Anda di halaman 1dari 26

MAKALAH

HOMECARE PADA PASIEN HIPERTENSI

Di Susun Oleh :

Revi Anggraini

Dosen Pembimbing : Ns. Oscar Ari Wiriansyah, S.Kep., M.Kep

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MITRA ADIGUNA


PROGRAM STUDI S-I KEPERAWATAN
PALEMBANG
2019

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas
berkat dan rahmat-Nya sehingga makalah yang kami buat ini dapat
terselesaikan. Dengan berbagai sumber referensi yang didapat akhirnya
kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul ” Homcare pada Pasien
Hipertensi ”.
Pada kesempatan kali ini penulis ingin mengucapkan terimakasih
kepada dosen pembimbing dalam proses pembuatan makalah ini. Taklupa
pula kami mengucapkan terimakasih pada teman-teman yang telah
bekerjasama dalam pembuatan makalah ini. Kami menyadari bahwa dalam
penulisan makalah ini terdapat masih banyak kesalahan dan kekurangan
karena faktor batasan pengetahuan kami, maka kami dengan senang hati
menerima kritik dan saran yang membangun demi menyempurnakan
makalah ini.

Palembang, Desember 2019

Penyusun

ii

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.........................................................................................i
DAFTAR ISI .....................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.............................................................................1
1.2 Rumusan Masalah........................................................................4
1.3 Tujuan..........................................................................................4
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Home Care.................................................................................. 5
2.2 Hipertensi...................................................................................14
BAB IIIPENUTUP
3.1 Kesimpulan................................................................................21
3.2 Saran..........................................................................................22
DAFTAR PUSTAKA

iii

3
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Keperawatan medical bedah merupakan bagian dari keperawatan,

dimana keperawatan itu sendiri adalah : Bentuk pelayanan profesional yang

merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan, berbentuk pelayanan

bio-psiko-sosio-spiritual yang komprihensif ditujukan pada individu,

keluarga dan masyarakat baik sakit maupun sehat yang mencakup seluruh

proses kehidupan manusia. Pelayanan keperawatan berupa bantuan yang

diberikan dengan alasan kelemahan fisik, mental, masalah psikososial,

keterbatasan pengetahuan, dan ketidakmampuan dalam melakukan kegiatan

sehari-hari secara mandiri akibat gangguan patofisiologis.


Keperawatan medikal bedah membahas tentang masalah kesehatan

yang lazim terjadi pada usia dewasa baik yang bersifat akut maupun kronik

dengan atau tanpa tindakan operatif yang meliputi gangguan fungsi tubuh

pada sistem cardiovascular, penginderaan (mata, tht), pencernaan, dan

urologi oleh karena berbagai penyebab patologis seperti infeksi atau

peradangan, kongenital, neoplasma trauma, dan degeneratif.


Keperawatan sebagai profesi dituntut untuk mengembangkan

keilmuannya sebagai wujud kepeduliannya dalam meningkatkan

kesejahteraan umat manusia baik dalam tingkatan preklinik maupun klinik.

Untuk dapat mengembangkan keilmuannya maka keperawatan dituntut

untuk peka terhadap perubahan-perubahan yang terjadi di lingkungannya

setiap saat.

1
Keperawatan medikal bedah sebagai cabang ilmu keperawatan juga

tidak terlepas dari adanya berbagai perubahan tersebut, seperti teknologi alat

kesehatan, variasi jenis penyakit dan teknik intervensi keperawatan. Adanya

berbagai perubahan yang terjadi akan menimbulkan berbagai trend dan isu

yang menuntut peningkatan pelayanan asuhan keperawatan.

Pelayanan keperawatan yang berkualitas mempunyai arti bahwa

pelayanan yang diberikan kepada individu, keluarga ataupun masyarakat

haruslah baik (bersifat etis) dan benar (berdasarkan ilmu dan hukum yang

berlaku). Hukum yang mengatur praktik keperawatan telah tersedia dengan

lengkap, baik dalam bentuk undang-undang kesehatan, maupun surat

keputusan Menkes tentang praktik keperawatan. Dengan demikian

melakukan praktik keperawatan bagi perawat di Indonesia adalah

merupakan hak sekaligus kewajiban profesi untuk mencapai visi Indonesia

sehat tahun 2010.

Implementasi praktik keperawatan yang dilakukan oleh perawat

sebenarnya tidak harus dilakukan di rumah sakit, klinik, ataupun di gedung

puskesmas tetapi dapat juga dilaksanakan dimasyarakat maupun dirumah

pasien. Pelayanan keperawatan yang dilkukan dirumah pasien disebut Home

Care.

Di dalam makalah yang sederhana ini, saya akan memberikan

deskripsi/gambaran tentang konsep dasar Home Care dalam keperawatan

yang meliputi : pengertian, sejarah perkembangan Home Care di luar dan

2
dalam negeri, alasan mengapa Home Care perlu dikembangkan, dan

bagaimana penyelenggaraan Home Care yang baik.

Pola penyakit di Indonesia mengalami transisi epidemiologi selama

dua dekade terakhir, yakni dari penyakit menular yang semula menjadi

beban utama kemudian mulai beralih menjadi penyakit tidak menular.

Kecenderungan ini meningkat dan mulai mengancam sejak usia muda.

Penyakit tidak menular yang utama di antaranya hipertensi, diabetes

melitus, kanker, dan penyakit paru obstruktif kronik.

World Health Organization (WHO) dan Center Disease Control and

Prevention (CDC) memperkirakan jumlah penderita hipertensi di dunia

terus meningkat. Data pasien hipertensi di dunia sekitar satu milyar orang

dan meningkat setiap tahunnya. Prevalensi hipertensi yang terdiagnosis

dokter di Indonesia mencapai 25,8% dan Yogyakarta menduduki peringkat

ketiga prevalensi hipertensi terbesar di Indonesia sesuai data Riskesdas

2013. Hipertensi adalah penyakit yang didefinisikan sebagai peningkatan

tekanan darah secara menetap. Umumnya, seseorang dikatakan mengalami

hipertensi jika tekanan darah berada di atas 140/90 mmHg. Tingkat

prevalensi hipertensi diketahui meningkat seiring dengan peningkatan usia

dan prevalensi tersebut cenderung lebih tinggi pada masyarakat dengan

tingkat pendidikan rendah atau masyarakat yang tidak bekerja (Badan

Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, 2013). Saat ini terdapat adanya

kecenderungan bahwa masyarakat perkotaan lebih banyak menderita

hipertensi dibandingkan masyarakat pedesaan. Hal ini antara lain

3
dihubungkan dengan adanya gaya hidup masyarakat kota yang berhubungan

dengan resiko penyakit hipertensi seperti stress, obesitas (kegemukan),

kurangnya olahraga, merokok, alkohol, dan makan makanan yang tinggi

kadar lemaknya.

1.2 Rumusan Masalah


Rumusan masalah yang akan dibahas pada makalah ini adalah:
1. Apa itu pengertian home care ?
2. Apa itu hipertensi ?

1.3 Tujuan penulisan

Berdasarkan rumusan masalah yang telah disebutkan di atas maka

tujuan dari penulisan makalah ini antara lain:

a. Mampu memahami dan menjelaskan pengertian home care.


b. Mampu memahami dan menjelaskan hipertensi.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Homecare

1. Pengertian Home Care

Home care adalah fasilitas utama kesehatan yang bukan merupakan

bagian dari sebuah rumah sakit, yang yang menyediakan layanan antenatal

komprehensif, intrapartum, dan layanan pascakelahiran untuk wanita

4
dengan kehamilan tanpa komplikasi. Fasilitas ini harus ditempatkan

berdekatan dan berhubungan dengan rumah sakit yang dapat mengelola

kedaan darurat obstetrik dan neonatal.

Home care adalah pelayanan kesehatan yang berkesinambungan dan

komprehensif yang diberikan kepada individu dan keluarga di tempat

tinggal mereka yang bertujuan untuk meningkatkan, mempertahankan atau

memulihkan kesehatan atau memaksimalkan tingkat kemandirian dan

meminimalkan akibat dari penyakit ( Depkes, 2002 ). Sedangkan menurut

Neis dan Mc Ewen (2001) dalam Avicenna ( 2008 ) menyatakan home

health care adalah sistem dimana pelayanan kesehatan dan pelayanan sosial

diberikan di rumah kepada orang-orang yang cacat atau orang-orang yang

harus tinggal di rumah karena kondisi kesehatannya. Tidak berbeda dengan

kedua definisi di atas, Warola ( 1980 ) mendefinisikan home care sebagai

pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan pasien individu dan keluarga,

direncanakan, dikoordinasikan dan disediakan oleh pemberi pelayanan yang

diorganisir untuk memberi pelayanan di rumah melalui staf atau pengaturan

berdasarkan perjanjian kerja (kontrak).

Menurut American of Nurses Association (ANA) tahun 1992

pelayanan kesehatan di rumah ( home care ) adalah perpaduan perawatan

kesehatan masyarakat dan ketrampilan teknis yang terpilih dari perawat

spesialis yang terdiri dari perawat komunitas, perawat gerontologi, perawat

psikiatri, perawat maternitas dan perawat medikal bedah.

2. Sejarah Perkembangan Home Care

5
a. Di Luar Negeri

Di Amerika, Home Care (HC) yang terorganisasikan dimulai sejak

sekitar tahun 1880- an, dimana saat itu banyak sekali penderita penyakit

infeksi dengan angka kematian yang tinggi. Meskipun pada saat itu telah

banyak didirikan rumah sakit modern, namun pemanfaatannya masih

sangat rendah, hal ini dikarenakan masyarakat lebih menyukai perawatan

dirumah. Kondisi ini berkembang secara professional, sehingga pada

tahun 1900 terdapat 12.000 perawat terlatih di seluruh USA (Visiting

Nurses / VN ; memberikan asuhan keperawatan dirumah pada keluarga

miskin, Public Health Nurses, melakukan upaya promosi dan prevensi

untuk melindungi kesehatan masyarakat, serta Perawat Praktik Mandiri

yang melakukan asuhan keperawatan pasien dirumah sesuai

kebutuhannya). (Lerman D. & Eric B.L, 1993).

Sejak tahun 1990-an institusi yang memberikan layanan Home Care terus

meningkat sekitar 10% perthun dari semula layanan hanya diberikan oleh

organisasi perawat pengunjung rumah (VNA = Visiting Nurse

Association) dan pemerintah, kemudian berkembang layanan yang

berorientasi profit (Proprietary Agencies) dan yang berbasis RS

(Hospital Based Agencies) Kondisi ini terjadi seiring dengan perubahan

system pembayaran jasa layanan Home Care (dapat dibayar melalui

pihak ke tiga / asuransi) dan perkembangan spesialisasi di berbagai

layanan kesehatan termasuk berkembangnya Home Health Nursing yang

6
merupakan spesialisasi dari Community Health Nursing (Allender &

Spradley, 2001)

Di UK, Home Care berkembang secara professional selama pertengahan

abad 19, dengan mulai berkembangnya District Nursing, yang pada

awalnya dimulai oleh para Biarawati yang merawat orang miskin yang

sakit dirumah. Kemudian merek mulai melatih wanita dari kalangan

menengah ke bawah untuk merawat orang miskin yang sakit, dibawah

pengawasan Biarawati tersebut (Walliamson, 1996 dalam Lawwton,

Cantrell & Harris, 2000). Kondisi ini terus berkembang sehingga pada

tahun 1992 ditetapkan peran District Nurse (DN) adalah :

1) merawat orang sakit dirumah, sampai klien mampu mandiri

2) merawat orang sakaratul maut dirumah agar meninggal dengan

nyaman dan damai

3) mengajarkan ketrampilan keperawatan dasar kepada klien dan

keluarga, agar dapat digunakan pada saat kunjungan perawat telah

berlalu.

Selain District Nurse (DN), di UK juga muncul perawat Health Visitor

(HV) yang berperan sebagai District Nurse (DN) ditambah dengan peran

lain ialah :

1) melakukan penyuluhan dan konseling pada klien, keluarga maupun

masyarakat luas dalam upaya pencegahan penyakit dan promosi

kesehatan

7
2) memberikan saran dan pandangan bagaimana mengelola kesehatan

dan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan kondisi setempat.

b. Di Dalam Negeri

Di Indonesia, layanan Home Care (HC) sebenarnya bukan merupakan hal

yang baru, karena merawat pasien di rumah baik yang dilakukan oleh

anggota keluarga yang dilatih dan atau oleh tenaga keperawatan melalui

kunjungan rumah secara perorangan, adalah merupakan hal biasa sejak

dahulu kala.

3. Tindakan Homecare Di Perlukan

Akhir-akhir ini Home Care (HC) mendapat perhatian karena berbagai

alasan, antara lain yaitu :

a. Bagi Klien dan Keluarga

1) Program Home Care (HC) dapat membantu meringankan biaya rawat

inap yang makin mahal, karena dapat mengurangi biaya akomodasi

pasien, transportasi dan konsumsi keluarga

2) Mempererat ikatan keluarga, karena dapat selalu berdekatan pada saat

anggota keluarga ada yang sakit

3) Merasa lebih nyaman karena berada dirumah sendiri

4) Makin banyaknya wanita yang bekerja diluar rumah, sehingga tugas

merawat orang sakit yang biasanya dilakukan ibu terhambat oleh

karena itu kehadiran perawat untuk menggantikannya

b. Bagi Perawat

8
1) Memberikan variasi lingkungan kerja, sehingga tidak jenuh dengan

lingkungan yang tetap sama

2) Dapat mengenal klien dan lingkungannya dengan baik, sehingga

pendidikan kesehatan yang diberikan sesuai dengan situasi dan

kondisi rumah klien, dengan begitu kepuasan kerja perawat akan

meningkat.

Berbagai alasan tersebut membuat program layanan Home Care (HC)

mulai diminati baik oleh pihak klien dan keluarganya, oleh perawat maupun

pihak rumah sakit.

4. Populasi, Jenis dan Pemberi Layanan Home Care

a. Populasi layanan

Populasi layanan Home Care (HC) di Amerika didominasi oleh wanita

(66,8%). Meskipun program Home Care (HC) diperuntukkan untuk

semua umur, tetapi mayoritas klien berusia 65 tahun atau lebih (Allender

& Spradley, 2001).

Pengalaman Home Health Care (HHC) oleh “Suharyati” staf dosen

keperawatan komunitas PSIK Univ. Padjajaran Bandung di RS Al-Islam

Bandung (yang dimulai sejak 1995) juga menunjukkan kondisi yang

sama, dimana pada triwulan I tahun 2002 klien wanita lebih banyak dari

pria dan kelompok usia lanjut juga mendominasi layanan HHC di RS Al-

Islam Bandung (Maya H, 2002). Hal ini mungkin disebabkan karena

populasi wanita lebih banyak dan umur harapan hidup wanita lebih

9
panjang dari pria serta para lansia yang cenderung untuk lebih mudah

terserang penyakit.

b. Jenis layanan

Mengingat HC dalam keperawatan merupakan spesialisasi dari

keperawatan komunitas (Blackie, 1998), maka jenis layanan yang

diberikan meliputi layanan keperawatan (diagnosa dan perlakuan

terhadap respon manusia yang menghadapi masalah kesehatan baik

potensial maupun actual dalam memenuhi kebutuhan dasarnya) dan

layanan kesehatan masyarakat (prevensi primer, sekunder dan tersier). Di

Amerika jenis kasus yang dirawat di rumah menurut Allender & Spradley

2001 adalah :

1) Penyakit jantung

2) Penyakit/gangguan system muskuloskeletal dan jaringan pengikat

3) Penyakit Diabetes Mellitus

4) Penyakit system pernafasan

5) Luka

6) Keracunan

7) Kanker (hanya sebagian kecil), karena kebanyakan kasus palliative

dirawat di Hospice

Sedangkan jenis kasus yang dirawat di unit HHC RS Al-Islam Bandung

dalam triwuln I tahun 2002 (Maya H, 2002) adalah :

1) Pasca stroke

2) Pasca bedah

10
3) Diabetes Mellitus

4) Terminal ill

c. Pemberi layanan

Pemberi layanan keperawatan di rumah terdiri dari dua jenis tenaga,

yaitu :

1) Tenaga informal

Tenaga informal adalah anggota keluarga atau teman yang

memberikan layanan kepada klien tanpa dibayar. Diperkirakan 75%

lanjut usia di Amerika dirawat oleh jenis tenaga ini (Allender &

Spradley, 2001)

2) Tenaga formal

Tenaga formal adalah perawat yang harus bekerja bersama keluarga

untuk menyelesaikan masalah kesehatan, sehingga harus

memperhatikan semua aspek kehidupan keluarga. Oleh karena itu

perawat di masyarakat dituntut untuk mampu berfikir kritis dan

menguasai ketrampilan klinik dan harus seorang RN. Dengan

demikian diharapkan perawat dapat memberikan layanan sesuai

dengan standard yang telah ditetapkan.

5. Standar Praktik Home Health Nursing (HHN)

Asosiasi perawat Amerika (1999) telah menetapkan lingkungan dan

standar Home Health Nursing yang meliputi standar asuhan keperawatan

dan standar kinerja professional (Allender & Spradley, 2001)

11
a. Standard Asuhan Keperawatan

1) Standard – I, Perawat mengumpulkan data kesehatan klien

2) Standard – II, Dalam menetapkan diagnosa keperawatan, perawat

melakukan analisa terhadap data yang telah terkumpul

3) Standard – III, Perawat mengidentifikasi hasil yang diharapkan baik

dari klien maupun lingkungannya

4) Standard – IV, Perawat mengembangkan rencana asuhan keperawatan

dengan menetapkan intervensi yang akan dilakukan untuk mencapai

hasil yang diharapkan

5) Standard – V, Perawat melaksanakan rencana intervensi yang telah di

tetapkan dalam perencanaan

6) Standard – VI, Perawat melakukan evaluasi terhadap kemajuan klien

yang mengarah ke pencapaian hasil yang diharapkan.

b. Standard Kinerja Profesional (professional performance)

1) Standard – I, Kualitas asuhan keperawatan, perawat melakukan

evaluasi terhadap kualitas dan efektifitas praktik keperawatan secara

sistematis

2) Standard – II, Performance Appraisal, perawat melakukan evaluasi

diri sendiri terhadap praktik keperawatan yang dilakukannya

dihubungkan dengan standar praktik professional, hasil penelitian

ilmiah dan peraturan yang berlaku

12
3) Standard – III, Pendidikan, perawat berupaya untuk selalu

meningklatkan pengetahuan dan kemampuan dirinya dalam praktik

keperawatan

4) Standard – IV, Kesejawatan, perawat berinteraksi dan berperan aktif

dalam pengembangan professionalism sesama perawat dan praktisi

kesehatan lainnya sebagai sejawat

5) Standard – V, Etika, putusan dan tindakan perawat terhadap klien

berdasarkan pada landasan etika profesi

6) Standar VI, Kolaborasi, dalam melaksanakan asuhan keperawatan,

perawat berkolaborasi dengan klien, keluarga dan praktisi kesehatan

lain.

7) Standar VII, Penelitian, dalam praktiknya, perawat menerapkan hasil

penelitian

8) Standard – VIII, Pemanfaatan sumber, perawat membantu klien atau

keluarga untuk memahami resiko, keuntungan dan biaya perencanaan

dan pelaksanaan asuhan keperawatan .

Standar praktik keperawatan di Indonesia telah selesai disusun dan

disepakati oleh pimpinan PPNI, saat ini sedang menunggu pengesahan dari

Depkes RI.

2.2 Hipertensi

1. Pengertian

13
Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah didalam arteri.

Seseorang dikatakan terkena hipertensi bila mempunyai tekanan darah

sistolik ≥ 140 mmHg dan tekanan darah diastolik ≤90 mmHg. Pengukuran

dilakukan 2 kali dengan waktu yang berbeda dan dilakukan pada saat

istirahat dengan posisi duduk atau berbaring.

Tingkatan tekanan darah dibagi berdasar :

No Klasifikasi Sistolik Diastolik

Optimal <120 mmHg <80 mmHg

Normal <130 mmHg <85 mmHg

Normal tinggi 130 – 139 mmHg 85 – 89 mmHg

Hipertensi ringan 140 – 159 mmHg 90 – 99 mmHg

Hipertensi sedang 160 – 179 mmHg 100 – 109 mmHg

Hipertensi berat >180 mmHg >110 mmHg

Hipertensi merupakan silent killer dimana gejala dapat bervariasi pada

masing-masing individu dan hampir sama dengan gejala penyakit lainnya.

Gejala-gejalanya itu adalah sakit kepala/rasa berat di tengkuk, mumet

(vertigo), jantung berdebar-debar, mudah Ielah, penglihatan kabur, telinga

berdenging (tinnitus), dan mimisan.

Hipertensi dipengaruhi oleh beberapa faktor risiko yang

dikelompokkan menjadi faktor risiko yang tidak dapat diubah dan faktor

risiko yang dapat diubah. Faktor risiko yang tidak dapat diubah diantaranya

14
adalah jenis kelamin, umur dan keturunan. Sedangkan faktor risiko yang

dapat diubah diantaranya adalah pola makan (banyak mengkonsumsi garam,

kolesterol, kafein, alkohol), kebiasaan olah raga, merokok, obesitas, dan

Stres. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa usia > 55 tahun, mempunyai

riwayat keluarga dengan hipertensi, pola makan tinggi natrium dan lemak,

mengalami obesitas dan tidak melakukan olah raga mempunyai risiko yang

lebih besar untuk terkena hipertensi.

Klasifikasi hipertensi berdasarkan penyebab terbagi menjadi:

1. Hipertensi Primer/Hipertensi Esensial Hipertensi yang penyebabnya

tidak diketahui (idiopatik), walaupun dikaitkan dengan kombinasi faktor

gaya hidup seperti kurang bergerak (inaktivitas) dan pola makan. Terjadi

pada sekitar 90% penderita hipertensi.

2. Hipertensi Sekunder/Hipertensi Non Esensial Hipertensi yang diketahui

penyebabnya. Pada sekitar 5-10% penderita hipertensi, penyebabnya

adalah penyakit ginjal. Pada sekitar 1-2%, penyebabnya adalah kelainan

hormonal atau pemakaian obat tertentu (misalnya pil KB).

Berdasarkan bentuknya hipertensi dibagi menjadi : Hipertensi

diastolik (diastolic hypertension), Hipertensi campuran (sistol dan diastol

yang meninggi), Hipertensi sistolik (isolated systolic hypertension).

Terdapat jenis-jenis hipertensi yang lain yaitu :

1. Hipertensi Pulmonal Suatu penyakit yang ditandai dengan peningkatan

tekanan darah pada pembuluh darah arteri paru-paru yang menyebabkan

sesak nafas, pusing dan pingsan pada saat melakukan aktivitas. Berdasar

15
penyebabnya hipertensi pulmonal dapat menjadi penyakit berat yang

ditandai dengan penurunan toleransi dalam melakukan aktivitas dan

gagal jantung kanan. Hipertensi pulmonal primer sering didapatkan pada

usia muda dan usia pertengahan, lebih sering didapatkan pada perempuan

dengan perbandingan 2:1, angka kejadian pertahun sekitar 2-3 kasus per

1 juta penduduk, dengan mean survival / sampai timbulnya gejala

penyakit sekitar 2-3 tahun. Kriteria diagnosis untuk hipertensi pulmonal

merujuk pada National Institute of Health; bila tekanan sistolik arteri

pulmonalis lebih dari 35 mmHg atau “mean”tekanan arteri pulmonalis

lebih dari 25 mmHg pada saat istirahat atau lebih 30 mmHg pada

aktifitas dan tidak didapatkan adanya kelainan katup pada jantung kiri,

penyakit myokardium, penyakit jantung kongenital dan tidak adanya

kelainan paru.

2. Hipertensi Pada Kehamilan

Pada dasarnya terdapat 4 jenis hipertensi yang umumnya terdapat pada

saat kehamilan, yaitu:

a. Preeklampsia-eklampsia atau disebut juga sebagai hipertensi yang

diakibatkan kehamilan/keracunan kehamilan ( selain tekanan darah

yang meninggi, juga didapatkan kelainan pada air kencingnya ).

Preeklamsi adalah penyakit yang timbul dengan tanda-tanda

hipertensi, edema, dan proteinuria yang timbul karena kehamilan.

b. Hipertensi kronik yaitu hipertensi yang sudah ada sejak sebelum ibu

mengandung janin.

16
c. Preeklampsia pada hipertensi kronik, yang merupakan gabungan

preeklampsia dengan hipertensi kronik.

d. Hipertensi gestasional atau hipertensi yang sesaat. Penyebab

hipertensi dalam kehamilan sebenarnya belum jelas. Ada yang

mengatakan bahwa hal tersebut diakibatkan oleh kelainan pembuluh

darah, ada yang mengatakan karena faktor diet, tetapi ada juga yang

mengatakan disebabkan faktor keturunan, dan lain sebagainya.

2. Akibat Komplikasi Hipertensi

Komplikasi/bahaya yang dapat ditimbulkan pada penyakit adalah :

a. Pada mata: penyempitan pembuluh darah pada mata karena penumpukan

kolesterol dapat mengakibatkan retinopati, dan efek yang ditimbulkan

pandangan mata kabur;

b.Pada jantung: jika terjadi vasokonstriksi vaskuler pada jantung yang lama

dapat menyebabkan sakit lemah pada jantung, sehingga timbul rasa sakit

dan bahkan menyebabkan kematian yang mendadak;

c. Pada ginjal: suplai darah vaskuler pada ginjal turun menyebabkan terjadi

penumpukan produk sampah yang berlebihan dan bisa menyebabkan

sakit pada ginjal;

d.Pada otak: jika aliran darah pada otak berkurang dan suplai O2 berkurang

bisa menyebabkan pusing. Jika penyempitan pembuluh darah sudah

parah mengakibatkan pecahnya pembuluh darah pada otak (stroke).

3. Pencegahan

17
Harus diakui sangat sulit untuk mendeteksi dan mengobati penderita

hipertensi secara adekuat, harga obat-obatan hipertensi tidaklah murah,

obat-obat baru amat mahal dan mempunyai banyak efek samping. Untuk

alasan inilah pengobatan hipertensi sangat penting, tapi tidak lengkap tanpa

dilakukan tindakan pencegahan untuk menurunkan faktor resiko.

Pencegahan sebenarnya merupakan bagian dari pengobatan hipertensi,

karena mampu memutus mata rantai hipertensi dan komplikasinya.

Pencegahan hipertensi dilakukan melalui dua pendekatan :

a. Pemberian edukasi tentang hipertensi. Munculnya masalah kesehatan

seperti hipertensi tidak hanya disebabkan oleh kelalaian individu, namun

dapat juga disebabkan oleh ketidaktahuan masyarakat sebagai akibat dari

kurangnya informasi tentang suatu penyakit. Rendahnya pengetahuan

tenaga kesehatan, pasien, dan masyarakat tentang hipertensi merupakan

penyebab utama tidak terkontrolnya tekanan darah, terutama pada pasien

hipertensi di Asia. Dari penelitian yang dilakukan ( Armilawaty,2009)

50% dari penderita Hipertensi dewasa tidak menyadari sebagai penderita

hipertensi sehingga mereka cenderung menjadi hipertensi berat karena

tidak menghindari dan tidak mengetahui faktor resiko. Masih kurangnya

informasi tentang perbaikan pola makan bagi penderita hipertensi juga

membuat pengetahuan masyarakat tentang perbaiakan pola makan masih

rendah. Pemberian informasi kesehatan diharapkan mampu mencegah

dan mengurangi angka kejadian suatu penyakit dan sebagai sarana

18
promosi kesehatan. Pemberian edukasi mengenai hipertensi terbukti

efektif dalam pencegahan hipertensi.

b. Modifikasi Gaya Hidup. Gaya hidup merupakan faktor penting yang

mempengaruhi kehidupan masyarakat. Gaya hidup yang tidak sehat dapat

menjadi penyebab terjadinya hipertensi misalnya aktivitas fisik, pola

makan, dan stres, dll. Resiko seseorang untuk mendapatkan hipertensi

dapat dikurangi dengan cara memeriksa tekanan darah secara teratur;

menjaga berat badan ideal; mengurangi konsumsi garam; jangan

merokok; berolahraga secara teratur; hidup secara teratur; mengurangi

stress; jangan terburu-buru; dan menghindari makanan berlemak.

Menjalankan pola hidup sehat setidaknya selama 4–6 bulan terbukti

dapat menurunkan tekanan darah dan secara umum dapat menurunkan

risiko permasalahan kardiovaskular.

1) Pencegahan Primer yaitu tidur yang cukup, antara 6-8 jam per hari;

kurangi makanan berkolesterol tinggi dan perbanyak aktifitas fisik

untuk mengurangi berat badan; kurangi konsumsi alcohol; konsumsi

minyak ikan; suplai kalsium, meskipun hanya menurunkan sedikit

tekanan darah tapi kalsium juga cukup membantu.

2) Pencegahan Sekunder yaitu pola makanam yamg sehat; mengurangi

garam dan natrium di diet anda; fisik aktif; mengurangi Akohol intake;

berhenti merokok.

3) Pencegahan Tersier yaitu pengontrolan darah secara rutin; olahraga

dengan teratur dan di sesuaikan dengan kondisi tubuh.

19
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

20
Dari pembahasan di atas penulis dapat menyimpulkan bahwa, Home

care merupakan pelayanan kesehatan yang holistik dengan

mempertimbangkan aspek bio, psiko, sosial, spiritual dan ekonomi secara

komprehensip dengan mengutamakan kepentingan dan kepuasan klien yang

dilaksanakan secara efektif dan efisien. Home care merupakan upaya terbaik

bagi klien penyakit kronis dan lain-lain untuk meningkatkan dan

mempertahankan kemampuan individu secara optimal. Home care nursing

banyak manfaat yang dapat diperoleh yaitu hemat dalam biaya, waktu,

tenaga dan pikiran. Sebagai praktek lahan kemandirian profesi dituntut

kemampuan profesional. Dengan kemajuan masyarakat, kode etik dan

standar profesi harus sebagai dasar dalam melaksanakan tugas sebagai

profesi. Diperlukan team kesehatan yang solid untuk memberikan pelayanan

yang komprehensif dan paripurna,

Sedangkan Hipertensi merupakan penyakit yang mendapat perhatian

dari semua kalangan masyarakat, mengingat dampak yang ditimbulkannya

baik jangka pendek maupun jangka panjang dimana meningginya tekanan

darah berhubungan dengan meningkatnya risiko terjadinya penyakit jantung

koroner, stroke, gagal jantung, isufisiensi renal, dan peyakit vaskuler perifer.

Prevalensi hipertensi semakin meningkat dengan bertambahnya usia, dan

pemberian obat-obatan terbukti sangan bermanfaat untuk mengobati

hipertensi. Namun dengan obat-oabatan saja tidak dapat mengobati penyakit

kardiovaskuler – renal akibat hipertensi. Pencegahan merupakan faktor

penting. Dengan mengetahui gejala dan faktor resiko hipertensi yang terjadi

21
diharapkan masyarakat mampu mencegah terjadinya hipertensi atau

terjadinya komplikasi dan kematian.

3.2 Saran

Perawat yang menjalankan perawatan home care hendaknya sudah

memiliki SIP, harus kompeten dalam bidangnya, bertanggung jawab

terhadap tugasnya. Dan Hendaknya pasien serta keluarga dapat bersifat

terbuka terhadap perawat home care, manicotti anjuran dari perawa,

membantu dalam proses tindakan keperawatan, dan dapat bersifat kooperatif

dalam menerima informasi dari perawat.

DAFTAR PUSTAKA

Depkes RI.1990.Pembangunan Kesehatan Masyarakat di Indonesia.


Jakarta:Depkes RI.

22
Dr.M.N Bustan.2000.Epidemiologi Pasien Tidak Menular.Jakarta:PT Rineka
Cipta.

Hidayat, Lukman. 2009. Home Care dan "sedikit konsep untuk anda"

Potter dan Ferry.2005.Buku Ajar Fundamental Keperawatan Vol.1.Jakarta:EGC.

https://sardjito.co.id/2018/07/09/pencegahan-penyakit-hipertensi-dengan-gaya-
hidup-sehat-dan-peningkatan-pengetahuan-tentang-hipertensi/

http://maalikghaisan.blogspot.com/2017/04/asuhan-keperawatan-hipertensi-2.html

23