Anda di halaman 1dari 13

ABSTRAK

Dalam operasi yang kecil, obat anestesi yang digunakan cukup obat anestesi
lokal, maka kita perlu mengetahui sifat-sifat khusus dari berbagai obat anestetik lokal.

Tujuan percobaan ini untuk mempelajari pengaruh epinefrin terhadap duration of


action, mengetahui urutan hilang dan timbulnya kembali sensasi (nyeri, dingin, panas,
raba, tekan) pada pemberian obat – obat anestesi lokal, dan membandingkan onset of
action dan duration of action Etil Chlorida dengan Lidokain HCl 2%.

Pada percobaan ini, digunakan 0,2 mL larutan Lidokain HCl 2% dan 0.2 mL
larutan Lidokain HCl 2% + Epinefrin HCl 1 : 75000 yang disuntikkan intra kutan pada
bagian voler lengan bawah, kemudian diberikan rangsangan nyeri, dingin, panas, raba,
tekan. Lalu dicatat kapan obat disuntikkan, kapan terjadi hilangnya sensasi tersebut, serta
diamati urutan hilangnya dan timbulnya sensasi-sensasi tersebut. Percobaan kedua
memakai OP yang lain, digunakan Etil Chlorida yang disemprotkan pada bagian voler
lengan bawah. Kemudian dilakukan pemeriksaan semua rasa sama seperti percobaan
pertama dengan cepat.

Dari percobaan, diperoleh hasil bahwa penyuntikkan dengan Lidokain HCl 2%


dan dengan Lidokain HCl 2% + Epinefrin HCl 1 : 75000, urutan hilangnya sensasi dari
yang pertama: nyeri, dingin, panas, raba, tekan, sedangkan urutan timbulnya sensasi
adalah sebaliknya.. Pada penyemprotan dengan Etil Chlorida, hilangnya sensasi nyeri,
dingin, panas, raba, tekan terjadi bersamaan dan berlangsung sangat cepat. Sedangkan
urutan timbulnya: tekan, raba, panas, dingin, nyeri.

Dari hasil percobaan, dapat disimpulkan bahwa dengan pemberian Epinefrin HCl
1 : 75000 memperpanjang duration of action, dengan urutan sensasi yang hilang mulai
dari nyeri, dingin, panas, raba, tekan, dan urutan timbulnya sensasi adalah sebaliknya;
juga dapat disimpulkan Onset of Action dan Duration of Action dari Etil Chlorida lebih
singkat dari Lidokain HCl 2%.
PENDAHULUAN

Anestetik lokal adalah obat yang menghantarkan saraf bila dikenakan secara lokal
pada jaringan syaraf dalam keadaan yang cukup. Obat ini bekerja pada tiap sistem saraf,
serabut saraf baik sensoris maupun motoris. Banyak macam zat yang dapat
mempengaruhi hantaran saraf, tetapi umumnya tidak dapat dipakai karena menyebabkan
kerusakan permanen pada sel saraf. Paralisis saraf oleh anastestik lokal bersifat
reversibel, tanpa merusak serabut dan sel saraf.
Anestetik lokal yang ideal mempunyai syarat tidak mengiritasi jaringan setempat
dan tidak merusak struktur saraf secara permanen, mempunyai toksisitas sistemik yang
rendah, efektf dengan cara suntikan/lokal pada mukosa., onsetnya cepat dan kerjanya
cukup lama untuk melakukan operasi tapi tidak mengganggu recovery.
Secara umum anestetik lokal mempunyai rumus dasar yang terdiri dari 3 bagian :
gugus amin hidrofil yang berhubungan dengan gugus residu aromatik lipofil. Maka
secara kimia anestetik lokal digolongkan atas senyawa ester dan senyawa amid. Senyawa
ester contohnya kokain, prokain, tetrakain, dan benzokain. Sedangkan yang tergolong
senyawa amid adalah dibukain, lidokain, prilokain, mepivakain.
Obat anestetik umumnya bekerja pada membran sel dan pada aksoplasma hanya
sedikit. Anestetik lokal akan menghambat pembentukan konduksi impuls. Zat anestetik
lokal akan berinteraksi langsung dengan kanal sodium yang peka terhadap adanya voltase
muatan listrik. Dengan semakin bertambahnya efek anestetik lokal di saraf maka ambang
rangsang membran akan bertambah secara perlahan, kecepatan peningkatan potensial
aksi menurun, konduksi impuls melambat dan faktor konduksi saraf juga berkurang.
Faktor-faktor ini akan mengakibatkan kemungkinan menjalarnya potensial aksi dan
dengan demikian mengakibatkan kegagalan konduksi saraf. Anestetik lokal juga
mengakibatkan berkurangnya permeabiltas membran bagi ion K dan ion Na dalam
keadaan istirahat.
Anestetik lokal merupakan basa lemah. Dalam penerapan terapeutik, umumnya
disediakan dalam bentuk garam agar lebih mudah larut dan stabil. Konduksi saraf dapat
atau tidak dapat dihambat hanya dengan mengubah pH larutan menjadi 7,2 atau 9,6 pada
pH 9,6 konduksi akan berjalan.
Masa kerja anastetik lokal berbanding lurus dengan waktu kontak aktifnya dengan
serabut saraf. Akibatnya tindakan yang dapat melokalisasi obat pada saraf akan
memperpanjang waktu anestetik. Vasokonstriktor adalah obat yang sering dipakai
bersamaan dengan anestetik lokal dengan tujuan memperpanjang dan memperkuat kerja
anestetik lokal, mengurangi toksisitas sistemik karena mengurangi kecepatan absorpsi
obat, dosis yang dipakai juga menjadi lebih kecil. Yang sering dipakai dalam klinis adalah
epinefrin 1:200.000 dan norepinefrin 1:100.000. sebagian vasokonstriktor mungkin akan
diserap dan bila jumlahnya cukup banayak akan menimbulkan efek samping seperti
gelisah, takikardi, palpitasi dan nyeri dada. Selain itu mungkin pula dapat terjadi
perlambatan penyembuhan luka, edema dan, nekrosis. Semua anestetik lokal
menyebabkan vasodilatasi pembuluh darah kecuali kokain.
TINJAUAN PUSTAKA

Anestesi terdiri dari 2 macam yaitu anestesi umum dan anestesi lokal. Pada
pemberian obat anestetik lokal pasien tetap dalam keadaan sadar sedangkan jika pada
pemberian anestetik umum pasien hilang kesadarannya. Pada percobaan ini obat yang
dipakai adalah obat anestetik lokal.
Anestetik lokal adalah obat yang menghambat hantaran saraf bila dikenakan
secara lokal pada jaringan saraf dengan kadar yang cukup.
Sifat-sifat anestetik lokal yang ideal adalah sebagai berikut: 1.Tidak mengiritasi
jaringan sekitar; 2. Tidak merusak struktur saraf secara permanen; 3. Mempunyai
toksisitas sistemik yang rendah; 4. Memiliki Onset of Action yang cepat dan Duration of
Action yang cukup lama.
Obat-obat anestetik lokal memiliki struktur kimia yang terdiri dari gugus amin
hidrofil (amin tersier) dan gugus hidrofobik (aromatik) melalui gugus antara yaitu rantai
aromatik dengan ikatan ester atau amid. Maka, secara kimia anestetik lokal digolongkan
atas senyawa ester (Procain, Cokain, Tetracain, Benzocain) dan amid (Lidocain, Dibucain,
Mepivacain, Prilocain).

Obat-obat yang digunakan dalam praktikum ini adalah:


LIDOCAIN 2%
Struktur kimianya : C14H22N2O.
Obat ini mempunyai efek anestetik lokal, analgesik, dan depresan jantung.

FARMAKODINAMIK
Lidocain adalah anestetik lokal kuat yang digunakan secara luas dengan pemberian
topikal dan suntikan. Anestetik ini terjadi lebih kuat, lebih lama, lebih cepat, dan lebih
ekstensif daripada procain dan pantocain. Lidocain merupakan amino etil amid sehingga
dapat dijadikan sebagai pilihan bagi mereka yang hipersensitif terhadap procain dan
epinefrin. Lidokain dapat menyebabkan kantuk. Sediaan berupa larutan 0,5-5% dengan
atau tanpa epinefrin.
FARMAKOKINETIK
Lidocain mudah diserap di tempat suntikan, dan dapat melewati sawar darah otak.
Didalam hati, lidocain mengalami dealkilasi oleh enzim oksidase fungsi ganda (Mixed
Function Oxidase) membentuk mono etil glisin xilidid dan glisin xilidid. Kedua metabolit
ini ternyata masih memiliki efek anestesi lokal.

EFEK SAMPING
Efek samping lidocain biasanya berkaitan dengan efeknya terhadap SSP misalnya,
mengantuk, pusing, parestesia, gangguan mental, koma. Selain dapat berfungsi sebagai
obat anestesi lokal, lidocain juga dapat berfungsi sebagai obat untuk penyakit jantung
yaitu: anti Aritmia Ventriculair, terapi untuk keracunan digitalis, mencegah aritmia
setelah miokard infark.
Lidocain dosis berlebih dapat menyebabkan kematian akibat fibrilasi ventrikel atau
cardia arrest.
INDIKASI
Lidocain sering digunakan secara suntikan untuk anestesi infiltrasi, blokade saraf,
anestesi epidural, anestesi kaudal, dan digunakan sebagai obat penyakit jantung tertentu.

ETILKLORIDA
Merupakan cairan tidak berwarna, sangat mudah menguap, mudah terbakar, titik didih
12-13 C. Efek obat ini:
 Anestesi cepat terjadi dan cepat hilang.
 Induksi dalam 0,5 – 2 menit.
 Waktu pemulihan 2-3 menit.
Sudah tidak digunakan untukanestesi umum, hanya untuk induksi dan anestesi lokal.

Perpanjangan Efek Oleh Vasokonstriktor


Masa kerja anestetik lokal berbanding langsung dengan waktu kontak aktifnya
dengan saraf. Akibatnya, tindakan yang dapat melokalisasi obat pada saraf akan
memperpanjang waktu anestesia. Penambahan epinefrin pada larutan anestetik lokal akan
memperpanjang dan memperkuat kerja anestetik lokal. Dalam klinik, larutan suntik
anestetik lokal biasanya mengandung epinefrin (1 dalam 200.000 bagian), norepinefrin (1
dalam 100.000 bagian) atau fenilefrin. Pada umumnya zat vsokonstriktor ini harus
diberikan dalam kadar efektif minimal. Epinefrin mengurangi kecepatan absorbsi
anestetik lokal sehingga akan mengurangi juga toksisitas sistemiknya.
Sebagian vasokonstriktor mungkin akan diserap dan bila jumlahnya cukup banyak
akan menimbulkan efek samping misalnya, gelisah, takikardi, palpitasi dan nyeri dada.
Untuk mengurangi perangsangan adrenergik yang berlebihan dan yang tidak diiginkan
tersebut, perlu dipertimbangkan penggunaan obat penghambat alfa atau beta adrenergik.
Mungkin pula terjadi perlambatan penyembuhan luka, udem atau nekrosis. Efek yang
terakhir ini dapat terjadi karena amin simpatomimetik menyebabkan peninggian
pemakaian oksigen jaringan, dan dengan adanya vasokonstriksi terjadi hipoksia serta
kerusakan jaringan setempat. Keadaan ini akan membahayakan bila zat anestetik lokal
digunakan pada tindakan pembedahan jari tangan atau kaki. Vasokonstriksi pembuluh
nadi utama yang hanya mempunyai sedikit sirkulasi kolateral akan menimbulkan
kerusakan jaringan yang ireversibel atau gangren. Selain dari itu zat anestetik lokal
sendiri mungkin dapat menganggu proses penyembuhan luka.

Teknik pemberian anestetik lokal


Cara pemberian anestesi lokal berbeda-beda, diantaranya: 1. anestetik permukaan; 2.
anestetik infiltrasi; 3. anestetik blok: anestesi spinal, anestesi kaudal, anestesi epidural.

ANESTESI PERMUKAAN
Anestesi permukaan ialah pemberian zat anestesi lokal pada permukaan tubuh/topikal.
Misalnya, dioleskan pada kulit, kornea, dan mukosa. Tujuannya adalah untuk
menghilangkan nyeri pada ulkus dan luka bakar. Obat yang sering dipakai adalah
tetracain, lidocain dan cokain. Vasokonstriktor yang biasa dipakai adalah fenilefrin.
Pemberian pada kadar tidak tepat dapat menyebabkan proses penyembuhan luka
terganggu.
ANESTESI INFILTRASI
Anestesi infiltrasi adalah pemberian obat anestesi lokal dengan cara disuntikan
intradermal/subcutan. Tujuannya adalah untuk menimbulkan anestesi ujung-ujung saraf
sensoris. Metode yang sering digunakan adalah blokade lingkar (ring block).

ANESTESI BLOK
Anestesi blok adalah macam cara yang digunakan untuk mempengaruhi konduksi sistem
saraf otonom maupun somatis. Tujuannya adalah untuk digunakan pada tindakan
pembedahan maupun untuk tujuan diagnostik dan terapi. Menurut tempat
penyuntikannya anestesi blok dibagi menjadi: a. Field Block Anestesia, yaitu
penyuntikan subcutan sehingga transmisi saraf ke bagian proximal tempat penyutikan
terhambat; b. Nerve Block Anestesia, yaitu penyuntikan pada saraf tunggal atau plexus
saraf. Dengan obat yang sedikit dihasilkan efek anestesi yang luas. Termasuk di sini
ialah anestesi spinal, anestesi kaudal dan anestesi epidural.

1. Anestesi Spinal
Caranya adalah dengan menyuntikan obat anestetik lokal pada ruang subarachnoid di
bawah conus medularis (L3-L5)
Urutan saraf yang dipengaruhi adalah:
Saraf otonom (simpatis dan parasimpatis) → saraf eksterosensoris (dingin, panas, raba,
dan tekan) → saraf motoris → saraf vibrasi → saraf proprioseptik.
Saat pemulihan terjadi dengan urutan sebaliknya.
Lamanya Anestesi
Anestesi dengan prokain berlangsung rata-rata 60 mnt, tetrakain 120 mnt, lidokain 180
mnt.Lamanya anestesi dapat diperpanjang dengan meninggikan kadar obat yang
disuntikan, menambah vasokonstriktor epinefrin atau fenilefrin.
Derajat Anestesi
Untuk mendapatkan blokade sensoris yang luas, obat harus berdifusi ke bagian tubuh
yang memerlukan. Hal ini dipengaruhi oleh faktor posisi pasien dan berat jenis obat.
Berat Jenis Obat
Berat jenis normal cairan serebrospinal adalah 1,007.
Larutan anestetik lokal dengan BJ lebih dari 1,007 disebut hiperbarik, hal ini dapat
dicapai dengan penambahan glukosa ke dalam larutan. Larutan anestetik lokal dengan BJ
kurang dari 1,007 disebut hipobarik, hal ini dapat dicapai dengan melarutkan zat anestesi
ke dalam larutan NaCl hipotonis atau air suling.
Posisi Pasien
Distribusi anestesi dapat diatur dengan mengatur posisi pasien dan dengan
memperhatikan berat jenis obat yang digunakan. Misalnya, bila diperlukan anestesi
bagian bawah badan, pasien harus dalam sikap duduk selama penyuntikan larutan
hiperbarik dan 5 menit sesudahnya, atau pasien berbaring dengan kepla lebih rendah dari
kaki selama penyuntikan larutan hipobarik.
Sistem Pernapasan
Pada anestesi spinal didapati penurunan kapasitas maksimal pernapasan.Depresi
pernapasan dapat terjadi karena : 1. Blokade pada saraf intercostalis dan phrenichus; 2.
Aksi langsung pada medula oblongata; 3. Darah ke respiratory centre turun karena
hipotensi berat.
Pertolongan penting pada keadaan ini ialah napas buatan sedangkan obat tidak berfaedah.
Sistem Kardiovaskuler
Vasodilatasi arteriol di daerah tempat serabut eferen simpatis mengalami blokade;
blokade impuls tonus vasokonstriktor vena menyebabkan dilatasi vena → venous return
 → CO  → BP  → hipotensi.
Hipotensi dipermudah oleh: 1. Perubahan posisi pasien; 2. sebelumnya terjadi hipertensi;
3. hipovolemi; 4. adanya kehamilan usia lanjut; 5. penggunaan obat yang menekan
keaktifan simpatis.
Pada anestesi spinal bila tekanan darah turun 25 % dari nilai normal, maka harus
dilakukan: 1. Pasien ditidurkan dengan posisi kepala lebih rendah; 2. Diberi oksigen; 3.
Vasopressor, yang paling menguntungkan adalah yang dapat menurunkan kapasitas vena.
Keuntungan Anestesi Spinal : 1. Pasien tetap sadar; 2. Relaksasi otot sempurna dan
terjadi analgesia; 3. Digunakan untuk operasi tungkai bagian bawah, rektum, prostat,
perianal; 4. Tidak ada reflek kompensasi.
Kerugian Anestesi Spinal : 1. Dapat terjadi hipotensi; 2. Dapat terjadi depresi pernapasan;
3. Komplikasi neurologis; 4. Mual dan muntah; 5. Tinggi-rendahnya anestesi tidak dapat
dikontrol.
Komplikasi Neurogis : 1. Trauma penyuntikan; 2. Kebocoran cairan otak; 3. Sindroma
cauda equina; 4. Kontaminasi bakteri dan desinfektan; 5. Chronic progresive adhesive
arachnoiditis.
Indikasi Anestesi Spinal : operasi perut bagian bawah, perineum, dan tungkai bawah.

2. Anestesi Epidural
Caranya adalah dengan menyuntikan obat anestetik lokal ke dalam ruang epidural di
bawah L2.
Keuntungan Anestesi Epidural: 1. Obat tidak masuk ke ruang subarachnoid sehingga
timbulnya sakit kepala dan gejala neurologis dapat dihindarkan; 2. Anestesi segmental.
Kerugian Anestesi Epidural: 1. Diperlukan obat dalam jumlah yang besar; 2. Butuh waktu
yang lebih lama untuk tercapai anestesi.

3. Anestesi Kaudal
Caranya adalah dengan menyuntikan obat ke dalam canalis sacralis melalui hiatus
sacralis. Bahaya yang ditimbulkan ialah masuknya obat ke dalam vena akibat jarum
masuk ke dalam plexus vena sekitar hiatus scralis.
METODOLOGI

Bahan :
1. larutanlidokain 2%
2. larutanlidokain HCL 2% + epinefrin 1:75.000
3. etilklorida (dalam botolsemprot)
4. alcohol 70%

Alat :
 kapas
 spuit tuberculin
 jarumsuntik
 beker glass
 esbatu
 airpanas

Keterangan :
 tiap kelompok menyiapkan 2 orang mahasiswa sebagai subjek percobaan
 masing-masing subjek percobaan mendapatkan perlakuan:
1. penyuntikan intra kutan (dilakukan dokter atau asisten)
2. disemprotkan etil klorida (oleh asisten)

Perhatikan :
1. tempat penyuntikan dibersihkan dulu dengan alcohol 70%
2. jika obat suntik masuk denganbenar secara intrakutan, akan tampak papula
dengan diameter 5mm.
3. penyuntikan jangan dekat vena
4. jangan melakukan penyuntikan pada diri sendiri
5. tehnik penyuntikan harus dikuasai betul
6. bekerja secara benar-benar aseptik

Lakukanpemeriksaan rasa sebagai berikut :

Jenis rasa Alat yang digunakan


Raba Kapas
Panas Tabung reaksi berisi air panas
Dingin Tabung reaksi berisi es
Nyeri Ujung jarum pentul
Tekan Ujung tumpul pensil

RENCANA KERJA :
1. suntikan intrakutan 0,2 ml larutan lidokain HCL 2% dalam spuit tuberculin pada
bagian volar lengan bawah, catatlah :
- saat obat disuntikan
- saat hilang rasa nyeri, raba, panas, dingin dan tekan
- rasa mana yang lebih dulu hilang ?
- rasa mana yang lebih dulu timbul ?
selama percobaan OP jangan melihat pada lengannya yang sedang
dijadikan percobaan!
2. Lakukanlah percobaan A pada lengan lainnya, dengan menggunakan larutan :
- lidokain 2% + epinefrin HCL dengan perbandingan 1:75.000
3. semprotkanlah etilklorida pada tempat tertentu pada lengan bawah subjek
percobaan kedua. Terbentuk salju seperti bulu ayam yang berwarna putih, secara
serentak lakukan pemeriksaan terhadap semua rasa dengan cepat karena pengaruh
anestesi (duration of action) etil klorida sangat pendek.

HASIL & PEMBAHSAN

Hasil Percobaan
Lidocain HCL Lidocain HCL + epinefrin EtilKlorida

Waktu suntik : 08:38 Wktsuntik : 08: 28 Wktsuntik: 08:41

Waktu Saat Saat interval Saat Saat interval Saat Saat Interval
(menit) hilang timbul hilang timbul hilang timbul
Sensasi 38’’ 20’.25’’ 19’.47’’ 03’.45’’ 120’.55’’ 117’.10’’ 06’’ 1’.09’’ 1’.03’’
nyeri
Sensasi 51’’ 11’.52’’ 11’.01’’ 04’.07’’ 26’.08’’ 22’.01’’ 07’’ 1’.08’’ 1’.01’’
dingin

Sensasi 1.12’’ 14’.53’’ 13’.41’’ 04’.15’’ 22’.03’’ 17’.48’’ 08’’ 1’.06’’ 58’’
panas
Sensasi 1.20’’ 06’.52’’ 05’.32’’ 03’.45’’ 13’.13’’ 09’.28’’ 09’’ 1’.02’’ 53’’
raba
Sensasi 1.48’’ 07’.20’’ 05’.32’’ 04’.33’’ 13’.18’’ 08’.45’’ 12’’ 27’’ 15’’
tekan

PEMBAHASAN
Pada pemakain lidocain HCL, efek kerja yang pertama hilang adalah sensasi nyeri (38”)
dan yang pertama timbul adalah sensasi raba (06.’52’’) sedangkan yang paling lama
menghilang adalah sensasi nyeri (20’.25’’).
Pada pemakaian lidocain HCL + epinefrin, efek kerja yang pertama hilang adalah sensasi
nyeri (03.’45’’) dan yang pertama timbul adalah sensasi raba (13.’13’’), sedangkan yang
paling lama menghilang adalah sensasi nyeri (120’55’’).
Pada pemakain etilklorida efek kerja yang pertama hilang adalah hilangnya sensasi nyeri
(06’’) dan yang pertama timbul adalah sensasi tekan (27’’), sedangkan efek kerja yang
paling lama menghilang adalah sensasi nyeri (1’.09’’).

KESIMPULAN
Jadi pada percobaan anestesi lokal pada kulit didapatkan waktu yang singkat pada
pemakaian etilklorida, sedangkan yang terlama adalah penggunaan lidocain HCL +
epinefrin karena mengandung vasokonstriktor dibandingkan dengan pemakaian lidocain
HCL saja.

DAFTAR PUSTAKA
 Handoko, Toni. 1995. Anestetik Umum. Farmakologi dan Terapi FK – UI. Sulistia G.
Ganiswarna (Ed.). Gaya Baru. Jakarta. Edisi 4.
Halaman 234-247.
 Goodman and Gilman. 1980. History and Principles of Anesthesiology. The
Pharmacological Basis of Therapeutics. Alfred Goodman (Ed.).
McMillian Publishing Co. Inc. NewYork. Sixth Edition.
Halaman 267.
 Bustami, Zunilda S. 1990. Obat yang Mempengaruhi Susunan Saraf Pusat III. Anestetik
dan Penghambat Neuromuskuler. Praktis Dalam Farmakologi.
Binarupa Aksara. Jakarta. Edisi 2.
Halaman 154, 158 – 161.