Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kesehatan merupakan faktor yang sangat penting dalam kehidupan
setiap orang. Jika kita tinjau dalam kehidupan zaman sekarang ini, semakin
banyak masyarakat yang mengidap berbagai macam penyakit. Gaya hidup
yang tidak teratur seperti melewatkan sarapan, kurang minum air putih,
kurang berolahraga, merokok sampai mengkonsumsi kudapan berkalori tinggi
dapat mengganggu kesehatan. Kesehatan memiliki pengaruh yang besar
terhadap produktivitas seseorang (Israil dan Andri, 2018)
Tubuh manusia yang sehat berasal dari pola makan sehat. Jauh sebelum
penelitian tentang gizi dimulai, Rasulullah SAW sudah menanamkan contoh
yang baik dalam memelihara kesehatan dengan pola makan sehat. Dalam
Alquran, prinsip makan sehat adalah tidak berlebih-lebihan. Selain itu,
makanan yang dimakan adalah makanan yang halal dan thoyyiban, artinya
makanan tersebut diperoleh dengan cara yang baik dan tidak merugikan
kesehatan. Prinsip makan sehat lainnya adalah makan sebelum lapar dan
berhenti sebelum kenyang, serta makan tidak tergesa-gesa (Lutfi, Agustin dan
Yuliana, 2018)
Salah satu cara agar dapat memiliki hidup yang lebih sehat adalah
dengan mengatur pola makan. Terdapat banyak pola makan sehat yang dapat
dijalankan agar kesehatan tetap terjaga, sebagai contoh yaitu pola makan food
combining, yaitu pola makan yang mengkombinasikan makanan nabati dan
hewani dengan siklus pencernaan, penyerapan dan pembuangan. Food
combining mulai dilirik karena saat ini pola makan masyarakat semakin
tidak sehat. Orang dengan gaya hidup modern cenderung hanya ingin makan
enak dan instan. Akibatnya, lemak menumpuk di dalam tubuh sehingga berat
badan pun naik dan tubuh menjadi rentan terhadap serangan berbagai macam
penyakit (Nofha Rina, 2018)
Sehingga dapat diketahui bahwasanya, kombinasi makanan dan
minuman yang tidak seimbang dapat menyebabkan gangguan pada sistem
pencernaan. Selain itu, nutrisi makanan juga tidak dapat diserap dengan
sempurna oleh tubuh. Oleh karena itu, kita harus memahami betul waktu cerna

1
dari setiap makanan, mana jenis makanan yang cepat dicerna dan jenis
makanan apa yang lebih lama dicerna oleh tubuh. Bila kedua jenis makanan
ini dikonsumsi secara bersamaan, sistem pencernaan tidak akan bisa bekerja
dengan efisien. Hal ini juga bisa menyebabkan penumpukan makanan di
dalam perut karena tidak bisa segera dicerna (Asyroqal Bahri, 2017)
B. Rumusan Masalah
Bagaimana gambaran tentang terapi kompelementer dengan menggunakan
cara food combining ?
C. Tujuan
1. Tujuan umum
Untuk mengetahui terapi komplementer dengan menggunakan cara food
combining.
2. Tujuan khusus
Untuk mengetahui manfaat, cara dan keuntungan kerugian apa saja supaya
food combining bisa berhasil saat dipraktekkan oleh peminat food combining.

BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Definisi Food Combining.


Food Combining (Kombinasi makanan) adalah metode pengaturan
asupan makanan yang diselaraskan dengan mekanisme alamiah tubuh.
Khususnya yang berhubungan dengan sistem pencernaan. Dampak dari
kombinasi makanan serasi adalah meminimalkan jumlah penumpukan sisa
makanan dan metabolisme, sehingga fungsi pencernaan dan penyerapan zat
makanan menjadi lancar serta pemakaian energi tubuh lebih efisien (Asyroqal
Bahri, 2017).

2
Food combining mendorong terciptanya perilaku makan yang
mengoptimalkan masukan dan penyerapan zat gizi dengan cara
mengkonsumsi makanan yang serasi saja setiap kali makan. Selain itu, food
combining juga mendayagunakan fungsi sistem pencernaan dengan cara
menyesuaikan apa yang dimakan dengan kebutuhan asam basa dan silkus
alamiah tubuh agar metabolisme tubuh seimbang (Husaini, 2018)
Asal-usul food combining berasal dari pola makan alamiah yang
diterapkan oleh bangsa ESSENI di Palestina sekitar 2000 tahun yang lalu,
mengikuti ajaran-ajaran murni kitab taurat. Ajaran-ajaran yang berhubungan
dengan pola makan tersebut misalnya :
1. Tidak menggabungkan roti dengan daging pada waktu yang bersamaan.
2. Tidak menggabungkan susu dengan daging pada waktu yang bersamaan.
3. Tidak makan darah, bangkai dan daging yang diharamkan seperti babi,
ikan tanpa sirip dan insang atau binatang melata.
4. Tidak makan berlebihan, mengutamakan makanan alamiah, dan memiliki
kebiasaan puasa dalam rentang waktu tertentu (Israil dan Andri, 2018).
Jika kita mengkaji pola makan Rasulullah, sebenarnya Rasulullah telah
menerapkan metode food combining. Karena Rasulullah mengkonsumsi hanya
makanan tertentu yang ternyata sangat sesuai dengan siklus pencernaan.
Selain itu, berdasar riwayat Aisyah disebutkan bahwa Nabi tidak pernah
mengenyangkan perutnya dengan dua jenis makanan. Ketika Nabi sudah
kenyang dengan roti, beliau tidak akan makan kurma, dan ketika sudah
kenyang dengan kurma, beliau tidak makan roti. Begitu juga bila Nabi makan
dengan sup daging, beliau tidak akan memakan makanan lain selain gandum
dan sup daging itu. Rasulullah pun tidak memakan dua jenis makanan panas
atau dingin secara bersamaan. Beliau juga tidak makan ikan dan daging secara
bersamaan dan tidak langsung tidur setelah makan malam. Ikan dan daging
merupakan sumber protein, sehingga tidak dianjurkan oleh Rasulullah untuk
mengonsumsinya pada waktu bersamaan. Begitupun menurut pakar food
combining yang menyatakan bahwa kombinasi ikan dan daging kurang baik
bagi kesehatan (Lutfi, Agustin dan Yuliana, 2018)
Pola makan food combining ini juga dipopulerkan kembali sekitar tahun
2000-an di Jerman dan sejak itu banyak mendapat pengikut di Eropa, Amerika
sampai Australia. Sejak tahun 1800-an mulai bermunculan para ahli dari
berbagai kalangan yang menganjurkan prinsip-prinsip food combining. Awal

3
kemunculan mereka rata-rata disebabkan pengalaman pribadi atau mengamati
orang lain yang mengalami keluhan kesehatan tertentu dan tidak terbantu oleh
pengobatan konvensional saat itu antara lain (Lutfi, Agustin dan Yuliana,
2018)
1. William Howard Hay
Adalah dokter ahli bedah di New York yang mengalami obesitas dan
berbagai keluhan pada usia 41 tahun. Hay menjadi obesitas akibat
kegemarannya akan makanan lezat. Tak hanya obesitas, Hay juga
menderita penyakit Crohn, yaitu sejenis penyakit ginjal akut, pembesaran
jantung, dan tekanan darah tinggi yang serius.
Tim medis yang menangani Hay sudah angkat tangan. Akhirnya hay
memutuskan menempuh cara penyembuhan alternatif. Hay mendatangi
seorang ahli pengobatan alamiah yang saat itu disebut natural hygienist.
Sang natural hygienist tersebut menganjurkan perbaikan pada pola makan
dan puasa. Hanya dalam waktu tiga bulan saja sejak melakukan perbaikan
pada pola makannya, Hay berhasil memangkas kelebihan berat badannya
sebanyak 24 kg. Berbagai penyakit yang dideritanya pun, perlahan-lahan
sembuh.
Pengalaman ini mendorong Hay mengembangkan penelitian mengenai
pola makan yang disebut food separation. Food separation inilah yang
kemudian berkembang menjadi food combining. Pada perkembangan
selanjutnya, Hay disebut-sebut sebagai pelopor food combining.
Sebenarnya terkait hal tersebut, Hay hanya mengungkapkan interpretasi
terhadap gagasan yang sudah ada sebelumnya.
2. Herbert M. Shelton, Guru Food Combining
Nama lengkapnya adalah Herbert Macgolfin Shelton, lahir di Wylie
Texas pada tanggal 6 oktober tahun 1895. Shelton adalah naturopath
Amerika, penganjur pengobatan alternatif, pasifis, vegetarian, dan
pendukung rawism (pola makan yang mengutamakan makanan yang
segar) serta puasa.
Bisa dikatakan, Shelton adalah orang yang sangat berjasa dan pakar
riset terpenting dalam perkembangan food combining. Dia adalah periset
yang sangat tekun dan penulis yang sangat aktif. Shelton menulis artikel

4
serta lebih dari 40 buku terkait food combining, nutrisi, dan kesehatan
alamiah.
3. Kathryn Marsden
Adalah seorang nutrisionist Inggris. Dia adalah salah satu penulis
tentang food combining. Buku karya Marsden tentang food combining
seperti The Complete Book of Food Combining demikian terkenal.
Marsden sangat aktif memperkenalkan food combining sejak suaminya
sembuh dari kanker yang telah diderita selama lebih dari 9 tahun. Dengan
bantuan pola makan food combining, suaminya masih dapat bertahan
selama 12 tahun lagi, meski lambung dan limpanya sudah terlanjur
diangkat.
4. Andang Gunawan
Di Indonesia, Andang Gunawan dikenal sebagai pelopor food
combining. Pada tahun 1999, bukunya berjudul Food Combining
Kombinasi Makanan Serasi diterbitkan dan menjadi salah satu buku best
seller. Buku tersebut ditulis berdasarkan pengalaman pribadi beliau dalam
mengatasi berbagai keluhan penyakit yang diderita Maxi Gunawan, suami
beliau.
5. Wied Harry
Wied Harry, praktisi kuliner Indonesia, alumnus Jurusan Gizi
Masyarakat dan Sumber Daya Keluarga IPB Bogor, juga turut memberi
warna pada perkembangan food combining di Indonesia. Awalnya, beliau
mengaku kurang berminat terhadap food combining, namun setelah
mendalami ilmu tentang sistem biokimiawi dan metabolisme tubuh,
akhirnya beliau berkesimpulan bahwa food combining begitu rasional dan
ilmiah.

B. Manfaat Food Combining


1. Menurut Israil dan Andri (2018) manfaat food combining dalam penelitian
pengaruh pemberian bubut tepung tapioka (amylum manihot) kombinasi
madu (caiba pentandra) terhadap skala nyeri epigastrik pada penderita
dispepsia di Wilayah Kerja Puskesmas Sungai Siring Kecamatan
Samarinda Utara dengan hasil setelah dilakukan uji paired t-test diperoleh
nilai significancy (P) value = 0,000 atau < 0,05 berarti H0 ditolak yang
berarti Terdapat pengaruh yang bermakna dari pemberian bubur tepung

5
tapioka (amylum manihot) kombinasi madu (caiba pentandra) terhadap
skala nyeri epigastrik pada penderita dispepsia di wilayah kerja
PUSKESMAS Sungai Siring Kecamatan Samarinda Utara. Diharapkan
PUSKESMAS dapat memberikan promosi kesehatan tentang terapi diet
seperti mengkonsumsi bubur tepung tapioka (amylum manihot) kombinasi
madu (caiba pentandra) yang dapat mengurangi rasa nyeri epigastric.
2. Menurut Husaini (2018) manfaat food combining dalam penelitian
Pengaruh Cincau Hitam (Mesona Palutris) Kombinasi Madu (Chaiba
Pentandra) Terhadap Nyeri Ulu Hati Pada Penderita Dispepsia Di Wilayah
Kerja Puskesmas Sungai Siring Samarinda Utara dengan hasil ada
pengaruh yang signifikan antara pemberian cincau hitam yang
dikombinasikan dengan madu pada pre test dan post test dengan selisih
rata-rata nyeri yang signifikan pada pre test dan post test dengan p value
(0.00 < 0.05). Hasil penelitian Ini menunjukan bahwa mengkonsumsi
cincau hitam kombinasi madu mempunyai pengaruh yang signifikan
dalam menurunkan skala nyeri ulu hati pada penderita dyspepsia
3. Menurut Lutfi, Agustin dan Yuliana (2018) manfaat food combining dalam
penelitian perbedaan penurunan berat badan berdasarkan ketaatan pelaku
diet kombinasi makanan serasi (Food Combining) di komunitas “Qita
Sehat Dengan FC” di Semarang dengan hasil setelah 2 bulan penelitian,
rata-rata pelaku diet FC adalah 3.7 kg bisa dikategorikan penurunan diet
yang sehat dan aman.
4. Menurut Nofha Rina (2018) manfaat food combining dalam penelitian
peningkatan pola hidup sehat melalui food combining di ranah komunikasi
kesehatan dengan hasil bimbingan pelaksanaan food combining berupa
self efeciacy dan cues to action dapat memperbaiki tumbuh kembang diri
sehat secara non medis
5. Menurut Asyroqal Bahri (2017) manfaat food combining dalam penelitian
Pengaruh kualitas diet food combining terhadap frekuensi kekambuhan
gastritis yang dialami mahasiswa farmasi angkatan 2016 universitas
muhammadiyah malang dengan hasil diet food combining semakin teratur
FC maka semakin menurun frekuensi kekambuhan gastritis.

C. Sistem Pencernaan

6
Pencernaan makanan bukan hanya tentang masuknya makanan mulai dari
mulut hingga keluar di anus. Proses pencernaan juga melibatkan proses
pemecahan makanan kasar menjadi bentuk yang siap diserap oleh tubuh.
Ternyata proses ini amat panjang, rumit, melibatkan banyak organ, dan enzim.
Dalam sistem pencernaan, organ yang terlibat di dalamnya dibagi dalam 2
kelompok berdasarkan fungsinya, yaitu: saluran pencernaan dan organ
tambahan pencernaan. Saluran pencernaan adalah saluran yang continue
menyerupai tabung yang dikelilingi otot. Organ-organ yang termasuk saluran
pencernaan adalah mulut, faring, esofagus, lambung, usus halus, dan usus
besar. Sedangkan organ pencernaan tambahan berfungsi membantu saluran
pencernaan dalam melakukan kerjanya. Organ pencernaan tambahan berupa
gigi, lidah, kantung empedu, beberapa kelenjar pencernaan seperti kelenjar
ludah, hati, dan pankreas. Kelenjar pencernaan tambahan akan memproduksi
sekret yang berkontribusi dalam bahan makanan (Nofha Rina, 2018).
Potential Hydrogen (pH) adalah satuan derajat asam dan basa yang
diwakili oleh dua kutub angka 1 untuk asam (acid) dan 14 untuk basa
(alkaline). Rentang skala pH tubuh ada pada skala 1 (asam) hingga 14 (basa),
sedangkan pH darah dan tubuh yang sehat berada di titik 7,35-7,45. Pada
umumnya pola hidup, terutama pola makan, membuat manusia memiliki nilai
pH yang sedikit ke arah asam. Namun, jika kondisinya terlalu berat ke sisi
asam, riskan (sangat beresiko tinggi) mengundang berbagai macam penyakit
(Lutfi, Agustin dan Yuliana, 2018).
Food combining menempatkan pola makan sebagai cara untuk
mendapatkan kondisi ideal tubuh yang disebut dengan homeostasis.
Homeostasis adalah kondisi dimana seluruh fungsi tubuh berjalan dengan
sempurna. Organ sehat dan mendukung kerja seluruh sistem agar lancar dan
terpadu dalam tubuh, membuatnya berada dalam kondisi prima, baik secara
psikologis (fungsi mental), fisiologis (fungsi organ dan sistem), dan anatomis
(fungsi musculoskeletal). Ada beberapa hal yang mempercepat tercapainya
kondisi homeostatis. Salah satunya yang populer adalah nilai pH. Homeostatis
tercapai saat tubuh memiliki nilai asam dan basa yang seimbang, atau pH
netral.

7
Untuk mencapai kondisi asam basa tubuh yang ideal, perlu diatur pula
keseimbangan antara makanan pembentuk asam dan pembentuk basa. Pada
umumnya, masyarakat kita memiliki pola makan yang terlalu dominan jenis
makanan pembentuk asam seperti berbagai karbohidrat, susu, daging-
dagingan, atau minuman manis. Sedangkan makanan pembentuk basa yaitu
buah-buahan dan sayur-sayuran segar. Penting diketahui bagi masyarakat
bahwa beda antara makanan yang memiliki rasa asam dengan makanan
pembentuk asam, keduanya berbeda. Terkadang makanan yang berasa asam
justru merupakan pembentuk basa di dalam tubuh, misalkan jeruk nipis dan
aneka buah yang memiliki rasa manis sedikit asam. Sebaliknya, aneka kue-kue
manis, daging-dagingan, susu, dan produk turunannya, meski rasanya bukan
asam, tetatpi di dalam tubuh berperan sebagai pembentuk asam (Lutfi, Agustin
dan Yuliana, 2018).
Pola makan yang dianut selama ini cenderung mencampur berbagai jenis
makanan sekaligus. Nasi, lauk-pauk, sayur-sayuran, buah-buahan, dan susu
dikonsumsi secara bersamaan. Karenanya, lambung akan mendapat beban
berlebih. Teronggok dalam waktu lama dan membusuk. Lambung tidak
menyerap makanan karena memiliki daya serap yang buruk. Kondisi lambung
yang terisi penuh akan semakin menghambat pengeluaran isi lambung ke
duodenum (usus halus).
Selain itu, konsentrasi protein dan lemak juga turut menghambat
pengeluaran isi lambung tersebut. Artinya, makanan akan semakin lama
bertahan di lambung. Pada gilirannya, akan mempercepat terjadinya
pembusukan terhadap makanan selain protein. Proses pembusukan ini akan
menghasilkan sampah-sampah metabolisme. Itulah sebabnya mengapa
seseorang yang makan kekenyangan akan menyebabkan badan menjadi terasa
lemas, lesu, dan kembung. Lalu sampah-sampah tersebut akan disimpan dan
ditumpuk di dalam tubuh, yaitu di jaringan lemak atau jaringan adiposa.
Akhirnya terjadilah kegemukan atau obesitas. Pola makan konvensional
(kebiasaan masyarakat) juga tidak menekankan keseimbangan asam-basa.
Keseimbangan asam-basa menentukan sehat tidaknya tubuh. Tubuh cenderung
bersifat asam, maka dari itu harus diciptakan sifat alkali agar keseimbangan
asam-basa dapat tercapai. Salah satu cara agar kondisi kesehatan tubuh tetap

8
terjaga adalah dengan memperbaiki pola makan. Sebab, hanya dengan pola
makan yang sehat keseimbangan asam-basa dapat terjaga dengan baik (Nofha
Rina, 2018).

D. Cara Melakukan Food Combining


Pola makan Food Combining mengacu kepada mekanisme pencernaan
alamiah tubuh dalam menerima jenis makanan yang serasi sehingga tubuh
akan dapat memproses semua itu dengan baik dan mendapatkan hasil secara
maksimal. Food combining memperkenalkan pola makan yang berbasis pada
3 hal sederhana (Nofha Rina, 2018) yaitu:
1. Apa yang kita makan?
Untuk mempermudah pemahaman secara kontemporer, mari kita
membagi makanan dalam 3 unsur dasar:
a. Protein, contohnya daging-dagingan (hewani) dan kacang-kacangan
(nabati).
b. Sayuran, contohnya tumbuh-tumbuhan (daun, batang, atau akar) yang
mengandung enzim, vitamin, mineral, serat, serta minim kadar gula.
Umumnya, sayuran ini ideal dikonsumsi dalam keadaan segar agar
semua substansi penting itu terjaga keberadaannya.
c. Karbohidrat adalah pemasok energi tercepat bagi tubuh, mirip dengan
gula hanya proses penguraiannya dalam tubuh saja yang berbeda.
Beras, umbi-umbian, beberapa bentuk olahan seperti pasta, mi atau
bihun, adalah contoh karbohidrat yang umum.
2. Waktu Makan
Pola makan food combining memiliki perbedaan yang signifikan
dengan berbagai macam bentuk pola makan normal. Setiap hari, selalu
dimulai dengan mengonsumsi buah tinggi serat dalam berbagai rupa
(yang termudah adalah buah dengan warna berbeda) setiap satu jam
sekali atau setiap kali anda merasa lapar sejak pukul 05.00 hingga sekitar
pukul 12.00. ini karena saat sarapan, tubuh melakukan “siklus
pencernaan”, dan waktu pagi hari antara pukul 04.00 hingga 12.00 adalah
siklus untuk pembuangan sisa metabolisme tubuh. Momen pembuangan
ini sangat membutuhkan energi yang besar sehingga sebaiknya
pencernaan tidak dibebani oleh makanan padat dan berat yang juga
membutuhkan energi besar untuk mencernanya.

9
Irama biologis (circadian rhythm) adalah siklus yang berlangsung
selama 24 jam dalam proses fisiologis makhluk hidup termasuk
tumbuhan, hewan, jamur, dan cyanobacteria. Setiap fungsi dalam tubuh
kita, termasuk pencernaan, mempunyai irama biologis. Sistem
pencernaan terbagi atas 3 fase yang ketiganya simultan aktif selama 24
jam. Apabila salah satu fase mengalami gangguan, maka fase berikutnya
akan turut terganggu. Ketiga fase tersebut adalah:
a. Fase Cerna: 12.00 – 20.00
Rentang waktu ini adalah saat terbaik mengonsumsi makanan padat.
Pada fase ini, semua organ cerna siap menerima makanan yang masuk
ke tubuh. Sebagian besar energi dialokasikan untuk mencerna. Maka
manfaatkan fase ini dengan mengonsumsi makanan berkualitas
dengan memperhatikan kombinasinya agar tak memberatkan organ
cerna.
b. Fase Serap: 20.00 – 04.00
Fase ini adalah waktu untuk tubuh berkonsentrasi menyerap zat-zat
makanan yang telah dicerna. Proses serap ternyata memerlukan energi
sangat besar, maka Sang Pencipta merancangnya bersamaan dengan
waktu istirahat kita. Makan terlalu malam di atas pukul 20.00 dan
tidur larut dapat mengganggu fase ini.
c. Fase Buang: 04.00 – 12.00
Pada fase ini, tubuh mengalokasikan sebagian besar energi untuk
pembuangan sisa metabolisme. Sisa metabolisme yang dikeluarkan
berupa feses, keringat, maupun urin. Agar proses pembuangan ini
dapat berlangsung dengan baik, maka sebaiknya pada fase ini
(bersamaan dengan waktu sarapan hingga sesaat sebelum makan
siang) pencernaan tidak diganggu dengan memberinya makanan yang
susah dicerna.
Erikar juga mengatakan bahwa dimulai pukul 12.00 hingga 20.00
(siklus pencernaan), pada waktu ini, pencernaan tubuh bekerja sangat aktif
sehingga sangat tepat menyantap makanan dalam bentuk padat dan penuh
nutrisi. Pada pukul 20.00 hingga 04.00 (siklus penyerapan), saat ini
pikiran dan tubuh berada dalam kondisi relax. Energi tubuh
dikonsentrasikan untuk menyerap, memproses makanan, dan mengedarkan
zat-zat yang dibutuhkan ke seluruh bagian. Selanjutnya, dimulai pukul

10
04.00 hingga 12.00 (siklus pembuangan), sisa makanan dan metabolisme
dibuang dari tubuh. Oleh karena siklus pembuangan memakan energi
sangat besar, tubuh tidak memiliki energi yang cukup untuk mengonsumsi
makanan padat. Itulah sebabnya, buah yang memiliki karakter ringan serta
mudah dicerna sangat cocok untuk dikonsumsi pada waktu ini.
3. Cara makan.
Paduan antara masing-masing unsur makanan adalah poin paling
utama metode food combining. Protein hewani apabila dicampur dengan
karbohidrat akan menghasilkan “masalah” bagi pencernaan manusia.
Masing-masing unsur makanan tersebut memerlukan enzim yang berbeda
untuk diolah oleh tubuh. Karbohidrat dicerna oleh enzim cerna bernama
amilase (terdapat di air liur) dan protein hewani dicerna oleh enzim pepsin
(bekerja begitu makanan memasuki alat cerna dalam perut). Secara
alamiah, amilase memerlukan suasana basa dan pepsin membutuhkan
suasana yang asam.
Kombinasi antara karbohidrat atau pati dan protein hewani yang
dimakan bersamaan dalam jumlah sama-sama banyak dan terus-menerus
dalam waktu lama, dapat menimbulkan gangguan pada organ tubuh,
bahkan dapat memperparah gangguan tersebut. Pada tingkatan yang lebih
serius, tanda-tanda gangguan itu antara lain dapat dilihat pada
meningkatnya kadar gula darah (akibat radang pankreas) atau melonjaknya
kadar kolestrol/trigliserida darah (akibat gangguan pada liver).
Gangguan pada organ tubuh akan semakin parah bila kita sangat
sedikit mengonsumsi sayuran segar, termasuk yang mentah (berupa salad,
jus, atau lalap), serta makanan berserat lainnya. Selain sayuran, contoh lain
makanan berserat adalah makanan alami (whlefood) seperti beras merah
serta polong-polongan, antara lain kacang merah, kacang hijau, kacang
tolo, kedelai, tempe, dan yang tak kalah penting, kebiasaan menunda
buang air besar ikut andil dalam menimbulkan gangguan pada organ tubuh
pencernaan.

E. Keuntungan Dan Kerugian Food Combining (Asyroqal Bahri, 2017)

11
1. Keuntungan Food Combining
a. Keuntungan bagi tubuh. Di musim pancaroba seperti saat ini, kondisi
tubuh bisa naik turun dan rentan terhadap penyakit. Nah, buat kamu
yang sedang merasa tak enak badan, sepertinya teknik
mengombinasikan sayur dan buah bisa menjadi alternatif. Karena,
menurut Dokter William Howard Hay, ahli bedah sekaligus salah satu
dokter yang memopulerkan food combining dari AS, menjelaskan
bahwa dengan teknik konsumsi yang satu ini bisa meningkatkan daya
tahan tubuh. Karena tubuh kita menyeleksi apa yang kita konsumsi.
Lewat food combining, kita hanya memberikan apa yang tubuh
butuhkan, sehingga fungsi alamiahnya dapat kembali optimal,
termasuk sistem kekebalannya.
b. Mengatasi Konstipasi, Memperlancar Pencernaan. Sistem kerja dari
pencernaan kita itu menyesuaikan dengan apa yang kita konsumsi.
Oleh sebab itu, pilihlah makanan secara bijak, agar kerja usus menjadi
lebih baik. Food combining bekerja dengan menyesuaikan siklus
pencernaan tubuh, sehingga tubuh secara otomatis dapat menjalankan
fungsi pencernaan sesuai takarannya. Karena tubuh menerima asupan
serat yang berlimpah dari buah dan sayur yang dikonsumsi setiap hari.
Ampas yang sudah tak terpakai oleh tubuh dibuang melalui fases pada
jam pembuangan, yaitu pada pukul 4 pagi hingga 12 siang.
c. Keuntungan Food Combining Bagi Kulit
Manfaat food combining tak hanya bisa dirasakan oleh tubuh, tapi juga
kulit. Keseimbangan pH yang kamu dapatkan dari kombinasi buah dan
sayur bisa membuat kulit tampak halus dan senantiasa kencang. Food
combining membantu kita untuk memiliki asupan makanan yang
seimbang, kandungannya dapat tercerna sempurna dan terserap secara
optimal, sehingga nutrisi bagi kulit akan terpenuhi.
Selain itu, food combining juga menghindari konsumsi makanan
dengan kombinasi yang tidak serasi. Kombinasi makanan yang tak
serasi akan memberatkan pencernaan dan menggunakan energi yang
sangat besar, akibatnya akan merasa lelah demikian juga dengan kulit.
2. Kekurangan Food Combining
a. Caranya tidak mudah untuk diikuti karena harus melakukan perubahan
pola makan yang cukup drastis untuk menjalankan diet ini. Walaupun

12
memang cukup banyak orang sukses menurunkan berat badan dengan
cara diet ini.
b. Selain sangat rendah kalori, dalam jangka panjang diet ini bisa
menyebabkan kekurangan vitamin dan mineral yang dibutuhkan tubuh,
terutama vitamin D, B2, kalsium, dan zat besi. Agar berhasil untuk
dilakukan harus dapat mengimbangi perubahan pola makan yang
cukup dramatis, dengan cara dapat memilih kombinasi makananan
yang disukai, agar program diet tidak terlalu menjadi beban.
c. Tambahkan suplemen untuk menyiasati kekurangan vitamin dan
mineral.
d. Jangan terlalu dibiasakan untuk minum jus sesudah makan, food
combining lebih memprioritas untuk mengkomsusi buah lebih banyak
dengan mengurangi nasi, protein nabati.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Food combining adalah metode pengaturan asupan makanan yang
diselaraskan dengan mekanisme alamiah tubuh, khususnya yang berhubungan
dengan sistem pencernaan. Efek pola makan ini meminimalkan jumlah
penumpukan sisa makanan dan metabolisme sehingga fungsi pencernaan dan
penyerapan zat makanan menjadi lancar, dan pemakaian energi tubuh juga
lebih efisien. Dengan FC, perilaku makan seseorang dituntut agar secara
sadar: (1) mengoptimalkan masukan dan penyerapan zat gizi dengan cara
mengkonsumsi makanan yang serasi saja setiap kali makan; (2)
mendayagunakan fungsi sistem pencernaan dengan cara menyesuaikan apa

13
yang dimakan dengan kebutuhan asam-basa dan siklus alamiah tubuh agar
metabolisme seimbang.

B. Saran
Food combining sebaiknya disesuaikan dengan gaya hidup dan pola
makan masyarakat Indonesia sehingga pola makan yang benar dapat
diselaraskan dengan siklus pencernaan tubuh. Dengan pola makan yang
memanfaatkan naluri alami tubuh, kita tidak perlu menghitung kalori, apalagi
porsi makan. Hanya perlu tahu kapan harus makan dan kombinasi makanan
apa yang serasi. Secara alami tubuh akan mencapai dan mempertahankan
berat badan idealnya, kesehatan dan kebugaran tetap terjaga.

DAFTAR PUSTAKA

Asyroqal Bahri. 2017. Pengaruh kualitas diet food combining terhadap frekuensi
kekambuhan gastritis yang dialami mahasiswa farmasi angkatan 2016
universitas muhammadiyah malang. Jurnal keperawatan. Diakses 04 Maret
2019.
Nofha Rina. 2018. Peningkatan pola hidup sehat melalui food combining di
ranah komunikasi kesehatan. Jurnal keperawatan. Diakses 04 Maret 2019
Israil dan Andri. 2018. Pengaruh pemberian bubut tepung tapioka (amylum
manihot) kombinasi madu (caiba pentandra) terhadap skala nyeri
epigastrik pada penderita dispepsia di Wilayah Kerja Puskesmas Sungai
Siring Kecamatan Samarinda Utara. Jurnal Kesehatan Masyarakat. Diakses
04 Maret 2019
Husaini. 2018. Pengaruh Cincau Hitam (Mesona Palutris) Kombinasi Madu
(Chaiba Pentandra) Terhadap Nyeri Ulu Hati Pada Penderita Dispepsia
Di Wilayah Kerja Puskesmas Sungai Siring Samarinda Utara. Jurnal GIZI.
Diakses 04 Maret 2019
Lutfi, Agustin dan Yuliana. 2018. Perbedaan penurunan berat badan berdasarkan
ketaatan pelaku diet kombinasi makanan serasi (Food Combining) di

14
komunitas “Qita Sehat Dengan FC” di Semarang. Jurnal Keperawatan.
Diakses 04 Maret 2019

15