Anda di halaman 1dari 16

Kisi”

Lakukan analisi pemilihan alternatif dengan metode

1. NPV
2. AE
3. BCR
4. PAY BACK PERIODE
5. DISCOUNTED PAYBACK PERIODE
6. INTERNAL RATE OF RETURN (IRR)
1. Payback Period (PBP)
Payback period sangat penting untuk menghitung jangka waktu pengembalian modal.
Semakin cepat payback periodnya maka semakin baik bisnis tersebut. Payback period adalah
suatu periode yang diperlukan untuk menutup kembali pengeluaran investasi.
Pengertian Payback Period menurut para Ahli

Pengertian Payback Period menurut Dian Wijayanto (2012:247) adalah periode yang
diperlukan untuk menutup kembali pengeluaran investasi (initial cash investment).
Berdasarkan definisi dari Abdul Choliq dkk (2004), Payback Period adalah jangka waktu
kembalinya investasi yang telah dikeluarkan, melalui keuntungan yang diperoleh dari suatu
proyek yang telah direncanakan. Sedangkan menurut Bambang Riyanto (2004) Payback
period adalah suatu periode yang diperlukan untuk dapat menutup kembali pengeluaran
investasi dengan menggunakan proceeds atau aliran kas netto (net cash flows).

Untuk menghitung waktu pengembalian investasi (payback) tersebut digunakan


rumus :
Nilai Investasi
Payback period = x 1 Tahun
Kas Masuk Bersih
Jika payback period lebih pendek waktunya daripada maximum payback period, maka usulan
investasi dapat diterima.
Contoh :
Suatu perusahaan menanamkan modalnya dalam bentuk investasi sebesar Rp.
24.000.000,-. Dari investasi tersebut memperoleh keuntungan setelah pajak sebesar Rp.
5.000.000,-. Depresiasi sebesar Rp. 3.000.000,- maka payback periodnya adalah :
Investasi Rp. 24.000.000,-
Keuntungan setelah pajak Rp. 5.000.000
Depresiasi Rp. 3.000.000
Aliran kas masuk Rp. 8.000.000,-
24.000.000
Payback period = x 1 tahun  3 tahun
8.000.000
Perhitungan dengan menggunakan payback period seperti diatas masih memiliki kelemahan
karena kurang memperhitungkan unsur waktu.
Perlu diingat bahwa suatu bisnis memiliki keuntungan ekonomis apabila :
  TR  TC  0 atau
  Bt  (Co   Ct )  0 atau

TR

 Bt  0
TC Co  Ct 
dimana :
π = profit (keuntungan ekonomis)
TR = Bt, ialah penerimaan total tahunan (total revenue) yang merupakan manfaat ekonomis
suatu proyek atau disebut juga aliran kas per tahun pada periode t.
TC = Co + ∑ Ct = Io ialah biaya tahunan yang dikeluarkan disebut sebagai investasi awal
pada periode t.
Co = ialah biaya tetap awal
Ct = ialah biaya variabel
Dalam perhitungan keuntungan seperti diatas masih mengandung unsur kelemahan
sebab tidak memasukkan unsur waktu dan unsur rate of interest atau rate of return ialah
konsep periodik yang mengukur return on investment (ROI). Untuk mengukur “rate of
interest” biasanya digunakan bunga bank yang berlaku secara umum atau berdasarkan tingkat
pengembalian kredit atraktif minimum yang diharapkan investor (expected minimum
attractive rate of return = MARR).
2. NPV( Net Present Value)
Pengertian Dari NPV (Net Present Value)
Net Present Value atau yang sering di singkat dengan NPV merupakan sebuah selisih antara
nilai sekarang dari arus kas yang akan masuk dengan nilai sekarang dari arus kas yang akan
keluar pada periode waktu tertentu. Lalu NPV atau Net Present Value ini mengestimasikan
nilai sekarang pada sebuah proyek, aset ataupun investasi yang berdasarkan pada arus kas
yang akan masuk karna diharapkan pada masa depan dan arus kas yang akan keluar akan
disesuaikan dengan suku bunga dan harga pembelian awal.

Dan Net Pressent Value menggunakan harga pembelian awal dan nilai waktu uang (time
value of money) untuk menghitung nilai sebuah aset. Dengan demikian, dapat dikatakan
bahwa NPV merupakan sebuah nilai sekarang dari aset yang akan dikurangi dengan harga
pembelian awal.

Dalam menilai kriteria investasi unsur waktu dan rate of interest harus dimasukkan, seperti
pada penilaian kriteria nilai bersih sekarang (net present value).
1. Kriteria Nilai Bersih Sekarang. Perlu diperhatikan bahwa nilai uang sebagai manfaat
ekonomi dari usaha yang diperkirakan akan diterima di masa yang akan datang tidak sama
dengan nilai uang yang diterima pada saat sekarang, karena adanya faktor interest rate
yang besarnya tertentu dan besarnya biaya yang dianalisis sepanjang waktu. Oleh sebab
itu, dalam studi kelayakan usaha, unsur waktu dan interest rate diperhitungkan.
Rumus :
 Bt    Ct 
NPV(i )    
    
 Co  1  i t  atau
 1  i  
t
   
NPV(i) = ∑ PFt (Bt) - ∑ PFt (Ct) dimana t = 1, 2, 3, ……. N
Sedangkan PFt = (1 + i)-t adalah faktor nilai sekarang.
Dimana :
NPV = Nilai bersih sekarang
Bt = Benefit (aliran kas masuk pada periode t)
i = Interest (tingkat bunga bank yang berlaku)
t = Periode waktu
(1 + t)-t = Discount factor atau faktor nilai sekarang atau (PFt)
PFt dapat dihitung sebagai berikut :
PF1 = (1 + i)-1
PF2 = (1 + i)-2
PF3 = (1 + i)-3 dan seterusnya

Bila dimisalkan bunga bank yang berlaku 24%, maka :


PF2 = (1 + 0,24)-2 = 0,6504
Contoh :
Perusahaan konveksi ingin menambahkan mesin jahit baru dengan biaya investasi awal
sebesar Rp. 40 juta. Umur ekonomis mesin ditaksir 5 tahun. Dari hasil survei diperoleh
perkiraan cash flow (penerimaan dan biaya) adalah sebagai berikut (tabel 5.1) :
Tabel 5.1. Penerimaan dan Biaya
Tahun Biaya total (Ct) Penerimaan total (Bt)
(jutaan rupiah) (jutaan rupiah)
0 40 0
1 10 20
2 15 25
3 40 80
4 20 60
5 5 40

Bila uang yang diinvestasikan tersebut dapat pinjaman dari bank dengan bunga 18% per
tahun, apakah keputusan pembelian mesin baru itu layak secara ekonomis? Dengan
menggunakan rumus :
    
 
Bt Ct
NPV     Co    
 1  0,18    1  0,18 
t t
 
Maka dalam tabel (5.2) akan tampak sebagai berikut :

Tabel 5.2. NPV (Net Present Value) untuk Tingkat Bunga 18%.
Tahun PF Ct Bt PF(Ct) PF(Bt) NPV
(1) (2) (3) (4) (5) = (2)(3) (6) = (2)(4) (7) = (6) - (5)
0 1 40 0 40,00 0 -40
1 0,8475 10 20 8,47 16,95 8,48
2 0,7182 15 25 10,77 17,95 7,18
3 0,6086 40 80 24,34 46,69 22,35
4 0,5158 20 60 10,23 30,95 20,63
5 0,4371 5 40 2,19 17,48 15,29
NPV(i=0,18) = NPVt = 33,93
Catatan PFt = (1 + i)-t = (1 + 0,18)-t
Berdasarkan perhitungan NPV diatas, maka keuntungan ekonomis pembelian mesin jahit baru
sebesar Rp. 33,93 juta lebih besar daripada nol, maka pembelian mesin untuk konveksi tersebut
layak berdasarkan pertimbangan ekonomi.
NPV = ( C1 / 1 + r ) + ( C2 / ( 1 + r )2 ) + ( C3 / ( 1 + r )3 ) + … + ( Ct / ( 1 + r )t ) – C0

Atau

Keterangan :

 NPV = Net Present Value ( dalam rupiah )


 Ct = Arus kas per tahun pada periode t
 C0 = Nilai investasi awal pada tahun ke 0 ( dalam rupiah )
 r = Suku bunga atau discount rate ( dalam % )

Contoh Soal NPV


Sebuah Perusahaan X ingin membeli sebuah mesin produksi untuk meningkatkan
jumlah produksi produknya. Diperkirakan untuk harga mesin tersebut adalah Rp. 150
juta dengan mengikuti aturan suku bunga pinjaman yakni sebesar 12% per tahun.
Untuk Arus Kas yang masuk pada perusahaan itu diestimasikan sekitar Rp. 50 juta
per tahun selama 5 tahun. Apakah rencana investasi pada pembelian mesin
produksi diatas dapat dilanjutkan?

Penyelesaiannya :
Diketahui :

Ct = Rp. 50 juta
C0 = Rp. 150 juta
r = 12% (0,12)

Jawaban :

NPV = (C1/1+r) + (C2/(1+r)2) + (C3/(1+r)3) + (C3/(1+r)4) + (Ct/(1+r)t) – C0


NPV = ((50/1+0,12) + (50/1+0,12)2 + (50/1+0,12)3 + (50/1+0,12)4 + (50/1+0,12)5) –
150
NPV = (44,64 + 39,86 + 35,59 + 31,78 + 28,37) – 150
NPV = 180,24 – 150
NPV = 30,24

Jadi nilai untuk NPV-nya adalah Rp. 30,24 juta.


BCR

2. Kriteria Rasio Manfaat-Biaya (Benefit Cost Ratio)


Untuk menghitung benefit cost ratio (BCR) digunakan rumus sebagai berikut :

 Bt / 1  i  
i


BCR ( i )
Co   Ct /1  i  
t

Manfaat ekonomis diperoleh apabila BCR > 1. Dari kasus diatas maka besarnya BCR adalah
sebagai berikut :
PFt(Bt) = 16,95 + 17,95 + 16,96 + 30,95 + 17,48 = 130,02
PFt(Ct) = 40 + 8,47 + 10,77 + 24,34 + 10,32 + 2,19 = 96,09

BCR(i ) 
 PF ( Bt )  130,02 = 1,35
t

 PF Ct  96,09
t

Karena nilai BCR > 1 maka investasi dalam mesin baru pada perusahaan konveksi itu layak
secara ekonomis. Manfaat ekonomis dari pembelian mesin baru adalah 1,35 kali lebih
besar daripada nilai biaya total pada tingkat bunga (interest rate) = 0,18. Dengan besarnya
BCR = 1,35 berarti setiap Rp. 1 yang diinvestasikan akan memberikan hasil sebesar Rp.
1,35 karena itu investasi dalam usaha konveksi tersebut sangat layak. Bila BCR < 1, maka
proyek bisnis memberikan kerugian secara ekonomis.

Kelebihan dan kekurangan b/c Ratio


Kelebihan menerapkan perhitungan b/c ratio dalam menganalisa suatu usaha
adalah berapa rasio keuntungan yang di dapatkan dapat di ukur karena dapat
mengurangi dengan biaya. Metode ini telah memperhitungkan aliran kas selama
umur proyek investasi.

Sedangkan kekurangannya adalah proses penghitungannya lama jarena


mengidentifikasi terlebih dulu semua biaya. Mengurangkannya dengan manfaat
untuk setiap tahun selama umur proyek.

Demikian penjelasan mengenai Pengertian b/c Ratio dan Cara Menghitungnya.


Semoga anda mendapatkan apa yang anda mau pada artikel ini. Kunjungi terus
rumus.co.id banyak artikel menarik dan bermanfaat
IRR

The following formula is used to calculate a discount factor for year t and imputed rate of
interest i: 1/(1+i)t

Pengertian IRR
IRR adalah hasil yang diperoleh dari suatu proposal bisnis, yakni diskonto atau discount rate
yang akan menjadi present value dari aliran kas masuk (cash inflow) sama dengan investasi
awal.

Rumus IRR dipakai untuk membuat peringkat usulan investasi dengan menggunakan tingkat
pengembalian atas investasi yang dihitung dengan mencari tingkat diskonto yang menyamakan
nilai sekarang dari arus kas masuk proyek yang diharapkan terhadap nilai sekarang biaya proyek
atau sama dengan tingkat diskonto yang membuat NPV sama dengan nol.

IRR menjadi indikator tingkat efisiensi dari suatu investasi. Sebuah proyek atau investasi bisa
dilakukan jika laju pengembaliannya (rate of return) lebih besar dari laju pengembalian jika
melakukan investasi lain (bunga deposito bank, reksadana dan lain sebagainya).

Fungsi IRR dipakai dalam menentukan apakah investasi dilaksanakan atau tidak. Oleh
karenanya biasanya dipakai acuan bahwa investasi yang dilakukan harus lebih tinggi dari
Minimum Acceptable Rate of Return (MARR). MARR adalah laju pengembalian minimum dari
suatu investasi yang berani dilakukan oleh investor.

Untuk dapat menghitung IRR, terlebih dahulu kita harus mengetahui rumus NPV atau Net
Present Value. Sebab perhitungan IRR membutuhkan nilai dari NPV. Mari kita bahas singkat
mengenai NPV.

Rumus NPV
NPV adalah selisih antara pengeluaran dan pemasukan yang memperoleh potongan harga
dengan menggunakan social opportunity cost of capital sebagai discount factor. Atau juga bisa
disebut sebagai arus kas yang diperkirakan pada masa mendatang yang didiskontokan pada
saat ini.

NPV sendiri merupakan keuntungan bersih berdasarkan jumlah dari Present Value (PV). Untuk
cara menghitung NPV bisa dengan memakai rumus di bawah ini.
Keterangan:

 NB : Net Benefit (Benefit – Cost)


 C : Biaya Investasi + Biaya Operasi
 B : Benefit yang telah didiskon
 C : Cost yang telah didiskon
 i : diskon faktor
 n : tahun (waktu)
Di bawah ini adalah hubungan antara nilai NPV dalam hubungannya dengan kelayakan suatu
proyek/usaha:

Kriteria Kesimpulan

NPV>0 Proyek/usaha layak untuk dilaksanakan

NPV=0 Proyek/usaha berada di dalam keadaan BEP dimana TR = TC dalam bentuk persent
value

NPV<0 Proyek/usaha tidak layak untuk dilaksanakan


Rumus IRR
Pada suku bunga IRR akan didapat NPV = 0. Artinya suku bunga yang dapat diberikan investasi
yang memberikan NPV = 0. Syarat utamanya adalah IRR > suku bunga MARR.

Untuk memperoleh hasil akhir dari perhitungan IRR, maka kita harus mencari discount rate yang
menghasilkan NPV positif. Setelah itu cari discount rate yang menghasilkan NPV negatif. Rumus
IRR bisa Anda simak di bawah ini:

Keterangan:

 IRR = Internal Rate of Return


 i1 = Tingkat Diskonto yang menghasilkan NPV+
 i2 = Tingkat Diskonto yang menghasilkan NPV-
 NPV1=Net Present Value bernilai positif
 NPV2= Net Present Value bernilai negatif
IRR mempunyai tiga nilai dimana masing-masing nilai tersebut mempunyai makna terhadap
kriteria investasi. Simak penjelasan berikut ini untuk lebih jelasnya:

 IRR < SOCC, artinya bahwa usaha atau proyek tersebut tidak layak secara finansial.
 IRR = SOCC, maknanya usaha atau proyek tersebut berada dalam keadaan break even point.
 IRR > SOCC, ini menandakan bahwa usaha atau proyek tersebut layak secara finansial.
Baca Juga : Cara Menghitung Harga Pokok Penjualan
Rumus Aternatif IRR
Masih ada rumus IRR lain yang bisa Anda manfaatkan. Caranya adalah dengan mencoba suku
bunga yang diperkirakan akan memberikan nilai NPV positif. Contohnya 10% yang akan
memberikan NPV sebesar 382 dan diteruskan dengan perhitungan NPV yang negatif. Misalnya
pada 20% akan memberikan NPV sebesar -429. Rumus IRR alternatifnya adalah:

Atau
Rumus Net B/C (Benefit/Cost)
Net B/C adalah nilai manfaat yang dapat diperoleh dari proyek atau usaha setiap kita
mengeluarkan biaya sebesar satu rupiah untuk proyek tersebut. Net B/C merupakan
perbandingan antara NPV positif dengan NPV negatif. Nilai net B/C dibagi menjadi 3, yakni:

1. Net B/C > 1, artinya proyek atau usaha tersebut layak untuk dijalankan secara finansial.
2. Net B/C = 1, maknanya usaha tersebut berada dalam keadaan break even poin.
3. Net B/C < 1, artinya proyek atau usaha tersebut tidak layak dijalankan secara finansial.
Cara menghitung Net B/C adalah dengan memakai rumus berikut:

Rumus PV (Present Value)


Dalam cara menghitung IRR, Present Value (PV) juga sering kali disinggung. Maka dari itu kami
sertakan pula bagaimana rumus PV.

Keterangan:

 PV = Present value
 CF = Cash flow
 n = periode waktu tahun ke n
 m = periode waktu
 r = tingkat bunga
 Sv = salvage value

Contoh Soal IRR


Agar tidak bingung bagaimana mengaplikasikan cara menghitung IRR di atas, kami akan berikan
contoh soal beserta perhitungan IRR-nya.
Contoh Soal 1
Pabrik ABC mempertimbangkan usulan investasi senilai Rp 130.000.000 tanpa nilai sisa.
Pendapatan arus kas per tahun RP 21.000.000 selama 6 tahun. Diasumsikan RRR sebesar
13%. Hitunglah IRR.

Jawab:

Dicoba dengan faktor diskonto 10%:


NPV = (Arus kas x Faktor Diskonto) – Investasi Awal

NPV = (21.000.000 x 5.8979) – 130.000.000 = Rp 659.000

Dicoba dengan faktor diskonto 12%:


NPV = (21.000.000 x 5,7849 ) – 130.000.000

NPV = Rp – 6.649.000

Karena NPV mendekati nol, yaitu Rp. 659.000,00 dan -Rp. 6.649.000,00
Artinya tingkat diskonto antara 10% sampai 12%, untuk menentukan ketepatannya kita perlu
melakukan interpolasi. Caranya adalah sebagai berikut:

Selisih Bunga Selisih PV Selisih PV dengan OI

10% Rp 130.659.000 Rp 130.659.000

12% Rp 123.351.000 Rp 130.000.000

2% Rp 7.308.000 Rp 659.000

IRR = 10% + (659.000/7.308.000) x 2%

IRR = 10,18%

Kesimpulannya, proyek investasi tersebut lebih baik ditolak. Alasannya IRR < 13% yang artinya
tidak layak secara finansial.

Contoh Soal 2
Perusahaan ABC mempertimbangkan usulan proyek investasi Rp 150.000.000. Umur proyek
tersebut diperkirakan 5 tahun tanpa nilai sisa.

Arus kas yang dihasilkan:

 Tahun 1 : Rp 60.000.000
 Tahun 2 : Rp 50.000.000
 Tahun 3 : Rp 40.000.000
 Tahun 4 : Rp 35.000.000
 Tahun 5 : Rp 28.000.000
Bila diasumsikan RRR = 10%

Jawab:

Dicoba dengan faktor diskonto 16%:


 Tahun 1 arus kas : Rp 60.000.000 x 0,8621 = Rp 51.726.000
 Tahun 2 arus kas : Rp 50.000.000 x 0,7432 = Rp 37.160.000
 Tahun 3 arus kas : Rp 40.000.000 x 0,6417 = Rp 25.668.000
 Tahun 4 arus kas : Rp 35.000.000 x 0,5523 = Rp 19.330.500
 Tahun 5 arus kas : Rp 28.000.000 x 0,419 = Rp 17.973.200
Total PV = Rp 100.131.700

Investasi Awal = Rp 150.000.000

NPV = Rp – 49.868.300

Dicoba dengan faktor diskonto 10%:


 Tahun 1 arus kas : Rp 60.000.000 x 0,9090 = Rp 54.540.000
 Tahun 2 arus kas : Rp 50.000.000 x 0,8264 = Rp 41.320.000
 Tahun 3 arus kas : Rp 40.000.000 x 0,7513 = Rp 30.052.000
 Tahun 4 arus kas : Rp 35.000.000 x 0,6830 = Rp 23.905.500
 Tahun 5 arus kas : Rp 28.000.000 x 0,6209 = Rp 17.385.200
Total PV = Rp 167.202.200

Investasi Awal = Rp 150.000.000

NPV = Rp 17.202.200

Perhitungan interpolasi:
Selisih Bunga Selisih PV Selisih PV dengan Investasi Awal

10% Rp167.202.200 Rp167.202.200

16% Rp100.131.700 Rp150.000.000

6% Rp67.070.500 Rp17.202.200

IRR = 10% + (Rp.17.202.200/Rp. 67.070.500) x 6 %

IRR = 11,5388%

Kesimpulannya, proyek investasi tersebut bisa diterima. Karena IRR > 10%.

Cara Menghitung IRR dengan Excel


Cara di atas adalah cara menghitung IRR dengan manual. Lantas bagaimana bila kita
menghitungnya dengan bantuan aplikasi atau software semacam Microsoft Excel?

Dalam Microsoft Excel, fungsi IRR berfungsi mengembalikan nilai dari Internal Rate of Return
untuk sejumlah seri periode aliran kas. Aliran kas tersebut harus mempunyai interval yang jelas,
contohnya setiap bulan atau setiap tahun. Laba tersebut merupakan suku bunga yang diterima
selama periode tertentu yang mencakup proses pembayaran (negatif) dan penerimaan (positif).

Argumen untuk sintal-sintal IRR adalah sebagai berikut:


 Value adalah referensi ke rangkaian sel yang berisi data aliran kas (berisi data dari nilai investasi
dan nilai bersih pendapatan). Mengenai value tersebut setidaknya mempunyai satu nilai negatif
dan satu nilai positif. Argumen tersebut wajib ada dalam pemakaian fungsi tersebut.
 Adalah argumen opsional yang bisa dipakai maupun tidak. Guess adalah nilai perkiraan dari IRR
itu sendiri. Jika nilai dari Guess tidak dimasukkan, maka secara otomatis nilai yang dipakai
adalah 10% atau 0,1.
Supaya Anda lebih mudah dalam memahami cara menghitung IRR dengan Excel, Anda bisa
simak contoh di bawah ini.

Contoh, data investasi awal dan pemasukan dari suatu perusahaan adalah seperti berikut:

A B

1 Nilai investasi awal $1.000

2 Pendapatan tahun 1 $200

3 Pendapatan tahun 2 $240

4 Pendapatan tahun 3 $288

Untuk menghitung nilai IRR setelah tahun ketiga, data tersebut perlu kita masukkan ke dalam
sintal-sintal dalam fungsi IRR. Berikut adalah penulisannya:

=IRR( B1:B4)

Maka akan diketahui bahwa hasilnya adalah -14%. Hal tersebut menunjukkan bahwa besaran
tingkat internal pengembalian investasi (IRR) setelah jangka waktu 3 tahun masih negatif.

Fungsi di atas biasanya dimanfaatkan oleh hampir semua jenis usaha bila ingin melakukan
evaluasi mengenai investasi mereka setelah jangka waktu tertentu. Jika tidak ingin membuang
waktu untuk menghitung IRR secara manual, Anda bisa memanfaatkan fungsi IRR tersebut.
Fungsi ini bisa diterapkan dalam bisnis skala kecil, menengah maupun besar.
Kelebihan dan Kekurangan IRR
Setelah membahas cara menghitung IRR, baik secara manual maupun dengan Excel ada
beberapa hal yang perlu Anda catat. Menggunakan metode ini mempunyai keuntungan dan
kekurangan.

Kelebihan metode perhitungan IRR yakni tidak dipertimbangkan time value of Money. Dengan
demikian perhitungan dapat dilakukan lebih tepat dan realistis dibandingkan dengan metode
accounting rate of return.

Sedangkan kekurangan metode ini adalah perlu waktu untuk menghitungnya, termasuk saat cas
inflow tidak terdistribusi secara merata (walaupun kebanyakan kalkulator bisnis sudah dilengkapi
dengan program untuk menghitung IRR). Selain itu metode ini tidak dapat mengidentifikasi
ukuran investasi dalam berbagai proyek yang bersaing dan tingkat keuntungannya.

Perbedaan NPV dan IRR

Mungkin ada yang penasaran apa yang membedakan antara NPV dan IRR. Supaya jelas,
berikut adalah perbedaan keduanya:

1. NPV adalah proceeds atau cas flows yang didiskontokan atas dasar biaya modal (Coast of
Capital) atau rate of return yang diinginkan. Sementara IRR adalah tingkat bunga yang akan
menjadi jumlah nilai sekarang dari proceeds yang diharapkan akan diterima (PV of future
proceeds) sama dengan banyaknya nilai sekarang dari pengeluaran modal atau PV of Capital
outlays).
2. Nilai NPV diperoleh dari selisih antara PV dari pengeluaran modal (Capital outlay atau initial
Investment). Sementara IRR dicari dengan cara coba-coba atau trial And error.
3. NPV tidak memiliki arti bila dipakai untuk membandingkan proyek yang mempunyai jumlah
investasi awal yang berbeda. Sementara IRR mudah untuk dibandingkan dengan proyek yang
mempunyai jumlah investasi awal yang berbeda.
4. NPV dari proyek yang lebih dari satu dapat ditambahkan. Lain halnya dengan IRR yang tidak
dapat menambahkan beberapa proyek.
5. Pada metode perhitungan NPV diperbolehkan pemakaian tingkat diskon yang berbeda dalam
periode yang berbeda. Sementara pada metode IRR hanya memperbolehkan pemakaian satu
tingkat diskon pada seluruh periode.
Telah kita bahas bersama materi tentang cara menghitung IRR. Selain itu kami juga sudah
sampaikan pengertian, hal-hal yang berkaitan dengan internal rate of return hingga contoh soal.
Rumus IRR mungkin memang terlihat rumit dan sulit.

Akan tetapi bukan berarti cara menghitung IRR tidak bisa dilakukan dengan mudah. Kuncinya
adalah terus berlatih dan mempraktekkannya sehingga Anda bisa memahaminya. Karena pada
prakteknya pengaplikasian IRR bisa lebih luas dari contoh yang kami sampaikan di atas.