Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNOLOGI PENGOLAHAN REMPAH DAN ATSIRI


ACARA II
PENGOLAHAN REMPAH AWETAN 2 “PENEPUNGAN”

Disusun oleh :
Kelompok 8

Anggota:
1. Kelfindo Alfani R. H3117044
2. Kusnul Latifah H3117049
3. Muhammad Deri N. H3117054
4. Nuranisa H3117059
5. Reni Rahayu H3117065
6. Yuliana Saraswati H3117081

PROGRAM STUDI DIII TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2019
ACARA II
PENGOLAHAN REMPAH AWETAN 2 “PENEPUNGAN”
A. Tujuan
Tujuan praktikum Teknologi Pengolahan Rempah dan Atsiri acara II
“Pengolahan Rempah Awetan 2 (Penepungan)” sebagai berikut.
1. Mahasiswa mengetahui dan mengenal pengolahan rempah awetan
dengan cara penepungan.
2. Mahasiswa dapat menghitung rendemen rempah bubuk.
3. Mahasiswa mengamati rempah bubuk hasil olahan secara visual.
B. Tinjauan Pustaka
Penepungan merupakan salah satu proses lanjut pada pengolahan
komoditas biofarmaka. Baik berbahan dasar rimpang, kulit daun maupun
daun. Penepungan termasuk upaya pengecilan ukuran hingga partikelnya
berbentuk bubuk. Tepung atau bubuk dapat dikonsumsi langsung dengan cara
diseduh, dibentuk pil atau dimasukkan ke dalam kapsul. Sebagai contoh
kunyit putih dalam bentuk tepung dan kapsul telah diproduksi untuk
pencegahan dan pengobatan kanker (Paramawati, 2008).
Penepungan adalah unit operasi yang banyak digunakan dalam
makanan dan industrifarmasi. Bahan baku untuk produk makanan yang
diproduksi dipanggang, minuman, makanan ringan, dan komponen makanan.
Larutan fraksi serat dengan ukuran partikel lebih besar dari 50pM Dampak
negatif kemampuan untuk memproduksi, stabilitas produk jadi. Ada
kebutuhan untuk wawasan yang lebih mendasar mengenai bagaimana bahan
yang dipakai (Vicenzi, 2009).
Cara-cara penepungan meliputi cara kering, semikering, dan basah
serta jenis penggilingan mempengaruhi sifat-sifat tepung yang dihasilkan.
Penggilingan dengan hammer mill menghasilkan tepung dengan partikel
lembut, penggilingan dengan penggerus atrisi menghasilkan partikel kasar.
Pengujian dengan mikroskop elektron menunjukkan bahwa granula-granula
pati memisah atau mengelompok pada hasil penggilingan kering dan
semikering. Tepung-tepung beras yang dihasilkan juga memilikipernedaan
komposisi kimiawi dan sifat termal setelah penggilingan (Haryadi, 2008).
Penepungan dengan stampmill lebih banyak menurunkan kalsium
oksalat dari tepung porang dibanding dengan alat yang lainnya. Penelitian
menggunakan metode penepungan adalah penumbukan atau menekan,
kemudian fraksinasi menggunakan metode hembusan untuk menghasilkan
glukoman yang murni. Metode hembusan menggunakan aliran udara yang
bergerak untuk memusnahkan pengotor dari tepung yang bergerak untuk
memusnahkan pengotor dari tepung berdasarkan perbedaan massa, densitas
dan ukuran partikel (Faridah dkk., 2012).
Sereh dapur adalah rumput-rumputan yang dimanfaatkan secara luas
sebagai rempah-rempah bumbu dapur. Saat ini, penggunaannya sebagai
rempah-rempah meluas dan dapat dijumpai di Thailand, Vietnam, Malaysia,
Kamboja dan Indonesia. Di masyarakat, sereh dapur juga dimanfaatkan
sebagai obat, meskipun instensitasnya tidak seperti pemanfaatan sereh
sebagai rempah. Penggunaan sereh dapur sebagai rempah dan herba
berkhasiat obat juga dijumpai pada masyarakat yang tinggal di Afrika dan
Amerika. Sereh adalah salah satu rempah penting di Indonesia (Hamid dan
Djisbar, 1989).
Sereh adalah anggota dari family Poaceae. Tumbuhan ini diduga asli
dari kawasan India Selatan dan Sri Lanka. Sereh tumbuh dalam rumpun yang
yang dapat tumbuh lebat, terutama dalam tanah berpasir subur di kawasan
tropik dengan curah hujan yang sedang-tinggi. Tanah berpasir, gembur, dan
tidak keras sangat diperlukan oleh sereh dalam pertumbuhan dan perkembang
biakan vegetatifnya. Sereh dapat tumbuh pada daerah yang kurang subur
dalam lingkungan tropik. Pada daerah dengan curah hujan yang cukup sampai
tinggi, sereh dapat dipanen beberapa kali dalam setahun. Daun sereh
menyerupai daun rumputdengan warna hijau terang dengan pingir daun
tajam. Sereh tumbuh membentuk rumpun yang rapat, tumbuh dari batang
rimpang yang ada di dalam tanah dan dapat tumbuh mencapai lebar 1 meter.
Pertumbuhan vegetatif sereh dilakukan dengan munculnya tunas-tunas yang
dapat dipisahkan dari rumpun induknya. Tunas sereh cepat berkembang biak
membentuk rumpun, terutama pada lingkungan yang kaya nutrisi dan dengan
aerasi udara yang baik (Hakim, 2015).
C. Metodologi
1. Alat
a. Baskom
b. Gelas ukur 1000 ml
c. Hammer mills
d. Kompor
e. Label
f. Mesh
g. Panci
h. Plastik zip lock
i. Saringan
j. Stopwatch
k. Tabung gas
l. Timbangan digital
2. Bahan
a. Serai dapur kering 200 gram
b. Air

3. Cara Kerja
Daun sereh segar

Penimbangan 200 gram

Penepungan dengan hammer mills

Penimbangan

Penghitungan rendemen dan bulk density

Pengamatan warna dan aroma

Pengemasan

Gambar 2.1 Diagram Alir Proses Penepungan Daun Sereh Serai

D. Hasil dan Pembahasan


Penepungan merupakan metode pengecilan ukuran secara mekanis
sehingga didapatkan partikel – partikel yang lebih kecil. Proses ini tidak
menimbulkan perubahan sifat kimia bahan yang ditepungkan. Prinsip dari
metode ini adalah mengubah bahan menjadi higroskopis dan memunculkan
warna dan aroma bahan. Tujuan penepungan yaitu mempermudah tahapan
atau proses yang akan dilakukan pada bahan. Dari penepungan ini didapatkan
bahan yang memiliki ukuran yang seragam ukurannya (Uthman, 2012).
Dalam pembuatan awetan rempah dan atsiri penepungan merupakan bagain
dari pre – treatment sebelum dilanjutkan ke proses selanjutnya, contohnya
pembuatan oleoresin dan destilasi (Widiyanto, dkk., 2013).
Tahapan yang dilakukan dalam proses penepungan pada umumnya
yaitu pengeringan, penepungan, dan pengayakan. Pengeringan dilakukan
menggunakan cabinet dryer dengan waktu dan suhu yang telah disesuaikan
dengan bahan yang akan dikeringkan. Pengeringan dilakukan hingga kadar
air yang terkandung dalam bahan mencapai 10-12% dengan aktivitas air
sekitar 0,4, sehingga pada kondisi ini hasil pengeringan relatif aman untuk
disimpan sebelum digiling atau ditepungkan. Tahap berikutnya bahan
ditepungkan menggunakan mesin penepung atau blender dan diayak
menggunakan ayakan bermesh (Estiasih dkk., 2017). Sedangkan menurut
Makfoed (1982), secara singkat penepungan dapat dilakukan dengan langkah
penimbangan bahan, penyiapan bak penampung, penghidupan motor listrik,
pemasukan bahan pada inlet, pencatatan waktu, pencatatan hasil dan
penimbangan, dan terakhir penghitungan rendemen.
Proses penepungan berfungsi untuk memperkecil ukuran bahan
menggunakan mesin penepungan. Bahan yang menjadi tepung memiliki
karakteristik daya simpan, mudah dicampur (dibuat komposit), diperkaya zat
gizi (fortifikasi) dan meningkatkan citarasa (Wibowo dkk., 2017). Dalam
dunia pangan proses penepungan berfungsi untuk menghasilkan produk
setengah jadi. Sehingga mempermudah pengolahan menjadi produk yang
bervariasi. Menurut penelitian Khasanah, dkk. (2015), penepungan ini dapat
dijadikan pre-treatment pembuatan minyak atsiri. Hal ini dikarenakan selama
tahapan penepungan, bahan dikeringkan dulu untuk mengurangi kadar air
untuk mempermudah keluarnya minyak dari sel. Kemudian dilakukan
pengecilan ukuran yang berfungsi menambah luas permukaan.
Pengayakan merupakan suatu usaha untuk memperoleh produk
dengan tingkat keseragaman dan kehalusan tertentu. Dalam proses ini terjadi
pemisahan ukuran – ukuran partikel dari terkasar hingga terhalus.
Pengayakan dilakukan dengan melewatkan produk pada mesh tertentu
sehingga bahan yang ukurannya lebih besar akan tertahan (Purwantata, dkk.,
2008). Mesh merupakan alat yang yang digunakan untuk memisahkan bahan
dengan ukuran tertentu. Semakin kecil ukuran mesh maka partikel yang lolos
akan semakin kecil (Soetanto, 2008). Dalam bidang pangan pengayakan
digunakan untuk mendapatkan partikel tepung yang seragam, sehingga
meningkatkan nilai jual produk. Selain itu juga digunakan untuk memisahkan
priduk dengan benda asing (Bernasconi, 1995).
Rendemen total merupakan perbandingan massa setelah perlakuan
(hasil) dengan massa bahan baku sebelum perlakuan dalam bentuk persen (%)
(Kristian dkk, 2016). Menurut Dewatisari, dkk., (2017) semakin tinggi
rendeman suatu bahan maka hasil bahan sesudah perlakuan semakin
banyak/tinggi. Faktor yang dapat mempengaruhi nilai rendemen adalah
jumlah bahan, perlakuan baha, dan jenis bahan. Dalam bidang pangan
khususnya minyak atsiri penghitungan rendemen dapat digunakan untuk
mengetahui pengaruh perlakuan terhadap hasil yang didapat.
Tahapan untuk mengetahu rendemen suatu bahan, yaitu, pertama
adalah menghitung berat awal bahan. Kedua, memberi perlakuan pada bahan.
Ketiga menghitung bahan setelah diberi perlakuan. Keempat penghitungan
rendemen bahan. Semakin besar rendemenm semakin efisien perlakuan pada
bahan. Selain itu nilai rendemen juga menunjukkan banyaknya komponen
yang terdapat dalam bahan. Berikut rumus penghitungan rendemen (%):

(Dewatisari dkk, 2017).

Rendemen menunjukkan persen hasil yaitu perbandingan berat akhir


(output) dan berat awal (input) penepungan dikalikan dengan 100 %, atau
merupakan persentase tepung yang hilang selama proses penepungan. Faktor-
faktor yang mempengaruhi hasil dari jumlah rendemen dari proses
penepungan yaitu rpm, penggunaan saringan dan ukuran mesh yang
digunakan. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa peningkatan rpm
(kecepatan putar per menit) mempengaruhi besarnya jumlah hasil rendemen
dari proses penepungan pada rempah. Jumlah rendemen juga dipengaruhi
oleh penggunaan saringan 80 mesh maupun saringan 100 mesh. Rendemen
penepungan dipengaruhi oleh hasil tepung yang diperoleh setiap kali
melakukan penepungan. Semakin banyak hasil tepung (output) yang
dihasilkan dari setiap penggilingan, maka jumlah rendemen hasil penepungan
semakin besar (Sudrajad, 2004)
Blanching adalah pemanasan bahan dengan uap tau air panas dengan
suhu kurang dari 100oC selama kurang lebih 10 menit dengan tujuan untuk
menginaktifkan enzim polyphenolase yang tidak diinginkan yang mungkin
dapat mengubah warna, tekstur dan cita rasa maupun nilai nutrisinya selama
pengeringan dan penyimpanan. Perlakuan blanching akan memperbaiki
kualitas produk yang diolah, menghilangkan perubahan-perubahan yang tidak
diinginkan, akibat proses oksidasi dan enzimatik dalam bahan tanaman
(Asgar dan Musaddad, 2008). Dampak blanching terhadap sifat – sifat
indrawi pada bahan yaitu tekstur menjadi lebih lunak dan warna menjadi
lebih bagus dan cerah. Blanching menggunakan media uap panas akan lebih
memberikan retensi zat gizi yang lebih optimum jika dibandingkan dengan air
panas. Air panas dapat menyebabkan hilangnya nutrien, terutama yang larut
dalam air. Namun penggunaan air lebih mudah digunakan. Blanching yang
terlalu lama dalam air panas cenderung menghasilkan bahan bertekstur sangat
lunak, memudarkan warna, mengurangi flavor, dan dapat menyebabkan
kehilangan nutrien (Sudrajad, 2004).
Pengaruh blanching terhadap tepung yang dihasilkan adalah dapat
menurunkan rendemen, dan mempertajam warna dan aroma. Blanching
adalah suatu proses pemanasan yang diberikan terhadap suatu bahan yang
bertujuan untuk menginaktivasi enzim, melunakkan jaringan, dan mengurangi
kontaminasi mikroorganisme yang merugikan, sehingga diperoleh mutu
produk yang dikeringkan dengan kualitas baik. Blanching 3 menit akan
menghasilkan tepung yang berwarna cerah dan beraroma tajam
(Anggraini, 2005). Semakin lama waktu blanching akan semakin
menurunkan rendemen tepung. Hal ini karena pada blanching akan terjadi
penguapan air, sehingga pada proses pengeringan dengan semakin lama waku
blanching akan berbanding lurus dengan penguapan air pada bahan tersebut.
Semakin lama blancing menghasilkan warna yang semakin cerah. Warna
tepung dengan tingkat kecerahan yang lebih tinggi disebabkan oleh inaktivasi
enzim polifenol oksidase selama proses blanching (Daulay dkk., 2017)
Bulk density atau densitas kamba adalah perbandingan bobot bahan
dengan valume yang ditempatinya, termasuk ruang kosong diantara partikel
bahan (Syarief dan Anies, 1988). Menurut Kementrian Pertanian (2011)
kerapatan (bulk density) ditetapkan dengan menghitung bobot rempah dalam
satu – satuan volume (liter) dengan memperhatikan rongga antar bahan.
Semakin tinggi kerapatan bahan dengan konsisi kadar air yang sama maka
semakin berat lada tersebut. Sehingga melalui kerapatan bahan ini dapat
diketahui kualitas bahan.
Manfaat dalam pengukuran bulk density yaitu mengetahui bobot
volume suatu bahan dalam wadah. Dan dengan mengetahui komposisi suatu
bahan pertanian, kita dapat menentukan kerapatan bahan tersebut karena
kerapatan padat merupakan hasil bagi masa partikel dengan volume partikel
dalam suatu bahan (Pangaribuan, dkk., 2016). Menurut Akbar, dkk. (2017),
kegunaan mengetahui bulk density adalah menentukan ukuran kemasan
produk. Selain itu juga untuk menentukan kemurnian suatu bahan
(Suyitno, 1988).

Tabel 2.1 Hasil Penepungan Serai Dapur


Kelompok 7 dan 10 8 dan 11 9 dan 12
Alat penepung Hammer mills Hammer mills Hammer mills
Jenis blanching Diblanching Dimasak Tanpa blanching
selama 3 menit sampai lunak
Ukuran ayakan 30 mesh 30 mesh 30 mesh
Rendemen terhadap 35% 35,5% 27,5%
serai basah (RK/S)
Berat serai dapur 200 gram 200 gram 200 gram
kering
Berat serai dapur 18,6 gram 15,8 gram 25,9 gram
bubuk
Rendemen terhadap 9,25% 7,9% 12,95%
serai kering (RB/K)
Tepung tidak lolos 65,4% 50,05% 72,4%
saringan
Rendemen (RB/S) 323,75% 280,45% 356, 125%
Bulk density 0,185 gr/cc 0,156 gr/cc 0,257 gr/cc
Lama penepungan 25 menit 25 menit 25 menit
Warna Kurang terang Lebih terang Lebih terang
bubuk
Aroma Kurang tajam Lebih tajam Lebih tajam
kering
Sumber: Laporan Sementara
Pada Tabel 2.1 Hasil Penepungan Serai Dapur terdapat tiga perlakuan
bahan, yaitu diblanching sampai 3 menit, dimasak sampai lunak, dan tanpa
blanching. Masing-masing perlakuan bahan dilakukan proses penepungan
dengan alat Hammel Mills, dan diayak dengan ukuran ayakan 30 mesh.
Setelah proses penepungan, didapatkan berat serai dapur bubuk, yaitu berat
serai dapur bubuk diblanching selama 3 menit sebesar 18,6 gram, berat
dimasak sampai lunak sebesar 15,8 gram, dan berat tanpa blanching sebesar
25,9 gram. Besarnya rendemen terhadap serai kering, perlakuan serai
diblanching selama 3 menit sebesar 9,25%, perlakuan dimasak sampai lunak
sebesar 7,9%, dan perlakuan tanpa blanching sebesar 12,95%. Selanjutnya
didapatkan rendemen rempah bubuk, pengamatan warna, dan aroma
Pada serai dapur perlakuan diblanching selama 3 menit memiliki nilai
rendemen sebesar 323,75%, warna kurang terang, dan aroma kurang tajam.
Serai dapur perlakuan dimasak sampai lunak memiliki nilai rendemen sebesar
280,45%, warna lebih terang bubuk, dan aroma lebih tajam kering.
Sedangkan serai dapur perlakuan tanpa blanching memiliki nilai rendemen
sebesar 356, 125%, warna lebih terang, dan aroma lebih tajam.
Pada hasil praktikum, urutan besarnya rendemen dari yang paling
besar ke kecil secara berurutan adalah pada perlakuan tanpa blanching,
diblanching selama 3 menit, dan dimasak sampai lunak. Menurut Daulay dkk
(2017), semakin lama waktu blanching akan semakin menurunkan rendemen
tepung. Hal ini karena pada blanching akan terjadi penguapan air, sehingga
pada proses pengeringan dengan semakin lama waku blanching akan
berbanding lurus dengan penguapan air pada bahan tersebut. Berdasarkan
teori tersebut berarti urutan besarnya rendemen pada hasil praktikum sudah
sesuai teori.
Pada hasil praktikum, urutan kecerahan warna dan ketajaman aroma
serai dapur bubuk dari yang paling besar ke kecil secara berurutan adalah
pada perlakuan tanpa blanching, dimasak sampai lunak, dan diblanching
selama 3 menit. Menurut Anggraini (2005), proses blanching akan
menghasilkan tepung yang berwarna cerah dan beraroma tajam. Menurut
Rukmana (1995), pemanasan yang terlalu lama atau pemasakan rempah
sampai lunak akan membuat sebagian zat pada rempah akan banyak yang
larut pada air sehingga kualitas rempah berkurang, seperti warna yang
dihasilkan kurang cerah dan aroma kurang tajam. Berdasarkan teori
Anggraini (2005) dan Rukmana (1995), seharusnya urutan kecerahan warna
dan ketajaman aroma serai dapur bubuk dari yang paling besar ke kecil secara
berurutan adalah pada perlakuan diblanching selama 3 menit, tanpa
blanching, dan dimasak sampai lunak. Sehingga pada hasil praktikum ini
percobaan tidak sesuai teori.
Tepung sereh dapat digunakan sebagai bahan obat-obatan, misalnya:
dapat meregangkan otot yang kaku, dan sebagai penambah nafsu makan.
Untuk pengaplikasiannya dalam produk pangan, tepung sereh dapat
digunakan sebagai bahan tambahan dalam pembuatan produk pangan,
misalkan subtitusi dengan tepung terigu (Ariyani dkk, 2008).
E. Kesimpulan
Berdasarkan praktikum Teknologi Pengolahan Rempah dan Atsiri
acara II “Pengolahan Rempah Awetan 2 (Penepungan)” dapat disimpukan
sebagai berikut.
1. Pengolahan rempah awetan secara penepungan dilakukan dengan
menepungkan 200 gram serai kering yang sebelumnya diberi pre treatmen,
yaitu dengan blanching 3 menit, blanching hingga lunak, dan tanpa
blanching. Kemudian serai kering ditepungkan dengan hammer mills,
penghitungan rendemen, dan pengamatan visual.
2. Berdasarkan hasil raktikum didapatkan rendemen sampel serai dengan
perlakuan tanpa blanching sebesar 27, 5 %, serai dengan blanching 3
menit sebesar 35%, dan serai blanching sampai lunak sebesar 35,5%.
3. Secara serai dengan blanching 3 menit memiliki warna kurang terang dan
aroma kurang tajam. Sampel dengan perlakuan blanching sampai lunak
memiliki warna lebih terang bubuk dan lebih tajam kering. Sedangkan
sampel dengan perlakuan tanpa blanching memiliki warna lebih terang dan
lebih tajam.

DAFTAR PUSTAKA
Akbar, M.R.L., D.M. Suci., dan I. Wijayanto. 2017. Evaluasi Pellet Pakan Itik Yang
Disuplementasiu Tepung Dan Mengkudu Disimpan Selama Seminggu. Bulletin
Makanan Ternak. 104(2): 31 – 48.
Anggraini, K. 2005. Pengaruh Metode Blanching Dan Pencelupan Dalam Lemak Jenuh
Terhadap Kualitas French Fries Kentang Varietas Hertha Dan Granola. Skripsi.
Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Sedirman, Purwokerto.
Ariani, Fransiska, Laurentia Eka Setiawan, Felycia Edi Soetaredjo. 2008. Ekstraksi
Minyak Atsiri Dari Tanaman Sereh Dengan Menggunakan Pelarut Metanol,
Aseton, Dan N-Heksana. Widya Teknik. 2(7).
Ariwibowo, Didik. 2016. Karakteristik Alat Penepung Disc Mill FFC-XX Untuk
Penepungan Tongkol Jagung Kering. ROTASI. 18(3): 69−75.
Asgar dan Musaddad. 2008. Pengaruh Media, Suhu dan Lama Sebelum Pengeringan
Terhadap Mutu Lobak Kering. Jurnal Hort. 18(1): 87 – 94.
Bernasconi. 1995. Teknologi Kimia Pangan 2. Pradnya Paramita. Jakarta.
Daulay, Ikhsan Nawali., Sentosa Ginting., dan Elisa Julianti. 2017. Pengaruh Metode Dan
Lama Blanching Terhadap Karakteristik Fisik, Kimia, Dan Fungsional Tepung
Ubi Jalar Ungu (Ipomea Batatas L.). Jurnal Rekayasa dan Pertanian. 5(4).
Dewatisari, Whika Febria, Leni Rumiyanti, dan Ismi Rakhmawati. 2017. Rendemen and
Phytochemical Screening using Leaf extract of Sansevieria Sp. Jurnal
Penelitian Pertanian Terapan. 17(3).
Estiasih, Teti., Widya Dwi Rukmini Putri., dan Elok Waziiroh. 2017. Umbi-umbian da
Pengolahannya. UB Press. Malang.
Faridah, Anni; Simon Bambang Widjanarlo; Aji Sutrisno; dan Bambang Susilo. 2012.
OptimasiProduksi Tepung Porang dari Chipporang secara Mekanis dengan
Metode Permukaan Respons. Jurnal Teknik Industri. 13(2): 158 – 166.
Hakim, Luchman. 2015. Rempah dan Herba Kebun-Pekarangan Rumah
Masyarakat:Keragaman,Sumber Fitofarmaka danWisata Kesehatan-
kebugaran. Penerbit Diandra. Yogyakarta
Hamid, A. dan Djisbar, A. 1989. Current Work On Essential Oilsand Spices In Indonesia.
Industrial Crops Research Journal. 2(1) : 16-21
Haryadi. 2008. Teknologi Pengeloolaan Beras. Gajah Mada University Press. Yogyakarta
Kementrian Pertanian. 2011. Harmonisasi Standar Mutu Lada Indonesia Spesifikasi yang
Diminta Oleh Negara Konsumen. Warta Penelitian dan Pengembangan
Tanaman Industrii. 17(3).
Khasanah, Lia Umi., Kawiji, Rohula Utami, dan Yoga Meidiantoro Ajil. 2015. Pengaruh
Perlakuan Pendahulan Terhadap Karakteristik Mutu Minyak Atsiri Daun Jeruk
Purut. Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan. 4(2): 49-55.
Kristian, Jeremia, Sudaryanto Zain,Sarifah Nurjanah, Asri Widyasanti, Selly Harnesa
Putri. 2016. Pengaruh Lama Ekstraksi Terhadap Rendemen Dan Mutu Minyak
Bunga Melati Putih Menggunakan Metode Ekstraksi Pelarut Menguap (Solvent
Extraction). Jurnal Teknotan. 10(2).
Makfoed, Jarier. 1982. Deskripsi Pengolahan Hasil Nabati. Agritech. Yogyakarta.
Pangaribuan, Sulha., Titin Nuryawati. Dan Anjar Suprapto. 2016. Sifat Fisik Dan
Mekanik Serta Pengaruh Penyosohan Terhadap Sifat Fisik Dan Mekanik Biji
Sorgum Varietas KD 4. Journal Pertanian. 2(3):81-86
Paramawati, Rafli. 2008. Rekayasa Mesin Penepung Tipe Double Jacket untuk
Komoditas Biofarmaka. Jurnal Entfiring Partanian. 6(2).
Purwantana, Bambang, M Nursigit Bintoro., Dan Puji Wahyuningsih. 2008. Kajian
Kinerja Mesi Ekstraksi Tipe Ulir Pada Proses Pembutan Pati Aren. Jurnal
Prosiding Nasional Teknik Pertanian.
Rukmana. 1995. Temulawak Tanaman Rempah dan Obat. Kanisius, Yogyakarta.
Soetanto, Eddy. 2008. Kasava Dan Olahannya. Kanisius. Yogyakarta.
Sudrajad, Heru. 2004. Pengaruh Ketebalan Irisan dan Lama Perebusan (Blanching)
Terhadap Gambaran Makroskopis dan Kadar Minyak Atsiri Simplisia Dringo
(Acorus calamus L.). Media Litbang Kesehatan. 17(4): 41 – 42.
Suyitno. 1988. Penguijian Sifat Fisik Bahan Pangan. DAU Pangan dan Gizi. UGM.
Yogyakarta.
Syarief dan Anies. 1999. Teknologi Proses Pengolahan Pangan. IPB. Bogor.
Uthman, 2011. Desighn And Febricationof Cassava Lump Breaking And Sieving
Machine. Jurnal Of Research And Development. 1(2).
Vicenzi. Scott. 2009. Effect of Milling on Food and Pharmaceutical Powders. Journal of
Purdue Undergraduate Research.
Wibowo, Condro., Erminawati, Pepita Hariyanti dan Rumpoko Wicaksono. 2017.
Pengaruh Perlakuan Pendahuluan Terhadap Karakteristik Tepung Yang
Dihasilkan Dari Umbi Kentang Varietas Granola. Prosiding Seminar Nasional.
7(17): 585 – 593.
Widiyanto, Ivan., Baskara Katri Anandito, dan Lia Umu Khasanah. 2013. Ekstraksi
Oleoresin Kayu Manis: Optimalisasi Rendemen Dan Penggunaan Karakteristik
Mutu. Jurnal Teknologi Hasil Pertanian. 6(1): 7 – 15.

LAMPIRAN PERHITUNGAN
Perhitungan kelompok 8 :
1. Berat serai dapur kering = 200 gram
2. Berat serai dapur bubuk = 15,8 gram
3. Berat serai bubuk yang tidak lolos saring = 100,1 gram
4. Rendemen terhadap serai basah (RK/S) = 35,5 %

Rendemen terhadap serai dapur kering

RB/K = x 100%

RB/K = x 100%

= 7,9 %

Tepung tidak lolos saringan = 50,05%


RB/S = RB/K x RK/S
= 7,9 % x 35,5 %

Rendemen tidak lolos saring

= x 100%

= x 100%

Bulk Desity

BD = x 100%
= x 100%

= x 100%

LAMPIRAN GAMBAR

Gambar 2.2 Penimbangan Hasil Gambar 2.3 Proses Penepungan


Penepungan Serai
Gambar 2.4 Penimbangan Serai Gambar 2.5 Pengayakan Serai
Kering