Anda di halaman 1dari 5

MENEROPONG PERMASALAHAN

UMUM PENYELENGGARAAN
PEMERINTAH DAERAH DI
INDONESIA
Pemerintah telah mencapai kemajuan besar dalam membangun kerangka
kerja peraturan dan peningkatan transparansi pengelolaan keuangan daerah.
Terbitnya paket Undang-Undang Perencanaan Pembangunan Nasional merupakan
langkah penting yang membawa Indonesia menuju praktik keuangan berstandar
Internasional.
Perubahan tersebut menjadi dasar untuk meningkatkan penyelenggaraan
pemerintahan daerah. Dalam menyelenggarakan pemerintahan, pemerintah daerah
menghadapi banyak masalah. Secara umum, masalah yang sering dihadapi yaitu
sebagai berikut:
a. Tingginya KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme)
Dewasa ini sering terdengar di media massa tentang kepala daerah, anggota
dewan, pengusaha maupun pejabat daerah yang terlibat korupsi. Berdasarkan
pengamatan yang dilakukan, terdapat dua kelompok yang terlibat KKN dan
perkaranya masuk pengadilan, yaitu:
1. Kelompok orang yang pintar, nakal namun sedang sial. Mereka
cerdas, menguasai masalah dan peraturan namun mempunyai niat yang buruk.
2. Kelompok orang yang tidak pintar, tidak nakal, namun tertipu dan
sedang sial. Mereka tidak terlalu memahami peraturan. Kelihatannya jumlah
anggota kelompok ini sangat banyak.
Menurut pengamatan penulis, munculnya KKN salah satunya adalah karena
lemahnya administrasi. Oleh karena itu, untuk mencegah penyimpangan,
penyelenggara pemerintah daerah harus meningkatkan kemampuan administrasi
mereka.
b. Banyak penyelenggara pemerintah daerah yang kinerjanya tidak
maksimal. Setiap tahun seluruh kinerja instansi pemerintah akan dievaluasi dan
dinilai oleh Kemenpan dan RB kinerja dievaluasi berdasarkan sistem akuntabilitas
kinerja instansi pemerintah dan standar pelayanan minimal yang di susun oleh
kementrian teknis.
c. Daya serap anggaran rendah
Karena pejabat daerah sering terjerat masalah hukum dalam bertugas,
menyebabkan banyak para pejabat enggan menjalankan tupoksinya. Para pejabat
publik gamang, khawatir dan was-was takut melakukan kesalahan dan terjerat
kasus hukum. Akhirnya, cenderung mencari aman dengan tidak melaksanakan
kegiataannya. Kegiatan penyelenggaraan pemerintah daerah, tergambar dari
besarnya belanja yang dilakukan. Karena tidak menjalankan kegiatan, maka daya
serap anggaran menjadi rendah. Secara garis besar empat kelompok belanja
pemerintah yaitu:
1. Belanja pegawai
2. Belanja barang dan jasa
3. Belanja modal
4. Belanja bantuan dan hibah
Belanja pegawai untuk mendanai kebutuhan rutin kantor seperti gaji
pegawai, tunjangan, perjalanan dinas dan lain-lain. Sedangkan barang dan jasa
adalah belanja untuk kebutuhan rutin kantor yang bersifat membiayai operasional
kantor seperti biaya pemeliharaan, biaya listrik, biaya telepon dan lain-lain. Baik
belanja pegawai maupun barang dan jasa adalah biaya untuk kebutuhan rutin
institusi, jadi lebih bersifat intern. Sedangkan belanja yang dialokasikan untuk pihak
eksternal ditujukan untuk masyarakat luas berada di belanja modal serta belanja
bantuan dan hibah.
Dari pengamatan, diketahui bahwa realisasi anggaran yang banyak di serap
oleh para penyelenggara pemerintah daerah adalah belanja yang bersifat internal
yaitu belanja pegawai dan barang dan jasa. Sementara itu, belanja modal serta
bantuan dan hibah relatif kecil. Hal ini disebabkan oleh keengganan para
penyelenggara pemerintah daerah untuk merealisasikannya, karena khawatir akan
bermasalah dengan aparat hukum.
d. Permasalahan Akuntabilitas
Untuk melaksanakan kegiatannya, pemerintah daerah memerlukan dana
yang tidak sedikit. Setiap penggunaan dana tersebut harus dicatat, dilaporkan dalam
laporan keuangan dan dipertanggungjawabkan kepada masyarakat.
Pertanggungjawaban tersebut setiap tahun akan diperiksa oleh BPK kemudian
diberikan opini. Opini merupakan pernyataan profesional pemeriksa mengenai
kewajaran informasi keuangan yang disajikan dalam laporan keuangan. Penilaian
yang dilakukan BPK berdasarkan pada kriteria:
1. Kesesuaian dengan standar akuntansi pemerintah.
2. Kecukupan pengungkapan
3. Kepatuhan kepada peraturan dan perundang-undangan
4. Efektivitas sistem pengendalian intern
Dari hasil pemeriksaan, BPK akan memberikan opini terhadap laporan
keuangan. Opini yang diberikan adalah sebagai berikut:
1. Wajar tanpa pengecualian
2. Wajar dengan pengecualian
3. Tidak wajar
4. Tidak memberikan pendapat
e. Sebagian besar opini laporan keuangan pemerintah daerah belum
memuaskan
Dari keempat permasalahan tersebut di atas, yang menjadi isu penting
belakanga ini adalah akuntabilitas, yaitu opini laporan keuangan. Fenomena ini bisa
dilihat sebagai angin segar bagi perkembangan akuntasi pemerintah, sekaligus
sebagai manifestasi perubahan pola pengelolaan keuangan daerah menuju kondisi
yang lebih transaparan, akuntabel dan auditabel. Hampir semua pimpinan puncak
instansi pusat dan daerah berlomba-lomba mengejar target prestisius memperoleh
opini WTP.
Buku ikhtisar hasil pemeriksaan BPK semester I tahun 2012 untuk tahun
buku 2010 menyebutkan, jumlah pemerintah provinsi yang memperoleh opini WTP
hanya 6 (18%) dari 33 provinsi. Sedangkan untuk pemerintah kabupaten 16 (4%)
dari 394 kabupaten dan 21 (13%) dari 85 pemerintahan kota.
Laporan keuangan yang baik tidak hanya berujung tercapainya opini WTP,
tetapi dapat menjadi instrumen pengambilan keputusan yang tepat dan tidak dapat
mencapai akuntabilitas laporang keuangan.
Dalam perencanaan nasional, pemerintah telah menargetkan 60% laporan
keuangan pemerintah daerah tahun buku 2014 harus mendapat opini WTP.
Pemerintah merencanakan akan memberikan reward bagi penyelenggara
pemerintah daerah dengan memberikan insentif bagi pemerintah daerah yang
mendapatkan opini WTP atas laporan keuangannya.
Di sisi lain pemerintah juga akan memberikan punishment. Hukuman
tersebut berupa penundaan dana DAU serta dilarangnya kepala daerah untuk
mengikuti pemilihan kepala daerah periode berikutnya.
f. Belum maksimalnya pengelolaan aset/barang milik daerah. Salah
satu manifestasi pelaksanaan prinsip tata kelola pemerintahan yang baik yang
menjadi tuntutan masyarakat adalah terwujudnya suatu sistem pengelolaan
kekayaan daerah yang memadai, informatif, transparan dan akuntabel. Aset daerah
merupakan komponen penting dalam pengelolaan keuangan daerah. Pengelolaan
aset/barang milik daerah memerlukan perhatian tersendiri karena terjadi
peningkatan nilai aset/barang milik daerah dari tahun ke tahun yang cukup
signifikan.
Sejak ditetapkannya kewajiban penyusunan neraca sebagai bagian dari
laporan keuangan pemerintah, pengakuan/penilaian, dan penyajian serta
pengungkapan aset/barang milik daerah menjadi fokus utama. Hal ini karena
aset/barang milik pemerintah daerah memiliki nilai yang sangat siginifikan dan
sangat kompleks. Dengan demikian, upaya peningkatan akuntabilitas dan
transparansi pengelolaan keuangan daerah tidak dapat dilakukan tanpa
pembenahan pengelolaan aset/barang milik daerah.
Faktor utama penyebab lemahnya pengamanan aset/barang milik daerah
adalah adalah masih lemahnya sistem pengendalian aset. Hal ini tidak lepas dari
belum adanya dukungan sistem data akuntansi yang dikelola oleh biro keuangan
dengan data aset yang biasa dikelola oleh biro perlengkapan/umum. Dari segi
adiministrasi, banyak ditemukan aset yang dicatat oleh pemerintah daerah tidak
didukung dokumen legal yang memadai.

The author
Name : Fian Molo
Address : Jl. Raya Bandung-Sumedang Km. 20
Jawa Barat 45363
Phone Number : 085294675064
Email : saintviano@gmail.com