Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan pada hakikatnya berlangsung dalam suatu proses. Proses ini berupa
transformasi nilai-nilai pengetahuan, teknologi dan keterampilan. Penerima proses
adalah anak atau peserta didik yang sedang tumbuh dan berkembang menuju ke arah
pendewasaan kepribadian dan penguasaan pengetahuan. Selain itu, pendidikan
merupakan proses budaya untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia yang
diperoleh melalui proses yang panjang dan berlangsung sepanjang kehidupan. Belajar
sepanjang hayat adalah belajar terus-menerus dan berkesinambungan (continuing-
learning) dari buaian sampai akhir hayat, sejalan dengan fase-fase perkembangan
pada manusia. Oleh karena setiap fase perkembangan pada masing-masing individu
harus dilalui dengan belajar agar dapat memenuhi tugas-tugas perkembanganya, maka
belajar itu dimulai dari masa kanak-kanak sampai dewasa dan bahkan masa tua.
Sebagaimana tersebut dalam sebuah ungkapan lama:

Artinya: ”Tuntutlah ilmu sejak dari buaian hingga liang lahat”1

Suatu pertanda bahwa seseorang telah belajar sesuatu adalah adanya


perubahan tingkah laku dalam dirinya. Perubahan tingkah laku tersebut menyangkut
perubahan yang bersifat pengetahuan (kognitif), dan keterampilan (psikomotor)
maupun yang menyangkut nilai dan sikap (afektif).
Belajar merupakan kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat
fundamental dalam penyelenggaraan setiap jenis dan jenjang pendidikan. Ini berarti

1
Musthofa bin Abdullah, Kasyf adz-Dzunun (1:52), dalam bahasan tentang “Tuntutlah ilmu sejak
dari buaian hingga liang lahad”, shahihkah? Online pada
https://syukrillah.wordpress.com/2010/08/29/ternyata-bukan-hadis-shohih/ diunduh tanggal 9
November 2019
2

bahwa berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan pendidikan itu amat bergantung
kepada proses belajar yang dialami peserta didik, baik ketika ia berada di sekolah
maupun di lingkungan rumah atau keluarganya sendiri. Oleh karena itu, pemahaman
yang benar mengenai arti belajar dengan segala aspek, bentuk, dan manifestasinya
mutlak diperlukan oleh para pendidik, khususnya para guru. Kekeliruan atau
ketidaklengkapan persepsi mereka terhadap proses belajar dan hal-hal yang berkaitan
dengannya mungkin akan mengakibatkan kurang bermutunya hasil pembelajaran
yang dicapai oleh peserta didik.
Menurut Slameto belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan
individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara
keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan
lingkungannya.2 Robins, dalam Trianto, bahwa belajar sebagai proses menciptakan
hubungan antara sesuatu (pengetahuan) yang sudah dipahami dan sesuatu
(pengetahuan) yang baru.3
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa belajar adalah kegiatan yang
dilakukan oleh seseorang agar memiliki kompetensi berupa keterampilan dan
pengetahuan yang diperlukan. Belajar juga dapat dipandang sebagai sebuah proses
elaborasi dalam upaya pencarian makna yang dilakukan oleh individu. Proses belajar
pada dasarnya dilakukan untuk meningkatkan kemampuan dan kompetensi personal.
Ahli pendidikan modern merumuskan perbuatan belajar sebagai berikut.
”Belajar adalah suatu bentuk pertumbuhan atau perubahan dalam diri
seseorang yang dinyatakan dalam cara-cara bertingkah laku yang baru berkat
pengalaman dan latihan. Tingkah laku yang baru itu misalnya dari tidak tahu
menjadi tahu, timbulnya pengertian baru, timbul dan berkembangnya sifat-
sifat sosial, susila dan emosional.4

Proses pembelajaran pada prinsipnya proses pengembangan moral keagamaan,


aktivitas dan kreativitas peserta didik melalui berbagai interaksi dan pengalaman
2
Slameto, Belajar & Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya, (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), h. 2
3
Trianto, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif – Progresif Konsep Landasan, dan
Implementasinya pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). (Jakarta: Prenada Media
Group, 2010), h. 15
4
Abu Ahmadi, Psikologi Sosial, (Jakarta: Rineka Cipta, 2007), h. 256
3

belajar. Namun demikian dalam implementasinya masih banyak kegiatan


pembelajaran yang mengabaikan aktivitas dan kreativitas peserta didik tersebut. Hal
ini banyak disebabkan oleh model dan sistem pembelajaran yang lebih menekankan
pada penguasaan kemampuan intelektual saja serta proses pembelajaran terpusat pada
guru di kelas sehingga keberadaan peserta didik hanya menunggu uraian guru
kemudian mencatat dan menghafalnya.
Proses belajar terjadi karena adanya interaksi antara peserta didik dengan
lingkungannya. Oleh karena itu, lingkungan pendidikan perlu diatur sedemikian rupa
sehingga timbul reaksi peserta didik ke arah perubahan tingkah laku yang diinginkan.
Iklim yang tidak kondusif akan berdampak negatif terhadap proses pembelajaran dan
sulitnya tercapai tujuan pembelajaran terutama pada mata pelajaran Pendidikan
Pancasila dan Kewarganegaraan yang lebih menekankan kepada aspek-aspek nilai
atau sikap, peserta didik merasa gelisah, resah, bosan, dan jenuh. Sebaliknya, iklim
belajar yang kondusif dan menarik dapat dengan mudah tercapainya tujuan
pembelajaran, dan proses pembelajaran yang dilakukan itu menyenangkan bagi
peserta didik. Lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan tertib, merupakan harapan
yang tinggi bagi seluruh warga sekolah, agar peserta didik semangat dalam belajar.
Karena lingkungan juga dapat mempengaruhi situasi belajar bagi peserta didik.
Dalam proses pembelajaran, anak kurang didorong untuk mengembangkan
kemampuan berpikir. Proses pembelajaran di dalam kelas seharusnya diarahkan
kepada kemampuan anak, agar anak dapat berpikir kritis dan sistematis, sebab
biasanya strategi pembelajaran berpikir kritis kurang digunakan secara baik dalam
setiap proses pembelajaran di dalam kelas.
Pembelajaran merupakan upaya untuk membelajarkan peserta didik.
Sebagaimana di dalam prosesnya terdapat kegiatan memilih, menetapkan, dan
mengembangkan metode untuk mencapai hasil pembelajaran yang diinginkan. 5
Mengajar tidak hanya sebatas pentransferan ilmu pengetahuan semata, melainkan agar

5
Uno, Hamzah B, dan Nurdin Mohamad. Belajar dengan Pendekatan PAIKEM. (Jakarta: Bumi
Aksara, 2011), h. 4.
4

peserta didik mampu mengekspresikan diri mereka sesuai dengan potensi dan bakat
yang mereka miliki, sehingga peserta didik dapat menjadi manusia yang mengerti
akan dirinya sendiri.
Kegiatan-kegiatan tersebut merupakan bagian penting dari tugas seorang guru.
Hal ini berdasarkan Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional Pasal 39 ayat (2), disebutkan bahwa pendidik merupakan tenaga profesional
yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil
pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian
dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi.6
Di dalam kelas, kita sering melihat dan menjumpai bahwa guru sangat
menguasai materi dengan baik dan penyampainnya kepada peserta didik juga sudah
cukup baik pula, tetapi tidak dalam melaksanakan pembelajarannya. Karena hal itu
terjadi proses pembelajaranya tidak didasarkan kepada model pembelajaran tertentu
dan menjadikan kondisi yang tidak menyenangkan dan membosankan, sehingga hasil
belajar yang diperoleh peserta didik rendah dan menjadikan peserta didik tidak
menguasai materi pelajaran yang diberikan oleh guru secara maksimal.
Guru merupakan faktor dominan yang menentukan suasana belajar peserta
didik di sekolah, kualitas interaksi guru dan murid dipengaruhi oleh karakteristik dari
setting (ruang kelas, penggunaan ruangan, sumber belajar dan lain-lain) dan dimensi
sosial kelompok (norma, peraturan, keterkaitan, distribusi kekuatan dan pengaruh).7
Pengaturan latar dan dimensi sosial yang tepat dalam pembelajaran akan membantu
dalam proses pembelajaran, meningkatkan suasana belajar, dan juga membantu
mempermudah interaksi antara guru dan murid. Meskipun demikian, masih banyak
dijumpai pengajaran yang dilakukan oleh guru dengan memaksakan kehendak dalam
pembelajarannya tanpa memperhatikan kebutuhan, minat, dan bakat yang dimiliki
peserta didik, padahal bakat dan kecerdasan yang dimiliki oleh peserta didik berbeda-
beda.
6
Undang-undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, h. 20
7
Forrest, W. Parkay dan Baverly Hardcastle Stanford, Menjadi Seorang Guru, terj. Dani Dharyani,
(Jakarta: PT. Indeks, 2008), Ed. VII, h. 170
5

Penggunaan variasi model pembelajaran dapat membantu peserta didik dalam


meningkatkan motivasi belajar sehingga proses pembelajaran yang terjadi akan lebih
aktif dan menyenangkan, suasana belajar yang aktif dari semua pihak di dalam kelas,
maka pembelajaran akan memberikan hasil yang baik.
Selain permasalahan prestasi atau hasil belajar, dalam pembelajaran
Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan di SMP ditekankan pula pendidikan
pembentukan karakter, terutama yang berkaitan dengan penumbuhan dan
pengembangan sikap nasionalisme dan cinta tanah air. Dalam hal pembentukan
karakter tersebut, pembelajaran PPKn merupakan sarana strategis yang dapat
diintegrasikan ke dalam setiap kompetensi dasar.
Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) merupakan mata
pelajaran yang diharapkan dapat membina moral peserta didik dan pembentukan
karakter peserta didik, salah satunya adalah sikap cinta tanah air. Dalam hal ini, mata
pelajaran PPKn mempunyai misi untuk membantu para peserta didik belajar agar
menjadi warga negara yang memilki rasa kebangaan dan rasa cinta tanah air serta
bertanggung jawab dan berpartisipasi di masyarakat demokratis yang majemuk dalam
suku, bahasa, agama, budaya maupun adat istiadat. Dari pemaparan misi mata
pelajaran PPKn tersebut, dapat kita lihat bahwa cinta tanah air merupakan salah satu
indicator terhadap sikap patriotisme. Adapun halnya dengan peserta didik sebagai
generasi muda yang dapat memahami dan dapat mengerti betapa penting sikap
patriotisme yang dari pengertiannya sebagai cinta kepada bangsa, Negara, rakyat dan
tanah air. Sikap patriotisme merupakan sikap yang bersumber dari perasaan cinta
pada tanah air sehingga menimbulkan kerelaan berkorban untuk bangsa dan
Negaranya.
Cinta tanah air merupakan pengalaman dan wujud dari sila persatuan
Indonesia yang dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari di keluarga, sekolah
dan masyarakat. Oleh karena itu, rasa cinta tanah air perlu ditumbuhkembangkan
dalam jiwa setiap individu sejak usia dini yang menjadi warga dari sebuah negara
atau bangsa agar tujuan hidup bersama dapat tercapai. Salah satu cara untuk
6

menumbuhkembangkan rasa cinta tanah air adalah dengan menumbuhkan rasa


bangga terhadap tanah airnya melalui proses pendidikan. Proses pendidikan di
sekolah diajarkan oleh guru, guru merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan
setiap upaya pendidikan. Sebagai pengajar dan pendidik guru harus memiliki
kompetensi atau kemampuan yang sesuai dalam pembelajaran untuk meningkatkan
kualitas pembelajaran. Menurut Suparno posisi dan peran guru berhadapan langsung
dengan peserta didik melalui proses pembelajaran di sekolah, maka upaya
meningkatan kualitas pembelajaran sebagian besar menjadi tugas dan tanggung jawab
guru.8 Oleh karena itu, pemilihan model pembelajaran yang menarik akan dapat
menunjang keberhasilan pembentukan karakter tersebut.
Salah satu model pembelajaran yang berpijak pada pandangan konstruktivis
adalah pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang
memberikan kesempatan kepada para peserta didik melaksanakan kegiatan belajar
bersama dengan kelompok kecil (antara 4 sampai 5 orang). Dalam pembelajaran
kooperatif masing-masing peserta didik anggota kelompok bertanggung jawab
terhadap keberhasilan diri dan anggotanya. Mereka harus saling membantu
melaksanakan tugas yang diberikan kepada kelompoknya sehingga setiap anggota
kelompok mencapai potensi optimal yang mungkin diraihnya. Sampai saat ini sudah
cukup banyak tipe pembelajaran kooperatif yang dikembangkan, salah satu di
antaranya adalah Teams Games Turnament (TGT).
Strategi pembelajaran kooperatif diduga dapat diterapkan pada proses
pembelajaran sebagai solusi terhadap masalah yang telah dikemukakan sebelumnya.
Strategi pembelajaran kooperatif merupakan aktivitas pembelajaran kelompok yang
diorganisasikan oleh satu prinsip bahwa pembelajaran harus didasarkan pada
perubahan informasi secara sosial di antara kelompok-kelompok pembelajar yang di
dalamnya setiap pembelajar bertanggung jawab atas pembelajarannya sendiri dan
didorong untuk meningkatkan pembelajaran anggota-anggota lain.

8
Paul Suparno. filsafat Kontruktivisme dalam Pendidikan, (Yogyakarta: Kansius, 2006) Cet ke-7,
h. 47
7

Tidak hanya peserta didik yang aktif dalam strategi pembelajaran kooperatif,
tetapi juga guru sebagai fasilitator memberikan dukungan dan menetapkan tugas dan
mempersiapkan pertanyaan-pertanyaan serta menyediakan alat-alat media dan sumber
informasi yang dirancang untuk membantu peserta didik menyelesaikan masalah yang
sesuai materi ketika proses belajar berlangsung. Di akhir pembelajaran guru
memberikan tes serta penilaian.
Strategi pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran dengan
menggunakan sistem pengelompokkan/tim kecil, yaitu antara empat sampai enam
orang yang mempunyai latar belakang kemampuan akademik, jenis kelamin, ras, atau
suku yang berbeda (heterogen). Sistem penilain dilakukan terhadap kelompok. Setiap
kelompok akan memperoleh penghargaan (reward), jika kelompok mampu
menunjukkan prestasi yang dipersyaratkan. Dengan demikian, setiap anggota
kelompok akan mempunyai ketergantungan positif. Ketergantungan semacam itulah
yang selanjutnya akan memunculkan tanggung jawab individu terhadap kelompok dan
keterampilan interpersonal dari setiap anggota kelompok. Setiap individu akan saling
membantu, mereka akan mempunyai motivasi untuk keberhasilan kelompok, sehingga
setiap individu akan memilki kesempatan yang sama untuk memberikan kontribusi
demi keberhasilan kelompok.
Jadi, hal yang menarik dari strategi pembelajaran kooperatif adalah harapan
selain memiliki dampak pembelajaran, yaitu berupa peningkatan hasil belajar peserta
didik, juga mempunyai dampak pengiring seperti relasi sosial, penerimaan terhadap
peserta didik yang dianggap lemah, harga diri, penghargaaan terhadap waktu, dan
suka memberi pertolongan kepada yang lain.
SMP Negeri 3 Sukaresmi, Kabupaten Cianjur, merupakan sekolah menengah
pertama yang berada di daerah, yang relatif jauh dari jangkauan pengaruh budaya
kota secara menyeluruh. Pengetahuan para peserta didik di daerah tersebut tentang
nasionalisme relatif masih sederhana dan bergantung kepada pengetahuan yang
mereka peroleh di bangku sekolah, yakni selama di sekolah dasar. Sikap cinta tanah
air tersebut diimplementasikan melalui cara-cara yang terbatas sesuai dengan
8

pengetahuan yang dimilikinya, seperti mengikuti upacara bendera setiap hari Senin di
sekolah, memperingati hari-hari besar nasional, serta mengagumi tokoh-tokoh dan
pahlawan nasional yang telah berjuang demi bangsa dan negara. Mereka belum
memahami dengan baik bagaimana mengimplementasikan sikap cinta tanah air yang
mereka miliki melalui tindakan-tindakan lain dalam kehidupan dan aktivitas
keseharian mereka.
Di sisi pelaksanaan pembelajaran, SMP Negeri 3 Sukaresmi belum dapat
melaksanakan proses pembelajaran secara ideal, mengingat kondisi sekolah yang
sementara ini masih menumpang di SD Negeri Chandra Kusumah, yang terletak tidak
terlalu jauh dari lokasi SMP asal. Kondisi ini menyebabkan waktu belajar peserta
didik menjadi terbatas serta tidak dapat melaksanakan pembelajaran secara maksimal.
Kegiatan belajar mengajar pun dilaksanakan menunggu ruang kelas selesai digunakan
oleh para peserta didik SD.
Keberadaan waktu belajar yang dimulai pada siang hari, sering menyebabkan
proses pembelajaran tidak dapat berjalan maksimal. Berbagai kendala kerap
ditemukan, terutama ketika sudah memasuki musim penghujan. Lokasi sekolah yang
berbatasan dengan daerah Puncak Cianjur memungkinkan sering turunnya embun
pada petang hari yang menyebabkan ruang menjadi kurang terang dan tidak ideal
digunakan bagi proses pembelajaran. Di sisi lain, pembelajaran pada siang hari sering
menyebabkan suasana yang kurang menyenangkan, seperti rasa lelah dan kantuk.
Oleh sebab itu, kondisi seperti ini perlu disiasati dengan penggunaan modal-model
pembelajaran yang dapat menyenangkan peserta didik. Model pembelajaran Team
Games Tournament (TGT) diduga dapat mengatasi permasalahan yang terdapat di
SMP Negeri 3 Sukaresmi saat ini, sehingga model pembelajaran ini dipilih untuk
diteliti.
Berdasar kepada latar belakang permasalahan di atas, dilakukan penelitian
dengan judul ”Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Team Games
Tournament dalam Meningkatkan Hasil Belajar dan Sikap Cinta Tanah Air pada
materi Pokok Norma dan Keadilan (Penelitian Tindakan Kelas pada Peserta didik
9

Kelas VII SMP Negeri 3 Sukaresmi, Kabupaten Cianjur Semester Ganjil Tahun
Pelajaran 2019-2020”.

B. Identifikasi Masalah
Berdasar kepada latar belakang masalah penlitian yang dikembangkan di atas,
dapat teridentifikasi beberapa masalah yang mendasari penelitian ini. Masalah-
masalah yang teridentifikasi tersebut adalah sebagai berikut.
1. Pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) merupakan
pembelajaran yang telah lama diikuti oleh seluruh peserta didik sejak kelas I SD,
sehingga sebagian besar peserta didik beranggapan bahwa pembelajaran PPKn
merupakan pembelajaran yang lebih banyak mendengarkan ceramah,
mengerjakan tugas, dan mencatat hal-hal penting dalam buku catatan.
2. Pemilihan model pembelajaran inovatif hampir tidak pernah dilakukan karena
beberapa alasan yang berkaitan dengan teknis serta jumlah waktu yang
digunakan. Pembelajaran kooperatif atau kontekstual memerlukan waktu yang
relatif lebih banyak daripada penggunaan metode konvensional.
3. Rata-rata hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila
dan Kewarganegaraan di SMP Negeri 3 Sukaresmi masih di bawah Kriteria
Ketuntasan Minimum (KKM) yang dipersyaratkan, yakni sebesar 75.
4. Peserta didik kelas VII masih membawa sikap dan perilaku mereka ketika di
Sekolah Dasar, terutama dalam melaksanakan tata tertib di kelas, sikap selama
pembelajaran, serta pada saat melaksanakan upacara bendera setiap hari Senin.

C. Pembatasan Masalah
Agar penelitian ini dapat lebih terarah, jelas dan tidak meluas, maka
diperlukan pembatasan masalah. Pada penelitian ini, permasalahan difokuskan
kepada hal-hal sebagai berikut.
1. Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Team games tournament dalam
pembelajaran PPKn.
10

2. Hasil belajar peserta didik secara kognitif untuk mencapai KKM yang
dipersyaratkan.
3. Peningkatan sikap cinta tanah air melalui pelaksanaan disiplin dan tata tertib
sekolah dalam keseharian mereka di sekolah.

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan pembatasan masalah yang dirumuskan di atas, permasalahan


dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Apakah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Team games
tournament dapat meningkatkan hasil belajar PPKn pada peserta didik kelas VII
SMP Negeri 3 Sukaresmi, Kabupaten Cianjur?
2. Apakah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Team games
tournament dapat meningkatkan sikap cinta tanah air pada peserta didik kelas VII
SMP Negeri 3 Sukaresmi, Kabupaten Cianjur?
3. Apakah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Team games
tournament dapat meningkatkan hasil belajar dan sikap cinta tanah air pada
peserta didik kelas VII SMP Negeri 3 Sukaresmi, Kabupaten Cianjur?

E. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan masalah yang dirumuskan di atas, penelitian ini bertujuan


untuk mendeskripsikan hal-hal sebagai berikut.
1. Dampak penerapan pembelajaran kooperatif tipe Team games tournament
terhadap peningkatan hasil belajar PPKn pada peserta didik kelas VII SMP Negeri
3 Sukaresmi, Kabupaten Cianjur.
2. Dampak penerapan pembelajaran kooperatif tipe Team games tournament
terhadap peningkatan sikap cinta tanah air pada peserta didik kelas VII SMP
Negeri 3 Sukaresmi, Kabupaten Cianjur.
11

3. Dampak penerapan pembelajaran kooperatif tipe Team games tournament


terhadap peningkatan hasil belajar sikap cinta tanah air pada peserta didik kelas
VII SMP Negeri 3 Sukaresmi, Kabupaten Cianjur.

F. Kegunaan Penelitian

Berdasarkan tujuan yang akan dicapai, penelitian ini diharapkan mampu


memberikan kontribusi dalam dunia pendidikan. Adapun manfaat penelitian yang
diharapkan dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Manfaat Teoretis
Secara teoretis hasil penelitian ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca
sebagai referensi dan dapat menjadi salah satu solusi kepada peneliti dalam
mengembangkan model pembelajaran, khususnya untuk mata pelajaran
Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, sehingga dapat menerapkan model-
model pembelajaran yang lebih bervariasi kepada peserta didik.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Peneliti
Sebagai bukti akhir perkuliahan serta persyaratan penyelesaian studi
memperoleh Magister Pendidikan pada program pascasarjana.
b. Bagi Peserta didik
1) Mengajak peserta didik untuk menjadi lebih aktif dalam proses belajar.
2) Menumbuhkan kerjasama serta rasa kebersamaan antar peserta didik
3) Menciptakan suasana belajar yang menyengangkan, bervariasi dan
memperoleh pengalaman belajar serta menghilangkan rasa jenuh, bosan
saat belajar
4) Mempersiapkan diri sebaik mungkin dalam diskusi kelompok dan
menumbuhkan rasa tanggung jawab pada setiap peserta didik
5) Meningkatkan minat serta hasil belajar dan sikap cinta tanah air pada
mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, sehingga
12

peserta didik pun dapat menerapkan sikap perilaku cinta tanah air dalam
kehidupan sehari-hari.
c. Bagi Guru
1) Menjadi sumber informasi bagi profesi guru selaku fasilitatir pembel-
ajaran di sekolah agar dapat mengelola pembelajaran lebih efektif lagi.
2) Sebagai sumber pengetahuan dalam penggunaan model-mode pembel-
ajaran yang kreatif dan inovatif serta menyenangkan agar proses pembel-
ajaran dapat lebih efektif dan tidak menjenuhkan.
d. Bagi Sekolah
Memberikan masukan yang bermanfaat bagi sekolah dalam rangka perbaikan
kualitas proses belajar mengajar, khususnya pada mata pelajaran Pendidikan
Pancasila dan Kewarganegaraan, serta meningkatkan mutu pendidikan. Selain
itu, diharapkan pula sekolah dapat menetapkan kebijakan agar guru selalu
berupaya untuk menerapkan proses pembelajaran yang bervariasi, kreatif dan
inovatif agar terjalin komunikasi dua arah antara guru dan peserta didik serta
tujuan yang diharapkan dapat tercapai.