Anda di halaman 1dari 53

13

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA BERPIKIR, DAN HIPOTESIS


TINDAKAN

A. Deskripsi Konseptual

1. Hakikat Pembelajaran Kooperatif

a. Pengertian Pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran yang bernaung dalam teori konstruktivism adalah pembelajaran


kooperatif. Pembelajaran kooperatif muncul dari konsep bahwa peserta didik akan
lebih mudah menemukan dan memahami konsep yang sulit jika mereka saling
berdiskusi dengan temannya. Peserta didik secara rutin bekerja dalam kelompok untuk
saling membantu memecahkan masalah-masalah yang kompleks. Jadi, hakikat sosial
dan penggunaan kelompok sejawat menjadi aspek utama dalam pembelajaran
kooperatif.1

Pembelajaran kooperatif adalah konsep yang lebih luas meliputi semua jenis
kerja kelompok termasuk bentuk-bentuk yang lebih dipimpin oleh guru atau
diarahkan oleh guru. Secara umum pembelajaran kooperatif dianggap lebih diarahkan
oleh guru, guru menetapkan tugas dan pertanyaan-pertanyaan serta menyediakan
bahan-bahan dan informasi yang dirancang untuk membantu peserta didik
menyelesaikan masalah yang dimaksud. Guru biasanya menetapkan bentuk ujian
tertentu pada akhir tugas.2 Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang secara
sadar dan sengaja mengembangkan interaksi dan saling asuh antar peserta didik untuk

1
Trianto, Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik, (Jakarta: Prestasi
Pustaka, 2007), h. 41
2
Agus Suprijono, Cooperatif Learning dan Teori Aplikasi PAIKEM, (Yogyakarta: Pustaka Belajar,
2012), h. 54

13
14

menghindari ketersinggungan dan kesalahpahaman yang dapat menimbulkan


permusuhan.3

Menurut Slavin, dalam Etin Solihatin dan Raharja, disebutkan bahwa


pembelajaran kooperatif adalah strategi pembelajaran di mana peserta didik belajar
dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya
terdiri dari 4 sampai 6 orang, dengan struktur kelompoknya yang bersifat heterogen.
Selanjutnya dikatakan pula, keberhasilan dari kelompok tergantung dari kemampuan
dan aktivitas anggota kelompok, baik secara individual maupun secara kelompok.4

Pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang berorientasi


pada tim (kelompok). Pada pembelajaran kooperatif ini peserta didik berada dalam
kelompok kecil dengan anggota sebanyak kurang lebih 4 sampai 5 orang. Dalam
belajar secara kooperatif ini terjadi interaksi antara anggota kelompok. Semua
anggota kelompok harus turut terlibat, karena keberhasilan kelompok ditunjang oleh
aktivitas anggotanya, sehingga anggota kelompok saling membantu.

Sehubungan dengan pengertian tersebut, penulis menambahkan bahwa belajar


kooperatif adalah pemanfaatan kelompok kecil dalam pembelajaran yang memungkin-
kan peserta didik bekerja sama untuk memaksimalkan belajar mereka dan belajar
anggota lainnya dalam kelompok.

Sebuah analisis penelitian menunjukan, dalam kelompok peserta didik-peserta


didik akan belajar lebih cepat, dan bahwa pengalaman kelompok sering beralih ke
anggota-anggota kelompok sehingga mereka bekerja lebih efektif. Akan tetapi, ada
beberapa keterbatasannya. Beberapa peserta didik yang pandai tidak menikmati
manfaat dari pengalaman belajar berkelompok, dan bagi mereka proses sosial yang
terjadi di dalam kelompok sebenarnya merupakan hambatan bagi kegiatan belajar

3
Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, (Jakarta: Kencana,
2010), h. 359
4
Etin Solihatin dan Raharja, Cooperatif Learning, (Jakarta: Bumi Aksara, 2009), h. 4
15

mereka. Namun, keuntungan kerja kelompok ini terletak pada perubahan yang
menyangkut motivasi, emosi dan sikap.5

Melalui strategi pembelajaran kooperatif, peserta didik bukan hanya belajar


dan menerima apa yang disajikan oleh guru dalam proses belajar mengajar, melainkan
bisa juga belajar dari peserta didik lainnya, dan sekaligus mempunya kesempatan
untuk membelajarkan peserta didik yang lain, sehingga semua peserta didik dapat
menguasai materi pada tingkat penguasaan yang relatif sama atau sejajar. Pada saat
peserta didik belajar dalam kelompok akan berkembang suasana belajar yang terbuka
dalam dimensi kesejawatan, karena pada saat itu akan terjadi proses belajar
kolaboratif dalam hubungan pribadi yang saling membutuhkan. Pada saat itu juga
peserta didik belajar dalam kelompok kecil akan tumbuh dan berkembang pola belajar
tutor sebaya dan belajar secara bekerjasama. Pada saat proses pembelajaran, guru
bukan lagi berperan sebagai satu-satunya nara sumber, tetapi berperan sebagai
mediator, stabilisator dan manajer pembelajaran.

Strategi pembelajaran kooperatif tampak akan dapat melatih peserta didik


untuk mendengar pendapat-pendapat orang lain dan menyimpulkan dalam suatu
pendapat, pendidik membentuk peserta didiknya untuk mudah memahami materi dan
sesama peserta didik harus saling membantu. Hal ini memang sangat dianjurkan
dalam Al-Qur’an untuk saling tolong-menolong, yang dijelaskan dalam surat At-
Taubah ayat 71 yang artinya sebagai berikut.

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka


(adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh
(mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat,
menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan
diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha
Bijaksana”. (QS. At-Taubah: 71).6

5
Mukhtar dan Martinis Yamin, Metode Pembelajaran yang Berhasil, (Jakarta: Sasama Mitra
Suksesa, 2002), h. 49
6
Al-Qur’an dan Terjemahnya. Al-Qur’an Cordoba Spesial for Muslimah, (Bandung: PT Cordoba
Internasional Indonesia, 2012), h. 198
16

Dari ayat di atas dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran kooperatif


merupakan strategi pembelajaran yang menekankan peserta didiknya untuk belajar
bekerja sama dalam memecahkan suatu permasalahan yang ada, dengan bentuk
kelompok kecil, yang bertujuan untuk mengasah imajinasi peserta didik, yang
memiliki tingkat kemampuan dengan latar belakang yang berbeda, mulai dari tingkat
kemampuan yang tinggi, sedang maupun yang rendah. Serta dapat melatih peserta
didik untuk bisa berinteraksi dengan baik antar sesama, akan menciptakan pribadi-
pribadi yang memiliki rasa tanggung jawab dan mampu menghargai pendapat orang
lain.

b. Ciri-ciri Pembelajaran Kooperatif

Sanjaya mengungkapkan pembelajaran kooperatif dapat dijelaskan dalam


beberapa perspektif, yaitu perspektif motivasi artinya penghargaan yang diberikan
kepada kelompok yang dalam kegiatannya saling membantu untuk memperjuangkan
keberhasilan kelompok, perspektif sosial artinya melalui kooperatif setiap peserta
didik akan saling membantu dalam belajar, karena mereka ingin semua anggota
kelompok memperoleh keberhasilan, perspektif perkembangan kognitif artinya
dengan adanya interaksi antar anggota kelompok dapat mengembangkan prestasi
peserta didik untuk berpikir mengolah informasi.7
Adapun karakteristik atau pembelajaran kooperatif dapat dijelaskan dalam
Rusman8 sebagai berikut.
1) Pembelajaran Secara Tim
Pembelajaran kooperatif pembelajaran yang dilakukan secara tim. Tim
merupakan tempat untuk mencapai tujuan. Oleh karena itu, tim harus mampu
membuat setiap peserta didik belajar. Setiap anggota tim harus saling
membantu untuk mencapai tujuan.
2) Didasarkan Pada Manajemen Kooperatif
7
Wina Sanjaya, op.Cit. h. 348
8
Rusman, Model-Model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru, (Jakarta: Rajawali
Pers, 2011), Edisi Kedua, hh. 206-208
17

Manajemen mempunyai tiga fungsi yaitu a) fungsi manajemen sebagai


perencanaan pelaksanaan menunjukan bahwa pembelajaran kooperatif
dilaksanakan sesuai dengan perencanaan, dan langkah-langkah pembelajaran
yang sudah ditentukan. Misalnya tujuan apa yang harus dicapai, bagaimana
cara mencapainya, apa yang harus digunakan untuk mencapai tujuan, dan lain
sebagainya; b) fungsi manajemen sebagai organisasi, menunjukkan bahwa
pembelajaran kooperatif memerlukan perencanaan yang matang agar proses
pembelajaran berjalan dengan efektif; c) fungsi manajemen sebagai kontrol,
menunjukkan bahwa dalam pembelajaran kooperatif perlu ditentukan kriteria
keberhasilan baik melalui bentuk tes maupun non tes.
3) Kemauan Untuk Bekerja Sama
Keberhasilan pembelajaran kooperatif ditentukan oleh keberhasilan secara
kelompok, oleh karenanya prinsip kebersamaan atau kerja sama perlu
ditentukan dalam pembelajaran kooperatif. Tanpa kerja sama yang baik,
pembelajaran kooperatif tidak akan mencapai hasil yang maksimal.
4) Keterampilan Bekerja Sama
Keterampilan bekerja sama itu dipraktikkan melalui aktivitas dalam kegiatan
pembelajaran secara kelompok. Dengan demikian, peserta didik perlu
didorong untuk mau dan sanggup berinteraksi dan berkomunikasi dengan
anggota lain dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran yang telah
ditetapkan.
Muslim Ibrahim, dalam Rusman, mengatakan bahwa pembelajaran koopertif
dicirikan oleh struktur tugas, tujuan, dan penghargaan kooperatif. Peserta didik yang
bekerja dalam situasi pembelajaran kooperatif didorong dan dikehendaki untuk
bekerja sama pada suatu tugas bersama dan mereka harus mengoordinasikan usahanya
untuk menyelesaikan tugasnya. Dalam penerapan pembelajaran kooperatif, dua atau
lebih individu saling tergantung satu sama lain untuk mencapai penghargaan
bersama.9
9
Ibid. h. 210.
18

c. Konsep dan Aturan Dasar Pembelajaran Kooperatif

Dalam menggunakan model pembelajaran kooperatif, ada beberapa konsep


dasar yang perlu diperhatikan sebagai berikut.

1) Perumusan tujuan belajar peserta didik harus jelas


2) Penerimaan yang menyeluruh oleh peserta didik tentang tujuan belajar
3) Ketergantungan yang bersifat pasif
4) Interaksi yang bersifat terbuka
5) Tanggung jawab individu
6) Kelompok bersifat heterogen
7) Interaksi sikap dan perilaku sosial yang positif
8) Tindak lanjut
9) Kepuasan dalam belajar.10

Selain konsep dasar, terdapat pula aturan dasar yang harus diperhatkan dalam
pembelajaran kelompok.

1) Peserta didik tetap berada dalam kelompoknya selama proses


pembelajaran berlangsung.
2) Peserta didik mengajukan pertanyaaan kepada kelompoknya
sebelum menayakan kepada gurunya.
3) Peserta didik harus memberikan umpan balik pada ide-ide
temannya dan peserta didik dianjurkan untuk menghindari pemberian kritik.11

d. Tujuan Pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran kooperatif merupakan sebuah kelompok strategi pengajaran


yang melibatkan peserta didik bekerja secara berkolaborasi untuk mencapai tujuan
bersama. Pembelajaran kooperatif disusun dalam sebuah usaha untuk meningkatkan
10
Etin Solihatin, op.Cit. hh. 6-9
11
Muslihuddin, Ade Sudrajat dan Ujang Hendara, Revolusi Mengajar: Panduan Praktis Seorang
Guru untuk Mendesain Pembelajaran dan Penelitian, (Bandung: HPD Press, 2012), h. 63
19

partisipasi peserta didik, memfasilitasi siwa dengan pengalaman sikap kepemimpinan


dan membuat keputusan dalam kelompok, serta memberikan kesempatan pada peserta
didik untuk berinteraksi dan belajar bersama-sama peserta didik yang beebeda latar
belakangnya. Jadi, dalam pembelajaran kooperatif peserta didik berperan ganda yaitu
sebagai peserta didik serta sebagai guru. Dengan bekerja secara kolaboratif untuk
mencapai sebuah tujuan bersama, maka peserta didik akan mengembangkan
keterampilan berhubungan dengan sesama manusia yang akan sangat bermanfaat bagi
kehidupan di luar sekolah.
Tujuan-tujuan ini mencakup tiga jenis tujuan penting, yaitu hasil belajar
akademik, unggul dalam membantu peserta didik dalam memahami konsep-konsep
yang sulit, dan membantu peserta didik menumbuhkan kemampuan berpikir kritis.
Pembelajaran kooperatif dapat memberikan keuntungan bagi peserta didik yang
bekerja sama dalam menyelesaikan tugas- tugas akademik. Pembelajaran kooperatif
mempunyai efek yang berarti terhadap penerimaan yang luas terhadap keragaman ras,
budaya dan agama, strata sosial, kemampuan, dan ketidakmampuan. Pembelajaran
kooperatif memberikan peluang kepada peserta didik yang berbeda latar belakang dan
kondisi untuk bekerja saling bergantung satu sama lain atas tugas- tugas bersama, dan
melalui penggunaan struktur penghargaan kooperatif, belajar untuk menghargai satu
sama lain.
Keterampilan sosial atau kooperatif berkembang secara signifikan dalam
pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif sangat tepat digunakan untuk
melatihkan keterampilan-keterampilan kerjasama dan kolaborasi, dan juga
keterampilan-keterampilan tanya-jawab.12
Tujuan pokok belajar kooperatif memaksimalkan belajar peserta didik untuk
meningkatkan prestasi akademik dan pemahaman baik secara individu maupun
kelompok. Karena peserta didik bekerja dalam suatu tim, maka dengan sendirinya
dapat memperbaiki hubungan di antara para peserta didik dari berbagai latar belakang

12
Trianto, op.Cit. hh. 41-45
20

etnis dan kemampuan, mengembangkan keterampilan-keterampilan proses kelompok


dan pemecahan masalah.13
Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai tiga tujuan
pembelajaran yang sangat penting sebagai berikut.
1) Prestasi Akademik
Meskipun pembelajaram kooperatif mencangkup bebagai tujuan sosial, namun
pembelajaraan kooperatif dapat juga digunakan untuk meningkatkan pretasi
akademik.
2) Penerimaan akan Keanakaragaman
Efek penting kedua dari model pembelajaran kooperatif adalah penerimaan
yang lebih luas dari orang-orang yang berbeda berdasarkan ras, budaya, kelas
sosial, kemampuan dan ketidakmampuannya.
3) Pengembangan Keterampilan Sosial
Efek penting ketiga adalah mengajarkan kepada peserta didik ketrampilan-
ketrampilan kerjasama dan kolaborasi.14

2. Hakikat Model Pembelajaran Team games tournament (TGT)

a. Pengertian Model Pembelajaran Team games tournament (TGT)

Teams Games Tournaments (TGT) merupakan salah satu strategi


pembelajaran kooperatif yang dikembangkan oleh Slavin untuk membantu peserta
didik mereview dan menguasai materi pembelajaran. Slavin menemukan bahwa TGT
berhasil meningkatkan skil-skil dasar, pencapaian, interaksi positif antar peserta
didik, harga diri, dan sikap permainan pada peserta didik-peserta didik lain yang
berbeda.15

13
Trianto. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif Konsep Landasan, dan
Implementasinya pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), (Jakarta: Prenada Media
Group, 2010), h. 57
14
Muslihudin, op.Cit. h. 63.
15
Miftahul Huda, Model-model Pengajaran dan Pembelajaran, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,
2014), h. 197
21

Pembelajaran kooperatif model Teams Games Tournaments (TGT) adalah


salah satu tipe atau model pembelajaran kooperatif yang mudah diterapkan,
melibatkan seluruh peserta didik tanpa harus ada perbedaan status. Model
pembelajaran ini melibatkan peran peserta didik sebagai tutor sebaya, mengandung
unsur permainan yang bisa menggairahkan semangat belajar.16 Aktivitas belajar
dengan permainan yang dirancang dalam pembelajaran kooperatif model Teams
Games Tournaments (TGT) memungkinkan peserta didik dapat belajar lebih rileks di
samping menumbuhkan tanggung jawab, kejujuran, kerja sama, persaingan sehat, dan
keterlibatan belajar.

Slavin mendefinisikan Teams Games Tournaments (TGT) merupakan


turnamen akademik, dan menggunakan kuis-kuis dan sistem skor kemajuan individu,
di mana para peserta didik berlomba sebagai wakil tim mereka dengan anggota tim
lain yang kinerja akademik sebelumnya setara seperti mereka.17 Menurut Hamdani
komponen-komponen Teams Games Tournament terdiri dari presentasi di kelas, tim,
game, turnamen, dan rekognisi tim.18 Adapun komponen-komponen tersebut akan
dijelaskan sebagai berikut.

1) Penyajian Kelas
Pada awal pembelajaran, guru menyampaikan materi dalam penyajian kelas,
biasanya dilakukan dengan pengajaran langsung atau dengan ceramah, diskusi
yang dipimpin guru. Pada saat penyajian kelas ini, peserta didik harus benar-
benar memperhatikan dan memahami materi yang disampaikan guru, karena
akan membantu peserta didik pada saat kerja kelompok dan pada saat game
karena skor game akan menentukan skor kelompok.
2) Kelompok (Tim)

16
Fathurrohman, Muhammad. Model-model Pembelajaran Inovatif. (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media,
2015), h. 57.
17
Slavin, Robert E. Cooperative Learning, Teori Riset dan Praktik. (Bandung: Nusa Media, 2015),
terj. Sudarsono, h. 163.
18
Hamdani, Strategi Belajar Mengajar. (Bandung: Pustaka Setia, 2010), hh. 92-93
22

Kelompok biasanya terdiri dari 4 sampai 5 orang yang anggotanya heterogen


dilihat dari prestasi akademik, jenis kelamin, dan ras atau etnik. Fungsi
kelompok adalah lebih mendalami materi bersama teman kelompoknya dan
lebih khusus untuk mempersiapkan anggota kelompoknya agar lebih bekerja
dengan baik dan optimal pada saat game.
3) Game
Game terdiri dari pertanyaan-pertanyaan yang dirancang untuk menguji
pengetahuan yang didapat peserta didik dari penyajian kelas dan belajar
kelompok. Kebanyakan game terdiri dari pertanyaan-petanyaan sederhana
bernomor. Peserta didik memilih kartu dan mencoba menjawabnya. Peserta
didik yang benar akan mendapat skor. Skor ini yang nantinya dikumpulkan
untuk turnamen
4) Turnamen
Turnamen adalah susunan beberapa game yang dipertandingkan. Biasanya
tuernamen dilakukan pada akhir minggu atau setiap unit setelah guru
melakukan presentasi kelas dan kelompok sudah mengerjakan lembar kerja.
Turnamen pertama guru membagi peserta didik tertinggi prestasinya
dikelompokkan pada meja I, tiga peserta didik selanjutnya diletakkan pada
meja selanjutnya pada meja II, dan seterusnya.
5) Rekognisi
Penghargaan diberikan kepada tim yang menang atau mendapat skor tertinggi.
Skor tersebut pada akhirnya akan dijadikan sebagai tambahan nilai tugas
peserta didik. Selain itu diberikan pula hadiah (reward) sebagai motivasi
belajar.

b. Langkah-langkah Model Pembelajaran Team games tournament

Langkah-langkah dalam pembelajaran kooperatif mengikuti urutan sebagai


berikut: pengaturan klasikal, belajar kelompok, turnamen akademik, penghargaan tim
23

dan pemindahan atau bumping.19 Dalam pelaksanaannya disusun dalam dua tahap,
yaitu pra kegiatan pembelajaran dan detail kegiatan pembelajaran.

Adapun langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe Team games


tournament menurut Slavin20 diuraikan sebagai berikut.

1) Persiapan Penerapan Model TGT


a) Materi
Materi dalam pembelajaran kooperatif model TGT dirancang sedemikian
rupa untuk pembelajaran kelompok. Oleh karena itu, guru harus
mempersiapkan work sheet yaitu materi yang akan dipelajari pada saat
belajar kelompok, dan lembar jawaban dari work sheet tersebut. Selain itu
guru juga harus mempersiapkan soal-soal turnamen.
b) Membagi peserta didik ke dalam beberapa kelompok
Guru harus mengelompokkan peserta didik dalam satu kelas menjadi 4-5
kelompok yang kemampuannya heterogen. Cara pembentukan dari bawah
ke atas berdasarkan kemampuan akademiknya, dan daftar peserta didik
yang telah diurutkan tersebut dibagi menjadi lima bagian yaitu kelompok
tinggi 1, tinggi 2, sedang 1, sedang 2, dan rendah. Kelompok-kelompok
yang terbentuk diusahakan berimbang baik dalam hal kemampuan
akademik maupun jenis kelamin dan rasanya.
c) Membagi peserta didik ke dalam meja turnamen
Dalam pembelajaran kooperatif model TGT tiap meja turnamen terdiri
dari 4-5 peserta didik yang mempunyai kemampuan homogen dan berasal
dari kelompok yang berlainan.
Gambaran dari pembagian peserta didik dalam meja turnamen dapat
dilihat dari gambar diagram di bawah ini.

19
Tukiran Taniredjam dkk, Model-model Pembelajaran Inovatif, (Bandung: Alfabeta, 2011), h. 70
20
Slavin, op.Cit. hh. 168-169
24

Gambar 2.1 Penempatan Meja Turnamen21


Keterangan:
A-1, B-1, dan C-1 : peserta didik berkemampuan
akademik tinggi
A-2, A-3, B-2, B-3, C-2, C-3 : peserta didik berkemampuan
akademik sedang
A-4, B-4, dan C-4 : peserta didik berkemampuan
akademik rendah
2) Pelaksanaan Game dan Turnamen

a) Setiap kelompok peserta didik memperoleh kartu-kartu soal atau


Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) yang harus dikerjakan agar lebih
optimal dalam pemahaman manteri, sebelum bertanding di dalam
turnamen.

b) Untuk memastikan apakah semua anggota kelompok telah menguasai


materi, maka peserta didik akan bertanding dalam game dan turnamen

21
Aninditya Sri Nugraheni, Penerapan Strategi Cooperative Learning dalam Pembelajaran Bahasa
Indonesia, (Yogyakarta: PT Pustaka Insan Madani, 2012), hh. 184-186
25

ademik. Game hanya diikuti oleh perwakilan dari masing-masing


kelompok, sedangkan turnamen diikuti oleh semua peserta didik.

c) Game atau permainan terdiri dari pertanyaan-pertanyaan yang relevan


dengan materi, dan dirancang untuk menguji pengetahuan yang didapat
peserta didik dari penyajian kelas dan belajar kelompok. Kebanyakan
game atau permainan terdiri dari pertanyaan-pertanyaan sederhana
bernomor. Game atau permainan ini dimainkan pada meja turnamen atau
lomba oleh 3 orang peserta didik yang mewakili tim atau kelompoknya
masing-masing. Peserta didik memilih kartu bernomor dan mencoba
menjawab pertanyaan yang sesuai dengan nomor itu. Peserta didik yang
menjawab benar pertanyaan itu akan mendapat skor. Skor ini yang
nantinya dikumpulkan peserta didik untuk turnamen.

d) Turnamen atau lomba adalah struktur belajar, di mana game atau


permainan terjadi. Biasanya turnamen atau lomba dilakukan pada akhir
minggu atau pada setiap unit setelah guru melakukan presentasi kelas dan
kelompok sudah mengerjakan lembar kerja peserta didik (LKPD).
Turnamen atau lomba pertama guru membagi peserta didik ke dalam
beberapa meja turnamen atau lomba. Tiga peserta didik tertinggi
prestasinya dikelompokkan pada meja I, tiga peserta didik selanjutnya
pada meja II dan seterusnya.

Meja turnamen diurutkan dari tingkatan kemampuan tinggi ke rendah.


Meja 1 untuk peserta didik dengan kemampuan tinggi, meja 2 untuk
peserta didik dengan kemampuan sedang. Meja 3 untuk peserta didik
dengan kemampuan di bawah peserta didik-peserta didik di meja 2, dan
seterusnya. Di meja turnamen tersebut peserta didik akan bertanding
menjawab soal-soal yang disediakan mewakili kelompoknya.
26

Soal-soal turnamen harus dirancang sedemikian rupa agar semua peserta


didik dari semua tingkat kemampuan dapat menyumbangkan poin bagi
kelompoknya. Jadi, guru membuat kartu soal yang sulit untuk peserta
didik pintar, dan kartu dengan soal yang lebih mudah untuk anak yang
kurang pintar.

Peserta didik yang mendapat skor tertinggi akan naik ke meja yang
setingkat lebih tinggi. Peserta didik yang mendapatkan peringkat kedua
bertahan pada meja yang sama, sedangkan peserta didik dengan peringkat-
peringkat di bawahnya akan turun ke meja yang yang tingkatannya lebih
rendah.

Setelah peserta didik ditempatkan dalam meja turnamen, maka turnamen


dimulai dengan memperhatikan aturan-aturannya. Aturan-aturan turnamen
TGT adalah sebagai berikut.

1) Cara Memulai Permainan

Untuk memulai permainan, terlebih dahulu ditentukan pembaca


pertama. Cara menentukan peserta didik yang menjadi pembaca
pertama adalah dengan menarik kartu bernomor. Peserta didik yang
menarik nomor tertinggi adalah pembaca pertama.

2) Kocok dan ambil kartu bernomor dan carilah soal yang berhubungan
dengan nomor tersebut pada lembar permainan.

Setelah pembaca pertama ditentukan, pembaca pertama kemudian


mengocok kartu dan mengambil kartu yang teratas. Pembaca pertama
lalu membacakan soal yang berhubungan dengan nomor yang ada
pada kartu. Setelah itu, semua peserta didik harus mengerjakan soal
tersebut agar mereka siap ditantang. Setelah si pembaca memberikan
jawabannya, maka penantang I (peserta didik yang berada di sebelah
kirinya) berhak untuk menantang jawaban pembaca atau melewatinya.
27

3) Tantang atau lewati

Apabila penantang I berniat menantang jawaban pembaca, maka


penantang I memberikan jawaban yang berbeda dengan jawaban
pembaca. Jika penantang I melewatinya, penantang II boleh
menantang atau melewatinya pula. Begitu seterusnya sampai semua
penantang menentukan akan menantang atau melewati.

Apabila semua penentang sudah menantang atau melewati, penantang


II memeriksa lembar jawaban dan mencocokkannya dengan jawaban
pembaca serta penantang. Siapapun yang jawabannya benar berhak
menyimpan kartunya. Jika jawaban pembaca salah maka tidak
dikenakan sanksi, tetapi bila jawaban penantang salah maka penantang
mendapatkan sanksi. Sanksi tersebut adalah dengan mengembalikan
kartu yang telah dimenangkan sebelumnya (jika ada).

4) Memulai putaran selanjutnya

Untuk memulai putaran selanjutnya, semua posisi bergeser satu posisi


ke kiri. Peserta didik yang tadinya menjadi penantang I berganti posisi
menjadi pembaca, penantang II menjadi penantang I, dan pembaca
menjadi penantang yang terakhir. Setelah itu, turnamen berlanjut
sampai kartu habis atau sampai waktu yang ditentukan guru.

5) Perhitungan poin

Apabila turnamen telah berakhir, peserta didik mencatat nomor yang


telah meraka menangkan pada lembar skor permainan. Pemberian poin
turnamen selanjutnya dilakukan oleh guru. Selanjutnya, poin-poin
tersebut dipindahkan ke lembar rangkuman tim untuk dihitung rerata
skor kelompoknya. Untuk menghitung rerata skor kelompok adalah
dengan menambahkan skor seluruh anggota tim kemudian dibagi
dengan jumlah anggota tim yang bersangkutan.
28

e) Pemberian Penghargaan (Team Recognition)

Masing-masing tim akan mendapat sertifikat/hadiah apabila rata-rata skor


mereka memenuhi kriteria yang ditentukan. Perhitungan poin ditentukan
dengan berpedoman pada tabel penskoran TGT. Perhitungan poin
permainan dibagi ke dalam tiga kelompok yaitu, perhitungan poin
permainan untuk empat pemain, tiga pemain dan dua pemain. Poin
permainan untuk empat pemain, dapat dilihat pada tabel 2.1 berikut ini:

Tabel 2.1 Perhitungan Poin Permainan untuk Empat Pemain

Tidak Seri Seri nilai


Seri Seri Seri Seri nilai
ada nilai Seri 4 tinggi
Pemain nilai nilai nilai rendah 3
yang tinggi 3 macam dan
tertinggi tengah rendah macam
seri macam rendah
Peraih
skor 60 50 60 60 50 60 40 50
tertinggi
Peraih
skor
40 50 40 40 50 30 40 50
tengah
atas
Peraih
skor
30 30 40 30 50 30 40 30
tengah
bawah
Peraih
skor 20 20 20 30 20 30 40 30
terendah

Berdasarkan tabel di atas perhitungan poin permainan dibagi 8


kategori yaitu: tidak ada yang seri, seri nilai tertinggi, seri nilai tengah, seri
nilai rendah, seri nilai tertinggi 3 macam, seri nilai terendah 3 macam, seri
4 macam, seri nilai tertinggi dan terendah. Kolom pemain terdiri dari yang
paling atas yaitu peraih skor tertinggi, peraih skor tengah atas, peraih skor
tengah bawah dan peraih skor terendah, kemudian perolehan poin masing-
masing pemain akan diakumulasi dan dihitung rata-rata kelom28poknya.
29

Perhitungan poin permainan untuk tiga pemain dapat dilihat pada


tabel 2.2 berikut.

Tabel 2.2 Perhitungan Poin Permainan untuk Tiga Pemain

Tidak ada Seri nilai Seri nilai Seri 3


Pemain
yang seri tertinggi terendah macam
Peraih skor tertinggi 60 50 60 40
Peraih skor tengah 40 50 30 40
Peraih skor rendah 30 50 30 40

Berdasarkan tabel di atas perhitungan poin permainan dibagi 4


kategori penilaian yaitu: 1) tidak ada yang seri, maka peraih skor tertinggi
mendapat 60 poin, skor tengah 40 poin dan skor terendah 30 poin; 2) seri
nilai tertinggi, maka 2 peraih skor tertinggi mendapatkan poin yang sama
yaitu 50 poin dan 1 peraih skor terendah mendapat skor 20 poin; 3) seri
nilai terendah, maka 2 peraih skor terendah mendapat poin yang sama yaitu
30 poin dan 1 peraih skor tertinggi mendapat skor 60 poin; 4) seri tiga
macam, maka ketiga pemain tersebut mendapatkan poin yang sama yaitu
40 poin.
Selanjutnya, perhitungan poin permainan untuk 2 pemain dapat
dilihat pada tabel 2.3 berikut.

Tabel 2.3 Perhitungan Poin Permainan untuk 2 Pemain

Pemain Tidak seri Seri


Peraih skor tertinggi 60 40
Peraih skor terendah 20 40

Berdasarkan tabel 2.3 perhitungan poin dibagi 2 kategori yaitu: 1)


tidak seri, maka peraih skor tertinggi mendapat poin 60 dan peraih skor
terendah mendapat poin 20; 2) seri, maka pemain dengan peraih skor
tertinggi dan terendah mendapat skor yang sama yaitu 40 poin. Ada tiga
30

penghargaan yang dapat diberikan dalam penghargaan tim. Penghargaan


kelompok diberikan berdasarkan rerata skor kelompok. Penghargaan
kelompok diberikan sesuai kriteria berikut.

Tabel 2.4 Penghargaan Tim22

Kriteria (rata-rata tim) Penghargaan


< 40 Tim baik
41 - 45 Tim sangat baik
> 45 Tim super

Guru kemudian mengumumkan kelompok yang menang. Masing-masing


tim akan mendapat sertifikasi atau hadiah apabila rata-rata skor memenuhi
kriteria yang ditentukan.

Berdasarkan penjelasan di atas, maka implementasi pembelajaran dengan


menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Team Game Tournament (TGT)
dibagi ke dalam 2 sesi. Sesi pertama dilaksanakan pada pertemuan pertama
dengan melaksanakan presentasi kelas dan tim saja dan pertemuan kedua
melaksanakan game tournament, dan rekognisi tim. Sesi kedua dilaksanakan pada
pertemuan ketiga dan keempat dengan langkah yang sama.

c. Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Team games


tournament

Slavin, melaporkan beberapa laporan hasil riset tentang pengaruh


pembelajaran kooperatif terhadap pencapaian belajar peserta didik yang secara inplisit
mengemukakan keunggulan dan kelemahan pembelajaran TGT sebagai berikut.23
1) Para peserta didik di dalam kelas-kelas yang menggunakan TGT
memperoleh teman yang secara signifikan lebih banyak dari kelompok rasial
mereka daripada peserta didik yang ada dalam kelas tradisional.

22
Slavin. Op.Cit. h. 175
23
Ibid. h. 116
31

2) Meningkatkan perasaan/presepsi peserta didik bahwa hasil yang


mereka peroleh tergantung dari kinerja dan bukannya pada keberuntungan.
3) TGT meningkatkan harga diri sosial pada peserta didik tetapi tidak
untuk rasa harga diri akademik mereka.
4) TGT meneingkatkan kekooperatifan terhadap yang lain (kerja sama
verbal dan nonverbal, kompetisi yang lebih sedikit)
5) Keterlibatan peserta didik lebih tinggi dalam belajar bersama, tetapi
menggunakan waktu yang lebih banyak.
6) TGT meningkatkan kehadiran peserta didik di sekolah pada remaja-
remaja dengan gangguan emosional, lebih sedikit yang menerima skors atau
perlakuan lain.

Sebuah catatan yang harus diperhatikan oleh guru dalam pembelajaran TGT
adalah bahwa nilai kelompok tidaklah mencerminkan nilai individual peserta didik.
Dengan demikian, guru harus merancang alat penilaian khusus untuk mengevaluasi
tingkat pencapaian belajar peserta didik secara invidual.

3. Hakikat Hasil Belajar


a. Pengertian Belajar

Belajar adalah suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh
perubahan perilaku baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu
itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Alma mengemukakan bahwa
belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan
tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan
lingkungannya yang menyangkut aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Perubahan-perubahan dalam aspek tersebut menjadi hasil dari proses belajar. Belajar
itu selalu bertujuan mengubah dari yang belum bisa menjadi bisa, dari yang tidak
kenal menjadi kenal, dari tidak mengerti menjadi mengerti.24
24
Buchari Alma, dkk., Guru Profesional Menuasai Metode dan Terampil Mengajar, (Bandung:
Alfabeta, 2009), h. 78
32

Perubahan yang terjadi itu sebagai akibat dari kegiatan belajar yang telah
dilakukan oleh individu. Perubahan itu adalah hasil yang telah dicapai dari proses
belajar. Jadi, untuk mendapatkan hasil belajar dalam bentuk “perubahan” harus
melalui proses tertentu yang dipengaruhi oleh faktor dari dalam diri individu dan di
luar individu. Proses disini tidak dapat dilihat karena bersifat psikologis kecuali bila
seseorang telah berhasil dalam belajar, maka seseorang itu telah mengalami proses
tertentu dalam proses belajar. Oleh karena itu, proses belajar telah terjadi dalam diri
seseorang hanya dapat disimpulkan dari hasilnya, karena aktivitas belajar yang telah
dilakukan. Misalnya, dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak mengerti menjadi
mengerti, dari tidak berilmu menjadi berilmu, dan seterusnya.25
Tujuan belajar sebenarnya sangat banyak dan bervariasi. Tujuan belajar yang
ekxplisit diusahakan untuk dicapai dengan tindakan instruksional, lazim dinamakan
instructional effects, yang biasa terbentuk pengetahuan dan ketrampilan. Sementara,
tujuan belajar sebagai hasil yang menyertai tujuan belajar instruksional lazim disebut
nurturant effect. Bentuknya berupa, kemampuan berpikir kritis dan kreatif, sikap
terbuka demokratis, menerima orang lain, dan sebagainya. Tujuan ini merupakan
konsekuensi logis dari peserta didik “menghidupi” (live in) suatu system lingkungan
belajar tertentu.26 Proses belajar dapat melibatkan aspek kognitif, afektif, dan
psikomotorik. Pada belajar kognitif, prosesnya melibatkan perubahan dalam aspek
kemampuan berpikir (cognitive), pada belajar afektif mengakibatkan dalam aspek
kemampuan merasakan (avective), sedangkan belajar psikomotorik memberikan hasil
belajar berupa ketrampilan (psychomotoric).
Proses belajar merupakan proses yang unik dan kompleks. Keunikan itu
disebabkan karena hasil belajar hanya terjadi pada individu yang belajar tidak pada
orang lain, dan setiap individu menampilkan perilaku belajar yang berbeda.
Perbedaan penampilan itu disebabkan karena setiap individu mempunyai karakteristik
individualnya yang khas, seperti mental intelegensi, perhatian, bakat dan sebagainya.

25
Saiful Bahri Djamarah, Psikologi Belajar (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), Cet.1, h. 141
26
Suprijono, op.Cit. h. 5
33

Setiap manusia mempunyai cara yang khas untuk mengusahakan proses belajar yang
terjadi dalam dirinya. Individu yang berbeda dapat melakukan proses belajar dengan
kemampuan yang berbeda dalam aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Begitu
pula, individu yang sama mempunyai kemampuan yang berbeda dalam belajar aspek
kognitif, afektif, dan psikomotorik.27
Al-Qur’an menggarisbawahi kewajiban belajar bagi manusia baik laki-laki
maupun perempuan sebagaimana yang tertuang dalam Q.S Az-Zumar (39): 9 dan Q.S
Al-Mujadilah (58): 11 sebagai berikut.
Artinya: “. . . Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan
orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah
yang dapat menerima pelajaran”.28

Artinya: “. . .niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di


antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.
dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”.29

Arti ayat tersebut adalah orang yang akan diangkat derajatnya oleh Allah,
yaitu orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berilmu pengetahuan. Orang
yang beriman dan berilmu pengetahuan akan menunjukan sikap yang arif dan
bijaksana.
Kedua ayat Al-Qur‟an di atas dapat terlihat bahwa dalam Islam sendiri sangat
dianjurkan untuk menuntut ilmu atau belajar. Karena dengan belajarlah dapat
mengubah sikap mental dan perilaku tertentu yang dalam konteks Islam adalah agar
menjadi seorang muslim yang terbina seluruh potensi dirinya sehingga dapat
melaksanakan fungsinya sebagai khalifah dalam rangka beribadah kepada Allah,
namun dalam proses menuju ke arah tersebut perlu adanya upaya belajar dan
pengajaran. Dengan kata lain belajar dan pengajaran adalah salah satu sarana untuk
mencapai tujuan pendidikan.
27
Purwanto, Ngalim. Evaluasi Hasil Belajar, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), Cet. I, hh. 42-43
28
Al-Qur’an dan Terjemahnya, op.Cit. h. 283
29
Ibid. h. 406
34

b. Definisi Hasil Belajar

Menurut Suprijono hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai,


pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi, dan keterampilan.30 Selain itu menurut
Lindgren, hasil pembelajaran meliputi kecakapan, informasi, pengertian dan sikap.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah perubahan perilaku
secara keseluruhan bukan hanya salah satu aspek potensi kemanusiaan saja. Artinya,
hasil pembelajaran yang dikategorisasi oleh para pakar pendidikan sebagaimana
tersebut di atas tidak dilihat secara fragmentasi atau terpisah, tetapi secara
komprehensif.31

Merujuk pemikiran Gagne, sebagaimana dikutip oleh Suprijono,32 hasil belajar


berupa hal-hal berikut.
1) Informasi verbal, yaitu kapabilitas mengungkapkan
pengetahuan dalam bentuk bahasa, baik lisan maupun tertulis. Kemampuan
merespon secara spesifik terhadap rangsangan spesifik. Kemampuan tersebut
tidak memerlukan manipulasi simbol, pemecahan masalah, maupun penerapan
aturan.
2) Keterampilan intelektual, yaitu kemampuan
mempresentasikan konsep dan lambang. Keterampilan intelektual terdiri dari
kemampuan mengkategorisasi-kan, kemampuan analitis-sintetis fakta-konsep,
dan mengembangkan prinsip-prinsip keilmuan. Keterampilan intelektual
merupakan kemampuan melaku-kan aktivitas kognitif bersifat khas.
3) Strategi kognitif, yaitu kecakapan menyalurkan dan
mengarahkan aktivitas kognitifnya. Kemampuan ini meliputi penggunaan
konsep dan kaidah dalam memecahkan masalah.

30
Suprijono, op.Cit. hh. 2
31
Ibid, h. 4.
32
Ibid. hh. 5-6.
35

4) Keterampilan motorik, yaitu kemampuan melakukan


serangkaian gerak jasmani dalam urusan dan koordinasi sehingga terwujud
otomatisme gerak jasmani.
5) Sikap adalah kemampuan menerima atau menolak objek
berdasarkan penilaian terhadap objek tersebut. Sikap berupa kemampuan
menginternalisasi dan eksternalisasi nilai-nilai. Sikap merupakan kemampuan
menjadikan nilai-nilai sebagai standar perilaku.
Hasil belajar merupakan realisasi atau pemekaran dari kecakapan atau
kapasitas yang dimiliki seseorang. Penguasaan hasil belajar dari seseorang dapat
dilihat dari perilakunya, baik perilaku dalam bentuk penguasaan pengetahuan,
keterampilan berpikir, maupun keterampilan motorik.33
Hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan
pembelajaran. Belajar itu sendiri merupakan suatu proses dari seseorang yang
berusaha untuk memperoleh suatu bentuk perubahan perilaku yang relatif menetap.
Dalam kegiatan pembelajaran atau kegiatan instruksional, biasanya guru menetapkan
tujuan belajar. Peserta didik yang berhasil dalam belajar adalah yang berhasil
mencapai tujuan pembelajaran atau tujuan instruksional.34
Menurut Nana Sudjana hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang
dimiliki peserta didik setelah ia menerima pengalaman-pengalaman belajarnya.35
Menurut Muhibin Syah hasil belajar adalah perubahan sebagai akibat pengalaman
belajar dan proses belajar peserta didik.36
Tenaga pendidik yang professional seyogyanya melihat hasil belajar peserta
didik dari berbagai sudut kinerja psikologis yang utuh dan menyeluruh. Seorang
peserta didik yang menempuh proses belajar, idealnya ditandai dengan munculnya
pengalaman-pengalaman psikologis baru yang positif, yang diharapkan dapat
33
Sukmadinata, Nana Syaodih. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. (Bandung: Remaja
Rosdakarya, 2007), hh. 102-103
34
Asep Jihad dan Abdul haris. Evaluasi Pembelajaran. (Yogyakarta: Multi PressIndo, 2010), h. 14
35
Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2009) h.
22
36
Muhibbin Syah. Psikologi Pendidikan. (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2008) h. 216.
36

mengembangkan aneka ragam sifat, sikap dan kecakapan yang konstruktif, bukan
kecakapan yang destruktif (merusak).37
Menurut Sardiman, hasil belajar itu dikatakan benar-benar baik, apabila
memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
1. Hasil itu tahan lama dan dapat digunakan dalam kehidupan
oleh peserta didik. Dalam hal ini guru akan senan tiasa membimbing dan
melatih peserta didiknya dengan baik. Jika hasil pengajaran yang
diberikan itu tidak tahan lama, berarti pengajaran tersebut tidak efektif.
2. Hasil itu merupakan pengetahuan “asli” atau “otentik”.
Pengetahuan yang didapat dari proses pengajaran itu merupakan bagian
dari kepribadian setiap peserta didik. Sehingga akan mempengaruhi
pandangannya dalam menghadapi suatu permasalahan. Sebab
pengetahuan yang dapat dirasakan lebih bermakna oleh peserta didik.38

Bukti seseorang itu telah belajar adalah terjadinya perubahan dari tidak tahu
menjadi tahu dan tidak mengerti menjadi mengerti. Hasil belajar merupakan
pencapaian tujuan pendidikan pada peserta didik yang mengikuti proses belajar.
Selain itu hasoil belajar meruupakan realisasi tercapainya tujuan pendidikan,
sehingga hasil belajar yang diukur tergantung kepada tujuan pendidikannya.
Dari teori yang dikemukakan para ahli tentang hasil belajar tersebut di atas,
maka penulis dapat menarik kesimpulan bahwa hasil belajar merupakan hasil yang
dapat dicapai oleh peserta didik setelah diadakan proses belajar mengajar dalam
jangka waktu tertentu dan materi penyajian yang tertentu pula sebagai akibat
pengalaman belajar sesuai dengan tujuan yang telah disusun dalam indikator
pembelajaran.
Dalam sistem pendidikan nasional rumusan tujuan pendidikan, baik tujuan
kurikuler maupun tujuan instruksional, menggunakan klasifikasi hasil belajar dari
Benyamin Bloom yang secara garis besar membaginya menjadi tiga ranah, yakni
ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotoris.39

37
Ibid. h. 96
38
Sardiman. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. (Jakarta: Rajagrafindo, 2011), h. 49
39
Nana Sudjana, op.Cit. hh. 22-23
37

1) Ranah kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari
enam aspek, yakni pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis,
sintesis, dan evaluasi. Kedua aspek pertana disebut kognitif tingkat rendah
dan keempat aspek berikutnya termasuk kognitif tingkat tinggi.
2) Ranah afektif berkenaan dengan sikap yang terdiri dari lima aspek yakni
penerimaan, jawaban atau reaksi, penilaian, organisasi, dan internalisasi.
3) Ranah psikomotoris berkenaan dengan hasil belajar keterampilan dan
kemampuan bertindak. Ada enam aspek ranah psikomotoris, yakni gerakan
refleks, keterampilan gerakan dasar, kemampuan perceptual, keharmonisan
atau ketepatan, gerakan keterampilan kompleks, dan gerakan ekpresif dan
interpretatif.
Ketiga ranah tersebut menjadi objek penilaian hasil belajar. Di antara ketiga
ranah itu, ranah kognitiflah yang paling banyak dinilai oleh para guru di sekolah
karena berkaitan dengan kemampuan para peserta didik dalam menguasai isi bahan
pengajaran.

c. Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar

Pada dasarnya hasil belajar peserta didik yang baik dalam kegiatan
pembelajaran di sekolah bukan hanya disebabkan oleh kecerdasan saja, melainkan
juga masih terdapat hal lain yang juga menjadi faktor penentu yang tidak dapat
dipisahkan dalam mencapai keberhasilan peserta didik. Faktor-faktor yang
mempengaruhi hasil belajar banyak sekali jenisnya, tetapi dapat digolongkan menjadi
dua golongan, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah faktor
yang berasal pada diri individu itu sendiri, sedangkan faktor eksternal adalah faktor
yang berasal dari luar individu.
Lorre (dalam Makmun) menunjukan secara sistematik bahwa terdapat empat
faktor yang berpengaruh terhadap proses pembelajaran. Keempat faktor itu akan
sangat berpengaruh terhadap perfomance dan output pembelajaran. Secara sistematik,
gambaran yang ditunjukan oleh Loree itu adalah sebagai berikut.
38

Guru. Metode, teknik, media, program,


tugas, bahan ajar, sumber, dll.

Instrumental Input (sarana)


Kapasitas (IQ) Perilaku
Bakat Khusus kognitif
Expected Perilaku afektif
Motivasi Raw output hasil
Minat Input PBM belajar yang Perilaku psiko-
motorik
Kematangan dan (peserta diharapkan
kesiapan didik)
Sikap, kebiasaan,
dll.
Enviromental input
(lingkungan)

Sosial, fisik, kultural, dll

Gambar 2.2 Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pembelajaran40

Dari gambar di atas tampak secara sistematik keempat komponen utama dari
kegiatan pembelajaran sangat mempengaruhi performance dan outputnya yang
dijelaskan sebagai berikut.

1) The expected output, atau hasil belajar yang diharapkan, menunjukkan kepada
tingkat kualifikasi ukuran baku (standard norm) yang akan menjadi daya
penarik dan motivasi dalam pembelajaran. Output atau keluaran ini akan
menjadi salah satu aspek daya tarik bagi keberlangsungan proses
pembelajaran. Hasil pembelajaran yang berhasil akan menjadi dorongan bagi
peserta didik untuk mengikuti pembelajaran dengan sungguh-sungguh.
2) Karakteristik peserta didik (raw input) menunjukkan kepada faktor-faktor
yang terdapat dalam diri individu yang mungkin akan memberikan fasilitas
atau pembatas sebagai faktor organisme pembelajaran. Raw input ini mengacu

40
Abin Syamsuddin Makmun, Psikologi Kependidikan: Perangkat Sistem Pengjaran Modul,
(Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2005), h. 116
39

kepada faktor internal yang terdapat dalam diri peserta didik selaku peserta
didik. Faktor internal ini terdiri atas faktor fisiologis dan faktor psikologis.
Faktor fisiologis ditinjau berdasarkan jasmani. Jasmani yang sehat akan
berbeda pengarunya terhadap hasil belajar dibandingkan dengan jasmani yang
kurang sehat. Kondisi fisiologis peserta didik terdiri atas kondisi kesehatan
dan kebugaran fisik serta kondisi panca inderanya, terutama sekali indera
penglihatan dan pendengaran. Secara umum kondisi fisiologis seperti
kesehatan yang prima, tidak dalam keadaan lelah dan capek, tidak dalam
keadaan cacat jasmani, dan sebagainya karena semuanya akan membantu
dalam proses dan hasil belajar.41
Faktor psikologis merujuk kepada intelegensi, perhatian, minat dan bakat,
motif dan motvasi, kemampuan kognitif, dan daya nalar.42 Sementara itu,
Muhibbin Syah menyebutkan bahwa yang termasuk ke dalam faktor
psikologis di antaranya adalah tingkat kecerdasam peserta didik, sikap peserta
didik, bakat peserta didik, minat dan motovasi peserta didik. 43Apabila
seseorang memiliki motivasi, minat, dan bakat maka ia akan terpacu untuk
terus belajar. Dengan kata lain, ia memiliki semangat yang luar biasa untuk
terus belajar. Akan tetapi, sebaliknya apabila ada keadaan individunya seperti
kurang sehat, gangguan pada inderanya, dan lain-lain maka hal tersebut sedikit
banyak akan mempengaruhi kegiatan belajarnya.
3) Instrumental input (sarana) merujuk kepada kualifikasi serta kelengkapan
sarana yang diperlukan untuk dapat berlangsungnya proses belajar.
Instrumental input ini merupakan salah satu dari aspek eksternal yang
berpengaruh terhadap hasil belajar peserta didik. Sarana yang lengkap dan
sesuai dengan kebutuhan peserta didik, akan mempermudah peserta didik

41
Yudhi Munadi, Media Pembelajaran: Sebuah Pendekatan Baru, (Jakarta: Gaung Persada Press,
2010), h. 24.
42
Ibid. h. 26
43
Syah, op.Cit. h. 133.
40

melakukan penyesuaian diri dalam proses pembelajaran, yang kemudian akan


berdampak terhadap hasil belajar yang diharapkan.
4) Environmental input menunjukan situasi dan keadaan fisik (sekolah, gedung,
iklim, letak sekolah, lingkungan sosial, dan sebagainya) antar teman maupun
dengan guru dan orang lain, faktor-faktor penunjang lain yang menjadi
penghambat atau penunjang. Lingkungan sosial ini dapat kita rinci menjadi
lingkungan sosial sekolah dan lingkungan sosial peserta didik. Lingkungan
sosial sekolah seperti para guru, para staf dan teman-teman sekelas yang dapat
mempengaruhi semangat belajar seseorang baik positif maupun negatif.
Misalnya, guru yang menunjukkan daya dorong positif bagi kegiatan belajar
peserta didik. Kemudian lingkungan sosial peserta didik adalah masyarakat
dan tetangga serta teman-teman sepermainan di sekitar tempat tinggal peserta
didik tersebut di luar pendidikan formal. Namun lingkungan sosial yang paling
banyak berpengaruh pada peserta didik adalah orang tua dan keluarga peserta
didik itu sendiri.44
Seringkali guru dan para peserta didik yang sedang belajar di dalam kelas
merasa terganggu oleh obrolan orang-orang yang berada di luar persis di
depan kelas tersebut, apalagi obrolan itu diiringi dengan gelak tawa yang keras
dan teriakan. Hiruk pikuk lingkungan sosial seperti suara mesin pabrik, lalu
lintas, gemuruhnya pasar, dan lain-lain juga akan berpengaruh terhadap proses
dan hasil belajar. Karena itu sekolah hendaknya didirikan dalam lingkungan
yang kondusif untuk belajar.45

d. Kriteria Pengukuran Hasil Belajar

Untuk mengetahui baik buruknya hasil belajar peserta didik maka diperlukan
suatu tindakan yaitu evaluasi. Evaluasi merupakan suatu penilaian terhadap tingkat
keberhasilan peserta didik mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam sebuah

44
Makmun, op.Cit. hh. 132-138
45
Munadi, op.Cit. h. 32
41

program. Menurut Tardif et al, evaluasi adalah proses penilaian untuk menggambar-
kan prestasi yang dicapai seorang peserta didik sesuai dengan kriteria yang telah
ditetapkan.46 Dari pen-dapat di atas dapat disimpulkan bahwa evaluasi sangat
diperlukan dalam pendidikan dan pengajaran untuk mengetahui tingkat kemampuan
yang dicapai peserta didik.
Dalam mengevaluasi pembelajaran, dilakukan terhadap tiga fase utama
sebagai berikut.
1) Pelaksanaan tes awal (Pre Test)
Dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui tingkat kemampuan peserta didik
terhadap materi pembelajaran yang akan dipelajari.
2) Proses pembelajaran
Pembelajaran yang dilakukan pendidik berpegang pada program kegiatan
pembelajaran yang sudah disusun, sehingga memudahkan melakukan
pengamatan atas perkembangan aktivitas pembelajaran.
3) Pelaksanaan tes akhir (Post Test)
Dilakukan pada akhir pembelajaran dengan tujuan untuk mengetahui sampai
sejauh mana peserta didik menguasai materi pembelajaran yang telah
dipelajarinya.47

4. Hakikat Pendidikan Karakter Cinta Tanah Air

a. Pengertian Karakter

Kata karakter dalam bahasa Indonesia diturunkan dari bahasa Inggris


(character), yang berasal dari bahasa Yunani: eharassein yang berarti to engrave.
Kata to engrave sendiri diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi mengukir,
melukis, memahat, atau menggoreskan.

46
Makmun, op.Cit. h. 197.
47
Uno, Hamzah B, Model Pembelajaran: Menciptakan Proses Belajar Mengajar yang Kreatif dan
Efektif. (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), h. 12.
42

Dalam bahasa Indonesia, karakter diartikan sebagai tabiat, sifat kejiwaan,


akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain. Orang yang
berkarakter adalah orang yang berkepribadian, berperilaku, bersifat, bertabiat, atau
berwatak tertentu, dan watak tersebut yang membedakan dirinya dengan orang lain.48
Karakter adalah jati diri (daya qalbu) yang merupakan saripati kualitas
batiniah/rohaniah manusia yang penampakannya berupa budi pekerti (sikap dan
perbuatan lahiriah). Sedangkan menurut Suyanto, karakter merupakan cara berpikir
dan berperilaku yang menjadi ciri khas setiap individu untuk hidup dan bekerja sama,
baik dalam lingkup kehidupan keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara.49
Menurut Lickona, character so conceived has three interrelated parts: moral
knowing, moral feeling, and moral behavior.50 Karakter mulia (good character)
mencakup pengetahuan tentang kebaikan (moral knowing) yang menimbulkan
komitmen terhadap kebaikan (moral feeling), dan akhirnya benar-benar melakukan
kebaikan (moral behavior). Dengan demikian, karakter mengacu pada serangkaian
pengetahuan (cognitives), sikap (attitudes), dan motivasi (motivations), serta perilaku
(behaviors), dan keterampilan (skill).51
Karakter adalah watak, tabiat, akhlak, atau kepribadian seseorang yang
terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebajikan (virtues) yang diyakini dan
digunakan sebagai landasan untuk cara pandang, berpikir, bersikap, dan bertindak.
Kebajikan terdiri atas sejumlah nilai, moral, dan norma, seperti jujur, berani
bertindak, dapat dipercaya, dan hormat kepada orang lain. Interaksi seseorang dengan
orang lain menumbuhkan karakter masyarakat dan karakter bangsa. Oleh karena itu,
pengembangan karakter bangsa hanya dapat dilakukan melalui pengembangan
karakter individu seseorang. Akan tetapi, karena manusia hidup dalam lingkungan
sosial dan budaya tertentu, maka pengembangan karakter individu seseorang hanya
dapat dilakukan dalam lingkungan sosial dan budaya yang bersangkutan. Artinya,

48
Suyadi, Strategi Pembelajaran Pendidikan Karakter, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2013), h. 4.
49
Maksudin, Pendidikan Karakter Non-Dikotomik, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2013), h. 3.
50
Thomas Lickona, Educating for Character, (Jakarta: Bumi Aksara, 2013), h. 82.
51
Suyadi, op.Cit. h. 5
43

pengembangan budaya dan karakter bangsa hanya dapat dilakukan dalam suatu
proses pendidikan yang tidak melepaskan peserta didik dari lingkungan sosial,
budaya masyarakat, dan budaya bangsa. Lingkungan sosial dan budaya bangsa adalah
Pancasila. Jadi pendidikan budaya dan karakter bangsa haruslah berdasarkan nilai-
nilai Pancasila. Dengan kata lain, mendidik budaya dan karakter bangsa adalah
mengembangkan nilai-nilai Pancasila pada diri peserta didik melalui pendidikan hati,
otak, dan fisik.52
Karakter adalah sesuatu yang sangat penting dan vital bagi tercapainya tujuan
hidup. Karakter merupakan dorongan pilihan untuk menentukan yang terbaik dalam
hidup. Sebagai bangsa Indonesia untuk menjadi bangsa yang multi suku, multi ras,
multi bahasa, multi adat, dan tradisi. Untuk tetap menegakkan Negara Kesatuan
Republik Indonesia maka kesadaran untuk menjunjung tinggi Bhinneka Tunggal Ika
merupakan suatu conditio sine quanon, syarat mutlak yang tidak dapat ditawar-tawar
lagi, karena pilihan lainnya adalah runtuhnya negara ini.53
Karakter sebagaimana didefinisikan oleh Ryan dan Bohlin, mengandung tiga
unsur pokok, yaitu mengetahui kebaikan (knowing the good), mencintai kebaikan
(loving the good), dan melakukan kebaikan (doing the good).54
Karakter memberikan gambaran tentang suatu bangsa, sebagai penanda,
penciri sekaligus pembeda suatu bangsa dengan bangsa lainnya. Karakter
memberikan arahan tentang bagaimana bangsa itu memperbaiki dan melewati suatu
zaman dan mengantarkannya pada suatu derajat tertentu. Bangsa yang besar adalah
bangsa yang memiliki karakter yang mampu membangun sebuah peradaban besar
yang kemudian mempengaruhi perkembangan dunia.

52
Kemendiknas, “Bahan Pelatihan Penguatan Metodologi Pembelajaran Berdasarkan Nilai-
nilai Budaya untuk Membentuk Daya Saing dan Karakter Bangsa, (Jakarta: Kemendiknas BPPS,
2010, hh. 3-4.
53
Muchlas Samani dan Hariyanto, Konsep dan Model Pendidikan Karakter, (Bandung: Remaja
Rosdakarya, 2011), h. 22
54
Abdul Majid dan Dian Andayani, Pendidikan Karakter dalam Perspektif Islam, (Bandung: Remaja
Rosdakarya, 2013), h. 11.
44

Akhlak atau karakter sebagai suatu nilai dan tindakan perilaku yang tinggi
berdasarkan pada nilai-nilai luhur agama dan wahyu yang dapat mengantarkan
manusia pada derajat tertinggi kemanusiaan baik di sisi manusia maupun di sisi
Tuhan Sang Penguasa Kehidupan, Allah SWT. Inilah yang menjadi tugas utama
kenabian Muhammad SAW yaitu membangun dan memperbaiki akhlak manusia.55

b. Pengertian Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter diartikan sebagai the deliberate us of all dimensions of


school life to foster optimal character development (usaha kita secara sengaja dari
seluruh dimensi kehidupan sekolah untuk membantu pengembangan karakter dengan
optimal). Hal ini berarti bahwa untuk mendukung perkembangan karakter peserta
didik harus melibatkan seluruh komponen di sekolah, baik dari aspek isi kurikulum ,
proses pembelajaran, kualitas hubungan, penanganan mata pelajaran, pelaksanaan
aktivitas ko-kurikuler, serta etos seluruh lingkungan sekolah.56

Menurut David Elkind & Freddy Sweet, character education is the deliberate
effort to help people understand, care about, and act upon core ethical value
(pendidikan karakter adalah usaha sengaja (sadar) untuk membantu manusia
memahami, peduli tentang, dan melaksanakan nilai-nilai etika inti).57

Raharjo memaknai pendidikan karakter sebagai suatu proses pendidikan


secara holistis yang menghubungkan dimensi moral dengan ranah sosial dalam
kehidupan peserta didik sebagai fondasi bagi terbentuknya generasi yang berkualitas
yang mampu hidup mandiri dan memiliki prinsip suatu kebenaran yang dapat
dipertanggung jawabkan. Pendidikan karakter juga dimaknai sebagai pendidikan yang
mengembangkan nilai-nilai karakter pada peserta didik sehingga mereka memiliki
nilai dan karakter sebagai karakter dirinya, menerapkan nilai-nilai tersebut dalam

55
Muwafik Saleh, Membangun Karakter dengan Hati Nurani, (Malang: Erlangga, 2012), hh. 1-2.
56
Zubaedi, Desain Pendidikan Karakter, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2011), h. 14.
57
Ibid. h. 15
45

kehidupan dirinya sebagai anggota masyarakat, warga negara yang religius,


nasionalis, produktif, dan kreatif.58

Secara eksplisit pendidikan karakter adalah amanat Undang-Undang Nomor


23 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang pada pasal 3 menegaskan
bahwa:

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk


watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar
menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga
negara yang demokratis, serta bertanggung jawab.59

Mochtar Buchori mengemukakan bahwa pendidikan karakter seharusnya


membawa peserta didik ke pengenalan secara kognitif, penghayatan nilai secara
afektif, dan akhirnya ke pengalaman nilai secara nyata.60
Menurut Fakry Gaffar, pendidikan karakter yaitu sebuah proses transformasi
nilai-nilai kehidupan untuk ditumbuhkembangkan dalam kepribadian seseorang
sehingga menjadi satu dalam perilaku kehidupan orang itu. Dalam definisi tersebut,
ada tiga ide pikiran penting, yaitu: (1) proses transformasi nilai-nilai, (2) ditumbuh
kembangkan dalam kepribadian, (3) menjadi satu dalam perilaku.61
Di Indonesia, pendidikan karakter didasarkan pada dasar-dasar yuridis. Dasar-
dasar yuridis tersebut meliputi: (1) Undang-undang Dasar 1945 Amandemen, (2)
Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, (3)
Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan,
(4) Permendiknas Nomor 39 Tahun 2008 tentang Pembinaan Kepeserta didikan, (5)
Permendiknas Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan, (7)

58
Ibid. hh. 16-18
59
Muchlas Samani et.al, op.Cit, h. 26.
60
Syamsul Kurniawan, Pendidikan Karakter Konsepsi dan Implementasinya Secara Terpadu di
Lingkungan Keluarga, Sekolah, Perguruan Tinggi, dan Masyarakat, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media,
2014), hh. 31-32.
61
Dharma Kesuma, dkk, Pendidikan Karakter Kajian Teori dan Praktik di Sekolah, (Bandung:
Remaja Rosdakarya, 2013), hlm. 5.
46

Rencana Pemerintah Jangka Menengah Nasional 2010-2014, (8) Renstra


Kemendiknas Tahun 2010-2014, dan (9) Renstra Direktorat Pembinaan SMP tahun
2010-2014.62
Pendidikan karakter memiliki tiga fungsi utama. Pertama, fungsi
pembentukan dan pengembangan potensi. Pendidikan karakter berfungsi membentuk
dan mengembangkan potensi peserta didik agar berpikiran baik, berhati baik, dan
berperilaku baik sesuai dengan falsafah hidup Pancasila. Kedua, fungsi perbaikan dan
penguatan. Pendidikan karakter berfungsi memperbaiki dan memperkuat peran
keluarga, satuan pendidikan, masyarakat dan pemerintah untuk ikut berpartisipasi dan
bertanggung jawab dalam pengembangan potensi warga negara dan pembangunan
bangsa menuju bangsa yang maju, mandiri, dan sejahtera. Ketiga, fungsi penyaring.
Pendidikan karakter berfungsi memilah budaya bangsa sendiri dan menyaring budaya
bangsa lain yang tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa yang
bermartabat.63
Dengan demikian, pendidikan karakter adalah segala upaya yang dilakukan
pendidik, yang mampu memengaruhi karakter peserta didik. Pendidik membantu
membentuk watak peserta didik. Hal ini mencakup keteladanan bagaimana perilaku
pendidik, cara pendidik berbicara, atau menyampaikan materi, bagaimana pendidik
bertoleransi, dan berbagai hal terkait lainnya.
Di dalam pembentukan karakter juga tidak terlepas dari peran pendidik,
karena segala sesuatu yang dilakukan pendidik mampu memengaruhi karakter peserta
didik.64
Dalam Al-Qur’an disebutkan mengenai perintah berbuat kebajikan yang mana
terdapat dalam Q.S. An-Nahl ayat 90 yang artinya sebagai berikut:
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan,
memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji,

62
Maksudin, op.Cit, hh. 40-41.
63
Muchlas Samani et.al, op.Cit, h. 1
64
Thomas Lickona, Pendidikan Karakter Panduan Mendidik Peserta didik Menjadi Pintar dan Baik,
(Bandung: Nusa Media, 2008), h. 72.
47

kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar


kamu dapat mengambil pelajaran (Q.S. An-Nahl, 16: 90)”65

Ayat di atas menjelaskan bahwa Allah memerintahkan kepada makhluk-Nya


untuk senantiasa berbuat adil, memberikan bantuan kepada sesamanya, melarang
perbuatan keji dan kemungkaran, baik dalam ucapan, perbuatan, dan sikap tidak pula
berbuat menganiaya terhadap sesamanya.66
Proses pendidikan karakter dipandang sebagai usaha sadar dan terencana,
bukan usaha yang sifatnya terjadi secara kebetulan. Atas dasar ini, pendidikan
karakter adalah usaha yang sungguh-sungguh untuk memahami, membentuk,
memupuk nilai-nilai etika, baik untuk diri sendiri maupun untuk semua warga
masyarakat atau warga negara secara keseluruhan.67

c. Tujuan Pendidikan Karakter

Tujuan pendidikan karakter sejalan dengan Undang-undang Dasar 1945 pasal


3 ayat (3):

Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan


nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta akhlak mulia
dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan Undang-
undang.68
Menurut Karnadi, Tujuan pendidikan karakter: 1) mengembangkan potensi
kalbu/nurani afektif peserta didik sebagai manusia dan warga negaranya yang
memiliki nilai-nilai budaya dan karakter bangsa, 2) mengembangkan kebiasaan dan
perilaku peserta didik yang terpuji dan sejalan dengan nilai-nilai universal dan tradisi
budaya yang religius, 3) menanamkan jiwa kepemimpinan dan tanggungjawab
peserta didik sebagai generasi penerus bangsa, 4) Mengembangkan kemampuan
peserta didik menjadi manusia yang mandiri, kreatif berwawasan kebangsaan, 5)
mengembangkan lingkungan sebagai lingkungan belajar yang aman, jujur, penuh
65
Kementerian Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemah, (Surakarta: Ziyad, 2009), h. 277.
66
M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), Vol. 6, h. 323.
67
Zubaedi, op.Cit. hh.18-19
68
Undang-undang Dasar 1945, dikutip melalui Maswardi Muhammad Amin, Pendidikan Karakter
Anak Bangsa, (Jakarta: Baduose Media, 2011), h. 36.
48

kreativitas, dan persahabatan serta dengan rasa kebanggaan yang tinggi dan penuh
kekuatan.69

Sedangkan menurut Koesoemo, tujuan pendidikan karakter antara lain:

1) Untuk dapat menempa diri menjadi sempurna sehingga


potensi-potensi yang ada dalam dirinya berkembang secara penuh yang
membuatnya semakin menjadi manusiawi.
2) Sebagai sarana pembentuk pedoman perilaku, pengayaan nilai
individu dengan cara menyediakan ruang bagi figure keteladanan bagi anak
didik.
3) Menciptakan lingkungan yang kondusif bagi proses
pertumbuhan berupa kenyamanan, keamanan, yang membantu suasana
pengembangan diri satu sama lain dalam keseluruhan dimensinya (teknis,
intelektual, psikologis, moral, sosial, estetis, dan religius.
4) Untuk kepentingan pertumbuhan individu secara integral yang
didasarkan pada impuls natural sosial semakin mempertajam visi hidup yang
diraih lewat proses on going formation terus-menerus.
5) Untuk pertumbuhan moral individu yang ada dalam lembaga
pendidikan.70

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa tujuan pendidikan karakter adalah


untuk proses pertumbuhan individu ke arah visi dan perkembangan individu untuk
menjadi manusia yang berkarakter.

d. Sikap Cinta Tanah Air

Cinta tanah air adalah mengenal dan mencintai wilayah nasionalnya sehingga
selalu waspada serta siap membela tanah air Indonesia terhadap segala bentuk
ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan yang dapat membahayakan
kelangsungan hidup bangsa dan negara oleh siapapun dan dari manapun.71

69
Karnadi, Pengembangan Pendidikan dan Budaya dan Karakter Bangsa, (Jakarta: BP Cipta Jaya
Jakarta, 2010), h. 9.
70
Koesoemo, Pendidikan Karakter Strategi Mendidik Anak Di Zaman Global, (Jakarta: Grasindo,
2007), h. 134.
71
Asmoro Achmadi, Filsafat Pancasila dan Kewarganegaraan, (Semarang: RaSAIL Media Group,
2009), hh. 87-88.
49

Cinta tanah air yaitu mencakup sikap dan perilaku yang mencerminkan rasa
bangga, setia, peduli, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, budaya,
ekonomi, politik, dan sebagainya, sehingga tidak mudah menerima tawaran bangsa
lain yang dapat merugikan bangsa sendiri.72
Cinta tanah air juga mencakup cara berpikir, bersikap, dan berbuat yang
menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bangsa,
lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa.73
Menurut Suwarno, cinta tanah air yaitu mengenal dan mencintai tanah air
wilayah nasionalnya sehingga selalu waspada dan siap membela tanah air Indonesia,
terhadap segala bentuk ancaman tantangan, hambatan dan gangguan yang dapat
membahayakan kelangsungan hidup bangsa dan negara oleh siapapun dan dari
manapun sehingga diharapkan setiap warga negara Indonesia akan mengenal dan
memahami wilayah nusantara, memelihara melestarikan, mencintai lingkungannnya
dan senantiasa menjaga nama baik dan mengharumkan Negara Indonesia di mata
dunia.74
Di Indonesia, nasionalisme bukan merupakan sesuatu yang sudah sejak dulu
ada. Nasionalisme baru lahir dan mulai tumbuh pada awal abad ke-20, seiring dengan
lahir dan tumbuhnya berbagai bentuk organisasi pergerakan nasional yang menuntut
kemerdekaan dan sistem pemerintahan Negara bangsa yang demokratis. Tampak pula
bahwa nasionalisme di Indonesia merupakan sesuatu yang hidup dan bergerak terus
secara dinamis seiring dengan perkembangan masyarakat Makna nasionalisme sendiri
tidak statis, tetapi dinamis mengikuti bergulirnya masyarakat dalam waktu.75
Persatuan dalam Negara membutuhkan pembinaan yang betul-betul tangguh
dan ulet sekaligus juga merupakan syarat mutlak untuk menegakkan Negara sekaligus

72
Suyadi, op.Cit, h. 9.
73
Kemendiknas, Bahan Pelatihan Penguatan Metodologi Pembelajaran Berdasarkan Nilai-nilai
Budaya untuk Membentuk Daya Saing dan Karakter Bangsa…, hlm. 10.
74
Gowar Suwarno, Panduan Penyelenggaraan Pendidikan Pendahuluan Bela Negara di
Llingkungan Pekerjaan, (Jakarta: Dirjen Sumber Daya Manusia, 2000), h. 12
75
Sutarjo Adisusilo, “Nasionalisme-Demokrasi-Civil Society”, Iman, Ilmu, Budaya, (Vol. 3, No. 7,
September/2014 ), h. 4.
50

membina nasionalisme. Persatuan Indonesia merupakan dasar Negara yang


ditegaskan sebagai pokok pikiran pertama dalam Pembukaan Undang-undang Dasar
1945. Dalam rumusan itu yang harus dibina adalah kesadaran nasional untuk
mewujudkan nasionalisme Indonesia yang dapat mengatasi segala paham golongan
maupun perorangan.76
Nasionalisme mempunyai akar-akar yang dalam di masa lampau, kondisi-
kondisi yang menyebabkan timbulnya nasionalisme telah matang sebelumnya dan
berkembang di suatu saat tertentu sebagai kesatuan. Aspirasi pertama nasionalisme
adalah perjuangan untuk persatuan nasional dalam bidang politik dan tumbuh
berkembang di suatu saat serta bermuara dalam bentuk Negara nasional sebagai
perwujudan semangat nasionalisme yang sekaligus mewujudkan identitas nasional,
kemudian membentuk nation dalam Negara.77
Mengingat pentingnya rasa cinta tanah air ini, sudah semestinya dapat
ditumbuhkembangkan pada setiap masyarakat Indonesia. Beberapa hal positif yang
dapat dikembangkan di lingkungan masyarakat untuk menumbuhkan rasa cinta tanah
air, di antaranya:
1) Menyanyikan lagu kebangsaan pada setiap kegiatan-kegiatan resmi di
lingkungan masyarakat.
2) Mengibarkan bendera merah putih pada momen-momen hari besar nasional.
3) Memperingati hari besar nasional dengan kegiatan lomba atau pentas budaya.
4) Menggunakan batik pada hari batik nasional, dan lain-lain.78

e. Indikator Cinta Tanah Air

Sesuai dengan uraian teori yang dikemukakan oleh berbagai ahli, indikator
cinta tanah air yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagaimana diuraikan di
bawah ini. Meskipun tidak seluruh sikap dan perilaku ditampilkan, indikator-

76
Noor Ms Bakry, Pendidikan Kewarganegaraan, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006), h. 83.
77
Ibid. hh. 85-86
78
Syamsul Kurniawan, op.Cit. hh. 14-15
51

indikator di bawah ini diharapkan dapat mewakili cerminan cinta tanah air pada diri
peserta didik kelas VII SMP.
1) Mengenal dan mencintai wilayah nasional yang diwujudkan melalui:
a) bangga menjadi orang Indonesia
b) mencintai dan melestarikan lingkungan
2) Sikap dan perilaku yang mencerminkan rasa bangga, setia, peduli, dan
penghargaan tinggi terhadap bahasa dan budaya bangsa; yang diwujudkan
melalui:
a) menggunakan bahasa Indonesia yang baik,
b) mencintai budaya Indonesia, dengan cara (misalnya) bersemangat
menyanyikan lagu-lagu nasional atau lagu daerah
c) mematuhi tata tertib sekolah dan peraturan lainnya,
d) tertib dan disiplin
3) Sikap dan cara berpikir yang setia, peduli, dan menghargai lingkungan fisik,
sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa, yang diwujudkan melalui:
a) memakai seragam sekolah yang rapi dan bersih,
b) menjaga kebersamaan melalui kerja kelompok yang kompak
c) menjaga kebersihan lingkungan sekitar
d) menjaga kebersamaan melalui kerja kelompok yang kompak
e) mendahulukan kepentingan bersama daripada kepentingan pribadi
f) bersikap sopan dan santun
g) melaksanakan hasil keputusan musyawarah kelas meskipun berbeda
dengan keinginan sendiri

5. Hakikat Mata Pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan


serta Materi Pokok Norma dan Keadilan
a. Hakikat Mata Pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan

Mata pelajaran kewarganegaraan ialah sebuah sarana yang dipakai pemerintah


untuk dapat menanamkan nilai-nilai budaya bangsa serta juga mengenai kebijakan
52

yang bisa menjadi sumber pengetahuan peserta didik sehingga memiliki kesadaran
untuk dapat membangun negara serta juga bangsa Indonesia.

Mata Pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) adalah


mata pelajaran yang bertujuan untuk membentuk peserta didik menjadi warganegara
yang baik dan bertanggung jawab dalam negara yang demokratis serta rnernbentuk
peserta didik menjadi manusia yang memiliki rasa kebangsaan dan cinta tanah air.79
Perjalanan masyarakat, bangsa dan Negara Indonesia yang berubah menunju
rnasyarakat madani (Civil Society) menuntut pula adanya penyesuaian Pendidikan
Kewarganegaraan dengan masyarakat yang berubah tersebut. Revitalisasi Pendidikan
Kewarganegaraan itu diarahkan kepada pembentukan karakter bangsa (national
character building) yang mengarah pada penciptaan suatu masyarakat lqdpnegia yang
menempatkan demokrasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sebagai titik
sentral.80 Selanjutnya dikemukakan oleh Winataputra bahwa tugas PKn. dengan
paradigma baru adalah rnengembangkan pendidikan demokrasi yang mengemban tiga
hngsi pokok, yakni mengembangkan kecerdasan warganegara (civic intelligence),
membina tanggung jawab warga Negara (civic responsibility) dan mendorong
partisipasi warganegara (civic parlisipation).81 Kecerdasan yang dikembangkan untuk
membentuk warga negara yang baik bukan hanya dimensi rasional melainkan juga
dalam dimensi spiritual, emosional, dan sosial sehingga paradigma PKn bercirikan
multidimensional.
Yulinar Nur melihat ada tiga kompetensi yang wajib diperhatikan guru dalam
PPKn yang mampu mengontrol kebijakan pemerintah, yaitu (1), peserta didik mampu
berpikir kritis, rasional dan kreatif, dalam merespon isu-isu Kewarganegaraan, (2),
peserta didik mampu berpartisipasi secara cerdas dan bertanggung jawab dalam

79
Hermana Somantrie, Paradigma Pendidikan Kewarganegaraan dalam Era Reformasi (Suatu
Analisis Pengembangan dari Tahun 1999 sampai dengan Tahun 2006). (Jakarta: Pusat Kurikulum
Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pendidikan Nasional, 2006), h. 22
80
Winataputra, Udin S, et.al. Materi dan Pembelajaran PKn Pendidikan Dasar, (Jakarta: Unicersitas
Terbuka, 2006), h. 1.1
81
Ibid. hh. 1.1-1.2
53

kegiatan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, dan (3), peserta didik mampu
membentuk diri berdasakan kepada karakter-karakter positif masyarakat Indonesia
dan masyarakat dunia yang demokratis.82
Sebagai mana lazimnya semua mata pelajaran, mata pelajaran PPKn
mempunyai visi, misi, tujuan dan ruang lingkup isi, visi mata pelajaran PPKn adalah
terwujudnya suatu pelajaran yang berfungsi sebagai fasilitas pembinaan watak bangsa
(Nation and Character Building) dan pemberdayaan warga negara. Adapun misi
pelajaran PPKn adalah membentuk warga negara baik, yakni warga negara yang
sanggup melakukan hak dan kewajibannya dalam kehidupan berbangsa, dan
bernegara sesuai dengan UUD 1945, sementara tujuan PKn adalah (1) peserta didik
mempunyai kemampuan berfikir secara rasional, kritis, dan kreatif sehingga mampu
memahami bermacam-macam wacana kewarganegaraan, (2) peserta didik
mempunyai keterampilan intelektual dan keterampilan berpartisipasi secara
demokratis dan bertanggung jawab, (3) peserta didik mempunyai watak dan
kepribadian baik, sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam kehidupan
bermasyarakat dan bernegara.83
Sejalan dengan tujuan PPKn, aspek-aspek kompetensi yang hendak
dikembangkan dalam pembelajaran PPKn mencakup pengetahuan kewarganegaraan
(civic knowledge) yang menyangkut bermacam-macam teori dan konsep politik,
hukum, dan moral, keterampilan kewarganegaraan (civic sklils), meliputi
keterempilan intelektual (intelectual skills), keterampilan berpartisipasi (paticipatory
skills) dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Karakter kewarganegaraan (civic
disposition) ini adalah dimensi yang paling substansif dan essensial dalam
pembelajaran PKn, sebab dengan menguasai pengetahuan kewarganegaraan dan
keterampilan kewarganegaraan akan membentuk watak/karakter, sikap dan kebiasaan
hidup sehari-hari yang mencerminkan warga negara baik. Misalnya, religius, jujur,

82
Yulinar Nur. Kompetensi Pendidikan Kewarganegaraan. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), hh.
8-9
83
Ibid. hh. 10-12
54

adil, demokratis, menghargai perbedaan, menghormati hukum, menghormati HAM,


mempunyai semangat kebangsaan yang kuat, rela berkorban dan sebagainya.

b. Materi Pokok Norma dan Keadilan

Norma dan Keadilan merupakan judul untuk gabungan dua kompetensi dasar
dalam Kurikulum 2013 mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan
(PPKn) SMP edisi revisi 2017. Kedua kompetensi dasar tersebut adalah sebagai
berikut.

3.2 Memahami norma-norma yang berlaku dalam kehidupan bermasyarakat


untuk mewujudkan keadilan.
4.2 Mengampanyekan perilaku sesuai norma-norma yang berlaku dalam
kehidupan bermasyarakat untuk mewujudkan keadilan.

Indikator pencapaian kompetensi yang dirumuskan untuk kedua kompetensi


dasar di atas terdiri atas 8 (delapan) indikator yang terbagi menjadi 5 (lima) indikator
pada aspek pengetahuan, dan 3 (tiga) indikator pada aspek psikomotorik. Susunan
indikator pencapaian kompetensi tersebut dapat dilihat sebagai berikut.
3.2.1 Mendeskripsikan pengertian dan macam-macam norma.
3.2.2 Mendesripsikan macam-macam norma dalam kehidupan bermasyarakat,
berbangsa, dan bernegara.
3.2.3 Menunjukkan perilaku sesuai norma.
3.2.4 Menunjukkan macam-macam keadilan.
3.2.5 Menganalisis pentingnya norma hukum dalam kehidupan bermasyarakat,
berbangsa, dan bernegara.
4.4.1 Menyajikan hasil telaah pengertian dan macam-macam norma.
4.4.2 Menyajikan hasil telaah arti penting norma dalam kehidupan bermasyarakat
dan bernegara.
4.4.3 Mempraktikkan perilaku menaati norma dalam lingkungan sekolah.84

B. Hasil Penelitian yang Relevan

84
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan; Buku
Guru, (Jakarta: Kementerian Pendidkikan dan Kebudayaan, 2017), hh. 86-87.
55

Beberapa penelitian terdahulu yang membahas penerapan model pembelajaran


Team games tournament (TGT) pada jenjang pascasarjana dapat diuraikan sebagai
berikut.

1. Penelitian yang berjudul ”Perbandingan Model Pembelajaran


Kooperatif tipe TGT (Team games tournament) dengan tipe Jigsaw dalam upaya
meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar peserta didik pada pembelajaran Fiqih
di MIN Ambarawa Tahun Pelajaran 2014/2015” yang dilakukan oleh Hanik
Rofiqoh85 bertujuan untuk menemukan bukti bahwa penerapan model pembelajaran
kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournament) dan Jigsaw dapat meningkatkan
aktivitas dan prestasi belajar peserta didik serta memperbandingkan penggunaan
kedua model pembelajaran tersebut. Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan
kelas (PTK) yang terdiri dari tiga siklus. Tiap siklusnya terdiri dari 4 tahap, yaitu:
perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Subyek penelitian ini adalah
peserta didik kelas III MIN Ambarawa. Hasil penelitian yang menunjukkan adanya
peningkatan aktivitas dan prestasi belajar peserta didik. Penerapan model
pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournament) dapat meningkatkan
aktivitas belajar dan prestasi peserta didik dalam pembelajaran Fiqih di kelas III MIN
Ambarawa. Hal ini terbukti dengan persentase aktivitas belajar peserta didik yang
meningkat yaitu 67% pada siklus I, 78% pada siklus II, 93% pada siklus III.
Peningkatan prestasi peserta didik juga terjadi dalam proses pembelajaran Fiqih
dengan menggunakan model pembelajaran TGT (Teams Games Tournament) yaitu
nilai rata-rata yang meningkat 71,35 pada siklus I, 72,67 pada siklus II menjadi 76,52
pada siklus III. Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw juga dapat
meningkatkan aktivitas belajar dan prestasi peserta didik dalam pembelajaran Fiqih
di MIN Ambarawa. Hal ini terbukti dengan peningkatan aktivitas belajar yaitu 66%
pada siklus I, 75% pada siklus II, dan 87% pada siklus III. Peningkatan prestasi
85
Hanik Rofiqoh, Saadi, Adang Kuswara. Perbandingan Model Pembelajaran Kooperatif tipe TGT
(Team games tournament) dengan tipe Jigsaw dalam upaya meningkatkan aktivitas dan prestasi
belajar peserta didik pada pembelajaran Fiqih di MIN Ambarawa Tahun Pelajaran 2014/2015.
(Tesis). Program Pascasarjana, Program Studi Tarbiyah, Institut Agama Islam Negeri (IAIN)
Salatiga, 2015.
56

peserta didik juga terjadi dalam proses pembelajaran Fiqih dengan menggunakan
model pembelajaran jigsaw yaitu dengan nilai rata-rata peserta didik 69,60 pada
siklus I, kelas 71,70 pada siklus II, dan 72,00 pada siklus III.

Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan bahwa pembelajaran kooperatif tipe TGT
dan Jigsaw layak dikembangkan sebagai alternatif model pembelajaran yang dapat
digunakan dalam pembelajaran PAI. Penelitian ini masih jauh dari sempurna. Oleh
karena itu, penulis mengharapkan adanya kritik dan saran demi kesempurnaan
penelitian ini. penulis berharap semoga penelitian ini memberikan sumbangan yang
bermanfaat dalam menambah informasi, motivasi dan pengembangan proses
pembelajaran.

2. Tyas Puji Rahayu86 melakukan penelitian dengan judul


”Model Pembelajaran Kooperatif Team games tournament (TGT) dengan
Pendekatan Tematik untuk Sekolah Dasar”. Penelitian ini dilaksanakan berdasar
kepada tuntutan Kurikulum 2013 yang menggunakan pendekatan pembelajaran
tematik di tingkat sekolah dasar. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah
kualitatif dengan metode fenomenologi. Sampel yang digunakan adalah guru dan
peserta didik kelas IV pada Sekolah Dasar Negeri dan Madrasah Ibtidaiyah yang
berada di Kota Malang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sangat penting guru
dalam memilih model yang tepat dan ekfetif dalam proses pembelajaran. Model
pembelajaran kooperatif menjadi salah satu pilihan yang tepat dalam
pembelajaran tematik di sekolah dasar salah satunya yaitu model pembelajaran
TGT. Selain pemilihan model pembelajaran yang tepat, pemilihan media juga
sangat mempengaruhi proses pembelajaran yang berlangsung. Pemilihan model
pembelajaran dan media yang tepat akan meningkatkan aktivitas peserta didik
dalam pembelajaran sehingga dapat meningkatkan pula hasil belajar yang
dicapainya. Belajar tidak akan terjadi tanpa adanya aktivitas. Sedangkan hasil
86
Tyas Puji Rahayu, Wahjoedi, Sudamiatin. Model Pembelajaran Kooperatif Team games
tournament (TGT) dengan Pendekatan Tematik untuk Sekolah Dasar. Program Studi Pendidikan
Dasar Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Jurnal Pendidikan Humaniora, Vol. II, No. 3,
Oktober 2014, hh. 86-92.
57

belajar merupakan perubahan tingkah laku peserta didik setelah melakukan


aktivitas belajar yang menunjukkan ketercapaian tujuan pembelajaran. Aktivitas
pembelajaran akan tercipta dengan baik jika guru memilih model pembelajaran
yang sesuai, misalnya pembelajaran kooperatif tipe TGT yang dapat
meningkatkan interaksi yang positif baik antara peserta didik dengan guru
maupun antara peserta didik dengan peserta didik yang lainnya. Berdasarkan
kajian dan pembahasan atas hasil penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa
langkah-langkah model kooperatif tipe TGT ada 5 komponen yaitu presentasi
kelas, tim, game, turnamen, dan rekognisi tim. Model pembelajaran TGT dengan
pendekatan tematik sangat cocok diterapkan di sekolah dasar. Penggunaan model
pembelajaran kooperatif dengan pendekatan tematik dapat menciptakan
pembelajaran yang bermakna bagi peserta didik. Dengan demikian model
pembelajaran kooperatif TGT dengan pendekatan tematik dapat diterapkan dalam
proses pembelajaran, khususnya subtema jenis-jenis pekerjaan kelas IV SD.

3. Herbert C.B. Manalu87 melakukan penelitian dengan judul


”Implementasi Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT (Teams Games
Tournament) dalam Meningkatkan Hasil Belajar Peserta didik” dengan
pendekatan kuantitatif dan metode komparasi. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams Games
Tournament) terhadap hasil belajar peserta didik, dengan melihat apakah hasil
belajar kimia peserta didik yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran
koooperatif tipe TGT lebih tinggi dibandingkan dengan hasil belajar peserta didik
yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran konvensional. Populasi
yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh peserta didik kelas X SMAN
1 Pangkatan TA 2017/2018 yang terdiri dari 4 kelas. Sampel yang digunakan

87
Herbert C.B. Manalu, July Syandiro Simanjuntak, Saonom Silaban, Wesly Hutabarat. Implementasi
Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT (Teams Games Tournament) dalam Meningkatkan Hasil
Belajar Peserta didik. Program Magister Pendidikan Kimia, Universitas Negeri Medan, Jurnal
Seminar Nasional Hilirisasi Penelitian 2017, Lemlit Universitas Negeri Medan, 28 September 2017,
hh. 1-13.
58

sebanyak 2 kelas yang diambil dengan teknik purpossive sampling sehingga


diperoleh kelas yang diberi pengajaran kooperatif tipe TGT dan kelas yang diberi
pengajaran dengan model pembelajaran konvensional. Sebelum proses belajar
mengajar dimulai, terlebih dahulu diberikan pretest dan diakhir pertemuan
diberikan posttest.

Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh model pembelajaran kooperatif


tipe TGT terhadap hasil belajar peserta didik, dengan hasil belajar untuk kelas
eksperimen adalah X 1 = 83,55 dan SD = 6,67 sedangkan hasil belajar untuk
kelas kontrol adalah X 2 =77,23 dan SD= 6,64. Hipotesis dalam penelitian ini
diuji dengan menggunakan uji t yaitu uji satu pihak (pihak kanan) dan diperoleh
thitung sebesar 6,762 sedangkan nilai ttabel sebesar 1,668 pada taraf signifikan α =
0,05 dan db = 74, sehingga thitung > ttabel, maka Ha diterima dan Ho ditolak, yang
berarti ada pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe TGT terhadap hasil
belajar kimia peserta didik pada pokok bahasan truktur atom di kelas X SMA
Negeri 1 Pangkatan TA 2017/2018. Selain itu berdasarkan nilai tes awal dan tes
akhir diperoleh peningkatan hasil belajar peserta didik yang menggunakan model
pembelajaran TGT sebesar 72,30% sedangkan hasil belajar peserta didik yang
menggunakan model pembelajaran konvensional sebesar 58,10%. Dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa hasil belajar peserta didik yang mendapat
pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams Games
Tournament) lebih tinggi daripada peserta didik yang mendapat pembelajaran
dengan model konvensional. Selain itu dapat dilihat bahwa aktivitas belajar
peserta didik juga meningkat, dan dari data perhitungan korelasi (hubungan hasil
belajar dengan aktivitas peserta didik) maka dapat disimpulkan ada korelasi
positif antara aktivitas belajar peserta didik dengan hasil belajar kimia peserta
didik menggunakan model TGT.
59

4. Dewi Kusumawati88 melakukan penelitian berjudul


”Pengaruh Penggunaan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams Games
Tournament dan Pembelajaran Konvensional untuk Meningkatkan Sikap
Demokratis Peserta didik Kelas XI IPS-1 pada Mata Pelajaran PKn SMA Arjuna
Bandar Lampung Tahun Ajaran 2015/2016”. Penelitian ini dilatarbelakangi
rendahnya pembentukan sikap demokratis peserta didik pada mata pelajaran PKn
di SMA Arjuna Bandar Lampung. Tujuan penelitian ini yaitu untuk meningkatkan
sikap demokratis peserta didik pada pembelajaran PKn menggunakan model
Team games tournament. Metode yang digunakan komparatif pendekatan
eksperimen. Populasi penelitian adalah peserta didik kelas XI SMA Arjuna
Bandar Lampung pada tahun ajaran 2015/2016. Sedangkan sampel penelitian
ditetapkan kelas XI IPS-1 sebagai kelas eksperimen dan kelas XI IPS-2 sebagai
kelas kontrol. Kelas eksperimen diperlakukan dengan menerapkan model
pembelajaran kooperatif tipe TGT, sedangkan kelas konreol diperlakukan dengan
menerapkan model pembelajaran konvensional dengan menggunakan bermacam-
macam metode pembelajaran dengan pembelajaran terpusat pada guru (teacher
center). Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan instrumen angket
yang diberikan kepada peserta didik kelas eksperimen dan kelas kontrol setelah
perlakuan pembelajaran selesai dilakukan. Analisis hasil angket dilakukan dengan
menggunakan uji t satu kelompok (paired sample t test) dengan syarat bahwa data
yang digunakan telah berdistribusi normal. Kesimpulan hasil penelitian
menunjukkan bahwa (1) terdapat perbedaan efektivitas hasil belajar peserta didik
yang menggunakan model pembelajaran koopratif tipe two stray two stay dengan
pembelajaran konvensional terhadap pembentukan sikap demokratis peserta didik
di SMA Arjuna Bandar Lampung. Dengan kata lain bahwa perbedaan sikap

88
Dewi Kusumawati, Pargito, Irawan Suntoro. Pengaruh Penggunaan Model Pembelajaran
Kooperatif Tipe Teams Games Tournament dan Pembelajaran Konvensional untuk Meningkatkan
Sikap Demokratis Peserta didik Kelas XI IPS-1 pada Mata Pelajaran PKn SMA Arjuna Bandar
Lampung Tahun Ajaran 2015/2016. Tesis. Program Magister Pendidikan IPS, Fakultas Keguruan
dan Ilmu Pendidikan, Universitas Lampung, 2016. (Tidak Dipublikasikan).
60

demokratis peserta didik dapat terjadi karena adanya penggunaan model


pembelajaran yang berbeda untuk kelas eksperimen dan kelas kontrol. Perbedaan
sikap demokratis peserta didik tersebut dikarenakan perbedaan penggunaan model
yang digunakan yaitu model pembelajaran Teams Games Tournament di mana
peserta didik dituntut harus memberikan kontribusi atau penjelasan dari apa yang
telah di dapat dan peserta didik dituntut untuk belajar menyampaikan materi
kepada peserta didik lainnya dan dituntut untuk lebih mandiri sedangkan model
pembelajaran konvensional masih berpusat pada guru. (2) Ada pengaruh
penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament
dengan pembelajaran konvensional terhadap pembentukan sikap demokratis
peserta didik.

C. Kerangka Berpikir

1. Penerapan Model Team Games Tournament dalam Meningkatkan


Hasil Belajar

Pembelajaran dirancang tujuannya untuk mengaktifkan peserta didik, bukan


mengaktifkan guru. Suatu pembelajaran sangat bermakna jika guru mengutamakan
keaktifan peserta didik dalam proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran guru
diharapkan untuk selalu memantau dan mampu menumbuhkan rasa ingin tahu peserta
didik selama pembelajaran berlangsung. Berdasarkan penjelasan tersebut, sangat jelas
bahwa peserta didik dituntut untuk selalu aktif daripada guru. Guru hanya sebagai
fasilitator untuk peserta didik. Artinya, guru berperan untuk mendampingi, menuntun,
memantau kemajuan belajar, dan mengamati kegiatan peserta didik selama belajar.

Model pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournaments)


merupakan model pembelajaran yang memacu peserta didik untuk berani
mengemukakan pendapat, dan belajar bersama dalam kelompok untuk mempelajari
dan menguasai materi yang diajarkan oleh guru. Peserta didik berkelompok dan saling
bertukar pikiran antara peserta didik yang satu dengan peserta didik yang lainnya
61

dalam menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan oleh guru sehingga menciptakan


suasana yang aktif dan menyenangkan. Selanjutnya model pembelajaran kooperatif
tipe TGT (Teams Games Tournaments) memberi kesempatan kepada peserta didik
untuk saling berinteraksi dengan temannya. Model pembelajaran kooperatif tipe TGT
(Teams Games Tournaments) memudahkan peserta didik untuk bisa bekerjasama,
saling menghargai dan mengemukakan pendapat saat belajar bersama dalam
kelompoknya. Dengan terlaksananya kerjasama, adanya sikap saling menghargai serta
mengemukakan pendapat tentu akan menumbuhkan partisipasi, dan semangat belajar
kepada peserta didik. Partisipasi dan semangat belajar tersebut akan membawa
dampak baik terhadap prestasi belajar peserta didik. Dengan begitu, partisipasi dan
semangat belajar peserta didik harus terus dikembangkan agar prestasi pelajar peserta
didik tetap baik.

Berdasar kepada pemikirna tersebut, penerapan model pembelajaran kooperatif


tipe TGT diduga dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik kelas VII SMP Negeri
3 Sukaresmi tahun pelajaran 2019-2020.

2. Penerapan Model Team Games Tournament dalam Meningkatkan


Sikap Cinta Tanah Air

Model pembelajaran TGT merupakan model pembelajaran yang menekankan


pada kerjasama team dan tanggung jawab individu. Melalui metode tersebut
menunjukan bahwa belajar itu penting, berharga dan menyenangkan. Model
pembelajaran TGT diharapkan peserta didik tidak hanya mampu meningkatkan
prestasi belajarnya, namun juga dapat meningkatkan pemahamannya terhadap materi
pembelajaran dengan lebih baik. Peneliti berasumsi bahwa model pembelajaran TGT
cocok untuk diterapkan dalam pembelajaran PPKn terutama untuk mengembangkan
aspek sikap tanggung jawab peserta didik dan aspek pengetahuan.

Secara logika cinta tanah air berarti perasaan sayang atau cinta seseorang
terhadap tanah airnya. Sedangkan secara umum, cinta tanah air adalah perasaan yang
62

timbul dari dalam hati sanubari sesorang warga Negara, untuk mengabdi,
memelihara, membela, melindungi tanah airnya dari segala ancaman dan gangguan.
Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan merupakan wahana untuk
mengembangkan dan melestarikan nilai luhur dan moral yang berakar pada budaya
bangsa Indonesia yang diharapkan dapat diwujudkan dalam bentuk perilaku dalam
kehidupan sehari-hari peserta didik, baik sebagai individu maupun sebagai individu
maupun sebagai anggota masyarakat, warga negara, dan makhluk ciptaan Tuhan Yang
Maha Esa.

Pendidikan karakter, yang diintergrasikan dalam kurikulum dan


diimplementasikan pada sekolah formal secara khusus pada jenjang SMP, masih
berkaitan dengan nilai-nilai sebatas tataran kognitif. Oleh karena itu, penerapan
pendidikan karakter diimplementasikan dalam bentuk layanan bimbingan
pembelajaran dengan menerapkan model dan pendekatan tertentu, dalam hal ini
adalah pendekatan pembelajaran koperatif tipe team games tournament melalui
beberapa tahap. Pendekatan cooperative learning dipadankan dalam proses layanan
bimbingan pembelajaran di dalam kelas, baik secara klasikal maupun secara individu
dalam kelompok. Tahap pengenalan karakter cinta tanah air muncul dalam tahap
pengantar instruksi dan dinamika kelompok. Tahap pendalaman karakter muncul
dalam tahap berbagi atas pengalaman pribadi sertra tahap diskusi antar kelompok dan
refleksi pribadi. Tahap penerapan atau implementasi sikap muncul dalam tahap
rencana perbaikan perilaku sebagai ujung kegiatan, pada tahap ini diyakini telah
mampu menginternalisasi nilai cinta tanah air dalam kehidupannya. Penerapan model
pembelajaran team games tournament diharapkan mampu meningkatkan pemahaman,
penghayatan secara efektif, dan pengamalan karakter cinta tanah air sebagai peserta
didik.

3. Penerapan Model Team Games Tournament dalam Meningkatkan


Hasil Belajar dan Sikap Cinta Tanah Air
63

Hasil belajar yang tinggi dapat dijadikan indikator bahwa pembelajaran


tersebut tersebut sukses. Suksesnya hasil pembelajaran tidak terlepas dari metode
pembelajaran yang dibuat dalam rancangan proses pembelajaran oleh seorang guru.
Motode pembelajaran adalah acuan terhadap berjalannya proses suatu
pembelajaran atau sering disebut sebagai skenario pembelajaran di mana aktornya
adalah guru dan murid. Tingginya hasil belajar sangat bergantung pada metode
tersebut, karena pada dasarnya metode yang diterapkan dengan baik sesuai dengan
materi akan menghasilkan hasil pembelajaran yang tinggi. Metode yang mendukung
untuk terciptanya hasil pembelajaran yang tinggi adalah metode yang berlandaskan
teori pembelajaran konstruktivistik dimana peserta didik mampu membangun sendiri
pengetahuannya sehingga terbentuk pembelajaran yang bermakna dari pengalaman
belajar. Model pembelajaran kooperatif tipe Team games tournament (TGT)
memberikan peserta didik pembelajaran yang konstruktivistik sehingga mampu
membangun pengetahuan dan keterampilan peserta didik.
Peserta didik dapat dikatakan belajar apabila terjadi proses perubahan tingkah
laku. Pembelajaran dikatakan berhasil apabila tujuan pembelajaran itu tercapai dengan
baik. Untuk dapat mengetahui ketercapainya tujuan pembelajaran maka perlu dilakukan
evaluasi atau melakukan penilaian pada akhir proses pembalajaran. Dalam mencapai
tujuan tersebut diperlukan metode pembelajaran yang tepat dan efektif. Salah satu
metode pembelajaran yang melibatkan partisipasi peserta didik secara aktif adalah
metode kooperatif tipe TGT. Melalui penerapkan metode ini memberikan kesempatan
bagi seluruh anggota untuk mampu bekerja sama, bersosialisasi antar teman, belajar
untuk saling berbagi pengetahuan dengan sesama anggota kelompoknya.
Pada akhirnya, setelah pembelajaran dengan menggunakan model pembel-
ajaran kooperatif tipe Team games tournament diharapkan dapat mengembangkan
nilai-nilai cinta tanah air dan hasil belajar peserta didik dalam ranah pengetahuan
(civic knowledge), keterampilan (civic skill), dan watak (civic disposition) peserta
didik. Dengan demikian, kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang telah ditetapkan
64

akan tercapai serta sikap cinta tanah air peserta didik akan ntumbuh dengan
sendirinya..
Kerangka pemikiran dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut.

Sebelum Tindakan:
Hasil belajar rendah
Pastisipasi aktif dalam belajar masih EVALUASI AWAL
kurang
Sikap cinta tanah air belum tampak

Tindakan:
Pembelajaran dengan menerapkan model
pembelajaran kooperatif tipe TGT.
EVALUASI EFEK
TGT terdiri dari 5 langkah tahapan yaitu: tahap
penyajian kelas materi (class precentation), belajar
dalam kelompok(teams), permainan(games),
pertandingan(tournament), dan perhargaan
kelompok (team recognition).

Setelah Tindakan:
Hasil belajar meningkat
Pastisipasi aktif dalam belajar EVALUASI AKHIR
meningkat
Sikap cinta tanah air
terimplementasikan dalam keseharian
peserta didik

Gambar 2.3 Kerangka Berpikir Penelitian

D. Hipotesis Tindakan

Mengacu kepada rumusan masalah yang dikemukakan pada Bab 1 di atas,


dirumuskan hipotesis tindakan dalam penelitian ini sebagai berikut.
65

1. Penerapan model pembelajaran Team Games Tournament dapat


meningkatkan hasil belajar materi pokok ”Norma dan Keadilan” pada peserta
didik kelas VII SMP Negeri 3 Sukaresmi, Kabupaten Cianjur, semester ganjil
tahun pelajaran 2019-2020.

2. Penerapan model pembelajaran Team Games Tournament dapat


meningkatkan sikap cinta tanah air melalui materi pokok ”Norma dan Keadilan”
pada peserta didik kelas VII SMP Negeri 3 Sukaresmi, Kabupaten Cianjur,
semester ganjil tahun pelajaran 2019-2020.

3. Penerapan model pembelajaran Team Games Tournament dapat


meningkatkan hasul belajar dan sikap cinta tanah air melalui materi pokok
”Norma dan Keadilan” pada peserta didik kelas VII SMP Negeri 3 Sukaresmi,
Kabupaten Cianjur, semester ganjil tahun pelajaran 2019-2020.