Anda di halaman 1dari 32

LIGHTNINGBUSTER

"Ketika LightningBuster Kembali ke "Rimba", Catatan Pengalaman Pribadi di Lapangan


Migas, Referensi-Standar-Software-Training-Petunjuk Praktis Lightning Protection
System. (Semua tentang Proteksi Petir ada disini)

Kamis, 13 November 2008


Petir-pun Bebas Memilih Obyek Sambaran - Finial-pun dilompati

Ilustrasi disamping bisa menjelaskan kenapa "Space Shuttle" itu sesaat kemudian
meledak... Padahal konon tempat itu sudah banyak dilengkapi dengan berbagai
macam proteksi... Kok yaa, "Sang Petir" tidak mau melewati finial... Dia lebih
memilih langsung obyek yang dikehendakinya... Ada material apa sebenarnya
didalam Space Shuttle Launcher itu... Ground Resistance yang lebih kecilkah?
Kebocoran Grounding Ring? atau yang lain..
Diposkan oleh Aji Tunggul Purbomiluhung di 02.21 0 komentar

Akibat Sambaran Petir Pada Tubuh Manusia


Lingkungan kerja yang aman dan sehat adalah suatu idealisme yang sudah umum
diterapkan baik di gedung-gedung yang dipadati banyak orang maupun lingkungan
yang cukup banyak orang seperti perkantoran dan sebagainya. Sehubungan dengan
bahaya sambaran baik langsung maupun tidak langsung yaitu terjadinya lompatan
muatan ke tubuh maupun tegangan sentuh dan lainnya bisa membahayakan para
pekerja yang ada di mana saja khususnya pada stasiun pemancar.
Seberapa besar dampak yang dapat terjadi bila arus sambaran petir dengan orde
kiloAmpere tersebut mengalir pada tubuh manusia baik secara teknis dan secara
medis akan dijelaskan berikut ini.
Pada Tahun 1934, Freiberger melakukan percobaan dan menemukan bahwa bila arus
yang mengalir dari ujung satu tangan sampai satu kaki dengan tegangan sebesar
350 Volt, maka resistansi tubuh , dan pada percobaan lain dengan tegangan 500
VoltΩ adalah 1500 . Ketika arus mengalir terjadiΩ didapati resistansi sebesar 1200
penurunan nilai resistansi sebesar 25%, angka resistansi diukur setelah 3 detik
ketika tegangan diberikan. Dengan tegangan 220 Volt, Sam (1966) . Berbagai
ilmuwan melakukan pΩ mengukur resistansi tubuh sebesar 800 enelitian dan dapat
diterima bahwa resistansi tubuh berkisar antara “5”22 pada tegangan 1000Ω 00 –
1000 atau lebih (tegangan petir).

1 Arus Melalui Tubuh Manusia


Kemampuan tubuh manusia terhadap besarnya arus yang mengalir di dalamnya
adalah terbatas. Sementara besar dan lamanya arus yang masih mampu ditahan
oleh manusia sampai batas yang berbahaya sulit ditetapkan. Berbagai percobaan
dilakukan oleh para ahli pada sukarelawan yang bertubuh sehat untuk mencari batas
dari pengaruh arus terhadap tubuh yang dibagai dalam:
1. Arus penyebab fibrilasi atau pingsan atau kematian (Ventricular Fibrillation)
2. Arus mulai terasa atau persepsi (Perception current)
3. Arus mempengaruhi otot
4. Arus reaksi
5. Arus penyebab tertahannya respirasi (Respiration arrested)

1.1. Arus Fibrilasi


Pengaruh arus ketika melalui tubuh manusia dapat membahayakan bila melebihi
arus yang mempengaruhi otot karena dapat membuat seseorang pingsan bahkan
meninggal dunia. Kejadian ini disebabkan pengaruh langsung dari arus terhadap
jantung disebut juga ventricular fibrillation yang artinya jantung berhenti bekerja
dan peredaran darah berhenti. Untuk penyelidikan tentunya dipakai binatang yang
badan dan jantungnya seperti manusia. Pada tahun 1968, Dalziel menyimpulkan
bahwa 99.5% dari manusia yang beratnya kurang dari 50 kg masih dapat bertahan
terhadap besar arus dan waktu yang dirumuskan sebagai:

dimana
I = arus fibrilasi
k=
K = 0.0135 untuk manusia dengan berat badan + 50 kg
= 0.0246 untuk manusia dengan berat badan + 70 kg
t = waktu untuk arus ketika melewati tubuh manusia
maka, k(50) = 0.116 A dan k(70) = 0.157 A

1.2. Arus Persepsi


Ketika seseorang memegang suatu penghantar lalu mulai dialiri arus dari tegangan
nol sampai memberi pengaruh karena rangsangan syaraf sehingga terasa nyeri dan
bergetar dan tidak membahayakan inilah tahap dari arus tersebut. Untuk arus
searah tentunya terasa sedikit panas ditelapak tangan.
Dari hasil uji coba laboratorium di New York 1933 terhadap 40 orang laki-laki dan
perempuan didapati arus rata-rata sebagai berikut:
• Untuk laki-laki : 1.1 mA
• Untuk perempuan : 0.7 mA

1.2.1. Arus Mempengaruhi Otot


Bila arus persepsi dinaikkan lagi sehingga rasa sakit mulai terasa maka lama-
kelamaan akan mempengaruhi otot sehingga otot-otot didekat konduktor kaku dan
menyebabkan tangan tidak dapat lepas darinya.
Di universitas California dibidang medis menyelidiki kejadian ini pada 134 relawan
laki-laki dan 28 perempuan dan mendapat rata-rata yaitu:
• Untuk laki-laki : 16 mA.
• Untuk perempuan : 10.5 mA.
Selain itu ada batas arus maksimum ketika manusia masih dapat melepaskan
konduktor tadi yaitu :
• Untuk laki-laki : 9 mA.
• Untuk perempuan : 6 mA.

1.2.2. Arus Reaksi


Arus ini adalah arus terkecil dimana bisa membuat orang terkejut, reaksi
menanggapi kejutan inilah yang bisa juga membahayakan karena bergantung pada
orang itu sendiri. Hal ini biasanya disebabkan oleh reflek yang berlebihan sehingga
seseorang dapat melakukan hal yang tidak diduga lebih bersifat fatal. Dalam
penyelidikannya DR. Hans Prinz menyusun batasan-batasan arus dari hasil
penelitiannya tersebut didalam tabel berikut:

Tabel 1
Batasan-batasan Arus Dan Pengaruhnya Pada Manusia

Besar Arus (mA) Pengaruh pada Tubuh Manusia


0 - 0.9 Belum terasa pengaruhnya (tidak ada reaksi)

Besar Arus (mA) Pengaruh pada Tubuh Manusia


0.9 - 1.2 Terasa ada arus tetapi tidak menimbulkan kontraksi, kejang dan kehilangan
kontrol
1.2 - 1.6 Mulai terasa seperti ada yang merayap di dalam tangan
1.6 - 6 Tangan sampai ke siku merasa kesemutan
6 - 8 Tangan mulai kaku dan rasa kesemutan bertambah
13 - 15 Rasa sakit tidak tertahankan, penghantar masih dapat dilepaskan dengan
gaya yang besar sekali
15 - 20 Otot tidak sanggup melepaskan penghantar
20 - 50 Dapat mengakibatkan kerusakan pada tubuh manusia
50 - 100 Batas arus yang dapat menyebabkan kematian

1.2.2.1. Arus Penyebab Tertahannya Respirasi


Pengaruh arus sambaran petir pada respirasi dibagi menjadi dua cara, pertama-tama
pengaruh tertahannya otot-otot pada bagian dada setelah arus mendadak tadi
sehingga menahan saluran pernafasan. Yang kedua ialah pengaruh hanya
berlangsung selama arus mengalir karena arus petir hanya mengalir sekitar 10
mikrodetik saja. Dengan kata lain pengaruh akibat arus sambaran petir setelah
kejadian lebih mendapat perhatian.

Pada tahun 1930, MacLachlan melaporkan suatu kecelakaan akibat sambaran petir
pada frekuensi tenaga dimana korban menerima tegangan sebesar 22 kV antara
tangan yang satu sebagai kontak dan tangan lain dan kaki sebagai lawannya.
Pernafasan orang ini langsung berhenti, tetapi dapat berlanjut setelah mendapat
pernafasan buatan selama delapan jam.
Laporan lain yang didapat yaitu dari Lynch dan Shorthouse (1949) ketika sambaran
petir langsung mengenai dua orang pemain sepak bola yang berdiri berdekatan. Arus
mengalir dikeduanya dari kepala sampai kaki, walaupun tidak ada tanda jaringan
luar yang terbakar tanda hanya terkena tegangan pindah atau lompatan. Akibatnya
pernafasan mereka juga tertahan dan segera diberi pernafasan buatan, juga ada
kemungkinan arus lain, misalnya arus fibrilasi juga berperan.
Untuk batasannya dilakukan penyelidikan hanya pada kepala binatang, pada tahun
1972, Kitagawa menemukan bahwa dibutuhkan energi minimum 14 J atau sekitar
5.5 J.kg-1 untuk mengakibatkan kematian karena tertahannya pernafasan.

1.2.3. Tegangan Pada Tubuh Manusia Akibat Petir


Kemungkinan terjadinya kecelakaan akibat petir pada pekerja disuatu stasiun
pemancar dapat terjadi didalam maupun diluar gedung. Gradien tegangan yang
tinggi secara mendadak dapat menghasilkan berbagai faktor gangguan atau
kesalahan ke tanah yang memungkinkan mengenai manusia. Berikut adalah macam
dari tegangan dan analisis pendekatan untuk berbagai kemungkinan.

2.1 Tegangan Akibat Sambaran Langsung


Berbagai kejadian akibat sambaran langsung (direct strike) memberikan berbagai
macam kemungkinan akibat, dimana resistansi tubuh manusia mulai kejang-kejang
ketika tersambar sekitar tegangan petir 4 kV sehingga arus yang mengalir kira-kira 4
A seperti pada sub bab sebelumnya dapat mengakibatkan kematian. Namun pada
kondisi sesungguhnya ada beberapa korban yang bertahan hidup.
Sambaran ini juga bisa mengenai sekaligus beberapa orang yang berdiri berdekatan,
tidak jarang pada kasus tertentu bagian tubuh ada yang terbakar ini bisa juga
karena baju yang dikenakan terbakar. Adapula yang melewati payung yang dipegang
dan sepatupun bisa terkoyak karenanya.
2.2 Tegangan Sentuh
Tegangan (contact voltage) ini timbul ketika seseorang memegang sebuah benda
atau konduktor yang sedang dialiri arus sambaran petir dimana orang tersebut juga
terhubung ke tanah.
Besar arus yang mengalir dibatasi oleh nilai resistansi dari tubuh manusia tersebut,
adapun model matematis dari peristiwa tegangan sentuh dapat di analogikan dalam
persamaan berikut:

dimana:
Es = tegangan sentuh (volt)
Rk ≈ = resistansi tubuh manusia ( 1000 ohm)
Rf = tahanan kontak ke tanah dari satu kaki pada tanah yang dilapisi
3000 ohm)≈ koral 10 cm (
Ik = besar arus yang mengalir di tubuh (A)
dengan Rf s adalah tahanan jenis tanah disekitarρ s dimana ρ mendekati harga 3.
permukaan. Arus Ik diambil berdasarkan harga dalam persamaan 16, dengan k
memilih angka 0.116. Maka selanjutnya persamaan 17 akan menjadi:
( 2)
s dalam satuan ohm-meter untukρ dengan lapisan koral 10 cm dan t adalah waktu
kejut dalam satuan detik. Berikut tabel tegangan sentuh yang tidak membahayakan,

Tabel 2

Tegangan Sentuh Yang Tidak Membahayakan


Dengan Durasi

Durasi (detik) Tegangan Sentuh (Volt)


0.1 1.980
0.2 1.400
0.3 1.140
0.4 990
0.5 890
1.0 626
2.0 443
3.0 362

2.3 TEGANGAN LANGKAH


Ketika seseorang berdiri di atas permukaan tanah dan tiba-tiba dijarak tertentu ada
sambaran petir ke tanah baik langsung maupun langsung maka akan ada beda
potensial diantara kedua kakinya (step voltage).
Untuk analisis matematisnya dianggap jarak antara kedua kaki 1 meter dan diameter
kakinya adalah 8 cm dengan kaki telanjang dapat ditentukan persamaannya dengan
mengambil persamaan 17 diubah pada Rf menjadi rangkaian seri, sebagai berikut:
2.4 Tegangan Pindah.
Hal khusus dari sifat tegangan sebagai miniatur dari lompatan besar suatu petir
disebut juga side flash yang disebut dengan tegangan lompat. Hal ini bisa terjadi
sebagai contoh ketika seorang bocah bermain layang-layang dalam keadaan langit
berawan tiba-tiba ia melihat ada sambaran kilat yang cukup jauh dari layang-
layangnya, tetapi saat itu juga tangan bocah itu terbakar dan akibat kejutannya ia
jatuh pingsan.

1.3. Akibat Sambaran Petir Pada Perangkat Elektronik


Perangkat elektronik yang dimaksud tentunya terutama adalah perangkat lunak yang
berada pada stasiun pemancar. Seperti yang kita ketahui bahwa gangguan yang
dimaksud biasa disebut noise ataupun gangguan lain yang dapat mengakibatkan
interupsi pada proses pengiriman data sebagaimana kita ketahui pada umumnya
memakai sistem digital.
Tegangan dan arus induksi akibat sambaran petir dapat mengakibatkan kerusakan
pada peralatan elektronika. Menurut Sowa K. ( 1985 ), Kadete, H. dan Omari S.
( 1990 ) dan K. T. Sirait ( 1987 ) kerusakan tersebut diakibatkan oleh:
1. Pengaruh tegangan induksi sambaran petir
a) Harga maksimum tegangan induksi, mengakibatkan kerusakan pada suatu
MOSFET, apabila tegangan maksimum induksi tersebut melebihi tegangan lapisan
batas yang diijinkan.

b) Impuls tegangan induksi, , mengakibatkan kerusakan pada suatu transistor akibat


energi impuls tegangan induksi melebihi batas energi yang diijinkan didalam lapisan
batas transistor.

dengan Wg energi pada lapisan batas dan ug tegangan pada lapisan batas pada arah
konduktif.

c) Impuls kuadrat tegangan induksi, , menyebabkan kerusakan pada tahanan R


akibat adanya energi yang memanaskan tahanan tersebut sebesar

d) Kecuraman tegangan induksi maksimum, , mengakibatkan kerusakan MOSFET,


sebab parameter ini akan menghasilkan arus yang melebihi arus gerbang yang
diijinkan.

Pengaruh Kecuraman Pulsa Pada MOSFET


2. Pengaruh arus induksi sambaran petir
a) Harga maksimum arus induksi i, mengakibatkan rusaknya dioda akibat besar arus
yang melebihi arus balik yang diijinkan memasuki dioda.

b) Muatan listrik dari arus induksi , mengakibatkan kerusakan pada transistor akibat
energi yang diterima transistor melebihi energi yang diijinkan pada lapisan batas

dengan Ug tegangan dioda dari lapisan batas pada arah koduktif.


c) Impuls kuadrat arus induksi, , akan mengakibatkan kerusakan pada tahanan
akibat menerima energi yang melebihi ambang batas energi tahanan.

d) Kecuraman arus induksi maksimum , mengakibatkan rusaknya MOSFET akibat


tegangan induksi yang dihasilkan melebihi ambang batas tegangan titik batas
sambungan
Selain dapat merusak komponen elektronika maka tegangan tinggi terpa petir dapat
pula merusak sistem isolasi dari peralatan yang tersambar.
Dari studi yang telah dilakukan tersebut dapat disimpulkan bahwa gelombang impuls
petir dapat menimbulkan kerusakan baik pada komponen elektronikanya maupun
sistem isolasinya.

Disarikan dari Artikel Ir.Syariffuddin Mahmudsyah,M.Eng (Guru Listrik-Teknik Listrik


Perminyakan)

Diposkan oleh Aji Tunggul Purbomiluhung di 02.06 0 komentar

Penangkal Petir dan Pengetanahan

1. Penangkal Petir Eksternal


Berbagai usaha dilakukan oleh tiap stasiun pemancar dan pemilik gedung-gedung
yang tinggi untuk melakukan proteksi terhadap surja petir. Dimana untuk memasang
suatu sistem penangkal ini dibutuhkan beberapa komponen utama seperti, air
terminations (ujung penangkal), down conductors (penghantar turun), dan earth
terminations (ujung pengetanahan).

1.1. Ujung Penangkal


Ujung Penangkal atau yang lebih sering disebut finial adalah perangkat utama yang
akan melakukan kontak langsung terhadap sambaran petir di udara. Oleh sebab itu,
ujung finial sebagai ujung tombak penangkap muatan di tempat tertinggi pada
bangunan-bangunan stasiun pemancar dan bangunan lainnya. Untuk tiap sistem
bentuk dari finial dapat bervariasi tergantung dari pabrik dimana finial tersebut
diproduksi, pemilihan bahan dapat disesuaikan dan melalui pendekatan pada
Peraturan Menteri Tenaga Kerja tentang PIPP (Pengawasan Instalasi Penyalur Petir).
Demikian halnya dengan penghantar penurunan dan ujung pengetanahan. Tiap
sistem memiliki bentuk dan ukuran finial yang berbeda, hal ini karena disesuaikan
dengan kebutuhan, baik tingkat proteksi, estetika bangunan, keamanan dan faktor-
faktor lainnya. Beberapa bentuk finial yang beredar khususnya di Indonesia
menunjukkan bahwa tiap perusahaan dapat memproduksi ujung penangkal yang
sama tipe-nya tapi beda bentuknya.

1.2 Penghantar Turun


Penghubung antara ujung penangkal dengan pengetanahan adalah penghantar turun
ini. Pada umumnya untuk hubungan ini dipakai kawat konduktor jenis bare copper
(tembaga telanjang) BC-60, BC-50 atau yang lebih besar yaitu menara sebagai
konduktor arus petir ke tanah.
Pemanfaatan menara sebagai konduktor tidak dapat diandalkan mengingat bahwa
sambungan komponen-komponen penyusun menara itu sendiri terkadang dalam
keadaan terisolasi dengan pelapisan cat. Di tambah sifat bahan yang pada umumnya
adalah korosif. Jadi dirasa perlu untuk menambahkan konduktor yang secara
langsung terhubung ke pengetanahan.
Penghantar penurunan dapat memakai kabel ataupun plat logam dimana umumnya
memakai tembaga atau alumunium. Untuk kabel tentunya lebih fleksibel dan mudah
untuk dipasang sedang plat mempunyai kelebihan impedansinya yang lebih rendah.
Penghantar yang telanjang tentunya mempunyai resiko terjadi tegangan pindah
yang tinggi karena tidak ada isolasi.
1.3 Ujung Pengetanahan Dan Sambungan
Pengetanahan peralatan atau “earth terminations” yang dimaksud adalah
“pengetanahan bagian dari peralatan yang pada kerja normal tidak dilalui
arus”.Ujung pengetanahan yang dimaksud adalah elektroda pengetanahan.
Adapun tujuan yang ingin dicapai adalah adanya pembatasan tegangan antara
bagian-bagian peralatan yang tidak dialiri arus dan dengan tanah sampai pada harga
yang tidak membahayakan baik dalam keadaan normal maupun tidak. Selain itu
agar didapat impedansi sekecil mungkin untuk jalan balik arus hubung singkat ke
tanah.
Dengan demikian ujung pengetanahan adalah suatu elektroda yang tertanam ke
tanah dengan metoda tertentu untuk mencapai tujuan di atas dan dengan demikian
maka arus yang turun dari konduktor dapat mengalir ke tanah dengan sebaik
mungkin.
Sambungan yang dimaksud adalah bonding antara kabel ke kabel dan kabel ke
konduktor lain. Hal ini juga mendapat perhatian sebab kegagalan sambungan juga
dapat menghalangi kinerja dari suatu sistem proteksi petir.

2 Berbagai Tipe Penangkal Petir


Penerapan sistem penangkal petir di lapangan, pada prakteknya sangat bervariasi
baik dipengaruhi faktor klimatologi, geografi, ekonomi bahkan juga kulturnya. Jadi
pastilah tidak semua sistem yang sudah ada akan mengikuti idealisme penerapan
teknologi sistem yang baru karena disesuaikan dengan kebutuhan dan atas
pertimbangan tertentu.

Faktor-faktor ini seringkali cukup menarik perhatian para pengguna sistem, sehingga
berbagai macam tipe penangkal petir perlu dipahami dimana letak perbedaannya.

2.1 Penangkal Petir Franklin.


Pengamanan bangunan terhadap sambaran kilat dengan menggunakan sistem
penangkal petir Franklin merupakan cara yang tertua namun masih sering digunakan
karena hasilnya dianggap cukup memuaskan, terutama untuk bangunan-bangunan
dengan bentuk tertentu, seperti misalnya : menara, gereja dan bangunan-bangunan
lain yang beratap runcing.
Telah banyak buku-buku atau paper-paper yang membahas mekanisme kilat,
biasanya bila pada awan terjadi aktivitas pembentukan atau pengumpulan muatan,
maka pada permukaan bumi ( merupakan bayangan dari awan ) terinduksi muatan
dengan polaritas yang berlawanan itu, timbulah medan listrik yang amat kuat
diantara awan dan bumi. Medan listrik yang amat kuat itu menyebabkan obyek-
obyek di permukaan bumi yang letaknya relatif tinggi seperti misalnya puncak
pohon, ujung atap bangunan dan sebagainya serentak melepaskan muatan yang
berasal dari bumi berupa ion-ion positif. Ion-ion ini membentuk saluran seperti pita
udara yang bergerak ke arah pita yang dibentuk oleh ion-ion yang berasal dari
muatan negatif dari awan. Bila kedua ujung pita ini bertemu di suatu titik udara,
maka terjadilah sambaran balik.
Berdasarkan atas teori ini, Franklin menempatkan sebuah batang penangkal petir
dengan ujungnya dibuat runcing di bagian teratas dari bagian yang akan dilindungi.
Ujung batang penangkal petir ini dibuat runcing dengan tujuan agar pada keadaan
dimana terjadi aktivitas penumpukan muatan di awan, maka diujung itulah akan
terinduksi muatan dengan rapat muatan yang relatif lebih besar bila dibandingkan
dengan rapat muatan dari muatan-muatan yang terdapat pada bagian-bagian lain
dari bangunan, dengan demikian dapat diharapkan bahwa kilat akan menyambar
ujung dari batang penangkal petir itu terlebih dahulu.
Batang penangkal petir ini kemudian di ketanahkan melalui penghantar turun ke
elektroda pengetanahan. Tujuan dari penghantar turun dan elektroda pengetanahan
adalah sebagai jalan “ by pass “ bagi muatan bumi dan juga arus kilat untuk keluar
atau memasuki bumi sehingga muatan bumi atau arus kilat tidak mengambil jalan
melalui bagian-bagian lain dari bangunan yang bersangkutan.

2.2 Sangkar Faraday


Sistem pengaman bangunan terhadap sambaran kilat dengan menggunakan sistem
Sangkar Faraday merupakan pengembangan dari sistem penangkal petir Franklin,
sehingga dalam banyak segi, prinsip kerja dari sistem Sangkar Faraday dapat
dikatakan sama dengan sistem penangkal petir Franklin.
Perbedaannya hanyalah terletak dalam segi penggunaan Ujung Penangkal dimana
bila pada sistem penangkal petir Franklin digunakan batang-batang penangkal petir
yang vertikal, maka pada sistem Sangkar Faraday digunakan konduktor-konduktor
horisontal.
Sambaran kilat biasanya mengenai bagian-bagian yang runcing atau ujung-ujung
dari atap bangunan, hal ini disebabkan karena pada bagian-bagian inilah terdapat
rapat muatan yang relatif lebih besar bila dibandingkan dengan rapat muatan dari
bagian-bagian atap yang lain dari bangunan tersebut. Oleh karena itu maka pada
bagian-bagian yang berbahaya tersebut perlu dipasang konduktor horisontal yang
berfungsi sebagai obyek sambaran kilat, sehingga bagian-bagian lain dari atap
bangunan tersebut terlindung.
Untuk bangunan-bangunan yang beratap luas, perlu ditambahkan beberapa
konduktor horisontal lagi diantaranya. Konduktor-konduktor itu harus terhubung
secara listrik satu dengan yang lain.

Ini adalah prinsip dari Sangkar Faraday dimana konduktor-konduktor horisontal yang
dipasang di bagian teratas lalu terhubung melalui konduktor saluran ke tanah dan
terhubung ke elektroda pengetanahan dari bangunan seolah-olah membentuk
sangkar pelindung yang melindungi bangunan tersebut terhadap induksi atau
masuknya muatan dari luar yang membahayakan bangunan tersebut.
Untuk memperbaiki sistem Sangkar Faraday ini perlu ditambahkan beberapa batang
penangkal petir yang pendek (finial) pada bagian-bagian dari atap bangunan yang
diperkirakan mudah tersambar kilat, finial ini dihubungkan secara listrik dengan
konduktor horisontal yang terdekat ( tujuan dari pemasangan finial ini adalah untuk
memperlancar mengalirnya arus muatan dari bumi ke awan dan sebaliknya dari
awan ke bumi ).
Cara pemasangan konduktor-konduktor baik mendatar maupun menurun tentunya
haruslah diperhitungkan kemungkinan tegangan pindah yang terjadi, agar tidak
membahayakan. Kalaupun ingin mencegah tegangan pindah ini dapat
mempertimbangkan pemakaian kabel coaxial atau triax walaupun secara estetika
gedung dan ekonomis tidak memenuhi kebutuhan.
Untuk gedung yang dipenuhi peralatan elektronik sangkar Faraday atau Franklin
tidak dianjurkan karena medan yang ditimbulkan ketika terjadi sambaran dapat
memperpendek waktu kerja perangkat elektronik terutama untuk perangkat yang
memakai sinyal.

2.3 Sistem Penangkal Petir Dengan Unsur Radioaktif sebagai Ujung Penangkal
Penggunaan unsur radioaktif dalam sistem penangkal petir baru dikenal orang pada
tahun 1914, inspirasi penggunaan radioaktif dalam sistem penangkal petir pertama
kali dikemukakan oleh seseorang dari Hungaria yaitu Szillard J.B. pada “ Academy of
Sciences “ di Paris pada tanggal 9 Maret 1914 dalam papernya yang berjudul Sur un
paratonnerre au Radium. Sejak saat itu bermacam-macam sistem penangkal petir
menggunakan unsur radioaktif dikembangkan lebih dalam. Pada Tahun 1972, Baatz
mengembangkannya dengan Americium 241 dan tentunya melalui berbagai
penelitian dengan mempertimbangkan hasil penelitian dari Müller Hillebrand (1962)
dianggap lebih tidak berbahaya dibanding sumber ionisasi lain seperti Cobalt,
Krypton, Radium dan Plutonium.
Pada prinsipnya, sistem penangkal petir diatas sama dengan sistem penangkal petir
Franklin, hanya dikembangkan lebih lanjut yaitu dengan memperlengkapi kepala dari
batang penangkal petirnya dengan unsur radioaktif yang memancarkan sinar alpha
dengan intensitas yang cukup besar sehingga mampu mengionisasi udara di sekitar
kepala batang penangkal petir tersebut.
Ada tiga pokok yang penting untuk diketahui, yaitu :
a. Ionisasi :
Proses disintegrasi dari unsur radioaktif biasanya disertai oleh pancaran sinar alpha,
beta dan gamma. Sinar alpha mempunyai susunan atom yang sama dengan unsur
helium, bermuatan positif 10–27 kg. Sinar beta× 10–19 C dengan massa
6.65× sebesar + 2 atau q = 3.2 10 –19 C dan× terdiri atas elektron-elektron dengan
muatan q = 1.6 10 –31 kg. Sinar alpha serupa dengan sinar X.× massanya 9.1
α Kemampuan mengionisasi dari sinar-sinar α adalah 10000 : 100 : 1, jadi
walaupun jarak radiasi dari sinar γ : β : hanya beberapa cm saja, namun karena
kemampuan mengionisasi udara sinar sangat besar maka dalam penggunaan unsur
radioaktif pada sistemα mempunyai arti yang paling penting.α penangkal petir,
sinar
b. Ionisasi tumbukan pada keadaan dimana terjadi penumpukan muatan di awan,
antara awan dan bumi timbul medan listrik yang kuat. Ion-ion yang berasal dari
udara yang diionisasi oleh , dengan adanya medan listrik tersebut akan mendapat
percepatanα sinar yang sanggup melepaskan ion-ion dari atom-atom udara yang
berada di sekitarnya. Demikianlah terjadi tumbukan secara terus-menerus yang
merupakan reaksi berantai yang disebut ionisasi tumbukan.
c. Gradien tegangan di udara : pada keadaan terjadi penumpukan muatan di awan.,
gradien tegangan udara antara awan dan bumi akan naik, sedangkan gradien
tegangan yang besar ini sangat mempengaruhi pembentukan ion-ion di udara.
Gradien tegangan yang diperlukan agar terjadi ionisasi tumbukan adalah minimum
40 kV, dengan ketinggian kepala dari batang penangkal petir 20 m dari permukaan
tanah, terlihat bahwa gradien di tempat tersebut dapat mencapai 400 kV sehingga
hal ini dapat memastikan ionisasi tumbukan terjadi.
Ketiga uraian yang baru lalu menggambarkan proses kegunaan dari unsur radioaktif
pada sistem penangkal petir. Bila ion-ion yang dihasilkan dalam proses berantai itu
bertemu dengan ion-ion yang berasal dari awan , maka terjadilah sambaran kembali
yaitu mengalirnya arus kilat melalui jalan yang dibentuk oleh ion-ion tadi ke bumi.
Untuk memenuhi keperluan tersebut cukup dengan cara menempatkan lempengan
yang mengandung zat radioaktif berlapis emas dan paladium pada posisi sekeliling
ujung finial biasa.
Namun pada penelitian lebih lanjut ternyata tetap memberi kemungkinan
membahayakan manusia karena radiasinya ditambah lagi oleh Cassie (1969) telah
memperhitungkan secara teknis dan menyimpulkan bahwa pemakaian radioaktif
tidak terlalu efektif. Untuk pemasangan sistem ini di Indonesia telah diatur dan
pemasangannya dilarang sesuai keputusan Menaker dan Dirjen BATAN No.
45/DJ/31/III/77 tentang pemakaian, bersama membuat surat keputusan
no.Kep.1880/Men./1987-PN 00 01/193/DJ/97 tentang “Penertiban izin pemakaian
penangkal petir radioaktif dan larangan pemasangan yang baru”,
Resiko yang terjadi selama pemasangan adalah disaat terjadi lecet/kelainan/
tergores karena kesalahan manusia, tiupan angin, penyinaran partikel berat alpha
dan pengaruh lainnya pada pelindung zat radioaktif tersebut. Ketika terjadi hujan
maka wadah radionuklida akan tercuci sehingga menghasilkan air encer yang
terkontaminasi yang selanjutnya dapat mencemari tanah.
Sehubungan dengan resiko dan larangan pemasangan maka Menaker juga
mengeluarkan JUKLAK pelaksanaan pembongkaran penangkal petir radioaktif yang
meliputi instansi yang boleh membongkar, cara pembongkaran, cara pengiriman dan
lain-lain.

3 Sistem Pengetanahan
Sistem pengetanahan dilakukan agar arus petir dapat dialirkan langsung ke tanah.
Maka tahanan pengetanahan haruslah sekecil mungkin agar jatuh tegangan
penghantar dan elektroda pengetanahan kecil, sehingga menghindari tegangan
langkah yang berbahaya.
Tiga faktor yang mempengaruhi besar dan kecilnya tahanan pengetanahan adalah
sistem pengetanahan yang diterapkan, hubungan logam-logam dalam bangunan
dengan elektroda-elektroda pengetanahan dan karakteristik dari tanah dimana
sistem tersebut diterapkan.
Beberapa aturan yang dipakai pada sistem pengetanahan guna meng-antisipasi
kegagalan penyaluran arus petir ke tanah, yaitu:
1. Elektroda pengetanahan dapat berupa elektroda plat pita, batang atau pondasi,
untuk plat pita ditanam sekurangnya 50 cm dari permukaan tanah dan menyebar
dengan sudut antar . Untuk pondasi, digunakan untuk pengetanah instalasi°pita
minimum 60 penangkap petir, dan dilengkapi penyambung khusus antara elektroda
dengan penghantar turun.
2. Pipa-pipa air minum yang ada bagian-bagiannya yang mengandung plastik dan
pipa-pipa gas tidak boleh dihubungkan dengan sistem, material logam yang berjarak
kurang dari 20 meter dan terutama berjarak kurang dari 2 meter dihubungkan ke
sistem. Bila ada bagian metal dari instalasi bangunan atau sistem tenaga yang tidak
dapat terhubung ke sistem maka dapat diketanahkan dengan tahanan pengetanah
maksimum adalah lima kali jarak terkecil antara bagian-bagian metal dengan
hantaran penangkal petir di atas tanah. Elektroda pengetanah instalasi penangkap
petir dapat dijadikan satu dengan elektroda pengetanah instalasi listrik dengan
tegangan kerja dibawah 1000 volt.
3. Penanaman elektroda tanah dihindarkan dari daerah yang dilalui pipa-pipa uap air
(sumber panas), dijauhkan dari pintu keluar atau masuk suatu gedung untuk
menghindari tegangan langkah, atau dapat dilakukan pemasangan lapisan
permukaan pijak yang berisolasi (batu koral, dan lain-lain).
Untuk menentukan perencanaan pemasangan maka beberapa faktor yang perlu
mendapat perhatian adalah besar arus gangguan yang mungkin terjadi, luas tanah
yang bisa dipakai, resistivitas atau tahanan jenis tanah, bentuk-ukuran-jenis
konduktor elektroda pengetanahan yang dipakai.

3.1 . Resistivitas Tanah


Tanah dimana suatu elektroda pengetanahan ditempatkan haruslah mempunyai
impedansi yang rendah. Besar resistansi tersebut adalah:

dimana adalah resistivitas dari material terkonduksi, l adalah panjang jejakρ yang
dilalui arus di bumi dan A adalah penampang dari jejak terkonduksi. Selanjutnya I
adalah arus pada elektroda dan E adalah tegangan dari elektroda.
Tanah yang berada dibumi mengandung bebatuan dan kandungan berbagai larutan
mineral. Ketika arus berjalan didalam tanah sebagai pergerakan ion maka konduksi
ionik yang terjadi sangat dipengaruhi oleh konsentrasi dari jenis kandungan mineral
pada lembaban tanah. Peristiwa ionik ini terjadi ketika mineral didalam tanah terlarut
dan gerakan dari ion-ion pengaruh dari potensial elektrik yang menyebabkan suatu
media mampu mengkonduksi secara elektrik.
Untuk menganalogikan lebih jelas maka resistivitas diartikan dalam resistansi
elektrik dari sebuah kubus dengan material yang homogen, dimana resistansinya
sebanding resistivitas material dan berbanding terbalik dengan panjang dari salah
satu sisi dari kubus tersebut. Maka dapat resistansinya dapat dirumuskan sebagai:
( 2)
dimana,
=ρ Resistivitas material, ohm – (dalam satuan panjang)
L = Panjang rusuk kubus, (dalam satuan panjang) dan
A = Luas salah satu sisi kubus, (dalam kuadrat satuan panjang).
Berbagai macam jenis resistivitas muncul sebagai fungsi dari tipe tanah, dan
diklasifikasikan dalam beberapa tipe tanah yang tergolong berpotensi untuk ditanami
elektroda pengetanahan. Hal tersebut dapat dilihat pada tabel 1 .

Tabel 1
Perkiraan Resistivitas Tanah

Tipe-tipe Tanah Resistivitas


(ohm-m) (ohm-cm) (ohm-ft)
Tanah Organik yang Basah 10 103 33
Tanah Lembab 102 104 330
Tanah Kering 103 105 3300
Bebatuan 104 106 33000

Sedangkan untuk tanah dengan kadar air maka resistivitas air juga diperhitungkan,
oleh formulasi empiris dari Hummel (Münger, 1940)

dimana v adalah resistivitas airρ adalah resistivitas tanah dalam ohm-meter, ρ


dalam tanah dalam ohm-meter dan p adalah volume relatif air di tanah. Secara
ekperimental dipakai untuk p adalah nilai 0,1. Jika pada kondisi tertentu p = 0 maka
persamaan akan berkesan tidak benar dengan kata lain untuk tanah yang kering
akan mempunyai resistivitas yang tinggi sekali.
Nilai resistivitas ini sangat bervariasi ditiap kondisi geografis tetapi tiap negara akan
mempunyai cirinya dan secara umum resistansi juga didapat dari fungsi panjang
yang ditunjukkan pada gambar 3.3. Selain itu rumusan akan juga dipengaruhi
bentuk dari elektroda yang dipilih

3.2 Pengukuran Tahanan Jenis Tanah


Terdapat dua macam metoda pengukuran yang umum dipakai yaitu metoda tiga titik
dan metoda empat elektroda seperti pada gambar 3.4 dan 3.5. Metoda tiga titik
yang dimaksud adalah titik pertama sebagai elektroda tes, kedua sebagai probe
(pemeriksa) dan elektroda auxiliary (pembantu).
Seperti pada gambar 4 , tahanan pada elektroda tes didapat dari potensial di antara
titik tes dengan probe dibagi arus antara titik tes dengan “aux”, dengan syarat
haruslah mengatur posisi elektroda probe agar didapat besar resistansi total antara
titik tes ke probe dan titik tes ke “aux” sama dengan besar resistansi antara titik
probe ke “aux”.

Untuk metoda empat elektroda, elektroda-elektroda ini ditanam dengan jarak yang
sama (D) dan dengan R adalah dari hasil perhitungan dari angka pada meter dimana
potensial dibagi arus pada amperemeter. Adapun rumusan dari resistivitas adalah:
( 4)
Dalam usaha untuk membuat resistivitas yang baik agar didapat resistansi
pengetanahan yang baik juga dapat dengan pemakaian zat kimia additive
(tambahan) yang biasanya terdiri dari dua zat yang berbeda akan tetapi bila
disatukan dan dikombinasikan di tanah maka akan membentuk campuran seperti jeli
dengan resistivitas rendah.

3 Elektroda Pengetanahan
Pengetanahan atau pembumian secara umum dipahami sebagai penanaman
elektroda dengan berbagai macam bentuk sesuai kebutuhan atau keinginan. Macam-
macam pengetanahan antara lain yaitu penanaman batang konduktor tegak lurus
dengan permukaan tanah, penanaman batang konduktor horisontal sejajar dengan
permukaan tanah dengan kedalaman tertentu karena daerah berbatu dan tidak bisa
ditanami batang vertikal. Pengetanahan dikembangkan menjadi bentuk kisi-kisi
horisontal yang lebih menguntungkan. Tujuan awal adalah mendapatkan tahanan
kontak yang kecil, dengan demikian maka dalam prakteknya ketika seseorang
menanam satu batang vertikal ke tanah dan diukur ternyata tahanannya masih
besar maka dengan berbagai usaha seperti menambah konduktor ataupun lainnya
haruslah mendapat resistansi dibawah “5 ohm”.

Dari pembahasan sebelumnya jelaslah bahwa secara matematis untuk mendapatkan


nilai resistansi R dari elektroda pengetanahan haruslah mempunyai parameter yang
meliputi:
1. Resistivitas tanah
2. Resistivitas air tanah
3. Dimensi elektroda pengetanahan
4. Ukuran elektroda pengetanahan

Pada praktek, seringkali untuk mempersingkat waktu serta didukung kondisi tanah di
pulau Jawa pada umumnya basah yang berarti ber-resistivitas rendah maka dipakai
cara trial and error (dicoba sampai hasil terbaik) dibantu dengan alat ukur. Apabila
bangunan dilihat dari segi struktur, konstruksi, tinggi, situasi dan pengaruh kilat
ternyata mempunyai indek perkiraan bahaya (=R) yang besar maka pengukuran
haruslah seideal mungkin dilakukan.

4 Sambungan
Bonding (penyambungan) memegang peranan yang penting dalam mewujudkan
kestabilan sistem penangkal petir, kegagalan sambungan dapat menyebabkan
kegagalan sistem. Sambungan yang dimaksud dapat berupa sambungan dengan
braze (solder), weld (las), bolts (penyekrupan), rivet (keling) dan sebagainya yang
menghubungkan konduktor ke bahan konduktor lainnya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi efektifitas dari suatu bonding adalah pemilihan
bahan konduktor baik secara elektris maupun mekanis. Tinjauan elektris yang
dimaksud tentunya adalah memperkecil gangguan akibat getaran maupun lompatan
bunga api dan juga kekuatan sambungan terhadap arus yang melaluinya.

Tinjauan secara mekanis adalah bagaimana lama pemakaian, tingkat pengaruh


korosi, getaran atau tarikan secara tidak sengaja, tempa ataupun tekanan gaya
berat.
Terdapat dua macam penyambungan yaitu penyambungan langsung yaitu dengan
las, baut, solder dan keling dan sambungan tidak langsung yaitu dengan strap
(ikatan). Adapun besar resistansi bonding antara jenis metal yang dipakai diambil
rata-rata seperti pada tabel berikut, brass (campuran seng dan perunggu).
Tabel 2
Resistansi DC Dari Sambungan Langsung

Komposisi Sambungan Resistansi (mikro-ohm)


Brass - Brass 6
Alumunium - Alumunium 25
Brass – Alumunium 50
Brass – Baja 150
Alumunium – Baja 300
Baja - Baja 1500

Pembersihan permukaan haruslah dilakukan agar penyambungan dapat lebih baik,


karena di atas permukaan logam sering didapati materi padat seperti debu,
kotoran/kerak, dan sebagainya. Selain itu juga didapati campuran organik seperti
cat, minyak, dan sebagainya. Untuk membersihkan dapat menggunakan kertas
gosok, sikat tembaga, skrap dan peralatan semacam, setelah itu bisa dikeringkan
dengan cairan pembersih atau pengering lainnya.

5 Daerah Tangkap
Captive area yang diterjemahkan sebagai daerah tangkap dengan definisi yaitu
daerah dimana bila sambaran pelopor masuk maka pastilah upward streamer (pita
naik) akan diluncurkan dari bangunan itu. Hal ini dapat digambarkan sebagai sebuah
gedung dimana tiap ujung atau sudutnya mempunyai radius atraktif (daya tarik)
terhadap sambaran. Dalam perhitungan daerah tangkap media atau bahan atap dari
bangunan tidak dibahas lebih dalam namun mengambil nilai-nilai untuk pendekatan
saja.
Tiap sudut luar bangunan bagian atap sesuai dengan bentuknya mempunyai
kemampuan untuk menarik dengan radius tertentu. Hal ini juga bergantung pada
tinggi dari gedung itu sendiri, sebagai contoh dalam tabel 4.3 untuk bangunan
dengan tinggi 10 meter atap datar berisolasi mempunyai radius atraktif rata-rata 41
meter. Sedangkan untuk bangunan dengan isolasi dan atap sama dengan tinggi 50
meter dapat mempunyai radius atraktif sebesar rata-rata 78 meter. Hal ini
digambarkan pada gambar 6.
Angka-angka yang dipakai dihitung berdasarkan fungsi tinggi bangunan yang
selanjutnya dijelaskan di bab berikutnya. Daerah tangkap ini akan diperhitungkan
dalam usaha mengetahui kemungkinan sambaran pada suatu gedung atau menara
dilingkungan dengan geografis, dan faktor-faktor lain tertentu. Dengan demikian
dapat mempermudah kita dalam menentukan suatu sistem yang akan dipakai dan
mengetahui seberapa penting memakai sistem penyetara tegangan yang dimaksud

Sebagai contoh perhitungan daerah tangkap yaitu suatu bangunan dengan panjang
dan lebar yaitu 45 m dan 30 m, tinggi bangunan tersebut 9,5 m maka CA atau
captive area dapat dirumuskan sebagai CA = (L + 2R)(W + 2R) dengan demikian
didapatkan angka yaitu 13760 m2 dengan R atau radius mengambil nilai 40 m.

Tabel 3
Radius Atraktif Berdasar Fungsi Tinggi Gedung

Tinggi Gedung (m) Rata-rata Radius (m)


5 30
10 41
15 50
20 56
30 68
40 73
50 78

Untuk bangunan dengan bentuk lingkaran misalnya cerobong atau tanur dapat (Ra
+ R)2 dimana Ra adalah radius dari lingkaranπ dihitung dengan CA = bangunan jadi
bila diameter bangunan 15 m dan tinggi 30 m maka radius tiap titik pejalnya yaitu
66 m maka daerah atraktifnya adalah 20.600 m2. Seperti yang sudah dijelaskan
maka beberapa patokan untuk R dapat dilihat pada tabel 2.
Untuk bentuk lainnya tentunya mempunyai perhitungan lebih rumit berdasarkan
analitik dari bentuk dasarnya sesuai dengan rumusan matematis sederhana.

5.1 Perlindungan Bangunan Terhadap Petir


Perlindungan bangunan terhadap petir adalah suatu masalah umum yang akan
dilakukan baik untuk melindungi isi gedung maupun sekitar gedung. Agar bangunan
yang dilindunginya terhindar dari bahaya sambaran petir baik secara langsung
maupun tidak langsung maka berbagai upaya dilakukan. Karena konstruksi dan
bentuk bangunan mempunyai banyak keragaman maka perlu adanya suatu aturan
umum untuk acuan dalam merencanakan sistem pelindung terhadap sambaran petir.

Aturan instalasi yang sudah ada dan banyak dipakai diantaranya adalah standart
Inggris ( BS code of Practice cp 326 1965 ) dan standart Jerman VDE. Sedangkan di
Indonesia atas prakarsa Direktorat Penyelidikan Masalah Bangunan ( DPMB ) yang
bekerjasama dengan LAPI ITB telah pula menerbitkan standarisasi Penangkal Petir
khusus bangunan, dengan ketua team penyusun Doctor Ing. K.T Sirait.
Beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan dalam merencanakan dan memasang
sistem penangkal petir, antara lain :
• keamanan secara teknis
• penampang penghantar-penghantar pengetanahan
• ketahanan mekanis
• ketahanan terhadap korosi
• bentuk dan ukuran bangunan yang dilindungi
• faktor ekonomis
Dalam perencanaan menentukan letak penangkal petir dan ketinggiannya agar
didapatkan perlindungan terhadap petir yang efektif, secara umum bangunan
digolongkan berdasarkan dua hal yaitu bentuk atap bangunan dan bahan dari atap
bangunan.
Bentuk atap bangunan secara sederhana dapat digolongkan menjadi bentuk atap
datar, bentuk atap runcing, bentuk atap dengan bangunan-bangunan kecil
( cerobong asap, antena dan lain-lain ) diatasnya dan bentuk tak teratur. Sedangkan
bahan atap digolongkan menjadi : bahan atap bukan logam, atap yang sebagian
mempunyai komponen logam, atap dari bahan logam.
Secara umum peraturan menentukan letak pangkal petir dengan sistem
konvensional yaitu:
1. Bangunan dengan atap datar, bangunan-bangunan yang mempunyai selisih tinggi
antara bangunan dengan lisplang kurang dari 1 m.
Prinsip perlindungan yang dipakai adalah cara Sangkar Faraday
• Sebagai penangkap petir adalah hantaran penyalur mendatar.
• Hantaran-hantaran penyalur utama mendatar dipasang pada atap, sepanjang tepi,
sudut-sudut dan bagian runcing dari atap bangunan dan bagian- bagian yang
menonjol.
• Jarak maksimal antara dua hantaran mendatar yang sejajar 15 m.
• Untuk memperbaiki sistem Sangkar Faraday, ditambah penangkap petir finial pada
ujung sisi dan bagian yang mudah disambar petir. Jarak maksimum antara dua buah
finial pada hantaran mendatar 5 m dengan tinggi minimum 20 cm.

2. Bangunan dengan atap runcing yaitu suatu atap dengan beda tinggi antara
bumbungan dan lisplang lebih besar dari 1 meter.
• Jika lebar bangunan kurang dari 12 m cukup dipasang penangkal petir sepanjang
bubungan dan hantaran paling sedikit dua buah pada jurainya.
• Jika lebar bangunan lebih besar 12 m, pada semua jurai dan lisplang dipasang
penangkap petir.
• Penangkap petir batang tegak dipasang sepanjang bumbungan dengan jarak
antara maksimum 5 m dan tinggi minimum 30 cm.
Atap bangunan dengan bangunan-bangunan kecil di atasnya, misalnya cerobong
asap, bangunan lift dan lain-lain.
• Jika terbuat dari logam dapat dipergunakan sebagai penangkap petir dan
dihubungkan oleh hantaran penghubung ke hantaran penyalur petir.
• Bangunan cerobong asap harus dipasang pelingkar puncak atau dua batang
penangkap petir jika panjang penampang cerobong lebih besar dari 1,2 m. Jika
penampang kurang dari 1,2 m dapat dipasang penangkap petir batang tunggal.
Atap bangunan dimana terdapat bagian-bagian dari logam misalnya pada jurai,
lisplang, maka bagian-bagian logam ini dapat dipakai sebagai penangkap petir
dengan persyaratan luas penampang penghantar minimum, dapat diandalkan secara
listrik dan mekanis.
Atap bangunan dari logam:
• Jika dipakai sebagai penangkap petir, maka tebal minimum 0,5 mm jika terbuat
dari tembaga atau setebal 0,8 mm untuk jenis logam lain.
• Jika tak dipakai sebagai panangkap petir maka penangkap petir dipasang
sedemikan rupa sehingga tidak ada bagian atap yang berjarak lebih dari penangkap
petir.
Untuk bangunan atap runcing dengan genteng keras bukan dari logam, pemasangan
hantaran penyalur dibawah atap diijinkan jika tidak ada lapisan yang mudah
terbakar dan bangunan bukan untuk menyimpan bahan-bahan yang mudah
terbakar. Jarak penangkap petir antara 4 – 5 meter dengan tinggi minimum 30 cm
diatas permukaan atap.
5.2 Hantaran Penyalur Petir
Hantaran penyalur petir benfungsi utama menyalurkan arus petir ke tanah.
Disamping itu hantaran penyalur petir juga dapat berfungsi sebagai penangkap petir.

Dalam kaitannya dengan fungsi-fungsi hantaran utama tersebut, maka yang menjadi
permasalahan dalam merencanakan hantaran penyalur petir adalah :
1. Persyaratan listrik dan mekanis .
2. Jumlah hantaran penyalur dan jarak antara.
3. Penggunaan material- material logam pada bangunan untuk hantaran penyalur.
4. Cara pemasangan dan masalah korosi.
Secara garis besar peraturan- peraturan tentang hantaran penyalur petir adalah
sebagai berikut :
Penentuan jumlah hantaran penyalur dan jarak antara hantaran penyalur ditentukan
berdasarkan ukuran dari bangunan
• Lebar bangunan lebih besar dari 12 m, diperlukan paling sedikit empat buah
hantaran penyalur petir.
• Setiap bangunan paling sedikit harus mempunyai 2 buah hantaran penyalur petir.
• Panjang bangunan lebih dari 20 m, diperlukan hantaran penyalur petir setiap mulai
kelebihan dari 20 m. Jika lebar kurang dari 12 m tambahan ini hanya pada satu sisi,
tetapi jika lebar lebih dari 12 m tambahan ini dipasang pada kedua sisi.
• Lebar bangunan lebih 20 m diperlukan tambahan sebuah hantaran penyalur pada
kedua sisi untuk setiap kelebihan lebar 20 m.
Pada bangunan terdapat material-material dari logam ; seperti pipa air minum, pipa
gas, konstruksi beton bertulang atau konstruksi rangka baja, dan lain-lain.
• Pipa air minum, bila semua terdiri dari logam dapat dipakai sebagai hantaran
penyalur. Tetapi karena sudah banyak dipakai pipa plastik maka pipa air minum tak
boleh dihubungkan dengan hantaran penyalur.
• Pipa gas tidak boleh dipergunakan sebagai hantaran penyalur petir.
• Benda-benda logam lainnya dapat dipakai sebagai hantaran penyalur dengan
persyaratan mekanis, listrik dan ukuran minimum.
Dudukan hantaran penyalur harus terpasang dengan kuat dan bahannya sebaiknya
sama dengan bahan hantaran agar tidak terjadi korosi. Sambungan antar hantaran
harus kuat, baik secara listrik maupun mekanis dan memenuhi luas penampangnya.

Disarikan dari Artikel Ir.Syariffuddin Mahmudsyah,M.Eng (Guru Listrik-Teknik Listrik


Perminyakan)
Diposkan oleh Aji Tunggul Purbomiluhung di 01.49 0 komentar

Fenomena Petir dan Pengaman Petir pada Sistem Tenaga Listrik


1. Terjadinya Sambaran Petir
Petir dapat didefinisikan sebagai gejala transien, discharge arus listrik yang tinggi
dengan lintasan yang terukur dalam kilometer. Penghasil petir yang paling umum
adalah awan (cumulonimbus). Namun petir juga terjadi pada :
snowstorm (badai salju)
sandstorm (badai gurun)
awan setelah gunung api meletus
Namun, ada kondisi khusus dimana petir terjadi pada saat cuaca cerah (bolt from
the blue). Beberapa macam kejadian petir :
dalam awan (intracloud/ cloud discharge)
antar awan (clouds to clouds)
awan dengan bumi (cloud to ground/ ground discharge)
awan ke udara (air discharge), yang menarik dari jenis discharge ini adalah yang
berasal dari awan bagian atas ke arah atas (menjauhi bumi)
Awan sebagai awal terjadinya petir terbentuk dari proses penguapan air yang
kemudian terkondensasi. Di sinilah kemudian terjadi akumulasi muatan listrik, yang
sebenarnya karena kondisi suhu dan tekanan akan mengalami polarisasi muatan
menjadi dua kutub. Bagian atas muatan akan berisi muatan positif. Sedangkan
bagian bawahnya akan berisi muatan negatif serta muatan positif dalam jumlah yang
sangat kecil. Petir awan-ground sebenarnya timbul dari beberapa kali partial
discharge (setiap kejadian berdurasi kira-kira beberapa puluh miliscon dan dapat
disebut sebagai stroke). Total dari semua discharge ini dapat disebut sebagai flash
(berdurasi sekitar 0.2 detik).

Terjadinya sambaran petir diawali dengan terjadinya stepper leader yang berupa
kanal discharge yang diselubungi oleh korona (sehingga tampak terang). Seperti
tampak pada gambar 2, setelah stepper leader mendekati tanah, maka dari tanah
terkumpul muatan positif yang siap meluncur ke atas. Titik pertemuan antara dua
leader ini disebut titik striking (striking point). Leader yang berasal dari bumi itu
disebut dengan return strike. Setelah itu, apabila masih cukup muatan negatif pada
awan akan terjadi dart leader.
2. Performance Petir
Dari uraian di atas terlihat bahwa petir secara langsung akan menginjeksikan arus
dengan mekanisme discharge muatan. Arus yang dihasilkan dari sambaran petir
sangat jarang berada di bawah angka 10 kA. Apabila , maka sudahΩ diambil
permisalan bahwa impedansi surja sebesar 300 didapatkan tegangan lebih sebesar
150 kV (dengan nilai arus 10 kA). Proses injeksi arus (dengan melihat petir sebagai
gejala transien)

Di lain pihak, untuk menunjukkan kelakuan dari petir ini, ada 4 (empat) parameter
untuk menunjukkannya, yaitu :
1. Arus ( Imax puncak)
Bila impedansi titik sambaran dan tanah misal Z, maka tegangan puncak di titik
sambaran adalah V=imaxZ
2. Gradien arus ( di/dt)
Apabila terjadi induksi dari arus petir, maka akan timbul tegangan induksi sebesar
e=L(di/dt)
i dt)∫ 3. Muatan arus (Q=
Bila sambaran petir menghasilkan tegangan Vi dt∫ sebesar V, maka energi yang
dihasilkan adalah sebesar P=
i2 dt)∫ 4. Integral kuadrat Arus (
Apabila arus mengalir pada batang konduktor suatu sistem proteksi, maka akan
terjadi disipasi energi Ri2 dt∫ sebesar
Bahaya yang diakibatkan petir dapat melalui cara-cara sebagai berikut:
1. Sambaran Langsung
Obyek tersambar langsung. Obyek akan mengalami kerusakan total.
2. Sambaran sisi
Prinsip sambaran sisi dapat dilihat dari gambar 5. Jika sistem proteksi pada
bangunan tersambar petir, arus melewati sistem dengan resistensi/impedansi batang
konduktor, menghasilkan beda potensial antara batang konduktor dan tanah. Jika
arus menghasilkan impedansi yang besar, maka akan terdapat beda potensial antara
konduktor dan bak mandi serta antara bak mandi dan tanah. Dengan adanya
resistansi bangunan dengan media dinding, maka mengalir arus melewati D, bak air,
dan B ke tanah.
3. Tegangan Langkah dan Tegangan Sentuh
Pada saat petir menyambar tiang konduktor, gradien tegangan muncul pada
permukaan tanaha, tegangan petir masuk ke tanah.Pada permukaan tanah yang
homogen rapat arus paling tinggi

Selain gejala listrik yang ditimbulkan oleh petir, secara fisik (dari beberapa hasil
observasi) petir akan dikelompokkan dalam beberapa jenis berdasarkan penampilan
lintasannya. Pengelompokan itu adalah sebagai berikut :
heat lightning (lightning-induced cloud illumination)
adalah petir yang tidak disertai dengan bunyi guruh.
sheet lightning (lightning-induced cloud illumination)
adalah petir yang terlihat lebar
rocket lightning (air discharge)
adalah petir yang amat panjang dengan memberikan kesan lambat dalam
perkembangan jalurnya.
ribbon lightning (cloud to ground discharge)
adalah petir yang lintasannya tergeser.
bead lightning (cloud to ground discharge)
adalah petir yang terputus-putus.
ball lightning
adalah awan bergerak yang bercahaya (mobile luminous sphere) yang biasa terjadi
pada badai guntur.
3. Pengaman Petir ( Transmisi )
A. Kawat Tanah
Seperti telah diuraikan di atas bahwa efek dari sambaran petir (langsung atau tidak)
pada sistem tenaga listrik adalah terjadinya overvoltage. Apabila hal ini dibiarkan
terjadi, maka akan menimbulkan kerusakan serius pada peralatan. Sambaran petir
pada jaringan transmisi mendapatkan perhatian khusus karena kejadian ini sangat
besar kemungkinannya untuk menimbulkan angka keluar (outage). Untuk mencegah
timbulnya masalah karena sambaran petir di jaringan transmisi ini maka diberikan
sistem pengaman yang berupa kawat tanah (shielding wire) dan arrester (untuk
selanjutnya hanya akan dibahas mengenai Kawat tanah). Kawat tanah ini akan
memproteksi transmisi dari sambaran petir. Setelah diteliti, maka yang berpengaruh
pada saluran transmisi adalah sambaran langsung, sedangkan sambaran induksi
banyak berpengaruh di saluran transmisi.
Kawat tanah ini merupakan kawat netral yang diletakkan di atas kawat fasa
sedemikian sehingga kawat tanah inilah yang diharapkan mendapat sambaran petir,
bukan pada kawat fasanya. Sebuah referensi menuliskan bahwa semakin dekat
dengan kawat fasa akan meningkatkan efisiensinya (meskipun halini menimbulkan
resiko baru). Hal ini dapat dipahami bahwa semakin dekat kawat fasa maka berarti
semakin luas pula daerah pengamanannya. Beberapa persyaratan penting tentang
pemasangan kawat tanah agar memperoleh perisaian yang baik adalah :
1. Jarak kawat fasa diatur sedemikian rupa agar dapat mencegah sambaran
langsung ke kawat fasa.
2. Pada tengah gawang (mid span), kawat tanah dan kawat fasa harus mempunyai
jarak cukup agar tidak terjadi side flashover
Persyaratan di atas hanyalah menyangkut kawat tanah saja, sedangkan untuk
mengetahui penampilan menara transmisi masih ditentukan oleh beberapa hal lain
yang sebenarnya kesemuanya saling berkaitan.
B. Penangkapan Kilat Oleh Saluran Transmisi
Suatu saluran transmisi lengkap dengan kawat tanahnya dapat dikatakan
membentuk bayang-bayang listrik di tanah yang berada di bawah saluran transmisi
itu.Kilat yang biasanya menyambar di daerah itu (daerah bayang-bayang) akan lebih
tertarik untuk menyambar kawat tanah.

Dimana :
W = (b+4h1,09) meter
b = jarak pemisah antara kedua kawat tanah, meter (bila kawat tanah tunggal, b=0)
h = tinggi rata-rata kawat tanah di atas tanah = ht - 2/3 andongan, meter
ht = tinggi kawat tanah pada menara, meter
Sesuai dengan keadaan geometris lintasan saluran transmisi, dibuat tiga kategori
untuk menentukan tinggi rata-rata kawat tanah di atas tanah :
Tanah datar
h = ht – 2/3 andongan
Tanah bergelombang
h = ht
Tanah bergunung-gunung
h = 2ht
C. Kegagalan Perisaian
Dari berbagai penelitian yang telah dilakukan, diambil kesimpulan bahwa :
180 ,≤ θ Untuk sudut perisaian perisaian transmisi itu baik
300 , perisaian transmisi kurang≤ θ Untuk sudut perisaian
400 ,> θ Untuk sudut perisaian perisaian transmisi buruk
Kemudian dikemukakan teori yang lebih maju (hal ini dikarenakan pada SUTET dan
SUTUT kesimpulan di atas harus dikoreksi)

Dimana :
S = 8 I0,65 meter
S = Jarak sambaran ,meter
I = arus kilat, kA
Xs = daerah yang tidak terlindungi
4. Grounding Kaki Menara dan Trafo Pada Gardu Induk
A. Grounding Kaki Menara
Telah dijelaskan bahwa untuk mnghindari sambaran petir langsung pada kawat fasa
dipasang kawat tanah. Namun hal itu belum menjamin tidak terjadinya sambaran
balik (back flashover). Untuk mengurangi kemungkinan terjadinya sambaran balik
maka dipasanglah tahanan kaki menara yang . Tahanan kaki sebesar itu dapat
diperoleh denganΩ tidak melebihi 10 menggunakan satu atau lebih batang
pentanahan dan atau sistem counterpoise tergantung daritahanan jenis tanah
dimana menara transmisi berada.
Batang pentanahan
Tahanan kaki menara dapat dihitung dengan menggunakan rumus :
L) ln (2L/d)π /2ρ R = (
Dimana :
R = tahanan kaki menara, ohm
= tahanan jenis tanah, ohm-mρ
L = panjang dari batang pentanahan, meter
d = diameter batang pentanahan, meter
Untuk memperkecil tahanan kaki menara, dapat dilakukan dengan cara
memanjangkan batang tahanan. Namun lebih efektif bila diparalelkan. Rumus yang
digunakan sama, namun berbeda pada variabel d. Variabel ini diganti dengan
variabel A, yang besarnya sebagai berikut :
2 batang diletakkan dimana saja
3 batang diletakkan membentuk segi tiga
4 batang diletakkan membentuk segi empat
dimana :
a = jarak antar batang pentanahan
r = jari-jari masing-masing batang, nilainya harus sama
Counterpoise
Sistem ini cocok digunakan pada tanah yang keras atau berbatu-batu dengan
tahanan jenis yang besar. Tahanan kaki dapat dihitung dengan cara :
Ohm
dimana :
L = panjang kawat , m
=ρ tahanan jenis tanah, Ohm-meter
r = tahanan kawat, Ohm/meter
Tujuan dari desain Counterpoise adalah mencapai tahanan yang tetap dari
copunterpoise sebelum tegangan pada puncak menara mencapai tingkat loncatan api
dari isolator.
B. Grounding Trafo Pada Gardu Induk
Secara umum, grounding pada trafo gardu induk ada dua macam. Yang dimaksud di
sini adalah grounding bodi (casing) dan grounding sistem. Grounding sistem
biasanya dipakai pada trafo Wye dan Zig zag. Grounding ini diperuntukkan
mentanahkan arus yang mengalir pada titik netral, misalnya bila ada gangguan
sehingga mungkin arus urutan nol akan muncul. Pentanahan bodi juga tidak kalah
pentingnya bila dibandingkan dengan pentanahan sistem, terutama demi
keselamatan operator. Grounding ini dimaksudkan untuk menghilangkan beda
potensial antara bodi dengan tanah.

DAFTAR PUSTAKA

1. Allan Greenwood, “Electrical Transients in Power Sistem”, John Wiley & Sons,Inc,
1991.
2. Hutauruk T.S, “Gelombang Berjalan dan Proteksi Surja”, Erlangga, 1991.
3. Hutauruk T.S,”Pentanahan Netral Sistem Tenaga dan Pentanahan Peralatan”,
Erlangga, 1991.
4. M Khalifa, “ High Voltage Engineering (Theory and Practice)”, Marcel Dekker, Inc,
1990.
5. Martin A Uman, “Lightning”, Dover Publication,Inc, New York, 1984.
6. Yudi Suhairi, “ Fenomena Petir “, Elektron TH XVIII

Disarikan dari Artikel Ir.Syariffuddin Mahmudsyah,M.Eng (Guru Listrik-Teknik Listrik


Perminyakan)
Diposkan oleh Aji Tunggul Purbomiluhung di 01.42 1 komentar

Upaya penanggungalan sambaran Petir pada Peralatan Listrik dan


Elektronika”

SATU-U M U M

Petir merupakan gejala alam yang kejadiannya tidak dapat dihindarkan ataupun
dicegah. Kejadian sambaran petir dapat melibatkan pengaliran arus listrik yang
sangat besar dalam waktu yang sangat singkat namun bahaya yang dapat
ditimbulkannya sangat besar. Kemajuan teknologi hasil penelitian bidang teknik
tegangan dan arus tinggi memberikan manfaat bagi pencegahan bahaya yang
ditimbulkan sambaran petir dengan diketahuinya parameter-parameter arus petir
dan diperolehnya kemajuan dalam bidang peralatan-peralatan penangkal petir.
Langkah-langkah utama dalam pencegahan bahaya sambaran petir pada dasarnya
ditujukan kepada dua sasaran pokok yaitu :

a) Sambaran petir yang terjadi baik langsung maupun tidak langsung tidak
menimbulkan bahaya kebakaran, kerusakan, dan kematian

b) Sambaran petir tidak menyebabkan terjadinya gangguan pengoperasian peralatan


listrik maupun elektronik.

Konsep dasar yang mendasari langkah-langkah tersebut adalah konsep lokalisasi


titik-titik sambaran, konsep penerapan penyamaan potensial sehingga dapat
dihindarkan terjadinya spark busur listrik di tempat-tempat yang explosive serta
penyamaan potensial di peralatan elektronik yang sensitif. Kemajuan teknologi
arrester telah mampu membantu penerapan sistem penangkal petir internal yang
benar guna menghindarkan terjadinya kerusakan instalasi elektronik yang digunakan
pada telekomunikasi, kontrol dan instrumentasi.

DUA-DASAR-DASAR UMUM

PENANGKAL PETIR
2.1 Prinsip-prinsip Dasar Penangkal Petir

Penangkal petir untuk melindungi bangunan-bangunan beserta isinya terhadap


perusakan akibat sambaran petir.

2.3 Langkah-langkah Perlindungan Terhadap Bahaya Sambaran Petir

2.3.1 Material dan Instalasi

Pemilihan dan pemasangan finial, konduktor penyalur arus petir dan hubungan
pentanahan harus mengikuti persyaratan yang ditetapkan dan diuraikan dalam bab
berikut ini. Finial yang berupa kawat-kawat tanah lintas atas yang menghubungkan
dua menara harus terbuat dari bahan non korosif untuk kondisi setempat, dengan
ukuran yang sama dengan luas penampang konduktor utama dengan andongan
yang memadai untuk segala kondisi. Material-material yang dapat digunakan adalah
alumunium, tembaga, Cu atau Al clad steel, baja galvanis atau baja tahan karat.

2.3.2 Batang-batang, Menara-menara dan Kawat-kawat tanah lintas atas

2.3.2.a Penentuan zona proteksi suatu menara penangkal petir didasarkan pada
jarak terkam (lightning distance) suatu sambaran petir. Panjang jarak terkam
ditentukan oleh besarnya arus puncak sambaran petir. Semakin besar arus petir,
semakin panjang juga jarak terkamnya. Zona proteksi yang dimiliki setiap
konfigurasi menara atau bangunan konduktif yang tinggi dapat dengan mudah
ditentukan secara grafis. Peninggian menara yang melebihi panjang jarak terkam
tidak banyak meningkatkan sudut perlindungan menara.

2.3.2.b Zona proteksi suatu kawat tanah lintas atas didasarkan pada jarak terkam
yang didasarkan pada teori elektro-geometri dengan sudut lindung concave ke atas
yang dikembangkan sebagai metode Rolling Sphere.

2.3.2.c Untuk menghindari terjadinya loncatan samping (side flash), jarak minimum
antara menara atau kawat tanah lintas atas ke bangunan yang diproteksi ( D ) harus
tidak kurang dari jarak loncat samping (side flash distance) yang ditentukan
dengan :

D = h/6

dimana h adalah tinggi bangunan yang dilindungi

2.3.3 Tiang-tiang kayu yang digunakan sebagai penangkal petir, harus dilengkapi
dengan ujung finial logam di atas tiang, penghantar penyalur arus petir (down
conductor) dan dihubungkan dengan pentanahan. Untuk tiang terbuat dari logam,
dapat digunakan logam tersebut sebagai penghantar penyalur arus petir.

TIGA-PERENCANAAN

SISTEM PENANGKAL PETIR

Instalasi penangkal petir pada hakekatnya adalah instalasi yang dipasang dengan
maksud mencegah, menghindari dan mengurangi bahaya yang ditimbulkan oleh
kejadian sambaran petir. Yang dimaksud dengan istilah penangkal petir adalah
penangkal bahaya yang ditimbulkan oleh sambaran petir. Bahaya yang dapat
ditimbulkan meliputi “bahaya langsung” (direct effect) dan “bahaya tidak langsung”
(indirect effect). Upaya yang dilakukan untuk mencegah terjadinya bahaya tersebut
adalah pengadaan sistem penangkal petir terintegrasi yang meliputi “penangkal petir
eksternal” dan “penangkal petir internal”.

3.1 Penangkal Petir Eksternal

Penangkal petir eksternal menghindari bahaya langsung maupun tidak langsung


suatu sambaran petir pada aksesoris-aksesoris bangunan tinggi, menara
telekomunikasi dan bagian-bagian luar bangunan, termasuk juga menghindari
bahaya terhadap manusia yang berada di luar gedung. Penangkal eksternal pada
dasarnya terdiri dari finial penangkal petir, konduktor penyalur arus petir, dan
pentanahan.

3.1.1 Finial Sambaran Petir (Air Termination )

Finial sambaran petir yang terbuat dari logam (biasanya terbuat dari logam
tembaga) merupakan titik sambar petir yang kemudian mengalirkan arus petir ke
tanah dan mencegah terjadinya sambaran petir di tempat lain di daerah yang
dilindunginya. Finial akan menerima pembebanan panas yang tinggi sehingga dalam
pemilihan jenis logam, ketebalan dan bentuknya ditentukan oleh pertimbangan
besarnya muatan arus petir (Q).

Yang dapat digunakan sebagai finial penangkal petir adalah logam yang khusus
dipasang di bagian teratas bangunan atau menara, dengan bentuk berupa batang
tegak atau penghantar mendatar. Daerah lindung atau sudut lindung suatu finial
penangkal petir ditentukan oleh “jarak sambar” suatu sambaran petir yang
panjangnya ditentukan oleh tingginya arus petir. Teori yang mendasari penentuan
daerah lindung tersebut adalah teori “Elektro-geometri”

Teori Elektro-geometri adalah teori yang mengkaitkan hubungan antara sifat listrik
sambaran petir dengan geometri sistem penangkal petir. Teori ini semula
dikembangkan untuk pembuatan elektro-geometri pada saluran transmisi tagangan
tinggi. Berdasarkan teori elektro-geometri pada saluran transmisi ini dikembangkan
suatu model elektrogeometri pada sistem penangkal petir bangunan, dimana
finialnya berupa batang tegak (finial Franklin) dan suatu penghantar mendatar
sangkar faraday.

Model elektro-geometri didasarkan pada hipotesa sebagai berikut:

· Jika suatu kepala lidah petir yang dalam pergerakannya mendekati obyek
sambaran bumi telah mencapai suatu “titik sambar” utama, maka petir akan
mengenai obyek sambaran melalui jarak terpendek.

· Jarak sambar petir ditentukan oleh tinggi arus puncak petir sambaran pertama dan
dinyatakan menurut Amstrong dan Whitehead yang didasarkan pada rumus Wagner
dan hasil percobaan L Paris dan Watanabe dengan persamaan sebagai berikut :

hB = 6,7 I 0,8 meter (3.1)

dimana I adalah puncak arus petir sambaran pertama dalam kA


Model “Elektro-geometri” dengan memperhatikan besarnya jarak sambar hB
merupakan dasar yang digunakan untuk menentukan daerah lindung susunan dasar
finial penangkal petir. Adapun sudut lindung suatu finial tegak diperlihatkan oleh
gambar 3.1 dengan besar sudut lindung j sebesar :

j = arc sin (1 - h/hb ) dalam [0] (3.2)

Susunan finial penangkal petir dapat berupa finial batang tegak; susunan finial
mendatar dan finial-finial lain dengan memanfaatkan benda logam yang terpasang di
atas bangunan seperti atap logam, menara logam dan lain-lain. Tingkat perlindungan
yang diinginkan menentukan susunan dan jumlah finial, dimensi dan jenis bahan
finial serta konstruksinya dan semua ini secara besaran arus petir ditentukan oleh
tingginya arus puncak petir (I) dan muatan arus petir (Q).

Contoh menghitung menara dengan Finial Franklin

Berdasar sudut lindungnya, arus sambaran petir yang akan mengenai menara dapat
dibatasi sampai sekitar 100 kA dan perhitungan sudut lindung diperoleh dengan :

hB = 6,7(100)0,8 meter

= 266,73 meter

dan dengan ketinggian tower (h) setinggi 32 m, maka akan diperoleh sudut lindung
sebesar :

j = arc sin (1 - 32/266.73 ) 0

= 620

Pentanahan tower dapat dibuat terpisah sendiri, dengan sistem pentanahan yang
baik, atau digabung dengan pentanahan mesh dari sistem.

3.1.2 Konduktor Penyalur Arus Petir ( Down Conductor )

Arus sambaran petir yang mengenai finial atau tangki harus secara cepat dialirkan
ke tanah dengan pengadaan sistem penyaluran arus petir melalui jalan terpendek
dengan tanpa menimbulkan percikan busur listrik. Dimensi atau luas penampang,
jumlah dan route penghantar ditentukan oleh kuadrat arus impuls sesuai dengan
tingkat perlindungan yang ditentukan serta tingginya arus puncak petir. Demikian
pula pengaliran arus petir harus dihindarkan terjadinya beda potensial yang tinggi
yang dapat menimbulkan loncatan listrik sebagai gambaran dari bahaya yang dapat
timbul dalam hal ini sebagai berikut :

Jika terjadi sambaran pada ujung paling atas dari antena, sedangkan antena
tersebut terisolasi dari rangka tower/menara, maka akan terjadi pembangkitan
tegangan yang sangat berbahaya terhadap peralatan tersebut. Misalkan panjang
antena sekitar 5 m, sambaran arus petir misalkan sebesar 40 kA (8/50 ms), dan
besar induktansi antena sekitar 1 mH/meter, dapat dihitung besarnya tegangan yang
dibangkitkan oleh sambaran petir di atas tangki (UWS), dari :

L = 5 mH

dI/dt = 40 kA / 8ms = 5 kA / ms
diperoleh :

UWS = L dI/dt = 25 kV.

3.1.3 Sistem Pentanahan

Kemampuan tangki dalam membuang arus sambaran petir ke tanah ditentukan oleh
nilai tahanan pentanahan (ohm) yang menentukan tinggi rendahnya potensial yang
terjadi pada tangki. Semakin kecil nilai tahanannya akan semakin rendah potensial
atau tegangan yang terjadi pada tangki. Besar kecilnya tahanan pentanahan antara
lain ditentukan oleh tahanan jenis tanah (rE ) serta lebar permukaan konduktor
pentanahan. Di bawah ini diberikan tabel mengenai besarnya tahanan jenis tanah.

Tabel 3.1. Tahanan Jenis Tanah

Jenis Tanah rE (Wm)

Humus basah 30

Pasir basah 200

Tanah kering 1000

Berbatu-batu 3000

Besarnya tahanan pentanahan ditentukan oleh panjang konduktor pentanahan (l),


jari-jari batang pentanahan (r), dan tahanan jenis tanah (rE), yaitu :

Rst » . ln

Saat ini telah dikembangkan teknik pentanahan dengan menggunakan butiran-


butiran konduktif yang ditanam dalam tanah. Dengan teknik ini besarnya tahanan
pentanahan dapat diperkecil lagi. Namun teknologi ini masih cukup mahal. Oleh
karena itu pemakaian batang pentanahan tembaga (grounding rod) masih
mencukupi untuk digunakan pada areal tangki timbun. Semakin banyak pemakaian
batang pentanahan akan memperkecil tahanan pentanahan

Pada dasarnya suatu sistem pentanahan adalah dibuat sedemikian rupa sehingga
diperoleh kesamaan potensial yang tidak menimbulkan bahaya loncat listrik akibat
beda potensial yang besar. Yang penting di sini adalah upaya penyamaan potensial
dan bukannya tinggi rendahnya tahanan pentanahan saja. Memang diinginkan suatu
sistem pentanahan dengan nilai tahanan pentanahan yang terendah, karena dengan
demikian potensial yang terjadi tidak tinggi dan beda potensialnya juga rendah.

3.2 Penangkal Petir Internal

Dalam penangkal petir internal antara lain dilakukan dengan pemasangan potential
equalizing bar (PEB) atau juga disebut equipotential bonding (EB) dan peralatan
penangkal tegangan lebih seperti arrester, trafo atau filter.

3.2.1 Equipotential Bonding (EB)

Penyamaan potensial listrik adalah suatu usaha yang sangat penting untuk
mengurangi bahaya kebakaran atau ledakan dalam lokasi yang diproteksi.
Penyamaan potensial listrik ini dapat dilakukan antara lain dengan konduktor
bonding pada struktur yang terbuat dari logam, instalasi dari bahan logam, bagian-
bagian konduktif yang lain dan instalasi elektrik dan telekomunikasi dalam lokasi
yang diproteksi. Suatu sistem penangkal petir adalah integrasi dari penangkal
eksternal dengan penangkal petir internal. Suatu sistem penangkal petir internal
terdiri dari sistem pentanahan internal (internal grounding) yang menggabungkan
PEB (Potential Equalizing Bar) yang merupakan referensi pentanahan dan sistem
arrester tegangan dan arrester arus.

Konsep dasar sistem penangkal petir internal adalah upaya pengamanan potensial di
semua titik pada saat terjadi sambaran petir. Titik-titik yang disamakan potensialnya
adalah titik-titik pentanahan, saluran daya listrik (electrical power supply), saluran
telekomunikasi, instrumentasi, kontrol dan lainnya.

Penyamaan potensial di titik pentanahan adalah dengan pengadaan internal


grounding yang menghubungkan PEB-PEB yang ada, dengan penerapan “One Point
Earthing” atau “Multi Point Earthing” seperti disarankan dalam IEC-Giude Line. Untuk
kemudahan operasi dan pengembangan di sini disarankan konsep “One Point
Earthing” dengan satu saluran penghubungan internal grounding ke eksternal
grounding.

Penyamaan potensial pada saluran daya listrik digunakan peralatan proteksi


tegangan lebih (arrester tegangan) dan arrester arus, dan penyamaan potensial
pada saluran komunikasi, instrumentasi dan kontrol digunakan arrester yang sesuai.

3.2.2 Proteksi Tegangan Lebih

Untuk mendapatkan optimalisasi ekonomis dalam penerapan sistem penangkal


internal, maka tidak semua panel peralatan listrik diberi peralatan proteksi tegangan
lebih (arrester). Peletakannya diupayakan seefektif mungkin dengan penerapan
dikembangkan konsep zoning proteksi.

Konsep zoning proteksi membagi cakupan yang akan diproteksi dalam zone-zone
proteksi, yang dibentuk oleh dinding bangunan, ruangan-ruangan dan peralatan-
peralatan dengan permukaan dari logam seperti bangunan logam. Diawali dari sisi
luarnya (zone proteksi 0), dimana sambaran petir langsung atau kenaikan medan
elektromagnetik yang tinggi dapat terjadi, zone-zone proteksi yang berikutnya
sesuai dengan penurunan level resiko gangguan akibat sambaran petir maupun
induksinya. Instalasi-instalasi elektronik yang terproteksi oleh konsep ini dapat terus
beroperasi tanpa gangguan dalam suatu lingkungan medan elektromagnetik yang
terpengaruh oleh sambaran petir langsung dan lokal.

LPZ 0A : sambaran petir langsung & terjadi medan elektromagnet yang tinggi

LPZ 0B : tidak ada sambaran langsung tapi medan elektromagnet tinggi

LPZ 1 : tanpa sambaran langsung, medan elektromagnet lemah

LPZ 2 : daerah dengan medan elektromagnet yang lemah

LPZ 3 : area proteksi di dalam peralatan


Suatu Suatu saluran baik saluran daya listrik, telekomunikasi, dan lain-lain yang
melalui perubahan zoning proteksi petir harus dilengkapi dengan peralatan arrester
proteksi tegangan lebih.

1. Penangkal petir untuk interface Zone 0A/1 : Penyama potensial berupa bonding
bar diimplementasikan pada penangkal petir interface Zone 0A/1 dengan
menggabungkan semua bagian dalam sistem pipa. Pada interface zone, semua jenis
arrester yang dapat digunakan adalah seperti yang disebut berikut ini, atau dapat
digunakan arrester lain yang sejenis dan setingkat dengannya :

a) Pada panel utama distribusi listrik : arrester arus dengan kombinasi arrester
tegangan yang dihubungkan dengan suatu induktansi dipasang untuk bahaya petir
tingkat 10/350 ms atau cukup dengan arrester tegangan untuk bahaya petir tingkat
8/20 ms. Untuk peletakkan arrester di depan genset atau panel induk utama perlu
dilengkapi dengan NH-Fuse. Pulse Counter dapat dipasang antara arrester dengan
pentanahan untuk menentukan ada tidaknya sambaran petir yang mengenai
instalasi;

b) Pada panel utama distribusi telekomunikasi perlu dipasang arrester tegangan


lebih seperti tipe coarse arrester atau Fine Arrester lengkap dengan dudukan LSA-
Plus dan Earth-Plate;

c) Pada jaringan informasi dipakai arrester arus petir fine arrester dengan konektor
yang sesuai;

d) Pada HTP yang terhubung ke sistem kabel broad band dipakai arrester yang
sesuai;

e) Pada kabel antene coaxial dipasang arreter coaxial tipe N, U, atau BNC.

2. Penangkal petir untuk interface Zone 0B/1 dan 1/2 : Pada interface ini dipakai
arrester tegangan lebih untuk meminimalkan pengaruh dari induksi medan
elektromagnetik yang tinggi, antara lain :

¨ Pada panel distribusi listrik dipasang arrester tegangan;

¨ Pada panel distribusi telekomunikasi dipasang Coarse arrester atau fine arrester;

¨ Pada PLC dapat dipasang arrester jenis Fine Arrester Cascade.

3. Penangkal petir untuk interface Zone 2/3 : Pada peralatannya sendiri perlu
dipasang penangkal tegangan lebih yang lebih halus, antara lain :

¨ Pada komputer PC : untuk sumber tegangannya dipasang arrester stop kontak,


pada harddisk-nya dipasang DSM-RJ45 10 base T, atau disesuaikan connectornya.

¨ Pada Server : untuk sumber tegangan dipasang stop kontak arrester, sedangkan
pada kabel data dipasang coaxial arrester dengan connector tipe U, N, atau BNC &
Twinax.

¨ Pada Facsimile : untuk catu daya dipasang arrester stop kontak FAX-Protector.

Untuk memotong gelombang terpa tegangan lebih yang sangat curam akibat
sambaran petir, yang tidak mampu dipotong oleh arrester, dapat digunakan isolating
transformer. Trafo yang dipasang adalah trafo 1:1, dan karakteristik trafo yang
dimanfaatkan adalah induktansinya. Kemudian pada terminal primernya baru
dipasangkan arrester. Trafo ini perlu untuk dipasang pada kabel daya untuk lampu
menara yang berkemungkinan tersambar petir secara langsung atau tidak langsung.

Untuk peralatan yang sampai ke field, saat ini telah dikembangkan teknik Intrinsicaly
Safe (IS). IS merupakan suatu teknik dalam instrumentasi elektronik dengan
pembatasan energi elektrik sampai pada tingkat yang tidak membahayakan kondisi
field yang flammeable. Aplikasi IS untuk instrumentasi berkembang dengan cepat
karena perkembangan shunt-diode safety barrier. Ini adalah peralatan self-
contained, yang dapat dihubungkan secara seri dengan kabel signal antara ruang
kontrol dengan lokasi eksplosif (field), dan akan melewatkan signal pengukuran dan
kontrol tanpa pengaruh yang berarti, dengan membatasi energi yang dapat
disalurkan saat kondisi kegagalannya ke tingkat yang aman. Dengan bergantung
pada sekering khusus, komponen pembatas tegangan semikonduktor yang baru
yaitu dioda Zener, dan resistor seri dimana tidak akan terjadi hubung singkat yang
bisa mengakibatkan kebakaran di areal yang flammeable.

EMPAT KESIMPULAN

§ Petir merupakan gejala alam yang kejadiannya tidak dapat dihindarkan ataupun
dicegah

• Upaya penanggulangan sambaran petir pada peralatan listrik dan elektronik harus
dilakukan dengan sistem yang terintegrasi, yaitu penangkal petir eksternal dan
penangkal petir internal

REFERENSI

1. Direktorat PPDN, “Petunjuk praktis perancangan, pemasangan, dan pemeliharaan


system penangkal petir instalasi tangki timbun BBM”.
2. NFPA 780 Lightning Protection Code
3. IEC 1024 - 1990
4. Martin A Uman, “Lightning”, Dover Publication,Inc, New York, 1984

Oleh : Ir.Margo Pujiantara,M.T

Diposkan oleh Aji Tunggul Purbomiluhung di 01.38 0 komentar


Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Langgan: Entri (Atom)

Follower

Arsip Blog
• ► 2010 (13)
o ► November (1)
 ► Nov 15 (1)
 Kasihan Nasib si Sattelite TV
o ► Oktober (1)
 ► Okt 04 (1)
 Selamatkan Piranti Hiburan dari Bahaya OverVoltage...
o ► September (2)
 ► Sep 21 (1)
 Vendor Lalai ..
 ► Sep 13 (1)
 Korosi Klem BC
o ► Agustus (3)
 ► Agu 29 (1)
 Program Hitung Sistem Proteksi Petir Ver 02062009...
 ► Agu 10 (2)
 NFPA 780 RAC (Risk Assessment Calculator)
 Benji ProCalc - Erico
o ► Juli (2)
 ► Jul 11 (2)
 Grounding Pipe - Bener Gak Instalasinya
 Junction Box
o ► Juni (1)
 ► Jun 04 (1)
 LEC DEG
o ► Februari (1)
 ► Feb 25 (1)
 BRC Fence - Perlukah di Proteksi?
o ► Januari (2)
 ► Jan 26 (1)
 Bundel Standard Lightning Protection System
 ► Jan 11 (1)
 Workshop - WareHouse Protection

• ► 2009 (55)
o ► Desember (2)
 ► Des 13 (2)
 Metering Gas Station Without Internal Protection
 Stainless Strip untuk Down Conductor di Tower Band...
o ► November (4)
 ► Nov 26 (1)
 Software Aplikasi Lightningbuster untuk Menghitung...
 ► Nov 17 (1)
 Kelistrikan pada Jalur KRL
 ► Nov 12 (1)
 Selamat dari Sambaran Petir Berkat IPOD
 ► Nov 03 (1)
 Harga Matikah Eksternal LPS untuk Konstruksi Atap ...
o ► Oktober (3)
 ► Okt 28 (1)
 Peralatan Kantor Penuh Resiko
 ► Okt 25 (1)
 Cahaya Truss (Baja Ringan) kena si 40kA
 ► Okt 14 (1)
 Mengatasi Phobia "Petir"
o ► September (1)
 ► Sep 30 (1)
 HANDPHONE DAN RESIKO TERSAMBAR PETIR
o ► Agustus (2)
 ► Agu 17 (2)
 Boros Banget - Pakai Coopper Strip
 Omni Status Error
o ► Juli (5)
 ► Jul 30 (1)
 Home Sweet Home - Rumah dengan Proteksi Eksternal ...
 ► Jul 10 (2)
 Sistem Proteksi Petir pada Metering Sistem Gas
 Proteksi Petir Eksternal untuk Perumahan/ Perkanto...
 ► Jul 09 (1)
 Proteksi Petir untuk Kawasan Pabrik
 ► Jul 02 (1)
 Ultrasonic Meter lebih rentan terhadap Bahaya Peti...
o ► Juni (20)
 ► Jun 24 (2)
 TOWER Aman
 Proteksi Petir pada Gondola dan Gapura Selamat Dat...
 ► Jun 13 (2)
 Amankah jika Antena dipasang pada Air Terminal?
 Dampak Pemasangan Tower BTS di Lingkungan
Perumah...
 ► Jun 12 (7)
 Tang Casting Cadweld
 Alat Pengukur Magnetic (APM) - Rekam Sambaran Peti...
 Arrester Radio Model BNC
 Spark Gap
 Schematic Diagram Pemasangan Arrester Data Flow Co...
 Schematic Diagram Pemasangan Arrester Radio ke VSA...
 Schematic Diagram Pemasangan Arrester Data Fire Al...
 ► Jun 11 (2)
 Petikan "KKW-ku" tentang Pemeriksaan dan Pemelihar...
 Arrester Power Installation
 ► Jun 02 (6)
 ESE Versus Kubah Masjid
 Earth Tester
 Standard Nasional Proteksi Petir pada Bangunan
 CadWeld
 Low Voltage Arrester
 Aplikasi LIGHTNINGBUSTER
 ► Jun 01 (1)
 Berapa sih Error Angle Protection IEC 62305 dengan...
o ► April (1)
 ► Apr 28 (1)
o ► Maret (4)
 ► Mar 31 (1)
 ► Mar 17 (1)
 ► Mar 04 (2)
o ► Februari (2)
 ► Feb 13 (1)
 ► Feb 04 (1)
o ► Januari (11)
 ► Jan 31 (1)
 ► Jan 17 (1)
 ► Jan 16 (1)
 ► Jan 12 (1)
 ► Jan 03 (1)
 ► Jan 02 (1)
 ► Jan 01 (5)

• ▼ 2008 (41)
o ► Desember (14)
 ► Des 30 (4)
 ► Des 28 (2)
 ► Des 21 (1)
 ► Des 20 (4)
 ► Des 10 (2)
 ► Des 02 (1)
o ▼ November (13)
 ► Nov 29 (1)
 ► Nov 24 (2)
 ► Nov 19 (1)
 ► Nov 17 (2)
 ▼ Nov 13 (5)
 Petir-pun Bebas Memilih Obyek Sambaran - Finial-pu...
 Akibat Sambaran Petir Pada Tubuh Manusia
 Penangkal Petir dan Pengetanahan
 Fenomena Petir dan Pengaman Petir pada Sistem Tena...
 Upaya penanggungalan sambaran Petir pada Perala...
 ► Nov 04 (2)
o ► Oktober (14)
 ► Okt 27 (1)
 ► Okt 21 (3)
 ► Okt 15 (1)
 ► Okt 10 (2)
 ► Okt 08 (1)
 ► Okt 07 (6)