Anda di halaman 1dari 2

LTM

AGAMA ISLAM
MAHADIST SULTHON – 1906384245
PANDANGAN HADIS DAN SEJARAH HIDUP RASULULLAH

Mempelajari sejarah pertumbuhan dan perkembangan Hadis diharapkan dapat


mengetahui sikap dan tindakan umat islam terhadap Hadis serta usaha pembinaan
dan pemeliharaan pada setiap periode Hadis hingga pada akhirnya muncul kitab-kitab
hasil pembukuan secara sempurna yang dalam islam dikenal dengan istilah tadwin. Studi
tentang keberadaan Hadis ini selalu semakin menarik untuk dikaji seiring dengan
perkembangan analisis dan nalar berpikir manusia.
Studi Hadis tidak hanya dilakukan oleh kalangan muslim melainkan juga dilakukanoleh
kalangan orientalis. Bahkan, kajian studi Hadis dalam dunia islam semakin menguat
dilatar belakangi oleh upaya umat islam untuk membantah terhadap pendapat
kalangan orientalis tentang ketidak aslian Hadis.2 Goldziher misalnya, dia meragukan sebagian
besar orisinilitas Hadis yang bahkan diriwayatkan oleh ulama besar seperti imam Bukhori hal ini
dikarenakan jarak semenjak wafatnya Nabi Muhammad SAW dengan masa upaya
pembukuan Hadis sangat jauh, menurutnya sangat sulit menjaga orisinilitas Hadis tersebut.
Oleh karena itu, mengkaji sejarah berarti melakukan upaya mengungkap fakta-fakta yang
sebenarnya sehingga sulit untuk ditolak keberadaannya. Perjalanan Hadis pada setiap periode
mengalami berbagai persoalan dan hambatan yang dihadapi, antara satu periode dengan
periode lainnya tidak sama, maka pengungkapan sejarah persoalannya perlu diajukan ciri-ciri
khusus dari persoalan tersebut.
Diantara ulama tidak sependapat dalam penyusunan periodesasi pertumbuhan dan
perkembangan Hadis. Ada yang membaginya menjadi tiga periode yaitu masa Rasulullah, masa
sahabat, dan masa tabi’in. Begitu pula ada yang membaginya menjadi dua periode yaitu masa
prakodifikasi dan masa kodifikasi. Bahkan ada yang membaginya dengan spesifikasi yang lebih
jelas
Nabi Muhammad SAW adalah anak dari Abdullah bin Abu-muttalib. Ibunya bernama
Aminah binti wahab. Kedua orang tuanya itu berasal dari suku Quraisy yang terpandang dan
mulia. Nabi Muhammad lahir di kota Mekkah pada hari Senin, tanggal 12 Rabi’ul Awal Tahun
Gajah (dinamakan tahun Gajah karena pada saat itu pasukan bergajah yang dipimpin oleh
Gubernur Yaman Abrahah ingin menghancurkan Ka’bah. Kemudian pasukan itu binasa seperti
daun yang dimakan ulat. Q.S Al-Fiil), bertepatan dengan 570 M. Ayah beliau bernama Abdullah
bin Abdul Muthalib, dan ibu beliau bernama Aminah binti Wahab. Abdullah bin Abdul Muthalib
wafat ketika Rasulullah masih berada dalam kandungan (Sebelum kelahiran Nabi Muhammad).
Pada usia 6 tahun ibunya meninggal, Kemudian Rasulullah diasuh kakeknya, selama dua tahun.
Saat beliau berumur 8 tahun, kakeknya meninggal dunia dan beliau di asuh oleh pamannya Abu
Thalib. Pada usia 12 tahun, Rasulullah di bawa berniaga oleh Abu Thalib bersama kafilah dagang
ke negeri Syam. Ketika tiba di Bashrah, beliau bertemu dengan pendeta Nasrani yang bernama
Bahira (Bukhira) yang mengatakan kepada Abu Thalib bahwa keponakannya memiliki tanda-
tanda kenabian dan menyarankan agar Rasulullah dibawa kembali pulang agar tidak dicelakai
orang Romawi dan Yahudi.
Pada tahun ke-14 dari kelahirannya, Rasulullah ikut dalam perang Fijar yang terjadi pada suatu
tempat di antara Nakhlah dan Thaif, antara kabilah Quraisy dan sekutunya Bani Kinanah
melawan Kabilah Qais ‘Ailan. Dalam hal ini Rasulullah ikut membantu paman-pamannya
menyediakan anak panah.
Pada Usia 25 tahun Rasulullah dipercaya membawa barang perniagaan milik Khadijah binti
Khuwailid untuk diperdagangkan ke negeri Syam. Kemudian Rasulullah menikah dengan
Khadijah. Putra-putri beliau dari perkawinan dengan Khadijah adalah : Al-Qasim, Zainab,
Ruqayyah, Ummu Kultsum, Fathimah, dan Abdullah. Semua putra beliau meninggal ketika
masih kanak-kanak, sedangkan putri beliau semua hidup pada masa Islam, namum meninggal
semasa beliau masih hidup, kecuali Fathimah yang meninggal dunia enam bulan setelah beliau
wafat.
Ketika Rasulullah berusia 35 tahun, kabilah Quraisy membangun kembali Ka’bah yang rusak
akibat banjir. Tatkala pengerjaan sampai kepada peletakan Hajar Aswad, terjadi perselisihan
tentang siapa yang paling berhak meletakkan kembali Hajar Aswad ke tempat
semula.Untunglah ada seorang yang bijaksana yaitu Ummayah bin Mughirah dari bani Makzum.
Atas usul Ummayah, mereka sepakat siapa yang paling pertama masuk melalui pintu Shafa,
ialah yang menjadi pemutus perkara tersebut. Atas Kehendak Allah SWT, Rasulullah yang
pertama memasuki pintu tersebut, dengan gembira mereka menyeru Al Amin (orang yang
dapat dipercaya). Rasulullah membentangkan sehelai kain dan meletakkan Hajar Aswad di
tengahnya, lalu meminta agar semua kepala kabilah memegang ujung selendang dan
mengangkatnya sampai ke tempat.

Dengan penuh rasa syukur, Nabi Muhammad s.a.w. meng¬akhiri tugasnya sebagai seorang
Rasul, dengan mengislamkan se¬luruh penducluk Makkah, Madinah, clan daerah-daerah lain di
seputar Jazirah Arabia. Setelah menderita sakit selama beberapa hari, pads tanggal 12 Rabi’ul
Awwal tahun ke-11 Hijriyah, beliau berpulang ke rahmatullah dalam usia 63 tahun. Nabi
Muhammad s.a.w. dimakamkan di kota Madinah. Sebelumnya, beliau sempat berpesan kepada
keluarganya, para sahabatnya, dan seluruh kaum Muslimin dengan sabdanya yaitu:
Telah kutinggalkan untuk kalian dua perkara yang apabila kalian berpegang teguh kepadanya,
niscaya tidak akan tersesat untuk selama-lamanya, yakni: Kitabullah (Al-Quran) dan Sunnah
Rasul-Nya