Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH

MERAIH KASIH ALLAH SWT DENGAN


IHSAN

Disusun Oleh :

Kelompok :1
Nama : Neng Karyati
Rida Aulia Oktaviani
Sahrul Setiawan
Shella Puspita
Siti Sopiah Latifah
Kelas : XII OTKP 4

SMK NEGERI 1 CIKALONGKULON


KABUPATEN CIANJUR
2020
KATA PENGANTAR

Salam ukhuwah akhi wa ukhti..


Puji syukur kehadirat Allah SWT. yang telah memberikan limpahan rahmat
dan nikmat kepada kita semua sehingga kami dapat menyelesaikan tugas
penyusunan makalah “Meraih Kasih Allah SWT dengan Ihsan”.
Penyusunan ini tentunya bukan hanya hasil pemikiran kami sendiri, banyak
orang-orang yang mendukung kami di belakang.
Dalam makalah ini, kami membahas mengenai toleransi yang Insya Allah
akan bermanfaat dan dapat kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Untuk lebih
jelasnya, marilah kita baca dan pelajari makalah ini.
Makalah ini hanyalah hasil karya susunan insan yang tak berdaya, yang tak
jauh dari khilaf dan salah. Untuk itu kritik dan saran dari para pembaca sangat
kami harapkan, agar bisa kami jadikan motivasi untuk ke depannya.
Semoga Allah SWT. selalu menuntun setiap perjalanan hidup kita. Aaamin..

Cianjur, Januari 2020

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ...............................................................................................i


DAFTAR ISI ..............................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN ..........................................................................................1
BAB II TOLERANSI DALAM KEHIDUPAN .........................................................2
BAB III PENUTUP ...................................................................................................8
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................9

ii
BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Ihsan adalah puncak ibadah dan akhlak yang senantiasa menjadi target
seluruh hamba Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sebab, ihsan menjadikan kita sosok
yang mendapatkan kemuliaan dari-Nya. Sebaliknya, seorang hamba yang tidak
mampu mencapai target ini akan kehilangan kesempatan yang sangat mahal
untuk menduduki posisi terhormat di mata Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam pun sangat menaruh perhatian akan hal
ini, sehingga seluruh ajaran-ajarannya mengarah kepada satu hal, yaitu mencapai
ibadah yang sempurna dan akhlak yang mulia.

Latar belakang terbuatnya makalah ini karena banyaknya seorang muslim


yang memandang ihsan itu hanya sebatas akhlak yang utama saja,
yang seharusnya dipandang sebagai bagian dari akidah dan bagian terbesar dari
keislamannya. Karena, Islam dibangun di atas tiga landasan utama, yaitu iman,
Islam, dan ihsan, seperti yang telah diterangkan oleh Rasulullah Salallahu ‘Alaihi
Wassallam.

1
BAB II

PEMBAHASAN

1.1 PENGERTIAN IHSAN

Ihsan berasal dari bahasa yang artinya berbuat baik/ kebaikan. Sedangkan

menurut istilah yaitu perbuatan baik yang dilakukan oleh seseorang dengan niat

hati beribadah kepada Allah SWT. Menurut pengertian istilah ada beberapa

definisi dan pengertian yang diberikan oleh ulama yaitu :

1. Muhammad Amin al-Kurdi, ihsan ialah selalu dalam keadaan diawasi oleh

Allah dalam segala ibadah yang terkandung di dalam iman dan islam sehingga

seluruh ibadah seorang hamba benar-benar ikhlas karena Allah.

2. Menurut Imam Nawawi ihsan adalah ikhlas dalam beribadah dan seorang

hamba merasa selalu diawasi oleh Tuhan dengan penuh khusuk, khuduk dan

sebagainya

Dari pengertian ihsan di atas, maka yang menjadi landasan dasar dari Ihsan

antara lain sebagai berikut :

 Muraqabatullah yang meliputi merasa selalu dalam pengawasan Allah

swt dan sikap Ihsan sebagai hamba Allah swt. sebagaimana keterangan

dalam hadits sabda Nabi Muhammad saw.

 Ihsanullah yang meliputi merasakan kebaikan Allah dalam segala hal dan

sikap Ihsan sebagai khalifah Allah swt.

2
Seorang hamba Allah swt. yang ihsan, merasa selalu berada dalam pengawasan

Allah swt. tentunya akan senantiasa melakukan yang terbaik dalam kehidupannya.

Sebagaimana Allah telah berbuat baik kepada hamba-Nya, sudah seharusnya pula

kita melakukan dan berbuat baik kepada sesama manusia. Dalil firman Allah

dalam Al-Qur’an al-karim :

‫َّللاُ إِلَيْك‬
‫سنَ ه‬َ ْ‫وََ أَحْ سِن َك َما أَح‬

Artinya : dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat

baik kepadamu. (QS-Al-Qashash:77).

Ihsan memiliki satu rukun yaitu engkau beribadah kepada Allah Azza wa Jalla

seakan-akan engkau melihat-Nya, jika engkau tidak melihat-Nya, maka

sesungguhnya Dia melihatmu. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari

‘Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu anhu dalam kisah jawaban Nabi Shallallahu

'alaihi wa sallam kepada Jibril Alaihissallam ketika ia bertanya tentang ihsan,

maka Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab:

َ‫يَ َراك‬ ُ‫َف ِإنهه‬ ُ‫تَ َراه‬ ‫تَك ُْن‬ ‫لَ ْم‬ ‫فَ ِإ ْن‬ ُ‫ت َ َراه‬ َ‫َكأ َ هنك‬ َ‫هللا‬ ‫ت َ ْعبُ َد‬ ‫أ َ ْن‬.

“Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, maka bila

engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Allah melihatmu.”

Maksudnya, bahwasanya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan ihsan

dengan memperbaiki lahir dan batin, serta menghadirkan kedekatan Allah Azza

wa Jalla, yaitu bahwasanya seakan-akan Allah berada di hadapannya dan ia

melihat-Nya, dan hal itu akan mengandung konsekuensi rasa takut, cemas, juga

pengagungan kepada Allah Azza wa Jalla, serta mengikhlaskan ibadah kepada

3
Allah Azza wa Jalla dengan memperbaikinya dan mencurahkan segenap

kemampuan untuk melengkapi dan menyempurnakannya.

1.2 TIGA ASPEK POKOK DALAM IHSAN

Ihsan meliputi tiga aspek yang fundamental. Ketiga hal tersebut adalah ibadah,

muamalah, dan akhlak. Ketiga hal inilah yang menjadi pokok bahasan dalam

ihsan.

1. IBADAH

Kita berkewajiban ihsan dalam beribadah, yaitu dengan menunaikan

semua jenis ibadah, seperti shalat, puasa, haji, dan sebagainya dengan cara yang

benar, yaitu menyempurnakan syarat, rukun, sunnah, dan adab-adabnya. Hal ini

tidak akan mungkin dapat ditunaikan oleh seorang hamba, kecuali jika saat

pelaksanaan ibadah-ibadah tersebut ia dipenuhi dengan cita rasa yang sangat kuat

(menikmatinya), juga dengan kesadaran penuh bahwa Allah senantiasa

memantaunya hingga ia merasa bahwa ia sedang dilihat dan diperhatikan oleh-

Nya. Minimal seorang hamba merasakan bahwa Allah senantiasa memantaunya,

karena dengan inilah ia dapat menunaikan ibadah-ibadah tersebut dengan baik dan

sempurna, sehingga hasil dari ibadah tersebut akan seperti yang diharapkan. Inilah

maksud dari perkataan Rasulullah saw yang berbunyi,

“Hendaklah kamu menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan jika

engkau tak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.”

4
Kini jelaslah bagi kita bahwa sesungguhnya arti dari ibadah itu sendiri sangatlah

luas. Maka, selain jenis ibadah yang kita sebutkan tadi, yang tidak kalah

pentingnya adalah juga jenis ibadah lainnya seperti jihad, hormat terhadap

mukmin, mendidik anak, menyenangkan isteri, meniatkan setiap yangmubah

untuk mendapat ridha Allah, dan masih banyak lagi. Oleh karena itulah,

Rasulullah saw. menghendaki umatnya senantiasa dalam keadaan seperti itu, yaitu

senantiasa sadar jika ia ingin mewujudkan ihsan dalam ibadahnya.

2. MUAMALAH

Dalam bab muamalah, ihsan dijelaskan Allah swt. pada surah An-Nisaa’

ayat 36, yang berbunyi sebagai berikut, “Sembahlah Allah dan janganlah kamu

mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun dan berbuat baiklah kepada dua

orang ibu bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga

yang dekat maupun yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu.”

Kita sebelumnya telah membahas bahwa ihsan adalah beribadah kepada

Allah dengan sikap seakan-akan kita melihat-Nya, dan jika kita tidak dapat

melihat-Nya, maka Allah melihat kita. Kini, kita akan membahas ihsan dari

muamalah dan siapa saja yang masuk dalam bahasannya. Berikut ini adalah

mereka yang berhak mendapatkan ihsan tersebut:

a. ihsan kepada kedua orang tua

b. ihsan kepada karib kerabat

c. ihsan kepada anak yatim dan fakir miskin

d. ihsan kepada tetangga dekat, tetangga jauh, serta teman sejawat

5
e. ihsan kepada ibnu sabil dan hamba sahaya

f. ihsan dengan perlakuan dan ucapan yang baik kepada manusia

g. ihsan dalam hal muamalah

h. ihsan dengan berlaku baik kepada binatang.

3. AKHLAK

Ihsan dalam akhlak sesungguhnya merupakan buah dari ibadah dan

muamalah. Seseorang akan mencapai tingkat ihsan dalam akhlaknya apabila ia

telah melakukan ibadah seperti yang menjadi harapan Rasulullah dalam hadits

yang telah dikemukakan di awal tulisan ini, yaitu menyembah Allah seakan-akan

melihat-Nya, dan jika kita tidak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Allah

senantiasa melihat kita. Jika hal ini telah dicapai oleh seorang hamba, maka

sesungguhnya itulah puncak ihsan dalam ibadah. Pada akhirnya, ia akan berbuah

menjadi akhlak atau perilaku, sehingga mereka yang sampai pada tahap ihsan

dalam ibadahnya akan terlihat jelas dalam perilaku dan karakternya.

Jika kita ingin melihat nilai ihsan pada diri seseorang —yang diperoleh

dari hasil maksimal ibadahnya– maka kita akan menemukannya dalam muamalah

kehidupannya. Bagaimana ia bermuamalah dengan sesama manusia,

lingkungannya, pekerjaannya, keluarganya, dan bahkan terhadap dirinya sendiri.

Berdasarkan ini semua, maka Rasulullah saw. mengatakan dalam sebuah hadits,

“Aku diutus hanyalah demi menyempurnakan akhlak yang mulia.”

1.3 PERBUATAN-PERBUATAN YANG MERUSAK IHSAN

6
Berikut ini adalah sikap dan perbuatan yang dapat merusak ihsan dalam diri, antara

lain :

a. Sikap dan perbuatan Sombong. Dalam sebuah hadits diterangkan : sombong

adalah menolak kebenaran dan suka meremehkan orang lain. (HR. Muslim)

b. Sikap Serakah dan Egois. Mengenai serakah dan egois Nabi Muhammad saw,

bersabda : seandainya seorang anak Adam sudah mempunyai dua lembah harta,

maka ia akan mencari lembah yang ketiganya. Dan tidak akan merasa puas

perutnya, melainkan dengan dimasukkan ke dalam tanah. (HR. Bukhari dan

Muslim)

c. Sikap Iri Dengki. Nabi saw. bersabda : Sesungguhnya dengki itu akan

memakan habis kebaikan, seperti api yang melalap habis kayu bakar. (HR. At-

Tirmidzi). Sikap iri Dengki akan menjadi penghambat dalam kesuksesan, menyia-

nyiakan energy, menghilangnya kesempatan untuk kerja sama dan akan

menghilangkan kesempatan belajar.

Firman Allah swt. :

‫ر َوأ َ ۡبقَ ٰى‬ٞ ‫َو ََل ت َ ُمد ََّّن َع ۡين َۡيكَ إِلَ ٰى َما َمتَّعۡ نَا بِ ِ ٓۦه أَ ۡز ٰ َو ٗجا ِم ۡن ُه ۡم زَ ۡه َرة َ ۡٱل َحيَ ٰوةِ ٱلد ُّۡنيَا ِلن َۡفتِنَ ُه ۡم فِي ِۚ ِه َو ِر ۡز ُق َربِكَ خ َۡي‬

Artinya : Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah

Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan

dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah

lebih baik dan lebih kekal. (QS. Thaha [20]: 131).

d. Ghibah atau menggunjing

e. Sikap berburuk Sangka

7
f. Sikap Dendam

g. Sikap Kikir atau pelit.

1.3 MENERAPKAN PERILAKU MULIA

Sikap dan perilaku terpuji yang harus dikembangkan terkait dengan ihsan
yaitu :

1. Melakukan ibadah ritual (shalat,zikir, dan sebagainya )dengan penuh


kekhusukan dan keikhlasan.

2. Birul walidain (berbuat baik kepada kedua orang tua), dengan mengikuti
semua keinginan jika memungkinkan, dengan syarat tidak bertentangan
dengan aturan Allah Swt.

3. Menjalin hubungan baik dengan kerabat.

4. Menyantuni anak yatim dan fakir miskin.

5. Berbuat baik kepada tetangga.

6. Berbuat baik kepada teman sejawat.

7. Membalas semua kebaikan dengan yang lebih baik

8. Membalas kejahatan dengan kebaikan, bukan dengan kejahatan serupa

9. Menjaga kelestarian lingkungan, baik daratan maupun lautan dan tidak


melakukan tindakan yang merusak.

1.4 HIKMAH DAN MANFAAT IHSAN

“Kebaikan akan berbalas kebaikan”, adalah janji Allah dalam al-


Qur’an.Berbuat Ihsan adalah tuntutan kehidupan kolektif. Karena tidak ada
manusia yang dapat hidup sendiri, maka Allah menjadikan saling berbuat baik
sebagai sebuah keniscayaan. Berbuat baik (Ihsan) kepada siapa pun, akan menjadi
stimulus terjadinya “balasan” dari kebaikan yang dilakukan. Demikianlah, Allah
Swt. Membuat sunah (aturan) bagi alam ini, ada jasa ada balas. Semua manusia
diberi “nurani” untuk berterima kasih dan keingian untuk membalas budi baik.
Peristiwa di samping hanya sedikit dari percikan hikmah Ihsan. Simak dan
renungkanlah!

8
BAB III

PENUTUP

1. KESIMPULAN

Ihsan adalah puncak prestasi dalam ibadah, muamalah, dan akhlak. Oleh

karena itu, semua orang yang menyadari akan hal ini tentu akan berusaha dengan

seluruh potensi diri yang dimilikinya agar sampai pada tingkat tersebut. Siapapun

kita, apapun profesi kita, di mata Allah tidak ada yang lebih mulia dari yang lain,

kecuali mereka yang telah naik ketingkat ihsan dalam seluruh sisi dan nilai

hidupnya.

2. SARAN

Demikianlah dalam hal ini penulis akhiri makalah ini tak lupa mohon maaf

kepada semua pihak, kritik dan saran penulis harapkan demi perbaikan penulisan

makalah ini selanjutnya.

Anda mungkin juga menyukai