Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Gangguan muskuloskeletal adalah suatu kondisi yang mempengaruhi
sistem muskuloskeletal yang dapat terjadi pada tendon, otot, sendi, pembuluh
darah dan atau saraf pada anggota gerak. Gejala dapat berupa nyeri, rasa tidak
nyaman, kebas pada bagian yang terlibat dan dapat berbeda derajat
keparahannya mulai dari ringan sampai kondisi berat, kronis dan lemah.
Gangguan muskuloskeletal merupakan salah satu masalah utama
kesehatan diseluruh dunia dengan prevalensi 35 – 50% (Lindgren dkk, 2010).
Pada Nord –Trøndelag County di Norwegia terdapat 45% dari populasi orang
dewasa melaporkan nyeri musculoskeletal kronis selama setahun terakhir
(Hoff dkk, 2008). Gangguan muskuluskeletal diantaranya fraktur, dislokasi,
sprain, strain dan sindrom compartemen.
Dikehidupan sehari hari yang semakin padat dengan aktifitas masing-
masing manusia dan untuk mengejar perkembangan zaman, manusia tidak
akan lepas dari fungsi normal musculoskeletal terutama tulang yang menjadi
alat gerak utama bagi manusia, tulang membentuk rangka penujang dan
pelindung bagian tubuh dan tempat untuk melekatnya otot-otot yang
menggerakan kerangka tubuh, namun dari ulah manusia itu sendiri, fungsi
tulang dapat terganggu karena mengalami fraktur. Fraktur atau patah tulang
adalah terputusnya kontinuitas tulang atau tulang rawan umumnya di
karenakan rudapaksa (Mansjoer, 2008).
Sprain atau keseleo merupakan cedera umum yang dapat menyerang siapa
saja, tetapi lebih mungkin terjadi pada individu yang terlibat dengan olahraga,
aktivitas berulang, dan kegiatan dengan resiko tinggi untuk kecelakaan. Sprain
biasanya terjadi pada jari-jari, pergelangan kaki, dan lutut. Bila kekurangan
ligamen mayor, sendi menjadi tidak stabil dan mungkin diperlukan perbaikan
bedah.
Strain atau regangan adalah berlebihan peregangan otot, lapisan fasia nya,
atau tendon. Kebanyakan strain terjadi pada kelompok otot besar termasuk
punggung bawah, betis dan paha belakang. Strain juga dapat diklasifikasikan
sebagai tingkat pertama (otot ringan atau sedikit menarik), tingkat kedua

1
(sedang atau otot robek pada tingkat menengah) dan tingkat ketiga (robek
parah atau pecah).

1.2 RUMUSSAN MASALAH


Berdasarkan data-data di atas bagaimana konsep kegawatdaruratan pada truma
thorak ?
1. Bagaimana penilaian awal trauma musculoskeletal?
2. Bagaimana trauma musculoskeletal yang mengancam jiwa?
3. Apa saja trauma yang mengancam musculoskeletal?
4. Bagaimana penatalaksanaan trauma musculoskeletal?
5. Apa definisi kompartement syndrome?
6. Apa penyebab kompartement syndrome?
7. Bagaimana penatalaksanaan kompartement syndrome?

1.3 TUJUAN
1. Untuk mengetahui penilaian awal trauma musculoskeletal
2. Untuk mengetahui trauma musculoskeletal yang mengancam jiwa
3. Untuk mengetahui apa saja trauma yang mengancam musculoskeletal
4. Untuk mengetahui penatalaksanaan trauma musculoskeletal
5. Untuk mengetahui definisi kompartement syndrome
6. Untuk mengetahui penyebab kompartement syndrome
7. Untuk mengetahui penatalaksanaan kompartement syndrome

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi Trauma Muskuloskeletal
Trauma muskuloskeletal adalah suatu keadaan ketika seseorang
mengalami cedera pada tulang, sendi dan otot karena salah satu sebab.
Kecelakaan lalu lintas, olahraga dan kecelakaan industri merupakan penyebab
utama dari trauma muskuloskeletal. Seorang perawat dituntut untuk
mengetahui bagaimana perawatan klien dengan trauma muskuluskoletal yang
mungkin dijumpai di jalanan maupun selama melakukan asuhan keperawatan
di rumah sakit. Pengangan untuk klien dengan trauma muskuloskeletal
memerlukan peralatan serta ketrampilan khusus yang tidak semuanya dapat
dilakukan oleh perawat. Trauma muskuloskeletal biasanya menyebabkan

2
difungsi struktur disekitarnya dan struktur pada bagian yang dilindungi atau
disanggahnya.
Ada beberapa jenis dari trauma muskuloskeletal dimana tergantung letak dari
trauma yaitu :
1. Fraktur
Fraktur adalah patah tulang, biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga
fisik. Kekuatan dan sudut dari tenaga tersebut serta keadaan tulang dan
jaringan lunak disekitar tulang akan menentukan apakah fraktur yang
terjadi itu lengkap atau tidak lengkap. Fraktur adalah gangguan dari
kontinuitas yang normal dari suatu tulang. Jika terjadi fraktur, maka
jaringan lunak disekitarnya juga akan terganggu.(Joyce M Black, 2014)
 Fraktur terbuka
Fraktur terbuka dicirikan oleh robeknya kulit diatas cedera
tulang. Fraktur terbuka adalah fraktur yang mempunyai hubungan
dengan dunia luar melalui luka pada kulit dan jaringan lunak sehingga
terjadi kontaminasi bakteri
 Fraktur tertutup
Fraktur tertutup adalah fraktur dimana kulit tidak ditembus oleh
fragmen tulang. Jadi pada fraktur tertutup kulit masih utuh diatas lokasi
cedera. (Brunner, 2001)
2. Strain
Strain merupakan suatu puntiran atau tarikan, robekan otot dan tendon.
Strain adalah tarikan otot akibat penggunaan berlebihan, peregangan
berlebihan atau stres yang berlebihan. (Brunner, 2001)
3. Sprain
Sprain adalah cedera struktur ligamen di sekitar sendi, akibat gerakan
mengepit atau memutar. Fungsi ligamen adalah menjaga stabilitas namun
masih menmungkinkan mobilitas. Ligamen yang robek akan kehilangan
kemampuan stabilitasnya. Sprain merupakan peregangan atau robekan
ligamen, fibrosa dari jaringan ikat yang menggabungkan ujung satu tulang
dengan tulang lainnya. (Joyce M Black, 2014)

2.2 Etiologi
Penyebab umum dari truma muskuloskeletal adalah kecelekaan lalu lintas,
olahraga, jatuh dan kecelakaan industry
1. Fraktur

3
Etiologi atau penyebab dari fraktur adalah kelebihan beban mekanis pada
suatu tulang, saat tekanan yang diberikan pada tulang terlalu banyak
dibandingkan yang mampu ditanggunya. (Joyce M Black, 2014)
 Trauma langsung
Tekanan langsung pada tulang dan terjadi fraktur pada daerah
tekanan misalnya benturan pada lengan bawah yang menyebabkan
patah tulang radius dan ulna.
 Trauma tidak langsung
Trauma dihantarkan ke daerah yang lebih jauh dari daerah fraktur
dimana pada keadaan ini biasanya jaringan lunak tetap utuh. Misalnya,
jatuh bertumpu pada tangan yang menyebabkan tulang klavikula atau
radius distal patah.
2. Strain
Penyebab dari strain bisa dari trauma langsung maupun tidak langsung
misalnya (jatuh dan tumbukan pada badan) yang mendorong sendi keluar
dari posisinya kemudian meregang. (Joyce M Black, 2014)
3. Sprain
Penyebab sprain sama dengan strain yaitu trauma langsung dan trauma
tidak langsung. (Joyce M Black, 2014)

2.3 Penilaian Awal Trauma Musculoskeletal


Penderita trauma/multitrauma memerlukan penilaian dan pengelolaan
yang cepat dan tepat untuk menyelamatkan jiwa penderita. Waktu berperan
sangat penting, oleh karena itu diperlukan cara yang mudah, cepat dan tepat.
Proses awal ini dikenal dengan Initial assessment ( penilaian awal ).
Penilaian awal meliputi:
1. Persiapan
2. Triase
3. Primary survey (ABCDE)
4. Resusitasi
5. Secondary survey
Urutan kejadian diatas diterapkan seolah-seolah berurutan namun dalam
praktek sehari-hari dapat dilakukan secara bersamaan dan terus menerus.
1. Persiapan
a. Fase Pra-Rumah Sakit
1) Koordinasi yang baik antara dokter di rumah sakit dan petugas
lapangan
2) Sebaiknya terdapat pemberitahuan terhadap rumah sakit sebelum
penderita mulai diangkut dari tempat kejadian.

4
3) Pengumpulan keterangan yang akan dibutuhkan di rumah sakit
seperti waktu kejadian, sebab kejadian, mekanisme kejadian dan
riwayat penderita.
b. Fase Rumah Sakit
1) Perencanaan sebelum penderita tiba
2) Perlengkapan airway sudah dipersiapkan, dicoba dan diletakkan di
tempat yang mudah dijangkau
3) Cairan kristaloid yang sudah dihangatkan, disiapkan dan diletakkan
pada tempat yang mudah dijangkau
4) Pemberitahuan terhadap tenaga laboratorium dan radiologi apabila
sewaktu-waktu dibutuhkan.
5) Pemakaian alat-alat proteksi diri
2. Triage
Triage adalah cara pemilahan penderita berdasarkan kebutuhan terapi
dan sumber daya yang tersedia. Dua jenis triase :
a. Multiple Casualties
Jumlah penderita dan beratnya trauma tidak melampaui
kemampuan rumah sakit. Penderita dengan masalah yang mengancam
jiwa dan multi trauma akan mendapatkan prioritas penanganan lebih
dahulu.
b. Mass Casualties
Jumlah penderita dan beratnya trauma melampaui kemampuan
rumah sakit. Penderita dengan kemungkinan survival yang terbesar
dan membutuhkan waktu, perlengkapan dan tenaga yang paling
sedikit akan mendapatkan prioritas penanganan lebih dahulu.
3. Primary Survey
a. Airway dengan kontrol servikal
1) Penilaian
a) Mengenal patensi airway ( inspeksi, auskultasi, palpasi)
b) Penilaian secara cepat dan tepat akan adanya obstruksi
2) Pengelolaan airway
a) Lakukan chin lift dan atau jaw thrust dengan kontrol servikal
in-line immobilisasi
b) Bersihkan airway dari benda asing bila perlu suctioning dengan
alat yang rigid
c) Pasang pipa nasofaringeal atau orofaringeal
d) Pasang airway definitif sesuai indikasi.
3) Fiksasi leher

5
4) Anggaplah bahwa terdapat kemungkinan fraktur servikal pada
setiap penderita multi trauma, terlebih bila ada gangguan kesadaran
atau perlukaan diatas klavikula.
5) Evaluasi
b. Breathing dan Ventilasi-Oksigenasi
1) Penilaian
a) Buka leher dan dada penderita, dengan tetap memperhatikan
kontrol servikal in-line immobilisasi
b) Tentukan laju dan dalamnya pernapasan
c) Inspeksi dan palpasi leher dan thoraks untuk mengenali
kemungkinan terdapat deviasi trakhea, ekspansi thoraks
simetris atau tidak, pemakaian otot-otot tambahan dan tanda-
tanda cedera lainnya.
d) Perkusi thoraks untuk menentukan redup atau hipersonor
e) Auskultasi thoraks bilateral
2) Pengelolaan
a) Pemberian oksigen konsentrasi tinggi ( nonrebreather mask 11-
12 liter/menit)
b) Ventilasi dengan Bag Valve Mask
c) Menghilangkan tension pneumothorax
d) Menutup open pneumothorax
e) Memasang pulse oxymeter
3) Evaluasi
c. Circulation Dengan Kontrol Perdarahan
1) Penilaian
a) Mengetahui sumber perdarahan eksternal yang fatal
b) Mengetahui sumber perdarahan internal
c) Periksa nadi : kecepatan, kualitas, keteraturan, pulsus
paradoksus. Tidak diketemukannya pulsasi dari arteri besar
merupakan pertanda diperlukannya resusitasi masif segera.
d) Periksa warna kulit, kenali tanda-tanda sianosis.
e) Periksa tekanan darah
2) Pengelolaan
a) Penekanan langsung pada sumber perdarahan eksternal
b) Kenali perdarahan internal, kebutuhan untuk intervensi bedah
serta konsultasi pada ahli bedah.
c) Pasang kateter IV 2 jalur ukuran besar sekaligus mengambil
sampel darah untuk pemeriksaan rutin, kimia darah, tes
kehamilan (pada wanita usia subur), golongan darah dan cross-
match serta Analisis Gas Darah (BGA).

6
d) Beri cairan kristaloid yang sudah dihangatkan dengan tetesan
cepat.
e) Pasang PSAG/bidai pneumatik untuk kontrol perdarahan pada
pasien-pasien fraktur pelvis yang mengancam nyawa.
f) Cegah hipotermia
3) Evaluasi
d. Disability
1) Tentukan tingkat kesadaran memakai skor GCS/PTS
2) Nilai pupil : besarnya, isokor atau tidak, reflek cahaya dan awasi
tanda-tanda lateralisasi
3) Evaluasi dan Re-evaluasi aiway, oksigenasi, ventilasi dan
circulation.
e. Exposure/Environment
1) Buka pakaian penderita
2) Cegah hipotermia : beri selimut hangat dan tempatkan pada
ruangan yang cukup hangat.
4. Resusitasi
a. Re-evaluasi ABCDE
b. Dosis awal pemberian cairan kristaloid adalah 1000-2000 ml pada
dewasa dan 20 mL/kg pada anak dengan tetesan cepat (lihat tabel 2)
c. Evaluasi resusitasi cairan
1) Nilailah respon penderita terhadap pemberian cairan awal ( lihat
gambar 3, tabel 3 dan tabel 4 )
2) Nilai perfusi organ ( nadi, warna kulit, kesadaran dan produksi urin
) serta awasi tanda-tanda syok
3) Pemberian cairan selanjutnya berdasarkan respon terhadap
pemberian cairan awal.
4) Respon cepat
a) Pemberian cairan diperlambat sampai kecepatan maintenance
b) Tidak ada indikasi bolus cairan tambahan yang lain atau
pemberian darah
c) Pemeriksaan darah dan cross-match tetap dikerjakan
d) Konsultasikan pada ahli bedah karena intervensi operatif
mungkin masih diperlukan
5) Respon Sementara
a) Pemberian cairan tetap dilanjutkan, ditambah dengan
pemberian darah
b) Respon terhadap pemberian darah menentukan tindakan
operatif
c) Konsultasikan pada ahli bedah ( lihat tabel 5 ).
6) Tanpa respon
a) Konsultasikan pada ahli bedah

7
b) Perlu tindakan operatif sangat segera
c) Waspadai kemungkinan syok non hemoragik seperti tamponade
jantung atau kontusio miokard
d) Pemasangan CVP dapat membedakan keduanya ( lihat tabel 6 )

2.4 Trauma Musculoskeletal Yang Mengancam Jiwa


1. Kerusakan pelvis berat dengan perdarahan
a. Trauma
Fraktur pelvis yang disertai perdarahan seringkali disebabkan fraktur
sakroiliaka, dislokasi, atau fraktur sacrum. Arah gaya yang membuka
pelvic ring akan merobek pleksus vena di pelvis dan kadang-kadang
merobek system, arteri iliakainterna (trauma komprresi anterior-
posterior). Pada tabrakan kendaraan, mekanisme fraktur pelvis yang
tersering adalah tekanan yang mengenai sisi lateral pelvis dan
cenderung menyebabkan hemipelvis rotasi ke dalam, mengecilkan
rongga pelvis dan mengurangi regangan system vaskularisasi pelvis.
Gerakan rotasi ini akan menyebabkan pubis mendesak ke arah sistem
urogenital bawah,sehingga menyebabkan trauma uretra atau buli-
buli.
b. Pemeriksaan
Diagnosis harus dibuat secepat mungkin agar dapat dilakukan
resusitasi. Tanda klinis yang paing penting adalah adanya
pembengkakan atau hematom yang progresif pada daerah panggul,
skrotum dan perianal. Tanda-tanda trauma pelvicring yang tidak
stabil adalah adanya patah tulang terbuka daerah pelvix (terutama
daerah perineum, rectum atau bokong), high riding prostate (prostate
letak tinggi), perdarahan di meatus uretra, dan didapatkannya
instabilitas mekanik. Instabilitas mekanik dari pelvic ring diperiksa
dengan manipulasi manuual dari pelvis. Petunjuk awalnya adalah
dengan ditemukannya perbedaan panjang tungkai atau rotasi tungkai
( biasanya rotasi eksternal ) tanpa adanya fraktur pada ekstremitas
tersebut. Bila penderita sudah stabil, maka foto rontgen AP pelvis
akan menunjang pemeriksaan klinis.
c. Pengelolaan
Pengelolaan awal disrupsi pelvis berat disertai perdarahan
memerlukan penghentian perdarahan dan resusitasi cairan dengan

8
cepat. Penghentian perdarahan dilakukan dengan stabilisasi mekanik
dari pelvic ring dan eksternal counter pressure. Teknik sederhana
dapat dilakukan untuk stabilisasi pelvissebelum penderita dirujuk.
Traksi kulit longitudinal atau traksi skeletal dapat dikerjakan sebagai
tindakan pertama. Prosedur ini dapat ditambah denganmemasang
kain pembungkus melilit pelvis yang berfungsi sebagai siling atau
vacuum type long spine splinting device atau PASG. Cara-cara
sementara inidapat membantu stabilisasi awal. Fraktur pelvis terbuka
dengan perdarahan yang jelas, memerlukan balut tekan dengan
tampon untuk menghentikan perdarahan.

2. Perdarahan Besar Arterial


a. Trauma
Luka tusuk di ekstremitas dapat menimbulkan trauma arteri. Trauma
tumpul yangmenyebabkan fraktur atau dislokasi sendi dekat arteri
dapat merobek arteri. Cedera ini dapat menimbulkan perdarahan besar
pada luka terbuka atau perdarahan di dalam jaringan lunak.
b. Pemeriksaan
Trauma ekstremitas harus diperiksa adanya perdarahan eksternal,
hilangnya pulsasinadi yang sebelumnya masih teraba, perubahan
kualitas nadi, dan perubahan pada pemeriksaan Doppler dan
ankle/brachial index. Ekstremitas yang dingin, pucat, dan
menghilangnya pulsasi menunjukkan gangguan aliran darah arteri.
Hematoma yangmembesar dengan cepat, menunjukkan adanya
trauma vaskuler.
c. Pengelolaan
Pengelolaan perdarahan besar arteri berupa tekanan langsung dan
resusitasi cairan yang agresif. Penggunaan torniket pneumatic secara
bijaksana mungkin akan menolong menyelamatkan nyawa.
Penggunaan klem vaskular ditempat perdarahan pada ruang gawat
darurat tidak dianjurkan, kecuali pembuluh darahnya terletak
disuperfisial dan tampak dengan jelas. Jika fraktur disertai luka
terbuka yang berdarah aktif, harus segera diluruskan dan dipasang
bidai serta balut tekan diatasluka. Pemeriksaan arteriografi dan

9
penunjang yang lain baru dikerjakan jika penderita telah teresusitasi
dan hemodinamik normal.
3. Crush Syndrome ( Rabdomiolisis Traumatik )
a. Trauma
Crush syndrome adalah keadaan klinis yang disebabkan kerusakan
otot, yang jika tidak ditangani akan menyebabkan kegagalan ginjal.
Kondisi ini terjadi akibatcrush injury pada massa sejumlah otot, yang
tersering paha dan betis. Keadaan ini disebabkan oleh gangguan
perfusi otot, iskemia dan pelepasan mioglobin.
b. Pemeriksaan
Mioglobin menimbulkan urine berwarna kuning gelap yang akan
positif bila diperiksa untuk adanya hemoglobin. Rabdomiolisis dapat
menyebabkan hipovodemi, asidosis metabolik, hiperkalemia,
hipokalsemia dan DIC (Disseminated intravascular coagulation).
c. Pengelolaan
Pemberian cairan IV selama ekstrikasi sangat penting untuk
melindungi ginjal dari gagal ginjal. Gagal ginjal yang disebabkan
oleh mioglobin dapat dicegah dengan pemberian cairan dan diuresis
osmotic untuk meningkatkan isis tubulus dan aliranurine. Dianjurkan
untuk mempertahankan output urine 100ml/jam sampai bebasdari
mioglobin uria.

2.5 Trauma Yang Mengancam Musculoskeletal


1. Patah Tulang Terbuka dan Trauma Sendi
a. Trauma
Pada patah tulang terbuka terdapat hubungan antara tulang dengan
dunia luar.Kerusakan ini disertai kontaminasi bakteri menyebabkan
patah tulang terbuka mengalami masalah infeksi, gangguan
penyembuhan dan gangguan fungsi.
b. Pemeriksaan
Diagnosa didasarkan atas riwayat trauma dan pemeriksaan fisik
ekstermitas yang menemukan fraktur dengan luka terbuka, dengan
atau tanpa kerusakaan luas otot serta kontaminasi.Jika terdapat luka
terbuka didekat sendi, harus dianggap luka ini berhubungan dengan
atau masuk kedalam sendi, dan konsultasi bedah harus dikerjakan.
Tidak boleh memasukkan zat warna atau cairan untuk membuktikan
rongga sendi berhubungan dengan luka atau tidak. Cara terbaik

10
membuktikan luka terbuka padasendi adalah dengan eksplorasi
bedah dan pembersihan luka.

c. Pengelolaan
Setelah deskripsi atau trauma jaringan lunak, serta menentukan ada
atau tidaknya gangguan sirkulasi atau trauma saraf maka segera
dilakukan imobilisasi. Penderita segera diresusitasi secara adekuat
dan hemodinamik sedapat mungkinstabil. Profilaksis tetanus segera
diberikan.
2. Trauma Vaskuler, termasuk amputasi traumatic
a. Riwayat dan pemeriksaan
Trauma vaskuler harus dicurigai jika terdapat insufisensi vaskuler
yang menyertai trauma tumpul, remuk (crushing), puntiran, atau
trauma tembus ekstremitas.Trauma vaskuler parsial menyebabkan
ekstremitas bagian distal dingin, pengisian kapiler lambat, pilsasi
melemah dan ankle/brachial index abnormal. Aliran yang terputus
menyebabkan ekstremitas dingin, pucat dan nadi tidak teraba.
b. Pengelolaan
Otot tidak mampu hidup tanpa aliran darah lebih dari 6 jam dan
nekrosis akan segera terjadi. Saraf juga akan sangat sensitif terhadap
keadaan tanpa oksigen.Operasi revaskularisasi segera diperlukan
untuk mengembalikan aliran darah padaekstermitas distal yang
terganggu. Jika gangguan vaskularisasi disertai fraktur harus
dikoreksi segera dengan meluruskan dan memasang bidai. Iskemia
menimbulkan nyeri hebat dan konsisten.Amputasi traumatik
merupakan bentuk terberat dari fraktur terbuka yang menimbulkan
kehilangan ekstermitas dan memerlukan konsultasi dan intervensi
bedah. Patah tulang terbuka dengan iskemia berkepanjangan, trauma
saraf dankerusakan otot mungkin memerlukan amputasi.Penderita
dengan trauma multipel yang memerlukan resusitasi intensif dan
operasi gawatdarurat bukan kandidat untuk reimplantasi.Anggota
yang teramputasi dicuci dengan larutan isotonic dan dibungkus
kasasteril dan dibasahi lautan penisilin (100.000 unit dalam 50 ml RL

11
) dan dibungkus kantong plastik. Kantong plastik ini dimasukkan
dalam termos berisi pecahan es, lalu dikirimkan bersama penderita.
3. Cedera Syaraf akibat Fraktur – Dislokasi
a. Trauma
Fraktur atau/dan dislokasi, dapat menyebabkan trauma saraf yang
disebabkan hubungan anatomi atau dekatnya posisi saraf dengan
persendian. Kembalinya fungsi hanya akan optimal bila keadaan ini
diketahui dan ditangani secara cepat.
b. Pemeriksaan
Pemeriksaan neurologis yang teliti selalu dilakukan pada penderita
dengan trauma musculoskeletal. Kelainan neurologis atau perubahan
neurologis yang progresif harus dicatat. Pada pemeriksaan biasanya
akan didapatkan deformitas dari musculoskeletal. Pemeriksaan
fungsi saraf memerlukan kerja sama penderita. Setiap saraf perifer
yang besar diperiksa fungssi motorik dan sensorik perlu diperiksa
secara sistematik.
c. Pengelolaan
Ekstremitas yang cedera harus segera diimobilisasi dalam posisi
dislokasi dan konsultasi bedah segera dikerjakan. Setelah reposisi,
fungsi saraf di reavaluasi dan ekstremitas dipasang bidai.
4. Trauma Ekstremitas Yang Lain
a. Kontusio dan Laserasi
Secara umum laserasi memerlukan debridemen dan penutupan luka.
Jika laserasimeluas sampai dibawah fasia, perlu intervensi operasi
untuk membersihkan luka danmemeriksa struktur-struktur di
bawahnya yang rusak. Kontusio umumnya dikenal karena ada nyeri
dan penurunan fungsi. Palpasi menunjukkan adanya pembengkakan
lokal dan nyeri tekan. Kontusio diobati dengan kistirahat dan
pemakaian kompresdingin pada fase awal.
b. Trauma Sendi
Trauma sendi bukan dislokasi (sendi masih dalam konfigurasi
anatomi normal tetapi terdapat trauma ligamen) biasanya tidak
mengancam muskuloskeletal, walaupun dapat menurunkan fungsi
musculoskeletal. Biasanya ditemukan adanya gaya abnormal
terhadap sebagian contoh tekanan terhadap bagian anterior yang
mendorong kebelakang,tekanan terhadap bagian lateral tungkai yang

12
menimbulkan regangan valgus pada lutut atau dengan lengan
ekstensi sehingga menimbulkan trauma hiperfleksi siku.
c. Fraktur
Definisi fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang yang
menimbulkan gerakan abnormal disertai krepitasi dan nyeri.
Krepitasi dan gerakan abnormal ditempat fraktur kadang-kadang
dilakukan untuk memastikn diagnosis, tetapi hal ini dapat menambah
sangat nyeri kerusakan jaringan lunak. Pembengkakan,nyeri tekan
dan deformitas biasanya cukup untuk membuat diagnosis fraktur.
Mempertimbangkan status hemodinamik pasien, foto rontgen harus
mencakup sendiatas dan bawah tulang yang fraktur,untuk
menyingkirkan dislokasi dan trauma lain.

2.6 Penatalaksanaan Trauma Musculoskeletal


1. Penilaian Cedera :
a. Penilaian awal – ABC
b. Sejarah :
c. Keluhan utama
d. Mekanisme cedera
e. Tanda dan gejala
f. Fokus penilaian fisik
1) Pengamatan/observasi
2) Inspeksi
3) Palpasi
4) 5 P : Pain, Pallor, Pulselesness, Parestesia, Paralysis
2. Intervensi :
a. R = Istirahat / mengimobilisasikan
b. I = Es
c. C = Kompresi
d. E = Elevation
e. S = Dukungan
3. Indikasi Splinting :
a. Pencegahan cedera lebih lanjut
b. Mengurangi Nyeri
c. Mengurangi pembengkakan
d. Menstabilkan fraktur atau dislokasi
e. Meringankan gangguan fungsi neurologis atau kejang otot
f. Mengurangi darah dan kehilangan cairan ke jaringan
4. Poin Kunci Imobilisasi / Splinting :
a. Imobilisasi dilakukan di sendi bagian atas dan di bagian bawah dari
cedera
b. Menilai Status neurovaskular cedera di daerah distal sebelum aplikasi
belat dan setelah aplikasi belat

13
c. Jika angulation di situs fraktur tanpa kompromi neurovaskular,
imobilisasi dikerjakan
d. Minimalkan gerakan ekstremitas selama belat
e. Pembelatan yang aman untuk memberikan dukungan dan kompresi
f. Menilai kembali / memonitor status neurovaskular setiap 5-10 menit

2.7 Definisi Kompartement Syndrome


Syndrome kompartemen merupakan suatu kondisi dimana terjadi
peningkatan tekanan interstitial dalam sebuah ruangan terbatas yakni
kompartemen osteofasial yang tertutup. Sehingga mengakibatkan
berkurangnya perfusi jaringan dan tekanan oksigen jaringan.
Syndrome kompartemen yang paling sering terjadi adalah pada daerah
tungkai bawah (yaitu kompartemen anterior, lateral, posterior superficial, dan
posterior profundus) serta lengan atas (kompartemen volar dan dorsal)
Sindroma kompartemen merupakan suatu kondisi dimana terjadi
penekanan terhadap syaraf, pembuluh darah dan otot didalam kompatement
osteofasial yang tertutup. Hal ini mengawali terjadinya peningkatan tekanan
interstisial, kurangnya oksigen dari penekanan pembuluh darah, dan diikuti
dengan kematian jaringan. Dapat dibagi menjadi akut, subakut dan kronik.
2.8 Penyebab Kompartement Syndrome
Terdapat berbagai penyebab dapat meningkatkan tekanan jaringan lokal yang
kemudian memicu timbullny sindrom kompartemen, yaitu antara lain:
1. Penurunan volume kompartemen
Kondisi ini disebabkan oleh:
a. Penutupan defek fascia
b. Traksi internal berlebihan pada fraktur ekstremitas
2. Peningkatan tekanan eksternal
a. Balutan yang terlalu ketat
b. Berbaring di atas lengan
c. Gips
3. Peningkatan tekanan pada struktur komparteman
Beberapa hal yang bisa menyebabkan kondisi ini antara lain:
a. Pendarahan atau Trauma vaskuler
b. Peningkatan permeabilitas kapiler
c. Penggunaan otot yang berlebihan
d. Luka bakar
e. Operasi
f. Gigitan ular
g. Obstruksi vena

14
Sejauh ini penyebab sindroma kompartemen yang paling sering adalah
cedera, dimana 45 % kasus terjadi akibat fraktur, dan 80% darinya terjadi
di anggota gerak bawah.

2.9 Penatalaksanaan Kompartement Syndrome


Penanganan kompartemen secara umum meliputi:
1. Terapi Medikal/non bedah
Pemilihan terapi ini adalah jika diagnosa kompartemen masih dalam
bentuk dugaan sementara. Berbagai bentuk terapi ini meliputi:
a. Menempatkan kaki setinggi jantung, untuk mempertahankan
ketinggian kompartemen yang minimal, elevasi dihindari karena dapat
menurunkan aliran darah dan akan lebih memperberat iskemia.
b. Pada kasus penurunan ukuran kompartemen, gips harus di buka dan
pembalut kontriksi dilepas.
c. Pada kasus gigitan ular berbisa, pemberian anti racun dapat
menghambat perkembangan sindroma kompartemen.
d. Mengoreksi hipoperfusi dengan cairan kristaloid dan produk darah.
e. Pada peningkatan isi kompartemen, diuretik dan pemakainan manitol
dapat mengurangi tekanan kompartemen. Manitol mereduksi edema
seluler, dengan memproduksi kembali energi seluler yang normal dan
mereduksi sel otot yang nekrosis melalui kemampuan dari radikal
bebas.
2. Terapi Bedah
Fasciotomi dilakukan jika tekanan intrakompartemen mencapai >
30 mmHg. Tujuan dilakukan tindakan ini adalah menurunkan tekanan
dengan memperbaiki perfusi otot.
Jika tekanannya < 30 mm Hg maka tungkai cukup diobservasi
dengan cermat dan diperiksa lagi pada jam-jam berikutnya. Kalau keadaan
tungkai membaik, evaluasi terus dilakukan hingga fase berbahaya
terlewati. Akan tetapi jika memburuk maka segera lakukan fasciotomi.
Keberhasilan dekompresi untuk perbaikan perfusi adalah 6 jam.
Terdapat dua teknik dalam fasciotomi yaitu teknik insisi tunggal
dan insisi ganda.Insisi ganda pada tungkai bawah paling sering digunakan
karena lebih aman dan lebih efektif, sedangkan insisi tunggal
membutuhkan diseksi yang lebih luas dan resiko kerusakan arteri dan vena
peroneal.

15
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Trauma muskuloskletal biasanya menyebabkan disfungsi struktur
disekitarnya dan struktur pada bagian yang dilindungi atau disangganya.
Gangguan yang paling sering terjadi akibat trauma muskuloskletal
adalah kontusio, strain, sprain dan dislokasi.
Kontusio merupakan suatu istilah yang digunakan untuk cedera pada
jaringan lunak yang diakibatkan oleh kekerasan atau trauma tumpul yang
langsung mengenai jaringan, seperti pukulan, tendangan, atau
jatuh. Sprain adalah bentuk cidera berupa penguluran atau kerobekan pada
ligament (jaringan yang menghubungkan tulang dengan tulang) atau kapsul
sendi, yang memberikan stabilitas sendi. Strain adalah bentuk cidera berupa
penguluran atau kerobekan pada struktur muskulo-tendinous (otot dan tendon)
sedangkan Dislokasi adalah terlepasnya kompresi jaringan tulang dari
kesatuan sendi.

3.2 SARAN
Demikianlah makalah ini kami buat untuk meningkatkan pemahaman dan
pengetahuan kita tentang konsep trauma musculoskeletal. Kami selaku
penulis sadar bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena
itu, kami mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari para pembaca
agar makalah selanjutnya dapat lebih baik lagi. Terima Kasih.

DAFTAR PUSTAKA

16
Brunner & Suddarth. 2002. Buku Ajar Keperawatan medikal Bedah. Edisi 8 Vol 3.
Jakarta: EGC
Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Media Aesculapius
Junaidi, Iskandar. 2011. Pedoman Pertolongan Pertama Yang Harus Dilakukan
Saat Gawat Dan Darurat Medis. Yogyakarta: Andi Yogyakarta

17