Anda di halaman 1dari 13

“SISTEM BUFFER TUBUH”

Dosen Pengampuh : Ahlan Sangkal. S.pd, M.si

DISUSUN OLEH :

KELOMPOK 11

1. Alma Harpia Nani (1901054)


2. Indria Putri Utina (1901055)
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKES) MUHAMMADIYAH MANADO

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN

TAHUN AJARAN 2019-2020

MANADO

i
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang maha pengasih lagi maha penyayang, kami panjatkan
puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah kepada
kami, sehingga kami bisa menyelesaikan makalah ini mengenai “Sistem Buffer Tubuh”

Makalah ini sudah selesai kami susun dengan maksimal dengan bantuan pertolongan dari
berbagai pihak sehingga bisa memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami
menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang suda ikut berkontribusi dalam
pembuatan makalah ini.

Terlepas dari semua itu, kami menyadari bahwa masi jauh dari kata sempurna baik dari segi
susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu, kami terbuka untuk menerima segala
masukan dan kritik yang bersifat membangun dari pembaca sehingga kami bisa melakukan
pebaikan makalah ilmiah sehingga menjadi makalah yang baik dan benar.

Akhir kata kami meminta semoga makalah ilmiah tentang “Sistem Buffer Tubuh” ini bisa
memberi manfaat maupun inspirasi pada pembaca.

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................................................... ii


DAFTAR ISI.................................................................................................................................. iii
BAB 1 ............................................................................................................................................. 1
PENDAHULUAN .......................................................................................................................... 1
A. Latar Belakang ..................................................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ................................................................................................................ 2
C. Tujuan .................................................................................................................................. 2
BAB II............................................................................................................................................. 3
PEMBAHASAN ............................................................................................................................. 3
A. Pengertian Sistem Buffer ..................................................................................................... 3
B. Macam – Macam Larutan Buffer ......................................................................................... 4
C. Fungsi Larutan Buffer .......................................................................................................... 4
D. Jenis - Jenis Sistem Buffer ................................................................................................... 5
E. Regulasi pH melalui Respirasi ............................................................................................. 7
F. Regulasi pH oleh Ginjal ....................................................................................................... 8
BAB III ........................................................................................................................................... 9
PENUTUP....................................................................................................................................... 9
A. Kesimpulan .......................................................................................................................... 9
B. Saran .................................................................................................................................... 9

iii
BAB 1

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Buffer adalah suatu substansi atau sekelompok substansi yang dapat mengabsorps, atau
melepaskan ion-ion hidrogen untuk memperbaiki adanya ketidakseimbangan asam-basa.
Cairan tubuh tidak statis. Cairan dan elektrolit berpindah dari satu kompartemen ke
kompartemen lain untuk memfasilitasi proses – proses yang terjadi di dalam tubuh, seperti
oksigenasi jaringan, respons terhadap penyakit, keseimbangan asam-basa, dan respons
terhadap terapi obat. Cairan tubuh dan elektrolit berpindah melalui difusi, osmosis,
transportasi aktif, atau filtrasi. Perpindahan tersebut bergantung pada permeabilitas
membrane sel atau kemampuan membrane untuk ditembus cairan dan elektrolit. Untuk
mempertahankan kesehatandibutuhkan keseimbangan cairan, elektrolit dan asam- basa di
dalam tubuh. Banyak factor yang dapat menyebabkan ketidakseimbangan salah satunya
karena penyakit.
Orang dewasa yang sehat, aktif bergerak, dan memiliki orientasi yang baik biasanya dapat
mempertahankan keseimbangan cairan, elektrolit dan asam-basa yang normal karena
mekanisme adaptif tubuhnya. Namun bayi, orang dewasa yang menderita penyakit berat,
klien dengan gangguan orientas atau klien yang immobile, serta lansia sering kali tidak
mampu merespn secara mandiri. Kandungan air dari tubuh seseorang kerap kali dikatakan
sebanyak 70% dari berat badan. Lebih tepat dikatakan bahwa kandungan air pada tubuh
seseorang adalah 70% dari berat tubuh bebas lemak. Jaringan lemak pada tubuh
mengandung sedikit air. Berat lemak pada tubuh seseorang berkisar antara 10-40%
dari BB. Variasi dari kandungan lemak badan ini menyebabkan kandungan air
tubuh, bila dibandingkan dengan BB keseluruhannya berkisar antara 40-70% BB
keseluruhan. Kandungan rata-rata ialah sekitar 60% untuk laki-laki yang berusia antara 17-
40 tahun dan 51% untuk perempuan pada rentang usia yang sama. Jadi, angka 60% dari
BB akan digunakan sebagai gambaran yang masuk akal bagi air tubuh total. Cairan dan
elektrolit sangat diperlukan dalam rangka menjaga kondisi tubuh tetap sehat.
Keseimbangan cairan dan elektrolit di dalam tubuh adalah merupakan satu bagian dari

1
fisiologi homeostatis. Keseimbangan cairan dan elektrolit melibatkan komposisi
dan perpindahan berbagai cairan tubuh.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari Sistem Buffer ?
2. Apa saja macam Larutan buffer
3. Apa saja fungsi Larutan Buffer
4. Apa Saja jenis sistem Buffer

C. Tujuan
1. Mengetahui apa itu Sistem Buffer
2. Mengetahui Larutan buffer
3. Mengetahui fungsi Larutan Buffer
4. Mengetahui manfaat Akupresur
5. Mengetahui jenis sistem Buffer

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Sistem Buffer

Buffer adalah zat yang dapat mempertahankan pH ketika ditambah sedikit asam/basa atau
ketika diencerkan. Buffer memiliki dua macam : asam lemah dan garamnya atau basa
lemah dan garamnya. Buffer dalam tubuh manusia adalah darah. Jika darah tidak memiliki
buffer maka ketika minum jus jeruk yang kecut, tubuh kita dapat mengalami asidosis (pH
darah asam ). (Anonim, 2008).

Buffer dalam darah adalah jenis buffer yang terdiri dari asam lemah dan garamnya. Asam
lemah nya adalah asam karbonat H2CO3 ( asam lemah ) dan garamnya adalah HCO3-.
Buffer tersebut dapat mempertahankan pH darah sekitar 7,35 – 7,45 dengan reaksi sebagai
berikut : H2CO3 + OH- => HCO3- + H2OHCO3- + H+ => H2CO3

Ketika masuk zat asam dalam tubuh maka yang bertugas menetralisir adalah asam lemah
(asam karbonat). Jika masuk zat basa, yang bertugas menetralisisr adalah garamnya.Ketika
masuk zat asam. Ketika hal ini terjadi asam karbonatlah yang menjadi pahlawan. Ia akan
menghadapi si asam ini dan bereaksi dengannya. Hasil reaksi ini membuat keadaan
kembali netral dan menghasilkan hasil reaksi berupa garam yang banyak. Garam ini
sebagain disimpan dan jika lebih akan dibuang melalui urin. Jadi kalo banyak makan atau
minum yang asam asam, kita akan banyak menghasilkan urin. Karena asam karbonat
bereaksi dengan asam untuk menetralkan tadi, maka jumlah asam karbonat akan berkurang
sehingga kita perlu mempeorlhnya dari pernafasan CO2. Ketika masuk zat basa Ketika hal
ini terjadi garam lah yang menjadi pahlawan. Ia akan menghadapi basa ini dan bereaksi
dengannya. Hasil reaksi ini membuat keadaan kembali netral dan menghasilkan hasil
reaksi berupa asam karbonat yang banyak. Asam karbonat ini sebagain disimpan dan jika
lebih akan dibuang melalui nafas (CO2). Jadi kalo banyak makan atau minum yang basa
basa, kita akan banyak menghasilkan CO2.

3
B. Macam – Macam Larutan Buffer
1. Larutan buffer / penyangga Bersifat Asam
Larutan ini mempertahankan pH pada daerah asam (pH < 7). Untuk mendapatkan
larutan ini dapat dibuat dari asam lemah dan garamnya yang merupakan basa konjugasi
dari asamnya. Adapun cara lainnya yaitu mencampurkan suatu asam lemah dengan
suatu basa kuat dimana asam lemahnya dicampurkan dalam jumlah berlebih. Campuran
akan menghasilkan garam yang mengandung basa konjugasi dari asam lemah yang
bersangkutan. Pada umumnya basa kuat yang digunakan seperti natriumNa), kalium,
barium, kalsium, dan lain-lain.
2. Larutan buffer / penyangga Bersifat Basa
Larutan ini mempertahankan pH pada daerah basa (pH > 7). Untuk mendapatkan larutan
ini dapat dibuat dari basa lemah dan garam, yang garamnya berasal dari asam kuat.
Adapun cara lainnya yaitu dengan mencampurkan suatu basa lemah dengan suatu asam
kuat dimana basa lemahnya dicampurkan berlebih.

C. Fungsi Larutan Buffer


Adanya larutan buffer ini dapat kita lihat dalam kehidupan sehari-hari seperti pada obat-
obatan, fotografi, industri kulit dan zat warna. Selain aplikasi tersebut, terdapat Fungsi
penerapan konsep larutan penyangga ini dalam tubuh manusia seperti pada cairan tubuh.
Cairan tubuh ini bisa dalam cairan intrasel maupun cairan ekstrasel. Dimana sistem
penyangga utama dalam cairan intraselnya seperti H2PO4–dan HPO42- yang dapat
bereaksi dengan suatu asam dan basa. Adapun sistem penyangga tersebut, dapat menjaga
pH darah yang hampir konstan yaitu sekitar 7,4.
1. Menjaga pH pada plasma darah agar berada pada pH berkisar 7,35 – 7,45, yaitu dari
ion HCO3–denganion Na+. Apabila pH darah lebih dari 7,45 akan mengalami
alkalosis, akibatnya terjadi hiperventilasi / bernapas berlebihan, mutah hebat. Apabila
pH darah kurang dari 7,35 akan mengalami acidosis akibatnya jantung, ginjal ,hati
dan pencernaan akan terganggu.
2. Menjaga pH makanan olahan dalam kaleng agar tidak mudah rusak/teroksidasi
(asambenzoat dengan natrium benzoat). Selain itu penerapan larutan buffer ini dapat
kita temui dalam kehidupan sehari-hari seperti pada obat tetes mata.

4
3. Menjaga pH cairan tubuh supaya ekskresi ion H+ pada ginjal tidak terganggu, yakni
asam dihidrogen posphat (H2PO4-) dengan basa monohidrogen posphat (HPO42-)
4. Selain itu penerapan larutan penyangga ini dapat kita temui dalam kehidupan sehari-
hari seperti pada obat tetes mata.

D. Jenis - Jenis Sistem Buffer


1. Buffer Kimiawi
Buffer (penyangga) adalah larutan kimia yang menahan perubahan pH jika terdapat
penambahan asam atau basa. Larutan buffer terdiri dari; larutan asam lemah dan
garamnya, seperti asam karbonat dan natrium bikarbonat atau larutan basa lemah dan
garamnya, seperti larutan ammonia dan ammonium klorida. Jika pH menurun, maka
garam (natrium bikarbonat) berperan sebagai basa yang akan menerima ion hydrogen
yang ditambahkan pada larutan. Jika pH meningkat, asam lemah (asam karbonat) akan
mendonorkan ion hydrogen kepada larutan, sehingga perubahan pH akan “disangga”. Hal
yang sebaliknya berlaku untuk basa lemah dan garamnya.
Secara umum buffer bereaksi dengan melepaskan atau mengambil ion hydrogen:
- Penurunan konsentrasi ion hydrogen
- Peningkatan konsentrasi ion hydrogen

Perhatikan bahwa ion hydrogen tidak dibuang dari tubuh namun hanya terperangkap oleh
buffer. System buffer kimiawi utama dalam tubuh adalah:

1. Sistem buffer bikarbonat


2. System buffer fosfat
3. System buffer protein
Semua system buffer akan bekerja bersama untuk mengembalikan pH dalam sekejap,
tetapi terdapat keterbatasan perubahan pH sebesar apa yang dapat dijaga konstan oleh
buffer. Hal ini tergantung pada cadangan buffer yang tersedia, disebut juga “kapasitas
buffer”. Jika jumlah asam atau basa yang ditambahkan sangat besar, maka system buffer
tidak akan mampu mengatasinya.

5
2. System Buffer Bikarbonat
Sistem buffer bikarbonat merupakan buffer ekstraselular utama dan
bertanggung jawab mempertahankan pH darah. Kabon dioksida yang terbentuk selama
respirasi selakan larut dalam air (plasma) untuk membentuk asam karbonat. Asam
karbonat ini akan berdisosiasi sebagian menghasilkan ion hydrogen dan ion bikarbonat.
Ion bikarbonat akan berperan sebagai akseptor ion hydrogen. Jika ion hydrogen
ditambahkan ke dalam tubuh, seperti asam laktat yang dihasilkan saat berolahraga,
maka ion bikarbonat dan ion hydrogen yang terbentuk dari asam laktat akan
membentuk asam karbonat. Asam karbonat berperan sebagai donor ion hydrogen.
Jika ion hydrogen hilang dari tubuh, seperti pada kasus muntah-muntah berat, asam
karbonat akan berdisosiasi lebih banyak untuk melepaskan ion hydrogen dan ion
bikarbonat. Rasio normal bikarbonat terhadap asam karbonat adalah 20:1. Sistem
bikarbonat menyangga 90% ion hydrogen dalam darah dan sangat penting karena
jumlah karbon dioksida dan ion bikarbonat juga dapat diatur oleh paru dan ginjal.
Jumlah ion bikarbonat yang tersedia untuk buffer disebut juga cadangan alkali.
3. Sistem Buffer Fosfat
Sistem ini serupa dengan sistem buffer bikarbonat. Garam natrium dari dihydrogen
fosfat dan monohidrogen fosfat masing-masing akan berperan sebagai asam lemah dan
basa lemah. Buffer fosfat terutama mempertahankan pH fluida intraselular dan tubulus
ginjal, sehingga tidak akan mempertahankan pH darah, namun merupakan buffer yang
penting untuk urin.
4. Sistem Buffer Protein
Protein merupakan rantai panjang asam-asam amino yang bersatu. Asam
amino mengandung gugus amino dasar (NH2) dan gugus asam (COOH). Tiga bentuk
asam amino yang ada tergantung dari pH. Buffer protein merupakan sistem yang sangat
kompleks dan akan mempertahankan pH fluida intraselular dan plasma. Protein
hemoglobin memiliki dua fungsi khusus, yaitu mentranspor oksigen ke jaringan dan
juga menyangga ion hydrogen yang transit dari sel ke paru.
5. Sistem Buffer Hemoglobin
Karbon dioksida berdifusi ke dalam eritrosit (sel darah merah). Di dalam sel, karbon
dioksida akan diubah menjadi asam karbonat oleh enzim karbonat anhidrase. Asam

6
karbonat akan berdisosiasi sebagian menghasilkan ion hydrogen dan ion bikarbonat.
Kemudian hemoglobin dan ion hydrogen tersebut bergabung membentuk hemoglobin
tereduksi. Reaksi ini terjadi karena hemoglobin tereduksi merupakan asam yang lebih
lemah dibandingakan oksihemoglobin dan asma karbonat sehingga akan berikatan lebih
kuat dengan hydrogen. Sehingga ketika oksigen dilepaskan, ion hydrogen yang
terbentuk dari asupan karbon dioksida akan terperangkap oleh hemoglobin, dan hal
ini mencegah perubahan pH. Saat ion bikarbonat terbentuk dalam eritrosit, ion
bikarbonat ini akan berdifusi keluar ke dalam plasma, menjadi bagian cadngan alkali
dan menyangga ion hydrogen. Pada saat ion bikarbonat berdifusi ke luar eritrosit, ion
klorida akan berdifusi masuk ke dalam. Hal ini terjadi untuk mempertahankan muatan
sel tetap netral atau seimbang, dan disebut juga reaksi pergeseran (shift) klorida. Di
alveoli paru terjadi kebalikan dari seluruh proses ini, karbo dioksida dan air akan
dibuang melalui proses pernapasan.
6. Sistem Buffer Amonia
Amonia terbentuk dalam sel tubulus ginjal dari pemecahan asam amino. Amonia akan
berdifusi ke dalam tubulus ginjal, menyangga ion hydrogen dalam filtrate ginjal dan
membentuk ion ammonium. Ion ammonium diekskresi di urin dan mencegah
urin terlalu asam. NH3 (amonia) + H+ (ion hidrogen) NH→4+ (ion ammonium).

E. Regulasi pH melalui Respirasi


Perubahan pernapasan (ventilasi) dapat mengubah pH dengan dramatis. Jika ventilasi
dipercepat dua kali lipat atau diperlambat setengahnya, maka pH dapat berubah 0,2 satuan.
Pada orang sehat produksi karbon dioksida adalah 10 mmol/menit, dan dikeluarkan melalui
paru dengan kecepatan yang sama seperti kecepatan pembentukkannya di
jaringan. Kecepatan ventilasi diregulasi secara tepat sesuai kadar P co2 dan konsentrasi ion
hydrogen (pH) dalam darah arteri (P co2 menunjukkan tekanan parsial karbon dioksida
dalam darah arteri). Kadar ini dimonitgor oleh kemoreseptor perifer (badan karotis
dan aorta) dan kemoreseptor sentral di medulla yang sensitif terhadap perubahan pH
cairan serebrospinal (kemoreseptor member respons terhadap perubahan kimiawi
disekitarnya). Respons yang diberikan adalah perubahan kecepatan dan kedalaman
ventilasi. Nilai normal P co2 adalah 4,7-6,0 kPa atau 35-45 mmHg. Asidosis respiratorik

7
terjadi jika terdapat akumulasi karbon dioksida dalam darah dan peningkatan P co2
di atas normal, yaitu >6 kPa. Alkalosis respiratorik terjadi jika karbom dioksida
dibuang dari darah dan P co2 turun di bawah normal, yaitu <4,7 kPa.

F. Regulasi pH oleh Ginjal


Terdapat 1,3 juta nefron pada setiap ginjal. Fungsi nefron adalah filtrasi, sekresi, dan
reabsorpsi. Ginjal meregulasi pH secara selektif dengan membuang atau mengembalikan
ion-ion dan produk lainnya ke darah. Ginjal memfiltrasi 1,2 L darah/menit. Buffer bekerja
dalam hitungan detik dan sistem respirasi dalan beberapa menit, tetapi sistem ginjall
memerlukan waktu beberapa jam bahkan berhari-hari. Bandingkann berapa kali anda ke
toilet dalam sehari dengan berapa banyak anda bernapas setiap harinya. Seperti hal,nya
sistem respirasi, ginjal membuang asam dan basa dari tubuh dan tidak ada batasan untuk
kapasitas sistem ini. Ginjal bertanggung jawab membuang asam-asam tetap seperti asam
laktat dan asam fosfat yang terbentuk selama metabolisme. Penurunan pH karena
akumulasi asam-asam ini disebut juga asidosis metabolic. Regulasi ion bikarbonat
hanya dilakukan oleh ginjal. Reabsorpsi ion bikarbonat memungkinkan
pembaruan sistem buffer. Akumulasi ion bikarbonat di darah akan menyebabkan
alkalosis metabolic. Selama asidosis metabolic, ginjal mempertahankan pH dengan
mensekresi ion hydrogen dan mereabsorpsi ion bikarbonat. Pada alkalosis metabolic,
terjadi reaksi sebaliknya.

8
BAB III

PENUTUP
A. Kesimpulan
Kisaran pH darah yang normal adalah 7,35-7,45. Kisaran pH yang memungkinkan
kehidupan adalah hanya 7,0-7,8. Istilah alkalosis digunakan jika pH darah arteri meningkat
diatas 7,45. Pasien akan disebut menderita alkalosis. Sebaliknya bila pH turun di bawah
7,35 disebut asidosis (istilah ini digunakan karena darah lebih asam daripada seharusnya,
walaupun pH sesungguhnya masih netral). Pasien dapat disebut menderita asidosis.
Perubahan kecil pH darah dapat berakibat fatal, pasien dengan ph darah 7,25 atau 7,7
biasanya akan mengalamI koma.

B. Saran
Praktek keperawatan profesional harus terwujud dalam tatanan praktek yang nyata yaitu
pemberian asuhan secara langsung kepada pasien, keluarga,kelompok ataupun
komunitas.Untuk menjamin mutu asuhan yang di berikan diperlukan suatu ukuran untuk
mengevaluasi perawat punya langkah sistematis yang disebut sebagai proses keperawatan

9
DAFTAR PUSTAKA

James, Joyce ,Colin Baker dan Helen Swain.2008.Prinsip-prinsip Sains untuk


Keperawatan.Jakarta:Penerbit Erlangga.
https://dokumen.tips/documents/makalah-sistem-buffer-dan-cairan-tubuh-manusia.html diakses
tanggal 14-desember-2019
http://ayunadifah.blogspot.com/2013/03/sistem-buffer-tubuh-manusia.html?m=1 diakses tanggal
14-desember-2019
https://www.gurupendidikan.co.id/pengertian-larutan-buffer/ diakses tanggal 14-desember-2019

10