atau dari satu lokasi ke lokasi lainnya atau dari
satu perusahaan ke perusahaan lainnya dalam satu group.
b. Ketentuan mengenai pemindahan ini diatur oleh Pimpinan Perusahaan.

Pasal 9
Evaluasi dan Penilaian Kinerja

1. Evaluasi Kinerja karyawan yaitu evaluasi terhadap kinerja karyawan dalam jangka waktu
tertentu dan dilaksanakan secara berkala paling sedikit 3 (tiga) bulan sekali.
2. Penilaian Kinerja yaitu penilaian terhadap hasil prestasi kerja karyawan dalam jangka waktu
tertentu dan dilaksanakan minimal 1 (satu) kali dalam setahun.

Pasal 10
Promosi

1. Perusahaan akan memberikan kesempatan kepada karyawan yang memenuhi persyaratan


untuk kenaikan pangkat dan / atau jabatan lebih tinggi berdasarkan kepada :
a. Kebutuhan Organisasi.
b. Kompetensi Karyawan.
c. Penilaian Kinerja.
d. Syarat Administrasi.
2. Ketentuan tentang promosi diatur dalam ketentuan tersendiri sesuai dengan kebijakan
perusahaan.
Pasal 11
Demosi

1. Perusahaan dapat mengambil tindakan berupa pencabutan atau penurunan pangkat dan / atau
jabatan dari karyawan yang melakukan perbuatan yang melanggar peraturan tata tertib kerja,
aturan kedisiplinan, tidak memenuhi standar kerja, atau tidak berprestasi.
2. Bagi karyawan yang dikenakan demosi, tunjangan / fasilitas akan disesuaikan dengan pangkat
dan / atau jabatan barunya.
3. Ketentuan tentang demosi diatur dalam ketentuan tersendiri sesuai dengan kebijakan
perusahaan.

BAB IV
HARI KERJA DAN JAM KERJA

Pasal 12
Hari Kerja dan Jam Kerja

1. Pekerja bekerja selama 6 hari kerja perminggu dengan jumlah jam kerja 7 jam efektif perhari
dan 40 jam efektif perminggu atai selama 5 hari kerja perminggu dengan jumlah jam kerja
efektif 8,5 jam efektif per hari dan 40 jam per minggu.
2. Pelaksanaan jam kerja pekerja pada ayat 1 disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing unit
pelayanan sehingga kegiatan pelayanan di unit karya terselenggara secara efektf dan efisien
serta memenuhi prinsip keefektifan biaya bagi pengguna jasa.

Pasal 13
Waktu Istirahat Harian dan Mingguna Pekerja

1. Pekerja berhak mendapat waktu istirahat selama 30 menit per hari kerja dan waktu tersebut
tidak diperhitugkan sebagai jam kerja.
2. Pekerja berhak mendapatkan waktu istirahat mingguan setelah bekerja 5 atau 6 hari kerja terus
menerus, dan istirahat pada hari libur resmi yang diatur oleh peraturan perundang-undangan
yang berlaku.
3. Demi kesinambungan dan kelancaran penyelenggaraan pelayanan setip pekerja dapat
ditugaskan untuk bekerja pada hari minggu dan atau hari libur resmi, dengan penggantian hak
libur pada hari kerja lain.

Pasal 14
Jam Lembur Pekerja

1. Kelebihan jam kerja pekerja dari jam kerja wajib sebagaimana dimaksud dalam pasl 13 ayat 1,
yang terjadi atas permintaan/penugasan manajerial/ yayasan diperhitungka sebagai lembur
dengan diterimakan uang lembur sekurang-kurangnya sesuai dengan peraturan perundang-
undangan yang berlaku.
2. Lembur dilaksanakan tiap-tiap minimal selama 30 menit, dan perhitungan akhir jumlah jam
lembur per bulan dibulatkan dalam satuan jam (60 menit), dengan pembulatan ke atas bila
lebih dari 30 menit dan ke bawah bila kurang dri 30 menit.

BAB V
ISTIRAHAT PEKERJA

Pasal 15
Istirahat Tahunan Pekerja

1. Pekerja yang telah bekerja selama 12 (dua belas) bulan terus menerus berhak atas istirahat
tahunan selama 12 (dua belas) hari kerja dengan mendapatkan upah penuh.
2. Istirahat tahunan sebagaimana dimaksud pada ayat 1 dapat diambil bebrapa kali, dan 6 hari
berturut-turut diantaranya dapat diambil sekaligus.
3. Pengambilan istirahat tahunan oleh pekerja wajib mempertimbangkan kepentingan
penyelenggraan pelayanan di unit karya.
4. Pekerja yang hendak mengambil istirahat tahunannya wajib memberitahukan kepada unit
karya dengan mengisi formulir permohonan cuti dan disetujui Atasan masing - masing
selambat-lambatnya 1 (satu) bulan sebelum cuti dimaksud.
5. Hak istirahat tahunan pekerja akan gugur jika 12 bulan setelah timbulnya Hak istirahat tahunan
pekerja yang bersangkutan tidak mengajukan permohonan pengambilannya, yang terjad bukan
karena alasan kepentingan penyelenggaraan pelayanan.
6. Hak istirahat tahunan pekerja tidak akan gugur jika karena alasan kepentingan
penyelenggaraan pelayanan atau kepentingan yayasan dengan batas waktu pada bulan Maret
tahun berikutnya

Pasal 16
Istirahat Pengganti Hari Libur Resmi Pekerja

1. setiap pekerja yang diwajibkan bekerja 6 hari dalam seminggu, sehingga tidak dapat libur pada
hari libur resmi, berhak mendapat istirahat pengganti hari libur resmi.
2. Istirahat pengganti hari libur resmi adalah sejumlah hari lbur resmi yang tidak jatuh pada hari
minggu.
3. Jika ada hari lbur resmi yang jatuh pada saat pekerja sedang menjalani istirahat sakit dan atau
istirahat melahirkan dan atau istirahat gugur kandungan maka pekerja tidak berhak atas
istirahat pengganti hari libur resmi.
4. Istirahat pengganti hari libur resmi harus diambil paling lambat dalam waktu 2 bulan setelah
hak istirahat tersebut timbul, kecuali karena alasan kepentingan penyelenggaraan pelayanan.

Pasal 17
Istirahat Sakit Pekerja

1. Setiap pekrja yang menderita sakit sehingga perlu istirahat sebagimana dinyatakan oleh dokter
yang ditunjuk oleh yayasan berhak atas istirahat sakit.
2. Apabila pelaksanaan istirahat sakit pekerja bertepatan dengan hari libur resmi atau hari libur
mingguan, maka hari libur resmi atau hari libur mingguan itu terhitung dalam istirahat sakit
yang sedang dijalani.
3. Apabila pekerja yang sedang menjalani istirahat tahunan, istirahat melahirkan dan atau
istirahat gugur kandungan jatuh sakit dan berhak mendapat istirahat sakit maka istirahat
tahunan, istirahat melahirkan dan atau istirahat gugur kandungan tidak menjadi atal
karenannya.
Pasal 18
Istirahat Melahirkan Pekerja

1. Untuk kepentingan melahirkan anak, pekerja berhak atas istirahat melahirkan selama 3 bulan.
2. Atas permintaan pekerja yang disetujui yayasan dan demi kesehatan yang lebih baik bagi bayi
yang dialhirkan, lamanya istirahat melahirkan adalah satu bulan sebelum dan dua bulan setelah
melahirkan.
3. Apabila pekerja melahirkan sebelum hari perkiraan lahir yang sudah ditetapkan maka sisa
masa istirahat melahirkan sebelum hari melahirkan ditambah pada masa istirahat setelah hari
melahirkan.
4. Apabila pekerja melahirkan setelah hari perkiraan lahir yang sudah ditetapkan maka masa
istirahat setelah melahirkan tetap berlangsung selama dua bulan.
5. Saat mulai istirahat melahirkan bagi pekerja pada ayat 1 ditetapkan oleh yayasan berdasarkan
informasi tertulis tentang hari perkiraan lahir dari dokter ahli kebidanan yang ditunjuk oleh
yayasan.

Pasal 19
Istirahat Gugur Kandungan Pekerja

1. Pekerja yang mengalami gugur kandungan berhak atas istirahat gugur kandungan.
2. Lamanya istirahat gugur kandungan adalah 1,5 bulan setelah hari gugur kandungan atau sesuai
dengan surat keterangan dokter kandungan.

Pasal 20
Istirahat Haid Pekerja

Setiap pekerja yang mengalami hais sebagaimana dinyatakan oleh doter yang ditunjuk oleh
yayasan berhak atas istirahat haid pada waktu hais hari pertama dan ahri kedua.

Pasal 21
Izin Meninggalkan Pekerjaan dengan Tetap Mendapatkan Upah Pekerja
1. Izin meninggalkan pekerjaan dengan tetap mendapatkan upah diberikan kepada pekerja
berhubung dengan adanya keperluan pribadi sebagai berikut:
a. Suami/istri dan atau anak kandung/sah meninggal dunia, sampai peringatan hari ketujuh.
b. Bapak/ibu kandung/sah, bapak/ibu mertua, anak menantu meninggal dunia, selama 3 hari.
c. Melangsungkan pernikahan pertama atau pernikahan kedua dan selanjutnya, jika ternyata
suami/istri yang sebelumnya meninggal dunia, selama 3 hari.
d. Menikahkan anak kandung/sah, selama 2 hari.
e. Kakek/nenek kandung atau kakek/nenek dari suami/isteri meninggal dunia, selama 2 hari.
f. Saudara kandung meninggal dunia, selama 2 hari.
g. Cucu kandung meninggal dunia, selama 1 hari.
h. Istri melahirkan, selama 2 hari.
i. Menyunatkan anak kandng/sah, selama 2 hari.
j. Anggota keluarga lain dalam satu rumah meninggal dunia, selama 1 hari
2. Izin meninggalkan pekerjaan dengan tetap mendapatkan upah diberikan kepada pekerja tidak
mengurangi hak istirahat tahunan pekerja yang bersangkutan.

Pasal 22
Izin Meninggalkan Pekerjaan tanpa Mendapatkan Upah Pekerja

1. Kepada pekerja yang telah bekerja sekurang-kurangnya 5 tahun diberikan izin meninggalkan
pekerjaan tanpa upah apabila ada kepentingan pribadi yang harus diselesaikan.
2. Keputusan diberikan atau tidaknya izin meninggalkan pekerjaan sebagaimana dimaksud pada
ayat 1 sepenuhnya berada pada yayasan.
3. Pekerja yang diberi izin meninggalkan pekerjaan tanpa upah tidak berhak memperoleh upah,
JPK, jainan social, dan pelayanan lainhya yang menjadi hask pekerja, selama menjalani izin
tersebut.
4. Masa meninggalkan pekerjaan tanpa upah tidak diperhitungkan sebagai masa kerja dalam
perhitungan upah/istirahat tahunan/perhitungan perhargaan lainnya bagi pekerja yang
bersangkutan.

Pasal 23
Tata cara pengambilan istirahat bagi pekerja
Setiap pekerja yang hendak mengambil istirahat apapun dan atau izin meninggalkan pekerjaan,
baik dengan tetap mendapat upah maupun tanpa upah wajib mematuhi tata cara sebagi berikut:
a. Mengajukan permohonan izin istirahat kepada manajerial rumah sakit.
b. Surat permohonan izin istirahat ditandatangani oleh yang bersangkutan dan pejabat
structural terkait.
c. Surat permohonan istirahat tahunan diajukan sebulan sebelum pelaksanaan istirahat,
kecuali untuk hal-hal yang bersifat mendadak/mendesak.

Pasal 24
Penundaan Pelaksanaan Istirahat dan Pemanggilan Pekerja yang Sedang Menjalani Istirahat

1. Demi kepentingan penyelenggaraan pelayanan yang dinilai oleh yayasan mendesak, yayasan
berhak menunda pelaksaan istirahat tahunan/istirahat pengganti hari libur/izin meninggalkan
pekerjaan, dengan tetap memperhatikan kepentingan oekerja yang bersangkutan.
2. Demi kepentingan penyelenggaraan pelayanan yang dinilai oleh yayasan mendesak, yayasan
berhak memanggil kembali unutk bekerja pekerja yang sedang menjalani istirahat
tahunan/istirahat pengganti hari libur/izin meninggalkan pekerjaan, dengan tetap
memperhatikan kepentingan oekerja yang bersangkutan.

BAB VI
PENGUPAHAN

Pasal 25
Landasan Asasi

Setiap pekerja berhak memperoleh upah yang memenuhi penghidupan yang layak bagi
kemanusiaan.

Pasal 26
Dasar Pengupahan Pekerja
1. Kepada setiap pekerja diberikan upah bulanan minimal sesuai dengan peraturan upah minimal
kota yang berlaku.
2. Upah pekerja meruakan imbalan atas kinerja nyata dari pekerja dan ditetapkan berdasarkan
atas bobot pekerjaan, kinerja/prestasi nyata, masa kerja, pendidikan yang diakui yayasan, dan
kompetensi dari pekerja yang bersangkutan.
3. Upah pekerja diterimakan pada tanggal 1 setiap bulannya dan apabila tanggal 1 jatuh pada hari
sabtu/minggu/libur resmi maka upah akan diterimakan pada hari sesudahnya.

Pasal 27
Komponen Upah

1. Upah pekerja terdiri atas:


a. Upah pokok
b. Upah fungsional
c. Tunjangan
d. Upah kinerja:
(1) Insentif kehadiran
(2) Insentif lembur
2. Upah tenaga medis diatur tersendiri dengan keputusan yayasan.

Pasal 28
Upah Pokok Pekerja

1. Daftar skala upah pokok pekerja ditetapkan dengan keputusan yayasan berdasarkan
kemampuan keuangan yayasan.
2. Daftar skala upah pokoh tercantum dalam lampiran 1.
3. Kepada pekerja yang dinaikkan golonga/ruangnya, diberikan upah pokok baru berdasarkan
golonga/ruang baru, yang segaris dengan masa kerja golongan/ruang lama.
4. Kepada pekerja yang diturunkan golonga/ruangnya, diberikan upah pokok baru berdasarkan
golonga/ruang baru, yang segaris dengan masa kerja golongan/ruang lama.
5. Pemberian upah pokok baru kepada pekerja ditetapkan dengan keputusan yayasan bersamaan
dengan penetapan golongan/ruang baru pekerja yang bersangkutan.
6. Peninjauan besarnya upah pokok dilakukan selambat-lambatnya 1 tahun sekali atau
menyesuaikan situasi dan kondisi social ekonomi masyarakat dan keuangan yayasan.

Pasal 29
Golongan/Ruang Pertama dan Tertinggi Pekerja

1. Dalam rangka pembinaan karier dan penetapan upah pokok pekerja, pekerja diberikan
golongan/ruang tertentu berdasarkan pendidikan/ijazah tertinggi yang diakui oleh yayasan dan
sesuai jenis/formasi pekerjaan yang tersedia.
2. Golongn/ruang pertama dan tertinggi untukpekerja sebagai berikut:
No Jenis Ketenagaan dan Ijazah Gol/ruang pertama Gol/ruang tertinggi
1 Tenaga kesehatan non-Medis/Medis
a. SPK/SAA/SMAK II/a III/b
b. DIII/sederajat II/c III/d
c. DIV/Sarjana Ilmu Terapan III/a IV/c
d. Sarjana III/a IV/c
e. Magister/sederajat III/b IV/c
f. Dokter/sederajat III/c IV/c
2 Tenaga non kesehatan
a. SLTP I/b II/c
b. SLTA II/a III/a
c. DIII/sederajat II/c III/d
d. S1 III/a IV/b
e. S2/sederajat III/b IV/c
f. S3/sederajat III/c IV/c

3. Pemberian golongan/ruang upah pertama kepada pekerja ditetapkan dengan keputusan


yayasan.

Pasal 30
Kenaikan golong/ruang pekerja
1. Kepada pekerja dapat diberikan kenaikan golongan/ruang reguler, apabila:
a. Telah 4 tahun berada pada golongan/ruang yang dimilikinya:
b. Setiap unsur konduiteny bernilai minimal 80 (skala 0-100) selama 3 tahu terakhir; dan
c. Tidak sedang terkena sanksi penundaan kenaikan golonga/ruang.
2. Apabila tidak dapat memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat 1 huruf b kenaikan
golongan/ruang pekerja yang bersangkutan ditunda tiap-tiap kali paling 1 tahun dan masa
penundaan tidak diperhitungkan sebgai masa kerja untuk kenaikan golongan/ruang berikutnya.
3. Kenaikan dan penundaan golongan/ruang pekerja ditetapkan dengan keputusan yayasan
berlaku sejak tanggal 1 April dan 1 Oktober setiap tahunnya.
4. Kenaikan golongan/ruang pada tanggal 1 April untuk pekerja yang terhitung melasanakan tugas
antara tanggal 1 November sampai 30 April, sedangkan Kenaikan golongan/ruang pada tanggal
1 Oktober untuk pekerja yang terhitung melasanakan tugas antara tanggal 1 Mei sampai 30
Oktober.
5. Kenaikan/penundaan kenaikan golongan/ruang upah pekerja ditetapkan dengan keputusan
yayasan.

Pasal 31
Kenaikan Golong/Ruang Sebagai Penyesuaian Ijazah Pekerja

1. Kepada pekerja yang telah menyelesaikan studi lanjut tetapi golongan/ruangnya masih berada
di bawah golongan/ruang yang sesuai dengan ijazah baru yang diperolehnya, dapat diberikan
kenaikan golongan/ruang sebagai penyesuaian ijazah dengan ketentuan sebgai berikut:
No Ijazah Baru Golongan/Ruang Baru
1 DIII II/c
2 DIV/ Sarjana Ilmu Terapan III/a
3 Sarjana III/a
4 Magister/master/sederajatnya III/b
5 Dokter/sederajatnya III/c

2. Kenaikan golongan/ruang sebagai penyesuaian ijazah dapat diberikan kepada pekerja apabila:
a. Sekurang-kurangnya telah 1 tahun berada pada golongan/ruang yang terakhir dan telah
melaksanakan tugas minimal 3 bulan setelah kembali dari studi lanjut.
b. Setiap unsur konduite bernilai minimal 80 (skala 0-100) untuk 3 bulan terakhir.
c. Tidak sedang terkena sanksi Penundaan kenaikan golonga/ruang.
d. Lulus penilaian peningkatan kompetensi studi lanjut.
3. Apabla persyaratan pada ayat 2 tidak terpenuhi maka kenaikan golonga/ruang pekerja yang
bersangkutan ditunda tiap-tiap kali 3 bulan.
4. Masa penundaan tidak diperhitungkan sebgai masa kerja untuk kenaikan golongan/ruang
berikutnya.

Pasal 32
Kenaikan Upah Pokok Berkala Pekerja

1. Kepada pekerja diberikan kenaikan upah pokok berkala apabila:


a. Telah mencapai masa kerja golongan tertentu untuk kenaikan upah pokok berkala
b. Setiap unsur konduite bernilai minimal 80 (skala 0-100) untuk 2 tahun terakhir.
c. Tidak sedang terkena sanksi Penundaan kenaikan golonga/ruang.
2. Apabla persyaratan pada ayat 2 tidak terpenuhi maka kenaikan golonga/ruang pekerja yang
bersangkutan ditunda tiap-tiap kali paling lama 1 tahun.
3. Kenaikan dan penundaan Upah Pokok Berkala Pekerja ditetapkan dengan keputusan yayasan
berlaku sejak tanggal 1 April dan 1 Oktober setiap tahunnya.
4. Kenaikan Upah Pokok Berkala Pekerja pada tanggal 1 April untuk pekerja yang terhitung
melasanakan tugas antara tanggal 1 November sampai 30 April, sedangkan Kenaikan Upah
Pokok Berkala Pekerja pada tanggal 1 Oktober untuk pekerja yang terhitung melasanakan tugas
antara tanggal 1 Mei sampai 30 Oktober.

Pasal 33
Upah Fungsional Pekerja

1. Upah fungsional pekerja diterimakan berdasarkan jenis pekerjaan, jenjang pendidikan, masa
kerja, serta kemampuan dan prestasi kerja yang dimiliki pekerja.
2. Upah fungsional pekerja terdiri dari 5 tingkat dengan waktu pertingkat yaitu:
a. Tingkat I : 3 tahun
b. Tingkat II : 4 tahun
c. Tingkat III : 4 tahun
d. Tingkat IV : 4 tahun
e. Tingkat V : 4 tahun
3. Kepada pekerja baru diangkat diterimakan upah fungsional pekerja tingkat I terhitung tanggal
pengangkatannya.
4. Upah fungsional pekerja dapat dianikan dari tingkat I ke tingkat II, apabila yang bersangkutan
memenuhi syarat sebagai berikut:
a. Selama 3 tahun menerima Upah fungsional pekerja tingkat I.
b. Lulus ujian dinas sesuai dengan jenis pekerjaannya.
c. Setiap unsur konduite bernilai minimal 80 (skala 0-100) selama 3 tahun terakhir.
d. Tidak sedang terkena sanksi penundaan kenaikan Upah fungsional pekerja.
5. Upah fungsional pekerja dapat dinaikan dari tingkat II ke tingkat III, tingkat III ke tingkat IV,
tingkat IV ke tingkat V, apabila yang berangkutan memenuhi syarat sebagai berikut:
a. Selama 4 tahun menerima Upah fungsional pekerja yang terakhir.
b. Lulus ujian dinas sesuai dengan jenis pekerjaannya.
c. Setiap unsur konduite bernilai minimal 80 (skala 0-100) selama 4 tahun terakhir.
d. Tidak sedang terkena sanksi penundaan kenaikan Upah fungsional pekerja.
6. Tata cara ujian dinas untuk kenaikan Upah fungsional pekerja akan diatur dengan keputusa
yayasan.
7. Apapbila persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat 4 dan 5 tidak terpenuhi maka kenaikan
Upah fungsional pekerja yang bersangkutan ditunda, tiap-tiap kali paling lama 1 tahundan
masa penundaan tidak dihitung untuk kenaikan Upah fungsional pekerja berikutnya.
8. Apabila nilai beberapa atau unsur konduite pekerja kurang dari 76 dalam satu periode penilaian
dan atau mengalami gangguan fisik dan atau mental, sehingga tidak mampu melaksanakan
tugas pekerjaan sesuai tuntutan tingkat Upah fungsional yang dimilikinya, maka Upah
fungsional pekerja yang bersangkutan diturunkan I tingkat, tiap-tiap kali paling lama 1 tahun,
masa penurunan tidak diperhitungkan untuk kenakikan tingkat Upah fungsional pekerja
berikutnya.
9. Upah fungsional pekerja tidak diterimakan apabila yang bersangkutan sedang menjalani atau
mengikuti studi lanjut selama lebih dari 6 bulan tanpa melaksanakan tugas pekerjaannya.
10. Besarnya Upah fungsional pekerja ditrtapkan dengan keputusan yayasan, dengan berdasarkan
kemampuan keuangan yayasan.
11. Daftar Upah fungsional pekerja yang berlaku terlampir dalam lampiran 2 peraturan perusahaan
ini.

Pasal 34
Insentif Kehadiran Pekerja

1. Insentif kehadiran pekerja diterimakan kepada pekerja berdasarkan golongan upah dan
kehadiran nyata masing-masing pekerja dalam sebulan melaksanakan tugas kedinasan, baik di
dlam maupun di luar unit karya.
2. Kepada pekerja yang menjalani istirahat tahunan, istirahat sakit karena kecelakaan kerja,
menjalani studi lanjut, dan melaksanakan tugas diterimakan Insentif kehadiran pekerja sebagai
perhargaan dari yayasan.
3. Besarnya Insentif kehadiran pekerja ditetpkan oleh yayasan dengan berdasarkan pada
kemampuan keuangan yayasan.
4. Daftar Insentif kehadiran pekerja yang berlaku terlampir dalam lampiran 3 peraturan
perusahaan ini.

Pasal 35
Insentif Lembur

1. Besarnya Insentif lembur ditetapkan dengan keputusan yayasan sesuai dengan perundang-
undangan yang berlaku dan kemampuan keuangan yayasan.
2. Daftar Insentif lembur yang berlaku saat ini tercantum pada lampiran 4 peraturan perusahaan
ini.

Pasal 36
Perjalanan Dinas
1. Sebagai bagian dari pelaksanaan tugas, pekerja yang ditugaskan untuk melakukan perjalanan
dinas dari tempat kerja ke tempat lain guna melaksanakan tuga kedinasan bagi kepentingan
yayasan/unit karya.
2. Yang dimaksud dengan perjalanan dinas adalah perjalanan yang dilakukan dalam rangka
penugasan dari yayasan atau pimpinan unit karya.
3. Kepada pekerja yang melakukan perjalanan dinas diberikan beberapa atau semua fasilitas
berupa: uang saku, biaya makan, penginapan, transport.
4. Ketentuan biaya perjalanan dinas diatur dengan keputusan yayasan.

Pasal 37
Pengupahan Pekerja yang Sedang Sakit

1. Jika pekerja menderita sakit akibat kecelakaan kerja dan hubungan dengan kerja sehingga tidak
dapat melakukan pekerjaannya selama 1 tahun terus menrus, pekerja yang bersangkutan
berhak mendapat upah dengan ketentuan sebagai berikut:
a. Selama 3 bulan pertama sebesar 100% dari upah pokok.
b. Selama 3 bulan kedua sebesar 90% dari upah pokok.
c. Selama 3 bulan ketiga sebesar 75 % dari upah pokok.
d. Selama 3 bulan keempat sebesar 60% dari upah pokok.
2. Jika pekerja menderita sakit bukan akibat kecelakaan kerja dan tidak berhubungan dengan
kerja sehingga tidak dapat melakukan pekerjaannya selama 1 tahun terus menrus, pekerja yang
bersangkutan berhak mendapat upah dengan ketentuan sebagai berikut:
a. Selama 3 bulan pertama sebesar 100% dari upah pokok.
b. Selama 3 bulan kedua sebesar 75% dari upah pokok.
c. Selama 3 bulan ketiga sebesar 50 % dari upah pokok.
d. Selama 3 bulan keempat sebesar 25% dari upah pokok.

Pasal 38
Upah Pekerja Selama Persiapan Masa Pensiun

Kepada pekerka yang sedang menjalani persiapan masa pensiun diterimakan upah pokok dan upah
fungsional.
Pasal 39
Upah Pekerja Tidak Dibayar

1. Upah pekerja tidak dibayar apabila pekerja tidak melakukan pekerjaan yang diberikan oleh
yayasan.
2. Ketentuan sebagaimana dalam ayat 1 tidak berlaku dan yayasan wajib memebayar upah
apabila:
a. Pekerja sakit sehingga tidak dapat melakukan pekerjaan.
b. Pekerja perempuan yang sakit pada hari pertama dan kedua masa haid sehingga tidak dapat
melakukan pekerjaan.
c. Pekerja menikah, menikahkan, mngkhitankan, melahirkan, istri melahirkan, mengalami
gugur kandungan, suami/isteri/anak, menantu/orang tua/mertua/ anggota keluarga dalam
satu rumah meninggal dunia.
d. Pekerja tidak dapat menjalankan pekerjaan karena sedang menjalankan kewajiban terhadap
Negara.
e. Pekerja tik dapat melakukan pekerjaannya karena menjalankan ibadah yang diperintahkan
agamanya.
f. Pekerja bersedia melakukan pekerjaan yang telah dijanjikan, tetapi yayasan tidak
memperkerjakan, baik karena kesalahan sendiri maupun karena halangan yang seharusnya
bisa dihindari oleh yayasan.
g. Pekerja melaksanakan hak istirahat.
h. Pekerja melakukan tugas unit karya/yayasan/tugas belajar.

Pasal 40
Pajak Penghasilan Pekerja

Pajak penghasilan (PPh pasal 21) atas upah pekerja ditanggung oleh pekerja yang bersangkutan
sepenuhnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

BAB V
BPJS/KESEJAHTERAAN SOSIAL
Pasal 41
BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan

1. Dalam rangka memenuhi ketentuan perundang-undangan maka seluruh pekerj wajib


didaftarkan sebagai peserta Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
2. Program JKN sebagaimana dimaksud pada ayat 1 diselenggrakan oleh Badan Penyelenggara
Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS) Kesehatan.
3. Yayasan wajib mendaftarakan pekerja dan anggota kelaurganya yaitu suami/isteri dan anak
sebagai peserta BPJS Kesehatan, sesuai dengan ketentuan yag berlaku.

PASAL 42
PEMBAYARAN IURAN

1. Pembayaran iuran kepesertaan BPJS Kesehatan ditanggung bersama pekerja dan yayasan.
2. Yayasan wajib memungut iuran yang menjadi beban pekerja dengan memotong penghasilan
pekerja setiap bulan dan menyetorkannya ke BPJS.
3. Yayasan wajib membayar dan menyetorkan iuran yang emnajdi tanggung jawab yayasan
kepada BPJS Kesehatan.
4. Besarnya persentase iuran yang menjadi ebban pekerja dn yayasan disesuaikan dengan
peraturan perundangan yang berlaku.
5. Iuran diperhitungkan dari upah pokok dan upah fungsional pekerja.

Pasal 43
Pelayanan Rawat Inap Bagi Pekerja

1. Pekerja golongan I dan II menempati kelas II, golongan III menempati kelas I, dan golongan
IV menempati kelas utama.
2. Pekerja yang memangku jabatan kepala bagian berhak menempati kelas utama.
3. Hak penempatan kelas ruang perawatan sebagaimana dimaksud pada ayat 1 berlaku pula untuk
anggota keluarga yang didaftarkan sebagai peserta BPJS Kesehatan.
4. Apabila bagi seorang pekerja belum tersedia ruang perawatn sesuai ketentuan sebagaimana
dimaksud pada ayat 1, maka pekerja yang bersangkutan menempati ruang perawatan kelas
lebih rendah satu tingkat atau lebih tinggi satu tingkat sesuai denga ketersediaan kamar sampai
tersedia kamar perawatan dengan kelas yang sesuai baginya.
5. Pekerja yang atas kehendaknya sendiri menempati ruangan perawatan kelas lebih ringgi
daripada ruangan perawatan sesuai ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat 1 dan ayat 2,
wajib membayar selisih biaya sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku secara tunai.

Pasal 44
Pelayanan Rawat Jalan Pekerja

1. Pekerja yang membutuhkan pelayanan rawat jalan dapat dilakukan di unit rawat jalan rumah
sakit dengan prosedur dan tata cara yang berlaku sesuai peraturan perundangan.
2. Pekerja yang membutuhkan pelayanan dokter spesialis, maka wajib melakukan pemeriksaan
sesuai prosedur BPJS Kesehatan.

Pasal 45
Pelayanan Gawat Darurat Bagi Pekerja

Pekerja dan atau anggota keluarga yang sakit dan memerlukan pelayanan gawat darurat harus
mengikuti ketentuan pelayanan emergensi sesuai peraturan BPJS Kesehatan.

Pasal 46
JPK Berkaitan dengan Kehamilan dan Persalinan Pekerja Tetap

Pekerja dan atau anggota keluarga yang melakukan pemeriksaan kehamilan dan persalinan harus
mengikuti ketentuan pelayanan sesuai peraturan BPJS Kesehatan.

Pasal 47
Pengobatan Canggih, Pengobatan Kosmetik, dan Pengobatan dengan Alat Bagi Pekerja

Pekerja yang memerlukan Pengobatan canggih, pengobatan kosmetik, dan pengoabtan dengan alat
mengikuti ketentuan pelayanan sesuai peraturan BPJS Kesehatan.
BAB VI
KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

Pasal 50
Manfaat Syarat-Syarat Keselamatan Kerja

1. Sesuai peraturan perundanganditertapkan syarat keselamatan kerja untuk:


a. Mencegah dan mengurangi kecelakaan.
b. Mencegah, mengurangi, dan memadamkan kebakaran.
c. Mencegah dan mengurangi bahaya ledakan.
d. Memberikan kesempatan atau jalan penyelamatan diri pada waktu kebakaran ata
kejadian-kejasian lain yang berbahaya.
e. Memberikan pertolongan pada kecelakaan.
f. Memberikan alat pelindung diri pada pekerja.
g. Mencegah dan mengendalikan timbulnya atau perluasan suhu, kelemaban, debu,
kotoran, asap, uap, gas, hembusan, angin, cuaca, sinar radiasi, suara, dan getaran.
h. Mencegah dan mengendalikan timbulnya penyakit akibat kerja, baik kerja fisik
maupun psikis, peracun, infeksi, dan penularan.
i. Memperoleh penerangan yang cukup dan sesuai.
j. Menyelenggarakan kelembaban dan suhu yang baik.
k. Menyelenggarakan penyegaran udara yan cukup.
l. Memelihara kebersihan, kesehatan, dan ketertiban.
m. Memperoleh keserasian antara pekerja, alat, lingkungan, cara, dan proses kerjanya.
n. Mengamankan dan memelihara segala jenis bangunan.
o. Mengamankan dan mempelancar pekerjaan bongkar muat, perlakuan, dan
penyimpanan barang.
p. Mencegah terkena aliran listrik yang berbahaya.
q. Menyesuaikan dan menyempurnakan pengamanan pekerja dari pekerjaan yang bahaya
kecelakaannya menjadi tinggi.
2. Syarat pada ayat 1 dapat berubah sesuai peraturan perundangan, perkembangan ilmu
pengetahuan, serta pendapat baru yang berlaku di kemuadian hari.
Pasal 51
Pengawasan
Yayasa berkewajiban melakukan pengawasan uumu terhadap pelaksanaan keselamatan dan
kesehatan kerja.

Pasal 52
Pemeriksaan Kesehatan

1. Yayasan wajib memeriksakan kesehatan jasmanidan mental serat kemampuan fisik calon
pekerja yang akan diterima dan pekerja akan dipindahkan sesuai dengan sifat-sifat pekerjan
yang akan diberikan kepdanya.
2. Yayasan wajib melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala bagi semua pekerja kepada
dokter yang ditunjuk oleh yayasan sekurang-kurangnya 1 tahun sekali.
3. Jenis pemeriksaan kesehatan berkala akan diatur dengan keputusan yayasan.

Pasal 53
Pembinaan Pekerja

1. Yayasan wajib menunjukkan dan menjelaskan kepada pekerja baru tentang:


a. Kondisi-kondisi atau bahaya-bahaya yang akan timbul di tempat kerja.
b. Semua pengamanan dan alat-alat perlindungan yang diharuskan di tempat kerja.
c. Alat-alat perlindungan diri bagi pekerja yang bersangkutan.
d. Cara-cara dan sikap aman bagi perkerja dalam melaksanakan tugas.
2. Yayasan hanya dapat mempekerjakan pekerja setelah yakin bahwa pekerja yang bersangkutan
memahami syarat-syarat sebagimana dimaksud pada ayat 1.
3. Yayasan wajib memberikan pembinaan bagi semua pekerja dalam rangka pencegahan
kecelakaan serta peningkatan keselamatan dan kesehatan kerja.
4. Yayasan wajib memnuhi dan menaati semua syarat dan ketentuan yang berlaku bagi usaha dan
tempat kerja yang dijalankan.

Pasal 54
Kewajiban Pekerja di Tempat Kerja
Setiap pekerja diwajibkan untuk menaati semua petunjuk keselmatan kerja dan memaki alat-alat
perlindungan diri yang diwajibkan.

Pasal 55
Kewajiban Yayasan

Dalam rangka menunjang program keselamatan dan kesehatan kerja, maka yayasan wajib:
a. Menemparkan di tempat kerja semua persyaratan kerja yang diwajibkan undang-undang
keselamatan dan semua peraturan pelaksanaannya yang berlaku bagi tempat kerja yang
besangkutan pada tempat yang mudah dilihat dan terbaca dengan jelas.
b. Memasang rambu-rambu keselmatan kerja yang diwajibkan.
c. Menyediakan alat pelindung diri disertai perauran pemakaiannya.

BAB VII
PROGRAM BPJS KETENAGAKERJAAN, PAKAIAN DINAS

Pasal 56
BPJS Ketenagakerjaan Pekerja

1. BPJS ketenagakerjaan adalah program jaminan social tenaga kerja yang diwajibkan oleh
peraturan perundang-undangan.
2. Setiap pekerja tetap diyayasan diikutsertakan dalam program BPJS ketenagakerjaan.
3. Program BPJS ketenagakerjaan yang diikuti oleh pekerja tetap terdiri dari:
a. Jaminan kecelakaan kerja.
b. Jaminan kematian
c. Jaminan hari tua
d. Jaminan pensiun.
4. Besarnya iuran dan sistem pembayaran iuran serta sistem pemberian santunan program
sebagaimana dimaksud pada ayat 3 disesuaikan dengan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.

Pasal 57
Pakaian Dinas Pekerja

1. Kepada setiap pekerja tetap diterimakan pakaian dinas lengkap dengan atribut sesuai dengan
bidang pekerjaan masing-masing.
2. Pakaian dinas diterimakan secara berkala kepada setiap pekerja tetap dengan ketentuan sebagai
berikut:
a. Pada waktu diangkat sebagai pekerja tetap diterimakan sejumlah 3 stel.
b. Setiap tahun berikutnya diterimakan 2 stel.
3. Pakaian dinas diterimakan dalam bentuk jadi (siap pakai).

Pasal 58
Tunjangan Hari Raya Keagamaan Bagi Pekerja

Tunjangan hari raya keagamaan bagi pekerja diberikan setahun sekali sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.

Pasal 59
Uang Duka Bagi Pekerja

1. Sebagai wujud solidaritas terhadap pekerja atau anggota keluargaya yang meninggal dunia
yayasan memberikan uang duka, yang saat ini jumlahnya sebagai berikut:
a. Apabila pekerja meninggal dunia uang duka dibeikan pada anggota keluarga/ahli waris
yang jumlahnya disesuaikan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dam
minimal sebesar Rp. 5.000.000,00.
b. Rp. 4.000.000,00, apabila suami/isteri dari pekerja tetap meninggal dunia.
c. Rp. 3.000.000,00, apabila anak kandung/sah masih menjadi tanggungan dari pekerja tetap
meninggal dunia.
2. Dengan persetujuan ahli waris uang duka dapat dibeikan dalam wujud barang.

BAB VIII
PROGRAM PENGEMBANGAN PEKERJA
Pasal 60
Program Pengembangan Pekerja

1. Setiap pekerja berhak mendaparkan dan atau meningkatkan dan atau mengembangkan
ketrampilan dan atau keahlian kerja sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya, serta
sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan yayasan.
2. Pengembangan Pekerja dapat berbentuk studi lanjut, kursus-kursus, pelatihan-pelatihan, dan
bimbingan rohani.
3. Syarat-syarat dan prosedur Pengembangan Pekerja diatur dengan keputusan yayasan dan
dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan unit karya atau bagian terkait.
4. Yayasan berkewajiban untuk melaksanakan program pengembangan seperti dimaksud pada
ayat 1 bagi pekerja.

BAB IX
KEWAJIBAN, LARANGAN, DAN SANKSI PEKERJA

Pasal 61
Kewajiban Pekerja

Setiap pekerja wajib:


a. Selalu menjunjung tinggi falsafah, visi, misi, tujuan, dan nama baik yayasanbeserta unit karya
yang dimiliki yayasanmaupun dalam kehidupan sehari-hari di dalam maupun di luar lngkungan
yayasan.
b. Selalu menjunjung tinggi, mematuhi, dan mengamalkan prinsip-prinsip moral dengan
mengutamakan dan memperjuangkan nilai hak hidup di dalam melaksanakan tugas/kewajiban
di lingkungan yayasan.
c. Menjaga dan memegang teguh rahasia yayasan dan unit karya.
d. Menjaga dan memegang teguh rahasia jabatan sesuai dengan bidang tugas/pekerjaan masing-
masing.
e. Selalu menjunjung tinggi, mematuhi, dan mengamalkan kode etik profesi, sesuai profesinya
masing-masing
f. Patuh/taat, berdisisplin, bersopan santun, beritikad baik, jujur, dan penuh rasa tanggung jawab
dalam melaksanakan tugas/kewajiban di lingkungan yayasan/unit karya.
g. Bekerja dengan giat dan rajin, serta selalu memperhatikan dan mematuhi semua tata tertib,
peraturan, dan tata kerja yang berlaku di lingkungan yayasan.
h. Memelihara dan mengenakan pakaian dinas beserta kartu identitas dan atribut lainnya secara
benar dan lengkap pada waktu dinas.
i. Menjaga dan memelihara kesehatan pribadi, dengan berperilaku hidup sehat dan tidak
melakukan hal-hal yang menganggu dan atau mengancam kesehatannya serta kesehatan
lingkungan kerja.

Pasal 62
Larangan Bagi Pekerja

Setiap pekerja dilarang untuk:


a. Melakukan usaha yang merugikan yayasan baik kerugian moral maupun materiil, dan
finansial.
b. Melakukan usaha atau tindakan di bidang ideology/politik/agama dan lain-lain, yang berakibat
menganggu ketenang/ketentraman kerja.
c. Melakukan usaha atau tindakan korupsi, kolusi, nepotisme, dan manipulasi terhadap
peraturan/kesempatan yang ada, termasuk tindakan pencurian, baik untuk kepentingan sendiri
amaupun kelompok.
d. Melakukan perjudian, tindakan asusila, dan atau tindakan kriminal lainnya baik selama
melaksanakan tugas maupun dalam kehidupan sehari-hari.
e. Bertindak sewenang-wenag baik atasan terhadap bawahan atau sebaliknya, maupun terhadap
sesame pekerja.
f. Meninggalkan tempat kerja pada jam kerja dan atau tidak masuk kerja tanpa izin dari yayasan.
g. Merokok dilingkungan tempat kerja.
h. Menyebarluaskan informasi yang tidak benar atau bersifar provokatif atau pencemaran nama
baik dengan cara papaun termasuk melalui media.
i. Menyebarkan rahasia medis/rahasia pasien, dan rahasia jabatan.

Pasal 63
Sanksi untuk Pekerja

1. Kepada pekerja yang melakukan pelanggaran, yaitu tidak memenuhi kewajiban sebagaimana
dimaksud dalam pasal 61 dan atau tidak emmatuhi larangan sebagaimana dimaksud dalam
pasal 62 dikenai sanksi.
2. Sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat 1 dapat berupa:
a. Pemberian surat tegutan/peringatan.
b. Penundaan kenaikan upah berkala selama 1 tahun.
c. Penundaan ujian kenaikan upah fungsional.
d. Penurunan golongn/ruang upah pokok.
e. Pemutusan hubungan kerja yang didahului dengan skorsing selama menunggu keputusan
dari Pengadilan Penyelesai Hubungan Industrial (PPHI), dengan menerima upah pokok
sebesar 75%.
f. Peniadaan jaminan social untuk waktu tertentu dan atau kasus tertentu.
g. Bentuk lain yang akan ditetapkan kemudian oleh yayasan.
3. Tata cara pengenaan sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat 2 akan diatur lebih lanjut dalam
peraturan pelaksanaan yang akan ditetapkan yayasan.
4. Kepada pekerja yang dengan sengaja melanggar larangan sebagaimana dimaksud dalam pasal
62 huruf f dikenai sanksi berupa:
a. Peringatan tertulis.
b. Pemberian surat teguran tingkat I apabila tidak masuk kerja selama 1 hari, pemberian surat
teguran tingkat II apabila tidak masuk kerja selama 2 atau 3 hari kerja terus menerus tanpa
izin, pemberian surat teguran tingkat III (terakhir) apabila tidak masuk kerja selama 4 hari
kerja terus menerus tanpa izin.
c. Dalam hal pekerja tidak masuk selama 5 hari berturut-turut tanpa keterangan tertulis dengan
bukti sah dipanggil yayasan tetapi tidak datang dan tidak menyampaikan alasan yang dapat
dipertanggungjawabkan, pekerja bersangkutan demi hukum dinyatakan telah memutuskan
hubungan kerja.

BAB X
PEMUTUSAN HUBUNGAN KERJA PEKERJA
Pasal 64
Alasan Pemutusan Hubungan Kerja Pekerja

Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) antara pekerja dan yayasan dapat terjadi karena salah satu dari
alasan sebagai berikut:
a. Pekerja mengundurkan diri dari yayasan
b. Pekerja memasuki usia pensiun.
c. Pekerja meninggal dunia.
d. Pekerja menderita sakit selama 1 tahun berturut-tururt.
e. Pekerja tidak emmenuhi kewajiban dan atau melanggar larangan.
f. Pekerja melakukan tindak criminal dan atau pelanggraan berat menurut peraturan
perundangan yang berlaku.
g. Alasan khusus demi kelangsungan hidup yayasan antara lain:
1) Adanya perubahan struktur organisasi, sehingga terjadi pengurangan jumla tenaga
kerja.
2) Yayasan bubar/membubarkan diri serta menghentikan kegiatan.

Pasal 65
PHK karena Pekerja Mengundurkan Diri

1. Setiap pekerja yang berkehendak mengundurkan diri/memutuskan hubungan kerja dengan


yayasan, wajib mengajukan permohonan pengunduran diri secara tertulis kepada yayasan
paling lambat 1 bulan sebelum waktu pengunduran diri yang dikehendaki oleh pekerja yang
bersagkutan dan wajib masuk kerja sampai tanggal pengunduran diri yang dikehendaki.
2. Pekerja sebagaimana dimaksud pada ayat 1 diputuskan hubungan kerjanya dengan yayasan,
dngan surat eputusan yayasan setelah pekerja yang bersagkutan menyelesaikan seluruh
kewajiban dengan yayasan.
3. Kepada pekerja yang memutuskan hubungan kerja tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana
dimaksud pada ayat 1, tidak diberikan surat pengalaman kerja dan uang pisah.
4. Pekerja tetap yang mengundurkan diri atas kemauan sendiri dengan cara baik-baik
sebagaimana dimaksud pada ayat 1 dan tidak dalam ikatan dinas dengan yayasan , berhak atas
uang penganti hak yang seharusnya diterima sesuai peraturan penundang-undangan yang
berlaku, dan jika tidak sedang memangku jabatan manajerial/structural berhak atas uang pisah
yang besarnya ditentukan sebagai berikut:
a. Untuk pekerja tetap yang bermasa kerja efektif 3 tahun bertuturt-turut dihitung sejak
diangkat menjadi pekerja tetap, sebesar 2 kali upah pokok.
b. Untuk pekerja tetap yang bermasa kerja efektif lebih dari 3 tahun bertuturt-turut dengan
pembulatan ke bawah dihitung sejak diangkat menjadi pekerja tetap, sebesar 2 kali upah
pokok, ditambah ½ kali upah pokok setiap 1 tahun tambahan masa kerja di atas 3 tahun
dan maksimal 10 tahun.

Pasal 66
PHK Karena Pekerja Memasuki Batas Usia Pensiun

1. Pekerja tetap yang memasuki batas usia pensiun, demi hukum diputuskan dengan hormat
hubungan kerjanya dengan yayasan.
2. Pekerja tetap memasuki usia pensiunnterhitung tanggal 1 bulan berikutnya setlah hari ulang
tahun yang ke 58.
3. Batas udia pensiun doker tetap dapat diperpanjang sampai 60 tahun, apabila memenuhi syarat
sebagi berikut:
a. Memiliki keahlian dan pengalaman medic yang sangat dibutuhkan oleh yayasan.
b. Memilki kinerja baik.
c. Memiliki moral dan integritas yang baik.
d. Memiliki Surat Izin Pratik (SIP) yang berlaku.
e. Sehat fisik dan mental dibuktikan dengan surat keterangan dokter.
4. Kepada pekerja yang akan menjalani masa pensiun diberikan kesempatan menjalani masa
persiapan pensiun(MPP) selama 2 bulan.
5. PHK karena memasuki masa pensiun untuk pekerja tetap ditetapkan dengan keputusan
yayasan, yang diterbitkan dan diberikan selamba-lambatanya 3 bulan sebelum pekerja tetap
yang bersangkutan mencapai batas usia pensiun.

Pasal 67
PHK Karena Pekerja Meninggal Dunia
1. Pekerja tetap yang meninggal dunia dengn sendirinya putus hubungan kerjanya dengan
yayasan.
2. Dalam hal putus hubungan kerja karena meninggal dunia maka yayasan wajib membayar
santunan kepada ahli waris yang sah, berupa uang pesangon, dan uang penganti hak dengan
jumlah sesuai pertauran perundang-undangan yang berlaku.

Pasal 68
PHK Karena Pekerja Tetap Menderita Sakit Selama 1 Tahun

1. Pekerja tetap yang menderita sakit selama 1 tahun secara terus menerus dan setelah diperiksa
oleh tim penguji kesehatan yang ditunjuk yayasan yang bersangkutan tidak mempunyai
harapan kembbali mampu melaksanakan segala tugas dan kewajibannya sesuai dengan profesi
yang disandangnya dalam waktu 3 bulan sesudahnya, diputuskan hubungan kerjanya dengan
yayasan dengan suatu pemutusan hubungan kerja dengan hormat, dan berhak mendapatkan
uang pesangon, serta uang penganti hak dengan jumlah sesuai pertauran perundang-undangan
yang berlaku.
2. Pekerja tetap yang menderita sakit berkepanjangan dan atau mengalami cacat akibat
kecelakaan kerja dan tidak dapat melakukan pekerjaannya setelah melampaui batas 12 bulan,
dapat mengajukan pemotongan hubungan kerja dan diberikan uang pesangon, serta uang
penganti hak dengan jumlah sesuai pertauran perundang-undangan yang berlaku atau
mengajukan pensiun karena alasan kesehatan jika memenuhi persyaratan BPJS jaminan hari
tua.

Pasal 69
PHK Pekerja Tetap Melakukan Pelanggran Peraturan

1. Yayasan dan pekerja baik bersama-sama atai sendiri-sendrir wajib melakukan upaya-upaya
nyata secara optimal untuk mencegah terjadinya PHK antara pekerja tetap dengan yayasan,
sehingga:
a. Yayasan terselenggara dalam Pratik manajemen yang sehat, efisien, dan efektif serta
pelayanan semakin maju dan berkembang.
b. Masing-masing pekerja memenuhi kewajiban, tidak melakukan pelanggaran, dan ikut
memajukan yayasan.
c. Kesejateraan pekerja berkembang seiring perkembangan yayasan tanpa mengabaikan
semangat belarasa pada masyarakat.
2. Apabila telah dilakukan berbagai upaya namun PHK seorang pekerja tetap tidak dapat
dihindari maka yayasan berhak memutuskan hubungan kerja dengan status pemutusan
hubungan kerja tidak terhormat, dengan kriteria sebagai berikut
a. Pekerja yang bersangkutan telah terbukti tidak mematuhi dan atau melanggar ketentuan
sebagaimana dimaksud dalan pasal 61 dan pasal 62 , dan kepadanya sudah diberikan
peringatan baik secara lisan maupun tertulis.
b. Pekerja yang bersangkutan telah melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana
dimaksud dalan pasal 61 dan pasal 62 yan dinilai berat oleh yayasan, dengan sifat PHK
secara langsung, dengan pemberitahuan secara lisan dalam waktu dua kali dua puluh empat
jam setelah kejadian pelanggaran.
3. Yayasan berhak memutuskan hubungan kerja dengan pekerja yang terbukti melakukan tindak
criminal dan atau melakukan pelangaran berat menurut peraturan perundang-undangan,
dengan status PHK tidak terhormat.

Pasal 70
PHK Pekerja Karena Alasan Khusus

1. Demi kelangsungan hidup yayasan, yayasan dapat melakukan pemutusan hubungan kerja
seorang pekerja, dengan status PHK dengan terhormat karena lasan khusus antara lain:
a. Adanya perubahan struktur organisasi, sehingga terjadi pengurangan jumla tenaga kerja.
b. Yayasan bubar/membubarkan diri serta menghentikan kegiatan
2. Pekerja tetap yang mengalami PHK sebagaimana dimaksud pada ayat 1 berhak menerima uang
pesangon, serta uang penganti hak dengan jumlah sesuai pertauran perundang-undangan yang
berlaku.

BAB XI
PROGRAM PENSIUN PEKERJA TETAP
Pasal 71
Keikutsertaan dalam Program Pensiun BPJS Ketenagakerjaan Pekerja Tetap

1. Yayasan wajib mengikutsertaan pekerja dalam program pensiun BPJS ketenagakerjaan


dengan menjadikannya peserta.
2. Setiap pekerja tetap yang menjadi peserta BPJS ketenagakerjaan waib tunduk dan mematuhi
ketentuan-ketentuan dan atau peraturan yang berlaku di BPJS ketenagakerjaan.
3. Kepesertaan jaminan pensiunminimal 15 tahun sebelum pensiun akan mndapat manfaat
pensiun bulanan, jika kurang dari 15 tahun akan dikembalikan seluruh iuran beserta
pengembangannya yang diberikan sekaligus.

Pasal 72
Iuran Pensiun

1. Besarnya iuran pensiun yang harus dibayar oleh pekerja tetap sebagai peserta program pensiun
seuai denga peraturan yang berlaku di BPJS ketenagakerjaan.
2. Yayasan membantu pekerja tetap dalam hal membayar iuran pensiun sesuai dengan
ketentuan/aturan yang berlaku di BPJS ketenagakerjaan.

Pasal 73
Uang Pensiun

1. Uang pensiun yang diterimkan BPJS ketenagakerjaan bagi peserta program pensiun.
2. Tata cara penerimaan uang pensiun akan iatur tersendiri oleh yayasan dengan memperhatikan
ketentuan/peraturan yang berlaku di BPJS ketenagakerjaan.

Pasal 74
Tanggung Jawab Dalam Hal Program Pensiun

Dalam keadaan apa pun dan bagaimanapun yayasan tidak berkewajiban untuk mengambil alih
tanggung jawab dan kewajiban BPJS ketenagakerjaan terhadap peserta program pensiun, baik
sebagian maupun keseluruhan.
BAB XII
PERPINDAHAN TEMPAT KERJA DAN ATAU ALIH PEKERJAAN

Pasal 75

1. Demi kelancaran dan kelangsungan penyelenggaraan pelayanan yayasan, dan sebagai salah
satu upaya memperluas pengalaman dan mengembangkan pekerja, maka pada setiap pekerja
dapat dilakukan perpindahan tempat kerja dana tau pengalian pekerjaan dengan tidak
merugikan pekerja yang bersangktan.
2. Setiap pekerja wajib melaksanakan perpindahan dan atau pengalihan pekerjaan yang
ditetapkan oleh yayasan sebagaimana dimaksud pada ayat 1.
3. Perpindahan pekerja dapat dilakukan bila sudah dibicarakan dengan manajerial terkait pekerja
bersangkutan.

BAB XIII
KOMUNIKASI ANTARA PEKERJA DENGAN YAYASAN

Pasal 76
Setiap pekerja diberikan kesempatan untuk memberikan masukan/sumbang saran/laporan kejadian
yang berkenaan dengan penyelenggraaan pelayanan kepada yayasan atau pimpinan unit karya,
baik secara langsung, lisan, maupun tertulis.

BAB IX
PENUTUP

Pasal 77
Kebijakan Tertentu di Luar Peraturan Perusahaan

Demi kelancaran dan kelangsungan penyelenggaraan pelayanan maka yayasan menetapkan


kebijakan tertentu tentang masalah-masalah pekerja, dengan ketentuan tidak bertentangan dengan
peraturan perusahaan ini dan peraturan perundang-undangan.
Pasal 78
Pelimpahan Wewenang untuk Mengatur dan Mengawasi Pelaksaan Peraturan Perusahaan

1. Yayasan memberikan wewenang kepada pimpinan unit karya untuk menyusun peraturan
pelaksanaan yang diperlukan, supaya dapat berlaku sebagaimana mestinya di unit karya.
2. Peraturan pelaksanaan yang disusun oleh pimpinan unit karya tidak boleh bertentangan dengan
peraturan perusahaan ini.

Pasal 79
Penyelesaian Masalah

1. Setiap masalah yang timbul dalam pelaksanaan peraturan perusahaan ini akan diselesaikan
dengan cara musyawarah dilandasi sikap saling menghormati, saling mempercayai, jujur, dan
rasa tanggung jawab bersama.
2. Apabila masalah pekerja dengan yayasan tidak dapat diselesaikan secara musyawarah, maka
penyelesaian masalah dilaksanakan berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku.

Pasal 80
Berlakunya Peraturan Perusahaan

Peraturan perusahaan ini berlaku selama dua tahun mulai tanggal ditetapkan tanggal.................
sampai tanggal ..................